Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Definisi
Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan
pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata tampak merah, sehingga
sering disebut mata merah. Konjungtivitis adalah peradangan pada
konjungtiva atau mata merah atau pink eye. Konjungtivitis merupakan
peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak
mata) yang disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), alergi,
dan iritasi bahan-bahan kimia.
B. Etiologi
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai hal dan dapat bersifat
infeksius seperti :
a. Bakteri
b. Klamidia
c. Virus
d. Jamur
e. Parasit (oleh bahan iritatif => kimia, suhu, radiasi) maupun imunologi
(pada reaksi alergi).
Kebanyakan konjungtivitis bersifat bilateral. Bila hanya unilateral,
penyebabnya adalah toksik atau kimia. Organism penyebab tersering adalah
stafilokokus, streptokokus, pneumokokus, dan hemofilius. Adanya infeksi
atau virus. Juga dapat disebabkan oleh butir-butir debu dan serbuk sari,
kontak langsung dengan kosmetika yang mengandung klorin, atau benda
asing yang masuk kedalam mata.

C. Patofisiologi
Konjungtivitis karena lokasinya terpapar banyak mikroorganisme dan
faktor lingkungan lain yang mengganggu. Beberapa mekanisme melindungi
permukaan mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsure berairnya
mengencerkan materi infeksi, mucus menangkap debris dan kerja memompa
dari pelpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air
mata mengandung substansi antimikroba termasul lisozim. Adanya agen
perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema
epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin
pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (kemosis) dan hipertrofi lapis
limfoid stroma (pembentukan folikel). Sel-sel radang bermigrasi dari stroma
konjungtiva melalui epitel kepermukaan. Sel-sel kemudian bergabung dengan
fibrin dan mucus dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva yang
menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.
Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh-
pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hoperemi yang tampak paling
nyata pada forniks dan mengurang kearah limbus. Pada hiperemi konjungtiva
ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papilla yang sering
disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensai ini
merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh
darah yang hyperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien mengeluh
sakit pada iris atau badan siliare berarti kornea terkena.
Klasifikasi konjungtivitis
 Konjungtivitis Alergi
Konjungtivitis alergi adalah salah satu dari penyakit mata eksternal yang
paling sering terjadi. Bentuk konjungtivitis ini mungkin musiman atau
musim-musim tertentu saja dan biasanya ada hubungannya dengan
kesensitifan dengan serbuk sari, protein hewani, bulu-bulu, debu, bahan
makanan tertentu, gigitan serangga, obat-obatan. Konjungtivitis alergi
mungkin juga dapat terjadi setelah kontak dengan bahan kimia beracun
seperti hair spray, make up, asap, atau asap rokok. Asthma, gatal-gatal karena
alergi tanaman dan eksim, juga berhubungan dengan alergi konjungtivitis.
 Konjungtivitis Bakteri
Konjungtivitis bakteri disebut juga “Pink Eye”. Bentuk ini adalah
konjungtivitis yang mudah ditularkan, yang biasanya disebabkan oleh
staphylococcus aureus. Mungkin juga terjadi setelah sembuh dari
haemophylus influenza atau neiseria gonorhe.
 Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
Neisseria gonnorrhoeae dapat menyebabkan konjungtivitis bakteri
hiperakut yang berat dan mengancam penglihatan.
 Konjungtivitis Viral
Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus (yang
paling sering adalah keratokonjungtivitis epidermika) atau dari penyakit virus
sistemik seperti mumps dan mononukleus. Biasanya disertai dengan
pembentukan folikel sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata
yang lain biasanya tertular dalam 24-48 jam.
 Konjungtivitis Blenore
Konjungtivitis purulen (bernanah pada bayi dan konjungtivitis
gonore). Blenore neonatorum merupakan konjungtivitis yang terdapat pada
bayi yang baru lahir.

