Anda di halaman 1dari 41

PRAKTIKUM 1

RESPIRASI I
PEMERIKSAAN SPIROMETRI DENGAN:
MERA EV, COLLINS, ROTARY, DAN AUTOSPIRO

TUJUAN UMUM :
Mahasiswa dapat mengetahui prinsip-prinsip penilaian fungsi paru pada manusia.

TUJUAN KHUSUS :
Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan kapasitas ventilasi paru seseorang, terutama untuk
mengetahui :
1. Vital Capacity (VC)
2. Forced Expiratory Volume in one second ( FEV1 ) yaitu volume udara yang
diekspirasikan
pada detik pertama.
3. Maximum Expiratory Flow Rate ( MEFR)
4. Inspiratory reserve volume.
5. Expiratory reserve volume.

ALAT DAN BAHAN :


Spirometer : MERA EV, Collins, Rotary, Autospiro, beserta kelengkapannya.

CARA KERJA :
A. Spirometer MERA-EV
Bagian-bagian dari "MERA EV – SPIROMETER
Spirometer biasa yang dilengkapi alat untuk mencatat volume udara, juga terdapat
perlengkapan untuk mencatat perubahan waktu. Alat ini mempunyai berat lebih kurang 2,5
kg, hampir keseluruhannya terdiri atas logam (metal), kecuali mouth piece (plastik),
bellows (sebuah balon dari karet) yang bisa mengembang.
Bila kita meniupkan udara kedalam spirometer ini, balon akan mengembang dan
mendesak pelat metal. Pada pelat metal ini melekatlah sebuah tangkai pencatat. Dengan
adanya gerakan pelat metal, maka akan ikut menggerakkan pula tangkai pencatat. Gerakan
pelat metal atau membesarnya balon, akan diproyeksikan oleh pena pencatat pada kertas.

Bagian-bagian lain dari spirometer ini ialah:


1. Basis (metal)
2. Pelat metal yang dapat bergerak bebas
3. Tangkai pencatat
4. Pena pencatat (yang bisa disetel).
5. Kertas pencatat (yang berskala)
6. Tempat memasang kertas (paper frame)
7. Dua buah tombol untuk mengatur waktu serta menyetel letak paper frame (manual timer
dan push button). Alat ini mempunyai dead space sebesar 200 ml.

Prinsip kerja "MERA EV - SPIROMETER"


Dengan meniupkan udara (ekspirasi) kedalam alat ini lewat pintu masuk (mouth piece),
maka balon akan mengembang, dan akan mengangkat /menggerakkan pelat metal. Seperti
kita ketahui bahwa lebar (luas) gerak pelat metal ini adalah sebanding dengan jumlah
(volume) udara yang tertiup masuk kedalam balon. Pena pencatat yang melekat pada pelat
metal dengan sendirinya akan ikut bergerak dan menggoreskan gambaran pada kertas

1
pencatat. Ini merupakan gambaran (pencatat) mengenai volume udara yang ditiupkan masuk
kedalam balon. Pada saat yang sama kertas pencatat juga bergerak ke suatu arah (kekiri)
dengan kecepatan yang konstan (diatur dengan menekan sebuah tombol). Dengan demikian
perubahan-perubahan dari jumlah udara yang ditiupkan dapat dicatat.

Kertas pencatat (lihat gambar) :


Dipakai kertas khusus dengan ukuran tertentu, yang telah diberi garis-garis atau kotak-
kotak untuk menyatakan satuan ukuran pada pencatatan. Sumbu horizontal untuk
pencatatan waktu, terbagi atas 6 bagian besar oleh garis tebal, yang masing-masing bagian
terbagi lagi atas 10 bagian kecil oleh garis yang lebih tipis. Satu bagian besar (dibatasi
oleh 2 buah garis tebal vertikal) berarti menunjukkan waktu 1 detik, maka tiap 1 bagian
kecil menunjukkan waktu 0.1 detik.
Sumbu vertikal untuk pencatatan besarnya volume udara yang masuk kedalam balon
spirometer. Dimulai dari angka 0.2-4.5 yang menunjukkan volume udara mulai dari 200-
4500 ml.

NAZARUDIN

MEFR

VC FVC

FEV1

I.
●A

II. 1 DETIK
B

III.

Gambar 1: Kertas Pencatat hasil Spirometer MERA-EV

I = Garis volume residual


II = Titik 0
III = Original point

2
Perlu diingat bahwa dead space alat adalah 200 ml. Satu bagian besar (yang dibatasi oleh
2 buah garis tebal horizontal) menunjukkan volume 1 liter, maka tiap bagian kecil
menunjukkan volume 0.1 liter.
Jadi secara keseluruhan, kertas pencatat ini terbagi menjadi kotak2 besar, yang terbagi-
bagi menjadi kotak2 kecil. Skala yang terdapat disebelah luar (kanan dan atas) untuk
menunjukkan MEFR. Titik O (original point) digunakan untuk menghitung MEFR.
Pada daerah absis (di sebelah bawah) terdapat skala lagi yang gunanya hanya untuk
memudahkan menghitung (waktu). Disebelah atas terdapat ruangan untuk mengisi hasil
(data-data) pemeriksaan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada persiapan pemeriksaan :


1. Letakkan alat ini sedemikian sehingga tempat memasukkan udara (air inlet)
menghadap kearah depan.
2. Pasanglah kertas pencatat pada tempat yang telah ditentukan, masukkan lubang
kertas pada paku yang tersedia.
3. Sebelum pencatatan, pena pencatat harus terletak (menunjuk) secara tepat pada
garis terbawah dari sumbu horizontal.
4. Sebelum memulai pemeriksaan, cobalah tempat memasang kertas (paper frame)
digerakkan kekanan dan kekiri untuk mengetahui apakah gambaran pena pencatat
itu berjalan sejajar dengan sumbu horizontal, yaitu dengan menekan starter button.
Bila garis gambaran pena itu tidak sejajar dengan sumbu horizontal, maka
betulkanlah letak kertas pencatat.
5. Putarlah tombol waktu (manual timer) sesuai dengan arah panah, sehingga tempat
memasang kertas (paper frame) bergerak kearah kiri.
6. Letakkan mouth piece pada air inlet.
7. Selesai pemeriksaan, lepaskan mouth piece dan letakkan spirometer sehingga air
inlet miring menghadap kebawah.

Cara pemeriksaan :
1. Sebelum pemeriksaan, catatlah : jenis kelamin, umur (tahun), tinggi badan (cm), dan
berat badan (kg) dari orang yang akan diperiksa. Dengan ukuran2 bagian ini, dapat
dihitung harga perkiraan vital capacity (estimated value) dari dari orang yang diselidiki
dengan menggunakan Nomogram dari Baldwin (lihat gambar) atau dari rumus di
bawah ini.
Rumus untuk menghitung VC Vital Capacity):

V.C. laki2 : ( 27.73 - 0.112 x umur ) x TB (cm)


V.C. wanita : ( 21.78 - 0.101 x umur ) x TB (cm)

2. Orang yang akan diperiksa disuruh dengan posisi berdiri atau setengah duduk.
3. Semua pakaian dan barang-barang yang melekat pada tubuh hendaknya dilepaskan,
untuk memudahkan seseorang mengadakan gerakan pernafasan. Sebaiknya sebelum
pemeriksaan, orang yang akan diperiksa disuruh tiduran (berbaring) selama 15 menit.
4. Arti percobaan ini serta cara-cara pemeriksaan yang akan dilakukan hendaknya
diterangkan kepada orang yang akan diperiksa sebelum dimulai pemeriksaan.
5. Rangkaian urutan pemeriksaan:
a. Putarlah tombol waktu (manual timer) kekanan sesuai dengan arah panah sampai
mencapai titik permulaan (starting position).
b. Kemudian orang percobaan disuruh memegangi spirometer tersebut dari arah
belakang alat, dalam posisi horizontal (lihat gambar).
3
c. Sebelumnya orang percobaan disuruh bernafas secara normal (irama dan
kedalaman nafas yang normal ).
d. Suruhlah orang percobaan inspirasi maksimum, kemudian baru menempatkan
mulutnya ke mouth-piece, sesudah itu baru disuruh menghembuskan udara
pernafasan kedalam spirometer.
e. Bersamaan dengan mulai menghembuskan udara pernafasan tersebut tekanlah
starting button terus menerus sampai pemeriksaan selesai atau sampai orang
percobaan berhenti mengadakan gerakan (pernafasan) ekspirasi. Cara
penghembusan udara pernafasan hendaknya secara langsung (tidak boleh terputus-
putus), sekuat-kuatnya (komplet) dan secepatnya.
f. Ulangi percobaan ini sedemikian, tanpa menekan starting button, sehingga kertas
pencatat akan tetap. Ini untuk mengetahui besarnya harga vital capacity.
g. Sesudah selesai, lepaskanlah mouth-piece dari mulut.
h. Bila orang percobaan kurang kooperatif atau bila hasilnya meragukan, maka
ulangilah percobaan sekali lagi. Untuk percobaan ulangan, maka geserlah ujung
pena pencatat sedikit kearah kanan, yang berarti original point akan bergeser
kekanan pula.
i. Jangan lupa menuliskan nama orang yang diperiksa pada kertas pencatat.

