Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH KIMIA DASAR I

SEJARAH SISTEM PERIODIK

Oleh:

Disusun Oleh

Dian Novriana (06101181722009)

Dosen Pembimbing : Dr. Effendi, M.Si.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini.

Kami telah menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya dan


semaksimal mungkin. Namun tentunya sebagai manusia biasa tidak akan luput
dari kesalahan dan kekurangan. Harapan kami, semoga bisa menjadi koreksi di
masa mendatang agar lebih baik dari sebelumnya. Pada dasarnya makalah ini
kami sajikan untuk membahas tentang “Sejarah Sistem Periodik”. Untuk lebih
jelas simak pembahasan dalam makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini bisa
memberikan pengetahuan yang mendalam tentang Persamaan keadaan kepada kita
semua.

Makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Tak ada gading yang
tak retak. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman
untuk memperbaiki makalah kami selanjutnya. Sebelum dan sesudahnya kami
ucapkan terimakasih.

Palembang, 29 Mei 2018

Penyusun
Bab I PENDAHULUAN
Sebagian unsur terbentuk bersamaan dengan terbentuknya alam semesta
ini. Kita sering menemui unsur di sekitar kita. Apabila kita sebutkan satu per satu
akan sulit karena sekarang telah ditemukan kurang lebih 118 unsur baik alami
atau buatan. Jika kita mempelajari satu demi satu alangkah sulitnya. Hal inilah
yang mendorong para ahli kimia berusaha mengelompokkan unsur-unsur
berdasarkan kemiripan sifat, kenaikan massa atom ataupun kenaikan nomor atom
agar unsur-unsur tersebut mudah dipelajari.
Pengelompokan unsur pun mengalami perkembangan dari pengelompokan
unsur yang dilakukan oleh para ahli Arab dan Persia, Lavoisier, Dalton,
Dobereiner, Newlands, Mendeleyev, Lothar Meyer, Moseley hingga sistem
periodik modern yang kita pakai hingga sekarang. Puncak dari usaha tersebut
adalah terciptanya suatu tabel unsur yang disebut sistem periodik unsur. Mengenai
sistem periodik unsur, akan dibahas lebih lanjut pada bab pembahasan berikut
Bab II PEMBAHASAN
Sistem periodik adalah suatu tabel berisi identitas unsur-unsur
yang dikemas secara berkala dalam bentuk periode dan golongan
berdasarkan kemiripan sifat-sifat unsurnya.

Robert Boyle adalah orang pertama yang memberikan tentang definisi bahwa
unsur adalah suatu zat yang tidak dapat lagi dibagi-bagi menjadi dua zat atau lebih
dengan cara kimia. Sejak itu orang dapat menyimpulkan bahwa unsur-unsur
mempunyai sifat yang jelas dan ada kemiripan diantara sifat-sifat unsur itu.

2.1 Pengelompokkan Unsur Menurut Antoine Lavoisier


Setelah Boyle memberi penjelasan tentang konsep unsur, Lavoiser pada tahun
1769 menerbitkan suatu daftar unsur-unsur. Lavoiser membagi unsur-unsur dalam
unsur logam dan non logam. Pada waktu itu baru dikenal kurang lebih 33 unsur.
Pengelompokan ini merupakan metode paling sederhana , dilakukan.
Pengelompokan ini masih sangat sederhana karena antara unsur – unsur logam
sendiri masih banyak perbedaan.

Perbedaan Logam dan Non Logam

Logam Non Logam


1. Berwujud padat pada suhu kamar 1. Ada yang berupa zat padat, cair,
(250), kecuali raksa (Hg) atau gas pada suhu kamar
2. Mengkilap jika digosok 2. Tidak mengkilap jika digosok,
3. Merupakan konduktor yang baik kecuali intan (karbon)
4. Dapat ditempa atau 3. Bukan konduktor yang baik
direnggangkan 4. Umumnya rapuh, terutama yang
5. Penghantar panas yang baik berwujud padat
5. Bukan penghantar panas yang
baik

Ternyata, selain unsur logam dan non-logam, masih ditemukan beberapa unsur
yang memiliki sifat logam dan non-logam (unsur metaloid), misalnya unsur
silikon, antimon, dan arsen. Jadi, penggolongan unsur menjadi unsur logam dan
non-logam masih memiliki kelemahan.

KELEBIHAN & KEKURANGAN Unsur Menurut Antoine Lavoisier

(+) KELEBIHAN :

 Sudah Mengelompokkan 33 unsur berdasarkan sifat kima, sehingga bisa


dijadikan referensi bagi ilmuwan setelahnya

(-) KELEMAHAN :

 Pengelompokannya masih terlalu umum


2.2 Pengelompokkan Unsur Menurut Johann Wolfgang Dobereiner

Dobereiner adalah orang pertama menemukan hubungan antara sifat unsur dengan
massa atom relatifnya. Unsu-unsur dikelompokkan berdasarkan kemiripan sifat-
sifatnya. Setiap kelompok terdiri atas tiga unsur, sehingga disebut triade. Di
dalam triade, unsur ke-2 mempunyai sifat-sifat yang berada di antara unsur ke-1
dan ke-3 dan memiliki massa atom sama dengan massa rata-rata unsur ke-1 dan
ke-3.