D. Manifestasi Klinis
Gejala subjektif meliputi rasa gatal, kasr ( ngeres/tercakar ) atau terasa ada
benda asing. Penyebab keluhan ini adalah edema konjungtiva, terbentuknya
hipertrofi papilaris, dan folikel yang mengakibatkan perasaan adanya benda
asing didalam mata. Gejala objektif meliputi hyperemia konjungtiva, epifora
(keluar air mata berlebihan), pseudoptosis (kelopak mata atas seperti akan
menutup), tampak semacam membrane atau pseudomembran akibat koagu lasi
fibrin.Adapun manifestasi sesuai klasifikasinya adalah sebagai berikut:
1) Konjungtivitis Alergi
 Edea berat sampai ringan pada konjungtivitas
 Rasa seperti terbakar
 Injekstion vaskuler pada konjungtivitas
 Air mata sering keluar sendiri
 Gatal-gatal adalah bentuk konjungtivitas yang paling berat
2) Konjungtivitis Bakteri
 Pelebaran pembuluh darah
 Edema konjungtiva sedang
 Air mata keluar terus
 Adanya secret atau kotoran pada mata
 Kerusakan kecil pada epitel kornea mungkin ditemukan
3) Konjungtivitis Viral
 Fotofobia
 Rasa seperti ada benda asing didalam mata
 Keluar air mata banyak
 Nyeri prorbital
 Apabila kornea terinfeksi bisa timbul kekeruhan pada kornea
 Kemerahan konjungtiva
 Ditemukan sedikit eksudat
4) Konjungtivitis Bakteri hiperakut
 Infeksi mata menunjukkan secret purulen yang massif
 Mata merah
 Iritasi
 Nyeri palpasi
 Biasanya terdapat kemosis
 Mata bengkak dan adenopati preaurikuler yang nyeri
5) Konjungtivitis Blenore
Tanda-tanda blenore adalah sebagai berikut:
 Ditularkan dari ibu yang menderita penyakit GO
 Menyebabkan penyebab utama oftalmia neinatorm
 Memberikan secret purulen padat secret yang kental
 Terlihat setelah lahir atau masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari
 Perdarahan subkonjungtita dan kemotik
E. Pentalaksanaan
Secara umum pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan
sulfonamide (sulfacetamide 15%) atau antibiotic (gentamycin 0,3%),
chloramphenicol 0,5%. Konjungtivitis akibat alergi dapat diobati dengan
antihistamin (antazoline 0,5%, naphazoline 0,05%) atau dengan
kortikosteroid (dexamentosone 0,1%). Umumnya konjungtivitis dapat
sembuhmtanpa pengobatan dalam waktu 10-14 hari, dan dengan pengobatan,
sembuh dalam waktu 1-3 hari.Adapun penatalaksanaan konjungtivitis sesuai
dengan klasifikasinya adalah sebagai berikut:
a. Konjungtivitis Bakteri
Sebelum terdapat hasil pemeriksaan mikrobiologi, dapat diberikan
antibiotic tunggal, seperti gentamisin, kloramfenikol, folimiksin selama 3-5
hari. kemudian bila tidak memberikan hasil yang baik, dihentikan dan
menunggu hasil pemeriksaan. Bila tidak ditemukan kuman dalam sediaan
langsung, diberikan tetes mata disertai antibiotic spectrum obat salep luas tiap
jam mata untuk tidur atau salep mata 4-5 kali sehari.
b. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
 Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi
topical dan sistemik. Secret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi
air bersih atau dengan garam fisiologik setiap ¼ jam.
 Kemudian diberi salep penisilin setiap ¼ jam.Pengobatan biasanya
dengan perawatan di rumah sakit dan terisolasi, medika menstosa
:Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G
10.000-20.000/ml setiap 1 menit sampai 30 menit.
 Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit. Disusul
pemberiansalep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.
 Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokokus.
 Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik yang
dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negative.
c. Konjungtivitis Alergi
Penatalaksanaan keperawatan berupa kompres dingin dan menghindarkan
penyebab pencetus penyakit. Dokter biasanya memberikan obat antihistamin
atau bahan vasokonstkiktor dan pemberian astringen, sodium kromolin,
steroid topical dosis rendah. Rasa sakit dapat dikurangi dengan membuang
kerak-kerak dikelopak mata dengan mengusap pelan-pelan dengan salin
(gram fisiologi). Pemakaian pelindung seluloid pada mata yang sakit tidak
dianjurkan karena akan memberikan lingkungan yang baik bagi
mikroorganisme.
d. Konjungtivitis Viral
Beberapa pasien mengalami perbaikan gejala setelah pemberian
antihistamin/dekongestan topical. Kompres hangat atau dingin dapat
membantu memperbaiki gejala.
e. Penatalaksanaan pada konjungtivitis blenore
Pemberian penisilin topical mata dibersihkan dari secret. Pencegahan
merupakan cara yang lebih aman yaitu dengan membersihkan mata bayi
segera setelah lahir dengan memberikan salep kloramfenikol. Pengobatan
dokter biasanya disesuaikan dengan diagnosis. Pengobatan konjungtivitis
blenore :
 Penisilin topical tetes atau salep sesering mungkin. Tetes ini dapat
diberikan setiap setengah jam pada 6 jam pertama disusul dengan setiap
jam sampai terlihat tanda-tanda perbaikan.
 Suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/KgBB selama 7 hari, karena bila
tidak maka pemberian obat tidak akan efektif.
 Kadang-kadang perlu diberikan bersama-sama dengan tetrasiklin infeksi
chlamdya yang banyak terjadi.
Obat tetes mata yang direkomendasikan :
1. Alletrol

Komposisi :
 Dexamethasone sodium phosphate 1 mg
 Neomycin sulphate setara neomycin base 3.5 mg
 polymixin B sulphate 6000 UI
Kegunaan :
 Kondisi radang pada mata yang disertai oleh infeksi oleh bakteri
tertentu.
 Uveitis anterior kronis dan luka pada kornea mata yang disebabkan
oleh iritasi oleh bahan kimia, radiasi, panas, dan benda-benda asing.
 inflamasi segmen anterior yang disertai infeksi.
Kontra Indikasi :
 jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang memiliki riwayat
hipersensitif pada obat golongan kortikosteroid, dan antibiotik
aminoglikosida.
 Alletrol compositum tetes mata, sebaiknya tidak diberikan pada pasien
yang menderita glaukoma, epitheial herpes simplex keratitis, dan
penyakit yang disebabkan oleh virus lainnya.
 Tidak boleh diberikan pada penyakit mata yang disebabkan oleh
infeksi jamur.
Efek samping :
 Pada penggunaan jangka panjang, bisa menyebabkan sensasi seperti
terbakar, rasa gatal, iritasi, dan infeksi sekunder.
 Pada beberapa orang yang peka, kadang menimbulkan reaksi
hipersensitif.
2. Cendo xitrol

Komposisi :
 Dexamethasone sodium phosphate 1 mg atau 0.1 %
 Neomycin sulphate setara neomycin base 3.5 mg
 polymixin B sulphate 6.000 IU
Indikasi :
 Kondisi radang pada mata yang disertai oleh infeksi oleh bakteri
tertentu.
 Uveitis anterior kronis dan luka pada kornea mata yang disebabkan
oleh iritasi oleh bahan kimia, radiasi, panas, dan benda-benda asing.
 inflamasi segmen anterior yang disertai infeksi.
Kontra indikasi :
 jangan menggunakan Obat tetes mata Cendo xitrol untuk pasien yang
memiliki riwayat hipersensitif pada obat golongan kortikosteroid, dan
alergi antibiotik aminoglikosida.
 Obat tetes mata Cendo xitrol, sebaiknya tidak diberikan pada pasien
yang menderita glaukoma, epitheial herpes simplex keratitis, dan
penyakit yang disebabkan oleh virus lainnya.
 Tidak boleh diberikan pada penyakit mata yang disebabkan oleh
infeksi jamur.
Efek samping obat mata Cendo xitrol :
 Pada penggunaan jangka panjang, bisa menyebabkan sensasi seperti
terbakar, rasa gatal, iritasi, dan infeksi sekunder.
 Obat tetes mata Cendo xitrol kadang menimbulkan reaksi hipersensitif
pada beberapa orang yang peka.
3. Rohto
Komposisi :
Nafazolin hidroklorida, yaitu suatu senyawa turunan imidazolin yang
memiliki efek simpatomimetik dengan waktu kerja relatif panjang.
Mekanisme kerja nafazolin hidroklorida adalah sebagai dekongestan yang
membatasi respon vaskular konjungtiva dengan cara vaksokontriksi.
Indikasi :
 Mengatasi mata merah akibat iritasi ringan yang disebabkan oleh debu,
asap, cuaca dingin, pemakaian lensa kontak, terlalu lama bekerja
dengan komputer atau iritasi setelah berenang.
 Dengan sensasi Cool pada mata memberikan kesegaran lebih lama.
Kontra indikasi :
Rhoto cool tidak boleh digunakan pada penderita glaukoma atau penyakit
mata lainnya yang hebat, bayi dan anak-anak, kecuali bila dapat
pengawasan dan nasehat dari dokter.
