Anda di halaman 1dari 58

KARAKTERISTIK PENDERITA KOLELITIASIS YANG DILAKUKAN

PEMBEDAHAN DI RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG

PERIODE 1 JANUARI 2014 SAMPAI DESEMBER 2015

Diajukan pada:

PIT IKABI ke-22

Jakarta, Agustus 2017

Oleh:

dr. Hendry Dimas Putra Fajar

dr. Efman EU Manawan, Sp.B KBD., M.Kes

DEPARTEMEN BEDAH UMUM

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

RUMAH SAKIT Dr. MUHAMMAD HOESIN

PALEMBANG
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kolelitiasis atau biasa disebut batu empedu merupakan endapan satu

atau lebih komponen empedu yaitu kolesterol, bilirubin, garam empedu,

kalsium, protein, asam lemak, dan fosfolipid.1 Saat ini, kolelitiasis menjadi

masalah kesehatan masyarakat karena frekuensi kejadiannya tinggi.

Kolelitiasis merupakan penyakit yang pada awalnya sering ditemukan di

Negara Barat dan jarang di negara berkembang. Tetapi dengan membaiknya

keadaan sosial ekonomi, perubahan menu diet seperti orang Barat serta

perbaikan sarana diagnosis khususnya ultrasonografi, prevalensi batu empedu

di negara berkembang termasuk Indonesia cenderung meningkat.2

Di Negara Barat setiap tahunnya ditemukan pasien kolelitiasis sekitar 1

juta jiwa dan 500.000 jiwa menjalani operasi pengangkatan batu empedu.3 Di

Asia, prevalensi kolelitiasis berkisar antara 3 – 15% berbeda dengan Afrika

yang prevalensinya rendah yaitu < 5%. Insiden penyakit batu empedu dan

penyakit saluran empedu lainnya di Indonesia diduga tidak berbeda jauh

dengan angka di negara lain di Asia tenggara. Di Indonesia, kolelitiasis kurang

mendapat perhatian karena sering sekali asimtomatik sehingga sulit dideteksi

atau sering terjadi kesalahan diagnosis.4 Data yang diperoleh dari rekam medik

Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2010-2011 adalah 101 kasus

kolelitiasis yang dirawat inap, 57 kasus (56,44%) pada tahun 2010 dan 44

kasus (43,56%) pada tahun 2011.4


Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian kolelitiasis diantaranya

faktor yang bisa dimodifikasi dan faktor yang tidak bisa dimodifikasi. Faktor

risiko yang bisa dimodifikasi diantaranya diet, aktifitas fisik, obesitas,

dislipidemia, diabetes mellitus tipe 2, sindrom metabolik, obat-obatan,

sedangkan faktor yang tidak bisa dimodifikasi adalah suku, usia, jenis kelamin,

dan genetik. Penelitian lain menyebutkan bahwa riwayat kehamilan dan

riwayat keluarga yang pernah menderita kolelitiasis juga menjadi faktor risiko

terhadap terjadinya kolelitiasis.5, 6, 24

Angka kejadian kolelitiasis meningkat seiring peningkatan usia, dengan

perkiraan 20% orang dewasa yang berusia lebih dari 40 tahun dan 30% orang

dewasa lebih dari 70 tahun. Kolelitiasis lebih sering terjadi pada perempuan

dibanding laki-laki.7 Berdasarkan penelitian Multicenter Italian Study of

Cholelithiasis (MICOL), pada 33.000 subjek berusia 30-69 tahun, didapatkan

prevalensi 18,8% pada wanita dan 9,5% pada pria. Selama masa reproduktif,

rasio perempuan dibandingkan laki-laki sekitar 4:1, sedangkan di populasi

yang lebih tua, rasio perbandingan tersebut mendekati sama.


Berdasarkan European Journal of Gastroenterology and Hepatology,

pasien dengan obesitas memiliki risiko untuk menderita kolelitiasis. Obesitas

dapat meningkatkan kadar kolesterol di kandung empedu yang menjadi

penyebab pembentukan batu kandung empedu. Data dari hasil penelitian di

Rumah Sakit Columbia Asia Medan bahwa penderita yang yang mengalami

penyakit batu kandung empedu berdasarkan faktor resiko kegemukan dari

total penderita 82 orang yang memiliki berat tubuh berlebih yaitu yang

kelebihan berat badan sekitar 57 orang ( 60,97 % ), yang gemuk sekali sekitar

11 orang (13,41 % ), yang berat badan normal 21 orang (25,60 % ).4


Penyakit kolelitiasis terkadang tidak memberikan gejala awal

(asimptomatik) dan baru mendapat perhatian saat menjadi simptomatik dan

perlu penatalaksanaan lebih lanjut. Berdasarkan data di atas dapat dilihat

angka kejadian kolelitiasis di negara-negara maju dan berkembang, termasuk

di Indonesia semakin meningkat. Banyaknya kasus kolelitiasis menjadi alasan

peneliti untuk membuat laporan karakteristik penderita kolelitiasis yang

dilakukan pembedahan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode

Januari 2014 sampai Desember 2015.

1.2 Rumusan Masalah


Kasus kolelitiasis merupakan kejadian yang cukup sering ditemukan di

RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang oleh karena itu peneliti ingin

mengetahui bagaimana karakteristik penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari

2014 sampai Desember 2015.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui karakteristik penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode

Januari 2014 sampai Desember 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui angka kejadian kolelitiasis di RSUP Dr. Mohammad

Hoesin Palembang periode Januari 2014 sampai Desember 2015.


2. Mengetahui distribusi penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan berdasarkan usia di RSUP Dr. Mohammad Hoesin

Palembang periode Januari 2014 sampai Desember 2015.


3. Mengetahui distribusi penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan berdasarkan jenis kelamin di RSUP Dr. Mohammad

Hoesin Palembang periode Januari 2014 sampai Desember 2015.


4. Mengetahui distribusi penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan berdasarkan indeks massa tubuh di RSUP Dr.

Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2014 sampai

Desember 2015.
5. Mengetahui distribusi penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan berdasarkan tempat tinggal di RSUP Dr. Mohammad

Hoesin Palembang periode Januari 2014 sampai Desember 2015.


6. Mengetahui distribusi penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan berdasarkan pekerjaan di RSUP Dr. Mohammad

Hoesin Palembang periode Januari 2014 sampai Desember 2015.


7. Mengetahui distribusi penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan berdasarkan gejala klinis di RSUP Dr. Mohammad

Hoesin Palembang periode Januari 2014 sampai Desember 2015.


8. Mengetahui distribusi penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan berdasarkan profil lipid di RSUP Dr. Mohammad

Hoesin Palembang periode Januari 2014 sampai Desember 2015.


9. Mengetahui distribusi penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan berdasarkan jenis tatalaksana operatif di RSUP Dr.

Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2014 sampai

Desember 2015.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah

mengenai karakteristik penderita kolelitiasis yang dilakukan

pembedahan di RSUP Mohammad Hoesin Palembang tahun 2014


sampai 2015 sehingga dapat dijadikan referensi ilmiah dan bahan

pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.


1.4.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan

pertimbangan bagi masyarakat untuk mengetahui angka kejadian

kolelitiasis dan tatalaksananya sehingga dapat mencegah komplikasi

yang akan terjadi dan dapat melakukan preventifnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Anatomi dan Fisiologi Kandung Empedu

2.1.1 Anatomi Kandung Empedu

Gallblader atau Kandung Empedu merupakan kantong berongga

berbentuk seperti buah pir yang berukuran panjang 7-10 cm dengan

kapasitas menampung empedu rata-rata 30-50 cc.9,10 Organ ini terletak di

fossa inferoposterior hepar, berdekatan dengan ligamentum teres hepatis

yang membagi hepar menjadi lobus dextra dan sinistra.10 Bagian anterior

kandung empedu berbatasan dengan dinding posterior abdomen dan

permukaan visceral hepar. Sedangkan bagian posteriornya berbatasan

dengan colon transversum dan duodenum.10,11


Secara anatomis, organ ini dibagi menjadi 4 area, antara lain

fundus, corpus, collum dan infundibulum.10 Area fundus merupakan bagian

gallbladder atau kandung empedu dengan proporsi otot polos terbanyak

dan terletak berhadapan dengan tepi cartilago costae IX dextra, yaitu

tempat menyilangnya margo lateral musculus rectus abdominis dextra ke

pinggir costae.10,12 Berbeda dengan bagian fundus, area corpus

mengandung lebih banyak jaringan elastic daripada otot polos sehingga

bila terjadi obstruksi ductus, gallbladder mampu berdistensi sehingga

kapasitasnya meningkat mencapai 300 cc.10 Konveksitas collum yang

melebar membentuk struktur yang disebut infundibulum atau Hartmann’s

pouch.10

Gambaran histologi kandung empedu dilapisi oleh epitel collumner

selapis yang mengandung kolesterol dan globul lemak. 10 Mukus yang

disekresikan ke dalam kandung empedu berasal dari kelenjar

tubuloalveolar pada mukosa di infubdibulum dan neck, namun tidak

terdapat di corpus dan fundus.10 Lapisan epitel ditopang oleh lamina

propria. Lapisan muskularis terdiri dari serabut sirkuler dan longitudinal.10

Lapisan subserosa perimuskular mengandung jaringan ikat, nervus,

pembuluh darah, jaringan limfatik dan jaringan adipose.10 Seluruh bagian

kandung empedu memiliki lapisan serosa kecuali tempat di mana kandung

empedu tertanam di hepar.10


Ductus billiaris
Ductus billiaris extrahepatik terdiri dari ductus hepaticus dextra,

ductus hepaticus sinistra, ductus hepaticus communis, ductus cysticus dan

ductus choledocus.10 Panjang ductus hepaticus communis biasanya 2,5


cm.9 Ductus choledocus memasuki duodenum pars 2 melalui struktur

muscular yang disebut sphinter of Oddi.10 Panjang ductus cysticus kurang

lebih 3 cm dengan diameter lumen 1-3 mm. 9 Mukosa ductus cysticus

tersusun spiral dan dikenal dengan sebutan valvula Heister. 9 Dindingnya

dikelilingi struktur sphincter bernama Lütkens sphincter. Pada Gambar 1

dapat dilihat bagaimana hubungan antar ductus extrahepatic ke

gallbladder dan duodenum.11

Gambar 1. Anatomi gallbladder; letaknya terhadap organ sekitar dan

susunan tractus billiaris sebagai suatu system7


Dikutip dari Delaney CP et al. Laparoscopic Cholecystectomy. In Netter’s

Surgical Anatomy and Approaches, 1st ed. Ohio : Elsevier, 2014, 127-40.11
Vaskularisasi
Gambar 2. Vaskularisasi Tractus Billiaris11
Dikutip dari Delaney CP et al. Laparoscopic Cholecystectomy. In Netter’s

