Anda di halaman 1dari 17

PROGRAM PROMOSI KESEHATAN KERJA

“ELIMINATION IMPACT EXPOSURE CHEMICAL PROGRAM


(ELIEXCHEM)”

PENDAHULUAN
Kesehatan dan Keselamatan Kerja merupakan suatu sistem program
yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan
(preventif) timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dalam
lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta tindakan antisipatif apabila hal-
hal tersebut terjadi di suatu tempat kerja. (Yusra, www.indonusa.ac.id, diakses
22 April 2009, dalam Elly, smoking cessation dan hearing conservation
program (hcp)).
Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi kesehatan pekerja, yaitu beban
kerja (fisik dan mental), kapasitas kerja (ketrampilan, kesegaran jasmani dan
rohani, status kesehatan/gizi, jenis kelamin, ukuran tubuh, dll) dan lingkungan
kerja (fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial).
Saat ini sudah lebih dari 400 juta ton bahan kimia yang diproduksi tiap
tahunnya dan lebih dari 1000 bahan kimia baru diproduksi setiap tahunnya.
Penggunaan bahan kimia ini selain membawa dampak yang positif bagi
kemajuan dunia industri juga memiliki dampak negatif terutama bagi kesehatan
pekerja, salah satunya adalah dermatitis. Sejak 1982, penyakit dermatitis telah
menjadi salah satu dari sepuluh besar penyakit akibat kerja (PAK) berdasarkan
potensial insidens, keparahan dan kemampuan untuk dilakukan pencegahan
(NIOSH 1996). Biro Statistik Amerika Serikat (1988) menyatakan bahwa
penyakit kulit menduduki sekitar 24% dari seluruh penyakit akibat kerja yang
dilaporkan.
PT Inti Pantja Press Industri (IPPI) sebagai perusahaan yang bergerak
dibidang otomotif khususnya dalam bidang pressing body dan chasis mobil,
juga menggunakan bahan kimia dalam prosesnya. Bahan kimia yang digunakan
antara lain minyak tanah, anti karat, dan beberapa jenis bahan kimia lain untuk
perawatan. Bahan-bahan tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pada kulit
pekerja. Berdasarkan hasil pemeriksaan berkala tahun 2005 kasus dermatitis
menempati urutan keempat terbesar di PT Inti Pantja Press Industri, dengan ratio
23,73% dari jumlah populasi pekerja tetap. Pekerja yang paling sering terpajan

1
oleh bahan kimia adalah pekerja di bagian produksi khususnya yang menangani
pekerjaan handwork, bagian maintenance yaitu plant service dan die shop,
bagian quality control, dan bagian inventory finish part khususnya yang
menangani pekerjaan pemberian anti rust. Berdasarkan hasil pemeriksaan
berkala tahun 2005 pada keempat bagian tersebut memiliki kurang lebih 25%
pekerja yang menderita dermatitis.
Dermatitis Kontak adalah respon dari kulit dalam bentuk peradangan
yang dapat bersifat akut maupun kronik, karena paparan dari bahan iritan
eksternal yang mengenai kulit. Terdapat dua jenis dermatitis kontak yaitu
dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik. Dermatitis kontak iritan
merupakan reaksi inflamasi lokal pada kulit yang bersifat non imunologik,
ditandai dengan adanya eritema dan edema setelah terjadi pajanan bahan
kontaktan dari luar. Bahan kontaktan ini dapat berupa bahan fisika atau kimia
yang dapat menimbulkan reaksi secara langsung pada kulit. Pada beberapa
literatur membagi jenis DKI ini dalam dua tipe yaitu tipe akut dan tipe kronis.
Banyak literatur yang menyatakan faktor-faktor penyebab dermatitis
kontak. Pernyataan-pernyataan tersebut mengarah pada dua kategori penyebab
dermatitis kontak yaitu direct causes/influence dan indirect causes/influences
(literatur lain menyebutnya sebagai faktor predisposisi). Secara garis besar
faktor-faktor tersebut antara lain:
• Direct Causes antara lain bahan kimia, mekanik, fisika, racun tanaman,
dan biologi
• Indirect Causes yaitu faktor genetik (alergi), penyakit yang telah ada
sebelumnya, usia, lingkungan, personal hygiene, jenis kelamin, ras,
tekstur kulit (ketebalan kulit, pigmentasi, daya serap, hardening) musim,
keringat, obat/pengobatan, dan musim.

