Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Beberapa tulang, misalnya femur mempunyai kekutan otot yang kuat sehingga
reposisi tidak dapat dilakukan sekaligus. Traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian
tubuh digunakan untuk meminimalkan spasme otot, untuk mereduksi, menyejajarkan
mengibolisasikan fraktur, mengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan diantara
kedua permukaan patahan tulang. Traksi doperlukan untuk reposisi dan imobilisasi pada
tulang panjang.
Traksi digunakan untuk menahan kerangka pada posisi sebenarnya, penyembuhan,
mengurangi nyeri, mengurangi kelainan bentuk atau perubahan bentuk. Penanganan nyeri dan
penegaan komplikasi adalah dua kunci tugas perawat dalam perawatan traksi. Komplikasi
yang terjadi berhubungan dengan penggunaan traksi dan pematasan gerak, jika klien obesitas
cachetic, tua, anak muda, diabetes, dan perokok.
Kadang traksi harus dipasang dengan arah yang lebih dari satu untuk mendapatkan
garis tarikan yang diinginkan. Efek traksi yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar-X, dan
mungkin diperlukan penyesuaian. Indikasi traksi adalah pasien fraktur an atau dislokasi. Bila
otot dan jaringan lunak sudah rileks, berat yang digunakan harus diganti untuk memperoleh
gaya tarik yang diinginkan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang kami ambil dalam makalah
ini adalah sebagai berikut:
1. Apa definisi dari traksi ?
2. Apa saja jenis-jenis traksi ?
3. Apa saja komplikai dari traksi ?
4. Bagaimana klasifikasi dari traksi ?
5. Bagaimana etiologi dari traksi ?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnosik dari traksi ?
7. Bagaimana prinsip perawatan traksi ?

1|Traksi , F/KP/VI , Kel.6


C. Tujuan Pembuatan Makalah
1. Untuk mengetahui apa defenisi dari traksi
2. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis traksi
3. Untuk mengetahui apa saja komplikasi dari traksi
4. Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi dari traksi
5. Untuk mengetahui bagaimana etiologi dari traksi
7. Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan diagnosik dari traksi
8. Untuk mengetahui bagaimana prinsip perawatan traksi

2|Traksi , F/KP/VI , Kel.6


BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Traksi atau penarikan adalah:
 Suatu tindakan untuk memindahkan lokasi tulang yang patah atau yang mengalami
dislokasi ke tempat normal kembali, dengan menggunakan daya tarik tertentu yang
berturut-turut.
 Tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau
gangguan pada tulang dan otot .

TRAKSI TULANG TRAKSI KULIT

3|Traksi , F/KP/VI , Kel.6


B. TUJUAN
1. Perbaikan dan pelekatan tulang panjang yang patah.
2. Mengurangi atropi otot.
3. Pencegahan dari kehancurang atau dislokasi sendi yang bersifat tidak normal.
4. Perbaikan atropi sendi.
5. Mengurangi nyeri.
6. Mengurangi dan imobilisasi fraktur.
7. Mengurangi spasme otot.
8. Mencegah deformitas.

C. KLASIFIKASI :
1. Dislokasi congenital
Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
2. Dislokasi patologik
Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi.
3. Dislokasi traumatic
Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat,
kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan)

D. ETIOLOGI
1. Faktor predisposisi
- Akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.
- Trauma akibat kecelakaan.
- Trauma akibat pembedahan ortopedi
- Terjadi infeksi disekitar sendi.
- Tuberculosis tulang.
- Tuberculosis sendi.
- Dislokasi.

