Anda di halaman 1dari 15

A.

Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah:

a. Untuk mempelajari morfologi koloni bakteri dari biakan murni umur 1x24 jam.
b. Untuk mengetahui jumlah koloni bakteri dari masing-masing biakan.
B. Dasar Teori
Bakteri merupakan golongan prokariot. Salah satu karakteristik
utama bakteri adalah ukuran, bentuk, struktur, dan penataan selnya. Berbagai ciri ini
mencakup morfologi sel. Menurut Darkuni (2001) dalam Pelozan dan Chan(1986) bahwa
ukuran, bentuk, serta penataan merupakan ciri morfologi kasar suatu spesies bakteri dan
penampakan bagian-bagian struktur sel bakteri yang disebut struktur sel halus dan bukan
lagi morfologi kasar. Beberapa sifat morfologi bakteri sangat penting dalam hubungannya
dengan
pertumbuhannya pada makanan dan ketahanannya terhadap pengolahan makanan. Sifat-
sifattersebut misalnya bentuk dan pengelompokan sel, susunan dinding sel, pembentukan
kapsul dan pembentukan endospora, struktur bakteri serta sifat-sifatlainnya termasuk
pembentukan flagella (Fardiaz, 1992).

Golongan prokariot khususnya bakteri tersusun atas koloni yang terdiriatas


individu-individu. Oleh karena itu untuk menentukan karakteristik individudapat dilakukan
dengan mengamati karakteristik koloni. Klasifikasi suatumikroorganisme sebaiknya
mengetahui terlebih dahulu karakteristik atau ciri-cirimikroorganisme tersebut. Tentu saja
yang diteliti karakteristik itu berasal dari biakan murni (pure culture) yang hanya
mengandung satu macam mikroorganisme (Darkuni, 2001). Pada dasarnya dikenal 3
bentuk yang berbeda dari bakteri.Berdasarkan bentuknya sel bakteri dibagi menjadi 3
kelompok utama, yaitu:

1. Kokus
Menurut Fardiaz (1992) bakteri berbentuk bulat (kokus) dapatdibedakan atas
beberapa grup berdasarkan pengelompokan selnya, antara lain:
a)Diplokokus = sel berpasangan (2 sel)

b) Streptokokus = rangkaian sel yang membentuk rantai panjang/pendek

c)Tetrad = 4 sel yang membentuk persegi empat


d) Stapilokokus = kumpulan sel yang tidak beraturan (seperti buah anggur)
e)Sareinae = kumpulan sel berbentuk kubus yang terdiri dari 8 sel ataulebih
2. Basil
Basil merupakan bakteri yang bentuknya menyerupai batang atausilinder.
Ukurannya sangat beraneka ragam. Beberapa hasil panjang danlebarnya sama dan
bentuknya lonjong. Basil ini sangat menyerupai kokussehingga disebut koko-basil
(Volk dan Wheeler, 1998).

3. Spiral
Menurut Volk dan Wheeler (1998) kelompok ini mempunyaikeanekaragaman yang
tinggi pada bakteri berbentuk silinder, yang bentuknyatidak lurus seperti basil,
melainkan melingkar dengan berbagai derajat. Bakterispiral dibagi menjadi:

a) Vibrio adalah batang yang melengkung menyerupai koma. Kadang-kadangvibrio


tumbuh sebagai benang-benang membelit atau berbentuk huruf S.
b) Spiril (spirilium) adalah spiral atau lilitan yang sebenaranya, seperti kotrek (pembuka
gabus)
c) Spirochaeta yang juga merupakan bakteri berbentuk spiral, tetapi bedanyadengan spiril
dalam hal kemampuannya melenturkan dan melekuk-lekukkantubuhnya sambil
bergerak. Gerakan ini dimungkinkan dari kontraksi benangaksial atau flagel, yang
membelit sekitar organisme antara membran plasma dan dinding sel.
C. Alat dan Bahan

Alat :
 Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
1. Inkubator
2. Loupe
 Pengukuran Sel Bakteri
1.Mikroskop
2.Mikrometer okuler (occuler micrometer)
3.Mikrometer meja (stage micrometer)

Bahan
 Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
2 buah medium lempeng NA
 Pengukuran Sel Bakteri
1.Sediaan bakteri yang telah diwarnai
2.Kertas penghisap
3.Kertas lensa
4.Alkohol 70%
5.Lisol
6.Sabun cuci
7.Lap

D. Prosedur Percobaan
 Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri

2 cawan petri berisi medium lempeng dibawa ke


tempat yang banyak dilalui orang, lalu tutup cawan
petri dibuka selama 10-15 menit, kemudian ditutup
kembali

Diinkubasikan kedua biakan pada medium lempeng


pada suhu 37°C.