Berdasarkan hasil penelitian dilakukan kepada pekerja di PT Inti Pantja


Press Industri (IPPI), dari 80 perkerja terdapat 39 orang (48,8%) yang
mengalami dermatitis kontak. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
terjadinya dermatitis kontak pada pekerja yaitu jenis pekerjaan, usia pekerja,
lama bekerja, riwayat dermatitis akibat pekerjaan sebelumnya dan penggunaan
APD. Berikut hasil penelitiannya :

2
1. Jenis pekerjaan dalam penelitian ini digolongkan pada dua jenis
proses kerja yaitu proses realisasi dan proses pendukung. Pada proses
realisasi terlihat bahwa pekerja yang terkena dermatitis kontak (60,4%) lebih
banyak dibandingkan dengan pekerja yang tidak terkena dermatitis kontak
(39,6%). Hal ini berbanding terbalik dengan proses pendukung yang
pekerjanya lebih banyak tidak terkena dermatitis yaitu sebanyak 22 orang
(68,8%) dari total pekerja 32 orang.
Dermatitis kontak akan muncul pada permukaan kulit jika zat kimia
tersebut memiliki jumlah, konsentrasi dan durasi (lama pajanan) yang cukup.
Dengan kata lain semakin lama besar jumlah, konsentrasi dan lama pajanan,
maka semakin besar kemungkinan pekerja tersebut terkena dermatitis
kontak. Pekerjaan pada proses realisasi menggunakan bahan kimia dalam
jumlah yang cukup besar dalam waktu yang lama (8 jam kerja). Sehingga
terlihat jelas bahwa proses realisasi memiliki potensi terkena dermatitis
kontak yang lebih besar. Hal ini karena pada proses realisasi pekerja terpajan
bahan kimia dengan konsentrasi yang cukup tinggi dan dalam waktu yang
lama.
Proses pendukung melakukan dua jenis pekerjaan yaitu perawatan
dan perbaikan. Perawatan dilakukan secara rutin setiap hari, sedangkan
perbaikan dilakukan jika terdapat kerusakan pada peralatan saja.
Penggunaan bahan kimia dalam proses perawatan dan perbaikan digunakan
dalam jumlah yang tidak terlalu banyak namun bervariasi. Jadi pada proses
pendukung, bahan kimia digunakan dalam konsentrasi yang kecil dan dalam
durasi pajanan (per bahan kimia) yang lebih singkat, sehingga potensi untuk
terkena dermatitis kontak menjadi lebih kecil. Namun karena penggunaan
bahan kimia yang lebih bervariasi menyebabkan kemungkinan untuk terkena
dermatitis kontak sama besar dengan pekerjaan pada proses realisasi.
Campuran bahan kimia ini banyak ditemukan pada dunia industri dan
menyebabkan kesulitan dalam menentukan penyebab kelainan kulit akibat
kerja atau kelainan kulit di tempat kerja. Penggunan yang sesuai kebutuhan
ini perlu dikontrol agar tidak terjadi penggunaan secara berlebihan yang
dapat memungkinkan timbulnya dermatitis kontak pada pekerja.

