Anda di halaman 1dari 12

SEKOLAH TINGGI FILSAFAT THEOLOGI JAKARTA

Nama : Adelvia Rouli Pangaribuan, Gunawan Simatupang, Lolla Lestari,


Marthin Raymond Saragih
Semester :8
Mata Kuliah : Aliran-aliran Gereja
Dosen Pengampu : Pdt. Prof. Jan S. Aritonang, Ph. D.

ALIRAN MENNONIT DAN BAPTIS

Pendahuluan
Aliran Mennonit dan Baptis merupakan bagian dari gerakan Anabaptis yang muncul di
daratan Eropa tak lama setelah Marthin Luther (1483-1546) mencanangkan Reformasi. Kedua
aliran ini kini terjelma dalam banyak sekali organisasi gereja yang tersebar di seluruh penjuru
dunia dan juga di Indonesia. Nama Mennonit sesungguhnya berasal dari nama Menno Simons
(1496/7-1561), tokoh gerakan Anabaptis di Belanda yang menganut garis moderat dan anti-
kekerasan. Para perintis Gereja Baptis di Inggris semula juga mempunyai kontak dengan jemaat-
jemaat pengikut Menno Simons tersebut, ketika mereka mengungsi ke Belanda pada awal abad
ke-17. Namun, banyak tokoh dan sejarawan Gereja-gereja Baptis yang kurang suka mengakui
hubungan langsung di antara kedua aliran itu, karena ada beberapa pokok ajaran kaum Anabap-
tis dan Mennonit yang tidak dianutnya, bahkan bertentangan dengan ajaran Baptis. Sesungguh-
nya terdapat beberapa kesamaan antara aliran Mennonit dan Baptis, misalnya dalam hal baptisan
dewasa dan pemisahan antara gereja dan negara. Walaupun demikian, lebih banyak terdapat
perbedaan ketimbang persamaan, misalnya larangan mengangkat sumpah dan menjadi pegawai
negeri atau tentara, doktrin tentang jiwa yang tidur ketika seseorang meninggal dan sebagainya,
yang semuanya itu tidak dianut gereja Baptis (Aritonang 2015, 104-105, 127).

Perkembangan Gerakan Anabaptis di Eropa


Kemunculan gerakan Anabaptis tidak dapat dilepaskan dan berhutang banyak terhadap
peran dan juga pemikiran tokoh-tokoh besar Reformasi seperti Marthin Luther dan secara khu-
sus terhadap Ulrich Zwingli (1484-1531). Meskipun bukan Zwingli yang mendirikan gerakan
Anabaptis tetapi reformasi yang dipimpinnya di Zurich, Swiss, sangat memengaruhi kemuncul-
an gerakan Anabaptis. Zwingli sangat menekankan bahwa Alkitab memiliki otoritas tertinggi
dan terakhir di dalam gereja dan masyarakat. Dia juga menolak doktrin transsubstansiasi dan
menilai bahwa perjamuan hanyalah sebagai peringatan sehingga roti dan anggur hanyalah
lambang dari tubuh dan darah Kristus. Zwingli juga menolak paham indulgensia dan menying-
kirkan segala patung-patung, mezbah-mezbah, dan benda-benda keramat dari dalam gedung
gereja (Mayanto 2014, 28-33). Pada bulan November 1522, Zwingli berhenti sebagai imam
Gereja Katolik Roma (GKR), tetapi dewan kota Zurich malah mengukuhkan kembali posisinya
sebagai imam yang berada bawah wewenang mereka. Tindakan dewan kota Zurich tersebut
merupakan pernyataan yang menandai mulainya Reformasi di Swiss yang mengarah pada
munculnya bentuk gereja-negara (Dyck 1976, 27).
Sikap Zwingli yang sangat mendukung pemerintah dan terbentuknya gereja-negara
menimbulkan ketidakpuasan di antara sejumlah pengikutnya, antara lain Conrad Grebel (1498-
1526) dan Felix Mantz (1498-1527). Mereka berkeyakinan bahwa jemaat merupakan persekutu-
an orang percaya dan tidak boleh dibawahi kekuasaan pemerintah. Laju Reformasi yang
dipimpin Zwingli dianggap lamban karena sangat patuh terhadap pemerintah dengan segala
pembatasannya dan masih beranggapan bahwa antara warga negara dengan warga gereja adalah
identik. Menurut Agus W. Mayanto, akar dari bentuk gereja-negara lahir dari keputusan
Konstantinus Agung yang mengakui Kekristenan sebagai agama negara. Semenjak itu berlaku