Jenis Triade :

 Triade Litium(Li), Natrium(Na), Kalium(k)


 Triade Kalsium(Ca), Stronsium(Sr), Barium(Br)
 Triade Klor(Cl), Brom(Br), Iodium(I)

Tabel pengelompokan unsur-unsur menurut Triade Dobereiner

KELEBIHAN & KEKURANGAN Pengelompokkan Unsur Menurut


Johann Wolfgang Dobereiner
(+) KELEBIHAN :
+ Keteraturan setiap unsur yang sifatnya mirip massa atom (Ar)
unsur yang kedua (Tengah) merupakan massa atom rata
-rata di massa atom unsur pertama dan ketiga

(-) KEKURANGAN
– Kurang efisien karena ada beberapa unsur lain yang tidak
termasuk dalam kelompok Triade padahal sifatnya sama
dengan unsur di dalam kelompok triade tersebut.

2.3 Pengelompokan Unsur Menurut John Newlands

Triade Debereiner mendorong John Alexander Reina Newlands untuk


melanjutkan upaya pengelompokan unsur-unsur berdasarkan kenaikan massa
atom dan keterkaitannya dengan sifat unsur.

Menurut Newlands, jika unsur-unsur diurutkan letaknya sesuai dengan kenaikan


massa atom relatifnya, maka sifat unsur akan terulang pada tiap unsur kedelapan.
Keteraturan ini sesuai dengan pengulangan not lagu (oktaf) sehingga
disebut Hukum Oktaf (law of octaves). Tabel berikut menunjukkan
pengelompokan unsur berdasarkan hukum Oktaf Newlands.
(-)KELEMAHAN :
– Dalam kenyataanya mesih di ketemukan beberapa oktaf yang
isinya lebih dari delapan unsur. Dan penggolonganya ini tidak
cocok untuk unsur yang massa atomnya sangat besar.

2.4 Pengelompokan Unsur Menurut Dmitri Mendeleev

Dmitri Ivanovich Mendeleev pada tahun 1869 melakukan pengamatan 63 unsur


yang sudah dikenal dan mendapatkan hasil bahwa sifat unsur merupakan fungsi
periodik dari massa atom relatifnya. Sifat tertentu akan berulang secara periodik
apabila unsur-unsur disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya.
Mendeleev selanjutnya menempatkan unsur-unsur dengan kemiripan sifat pada
satu lajur vertikal yang disebut golongan. Unsur-unsur juga disusun berdasarkan
kenaikan massa atom relatifnya dan ditempatkan dalam satu lajur yang disebut
periode.
Tabel pengelompokan menurut Mendeleev
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN:
(+) KELEBIHAN :
+ Sistem Periodik Mendeleev menyediakan beberapa tempat kosong untuk
unsur-unsur yang belum ditemukan.
+ meramalkan sifat-sifat unsur yang belum diketahui.
Pada perkembangan selanjutnya, beberapa unsur yang ditemukan
ternyata cocok dengan prediksi Mendeleev.

(-) KELEMAHAN :
– Masih terdapat unsur – unsur yang massanya lebih besar letaknya di
depan unsur yang massanya lebih kecil.
– Adanya unsur-unsur yang tidak mempunyai kesamaan sifat dimasukkan
dalam satu golongan, misalnya Cu dan Ag ditempatkan dengan unsur Li,
Na, K, Rb dan Cs.
– Adanya penempatan unsur-unsur yang tidak sesuai dengan kenaikan
massa atom.

2.5 Pengelompokkan Unsur Menurut Henry Moseley

Tabel periodik Mendeleev dikemukakan sebelum penemuan struktur atom, yaitu


partikel-partikel penyusun atom. Partikel penyusun inti atom yaitu proton dan
neutron, sedangkan elektron mengitari inti atom. Setelah partikel-partikel
penyusun atom ditemukan, ternyata ada beberapa unsur yang mempunyai jumlah
partikel proton atau elektron sama, tetapi jumlah neutron berbeda. Unsur tersebut
dikenal sebagai isotop. Jadi, terdapat atom yang mempunyai jumlah proton dan
sifat kimia sama, tetapi massanya berbeda karena massa proton dan neutron
menentukan massa atom.

Dengan demikian, sifat kimia tidak ditentukan oleh massa atom, tetapi ditentukan
oleh jumlah proton dalam atom tersebut. Jumlah proton menyatakan nomor atom.
Dengan demikian sifat-sifat unsur ditentukan oleh nomor atom. Keperiodikan
sifat fisika dan kimia unsur disusun berdasarkan nomor atomnya. Pernyataan
tersebut disimpulkan berdasarkan hasil percobaan Henry Moseley pada tahun
1913. Menurut Moseley, sifat-sifat kimia unsur merupakan fungsi periodik dari
nomor atomnya. Artinya, jika unsur-unsur diurutkan berdasarkan kenaikan nomor
atomnya, maka sifat-sifat unsur akan berulang secara periodik.