Surgical Anatomy and Approaches, 1st ed. Ohio : Elsevier, 2014, 127-40.11
Arteri hepatica mensuplai 25% dari seluruh vaskularisasi aferen ke

hepar.13 Pasokan arteri hepatica berasal dari truncus celiacus pada 55%

populasi.13 Arteri hepatica communis berasal dari truncus celiacus pada

sebagian besar individu, yaitu sebanyak 83,2% menurut Daseler dkk dan

86% menurut Van Damme dan Bonte.13 Pada beberapa kasus, arteri

hepatica communis berasal dari arteri mesenterika superior (2,9%), aorta

(1,1%), dari arteri gastrica sinistra (0,54%), atau bahkan dari sumber

langka, menurut Van Damme dan Bonte.13


Gambar 3. Variasi anatomi arteri cysticus9
Dikutip dari Williams NS, Bulstrode CJK, O’Connel PR. The Gall

Bladder and Bile Ducts. In: Bailey and Love’s Short Practice of Surgery.

26th ed. New York : CRC Press Taylor and Francis Group, 2013, 1097-

110.9
Arteri cysticus yang memvaskularisasi gallbladder atau kandung

empedu biasanya merupakan cabang dari arteri hepatica dextra, yaitu

sebanyak 90% dari seluruh populasi.10 Letaknya dapat bervariasi namun

hampir selalu ditemukan pada triangle of Calot, yaitu sebuah area

berbentuk segitiga yang dibatasi oleh ductus cysticus, ductus hepaticus

communis dan margo hepar.10 Variasinya dapat berupa arteri hepaticus

communis atau arteri hepatica dextra yang berada pada triangle of Calot,

menyerupai arteri cysticus.9 Variasi ini diesbut caterpillar turn atau

Moynihan’s Tump.9 Kegagalan mengidentifikasi variasi inilahyang biasa

menyebabkan cedera. Pada neck dari gallbladder, arteri cysticus

bercabang menjadi divisi anterior dan posterior.10

Fisiologi Tractus Billiaris


Pembentukan dan Komposisi Empedu
Hepar secara kontinu mengeksresikan empedu ke dalam

kanalikuli.10 Kecepatan produksi nya kurang lebih 40 cc/jam.9 Hepar


orang dewasa yang mengkonsumsi diet secara normal dapat menghasilkan

500-1000 mL cairan empedu per hari.10 Sekresi cairan empedu dipengaruhi

oleh rangsang neurogenic, humoral dan kimiawi.10 Stimulasi vagal

meningkatkan sekresi empedu, sedangkan stimulai nervus splanchnic akan

menurunkan aliran empedu.10 HCl dan asam lemak di duodenum

merangsang pelepasan sekretin dari duodenum yang kemudian

meningkatkan produksi cairan empedu dan aliran empedu.10

Komposisi cairan empedu terbanyak adalah 97% air, sisanya terdiri

dari garam empedu (1,1 g/dL), bilirubin (0,04 g/dL), kolesterol (0,1 g/dL),

asam lemak (0,12 g/dL), lesitin/fosfolipid (0,04 g/dL), Na + (145 mEq/L),

K+ (5mEq/L), dan HCO3- (28 mEq/L).9,10,14 Konsentrasi natrium, kalium,

kalsium dan klorin pada cairan empedu sama dengan yang terdapat pada

plasma atau cairan ekstraseluler.10 Garam empedu utama, cholate dan

chenodeoxycholate, disintesis di hepar dan berasal dari kolesterol.10

Garam tersebut kemudian berkonjugasi dengan taurine dan glisin dan

bereaksi sebagai anion (asam empedu) yang menyeimbangkan natrium. 10

Garam empedu dieksresikan ke cairan empedu oleh hepatosit.10

Di dalam usus, sebanyak 80% asam empedu terkonjugasi

diabsorpsi pada ileum terminal.10 Sisanya mengalami dehidroksilasi oleh

bakteri usus, membentuk asam empedu deoxycholate sekunder dan

lithocholate yang kemudian akan diabsorpsi di dalam colon, dibawa ke

hepar dan dikonjugasikan dan disekresikan ke dalam cairan empedu.10

Sekitar 95% asam empedu yang disimpan dan dialirkan kembali ke vena
porta disebut dengan sirkulasi enterohepatik.10,12 Sisa 5% nya di

ekskresikan ke dalam feses.10


Sintesis fosfolipid dan kolesterol diatur oleh asam empedu.10

Warna empedu tercipta oleh adanya pigmen empedu bilirubin

diglucuronide, yang merupakan produk metabolic dari penghancuran

hemoglobin dan berada dalam empedu dalam konsentrasinya 100 kali

lebih banyak daripada yang terdapat pada plasma.10

Fungsi Gallbladder atau Kandung Empedu


Fungsi utama kandung empedu adalah untuk mengkonsentrasikan

empedu dan mengalirkannya ke duodenum sebagai respon terhadap

makanan.10 Cairan empedu dari hepar dikonsentrasikan di kandung

empedu sebanyak 5-10 kali, diikuti dengan peningkatan proporsi garam

empedu, pigmen, kolesterol dan kalsium. 9 Kandung empedu juga

meproduksi mucus sebanyak 20 cc per hari.9

Gambar 4. Aliran Cairan Empedu10


Dikutip dari Oddsatir M. Gallbladder and The Extrahepatic Billiary

System. In: Schwartz’s Principles of Surgery. 9 th ed. New York : The

McGraw-Hill Companies, 2010, 209-32.10


Absorpsi dan Sekresi

Pada keadaan puasa, kira-kira 80% cairan empedu disekresikan

oleh hepar dan disimpan di gallbladder.10,12 Relaksasi gradual gallbladder

menyebabkan pengosongan gallbladder yang terjadi selama periode puasa,

selain itu peristiwa ini juga berperan dalam mempertahankan tekanan

intraluminer ductus agar tetap terjaga.10


Gallbladder juga meproduksi mucus sebanyak 20 cc per hari. 9

Kelenjar-kelenjar mukosa pada infundibulum dan neck mensekresikan

mucus glikoprotein yang dipercaya dapat melindungi mukosa dari aksi

lisis dan memfasilitasi lewatnya empedu melalui ductus cysticus.10 Mukus

ini membuat warna “white bile” yang tampak pada hydrops gallbladder

akibat adanya obstruksi ductus cysticus.10


Aktivitas Motorik
Pengisian gallbladder difasilitasi oleh kontraksi tonik dari

sphincter of Oddi yang menyebabkan adanya perbedaan tekanan antara

ductus choledochus dan gallbladder.10,12 Gallbladder secara berulang

mengalirkan cairan empedu ke duodenum.10 Proses ini dimediasi

setidaknya oleh hormone motilin. 10 Sebagai respon terhadap makanan,

gallbladder dikosongkan oleh respon motorik terkoordinasi antara

kontraksi gallbladder dan relaksasi sphinter of Oddi.10 Stimulus terbesar

proses pengosongan gallbladder adalah hormon cholecystokinin

(CCK).9,10,12 Hormon ini secara endogen dilepaskan dari mukosa

duodenum sebagai respon terhadap makanan.9,10,12 Defek pada aktivitas

motorik gallbladder dianggap berperan pada saat pembentukan batu

empedu.10,12
Regulasi Neurohormonal
Nervus vagus menstimulasi kontraksi gallbladder, sedangkan