1
2

bahwa menjadi warga gereja berarti menjadi warga negara (dan juga sebaliknya). Karena baptis-
an menjadi tanda seseorang menjadi warga gereja, maka dibuatlah baptisan anak supaya ia
segera sah menjadi anggota gereja dan negara meskipun belum bertobat dan mampu menyatakan
imannya. Di samping itu, bentuk gereja-negara membuat pemerintah memiliki pengaruh yang
sangat besar di dalam gereja dan yang akibatnya adalah terjadinya berbagai praktik kotor yang
dahulu berlaku di GKR sebelum Reformasi (Mayanto 2017).
Grebel dan teman-temannya kemudian mengajukan dua gagasan kepada Zwingli: (1)
membentuk partai Reformasi dengan harapan akan dipilih mayoritas masyarakat Zurich sehing-
ga menghasilkan dewan kota baru yang mendukung sepenuhnya laju Reformasi, dan (2) baptis-
an anak dianggap tidak sah karena anak-anak belum bisa menyatakan imannya sebagai suatu
ungkapan pertobatan dan kepatuhan (Dyck 1976, 30-31; Aritonang 2015, 107). Pada bulan
Desember 1524 Mants mempresentasikan keyakinan mereka tentang baptisan dewasa kepada
dewan kota dan mengklaim bahwa baptisan anak itu tidak alkitabiah. Pada tanggal 17 Januari
1525, dewan kota (bersama Zwingli) memutuskan bahwa ajaran itu mesti ditolak dan memerin-
tahkan supaya semua bayi dibaptiskan sebelum berusia delapan hari. Barangsiapa tidak patuh
akan mendapat sanksi pengucilan (Lichdi 2006, 8).
Pada tanggal 21 Januari 1525, Grebel bersama teman-temannya berkumpul di rumah
Mants di Neustadtgasse untuk melakukan penelaahan Alkitab dan berdoa. Seorang anggota
kelompok itu, Georg Cajacob (kemudian bernama Georg Blaurock; 1491-1529), kemudian
meminta Grebel untuk membaptisnya. Grebel melakukannya dan juga membaptis seluruh orang
yang berkumpul di situ (Lichdi 2006, 8). Peristiwa tersebut kemudian hari dianggap oleh orang-
orang Mennonit sebagai hari lahirnya Anabaptisme (Dyck 1976, 34). Peristiwa itu menjadi awal
pecahnya hubungan antara kelompok tersebut dengan kelompok pendukung gereja-negara
(Zwingli). Para pendukung Zwingli kemudian menjuluki mereka sebagai Anabaptis (orang-
orang yang dibaptis ulang), meskipun mereka sesunggguhnya menolak julukan itu, karena tidak
merasa dibaptis ulang, mengingat baptisan anak-anak yang dulu mereka terima tidak sah.
Mereka lebih suka menyebut satu sama lain sebagai persaudaraan (Brethren) (Smith 1957, 11).
Persaudaraan (Brethren) itu mendapat dukungan dari masyarakat dan berkembang dengan cepat
karena antiklerikalisme dan bukan karena permasalahan baptisan. Alasan lainnya adalah karena
masyarakat sudah lama menginginkan otonomi pada jemaat mereka sendiri, menolak pajak yang
berlebihan, dan keinginan untuk terlibat dalam kelompok penelaahan Alkitab dan praktik-
praktik beragama lain yang tampaknya sesuai dengan kebutuhan spiritual mereka (The
Encyclopedia of Religion, s.v. “Anabaptism”). Seminggu setelah pembaptisan pertama, berdiri-
lah jemaat Anabaptis pertama di Zolikon (Lichdi 2006, 9). Dewan kota Zurich tidak tinggal
diam dan melakukan penindasan serta membunuh sejumlah pemimpin awal gerakan Anabaptis.
Akibatnya orang-orang Anabaptis tersebar ke sekitar Swiss dan ke negara-negara lain sembari
menyebarkan paham mereka (Lichdi 2006, 9).
Pada tahun 1527, orang-orang Anabaptis berkumpul dan mengadakan suatu pertemuan di
Schleitheim sebagai bentuk konsolidasi, mengingat banyaknya anggota mereka yang sudah
semakin jauh dari semangat dan pemikiran para pendahulu gerakan itu. Dalam pertemuan
tersebut dikembangkan suatu pemikiran yang cenderung separatis-sektarian dan menyepakati
tujuh pokok pandangan dan ajaran Anabaptis yang disebut dengan “Kesepakatan Persaudaraan”.
Ketujuh pokok tersebut merupakan ringkasan dari permasalahan-permasalahan iman terpenting
dan membedakan mereka dari “persaudaraan-persaudaraan palsu” (The Encyclopedia of
Religion, s.v. “Anabaptism”). Ketujuh pokok tersebut adalah (1) baptisan bagi mereka yang
secara sadar memilih menjadi Kristen; (2) pengucilan orang yang sudah dibaptis tetapi berbuat
dosa lagi dan tidak mau dikoreksi; (3) Perjamuan Kudus sebagai peringatan pada Yesus Kristus
dan hanya orang yang dibaptis yang dapat berpartisipasi; (4) pemisahan orang percaya dari du-
nia yang jahat, termasuk dari GKR maupun gereja Protestan; (5) gembala yang dipilih hanyalah
laki-laki yang memiliki nama baik dan gajinya harus dijamin jemaatnya; (6) Senjata gereja
hanyalah pengucilan dan harus dilarang penggunaan kekerasan dan tidak boleh menjadi pejabat
pemerintah; (7) larangan untuk bersumpah. Penggerak utama dalam pertemuan ini sekaligus
3

penulis dari pokok-pokok pandangan tersebut adalah Michael Sattler (1490-1527). (Mayanto
2014, 40-1)
Pembawa paham Anabaptis ke Belanda adalah Melchior Hoffman (1493-1543). Ia
menjadi pengikut Anabaptis ketika berjumpa dan menyerap pemikiran orang-orang Anabaptis di
Strasburg. Hoffman kemudian mengirimkan para pengikutnya untuk berkhotbah ke seluruh
Belanda. Hoffman lalu memproklamirkan dirinya sebagai Elia. Ia bernubuat bahwa Kristus akan
segera datang dan Yerusalem baru akan terwujud di Strasbrug. Nubuatannya tidak tergenapi dan
malahan pemerintah setempat memenjarakannya atas tuduhan penyebar ajaran sesat. Akan
tetapi, pengaruh Hoffman tetap besar di antara pemimpin-pemimpin Anabaptis di Belanda,
khususnya pada Jan Matthijs yang kemudian mengklaim diri sebagai pemimpin Anabaptisme di
Amsterdam. Matthijs kemudian pergi ke kota Münster dan mewartakan supaya penduduk kota
itu mempersiapkan kedatangan kerajaan Allah serta memaksa orang-orang untuk dibaptis.
Uskup Münster dengan dukungan para pangeran Jerman kemudian mengumpulkan tentara untuk
menumpas gerakan itu. Matthijs kemudian tewas, dan kepemimpinan beralih kepada Jan van
Leiden. Dengan sangat ekstrem ia memproklamirkan dirinya sebagai Raja Daud, membenarkan
poligami, dan memerintah dengan tangan besi. Kelompok ini juga ditumpas dan akhirnya benar-
benar menyerah. Peristiwa di kota Münster tersebut sesungguhnya memperlihatkan bahwa
terdapat kaum Anabaptis yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka dan tidak
seperti para pendahulu gerakan itu (Dyck 1976, 75-8).
Sekitar tahun 1535-6, 25 orang Anabaptis Belanda yang mengungsi ke Inggris ditangkap
pemerintah dan dibawa ke pengadilan. Mereka sesungguhnya terlibat dalam tragedi yang terjadi
di Münster. Akibat persuasi yang dilakukan oleh Raja Edward VI (1547-53), mereka bersikap
lebih terbuka dibandingkan sebelumnya. Di bawah pemerintahan Ratu Mary I (1553-58), kaum
Anabaptis ikut mengalami penyiksaan bersama dengan golongan Protestan lainnya. Pada tahun
1567-1573, ribuan orang Anabaptis datang dari dataran Eropa untuk mencari perlin-dungan ke
Inggris yang kala itu dipimpin oleh Ratu Elizabeth I (1533-1603). Namun sang ratu mengeluar-
kan dekrit yang menugaskan gereja untuk memburu dan mengadili seluruh orang-orang
Anabaptis di Inggris. Setelah tahun 1580, toleransi berkembang di Inggris semenjak sejumlah
kelompok memisahkan diri dari gereja negara dan mulai mengorganisasi diri. Sejumlah
pemikiran kelompok-kelompok tersebut memiliki kemiripan dengan ajaran Anabaptis, khusus-
nya pemisahan gereja dan negara, pembaptisan hanya untuk orang dewasa, dan kebebasan
jemaat lokal dari pengaruh luar. Walaupun demikian, Anabaptisme tidak pernah menjadi sebuah
kelompok gereja yang permanen ataupun memiliki jumlah anggota jemaat yang besar di Inggris,
meskipun kepercayaan dan praktik-praktiknya memengaruhi sejarah gereja Protestan di Inggris,
khususnya tiga denominasi utama: Kongregasionalis, Baptis, dan Quaker (Dyck 1976, 91-2).

