Anda di halaman 1dari 6

KEBIJAKAN PASCA AMNESTI PAJAK

Oleh :
Muchamad Irham Fathoni
DIII Pajak Alih Program Politeknik Keuangan Negara STAN

Ringkasan
Kebijakan Amnesti Pajak diterapkan sebagai katalisator pencapaian target
penerimaan pajak melalui repatriasi maupun uang tebusan di tahun 2016 dan 2017. Selain
itu, dalam jangka panjang diharapkan mampu memperbaiki tax ratio lebih dari 16% melalui
peningkatan kepatuhan WP. Kebijakan pengampunan pajak diharapkan tidak hanya
menghapus hak tagih atas Wajib Pajak (WP) tetapi yang lebih penting lagi dalam jangka
panjang dapat memperbaiki kepatuhan WP, sehingga dapat meningkatkan penerimaan
pajak di masa mendatang. Untuk mencapai hasil tersebut, tidak bisa dilakukan hanya
dengan mengimplementasikan Amnesti Pajak. Namun perlu untuk mempertimbangkan
kebijakan setelah Amnesti Pajak yang berkelanjutan.
Kata kunci : Amnesti Pajak, Kepatuhan WP, Penerimaan Pajak

Pendahuluan
Pembangunan yang gencar dilakukan pemerintah secara berkesinambungan,
membutuhkan dana yang cukup besar untuk dapat mewujudkan perbaikan infrastruktur
yang diharapkan dapat menciptakan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi. Belanja
negara tahun 2017 mencapai Rp 2.080 triliun dimana penerimaan pajak menopang sebesar
72,1% atau sebesar Rp 1.498,9 triliun. Angka dalam APBN tersebut dapat terus melambung
mengingat proyek pembangunan infrastruktur masih akan terus digalakkan. Tantangan bagi
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk terus meningkatkan kinerjanya karena target
penerimaan yang masih akan terus naik tahun ke tahun. Namun besarnya target
penerimaan pajak ini, tidak diikuti oleh tax ratio yang tinggi. Hal tersebut menyebabkan sulit
tercapainya target penerimaan pajak karena mengindikasikan adanya potensi pajak yang
belum terkoleksi selama ini. IMF memperkirakan dengan perluasan dan perbaikan basis
pajak di Indonesia, tax ratio mampu mencapai angka 21,5%. Dimana untuk saat ini, tax ratio
masih berkisar pada angka 11-12%. Hal tersebut mengindikasikan terdapat penghasilan

1
yang belum dikenakan pajak secara optimal yang menyebabkan target penerimaan pajak
sulit tercapai.
Salah satu upaya yang telah dilakukan pada 2016 dan 2017 adalah dengan
diimplementasikannya Program Amnesti Pajak yang merupakan alat untuk melawan
penggelapan pajak dan menyesuaikan shadow economy. Tujuan negara dari pemberlakuan
amnesti pajak adalah menginvestasikan kembali modal yang diinvestasikan dalam shadow
economy ke dalam ekonomi formal. Selain itu, untuk pemulihan modal yang diinvestasikan
di luar negeri dan kemudian diinvestasikan ke dalam negeri, yang mengarah untuk
meningkatkan ukuran investasi lokal serta penerimaan negara dan meningkatkan tingkat
pertumbuhan ekonomi. Amnesti Pajak diberikan pada kewajiban pajak yang belum dibayar
atau dilunasi oleh WP sampai dengan tahun fiskal 2015 melalui aset yang dideklarasikan
menggunakan Surat Pernyataan Harta untuk mendapatkan pengampunan pajak. Kebijakan
Amnesti Pajak yang diimplementasikan diharapkan dapat mendorong masuknya dana dari
luar negeri yang dalam jangka panjang dapat digunakan sebagai pendorong investasi untuk
menstimulasi perekonomian nasional. Selain itu, Amnesti Pajak juga sebagai instrumen
untuk meningkatkan penerimaan pajak dan memperluas basis data perpajakan. Sehingga di
masa yang akan datang dapat meningkatkan tax ratio.

Kondisi Terkini
Hasil Amnesti Pajak sampai 31 Maret 2017, berdasarkan Surat Pernyataan Harta
(SPH), total harta yang dilaporkan WP mencapai Rp 4.855 triliun. Total harta yang dilaporkan
tersebut terdiri dari deklarasi harta dalam negeri Rp 3.676 triliun dan deklarasi harta luar
negeri mencapai Rp 1.031 triliun. Sementara repatriasi mencapai Rp 147 triliun dan uang
tebusan yang terkumpul sebesar Rp 114 triliun, pembayaran tunggakan Rp 18,6 triliun dan
pembayaran bukti permulaan sebesar Rp 1,75 triliun. Hasil tersebut masih cukup jauh dari
target yang ditetapkan yakni sebesar Rp 165 triliun. Namun, dibandingkan kebijakan sejenis
yang diimplementasikan oleh negara lain, Indonesia terhitung sangat berhasil dan dapat
menjadi tolak ukur negara lain yang akan mengimplementasikan kebijakan sejenis. Namun
ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai perbaikan kebijakan di masa yang
akan datang sehingga hasil kebijakan dapat tercapai dengan lebih efisien dan proses dapat
berjalan lebih efektif.