stimulasi simpatetik splanchnic berperan inhibisi.10,12 Obat-obatan

parasimpatomimetik mengkontraksikan gallbladder, sedangkan atropine

merelaksasikannya.10 Distensi antrum gaster menyebabkan kontraksi

gallbladder dan relaksasi sphincter of Oddi.10 Reseptor hormonal terdapat

pada otot polos, pembuluh darah, nervus, dan epitel gallbladder.10 CCK

merupakan peptida yang berasal dari sel-sel epitel traktus gastrointestinal

atas dengan konsentrasi terpekat di duodenum.10 CCK dilepaskan ke

aliran darah oleh asam, lemak dan asam amino di duodenum.10,12 CCK

bereaksi secara langsung pada reseptor otot polos gallbladder dan

menstimulasi kontraksi gallbladder.10 Hormon ini juga merelaksasi ductus

choledochus terminal, sphincter of Oddi dan duodenum.10 Rangsang ini

juga dimediasi oleh neuron vagal kolinergik.10,12

Sphincter of Oddi
Sphincer of Oddi mengatur aliran cairan empedu dan pancreas ke

dalam duodenum, mencegah regurgitasi isi duodenum ke dalam biliary

tree.10 (Gambar 2) Panjangnya berkisar antara 4-6 mm dengan tekanan

basal 13 mmHg di atas tekanan duodenum.9,10 Relaksasi terjadi jika ada

peningkatan CCK yang menyebabkan penurunan amplitude fase kontraksi,

berlanjut dengan penurunan tekanan basal, berakhir dengan mengalirnya

cairan empedu ke dalam duodenum.9,10

2.2 Kolelitiasis

2.2.1 Definisi Kolelitiasis


Kolelitiasis atau batu empedu adalah penyakit rekuren kronik

hepatobilier yang pada dasarnya terjadi akibat ketidakseimbangan

metabolisme dari kolesterol, bilirubin dan asam empedu yang ditandai

dengan pembentukan batu di duktus hepatikus, duktus biliaris komunis,

atau kandung empedu.15

2.2.2 Klasifikasi

Menurut gambaran makroskopik dan komposisi kimianya, batu

empedu dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori mayor.2

1. Batu kolesterol
2. Batu pigmen coklat
3. Batu pigmen hitam
Tabel 1. Perbedaan Batu Kolesterol, Batu Pigmen Hitam, dan Coklat

Karakteristik Batu Kolesterol Batu Pigmen Batu Pigmen

Hitam Coklat
Warna Kuning pucat Hitam Coklat-oranye

putih kecoklatan
Konsistensi Keras, Keras,
Krital berlapis, Mengkilat,
Inti warna gelap Lembek,
Kristal
Jumlah, ukuran, Multipel: 2-25 Multipel: < 5 mm Multipel: 10-30

dan ketajaman mm, halus tidak teratur, mm, bulat, halus


Soliter: 2-4 cm,
halus.
bulat, halus
Komposisi Kolesterol Polimer pigmen Kalsium

monohidrat > (40%), bilirubinat (60%),


Garam Kalsium Calcium faty acid
50%,
Lainnya: (Karbonat, fosfat) soaps palmitat,
glikoprotein, (15%), stearat) (15%),
Kolesterol (2%), Kolesterol (15%),
garam kalsium Lainnya (30%) Lainnya (10%)
Radiodensitas Lusen 50% - opaque Lusen
CT scan < 20-60 >140 60-140

(Hounsfield unit)
Lokasi dalam Kandung empedu, Kandung empedu, Duktus
Duktus Duktus
sistem bilier
intrahepatik
Asosiasi klinik Metabolik, Hemolisis, Infeksi,
Tidak ada infeksi, Sirosis, Infeksi,
Tidak ada Nutrisi parenteral Inflamasi

inflamasi
(Sumber: dikutip dari Majalah Kedokteran Indonesia Volume 57, Nomor 10,

Oktober 2007 dalam “Kolelitiasis Pada Anak” – IW. Gustawan, K. Nomor

Aryasa, IPG. Karyana, IGN. Sanjaya Putra – Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana)16

2.2.3 Etiologi dan Faktor Risiko Kolelitiasis

Faktor risiko utama untuk berkembang menjadi kolelitiasis adalah

jenis kelamin, usia, genetik, dan ras. Faktor-faktor ini termasuk dalam

faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi, sedangkan faktor yang dapat

dimodifikasi atau faktor risiko tambahan pada penyakit ini adalah obesitas,

diet, aktivitas fisik, obat-obatan, hiperlipidemia, penggunaan alkohol, serta

DM tipe 2.5, 6, 17, 24

1. Jenis kelamin
Kolelitiasis lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-

laki, namun perbedaan insidensinya di antara kedua jenis kelamin ini

menurun sering dengan bertambahnya usia. Berdasarkan studi

GREPCO, rasio wanita terhadap laki-laki adalah 2,9 di antara usia 30-
39 tahun, 1,6 di antara usia 40-49 tahun, dan 1,2 di antara usia 50-59

tahun.17
Perbedaan jenis kelamin dan seringnya terdeteksi batu empedu di

wanita hamil dihubungkan dengan alasan hormonal. Peningkatan kadar

estrogen diketahui akan meningkatkan ekskresi kolesterol ke dalam

cairan empedu.
2. Usia
Angka kejadian terdeteksinya kolelitiasis meningkatkan seiring

dengan pertambahan usia menjadikan usia sebagai salah satu faktor

risiko yang perlu diperhatikan pada kolelitiasis. 17 Pada usia 40 tahun ke

atas penyakit batu kandung empedu lebih mudah terbentuk karena

tubuh cenderung mengeluarkan lebih banyak kolesterol ke dalam cairan

tubuh.
3. Genetik
Faktor genetik diduga berperan dalam terjadinya batu empedu.

Risiko pembentukan batu menjadi 2-4 kali lebih tinggi pada individu

yang memiliki keluarga yang menderita kolelitiasis.15


4. Ras
Prevalensi batu kolesterol bervariasi, mulai dari yang paling

rendah (<5%) di populasi di Asia dan Afrika, intermediat (10-30%) di

populasi Eropa dan Amerika Utara, sampai pada yang sangat tinggi (30-

70%) di populasi keturunan asli Amerika (suku Pima dari Arizona). 18

Berdasarkan survei yang dilakukan NHAENES III, menyatakan pada

beberapa survei epidemiologi, bahwa prevalensi kolelitiasis yang

rendah diantara penduduk Amerika berkulit hitam dibandingkan dengan

berkulit putih.18
5. Obesitas
Obesitas diartikan sebagai keadaan dengan IMT lebih dari 30

kg/m2.19 Obesitas diikuti peningkatan sintesis dan ekskresi kolesterol


dalam empedu. Pada waktu bersamaan, sejumlah kolesterol diproduksi

langsung secara proporsional dengan menjadi overweight.15

Tabel 2. IMT dan Status Nutrisi

IMT (kg/m2) Kategori

< 17 Kekurangan berat badan tingkat berat

17,0-18,4 Kekurangan berat badan tingkat

ringan
18,5-25,0 Normal

25,1-27,0 Kelebihan berat badan tingkat ringan

> 27,0 Kelebihan berat badan tingkat berat

Sumber: Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan IMT menurut

Departemen Kesehatan RI

6. Aktivitas Fisik
Berdasarkan studi kohort prospektif, pada laki-laki dengan

kolelitiasis simptomatik, menunjukkan penurunan sekitar 20% pada

mereka yang meningkatkan aktivitas fisiknya menjadi 25 metabolik

ekuivalen per minggu atau setara dengan minimal 30 menit per hari,

lima kali dalam seminggu.19


7. Obat-obatan
Estrogen, prednisolon, siklosporinm azatioprin, sandostatin,

clofibrate, asam nikotinik, dan sejumlah obat jangka panjang lainnya

meningkatkan insidensi kolelitiasis pada wanita yang lebih muda,

khususnya pada periode awal penggunaan konstrasepsi oral.21 Pada

penggunaan jangka panjang kortikosteroid diketahui dapat

menyebabkan dislipoproteinemia, yang ditandai dengan peningkatan

kolesterol plasma total dapat mengubah rasio asam empedu-kolesterol


dan menyebabkan pembentukan batu empedu pada pasien pengguna

kontrasepsi oral atau pasien SLE.


8. Hiperlipidemia
Hiperlipidemia memiliki hubungan yang lemah terhadap

pembentukan kolelitiasis. Walaupun menurut GREPCO (1988), kadar

kolesterol high-density lipoprotein (HDL) yang rendah dan kadar

trigluserida yang tinggi berhubungan dengan kolelitiasis.17


9. DM-tipe 2
Pasien Diabetes Melitus (DM) memiliki faktor risiko lebih tinggi

terhadap kolelitiasis karena terkait dengan hiperkolesteronemia pada

penyakit ini.15 DM mempermudah perkembangan pembentukan

kolelitiasis karena peningkatan trigliseridanya yang berhubungan

dengan obesitas begitupun dengan menimbulkan hipomotilitas dan

stasis kandung empedu.17

2.2.4 Gejala Klinis Kolelitiasis

Sebanyak 75% orang yang memiliki batu empedu tidak

memperlihatkan gejala. Sebagian besar gejala timbul bila timbul bila batu

menyumbat aliran empedu, yang seringkali terjadi karena batu yang kecil

melewati ke dalam duktus koledokus.1

Pasien kolelitiasis dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu pasien

dengan batu empedu asimptomatik, pasien dengan batu empedu

simptomatik, dan pasien dengan komplikasi batu empedu. Kandung

empedu dilapisi oleh peritoneum viseralis, sehingga bila terjadi

peradangan atau cedera akan menimbulkan nyeri yang digolongkan

sebagai nyeri viseral.3 Peritoneum viseralis ini dipersarafi oleh sistem saraf
otonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. Tetapi bila

