Anda di halaman 1dari 35

LP dan Askep Fistula Entero Cutaneous

FISTULA ENTERO CUTANEOUS

A. PENGERTIAN
Entero – enteral atau enterocutaneous fistula adalah saluran abnomal
terjadi pada perut atau usus besar/ usus kecil dengan organ lain, bisa
terjadi pada usus yang satu dengan usus lainnya ( enteroenteral ) atau
usus dengan kulit enterocutaneous fistul).
Fistul adalah hubungan abnormal antara dua struktur tubuh baik
interna ( antara dua struktur ) atau eksterna ( antara struktur interna
dan permukaan luas tubuh).
Entero Cutaneous fistul : gastrointestinal fistul
Setiap hubungan abnormal antara dua buah permukaan atau rongga
tubuh.

B. PENYEBAB
- Akibat pembedahan
- Trauma, khususnya trauma penestrasi seperti luka bacok atau luka
tembak
- Proses inflamasi
- Infeksi
- Penyakit inflamasi usus ( penyakit Crohn )

D. PATOFISIOLOGI

D. TANDA - TANDA DAN GEJALA


Entero cutaneous fistula tidak mempunyai tanda- gejala spesifik
tergantung pada segmen usus yang terkena , antara lain :
- Diare
- Malabsorption of nutrisi
- Dehidrasi
- Terjadi kebocoran pada usus dan ada yang menembus sampai kulit

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laborat
Hitung darah lengkap untuk mengkaji HMT , Kadar Hb yang biasanya
menurun serta hitung sel darah putih ( yang mungkin meningkat ). Laju
Sedimentasi biasanya akan meningkat. Kadar albumin dan protein
menurun yang menunjukkan malnutrisi
2. Pemeriksaan Rontgen
Dengan radio pague untuk mengetahui antomi fistule
Bila fistel terjadi pada colon penggunaan contras enema ( pemberian
contras di berikan melalui rektum ) lebih bermanfaat
3. CT Scan Abdomen
Untuk mengetahui peradangan atau infeksi
4. Fistulogram
Dengan memberikan cairan radio opaque disuntikan dalam fistul
enterocutaneus,kemudian di rontgen maka hasilnya akan tampak lebih
bagus

F. PENATALAKSANAAN
1. Fistul akan menutup dengan sendirinya setelah beberapa minggu
sampai beberapa bulan. Tergantung keadaan kliniknya, yaitu klien
mendapatkan n tambahan nutrisi per IV , tanpa suplemen
makanan fistul akan menutup
2. Masukan diit dan cairan
Cairan oral , diit rendah residu tinggi protein tinggi kalori dan terapi
suplemen vitamin dan pengganti zat besi untuk diberikan untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi.
3. Terapi obat-obatan
Obat-obatan sedatif dan antidiare atau antiperistaltik digunakan untuk
mengurangi peristaltic sampai minimun untuk mengistirahatkan usus
yang terinflamasi
4. Pembedahan
Pembedahan akan dilakukan pada bagian tertentu, untuk membuka
bagian usus tertentu seandainya mengalami kesulitan penyembuhan
5. Segera periksa :
- bila anda menemukan perubahan yang signifikan pada
kebiasaan eliminasi, diare yang hebat
- Ada kebocoran dari usus atau kebocoran dari kulit setelah
pembedahan

G. PROGNOSIS
Prognosis tergantung paa penyebab dan kekomplekan fistul,
serta kondisi pasien banyak pasien mempunyai prognosis yang
bagus atau sebaliknya

H. KOMPLIKASI
Fistule bisa mengakibatkan manultrisi dan dehidrasi, tergantung
pada lokasinya di usus. Fistule juga merupakan sumber dari masalah
kulit dan infeksi

I. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Nyeri akut b. d. agen injuri fisik ( pembedahan)
2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b. d
ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau
mengabsorbsi zat-zat gizi dari faktor biologis
3. Kerusakan mobilitas fisik b. d.kurang pengetahuan tentang kegunaan
pergerakan fisik
4. Kurang pengetahuan tenteng penyakit fistul enterokutaneous b.d. tidak
mengenal (familiar) dengan sumber-sumber informasi.
5. Volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh b.d kehilangan cairan
secara aktif
6. PK : Infeksi
7. PK : Anemia
8. PK : Hipoalbumin

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddart (2001) Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah Vol 2
Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta

Jeanne C. Mc Closkey, Gloria. M Bulechets (1996) Nursing


InterventionClassification ( NIC) Mosby Year-Book, ST Louis.

Larraine m Wilson, Syliva A PIERE (1994) Patofisiologi Konsep Klinik


Proses- proses Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran,EGC,Jakarta
Marion Johnson dkk(2000) Nursing Outcome Clasisification (NOC) Mosby,
Year BOOK, St Louis
NANDA (2005) Nursing Diagnosis Defenition dan Classification 2005-2006,
NANDA
www. Google .com/ Fistula EnteroCutaneous /18 Mei 2005

ASSUHAN KEPERAWATAN
PADA NY.W . DENGAN FISTULA ENTEROCUTANEOUS

PENGKAJIAN
I. Identitas Diri Klien
Nama : Ny W
Umur : 51 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Sedayu, Bantul, DIY
Pekerjaan : Pedagang
Pendidikan : SD
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Suku : Jawa
Tanggal masuk RS : 5 Mei 2005
Tanggal Pengkajian : 16 Mei 2005
Sumber Informasi : Klien, Keluarga, Medical Record