Cara Menghitung Hasil Pemeriksaan :

1. Menghitung Estimated Vital Capacity atau Predicted Vital Capacity.


Dihitung dengan rumus atau dengan Nomogram dari BALDWIN (lihat gambar). Kalau
memakai Nomogram, maka dengan mistar buatlah garis yang menghubungkan antara
umur (menurut jenis) dengan tinggi badan (pada nomogram tersebut). Titik potong
pada garis (skala) di tengah menunjukkan harga Estimated Vital Capacity ( EVC )
orang percobaan. Hasilnya bisa dicocokkan dengan menghitung memakai rumus.
2. Observed Vital Capacity : Vital Capacity yang didapat dari percobaan.
Diukur dengan spirometer, dimana sebelumnya orang percobaan mengadakan inspirasi
maksimum kemudian mengeluarkan semua udara pernafasan kedalam spirometer,
dan pada pencatatan digunakan kertas pencatat yang tetap (starter button tidak
ditekan). Biasanya harganya lebih besar daripada Forced Vital Capacity.
3. Vital Capacity Ratio : harga persen dari perbandingan antara Observed Vital
Capacity dengan Predicted Vital Capacity.
4. Forced Vital Capacity (FVC) : Vital Capacity yang diperoleh dari ekspirasi yang
maksimum dan spirometer digerakkan. Bandingkan hasil dengan FVC hasil perhitungan
dengan rumus.
5. Forced Vital Capacity Ratio : harga persen dari perbandingan antara Forced Vital
Capacity dengan Predicted Vital Capacity.
6. Forced Expiratory Volume ( FEV ) adalah Vital Capacity tiap satuan waktu.
Biasanya dicari harga Forced Expiratory Volume satu detik (FEV1 ).
Carilah titik pada kurve sesudah orang percobaan mengadakan expirasi dengan satu
gerakan cepat dari respirasi maksimum selama 1 detik, yang dihitung mulai
permulaan gerakan pernafasan ( titik permulaan ). Berapakah volume udara titik
tersebut ? ( FEV1 ).
7. Forced Expiration Volume Ratio :
a. Harga persen dari perbandingan : FEV1 / FVC ( menurut GAENSLER)
b. Harga persen dari perbandingan : FEV1 / VC ( menurut TIFFENAU)

4
Gambar 2. Nomogram Baldwin
Untuk menghitung kapasitas vital paru (cc)

5
Contoh : (lihat gambar)

NAZARUDIN

MEF
R

VC FVC

FEV1

I.
●A

II.
B ● 1 DETIK

III.

Seorang wanita, umur 31 tahun, tinggi badan 157 cm.


- Estimated vital capacity ( Baldwin ) = 3000 ml.
- Vital capacity ( VC ) = 4000 ml.
- Vital capacity Ratio (VCR) = (4000 : 3000) x 100% = 133%
- Forced vital capacity ( FVC ) = 3800 ml.
- Forced vital capacity ratio (FVC%) = (3800 : 3000) x 100% = 127%
- Forced expiratory volume tiap 1 detik ( FEV1 ) = 2400 ml.
- Forced expiratory volume ratio (FEV1 %) = 2400:3800 = 63% (Gaensler)
- Forced expiratory volume ratio (FEV1 %) = 2400:4000 = 60% (Tiffenau)

8. Menghitung Maksimum Expiratory Flow Rate ( MEFR)


Maximum Expiratory Flow Rate yaitu udara yang dikeluarkan selama satu menit apabila
dihembuskan secepat mungkin.
Cara menghitung adalah sebagai berikut :
a. Berilah tanda A pada titik permulaan kurve garis dasar, titik B pada kurve dimana
volume udara disitu sebesar 1.2 liter dan hubungkanlah kedua titik A dan B
(terbentuk garis A dan Buatlah garis dari original point (0) yang sejajar dengan garis
AB, maka garis yang terbentuk akan memotong skala untuk MEFR pada titik C
yang menunjuk pada angka 86. Jadi harga MEFR 200 - 1200 = 86 liter / menit.
b. Harga normal : dewasa = 150 lt / menit atau lebih, untuk umur > 70 th = 100 lt /
menit atau lebih.

Tabel 1: Klasifikasi mengenai ventilasi paru:


6
Klasifikasi VCR FEVR
Normal tipe 80% atau lebih 70% atau lebih
Restrictive impairment 80% atau kurang 70% atau lebih
Obstructive impairment 80% atau lebih 70% atau kurang
Mixed impairment 80% atau kurang 70% atau kurang

Catatan :
Dalam memperhitungkan vital capacity, maka hasilnya harus diperhitungkan faktor
koreksinya, yaitu tekanan udara dan temperatur atmosfer. Tetapi apabila test itu
dikerjakan dengan spirometer sederhana seperti MERA EV - SPIROMETER ini, maka
tidak perlu diadakan koreksi.
Perbedaan besarnya volume pernafasan antara yang tanpa koreksi dengan yang
dilakukan koreksi terhadap temperatur dan tekanan adalah sebesar 200 ml tiap 3 liter
volume udara.

Buat kesimpulan hasil pemeriksaan berdasarkan tabel di atas.

B. Spirometer Collins

Gambar 3. Bagan Spirometer Collins


Cara Kerja :
1. Spirometer diisi udara biasa secukupnya (dilakukan oleh petugas laboratorium)
2. Masukkanlah mouth-piece ke dalam mulut. Pada waktu ini orang percobaan masih
bernafas dengan udara luar dan mengeluarkan nafas ke udara luar. Arah masuk dan
keluarnya udara diatur melalui kran simpang tiga.
3. Kemudian putarlah kran simpang tiga sedemikian rupa sehingga orang percobaan
bernapas dari paru kedalam spirometer (tanpa diketahui oleh orang percobaan)
4. Buatlah pencatatan dari gerakan pernapasan sampai terlihat pada grafik bahwa
dalamnya dan frekwensi pernapasan sudah konstan (pernapasan normal).
5. Tentukan frekwensi pernapasan normal tersebut dan besar dari Tidal Volume.
7
6. Kemudian suruhlah orang percobaan melakukan inspirasi maximal yang disusul
dengan expirasi maximal. Kerjakan hal ini sampai 3 kali.
7. Tentukan dari grafik yang Sdr. peroleh :
a. Vital Capacity
b. Inspiratory reserve volume.
c. Expiratory reserve volume.
8. Bandingkanlah Vital Capacity (VC) yang di dapat dengan percobaan dengan VC
perhitungan menurut rumus:

I. VC (liter) untuk pria = 2.5 x luas permukaan badan (m2)


VC (liter) untuk wanita = 2.0 x luas permukaan badan (m2)
II. VC (ml) untuk pria = (27.73 - 0.112 x umur dalam tahun) x TB (cm)
VC (ml) utk wanita = (21.78 - (0.101 x umur dalam tahun) x TB (cm)

Rumus untuk menghitung FVC (Forced Vital Capacity):

FVC (liter) untuk pria = (0.051 X TB cm) - (0.025 X Umur dalam tahun) - 3.55
FVC (liter) untuk wanita = (0.033 X TB cm) - (0.023 X Umur dalam tahun) - 1.40
Luas Permukaan Badan (m2) = 0.007184 X BB 0.425 X TB0.725

Rumus untuk menghitung luas permukaan badan (BSA= Body Surface Area)

Cara lain untuk menentukan Luas Permukaan Badan adalah menggunakan Nomogram
Dubois