3
2. Usia pekerja pada kelima bagian objek penelitian memiliki rata-
rata (mean) 31 tahun. Namun jika dilihat dari data tunggal. Tidak terdapat
pekerja dengan usia tepat 31 tahun. Maka distribusi umur pekerja
dikelompokan menjadi usia dibawah rata-rata (≤30 tahun) dan usia diatas
atau sama dengan rata-rata (>30 tahun). Hasil analisis hubungan antara usia
pekerja dengan kejadian dermatitis kontak diperoleh bahwa sebanyak 26
(60,5%) dari 43 pekerja yang berusia ≤30 tahun terkena dermatitis kontak,
sedangkan diantara pekerja yang berusia >30 tahun hanya sekitar 13 orang
(35,1%) yang terkena dermatitis kontak. Hal ini dapat diambil kesimpulan
bahwa pekerja muda lebih mudah terkena dermatitis kontak.
Pada beberapa literatur menyatakan bahwa kulit manusia mengalami
degenerasi seiring bertambahnya usia. Sehingga kulit kehilangan lapisan
lemak diatasnya dan menjadi lebih lebih kering. Kekeringan pada kulit ini
memudahkan bahan kimia untuk menginfeksi kulit, sehingga kulit menjadi
lebih mudah terkena dermatitis. Pada dunia industri usia pekerja yang lebih
tua menjadi lebih rentan terhadap bahan iritan. Seringkali pada usia lanjut
terjadi kegagalan dalam pengobatan dermatitis kontak, sehingga timbul
dermatitis kronik. Dapat dikatakan bahwa dermatitis kontak akan lebih
mudah menyerang pada pekerja dengan usia yang lebih tua. Namun pada
kenyataannya (berdasarkan hasil penelitian ini) pekerja dengan usia yang
lebih muda justru lebih banyak yang terkena dermatitis kontak.
Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebab fenomena ini adalah
bahwa pekerja dengan usia yang lebih muda memiliki pengalaman yang
lebih sedikit dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Sehingga kontak
bahan kimia dengan pekerja masih sering terjadi pada pekerja muda. Pada
pekerja tua yang berpengalaman dalam menangani bahan kimia, kontak
bahan kimia dengan kulit semakin lebih sedikit. Selain itu kebanyakan
pekerja tua lebih menghargai akan keselamatan dan kesehatannya, sehingga
dalam penggunaan APD pekerja tua lebih memberi perhatian dibandingkan
pekerja muda.
Selain itu pekerja muda dengan tenaga yang prima banyak
ditempatkan pada posisi pekerjaan yang lebih kasar atau dalam penelitian ini
pada area yang banyak menggunakan bahan kimia. Pekerja muda lebih
banyak ditempatkan pada pekerjaan yang berhubungan langsung dengan

4
pelayanan (service). Sehingga potensi untuk terkena dermatitis kontak lebih
besar dibandingkan dengan pekerja (pekerja tua) yang berada pada pekerjaan
yang tidak menggunakan banyak bahan kimia.

3. Lama bekerja dikategorikan menjadi dua bagian yaitu ≤2 tahun


dan >2 tahun. Hal ini berdasarkan masa kontrak terlama di PT IPPI yaitu
selama 2 tahun. Analisis hubungan antara lama bekerja dengan kejadian
dermatitis kontak menunjukan bahwa pekerja yang memiliki lama bekerja
≤2 tahun lebih banyak yang terkena dermatitis yaitu sebanyak 22 orang
(66,7%), dibandingkan dengan 17 orang (36,2%) dari 47 pekerja yang telah
bekerja di PT IPPI selama >2 tahun.
Hampir sama seperti pernyataan pada bagian hubungan antara usia
dengan dermatitis kontak. Pekerja dengan lama bekerja ≤ 2 tahun dapat
menjadi salah satu faktor yang mengindikasikan bahwa pekerja tersebut
belum memiliki pengalaman yang cukup dalam melakukan pekerjaannya.
Jika pekerja ini masih sering ditemui melakukan kesalahan dalam prosedur
penggunaan bahan kimia, maka hal ini berpotensi meningkatkan angka
kejadian dermatitis kontak pada pekerja dengan lama bekerja ≤ 2 tahun.
Pekerja dengan pengalaman akan lebih berhati-hati sehingga kemungkinan
terpajan bahan kimia lebih sedikit.
Faktor lain yang memungkinkan pekerja dengan lama bekerja ≤ 2
tahun lebih banyak yang terkena dermatitis kontak adalah masalah kepekaan
atau kerentanan kulit terhadap bahan kimia. Pekerja dengan lama bekerja ≤ 2
tahun masih rentan terhadap berbagai macam zat kimia. Pada pekerja dengan
lama bekerja > 2 tahun dapat dimungkinkan telah memiliki resistensi
terhadap bahan kimia yang digunakan oleh perusahaan. Resistensi ini
dikenal sebagai proses hardening yaitu kemampuan kulit yang menjadi lebih
tahan terhadap bahan kimia karena pajanan bahan kimia yang terus-
menerus. Untuk itulah mengapa pekerja dengan lama bekerja >2 tahun lebih
sedikit yang mengalami dermatitis kontak.

