Anda di halaman 1dari 33

FORMULIR TELAAH JURNAL EBM

Judul Statins in hypercholesterolaemia: A dose-specific meta-analysis


of lipid changes in randomised, double blind trials
Penulis Jayne E Edwards dan R Andrew Moore
Publikasi BMC Family Practice 2003
Penelaah Isnaini Agustina
Tanggal telaah 6 Juli 2018

I. DESKRIPSI JURNAL
A. Komponen Deskripsi Jurnal
1. Tujuan utama penelitian
2. Tujuan tambahan penelitian
3. Hasil utama penelitian
4. Hasil tambahan penelitian
5. Kesimpulan penelitian
B. Uraian Deskripsi Jurnal
1. Tujuan Utama Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menentukan kemanjuran
dalam hal perubahan kolesterol darah dalam studi yang berlangsung
12 minggu atau lebih, yang mencerminkan kemungkinan penggunaan
seumur hidup dari obat-obatan ini begitu resep sudah ditulis..1
2. Tujuan Tambahan Penelitian
Tujuan tambahan pada penelitian ini adalah untuk memeriksa efek
dari durasi pengobatan dan efektivitas terhadap konsentrasi awal
kolesterol total. Untuk informasi tambahan, disertakan informasi
cerivastatin meskipun sudah ditarik dari pasaran.2
3. Hasil Utama Penelitian
Golongan statin yang berbeda pada berbagai dosis mengurangi
kolesterol total sebesar 17-35% dan kolesterol LDL sebesar 24-49%
dari kadar sebelumnya. Dosis statin yang lebih rendah umumnya
menghasilkan penurunan kolesterol yang lebih sedikit, meskipun
untuk kebanyakan statin dalam uji coba 12 minggu atau lebih, paling
baik hanya hubungan yang lemah antara dosis dan pengurangan kadar
kolesterol. Lama pengobatan dan konsentrasi total kolesterol awal
tidak mengubah jumlah manfaat yang diperoleh.3
4. Hasil Tambahan Penelitian
Pada penelitian ini ada beberapa hasil tambahan.
a. Atorvastatin
 Kolesterol HDL
Untuk HDL, konsentrasi awal adalah 1,30 mmol / L dan
peningkatan rata-rata adalah 0,1 mmol / L (7,0%).
 Trigliserida
Untuk trigliserida, konsentrasi awal adalah 2,0 mmol / L dan
pengurangan rata-rata adalah 0,34 mmol / L (17%).4
b. Cerivastatin
 Kolesterol HDL
Untuk semua dosis gabungan, konsentrasi awal rata-rata HDL
adalah 1,3 mmol / L dan peningkatan rata-rata adalah 0,1
mmol / L (7%).
 Trigliserida
Untuk semua dosis gabungan, konsentrasi awal rata-rata
adalah 2,1 mmol / L dan pengurangan rata-rata adalah 0,3
mmol / L (13%).5
c. Fluvastatin
 Kolesterol HDL
Untuk semua dosis dikombinasikan konsentrasi awal rata-rata
kolesterol HDL adalah 1,3 mmol / L dan peningkatan rata-rata
adalah 0,1 mmol / L (7%).
 Trigliserid
Untuk semua dosis dikombinasikan konsentrasi awal
trigliserida rata-rata 1,9 mmol / L dan pengurangan rata-rata
adalah 0,2 mmol / L (10%).6
d. Lovastatin
 Kolesterol HDL
Untuk semua dosis dikombinasikan konsentrasi awal rata-rata
kolesterol HDL adalah 1,3 mmol / L dan peningkatan rata-rata
adalah 0,1 mmol / L (7%).
 Trigliserida
Untuk semua dosis dikombinasikan konsentrasi awal rata-rata
trigliserida adalah 1,8 mmol / L dan pengurangan rata-rata
adalah 0,3 mmol / L (15%).7
e. Pravastatin
 Kolesterol HDL
Untuk semua dosis dikombinasikan konsentrasi awal rata-rata
kolesterol HDL adalah 1,1 mmol / L dan peningkatan rata-rata
dengan pravastatin adalah 0,1 mmol / L (12%). Dengan
pravastatin 40 mg konsentrasi awal HDL adalah 1,1 mmol / L
dan pengurangan rata-rata adalah 0,2 mmol / L (14%).
 Trigliserida
Untuk semua dosis, kombinasi konsentrasi awal trigliserida
adalah 1,8 mmol / L dan pengurangan rata-rata dengan
pravastatin adalah 0,2 mmol / L (12%). Hasilnya identik untuk
pravastatin 40 mg. 8
f. Rosuvastatin
 Kolesterol HDL
Lebih dari 12 minggu menggunakan data yang dikumpulkan
untuk rosuvastatin 5 mg atau 10 mg, konsentrasi awal HDL
rata-rata adalah 1,0 mmol / L dan peningkatan rata-rata adalah
0,1 mmol / L (9%). Data yang dikumpulkan untuk rosuvastatin
5–80 mg atau 10–80 mg setiap hari dalam dua percobaan
selama 52 minggu dengan rata-rata konsentrasi HDL awal
sebesar 1,4 mmol / L menunjukkan peningkatan rata-rata 0,06
mmol / L (4,2%).
 Trigliserida
Lebih dari 12 minggu menggunakan data yang dikumpulkan
untuk rosuvastatin 5 mg atau 10 mg, konsentrasi awal
trigliserida rata-rata 2,0 mmol / L dan pengurangan rata-rata
adalah 0,4 mmol / L (18%). Data yang dikumpulkan untuk
rosuvastatin 5–80 mg atau 10–80 mg setiap hari dalam dua
percobaan selama 52 minggu dengan rata-rata konsentrasi
trigliserida awal 2,0 mmol / L menunjukkan pengurangan rata-
rata 0,4 mmol / L (19%). 9
g. Simvastatin
 Kolesterol HDL
Untuk semua dosis dikombinasikan konsentrasi awal rata-rata
kolesterol HDL adalah 1,1 mmol / L dan peningkatan rata-rata
adalah 0,1 mmol / L (6%). Dengan dosis tetap 20 mg atau 40