Riwayat Hidup Menno Simon dan Gerakan Mennonit di Belanda


Menno Simons pada awalnya adalah seorang imam GKR yang melayani di jemaat
Witmarsum. Meskipun sudah menjadi imam, ada tiga faktor yang mengusik hatinya: benarkah
roti itu sesungguhnya menjadi tubuh Yesus oleh karena mukjizat? (transsubstansiasi). Mula-
mula ia merasa bahwa pikirannya itu berasal dari iblis. Namun, ketika ia membaca Perjanjian
Baru dan tulisan Martin Luther, ia mulai meragukan transsubstansiasi. Kemudian ada suatu
peristiwa yang mengejutkan Menno Simons, ketika Sicke Freerks Snijder dipancung kepalanya
karena baptisan ulangnya pada tanggal 20 Maret 1531. Sebelumnya ia tidak pernah mendengar
tentang orang-orang yang menerima babptisan kedua (Anabaptis). Peristiwa itu juga membuat
dia meragukan kebenaran baptisan, dan setelah mendalami Perjanjian Baru, ia menyimpulkan
bahwa gereja selama ini memegang baptisan yang tidak alkitabiah dan hanya sebagai upaya
kristenisasi (Bender 1974, 4-5).
Peristiwa selanjutnya yang menggetarkan hati Menno adalah karena peran-serta sauda-
ranya dalam pemberontakan melawan pemerintah pada tanggal 7 April 1535. Menurut Menno,
saudaranya itu cukup jantan karena mau mati demi keyakinannya sedangkan dirinya sendiri
4

tidak. Akibat peristiwa itu Menno sangat menyesali dirinya dan pada hari Minggu, 30 Januari
1536, dia memutuskan untuk meninggalkan keimamannya lalu menggabungkan diri dengan
sayap damai dari pengikut Melchior (yang juga disebut pengikut Obbe). Menno lalu dibaptis
oleh salah satu pengiku Obbe. Menno kemudian ditahbiskan menjadi tua-tua kelompok itu
meskipun awalnya ia menolak. Selama hidupnya, Menno menulis sekitar 24 buku dan risalah
yang menjadi penuntun dan penyatu jemaat-jemaat Anabaptis. Dia juga banyak bepergian dalam
rangka penggembalaan dan menguatkan para gembala di jemaat-jemaat Anabaptis di Belanda
dan Jerman Utara (Christano 1987, 72-5).
Menno Simons berpegang pada gagasan Anabaptis yang Injili sebagaimana yang dipa-
parkan dalam pengakuan iman Schleitheim. Ia sangat menolak dan menentang corak Anabap-
tisme revolusioner dan berpegang teguh pada sikap cinta damai. Ia juga menentang Anabaptis
bercorak spiritualistis yang bergantung dari “cahaya batin” untuk mendapatkan pernyataan-
pernyataan khusus dan pribadi. Dalam perkembangannya, para pengikut Menno Simons ini
diberi nama Mennonit (Mayanto 2014, 48-9). Nama Mennonit atau Mentis pertama sekali
digunakan oleh Putri Anna dari Friesland untuk membedakan kalangan Anabaptis yang
memasuki daerahnya, yaitu antara pengikut Menno yang mencintai damai dengan kalangan
Anabaptis lainnya yang revolusioner (The Encyclopedia of Religion, s.v. “Mennonites”).
Sudah sejak masa kepemimpinan Menno Simons, kaum Mennonit di Belanda mengha-
dapi banyak pergumulan. Bukan hanya menghadapi tekanan GKR atapun mengatasi fanatisme
kaum Anabaptis yang lain, melainkan juga menghadapi penganut reformasi Luther dan (teristi-
mewa) Calvin yang semakin kuat di negeri itu. Kaum Mennonit memang sepandangan dengan
kaum Lutheran dan Calvinis mengenai banyak hal pokok dari ajaran Reformasi, tetapi kemudian
menarik implikasi yang berbeda dari ajaran-ajaran pokok itu. Sejumlah perdebatan antara kaum
Lutheran dan Calvinis dengan kaum Mennonit membuat jelas perbedaan mereka dalam dua hal
mendasar: kodrat (sifat dasar) kehidupan Kristiani dan kodrat gereja. Mengenai hal pertama,
kaum Mennonit menekankan pentingnya kelahiran baru dan kemuridan. Hanya pribadi-pribadi
yang telah bertobat yang layak dibaptis dan ambil bagian dalam gereja. Bukti kelahiran baru
terlihat dari upaya yang sungguh-sungguh untuk hidup sebagai murid yang sudah mengikatkan
diri sepenuhnya kepada Kristus. Tanda-tanda yang hidup dari kemuridan adalah kasih yang tidak
menggunakan perlawanan dan kekerasan (non resistence). Mengenai hal kedua, kaum Anabaptis
menekankan bahwa gereja haruslah merupakan perhimpunan umat beriman yang bersifat
sukarela. Warga gereja diikat bersama hanya oleh kesetiaan kepada Kristus dan kasih satu sama
lain. Hidup mereka sebagai murid-murid Kristus akan memisahkan mereka dari dunia dan
pengucilan (oleh gereja) berfungsi sebagai alat kasih untuk mengingatkan dan menegur yang
bersalah di antara mereka (Aritonang 2015, 112-3).
Setelah Menno Simons meninggal pada tahun 1561, gerakan Mennonit semakin
berkembang bahkan hingga ke Amerika Serikat. Namun, sepanjang abad ke-16, gerakan ini
masih dipandang sebagai musuh dari Gereja Katolik dan Protestan. Paham non resistence dan
non violence membuat mereka dipandang tidak loyal pada negara. Hal inilah yang membuat
mereka sering ditindas. Penindasan ini membuat mereka mencari tempat yang bebas untuk
mengekspresikan iman mereka. Wilayah Amerika menjadi tempat yang menurut mereka tepat
karena Amerika membebaskan warga negaranya dalam urusan agama. Akhirnya, pada awal
abad ke-17, banyak kaum Mennonit yang pindah ke Amerika, Canada, dan Meksiko. Mennonit
pun berkembang pesat, jumlahan anggota mereka meningkat, dan semakin banyak organisasi-
organisasi Mennonit yang muncul. Di Amerika Serikat pula terbentuklah Mennonite Central
Committee (MCC) pada tahun 1918, sebagai wadah bersama untuk melakukan aksi sosial.
Sedangkan di Eropa, perkembangan Mennonite mengalami pasang surut, akibat adanya
peristiwa Aufklärung (arus pencerahan) di abad ke-18. Namun, dari Eropa, khususnya Eropa
Barat, banyak lahir penginjil Mennonit (Aritonang 2016, 136-8).