4. Riwayat alergi merupakan salah satu faktor yang dapat


menjadikan kulit lebih rentan terhadap penyakit dermatitis kontak. Analisis
hubungan antara riwayat alergi dengan dermatitis kontak menunjukkan

5
bahwa pekerja dengan riwayat alergi yang terkena dermatitis sebanyak 15
orang (57,7%) dari 26 orang yang memiliki riwayat alergi. Sedangkan
pekerja yang tidak memiliki riwayat alergi terkena dermatitis sebanyak 24
orang dengan persentase sebesar 44,4% dari 54 orang pekerja.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa dermatitis kontak (terutama
dermatitis kontak alergi) akan lebih mudah timbul jika terdapat riwayat
alergi sebelumnya. Dalam melakukan diagnosis dermatitis kontak dapat
dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya adalah dengan melihat sejarah
dermatologi termasuk riwayat penyakit pada keluarga, aspek pekerjaan atau
tempat kerja, sejarah alergi (misalnya alergi terhadap obat-obatan tertentu),
dan riwayat lain yang berhubungan dengan dermatitis .
Pada pemeriksaan dermatitis kontak terkadang sulit membedakan
antara kelainan kulit yang disebabkan alergi dengan dermatitis kontak akibat
kerja. Jika riwayat alergi telah diketahui, maka dapat ditelusuri penyebab
gangguan kulit tersebut apakah akibat alergen yang telah diketahui ataukah
akibat kerja. Pihak perusahaan sebaiknya mempunyai daftar riwayat
kesehatan pekerja termasuk riwayat alergi yang terdapat pada pekerja.
Daftar riwayat kesehatan ini dapat diperoleh sebagai salah satu syarat
penerimaan pekerja.

5. Penggunaan APD adalah salah satu cara yang efektif untuk


menghindarkan pekerja dari kontak langsung dengan bahan kimia. Analisis
hubungan antara penggunaan APD dengan dermatitis kontak
memperlihatkan hasil bahwa pekerja dengan penggunaan APD yang baik
sebanyak 10 orang (41,7%) dari 24 orang pekerja terkena dermatitis kontak.
Sedangkan dengan penggunan APD yang kurang baik, pekerja yang
terkena dermatitis sebanyak 29 orang (51,8%) dari 56 orang pekerja. Hasil
uji statistik yang dilakukan menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan
proporsi kejadian dermatitis kontak yang bermakna antara penggunaan APD
yang baik dengan penggunaan APD yang kurang baik. Hal ini terlihat dari
hasil p value sebesar 0,588.
Melihat perbedaan yang tidak terlalu jauh antara pekerja yang
menggunakan APD dengan baik tetapi terkena dermatitis kontak dengan
yang tidak terkena dermatitis kontak, maka selain masalah perilaku pekerja,

6
kesesuaian APD juga perlu untuk diperhatikan. APD yang baik seharusnya
dapat mengurangi potensi pekerja untuk terkena dermatitis kontak. Jika
pekerja masih merasakan adanya kontak dengan bahan kimia walaupun telah
mengenakan APD, hal ini menunjukan bahwa APD yang digunakan tidak
sesuai untuk melindungi kulit dari material bahan kimia. Pemilihan APD
tidak hanya berdasarkan harga dan kualitasnya saja. Tetapi yang lebih
penting adalah kesesuaiannya dengan proses kerja (penggunaan bahan
kimia). Pada pekerjaan yang menggunakan variasi bahan kimia yang banyak
sebaiknya menggunakan APD yang sesuai dengan seluruh material bahan
kimia.