mg setiap hari, berarti konsentrasi awal HDL adalah 1,2 dan
1,1 mmol / L dan peningkatan rata-rata adalah 0,1 dan 0,04
mmol / L (8%, 4%) masing-masing. Dengan konsentrasi awal
20-40 mg sehari adalah 1,2 mmol / L dan peningkatan rata-rata
adalah 0,1 mmol / L (8%).
 Trigliserida
Untuk semua dosis gabungan konsentrasi awal trigliserida
adalah 2,0 mmol / L dan pengurangan rata-rata adalah 0,4
mmol / L (17%). Dengan dosis tetap 20 mg atau 40 mg setiap
hari, berarti konsentrasi awal trigliserida adalah 1,9 dan 2,2
mmol / L dan pengurangan berarti masing-masing 0,3 dan 0,4
mmol / L (17%, 18%). Dengan konsentrasi awal 20-40 mg
sehari adalah 1,5 mmol / L dan pengurangan rata-rata adalah
0,2 mmol / L (10%).10
h. Placebo
Empat puluh tujuh percobaan membandingkan statin melawan plasebo
(25.081 pasien) selama 12 minggu hingga 5 tahun. Hasil analisis
ditunjukkan pada Tabel 2. Konsentrasi awal rata-rata kolesterol total
adalah 6,2 mmol / L dan pengurangan rata-rata adalah 0,004 mmol / L
(0,07%). Kolesterol LDL awal rata-rata adalah 4,1 mmol / L dan
pengurangan rata-rata adalah 0,2 mmol / L (6%). Kolesterol HDL
awal rata-rata adalah 1,1 mmol / L dan peningkatan rata-rata adalah
0,04 mmol / L (3%). Konsentrasi trigliserida awal rata-rata adalah 2,0
mmol / L dan pengurangan rata-rata 0,1 mmol / L (7%). 11
5. Kesimpulan Penelitian
Statin adalah obat yang efektif dan memberi manfaat kepada pasien
dalam hal pencegahan penyakit jantung koroner primer dan sekunder
melalui pengurangan kolesterol total dan LDL. Umumnya, efek
menurunkan kolesterol dari statin serupa. Dosis statin yang lebih
rendah umumnya menurunkan penurunan kolesterol. Lama
pengobatan dan konsentrasi total kolesterol awal tidak mengubah
jumlah manfaat yang diperoleh. Pelaporan informasi yang lebih baik
dalam laporan yang dipublikasikan dari uji klinis akan meningkatkan
utilitas mereka dan meningkatkan relevansi klinis meta-analisis.12
II. TELAAH JURNAL
Validitas Seleksi
A. Komponen Validitas Seleksi
1. Kriteria seleksi
2. Metode alokasi subjek
3. Concealment
4. Angka drop out
5. Jenis analisis: intention to treat atau perprotocol analysis
B. Uraian Validitas Seleksi
1. Kriteria Seleksi
Pasien dalam uji coba digambarkan terutama sebagai
hiperkolesterolemia atau memiliki penyakit arteri koroner atau berisiko
terkena penyakit arteri koroner. Pengecualian pasien umum dari percobaan
yang disertakan adalah hiperlipidemia sekunder, diabetes atau hipertensi
yang tidak terkontrol atau angina, gangguan fungsi ginjal atau hati, wanita
premenopause kecuali dengan pembedahan sterilisasi, infark miokard baru
atau operasi pintas koroner (biasanya dalam 3 bulan setelah masuk studi),
penyalahgunaan zat sebelumnya, obesitas berlebihan (lebih dari 30% di
atas berat badan ideal), hipersensitivitas terhadap HMG-CoA reductase
inhibitor, dan penggunaan kortikosteroid atau obat imunosupresif. 13
2. Metode Alokasi Subjek
Pada penelitian ini, alokasi subjek dilakukan pada pasien dengan
cara diacak (randomised) untuk pengobatan statin dalam 24 jam dari
prosedur seperti angioplasty atau operasi jantung. Pemilihan obat
golongan statin dilakukan secara randomised and double blind. 14
3. Concealment
Concealment adalah prosedur untuk menyembunyikan tabel hasil
randomisasi. Pada penelitian ini, concealment dilakukan dengan cara
ketika perawatan berbeda dalam penampilan atau dosis double blinding
perawatan studi dipertahankan menggunakan teknik dummy ganda.
Dengan Teknik ini, hasil randomisasi disembunyikan oleh peneliti. 15
4. Angka Drop Out
Pada penelitian ini empat puluh dua ulasan dan 509 laporan yang
dianggap sebagai uji coba acak yang potensial diambil. Sejumlah
percobaan diterbitkan lebih dari satu kali, sebagian atau seluruhnya. Dari
laporan percobaan potensial, 418 dikeluarkan. Banyak percobaan awal
memiliki durasi yang pendek atau menggunakan desain label terbuka dan
harus dikeluarkan dari analisis ini.
Alasan untuk mengesampingkan hasil dari 418 studi tersebut,
termasuk mega-analysis yang disebutkan di atas, yaitu durasi kurang dari
12 minggu (89 laporan), bukan double-blind (55), kurang dari 20 pasien
per kelompok (39), hiperkolesterolemia familial (22), tidak ada data
kolesterol 22 laporan dari 15 percobaan), duplikasi informasi (78 laporan
dari 43 percobaan), tambahan desain atau terapi obat kombinasi (11), data
dasar tidak disediakan oleh kelompok perlakuan (7), dan berbagai alasan
lainnya (95) termasuk kegagalan pengacakan, ketidakmampuan untuk
menerjemahkan atau memperoleh laporan, analisis atau ulasan yang
dikumpulkan, percobaan berlangsung, hanya berupa desain dan lain-lain..
16