II. Riwayat Penyakit


1. Keluhan Utama Saat Masuk Rumah Sakit
Penurunan kesadaran dan keluar cairan dari luka operasi. Kiriman
pasien Rumah Sakit Panembahan Senopati
2. Riwayat Penyakit Sekarang.
- 7 hari SMRS OS mengalami penyambungan usus, 2 hari kemudian OS
mengeluarkan keluar cairan dan luka eperasi warna kuning
- 15 jam SMRS OS mendadak kejang – tipe klonik , + 3 menit pada kanan
dan kiri, lengan dan tungkai dan leher, mata mendadak mendelik ke
atas, setelah kejang OS tidak sadar + 5 menit
2 jam SMRT OS kejang kembali dengan tipe yang sama
- 10 jam SMKS OS kembali kejang dengan tipe yang sama dan setelah itu
selalu tampak mengantuk  Rujuk Rumah Sakit
- Keterangan rujukan :
Riwayat tanggal 27 April 2005 dilakukan operasi Laparotomi dan reseksi
Ilium
Diagnosa Pra bedah : Peritonitis dan diagnosa post bedah : peritonitis
oleh karena ileus Perforasi.
Laporan operasi : Iris kulit. Buka peritoneum dan keluar pus campur
sisa makanan 750 cc. Usus dieksplorasi terdapat perforasi mulai 3 cm -
10 cm dari ileocaical, ileum terminal direseksi 15 cm di hunting endo to
side ke kolon transversum. Ujung ileum masuk kolon ditutup dan
dijahit. Dilakukan omentectomi. Bebaskan perlengketan. Cuci Naci,
Tutup lapis demi lapis.
Terapi yang diberikan : Injeksi Tertacef 2 x 1 g iv
Injeksi transamin 2 x 1 amp iv
Injeksi trandosik 2 x I amp im
Fortagil 2 x I
Amparin I x I
Infus = asering : KenMg3 : Dektrose
= 1 : 1 : 1
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan satu tahun yang lalu perutnya sering sakit dan terasa
panas, terus berobat ke dokter umum minum obat sembuh, kumat lagi
sampai berulang-ulang . Tidaka mempunyai riwayat Diabetis Mellitus,
Hipertensi dan asma
4. Diagnosa Medik Saat Masuk Rumah Sakit:
- Penurunan Kesadaran dengan internalisasi ke kiri dan ke kanan dan
riwayat kejang general-klonik e. c susp stroke
- Peritonitis umum e.c ilium perforasi post laparotomi dan reseksi ilius.
Tindakan yang telah dilakukan
Tanggal 5 Mei 2005 di UGD
- O2 3 ltr / menit
- Infus Asering 16 ltr/mnt
- Infeksi neurotam 4 x 3 amp ( ganti piracetam injeksi )
- Injeksi brain Act 2 x 250 mg
- Diit TKTP ( extra putih telur )
- Raber bedah digestif : Injeksi Tertacef 1x1 gr
Infus farnof 3 x 500 mg
Norit Test 8 tab → awasi luka nanti
Tanggal 6 Mei 2005
- O2 3 ltr / menit
- Infus Asering 16 ltr / menit
- Injeksi pinacetan 4 x 2 amp
- Infjeksi brain ACT 2 X 250 mg
- Diit TKP ( extra putih telur)
- Raber bedah digestif : Injeksi Tertacef 1x 1 gr
Infus farnof 3 X 500 mg
- Raber UPD : Tranfusi PRC s/d HB > 10 gr /dl
Tranfusi cek MDT/ Retikulosit/ states besi
Konsul bedah untuk perawatan luka past op
Tanggal 7 Mei 2005
- Infus asering 16 ltr / mnt
- Injeksi piracetam 4 x 3 amp
- Injeksi Brain ACT 2 x 250 mg
- Raber Bedah digestif : Injeksi tertacef 1x1 gr
Injeksi farnof 3 x 500 mg
- Raber UPD : Tranfusi PRC s/d HB > 10 g/dl
Transfusi albumin
Tanggal 8 Mei 2005
- Transfusi PRC 1 calf, masuk jam 20.00 WIB.Selesai Jam 24.00
- Injeksi piracetam 4 x 3 amp
- Injeksi brain ACT 3 x 250 mg
- Tx bedah Digestif : Injeksi tertacef 1x1 gr
Injeksi farnof 3 x 500 mg
Tanggal 9 Mei 2005
- Injeksi piracetam 4x 3 amp
- Injeksi brain ACT 3 x 250 mg
- TX bedah digestif : Injeksi tertacef 1x1 gr
Injeksi farnof 3 x 500 mg
Tanggal 9 Mei 2005
- Infeksi piracetam 4x 3 amp
- Infeksi brain ACT 3 x 250 mg
- TX bedah digestif : Injeksi tertacef 1x1 gr
Injeksi farnof 3 x 500 mg
- TX UPD : Monitor VS
Ck HB post transfusi
Transfusi plasbumin 1 calf
Tanggal 10 Mei 2005
- Injeksi piracetam 4x 3 amp
- Injeksi brain ACT 3 x 250 mg
- Tx bedah digestif : Injeksi tertacef 1x1 gr
Injeksi farnof 3 x 500 mg
- Tx UPD : Cek HB post transfusi
Tranfusi plasbumin 1 calf masuk
Tanggal 11 Mei 2005
- Injeksi piracetam 4x 3 amp
- Injeksi brain ACT 3 x 250 mg
- Tx bedah digestif : Injeksi tertacef 1x1 gr
Injeksi farnof 3 x 500 mg
Tanggal 12 Mei 2005
- Injeksi piracetam 4x 3 amp
- Injeksi brain ACT 3 x 250 mg
- TX bedah digestif : Injeksi tertacef 1x1 gr
- Injeksi farnof 3 x 500 mg
Tanggal 13 Mei 2005
- Injeksi piracetam 4x 3 amp
- Injeksi brain ACT 3 x 250 mg
- Tx bedah digestif : Injeksi tertacef 1x1 gr
Injeksi farnof 3 x 500 mg
Tanggal 14 Mei 2005
- Piracetam 3 x 800 mg ( per oral)
- Tunggu bedah untuk laparatomi ulang
Tanggal 15 Mei 2005
- Piracetam 3 x 800 mg ( per oral)
- Pindah ke B2 /Bedah umum/ Cendana 2

Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium:
Tanggal 05 Mei 2005
- WBC : 7,4 X 10 /UL
- Ne % : 19,6 %
- Ly % : 12,3 %
- Mo % : 7,6 %
- Eo % : 0,3 %
- BA % : 0,2 %
- NE # : 5 - 9 10/UL
- LY# : 0 - 9 10/Ul
- MO # : 0 - 6 10/UL
- EO # : 0 - 0 10/UL
- BA # : 0 - 0 10/UL

- RBC : 2,81 10/UL


- HGB : 7,9 g/dl
- HCT : 23,6 %
- MCV : 84,9 fl
- MCH : 28,3 pg
- MCHC : 23,3 g/dl
- RPW : 12,5 %

- PLP : 294 10/UL


- MPV : 6,2 fl
- PCT : 0,183 %
- PDW : 16,9 ratio
- Na ( serum ) : 134
- K ( serum ) : 3,4
- Cl ( serum ) : 104

- TP : 5,38 g/dl ( 6,40 – 8,30 )


- ALB : 1,83 g/dl ( 3,50 – 5,00 )
- AST : 30,2 iu/L ( 10,0 – 42,0 )
- ALT : 22,5 iu/L ( 10,0 – 40,0 )
- Bun : 8,9 mg/dl ( 7,0 - 18,0)
- Creat : 0,64 mg/dl ( 0,60 – 1,30)
- Choles : 86 mg/dl ( 0 – 200 )
- TG : 60 mg/dl ( 0 - 200 )
- Glu : 144 mg/dl
Tanggal 6 mei 2005
- Fe : 5 ug/dl ( 49 - 181)
- TIBC : 238 ug/dl ( 250 – 400)
- %Saturation : 2 % ( 20 – 50 )
- Retikulosit : 6,9 % ( 05 – 1,5 )
- Gol Darah :B
- Gol Darah Rh : Rh (positif)
Tanggal 7 Mei 2005
- Gambaran Sediaan Apus Darah Tepi :
Kesan Eritrosit : Anisositosis, mikrosit, Normokromik
esan Lekosit : Jumlah meningkat, nefrolifia absolut,
granulosit toksik, vakuolisasi netrofil.
Trombosit : Jumlah cukup penyebaran merata
trombosit besar ( + )
simpulan : Gambaran anemia dengan panyakit kronis
disertai proses infeksi

Tanggal 10 Mei 2005


- Na ( serum) 131 mmol/l ( 135 – 146 )
- K ( serum ) 3,8 mmol/l ( 3,4 - 5,4 )
- Cl ( serum ) 102 mmol/l ( 95 - 108 )

- WBC : 7,1 x 10 /ul ( 4,0 - 10 )


- RBC : 3,68 x 10 /ul (450 - 650)
- HGB : 10,4 g/dl (13 - 18 )
- Hct : 30,8 (40 - 54,0)
- MCV : 83,8 fl ( 76 - 96 )
- MCH : 28,4 pg ( 27 - 32 )
- MCHC : 33, 9 g/dl ( 30)
- PLT : 294 x 10 /ul ( 150-450 )
- TP : 6,01 g/dl ( 6,4 - 8,3 )
- ALB : 2,19 g/dl ( 3,5 - 5,0 )

Pemeriksaan Head CT Scan

Tanggal 5 Mei 2005

Dilakukan pemeriksaan pada pasien dengan Susp Stroke, potongan


QML, interval 10 mm tanpa kontras.
Hasil:- Tak tampak soft tissue swelling
- Sinus paranasalis dari cellulae mastridia normodens
- Gyri dan sulci tak prominent
- Batas gray dan white matter tegas
- Tampak 2 buah lesi hiperdent di lobus parietalis dextra,
batas tegas bentuk memanjang priflak odema ( +) dan
lesi hiperdens di interhemisphere falk cerebri aspek
posterio dengan Hu 9 L ( sl 8 – 12 )
- Sistema ventrikel tak melebar/menyempit
- Struktur mediana di tengah, tak terdeviasi
Kesan: Lubacerebral haemorhage di lobus parietalis dextra, dan
interhemisphere falk cerebri aspek posterior

Pemeriksaan Thorak PA Tanggal 5 Mei 2005


Hasil:- AP. Supine, asimetris , aspirasi kurang, kondisi cukup.
- Corakan bronchovaskuler normal.
- Kedua apex pulmo tenang .
- Kedua sinus c.f. lancip, kedua diagfragma licin.
- Cor = C T R < 0,56
Kesan = Pulmo dan besar cor normal.