Efek samping :
 Panas pada mata
 Hiperemia
 Perih pada mata
4. Insto

Komposisi :
 Tetrahydrozoline HCl 0,05% b/v
 Benzalkonium chloride 0,01 % b/v
Indikasi :
Mengatasi kemerahan dan rasa perih dimata yang disebabkan oleh iritasi
ringan karena debu, asap,angin dan setelah berenang.
Efek samping :
Mata terasa pedih, rasa terbakar, dan reaksi hiperemia mungkin terjadi
pada pemakaian berlebihan.
BAB II
STUDI KASUS
A. KASUS
Seorang bapak umur 50 tahun pergi ke apotik dan ingin ketemu seorang
apoteker. Bapak tersebut mengeluh pada waktu naik motor mata nya kemasukan
debu sehingga terasa perih panas , gatal dan warna merah sehingga kepala terasa
pusing. Tapi bapak tersebut juga menderita sakit mag. Bapak tersebut minta di
beri obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter.
B. ASSESMENT
Problem medik subjek objek Nama obat DRP
Nama : bapak Y
Umur : -
Riwayat obat: - Indikasi
Konjungtivitis - -
Keluhan: mata terasa belum diterapi
perih panas, gatal dan
warna merah
Indikasi
Sakit kepala Pusing - -
belum diterapi

Indikasi
Gastritis Maag - -
belum diterapi

C. Planning
Terapi farmakologi
1. Konjungtivitis
Untuk terapi Konjungtivitis diberikan Rotho cool. mata merah disebabkan
karena pelebaran pada pembuluh darah maka terapi yang dipilih adalah agen
vasokonstriktor Nafazolin. Dan terdapat kandungan mentol yang memberikan
rasa dingin pada mata Cara penggunaan 1-2 tetes Rohto Cool pada masing-
masing mata/ pada mata yang merah, 3-4 kali sehari.
Komposisi :
Nafazolin hidroklorida, yaitu suatu senyawa turunan imidazolin yang
memiliki efek simpatomimetik dengan waktu kerja relatif panjang.
Mekanisme kerja nafazolin hidroklorida adalah sebagai dekongestan yang
membatasi respon vaskular konjungtiva dengan cara vaksokontriksi.
Kandungan :
Nafazolin HCl 0,012 %; Asam Borat; Natrium Borat; Dinatrium Edetat;
Polisorbat 80; Benzalkonium klorida 0,005 %
Mekanisme:
 Nafazolin HCl Konstriksi sistem vaskular konjungtiva.
Indikasi :
 Mengatasi mata merah akibat iritasi ringan yang disebabkan oleh debu,
asap, cuaca dingin, pemakaian lensa kontak, terlalu lama bekerja
dengan komputer atau iritasi setelah berenang.
 Dengan sensasi Cool pada mata memberikan kesegaran lebih lama.
Kontra indikasi :
Rhoto cool tidak boleh digunakan pada penderita glaukoma atau penyakit
mata lainnya yang hebat, bayi dan anak-anak, kecuali bila dapat
pengawasan dan nasehat dari dokter.
Efek samping :
 Panas pada mata
 Hiperemia
 Perih pada mata
2. Untuk maag diobati dengan antasida. Pemberian antacid bertujuan untuk
meringankan gejala maag dengan mekanisme menertralisasi asam
lambung. Obat : Antasida doen suspensi 60 mL. Diminum 3-4x sehari 1-2
sendok takar
3. Sakit kepala terapinya diberikan analgesik sederhana NSID yaitu
paracetamol / kombinasi paracetamol dengan kafein
Obat : paracetamol 500 mg. diminum 1-2 tablet setiap 3-4x sehari bila
nyeri
Non farmakologi
1. Konjungtivitis
 Hindari pencetus alergi
 Memakai kaca mata jika keluar rumah
2. Maag
 Hindari makan-makanan pedas
 Makan-makanan yang mudah dicerna
 menghindari stress, istirahat dan tidur dengan cukup.
 banyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi
3. Sakit kepala (Pusing)
 Istirahat yang cukup
 Hindari stress
DOKUMENTASI SWAMEDIKASI
Nama Pasien Bapak Y
Jenis Kelamin Laki-laki
Usia -
Alamat Jl pelangi selatan, mojosongo, surakarta
Tanggal pasien datang 8 September 2018
mata terasa perih panas, gatal, warna merah, pusing,
Keluhan pasien
dan maag
Riwayat alergi -
Pasien pernah datang
Ya/tidak*) *coret salah satu
sebelumnya :
Obat yang diberikan :
Cara Tanggal
Nama Obat Dosis No Batch
pemakaian ED
1-2 tetes
Rohto Cool
pada
masing-
Nafazolin HCl
Rotho cool masing
0,012 %;
mata/ pada
mata yang
merah, 3-4
kali sehari.