5. Jenis Analisis
Pada penelitian ini dilakukan adalah meta analisis sensitivitas pra-
terencana digunakan untuk menentukan efek dari konsentrasi awal
kolesterol total, durasi penelitian, efek dari uji coba besar, dan efek pada
plasebo dibandingkan uji coba terkontrol aktif. Informasi tidak
dikumpulkan pada efek samping. 17
C. Kesimpulan Validitas Seleksi
Penelitian ini mempunyai validitas seleksi yang baik dari aspek alokasi
random, drop out, concealment, dan jenis analisis.

Validitas Pengontrolan Perancu


A. Komponen Validitas Pengontrolan Pcrancu
1. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara restriksi
2. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara randomisasi
3. Analisis terhadap komparabilitas baseline data
4. Pengontrolan perancu pada saat analisis (bila diperlukan)
B. Uraian Validitas Pengontrolan Perancu
1. Pengontrolan Perancu pada Tahap Desain: Restriksi dan Randomisasi
Pada penelitian ini, terdapat beberapa perancu yang dikontrol dengan
cara restriksi. Variabel tersebut adalah tanda-tanda pneumonia berat
(sianosis, kejang, tidak dapat minum, tidak dapat bangun, malnutrisi
berat, dan stridor), kondisi lainnya yang memerlukan terapi antibiotik,
terdapat penyakit jantung bawaan yang didiagnosis secara klinis,
kelainan sistemis yang kronis, riwayat mengi berulang atau asma,
mengalami perawatan dalam dua minggu terakhir, memperoleh
antibiotik dalam dua hari sebelumnya, mengalami measles dalam satu
bulan sebelumnya, riwayat alergi penisilin, dan yang sudah mengikuti
penelitian.16 Metode lainnya yang digunakan oleh peneliti untuk
mengontrol variabel perancu adalah dengan teknik alokasi random.
Metode yang digunakan adalah randomisasi blok dengan jumlah blok
yang bervariasi.l7
2. Komparabilitas Baseline Data dan Kepatuhan
Baseline data disajikan oleh peneliti pada Tabel 1. Menurut peneliti,
tidak ada perbedaan karakteristik baseline data antara dua kelompok
pengobatan.18 Penelaah sependapat dengan pendapat peneliti. Tidak
ada perbedaan antara kedua kelompok berdasarkan usia, tinggi badan,
berat badan, lama sakit, suhu, frekuensi napas, jenis kelamin, status
gizi, demam, batuk, kesulitan bernapas, muntah, diare, mengi, dan
adanya respiratory syncytial virus (RSV).19