terjadi tarikan, regangan, atau kontraksi yang berlebihan sehingga

menyebabkan iskemik, maka timbul nyeri.2

Obstruksi saluran empedu oleh batu menyebabkan peningkatan

tekanan intraluminal dan distensi organ viseral yang tidak dapat reda

dengan kontraksi bilier berulang.20 Pada nyeri ini, penderita tidak dapat

menunjukkan dengan tepat letak nyeri, sehingga menggunakan telapak

tangan untuk menunjuk area nyeri.2

Nyeri ini lebih bersifat stabil, bila nyeri terasa lebih dari lima jam,

maka harus dicurigai adanya kolesistitis akut.20 Nyeri kolik merupakan

nyeri viseral akibat spasme otot polos organ berongga dan biasanya

disebabkan oleh hambatan pasase organ tersebut, misalnya obstruksi usus,

batu empedu, dan peningkatan tekanan intralumen. Nyeri ini timbul akibat

hipoksia yang dialami jaringan dinding saluran. Kontraksi ini berjeda,

sehingga kolik yang dirasakan akan hilang timbul. Serangan kolik

biasanya diikuti mual dan muntah sehingga dikenal istilah trias kolik, yaitu

serangan nyeri perut yang kumatan disertai mual atau muntah dan gerak

paksa.2

2.2.5 Patofisiologi Kolelitiasis

Dalam patogenesis terbentuknya batu, komposisi kimia, dan adanya

lipid dalam cairan empedu memegang penting dalam proses pembentukan

batu. Sekitar 8% dari lipid empedu dalam bentuk kolesterol dan 15-20%

dalam bentuk fosfolipid. Keduanya tidak larut dalam air, dan di dalam
cairan empedu terikat dengan garam empedu dengan komposisi 70-80%

dari lipid empedu.16

1. Batu Kolesterol

Ada empat tahapan proses pembentukan batu kolesterol, yaitu

penjenuhan empedu oleh kolesterol atau supersaturasi, pembentukan

nidus, kristalisasi, dan pertumbuhan batu.2 Peningkatan sekresi

kolesterol dapat terjadi pada keadaan obesitas, pertambahan usia, diet

tinggi kalori, kolesterol, dan pemakaian obat yang mengandung

estrogen atau klofibrat.

Konsentrasi empedu yang melebihi indeks saturasi kolesterol

membuat empedu menjadi sangat jenuh. Akibatnya terjadi peningkatan

kolesterol dalam vesikel. Vesikel unilamelar yang jenuh kolesterol ini

berlangsung membentuk vesikel kolesterol multilamelar, kemudian

terbentuk kluster yang dapat bertindak sebagai inti pembentukan kristal

kolesterol. Pembentukan inti ini bisa bersifat homogen dan heterogen.

Pembentukan inti yang bersifat heterogen lebih sering terjadi

dibandingkan dengan homogen. 16

2. Batu Pigmen

Patogenesis batu pigmen melibatkan infeksi saluran empedu,

stasis empedu, malnutrisi, dan faktor diet. Kelebihan aktivitas enzim

beta glukuronidase bakteri dan manusia (endogen) memiliki peranan

penting dalam patogenesis batu pigmen di Asia Timur.3


Sebagian besar batu pigmen terbentuk dari bilirubin yang tak

terkonjugasi. Bilirubin tak terkonjugasi ini normalnya dalam jumlah

sedikit dalam pigmen empedu, sekitar 1-2%, tetapi sangat sensitif untuk

mengalami presipitasi oleh ion kalsium. Peningkatan jumlah bilirubin

tidak terkonjugasi dalam empedu, yang hanya larut dalam micelles,

merupakan penyebab utama dari pembentukan batu pigmen.16

Batu pigmen hitam terjadi akibat supersaturasi kalsium

bilirubinat, karbonat dan fosfat. Paling sering tejadi akibat sekunder

dari penyakit hemolitik seperti penyakit spherocytosis herediter, sickle

cell disease dan pada penderita dengan sirosis.22 Kadar bilirubin

terkonjugasi yang berlebihan seperti pada keadaan hemolitik, mengarah

pada produksi bilirubin tak terkonjugasi. Sirosis meningkatkan sekresi

bilirubin tak terkonjugasi. Bilirubin tak terkonjugasi kemudian

membentuk kompleks dengan ion kalsium bebas membentuk kalsium

bilirubinat yang memiliki sifat sangat tidak larut. Garam kalsium, yaitu

kalsium karbonat dan fosfat diduga terbentuk karena kemampuan

kandung empedu untuk melakukan pengasaman menurun. Kalsium

bilirubinat yang terbentuk akan terikat dengan musin tertahan di

kandung empedu.23

2.2.6 Diagnosis Banding Kolelitiasis


Keluhan utama berupa nyeri di daerah epigastrium atau kuadran

kanan atas. Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang mungkin

berlangsung lebih dari 15 menit, dan kadang baru menghilang beberapa

jam kemudian. Timbulnya nyeri kebanyakan perlahan-lahan, tetapi pada


sepertiga kasus timbul tiba-tiba. Penyebaran nyeri dapat berlangsung ke

punggung bagian tengah, skapula, atau ke puncak bahu, disertai mual

dan muntah.2
Tabel 3. Penyakit kandung empedu

Gejala Klinis Pemeriksaan Diagnosis Treatment

Lab
Batu Asimtomatik Normal USG none

Empedu
Batu Nyeri kolik Normal USG Laparoskopik

Empedu bilier kolesistektomi


Kolesistitis Nyeri Leukositosis USG, Antibiotik
HIDA scan Laparoskopik
akut epigastrium
kolesistektomi
atau kuadaran

kanan atas,

mual, muntah,

demam, Tanda

Murphy positif
Kolesistitis Nyeri kolik Normal USG (menilai Laparoskopik
kolesistektomi
kronik bilier, batu)
Nyeri Oral

epigastrium cholecystogr

atau kuadaran aphy (menilai

kanan atas kandung

yang menetap empedu yang

disfungsi)
Koledokolit Asimtomatik Tes fungsi USG (duktus Endoskopik

iasis atau nyeri hati yang sfinterotomi


kolik bilier, kolestatik, dilatasi), dan ekstraksi
Ikterus, Leukositosis, MRCP,
Demam, dan positif ERCP batu,
Pankreatitis Antibiotik
kultur darah
untuk
pada
kolangitis
kolangitis,
peningkatan

enzim

amilase dan

lipase pada

pankreatitis
(Sumber: diadaptasi dari Current Medical Diagnosis and Treatment, 2008: –

Stephen J. McPhee dan Maxine A. Papadakis)

2.2.7 Penegakan Diagnosis Kolelitiasis


Diagnosis kolelitiasis ditegakan berdasarkan dari anamnesis dan

pemeriksaan fisik serta pemeriksaan USG sebagai pilhan utama untuk

menegakkan diagnosis. Keluhan utama yang muncul pada penderita

kolelitiasis adalah nyeri kuadran kanan atas atau epigastrium. Nyeri kolik

bilier dapat timbul mungkin selama lebih dari 15 menit dan menghilang

setelah beberapa jam.


Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan dengan punktum

maksimum di daerah letak anatomi kandung empedu. Tanda Murphy

positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik napas

panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari

tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik napas.2


Pemeriksaan penunjang dapat berupa pemeriksaan laboratorium dan

pencitraan. Pada pemeriksaan laboratorium, batu kandung empedu yang

asimtomatik tidak menunjukkan kelainan laboratorium. Apabila terjadi


peradangan, dapat terjadi leukositosis atau peningkatan jumlah leukosit.

Kadar bilirubin dapat tinggi apabila terdapat sumbatan di duktus

koledokus. Keadaan hemolitik dapat menyebabkan anemia akibat

penurunan jumlah sel darah merah yang mengalami pemecahan. Kadar

alkalin fosfatase serum dan mungkin amilase serum bisa meningkat setiap

kali ada serangan akut.2


Pemeriksaan darah dan labortorium dipakai juga untuk melihat ada

tidaknya penyakit penyerta yang bertindak sebagai faktor risiko, seperti

penyakit hepatoselular, gangguan metabolisme seperti hemolitik dan DM.

Pada penyakit hepatoselular dapat terjadi peningkatan enzim hati yaitu

SGOT/AST dan SGPT/APT, alkali fosfatase serta bila terjadi gangguan

eksresi hati akibat penyakit hepatoselular dapat pula meningkatkan nilai

bilirubin. Apabila ditemukan sindrom Mirizzi, akan ditemukan kenaikan

ringan bilirubin serum akibat penekanan duktus koledokus oleh batu,

dinding yang udem di daerah kantong Hartmann, dan penjalaran radang ke

dinding yang tertekan tersebut.2


Pencitraan mencakup pemeriksaan non-invasif dan invasif. Teknik

non-invasif berupa Ultrasonografi, CT-scan, dan foto polos, sedangkan

invasif berupa ERCP (kolangiopankreatikografi endoskopi retrograd) dan

PTC (kolangiografi transhepatik perkutan). Ultrasonografi mempunyai

derajat spesifitas dan sensitivitas yang tinggi untuk mendeteksi batu

kandung empedu dan pelebaran saluran intrahepatik maupun

ekstrahepatik. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu

yang menebal karena fibrosis atau udem karena peradangan maupun sebab

lain. Batu yang terdapat pada duktus koledokus distal kadang sulit
dideteksi karena terhalang udara di dalam usus. Dengan USG, punktum

maksimum rasa nyeri pada batu kandung empedu yang gangren lebih jelas

daripada dengan palpasi biasa.2


Foto rontgen dengan kolangiopankreatikografi endoskopi retrograd

(ERCP) di papila Vater atau melalui kolangiografi transhepatik perkutan

(PTC) berguna untuk pemeriksaan batu di duktus koledokus. Indikasinya

ialah batu kandung empedu dengan gangguan fungsi hati yang tidak dapat

dideteksi dengan USG dan kolesistografi oral, misalnya karena batu kecil.