Alluminium
Hidroksida :200
1. Antasida doen mg/5mL 3-4x sehari
suspense 60 Magnesium 1-2 sendok
mL Hidroksida : 200 takar
mg/5mL

1-2 tablet
Paracetamol 500
setiap 3-4x
2. Panadol Extra mg
sehari bila
Cafein 65 mg
nyeri
BAB III
DIALOG SWAMEDIKASI
“ KONJUNGTIVITIS / MATA MERAH”

Seorang bapak umur 50 tahun pergi ke apotik dan ingin ketemu seorang
apoteker. Bapak tersebut mengeluh pada waktu naik motor mata nya kemasukan
debu sehingga terasa perih panas , gatal dan warna merah sehingga kepala terasa
pusing. Tapi bapak tersebut juga menderita sakit mag. Bapak tersebut minta di
beri obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter.
DIALOG
Apoteker : “Selamat sore bapak, apa ada yang bisasaya bantu?”
Pasien : “Sore juga mbak, apotekernya ada tidak mbak ?
Apoteker : “dengan saya sendiri pak, sebelumnya perkenalkan nama saya
Mira saya Apoteker yang bertanggung jawab di apotek ini. Ada
yang bisa saya bantu pak ?
Pasien : “ini saya mau bertanya mengenai mata merah mbak”
Apoteker : “Baik, apa bapak ada waktu untuk melakukan konseling dengan
saya?”
Pasien : “Iya mbak, saya ada waktu”
Apoteker :“Kalau begitu silahkan ikut saya keruang konseling pak”
(berjalan menuju ruang konseling)
: “bapak apakah saya boleh minta identitas bapak untuk
administrasi apotek ?
Pasien : “ boleh mbak, saya bapak Yohanes dan umur saya 50 tahun.”
Apoteker :“Alamat rumah dan nomer telfon yang bisa dihubungi pak ?”
Pasien : “Saya tinggal di jalan Penyinggahan dan no. Hp saya
085652191868”
Apoteker : “Baik bapak Yohanes, bapak memiliki keluhan apa saja ya ?
Pasien :“Begini mbak, mata saya terasa perih, panas, gatal, dan berwarna
merah setelah kemasukan debu saat saya berkendara motor”
Apoteker : “Sejak kapan bapak merasakan mata bapak seperti itu?”
Pasien : “Sudah sejak kemarin mbak”
Apoteker :“Apakah ibu sudah pergike Dokter untuk memeriksakan hal
tersebut?”
Pasien : “Belum, mbak”
Apoteker : “Apakah bapak sudah menggunakan obat tetes mata
sebelumnya?”
Pasien : “Belum mbak”
Apoteker : “oh begitu ya pak.. Baiklah pak. Apakah sekarang pak sedang
mengkonsumsi obat tertentu ?”
Pasien : “Tidak ada mbak”
Apoteker : “Apakah bapak punya keluhan yang lain?”
Pasien : “Saya memiliki sakit maag dan kepala saya rasanya sakit sejak
mata saya terasa seperti sekarang”
Apoteker : “Bagaimana biasanya cara bapak mengatasi sakit maag bapak?”
Pasien : “Saya biasanya meminum Promag untuk maag saya”
Apoteker : “Apa dengan Promag perut bapak tidak terasa sakit lagi akibat
maag?”
Pasien : “Tidak mbak, perut saya terasa baik-baik saja jika saya
meminum Promag”
Apoteker : “Baik pak, mohon tunggu sebentarsaya akan mengambilkan
obat”
Pasien : “Iya mbak, saya tunggu” (Apoteker masuk ke ruang
penyimpanan obat).