Riwayat Hidup John Smith dan Kemunculan Gerakan Baptis di Inggris


5

Pengaruh Anabaptis di Inggris ikut mempengaruhi pemikiran seorang mantan pendeta


Anglikan, John Smyth. Smyth merasa bahwa Gereja Anglikan terlalu dipengaruhi oleh politik
negara. Hal ini membuatnya memisahkan diri dari Gereja Anglikan dan membentuk sebuah
gereja separatis yang baru. New World Encyclopedia mencatat bahwa ia memisahkan diri dari
gereja Anglikan dan menjadi pemimpin Congregational Church di Gainsborough pada tahun
1606 (New World Encylopedia website 2017). Gerakan ini merupakan gerakan yang berada di
lingkungan kaum Puritan dalam gereja Anglikan. Sesungguhnya tidak ada data yang cukup valid
mengenai tanggal lahir dari John Smyth, namun Jan S. Aritonang mencatat bahwa beliau
meninggal di Belanda, Agustus 1616 (Aritonang 2016, 158).
Gerakan ini memiliki cita-cita untuk mengembalikan gereja Anglikan menjadi gereja
yang murni, sama seperti zaman Perjanjian Baru, terpisah dari negara dan urusan politiknya.
Gereja dalam pemikiran Smyth dan pengikutnya adalah gereja yang mengutamakan ajaran-ajar-
an yang alkitabiah, tidak mengungkung umatnya dalam berpendapat dan menyatakan imannya,
tidak dipengaruhi oleh kekuasaan (dalam hal ini negara) dan tidak mencampuri urusan politik
negara (Brackney 2009, 531). Gerakan ini dipandang sebagai ancaman bagi pemerintahan
Inggris sehingga gerakan ini mengalami penindasan selama berada di Inggris (New World
Encyclopedia website 2017). Akhirnya, ia bersama dengan para pengikutnya, yang berjumlah
sekitar 50 orang, pindah ke Belanda tahun 1607 (Christianity Today website 2017).
Di Belanda, Smyth dan kelompoknya bersinggungan dengan orang-orang Mennonit yang
ada di Belanda. Selama persinggungan tersebut, Smyth merasa bahwa ada kesepahaman yang
ada di antara mereka. Terlebih cita-cita untuk memurnikan gereja dari kepentingan negara.
Selain itu, terkait dengan permasalahan baptisan, Smyth juga sependapat dengan Mennonit
bahwa di dalam Alkitab tidak ada baptis anak. Hal ini sesuai dengan cita-cita Smyth dan
kelompok yang mereka idamkan, bahwa gereja yang dicita-citakan adalah gereja yang sesuai
dengan ajaran Alkitab. Akhirnya pada tanggal 1609, Smyth dan kawan-kawannya melakukan
baptisan ulang. Hal yang unik terlihat pada Smyth. Smyth membaptis dirinya sendiri atau yang
dikenal dengan se-baptist atau self-baptist. Kemudian diikuti dengan pembaptisan kelompoknya
yang dilakukan oleh Smyth (New World Encyclopedia website 2017). Hal inilah yang kemudian
menjadi cikal-bakal berdirinya Gereja Baptis Inggris pertama di Amsterdam.
Selama masa perkembangan gereja ini, beberapa pengikut kelompok separatis yang dulu
dipimpin oleh Smyth menolak untuk ikut bergabung ke gereja yang didirikan oleh Smyth.
Kelompok ini dipimpin oleh Thomas Helwys. Helwys yang menolak untuk berafiliasi dengan
gerakan Mennonit, kemudian membawa pengikutnya kembali ke Inggris pada tahun 1611. Di
Inggris ia membentuk gereja Baptis tahun 1612 (New World Encyclopedia website 2017). Hal
inilah yang membuat beberapa sumber menyatakan bahwa Thomas Helwys-lah yang menjadi
pendiri atau penggagas gerakan Baptis. Sebelum meninggal, Smyth memiliki keinginan untuk
menggabungkan Gereja Baptis Inggris dengan gereja-gereja Mennonit yang ada di Amsterdam.
Namun, hal ini tidak sempat terjadi. Setelah kematian Smyth, banyak pengikutnya yang
kemudian berpindah ke gereja-gereja Mennonit yang ada di Belanda.

Perkembangan Gereja Baptis di Eropa, Amerika dan seluruh dunia


Perkembangan Gereja Baptis di London, Inggris, tidak semudah dengan Gereja Baptis
Inggris yang ada di Belanda. Kelompok yang dipimpin oleh Thomas Helwys ini mendapatkan
berbagai ancaman dan juga penindasan dari pemerintahan Inggris. Hal yang paling disorot dan
dikritisi oleh Helwys adalah posisi raja yang seolah-olah sama seperti Allah. Oleh sebab itu,
bagi Helwys raja adalah manusia biasa, bukan Allah. Sehingga raja tidak memiliki kuasa atas
jiwa-jiwa immortal lainnya, untuk membuat hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan, serta men-
jadi tuan spiritual dari Gereja (The Encyclopedia of Religion, s.v. “Baptist”). Akibat penindasan
ini Helwys pun meninggal di tahun 1616. Ia pun dihormati sebagai tokoh yang berjuang untuk
memisahkan gereja dan negara yang sudah lama membudaya di kalangan gereja Anglikan.
Selain praktik dan pemahaman tentang baptisan yang berbeda, pemahaman teologis kaum Baptis
6

dipandang hampir mirip dengan kaum Arminian yang kemudian mereka menyebut diri mereka
General Baptist, karena mereka mempercayai karakter universal dari penebusan Kristus (New
World Encyclopedia website 2017).
Penindasan dan label “sesat” pun masih melekat dan terjadi pada orang-orang Baptis di
Inggris hingga 1640-an. Mereka dinilai sebagai sekte radikal, sehingga hal inilah yang mengha-
lalkan mereka untuk melakukan penindasan secara kejam. Barulah pada masa pemerintahan
Oliver Cromwell, gereja-gereja Baptis bisa untuk melakukan misinya dan mendapatkan tempat
dalam pemerintahan. Dalam perkembangannya tercatat pada 1644 mereka memiliki 47 komuni-
tas. Kemudian pada tahun 1660 mereka berkembang dan memiliki anggota hingga 20.000 jiwa
(New World Encyclopedia website 2017). Dalam perkembangannya, muncul gerakan Particular
Baptist tahun 1633. Gerakan ini dipromotori oleh anggota-anggota kelompok Puritan di London.
Mereka memisahkan diri dan dibaptis kembali. Pemimpin mereka adalah John Spillsbury.
Perbedaannya dengan General Baptist adalah bahwa Particular Baptist lebih mempercayai
predestinasi yang diajarkan oleh orang-orang Calvinis. Akhirnya, kedua gerakan ini pun menjadi
satu pada tahun 1891 (New World Encyclopedia website 2017).
Aritonang mencatat bahwa ada aliran Baptis ketiga yang muncul di Inggris, yaitu
Seventh-Day Baptist. Aliran ini lebih menekankan peringatan hari Sabat sebagai hari untuk
beribadah dan beristirahat, sesuai dengan ajaran Alkitab. Hal ini membuat kelompok ini menda-
patkan penghambatan yang lebih parah dibandingkan kedua kelompok terdahulunya (Aritonang
2016, 160). Selama masa perkembangannya, gereja-gereja Baptis di Inggris kembali mengalami
penindasan pada masa pemerintahan Carles II (1660-1685). Namun, Act of Toleration tahun
1689 membuat mereka dapat kembali beribadah dengan tenang (New World Encyclopedia
website 2017). Selama masa penindasan ini, banyak orang-orang Baptis yang kemudian pindah
ke Amerika. Hal yang membedakan gereja Baptis di Inggris dengan gereja-gereja Mennonit dan
Anabaptis di Eropa pada masa itu adalah pemahaman akan bernegara. Gereja Baptis di Inggris
mengizinkan jemaatnya untuk menjadi tentara. Bagi mereka, menjadi tentara adalah bentuk
tanggung jawab sebagai warga negara dan efektif untuk mengabarkan Injil. William Carey
(1761-1834) menjadi penggagas tokoh misi gereja-gereja Baptis di Inggris ke India. Carey
adalah utusan dari Baptist Misionary Society yang didirikan tahun 1792 (The Encyclopedia of
Religion, s.v. “Baptist”).
Gereja Baptis pertama di Amerika didirikan oleh Roger Williams di Canada (Bloom
1992, 192). Williams merupakan mantan anggota gereja Anglikan yang kemudian bergabung
dengan kelompok Separatis Inggris yang kemudian hizrah ke Amerika untuk mendapatkan
kebebasan beragama. Ia tiba di Boston pada Februari 1631. Ia kemudian menjadi pendeta di
Salem. Sama seperti di Inggris, di Amerika pun kaum Baptis awalnya mengalami penentangan
dari aliran atau kelompok gereja lain. Hal ini membuat perkembangan mereka tidak terlalu pesat
di abad ke-17 (New World Encyclopedia website 2017). Namun, perkembangan yang cukup
signifikan terjadi di Amerika Utara pada abad ke-18 karena adanya gerakan Great Awakening
(The Encyclopedia of Religion, s.v. “Baptist”). Peristiwa ini membuat banyak anggota jemaat
dari gereja-gereja lain pindah karena menolak gerakan tersebut. Mereka yang menolak kemudi-
an membentuk gerakan separatis gereja dan bergabung dengan Baptis. Salah satu tokoh yang
berpengaruh dari gerakan separatis tersebut adalah Isaac Backus. Setelah masa revolusi
Amerika, gereja-gereja Baptis melakukan pendekatan penginjilan bagi orang-orang kulit hitam.
Pesan pembebasan dari ketertindasan kulit putih pun menjadi pokok penginjilan mereka (The
Encyclopedia of Religion, s.v. “Baptist”).
Sembari mengembangkan dan memantapkan gerejanya di Inggris dam Amerika, gereja-
gereja Baptis juga mempertegas wujud organisasinya. Walaupun ada otonomi bagi gereja-gereja
lokal, tetapi mereka juga membentuk organisasi di tingkat nasional. Di bagian Selatan Amerika,
pada tahun 1845, muncul organisasi nasional Baptis yang diberi nama Southern Baptist Conven-
tion. Organisasi ini adalah Organisasi Baptis yang terbesar di Amerika (Bloom 1992, 192).
Orang kulit hitam di Amerika juga membentuk organisasi nasionalnya mereka sendiri, di antara-
nya adalah National Baptist Convention, National Baptist Convention of America, dan National
7