4|Traksi , F/KP/VI , Kel.6


E. JENIS-JENIS TRAKSI
1. Traksi kulit
Traksi kulit digunakan untuk mengontrol sepasme kulit dan memberikan imobilisasi .
Traksi kulit apendikuler ( hanya pada ektermitas digunakan pada orang dewasa)
termasuk “ traksi ektensi Buck, traksi russell, dan traksi Dunlop”.
a. Traksi buck
Ektensi buck ( unilateral/ bilateral ) adalah bentuk traksi kulit dimana tarikan
diberikan pada satu bidang bila hanya imobilisasi parsial atau temporer yang
diinginkan . Digunakan untuk memberikan rasa nyaman setelah cidera
pinggulsebelum dilakukan fiksasi bedah (Smeltzer & Bare,2001 ).
Traksi buck merupakan traksi kulit yang paling sederhana, dan paling tepat bila
dipasang untuk anak muda dalam jangka waktu yang pendek. Indikasi yang paling
sering untuk jenis traksi ini adalah untuk mengistirahatkan sendi lutut pasca
trauma sebelum lutut tersebut diperiksa dan diperbaiki lebih lanjut (Wilson,1995).
Mula- mula selapis tebal semen kulit, tingtura benzoid atau pelekat elastis
dipasang pada kulit penderita dibawah lutut. Kemudian disebelah distal dibawah
lutut diberi stoking tubular yang digulung, kemudian plester diberikan pada
bagian medikal dan lateral dari stoking tersebut lalu stoking tersebut dibungkus
lagi dengan perban elastis. Ujung plester traksi pada pergelangan kaki di
hubungkan dengan blok penyebar guna mencegah penekanan pada maleoli. Seutas
tambang yang diikat ketengah blok penyebar tersebut kemudian dijulurkan
melalui kerekan pada kaki tempat tidur. Jarang dibutuhkan berat lebih dari 5 lb.
penggunaan traksi kulit ini dapat menimbulkan banyak komplikasi. Ban perban
elastis yang melingkar dapat mengganggu sirkulasi yang menuju kekaki penderita,
yang sebelumnya sudah menderita penyakit vaskular. Alergi kulit terhadap plester
juga dapat menumbuhkan masalah. Kalau tidak dirawat dengan baik mungkin
akan menimbulkan ulserasi akibat tekanan pada maleolus. Traksi berlebih dapat
merusak kulit yang rapuh pada orang yang berusia lanjut. Bahkan untuk
peenderita dewasa lebih disukai traksi pin rangka, terutama bila perawatan harus
dilakukan selama beberapa hari.

5|Traksi , F/KP/VI , Kel.6


b. Traksi Russell
Dapat digunakan pada fraktur plato tibia, menyokong lutut yang fleksi pada
penggantung dan memberikan gaya tarik horizontal melalui pita traksi balutan
elastis ketungkai bawah. Bila perlu, tungkai dapat disangga dengan bantal agar
lutut benar- benar fleksi dan menghindari tekanan pada tumit (Smeltzer & Bare,
2001 ).
Masalah yang paling sering dilihat pada traksi Russell adalah bergesernya
penderita kebagian kaki ketempat tidur,sehingga kerekan bagian distal saling
berbenturan dan beban turun kelantai. Mungkin perlu ditempatkan blok-blok
dibawah kaki tempat tidur sehingga dapat memperoleh bantuan dari gaya tarik
bumi (Wilson, 1995).
Walaupun traksi rangka seimbang dapat digunakan untuk menangani hampir
semua fraktur femur, reduksi untuk fraktur panggul mungkin lebih sering
diperoleh dengan memakai traksi Russell dalam keadaan ini paha disokong oleh
beban. Traksi longitudinal diberikan dengan menempatkan pin dengan posisi
tranversal melalui tibia dan fibula diatas lutut. Efek dari rancangan ini adalah
memberikan kekuatan traksi ( berasal dari gaya tarik vertikal beban paha dan gaya
tarik horizontal dari kedua tali pada kaki ) yang segaris dengan tulang yang cidera
dengan kekuatan yang sesuai. Jenis traksi paling sering digunakan untuk memberi
rasa nyaman pada pasien yang menderita fraktur panggul selama evaluasi sebelum
operasi dan selama persiapan pembedahan. Meskipun traksi Russell dapat
digunakan sebagai tindakan keperawatan yang utama dan penting untuk patah
tulang panggul pada penderita tertentu tetapi pada penderita usia lanjut dan lemah
biasanya tidak dapat mengatasi bahya yang akan timbul karena berbaring terlalu
lama ditempat tidur seperti dekubitus, pneumonia, dan tromboplebitis.
c. Traksi Dunlop
Adalah traksi pada ektermitas atas. Traksi horizontal diberikan pada lengan bawah
dalam posisi fleksi.
d. Traksi kulit Bryant
Traksi ini sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah
tulang paha. Traksi Bryant sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak yang berat
badannya lebih dari 30 kg. kalau batas ini dilampaui maka kulit dapat mengalami
kerusakan berat.