Pemeriksaan EKG Tanggal 5 Mei 2005


Hasil : STC ( Sinus Tachicardi)

III.Pengkajian Saat Ini


epsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Klien dan keluarga belum tahu sebenarnya ia sakit apa sekarang,
lukanya mengeluarkan cairan terus. Klien mengatakan sebelum operasi
ia menganggap tadinya sakitnya itu tidak parah, sakit mah biasa, terasa
perih dan panas terus periksa ke dokter di daerahnya minum obatnya
sembuh sampai berkali-kali, tetapi pas kumat kemarin dokter
menyarankan untuk di bawa ke rumah sakit. .
Nutrisi / metabolik
Program diit RS: Diit TKTP ( susu sampai tanggal 15 Mei 2005 )
Intake makanan : sebelum sakit klien makan 3 kali sehari, dengan sayur
dan lauk. Klien tidak mempunyai pantangan makanan. Saat sakit /
dirawat di rumah sakit klien hanya menghabiskan susu diit dan untuk
hari ini diit Bubur sumsum tidak dimakan, dilarang suaminya, takut
nanti lukanya tidak sembuh-sembuh.
Intake cairan : sebelum sakit klien minum 6 – 7 gelas sehari, minumnya
kadang teh manis kadang air putih. Saat di rumah sakit ini klien
mendapat cairan infus KEn Mg3/D10/Amiparen = 2 : 2 :1 sejumlah
2500 ml sehari dan minum air putih 3 – 4 gelas sehari.
Eliminasi
g air besar
Sebelum sakit: sekali perhari. Dan saat sakit di rumah sakit klien buang
air besar 2-3 kali perhari konsistensi cair agak lembek, warna kuning.
g air kecil
Sebelum sakit klien BAK 7 – 8 kali sehari. Dan selama di rumah sakit
klien terpasang dower cateter mulai tanggal 5 Mei 2005. Dalam satu hari
± 1000 CC warna kuning pekat.
Aktivitas dan Latihan
Kemampuan 0 1 2 3 4
Perawatan Diri
Makan / Minum ✓
Mandi ✓
Toileting ✓
Berpakaian ✓
Mobilitas di Tempat ✓
Tidur
Berpindah ✓
Ambulasi / ROM ✓
0 : mandiri, 1: alat Bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain
dan alat, 4 : tergantung total.
Oksigenasi: Klien bernafas secara spontan tanpa bantuan alat oksigenasi.

Tidur dan Istirahat


Klien tidur selama 7-8 jam setiap hari, tidak ada gangguan tidur. Saat di
rumah sakit klien banyak istirahat dan tidur.
Perceptual
Klien mengatakan bahwa tidak ada perubahan pada penglihatan dan
klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
Persepsi Diri
Klien mengatakan pasrah dengan penyakit yang dideritanya.
Seksualitas dan Reproduksi
Klien sudah menopause, mempunyai 5 anak, anaknya laki-laki 3,
perempuan 2, dan 4 orang sudah menikah
Peran-hubungan
Klien hubungan dengan suami dan anaknya baik. Klien mengatakan
menantunya sangat memperhatikan dia, sering mananyakan
kesehatannya sekarang. Komunikasi dengan perawat baik,
menggunakan bahasa jawa.
a Managemen koping-stress
Setiap ada permasalahan klien senantiasa didampingi oleh keluarganya.
em Nilai dan keyakinan
Sebelum sakit klien menjalankan kewajibannya sholat lima waktu,
sering ikut pengajian, saat sakit klien tidak bisa sholat lagi, tapi meyakini
apapun penderitaannya Tuhan yang mengaturNya.

IV. Pemeriksaan Fisik


1. Keluhan yang dirasakan saat ini
Luka keluar cairan terasa sakit saat dilakukan perawatan
2 Kesadaran komposmetis ( E4M6V5 )
TB = 155 kg
BB = 45 kg
Tanda-tanda Vital : Suhu : 37 C
Nadi : 80 X/menit
Pernafasan : 20 X/menit
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
3. Kepala
Bentuk : normochepal
Rambut : lebat, sedikit beruban dan berombak dan sangat kusut
(istilah jawanya : rengket) dan rontok.
Mata : Conjungtiva : pucat (+/+), Sklera: ikterus (-/-),
Reflek cahaya +/+, fungsi penglihatan baik.
Mulut : bibir kelihatan kering, gigi banyak kropos dan mulut kotor.
4. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran limfe
nodus. Tidak ada peningkatan JVP.
5. Thorak
Inspeksi : simetris
Perkusi : Sonor kanan kiri
Palpasi : fremitus kanan dan kiri, tidak ada ketinggalan gerak.
Auskultasi : paru-paru : Vesikuler kanan kiri
Jantung : S1 S2 murni, iktus cordis terab.
6. Abdomen
Inspeks : terdapat luka laparotomi , panjangnya kira-kira 15 cm,
ada 5 buah lubang, mengeluarkan cairan putih
kekuningan,
pus dan feses warna kuning, kira-kira 5cc.
Palpasi : abdomen datar, hati dan limfe tidak teraba,
nyeri tekan (-) massa (- ), distensi (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : peristaltik 10 x per menit.
7. Inguinal dan genitalia
Tidak ada kelainan di regio inguinal. Klien terpasang dower catheter
sejak tanggal 5 Mei 2005 dower kateter kotor, slang dekat meatus ada
kerak berwarna kuning. Vulva kotor.
8. Ekstremitas
Terpasang infus D10 pada tangan kiri sejak tanggal 15 Mei 2005. Tidak
ada odema dan akral hangat. Elastisitas kulit jelek, kulit kering, kuku
terpotong pendek dan rapi.
ergerakan : B B
+
B B

