Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pasar adalah suatu tempat bertemunya pembeli dan penjual dalam
usaha memenuhi kebutuhan pokok hidup sehari-hari. Namun dalam
perkembangannya, kemudian pasar menjadi pusat pertemuan antar
masyarakat dari beberapa wilayah yang lebih luas, misalnya beberapa
kecamatan. Pasar sebagai pusat ekonomi, melancarkan kegiatan yang
bersifat ekonomi. Dalam bidang konsumsi, pasar menyediakan kebutuhan
primer dan sekunder. Sedangkan dalam bidang distribusi, pasar berperan
besar terhadap penyebar luasan barang-barang kebutuhan masyarakat
(Syarifuddin, 1990). Seiring dengan perkembangan zaman, pasar
mengalami perubahan bentuk tempat dan cara pengelolaannya, dari yang
bersifat tradisional menjadi modern. Muncul berbagai macam pasar
modern yang memiliki fasilitas lebih menarik dan nyaman dibandingkan
dengan pasar tradisional. Akhirnya tidak sedikit masyarakat yang mulai
berpaling dari pasar tradisional ke pasar modern.
Menurut Deni Mukbar (2007: 44) karakteristik pasar tradisional
dan pasar modern dapat ditinjau dari beberapa aspek. Berdasarkan aspek
kondisi fisik tempat usaha, pasar tradisional memiliki bangunan temporer,
semi permanen, atau permanen. Kondisi fisik pasar modern yaitu memiliki
bangunan permanen, fasilitas memadai, dan mewah. Berdasarkan aspek
metode pelayanan, di pasar tradisional pedagang melayani pembeli dan
terjadi tawar-menawar. Metode pelayanan di pasar modern yaitu sistem
swalayan di mana pembeli melayani dirinya sendiri dan harga sudah pasti
sehingga tidak ada tawar-menawar.
Saat ini pasar tradisional masih menjadi pilihan masyarakat untuk
membeli bahan makanan basah, seperti daging,sayuran, serta bahan pokok
yang lebih segar. Namun citra Pasar Tradisional pada saat ini identik
sebagai area perbelanjaan yang kumuh dan kotor dengan sebuah kelebihan

1
yang cukup penting yaitu harga yang sangat murah. Dengan kelebihan
tersebut otomatis pasar tradisional menjadi tempat favorit bagi seluruh
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Penyebab utama tidak berkembangnya pasar tradisional saat ini
sebagian besar berasal dari kondisi fisik dari pasar itu sendiri. Seperti yang
kita tahu, image pasar tradisional di masyarakat saat ini adalah tempat
berdagang yang bau, pengap, becek dan jorok. Kenyataan itulah yang
membuat para pengunjung pasar tradisional beralih memilih pasar modern
seperti supermarket yang lebih menawarkan kelengkapan dan kenyamanan
berbelanja dibandingkan pasar tradisional.
Jika dahulu pasar tradisional menawarkan harga barang yang
murah dengan adanya tawar-menawar, namun saat ini berbagai
Supermarket menawarkan diskon-diskon menarik yang membuat para
konsumen semakin melupakan keberadaan pasar tradisional. Menanggapi
fenomena tergilasnya pasar tradisional oleh modernisasi, kita harus mulai
bergerak untuk mempertahankan keberadaan pasar tradisional sebagai
warisan budaya leluhur. Perlu kita sadari bahwa pasar tradisional saat ini
bukan satu-satunya pusat perdagangan, oleh karena itu suatu strategi
pengembangan sangat dibutuhkan agar pasar tradisional dapat
menjalankan kembali fungsi dan peranannya.
Kabupaten Manggarai merupakan salah satu Kabupaten dengan
jumlah masyarakat yang cukup banyak yang tentunya memiliki kebutuhan
yang beragam jenisnya. Begitu pula dengan tempat untuk menyalurkan
berbagai hasil usaha masyarakat Kecamatan Wae Ri’i dan sekitarnya
bahkan masyarakat diluar dari Kabupaten Manggarai. Masyarakat
Kabupaten Manggarai juga memiliki daya beli yang cukup baik, sehingga
dapat dikelompokan sebagai konsumen potensial. Hal ini dapat dilihat dari
bertambahnya jumlah penduduk, fasilitas perdagangan yang mulai
berkembang, khususnya untuk Kabupaten Manggarai sendiri memiliki
beberapa pasar tradisional yaitu Pasar Kota di Kota Ruteng, Pasar Puni
juga berada di Kota Ruteng. Di kelurahan Carep, Kecamatan Wae Ri’i

