Anda di halaman 1dari 29

RESPONSI ILMU PENYAKIT BEDAH

Pembimbing : dr. Bimo Sasono, Sp.OT (K)

Penyusun : Fitri Widiasti (2017.04.2.0064)

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. M
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 4 tahun
Alamat : Surabaya
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Tanggal pemeriksaan : 4 Mei 2018 (10.35)

II. ANAMNESA
1. Keluhan Utama : bengkak pada lengan kiri setelah jatuh

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan lengan kiri bengkak. Setelah pasien
terjatuh karena bermain di dalam kotak kardus pada pagi hari tanggal 4
Mei 2018, 3 jam sebelum datang ke IGD. Saat kejadian pasien jatuh ke
arah kiri lalu menumpu badan dengan siku lengan kiri dan lengan kiri
terbentur keramik lantai. Setelah terjatuh, bagian lengan kiri pasien
tampak bengkak dan nyeri dan lengan kiri tidak dapat digerakkan apabila
digerakkan akan terasa nyeri. Setelah terjatuh, pada bagian tubuh pasien
tidak ditemukan luka terbuka. Ibu pasien menyatakan kepala pasien tidak
terbentur, dan saat kejadian itu pasien dalam keadaan sadar. Karena
lengan kiri pasien bengkak, tidak dapat digerakkan dan pasien setelah

1
kejadian menangis karena kesakitan maka ibu pasien membawa nya ke
IGD RS Soewandhi.

3. Riwayat Penyakit Dahulu, Riwayat Trauma & Operasi


-
4. Riwayat Penyakit Keluarga
-

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan umum
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran/GCS : Compos mentis/4-5-6

Vital sign
Tensi : tidak dilakukan
Suhu : 36.1oC
Nadi : 100 x/menit
Respiratory rate : 20 x/menit
BB : 14 kg

Status Generalis
Kepala
Bentuk kepala : Normocephali
Dahi : Alis simetris
Mata : Palpebra tidak tampak edema
Konjungtiva tidak tampak anemis
Sklera tidak tampak ikterus
Hidung : Bentuk simetris
Tidak ditemukan pernafasan cuping hidung
Tidak ada sekret/perdarahan
Mulut : Bibir tidak sianosis
Mukosa tidak pucat
Leher : Tidak ada kaku kuduk

2
Tidak ditemukan pembesaran KGB
Tidak ditemukan pembesaran tiroid
Thorax
Pulmo
 Inspeksi : Normochest, tidak ada retraksi, gerak nafas
simetris
 Palpasi : Gerak nafas simetris, fremitus raba normal
Simetris
 Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
 Auskultasi : Vesikuler/vesikuler, wheezing -/-, ronkhi -/-
Cor
 Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
 Palpasi : Iktus kordis teraba teraba
 Perkusi : Batas jantung normal
 Auskultasi : S1, S2 normal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Flat simetris
Auskultasi : Bising usus (+)
Palpasi : Soepel, nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani di seluruh kuadran
Ekstremitas
 Akral hangat (+) pada keempat ekstremitas
 Edema (-) pada keempat ekstremitas
 CRT < 2 detik

Status Lokalis
Regio Elbow Sinistra
 Look : Jejas (-)
Edema (+)
Deformitas tidak tampak
 Feel : Nyeri tekan (+) terutama pada daerah elbow

3
Krepitasi tidak dilakukan
AVN distal: dbn
 Movement :Nyeri gerak aktif dan pasif (+)

IV. ASSESMENT
Suspect closed fracture elbow sinistra

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto Rontgen: Foto Elbow Sinistra & Dextra AP/Lateral

4
VI. RESUME
Pasien datang dengan keluhan lengan kiri bengkak. Setelah pasien
terjatuh karena bermain di dalam kotak kardus pada pagi hari tanggal 4
Mei 2018, 3 jam sebelum datang ke IGD. Saat kejadian pasien jatuh ke
arah kiri lalu menumpu badan dengan siku lengan kiri dan lengan kiri
terbentur keramik lantai. Setelah terjatuh, bagian lengan kiri pasien
tampak bengkak dan nyeri dan lengan kiri tidak dapat digerakkan apabila

5
digerakkan akan terasa nyeri. Tidak ditemukan luka terbuka. Pasien ke
IGD RSUD Soewandi 3 jam kemudian.