Melihat gambaran permasalah diatas maka perlu suatu program promosi


Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam rangka untuk menurunkan angka
kesakitan dermatitis kontak pada pekerja PT Inti Pantja Press Industri (IPPI).

TUJUAN PROGRAM
1. Tujuan Jangka Pendek
a. Sasaran pada pekerja, bertujuan untuk :
• Meningkatkan pemahaman tentang bahaya bahan kimia
yang menyebabkan terjadinya dermatitis bagi pekerja yang bekerja di
area proses realisasi.
• Meningkatkan kedisiplinan penggunaan alat pelindung
diri (APD) ketika bekerja di area proses realisasi.
b. Sasaran pada manajemen, bertujuan untuk :
• Meningkatkan kegiatan – kegiatan yang berkaitan dan
mendukung upaya pengurangan keterpaparan bahan kimia pada
pekerja.
• Meningkatkan monitoring pada area proses realisasi
secara berkala.
• Meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan alat
pelindung diri (APD) pada pekerja yang bekerja di area proses
realisasi.
• Meningkatkan manajemen/pengaturan yang berkaitan
dengan upaya meminimalkan paparan bahan kimia pada pekerja.

7
• Meningkatkan kegiatan-kegiatan pendidikan dan
pelatihan yang berkaitan dengan upaya pencegahan terjadinya
dermatitis pada pekerja yang terpapar bahan kimia.

2. Tujuan Jangka Menengah


Tujuan jangka menengah dari program nini adalah meningkatkan kesadaran
pekerja terhadap faktor penyebab dermatitis dan melindungi pekerja dari
paparan bahan kimia di tempat kerja.

3. Tujuan Jangka Panjang


Tujuan jangka panjang dari program ini adalah untuk menurunkan angka
kesakitan dermatitis pada pekerja PT. Inti Pantja Press Industri (IPPI).

METODE DAN AKTIVITAS


Program promosi kesehatan di tempat kerja yang dirumuskan merupakan
suatu program yang ditujukan kepada kedua kelompok sasaran, yaitu pekerja itu
sendiri sebagai obyek yang terkena dampak dari paparan bahan kimia dan pihak
manajemen sebagai pemegang kebijakan pelaksanaan program. Adapun
program promosi kesehatan dan sasaran yang direncanakan adalah sebagai
berikut :

Program Promosi Kesehatan


dan
Sasaran Program

Elimination Impact
Exposure Chemical Program

Chemical Substitution Training Medical Safe work


Knowledge Program Program Program Practices Program
Program

8
Berikut akan diuraikan program tersebut diatas beserta metode dan
aktivitasnya masing-masing :
1. Elimination Impact Exposure Chemical Program
Merupakan sebuah program yang melibatkan pekerja secara keseluruhan,
dikarenakan fokus sasaran adalah pekerja itu sendiri terutama para pekerja
yang bekerja pada proses realisasi yang secara langsung terpapar dengan
bahan kimia dengan jumlah yang besar.
Fokus Kegiatan
Fokus kegiatan dari program tersebut adalah sebagai berikut :
a. Berkaitan dengan upaya pemahaman tentang keterpaparan bahan kimia
secara bagi kesehatan secara umum dan risikonya terhadap gangguan
pada kulit pada khususnya.
b. Berkaitan dengan penyampaian kebijakan oleh pihak manajemen tentang
program pengurangan keterpaparan bahan kimia (elimination impact
expusure chemical program ).
c. Berkaitan dengan upaya peningkatan kesadaran untuk hidup sehat dan
lebih positif serta perubahan perilaku untuk selalu menggunakan APD
dengan benar selama bekerja.