2
Analisis dan Alternatif Solusi
Dalam pelaksanaan Amnesti Pajak, tarif uang tebusan dirasa terlalu kecil
dibandingkan pengampunan atas sanksi yang diberikan. Untuk deklarasi dalam negeri dan
repatriasi, berkisar dari 2%-5% tergantung periode pengampunan. Untuk deklarasi luar
negeri sebesar 4%-10%. Dan UMKM sebesar 0,5%. Hal tersebut sangat tidak sebanding
dengan pengampunan yang diberikan seperti penghapusan pajak yang seharusnya terutang,
tidak dikenai sanksi administrasi dan sanksi pidana perpajakan, tidak dilakukan pemeriksaan
bukti permulaan dan penyidikan serta dihentikan proses pemeriksaan buper atau
penyidikan. Dalam menetapkan tarif Amnesti Pajak perlu diperhitungkan penerimaan yang
dapat diterima dengan tarif yang dipilih dan dikoreksi dengan besaran makro saat ini. Sesuai
dengan Kurva Laffer, apabila tarif tersebut terlalu tinggi, akan menurunkan aktivitas
ekonomi yang disebabkan Disposable Income yang menurun dan mengakibatkan penurunan
penerimaan pajak. Perubahan perilaku WP apakah comply terhadap aturan atau tidak.
Namun karena Amnesti Pajak bersifat inelastis, sebaiknya dapat diperhitungkan tarif
tersebut lebih besar agar sebanding dengan potensi penerimaan yang hilang karena
pengampunan, terlepas dari tujuan pemerintah untuk merelakan kewenangannya
melakukan penegakan hukum demi memberi kesempatan bagi seluruh warga negara
berpartisipasi dan memperbaiki pelaporan pajaknya sebelum adanya Automatic Exchange of
Information.
Kebijakan pasca Amnesti dapat kita mulai dengan bagaimana memanfaatkan tax
base baru, sehingga dapat mencapai target penerimaan tahun mendatang yang lebih
maksimal. Basis data WP yang diperoleh dari Amnesti Pajak menjadi modal penting untuk
meningkatkan dan menjaga stabilitas penerimaan pajak pada tahun mendatang.
Berdasarkan basis data baru yang masuk melalui Amnesti Pajak, pemerintah akan
melakukan perbaikan sistem pengumpulan pajak. Harapan kedepan, DJP mampu melakukan
peran pengawasannya atas harta dan aset yang tercatat dalam sistem perpajakan Indonesia.
Untuk WP yang tidak mengikuti Amnesti Pajak dan ditemukan adanya harta yang belum
dilaporkan dalam SPT Tahunan, akan dianggap sebagai tambahan penghasilan dan dikenai
pajak dan sanksi sesuai Undang-Undang yang berlaku. Hal tersebut harus benar-benar
diintensifkan penggalian potensinya. Dapat dilakukan dengan melakukan matching data
peta blok PBB dan dilakukan pencocokan dengan data NPWP. Sehingga ditemukan data real
property WP diseluruh Indonesia. Apabila belum dilaporkan dalam SPT Tahunan dapat