Kekuatan otot : 5 5
+
5 5

9. Program Terapi
Tanggal 16 Mei 2005
- Diit TKTP
- Perawatan FEK (Fistel Enterocutaneus) pada pagi dan sore
- Infus KaEnMg3 : D105 : Amiparen = 2 : 1 : 1 = (2500cc/24 jam)
- Injeksi cefriaxone 1x 1 gr . iv
- Injeksi Remopair 2 x 30 mg im/iv
- Injeksi Gastridin 2 x 1 amp i.v
Tanggal 17 Mei 2003
- Diit TKTP
- Perawatan FEK (Fistel Enterocutaneus) pada pagi dan sore
- Infus KaEnMg3 : D10% : Amiparen = 2 : 2 : 1 = (2500cc/24 jam)
- Injeksi cefriaxone 1x 1 gr iv
- Injeksi Remopair 2 x 1amp .iv/im
- Injeksi Gastridin 2 x 1 amp. iv
- Lavemen pagi dan sore
Tanggal 18 mei 2003
- Diit TKTP + Ektra telur ( 8 – 10 butir / hari )
- Perawatan FEK (Fistel Enterocutaneus) pada pagi dan sore
- Infus KaEnMg3 : D10% : Amiparen = 2 : 1 : 1 = (2500cc/24 jam) selingi
dengan cairan asering
- Injeksi cefriaxone 1 x 1gr iv Stop
- Injeksi Remopair 2 x 30 mg iv/im Stop
- Injeksi Gastridin 2 x 1 amp iv Stop
- Aff DC
- Lavemen pagi dan sore
- Obat ganti Oral Cefdroxil 2 x 500 mg
- Cek HB
Tanggal 19 Mei 2005
- Diit TKTP + Ekstra telur
- Perawatan FEK pagi dan sore
- Infus KaEn Mg3 : D10 : Amiparen = 2 : 2 : 1 = (2500 cc/24 jam) diselingi
cairan Asering
- Cefadroxil 2 x 500mg peroral
- Lavemen pagi dan sore
- Posisi ½ duduk.
Tanggal 20 Mei 2005
- Diit TKTP + Ekstra telur
- Perawatan FEK pagi dan sore
- Infus KaEn Mg3 : D10 : Amiparen = 2 : 2 : 1 = (2500 cc/24 jam) diselingi
cairan Asering
- Cefadroxil 2 x 500mg peroral
- Lavemen pagi dan sore
- Posisi ½ duduk.
Tanggal 21 Mei 2005
- Diit TKTP + Ekstra telur
- Perawatan FEK pagi dan sore
- Infus KaEn Mg3 : D10 : Amiparen = 2 : 2 : 1 = (2500 cc/24 jam) diselingi
cairan Asering
- Cefadroxil 2 x 500mg peroral
- Lavemen pagi dan sore
- Posisi ½ duduk.
10. Pemeriksa laborat dan penunjang
Tanggal 18 Mei 2005
- WBC : 15,30 x 163 nl
- Neu : 11.87
- Lymph : 2, 10
- Mono : 1,06
- Eo : 0,25
- Baso : –
- RBC : 3,96 x 10 6 /ml
- HGB : 11,0 g/dl
- HCT : 34,8
- MCV : 37,9 fl
- MCH : 27,8 fl
- MCHC : 31,6 g/dl
- RDW SD : 45,6 (fl)
- RDW CV : 13,6 ( %)
- PLT : 149 x 163 ml
- PDW : 8,2 fl
- MPV : 9,1 fl
- P-LCR : 20,1%

- TP : 7,74 g/dl ( 6,40 – 8,30 )


- ALB : 2,31 g /dl ( 3,50 – 5.000 )
- BUN : 6,1 mg/al ( 7,0 – 18,0 )
- Creat : 0,58 mg /al ( 0,60 – 1,30 )
- Glu : 135 mg/al

- Na : 125 mml/L ( 136 – 145 )


- K : 4,20 mml /L ( 3,10 – 5.00 )
- CL : 8 mml /L ( 98 – 107 )

- Hasil Patologi Anatomi : Radang Granulomatous di Ilium

ANALISA DATA

N DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM


O
Tanggal 16 Mei 2005 Agen nyeri Nyeri akut
1 DS : fisik
Klien ( pembedahan )
mengatakan perutnya nyeri
saat diobati, terasa
semekrang
DO :
- Skala nyeri 4-5
- wajah klien saat diobati
tampak sedikit menyeringai
- Klien tampak memohonn
saat mengobati lukanya
pelan – pelan saja
T :12 0 /80 mnt
N : 80 x/mnt
2 DS : PK : Infeksi
Keluarga mengatakan
klien dirawat di RSS karena
dikirim dari RS tempat klien
dioperasi, dan lukanya
keluar cairan
DO :
Terdapat luka laparatomi
sepanjang 15 cm dengan 7
jahitan
Pada luka terdapat 5 lubang
keluar cairan putih + pus +
feses
Kulit sekitar luka basah oleh
cairan yang keluar dari fistul
MDT menunjukkan
gambaran anemia dengan
penyakit kronis disertai
proses infeksi
Hb : 10,4 g/dl
Terpasang DC sejak tanggal
5 Mei 2005
DC kotor, slang dekat
meatus ada kerak berwarna
kuning. Vulva kotor.
Terpasang infus D10 di
tangan kiri bagian distal
sejak tanggal 15 Mei 2005
3 DS Ketidakmampuan Ketidak
Klien mengatakan pemasukan atau seimbangan
diitnya selama ini susu mencerna nutrisi : kura
Klien mengatakan dilarang makanan atau ng dari
suaminya untuk tidak makan mengasorbsi zat – kebutuhan
bubur sumsum,disuruh zat gizi karena tubuh
minum susu saja faktor biologis
Klien mengatakan minum
susu saja perutnya sudah
terasa kenyang sekali
DO :
Diit BS hari ini utuh
BB : 45 kg
TB : 155
: 18,73
Konjungtiva anemis
Miskonsepsi
Albumin : 2,19 g/dl
Protein total : 6,01 g/dl
Haemoglobin : 10,4 g/dl
Hematokrit : 30,8
Mukosa mulut kering
Elastisitas kulit jelek,
kulit kering
Rambut rontok

4 DS Kurang Kerusakan
Klien mengatakan selama ini pengetahuan mobilitas fisik
tidur terlentang saja, oleh tentang kegunaan
suaminya tidak boleh tidur pergerakan fisik
miring kiri atau kanan dan
tidak boleh duduk, padahal
ia juga pingin untuk miring
kiri atau kanan
DO :
- Klien tidur terlentang
ADL dibantu perawat
dan keluarga
Kekuatan otot
5 5
+
5 5
5 DS Tidak mengenal Kurang
Klien mengatakan tidak ( familiar ) dengan Pengetahuan
begitu jelas dengan sakitnya, sumber – sumber
DO informasi
Keluarganya tanya tentang
penyakit istrinya dan hasil
pemeriksaan usus yang
diperiksa dulu.

DIAGNOSA KEPERAWATAN MENURUT PRIORITAS :


1. Nyeri akut b. d agen injuri fisik ( pembedahan).
2. PK : Infeksi.
3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b. d
ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau
mengabsorbsi zat-zat gizi dari faktor biologis.
4. Kerusakan mobilitas fisik b. d
Kurang pengetahuan tentang kegunaan pergerakan fisik.
5. Kurang pengetahuan : tentang fistule Enterocutaneous b.d
Tidak mengenal (familiar) dengan sumber-sumber informasi.

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Diagnosa I. Nyeri akut b.d. agen injuri fisik ( pembedahan)