Strategi dan Metode


Strategi dan metode yang digunakan adalah terbagi atas beberapa
kegiatan beserta masing-masing sasarannya :
A. Sasaran pada pekerja
1. Chemical Knowledge Program
Chemical Knowledge Program merupakan suatu program yang bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan pekerja mengenai bahan kimia dan
dampak keterpaparannya.
Sasaran Pada Pekerja Di Area Produksi
Fokus Kegiatan
a. Berkaitan dengan infomasi mengenai bahan
kimia dan dampak keterpaparannya
b. Berkaitan dengan penggunaan APD di area
produksi

9
Strategi dan Metode
Strategi dan metode yang digunakan yaitu melalui penyuluhan, lomba
cerdas cermat, dan poster.
Aktivitas
a. Melakukan penyuluhan tentang bahaya bahan kimia secara
umum dan bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi
perusahaan khususnya.
b. Melaksanakan lomba cerdas cermat bagi para pekerja sebagai
salah satu parameter keberhasilan program untuk mengetahui tingkat
pengetahuan dan pemahaman pekerja tentang bahan kimia..
c. Pembuatan pesan-pesan kesehatan seperti : poster-poster bahaya
kontak langsung terhadap bahan kimia, poster-poster pelaksanaan
kerja yang baik sesuai prosedur, dan poster-poster pentingnya
pemakaian APD.
Target
a. 100 % pekerja mengetahui tentang bahan kimia dan dampak
keterpaparannya
b. 100 % pekerja di area produksi menggunakan APD
c. Terbentuk kebijakan yang berkaitan dengan pemberian reward
bagi pekerja yang mendukung program chemical knowledge.

2. Training Program
Training program merupakan suatu program untuk meningkatkan
keterampilan dan kinerja pekerja serta keterampilan untuk menghindari
atau mengurangi keterpaparan bahan kimia di area produksi
Fokus Kegiatan
a.Berkaitan dengan upaya peningkatan keterampilan pekerja dalam
proses produksi
b. Berkaitan dengan upaya peningkatan keterampilan
pekerja dalam menghindari atau mengurangi keterpaparan bahan
kimia.
Strategi dan Metode

10
Strategi dan metode yang dilakukan melalui kegiatan workshop dan
pelatihan pada pekerja.

Aktivitas
a. Melakukan workshop pada pekerja mengenai keterampilan dalam
proses produksi dan menghindarai atau mengurangi keterpaparan
bahan kimia.
b. Melakukan pelatihan melalui praktek-praktek proses bekerja yang
baik dan praktek upaya menghindari atau mengurangi keterpaparan
bahan kimia.
Target
a. 100 % pekerja mengetahui cara proses kerja yang baik
b. 100 % pekerja mengetahui cara menghindari atau mengurangi
keterpaparan bahan kimia selama di area produksi

B. Sasaran Pada Manajemen


1. Substitution Program
Substitution program merupakan program untuk mengganti bahan kimia
yang beresiko tinggi untuk menimbulkan dampak bagi kesehatan,
terutama dermatitis dengan bahan kimia yang memiliki resiko yang
rendah, serta mengganti APD sebelumnya dengan APD yang mampu
memprotect keterpaparan bahan kimia secara langsung, khususnya pada
kulit (APD yang sesuai dengan bahan kimia
Fokus Kegiatan
a. Berkaitan dengan upaya mengganti bahan kima yang beresiko tinggi
dengan bahan kimia yang beresiko rendah
b. Berkaitan dengan upaya mengganti mengganti APD sebelumnya
dengan APD yang mampu memprotect keterpaparan bahan kimia
secara langsung, khususnya pada kulit (APD yang sesuai dengan
bahan kimia
Strategi dan Metode
Strategi dan metode yang dilakukan melalui kegiatan Chemical
Substitution dan APD Substitution
Aktivitas

11
a. Chemical Substitution , yaitu dengan mengganti bahan kimia yang
beresiko tinggi untuk menimbulkan gangguan kesehatan, khususnya
dermatitis dengan bahan kimia lain yang memiliki resiko yang
rendah.
b. APD Subtitution, yaitu mengganti APD sebelumnya dengan APD
yang mampu memprotect keterpaparan bahan kimia secara langsung,
khususnya pada kulit (APD yang sesuai dengan bahan kimia).
Target
a. 75 % bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi
merupakan bahan kimia yang aman bagi kesehatan.
b. 100 % APD yang digunakan adalah APD yang efektif untuk
memproteksi keterpaparan bahan kimia secara langsung, khususnya
pada kulit (APD yang sesuai dengan bahan kimia)..