VII. DIAGNOSA:
Closed Fracture Condylus Lateral Humerus Sinistra

VIII. PLANNING
 Planning Terapi
Operatif
Pada pasien ini fraktur terjadi di condylus lateral humerus
sinistra dan merupakan fraktur lempeng epifisis tipe IV disebut
sebagai fracture condylus lateral humerus. Dimana terapi dari jenis
fraktur ini tergantung pada tipe fraktur. Pada pasien ini tipe 1
dimana tidak ada pergeseran fragmen dapat dilakukan
pemasangan splint. Namun karena fraktur ini dapat merusak
growth plate dan selalu melibatkan sendi maka dilakukan Teknik
Operatif yaitu Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dengan
pinning.

 Planning Monitoring
o Foto ulang Elbow Sinistra post-op.
o Menilai tanda-tanda komplikasi post-op.

 Planning Edukasi
o Perlunya dilakukan tindakan reposisi dan penjelasan
tindakan operasi yang akan dilakukan, dan komplikasi yang
mungkin terjadi.
o Perlunya latihan setelah operasi.
o Perlunya kontrol poli orthopaedi setelah KRS.

6
TINJAUAN PUSTAKA

1. Fraktur Pada Anak


Fraktur pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa karena
adanya perbedaan anatomi, biomekanik serta fisiologi tulang. Adanya
growth plate (atau fisis) pada tulang anak-anak merupakan satu
perbedaan yang besar. Growth plate tersusun atas kartilago. Ia bisa
menjadi bagian terlemah pada tulang anak-anak terhadap suatu trauma.
Cidera pada growth plate dapat menyebabkan deformitas. Akan tetapi
adanya growth plate juga membantu remodeling yang lebih baik dari suatu
fraktur yang bukan pada growth plate tersebut.

1.1 Perbedaan Anak-Anak dan Dewasa


1.1.1 Perbedaan Anatomi
Anatomi tulang pada anak-anak terdapat lempeng epifisis yang
merupakan tulang rawan pertumbuhan. Periosteum sangat tebal dan kuat
dan menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang
dewasa.

1.1.2 Perbedaan Biomekanik


A. Biomekanik Tulang
Tulang anak-anak sangat porous, korteks berlubang-lubang dan sangat
mudah dipotong oleh karena kanalis haversian menduduki sebagian
besar tulang. Faktor ini menyebabkan tulang anak-anak dapat menerima
toleransi yang besar terhadap deformasi tulang dibandingkan orang
dewasa. Tulang orang dewasa sangat kompak dan mudah mengalami
tegangan dan tekanan sehingga tidak dapat menahan kompresi.

B. Biomekanik Lempeng Pertumbuhan


Lempeng pertumbuhan merupakan tulang rawan yang melekat erat pada
metafisis yang bagian luarnya diliputi oleh periosteum sedang bagian

7
dalam nya oleh prosessus mamilaris. Untuk memisahkan metafisis dan
epifisis diperlukan kekuatan yang besar.

C. Biomekanik Periosteum
Periosteum pada anak-anak sangat kuat dan tebal dan tidak mudah
mengalami robekan dibandingkan orang dewasa.

1.1.3 Perbedaan Fisiologis


Pada anak-anak pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodelling
yang lebih besar dibandingkan pada orang dewasa.
A. Pertumbuhan Berlebihan (over growth)
Pertumbuhan diafisis tulang panjang akan memberikan stimulasi pada
pertumbuhan panjang. Karena tulang rawan lempeng epifisis mengalami
hiperemi pada waktu penyembuhan tulang.

B. Deformitas yang Progresif


Kerusakan permanen lempeng epifisis menyebabkan kependekan atau
deformitas anguler pada epifisis.

C. Fraktur Total
Pada anak-anak fraktur total jarang yang bersifat komunitif karena
tulangnya sangat fleksibel dibandingkan orang dewasa.