Susunan periodik yang disusun oleh Moseley akhirnya berkembang lebih baik
sampai didapatkan bentuk yang sekarang ini dengan mengikuti hukum periodik
bahwabila unsur disusun berdasarkan kenaikan nomor atom, maka sifat unsur
akan berulang secara periodik.
Sistem periodik modern dikenal juga sebagai sistem periodik bentuk
panjang, terdapat lajur mendatar yang disebut periode dan lajur tegak yang
disebut golongan.
Dalam sistem periodik modern terdapat 7 periode, yaitu:

 Periode 1 : terdiri atas 2 unsur


 Periode 2 : terdiri atas 8 unsur
 Periode 3 : terdiri atas 8 unsur
 Periode 4 : terdiri atas 18 unsur
 Periode 5 : terdiri atas 18 unsur
 Periode 6 : terdiri atas 32 unsur, yaitu 18 unsur seperti periode 4 atau
5, dan 14 unsur lagi merupakan deret lantanida
 Periode 7 : merupakan periode unsur yang belum lengkap. Pada
periode ini terdapat deret aktinida
Penamaan khusus untuk beberapa golongan adalah :

 Golongan I A disebut golongan Alkali, kecuali H


 Golongan II A disebut golongan Alkali tanah
 Golongan VII A disebut golongan Halogen
 Golongan VIII A disebut golongan Gas Mulia
 Golongan I B sampai Golongan VIII B disebut Golongan Transisi
 Golongan III A sampai dengan golongan VI A diberi nama sesuai unsur
yang ada pada golongan tersebut

Contoh :

 Golongan III A diberi nama golongan Aluminium.


 Golongan IV A diberi nama golongan Karbon Silikon.
 Golongan V A diberi nama golongan Nitrogen Fosfor.
 Golongan VI A diber nama golongan Oksigen Belerang.

2.6 Perubahan sifat Sistem Periodik Unsur

Beberapa perubahan sifat unsur secara teratur tersebut yaitu :

1. Logam dan non logam

Unsur secara garis besar dikelompokkan menjadi 2 yaitu unsur logam dan
unsur non logam. Unsur logam umumnya memiliki sifat yang bisa menghantarkan
listrik dengan baik, warna mengkilap , keras. Unsur non logam umumnya
memiliki sifat tidak bisa menghantarkan listrik, serta titik didih dan lelehnya
rendah. Umumnya, di alam unsur logam Lebih banyak kelimpahannya daripada
unsur non logam.

Pada sistem periodik, unsur logam terletak pada sebelah kiri dan unsur non
logam terletak pada sebelah kanan. Dalam satu periode dari kiri ke kanan sifat
kelogamannya berkurang atau makin bersifat non logam. Sedangkan dalam satu
golongan dari atas ke bawah sifat kelogamannya semakin besar. Diantara unsur
logam dan non logam terdapat unsur semi logam atau disebu juga metaloid, yakni
unsur non logam yang memiliki sifat kelogaman namun secara terbatas.
2. Titik leleh dan titik didih

Titik didih dan leleh termasuk sifat fisik yang memilikii sifat keperiodikkan.
Kecendrungan atau tren perubahan titik didih dan leleh pada sistem periodik ialah
sebagai berikut:

1. Unsur logam pada suatu golongan dari atas menuju bawah, titik didih dan
leleh akan semakin rendah, sedangkan untuk unsur non logam akan
semakin tinggi.
2. Unsur pada satu periode dari kiri menuju kanan, titik leleh naik hingga
maksimum pada golongan IVA lalu turun secara teratur, sedangkan titik
didih naik terus hingga maksimum pada golongan IIIA lalu turun dengan
teratur.

3. Jari-jari atom

Jari-jari atom ialah jarak dari pusat atom (inti atom) hingga kulit luar yang
ditempati elektron. Panjang atau pendeknya jari-jari atom bisa diketahui oleh 2
faktor yaitu jumlah kulit elektron dan muatan inti atom.

Ada kecendrungan jari-jari atom pada satu periode dari kiri ke kanan akan
semakin pendek sedangkan jari-jari atom unsur segolongan dari atas ke bawah
akan semakin panjang. Kecendrungan tersebut disebabkan oleh adanya garik tarik
inti atom terhadap elektron serta jumlah kulit elektron.

Pada suatu periode dari kiri ke kanan muatan inti akan bertambah sedangkan
jumlah kulit elektron tetap. Oleh karena itu gaya tarik inti tehadap elektron terluar
semakin kuat hingga menyebabkan jarak elektron yang terluar dengan inti makin
dekat.