Gambar 4. Volume Pernafasan dan Kapasitas Pernafasan

8
Gambar 5. Nomogram Du Bois, alternatif Nomogram penentu Indeks Masa Tubuh

9
C. Spirometer Rotary

Gambar 6. Spirometer Rotary

D. Autospiro

Gambar 7. Autospiro

Cara Menggunakan :
1. Hubungkan kabel adaptor ke unit spirometer, kemudian sambungkan kabel power ke
listrik 220 volt.
2. Buka layar/ monitornya.
3. Tekan tombol On/Off, monitor akan menyala dalam 2 detik.
4. Pada monitor akan muncul identitas pasien (ID) yang harus diisi oleh user dengan
menekan tombol ID (untuk pasien baru tekan > / mengedit data pasien tekan < )
5. Untuk memindahkan cursor setelah mengisi data-data ID gunakan tombol enter.
6. Tentukan suku/ etnis, kemudian tekan enter.
7. Pasang mouthpiece pada turbine sebelah kiri alat.
8. Masukkan mouthpiece ke dalam mulut pasien dengan posisi dijepit diantara gigi.
10
9. Selanjutnya lakukan test dengan menekan :
a. VC (Vital Capacity) : Lakukan tes dengan menarik nafas sedalam-dalamnya dengan
lambat lalu buang sebanyak mungkin dengan lambat (seperti bernafas normal). Untuk
mengakhiri test tekan ESC.
b. FVC (Force Vital Capacity) : Lakukan tes dengan menarik nafas sedalam-dalamnya
lalu membuang sedalam-dalamnya dengan cepat. Untuk mengakhiri tes tekan ESC.
c. MVV (Maximum Voluntary Ventilation) : Lakukan tes dengan menarik nafas
sedalam-dalamnya dengan cepat lalu buang dengan cepat. Untuk mengakhiri tes
tekan ESC.
10. Setelah semua pengukuran selesai, tekan tombol di atas tombol post sehingga muncul
hasil pengukuran. Untuk melihat hasil keseluruhan tekan tombol ke atas/ bawah.
11. Print hasilnya.
12. Bila alat telah selesai dipakai, matikan tombol On/Off nya, tutup kembali monitornya,
lepas mouthpiece dari turbine. Rapihkan dan masukkan alat ke dalam tas.

Setelah selesai percobaan, coba bandingkan masing-masing spirometer beserta hasil yang
diperoleh. Buat analisis sederhana dalam laporan praktikum (sementara dan tetap).

11
PRAKTIKUM 2
RESPIRASI II
PEMERIKSAAN PEAK FLOW RATE, TAMBUR MERRY,
DAN PERNAFASAN BUATAN

TUJUAN UMUM :
Mahasiswa dapat mempelajari fungsi pernafasan pada manusia dan bagaimana memberikan
pernafasan buatan.

TUJUAN KHUSUS :
1. Mahasiswa dapat mengetahui jumalah aliran udara dalam jalan nafas dengan
menggunakan alat Peak Flow Meter.
2. Mahasiswa dapat mempelajari berbagai pola pernafasan pada manusia
- Pernapasan waktu bernapas biasa.
- Pernapasan waktu membaca keras.
- Pernapasan waktu menelan.
- Pernapasan waktu batuk.
- Pernapasan sesudah melakukan gerak badan.
3. Mahasiswa dapat mengetahui cara-cara memberikan pernafasan buatan.

ALAT DAN BAHAN :


1. Peak Flow Meter
2. Tambur Merry + penulis
3. Pencatat waktu
4. Pneumograf + pipa karet penghubung
5. Kantong plastik
6. Manometer air raksa + botol perangkap
7. Manometer air.

CARA KERJA :
A. PEAK FLOW RATE
Peak Flow Meter (PFM) adalah alat untuk mengukur jumlah aliran udara dalam jalan
napas (PFR), digunakan untuk memonitor kemampuan untuk menggerakkan udara, dengan
menghitung aliran udara bronki dan untuk mengetahui adanya obtruksi jalan napas. Nilai
PFR dapat dipengaruhi beberapa faktor misalnya posisi tubuh, usia, kekuatan otot
pernapasan, tinggi badan, dan jenis kelamin. Peak Flow Meter (PFM) mengukur jumlah
aliran udara dalam jalan napas.
Peak Flow Rate (PFR) adalah kecepatan (laju) aliran udara ketika seseorang menarik
napas penuh, dan mengeluarkannya secepat mungkin. Agar uji (tes) ini menjadi bermakna,
orang yang melakukan uji ini harus mampu mengulangnya dalam kelajuan yang sama,
minimal sebanyak tiga kali.

Gambar 8. Mini-Wright Peak Flow Meter

12
Cara pemeriksaan
1. Bersihkan mouth piece PFM dengan alkohol
2. Posisikan penanda volume pada tanda ”nol” (skala terbawah)
3. Genggam PFM dengan tangan seperti meniup terompet
4. Ambil nafas dalam dan tiup kedalam spirometer sekuat-kuatnya
5. Baca pada volume PFR skala yang ditunjukkan oleh penanda volume

Gambar 9. Peak Flow Meter Chart

13
B. TAMBUR MERRY

Gambar 10. Pneumograf

1. Pasanglah pencatat tambur-Merry dan pencatat waktu pada kertas tombol yang sudah
diasapi. Pasanglah pneumograf pada dada orang percobaan setinggi puting susu
(bagian yang menunjukkan gerakan pernapasan terbesar).
2. Hubungkanlah tambur Merry dengan pneumograf dengan menggunakan pipa karet
penghubung. Susunlah tambur itu bersama dengan suatu tanda pencatat waktu pada
sebuah drum yang telah diatur kecepatan perputarannya kira-kira 3-4 mm/detik.
Sedapat mungkin tiap pencatat harus mempunyai 3 bagian :
- bagian kontrol
- bagian percobaan
- bagian pulih asal
3. Sementara pencatatan sedang berlangsung berilah tanda pada saat permulaan dan akhir
dari tiap-tiap percobaan.
1). Pernapasan normal, pernapasan waktu membaca keras
 Orang percobaan duduk dengan tenang membelakangi alat dan harus
memikirkan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan percobaan.
 Buatlah suatu pencatatan normal selama 30 detik, kemudian orang
percobaan harus membaca dengan suara keras dan jelas 1-2 kalimat dari
sebuah buku.
 Lanjutkan pencatatan sampai pulih asal pada pernapasan normal
seperti diatas.
 Jangan lupa memberi tanda-tanda saat permulaan percobaan dan akhir
dari tiap-tiap percobaan.
2). Pernapasan waktu menelan
 Seperti no. 1 buatlah pencatatan normal (pernapasan normal) selama 30 detik.
 Kemudian orang percobaan diminta untuk minum satu gelas air tanpa berhenti.
Lanjutkan pencatatan sampai pulih asal.
 Jangan lupa memberi tanda-tanda saat permulaan percobaan dan akhir tiap-tiap
percobaan.
3). Pernapasan waktu batuk
 Seperti no 2 orang percobaan tidak diperintahkan untuk menelan tetapi
diperintahkan untuk batuk dua sampai tiga kali.
14
4). Pernapasan sesudah melakukan gerak badan
 Seperti percobaan no 1 buatlah pencatatan pernapasan normal selama 30 detik.
 Lepaskanlah hubungan antara pneumograf dengan tambur Marey dan orang
percobaan diminta berlari di tempat selama satu menit.
 Kemudian hubungkan kembali pneumograf dengan tambur Murey, jalankan
tombol seperti percobaan diatas dan buatlah pencatatan sampai pernapasan
normal kembali.
 Beri tanda permulaan dan akhir percobaan ini.

Pertanyaan :
1. Pada saat apa pernapasan berhenti? Pada expirasi atau inspirasi?
2. Mengapa orang percobaan harus membelakangi alat-alatnya?

C. PERNAFASAN BUATAN
1. Cara Mulut ke Mulut.

Gambar 11. Mouth to mouth

Dipandang dari sudut memindahkan udara masuk keluar paru- paru cara ini paling
berguna. Lagi pula paling aman, oleh karena tak mungkin memberi udara tak terlalu
banyak, tak ada resiko kerusakan pada dada. Cara ini hanya perlu tenaga sedikit saja
dan dapat dilakukan untuk yang lama sekali. Cara ini terutama berguna sekali bagi bayi
dan kanak-kanak atau pada orang dewasa bila pada bagian dada atau anggota atas terluka.
Cara pernafasan buatan ini menggunakan udara ekspirasi yang mengandung CO2.
Cara kerja:
a. Keluarkan setiap benda asing dari mulut penderita (caranya: periksa dengan jari dan
tariklah lidahnya. Pastikanlah bahwa jalan nafas tak terhalang oleh lendir, air, bahan-
bahan yang dimuntahkan dan lain-lain).
b. Baringkan penderita telentang.
c. Dengan jari-jari kedua tanganmu angkatlah rahang bawah orang coba sehingga
rahang atas terbuka.
d. Lalu mulut penolong ditempatkan diatas mulut dan hidung orang coba lalu udara
ditiupkan sampai dada terlihat mulai naik. Sementara itu dengan tangan yang lain
(yang bebas) diletakkan diatas perut orang coba untuk mencegah lambungnya terisi
udara yang ditiupkan. (Untuk cara ini ada suatu tindakan: satu tangan dipakai untuk
menjepit kedua lubang dan kita bernafas hanya kedalam mulut penderita kadang-
15
kadang lambung perlu ditekan untuk mengeluarkan udara yang tertiup ke dalam
lambung).
e. Setelah paru-paru dikembangkan lalu dikempiskan lagi dengan jalan menjauhkan
mulut penolong dari mulut orang coba.

