Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN FILSAFAT PADA PERAN KADER POSYANDU

TERHADAP MANAJEMEN PENANGANAN BALITA KEP DI


PUSKESMAS RAJA BASA INDAH
BANDAR LAMPUNG

Disusun sebagai tugas UAS matakuliah filsafat

Oleh :
Dwi Ruth Rahayuning Asih Budi (17420015)

Dosen Pembimbing :
R.Agung Efriyo Hadi, Ph.D

PROGRAM PENDIDIKAN PASCA SARJANA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2017
1. TINJAUAN ONTOLOGI

Masa remaja merupaka masa pemeliharan dari masa kanak-kanak ke masa


dewasa yang telah mencapai yang telah tercapai usia 10 sampai 19 tahun
dengan terjadinya perubahan fisik, mental dan psikologi yang cepat dan
berdampak pada berbagai aspek kehidupan selanjutnya (Sibagariang dkk,
2010).
Menurut Stanley Hall, seorang Bapak pelopor Psikologi Perkembangan
Remaja, masa remaja dianggap sebagai masa “topan badai dan stres” (strom
and stress), karena mereka telah memiliki keinginan untuk bebas menentukan
nasib dari diri sendiri (Mansur, 2009).
Menurut Mansur (2009), masa remaja menjadi tiga bagian, yaitu :
a. Masa remaja awal atau dini (early adolescence), adalah anak Yang
telah mencapai usia 11 sampai 13 tahun.
b. Masa remaja pertengahan (middle adolenscence), adalah anak Yang
telah mencapai usia 14 sampai 16 tahun.
c. Masa remaja lanjut (late adolenscence), adalah anak yang telah
Mencapai usia 17 sampai 20 tahun.
Remaja memiliki sifat menantang sesuatu yang dianggap kaku dan kolot.
Mereka menginginkan kebebasan, sehingga sering menimbulkan konflik di
dalam diri mereka. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dalam memahami
alam dan pikiran remaja melalui ketersediaan pelayanan kesehatan peduli
remaja yang dapat memenuhi kebutuhan kesehatan remaja termasuk
pelayanan untuk kesehatan reproduksi. Penyampaian pesan kesehatan dan
bimbingan remaja mencakup perkawinan yang sehat, keluarga yang sehat,
sistem reproduksi dan masalahnya, sikap dan prilaku remaja yang sehat, dan
sebagainya (Mubarak, 2011).
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara fisik, mental dan sosial
secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang
berkaitan dengan system, fungsi, dan proses reproduksi. Ruang lingkup
pelayanan kesehatan reproduksi menurut International Conference
Population and Development (ICPD) tahun 1994 di Kairo terdiri dari
kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pencegahan dan penanganan
infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, kesehatan reproduksi remaja,
pencegahan dan penanganan komplikasi aborsi, pencegahan dan penanganan
infertilitas, kesehatan reproduksi usia lanjut, deteksi dini kanker saluran
reproduksi serta kesehatan reproduksi lainnya seperti kekerasan seksual, sunat
perempuan dan sebagainya.
Program kesehatan reproduksi remaja diintegrasikan dalam Program
Kesehatan Remaja di Indonesia. Sejak tahun 2003, Kementerian Kesehatan
telah mengembangkan model pelayanna kesehatan yang disebut dengan
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Ciri khas pelayanan kesehatan
peduli remaja adalah pelayanan konseling dan peningkatan kemampuan
remaja dalam Pendidikan dan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS).
PKPR dapat terlaksana dengan optimal bila membentuk jaringan
terintegrasi dengan lintas program, lintas sektor, organisasi swasta, dan LSM
terkait kesehatan remaja. PKPR dapat dilaksanakan dalam gedung fasilitas
kesehatan dan di luar gedung fasilitas kesehatan. PKPR dapat dilaksanakan di
Puskesmas, rumah sakit, sekolah, karang taruna, gereja atau tempat-tempat
lain dimana remaja berkumpul (Pusdatin, 2015).