6|Traksi , F/KP/VI , Kel.6


2. Traksi skelet
Traksi skelet dipasang langsung pada tulang. Metode traksi ini digunakan paling
sering untuk menangani fraktur femur, tibia, humerus dan tulang leher. Kadang-
kadang skelet traksi bersifat seimbang yang menyokong ekstermitas yang terkena,
memungkinkan gerakan pasien sampai batas- batas tertentu dan memungkinkan
kemandirian pasien maupun asuh keperawatan sementara traksi yang efektif tetap
dipertahankan yang termasuk skelet traksi adalah sebagai berikut (Smeltzer &
Bare,2001 ).
a. Traksi rangka seimbang
Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada
korpus femoralis orng dewasa. Sekilas pandangan traksi ini tampak komplek,
tetapi sesunguhnya hanyalah satu pin rangka yang ditempatkan tramversal melalui
femur distal atau tibia proksimal. Dipasang pancang traksi dan tali traksi utama
dipasang pada pancang tersebut. Ektermitas pasien ditempatkan dengan posisi
panggul dan lutut membentuk sekitar 35° , kerekan primer disesuaikan sedemikian
sehingga garis ketegangan koaksial dengan sumbu longitudinal femur yang
mengalami fraktur. Beban yang cukup berat dipasang sedemikian rupa mencapai
panjang normalnya. Paha penderita disokong oleh alat parson yang dipasang pada
bidai tomas alat parson dan ektermitas itu sendiri dijulurkan dengan tali, kerekan
dan beban yang sesuai sehingga kaki tergantung bebas diudara. Dengan demikian
pemeliharaan penderita ditempat tidur sangat mudah. Bentuk traksi ini sangat
berguna sekali untuk merawat berbagai jenis fraktur femur. Seluruh bidai dapat
diadduksi atau diabduksi untuk memperbaiki deformitas angular pada bidang
medle lateral fleksi panggul dan lutut lebih besar atau lebih kecil memungkinkan
perbaikan lateral posisi dan angulasi alat banyak memiliki keuntungan antara lain
traksi elefasi keaksial. Longitudinal pada tulang panjang yang patah, ektermitas
yang cidera mudah dijangkau untuk pemeriksaan ulang status neuro vascular, dan
untuk merawat luka lokal serta mempermudah perawatan oleh perawat. Seperti
bentuk traksi yang mempergunakan pin rangka, pasien sebaiknya diperiksa setiap
hari untuk mengetahui adanya peradangan atau infeksi sepanjang pin, geseran atau
pin yang kendor dan pin telah tertarik dari tulang (Wilson, 1995 ).

7|Traksi , F/KP/VI , Kel.6


b. Traksi 90-90-90
Traksi 90-90-90 sangat berguna untuk merawat anak- anak usia 3 tahun sampai
dewasa muda. kontrol terhadap fragmen – fragmen pada fraktur tulang femur
hamper selalu memuaskan dengan traksi 90-90-90 penderita masih dapat bergerak
dengan cukup bebas diatas tempat tidur (Wilson, 1995 ).