Missionary Baptist Convention (Aritonang 2016, 162). Gereja- gereja Baptis di Amerika kaya,
namun kurang peduli dan enggan untuk berhubungan dengan gereja-gereja lain maupun gereja-
gereja dalam aliran Baptis. Bloom mencatat bahwa gereja-gereja Baptis di Amerika mengalami
konflik, cenderung ke arah perpecahan, yang cukup serius, yakni konflik antara kaum Injili
dengan kelompok moderat. Salah satu faktor yang membuat perbedaan adalah kesamaan hak
orang kulit hitam dan kulit putih. Walaupun ada potensi perpecahan, namun hingga kini
perkembangan gereja-gereja Baptis di Amerika cukup signifikan (Bloom 1992, 191).
Di Jerman, gereja Baptis pertama kali dibentuk oleh Johann Gerhard Oncken. Ia bersaha-
bat dengan seorang Baptis dari Amerika yang sedang belajar di Berlin, yaitu B. Sears. Sears-lah
yang membaptis ulang Oncken di Hamburg pada 1834. Dari Jerman, gereja-gereja Baptis
menyebar pula ke negara-negara tetangganya seperti Denmark, Swedia, Swiss, Austria dan
Rusia. Di Asia, William Carey menjadi penginjil Baptis pertama, yaitu di India. Dari Asia-lah
aliran Baptis kemudian tersebar hingga ke Australia. Di Afrika, aliran Baptis diperkenalkan oleh
orang Negro Baptis dari Amerika, yaitu Lott Carey dan Colin Teague (New World Encyclopedia
website 2017).

Perkembangan Aliran/gereja Mennonit di Indonesia


Menurut Jan. S. Aritonang, kehadiran pertama aliran/gereja Mennonit yang pertama di
Indonesia adalah adanya sejumlah warga gereja Mennonit di antara tentara Belanda yang datang
ke Sumatera Barat dan utara pada tahun 1830-an untuk menumpas pasukan Paderi di bawah
Tuanku Imam Bonjol. Sesuai dengan semangat iman dan ajaran di dalam gereja mereka, mereka
menginjili dan membaptiskan beberapa orang Batak di Tapanuli Selatan (Aritonang 2015, 116).
Pada tahun 1847, Gereja Mennonit Belanda mendirikan Doopszeginde Zendings-Vereniging
(DZV). Tujuannya adalah untuk mengabarkan Injil di seluruh wilayah yang dikuasai Belanda.
Pada tahun 1851 DZV mengirim misionarisnya yang pertama ke Jawa, Pieter Jansz (1820-1904)
yang tiba di Batavia (Jakarta) pada November tahun itu. Janz mendapat izin khusus dari Guber-
nur Jenderal Hindia-Belanda untuk membuka sekolah dan memulai penginjilan di daerah Jepara
(Dharma 2011, 31-2). Pada hari Paskah 16 April 1854 Jansz berhasil membaptiskan lima orang
Jawa di desa Cumbring, dekat Jepara. Pada bulan September dia mendirikan jemaat Mennonit
pertama di Jepara yang terdiri dari campuran antara orang-orang Belanda dan pribumi. Jansz
juga melatih berapa kaum pribumi untuk melakukan penginjilan, karena sadar bahwa orang
pribumi pasti lebih cepat menyebarkan Injil kepada teman-teman sebangsanya. Jansz juga tetap
mengajar anak-anak di Jepara dan menyusun buku persekolahan berbahasa Jawa. Dalam upaya
memfasilitasi proses katekisasi dan peribadahan, dia mulai menerjemahkan sebagian Alkitab dan
menggunakan sejumlah lagu Jawa untuk menyanyikan syair mazmur (Hoekema 2001, 30-2).
Pada tahun 1856 datang pula misionaris Mennonit yang lain bernama Hillebrandus
Cornelis Klinkert (1829-1913). Meskipun Klinkert kurang berperan dalam mengembangkan
gereja Mennonit di Indonesia, tetapi ia berperan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa
Melayu dan penyunting pertama surat kabar berbahasa Melayu pertama berjudul “Terompet
Melayu”. Misionaris lainnya adalah Nicolaas Dirk Schuurmans (1838-1908) yang bekerjasama
dengan Jansz dari tahun 1863-1878 dan banyak berperan dalam pendidikan penginjil dan guru-
guru pribumi. Di samping itu, dia juga menyusun kamus bahasa Jawa dan buku tata bahasa Jawa
di samping ikut juga menerjemahkan sebagian Alkitab. Schuurmans dan Jansz juga mendapat
kepercayaan dari pemerintah kolonial untuk melakukan pengobatan medis. Tokoh lainnya
adalah anak Janz sendiri, yaitu Anthonie Jansz (1853-1943), yang menemani Jansz sejak tahun
1877 (Dharma 2011, 35).
Jemaat-jemaat yang berhasil didirikan oleh badan zending di Jawa Tengah sekarang
berhimpun dalam dua organisasi gereja: Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) yang berpusat di
Pati, yang warga gerejanya terutama berasal dari kalangan pribumi Jawa, dan Gereja Kristen
Muria (baca: Mennonit) Indonesia (GKMI) yang berpusat di Semarang dengan warga gereja
sebagian besar dari kalangan peranakan Tionghoa. Sementara GITJ lebih banyak “bertahan” di
8