Mengingat Puskesmas merupakan pusat pelayanan kesehatan dasar yang
dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat termasuk remaja dan tersedianya
tenaga kesehatan, maka PKPR sangat potensial dilaksanakan di Puskesmas,
sehingga perlu adanya pemahaman tenaga kesehatan mengenai kesehatan
remaja. Namun, pemahaman tenaga kesehatan terkait pelayanan terhadap
remaja masih terbatas. Pelayanan untuk remaja masih cenderung
dilaksanakan dengan penyuluhan ke sekolah-sekolah melalui program Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS) maupun Palang Merah Remaja (PMR). Hanya
sebagian kecil puskesmas yang telah melakukan screening dan konseling
untuk remaja tentang kesehatan reproduksi. Beberapa petugas puskesmas
sudah pernah mendapatkan pelatihan PKPR, tetapi karena di pukesmas
tempat mereka bekerja belum ada program khusus untuk kesehatan
reproduksi remaja, mereka belum memanfaatkan pengetahuan tersebut.
Pemahaman yang terbatas terkait kesehatan reproduksi remaja juga ditemui di
kalangan dokter yang menjadi kepala puskesmas. Beberapa kepala puskesmas
mengatakan bahwa di wilayah kerjanya, isu kesehatan reproduksi remaja
tidak menjadi prioritas karena usia kawin relatif muda. Dengan demikian,
permasalahan yang terkait kesehatan reproduksi remaja, seperti hubungan
seks di luar nikah, hamil di luar nikah, dan aborsi tidak banyak ditemukan.
Hal lain yang juga sering terjadi adalah adanya keengganan petugas
kesehatan, termasuk dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan yang
komprehensif kepada remaja yang belum menikah (Situmorang, 2011).
Pada kenyataannya, perkawinan dibawah umur masih sering ditemukan di
daerah pedesaan. Kebiasaan ini bermula dari adat-istiadat yang berlaku pada
wilayah tersebut. Hal ini yang menjadi tolak ukurnya adalah kematangan fisik
atau yang tidak berkaitan dengan hal-hal dengan calon pengantin. Sebaliknya,
di daerah perkotaan, seiring dengan meningkatnya tarap pendidikan
masyarakat dan semakin banyaknya anak perempuan yang bersekolah,
kebutuhan mereka untuk menikah di usia muda juga menurun (Irianti dkk,
2011).
Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi pada usia remaja (kurang
dari 20 tahun) (Depkes RI, 2005). Wanita yang hamil pada usia 15-19 tahun
mempunyai risiko yang lebih besar untuk mengalami komplikasi kehamilan
dan persalinan. Wanita kurang dari 20 tahun organ-organ reproduksinya
belum berfungsi dengan sempurna sehingga bila terjadi kehamilan dan
persalinan akan lebih mudah mengalami komplikasi. Menurut Sarwono
(2011) usia 10-20 tahun adalah usia remaja yang mempunyai risiko lebih
tinggi (kesulitan melahirkan, sakit/cacat/kematian bayi/ibu daripada
kehamilan dalam usia-usia diatasnya).
Kehamilan merupakan proses pembuahan sel telur wanita oleh
spermatozoa dari pria. Sel telur yang dibuahi akan berkembang akan menjadi
bakal emberio yang kemudian akan menjalani pembelahan sampai menjadi
emberio. Bakal janin ini lalu akan menempel diselaput lendir rahim yang
terletak di rongga Rahim.
Pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim sangat mempengaruhi
kesehatan ibu, keadaan janin itu sendiri dan plsenta sebagai akar yang
memberikan nutrisi. Umur janin yang sebenarnya dihitung dari saat fertilisasi
atau sekurang-kurangnya pada saat ovulasi. Pertumbuhan hasil konsepsi
dibedakan menjadi tiga tahap penting yaitu tingkat ovum (telur) umur 0-2
minggu, di mana hasil konsepsi belum tampak berbentuk dalam
pertumbuhan, embrio (mudigah) antara umur 3-5 minggu dan sudah terdapat
rancangan bentuk alat-alat tubuh, janin (fetus) sudah berbentuk manusia dan
berumur di atas 5 minggu.