Pada golongan, semakin ke bawah jumlah kulit makin banyak. Meski dalam
hal ini jumlah muatan inti makin banyak, tapi pengaruh bertambahnya jumlah
kulit lebih besar daripada pengaruh muatan inti. Oleh karena itu, jarak elektron
kulit terluar terhadap inti akan semakin jauh.
Sistem Periodik Unsur (SPU) adalah tabel unsur-unsur yang dikelompokkan
berdasarkan kenaikan nomor atom dan konfigurasi elektron yang bertujuan
untuk meramalkan sifat-sifat unsur

2.7 Sistem Periodik Unsur Modern Tersusun dari :

1. Kolom-kolom vertikal yang disebut Golongan

Terdiri dari 18 golongan :

 8 golongan A
 10 golongan B

a. Golongan utama (8 golongan A)

b. Golongan Transisi (10 golongan B)

ada 10 golongan :

 Golongan : IIIB, IVB, VB, VIB, VIIB, VIIIB, IB, IIB.


 Golongan VIII terdiri dari 3 golongan yaitu :
 Triade besi, triade platina ringan dan triade platina berat.

2. Baris-baris horizontal yang disebut Periode

Terdiri dari 7 periode :

Periode Disebut Jumlah Unsur


1 Periode Sangat Pendek 2
2 Periode Pendek 8
3 Periode Pendek 8
4 Periode Panjang 18
5 Periode Panjang 18
6 Periode Sangat Panjang 32
7 Tak Lengkap 17
2.8 Menentukan Periode dan Golongan

Menentukan Periode Menentukan Golongan

Nomor golongan = jumlah


Nomor periode : sesuai elektron pada kulit terluar
dengan jumlah kulit
elektron unsur

2.9 Sifat Periodik Unsur-unsur

Jari-jari atom : Jarak antara inti atom sampai kulit terluar

Energi Ionisasi (Ei) (Potensial Ionisasi) : Energi yang diperlukan


untuk melepaskan satu elektron yang terikat paling lemah dalam
atom/ion

x + Ei → x+ + e

Afinitas Elektron (E) : Besarnya energi yang dilepaskan bila suatu


atom menangkap elektron

X + e → x– + E

Keelektronegatifan : Daya sebuah atom dalam sebuah molekul


untuk menarik elektron dalam suatu ikatan kovalen

Kereaktifan : Kemampuan unsur untuk membentuk ion +/ion –


Jari-jari atom dan ionnya :

Jari-jari atom dan ion negatifnya

Perhatikan :

 Σ Kulit elektron
 Σ elektron pada kulit terluar
 Σ muatan inti

Contoh :

17 Cl 2. 8. 7. (Σ elektron = 17) (atom Cl)



17Cl 2. 8. 8. (Σ elektron = 18) (ion Cl–)

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa jumlah kulit elektron dan muatan
inti sama sedangkan jumlah elektron kulit terluar Cl– lebih banyak
sehingga daya tolak kulit terluar lebih besar yang menyebabkan jari-jari
ion Cl– > Cl

Jari-jari atom dan ion positifnya

Perhatikan :

 Σ Kulit elektron
 Σ muatan inti

Contoh :

11 Na 2. 8. 1. (Σ elektron = 11) (atom Na)

11Na
+
2. 8. (Σ elektron = 10) (ion Na+)

Jumlah kulit Na+ lebih kecil sehingga jari-jari ion Na+<Na

Jari–jari ion selalu > dari atom netralnya

Jari–jari ion + selalu < dari atom netralnya

Jari–jari ion selalu – > dari atom netralnya


3. Keelektronegatifan
4. Kereaktifan Logam dan Non logam

2.10 Atom

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari
yang namanya materi bahkan diri kita senidiri merupakan materi. Jika suatu
materi dipotong dan terus dipotong maka diperoleh bagian terkecil yang tidak
dapat dibagi-bagi lagi. Dari pengamatan tersebut lahirlah istilah atom.

Istilah atom berasal dari bahasa yunani, atomos, yang berarti tidak dapat
dipotong atau sesuatu yang tidak dapat dibagi lagi. Konsep atom sebagai
komponen yang tak dapat dibagi lagi diajukan oleh para filsuf India dan Yunani
dan pertama kali dikenalkan oleh Demokritus. Namun pandangan ini mendapat
tantangan dari beberapa ilmuwan karena tidak didukung oleh eksperimen-
eksperimen yang meyakinkan dan berbeda dengan pandangan klasik yang
mengatakan materi yang ada di bumi dibentuk atas empat unsur yaitu tanah, air,
api dan udara.

Pandangan mengenai atom sempat memudar selama berabad-abat hingga


pada abad ke-17 keberadaan atom kembali dimunculkan di Eropa yang didukung
oleh Isaac Newton. Isaac Newton adalah fisikawan Inggris dan merupakan
ilmuwan yang sangat berpengaruh sepanjang sejarah sains, bahkan dikatakan
sebagai bapak ilmu fisika klasik. Istilah atom kembali lahir ketika para ilmuwan
mengalami kendala ketika menjelaskan sifat-sifat dari gas. Misalnya angin
walaupun tidak terlihat tapi kita dapat merasakannya. Pada abad ke-18
keberadaan atom makin diperkuat ketika Lavoisier dan Prouts berhasil
menetapkan hukum kekekalan massa dan hukum perbandingan tetap.

