Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Teknik Geofisika adalah bagian dari ilmu kebumian yang menerapkan
prinsip-prinsip Fisika, Matematika, dan Geologi, serta didukung perangkat
instrumentasi dan komputasi untuk mengkaji fenomena dan permasalahan
yang berhubungan dengan bumi, yaitu memprediksi sifat-sifat fisika bawah
tanah yang berhubungan dengan bencana alam, sumber daya bumi,
pemantauan, dan rekonstruksi struktur bumi serta memprediksi proses yang
terjadi. Aspek-aspek fisik dan dinamika bumi dipelajari dengan melakukan
pengukuran, dilanjutkan dengan pemrosesan data mengenai gejala-gejala
alam tersebut.. Penerapan ilmu geofisika salah satunya adalah
mengeksplorasi sumber daya alam di suatu wilayah. Dalam ilmu geofisika
juga perlu adanya ilmu perpetaan yang digunakan sebagai ilmu pendukung
untuk membantu memberikan informasi tertentu terkait dengan wilayah
survey geofisika. Perpetaan merupakan ilmu yang mempelajari cara
pembuatan peta.
Secara umum, peta adalah penggambaran dua dimensi keseluruhan
atau sebagian dari permukaan bumi yang diproyeksikan dengan
perbandingan/skala tertentu. Peta memiliki banyak jenis seperti berdasarkan
skala, tujuan, isi dan lain-lain. Salah satu jenis peta adalah peta topografi,
yaitu memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian
sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis-garis kontur, dengan satu
garis kontur mewakili satu ketinggian.
Dalam pembuatan peta dikenal istilah poligon. Metode poligon
adalah metode yang umum dipakai untuk pembuatan kerangka peta. Poligon
adalah terdiri dari titik-titik kontrol yang dihubungkan dengan garis ukur.
Titik-titik kontrol pada poligon tersebut digunakan sebagai kerangka dasar
untuk membuat peta. Pada pengukuran poligon, data yang diukur di
lapangan adalah data sudut dan jarak antar titik kontrol tersebut. Hasil akhir

1
dari pengukuran poligon adalah diketahuinya koordinat titik-titik kontrol
tersebut. Poligon terbuka adalah suatu polygonyang titik awal dan titik
akhirnya merupakan titik yang berlainan ( tidak pada satu titik ). Poligon
Tertutup/ polygon Kring adalah suatu polygon yang titik awal dantitik
akhirnya bertemu pada satu titik yang sama.

1.2. Maksud dan Tujuan


Pada pembuatan laporan ini dimaksudkan untuk dapat memahami konsep
dasar alat, berupa perhitungan data lapangan. Tujuannya adalah untuk dapat
menentukan koordinat X, Y, dan Z sebagai dasar untuk pembuatan peta poligon
sistem koordinat. Serta perhitungan koreksi poligon untuk peta poligon sistem
azimuth.

2
BAB II
DASAR TEORI

2.1. Konsep Dasar Alat

SD

VA tr
α
D

ta

Gambar 2.1. Konsep Dasar Alat.


2.2. Perhitungan Dasar
Pada Hasil pembacaan alat akan didapatkan Ha, Va, SD. Untuk mencari H
dan D digunakan rumus sebagai berikut:

(2.1)
α = 90⁰ - VA
Y = SD Sin ( 90⁰-VA ) (2.2)
H = Talat = Y - Trambu (2.3)

D (jarak datar)= SD cosα α (2.4)

Keterangan :
Ha : Pembacaan Horizontal Tr : Tinggi Rambu
Va : Pembacaan Vertikal H : Ketinggian
SD : Jarak Miring D : Jarak sebenarnya

2.3. Poligon
Poligon berasal dari kata polygon yang berarti poly : banyak dan gon (gone) :
titik. Secara umum Poligon dibagi menjadi dua jenis yaitu Poligon Terbuka dan
Poligon Tertutup.

3
Gambar 2.2. Poligon Terbuka (A), Poligon Tertutup (B).

a. Poligon Terbuka
Merupakan serangkaian garis yang berhubungan tetapi tidak kembali
ke titik awal atau dengan kata lain titik awal tidak sama dengan titik akhir.
Poligon Terbuka biasanya digunakan untuk pemetaan daerah yang luas,
pemetaan jalan raya, saluran irigasi, sungai, dan lain – lain.

Gambar 2.3. Koreksi Poligon Terbuka.

Koreksi azimuth

(2.5)

Koreksi jarak

. (2.6)

b. Poligon Tertutup
Serangkaian garis-garis yang membentuk kurva tertutup, dengan
kata lain titik awal dan akhir berada pada titik yang sama. Poligon tertutup
biasanya digunakan dalam pekerjaan geoteknik, pembangunan bendungan,
waduk, pemukiman, dan pembuatan kontur.