2. TINJAUAN EPISTEMOLOGI

Kejadian pernikahan dini di Indonesia sudah seharusnya mendapatkan


prioritas yang utama untuk penanganannya. Hal ini berkaitan erat dengan laju
pertumbuhan penduduk dan masa depan generasi muda bangsa. Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional sudah mencanangkan program
“Generasi Reproduksi (Genre)” yang sampai saat ini dalam sosialisasinya
masih kurang maksimal. Kurangnya perhatian pemerintah dalam menangani
kasus perkawinan dibawah umur seperti undang-undang no. 1 tahun 1974
tentang batasan usia perkawinan pada laki-laki dan perempuan seharusnya
sudah terdapat perubahan karena tidak sesuai dengan keadaan saat ini.
Perkawinan usia dini adalah perkawinan yang dilakukan oleh seorang
wanita dibawah usia 20 tahun (Hidayati, 2007 dalam Aryanti, 2014).
Perkawinan usia dini mencermikan rendahnya status wanita dan merupakan
tradisi sosial yang menopang tingginya tingkat kesuburan. Hal ini,
menyebabkan periode melahirkan yang dihadapi oleh seorang wanita yang
kawin usia dini lebih panjang, disamping risiko persalinan yang semakin
tinggi karena secara fisik mereka belum siap melahirkan (Romauli dan
Vindari, 2009 dalam Aryanti, 2014).
Menurut Susanti (2008), kehamilan pada remaja dapat menimbulkan
masalah karena pertumbuhan tubuhnya belum sempurna, kurang siap dalam
sosial ekonomi, kesulitan dalam persalinan, atau belum siap melaksanakan
peran sebagai ibu. Alasan kehamilan pada remaja adalah:
1. Kecelakaan (hamil di luar nikah)

2. Untuk mendapatkan tunjangan kesejahteraan


3. Ingin anak

4. Ingin berperan

5. Faktor hubungan

6. Keinginan untuk meniru saudara yang sedang hamil pada usia remaja

Faktor-faktor yang berkontribusi dalam terjadinya kehamilan remaja


antara lain:
1. Tradisi atau kebiasaan yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini.

2. Kebiasaan seksual remaja yang dipengaruhi oleh alkohol dan obat-


obatan.

3. Kurangnya pendidikan dan informasi mengenai kesehatan reproduksi


dan kurangnya akses untuk kontrasepsi.