1.2 Gambaran Khusus


1.2.1 Lebih Sering di Temukan
Fraktur pada anak-anak lebih sering ditemukan karena tulang relatif
ramping dan juga kurang pengawasan. Beberapa fraktur pada anak-anak
seperti retak, fraktur garis rambut, fraktur buckle, fraktur green stick
merupakan fraktur yang tidak berat. Tetapi ada fraktur seperti fraktur
intraartikuler atau fraktur epifisial merupakan fraktur yang akan berakibat
jelek di kemudian hari.

8
1.2.2 Periosteum Sangat Aktif dan Kuat
Periosteum yang kuat pada anak-anak membuat jarang mengalami
robekan pada saat fraktur, sehingga sering salah satu dari periosteum
merupakan bidai dari fraktur itu sendiri. Periosteum pada anak-anak
mempunyai sifat osteogenesis yang lebih besar.

1.2.3 Penyembuhan Fraktur Sangat Cepat


Penyembuhan fraktur pada anak-anak sewaktu lahir sangat menakjubkan
dan berangsur-angsur berkurang setelah anak menjadi besar, karena sifat
osteogenesis yang aktif pada periosteum dan endosteum. Fraktur femur
pada bayi baru lahir akan sembuh dalam waktu tiga minggu, pada anak
yang berumur 8 tahun akan sembuh dalam delapan minggu, pada anak
12 tahun sembuh dalam 12 minggu dan pada umur 20 tahun fraktur akan
sembuh dalam 20 minggu. Pada anak-anak jarang ditemukan non union
pada fraktur.

1.2.4 Terdapat Problem Khusus dan Diagnosis


Gambaran radiologik epifisis sebelum dan sesudah perkembangan pusat
osifikasi sekunder sering membingungkan, walaupun demikian ada
beberapa pusat osifikasi yang keberadaannya relatif konstan. Lempeng
epifisis pada foto rontgen dapat disalah artikan dengan suatu fraktur.
Untuk itu biasanya perlu dibuat pemeriksaan rontgen pada anggota gerak
yang lain.

1.2.5 Koreksi Spontan pada Suatu Deformitas Residual


Fraktur pada orang dewasa tidak akan terjadi koreksi spontan dan berisfat
permanen. Pada anak-anak beberapa deformitas residual cenderung
mengalami koreksi spontan melalui remodelling ekstensif, melalui
pertumbuhan lempeng epifisis atau kombinasi keduanya. Beberapa faktor
yang mempengaruhi koreksi fraktur adalah sisa waktu pertumbuhan dan
bentuk deformitas yang dapat berupa angulasi, aposisi tidak total,
kependekan dan rotasi.

9
A. Angulasi
Angulasi residual yang terletak di dekat dilempeng epifisis akan
mengalami koreksi spontan seandainya deformitas itu berada pada suatu
bidang dengan bidang gerakan sendi yang terdekat. Tetapi pada angulasi
residual yang berada pada bidang tegak lurus dari gerakan dekat sendi
misalnya angulasi lateral pada deformitas varus fraktur suprakondiler
humeri tidak dapat mengalami koreksi spontan.

B. Aposisi Tidak Total


Pada fraktur dimana fragmen mengalami aposisi tidak total seperti
samping ke samping (bayonet), maka permukaan fraktur akan mengalami
proses remodelling menurut hukum Wolff.

C. Kependekan
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang anak-anak yang sedang
bertumbuh terjadi pula kerusakan arteri nutrisi dan akan terjadi
peningkatan aliran darah sebagai kompensasi pada daerah epifisis yang
akan menyebabkan akslerasi pertumbuhan tulang secara longituudinal.
Adanya kependekan tulang pada anak-anak dapat ditoleransi dalam
ukuran tertentu.

D. Rotasi
Deformitas rotasi tidak akan mengalami koreksi spontan pada waktu
penyembuhan fraktur tulang panjang tanpa melihat umur dan lokalisasi.

1.2.6 Terdapat Perbedaan Dalam Komplikasi


Beberapa komplikasi fraktur pada anak-anak mempunyai ciri-ciri yang
khusus seperti fraktur epifisis dan lempeng epifisis. Osteomielitis yang
terjadi secara sekunder pada fraktur terbuka atau reduksi terbuka pada
suatu fraktur tertutup biasanya lebih hebat dan dapat menyebabkan
kerusakan pada epifisis. Komplikasi iskemik Volksmann dan juga miositis

10
osifikans sering ditemukan pada anak-anak. Komplikasi seperti kekakuan
sendi jarang ditemukan pada anak-anak.