2. Cara Schafer

Gambar 12. Schafer prone

Gambar 13. Hip Lift Schafer

Sebetulnya cara ini tidak begitu baik dalam hal pemindahan udara dan bila dikerjakan
terlalu kuat dapat melukai penderita bahkan menyebabkan kematian.
Cara Kerja:
a. Orang coba ditelungkupkan dengan kedua lengannya lurus diatas kepala.
b. Penolong berlutut dengan kedua lututnya dikiri kanan orang coba dan menempatkan
kedua tangannya pada rusuk-rusuk paling rendah, dan tangan kedudukannya tetap
lurus. Berat tubuh penolong dipindahkan ke depan kurang lebih 20 kg dan menekan
dada penderita (latihlah cara memberi tekanan ini pada timbangan). Tindakan ini
menekan udara keluar dari paru-paru.
c. Kemudian penolong bergerak kembali dengan mengurangi tekanannya sehingga
dengan demikian dada terisi lagi (mengembang lagi) karena sifat elastisiteitnya.
Ulangi tindakan ini secara teratur denga frekuensi antara 10 – 15 menit.

3. Cara Holger Nielsen

Gambar 14. Nielsen method


Cara ini lebih baik dari cara Schafer dalam hal jumlah pemindahan udara, tetapi
risikonya untuk terjadi perlukaan sama.
16
Cara Kerja:
a. Penderita telungkup dan kedua tangannya dibengkokkan pada sikunya, dan telapak
tangannya ditumpangkan satu ke yang lain.
b. Kepala penderita dipalingkan ke satu sisi dan ditumpangkan pada tangan tadi.
c. Penolong berlutut dengan lutut kiri dan telapak kaki kanan di depannya siku-siku kiri
penderita. Penolong berada disebelah depan kepala orang coba.
d. Sambil memegang kedua tangan penderita sedikit dibawah siku-sikunya, lutut
penolong menggerakkan tubuhnya ke belakang (sama dengan menarik lengan
penderita). Sambil mengangkat kedua lengan penderita sampai terasa suatu tahanan.
e. Sesudah itu tangan dilepaskan lagi dengan penolong kedua berlutut dengan posisi lutut
disamping kanan dan kiri bokong penderita, kedua tangan dibawah scapula penderita.
Kemudian penolong menekan kedua lengannya tetap lurus sampai tegak lurus
sehingga dengan demikian menimbulkan tekanan terus menerus pada dada orang
coba. Gerakan mengangkat dan menekan ini diulangi lebih 12 kali per menit atau
setiap 5 detik.

Gambar 15. Kombinasi Nielsen dan Schafer


4. Cara EVE

Gambar 16. Eve

Dengan cara ini kemungkinan untuk melukai penderita sedikit sekali tetapi penukaran
udara juga sedikit sekali. Cara ini dapat dikerjakan bila ada trauma atau fraktur pada
daerah atau kosta atau ada kerusakan luar daerah dada.
Cara kerja :
a. Baringkan penderita diatas papan (misalnya pintu atau lainnya) yang ditunjang
demikian rupa hingga kedua ujungnya dapat digerakkan naik turun (seperti jomplangan
mainan kanak-kanak).
b. Kemudian penderita ganti-ganti digerakkan dalam sikap kepala keatas kemudian
kepala kebawah. Dengan adanya gerakan ini timbul gerakan pernafasan oleh karena
tekanan dan tarikan berganti-ganti oleh alat-alat rongga perut dan diafragma.
Kedudukan penderita: arah memanjang dengan papan dan tidurnya telungkup, kepala
diputar kesamping. Satu penolong menjaga disampingnya untuk menjaga jangan
sampai penderita jatuh yaitu dengan cara menunjang bahunya pada waktu papan
dimiringkan. Sedang penolong lainnya berdiri di kedua ujung papan untuk

17
menggerakkan ujung-ujung papan keatas dan kebawah. Pada saat kepala di bawah, isi
abdomen menekan diafragma sehingga terjadi ekspirasi, harus ditunggu sebentar
supaya paru mengecil.

6. Cara Silvester

Gambar 17. Silvester

Penderita mengadah dan operator mengambil tempatnya di bagian kepala kedua


lengan bawah. Penderita dipegang dengan kuat dan dengan lengan itu diangkat ke atas
kepala sehingga otot-otot pectoralis menarik tulang-tulang rusuk bagian atas, dengan
demikian akan mengembangkan dada bagian atas. Sesudah itu kedua lengan ditekankan
pada dada untuk melakukan expirasi. Ulangi gerakan tersebut kurang lebih 12 x/menit.

Gambar 18. Hip Lift

PERTANYAAN:
1. Cara manakah yang terbaik?
2. Pada artificial repirasi dari mulut ke mulut apakah CO 2 dari penolong dapat meracuni
penderita?
3. Berapa frekuensi normal pernafasan orang dewasa?

18
PRAKTIKUM 3
KARDIOVASKULER I
PENYELIDIKAN JANTUNG KATAK

TUJUAN UMUM :
Mahasiswa dapat mempelajari cara kerja jantung.

TUJUAN KHUSUS:
Mahasiswa dapat mempelajari :
A. Urutan kontraksi berbagai bagian jantung ( irama normal jantung ).
B. Pengaruh suhu, saraf otonom pada irama jantung.
C. Otomasi dan blok jantung.

ALAT DAN BAHAN:


Alat & Bahan yang diperlukan :
1. Katak ( kintel )
2. Kymograf dan perlengkapannya ( kertas, perekat, dsb. )
3. Sebuah sinyal maknit untuk mencatat waktu
4. Statif + klem
5. Pencatat jantung
6. Benang + malam
7. Botol plastik berisi larutan Ringer + pipet.
8. Bak malam dan papan fixasi.

CARA KERJA:
A. Urutan kontraksi berbagai bagian jantung ( irama normal jantung ).
1. Siapkan segala alat yang diperlukan.
2. Buatlah sediaan jantung katak, dengan cara sebagai berikut:
 Katak dibunuh dengan cara yang sudah dijelaskan pada praktikum sebelumnya
(Faal I)
 Katak ditaruh terlentang pada bak malam (papan fiksasi katak).
 Kulit bagian perut dan dada digunting, sternum dipotong dan dipisahkan sehingga
jantung yang terbungkus oleh perikardium dapat terlihat. Perikardium ini digunting
dan dibuang. Maka tampak jantung yang bebas sehingga bagian-bagian jantung
seperti bulbus aorta dan cabang-cabangnya, kedua atrium dan satu ventrikel dapat
terlihat jelas.
 Perhatikan dan selidikilah sekarang, mana diantara bagian2 itu yang berkontraksi
terlebih dahulu dan mana yang menyusul kemudian. Amati pula keadaan jantung
waktu systole dan diastole.
 Pada ujung jantung terlihat frenulum kordis (tali halus). Putuskanlah tali halus tersebut,
kemudian jepitlah ujung jantung dengan pinset, kemudian jantung dapat dibalikkan
ke atas sehingga dapat dilihat bagian belakang jantung. Lihatlah sejelas-jelasnya
bagian sinus venosus (bahwa kontraksi jantung biasanya dimulai dari bagian
tersebut).
3. Usahakanlah agar semua ujung pencatat terletak pada bidang singgung silinder dan
buatlah titik-titik serentak (sinkron) dari semua ujung pencatat.
4. Membuat pencatatan (registrasi) dari kontraksi jantung katak; untuk mengetahui urutan
kontraksi berbagai bagian jantung (irama normal ).
 Ujung jantung dijepit, kemudian diikat dengan benang dan benang tersebut
dihubungkan dengan alat penulis (pencatat jantung, dimana ujung penulis akan
membuat pencatatan pada kertas kymograf. Waktu putar kymograf perlu dicatat
19
untuk menghitung frekwensi dari gerakan kontraksi jantung tersebut. Sesudah
selesai pencatatan, maka perhatikanlah irama kontraksi jantung. Hitunglah frekwensi
kontraksi jantung.