Setelah biakan berumur 1 x 24 jam atau 2 x 24 jam,


dilakukan pengamatan terhadap koloni bakteri yang
tumbuh pada medium lempeng
Dihitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh.
Ditandai dengan bentuk seperti lendir, tetesan
mentega, tetesan sari buah.

Dipilih dua macam koloni bakteri yang tumbuh.

Dilakukan pengamatan morfologi koloni dari


dua macam koloni bakteri

Hasil pengamatan ditulis dalam Tabel


Pengamatan Bakteri
 Pembuatan Biakan Murni Bakteri

Disediakan 2 buah medium lempeng


dan 2 buah medium miring.

Dipilih 2 macam koloni bakteri yang


berasal dari biakan campuran (sama dengan
koloni yang diamati pada pengamatan
morfologi koloni bakteri).

Dituliskan nomor koloni yang dipilih pada


medium lempeng dan medium miring yang
telah tersedia.

Bakteri diinokulasi secara aseptic ke


medium miring, dengan arah lurus mulai
dari permukaan medium miring bagian
bawah menuju ke atas

Diinkubasi pada 37°C dan dilakukan


pengamatan setelah biakan bakteri berumur
1 x 24 jam atau 2 x 24 jam.
 Menera Mikrometer Okuler

Mikrometer okuler dipasang pada bagian


mikroskop yang biasanya dipakai sebagai
tempat lensa okuler.

Mikrometer meja dipasang pada meja benda


pada mikroskop.

Posisi garis skala mikrometer okuler dan


mikrometer meja diatur sehingga titik nol kedua
mikrometer berada pada satu garis lurus.

Diamati garis skala keberapakah dari


mikrometer okuler yang berada pada satu garis
dengan garis skala mikrometer meja (selain titik
nol).

 Mengukur Sel Bakteri

Mikrometer meja dilepaskan dari meja benda


mikroskop

Sediaan bakteri yang telah diwarnai dipasang


pada tempat tersebut

Posisi sel-sel bakteri diatur sehingga berada pada


bidang skala mikrometer okuler

Mikrometer okuler diputar


Diukur panjang sel atau diameter
sel dalam millimeter berdasarkan
harga tiap skala mikrometer okuler
yang telah ditera

Pengukuran dilakukan pada


sel-sel dari masing-masing
koloni yang diperiksa

E. Data Pengamatan
1. Peneraan Mikroskop
 Perbesaran 100x
M. Ok = 21
M.Ob = 0.21
 Perbesaran 400x
M.Ok = 58
M.Ob = 0.15
 Perbesaran 1000x
M.Ok = 21
M.Ob =0.04
2. Morfologi koloni bakteri
No Yang Diamati Koloni A Koloni B
1. Warna Putih cerah Putih pekat
2. Bentuk Tak beraturan dan menyebar Bundar dengan tepian timbul
3. Tepi Tak beraturan Licin
4. Elevasi Seperti tombol Datar
5. Suram/mengkilat Mengkilat Suram
6. Diameter 83,33 mm 50 mm
7. Kepekatan Tidak pekat Tidak pekat
8. Jumlah 15 19
9. Bentuk Koloni Berduri Berduri
3. Pengukuran bakteri