2.11 Teori Atom Niels Bohr

Dilihat dari kandungan energi elektron, ternyata model atom Rutherford


mempunyai kelemahan. Ketika elektron-elektron mengelilingi inti atom, mereka
mengalami percepatan terus-menerus, sehingga elektron harus membebaskan
energi. Lama kelamaan energi yang dimiliki oleh elektron makin berkurang dan
elektron akan tertarik makin dekat ke arah inti, sehingga akhirnya jatuh ke dalam
inti. Tetapi pada kenyataannya, seluruh elektron dalam atom tidak pernah jatuh ke
inti. Jadi, model atom nuklir Rutherford harus disempurnakan.
Pada tahun 1913 fisikawan Denmark bernama Neils Henrik David Bohr
(1885-1962) memperbaiki kegagalan atom Rutherford. Penjelasan Bohr tentang
atom hidrogen melibatkan model atom nuklir Rutherford dan gabungan antara
teori maxwell, fisika klasik dan teori kuantum dari Planck. Dengan dasar teori
atom Rutherford, Bohr melakukan penelitian tentang teori atom sampai berhasil
menemukan teori atomnya sendiri. Bohr mempublikasikan teori atomnya pada
1913. Teorinya ini kemudian menjadi dasar terhadap teori kuantum. Model atom
bohr adalah sebagai berikut:

1. Elektron beredar mengelilingi inti atom yang bermuatan positif pada orbit
tertentu yang dikenal sebagai keadaan gerakan yang stasioner (tetap).
Selama elektron berada dalam lintasan stasioner, energi akan konstan
karena tidak ada energi yang dipancarkan maupun diserap. Menurut model
atom Bohr, elektron-elektron mengelilingi inti pada lintasan-lintasan
tertentu mirip sistem tata surya tetapi peran gaya gravitasi digantikan oleh

gaya elektrostatik.
2. Elektron yang mengelilingi atom berada pada garis-garis lingkaran dengan
tingkat energi atau kulit yang berbeda. Pada keadaan normal tanpa
pengaruh dari luar, elektron menempati tingkat energi terendah yang
disebut tingkat dasar (ground state). Energi yang dimiliki elektron pada
keadaan dasar relatif rendah apabila dibandingkan dengan keadaan yang
lebih tinggi. Jumlah elektron yang menempati setiap tingkat energi dikaji
pada topik konfigurasi elektron.
3. Elektron hanya dapat berpindah dari lintasan stasioner yang lebih rendah
ke lintasan stasioner yang lebih tinggi jika elektron menyerap sejumlah
energi. Perpindahan elektron ini terjadi dari kulit yang lebih rendah ke
kulit yang lebih tinggi disebut eksitasi elektron. Sebaliknya, elektron
yang telah tereksitasi dapat kembali lintasan stasioner yang lebih lebih
rendah maka akan disertai pelepasan sejumlah energi. Energi yang
dilepaskan dalam bentuk gelombang elektromagnetik dengan panjang
gelombang tertentu yang dapat diamati dalam bentuk sinar tampak. Pada
peralihan elektron ini energi yang terlibat, besarnya sesuai dengan
persamaan planck, ΔE = hv.
4. Energi yang dipancarkan/diserap ketika terjadi transisi elektron terekam
sebagai spektrum atom.

Kelebihan model atom Neils Bohr:


1) Menjawab kelemahan dalam model atom Rutherford dengan
mengaplikasikan teori kuantum.
2) Menerangkan dengan jelas garis spektrum pancaran (emisi) atau
serapan (absorpsi) dari atom hidrogen

Kelemahan model atom Neils Bohr:

1) Hanya dapat menjelaskan spektrum dari atom hidrogen dan


helium yang terionisasi satu kali tetapi tidak dapat
menjelaskan spektrum warna dari atom berelektron banyak.

2) Tidak dapat menjelaskan mengapa elektron hanya boleh


berada pada tingkat energi tertentu.

Dalam model atom Bohr ini dikenal istilah konfigurasi elektron, yaitu susunan
elektron pada masing-masing kulit. Data yang digunakan untuk menuliskan
konfigurasi elektron adalah nomor atom suatu unsur, di mana nomor atom unsur
menyatakan jumlah elektron dalam atom unsur tersebut. Sedangkan elektron pada
kulit terluar dikenal dengan sebutan elektron valensi. Susunan elektron valensi
sangat menentukan sifat-sifat kimia suatu atom dan berperan penting dalam
membentuk ikatan dengan atom lain.