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 hari diharapkan
klien dapat mengontrol nyeri nyeri dan mengidentifikasi tingkat nyeri,
dengan criteria hasil : klien menyatakan nyeri berkurang, skala nyeri 0-
2, penampilan klien rileks
TANGGAL IMPLEMENTASI EVALUASI
/JAM
16 Mei  Mengkaji tingkat nyeri klien Jam 10 00
2005  Mengkaji penyebab nyeri S:
Jam 09  Menciptakan lingkungan yang Klien mengatakan
00 nyaman sakitnya sudah
 Memonitor respon verbal dan berkurang
nonverbal klien
 Mengajari klien untuk Skala nyeri 2-3
relaksasi dengan cara menarik Nyeri timbul saat
nafas panjang ,dan tahan diobati
kemudian dikeluarkan melalui Klien tampak rileks
mulut Injeksi remopair 30
mg masuk iv
 Memberikan injeksi remopair
T : 110/70 mmHg
30 mg per drip dalam cairan
Nadi : 80 x/menit
D10 500 cc
Suhu : 37 C
 Memonitor TTV
Respirasi : 20x/menit
 Memonitor keefektifan A: Nyeri teratasi
pemberian injeksi remopair 30 sebagian
mg perdrip P : Intervensi
dilanjutkan
Monitor tingkat nyeri
klien
Kelola pemberian
analgetik remopair 30
mg perdrip jam 20 00
17 Mei  Mengkaji tingkat nyeri klien Jam 10 00
2003  Menciptakan lingkungan yang S :
Jam 09 nyaman Klien mengatakan
00  Memberi posisi tidur yang perutnya terasa panas,
nyaman dan bunyi kluruk-
 Memonitor respon verbal dan kluruk
onverbal klien O:
 Memberikan injeksi remopair Skala nyeri 4-5
30 mg per drip dalam cairan Posisi klien digeser ke
D10 500 cc atas supaya kakinya
tidak kena besi tempat
 Memonitor TTV
tidur
 Memberitahu pada klien untuk
Wajah klien tegang
tidak cemas, akan
Injeksi Remopair
meningkatkan rasa nyeri.
masuk 30 mg perdrip
T : 110 /70 mmHg
Nadi : 80x/menit
Suhu : 37, 2 C
Respirasi : 20 x/menit
A: Nyeri belum
teratasi
P : Intervensi
dilanjutkan
 Monitor tingkat nyeri
klien
 Kelola pemberian
analgetik remopair 30
mg perdrip jam 20 00
18 Mei  Mengkaji tingkat nyeri klien Jam 10 00
2003  Menciptakan lingkungan yang S :
jam 09 00 nyaman Klien mengatakan
 Memberi posisi tidur yang sekarang saat diobati
nyaman lukanya, sakitnya
 Memonitor respon verbal dan berkurang
nonverbal klien O:
 Memberikan injeksi remopair Skala nyeri 0- 2
30 mg per drip dalam cairan Wajah klien rileks
D10 500 cc Injeksi Remopair
masuk 30 mg perdrip
 Memonitor TTV
T : 120 /80 mmHg
Nadi : 82x/menit
Suhu : 36,6 C
Respirasi : 20 x/menit
A: Nyeri teratasi
P: Intervensi
dipertahankan

Diagnosa 2. PK : Infeksi
Tujuan : Perawat dapat meminimalkan dan mengelola komplikasi yang terjadi
dengan criteria hasil : tanda vital stabil, angka lekosit normal, tidak ada
tanda-tanda infeksi ( Rubor, dolor, kalor, tumor dan fungsiolesa)

TANGGAL/ IMPLEMENTASI EVALUASI


JAM
16 Mei Cuci tangan sebelum merawat Jam 12.00
2005 klien
Jam 08 00 Monitor tanda – tanda - Klien
infeksi ( kalor , dolor, mengatakan cairanya
rubor, Tumor dan keluar banyak
fungsiolesa ) O:
Merawat luka klien dengan  Fistel mengeluarkan
rivanol cairan putih
Melepas jahitan luka yang kekuningan campur
sudah kering 2 buah feses + 7,5 cc
Membalut luka dengan cara  Injeksi cefriaxone 1 gr
memberikan lingkaran yang IV sudah masuk jam
terbuat dari kassa + verban 08.00
pada fistel euterocutan  Suhu : 372 C N : 84 x /
dengan tujuan supaya bila menit
cairan fisful keluar bisa A : masalah beken
diserap dengan kasa atau di teratasi
sedot dengan selang P : intervensi di
Memberikan lanjutkan
injeksi cefriaxone 1 gr IV monitor tanda –
Melakukan dressing tanda infeksi
/perawatan Dower kateter ( R,K,D,T,F )
urin Rawat luka pada sore
Melakukan dressing/ hari
perawatan tempat insersi Pertahankan
infus . kebersihan
Cuci tangan setelah selesai lingkungan
merawat klien
Memonitor suhu dan nadi
17 Mei  Cuci tangan sebelum merawat Jam 12.00
2005  Memonitor tanda – tanda S:
Jam 08 00 infeksi ( Rubor, Kalor, dolor, - Klien mengatakan
tumor dan fungsiolesa ) cairanya keluar
 Merawat luka klien dengan banyak ngembes dan
rivanol diganti balutnya
 Memonitor cairan fistul yang O:
keluar - Fistel mengeluarkan
 Melepas Jahitan luka 5 buah cairan putih
kekuningan campur
 Memberikan injeksi
feses + 10 cc
cefriaxone 1 gr IV
Injeksi cefriaxone 1 gr
Melakukan dressing
IV sudah masuk jam
/perawatan Dower kateter
08.00
urin
Suhu : 364 C
 Melakukan dressing/ N : 82 x / menit
perawatan tempat insersi - Hasil : PA radang
infus . granulomatus di ilium
 Cuci tangan setelah selesai A : masalah belum
merawat klien teratasi
 Mengukur suhu dan nadi P : Intervensi di
lanjutkan
Monitor tanda–tanda
infeksi
( R,K,D,T,F )
- Rawat luka
pada sore hari
Monitor albumin
dan angka lekosit

Diagnosa 3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh b. d. ketidak mampuan pemasukan
makanan atau mencerna makanan atau mengabsorbsi zat –
zat gizi karena faktor biologik.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan kprawatan selama 3 hari
diharapkan kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi,
dengan kriteria hasil tidak ada pnurunan BB, kemampuan
mencerna meningkat.

Tanggal/Jam Implementasi Evaluasi


16 Mei 2005 - Mengkaji keadaan Jam 13 00
Jam 08 00 klien S : Klien mengatakan
- Mengkaji BB makannya nanti saja,
dan tinggi badan sudah kenyang minum
klien sekali sehabis
Mengkaji diit klien minu susu satu gelas
Memonitor tanda vital O:
sign Keadaan klien Lemah
- Mengkaji BB : 45 kg, TB :155 cm (
asupan makanan ke data diperoleh dari
klien satus klien)
- Mengkaji kesulitan
- Konjungtiva anemis
klien saat sat makan, - Tidak ada
yaitu mual ,muntah dan mual,muntah atau
Jam 12 00 anoreksia atau keluhan anoreksia
lain - Diit TKTP cuma
- Memberikan injeksi dimakan 3 sendok
Gastridin 1 amp/ 1v buburnyan dan lauk,
- Menawarkan pada sayur masih utuh.
klien untuk disuapi
- Susunya
saat sudah
makan siang. diminum
- Obat gastridin 1 amp/
masuk
- T : 110/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
- Suhu : 37 C
- Respirasi : 20x/menit
A : Masalah belum
teratasi
P : Intervensi
dilanjutkan
- Motivasi klien untuk
menghabiskan diitnya
- Jelaskan pada klien
tentang manfaat
makanan terhadap
penyembuhan
makanannya
- Berikan injeksi
gastridin 1 amp / iv jam
20 00
- Bantu klien saat
makan

17 Mei 2005 - Mengkaji keadaan Jam 13 00


jam 08 00 klien S : Klien mengatakan
- Mengkaji BB perut perutnya perih
dan tinggi badan dan berbunyi kluruk-
klien kluruk
- Mengkaji diit klien O:
- Memonitor tanda- Keadaan
vital klien Lemas
sign - Konjungtiva anemis
- Mengkaji - Tidak ada
asupan makanan ke mual,muntah atau
klien anoreksia
- Mengkaji kesulitan - Diit TKTP habis
klien saat sat makan, 1/2 BN lauk, sayur
Jam 12 00 yaitu mual ,muntah dan masih utuh dan satu
anoreksia atau keluhan telur ekstra.
lain - Susu sudah diminum
- Memberikan injeksi - Obat gastridin 1 amp/
Gastridin 1 amp/ 1v masuk
- Menawarkan pada - T : 110/70 mmHg
klien untuk disuapi saat - Nadi : 80 x/menit
makan siang. - Suhu : 37 ,2 C
- Respirasi : 20x/menit
A: Masalah belum
teratasi
P : Intervensi
dilanjutkan
- Motivasi klien untuk
menghabiskan diitnya
- Berikan injeksi
gastridin 1
amp / iv jam 20 00
- Bantu klien saat
makan