Apoteker : “Pak ini ada beberapa obat tetes mata yang saya rekomendasikan
yang bisa digunakan untuk mengatasi mata bapak yang merah
(memperlihatkan pilihan obat) obat tetes mata yang pertama yaitu
Rohto yang memiliki kandungan Nafazolin HCl sebagai
simptomimetik digunakan untuk mengatasi mata merah akibat
iritasi ringan yang disebabkan oleh debu dan asap kemudian yang
kedua Insto yang memiliki kandungan Tetrahydrozoline HCl
0,05% dan Benzalkonium chloride 0,01 % indikasi nya sama
yaitu sebagai simptomimetik digunakan untuk mengatasi mata
merah akibat iritasi ringan yang disebabkan oleh debu dan asap,
tetapi pada insto ini mengandung Benzalkonium chloride 0,01 %
yang berfungsi sebagai agen antiseptik.
Pasien : “Begitu ya mbak, sebaiknya saya menggunakan yang mana ya
mbak?”
Apoteker : “Saya merekomendasikan bapak menggunakan tetes mata rotho,
karena obatnya mengandung menthol jadi dingin saat dipakai
pak”
Pasien : “Kalau begitu saya beli yang ini saja mbak.”
Apoteker : “Baik pak, untuk obat insto ini digunakan 2 sampai 3 tetes pada
setiap mata, untuk penyimpanannya dihindarkan dari sinar
matahari langsung dan disimpan di simpan pada suhu kamar ya
pak.”
Pasien : ” Baik mbak.”
Apoteker : “obat tetes mata ini memiliki efek samping mata pedih, tapi
bapak tidak usah khawatir karena tidak akan sakit”
Pasien : “Baik mbak.”
Apoteker : “apakah bapak sudah mengetahui cara pakai obat ini ?”
Pasien : “sudah mbak tinggal diteteskan saja kan mbak ?”
Apoeteker : “begini pak saya akan menjelaskan lagi ya pak cara pemakaian
obat tetes matanya. Sebelumnya jangan lupa untuk cuci tangan
terlebih dulu ya pak, usahakan jangan menyentuh lubang
penetesnya ya pak. Kemudian tengadahkan kepala, tarik kelopak
mata ke bawah agar terbentuk cekungan lalu Teteskan obat
sebanyak 2-3 tetes yang dianjurkan dalam cekungan. Pejamkan
kira-kira 30 detik supaya obatnya menyebar
Pasien : “baik mbak”
Apoteker : “saya menyarankan bapak menggunakan kaca mata saat keluar
rumah ya pak, supaya mata bisa terlindungi dari debu dan bapak
bisa mengkompres dingin untuk menghilangkan edemnya
Pasien : “baik mbak”
Apoteker :“oh iya, untuk sakit kepala bapak sendiri bisa digunakan pereda
nyeri seperti paracetamol dengan dosis 500 mg 3 x sehari bila
perlu, diminum setelah makan ya pak.
Pasien : “Kalau saya tidak meminum obat maag apa tidak apa-apa
mbak?”
Apoteker : “Sebaiknya bapak meminum obat maag bapak, berfungsi untuk
menetralkan asam lambung”
Pasien :“Oh begitu.. baik mbak saya mau obat tetes mata dan obat untuk
sakit kepala saya”
Apoteker : “Baik bapak, apakah bapak bisa mengulang cara menggunakan
obatnya ?”
Pasien : “obat Rotho cara pakainya cuci tangan terlebih dulu, jangan
menyentuh lubang penetesnya. Kemudian tengadahkan kepala,
tarik kelopak mata ke bawah agar terbentuk cekungan lalu
Teteskan obat sebanyak 2-3 tetes yang dianjurkan dalam
cekungan. Pejamkan kira-kira 30 detik supaya obatnya menyebar,
untuk penyimpanannya dihindarkan dari sinar matahari langsung
dan disimpan di suhu kamar, untuk parasetamolnya diminum 3 x
sehari setelah makan bila perlu dan minum obat maagnya
sebelum makan, benar begitu ya mbak ?”
Apoteker :“Iya pak, benar sekali.. tetapi perlu di ingat untuk memeriksakan
mata bapak kedokter jika semakin parah dan tidak membaik ya
pak”
Pasien : “Baik mbak, berapa harga obat nya ya mbak?”
Apoteker : “bapak langsung kekasir saja ya pak” (mengulurkan tangan
untuk berjabat tangan) “Semoga lekas sembuh ya pak”
Pasien : “Amin, terima kasih mbak”