4. Pelecehan seksual dan pemerkosaan.

5. Kemiskinan.

6. Kekerasan dalam rumah tangga.

7. Kurang perhatian dari orangtua.

8. Pendidikan yang rendah.

Pada tahun 2012 di Indonesia, angka perempuan menikah usia 10-14


sebesar 4,2 persen, sementara perempuan menikah usia 15-19 tahun sebesar
41,8 persen. Pada tahun 2013 terjadi peningkatan rasio pernikahan muda pada
daerah perkotaan, dibandingkan dengan daerah pedesaan. Adapun jumlah
rasio kenaikan tersebut pada daerah perkotaan pada tahun 2012 adalah 26 dari
1.000 perkawinan rasio itu naik pada tahun 2013 menjadi 32 per 1.000
pernikahan. Sedangkan pada daerah pedesaan yang menurun dari 72 per 1000
pernikahan menjadi 67 per 1000 pernikahan pada tahun 2013 (Eko, 2014).
Meskipun terjadi peningkatan jumlah rasio pernikahan di perkotaan, tetapi
rasio angka pernikahan dini di daerah pedesaan masih lebih tinggi daripada
perkotaan.
Permasalahan kesehatan reproduksi dimulai dengan adanya pernikahan
dini yang hasilnya yaitu pada perempuan usia 10-54 tahun terdapat 2,6 persen
menikah pada usia kurang dari 15 tahun kemudian 23,9 persen menikah pada
usia 15-19 tahun (Riskesdas, 2013). Di Sulawesi Utara, usia menikah kurang
dari 14 tahun adalah 0,5 persen, sedangkan usia menikah antara 15 tahun
sampai 19 tahun adalah 33,5 persen (Survei BKKBN, 2013). Banyaknya
kejadian pernikahan pada usia muda yaitu usia dibawah 19 tahun yang
merupakan salah satu permasalahan yang berkaitan dengan sistem reproduksi
pada remaja yang sangat memerlukan perhatian khusus.
Perkawinan usia muda yang menjadi fenomena sekarang ini pada dasarnya
merupakan satu siklus fenomena yang terulang dan tidak hanya terjadi di
daerah pedesaan yang dipengaruhi oleh minimnya kesadaran dan
pengetahuan namun juga terjadi di wilayah perkotaan yang secara tidak
langsung juga dipengaruhi oleh “role model” dari dunia hiburan yang
ditonton. Penelitian yang dilakukan oleh Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI)
Provinsi Jawa Barat mengungkapkan fakta masih tingginya pernikahan di
usia muda di pulau Jawa dan Bali. Diantara wilayah-wilayah tersebut, Jawa
Barat di posisi pertama dalam jumlah pasangan yang menikah di usia muda
dimana dari 1000 penduduknya dengan usia 15 hingga 19 terdapat 126 orang
yang menikah dan melahirkan di usia muda. Kemudian diikuti dengan DKI
Jakarta dengan 44 orang.
Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) usia
untuk hamil dan melahirkan adalah 20 sampai 30 tahun, lebih atau kurang
dari usia tersebut adalah beresiko. Kesiapan seseorang perempuan untuk dan
melahirkan atau mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal,
yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental/emosi/psikologis dan kesiapan
sosial/ekonomi. Secara umu, seseorang perempuan dikatakan siap secara fisik
jika telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya (ketika tubuhnya berhenti
tumbuh), yaitu sekitar usia 20 tahun. Sehingga usia 20 tahun bisa dijadikan
pedoman kesiapan fisik (BKKBN, 2005 dalam Rosmawar, 2013).
Menurut Seth Ammerman dan Mary-Ann Shafer terdapat satu juta remaja