Kolangiopankreatikografimagnetik resonansi(MRCP) memberikan detil

anatomi yang sangat jelas dan memiliki sensitivitas 95% dan spesifitas

89% untuk mendiagnosis batu pada duktus koledokus.

2.2.8 Penatalaksanaan Kolelitiasis


Penatalaksaan kolelitiasis dibedakan menjadi dua yaitu non-operatif

dan operatif.2 Ada juga yang membagi berdasarkan ada/tidaknya gejala

yang menyertai kolelitiasis, yaitu penatalaksanaan pada kolelitiasis

simptomatik dan asimptomatik.16


Gambar 5. Bagian Alur Diagnosis dan Penatalaksanaan Kolelitiasis

(Pharma, 2004)
(Sumber: dikutip dari Majalah Kedokteran Indonesia Volume 57,

Nomor 10, Oktober 2007 dalam “Kolelitiasis Pada Anak” – IW.

Gustawan, K. Nomor Aryasa, IPG. Karyana, IGN. Sanjaya Putra –

Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas

Udayana)16

1. Tatalaksana Non-Operatif
Tatalaksana non bedah dapat berupa lisis batu, litotripsi dengan

ESWL (Extracorporeal Shock-Wave Lithotripsy). Penderita kolelitiasis


yang diobati dengan tindakan non-operatif harus memenuhi indikasi

sebagai berikut: (1) Diameter batu < 20 mm, (2) Kurang dari 4 buah

batu, (3) Kandung empedu yang masih baik, (4) Gejala ringan.
a. Lisis Batu
b. Litotripsi dengan ESWL

2. Tatalaksana Operatif
Pebedahan pada kolelitiasis dapat berupa pengangkatan kandung

empedu (kolesistektomi) dan/atau pengangkatan batu pada duktus

biliaris komunis (koledokolitomi).1


Kolesistektomi merupakan penanganan optimal dalam

membuang batu maupun vesika biliaris, mencegah rekurensi penyakit.

Rekomendasi untuk dilakukannya kolesistektomi pada penderita batu

empedu sebaiknya harus berdasarkan penilaian tiga faktor: (1) hadirnya

gejala yang sering dan cukup mengganggu rutinitas pasien; (2) adanya

kemungkinan terjadinya komplikasi; (3) adanya kondisi predisposisi

pada pasien yang meningkatkan faktor risiko komplikasi (klasifikasi

batu empedu, pernah mengalami serangan kolesistitis akut).


Kolesistektomi dapat dilakukan dengan dua prosedur yaitu

dengan open cholecystectomy dan Laparoscopic cholecystectomy

(Beckingham, 2001). Kolesistektomi terbuka merupakan standar terbaik

untuk penanganan pasien dengan batu empedu simtomatik. Komplikasi

yang paling bermakna, cedera duktus biliaris, terjadi dalam kurang dari

0,2% pasien. Angka mortalitas yang dilaporkan untuk prosedur ini telah

terlihat dalam penelitian baru-baru ini, yaitu kurang dari 0,5%. Indikasi

yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren,

diikuti oleh kolesistitis akut.


Kolesistektomi laparoskopik adalah teknik pembedahan invasif

minimal. Sejak pertama kali diperkenalkan, teknik bedah laparoskopik

ini telah memperlihatkan keunggulan yang bermakna dibandingkan

dengan teknik bedah konvensional. Rasa nyeri yang minimal, masa

pulih yang cepat, masa rawat yang pendek dan luka parut yang sangat

minimal merupakan kelebihan bedah laparoskopik.3


Gambar 6. Laparoscopic Cholecystectomy dan Open

Cholecystectomy

(Sumber:http://www.gallstonebusters.co.uk)
2.2.9 Komplikasi Kolelitiasis
Pada yang mengalami obstruksi di duktus sistikus, komplikasinya

berupa keganasan kandung empedu, koledokolitiasis sekunder, kolesistitis

akut yang menimbulkan empiema, perikolesistitis dan perforasi, serta

kolesistitis kronik yang dapat menimbulkan hidrops, dan empiema

kandung empedu, fistel kolesistoenterik, dan ileus batu empedu.

Komplikasi apabila batu di saluran koledokus, yaitu asimtomatik, kolik,

ikterus obstruktif, sirosis hepatis bilier, kolangitis, abses hati multipel,

fibrosis papil Vater dan pankreatitis.2

Gambar 7. Bagan Komplikasi Kolelitiasis (Shaffer, 2000)


(Sumber: dikutip dari Majalah Kedokteran Indonesia Volume 57,

Nomor 10, Oktober 2007 dalam “Kolelitiasis Pada Anak” – IW.

Gustawan, K. Nomor Aryasa, IPG. Karyana, IGN. Sanjaya Putra –

Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas

Udayana)16
2.2.10 Prognosis Kolelitiasis
Setelah diterapi dengan oral lisis theraphy, angka kekambuhan setiap

tahunnya adalah sekitar 10% dalam lima tahun, dan yang paling sering

selama dua tahun pertama. Risiko kekambuhan lebih sedikit pada pasien

dengan batu primer tunggal daripada pasien dengan batu multiple. Angka

kekambuhan setelah diterapi ESWL adalah 14.5% dalam 10 tahun.15

Bedasarkan literatur ilmu bedah menyatakan 3-10% pasien yang

melakukan kolesistektomi akan mengalami batu duktus biliaris komunis.7


2.3 Kerangka Teori

Kolesterol yang berlebihan di kandung Penurunan faktor antinukleasi


empedu: Diet, usia, jenis kelamin, obesitas, (inhibitor) atau Peningkatan faktor
penurunan berat badan yang cepat, nukleasi (promotor)
penurunan aktivitas fisik, kontrasepsi oral,
kehamilan, obat-obatan

↑ Bilirubin Lesitin
Bilirubin Diglukuronide
Infeks
i Beta-
Nukleasi Glukuronidas
e
↑ Bilirubin tak terkonjugasi
Beta-Glukuronidase Fosfolipase Al

Kalsium Bilirubinat,
Bilrubin tak terkonjugasi Asam lemak
Kalsium Karbonat,
Kalsium Fosfat

Calsium precipates
Agregasi
Musin
Musin

Kolelitiasis

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif retrospektif. Data

berupa data sekunder yang didapatkan dari catatan rekam medic pasien.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

meliputi bagian rekam medik dan Departemen Bedah dari bulan Agustus

sampai dengan Oktober 2016.


3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah semua penderita kolelitiasis yang

datang berobat ke RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang dalam rentang

waktu 1 Januari 2014 sampai 31 Desember 2015.

3.3.2 Sampel

a. Besar Sampel

Besar sampel sama dengan jumlah populasi (total sampling).

b. Cara Pengambilan Sampel

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan total

sampling dan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari catatan

rekam medik penderita kolelitiasis yang dilakukan pembedahan,

kemudian dilakukan pencatatan sesuai variabel yang diteliti.

3.4 Variabel Penelitian

3.4.1 Usia

3.4.2 Jenis Kelamin

3.4.3 Indeks Massa Tubuh

3.4.4 Pekerjaan

3.4.5 Tempat Tinggal

3.4.6 Gejala Klinis

3.4.7 Temuan Laboratorium

3.4.8 Jenis Tatalaksana Operatif

3.5 Definisi Operasional Penelitian


3.5.1 Usia

Usia adalah periode hidup yang diukur oleh tahun sejak lahir.

Alat ukur: rekam medik.

Cara ukur: melihat rekam medik.

Hasil ukur:

a. < 40 tahun

b. ≥ 40 tahun

3.5.2 Jenis Kelamin

Jenis kelamin adalah kelompok berdasarkan identitas diri.

Alat ukur: rekam medik.

Cara ukur: melihat rekam medik.

Hasil ukur:

a. Laki-laki
b. Perempuan

3.5.3 Indeks Massa Tubuh

Indeks massa tubuh adalah nilai yang diambil dari perhitungan

antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang yang merupakan

indikator atau menggambarkan kadar adipositas dalam tubuh seseorang.

Alat ukur: rekam medik.

Cara ukur: melihat rekam medik

Hasil ukur:

Tabel 4
IMT (kg/m2) Kategori

< 17 Kekurangan berat badan tingkat berat

17,0-18,4 Kekurangan berat badan tingkat

ringan
18,5-25,0 Normal

25,1-27,0 Kelebihan berat badan tingkat ringan

> 27,0 Kelebihan berat badan tingkat berat

Sumber: Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan IMT menurut

Departemen Kesehatan RI

3.5.4 Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan sehari-hari.

Alat ukur: rekam medik.

Cara ukur: melihat rekam medik.

Hasil ukur:

a. Tidak bekerja
b. Aktivitas statis (duduk) seperti pekerja kantoran, sopir atau dokter
c. Aktivitas tinggi seperti buruh atau petani.

3.5.5 Tempat Tinggal

Tempat tinggal adalah tempat dimana penderita menetap dan

menjalankan rutinitas sehari-hari dalam kurun waktu yang lama.

Alat ukur: rekam medik.

Cara ukur: melihat rekam medik.

Hasil ukur:

a. Di perkotaan
b. Di pedesaan

3.5.6 Gejala Klinis


Gejala klinis merupakan ada atau tidaknya keluhan yang

dirasakan oleh penderita kolelitiasis sebelum penderita dirawat atau

selama menjalani pengobatan untuk kolelitiasis.

Alat ukur: rekam medik.

Cara ukur: melihat rekam medik.