1.2.7 Berbeda Dalam Metode Pengobatan


Walaupun prinsip pengobatan fraktur yang disebutkan terdahulu dapat
diaplikasikan pada anak-anak tetapi prinsip utama pengobatan pada anak-
anak adalah secara konservatif baik dengan cara manipulasi tertutup atau
traksi kontinu. Walupun demikian beberapa fraktur khusus pada anak
memerlukan tindakan operasi terbuka dengan fiksasi interna seperti
fraktur bergeser pada leher femur atau fraktur pada epifisis tertentu.

1.2.8 Robekan Ligamen dan Dislokasi Lebih Jarang di Temukan


Ligamen pada anak-anak sangat kuat dan pegas. Ligamen ini lebih kuat
dari lempeng epifisis sehingga tarikan ligamen dapat menyebabkan fraktur
pada lempeng epifisis dan bukan robekan ligamen, misalnya pada sendi
bahu tidak terjadi dislokasi tetapi akan terjadi fraktur epifisis.

1.2.9 Kurang Toleransi Terhadap Kehilangan Darah


Jumlah volume darah secara proporsional lebih kecil pada anak-anak
daripada orang dewasa. Pada anak-anak jumlah volume darah
diperkirakan 75 ml per kg berat badan, sehingga pada anak dengan berat
badan 20 kg dipekirakan mempunyai jumlah darah 1500 ml. Perdarahan
sebesar 500 ml pada anak-anak akan kehilangan 1/3 jumlah volume
darah, sedangkan pada orang dewasa hanya sekitar 10%.

1.3 Klasifikasi
1.3.1 Radiologi
- Fraktur buckle atau torus
- Tulang melengkung
- Fraktur green Stick
- Fraktur total

11
1.3.2 Anatomis
- Fraktur epifisis
- Fraktur lempeng epifisis
- Fraktur metafisis
- Fraktur diafisis

1.3.3 Klinis
- Traumatik
- Patologis
- Stress

1.3.4 Khusus
- Fraktur akibat trauma kelahiran
- Fraktur child abuse

Gambar 1.1 Macam-macam radiologi fraktur pada anak (Rasjad, 2007)

1.4 Jenis Fraktur Khusus


1.4.1 Fraktur Epifisis
A. Fraktur avulsi akibat tarikan ligamen

12
Fraktur avulsi akibat tarikan ligamen terutama pada spina tibia, stiloid ulna
dan basis falangs. Fragmen tulang masih mempunyai cukup vaskularisasi
dan biasanya tidak mengalami nekrosis avaskuler. Bila terjadi fraktur
bergeser, maka jarang terjadi union karena pembentukan kalus dihambat
oleh jaringan sinovia. Fraktur bergeser juga menghambat gerakan dan
juga menyebabkan sendi menjadi tidak stabil. Pada keadaan ini
diperlukan reduksi yang akurat dan mungkin diperlukan tindakan operasi

B. Fraktur kompresi yang bersifat komunitif


Fraktur komunitif jarang terjadi karena lempeng epifisis berfungsi sebagai
shock absorber pada tulang.

C. Fraktur osteokondral
Fraktur osteokondral sering ditemukan pada distal femur, patella, atau
kaput radius. Fraktur bergeser akan menyebabkan gangguan menyerupai
benda asing dalam sendi. Fragmen yang besar sebaiknya dikembalikan
dan yang kecil dapat dilakukan eksisi.

Gambar 1.2 Gambaran fraktur epifisis (Rasjad, 2007)

13
1.4.2 Fraktur Lempeng Epifisis
Lempeng epifisis merupakan suatu diskus tulang rawan yang
terletak diantara epifisis dan metafisis. Fraktur lempeng epifisis
merupakan 1/3 dari seluruh fraktur pada anak-anak.
Pembuluh darah epifisis masuk di dalam permukaan epifisis dan
apabila ada kerusakan pembuluh darah maka akan terjadi gangguan
pertumbuhan. Pembuluh darah epifisis biasanya tidak mengalami
kerusakan pada saat trauma tetapi pada epifisis femur proksimal dan
epifisis radius proksimal pembuluh darah berjalan sepanjang leher tulang
yang dimaksud dan meilntang pada lempeng epifisis di perifer, sehingga
pada kedua tempat ini apabila terjadi pemisahan epifisis, juga akan
menimbulkan kerusakan vaskularisasi yang akan menimbulkan nekrosis
avaskuler.