di Amerika Serikat mengalami kehamilan setiap tahunnya, dengan 50%
kehamilan ini diakhiri dengan abortus terapeutik. Bagi remaja yang
mempertahankan kehamilan hingga aterm, kira-kira 95% remaja memutuskan
untuk mengasuh anak, dan kira-kira setengah ibu remaja tersebut tidak
menikah. Faktor-faktor yang menempatkan para perempuan muda tersebut
pada risiko kehamilan yang tidak diinginkan dan interaksi faktor-faktor
tersebut sangat kompleks. Kurangnya pemahaman akan hubungan seksual
dan kontrasepsi berperan pada berlangsungnya pemahaman mengenai
kehamilan terutama di antara pada remaja yang lebih muda. Imaturitas
kognitif mengakibatkan kesulitan pada remaja untuk mengaitkan tindakan
hubungan seksual dengan akibat yang mungkin berupa kehamilan dan
kemudian penilaian risiko yang sesungguhnya untuk terjadi kehamilan.
Faktor-faktor lingkungan, terutama kemiskinan dan penyalahgunaan zat,
membuat orang tua remaja sulit mengendalikan anak perempuan mereka.
Juga, ambivalensi masyarakat terhadap aktivitas seksual remaja, kontrasepsi,
kehamilan dan sikap orang tua berperan sebagai penghambat perkembangan
dan berlanjutnya intervensi.
Ada tiga elemen penting dalam penentu keputusan seseorang untuk
menikah usia remaja ditinjau dari perspektif komunikasi keluarga yaitu peran
orang tua sebagai pemegang kekuasaan dalam keluarga, peran keluargas
ebagai sebuah komponen komunikasi dan peran keluarga dalam membangun
relasi intim dengan anggota keluarga (Nurhajati, 2013). Besarnya peran orang
tua ditinjau dari segi perspektif komunikasi keluarga yang mana peran-peran
tersebut merupakan salah satu penentu keputusan seorang remaja untuk
menikah pada usia muda. Keluarga yang tidak memiliki hubungan yang
harmonis akan berdampak pada perilaku seks bebas anak dan dapat berujung
pada pernikahan usia dini.
Menurut Juspin (2012) mengemukakan bahwa peran orang tua terhadap
kelangsungan pernikahan dini pada dasarnya tidak terlepas dari tingkat
pengetahuan orang tua yang dihubungkan pula dengan tingkat pendidikan
orang tua. Selain itu, Juspin (2012) juga mengungkapkan bahwa tingkat
Pendidikan keluarga ini akan mempengaruhi pemahaman keluarga tentang
tentang kehidupan berkeluarga yang lebih baik. Orang tua yang memiliki
pemahaman rendah terhadap berkeluarga dengan memandang bahwa dalam
kehidupan keluarga akan tercipta suatu hubungan silaturahmi yang baik
sehingga pernikahan yang semakin cepat maka solusi utama bagi orang tua.
Peran orang tua terhadap kelangsungan pernikahan dini pada dasarnya
tidak terlepas dari tingkat pengetahuan orang tua yang dihubungkan pula
dengan tingkat pendidikan orang tua (Juspin, 2012). Selain itu, Juspin (2012)
juga mengungkapkan bahwa tingkat Pendidikan keluarga ini akan
mempengaruhi pemahaman keluarga tentang tentang kehidupan berkeluarga
yang lebih baik. Orang tua yang memiliki pemahaman rendah terhadap
berkeluarga maka akan memandang bahwa dalam kehidupan berkeluarga
akan tercipta suatu hubungan silaturahmi yang baik, sehingga pernikahan
yang semakin cepat maka solusi utama bagi orang tua.

