Anda di halaman 1dari 3

ASAM URAT

Widi, dkk. (2011: 51) menjelaskan bahwa “Asam urat merupakan


produk akhir metabolisme purin1 yang terdiri dari komponen karbon,
nitrogen, oksigen dan hidrogen dengan rumus molekul C5H4N4O3.”
Purin yang berasal dari katabolisme asam nukleat diubah menjadi
asam urat secara lansung. Pemecahan nukleotida purin terjadi di semua
sel, tetapi asam urat hanya dihasilkan oleh jaringan yang mengandung
xhantine oxidase terutama di hepar dan usus kecil. Rata-rata sintesis asam
urat endogen setiap harinya adalah 300-600 mg per hari, asam urat yang
ada didalam tubuh dieksresikan ke urin rata-rata 600 mg per hari dan ke
usus sekitar 200 mg per hari.2
Terkait dengan asam urat Syukri (2007: 54) menyatakan bahwa
“Kelebihan asam urat dalam darah dinamakan hiperurisemia.
Keadaan ini disebabkan karena produksi purin yang berlebihan, dan
atau penurunan sekresi asam urat oleh ginjal. Produksi yang
berlebihan terjadi pada keadaan diet tinggi purin, alkoholisme,
obesitas, dan dislipidemia. Sedangkan penurunan sekresi terjadi
karena adanya penurunan fungsi ginjal atau terjadi kerusakan pada
ginjal, sehingga sekresi asam urat oleh ginjal tidak optimal”

Pada sebagian besar penelitian epidemiologi, disebutkan bahwa


orang yang terkena hiperurisemia jika kadar asam urat orang dewasa lebih
dari 7,0 mg/dl pada pria dan lebih dari 6,0 mg/dl pada wanita.3 Keadaan ini
akan mengakibatkan nyeri pada persendian, resiko kelainan metabolik dan
kelainan hemodinamik. Beberapa kelainan metabolic antara lain: resistensi
insulin, kerusakan hati pada penderita alcoholic fatty liver disease, penyakit
jantung koroner, dan disfungsi ginjal pada penderita dengan diabetes
mellitus tipe dua. Sedangkan kelainan hemodinamik yang terjadi adalah

1 Purin adalah protein yang termasuk dalam anggota nukleoprotein dan juga merupakan
salah satu dari dua grup basa nitrogen.
2Nur Amalina Dianati, “Gout and Hyperuricemia,” Jurnal Kesehatan, 4: 3, (Lampung,

Januari 2015), hlm. 84.


3 Misnadiarly. “Mengenal Penyakit Artritis,” Mediakom, juni 2008, hlm. 57.
penyakit kardiovaskuler pada penderita hipertensi dan diabetes melitus tipe
dua.4
Sumber asam urat di dalam tubuh berasal dari asam urat endogen,
asam urat eksogen, dan hasil sintesis dalam tubuh. Asam urat endogen
sebagai hasil metabolisme nukloeprotein terdiri dari protein dan asam
nukleat.5 Asam urat eksogen berasal dari makanan yang mengandung
nukloeprotein. Hasil sintesis yang secara langsung menghasilkan sejumlah
besar asam urat karena adanya kelainan enzim yang sifatnya di turunkan
atau karena suatu penyakit tertentu (misalnya kanker darah) di mana sel-
sel berkumpul berlipat ganda dan dihancurkan dalam waktu yang singkat.
Atau, efek beberapa jenis penyakit ginjal dan obat-obatan tertentu yang
mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam urat (Untari dan
Wijayanti, 2017: 730).
Menurut Kristina dan Diah (2008: 45) Penatalaksanaan diet asam
urat dapat diatasi selain melalui pemberian obat dan pengaturan makanan
yang dapat mengurangi asam urat didalam darah. Terlalu banyak
mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan nukleotida purin akan
meningkatkan produksi asam urat dan akan meningkatkan resiko
hiperurisemia. Begitupun sebaliknya.
untuk itu untuk mengurangi penumpukan protein dibutuhkan suatu
terapi diet asam urat yang baik dan benar. Pola makan yang baik
mengandung makanan sumber energi, sumber zat pembangun dan sumber
zat pengatur, karena semua zat gizi diperlukan untuk pertumbuhan dan
pemiliharaan tubuh serta perkembangan otak dan produktifitas kerja, serta
dimakan dalam jumlah cukup sesuai dengan kebutuhan (Almazter dan
Susinta, 2007: 78).

4 Ida B. N. wisesa dan Ketut Suastika. “Hubungan antara konsentrasi asam urat serum
dengan resistensi insulin pada penduduk Suku Bali asli di Dusun Tenganan Pegringsingan
Karangasem”. Jurnal Penyakit Dalam, 10: 2, (Denpasar, Mei 2009), hlm. 113.
5 Asam nukleat adalah kumpulan nukloetida yang terdiri dari basa purin dan pirimidin,

karbohidrat, serta fosfat.


DAFTAR PUSTAKA
Almazter dan Susinta, 2007, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

Dianati N. A., “Gout and Hyperuricemia,” Jurnal Majority, 4:3, hlm. 82-89
(Lampung, Januari 2015).

Krisnatuti dan Diah, 2008, Perencanan Menu untuk Penderita Asam Urat,
Jakarta: Penebar Swadaya.

Misnadiarly. “Mengenal Penyakit Artritis,” Mediakom, Juni 2008, hlm. 57.

Untari, Ida dan Titin Wijayanti, 2017, Hubungan Antara Pola Makan dengan
Penyakit Gout. Surakarta: PKU Muhammadiyah Surakarta, hlm. 730-
735.

Syukri, M., “Asam urat dan hiperurisemia,” Majalah Kedokteran Nusantara,


40: 1, hlm. 52-56 (Banda Aceh, 2007).

Widi, R. Rahmaning, dkk., “Hubungan Dukungan Sosial Terhadap Derajat


Nyeri pada Penderita Artritis Gout Fase Akut,” Berita Kedokteran
Masyarakat, 27: 1, hlm. 51-54 (Yogyakarta, Maret 2011).

Wisesa, I.B.N dan Ketut Suastika, “Hubungan Antara Konsentrasi Asam


Urat Serum Dengan Resistensi Insulin Pada Penduduk Suku Bali Asli
di Dusun Tenganan Pegringsingan Karangasem,” Jurnal Penyakit
Dalam, 10: 2, hlm. 110-121 (Denpasar, Mei 2009).