B. Pengaruh suhu, saraf otonom pada irama jantung.


a. Sesudah diadakan pencatatan mengenai irama jantung dan frekwensi kontraksi jantung
normal (pada percobaan A), maka dilakukan percoban untuk mengetahui pengaruh suhu
terhadap kontraksi otot jantung. Pada jantung diberikan beberapa tetes larutan Ringer
yang mempunyai temperatur 45oC atau larutan Ringer yang dingin (larutan Ringer dalam
botol dimasukkan kedalam air es).
Perhatian: sebelum meneteskan Larutan Ringer dengan suhu yang berbeda jantung perlu
ditetesi dulu dengan Larutan Ringer dengan temperatur kamar.
Apa yang telihat pada hasil pencatatan saudara? Mengapa demikian ?
b. Selanjutnya dilakukan percobaab tentang pengaruh dari sistem saraf otonom terhadap
konraksi otot jantung, dengan cara memberikan obat-obatan acetylcholin dan adrenalin.
Obat-obat tersebut masing2 dilarutkan dalam Ringer 1:1000 sebelum digunakan untuk
percobaan. Dalam percobaan dapat diberikan beberapa tetes dari masing-masing larutan.
Perhatian: sebelum meneteskan obat yang berbeda' jantung perlu ditetesi dulu dengan
Larutan Ringer dengan temperatur kamar. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan
pengaruh obat sebelumnya.
Bagaimanakah pengaruh zat-zat tersebut terhadap kontraksi otot jantung ?

C. Otomasi dan blok jantung :


Sebelum memulai dengan percobaan otomasi dan blok jantung, hendaknya sediaan
jantung dibebaskan dari pengaruh obat-obatan yang dipakai pada percobaan sebelumnya
yaitu dengan cara menetesi jantung dengan larutan Ringer (suhu kamar) sampai terjadi
irama kontraksi jantung yang normal.
a. Blok jantung :
1. Pasanglah ikatan longgar pada batas antara sinus venous dengan atrium dengan
benang yang telah diberi malam.
2. Catatlah sekarang beberapa kontraksi normal atrium dan ventrikel pada silinder
yang berputar dengan kecepatan yang sesuai sebagai kontrol (kecepatan tertentu).
3. Hentikanlah silinder dan eratkanlah ikatan tali, sambil memperhatikan hasil
penyempitan pada kontraksi atrium dan ventrikel. Untuk melihat hasil yang baik,
tunggulah kira-kira 1 menit setelah setiap kali mengencangkan ikatan.
4. Bila terlihat suatu kontraksi atrium yang tidak diikuti oleh kontraksi ventrikel,
jalankanlah silinder dan catatlah.
5. Lakukanlah nomer a.4 tersebut diatas berulang-ulang sambil mencatat sampai
setiap kerutan atrium tidak lagi diikuti oleh suatu kerutan ventrikel sama sekali
(blok total atau blok komplet).
6. Setelah blok otal terjadi, longgarkanlah berangsur-angsur ikatan tali, sambil
mencatat sampai setiap kontraksi atrium diikuti kembali oleh kontraksi ventrikel
(irama 1 : 1).

Catatan :
Dalam latihan ini akan diperoleh berbagai kurve derajat blok partikel, blok total, serta
kembalinya jantung dari blok total sampai dengan kontraksi normal melalui berbagai derajat
blok partikel pula.

20
b. Otomasi jantung :
1. Catatlah beberapa kontraksi normal dari atrium dan ventrikel pada silinder yang
berputar dengan kecepatan yang sesuai sebagai kontrol (kecepatan tertentu).
2. Sambil mencatat, ikatlah dengan kuat, ikatan benang antara sinus venous dan
atrium.
3. Bila ternyata setelah pencatatan sepanjang 10 cm atrium dan ventrikel belum juga
berdenyut (berkontraksi), hentikanlah silinder dan tunggulah sambil menghitung
waktu antara penghentian silinder sampai atrium dan ventrikel mulai berdenyut
kembali.
4. Setelah atrium dan ventrikel mulai berdenyut kembali, jalankanlah silinder dan
catatlah.
5. Sambil silinder tetap berputar, buatlah ikatan antara atrium dan ventrikel sekuat-
kuatnya sampai terjadi blok total.
6. Bila ternyata setelah pencatatan sepanjang 10 cm ventrikel belum juga berdenyut,
hentikanlah silinder dan tunggulah sambil menghitung waktu antara penghentian
silinder sampai ventrikel mulai berdenyut kembali.
7. Setelah ventrikel mulai berdenyut kembali, jalankan silinder dan lakukan pencatatan.

Catatan :
 Permulaan dan akhir pengikatan (longgar/kuat) dengan benang, harus diberi tanda pada
kertas pencatat.
 Dalam percobaab otomasi jantung ini akan dapat dilihat sinus venous, atrium dan
ventrikel berdenyut dengan iramanya masing-masing.

PERHATIKAN :
Janganlah terlalu banyak memegang/ menyentuh jantung terutama bagian ventrikel, karena
dapat menyebabkan fibrilasi yang dapat berakibat katak mati.

Gambar 19. Kymograph

21
PRAKTIKUM 4
KARDIOVASKULER II
Tekanan Darah Arteri Pada Manusia,
Percobaan Tekanan Darah Dengan Pendinginan (Cold Pressure Test)

TUJUAN UMUM :
Mahasiswa dapat mempelajari fungsi kardiovaskuler dengan parameter tekanan darah arteri.
TUJUAN KHUSUS:
1. Mahasiswa dapat mempelajari :
- Tekanan darah arteria brachialis pada berbagai sikap.
- Tekanan darah arteria brachialis pada berbagai kerja.
- Pengaruh pernafasan dan aliran balik vena terhadap tekanan darah.
- Tekanan darah arteria poplitea.
2. Mahasiwa dapat mempelajari pengaruh suhu (pendinginan) terhadap tekanan darah arteri
manusia.

ALAT DAN BAHAN:


1. Spygmomanometer.
2. Stetoskop
3. Air es + termometer
4. Pengukur waktu arloji atau stopwatch.
Catatan :
a. Tiap regu praktikum diperlukan 1 orang percobaan untuk seluruh latihan ini.
b. Penetapan tekanan darah dilakukan secara auskultasi dan palpasi (hanya untuk latihan
bagian C sub. e)
c. Tekanan diastolik secara auskultasi ditetapkan dengan cara lama dan cara "The American
Heart Association" (AHA).

CARA KERJA :
A. Tekanan darah arteria brachialis pada berbagai macam sikap.
a. Berbaring telentang.
1. Pasanglah manset pada lengan atas kanan orang percobaan.
2. Suruhlah orang percobaan berbaring telentang dengan tenang selama 10 menit.
3. Tetapkanlah ke-5 fase Korotkoff 3 kali berturut-turut dan ambillah nilai rata-ratanya
untuk menetapkan tekanan darah normalnya pada sikap ini.
Sistolik ditetapkan berdasarkan:
 Tekanan pada saat denyut arteria radialis teraba pertama kali
 Tekanan pada saat suara Korotkoff 1 (suara terdengar pertama kali)
Diastolik ditetapkan berdasarkan:
 Suara Korotkoff 4 (suara tiba-tiba melemah) atau
 Suara Korotkoff 5 (suara menhilang)
b. Duduk
1. Suruhlah orang percobaan duduk dengan tenang selama 2-3 menit.
2. Tetapkanlah tekanan darahnya 3 kali berturut-turut, dan ambillah nilai rata-ratanya
untuk menetapkan tekanan darah normalnya pada sikap ini.
c. Berdiri
1. Suruhlah sekarang orang percobaan berdiri dengan tenang selama 2-3 menit.
2. Tetapkanlah tekanan darahnya 3 kali berturut-turut, dan ambillah nilai rata2nya
untuk menetapkan tekanan darah normalnya pada sikap ini.

22
Catatan :
Selama percobaan diatas, orang percobaan tidak boleh melakukan kerja otot yang tidak
diperlukan.

Gambar 20. Cara pengukuran tekanan darah

Tabel 2. Klasifikasi hasil pemeriksaan tekanan darah dewasa

B. Tekanan darah arteria brachialis pada berbagai kerja.


a. Kerja otak :
1. Suruhlah orang percobaan duduk dengan tenang dan suruhlah ia mengerjakan soal
hitungan atau menceritakan sesuatu hal.
2. Tetapkanlah tekanan darahnya.
3. Bandingkanlah hasilnya dengan hasil penetapan pada bagian A sub. b.

23
b. Kerja otot :
1. Suruhlah orang percobaan melakukan gerak badan selama 1 menit (misalnya : jongkok-
berdiri).
2. Tetapkanlah tekanan darahnya dalam sikap duduk sedapat-dapatnya segera setelah
selesai dengan gerak badan dan kemudian berturut-turut setiap 30 detik hingga tekanan
darahnya kembali menjadi normal.
3. Bandingkanlah hasilnya dengan hasil penetapan pada bagian A sub. b.