Hasil ukur:

a. Asimptomatik : Keadaan penderita yang terdiagnosis kolelitiasis

tanpa keluhan gejala-gejala kolelitiasis seperti kolik bilier, nyeri

kuadaran kanan atas, nyeri epigastrium, dan nyeri ulu hati atau

terdiagnosis kolelitiasis secara tidak sengaja saat pemeriksaan.


b. Simptomatik : Keadaan penderita yang terdiagnosis kolelitiasis

dengan keluhan utama gejala-gejala kolelitiasis seperti kolik bilier,

nyeri kuadran kanan atas, nyeri epigastrium dan nyeri ulu hati.

3.5.7 Temuan Laboratorium

Temuan laboratorium merupakan hasil pemeriksaan laboratorium

yang digunakan untuk menunjang penegakan diagnosis kolelitiasis.

Standar nilai laboratorium yang digunakan berdasarkan yang tercantum

pada SOP normal/abnormal dari bagian laboratorium Rumah Sakit

Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang.

Alat Ukur: rekam medik.

Cara ukur: melihat rekam medik.

Hasil ukur:

a. Hemoglobin (Hb)
Normal: ♂: 13,2-17,3 g/dl ♀: 11,7-15,5 g/dl
b. Leukosit
Normal: 4.500 - 11.000 /μlc
c. Bilirubin total
Normal: 0,1-1,0 mg/dl
d. Bilirubin direk
Normal: 0-0,2 mg/dl
e. Bilirubin indirek
Normal: < 0,8 mg/dl
f. SGOT
Normal: 0-38 U/I
g. SGPT
Normal: 0-41 U/I
h. Gula darah sewaktu (GDS)
Normal : < 200 mg/dl
i. Total kolesterol
Normal: < 200 mg/dl

j. Trigliserida

Normal: < 150 mg/dl

k. LDL

Normal: < 100 mg/dl

l. HDL

Normal: >55 mg/dl

3.5.8 Tatalaksana Operatif

Tatalaksana operatif adalah jenis teknik operatif yang digunakan

dalam mengobati penderita kolelitiasis.


Alat ukur: rekam medik.
Cara ukur: melihat rekam medik.
Hasil ukur:
a. Laparoscopic Cholecystectomy
b. Open Cholecystectomy

3.6 Cara pengumpulan, Pengolahan dan Analisa Data Penelitian

3.6.1 Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data penelitian ini adalah dengan mencatat data

sekunder penderita kolelitiasis. Data tersebut diambil dari Bagian Rekam

Medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.


3.6.2 Cara Pengolahan dan Analisis Data

Data yang terkumpul dari Bagian Rekam Medik RSUP Dr.

Moehammad Hoesin Palembang ini dikelompokkan dalam variabel

penelitian dan selanjutnya disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel

distribusi dan narasi sebagai pelengkap. Pengolahan data dilakukan

dengan menggunakan perangkat lunak berupa Statistical Package for

Social Science (SPSS) versi 21.0.

3.7 Kerangka Operasional

Pendataan penderita kolelitiasis


di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

Rekam medik penderita kolelitiasis Januari 2014 sampai Desember 2015 di


RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Variabel yang diteliti:
- Usia
- Jenis Kelamin
- Indeks Massa Tubuh
-Pekerjaan
- Tempat Tinggal
- Gejala Klinis
- Temuan Laboratorium
- Tatalaksana Operatif

Pendataan sampel penelitian

Pengolahan dan analisa data

Hasil penelitian

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian


Data penelitian diperoleh dari Bagian Rekam Medik RSUP Dr. Mohammad

Hoesin Palembang yang tercatat sejak Januari 2014 hingga Desember 2015. Data

yang diteliti, meliputi usia, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, indeks massa

tubuh, gejala klinis, temuan laboratorium, tatalaksana operatif, penderita

kolelitiasis.

Pengambilan data dilaksanakan dari bulan Agustus sampai September 2016

di Bagian Rekam Medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Jumlah

penderita kolelitiasis yang dirawat inap di Departemen Bedah RSUP Dr.

Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2014-Desember 2015 adalah 367

rekam medik, namun berkas yang ditemukan hanya 198 (53,95%) rekam medik.

Dari data tersebut hanya ada 183 (49,86%) kasus kolelitiasis yang status rekam

mediknya lengkap di Bagian Rekam Medik Pusat RSUP Dr. Mohammad Hoesin

Palembang.

Hasil penelitian yang tertulis dituangkan dalam bentuk tabel, grafik dan

diterangkan dalam bentuk narasi.

4.1.1. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Usia

Dari 183 sampel yang diambil di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang,

didapatkan bahwa penderita kolelitiasis yang berusia < 40 tahun sebanyak 43

sampel (23,5%) sedangkan yang berusia ≥ 40 tahun sebanyak 140 sampel

(76,5%). Penderita kolelitiasis termuda berusia 22 tahun, sedangkan penderita

tertua berusia 75 tahun. Tabel di bawah ini menunjukkan distribusi penderita

kolelitiasis menurut usia:

Tabel 5.Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Usia


Usia Frekuensi Persentase (%)
< 40 tahun 43 23,5
≥ 40 tahun 140 76,5
Total 183 100,0

Gambar 8.Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Usia

4.1.2. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Jenis Kelamin

Dari 183 sampel yang diambil di RSUP Dr. Mohammad Hoesin

Palembang, didapatkan bahwa penderita kolelitiasis ditinjau dari jenis kelamin

yang paling banyak adalah perempuan, yaitu 119 sampel (65%), sedangkan laki-

laki sebanyak 64 sampel (35%). Tabel di bawah ini menunjukkan distribusi

penderita kolelitiasis menurut jenis kelamin.

Tabel 6.Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)


Laki-laki 64 35,0
Perempuan 119 65,0
Total 183 100,0
Gambar 9.Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Jenis Kelamin

4.1.3. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Indeks Massa Tubuh

Dari 183 sampel yang diambil di RSUP Dr. Mohammad Hoesin

Palembang, didapatkan bahwa indeks massa tubuh penderita kolelitiasis paling

banyak adalah indeks massa tubuh dengan kategori normal ,yaitu 110 sampel

(60,1%), sedangkan yang paling sedikit adalah indeks massa tubuh dengan

kategori kekurangan berat badan tingkat berat, yaitu 3 sampel (1,6%). Penderita

dengan indeks massa tubuh paling rendah adalah 14,56 kg/m2, sedangkan paling

tinggi dengan indeks massa tubuh 41 kg/m2. Tabel di bawah ini menunjukkan

distribusi penderita kolelitiasis menurut indeks massa tubuh.

Tabel 7.Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Indeks Massa Tubuh

Frekuensi Persentase
2
IMT (kg/m ) Kategori
(%)
Kekurangan berat badan 3 1,6
<17,0
tingkat berat
Kekurangan berat badan 5 2,7
17,0-18,4
tingkat ringan
18,5-25,0 Normal 110 60,1
Kelebihan berat badan 20 10,9
25,1-27,0
tingkat ringan
Kelebihan berat badan 45 24,6
>27,0
tingkat berat
Total 183 100,0

Gambar 10. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Indeks Massa Tubuh

4.1.4. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Pekerjaan

Dari 183 sampel yang diambil di RSUP Dr. Mohammad Hoesin

Palembang, ditinjau dari jenis pekerjaan didapatkan bahwa paling banyak

penderita kolelitiasis tidak bekerja yaitu 94 sampel (51,4%), sedangkan yang

paling sedikit adalah penderita dengan aktifitas tinggi yaitu 25 sampel (13,7%)

Tabel di bawah ini menunjukkan distribusi penderita kolelitiasis menurut

pekerjaan.

Tabel 8. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Pekerjaan

Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)


Aktifitas statis 64 35,0
Aktifitas tinggi 25 13,7
Tidak Bekerja 94 51,4
Total 183 100,0

Gambar 11. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Pekerjaan

4.1.5. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Tempat Tinggal

Berdasarkan tempat tinggal, kolelitiasis dapat diderita oleh masyarakat

perdesaan dan perkotaan. Tabel di bawah ini menunjukkan karakteristik penderita

kolelitiasis menurut tempat tinggal.

Tabel 9. Karakteristik Penderita Kolelitiasis Menurut Tempat Tinggal

Tempat tinggal Frekuensi Persentase (%)


Perkotaan 143 78,1
Perdesaan 40 28,9
Total 183 100,0
Gambar 12. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Tempat Tinggal

Dari data yang didapatkan masyarakat perkotaan lebih memiliki

kecenderungan untuk menderita kolelitiasis dibanding masyarakat perdesaan.

Masyarakat perkotaan yang menderita kolelitiasis ke RSUP Dr. Mohammad

Hoesin pada periode Januari 2014 sampai Desember 2015 berasal dari kota

Palembang, Bandar Lampung, Bangka, Belitung, Jambi dan Bengkulu, sedangkan

masyarakat perdesaan berasal dari Banyuasin, OKI, Kayu Agung, Sekayu, Lahat,

Lubuk Linggau, Baturaja, Muara Enim, Prabumulih dan Pagaralam.

4.1.6. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Gejala Klinis

Berdasarkan gejala klinis, penderita kolelitiasis dapat dibedakan dari

penderita yang memiliki gejala (simptomatik) dan pasien yang tidak memiliki

gejala (asimptomatik). Tabel di bawah ini menunjukkan distribusi penderita

kolelitiasis ditinjau dari gejala klinis.