No Bentuk Sel Panjang Diameter


A Basil 6 μm 1 μm
B Basil 9 μm 1 μm

F. Analisis Data
 Peneraan Mikroskop
1. Perbesaran 100x
- Mikroskop okuler = 21
- Mikroskop Objektif = 0.21
𝑂𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 0.21
- Rumus, = = 0.01 mm= 10 µm
𝑂𝑘𝑢𝑙𝑒𝑟 21
Jadi, 1 skala okuler = 10 µm
2. Perbesaran 400x
- Mikroskop okuler = 58
- Mikroskop Objektif = 0.15
𝑂𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 0.15
- Rumus, = = 0.0025 mm= 2.5 µm
𝑂𝑘𝑢𝑙𝑒𝑟 58

Jadi, 1 skala okuler= 2.5 µm


3. Perbesaran 1000x
- Mikroskop okuler = 21
- Mikroskop Objektif = 0.04
𝑂𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 0.04
- Rumus, = = 0.001 mm= 1 µm
𝑂𝑘𝑢𝑙𝑒𝑟 21

Jadi, 1 skala okuler= 1µm

 Pengukuran sel bakteri


Pada praktikum pengukuran sel bakteri yang pertama kali dilakukan yaitu
menyiapkan inoculum bakteri yang telah di sediakan, selanjutnya inoculum dadri
bakteri di ambil dengan menggunakan jarum inokulasi ujung lurus dan diletakkan pada
kaca benda. Setelah diletakkan pada kaca benda yang telah disterilkan dan diberi
beberapa langkah pewarnaan, diletakkan dibawah mikroskop dan diamati. Pada
pengamatan. Dibawah mikroskop bakteri diukur dengan mikrometer okuler yang telah
dipasang sebelumnya. Hasil data menunjukkan bahwa pada medium bakteri A
ditemukan bakteri dengan bentuk basil dan ukuran panjang 6 μm, dengan diameter 1
μm, di mana ukuran ini diperoleh dari hasil pengukuran pada mikroskop kemudian
dikalikan dengan hasil peneraan mikroskop pada perbesaran 1000x. Selanjutnya pada
medium bakteri B didapatkan bentuk bakteri basil dengan ukuran panjang 9 μm dan
panjang diameter 1 μm.
 Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
a. Koloni A
Bakteri pada koloni A memiliki warna putih cerah dengan bentuk tak beraturan
dan menyebar. Tepi dari koloni ini tak beraturan, serta memiliki elevasi seperti
tombol. Koloni A menunjukkan bahwa bakteri tersebut terlihat mengkilat, dengan
diameter 83.33 mm, serta menunjukkan bakteri tersebut tidak pekat. Setelah
dilakukan penghitungan, hasil menunjukkan bahwa bakteri pada koloni A yang
memiliki struktur sama yakni berjumlah 15 bakteri, dan memiliki bentuk koloni
yang berduri.
b. Koloni B
Bakteri pada koloni B memiliki warna putih pekat dengan bentuk bundar dan
tepian timbul. Bila diamati lebih detail, koloni bakteri B menunjukkan tepian yang
licin, dengan elevasi yang datar. Apabila diamati di depan sinar matahari langsung
menunjukkan strukturnya yang suram, serta bila diukur dengan pengukuran
langsung memiliki diameter sebesar 50 mm. Bakteri koloni B menunjukka bakteri
yang tidak pekat dengan jumlah 19 serta memiliki bentuk koloni yang berduri.
G. Pembahasan
Sel bakteri sangat beragam panjangnya; sel beberapa spesies dapat berukuran