Berdasarkan kepatuhan minum obat, tidak didapatkan perbedaan


kepatuhan antara kedua kelompok pengobatan. Angka kepatuhan pada
kelompok pengobatan tiga hari dan lima hari pada hari ke-3 dan ke-5
masing-masing sebesar 94,2% vs 93,9% dan 85,6% vs 84,9%.20 Bila
dihitung dengan jumlah tablet yang diminum, rata-rata dosis yang
diminum adalah 5,56 (SD 1,6) dari total 6 dosis yang harus diminum
untuk kelompok tiga hari dan 8,9 (SD 0,9) dari total, 10 dosis yang
harus diminum untuk kelompok lima hari.21
3. Pengontrolan Perancu pada Saat Analisis
Pada penelitian ini, pengontrolan variabel perancu pada tahap analisis
tidak diperlukan. Hal ini karena baseline data antara kedua kelompok
sudah setara.
Validitas Informasi
A. Komponen Validitas Informasi
1. Blinding (penyamaran)
2. Komponen pengukuran variabel penelitian (kualifikasi pengukur,
kualifikasi alat ukur, kualifikasi cara pengukuran, kualifikasi tempat
pengukuran)
B. Uraian Validitas Informasi
1. Blinding (Penyamaran)
Pada penelitian ini dilakukan double blind (penyamararn ganda).
Untuk lebih menjamin proses blinding, peneliti melakukan
randomisasi blok dengan jumlah blok yang bervariasi.
2. Komponen Pengukuran Variabel Penelitian
Pada penelitian ini, prosedur penelitian dan komponen pengukuran
untuk semua variabel utama penelitian (kadar kolesterol total, kadar
LDL, kadar HDL, kadar Trigliserida) Konsentrasi lipid dianalisis
sebagai mmol/L dan informasi yang disediakan dalam mg/dL diubah
menjadi mmol/L. Untuk kolesterol, nilai dalam mg/dL dikalikan
dengan 0,02586. Untuk trigliserida, nilai dalam mg/dL telah diolah
dengan 0,01129 telah dijelaskan secara rinci. Perubahan kadar
kolesterol total, kadar LDL, kadar HDL serta kadar Trigliserida
didefinisikan hasil dari penggunaan obat sebagai perubahan angka
yang dapat menjawab kemanjuran obat golongan statin terhadap
penurunan kadar kolesterol total.
C. Kesimpulan Validitas Informasi
Penelitian ini mempunyai validitas informasi yang baik.

Validitas Analisis
A. Komponen Validitas Analisis
1. Analisis terhadap baseline data
2. Analisis dan interpretasi terhadap hasil utama dan hasil tambahan
3. Bila dilakukan analisis interim, jelas stopping rule-nya
4. Dilakukan analisis lanjutan bila basaline data tidak sama
B. Uraian Validitas Analisis
1. Analisis terhadap Baseline Data Dilakukan secara Klinis
Pada penelitian ini, peneliti tidak melaporkan baseline data. Namun,
peneliti membandingkan baseline data secara klinis, tidak dengan
menguji secara statistik. Peneliti menyimpulkan bahwa lama
pengobatan dan konsentrasi total kolesterol awal tidak mengubah
jumlah manfaat yang diperoleh. Metode untuk membandingkan
baseline data dan interpretasi yang dilakukan peneliti terhadap
baseline data sudah tepat.
2. Analisis dan Interpretasi terhadap Hasil Utama dan Hasil Tambahan
Sesuai dengan Seharusnya
 Analisis untuk Hasil Utama
Hasil utama penelitian terdapat pada Tabel 2. Data yang terdapat
pada tabel tersebut dapat dimodifikasi menjadi tabel berikut
Tabel 1. Ringkasan efek dari statin yang berbeda terhadap kadar kolesterol total
dan LDL. Semua dosis digabungkan.