C. Pengaruh pernafasan dan aliran balik vena terhadap tekanan darah.


a. Pengaruh pernafasan dalam dan lambat :
1. Suruhlah orang percobaan duduk dengan tenang.
2. Pompa sfigmomanometer hingga tekanan didalam manset sama dengan tekanan
sistolik (hingga fase ke-satu Korotkov tepat terdengar) dan biarkanlah tekanan di
dalam manset pada ketinggian tersebut.
3. Suruhlah orang percobaan bernafas dalam dengan lambat.
Perhatikanlah hilang timbulnya bunyi di fossa cubiti, dan catatlah pada saat inspirasi
atau expirasi bunyi itu hilang dan pada saat apa bunyi itu timbul.
Bila bunyi masih tetap menerus terdengar, cobalah sekali lagi dengan sedikit
menaikkan tekanan didalam manset.

b. Pengaruh pernafasan dalam dan cepat :


Suruhlah sekarang orang percobaan bernafas (inspirasi dan ekspirasi) dalam dengan
cepat selama satu menit. Ukurlah tekanan darahnya.

c. Pengaruh tindakan Valsava :


1. Suruhlah orang percobaan melakukan inspirasi dalam dan kemudian expirasi
maximal dengan glottis tertutup.
2. Rabalah arteria radialis dipergelangan tangan, sedangkan tekanan didalam manset
diturunkan dari tekanan diatas tekanan sistolik hingga dibawah tekanan diastolik.
3. Tetapkanlah tekanan darah orang percobaan dengan cara palpasi.

d. Tekanan darah arteria poplitea :


1. Suruhlah orang percobaan berbaring tertelungkup
2. Pasanglah manset dipaha kanannya dan perkuatlah manset dengan pembebat supaya
tidak sobek.
3. Tetapkanlah tekanan darahnya di fossa poplitea.

D. Percobaan tekanan darah dengan pendinginan (Cold Pressor Test)


1. Pasanglah manset pada lengan atas kanan orang percoban
2. Suruhlah orang percobaan berbaring terlentang dengan tenang selama 20 menit.
4. Tetapkanlah tekanan darahnya setiap 5 menit sampai terdapat hasil yang sama 3 kali
berturut-turut (tekanan darah basal).
5. Dengan manset tetap dilengan atas kanan, suruhlah orang cobaan sekarang memasukkan
tangan kirinya kedalam air es (4oC) sampai pergelangan tangan.
6. Dengan tangan kirinya didalam air es, tetapkanlah tekanan sistolik dan diastoliknya pada
detik ke-30 dan ke-60.
7. Suruhlah orang percobaan sekarang mengeluarkan tangan kirinya dari air es dan
tetapkanlah tekanan sistolik dan diastoliknya setiap 2 menit sampai kembali ke tekanan
normal.

24
Catatan :
a. Bila terdapat kesukaran pada waktu penetapan tekanan sistolik dan diastolik pada detik ke-
30 dan 60, percobaan dapat dilakukan 2 kali. Mula-mula pada percobaan pertama hanya
dilakukan penetapan tekanan sistolik pada detik ke-30 dan 60, kemudian pada percobaan
kedua hanya dilakukan penetapan tekanan diastolik pada detik ke-30 dan 60.
b. Tangan kiri harus dipertahankan didalam air es selama 1 menit, kecuali bila orang
percobaan tidak dapat menahan dinginnya atau bila tekanan darahnya menjadi sangat
tinggi hingga dapat dianggap berbahaya bagi susunan peredaran darahnya, seperti pada
penderita2 hipertensi dan hiperaktif.
Tekanan sistolik diatas 200 mm Hg adalah berbahaya.

c. Orang-orang dengan tekanan darah normal dapat dibagi dalam 2 golongan :


1. Golongan Hiporeaktor.
Pada golongan hiporeaktor dijumpai kenaikan tekanan sistolik kurang dari 22 mm Hg
setelah percobaan dengan pendinginan.
2. Golongan Hiper-reaktor.
Pada golongan hiperreaktor dijumpai tekanan sistolik lebih dari 22 mm Hg setelah
percobaan dengan pendinginan.

Kenyataan stastistik menunjukkan bahwa golongan hiper-reaktor lebih besar kemungkinan


untuk menjadi penderita hipertensi dibanding dengan golongan hiporeaktor.

25
PRAKTIKUM 5
KARDIOVASKULER III
ELEKTROKARDIOGRAFI, HARVARD STEP TEST,
DAN TES ERGOMETER SEPEDA

A. ELEKTROKARDIOGRAFI
Tujuan Umum :
Mahasiswa dapat mengetahui prinsip-prinsip penggunaan alat Elektrokardiografi (EKG) dan
dapat menginterpretasi elektrokardiogram yang normal.

Tujuan Khusus :
Mahasiswa dapat mengetahui :
1. Cara pencatatan hantaran-hantaran dasar anggota gerak (Standard Limb Leads) : I,II,
dan III.
2. Cara pencatatan hantaran-hantaran anggota gerak kutub tunggal yang diperbesar
(Augmented Unipolar Limb Leads) : aVR, aVL dan aVF.
3. Cara pencatatan hantaran-hantaran dada kutub tunggal (Unipolar Chest Leads atau
Unipolar Precordial Leads) : V1, V2, V3, V4, V5 dan V6.

Alat dan Bahan :


1. Alat elektrokardiograf + perlengkapannya :
 tapal (pasta)
 elektroda-elektroda
 karet-karet pengikat
2. Kapas + alkohol
3. Tempat tidur & alas

Catatan :
 Untuk demonstrasi ini diperlukan 1 orang percobaan untuk tiap kelompok
 Orang percobaan tersebut harus berbaring dengan tenang diatas bangku tidur.
 Semua pencatatan akan diambil dengan kepekaan alat 1 mV = 1 cm (ini diatur
dengan mengatur tombol kepekaan atau "sensitivity") dan dengan kecepatan 25
mm/detik.
 Pencatatan dilakukan sebanyak 5-6 siklus, minimal 4 siklus.
 Bila didapatkan gambaran ireguler yang jelas, maka dilakukan perekaman lead II
yang diperpanjang hingga 10 siklus.

Cara Kerja :
a. Cara pencatatan hantaran-hantaran dasar anggota gerak : I, II dan III.
1. Bersihkanlah dengan kapas dan alkohol bagian kulit didekat kedua pergelangan
tangan dan didekat kedua pergelangan kaki.
2. Berilah sedikit tapal pada elektroda-elektroda, dan pasanglah kemudian elektroda-
elektroda tersebut didekat kedua pergelangan tangan dan didekat kedua pergelangan
kaki yang telah bersih itu.
3. Hubungkanlah kawat elektroda-elektroda itu sebagai berikut :
- kawat RA, elektroda didekat pergelangan tangan kanan
- kawat LA, elektroda didekat pergelangan tangan kiri.
- kawat RL, elektroda didekat pergelangan kaki kanan.
- kawat LL, elektroda didekat pergelangan kaki kiri.
4. Seorang asisten akan memutar sakelar pemilih (selector switch) berturut-turut dan
mencatat hantaran I, II dan III. Elektroda didekat pergelangan kaki kanan tidak
26
digunakan sebagai hantaran pencatatan EKG, akan tetapi hanya digunakan sebagai
hantaran tanah.
b. Cara pencatatan hantaran anggota gerak kutub tunggal yang diperbesar :
aVR, aVL dan aVF.
Dengan elektroda-elektroda tetap seperti pada bagian A, asisten sekarang akan
memutar sakelar pemilih berturut-turut dan mencatat hantaran aVR, aVL dan aVF.
Catatan :
Dasar pencatatan hantaran aVR, aVL dan aVF sebenarnya ialah sbb:
 Untuk hantaran aVR :
Elektroda di dekat pergelangan tangan kiri digabungkan dengan elektroda di
dekat pergelangan kaki kiri, dan dihubungkan melalui suatu tahapan listrik,
dengan maksud supaya tahanan listrik tangan kiri dan kaki kiri menjadi sangat
besar, hingga voltase boleh dianggap 0.
 Untuk hantaran aVL :
Elektroda di dekat pergelangan tangan kanan digabungkan dengan elektroda di
dekat pergelangan kaki kiri, dan dihubungkan melalui suatu tahanan listrik,
dengan maksud yang sama seperti diatas.
 Untuk hantaran aVF :
Elektroda di dekat pergelangan tangan kanan digabungkan dengan elektroda di
dekat pergelangan tangan kiri, dan dihubungkan melalui suatu tahanan listrik,
dengan maksud yang sama seperti diatas.

Pada alat elektrokardiograf yang baru, hal-hal tersebut tidak perlu lagi dikerjakan
sendiri, oleh karena dengan memutar sakelar pemilih, berturut-turut secara otomatis
ke-aVR, aVL dan aVF dengan sendirinya.

c. Cara pencatatan hantaran-hantaran dada kutub tunggal: V1,V2,V3,V4,V5 dan V6.