4
Gambar 2.4. Koreksi Poligon Tertutup.

2.4. Koreksi Data


2.4.1. Koreksi Sudut Dalam
Koreksi Sudut Dalam dapat dicari dengan rumus :

< 1 = (BM1.BM2) – (BM1.BM2)


< 2 = (BM2.BM1) – (BM2.BM3)
< 3 = (BM3.BM2) – (BM3.BM1)

(2.7)

Gambar 2.4.1.1. Koreksi Sudut Dalam


Koreksi Ha
Koreksi sudut dalam dapat dicari dengan rumus :

BM 2.BM 3 = (BM1.BM2) + 180 -<2


BM 3.BM 1 = (BM2.BM3) + 180 - <3
BM 1.BM 2 = (BM3.BM1) – 180 - <1
(2.8)

5
Gambar 2.5. Ha Sudut Dalam Terkoreksi.

2.4.2. Koreksi Poligon


Untuk mendapatkan nilai absis (x) dan ordinat (y), digunakan rumus
sebagai berikut:

(2.9)

Apabila:

(2.10)

6
Gambar 2.6. D Terkoreksi Dengan Konsep Pythagoras
Koreksi Ha :

Gambar 2.7. Pembagian Kuadran Dalam Koreksi Ha

Gambar 2.8. Sketsa Perhitungan Ha Sesuai Kuadran.

2.4.3. Koreksi Beda Tinggi


Perhitungan beda tinggi harus memperhatikan tinggi alat, tinggi
target/rambu, Y yang telah diperoleh pada bagian perhitungan dasar. Berikut
adalah rumus yang digunakan untuk menghitung beda tinggi:

7
(2.11)

Apabila:

(2.12)

Hasil akhir yang diperoleh dari koreksi beda tinggi adalah ketinggian (elevasi)
dari tiap BM.

8
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Perhitungan Dasar

3.1.1. Tabel Perhitungan Dasar

a. Perhitungan Ha

Tabel 3.1. Tabel Perhitungan Ha

Titik Tinggi Ha
Alat Target Alat Target Degrees Minute Second Decimal
BM 333,836111
BM2 1,5 1,35 333 50 10
1 1
BM 153,835833
BM1 1,5 1,35 153 50 9
2 3
BM 245,021944
BM3 1,5 1,35 245 1 19
2 4
BM 65,0236111
BM2 1,5 1,35 65 1 25
3 1
BM 94,9177777
BM1 1,5 1,35 94 55 4
3 8
BM 275,188888
BM3 1,5 1,35 275 11 20
1 9

b. Perhitungan Va

Tabel 3.2. Tabel Perhitungan Va

VA
Degrees Minute Second Decimal
86 12 11 86,203
93 57 44 93,96222222
87 19 56 87,33222222
92 15 13 92,25361111
100 38 15 100,6375
79 28 30 79,475

9
c. Perhitungan α, D dan D rata-rata

Tabel 3.3. Tabel Perhitungan α, D dan D rata-rata


D
α SD D
Rata-rata
3,796944444 33,24 33,167
32,92936
-3,962222222 32,77 32,692
2,667777778 31,11 31,076
30,85628
-2,253611111 30,66 30,636
-10,6375 50,99 50,114
49,74439
10,525 50,22 49,375
d. Perhitungan Y,∆H, dan Y rata-rata

Tabel 3.4. Tabel Perhitungan Y,∆H, dan Y rata-rata

Y
Y ∆H
Rata-rata
2,201 2,351
-0,032
-2,264 -2,114
1,448 1,598
0,121
-1,206 -1,056
-9,412 -9,262
-0,120
9,173 9,323
∑ 8,386997455 ∑
│∑│ 12,85253812 │∑│
e. Perhitungan ∆H rata-rata, ∆H koreksi dan ∆H terkoreksi

Tabel 3.5. Tabel Perhitungan ∆H rata-rata, ∆H koreksi dan ∆H terkoreksi

∆H ∆H ∆H
Rata-rata Koreksi Terkoreksi
-2,233 1,457 -3,690
1,327 0,866 0,461
9,293 6,064 3,229
8,38699745
5 0
12,8525381
2

3.1.2. Perhitungan Dasar

10
Perhitungan dasar terdapat pada lampiran.

3.2. Perhitungan Poligon

3.2.1. Tabel Koreksi Poligon

Tabel 3.6. Tabel Koreksi Poligon


Koreksi
Poligon
K
o
A
r
b
O e
s D
r k
i
s t s
T
e i
e
T r B
r
e k e
AO k
r o d
o
k r a
r
o e
e
r k T
k
e s i
s
k i
i n
s
g
i
g
i
1
,
4
5
- 7
1 2 2 0
5 1 6 0
, , , 7
7 8 9 0
1 3 0 8
- 2 5 4 1 5
- - - - 3 0
3 1 4 ,
0 6 , 8
, , 2 6
1 3 6 5
0 6 2 8