 Analisis untuk Hasil Tambahan


Tabel 2. Ringkasan efek dari statin yang berbeda terhadap kadar HDL dan
Trigliserida. Semua dosis digabungkan.
3. Pada Analisis Interim, Jelas Stopping Rule-nya
Pada penelitian ini tidak direncanakan analisis interim pada subjek.
4. Dilakukan Analisis Lanjutan bila Baseline Data Tidak Sama
Pada penelitian ini, analisis lanjutan tidak diperlukan. Hal ini karena
karena baseline data antara semua kelompok sudah setara.
C. Kesimpulan Validitas Analisis
Validitas analisis penelitian ini cukup baik. Beberapa kekurangan analisis
dan interpretasi pada hasil (tidak dilaporkan pengujian secata statistik pada
baseline data, dan tidak direncanakan analisis interim) bersifat minor
sehingga tidak mengganggu validitas analisis secara keseluruhan.

Validitas Interna Kausal


A. Komponen Validitas Interna Kausal
1. Temporality
2. Spesifikasi
3. Kekuatan hubungan
4. Dosis respons
5. Konsistensi internal
6. Konsistensi eksternal
7. Biological plausibility
B. Uraian Validitas Interna Kausal
1. Temporality
Pada penelitian uji klinis, temporality sudah pasti terpenuhi.
2. Spesifikasi
Pada penelitian uji klinis, spesifikasi terpenuhi apabila baseline data
antara kelompok penelitian setara sehingga perbedaan hasil pengobatan
bisa dijelaskan oleh karena perbedaan hasil pengobatan yang diberikan.
Pada penelitian ini, spesifikasi terpenuhi karena baseline data antara
kelompok pengobatan dengan obat golongan statin yang berbeda telah
setara.
3. Kekuatan Hubungan
Pada penelitian uji klinis non-inferiority, kriteria kekuatan hubungan
harus dibandingkan dengan effek size yang diharapkan. Effek size pada uji
klinis non-inferiority adalah perbedaan proporsi maksimal yang masih
dianggap sama. Pada uji klinis non-inferiority, peneliti mau
membuktikan hubungan yang lemah atau effek size yang lebih kecil
daripada effek size maksimal. Pada penelitian ini, effek size maksimal
adalah sebesar 5% artinya pengobatan tiga hari dikatakan sama
efektifnya dengan pengobatan lima hari jika perbedaan
kagagalan/kesembuhan pengobatan tidak lebih dari 5%.41 Perbedaan
kesembuhan yang didapatkan penelitian adalah 0,4% berarti lebih rendah
daripada 5%. Dengan demikian, kekuatan hubungan (yang lemah)
terpenuhi.
4. Dosis Respons
Apabila pengobatan tiga hari dan lima hari dianggap sebagai dosis
respons, maka penelitian ini membuktikan tidak adanya dosis respons.
Karena penelitian ini merupakan penelitian uji klinis non-inferiority,
maka tidak adanya dosis respons sesuai dengan hipotesis penelitian.
5. Konsistensi Internal
Konsistensi internal terpenuhi apabila hasil pada strata tertentu sama
dengan hasil pada keseluruhan. Pada penelitian ini, analisis stratifikasi
dilakukan oleh peneliti berdasarkan kelompok mengi. Peneliti
membuktkan bahwa hasil yang diperoleh pada kelompok mengi, pada
kelompok tidak mengi, dan pada keseluruhan adalah sama.42 Dengan
demikian, konsistensi internal terpenuhi. Walaupun demikian, terdapat
analisis stratifikasi yang penting untuk dilakukan akan tetapi peneliti
tidak melakukannya. Analisis tersebut adalah analisis stratifikasi
berdasarkan konfirmasi ada tidaknya infeksi bakteri.
6. Konsistensi Eksternal
Kriteria konsistensi eksternal terpenuhi apabila hasil penelitian sama
dengan hasil penelitian lainnya. Angka kesembuhan yang diperoleh pada
penelitian ini sama dengan hasil penelitian sebelumnya yang
dilaksanakan di tempat lain (Pakistan).43 Untuk faktor-faktor yang
berhubungan dengan kegagalan terapi, terdapat perbedaan hasil antara
hasil penelitian ini dengan hasill yang diperoleh di Pakistan. Pada
penelitian di Pakistan, variabel umur bukan merupakan variabel yang
berhubungan dengan kegagalan terapi.44
7. Biological Plausibility
Biological plausibility untuk keluaran utama (kesembuhan pada hari
ke-5)
Menurut peneliti, sangat rasional bila Amoxicillin dengan pengobatan
yang lebih singkat (tiga hari) terbukti bermanfaat untuk pneumonia. Hal
ini karena sekitar 50% kasus terbukti terinfeksi S. pneumoniae dan H
influenzae.45 Sementara Amoxicillin adalah antibiotik yang efektif untuk
kedua bakteri tersebut. Pengobatan Amoxicillin dalam jangka pendek
telah terbukti efektif untuk infeksi lainnya yang disebabkan kedua bakteri
ini dlan juga bakteri lainnya Infeksi tersebut antara lain tonsilofaringitis,
infeksi saluran kemih, dan infeksi pada anak lainnya yang sering
terjadi.46
Biological plausibility untuk faktor faktor yang berhubungan dengan
kegagalan terapi
Pada penelitian ini, variabel umur adalah salah satu variabel yang
berhubungan dengan kegagalan pengobatan. Hal ini berbeda dengan
temuan di Pakistan yang menemukan bahwa umur tidak berhubungan
dengan kegagalan pengobatan. Menurut peneliti, perbedaan temuan ini
mungkin disebabkan proporsi yang sedikit dari anak usia < 12 bulan
yang serta viriasi antara beberapa tempat penelitian.47
C. Kesimpulan Validitas Interna Kausal
Aspek validitas interna kasual untuk keluaran utama (kesembuhan pada
hari ke-5) terpenuhi oleh penelitian ini. Aspek tersebut adalah
temporality, spesifikasi, kekuatan hubungan, dosis respons, konsistensi
internal, konsistensi eksternal, dan biological plausibility. Untuk
keluaran tambahan, validitas interna kausal tidak begitu mendapat
pembahasan yang cukup. Hal ini wajar karena untuk laporan pada jurnal,
peneliti mesti lebih memprioritaskan pembahasan pada keluaran utama.