3. TINJAUAN AKSIOLOGI

Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak
sangat tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun. Pada tahun 1807
para dukun dilatih dalam pertolongan persalinan, tetapi keadaan ini tidak
berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan.
Pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kebidanan hanya diperuntukkan
bagi orang-orang Belanda yang ada di Indonesia. Kemudian pada tahun 1849
di buka pendidikan Dokter Jawa di Batavia (di Rumah Sakit Militer Belanda).
Seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut, pada tahun 1851,
dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang militer
Belanda (Dr. W. Bosch) lulusan ini kemudian bekerja di rumah sakit juga di
masyarakat. Mulai saat itu pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh
dukun dan bidan.
Wanita usia kurang dari 20 tahun tidak diperbolehkan hamil karena dapat
menimbulkan komplikasi pada saat kehamilan. Menurut Fadlyana dan
Larasaty (2009) mengatakan bahwa wanita yang berusia 10-14 tahun berisiko
5 kali lipat mengalami kematian saat kehamilan dan persalinan dibandingkan
pada usia 20-24 tahun sedangkan wanita yang berusia 15-19 tahun berisiko 2
kali lipat mengalami kematian saat kehamilan dan persalinan.
Beberapa faktor yang menyebabkan remaja tidak mengetahui resiko
kehamilan diusia muda antara lain ialah kurangnya informasi tentang
kesehatan, rendahnya interaksi ditengah-tengah keluarga, kerabat dan
masyarakat, keluarga yang tertutup terhadap informasi seks dan seksualitas,
menabukan masalah seks dan seksualitas, kesibukan orang tua, dan kurang
perhatiannya orang tua terhadap remaja.
Perkawinan dan kehamilan remaja mengandung sejumlah risiko buruk
dalam jangka panjang (Nurhajati, 2012). Pertama, dengan rentang usia
reproduksi yang masih panjang (umumnya hingga 49 tahun), perempuan yang
menikah dan hamil diusia remaja akan memiliki peluang untuk memiliki anak
dalam jumlah banyak pada akhir usia reproduksinya. Melahirkan anak dengan
jumlah banyak akan beresiko kematian ibu yang lebih tinggi.
Kedua, kehamilan dan persalinan bagi perempuan dibawah 20 tahun
beresiko kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan usia 20 tahun
keatas. Tak hanya sang ibu, juga anak yang dilahirkan memiliki resiko
kematian atau cacat yang tinggi.
Ketiga, perkawinan dan kehamilan diusia remaja menghambat perempuan
menempuh pendidikan lebih tinggi.
Keempat, karena belum dewasa dan matang sepenuhnya secara psikologis
maka kemungkinan terjadinya perceraian pada perkawinan usia muda akan
sangat tinggi. Perceraian akibat pernikahan usia muda menjadi salah satu riset
utama yang dilakukan Kierna (1986), dari hasil risetnya terlihat bahwa resiko
perceraian sangat tinggi terjadi pada pasangan yang menikah di usia muda
dibandingkan pada mereka-mereka yang menikah di usia matang.
Peran orang tua juga menentukan remaja untuk menjalani pernikahan di
usia muda. Orang tua juga memiliki peran yang besar untuk penundaan usia
perkawinan anak (Algifari, 2002). Hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Nurhajati, dkk (2013) yang mengungkapkan bahwa keputusan
menikah di usia muda sangat ditentukan oleh peran oang tua. Peran orang tua
sangat penting dalam membuat keputusan menikah di usia muda dimana
keputusan untuk menikah di usia muda merupakan keputusan yang terkait
dengan latar belakang relasi yang terbangun antara orang tua dan anak dengan
lingkungan pertemanannya.
Peran petugas kesehatan sangat dibutuhkan untuk mengurangi risiko yang
terjadi pada kehamilan usia remaja. Petugas kesehatan selaku edukator
berperan dalam melaksanakan bimbingan atau penyuluhan, pendidikan pada
klien, keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan termasuk siswa
bidan/keperawatan tentang penanggulangan masalah kesehatan, khususnya
yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi termasuk mengenai
kehamilan usia remaja. Peran penyuluhan petugas kesehatan dilaksanakan
dengan proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara petugas
kesehatan kepada individu yang sedang mengalami masalah kesehatan.
Selaku motivator, petugas kesehatan berkewajiban untuk mendorong perilaku
positif dalam kesehatan, dilaksanakan konsisten dan lebih berkembang.
Untuk peran fasilitator, tenaga kesehatan harus mampu menjembatani dengan
baik antara pemenuhan kebutuhan keamanan klien dan keluarga sehingga
faktor risiko dalam tidak terpenuhinya kebutuhan keamanan dapat diatasi,
kemudian membantu keluarga dalam menghadapi kendala untuk
meningkatkan derajat kesehatan (Lesesne, 2008).
Informasi lengkap mengenai bahaya kehamilan di usia remaja perlu
diberikan kepada orangtua, paman, dan anggota keluarga lainnya dengan
harapan bahwa keluarga dapat meneruskan informasi tersebut kepada anak
mereka sebagai bahan pertimbangan untuk menunda kehamilan setelah
menikah di usia remaja. Pemberian informasi ini dapat berupa penyuluhan
langsung kepada orangtua, paman, dan anggota keluarga lainnya di balai
desa, atau di saat keluarga menemani anak atau keluarganya yang masih
remaja melakukan imunisasi calon pengantin ke tempat pelayanan kesehatan
(Ramadani, 2015).
Peningkatan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi penting
untuk dilakukan di lingkungan sekolah. Upaya ini dapat melalui promosi
kesehatan yang bersifat pencegahan seperti penyuluhan sebagai bentuk
promosi kesehatan sederhana, namun mencakup sasaran yang luas. Hasil
penelitian lain menunjukkan keberhasilan penerapan model multisistem yang
mengarah ke penyebaran dan pelaksanaan program pencegahan berbasis ilmu
pengetahuan. Dengan meningkatkan pengetahuan remaja mengenai
kehamilan (pendekatan berbasis ilmu pengetahuan), akan dapat membantu
dalam upaya pencegahan kehamilan remaja (Lesesne, 2008).
Pernikahan dini di lingkungan remaja cenderung berdampak negatif baik
dari segi sosial ekonomi, mental/psikologis, fisik, terutama bagi kesehatan
reproduksi sang remaja tersebut (Nad, 2014). Dampak dari pernikahan usia
dini kesehatan reproduksi salah satunya yaitu perempuan usia 15-19 tahun
memiliki kemungkinan dua kali lebih besar meninggal saat melahirkan
dibandingkan yang berusia 2025 tahun, sedangkan usia di bawah 15 tahun
kemungkinan meninggal bisa lima kali. Perempuan muda yang sedang hamil,
berdasarkan penelitian akan mengalami beberapa hal, seperti akan mengalami
pendarahan, keguguran, dan persalinan yang lama atau sulit (Yenrizal
Makmur dalam Nad, 2014). Oleh karena itu, pernikahan dini memiliki banyak
dampak negatif yang sangat penting untuk diketahui baik oleh remaja
maupun orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito,Wiku. (2007). Sistem Kesehatan. Edisi 1. Jakarta: PT. Raja Grafindo