1.4.2.1 Anatomi, Histologi, Fisiologi


Tulang rawan lempeng epifisis lebih lemah daripada tulang. Daerah yang
paling lemah dari lempeng epifisis adalah zona transformasi tulang rawan
pada daerah hipertrofi dimana biasanya terjadi garis fraktur.

1.4.2.2 Diagnosis
Secara klinis harus dicurigai adanya fraktur lempeng epifisis pada seorang
anak dengan farktur pada tulang panjang di daerah ujung tulang pada
dislokasi sendi serta robekan ligamen. Diagnosis dapat ditegakkan
dengan melakukan pemeriksaan rontgen dengan dua proyeksi dan
membandingkannya dengan anggota gerak yang sehat.

1.4.2.3 Klasifikasi
Banyak klasifikasi fraktur lempeng epifisis antara lain menurut Salter-
Harris, Polland, Aitken, Weber, Rang, Ogend. Tapi, klasifikasi Salter-Harris
yang paling mudah dan praktis serta memenuhi syarat untuk terapi dan
prognosis.

14
Klasifikasi Salter-Harris:
-Tipe I
Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur pada tulang,
sel-sel pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat pada epifisis. Fraktur
ini terjadi oleh karena adanya shearing force dan sering terjadi pada bayi
baru lahir dan pada anak-anak yang lebih muda. Pengobatan dengan
reduksi tertutup mudah oleh karena masih ada perlekatan periosteum
yang utuh dan intak. Prognosis biasanya baik bila direposisi dengan
cepat.

-Tipe II
Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan. Garis fraktur melalui
sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan
membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga yang disebut
tanda Thurston- Holland. Sel-sel pertumbuhan pada lempeng epifisis juga
masih melekat. Trauma yang menghasilkan jenis fraktur ini biasanya
terjadi karena trauma shearing force dan membengkok dan umumnya
terjadi pada anak-anak yang lebih tua. Periosteum mengalami robekan
pada daerah konveks tetapi tetap utuh pada daerah konkaf. Pengobatan
dengan reposisi secepatnya tidak begitu sulit kecuali bila reposisi
terlambat harus dilakukan tindakan operasi. Prognosis biasanya baik
tergantung kerusakan pembuluh darah.

-Tipe III
Fraktur lempeng epifisis tipe III merupakan fraktur intra artikuler. Garis
fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian
sepanjang garis lempeng epifisis. Jenis fraktur ini bersifat intra artikuler
dan biasanya ditemukan pada epifisis tibia distal. Olehkarena fraktur ini
bersifat intra artikuler dan diperlukan reduksi yang akurat maka sebaiknya
dilakukan operasi terbuka dan fiksasi interna dengan menggunakan pin
yang halus.

15
-Tipe IV
Fraktur tipe ini juga merupakan fraktur intra artikuler yang melalui
permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan lempeng epifisis
dan berlanjut pada sebagian metafisis. Jenis fraktur ini misalnya fraktur
kondilus lateralis humeri pada anak-anak. Pengobatan dengan operasi
terbuka dan fiksasi interna karena fraktur tidak stabil akibat tarikan otot.
Prognosis jelek bila reduksi tidak dilakukan dengan baik.

-Tipe V
Fraktur tipe V merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang diteruskan
pada lempeng epifisis. Biasanya terjadi pada daerah sendi penopang
badan yaitu sendi pergelangan kaki dan sendi lutut. Diagnosis sulit karena
secara radiologis tidak dapat dilihat. Prognosis jelek karena dapat terjadi
kerusakan sebagian atau seluruh lempeng pertumbuhan.