F. FATOFISIOLOGI
Fraktur, Dislokasi, TBC Tulang dan Sendi

Traksi
Skeletal traksi
Imobilisasi lama Gangguan mobilitas fisik

Luka terbuka Kx
terpasang traksi

Pintu masuk kuman

Resiko Tinggi
Infeksi

Intergumen Gastrointestinal Paru-paru Muskuloskeletal

Penekanan lama Peristaltik usus Penumpukan Kekuatan otot


pada lokasi secret

gangguan sirkulasi Pneumonia Kelemahan


Konstipasi
darah Hipostatik

Nekrosis jaringan
Gangguan mobilitas
(hitam, lengket pada kulit) fisik

Dekubitus Ketidaknyamanan Resiko Trauma


8|Traksi , F/KP/VI , Kel.6
G. CARA PENARIKAN/TRAKSI
1. Penarikan kulit, daya penarikan bekerja melalui jaringan lunak sekitar sambungan
tulang dengan menggunakan perban atau sponge (speed traction band), yang
umumnya digunakan untuk mempertahankan lokasi yang telah dikoreksi.
2. Penarikan tulang, daya penarikan langsung mengena pada tulang, maka penarikannya
kuat. Karena penarikannya kuat, hal ini dilakukan pada orang dewasa yang
pergeserannya besar dan patah tulang yang sudah lama.

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan rontgen, menentukan lokasi/luas fraktur atau trauma.
2. Scan tulang/tomogram/CT scan/MRI, memperlihatkan fraktur, mengidentifikasi
kerusakan jaringan lunak.
3. Arteriogram, dilakukan bila dicurigai terjadi kerusakan vaskuler.
4. Hitung darah lengkap, Ht mungkin meningkat atau menurun, peningkatan SPD adalah
respon normal setelah trauma.
5. Keratin, trauma otot meningkatkan beban kretinin untuk klirens ginjal.
6. Profil koagulasi, perubahan dapat terjadi dapat kehilangan darah, tranfusi multipel
atau cedera hati.
I. KOMPLIKASI
a. Penyakit trombo emboli
b. Abersi
c. Infeksi
d. Alergi kulit
e. Kegagalan penyambungan tulang akibat traksi yang berlebih
f. Luka akibat tekanan
g. Parese saraf akibat traksi yang berlebihan atau bila pin mengenai syaraf

J. PRINSIP PERAWATAN TRAKSI


1. Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi, pijatan punggung ) dan
aktivitas terapeutik
2. Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot.
3. Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.
4. Beri penguatan pada balutan awal/ pengganti sesuai dengan indikasi, gunakan teknik
aseptic dengan tepat.
9|Traksi , F/KP/VI , Kel.6
5. Pertahankan linen klien tetap kering, bebas keriput.
6. Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar.
7. Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh: bimbingan imajinasi,
nafas dalam.
8. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan
9. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: edema,
eritema

10 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TERPASANG TRAKSI

K. PENGKAJIAN
1. Biodata.
2. Keluhan utama : nyeri karena fraktur.
3. Keluhan penyakit sekarang : fraktur pada kaki sebelah kiri.
4. Data dasar pasien:
 Aktifitas/istirahat, klien lemah, klien hanya berbaring di tempat tidur dengan
aktivitas yang terbatas, perlu bantuan keluarga dan perawat.
 Makanan atau cairan, klien makan makanan kurang berserat.
 Gastrointestinal, bunyi peristaltik usus menurun.
 Hygiene, klien sangat bergantung pada orang lain untuk memenuhi perawatan diri.
 Neurosensori, adanya penurunan reflek patella dan hilangnya gerakan atau spasme
otot.
 Nyeri/kenyamanan, klien mengatakan nyeri pada daerah fraktur dan punggung.
 Pernafasan, suara nafas ronchi basah, RR meningkat, klien tampak gelisah dan
batuk mengeluarkan sputum.
 Keamanan, kelemahan pada tonus otot dan adanya gangguan sensasi.
 Pola defekasi, konstipasi.

L. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko kerusakan integritas kulit b.d penekanan pada kulit.
2. Resiko trauma b.d efek terpasang traksi.
3. Pneumonia b.d adanya penumpukan secret.
4. Konstipasi b.d penurunan peristaltik usus.
5. Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan rangka neuromuskuler.
6. Resiko tinggi infeksi b.d adanya luka terbuka akibat pemasangan pen.