Persada
Almatsier,S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi: Jakarta
Almatsier,S. (2011). Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama
Arisman MB. (2010). Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi, Ed.2.
Jakarta: EGC. Hal.118-141
BPOM RI. (2005). Gizi dan Status Kesehatan Masyarakat. Vol.6, No.5. Jakarta:
Badan Pengawas Obat dan Makanan. Hal.6
DepkesRI. (2004). Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta
DepkesRI. (2008a). Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program Perbaikan Gizi
Masyarakat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Bina
Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
Dinkes. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). Dinas Kesehatan Provinsi
Lampung. Lampung
Dinkes. (2015). Profil Data Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2015. Dinas
Kesehatan Provinsi Lampung. Lampung
Ekowati MRL. (2005). Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi Kebijakan atau
Program. Pustaka Cakra. Surakarta
Fitri W. (2005). Gambaran Peran Kader Posyandu di Posyandu Desa Sraturejo
Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro tahun 2005. Bojonegoro;
Akes Rajekwesi
Hartono,B.W. (2008). Pedoman Umum Program Pos Pendidikan Anak Usia Dini
Terpadu Surabaya: Walikota Surabaya
Hartriyanti Y, Triyanti. (2007). Penilaian Status Gizi Dalam Departemen Gizi dan
Kesehatan Masyarakat FKM UI. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
PT. Raja Grafindo. Hal.261-9
Kemenkes RI. (2011). Buku Panduan Kader Posyandu dalam Menuju Keluarga
Sadar Gizi. Jakarta. Diakses pada tanggal 15 November 2016 di
http://promkes.depkes.go.id
Kemenkes RI. (2011). Buku Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk. Jakarta.
Diakses pada tanggal 31 Januari 2017 di http://promkes.depkes.go.id
Kemenkes RI. (2012). Buku Posyandu. Diakses pada tanggal 15 November 2016
di http://promkes.depkes.go.id
Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Jakarta:
Kemenkes
Kurnia Dewi ABF, Pujiastuti N, Fajar I. (2013). Ilmu Gizi untuk Praktisi
Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Hal.73-9
Moeloeng, J Lexy. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Rosda Karya
A.A. Gede Muninjaya. (2004). Manajemen Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC: 220-234
Notoatmodjo, Soekidjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT
Rineka Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta:
PT Rineka Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. (2012). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Potter, P.A, Perry, A.G. (2005) Buku Ajar Fundamental : Konsep, Proses, dan
Praktik. Ed.4.Vol.1. Alih Bahasa :Yasmin Asih, dkk. Jakarta : EGC
Pudjiadi, Antonius H. Hegar, B. Handyastuti, S. Indris, NS. Ganda putra &
EP.Harmoniati. (2009). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Palembang: Ikatan Dokter Indonesia
Purwito, N & Pusponegoro. (2012). Efektivitas Sistem Rujukan Maternal dan
Neonatal di Jakarta Timur. Journal Indonesia Medicine Association, Vol
62, No 11
Sembiring, N. (2004). Posyandu sebagai Saran Peran serta Masyarakat dalam
Usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat. Artikel. [serial-online].
http://library.usu.ac.id/download/fkm/biostatistik-nasap.pdf [diakses
tanggal 15 November 2016]
Simba. (2008). Referral Pattern of Patients Received at the National Referral
Hospital. Journal of Public Health, Vol 5, No 1
Soetjiningsih dan IKG Suandi. (2002). Konsep Tumbuh dan Kembang. Dalam:
Narendra, Moersintowarti B., et al,. 2002. Tumbuh Kembang Anak dan
Remaja. Sagung Seto, Jakarta : 22-50.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif. Bandung: R&D.
Alfabeta
Supariasa IDN, Bakri B. Fajar I. (2002). Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Hal.102-104
Suyadi SE. (2009). Kejadian KEP Balita dan Faktor yang Berhubungan di
Wilayah Kelurahan Pancoran Mas Depok. Skripsi. Jurnal Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. hal.8-9
Trisnantoro, L. (1996). Prinsip-Prinsip Manajemen Pelayanan Kesehatan.
[Thesis]. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta
Utami, Sri. (2010). Gizi Buruk. Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. Maluku
Anggidin, S. (2011). Peran Kader Posyandu di wilayah binaan NICE.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Artikel (online).
Diakses pada tanggal 14 November 2016 di
http://gizi.depkes.go.id/Posyandu-danPosbindu-2012-Fema.pdf
Briawan, D. (2012). Optimalisasi Posyandu dan Posbindu dalam Upaya
Perbaikan Gizi Masyarakat. Pembekalan KKP Ilmu Gizi. Artikel (online).
http://fema.ipb.ac.id/wp-content/uploads/2012/05
Ferawati. (2012). Faktor Resiko Kejadian Kurang Energi Protein (KEP) pada
Balita 2-5tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Aur Kabupaten Pasaman
Barat tahun 2012. Padang: UniversitasAndalas
Suyatno. (2009). Antropometri sebagai Indikator Status Gizi. Artikel (online).
Diakses pada tanggal 30 November 2016 di
http://suyatno.blog.undip.ac.id/files/2009/11/antropometri-gizi.pdf