Gambar 1.3 Klasifikasi fraktur lempeng epifisis menurut Salter-Harris


(drhasan.wordpress.com)

1.4.2.4 Penyembuhan
Setelah reduksi dari fraktur epifisis tipe I, II, III akan terjadi osifikasi
endokondral pada daerah metafisis lempeng perumbuhan dan dalam 28
minggu osifikasi endokondral ini telah mengalami penyembuhan.
Sedangkan tipe IV dan V mengalami penyembuhan seperti pada fraktur
daerah tulang kanselosa.

16
1.4.2.5 Prognosis Terhadap Gangguan Pertumbuhan
85 % trauma lempeng epifisis tidak mengalami gangguan dalam
pertumbuhan. Sisanya 15% akan memberikan gangguan dalam
pertumbuhan. Faktor penting dalam prognosis:
A. Jenis Fraktur
Fraktur tipe I, II dan III mempunyai prognosis baik, fraktur tipe IV
prognosisnya tergantung dari tindakan pengobatan dan tipe V
prognosisnya jelek tergantung kerusakan awal lempeng epifisis.

B. Umur Waktu Terjadinya Trauma


Apabila trauma terjadi pada umur yang lebih muda maka prognosisnya
lebih jelek dibanding bila terjadi pada umur yang lebih tua.

C. Vaskularisasi pada epifisis


Apabila terjadi kerusakan vaskularisasi epifisis, maka prognosis lebih
jelek.

D. Metode Reduksi
Reduksi yang dilakukan dengan tidak hati-hati akan menimbulkan
kerusakan yang lebih hebat pada lempeng epifisis.

E. Jenis Trauma
Apakah trauma terbuka atau tertutup. Pada trauma terbuka kemungkinan
terjadi infeksi dan akan menyebabkan fusi dini dari epifisis.

F. Waktu Terjadinya Trauma


Hal ini penting karena penundaan tindakann menyebabkan kesulitan
dalam reduksi dan gangguan pertumbuhan yang akan terjadi lebih hebat.

17
2. Fraktur Condylus Lateral Humerus
2.1 Anatomi Humerus
Humerus (arm bone) merupakan tulang terpanjang dan terbesar
dari ekstremitas superior. Tulang tersebut bersendi pada bagian proksimal
dengan skapula dan pada bagian distal bersendi pada siku lengan dengan
dua tulang, ulna dan radius. Ujung proksimal humerus memiliki bentuk
kepala bulat (caput humeri) yang bersendi dengan kavitas glenoidalis dari
scapula untuk membentuk articulatio gleno-humeri. Pada bagian distal
dari caput humeri terdapat collum anatomicum yang terlihat sebagai
sebuah lekukan oblik. Tuberculum majus merupakan sebuah proyeksi
lateral pada bagian distal dari collum anatomicum. Tuberculum majus
merupakan penanda tulang bagian paling lateral yang teraba pada regio
bahu. Antara tuberculum majus dan tuberculum minus terdapat sebuah
lekukan yang disebut sebagai sulcus intertubercularis. Collum chirurgicum
merupakan suatu penyempitan humerus pada bagian distal dari kedua
tuberculum, dimana caput humeri perlahan berubah menjadi corpus
humeri. Bagian tersebut dinamakan collum chirurgicum karena fraktur
sering terjadi pada bagian ini. Corpus humeri merupakan bagian humerus
yang berbentuk seperti silinder pada ujung proksimalnya, tetapi berubah
secara perlahan menjadi berbentuk segitiga hingga akhirnya menipis dan
melebar pada ujung distalnya. Pada bagian lateralnya, yakni di
pertengahan corpus humeri, terdapat daerah berbentuk huruf V dan kasar
yang disebut sebagai tuberositas deltoidea. Daerah ini berperan sebagai
titik perlekatan tendon musculus deltoideus. Beberapa bagian yang khas
merupakan penanda yang terletak pada bagian distal dari humerus.
Capitulum humeri merupakan suatu struktur seperti tombol bundar pada
sisi lateral humerus, yang bersendi dengan caput radii.
Fossa radialis merupakan suatu depresi anterior di atas capitulum
humeri, yang bersendi dengan caput radii ketika lengan difleksikan.
Trochlea humeri, yang berada pada sisi medial dari capitulum humeri,
bersendi dengan ulna. Fossa coronoidea merupakansuatu depresi
anterior yang menerima processus coronoideus ulna ketika lengan