Tabel 10. Distribusi Penderita Kolelitiasis Ditinjau dari Gejala Klinis

Gejala Klinis Frekuensi Persentase (%)


Asimptomatik 0 0
Simptomatik 100 100.0
Total 99 100,0
Dari tabel di atas, didapatkan bahwa seluruh penderita kolelitiasis di

Departemen Bedah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan Januari

2014 sampai Desember 2015, memiliki keluhan/gejala klinis (simptomatik),

sedangkan penderita yang datang tanpa keluhan seperti saat medical check up

tidak ditemukan.

Gambar 13. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Gejala Klinis

4.1.7. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Temuan Laboratorium

Dari 183 sampel yang diambil di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

didapatkan bahwa temuan laboratorium pada penderita kolelitiasis bervariasi.

Tabel dibawah ini menunjukkan distribusi penderita kolelitiasis menurut temuan

laboratorium.

Tabel 11. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Temuan Laboratorium


Temuan Meningkat Tidak ada Total
Menurun Normal
Laboratorium data
Hb 3 (1,6%) 180 (98,4%) 0 0 183
Leukosit 1 (0,5%) 148 (80,9%) 34 (18,6%) 0 183
Bilirubin total 0 157 (85,8%) 26 (14,2%) 0 183
Bilirubin direk 0 102 (55,7%) 81 (44,3%) 0 183
Bilirubin indirek 0 168 (91,8%) 15 (8,2%) 0 183
SGOT 0 98 (53,6%) 29 (15,8%) 56 (20,6%) 183
SGPT 0 93 (50,8%) 34 (18,6%) 56 (20,6%) 183
Gula darah sewaktu 0 155(84,7%) 9 (4,9%) 19 (10,4%) 183
Kolesterol total 0 19 (10,4%) 13 (7,1%) 151 (82,5%) 183
LDL 0 7 (3,8%) 25 (13,7%) 151 (82,5%) 183
HDL 0 6 (3,3%) 26 (14,2%) 151 (82,5%) 183
Trigliserida 0 25 (13,7%) 7 (3,8%) 151 (82,5%) 183

Gambar 14. Distribusi Penderita Kolelitiasis menurut Temuan Laboratorium

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa penderita kolelitiasis di RSUP

Dr.Mohammad Hoesin periode Januari 2014 sampai Desember 2015 terbanyak

mempunyai temuan laboratorium dengan Hb normal (98,4%), leukosit normal

(80,8%), bilirubin total normal (85,8%), bilirubin direk normal (84,8%), bilirubin

indirek normal (97%), SGOT normal (55,7%), SGPT normal (91,8%), gula darah
sewaktu normal (84,7%) namun untuk temuan kolesterol total, LDL, HDL,

trigliserida tidak dapat ditentukan karena data yang didapat tidak lengkap.

4.1.8. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Tatalaksana Operatif

Pada penelitian ini, tatalaksana operatif kolelitiasis dibedakan menjadi dua

yaitu laparoscopic cholecystectomy dan open cholecystectomy. Tabel di bawah ini

menunjukkan karakteristik penderita kolelitiasis ditinjau dari tatalaksana operatif.

Tabel 12. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Tatalaksana Operatif

Tatalaksana Operatif Frekuensi Persentase (%)


Laparoscopic Cholecystectomy 164 89,6
Open Cholecystectomy 19 10,4
Total 183 100,0

Gambar 15. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Tatalaksana Operatif


Dari data di atas didapatkan bahwa tatalaksana operatif Laparoscopic

Cholecystectomy lebih menjadi pilihan untuk penderita kolelitiasis yaitu sebanyak

164 sampel (89,6%) dibanding dengan Open Cholecystectomy sebanyak 19

sampel (10,4%) .

4.2. Pembahasan

4.2.1. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Usia

Berdasarkan hasil pada tabel 5, diketahui bahwa penderita kolelitiasis

paling banyak berusia ≥ 40 tahun yaitu sebanyak 140 sampel (76,5%). Penderita

kolelitiasis termuda berusia 22 tahun, sedangkan penderita tertua berusia 75 tahun.

Hal ini ssejalan dengan hasil penelitian, bahwa pada usia 40 tahun keatas penyakit

batu kandung empedu lebih mudah terbentuk karena tubuh cenderung

mengeluarkan lebih banyak kolesterol ke dalam cairan tubuh.24 Hal yang sama

juga dipaparkan dalam jurnal dari bagian radiologi FK Unstrat, dijelaskan bahwa

orang-orang di atas usia 40 lebih mungkin untuk terkena penyakit batu empedu

dibandingkan orang yang lebih muda. Hal ini dikaitkan dengan banyak faktor

seperti kurangnya aktivitas fisik, olahraga yang tidak teratur, diet rendah serat dan

tinggi kolesterol serta faktor menurunnya motilitas kandung empedu.25

4.2.2. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil pada Tabel 6 penderita kolelitiasis lebih banyak diderita

oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Pada penelitian ini didapatkan hasil 119

perempuan (65%) menderita kolelitiasis sedangkan laki-laki sebanyak 64 orang

(35%) yang menderita kolelitiasis.


Hasil penelitian ini sejalan dengan NHANES III (National Health and Nutrition

Examination Survey) yang menyatakan bahwa penyakit batu kandung empedu

lebih tinggi resikonya terjadi pada wanita di bandingkan pada pria. 3 Selain itu juga

tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Asuquo dkk.

(2008) yang menyebutkan insidensi perempuan lebih tinggi 5 kali lipat daripada

laki-laki.26 Perbedaan jenis kelamin ini karena dipengaruhi oleh adanya faktor

hormon esterogen dan progesteron pada wanita. Faktor hormon estrogen ini dapat

meningkatkan sekresi kolesterol empedu. Apalagi pada saat wanita tersebut

sedang mengalami proses kehamilan dan memakai kontrasepsi yang mengandung

hormon. Hormon estrogen dapat meningkatkan sekresi kolesterol dan mengurangi

sekresi garam empedu sedangkan progestin selain dapat mengurangi sekresi

garam empedu juga mengganggu pengosongan kandung empedu27

4.2.3. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Indeks Massa Tubuh

Berdasarkan hasil penelitian, distribusi penderita kolelitiasis indeks massa

tubuh penderita kolelitiasis paling banyak adalah indeks massa tubuh dengan

kategori normal ,yaitu 110 sampel (60,1%). Hal ini berbeda dengan penelitian

pada tahun 2011 di RS. Colombia Asia Medan dimana penderita kolelitiasis paling

banyak mengalami obesitas.4 Angka kejadian kolelitiasis pada pasien obesitas

meningkat di beberapa negara berkembang seperti China. Obesitas menjadi salah

satu faktor risiko terjadinya kolelitiasis. Sedikitnya 25% dari penderita yang

mengalami obesitas menderita kolelitiasis.

Obesitas dihubungkan dengan peningkatan aktifitas sintesis kolesterol,

enzim-enzim hati, 3-hydroxyl-3-methyl-glutaryl co-enzyme A (HMG-CoA)


reduktase yang menyebabkan peningkatan sintesis kolesterol di hati dan

peningkatan sekresi di empedu. Batu kandung empedu dianggap sebagai

gangguan pembuangan kolesterol. Cairan empedu mengandung sejumlah besar

kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi

jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk

endapan di luar empedu. Akibat dari endapan ini akhirnya membentuk batu. 27

4.2.4. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Pekerjaan

Berdasarkan data yang telah didapatkan dari penelitian, paling banyak

penderita kolelitiasis tidak bekerja. Menurut Stinton dan Shaffer (2012) masalah

status sosioekonomi dan kolelitiasis masih kontroversial. Menurunnya aktivitas

fisik dihubungkan dengan faktor risiko terjadinya kolelitiasis. Peningkatan

aktivitas fisik seperti olahraga ringan 30 menit selama 5 kali dalam seminggu

yang rutin bisa mengurangi kejadian kolelitiasis.27

4.2.5. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Tempat Tinggal

Berdasarkan data yang telah didapatkan dari penelitian, distribusi

penderita kolelitiasis tinggi pada masyarakat perkotaan dibandingkan dengan

masyarakat perdesaan. Hal ini sejalan dengan penelitian Agrawal bahwa

perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan yang sering mengkonsumsi makanan

siap saji, kurang mengkonsumsi makan berserat dan kebiasaan mengkonsumsi

alkohol serta merokok, sehingga meningkatkan kolesterol dan menurunkan

motilitas kandung empedu yang akan memperbesar kemungkinan terbentuknya

kolelitiasis.17
4.2.6. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Gejala Klinis

Berdasarkan data yang telah didapatkan dari penelitian, semua penderita

kolelitiasis mempunyai keluhan (simptomatik). Penelitian yang dilakukan Ahmed

dkk (2000) menunjukkan hasil yang berbeda, dalam penelitiannya sebanyak 60-

80% pasien datang dengan gejala klinis asimptomatik. Selain itu lebih dari 80%

penderita kolelitiasis di Amerika sering tidak menunjukkan gejala klinis dan

penyakit ini baru diketahui sewaktu pemeriksaan ultrasonografi.27 Perbedaan hasil

penelitian ini terhadap teori yang ada kemungkinan disebabkan di Indonesia

medical check up belum menjadi keharusan dan kesadaran masyarakat dalam

meningkatkan derajat kesehatan mereka, sehingga pasien kolelitiasis jarang

ditemukan saat tidak memiliki keluhan.