18 Mei 2005 - Mengkaji keadaan Jam 13 00


jam 0800 klien S : Klien mengatakan
- Membantu klien saat badanya terasa lebih
makan pagi enak dari kemarin
- Mengkaji diit yang
dihabiskan klien O:
- Memotivasi klien Mukosa mulut
untuk menghabiskan tampak merah, bibir
lauknya karena banyak basah
mengandung protein- Konjungtiva anemis
sehingga lukanya cepat - Diit TKTP habis
sembuh 1/2 BN lauk, sayur
- Memonitor tanda mau tapi sedikit dan
vital sign satu telur ekstra. Susu
Jam 12 00
- Memberikan sudah diminum
injeksi - Obat gastridin 1 amp/
Gastridin 1 amp/ 1v masuk
- Menawarkan pada T : 120 /80 mmHg
klien untuk disuapi saat Suhu : 36,6 C
makan siang. Respirasi : 20 x/menit
A: Masalah belum
teratasi
P : Intervensi
dilanjutkan
- Motivasi klien untuk
menghabiskan diitnya
- Berikan injeksi
gastridin 1 amp /iv jam
20 00
- Bantu klien saat
makan
Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Pinterest

Newer PostOlder PostHome

Translate

Pilih Bahasa ▼

Top of Form

LP dan Askep Populer


Contoh Penulisan Askep


Prosedur Melakukan Suction


Makalah dan Askep CHF (Congestive Heart Failure)


Makalah Luka Bakar


LP dan Askp Hipertermi


LP dan Askep DM (Diabetes Mellitus)


Makalah Asuhan Keperawatan Keluarga


LP ASUHAN KEPERAWATAN SIROSIS HEPATIS

LP dan Askep Sengatan Listrik atau Electric Shock


Contoh Askep Post Apendiktomy

Uang selalu datang berlimpah, jika di rumah kamu menyimpannya...

LP dan Askep Terbaru


LP Encephalitis


Laporan Pendahuluan Hemoroid


LP dan Askep Fistula Entero Cutaneous


Pemeriksaan GDS Pasien Cidera Kepala


LP BPH dan Pelaksanaan Bedah BPH


Indikasi dan Prosedur Hemoroidektomi


Olahraga Terapi Penderita Diabetes Mellitus


Manajemen Puskesmas Klinik Sanitasi


LP Hemaptoe dan TB Paru

LP dan Askep Herpes Zoster

Sukai ini

LP dan Askep Populer Lp dan Askep Terbaru

 
Contoh PenulisanLP Encephalitis
Askep


Laporan
Prosedur Pendahuluan
Melakukan Hemoroid
Suction

 
LP dan Askep LP dan Askep
DM (Diabetes Fistula Entero
Mellitus) Cutaneous



Makalah dan Pemeriksaan GDS
Askep CHF Pasien Cidera
(Congestive Kepala
Heart Failure)



LP BPH dan
Makalah Luka Pelaksanaan
Bakar Bedah BPH
Sekedar Perawat. Powered by Blogger.

eirichzon3
 Life is a Journey...
Rabu, 15 September 2010

fistula enterkutaneus
A. Konsep Dasar Medis
1. Pengertian
a. Fistula adalah suatu ostium abnormal, berliku-liku antara dua organ berongga internal atau antara
organ internal dengan tubuh bagian luar. (Smeltzer dan Bare, 2001).
b. Entero-enteral atau enterocutaneous adalah petikan yang abnormal kebocoran isi perut atau usus
(usus besar atau kecil) ke organ lain, biasanya bagian dari usus (entero-enteral) atau kulit
(enterocutaneous). (Lee, 2006).
c. Umbilikalis fistel atau fistel umbilikalis atau fistula vitellina adalah suatu keadaan kongenital dimana
duktus vitellinus tetap dipertahankan seluruhnya sehingga membentuk hubungan langsung antara
pusat dengan seluruh pencernaan. Dalam hal ini dapat dikeluarkan tinja melalui pusat. (Watson, dkk,
1987).
2. Etiologi
Kebanyakan fistula berawal dari kelenjar dalam di dinding anus atau rektum. Kadang-kadang fistula
merupakan akibat dari pengeluaran nanah pada abses anorektal.
Fistula secara umum sering ditemukan pada penderita :
a. Penyakit Crohn
b. Tuberkulosis
c. Divertikulitis
d. Kanker
e. Cedera anus maupun rektum.
Fistula enterokutaneus biasanya diakibatkan :
a. Spontaneous (15% sampai 25%)
- Radang usus buntu
- Lubang duodenal ulcers
- Radiasi
- Penyakit diverticular
- Ischemic usus
- Malignancies.
b. Postoperative (75% hingga 85%)
- Kegagalan anastomotic
- Penutupan abdominal.
- Operasi kanker
- Lysis yang adhesions
3. Manifestasi Klinis
Gejala tergantung pada kekhususan defek. Pus atau feses dapat bocor secara konstan dari lubang
kutaneus. Gejala ini mungkin pasase flatus atau feses dari vagina atau kandung kemih, tergantung
pada saluran fistula. Fistula yang tidak teratasi dapat menyebabkan infeksi sistemik disertai gejala
yang berhubungan.
4. Klasifikasi
Penyebab dari terbentuknya fistula pasca pembedahan sangat bervariasi tergantung pada lokasi
organ, faktor predisposisi, faktor resiko pasien dan tehnik atau prosedur pembedahan. Kompleksitas
dari fistula enterokutaneus tergantung dari jumlah pengeluaran.
a. Rendah: 200 ml/24 jam
b. Moderat: 200-500 ml/24 jam
c. Tinggi: 500 ml/24 jam
Jumlah output juga dapat digunakan untuk memprediksi kematian seperti tercantum dalam seri klasik
oleh Edmunds dkk. pasien yang tinggi dengan output fistulas memiliki mortality 54%, pasien dengan
moderat output meninggal dalam 30% kasus sedanglan rendah output fistulas meninggal dalam 16%
kasus. Dalam seri yang lebih baru, Levy dkk. melaporkan kematian dari 50%, 24% dan 26% di tinggi,
moderat dan rendah output fistulas, masing-masing. Kira-kira 30% semua tipe fistula akan menutup
secara spontan dalam waktu 6-7 minggu.
5. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan di daerah anus, dimana ditemukan satu atau
lebih pembukaan fistula atau teraba adanya fistula di bawah permukaan. Sebuah alat penguji bisa
dimasukan untuk menentukan kedalaman dan arahnya. Ujung dalamnya bisa ditentukan lokasinya
dengan melihat melalui anoskop yang dimasukkan ke dalam rectum.
6. Penatalaksanaan
Pembedahan selalu dianjurkan karena beberapa fistula sembuh secara spontan. Fistulektomi (eksisi
saluran fistula) adalah prosedur yang dianjurkan. Usus bawah dievakuasi secara seksama dengan
enema yang diprogramkan.
Selama pembedahan, saluran sinus diidentifikasi dengan memasang alat ke dalamnya atau dengan
menginjeksi saluran dengan larutan biru metilen. Fistula didiseksi ke luar atau dibiarkan terbuka, dan
insisi lubang rektalnya mengarah keluar. Luka diberi tampon dengan kasa.
Sebuah studi menelan kontras, di mana radio-kekusaman dye adalah ditelan oleh pasien dan diambil
foto sinar-x dan CT scan, sering menunjukkan anatomi dari hiliran. Jika hiliran melibatkan titik dua,
yang kontras enema (kontras dye diberikan melalui dubur) dapat bermanfaat.
Parcel merupakan sistem kantong yang digunakan pada bentuk dan ukuran luka lebih luas dengan
menggabungkan hidrokoloid sheet dan double tape. Wound drain merupakan tindakan yang
dilakukan bertujuan untuk mengalirkan cairan yang cenderung terakumulasi pada lokasi yang
dilakukan pembedahan. Penggunaan wound drain dapat menggunakan kantong ostomi.
Parcel dressing dipakai pada luka bertujuan untuk menampung eksudat, melindungi jaringan,
mencegah infeksi silang, memonitor volume pengeluaran, meningkatkan rasa nyaman dan
mengurangi kecemasan pasien, meningkatkan mobilitas pasien. Sedangkan penggunaan wound
drain untuk mempertahankan keamanan drain, menampung pengeluaran, mencegah infeksi silang,
memonitor keefektifitasan drain dan volume pengeluaran, melindungi sekitar jaringan, meningkatkan
kenyamanan pasien dan mengontrol bau, meningkatkan mobilitas pasien dan biaya lebih efektif.
Kedua tehnik ini digunakan jika cairan yang keluar melalui luka dan fistula terlalu banyak biasanya
lebih dari 500 ml/24 jam. (Haryanto, 2009).
7. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien fisula adalah :
a. Infeksi
b. Gangguan fungsi reproduksi
c. Gangguan dalam berkemih
d. Gangguan dalam defekasi
e. Ruptur/ perforasi organ yang terkait
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan fistel enterokutaneus :
a. Kekurangan gizi
b. Dehidrasi
c. Masalah kulit
d. keracunan darah