2. Medical Program
Medical Program merupakan program yang bertujuan untuk
pemeriksaan kesehatan pada pekerja secara dini bagi pekerja yang baru
dan berkala (6 bulan sekali) bagi pekerja yang lama.
Fokus Kegiatan
a. Berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan secara dini (awal
perekrutan).
b. Berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan secara berkala (6 bulan
sekali) bagi pekerja yang lama.
Strategi dan Metode
Strategi dan metode yang dilakukan melalui kegiatan pemeriksaan
kesehatan pada para pekerja.
Aktivitas
a. Melakukan pemeriksaan kesehatan dini kepada calon tenaga
kerja baru, guna mengetahui riwayat penyakit.
b. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala (6 bulan
sekali) untuk mengetahui sejauh mana keterpaparan bahan kimia dan
dampak dari bahan kimia tersebut terhadap pekerja.
Target

12
100 % pihak menejeman mengetahui kondisi kesehatan dari seluruh
pekerja.

3. Safe Work Practices Program


Safe Work Practices Program adalah program untuk menjaga pekerja
dari keterpaparan bahan kimia dalam waktu yang lama.
Fokus Kegiatan
a. Berkaitan dengan penetapan system rolling pada pekerja di area
produksi
b. Berkaitan dengan penetapan system shift pada seluruh pekerja.
Strategi dan Metode
Strategi dan metode yang dilakukan melalui sistem rolling dan shift
kerja.
Aktivitas
a. Melakukan system rolling bagi pada pekerja di area produksi (4
bulan sekali).
b. Melakukan system shif kerja dengan metode 2-2-3
Target
Dilaksanakannya system rolling dan shift kerja dengan baik dan
sustainable.

SUMBER DAYA DAN HAMBATAN


Sumber Daya
Sumber daya yang diperlukan untuk menunjang kesuksesan program
promosi kesehatan di tempat kerja tersebut antara lain :
1. Sumber daya manusia , meliputi
a. Pihak Manajemen
b. Serikat Pekerja
c. Lintas Sektoral
- Dinas Kesehatan
- Ahli kimia
- Teknik Design (Design APD)

2. Ketersediaan Dana

13
3. Ketersediaan media promosi
4. Struktur pengawasan oleh supervisor

Beberapa sumber daya tersebut diharapkan dapat dimaksimalkan guna


mendukung terlaksananya program Elimination Impact Exposure Chemical
Program dalam pengurangan keterpaparan bahan kimia terhadap pekerja di
Industri PT. Inti Pantja Press

Hambatan
Hambatan yang mungkin akan ditemui dalam pelaksanaan program
promosi kesehatan kerja ini adalah adanya kurangnya kesadaran pekerja
terhadap keterpaparan bahan kimia, pentingnya penggunaan APD, dan
kurangnya pengawasan oleh ahli kimia terhadap penggunaan bahan kimia yang
berisiko tinggi di perusahaan tersebut. Serta ketersediaan dana yang terbatas
yang dimiliki perusahaan dalam pelaksanaan program.