4.2.7. Distribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Temuan Laboratorium

Sebagian besar hasil pemeriksaan laboratorium penderita kolelitiasis adalah

normal, hal ini sejalan dengan Dauer dan Lammert (2009) yang menyatakan

bahwa penderita kolelitiasis tanpa komplikasi biasanya memiliki pemeriksaan

laboratorium yang normal.28

Menurut Stinton dan Shaffer (2012) penyakit batu empedu dengan jenis batu

yang berasal dari kolesterol merupakan jenis gangguan metabolisme yang

berhubungan dengan kelainan lipid, penyakit diabetes mellitus dan adipositas. 27

Pasien dengan kadar HDL yang rendah dan trigliserida yang tinggi memiliki

risiko tinggi terkena kolelitiasis. Hal ini biasanya terjadi pada pasien dengan

sindrom metabolik yang ditandai dengan gejala seperti obesitas perut, tekanan
darah tinggi, peningkatan kadar glukosa puasa, peningkatan kadar trigliserida dan

penurunan kadar HDL. Resistensi insulin dapat menyebabkan peningkatan sekresi

kolesterol di hati, menghambat sintesis garam empedu dan atau merusak motilitas

kandung empedu sehingga menimbulkan hipomotilitas dan stasis kandung

empedu sehingga terjadi pembentukan batu empedu.

4.2.8. Distiribusi Penderita Kolelitiasis Menurut Tatalaksana Operatif

Berdasarkan hasil penelitian, Laparoscopic Cholecystectomy lebih menjadi

pilihan penderita kolelitiasis yaitu sebanyak 164 sampel (89,6%) dibanding

dengan Open Cholecystectomy sebanyak 19 sampel (10,4%) .Hal ini didukung

penelitian Habib dkk (2009) yang dilakukan pada 124 penderita kolelitiasis yang

memiliki gejala klinis didapatkan tindakan Laparoscopic Cholecystectomy

sebanyak 86,29% dan Open Cholecystectomy sebanyak 13,70%.29


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari penelitian karakteristik karakteristik penderita kolelitiasis yang

dilakukan pembedahan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode

Januari 2014 sampai Desember 2015 menggunakan data sekunder berupa 183

rekam medik, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.


1) Distribusi usia terbanyak yang menderita kolelitiasis periode Januari 2014

sampai Desember 2015 adalah ≥ 40 tahun sebanyak 140 sampel (76,5%).

Penderita kolelitiasis termuda berusia 22 tahun, sedangkan penderita tertua

berusia 75 tahun.
2) Perbandingan jumlah penderita kolelitiasis perempuan dan laki-laki adalah

2:1.
3) Indeks massa tubuh penderita kolelitiasis paling banyak adalah indeks

massa tubuh dengan kategori normal yaitu 60,1%. Penderita dengan indeks

massa tubuh paling rendah adalah 14,56 kg/m2, sedangkan paling tinggi

dengan indeks massa tubuh 41 kg/m2.


4) Penderita kolelitiasis sebagian besar tidak bekerja yaitu sebesar 51,4%.
5) Penderita kolelitiasis sebagian besar bertempat tinggal di daerah perkotaan

yaitu sebesar 78,1%.


6) Semua penderita kolelitiasis datang dengan keluhan/simptomatik (100%).
7) Sebagian besar temuan laboratorium dengan Hb normal (98,4%), leukosit

normal (80,8%), bilirubin total normal (85,8%), bilirubin direk normal

(84,8%), bilirubin indirek normal (97%), SGOT normal (55,7%), SGPT

normal (91,8%), gula darah sewaktu normal (84,7%) namun untuk temuan

kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida tidak dapat ditentukan karena data

yang didapat tidak lengkap.


8) Tatalaksana operatif Laparoscopic Cholecystectomy lebih menjadi pilihan

penderita kolelitiasis yaitu sebanyak 89,6%.


5.2 Saran

Berdasarkan hasil dan kesimpulan penelitian ini peneliti menyarankan

beberapa hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan agar penelitian ini dapat

dilanjutkan dengan lebih baik.

1) Dokter hendaknya melengkapi data-data klinis pasien terutama data

anamnesis, pemeriksaan fisik, temuan laboratorium dan data demografi

pasien seperti tempat tinggal dan pekerjaan.


2) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan data yang lebih lengkap

dengan desain kohort agar didapatkan hasil yang lebih akurat.


3) Perlu dilakukan upaya pencegahan dan penekanan angka kejadian

kolelitiasis melalui upaya promotif dan preventif kesehatan dengan tujuan

menurunkan angka kejadian kolelitiasis .

DAFTAR PUSTAKA

1. Price SA dan Wilson LM. Patofisiologi: “Konsep Klinis Proses-proses

Penyakit” Vol.1. Ed ke-6. Terjemahan oleh: Pendit Bramh U. et al. EGC,

Jakarta, Indonesia.2006. hal. 502-503.


2. Sjamsuhidajat R dkk. Buku Ajar Ilmu Bedah-de Jong. EGC. Jakarta,

Indonesia. 2011. hal. 674-682.


3. Sudoyo AW dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Ed ke-5. Jakarta

Internal Publishing. 2011. hal. 721-725.


4. Ginting S. A Description Characteristic Risk Factor of The Cholelitiais

Disease in The Colombia Asia Medan Hospital. 2011


5. Mills JC, Stappenbeck TS, Bunnett NW. Gastrointestinal disease. In:

McPhee SJ, Hammer GD, eds. Pathophysiology of Disease: An

Introduction to Clinical Medicine. 6th ed. New York, NY: McGraw-Hill

Medical; 2010
6. Marschall HU, Einarsson C. Gallstone disease. J Intern Med.

2007;261:529–542.
7. Schirmer B, Winters KL, Edlich RF. Cholelithiasis and Cholecystitis.

Journal of Long-Term Effects of Medical Implants. 2005. 15(3):329


8. Eur J Gastroenterol Hepatol. 2000. Dec; 12(12): 1347-52.

(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11192327 ).
9. Williams NS, Bulstrode CJK, O’Connel PR. The Gall Bladder and Bile

Ducts. In: Bailey and Love’s Short Practice of Surgery. 26 th ed. New York :

CRC Press Taylor and Francis Group, 2013, 1097-110.


10. Oddsatir M. Gallbladder and The Extrahepatic Billiary System. In:

Schwartz’s Principles of Surgery. 9th ed. New York : The McGraw-Hill

Companies, 2010, 209-32.


11. Delaney CP et al. Laparoscopic Cholecystectomy. In Netter’s Surgical

Anatomy and Approaches, 1st ed. Ohio : Elsevier, 2014, 127-40.


12. Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Liver and Billiary Tract. In Robbins and

Cotran Pathologic Basis of Disease. 7th ed. Chicago: Elsevier, 2005, 877-

915.
13. Skandalakis JE (Ed). Extrahepatic Billiary Duct and Gallbladder. In :

Skandalakis’ Surgical Anatomy. New York : The McGraw-Hill Companies,

2002.
14. Guyton AC dan Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed. Ke-11.

Terjemahan oleh: Irawati et al. EGC, Jakarta, Indonesia. 2008. hal. 843-

846.
15. Reshetnyak VI. Concept of the Pathogenesis and Treatment of

Cholelithiasis. World Journal of Hepatology. 2012. 4(2):18-34.


16. Gustawan IW dkk. Kolelitiasis pada Anak. Majalah Kedokteran Indonesia.

2007. 57(10):353-362.
17. Agrawal. The Gallstone Story: Pathogenesis and Epidemiology. Partical

Gastroenterology. 2010. 4: 11-23


18. Acalovschi M. Cholesterol Gallstones: From Epidemiology to Prevention.

Postgrad Med J. 2001. 77: 221-229.


19. Bellows CF, Berger DH, dan Crass RA. Management of Gallstone.

American Family Physician. 2005. 4: 637-642.


20. Fauci AS, Braunwald E, Kasper Dl, et al. Harrison’s Principles of Internal

Medicine. 2008. Vol. I. Ed. ke-17. McGraw Hill. USA.


21. Khan MK, Jalil MA dan Khan MS. Oral Contraceptives in Gallstone

diseases. Mymensingh Med J. 2007. 16:S40-S45.


22. Silbernagl S dan Florian L. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi.

Terjemahan oleh: Setiawan Iwan et al. EGC, Jakarta, Indonesia. 2007.


23. Heubi JE, dkk. Diseases the Gallbladder in Infancy, Childhood and

Adolescence. Liver Disease in Children. Ed ke-2. Lippincott Wiliams &

Wilkins, Philadelphia, USA. 2001. hal. 343-359


24. Mayo Clinic,. “Gastroenterology and Hepatology Board Review Third

Edition”. Mayo Clinic Scientific Press And Informa Healthcare ,USA.

2008
25. Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 3, Nomor 1, Januari-April 2015. Gambaran

Ultrasonografi Batu Empedu pada Pria dan Wanita di Bagian Radiologi

FK Unstrat BLU RSUP DR. R. D. Kandou Manado Periode Oktober

2012-2014
26. Asuquo dkk. Cholecystectomy: Indications at University of Calabar

Teaching Hospital, Calabar, Nigeria. Annals of African Medicine. 2008.

7(1): 35-37.
27. Stinton, Laura M. dan Shaffer, Eldon A. Epidemiology of Gallbladder

Disease: Cholelithiasis and Cancer Gut and Liver. Division of

Gastroenterology, Department of Medicine, Faculty of Medicine,

University of Calgary, Canada Vol. 6, No. 2. 2012. PP. 172-187.


28. Dauer M, Lammert F. Mandatory and Optional Function Test for Billiary

Disorders. Best Pract Res Clin Gastroenterol. 2009. 23(3):441-51.

29. Habib L, dkk. Role of Liver Function Tests In Symptomatic Cholelithiasis.


J Ayub Med Coll Abbottabad. 2009. 21(2): 117-119.