Validitas Eksterna
A. Komponen Validitas Eksterna
1. Validitas eksterna 1
 Besar sampel
 Participation rate
2. Validitas eksterna 2
 Validitas eksterna 1
 Logika akademis untuk generalisasi penelitian
B. Uraian Validitas Eksterna
1. Validitas Eksterna 1
Suatu penelitian uji klinis mempunyai validitas eksterna 1 yang baik
apabila besar sampel yang direkrut terpenuhi dan participation rate
tinggi. Pada penelitian ini, dengan kesalahan tipe I sebesar 5% dan
kesalahan tipe II sebesar 80%, prediksi kegagalan terapi pada
kelompok lima hari sebesar 12% dan effek size minimal sebesar 5%,
diperlukan subjek sebanyak 950/kelompok.48 Apakah perhitungan
tersebut benar?
Berdasarkan tujuannya, penelitian tersebut membandingkan proporsi
antara dua kelompok. Dengan demikian, rumus besar sampel yang
digunakan adalah:
𝑍 ∝ √2𝑃𝑄 + 𝑍𝛽√𝑃1𝑄1 + 𝑃2𝑄2 2
𝑛1 = 𝑛2 = ( )
𝑃1 − 𝑃2
Dari teks di atas, kita memperoleh informasi bahwa:
Kesalahan tipe I=5%, dengan demikian zα=1,96
Power penellitian = 90%, sehingga kesalahan tipe II = 100%-power
= 100%-80% = 10%, dengan demikian, zβ=1,28
P2 = proporsi kegagalan terapi pada pengobatan lima hari = 12%
Q2 = 100%-P2 = 100%-12% = 88%
P1-P2 = perbedaan proporsi maksimal yang dianggap bermakna =
5%
P1 = P2+15% = 12%+5% = 17%
Q1 = 100%-P1 = 100%-17% = 83%
P = (P1+P2)/2 = (17%+12%)/2 = 14,5%
Q = 100%-P = 100%-14,5% = 85,5%
Dengan rangkaian informasi terselOut, kita dapat melakukan
perhitungan besar sampel:

2
𝑍 ∝ √2𝑃𝑄 + 𝑍𝛽√𝑃1𝑄1 + 𝑃2𝑄2
𝑛1 = 𝑛2 = ( )
𝑃1 − 𝑃2
2
1,96√2 × 0,145 × 0,855 + 1,28√0,12 × 0,82 + 0,17 × 0,83
𝑛1 = 𝑛2 = ( )
0,005