100 kali lebih panjang daripada sel spesies yang lain. Satuan ukuran bakteri adalah
mikrometer (µm), yang setara dengan 1/1000 mm atau 10 -3 mm. Bakteri yang paling
umum dipelajari di dalam praktikum mikrobiologi berukuran kira-kira 1,0 x 2,0-5,0
µm. Bentuk batang yang berukuran rata-rata seperti bakteri tifoid dan disentri
mempunyai lebar 0,5 sampai 1 µm dan panjang 2 sampai 3 µm. Sel beberapa spesies
bakteri amat panjang; panjangnya dapat melebihi 100 µm dan diameternya berkisar dari
0,1 sampai 0,2 µm. Sekelompok bakteri yang dikenal sebagai mikroplasma, ukurannya
khas amat kecil-demikian kecilnya sehingga hampir-hampir tak tampak di bawah
mikroskon cahaya. Mereka juga pleomorfik; yaitu morfologinya amat beragam.
Ukurannya berkisar dari 0,1 sampai 0,3 µm (Pelczar dan Chan.1986).
Menurut Dwijoseputro (1978), sifat-sifat khusus suatu koloni dalam medium
padat pada agar-agar lempengan memiliki bentuk titik-titik, bulat, berbenang,
takteratur, serupa akar, serupa kumparan. Permukaan koloni dapat datar, timbul
mendatar, timbul melengkung, timbul mencembung, timbul membukit, timbul
berkawah. Tepi koloni ada yang utuh, berombak, berbelah- belah, bergerigi,
berbenang-benang dan keriting. Dan pada bakteri yang kami temukan juga sesuai
dengan teori.
Berdasarkan hasil pengamatan pada koloni A warna koloni putih cerah, bentuk
koloni tidak beraturan dengan tepian tidak beraturan. Elevasi koloninya seprti tombol,
permukaannya mengkilat, diameter 83,33 mm, dan saat diambil dengan jarum inokulasi
yang sudah disterilkan koloninya tidak pekat. Jumlah koloni pada satu cawan ada 15
koloni. Saat bakteri itu diletakkan pada bidang miring berbentuk berduri Sedangkan
koloni B memiliki warna putih pekat, bentuk koloni bundar dengan tepian seperti
tombol, tepi koloni licin. Elevasi koloninya datar, permukaannya suram, diameter 50
mm, dan saat diambil dengan jarum inokulasi yang sudah disterilkan koloninya tidak
pekat. Jumlah koloni pada satu cawan ada 19 koloni. Saat bakteri itu diletakkan pada
bidang miring berbentuk berduri. Koloni bakteri ini didapat dari pengambilan sampel
di gorong-gorong sebelah pohon murbei. Dapat dilihat bahwa dari kedua koloni bakteri
yang diamati, ada beberapa aspek yang berbeda. Hal ini dapat menjadi karakteristik
dari koloni bakteri tersebut.
Tipe pertumbuhan koloni bakteri pada medium agar miring juga dapat
digunakan untuk mengidentifikasi jenis bakteri. Menurut Fardiaz dalam Hatuti (2012)
ada beberapa tipe koloni bakteri pada medium agar miring yaitu bentuk serupa pedang,
bentuk berduri, bentuk serupa tasbih, bentuk titik-titik, bentuk berupa batang, dan
bentuk serupa akar. Berdasarkan hasil pengamatan, kami menemukan bahwa koloni A
dan B mempunyai bentuk yang sama pada mdium bidang miring yaitu berduri.