Untuk menentukan konfigurasi elektron suatu unsur, ada beberapa patokan yang
harus selalu diingat, yaitu:

a. Dimulai dari lintasan yang terdekat dengan inti, masing-masing lintasan disebut
kulit ke-1 (kulit K), kulit ke-2 (kulit L), kulit ke-3 (kulit M), kulit ke-4 (kulit N),
dan seterusnya.
b. Jumlah elektron maksimum (paling banyak) yang dapat menempati masing-
masing kulit adalah:

2 n2

dengan n = nomor kulit

Kulit K dapat menampung maksimal 2 elektron.


Kulit L dapat menampung maksimal 8 elektron.
Kulit M dapat menampung maksimal 18 elektron, dan seterusnya.
c. Kulit yang paling luar hanya boleh mengandung maksimal 8 elektron.

2.12 Teori Atom Rutherford

Percobaan Hamburan Partikel Alfa. Berangkat dari teori atom Thomson,


seorang ilmuwan yang bernama Lenard menguji teori atom tersebut pada tahun
1903. Sebuah lempeng logam ditembak dengan elektron. Jika model atom
tersebut benar, biar berharap sebagian besar elektron akan terserap oleh logam.
Pada kenyataannya justru terjadi sebaliknya, sebagian besar elektron diteruskan
oleh logam. Dengan demikian, model atom Thomson yang menyatakan bahwa
massa atom tersebar merata diseluruh isi atom tidak dapat diterima.

Ide dasar Lenard digunakan oleh E. Rutherford dibantu dua asisten (Geiger
dan Marsden) untuk pengujian lanjutan teori atom Thomson. Percobaan yang
dilakukan Rutherford pada tahun 1911 ini dinamakan Hamburan Partikel Alfa.
Prinsip dasar Rutherford sebagai berikut. Sebuah lempeng emas tipis ditembak
dengan partikel alfa yang mempunyai muatan positif. Partikel alfa ini dihasilkan
oleh unsur radioaktif radon. Sebuah layar yang dapat berpendar jika terkena
partikel alfa digunakan untuk mengamati partikel yang diteruskan. Hasil yang
diperoleh begitu mengejutkan mereka. Sebagian besar partikel alfa dapat
menembus lempeng logam emas tersebut padahal partikel alfa berukuran besar.
Hanya sebagian kecil dari partikel alfa yang dipantulkan dengan sudut lebih dari
900, yaitu sebanyak 1 diantara 20000 partikel. Ada juga partikel alfa yang
dibelokkan dan mengenai layar.

Kejadian ini hanya bisa terjadi menurut bayangan Rutherford jika terjadi
ruangan kosong antara elektron dan ini atom sehingga partikel alfa ditembakkan
ke lempeng emas akan lebih banyak mengenai ruang kosong. Dengan kata lain
jarak antara inti atom dengan elektron sangat jauh dibandingkan dengan ukuran
elektron dan inti atom. Selain itu massa atom terpusatkan di intinya. Inti atom
menjadi lebih pasif dibandingkan dengan elektronnya dan bermuatan positif. Saat
partikel alfa akan mengenai inti atom terdapat gaya tolak yang besar sehingga
partikel alfa akan dipantulkan dengan sudut yang besar melebihi 900. Ukuran inti
yang lebih kecil jika dibandingkan dengan jarak inti dan electron menyebabkan
partikel alfa yang mengarah ke inti lebih sedikit. Partikel alfa yang tidak menuju
ke inti tapi berjarak cukup dekat dengan inti akan dibelokkan dengan sudut yang
tidak terlalu besar. Pembelokan ini disebabkan ada gaya tolak pada partikel alfa
oleh inti atom. Jumlah yang mendekati inti tidak terlalu banyak sehingga
pengamatan partikel alfa yang dibelokkan pun tidak terlalu banyak.
Gambaran dari model atom Rutherford ini mirip dengan susunan tata surya
dengan Matahari sebagai inti dan planet-planet sebagai electron. Sebagian besar
partikel ala dapat menembus lempengan emas karena jarak antara inti dan
electron jauh lebih besar dibandingkan dengan ukuran inti dan electron tersebut.

Model atom Thomson akhirnya diuji oleh Ernest Rutherford (1871 – 1937).
Dia melakukan percobaan dengan menembakkan partikel alfa pada lempeng emas
yang sangat tipis dengan ukuran 0,01 mm atau kira-kira setebal 2.000 atom.
Ternyata, partikel alfa itu tidak seluruhnya menembus secara lurus, artinya
beberapa di antaranya terhambur atau dibelokkan membentuk sudut antara 900
sampai 1200. Apabila model atom Thomson benar, partikel alfa tersebut
seharusnya melintas lurus (tidak dibelokkan). Karena massa dan energi partikel
alfa jauh lebih besar daripada elektron dan proton dalam atom, sehingga
lintasannya tidak terganggu oleh elektron dan proton dalam atom. Apabila model
atom Thomson benar, partikel alfa tersebut seharusnya melintas lurus (tidak
dibelokkan). Karena massa dan energi partikel alfa jauh lebih besar daripada
elektron dan proton dalam atom, sehingga lintasannya tidak terganggu oleh
elektron dan proton dalam atom.Gambar 9.4 memperlihatkan percobaan yang
dilakukan oleh Geiger dan Marsden (1911).