11 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6
J. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Diagnosa I : Resiko kerusakan integritas kulit b.d penekanan pada kulit.


Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit.
Kriteria hasil : Menunjukkan perilaku/tekhik untuk mencegah kerusakan kulit.
Intervensi:
1. Kaji kulit untuk luka, benda asing, kemerahan, perubahan warna, kelabu/putih.
R: memberi informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh
alat dan atau pemasangan traksi.
2. Masase kulit dan penonjolan tulang, pertahankan tempat tidur kering, tempatkan bantalan
air/bantalan lain di bawah siku/tumit sesuai indikasi.
R: menurunkan tekanan pada area yang peka dan resiko abrasi/kerusakan kulit.
3. Ubah posisi dengan sering. Dorong penggunaan trapeze bila mungkin.
R: mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan resiko
kerusakan kulit.
4. Kaji posisi cincin tepat pada alat traksi.
R: posisi yang tidak tepat dapat mengakibatkan kerusakan/cedera kulit.
5. Bersihkan kuli dengan air sabun hangat.
R: menurunkan kadar kontaminasi kulit.
6. Berikan tingtur benzoin.
R: mengurangi komplikasi pemasangan traksi.
7. Gunakan plester traksi kulit memanjang pada sisi tungkai yang sakit.
R: plester traksi melingkari tungkai dapat mempengaruhi sirkulasi.
8. Lebarkan plester sepanjang tungkai.
R: traksi dimasukkan dalam garis dengan akhir plester bebas.
9. Letakkan bantalan pelindung di bawah kaki dan di atas tonjolan tulang.
R: meminimalisasi tekanan pada area ini.
10. Palpasi jaringan yang diplester tiap hari dan catat adanya nyeri.
R: bila area di bawah plester nyeri tekan, diduga ada iritasi kulit.
11. Lepaskan traksi kulit setiap 24jam, sesuai protocol, inspeksi, dan berikan perawatan.
R: mempertahankan integritas kulit.
Kolaborasi:
1. Gunakan tempat tidur busa bantal apung/kasur udara sesuai indikasi.
R: kerena imobilisasi bagian tubuh akan mengakibatkan penurunan sirkulasi.
12 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6
Diagnosa II : Resiko trauma b.d efek terpasang traksi.
Tujuan : Agar tidak terjadi trauma, klien mampu memertahankan stabilitas dan
posisi fraktur.
Kriteria hasil : Menunjukkan mekanisme tubuh yang meningkatkan stabilitas pada posisi
fraktur, menunjukkan pembentukan kalus atau mulai penyatuan fraktur yang
tepat.
Intervensi:
1. Pertahankan posis atau integritas traksi.
R: traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang fraktur tulang dan mengatasi
tegangan otot/pemendekan untuk memudahkan posisi atau penyatuan
2. Yakinkan bahwa semua klem berfungsi, minyaki katrol, dan periksa tali terhadap
tegangan, amankan dan tutup ikatan dengan plester perekat.
R: untuk menghindari interupsi penyambungan fraktur.
3. Pertahankan katrol tidak terhambat dengan bebas menggantung, hindari mengangkat atau
menghilangkan berat.
R: jumlah beban traksi optimal dipertahankan.
4. Kaji ulang tahanan yang mungkin timbul.
R: mempertahankan integritas tarikan traksi.
5. Kaji integritas alat fiksasi eksternal.
R: memantau keadaan fiksasi.

Diagnosis III : Pneumonia b.d adanya penumpukan secret


Tujuan : Mempertahankan fungsi pernafasan yang adekuat.
Kriteria hasil : Tidak ada dipsneu dan sianosis, frekuensi pernafasan dan GDA dalam
batas normal.
Intervensi:
1. Awasi frekuensi pernafasan dan perhatian penggunaan otot Bantu, retraksi serta sianosis
sentral.
R: status pernafasan klien dapat berubah secara cepat, perubahan yang tergantung pada
respon terhadap pengobatan, tingkat kelelahan, dan beratnya serangan.
2. Auskultasi bunyi nafas, perhatikan terjadinya ketidaksamaan, adanya ronchi, inspirasi
sesak nafas.