Medium agar padat miring merupakan medium nutrien cair yang ditambah
agar sebagai pemadatnya dan dibirakan mengeras pada posisi miring.Pada medium
agar padat miring, bakteri Eschercia coli, bentuknya spreadling dengan elevasi low
convex, tidak berbau, berwarna krem dan pertumbuhannya sedikit saja namun
membentuk koloni. Pada Bacillus subtilis pertumbuhannya tipis dan merata tanpa
koloni dengan elevasi low convex berbentuk echinulate, tidak berbau dan berwarna
krem.

Ukuran diameter pada kedua koloni bakteri A dan B tidak sama. Menurut
Acharya (2007), diameter ini dapat menjadi karakteristik yang berguna untuk
identifikasi. Diameter koloni dapat diukur dalam milimeter atau dijelaskan secara
relatif seperti titik pin, kecil, menengah, dan besar. Koloni yang lebih besar dari sekitar
5mm cenderung organisme motil. Jadi bakteri yang kami temukan kemungkinan motil.
Pada kedua koloni memiliki perbedaan jumlah bakteri yang berkembangbiak
dalam satu cawan. Pada koloni A terdapat 15 koloni dan koloni B terdapat 19 koloni.
Pebedaan jumlah koloni yang tumbuh salah satunya disebabkan oleh tangan praktikan
yang sudah dicuci dengan sabun (disterilkan) antibakteri. Ketika sudah mencuci tangan,
tangan praktikan yang mengambil sampel memiliki lebih sedikit bakteri dibandingkan
tangan yang belum dicuci. Hal ini terjadi karena sabun antiseptik memiliki komposisi
khusus yang dapat menghambat perkembangan bakteri. Didukung oleh pernyataan dari
Ngan (2005) bahwa antiseptic merupakan bahan kimia yang mencegah multiplikasi
organisme pada permukaan tubuh, dengan cara membunuh mikroorganisme tersebut
atau menghambat pertumbuhan dan aktivitas metaboliknya. Selain menggunakan sabun
cuci tangan, praktikan juga membersihkan tangan dengan alkohol 70% karena
konsentrasi alkohol ini cocok untuk menjadi disinfektan.
Bakteri yang telah diberi pewarnaan, kemudian diamati di bawah mikroskop
yang telah dipasang mikrometer okuler. Berdasarkan hasil pengukuran dengan
perbesaran 400x diketahui bahwa objek merupakan bakteri berbentuk basil. Bakteri
berkoloni basil ini memperlihatkan ukuran dari 2 dimensi, yaitu diameter dan panjang.
Data pengukuran menunjukkan ketiga sel memiliki diameter yang sama, sedangkan
dari segi ukuran panjang berbeda. P e n g u k u r a n s e l b a k t e r i p a d a k o l o n i A
dan koloni B , b a k t e r i m e m i l i k i panjang 6µm dan 9 µm. Sedangkan
diameternya pada koloni A yakni, 1µm dan koloni B juga memiliki diameter 1
µm. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran bakteri rata-rata sama atau mirip. Dalam
hal mengidentifikasi kita tidak boleh hanya mengandalkan pengukuran panjang
dan diameter bakteri saja,melainkan juga dapat diamati pada morfologinya.
H. Kesimpulan
a) Morfologi bakteri pada koloni A memiliki warna putih cerah dengan bentuk tak
beraturan dan menyebar. Tepi dari koloni ini tak beraturan, serta memiliki elevasi
seperti tombol. Koloni A menunjukkan bahwa bakteri tersebut terlihat mengkilat,
dengan diameter 83.33 mm, serta menunjukkan bakteri tersebut tidak pekat. Setelah
dilakukan penghitungan, hasil menunjukkan bahwa bakteri pada koloni A yang
memiliki struktur sama yakni berjumlah 15 bakteri, dan memiliki bentuk koloni yang
berduri. Sedangkan morfologi Bakteri pada koloni B memiliki warna putih pekat
dengan bentuk bundar dan tepian timbul. Bila diamati lebih detail, koloni bakteri B
menunjukkan tepian yang licin, dengan elevasi yang datar. Apabila diamati di depan
sinar matahari langsung menunjukkan strukturnya yang suram, serta bila diukur dengan
pengukuran langsung memiliki diameter sebesar 50 mm. Bakteri koloni B menunjukka
bakteri yang tidak pekat dengan jumlah 19 serta memiliki bentuk koloni yang berduri.
b) Dari masing-masing biakan bakteri didapatkan jumlah koloni bakteri A dan B berbeda.
Koloni bakteri A berjumlah 15 dan koloni bakteri B berjumlah 19.

DISKUSI
Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi jumlah dan jumlah macam bakteri pada
suatu tempat? Jelaskan!
Jawab :
a) Nutrien: mikroba memerlukan suplai nutrisi sebagai sumber energi dan pertumbuhan
selnya. Unsur-unsur dasar yang diperlukan adalah karbon,nitrogen, hidrogen, oksigen,
sulfur, fosfor, zat besi dan sejumlah kecil logam lainnya.
b) Tingkat keasaman (pH): kebanyakan mikroba tumbuh baik pada pH sekitarnetral dan
pH 4,6– 7,0 merupakan kondisi optimum untuk pertumbuhan bakteri.
c) Suhu: setiap mikroba mempunyai kisaran suhu dan suhu optimum tertentuuntuk
pertumbuhannya. Pada suhu yang tepat (optimal), mikroba dapatmemperbanyak diri
dan tumbuh sangat cepat.
d) Oksigen: kebutuhan oksigen mikroba berbeda-beda, ada mikroba aerob, yaitu mikroba
yang membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya; anaerob, yaitu mikroba yang
tumbuh tanpa membutuhkan oksigen; anaerob fakultatif, yaitu mikroba yang dapat
tumbuh dengan atau tanpa adanya oksigen; mikroaerofil,yaitu mikroba yang
membutuhkan oksigen pada konsentrasi yang lebih rendah dari pada konsentrasi
oksigen yang normal di udara.
e) Kelembaban: mikroba membutuhkan kelembaban yang tinggi, pada umumnya untuk
pertumbuhan mikroba yang baik dibutuhkan kelembaban di atas 85%.
f) Pencahayaan: cahaya yang berasal dari sinar matahari dapat
mempengaruhi pertumbuhan mikroba, mikroba lebih menyukai kondisi gelap, karena
terdapatnya sinar matahari secara langsung dapat menghambat pertumbuhannya.