= 1040

Dengan demikian, kita dapat melakukan konfirmasi bahwa besar


sampel yang dihitung oleh penulis jurnal adalah tidak tepat.
Seharusnya, jumlah subjek untuk setiap kelompok adalah 1040
bukan 950 subjek. Walaupun demikian, ternyata subjek yang
direkrut pada penelitian ini adalah masing-masing sebanyak 1095
dan 1093, lebih banyak dari subjek minimal yang diperlukan. Secara
statistik, besar sampel minimal terpenuhi. Akan tetapi, secara etis,
seharusnya peneliti menjelaskan mengapa besar sampel yang
direkrut lebih banyak daripada besar sampel yang diperlukan.
Participation rate pada penelitian ini adalah seolah-olah 100%
karena analisis yang digunakan adalah analisis ITT.
Berdasarkan pertimbangan besar sarnpel minimal terpenuhi dan
participation rate 100%, maka hasil yang diperoleh pada penelitian
ini dapat digeneralisasikan pada pcpulasi terjangkau. Populasi
terjangkau penelitian ini adalah anak dengan pneumonia yang
berobat di rumah sakit di tujuh rumzh sotkit rujukan di India.49
2. Validitas Eksterna 2
Karena secara logis hasil penelitian dapat digeneralisasi pada
populasi target, maka hasil penelitian ini dapat digeneralisasikan
pada populasi targetnya. Populasi target pada penelitian ini adalah
anak dengan pneumonia tidak berat di India.
C. Kesimpulan Validitas Eksterna
Penelitian ini mempunyai validitas eksterna 1 dan validitas eksterna 2 yang
baik. Peneliti mempunyai keyakinan bahwa hasil penelitian dapat
digeneralisasikan kepada populasi yang lebih luas karena hasil penelitiannya
sejalan dengan penelitian lainnya yang dilakukan di tempat yang berbeda.
Peneliti merekomendasikan pengobatan tiga hari untuk anak dengan
pneumonia tidak berat karena sama efektifnya dengan pengobatan lima hari
serta membutuhkan biaya yang lebih murah.50 Walaupun demikian, terdapat
kelemahan penelitian yang ada kaitannya dengan generalisasi penelitian.
Penelitian ini adalah penelitian yang berbasiskan rumah sakit, penyebab
infeksi tidak semuanya diketahui, masa follow up dibatasi selama 15 hari, dan
subjek dengan riwayat asma tidak diikutsertakan di dalam penelitian.51

Importancy
A. Komponen Importancy
1. Perbandingan effek size yang diperoleh dengan effek size yang
diharapkan oleh pembaca.
2. Bila outcome kategorik: nilai relative risk (RR), relative risk reduction
(RRR), absolute risk reduction (ARR), number needed to treat (NNT),
dan cost analysis.
B. Uraian Importancy
1. Perbandingan effek size yang diperoleh dengan effek size yang
diharapkan oleh pembaca.
Peneliti menetapkan effek size maksimal sebesar 5%. Sebagai pembaca,
penelaah setuju dengan judgement peneliti. Dengan demikian, penelaah
sepakat dengan semua interpretasi dari keluaran utama yang
disampaikan oleh peneliti.
2. Bila outcome kategorik: nilai relative risk (RR), relative risk reduction
(RRR), absolute risk reduction (ARR), number needed to treat (NNT),
dan cost analysis.
Dengan menggunakan tabel keluaran utama, kita dapat menghitung
nilai relative risk (RR), relative risk reduction (RRR), absolute risk
reduction (ARR), dan number needed to treat (NNT).
𝑎 980
𝐸𝐸𝑅 = = = 0,8949
𝑎+𝑏 980 + 115
𝑐 983
𝐶𝐸𝑅 = = = 0,8993
𝑐+𝑑 983 + 110
𝐸𝐸𝑅 0,8949980
𝑅𝑅 = = = 0,9951
𝐶𝐸𝑅 0,8993
𝑅𝑅𝑅 = 1 − 𝑅𝑅 = 1 − 0,9951 = 0,0048
𝐴𝑅𝑅 = |𝐸𝐸𝑅 − 𝐶𝐸𝑅| = |0,8949 − 0,8993| = 0,0043
1 1
𝑁𝑁𝑇 = = = 228,18 = 229
𝐴𝑅𝑅 0,0043

Berdasarkan nilai NNT, kita mengetahui bahwa diperlukan 229


pengobatan Amoxicillin selama tiga hari untuk memperoleh satu
perbedaan kesembuhan dengan pengobatan lima hari.52 Nilai NNT ini
"sangat besar" sehingga pengobatan tiga hari bisa dianggap sama
dengan pengobatan lima hari.
Bila dihitung dari aspek biaya, berdasarkan perhitungan peneliti, untuk
mengobati 1000 subjek dengan pengobatan tiga hari dan lima hari,
masing-masing memerlukan $1100 dan $1250. Bila dikonversi ke
dalam rupiah, biaya pengobatan masing-masing sebesar Rp 11.000.000
dan Rp12.500.000. Selisih biaya adalah sebesar Rp1.500.000 untuk
setiap 1000 pasien, atau berbeda Rp1.500/pasien. Perbedaan sebesar
Rp1.500 ini relatif, besar kecilnya tergantung " pada pasien yang
sedang dihadapi dan tergantung pada wilayah kerja seorang dokter. Bila
dokter tersebut bekerja di suatu wilayah yang memerlukan
penghematan obat-obatan, maka hasil penelitian ini memberikan
argumentasi yang cukup kuat bagi dokter tersebut untuk memberikan
pengobatan selama tiga hari kepada pasien pneumonia tidak berat.