2
belum memiliki pasar tradisional sendiri, masyarakat sekitar hanya
memanfaatkan tenda-tenda darurat disekitar terminal penumpang sebagai
tempat untuk membeli beberapa kebutuhan mereka seperti sayur, ikan, dll,
namun tempat tersebut kurang layak dari sisi kapasitas pelayanannya.
Dengan melihat potensi-potensi diatas maka dengan menghadirkan sebuah
wadah yang nyaman dan higenis dalam bentuk sebuah “Pasar tradisional”
dapat menampung berbagai kebutuhan diatas dan sekaligus dapat menjadi
aset bagi pemerintah Kabupaten Manggarai dimasa yang akan datang.
Untuk itu Kabupaten Manggarai khususnya kelurahan Carep layak untuk
memiliki sebuah fasilitas pasar yang baik.
Lokasi yang dipilih sebagai tempat perencanaan pasar terletak
didalam wilayah Kota Ruteng bagian timur, karna selain dekat dengan
pemukiman penduduk sekitar lokasi tersebut juga dekat dengan Terminal
Carep, sehingga lingkup pelayanan pasar juga dapat melayani seluruh
daerah di Kabupaten Manggarai. Selain itu adanya terminal juga dapat
mempermudah alur distribusi konsumen maupun komoditi barang. Lokasi
yang dipilih untuk perencanaan pasar juga memiliki kelengkapan fasilitas
umum lingkungan seperti jaringan listrik, jaringan komunikasi, jaringan
air bersih, jaringan jalan dan jaringan drainase.

Di dalam pasar sendiri ada beberapa unsur penting yang perlu


diperhatikan seperti sirkulasi, zoning, pencahayaan, penghawaan, utilitas,
persampahan, dll. Semuanya terkait dengan kanyamanan dalam
berbelanja. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut maka dibutuhkan
suatu konsep perencanaan dan perancangan yang maksimal sehingga
diharapkan dapat meminimalkan beberapa masalah yang ada yang
kemudian mampu menciptakan kenyamanan di dalam pasar.

3
1.2 Permasalahan
1.2.1 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang ada tentang pasar tradisional maka dapat di
identifikasi beberapa masalah seperti:
1. Pencahayaan yang berlebihan di dalam pasar.
2. Orientasi bangunan di dalam pasar yang tidak teratur.
3. Kurangnya perhatian terhadap sirkulasi, baik sirkulasi untuk aktifitas
maupun sirkulasi udara di dalam pasar.
4. Kurangnya vegetasi alami di dalam pasar.
5. Sistem utilitas dan drainase dalam kawasan pasar yang kurang efektif.
6. Kurangnya fasilitas umum yang mendukung fungsi pasar.
1.2.2 Rumusan Masalah
Bagaimana merencanakan sebuah Kawasan Pasar yang bersih, rapi, jauh
dari kesan kumuh, serta fungsional dengan perencanaan sistem sirkulasi,
utilitas dan drainase yang baik.

1.3 Tujuan dan Sasaran


1.3.1 Tujuan
Merancang pasar tradisional yang nyaman, fungsional, bersih serta tertata
dengan rapi, sehingga jauh dari kesan kumuh serta mampu memenuhi
segala kebutuhan baik dari penjual atau pembeli.
1.3.2 Sasaran
Sasaran dari perancangan ini adalah:
a) Merencanakan suatu kawasan pasar tradisional yang tertata dengan
penzoningan dan perencanaan sirkulasi yang baik
b) Merencanakan dan merancang bangunan-bangunan penunjang
kegiatan di dalam pasar yang teratur dan modern
c) Merencanakan pengaturan utilitas dan drainase lingkungan yang baik.
d) Merencanakan fasilitas-fasilitas yang mendukung fungsi pasar.