18
difleksikan. Fossa olecrani merupakan suatu depresi posterior yang besar
yang menerima olecranon ulna ketika lengan diekstensikan. Epicondylus
medialis dan epicondylus lateralis merupakan suatu proyeksi kasar pada
sisi medial dan lateral dari ujung distal humerus, tempat kebanyakan
tendon otot-otot lengan menempel. Nervus ulnaris, suatu saraf yang dapat
membuat seseorang merasa sangat nyeri ketika siku lengannya terbentur,
dapat dipalpasi menggunakan jari tangan pada permukaan kulit di atas
area posterior dari epicondylus medialis.
Di bagian posterior tengah humerus, melintas nervus radialis yang
melingkari periosteum diafisis humerus dari proksimal ke distal dan mudah
mengalami cedera akibat patah tulang humerus bagian tengah. Secara
klinis, pada cedera nervus radialis didapati ketidakmampuan melakukan
ekstensi pergelangan tangan sehingga pasien tidak mampu melakukan
fleksi jari secara efektif dan tidak dapat menggenggam.

Fungsi Otot Origo Insersio Nerve Action


Flexors m. biceps Caput Bagian Musculocuta Flexi
brachii longum: posterior neus (C5, shoulder
tuberositas tuberositas C6) dan elbow,
supraglenoid radius supinasi
alis forearm
Caput brevis:
processus
coracoideus
m. brachialis Setengah Processus Musculocuta Flexi elbow
bawah coronoideu neus (C5,
permukaan s dan C6), radial
depan dari tuberositas nerve (C7)
humerus, ulna
intermuscular
septum
m. Di atas 2/3 Sisi lateral Radial nerve Flexi elbow
brachioradialis lateral dari radius (C5, C6)
supracondylu di atas
s humerus, processus
lateral styloideus
intermuscular
septum
m. pronator Caput Pertengaha Median Pronasi
teres humerus: n dari nerve (C6, forearm,
epicondylus permukaan C7) flexi elbow
medialis lateral
humeri radius

19
Caput
ulnaris:
processus
coronoideus

Extensor m. triceps Long head: Permukaa Radial nerve Extensi


s brachii infraglenoid n atas (C6- C8) elbow dan
tubercle olecranon shoulder
scapula
m. anconeus Permukaan Permukaan Radial nerve Extensi
belakang lateral (C6-C8) elbow
epicondylus olecranon,
lateral sepermpat
humerus atas
permukaan
belakang
ulna

Pronators m. pronator Caput Pertengaha Median Pronasi


teres humerus: n dari nerve forearm,
epicondylus permukaan (C6, C7) flexi elbow
medialis lateral
humeri radius
Caput ulnaris:
processus
coronoideus
m. pronator Bagian bawah Bagian Median Pronasi
quadratus dari bawah dari nerve forearm
permukaan permukaan (C7, C8)
depan ulna depan
radius
Supinators m. supinator Epycondylus Facies Posterior Supinasi
lateralis anterior interosse forearm
humeri, lig radii ous
colaterale (proximal nerve
radiale dan dan distal (C6, C7)
anulare radii, dari
crista musculi tuberositas
supinatori ulna radii)
m. biceps Caput longum: Bagian Musculo Flexi
brachii tuberositas posterior cutaneus shoulder
supraglenoidal tuberositas (C5, C6) dan elbow,
is radius supinasi
Caput brevis: forearm
processus
coracoideus

Tabel 2.1 Sistem otot lengan bawah (Snell, 2012)

20
Gambar 2.1 Otot lengan tampak anterior (Paulsen, 2010)

21
Gambar 2.2 Otot lengan tampak posterior (Paulsen, 2010)

22
Gambar 2.3 Humerus Sinistra Anterior (fraktur-humerus-56548e5182502.html)

23
Gambar 2.4 Arteri dan Nervus Humerus (Shutterstock.com)

2.2 Fraktur Condylus Lateral Humerus


2.2.1 Definisi
Fraktur condylus lateral humerus pertama kali dideskripsikan oleh
Stimson (1883). Fraktur condylus lateral humerus adalah fraktur lempeng
epifisis tipe IV (Salter-Harris).