B. Konsep Asuhan Keperawatan


Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk
menganalisa masalah pasien secara sistematis, menentukan cara pemecahannya, melakukan
tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan.
Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencanakan
dan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan
memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara
berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga
dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a. Sirkulasi
Tanda : Peningkatan TD (efek pembesaran ginjal)
b. Eliminasi
Gejala : Penurunan kekuatan /dorongan aliran urin, tetesan
Tanda : Feses keluar melalui fistula
c. Makanan/cairan
Gejala : Anoreksia; mual dan muntah
Tanda : Penurunan Berat Badan
d. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri suprapubik, daerah fistula dan nyeri punggung bawah
e. Keamanan
Gejala : Demam
f. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Rencana pembedahan
Rencana Pemulangan :
Memerlukan bantuan dengan manajemen terapi.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, proses inflamasi
b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses pembedahan
c. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan pola defekasi.
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d pengeluaran sari-sari makanan dari fistula, absorbsi tidak
adekuat.
e. Gangguan pemenuhan perawatan diri b/d keterbatasan gerak akibat nyeri
f. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
g. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan interpretasi.
h. Gangguan kebutuhan istirahat tidur b/d nyeri

3. Perencanaan
a. Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, proses inflamasi
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
Intervensi :
1) Kaji keluhan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas.
2) Pantau tanda-tanda vital.
3) Ajarkan teknik nafas dalam
4) Berikan tindakan kenyamanan misalnya masase
5) Penatalaksanaan pemberian obat analgetik
Rasional :
1) Membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan.meningkatnya nyeri secara bertahap pasca
operasi,menunjukkan melambatnya penyembuhan.
2) Peningkatan TTV menandakan adanya peningkatan skala nyeri
3) Meningkatkan relaksasi,mening kenyamanan dan menurunkan nyeri.
4) Menurunkan ketegangan otot sehingga nyeri berkurang
5) Memblok lmpuls nyeri ke otak sehingga nyeri tidak dipersepsikan
b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses pembedahan
Tujuan : Klien bebas dari tanda-tanda infeksi

Intervensi
1) Pantau tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu.
2) Obeservasi penyatuan luka, adanya inflamasi
3) Pantau pernapasan, bunyi napas. Pertahankan kepala tempat tidur tinggi 35-45 derajat, bantu
pasien untuk membalik, batuk, dan napas dalam.
4) Observasi terhadap tanda/ gejala peritonitis, mis, demam, peningkatan nyeri, distensi abdomen.
5) Pertahankan perawatan luka aspetik. Pertahankan balutan kering.
6) Berikan obat antibiotik sesuai indikasi.
Rasional
1) Suhu malam hari memuncak yang kembali ke normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi.
2) Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan.
3) Infeksi pulmonal dapat terjadi karena depresi pernapasan, ketidakefektifan batuk, dan distensi
abdomen.
4) Meskipun persiapan usus dilakukan sebelum pembedahan, peritonitis dapat terjadi bila usus
terganggu, mis, ruptur praoperasi, kebocoran anastomosis.
5) Melindungi pasien dari kontaminasi silang selama penggantian balutan. Balutan basah bertindak
sebagai retrograd, menyerap kontaminan eksternal.
6) Diberikan secara profilaktik dan untuk mengatasi infeksi.
c. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan pola defekasi
Tujuan : Terjadi peningkatan rasa harga diri
Intervensi
1) Kaji respon dan reaksi pasien dan keluarga terhadap penyakit dan penanganannya.
2) Kaji hubungan antara pasien dengan anggota keluarga.
3) Kaji pola koping pasien dan anggota keluarga.
4) Ciptakan diskusi terbuka tentang perubahan yang terjadi akibat penyakit dan penanganannya.
Rasional
1) Menyediakan data tentang masalah pada pasien dan keluarga dalam menghadapi perubahan
dalam hidup
2) Mengindentifikasi penguatan dan dukungan terhadap pasien.
3) Pola koping yang efektif diasa lalu mungkin potensial destruktif ketika memandang pembatasan
yang ditetapkan.
4) Pasien dapat mengindentifikasi masalah dan langkah-langkah yang diperlukan untuk
menghadapinya.
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d pengeluaran sari-sari makanan dari fistula, absorbsi tidak
adekuat.
Tujun : menunjukkan berat badan stabil atau penigkatakan berat badan sesuai sasaran dengan nilai
normal