13 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6
R: perubahan dalam/adanya bunyi adventisius menunjukkan terjadinya komplikasi
pernafasan. Inspirasi mengorok menunjukkan edema jalan nafas atas.
3. Instruksikan dan Bantu latihan nafas dalam dan batuk. Reposisi dengan sering.
R: meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi. Reposisi meningkatkan drainase secret
dan menurunkan kongesti pada area paru dependen.
4. Perhatikan peningkatan kegelisahan, kacau, letargi.
R: gangguan dapat menyebabkan hiposekmia.
5. Pertahankan hidrasi adekuat peroral atau intravena.
R: status hidrasi yang baik membantu mengencerkan lendir yang kental.
Kolaborasi:
1. Berikan terapi O2 bila diperlukan. R: meningkatkan sediaan O2 untuk oksigenasi optimal
jaringan.

Diagosis IV : Konstipasi b.d penurunan peristaltik usus


Tujuan : Tidak terjadi konstipasi.
Kriteria hasil : Peristaltik usus normal, pola defekasi normal.
Intervensi:
1. Auskultasi bising usus, awasi kebiasaan eliminasi dan berikan keteraturan defekasi.
R: tondakan keperawatan yang memudahkan eliminasi dapat membatasi konstipasi.
2. Dorong peningkatan masukan cairan 2000-3000 ml perhari.
R: mempertahankan hidrasi tubuh dan menurunkan konstipasi.
3. Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, mineral, vitamin. Pertahankan penurunan
kandungan protein samapi setelah defekasi pertama.
R: makanan protein meningkatkan kandungan di dalam usus halus, sehingga merangsang
fungsi GI sebelum makanan berprotein meningkat.
4. Batasi makanan pembentuk gas.
R: makanan pembentuk gas dapat menyebabkan distensi abdomen, khususnya penurunan
motilitas usus.
Kolaborasi:
1. Lakukan program defekasi (pelunakan feses, laksatif) sesuai indikasi.
R: dilakukan untuk meningkatkan evakuasi usus.

14 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6
Diagnosis V : Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan rangka neuromuskuler.
Tujuan : Meningkatkan atau mempertahankan mobilitas pada tingkat optimal,
mempertahankanposisi fungsional, meningkatkan fungsi yang sakit.
Kriteria hasil : Pasien menunjukkan teknik mampu melakukan aktivitas.
Intervensi:
1. Kaji derajat imobilissi yang dihasilkan oleh cedera dan perhatikan persepsi pasien
terhadap mobilisasi.
R: pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri atau persepsi diri tentang keterbatasan
fisik.
2. Dorong partisipasi pada aktivitas terapiutik.
R: memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, mengeluarkan rasa kontrol diri,
dan menurunkan isolasi diri.
3. intruksikan untuk menggerakkan ekstremitas yang sakit atau yang tidak sakit.
R: meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot.
Mempertahankan gerak sendi. Mencegah kontraktur atau atropi dan resorbsi kalsium
karena tidak digunakan.
4. Dorong penggunaan latihan isometric menekuk sendi atau menggerakkan tungkai dapat
membantu mempertahankan kekuatan dan massa otot.
5. Berikan papan kaki, bebat pergelangan kaki dengan bebatan yang sesuai.
6. Tempatkan dalam posisi terlentang secara periodik bila mungkin traksi digunakan untuk
menstabilkan fraktur tungkai bawah.
R: menurunkan fraktur tungkai bawah.
7. Awasi tekanan darah.
R: hipotensi adalah masalah umum yang menyertai tirah baring lama dan memerlukan
intervensi khusus.
8. Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan nafas dalam.
R: mencegah komplikasi kulit atau pernafasan.
Kolaborasi:
1. Konsultasikan dengan ahli terapi fisik/rehabilitasi spesialis.
R: berguna dalam membuat aktivitas individual atau program latihan.