1) Dengan elektroda-elektroda tetap seperti pada bagian A, bersihkanlah sekarang
berturut-turut tempat-tempat tersebut (lihat gambar 22).
1. ruang interkostal IV parasternal kanan
2. ruang interkostal IV parasternal kiri
3. bagian tengah-tengah garis lurus yang menghubungkan 2 dan 4
4. ruang interkostal V kiri digaris medioclaviculer.
5. titik potong antara garis axiler kiri depan dengan garis mendatar dari 4.
6. titik potong antara garis axiler kiri tengah dengan garis mendatar dari 4
dan 5
2) Berilah sedikit tapal pada elektroda pencari (exploring elektrode), dan pasanglah
elektroda pencari tersebut ditempat 1
3) Hubungkanlah elektroda pencari dengan kawat C.
4) Asisten sekarang akan memutar sakelar pemilih ke huruf V dan kemudian akan
melakukan pencatatan dari hantaran-hantaran V1.
5) Selanjutnya, untuk pencatatan hantaran-hantaran V2,V3,V4,V5 dan V6, pasanglah
elektroda pencari berturut-turut ditempat 2, 3, 4, 5 dan 6.

Catatan :
Dasar pencatatan hantaran-hantaran V1,V2,V3,V4,V5 dan V6 sebenarnya ialah
dengan menghubungkan elektroda2 didekat kedua pergelangan tangan dan didekat
pergelangan kaki kiri dengan suatu "Central Terminal dari Wilson", masing-masing
melalui suatu tahanan listrik sebesar 5000 ohm.

27
Pada alat-alat elektrokardiograf yang baru hal-hal tersebut tidak perlu lagi
dikerjakan sendiri, oleh karena dengan memutar sakelar pemilih ke huruf V, dengan
sendirinya hal-hal tersebut diatas telah dikerjakan.

28
LAPORAN DEMONSTRASI EKG.

Tanggal :
Kelompok :
Nama dan tanda tangan :

Bagian A :
1. Cantumkanlah elektrokardiogram hantaran I, II dan III.
2. Isilah berdasarkan elektrokardiogram tersebut
Frekwensi atrium :....................denyut/menit.
Frekwensi ventrikel :....................denyut/menit.
(Perhatikanlah adanya variasi).
3. Isilah berdasarkan elektrokardiogram hantaran II.
a. Lama interval P-R : .............. detik
b. Lama komplek QRS : .............. detik
c. Lama interval Q-T : .............. detik
d. Lama 1 siklus rata2 (C) : .............. detik.
Lama interval Q-T dapat pula dihitung dengan rumus :
Lama interval Q-T = 0,4 C detik C = lama 1 siklus atau R - R
Hitunglah lama interval Q-T dengan rumus tsb. dan bandingkanlah dengan hasil yang
diperoleh pada butir 3c.
4. Hitunglah berdasarkan elektrokardiogram tsb. besar voltase puncak P,Q,R,S dan T !

Hantaran Puncak P Puncak Q Puncak R Puncak S Puncak T


(mV) (mV) (mV) (mV) (mV)
I
II
III

5. Apakah terdapat kelainan2 dalam hal waktu dan besar voltase ?


6. Buktikanlah kebenaran persamaan Einthoven : II - I - III pada komplek QRS.
7. Tentukanlah sumbu listrik jantung komplek QRS dengan menggunakan segitiga Einthoven.

Bagian B :
Cantumkanlah elektrokardiogram hantaran aVR, aVL dan aVF.

Bagian C :
Cantumkanlah elektrokardiogram hantaran V1, V2, V3, V4, V5 dan V6

Dari petunjuk cara intepretasi EKG di atas, tulislah hasil pemeriksaan elektrokardiografi:
1. Irama :........................................................regularitas:......................................
2. Rate/frekwensi :...................................................
3. Axis :....................................................................
4. Posisi:....................................................................
5. Rotasi :..................................................................
6. Zona transisi:.........................................................
7. Gelombang P:..........................................................
8. Gelombang QRS:....................................................
9. Interval PR:.............................................................
10. Interval QRS:..............................................................
11. Interval QTc:.............................................................
29
12. Voltase:.......................................................................
13. Gelombang T:.............................................................
14. Segmen ST:................................................................
15. Gelombang U:.........................................................

Kesimpulan EKG:......................................................

30
Gambar 21. Pemasangan elektroda dan gambaran normal EKG

31
Gambar 22 : Lokasi Pemasangan Elektroda Pre Cordial EKG

Gambar 23 : Segitiga Einthoven

32
Gambar 24: Contoh rekaman gelombang listrik jantung hasil rekaman EKG

33

Gambar 6. Bagian-bagian rekaman EKG


Gambar 25. Nilai normal axis jantung

34

Gambar 8. Nilai normal axis listrik jantung


B. PERCOBAAN NAIK TURUN BANGKU (HARVARD STEP TEST)

Tujuan :
Tujuan latihan ini ialah untuk mengetahui kesanggupan kardiovaskuler seseorang dimana
parameter terbaik yang untuk menilai respon sistem kardiovaskuler ialah tekanan darah
arteri.

Alat dan Bahan :


1. Bangku Harvard setinggi 19 inchi ( 1inchi = 2.54 cm )
2. Metronom ( frekwensi 2 X ayunan per detik )

Cara Kerja :
1. Suruhlah orang percobaan berdiri menghadap bangku Harvard setinggi 19 inchi dengan
tenang serta penuh perhatian. Metronom (sebelumnya telah dicek ketelitiannya dan
diatur untuk memberikan irama dengan kecepatan 120 kali permenit) mulai dijalankan.
2. Suruhlah orang percobaan menempatkan salah satu kakinya (yang kanan ataupun
yang kiri) diatas bangku tepat pada suatu detikan metronom.
Pada detikan kedua, kaki lainnya dinaikkan keatas bangku, sehingga orang percobaan
berdiri tegak diatasnya.
Pada detikan ketiga, kaki yang pertama kali naik keatas bangku diturunkan.
Pada detikan keempat kaki yang masih diatas bangku diturunkan pula, sehingga orang
percobaan berdiri lagi tegak didepan bangku.
Siklus tersebut diulangi terus menerus sampai orang percobaan tidak kuat lagi, tetapi
tidak lebih dari 5 menit.
Segera sesudah itu, orang percobaan disuruh duduk dan denyut nadinya dihitung selama
30 detik, 3 kali berturut-turut, masing-masing dari:
1’–1’30’’, dari 2’–2’30’’ dan dari 3’–30’’
Lamanya percobaan yang dilakukan dihitung dengan menggunakan sebuah stopwatch.

Gambar 26. Harvard Step Test

3. Cara menghitung indeks kesanggupan badan serta penilaiannya dapat dilakukan


dengan 2 cara:
a. Cara lambat:
Menghitung indeks kesanggupan badan dengan cara lambat dilakukan dengan
memakai rumus sebagai berikut:

Lama naik - turun (detik) X 100


Indeks Kesanggupan Jasmani 
2 X jumlah ketiga harga denyut nadi tiap 30"
35
Penilaiannya:
Kurang dari 55 = kesanggupan kurang

55 – 64 = kesanggupan sedang
65 – 79 = kesanggupan cukup
80 – 89 = kesanggupan baik
lebih dari 90 = kesanggupan amat baik.

b. Cara cepat:
Menghitung indeks kesanggupan badan dengan cara cepat dapat dilakukan
dengan memakai rumus dan daftar sebagai berikut:

1. Dengan rumus:

Lama naik - turun (detik) X 100


Indeks Kesanggupan Jasmani 
5.5 X harga denyut nadi selama 30" pertama

Penilaiannya:
kurang dari 50 = kurang
50 – 80 = Sedang
lebih dari 80 = baik.

2. Dengan daftar

Lamanya Pemulihan nadi dari 1 menit hingga 1½ menit


Percobaan 40–44 45-49 50-59 55-59 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89 90
0” – 20” 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
0’30” – 20 15 15 15 10 10 10 10 10 10 10
0’59”
1’0” – 30 30 25 25 20 20 20 20 15 15 15
1’29” 45 40 45 35 30 30 25 25 25 20 20
1’30” –
1’59”
2’0” – 60 50 45 45 40 35 35 30 30 30 25
2’29” 70 65 60 55 50 45 40 40 35 35 35
2’30 –
2’59”
3’0” – 85 75 70 60 55 55 50 45 45 40 40
3’29” 100 85 80 70 65 60 55 55 50 45 45
3’30” –
3’59”
4’0” – 110 100 90 80 75 70 65 60 55 55 50
4’29” 125 110 100 90 85 75 70 65 60 60 55
4’30” –
4’59”
5’ 0” 130 115 105 95 90 80 75 70 65 65 60
Petunjuk :
36
1. Carilah baris yang berhubungan dengan lamanya percobaan.
2. Carilah lajur yang berhubungan dengan banyakknya denyut nadi selama 30’’ pertama.
3. Indeks kesanggupan badan terdapat dipersilangan baris dan lajur.