daerah Pati, GKMI sudah “berekspansi” ke luar daerah asalnya. Di Jakarta misalnya, jemaat-
jemaat GKMI mengalami pertumbuhan yang cukup subur dan jumlahnya terus bertambah.
GKMI terus “berbiak” dan melahirkan Jemaat Kristen Indonesia (JKI). Sementara itu, hasil
penginjilan DZV di Papua bergabung ke dalam GKI Papua. GITJ dan GKMI juga menjadi
anggota The Mennonite World Conference dan menjalin hubungan dengan berbagai lembaga
Mennonit internasional (Aritonang 2015, 116-7).
Sejak tahun 1871, DZV juga mengutus beberapa zendeling untuk kembali meneruskan
pekerjaan di daerah Mandailing (khususnya di sekitar desa Pekantan) Tapanuli Selatan (Arito-
nang 2015, 117). Mereka berhasil mendirikan jemaat di Pakantan di bawah pekerjaan Heindrich
Dirks, yang kemudian bertambah lagi dengan berdirinya dua jemaat, sejumlah jemaat rintisan,
dua rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah-sekolah (Aritonang & Steenbrink 2008, 535). Tetapi
karena kurang berkembang, antara lain karena agama Islam yang sangat kuat, hasil pekerjaan
mereka yang tidak seberapa itu diserahkan kepada Batakmission, yaitu bagian dari RMG (badan
zending dari Jerman) yang berkarya di Tanah Batak. Pada dasawarsa 1950-an beberapa jemaat
di Tapanuli Selatan itu bergabung membentuk Gereja Mennonit Protestan Indonesia. Tetapi
sejak 1970-an jemaat-jemaat yang kecil itu bergabung ke dalam Gereja Kristen Protestan
Angkola (GKPA) (Aritonang 2015, 117).
Pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an, GITJ giat pula mengirimkan warganya bertrans-
migrasi antara lain ke Sumatera Selatan (Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu).
Jemaat-jemaat transmigran ini terkenal dengan keuletan mereka bekerja dan juga tekun beriba-
dah. Belakangan ini, jemaat-jemaat tersebut bergabung dengan jemaat-jemaat hasil penginjilan
dan pembinaan Gereja Kristen Jawa (GKJ) di dalam Gereja-gereja Kristen Sumatera Bagian
Selatan (GKSBS) yang terbentuk pada tahun 1987 (Aritonang 2015, 117), tetapi kemudian
keluar dari GKSBS dan bergabung kembali ke GITJ (Aritonang 2016, 141).

Perkembangan Aliran/gereja Baptis di Indonesia


Perkembangan gereja Baptis di Indonesia tidak lepas dari karya penginjilan Baptis di
Asia yang dipelopori oleh William Carey. Penginjilan dari orang-orang Baptis sudah dimulai
sejak tahun 1800-an (Ariefin 2007, 2). Jabez Carey, anak dari William Carey, bekerja di Maluku
pada tahun 1814-1818. Ia diangkat menjadi pengawas sekolah-sekolah Kristen dan turut dalam
usaha memerangi perbudakan. Permasalahan politik dengan pemerintahan Hindia-Belanda pada
saat itu, menjadi salah satu alasan ia kembali ke India. Ia ditentang oleh pemerintahan Hindia-
Belanda karena Carey menolak baptisan anak (hal ini bertentangan dengan ajaran Joseph Kam,
seorang Rasul Maluku) (Smith t.t., 127). Selain Jabez Carey, ada beberapa penginjil Baptis
lainnya yang berkarya di Indonesia, seperti Richard Burton dan Nathaniel Ward (penginjil
Baptis di Tanah Batak tahun 1824), dan Gottlob Bruckner (penginjil Baptist Missionary Society
yang bekerja di Semarang sejak 1816) (Aritonang 2016, 165).
Dwi Ariefin mencatat bahwa ada seorang tokoh Baptis Inggris yang menjalankan
misinya di Indonesia, yaitu Wiliam Robinson. Robinson masuk ke Indonesia bersamaan dengan
jatuhnya Indonesia ke tangan Inggris. Ia ditemani dengan istrinya, Margareth Robinson, tiba di
Indonesia, dan melakukan penginjilan di Batavia (sekarang Jakarta). Ia menumpang kapal
tentara Inggris, S. S. Trowbridge (Arifin 2007, 2). Selama melakukan misinya di Batavia,
Robinson dan istrinya dibantu oleh J. L. Philips dan istrinya serta Thomas Trowt dan istrinya
(Smith t.t., 125) Setelah Indonesia kembali jatuh ke tangan Belanda, tidak ada lagi penginjil-
penginjil Baptis yang ada di Indonesia.
Avery Willis mencatat bahwa pada Desember 1951 penginjil utusan Foreign Board of
The Southern Baptist Convention, USA, tiba di Indonesia dengan bantuan Indonesian Baptist
Mission (IBM). Tidak ada keterangan jelas yang kami dapati tentang sejarah IBM. Dengan
usaha para penginjil ini, pada 23 November 1952 terjadi pembaptisan pertama di Bandung dan
pada saat itu juga Gereja Baptis pertama didirikan. Gereja inilah yang menjadi cikal-bakal
berdirinya gereja-gereja Baptis di Sumatra dan Jawa (Willis 1977, 176). Tiga tokoh pertama dari
9

Foreign Board of the Southern Baptist Convention yang tiba di Indonesia adalah Buren Johnson,
Stockwell Sears, dan Charles Cowherd (Smith t.t., 128). Namun, sebelum mereka ada Dr. Baker
James Cauthen yang tiba terlebih dahulu di Indoensia.
Dalam perkembanganya, ada lima kota yang menjadi wilayah pertama pembukaan
gereja-gereja Baptis, yaitu Bandung, Surabaya, Jakarta, Semarang dan Kediri (Ariefin 2007, 12).
Perkembangan tidak hanya terjadi dalam penambahan gereja, namun juga organisasi gereja-
gereja Baptis. Aritonang mencatat bahwa di Indonesia, pada saat itu, ada beberapa organisasi
gereja-gereja Baptis di Indonesia (Aritonang 2016, 167-170), yaitu: (1) Gabungan Gereja Baptis
di Indonesia, (2) Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia, (3) Kerapatan Gereja Baptis
Indonesia, (4) Gereja Baptis Independen di Indonesia, (5) Sinode Gereja Kristen Baptist Jakarta,
dan (6) Persekutuan Gereja-gereja Baptis Irian Jaya.