14
RENCANA PELAKSANAAN; PLAN OF ACTION (POA)

N Tempat Metode dan


Jenis Kegiatan Tujuan Sasaran Waktu
o Pelaksanaan Media
1 Chemical Meningkatkan Para pekerja yang Januari , Aula Penyuluhan
Knowledge pengetahuan dan kontak langsung April, Juli, perusahaan dan LCC
Program pemahaman pekerja dengan bahan Oktober dan area- Media: Poster
terhadap kimia, khususnya 2010 area strategis
keterpaparan bahan pada proses (Triwulan)
kimia realisasi
2 Substitution Mengurangi Para pekerja yang Januari Area - Mengganti
Program keterpaparan bahan kontak langsung 2010 produksi bahan kimia
kimia terhadap dengan bahan - Disaign APD
pekerja kimia, khususnya yang aman
pada proses dan sesuai
realisasi
3 Training - Meningkatkan Tenaga kerja 3 bulan PT. Inti - Pelatihan
Program keterampilan dibawah masa kerja Pantja Press dan praktek
pekerja dalam 2 tahun - APD
proses kerja yang
aman dan sehat
- Mengetahui
tingkat sensitivitas
pekerja baru
terhadap paparan
bahan kimia
4 Medical - Mengetahui Tenaga Kerja baru - Awal Poliklinik - Pemeriksaan
Program riwayat penyakit dan Seluruh Pekerja perekrutan perusahaan kesehatan
pekerja - 6 bulan - Uji
- Mengetahui sekali Laboratoriu
tingkat m
keterpaparan
bahan kimia
5 Safe work - Untuk Seluruh tenaga kerja - 6 bulan PT. Inti Rolling
practices meminimalisir di bagian produksi sekali Pantja Press Shift Kerja
program keterpaparan
bahaya kimia
- Untuk
menghindari efek
kumulatif bahan
kimia pada
perkerja

RENCANA EVALUASI PROGRAM


Evaluasi program direncanakan secara bertahap yaitu selama rentang waktu
program dilaksanakan. Evaluasi program tersebut diuraikan sebagai berikut :
1. Evaluasi Proses (2009)

15
Evaluasi proses dilihat berdasarkan terlaksananya kegiatan yang telah
disusun sesuai rencana program. Ukuran keberhasilannya adalah
terlaksananya kegiatan promosi kesehatan kerja kepada sasaran program
sesuai dengan rencana, ketepatan waktu pelaksanaan dan anggaran yang
direncanakan.
2. Output (2009)
Evaluasi pada output dapat dilihat dari :
 Pelaksanaan penyuluhan, dan pelatihan tentang penggunaan bahan kimia
yang aman kepada pekerja dapat berjalan dengan baik.
 Pelaksanaan monitoring dari pihak manajeman dapat berjalan dengan
baik.
3. Impact (2009)
 Observasi pada pekerja di area produksi mengenai keterpaparan bahan
kimia selama bekerja.
 Observasi terhadap penggunaan APD bagi pekerja
4. Outcome (2010)
 Sebanyak 80% pekerja bebas dari penyakit dermatitis.
 Program ini dapat terlaksana dengan optimal berjalan secara
berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Fatma Lestari, Hari Suryo Utomo. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan


Dermatitis Kontak Pada Pekerja Di PT Inti Pantja Press Industri. Jurnal
Makara, Kesehatan, Vol. 11, No. 2, Desember 2007: 61-68

16
Thaha MA. 1997 Gambaran Klinik Dermatosis Akibat Kerja. In Kumpulan
Makalah Simposium Dermatosis Akibat Kerja dalam Rangka
Pertemuan Ilmiah Tahunan IV PERIDOSKI, Berkala Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Vol. 9 Agustus 1997 No. 2. 1997: 73-76.

Firdaus U. Dermatitis Kontak Akibat Kerja: Penyakit Kulit Akibat Kerja


Terbanyak di Indonesia. Majalah Kesehatan Masyarakat, Vol. II no.5.
2002: 16-18.

Putro HH. Penatalaksanaan Dermatitis Kontak. Majalah Dokter Keluarga.


Volume 5 Nomor 1, Desember 1985: 4-7.

Priatna B. Peraturan Pemerintah Tentang Dermatosis Akibat Kerja. In


Kumpulan Makalah Simposium Dermatosis Akibat Kerja dalam
Rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan IV PERIDOSKI, Berkala Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Vol. 9 Agustus 1997 No. 2. 1997: 63-66.

17

Anda mungkin juga menyukai