11
2
4
2 3 6
6
,
0
6
4
4 - 4 1
5 5 6 6
, , , 5
8 4 1 7
1 7 4 3
4- 7 1 3 8
61
9 46,836

3.2.2. Tabel Koreksi Sudut Dalam

Tabel 3.7. Tabel Koreksi Sudut Dalam

Koreksi Sudut Dalam Ha


Sudut Terkoreksi Terkoreksi
<1 58,647 58,738 333,6558
<2 91,186 91,277 245,1131
<3 29,894 29,985 95,0069
∑ 179,728 180,000
│∑
│ 0,090833

3.2.3. Tabel Koreksi Beda Tinggi

Tabel 3.8. Tabel Koreksi Poligon

Koreksi Beda Tinggi


<1 1,457007085
<2 0,8658246
<3 6,064165738

3.2.4. Koreksi Poligon

Koreksi poligon terdapat pada lampiran.

3.2.5. Koreksi Sudut Dalam

12
Koreksi sudut dalam terdapat pada lampiran.
3.2.6. Koreksi Beda Tinggi

Koreksi beda tinggi terdapat pada lampiran.

3.3. Peta Poligon Sistem Azimuth

Poligon disini merupakan kumpulan titik-titik yang terhubungkan dalam


suatu garis khayal. Pada praktikum ini peta yang dihasilkan berupa peta poligon
sistem azimuth yaitu peta poligon yang dibuat berdasarkan besarnya sudut
azimuth. Berdasarkan perhitungan data lapangan berupa horizontal azimuth,
vertical azimuth dan jarak miring didapat D terkoreksi sebesar 26,901 untuk
BM1-2, BM 2-3 sebesar 34,262 dan untuk BM 3-1 sebesar 46,143. Serta
Horizontal azimuth (Ha) terkoreksi BM 1-2 yaitu 333,6558, BM 2-3 yaitu
245,1131, dan BM 3-1 yaitu 95,0069.

3.4. Peta Poligon Sistem Koordinat


Peta yang juga buat pada praktikum ini adalah peta poligon sistem koordinat
yang dibuat berdasarkan titik-titik koordinat di setiap BM yaitu BM1 dengan
koordinat (100,00; 100,00; 100,00). Koordinat BM 2 yaitu (84,29; 121,83;
100,46) Sedangkan Koordinat pada BM 3 yaitu (54,18; 105,47; 103,69).

13
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Pada penelitian ini bertujuan untuk membuat peta poligon, yaitu peta yang dibuat
berdasarkan titik-titik yang dihubungkan dan membentuk poligon. Kesimpulan
yang diperoleh pada penelitian ini adalah
 Peta yang dibentuk pada penelitian ini adalah poligon tertutup dimana titik
awal terhubung dengan titik akhir. Yang dibentuk berdasarkan tiga titik
BM yaitu BM1, BM 2, dan BM3.
 Peta poligon sistem azimuth menggunakan data dari perhitungan Ha
terkoreksi dan D terkoreksi. Ha terkoreksi disetiap BM (Benchmark) yaitu
BM1-2 sebesar 333,6558 , BM 2-3 sebesar 245,1131 dan BM 3-1 sebesar
95,0069. Selanjutnya D terkoreksi sebesar 26,901 untuk BM1-2, D
terkoreksi BM 2-3 sebesar 34,262 dan untuk BM 3-1 sebesar 46,143.
 Peta dengan skala 1:100 Didapatkan BM1 dengan koordinat XYZ sebesar
(100,100, 100,00), BM 2 dengan koordinat XYZ sebesar (84,29 ; 121,83;
100,46) , dan BM 3 koordinat XYZ sebesar (54,18; 105,47; 103,69.).

4.2. Saran
Saran yang diberikan oleh praktikan adalah agar lebih memahami
konsep dasar alat sehingga dapat mengolah data dengan benar dan tepat.
Serta memudahkan dalam pembuatan peta poligon sistem azimuth maupun
sistem koordinat.

14
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2017. Panduan Praktikum Perpetaan Topografi 2017. Yogyakarta:


Laboratorium Geofisika Eksplorasi Program Studi Teknik Geofisika
UPN “Veteran” Yogyakarta.
Anonim. “Materi Pengantar Poligon”. share.its.ac.id/mod/resource /view.php?id
=19694. Diakses pada 3 september 2018 pukul 22.30 WIB
Institut Teknologi Sumatera.” Teknik Geofisika”.
http://usm.itera.ac.id/pilihan
-program-studi/teknik-geofisika/. Diakses pada 3 September 2018
pukul 22.00 WIB.

15