4
1.4 Lingkup Pembahasan dan Batasan Masalah
1.4.1 Lingkup Pembahasan
1. Pembahasan dilakukan berdasarkan data yang telah ada yang
berkaitan dengan pasar tradisional sesuai dengan tujuan dan sasaran
yang akan dicapai.
2. Lingkup pembahasan dititikberatkan dan dibatasi sesuai relevansi
rumusan permasalahan yang telah dirumuskan diatas dan ditinjau
berdasarkan kajian sesuai sudut pandang disiplin ilmu arsitektur.
1.4.2 Batasan Masalah
Masalah yang akan ditangani lebih dititikberatkan kepada perancangan
kawasan pasar sesuai dengan prinsip-prinsip pasar tradisional yang
tentunya mengarah kepada tujuan dan sasaran diatas.

1.5 Metodologi Penelitian


1.5.1 Teknik Pengumpulan Data
1. Data Primer
Pengumpulan data primer merupakan sumber data yang diperoleh
secara langsung dari sumbernya, dicatat untuk pertama kalinya dan
berhubung langsung dengan permasalahan yang diteliti (Nazir, 1991).
a. Observasi
Dilakukan dengan cara melakukan survey pada lokasi perencanaan
untuk memperoleh data-data exsisting terkait lokasi perencanaan.
b. Wawancara
Melakukan wawancara dan konsultasi dengan beberapa pihak
(responden) yang berkompeten baik dengan interview secara
langsung maupun menggunakakn kuisioner, pada instansi
pemerintah, swasta, maupun masyarakt untuk mendapatkan
berbagai masukan serta data-data penunjang yang diperlukan
dalam proses perencanaan.

c. Pengukuran

5
Pengukuran dilakukan untuk mengambil data-data eksisting pada
lokasi perencanaan seperti luas lokasi dan ketinggian kontur tanah
yang kemudian didukung dengan ukuran yang diperoleh dari
google earth.
d. Dokumentasi
Pengambilan foto bertujuan untuk mendapatkan gambaran data-
data dalam menjelaskan kondisi atau keadaan lingkungan yang ada
dan menjadi sebuah dokumen.
e. Studi pustaka
Mengkaji literatur untuk mendapatkan pemahaman tentang judul
dan tema rancangan. Melakukan pendekatan kepada instansi
pemerintah dan swasta, guna memperoleh data- data penunjang
yang berkaitan dengan museum IPTEK.
2 Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan studi pustaka
(Literatur) untuk mengumpulkan data dari berbagai referensi yang
berkaitan dengan perancangan. Hal-hal yang dilakukan, yaitu:
a. Studi literatur dari buku-buku tentang pasar khususnya pasar

tradisional, untuk mencari data tentang pengertian, karakteristik,


bentuk kegiatan, elemen penunjang dan fasilitas serta buku-buku
yang berkaitan tentang pendekatan arsitektur
b. Pencarian data melalui internet untuk mendapatkan data yang

berkaitan dengan konsep pasar tradisional dan kegiatan-kegiatan


dalam pasar tradisional serta gambar-gambar pasar tradisional yang
tergolong sukses sebagai studi banding.
c. Mengumpulkan data yang berkaitan seperti data kebijaksanaan,

peraturan yang berlaku, kondisi perekonomian, keadaan sosial


budaya masyarakat, peta kondisi wilayah seperti pola penggunaaan
lahan, jaringan utilitas, transportasi, dan jenis tanah.

1.5.2 Metode Analisa


Data-data yang telah diperoleh kemudian dianalisa agar mampu
memperoleh suatu penyelesaian. Analisa yang digunakan adalah analisa
kualitatif dan kuantitatif.
1. Analisa Kualitatif