Berdasarkan percobaan tersebut, Rutherford mengemukakan suatu model atom


berikut ini.
a. Sebuah atom terdiri atas inti bermuatan positif yang terletak di tengah/pusat.
b. Inti atom dikelilingi elektron yang dipengaruhi oleh gaya tarik-menarik, yang
disebut gaya Coulomb. Jadi, elektron berputar pada lintasan tertentu, seperti
perputaran planet-planet yang mengelilingi pusat tata surya.
c. Atom bersifat netral, yaitu jumlah proton sama dengan jumlah elektron yang
mengelilingi inti. Sudah dibuktikan oleh Rutherford bahwa sebagian dari model
atom Thomson tidak benar.

Untuk memperbaiki model atom tersebut, Rutherford mengemukakan teori


atomnya sebagai berikut :
a. Atom terdiri dari inti yang dikelilingi oleh electron disekitarnya.
b. Inti bermuatan positif dan sebagian besar massa atom (sekitar 99,9%)
berkumpul di intinya.
c. Jika model atom Z menunjukkan jumlah muatan positif. Jarak antara inti atom
dengan electron yang mengelilingi jauh lebih besar dibanding ukuran inti atom
dan elektron.
d. Secara keseluruhan atom bersifat netral sehingga jumlah muatan negative yang
dibawa electron sama dengan jumlah muatan positif yang dibawa oleh intinya.
e. Dalam reaksi kimia hanya komposisi electron-elektron bagian luar yang
menglami perubahan sedangkan bagian inti tidak. Atom yang kehilangan atau
kelebihan electron disebut ion
f. Karena inti bermuatan positif sedangkan electron bermuatan negative maka
terdapat gaya elektrostatik yang bertindak sebagai gaya sentripetal terhadap
electron.

Di sisi lain, model atom Rutherford memiliki kelemahan berikut ini:

a. Elektron yang berputar mengelilingi inti dianggap sebagai getaran listrik


yangmemancarkan gelombang elektromagnetik (energi). Jika energi
berkurang, maka lintasan makin kecil, tetapi elektron tersebut tidak
menempel pada inti. Hal ini menunjukkan bahwa model atom Rutherford
tidak dapat menjelaskan kestabilan atom.
b. Jika lintasan makin kecil, periode putaran electron juga makin kecil.
Frekuensi gelombang bermacam- macam, sehingga spektrum yang
dipancarkan seharus- nya berupa spektrum diskontinu. Pada
kenyataannya, pada atom hidrogen bertentangan dengan pengamatan
spektrometer tentang atom hidrogen.
Lintasan elektron tidak lagi berupa lingkaran, tetapi berupa pilin (seperti
Obat Nyamuk) yang pada akhirnya elektron jatuh ke dalam inti jadi atom
itu tidak stabil. Hal itulah yang merupakan kelemahan pertama terhadap
teori Rutherford. Bila lintasan elektron semakin menciut, periode putaran
elektron menjadi semakin kecil, Frekuensi gelombang yang dipancarkan
berubah pula. Pengamatan menunjukkan bahwa spektrum uap hidrogen
terdiri atas garis-garis yang frekuensinya tertentu. Hal itulah yang juga
merupakan kelemahan kedua terhadap teori Rutherford.

2.13 Teori Atom J. J. Thomson

Teori Atom Thomson merupakan salah satu teori yang mencoba


mendeskripsikan bentuk Atom yaitu seperti bentuk roti kismis. Diibaratkan
sebagai roti kismis karena saat itu Thomson beranggapan bahwa atom bermuatan
positif dengan adanya elektron bermuatan negatif di sekelilingnya.

Sampai akhir abad ke-19, konsep mengenai bentuk atom masih berupa bola
pejal layaknya bola biliar. Sedangkan pada tahun 1987 Joseph John Thomson
secara total merubah konsep atom dengan adanya penemuan elektron yang
dikenal dengan teori atom Thomson.

Joseph John Thomson (1856-1940) ialah seorang ilmuwan yang lahir di


Cheetham Hill, di mana ia diangkat sebagai profesor fisika eksperimental sejak
1884. Penelitiannya membuahkan penemuan elektron. Thomson mengetahui
bahwa gas mampu menghantar listrik. Ia menjadi perintis ilmu fisika nuklir.
Thomson memenangkan Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1906.

Melalui pengaruh medan listrik dan medan magnet dalam tabung sinar katoda
Joseph John Thomson (1897) menemukan elektron. Tabung sinar katoda diberi
tekanan udara sangat rendah yang hampir vakum dan kedua ujung tabung
dihubungkan menggunakan dua plat logam sebagai elektroda.
Dari penemuannya tersebut, Thomson memperbaiki kelemahan dari teori atom
Dalton dan mengemukakan teori atomnya yang dikenal sebagai Teori Atom
Thomson. Yang menyatakan bahwa: atom menyerupai sebuah bola pejal yang
bermuatan positif dan didalamya tersebar muatan negatif yang dikenal
sebagai elektron.