Pokok-pokok Ajaran dan Praktik Aliran/Gereja Mennonit


1. Alkitab sebagai satu-satunya patokan iman dan perilaku
Kaum Mennonit memandang Alkitab sebagai tolok ukur tertinggi dan terakhir bagi
semua ajaran (Mayanto 2014, 49). Alkitab adalah sumber kebenaran dan pemilik kewibawaan
tertinggi yang penggunaannya bukan terutama untuk membangun suatu sistem teologi, melain-
kan untuk membebaskan manusia dari dosa. Dalam pengertian tersebut, mereka menganut sikap
yang “praktis” terhadap Alkitab, yaitu membuatnya berfungsi di dalam keselamatan dan penyu-
cian manusia. Dengan kata lain: Alkitab terutama digunakan untuk memberitakan Injil kesela-
matan dan mengajak pendengarnya kepada pertobatan dan hidup baru, seraya memenangkan
jiwa-jiwa mereka kepada Kristus. Untuk tiba ke sana, kaum Mennonit membutuhkan kebebasan
hati nurani dan menolak setiap upaya untuk menempatkan perkara-perkara iman Kristiani di
bawah kuasa atau tradisi gereja (Aritonang 2015, 120-1).
2. Kuasa Roh Kudus
Kaum Mennonit mengakui pimpinan Roh Kudus dalam gereja untuk menafsirkan Kitab
Suci selaras dengan Yesus Kristus. ”Perlunya untuk dipimpin Roh Kudus dalam menafsirkan
Alkitab disebabkan karena masing-masing orang boleh membaca dan menafsirkan Alkitab
sesuai dengan kebebasan hati sehinga bisa terjadi perbedaan pemahaman. Untuk mencegah
masing-masing orang membuat pemahamannya sendiri, Alkitab harus dibaca dan dipahami di
dalam perhimpunan jemaat. Karena itu, kaum Mennonit menolak otiritas final dari para teolog
ataupun raja-raja di dalam gereja. Kuasa Roh Kudus juga diandalkan dalam berbagai pertemuan
dan perundingan, sebagaimana dulu diakui dialami ketika merumuskan “Kesepakatan Persauda-
raan” di Schleitheim 1527 (Aritonang 2015, 124a, 121).
3. Penetapan-penetapan (ordinances) di dalam Perjanjian Baru
Kaum Mennonit tidak menggunakan istilah sakramen, melainkan penetapan. Salah satu
alasannya adalah keyakinan akan imamat am semua orang percaya dan bukan hanya pendeta
yang berhak melayankan upacara-upacara gerejawi, melainkan juga warga jemaat. Dengan
demikian, ditiadakanlah sifat sakramental dari upacara-upacara itu maupun dari petugas yang
melayankannya. Yang menjadi tolok ukur untuk menentukan upacara mana yang masuk
kategori upacara gerejawi adalah penetapan yang dilakukan oleh Kristus dan para rasul di dalam
Perjanjian Baru. Berdasarkan itu, setiap gereja Mennonit memberlakukan serangkaian penetapan
berikut menurut keyakinan dan hati nuraninya, yaitu: (1) Baptisan; (2) Komuni (Perjamuan
Kudus); (3) pembasuhan kaki; (4) kecupan suci; (5) pengurapan (peminyakan); (6) kerudung
(bagi wanita) pada kebaktian; (7) perkawinan; (8) penumpangan tangan pada saat penahbisan.
Khusus mengenai Baptisan, penetapan itu hanya dilayankan pada mereka yang sudah mampu
menghayati dan melaksanakan panggilan imannya. Karena itu, hanya boleh dilayankan bagi
orang-orang dewasa yang sungguh-sungguh menerima panggilan pertobatan dan hidup baru
(jadi bukan pada sembarang orang dewasa) (Aritonang 2015, 121-2).
4. Nir (tidak menggunakan) kekerasan
10

Kaum Mennonit percaya bahwa gereja harus hidup di atas dasar kasih yang bersedia un-
tuk menderita, sama seperti Kristus. Oleh karena itu peperangan secara mutlak ditolak. Mereka
percaya bahwa perdamaian adalah kehendak Allah. Allah menyatakan dunia dalam perdamaian,
dan perdamaian Allah itu sungguh-sungguh dinyatakan di dalam Yesus Kristus, yang merupa-
kan perdamaian mereka dan perdamaian bagi seluruh dunia. Oleh karena itu, mereka menolak
penggunaan kekerasan dalam kehidupan pribadi dan juga menolak dinas militer dalam segala
bentuknya. (Sebagian) kaum Mennonit menolak dinas pada kepolisian dan pengadilan. Namun,
itu tidak berarti bahwa mereka menentang pemerintah, melainkan tetap mengakuinya sebagai
yang ditetapkan Allah untuk menegakkan hukum dan keadilan terhadap pelaku-pelaku kejahatan
di dalam masyarakat. Tetapi tugas ini tidak ditetapkan Allah untuk orang-orang kudus. Orang
Kristen memang harus tunduk kepada pemerintah dalam segala hal, kecuali kalau ada tuntutan
pemerintah yang berlawanan dengan hukum Allah. Demikian juga dengan pajak, harus dibayar.
Alat gereja untuk melawan para pelanggar hukum adalah imbauan, dan akhirnya pengucilan jika
perilaku orang itu tidak kunjung berubah (Aritonang 2015, 124d, 122).
5. Larangan Bersumpah
Kaum Mennonit mengikat diri untuk mengatakan yang sebenarnya, untuk memberikan
jawaban ya atau tidak yang sesungguhnya, dan menghindari sumpah. Larangan ini didasarkan
pada amanat Kristus pada Matius 5: 33-37 dan 23:16-22, dan Yakobus 5:12. Ini sejalan dengan
larangan untuk menuntut seseorang secara hukum atau menyeretnya ke depan pengadilan dan/
atau memenjarakan (bnd. 1Kor. 6:1-7). Karena itu kalau kaum Mennonit diminta untuk bersum-
pah, yang boleh ia lakukan adalah afirmasi (mengiakan; membenarkan) (Aritonang 2015, 124d,
123)
6. Kepatuhan Iman
Kaum Mennonit sangat menekankan kepatuhan kepada ajaran dan perintah Tuhan
berdasarkan iman kepada-Nya. Dalam kepatuhan itu jugalah mereka rajin bersaksi tentang iman
mereka, kendati harus menghadapi penindasan dan maut. Kepatuhan ini juga mencakup perilaku
kehidupan sehari-hari: tidak berdusta, tidak menipu, tidak berbicara kasar, tidak berpesta-pora,
bergaya hidup sederhana, memberi perhatian kepada sesama yang miskin dan menderita
(Aritonang 2015, 123).

Pokok-pokok Ajaran dan Praktik Aliran/Gereja Baptis


Hal yang harus kita ketahui terlebih dahulu adalah rumpun gereja Baptis disebut sebagai
gereja yang menganut teologi non-creedal yang berarti tidak terikat pada rumusan pengakuan
pengakuan iman (Aritonang 2016, 171). Hal ini tentu berbeda dengan gereja Protestan lainnya.
Dalam liturgi gereja-gereja Baptis tidak ada pengakuan iman. Gereja-gereja Baptis pun sangat
produktif dalam menghasilkan dokumen-dokumen gerejawi, salah satunya adalah terkait dengan
pengakuan iman, yaitu The Baptist Confession of Faith of 1689. Beberapa hal yang dibahas da-
lam dokumen ini, terkait dengan Alkitab, adalah Allah dan Tritunggal, ketetapan Allah, hingga
makna dari gereja tersebut. Ada sekitar 32 pokok yang menjadi pembahasan dalam dokumen
tersebut. Dalam kaitannya dengan Perjamuan Kudus, aliran Baptis menganggap doktrin trans-
substantiasi tidak alkitabiah dan menjijikkan. Mereka melihat bahwa doktrin tersebut menum-
bangkan sifat upacara dan sejak dulu menjadi sumber pelbagai takhayul bahkan penyembahan
berhala (The Baptist Confession of Faith of 1689. XXX. 6). Tentu saja pengakuan iman tahun
1689 ini sudah direvisi dalam pengakuan-pengakuan iman selanjutnya. Dokumen lainnya yang
menjadi dokumen penting bagi pengakuan iman Baptis adalah New Hampshire Confession (New
Advent Encyclopedia 2017).
Stanley J. Grenz mengungkapkan bahwa BAPTIST merupakan sebuah akronim dari
Beliver’s baptism (baptisan orang-orang percaya), Autonomy of local congregation within the
associational framework (otonomi dari jemaat lokal dengan kerangka kerja asosiasional),
Primacy of the Scripture (otoritas Alkitab), True believers only in the church (orang-orang
11