15 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6
Diagnosa VI : Resiko tinggi infeksi b.d adanya luka terbuka akibat pemasangan.
Tujuan : Mencegah terjadinya infeksi sekunder akibat pemasangan pen.
Kriteria hasil : Tidak terdapat tanda-tanda infeksi pada luka.
Intervensi:
1. Kaji terhadap kemungkinan infeksi pada luka pemasangan pen.
R: deteksi dini terhadap timbulnya penyakit.
2. Pantau status neurovaskuler ekstremitas tiap 2 jam.
R: untuk mengetahui adanya spasme neuro ekstremitas.
3. Kaji timbulnya kemerahan, cairan, nyeri tekan, dan longgarkan pin.
R: potensial terjadinya komplikasi pada kulit, saraf atau pembuluh darah.
4. Jaga kebersihan fiksator.
R: untuk menghindari kemungkinan kontaminasi dengan bahan infektan.

16 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Traksi adalah suatu tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk
menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot .traksi dilakukan dengan
pemasangan gaya tarik ke bagian tubuh dimana tujuan dilakukanya traksi adalah untuk
meminimalkan spasme otot, untuk mereduksi,mensjajarkan,dan mengimobilisasi fraktur
,untuk mengurangi deformitas ,dan untuk menambah suang antara kedua permukaan patah
tulang. Macam traksi ada dua yaitu traksi tulang dan traksi kulit .
Prinsip perawatan Traksi :
1. Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi, pijatan punggung ) dan
aktivitas terapeutik
2. Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot.
3. Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi.
4. Beri penguatan pada balutan awal/ pengganti sesuai dengan indikasi, gunakan teknik
aseptic dengan tepat.
5. Pertahankan linen klien tetap kering, bebas keriput.
6. Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar.
7. Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh: bimbingan imajinasi, nafas
dalam.
8. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan
9. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: edema, eritema

17 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6
DAFTAR PUSTAKA

Apley. Dalam Buku Ajar Ortopedi dan fraktur Sistem Apley, Edisi 7, Editor : Edi Nugroho
1999
Bringker MD. Reviuw Orthopaedics and Trauma. Houston,Texas Co, Philadelphia. 2001
Djoko Simbardjo. Fraktur Batang Femur. Dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian
Bedah FKUI.
Gray’s Anatomi. Human Anatomy. Diunduh dari http://www.theodora.com/anatomy//
accesed on oktober 2011
Marylinn E. Doengoes, Edisi 3, Rencana Asuhan Keperawatan E. Doengoes.
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI, 1990, Perawatan Pasien yang Merupakan
Kasus-Kasu Bedah, Jakarta: Depkes RI
Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Bintang Lamumpatue, Ujung Pandang, 1992.
Smeltzer Susanne C. 2001, Buku Ajar Keperawatan medical Bedah, Bruner&Suddartd, Ed.
8, Jakarta: EGC
Snell, Richard S. 1997. Neuro Anatomi Klinik. Jakarta. EGC
.

18 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6
Lampiran :
Kesimpulan dari jurnal tersebut adalah resiko terjadinya kekakuan sendi lutut yang dilakukan
terapi operatif dengan menggunakan traksi lebih rendah dibandingkan yang tidak dilakukan
traksi.

Tindakan keperawatan yang harus dilakukan dengan adanya kasus diatas adalah :
 Memberikan informasi kepada pasien tentang klebihan dan kekurangan dilakukanya
tindakan traksi
 Memberikan kepahaman tentang traksi pada pasien yang butuh dilakukan tindakan
traksi
 Memberikan anjuran rumah sakit agar menyediakan peralatan untuk traksi
 Memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang membutuhkan tindakan traksi

19 | T r a k s i , F / K P / V I , K e l . 6