24
2.2.2 Epidemiologi
Fraktur kondilus lateral 17% dari semua fraktur humerus distal dan
54% fraktur fiseal humerus distal. Frekuensi fraktur kondilus lateral
memuncak pada anak-anak berusia 6 tahun. Sebagian besar fraktur
terjadi pada anak usia 5-10 tahun. Kasus telah dilaporkan pada pasien
paling muda 2 tahun dan paling tua 14 tahun.

2.2.3 Mekanisme Trauma


Fraktur ini biasanya terjadi dengan posisi tangan siku ekstensi dan
varus.

2.2.4 Tipe
Tipe 1 : Tidak ada pergeseran fragmen
Tipe 2 : Terdapat pergeseran ringan
Tipe 3 : Terdapat pergeseran yang jauh
Perpindahan fragmen terjadi karena adanya tarikan otot ekstensor
pergelangan tangan dan jari-jari tangan yang melekat pada fragmen ini,
Perpindahan terjadi dalam aksis horizontal dan vertikal, bervariasi sampai
peralihan 90 derajat dan permukaan sendi menghadap ke dalam.

Gambar 2.5 Tipe Fraktur Kondilus Lateralis Humeri (Rasjad, 2007)

2.2.5 Diagnosis
a. Gambaran klinis

25
-Nyeri pada bagian lateral distal humerus
-Edema
-Kebiruan

b. Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan roentgen diagnosis dapat ditegakkan.
Foto radiologi elbow anteroposterior (AP) dan lateral di perlukan untuk
menegakkan diagnosis. Foto radiologi ekstremitas kontralateral bisa
diambil untuk perbandingan. Dengan pemeriksaan rontgen dapat
dilihat adanya pusat osifikasi.

Gambar 2.6 Fraktur condylus lateral (Apley, 1995)

2.2.6 Penatalaksanaan

26
Fraktur tanpa pemindahan fragmen cukup dengan istirahat dan
pemakaian mitela. Fraktur tipe 2 dan 3 sebaiknya dilakukan operasi
segera karena bersifat tidak stabil sehingga sebaiknya dilakukan reduksi
terbuka dan fiksasi interna.

2.2.7 Komplikasi
a. Komplikasi Awal
1) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa di tandai dengan tidak
adanya nadi, CRT (capillary refil time) menurun, sianosis bagian
distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ujung ekstremitas.

2) Kompartment Sindrom
Kompartment sindrom merupakan komplikasi serius yang
terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah
dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan
yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena
tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
Tanda-tanda sindrom kompartemen (5P) sebagai berikut:
o Pain (nyeri lokal),
o Pallor (pucat bagian distal),
o Pulsessness (tidak ada denyut nadi, perubahan nadi,
perfusi yang tidak baik dan CRT>3 detik pada bagian
distal kaki).
o Paraestesia (tidak ada sensasi),
o Paralysis (kelumpuhan tungkai).

3) Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada
jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit
(superfisial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus

27
fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam
pembedahan sperti pin dan plat.

b. Komplikasi Dalam Waktu Lama


1) Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi
(bergabung) sesuai dengan waktu yang di butuhkan tulang untuk
menyambung.
2) Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan
memproduksi sambungan setelah 4-6 minggu.
3) Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang di tandai dengan
perubahan bentuk (deformitas).

DAFTAR PUSTAKA

28
Apley GA, Solomon L.Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur sistem Apley. Edisi
ke -7. Jakarta, 1995. Widya Medika.

Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif


Watampone.

Moore KL. Agur, AMR. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta; Hipokrates.

Purwadianto, Agus, dkk. 2000. Kedaruratan Medik Edisi Revisi. Jakarta


Binarupa Aksara.

Putz, R. Pabst R. 2000. Sobotta Atlas of Human Anatomy. Lippincott


Williams & Wilkins

Paulsen, Friedrich. Waschke, Jens. 2013. Sobotta Atlas of Human


Anatomy. 15th edition. Elsevier

Snell, Richard S. 2000. Clinical Anatomy for Medical Student. Lippincott


Williams & Wilkins

Thompson JC. 2001. Netter’s Concise Atlas of Orthopaedic Anatomy. 1st


edition. Philadelphia; Mosby Elsevier.

29