C. TES ERGOMETER SEPEDA


Tujuan :
Untuk memeriksa daya tahan jantung dan paru (Kardiorespirasi) dengan memeriksa
kapasitas aerobik/konsumsi oksigen maksimal ( VO2 max ).

Alat dan Bahan :


1. Ergometer sepeda
2. Alat elektrokardiograf + perlengkapannya :
- tapal (pasta)
- elektroda-elektroda
- karet-karet pengikat
3. Kapas + alkohol
4. Jam tangan/ stopwatch

Cara Kerja :
a. Pemeriksaan terhadap pengambilan oksigen maksimal:
Dengan menggunakan tes ergometer sepeda, dilakukan pengukuran pengambilan
oksigen maksimal secara tak langsung. Tes ini dilakukan dibawah maksimal (sub
maximal).
Ergometer sepeda yang digunakan telah diatur pembebanannya dan sudah dikalibrasi.
Selama tes berlangsung dilakukan juga pemeriksaan EKG. Frekuensi nadi dihitung dari
EKG. Suhu dan kelembaban udara dicatat.

Pelaksanaan tes :
1. Orang coba dilakukan fisik diagnostik, diukur berat badannya dan EKG istirahat.
2. Orang coba duduk diatas sedel sepeda, setelah tinggi sedel disesuaikan - bila duduk
diatas sadel tungkai lurus maka telapak tumit tepat menginjak pedal pada posisi
terbawah.
3. Setelah duduk tenang di atas sedel, direkam EKG lagi dan diukur tekanan darahnya.
4. Elektrode dada dipasang seperti halnya sandapan dada konvensional, sedangkan
elektrode RA dan LA ditempatkan di Regio Subclavikularis pada garis medioclavikuler
setinggi SIC II dan elektrode RL dan LL atau RL saja di region scapularis setinggi T4
pada garis paravetebralis.
5. Nadi istirahat dicatat, bila > 100 x/menit ditunggu agar nadi turun dulu.
6. Orang coba diminta mulai mengayuh pedal dengan irama 50 x/menit tanpa beban selama
1-2 menit untuk pemanasan atau dengan melihat jarum speedometer.
7. Setelah pemanasan, beban mulai secara perlahan dinaikkan. Selama kerja EKG direkam
setiap menit dan tekanan darah di ukur pada permulaan dan akhir tahap pembebanan.
8. Pada saat beban dimulai stopwatch mulai dijalankan, setiap satu menit beban selalu
diperiksa Ketepatannya, putaran kaki dan irama harus sesuai.
9. Tes dilakukan selama 6 menit untuk setiap pembebanan dan tiap menit nadi harus
dicatat. Caranya dengan dengan mengambil denyut nadi pada 10 detik terakhir menit
tersebut.
10. Beban kerja diatur dan ditingkatkan setiap 6 menit, diharapkan pada pembebanan ke III
tercapai denyut nadi 170 x/menit.
Putri : dimulai dari 75 watt (450 KPM/menit)
kemudian berturut-turut 100 watt (600 KPM/menit)
37
125 watt (750 KPM/menit)
150 watt (900 KPM/menit)
Putra : dimulai dari 100 watt (600 KPM/menit)
kemudian berturut-turut 150 watt (900 KPM/menit)
200 watt (1200 KPM/menit)
250 watt (1500 KPM/menit)
Hal yang perlu diperhatikan :
 Pencatatan denyut nadi dan tekanan darah (pre-exercise) dilakukan sewaktu
peserta berada di atas sepeda dalam keadaan diam (istirahat).
 Tes dihentikan, jika :
1. Denyut jantung telah menunjukkan submaksimal : 170 x/menit.
2. Adanya indikasi untuk menghentikan tes.
- Gejala subyektif : nyeri dada kiri, pundak kiri (proyeksi eksternal gang-
guan jantung/angina pektoris, pusing, terasa lelah, gelap, pingsan, sendi
dan otot sangat nyeri (claudicatio, artritis).
- Gejala obyektif :
a. Gejala klinis : pucat, sianosis, gelisah, kacau bila ditanya, banyak
keringat, tekanan darah dan nadi turun dengan cepat.
b. Perubahan EKG :
 elevasi segmen ST
 depresi segmen ST lebih dari 0.2 mV (2mm)
 kelainan berkas His
 vibrilasi ventrikel
 denyut prematur ventrikel yang jatuh sebelum akhir gelombang T

Pengambilan oksigen maksimal dinyatakan dalam 2 bentuk :


1. Dalam satuan liter/menit
2. Dalam satuan ml/kg bb/menit

b. Pemeriksaan masa pemulihan (recovery)


Untuk pemeriksaan masa pemulihan (recovery) diperlukan tes maksimal, dengan denyut
jantung 180 x/menit. Pada saat ini diperiksa tekanan darahnya. Setelah beban ditiadakan
orang coba berangsur-angsur menghentikan sepeda (cooling down) dan diperiksa EKG
dan tekanan darah masa pemulihan setiap menit sampai 6 menit, dalam keadaan duduk
diatas sepeda. Dihitung denyut jantung dan tekanan darah pemulihan pada menit 1, 3
dan 5.
Syarat : Orang coba dalam keadaan sehat, tidak menunjukkan penyakit yang aktif
(infeksi), TB paru aktif, gagal ginjal akut, gangguan funsi hati yang nyata. EKG sebelum
tes tidak menunjukkan kelainan. Tes dilakukan paling cepat 2 jam setelah makan dan
minum, termasuk yang beralkohol, kopi dan merokok. Orang coba tidak boleh minum
obat apapun dan tidak boleh melakukan aktifitas fisik yang berat.

Penilaian :
Untuk menilai kondisi fisik orang coba dilakukan dengan memakai tabel Astrand (Nomogram
Astrand). Kemudian nilai denyut nadi tersebut dipadukan dengan tabel beban (1 kg beban
sama dengan 300 kpm menit) dan didapat nilai "VO2 max" maximal pengambilan oxigen -
ketahanan - daya tahan seseorang. VO2 max ini juga akan dikoreksi dengan umur dan berat
badan seseorang serta jenis kelamin

Contoh :

38
Orang coba pria usia 20 tahun, berat badan 50 kg, menjalani Tes Ergometer sepeda selama 12
menit. Hasil tes sebagai berikut :
1. Sesuai tabel II faktor koreksi umur 20 th = 1.00.
2. Pada beban kerja 600 kpm/menit (enam menit tahap pertama), denyut jantung pada menit
ke 5 = 132/menit dan pada menit ke 6 = 136/menit : maka denyut jantung rata-rata =
134/menit.
3. Pada beban kerja 900 kpm/menit (enam menit tahap II) denyut jantung pada menit ke II =
170/menit dan pada menit ke 12 = 170/menit, maka denyut jantung rata-rata = 170/menit.
4. Perhitungan konsumsi oksigen maksimal dari orang coba tersebut adalah sebagai berikut:
a. Untuk beban kerja 600 kpm/menit dengan denyut jantung 134/menit, tentukan detak
jantung 134/menit pada garis denyut jantung putra, kemudian tarik garis lurus ke garis
perpotongan beban kerja untuk putra (600 kpm/menit) maka dapat diperoleh nilai
pengambilan oksigen maksimal : 3.0 L/menit x 1.00 = 3.00 L/menit.
b. Untuk beban kerja 300 kpm/menit dengan denyut jantung 170/menit, dengan cara
seperti ad. a di atas, diperoleh nilai konsumsi oksigen maksimal : 2.6 L/menit x 1.00 +
2.6 L/menit.
c. Maka pengambilan oksigen maksimal rata-rata adalah sebagai berikut :
( 3.0 + 2.6 ) 1/menit = 2.8 L/menit
-----------------------
2
d. Untuk memperhitungkan konsumsi oksigen maksimal dalam satuan ml/kg.bb/menit
adalah sebagai berikut :
2.8 x 1.000 (L/menit) = 56 ml/kg.bb/menit.
------------------------
50 (kg.bb.)

e. Klasifikasi menurut tabel adalah : Tinggi

39
Gambar 27. Nomogram Astrand

Untuk menilai VO2 max. Sebagai contoh, salah satu garis pada gambar di atas, beban 2
kg (workload 600 kpm/mnt), perempuan tinggi badan 156 cm. Garis lainnya pada gambar di
atas, beban 4 kg (workload 1200 kpm/menit), laki-laki tinggi badan 166 cm.

Tabel 3. Faktor koreksi umur


40
Tabel 4. Klasifikasi VO2 Max

41