3
dijadikan bahan himbauan kepada WP. Dan peranan penilai penting untung menghitung
secara komprehensif nilai aset yang ditemukan dari WP yang tidak mengikuti Amnesti Pajak
agar nilai yang ditetapkan wajar. Selain itu, perlu dilakukan pemetaan aset WP setelah
pengampunan pajak terutama untuk aset produktif. Sehingga dapat dilakukan pengawasan
potensi penghasilan WP di masa yang akan datang.
Perluasan basis perpajakan yang salah satunya tercermin dengan adanya tambahan
WP baru membuahkan hasil yang cukup baik selama periode Amnesti Pajak. Namun
kegiatan ekstensifikasi perlu ditingkatkan lagi untuk mengawasi WP baru terdaftar tersebut,
agar menjadi WP yang patuh. Selain itu, dengan mengolah data yang terkumpul dari
Amnesti Pajak, dapat mengoptimalkan kegiatan ekstensifikasi dengan memanfaatkan data
di SPH. Ekstensifikasi dapat ditingkatkan melalui kerjasama antar lembaga yang efektif
seperti mengimbau pendaftaran NPWP baru/cabang dari data surat keterangan domisili dari
kelurahan, data Nomor Induk Kependudukan dan data transaksi laporan bulanan PPAT.
Permasalahan lain adalah tentang peningkatan kepatuhan WP yang masih belum
optimal. Salah satu persyaratan pengajuan SPH adalah dengan melampirkan SPT Tahunan
tahun terakhir. Sehingga WP harus melaporkan SPT terlebih dahulu. Namun menurut
Ngadiman dan huslin 2016, 21,7% kepatuhan WP dapat dijelaskan oleh variabel sunset
policy dan tax amnesty, sedangkan sisanya yaitu 78,3% kepatuhan WP dipengaruhi oleh
variabel lainnya seperti tingkat kesadaran WP, sanksi administrasi dan lain sebagainya.
Sehingga untuk pasca amnesti, harus ditingkatkan upaya DJP dalam law enforcement.
Sehingga dalam jangka panjang, Amnesti Pajak akan dapat meningkatkan kepatuhan dan
kesadaran WP melalui pengenaan sanksi dan penegakan hukum terutama bagi WP yang
tidak memanfaatkan Amnesti Pajak dan ditemukan harta yang tidak dilaporkan serta belum
dikenakan pajak atas penghasilan tersebut, memperluas basis perpajakan dan tidak terjadi
penurunan kepatuhan WP setelah berakhirnya program Amnesti Pajak dengan cara
mengoptimalkan pengawasan melalui penggalian potensi setelah Amnesti Pajak. Untuk
membentuk awareness masyarakat agar lebih sadar akan kewajiban pajaknya dan mulai
menjadi WP yang patuh. Karena perlu dikaji lebih dalam lagi mengenai berbagai penyebab
tax ratio Indonesia yang rendah. Perlu ditelusuri sektor ekonomi mana yang belum
terkoleksi secara penuh potensi pajaknya. Selain itu perlu diberikan pemahaman kepada
masyarakat agar tidak terjadi demoralisasi kepatuhan dari para pembayar pajak. Karena
nanti akan bergantung pada kebijakan sejenis, sehingga menurunkan kepatuhan dan negara

4
seolah lebih memfasilitasi orang-orang kaya yang kurang patuh. Upaya lain juga perlu
ditingkatkan setelah Amnesti Pajak. Seperti penanganan WP TLTD, penggalian potensi
berbasis sektoral, pengawasan intensif terhadap WP yang melakukan tax planning secara
agresif melalui praktik transfer pricing, peningkatan upaya pertukaran data melalui Alat
Keterangan dan peningkatan kegiatan pengamatan langsung di lokasi usaha WP.

Kesimpulan
Undang-Undang ini harus ditempatkan sebagai jembatan untuk menuju
comprehensive tax reform berupa penguatan sistem perpajakan, peraturan, maupun
kelembagaannya. Dalam konteks itu, pemerintah masih punya pekerjaan rumah untuk
mewujudkan reformasi pajak dan melakukan penegakan hukum yang kuat dan tegas pasca
Amnesti Pajak. DJP harus bisa menjaga momentum dari Amnesti Pajak. Reformasi peraturan
perpajakan perlu dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan proses bisnis saat ini yang
semakin cepat berkembang. DJP harus mampu covering dan capturing potensi pajak dari
proses bisnis saat ini. Sehingga tidak terdapat potential loss. Jadi perlu adanya aturan pasca
Amnesti Pajak sebagai upaya penggalian potensi bagi WP yang tidak mengikuti Amnesti
Pajak dan memberikan hak WP yang telah mengikuti Amnesti Pajak.
Selain itu, Amnesti Pajak telah berjalan dengan sangat baik. Sebagai wujud gotong
royong dengan mengutamakan prinsip keadilan, DJP memberikan kesempatan kepada WP
untuk memperbaiki pelaporan SPT Tahunannya dengan benar, lengkap dan jelas sebelum
era Automatic Exchange of Information. Sehingga saat nanti kebijakan tersebut berlaku, WP
sudah menjadi patuh dan melaporkan SPT Tahunannya dengan benar sesuai Undang-
Undang yang berlaku. Dan diharapkan dapat meningkatkan tingkat kepatuhan dan
pembayaran WP di masa yang akan datang.

5
Daftar Pustaka

Arsal, Yon.2017.Strategi Pengawasan Menyukseskan Amnesti Pajak.Jakarta:E-Magz, Agustus


2017.

Forum Diskusi Ilmiah Perpajakan, berjudul Amnesti Pajak Perlu Prasarat Tax Reform,
(http://groups.yahoo.com/group/forumpajak/message/10744.

Ngadiman dan Huslin.2015. PENGARUH SUNSET POLICY, TAX AMNESTY, DAN SANKSI PAJAK
TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK (Studi Empiris di Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Jakarta Kembangan).Jakarta:Jurnal FEB Universitas Tarumanegara.

Ragimun.2016.ANALISIS IMPLEMENTASI PENGAMPUNAN PAJAK (TAX AMNESTY) DI


INDONESIA.Jakarta:Jurnal Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu RI.

Sari, Sarlina.2017.AMNESTI PAJAK: SEJARAH DAN EFEKTIVITAS DI BERBAGAI NEGARA.Depok:


Journal of Applied Business and Economics Vol. 3 No. 3 (Mar 2017) 139-147.