Menurut Thomson, elektron tersebar secara merata di dalam atom yang


dianggap sebagai suatu bola pejal yang bermuatan positif. Elektron yang tersebar
tersebut berjumlah sama dengan muatan positif sehingga satu atom bersifat netral.
Thomson mengusulkan model atom seperti roti kismis dengan roti sebagai muatan
positif dan kismis sebagai elektron yang tersebar merata. Kelemahan model atom
Thomson ini tidak dapat menjelaskan susunan muatan positif dan negatif dalam
bola atom tersebut.

Model Atom Menurut Teori Atom Thomsom


Pada gambar di atas, bagian berwarna oranye bermuatan positif,
sedangkan berwarna hijau adalah elektron yang bermuatan negatif.
Selain roti kismis, teori atom Thomson dapat diumpamakan sebagai
semangka. Daging buah yang berwarna merah melambangkan ruang yang
bermuatan positif, sedangkan biji yang tersebar di dalamnya adalah elekton yang
bermuatan negatif.
Perumpamaan lain dari model atom J.J. Thomsom yaitu jambu biji yang
sudah dikupas kulitnya, dan biji jambu menggambarkan elektron yang tersebar
merata dalam bola daging jambu yang pejal yang dianalogikan daging jambunya
sebagai ruang yang bermuatan positif.

Kelebihan Teori Atom Thomson


Kelebihan pada teori atom Thomson adalah membuktikan adanya
partikel lain yang bermuatan negatif dalam atom. Berarti atom bukan
merupakan bagian terkecil dari sebuah unsur seperti yang dikemukakan
pada teori sebelumnya.

Kelemahan Teori Atom Thomson


Model Thomson ini tidak dapat menjelaskan susunan muatan
positif dan negatif dalam bola atom tersebut.

Penemuan Elektron
Elektron ditemukan oleh J.J. Thomson melalui percobaan tabung sinar
katoda. Pada saat itu, Thomson melihat bahwa jika arus listrik melewati tabung
vakum, ada semacam aliran berkilau yang terbentuk. Thomson menemukan
bahwa aliran berkilau tersebut dibelokkan ke arah plat kutub positif. Teori atom
Thomson membuktikan bahwa aliran tersebut terbentuk dari partikel kecil dari
atom dan partikel terebut bermuatan negatif. Thomson menamai penemuan
tersebut sebagai elektron.
Bab III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari bab pembahasan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa
sistem periodik unsur adalah suatu tabel unsur-unsur yang membentuk suatu
sistem untuk mempermudah mempelajari ke-118 unsur di alam, yang telah di
kelompokkan menurut persamaan sifat, kenaikan massa maupun jari atom. Sistem
periodik unsur juga mengalami perkembangan seperti halnya struktur atom, mulai
dari munculnya Triade Dobereiner, Teori Oktaf Newlands, Hukum Mendeleyev,
hingga sistem periodik unsur saat ini. Sistem periodik unsur memiliki keterkaitan
dengan konfigurasi elektron, di mana konfigurasi elektron ini akan menentukan
periode dan golongan suatu unsur. Sistem periodik unsur juga memiliki sifat-sifat
seperti jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan.

3.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan yaitu :
1. Sebaiknya pihak perpustakaan universitas lebih banyak menyediakan literatur
mengenai sistem periodik unsur, baik dalam Bahasa Indonesia maupun dalam
Bahasa Inggris.
2. Sebaiknya pihak universitas membatasi mahasiswa dalam pengambilan materi
penulisan karya ilmiah melalui internet agar mahasiswa lebih termotivasi
dalam menemukan bahan atau materi lewat beberapa buku di perpustakaan
dan agar mahasiswa lebih termotivasi untuk membaca buku.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, H. 2001. Struktur Atom Struktur Molekul & Sistem Periodik.


Bandung: PT Cintra Aditya Bakti.

Harnanto, Ari dan Ruminten. 2009. Kimia untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Partana, Crys Fajar dan Antuni Wiyars. 2009. Mari Belajar Kimia Jilid 2 untuk
SMA-MA Kelas XI IPA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional.
Permana, Irvan. 2009. Memahami Kimia 1 untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Rahardjo, Sentot Budi. 2008. Kimia Berbasis Eksperimen 2 untuk kelas XI SMA
dan MA. Jawa Tengah: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Utami, Budi, Agung Nugroho Catur Saputro, Lina Mahardiani, Sri Yamtinah dan
Bakti Mulyani. 2009. Kimia untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Utami, Budi, Agung Nugroho Catur Saputro, Lina Mahardiani, Sri Yamtinah dan
Bakti Mulyani. 2009. Kimia untuk SMA dan MA Kelas XI Program Ilmu
Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.