2. Apakah kegunaan biakan murni bakteri?


Jawab :
Kegunaannya supaya kita mendapatkan satu spesies saja dalam satu piaraan dan bukan
spesies yang bermacam-macam. Spesies itu dipisahkan dari mikroba lain yang berasal
dari campuran bermacam-macam mikroba. Setelah itu dapat dipelajari morfologi,
fisiologi, biokimia, genetika, atau kegiatan apapun dari mikroba yang telah dibiakan
murni tersebut. Piaraan murni tersebut dapat disimpan, dan pada waktu tertentu harus
diadakan peremajaan dengan memindahkannya ke medium baru. Piaraan-piaraan yang
diperoleh dari piaraan murni pertama dapat diambil dan dikembangbiakan lagi
menjadi piaraan turunan (sub-culture).

Pengukuran Sel Bakteri


1. Tulislah hasil perhitungan harga skala mikrometer okuler pada pembesaran 400x dan
1000x. Mengapa perlu dilakukan peneraan pada kedua macam pembesaran tersebut?
Jawab:
 Perbesaran 400x
- Mikroskop okuler = 58
- Mikroskop Objektif = 0.15
𝑂𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 0.15
- Rumus, = = 0.0025 mm= 2.5 µm
𝑂𝑘𝑢𝑙𝑒𝑟 58

Jadi, 1 skala okuler= 2.5 µm


 Perbesaran 1000x
- Mikroskop okuler = 21
- Mikroskop Objektif = 0.04
𝑂𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 0.04
- Rumus, = = 0.001 mm= 1 µm
𝑂𝑘𝑢𝑙𝑒𝑟 21
Jadi, 1 skala okuler= 1µm
Perlu dilakukan peneraan pada pembesaran 400x dan 1000x karena sel bakteri pada
pengamatan mikroskop minimal bisa terlihat pada perbesaran 400x dan 1000x.
Peneraan harga skala mikrometer okuler perlu dilakukan agar dapat diketahui harga
skala mikrometer pada mikroskop yang digunakan. Hal ini disebabkan setiap
mikroskop memiliki harga skala yang berbeda. Begitu pula dengan perbesaran yang
digunakan. Jika perbesarannya berbeda maka harga skalanya juga akan berbeda. Jadi
perlu diketahui masing-masing harga skalanya, sebab kedua jenis perbesaran ini yang
digunakan dalam pengukuran.
Daftar Rujukan

Acharya, Tankeshwar. 2007. Colony Morphology of Bacteria; How to describe Bacterial


Colonies? (online) di http://microbeonline.com/. Nepal: Department of Microbiology
and Immunology, Patan Academy of Health Sciences.
Darkuni, 2001. Mikrobiologi. Malang: FMIPA UM.

Dwidjoseputro. 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.


Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Hadioetomo, Ratna Siri. 1985. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek: Teknik dan Prosedur
Dasar Laboratorium. Jakarta: PT Gramedia.
Hastuti, Sri Utami. 2012. Penuntun Praktikum Mikrobiologi. Malang: UMM Press.
Kusnadi, dkk. 2003. Mikrobiologi. Malang: JICA.

Ngan, V. 2005. Antiseptics. New Zaeland Dermatological Society Inc.


Pelczar, Michael J. dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
Volk, Wesley A & Wheeler, Margaret F. 1988. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press.
Lampiran