percaya sejati hanya ada di persekutuan gereja), Individual competency and believer priesthood
(kompetensi individual dan imamat orang percaya), Separation of church and state (pemisahan
gereja dan negara), dan Two ordinances (dua penetapan: baptisan dan perjamuan kudus) (Grenz
1985, 82). Akronim-akronim inilah yang menggambarkan tujuh pokok yang paling ditekankan
di ajaran Baptist.
Berdasarkan informasi yang kami cari di Internet, kami menemukan salah satu contoh
tata ibadah dari Gereja Kristen Baptis Jakarta Jemaat Cengkareng Pos Jemaat di Solo Baru. Tata
ibadah yang digunakan sangat sederhana, tidak ada pengakuan iman. Hal-hal yang menjadi
pokok dalam tata ibadahnya adalah puji-pujian, doa (doa pembuka, syafaat, dan doa penutup),
pembacaan silih berganti, pembacaan Firman Tuhan, khotbah, dan undangan untuk berkomit-
men secara pribadi dalam mengikut Kristus (Majalah Praise website 2017). Tentu saja semua
gereja lokal memiliki otonomi masing-masing di dalam penyusunan liturginya. Dalam metode
baptis, metode yang sah adalah baptis selam, sesuai dengan cara Yesus dibaptis.

Refleksi Teologis
Sesungguhnya reformasi yang dilakukan oleh kaum Anabaptis tersebut sangat radikal
mengkritik hubungan antara gereja dan negara. Kaum Anabaptis sadar bahwa biang keladi
sejumlah permasalahan di dalam gereja adalah karena ikut campurnya negara untuk menguasai
gereja yang menjadikan baptisan sebagai awal dari proses penguasaan itu. Baptisan tidak lagi
dilakukan secara sukarela, melainkan dengan paksaan supaya menjadi anggota Negara, padahal
seharusnya dalam baptisan diperlukan pertobatan dan mau untuk mengakui iman secara pribadi.
Kekritisan kaum Anabaptis terhadap peran negara yang berusaha untuk mempengaruhi ajaran
gereja ini juga yang seharusnya terus kita pelajari dan kembangkan pada saat ini. Kita harus
belajar dari kepekaan mereka supaya gereja-gereja masa kini, khususnya di Indonesia, menolak
dikendalikan pemerintah untuk mematuhi kehendak mereka yang sesungguhnya bertentangan
dengan prinsip iman Kristen.
Dari Mennonit dan Baptis kita juga belajar pentingnya prinsip non-kekerasan ketika
berhadapan dengan situasi yang tidak kondusif dan bahkan yang menindas dan mendiskriminasi.
Perdamaian harus terus diutamakan dan kekerasan sesungguhnya hanya membawa wajah buruk
bagi Kekristenan. Prinsip non-kekerasan juga perlu dikembangkan dalam kehidupan saat ini,
khususnya di Indonesia yang menunjukkan kondisi negara yang tidak stabil dan memunculkan
potensi untuk terjadinya tindakan anarkis. Dalam menyuarakan suatu pendapat, gereja sebaiknya
tidak menggunakan kekerasan.

Daftar acuan:
Ariefin, Dwi. 2007. Jejak juang saksi Injil. Jakarta: Gabungan Gereja Baptis Indonesia.
Aritonang, Jan S. 2015. Berbagai aliran di dalam dan di sekitar gereja (cet ke-14). Jakarta:
BPK Gunung Mulia.
Aritonang, Jan S. 2016. Berbagai aliran di dalam dan di sekitar gereja (cet ke-15). Jakarta:
BPK Gunung Mulia.
Aritonang, Jan S. & Karel Steenbrink (eds). 2008. A History of Christianity in Indonesia. Leiden
& Boston: Brill.
Bender, Harold S. A brief history of Menno Simons. Dalam The complete writings of Menno
Simons c.1496-1561. ed. John Christian Wenger. 3-29. Scottdale, Pennsylvania: Herald
Press.
Bloom, Harold. 1992. The American Religion. New York: Simon & Schuster.
Brackney, William H. 2009. The A to Z of the Baptists. Lanham: Scarecrow Press.
12

Christano, Charles. 1987. Asal mula jemaat Mennonit. Semarang: Komisi Literatur Sinode
Muria.
Dharma, Adhi. 2011. The Mennonite churches in Indonesia. Dalam Churches engage Asian
Tradition. peny. John A. Lapp dan C. Arnold Snyder. 21-123. Intercourse, Pennsylvania:
Good Books.
Dyck, Cornelius J. 1976. An introduction to Mennonite history. Ontario: Herald Press.
Eliade, Mircea et al. (eds.). 1987. The Encyclopedia of Religion. New York: Macmillan
Publishing Company, s.v. Anabaptism (Cornelius J. Dyck); s.v. Baptist (Edwin S.
Gaustad); s.v. Mennonite (Cornelius J. Dyck)
Grenz, Stanley. 1985. The Baptist congregation: A Guide to Baptist belief and practice. Valley
Forge: Judson Press.
Hoekema, Alle. 2001. Dutch Mennonite mission in Indonesia: Historical essays. Elkhart,
Indiana: Institute of Mennonite Studies.
Lichdi, Diether Gotz. 2006. An overview of Anabaptist-Mennonite history, 1525-1800. Dalam
Testing faith and tradition. ed. John A. Lapp dan C. Arnold Snyder. 1-32. Intercourse,
Pennsylvania: Good Books.
Mayanto, Agus W. 2014. Konsepsi identitas Anabaptis Mennonit: Sebuah studi tentang
eklesiologi dan misiologi Anabaptis Mennonit serta implikasinya bagi pembangunan
jemaat GKMI. Disertasi D. Min. Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.
Smith, E. C. t.t. Perkembangan geredja-geredja Baptis (terj.). Semarang: Seminari Theologia
Baptis di Indonesia.
Smith, Henry C. 1957. The story of Mennonites. Newton, Kansas: Mennonite Publication Office.
The Baptist Confession of Faith of 1689. New York: Carey Publication.
Willis, Avery T. 1997. Indonesian Revival. South Pasadena: William Carey Library.

Acuan Wawancara:
Mayanto, Agus W. Wawancara oleh penulis. Jakarta, 22 Februari 2017.

Website:
New Advent Encyclopedia. Baptis. (diakses 24 Februari 2017).
Christianity Today. John Smyth.
http://www.christianitytoday.com/history/people/denominationalfounders/john-
smyth.html. (diakses 23 Februari 2017).
Majalah Praise. Tata ibadah Gereja Baptis Indonesia. http://www.majalahpraise.com/tata-
ibadah-gereja-baptis-indonesia-536.html. (diakses 23 Februari 2017).
New World Encyclopedia. John Smyth.
http://www.newworldencyclopedia.org/entry/John_Smyth. (diakses 23 Februari 2017).