Intervensi :
1) Timbang berat badan tiap hari
2) Dorong tirah baring atau pembatasan aktifitas selama fase sakit akut
3) Anjurkan istirahat sebelum makan
4) Berikan kebersihan oral
5) Catat masukan dan sintomatologi
6) Dorong pasien untuk mengatakan perasaan masalah mulai makan diet
7) Kolaborasi obat anti kolinergik sesuai indikasi
8) Kolaborasi vitamin B12 dan asam folat
Rasional :
1) Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/ keefektifan terapi.
2) Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi
3) Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan
4) Mulut yang bersih dapat menambah nafsu makan
5) Memberikan rasa kontrol pada pasien dan kesempatan unutk memilih makanan yang diingikan,
dapat meningkatkan masukan.
6) Keragu-raguan untuk makan mungkin dikibatkan oleh takut makan akan menyebabkan eksaserasi
gejala.
7) Anti kolinergik diberikan 15 sampai 30 menit sebelum makan memberikan penghilangan keram dan
deare.
8) Malabsorbsi B12 akibat kehilangan fungsi ileum penggantiannya mengatasi depresi sum-sum
tulang karena proses inflamasi lama, kekurangan asam folat umumnya terjadi sehubungan dengan
penurunan masukan atau absorbsi
e. Gangguan pemenuhan perawatan diri b/d keterbatasan gerak akibat nyeri
Tujuan : Klien dapat merawat dirinya secara bertahap
Intervensi :
1) Kaji tingkat kemampuan klien dalam merawat dirinya
2) Bantu klien dalam merawat dirinya
3) Berikan dorongan pada klien untuk melakukan perawatan mandiri secara bertahap.
4) Berikan motivasi pada keluarga agar membantu pemenuhan kebutuhan perawatan diri klien.
Rasional :
1) Mengetahui kemampuan klien dalam merawat dirinya
2) Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya
3) Memberi keyakinan pada klien bahwa ia dapat merawat diri tanpa bantuan orang lain
4) Keterlibatan keluarga membantu tercapainya tujuan serta membantu dalam mempertahankan hasil
yang telah dicapai.
f. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Tujuan : Kecemasan berkurang atau teratasi
Intervensi
1) Catat petunjuk perilaku mis, gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak mata, perilaku
menarik perhatian.
2) Dorong menyatakan perasaan. Berikan umpan balik
3) Akui bahwa ansietas dan masalah mirip yang diekspresikan orang lain. Tingkatkan perhatian
mendengan pasien.
4) Berikan informasi yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan.
5) Berikan lingkungan tenang dan istirahat.
6) Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan perhatian, perilaku perhatian.
7) Bantu pasien belajar mekanisme koping baru, mis teknik mengatasi stres.
Rasional
1) Stres dapat terjadi sebagai akibat gejala fisik kondisi, juga reaksi lain.
2) Membuka hubungan terapeutik. Membantu dalam meng-indentifikasi masalah yang menyebabkan
stres.
3) Validasi bahwa perasaan normal dapat membantu menurunkan stres.
4) Keterlibatan pasien dalam perencanaan perawatan memberikan rasa kontrol dan membantu
menurunkan ansietas.
5) Meningkatkan relaksasi, membantu menurunkan ansietas.
6) Tindakan dukungan dapat membantu pasien merasa stres berkurang.
7) Meningkatkan kontrol penyakit.
g. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan interpretasi
Tujuan : Klien/ keluarga menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan.
Intervensi
1) Tentukan persepsi pasien/ keluarga tentang proses penyakit.
2) Kaji ulang proses penyakit, penyebab/ efek hubungan faktor yang menimbulkan faktor pendukung.
3) Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis, dan kemungkinan efek samping.
4) Tekankan pentingnya perawatan kulit, mis, teknik cuci tangan dengan baik dan perawatan perineal
yang baik.
5) Penuhi kebutuhan evaluasi jangka panjang dan evaluasi periodik.
Rasional
1) Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kebutuhan belajar individu.
2) Pengetahuan dasar yang akurat memberikan kesempatan pasien untuk membuat keputusan
informasi/pilihan tentang masa depan dan kontrol penyakit.
3) Meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program.
4) Menurunkan penyebaran bakteri dan resiko iritasi kulit/kerusakan, infeksi.
5) Pasien dengan inflamasi beresiko untuk kanker dan evaluasi diagnostik teratur dapat diperlukan.
h. Gangguan kebutuhan istirahat tidur b/d nyeri
Tujuan : kebutuhan istirahat tidur klien terpenuhi
Intervensi :
1) Tentukan kebiasaan tidur dan perubahan yang terjadi
2) Anjurkan beberapa aktifitas ringan selama siang hari jamin pasien berhenti beraktifitas beberapa
jam sebelum tidur
3) Ciptakan lingkungan yang nyaman
Rasional :
1) Membantu dalam mengidentifikasi intervensi yang tepat
2) Aktifitas siang hari dapat membantu pasien menggunakan energi dan siap untuk tidur pada malam
hari
3) Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan kualitas tidur
4. Pelaksanaan
Selama tahap implementasi perawat melaksanakan rencana asuhan keperawatan. Instruksi
keperawatan diimplementasikan untuk membantu klien memenuhi kriteria hasil.
Komponen tahap implementasi terdiri dari :
a. Tindakan keperawatan mandiri
Tindakan keperawatan mandiri dilakukan tanpa pesanan dokter. Tindakan keperawatan mandiri ini
ditetapkan dengan standar praktek American Nurses Association; undang – undang praktik
keperawatan negara bagian; dan kebijakan institusi perawatan kesehatan.
b. Tindakan keperawatan kolaboratif
Tindakan keperawatan kolaboratif diimplementasikan bila perawat bekerja dengan anggota tim
perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan bersama yang bertujuan untuk mengatasi
masalah – masalah klien.
c. Dokumentasi tindakan keperawatan dan respons klien terhadap asuhan keperawatan.
Frekuensi dokumentasi tergantung pada kondisi klien dan terapi yang diberikan. Di rumah sakit,
catatan perawat ditulis minimal setiap shift dan diagnosa keperawatan dicatat di rencana asuhan
keperawatan. Setiap klien harus dikaji dan dikaji ulang sesuai dengan kebijakan institusi perawatan
kesehatan.

5. Evaluasi
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil – hasil yang diamati dengan kriteria hsil yang dibuat pada
tahap perencanaan. Klien keluar dari siklus proses keperawatan apabila kriteria hasil telah dicapai.
Klien akan masuk kembali ke dalam siklus apabila kriteria hasil belum tercapai.
Komponen tahap evaluasi terdiri dari pencapaian kriteria hasil, keefektifan tahap – tahap proses
keperawatan dan revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Peter, DMD, dkk..2000. Kompleks Enterocutaneus Hiliran: Penutupan dengan Rectus
Abdominalis Muscle Flap. http://www.medscape.com/viewarticle/410567 diakses tanggal 26 Agustus
2009.
Chang, Petrus. 2000. Kompleks Enterocutaneous hiliran.
http://www.medscape.com/files/public/blank.html diakses tanggal 26 Agustus 2009
Doengoes, Marylin E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3, EGC : Jakarta
Evenson, Amy, R., MD., Josef E. Fischer, MD, Facs. 2006. Peristiwa Pengelolaan
Enterocutaneoushiliran.http://www.ptolemy.ca/members/archives/2006/Fistula/evenson 2006.pdf
diakses tanggal 26 Agustus 2009
Haryanto. 2009. Penggunaan Parcel Dressing dan Wound Drain dengan Kantong Ostomi pada
Pasien Fistel Enterocutaneus..
http://gibyantowoundostomicontinent.blogspot.com/2009/02/penggunaan-parcel-dressing-dan-
wound.html diakses tanggal 26 Agustus 2009
http://www.imeem.com/people/51vqZE_/blogs/2009/03/04/0_Ph7hDf/enterocutaneous-
fistulasurgeryenterocutaneous-fistula. diakses tanggal 26 Agustus 2009
Lee, JA, MD. 2006. Entero-enteral atau enterocutaneous hiliran.
http://www.myonlinewellness.com/topic/adam1001129 diakses tanggal 26 Agustus 2009
Mansjoer, Arif, et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2, Medika Aesculapius FKUI : Jakarta
Medeiros, Aldo Cunha.,dkk. 2004. Perawatan Postoperative Enterocutaneous Fistulas oleh High-
Pressure Vacuum dengan lisan Diet Normal. http://content.karger.com/ProdukteDB/produkte.asp?
Doi=82317 diakses tanggal 26 Agustus 2009
Nining. 2008. Anak Asuhan Keperawatan dengan Fistula.
http://niningbai.wordpress.com/2008/03/11/asuhan-keperawatan-anak-dengan-fistula/ diakses tanggal
26 Agustus 2009
Price A, Sylvia., Loraiine M. Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 6
EGC : Jakarta
Smeltzer, Suzanne C.,Brenda G. Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddart edisi 8. Vol. 2, EGC : Jakarta
Diposting oleh eirichzon3 di 08.56

Reaksi:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Onkologi

Tidak ada komentar:


Posting Komentar
Link ke posting ini
Buat sebuah Link

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)


Welcome to EirichZon3...!!!

Terima kasih tentang semua kesedihan, kekesalan dan kebahagiaan...


Semuanya akan selalu jadi ukiran dalam pembelajaran hati...

Berlangganan

Postingan
Komentar
Clock
Mengenai Saya

eirichzon3
hanya orang biasa yang ingin menjadi luar biasa...hehehehe
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

 ► 2011 (3)
 ▼ 2010 (15)
o ► Desember (4)
o ► November (3)
o ▼ September (7)
 KTI Leukimia
 KTI Sindrom Nefrotik
 KTI Limfoma Hodkins
 KTI Tumor Colon
 KTI Ikterus obstruktif
 KTI Tumor Paru
 fistula enterkutaneus
o ► Januari (1)

Cari Blog Ini

Top of Form

Telusuri

Pengikut

Tema Sederhana. Diberdayakan oleh Blogger.