6
Analisa kualitatif merupakan analisa berdasarkan logika terhadap
hubungan sebab akibat dalam bentuk narasi atau deskripsi yang
dikaitkan dengan penciptaan yang berhubungan dengan desain.
2. Analisa Kuantitatif
Analisa kuantitatif merupakan metode analisis dengan angka-angka
yang dapat dihitung maupun diukur. Analisa ini dilakukan dengan
membuat perhitungan-perhitungan tertentu berdasarkan studi.
1.5.3 Tahapan Penelitian
Uraian tahap penelitian yaitu:
1. Tahap Pra Penelitian
Belum adanya Pasar Tradisonal di Kec.
a. Melakukan pendalaman
Belum terhadap
adanya Pasar masalah
Tradisonal di Kec. yang sudah dirumuskan
Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai
Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai
dengan cara studi literatur
b. Menyiapkan instrumen penelitian berupa kegiatan pengumpulan
Bagaimana Merancang sebuah Kawasan Pasar Tradisional yang nyaman,
Bagaimana Merancang sebuah Kawasan Pasar Tradisional yang nyaman,
data
bersih dan untuk
rapi tahap pekerjaan
sertaterkesan penelitian
modern, sehingga mampu bersaing dengan
bersih dan rapi sertaterkesan modern, sehingga mampu bersaing dengan
Pasar Modern yang telah ada di Kabupaten Manggarai
2. Tahap Pasar ModernPenelitian
Pekerjaan yang telah ada di Kabupaten Manggarai

a. Melaksanakan pengumpulan data sekunder (pengumpulan data


Merancang sebuah kawasan Pasar Tradisional yang
Merancang sebuah kawasan Pasar Tradisional yang
dengan studibersih
nyaman, kepustakaan)
dan rapi serta terkesan modern
nyaman, bersih dan rapi serta terkesan modern
b. Melaksanakan kegiatan pengumpulan data Primer (pengumpulan
data secara langsung
Studypada lokasi perencanaan)
literatur
Study literatur
Eksisting Site
Eksisting Site
c. Melakukan analisis data dari yang telah dikumpulkan
Study Banding
Study Banding
d. Menarik kesimpulan dari hasil penelitian
e. Membuat konsep Desain Kawasan Pasar Tradisonal
Fasilitas
Kriteria Pasar Fasilitas
Pasar
f. Desain Utilitas, drainase
Pasar akhir Kawasan Pasar
Kriteria Tradisional.
Pasar
Tradisional
Utilitas, drainase
Pola tata ruang dan
Tradisional Pola tata ruang dan
sirkulasi
sirkulasi

ANALISA
1.6 Kerangka Berpikir ANALISA

KONSEP
KONSEP

Kondisi Iklim: Tapak: Bangunan: Utilitas: Aktifitas dan


Kondisi Iklim: Tapak: Bangunan: Utilitas: Aktifitas dan
Suhu Zoning Bentuk Massa Lingkungan Fasilitas:
Suhu Zoning Bentuk Massa Lingkungan Fasilitas:
Curah Hujan SE dan ME Bangunan Bangunan Aktfitas
Curah Hujan SE dan ME Bangunan Bangunan Aktfitas
Orientasi Matahari Massa Bangunan Tampilan Kebutuhan Ruang
Orientasi Matahari Massa Bangunan Tampilan Kebutuhan Ruang
Topografi Struktur Luasan Ruang
Topografi Struktur Luasan Ruang
Sirkulasi dan Parkir
Sirkulasi dan Parkir
Vegetasi
Vegetasi
7

DESAIN
DESAIN
1.7 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN, meliputi latar belakang, identifikasi
masalah, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup
studi serta metodologi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, meliputi pengertian pasar tradisional,
prisip-prinsip perancangan pasar tradisional, fasilitas pasar,
studi kasus tentang pasar tradisional.

8
BAB III GAMBARAN LOKASI, meliputi gambaran umum tentang
lokasi perancangan pasar tradisional mengenai kondisi
eksisting, iklim, topografi dan potensi site
BAB IV ANALISA PERANCANGAN, memuat tentang analisa-analisa
terhadap kondisi tapak eksisting, tapak perancangan, sirkulasi,
personil dan aktivitas, ruang-ruang penunjang, analisa terhadap
bentuk maupun pola bangunan dan kawasan, analisa terhadap
struktur bangunan, analisa terhadap system utilitas lingkungan
dan dampak terhadap lingkungan sekitar daerah perancangan.
BAB V KONSEP PERANCANGAN, meliputi konsep tapak yaitu
pezoningan, sirkulasi dalam tapak, pencapaian penataan
landsekap, konsep orientasi, konsep bentuk bangunan, konsep
struktur bangunan, konsep utilitas bangunan dan lingkungan.
BAB VI HASIL PERANCANGAN, meliputi deskripsi desain dan
gambar hasil desain