C. Kesimpulan Importancy
Penelitian ini memenuhi aspek importancy.

Applicability
A. Komponen Applicability
1. Transportability
2. Kemampuan pelayanan, ekonomi, dan sosial budaya
B. Uraian Applicability
1. Transportability
Apakah hasil penelitian yang dilakukan di India ini dapat digeneralisasi
untuk pasien yang kita hadapi di Indonesia (transportability)? Tentu
saja secara logis, hasil tersebut dapat digeneralisasi pada pasien di
Indonesia dengan dua pertimbangan utama.
a. Pasien anak dengan pneumonia tidak berat.
b. Pola kuman pada wilayah tempat anak tersebut tinggal diketahui
masih sensitif terhadap Amoxicillin.
c. Gambaran keseluruhan tampilan klinis pasien.
2. Kemampuan pelayanan, ekonomi, dun sosial budaya
Karena Amoxicillin adalah obat yang tersedia dimana-mana, dengan
biaya yang terjangkau, maka hasil utama penelitian ini sangat
mampulaksana. Syarat utamanya terletak pada Judgement mengenai
transportability hasil penelitian kepada populasi atau pasien yang kita
hadapi di Indonesia.
C. Kesimpulan Applicability
Hasil penelitian utama mampulaksana untuk dikerjakan di Indonesia
dengan syarat aspek transportability terpenuhi.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penelitian ini mempunyai validitas interna non-kausal (validitas seleksi,
informasi, pengontrolan perancu, dan analisis), validitas interna kausal,
dan validitas eksterna yang baik. Penelitian ini juga memenuhi kriteria
importancy dan applicability. Aspek applicability sangat tergantung pada
judgement kita mengenai transportability dari hasil penelitian kepada
populasi atau pasien yang sedang kita hadapi.
B. Saran
Saran untuk klinisi dan pembuatan kebijakan
Karena penelitian ini valid, important, dan applicable, maka penelitian ini
dapat menjadi dasar untuk terapi tiga hari dengan Amoxicillin pada
pneumonia tidak berat. Perlu dicatat bahwa aspek applicability sangat
tergantung pada judgement kita mengenai transportability dari hasil
penelitian kepada populasi atau pasien yang sedang kita hadapi. Dua
pertimbangan utama yang perlu diperhatikan adalah mengenai derajat
penyakit pasien serta pola resistensi bakteri pada wilayah asal pasien. Bila
kedua syarat terpenuhi, terdapat alasan yang cukup kuat untuk membuat
kebijakan pengobatan Amoxicillin tiga hari untuk kasus pneumonia tidak
berat sehingga dapat melakukan penghematan biaya pengobatan.
Pada penelitian ini diketahui bahwa faktor-faktor yang berhubungan
dengan kegagalan terapi adalah respiratory syncytial virus, excess
respiratory rate >10 kali/menit, dan ketidakpatuhan pada pengobatan hari
ke-5. Oleh karena itu, evaluasi dan edukasi terhadap pasien dengan excess
respiratory rate > 10 kali/menit harus lebih tegas, edukasi tentang
kepatuhan minum obat harus lebih jelas, dan bagi senter yang
memungkinkan pemeriksaan RSV, dapat dipertimbangkan pemeriksaan
RSV.
Saran untuk penelitian
1. Penelitian sejenis perlu dilakukan di Indonesia untuk mengonfirmasi
apakah hasil penelitian di India dan Pakistan tersebut sesuai dengan
keadaan di Indonesia.
2. Karena pada penelitian ini tidak dilakukan analisis berdasarkan
konfirmasi infeksi bakteri, pasien dengan riwayat asma tidak
diikutsertakan, dan penelitian berbasis rumah sakit rujukan, maka
penelitian yang dilakukan di Indonesia sebaiknya memperbaiki
metodologi dari aspek analisis, setting penelitian pada komunitas, dan
kriteria subjek mengikutsertakan subjek dengan riwayat asma.

DAFTAR PUSTAKA
Altman, D.G. 1999. Practical Statistics for Medical Rest-arch. Boca Raton:
Chapman and Hall.
Chow, S.C. dan J.P. Liu. 2004. Design and Analysis of Clinical Research:
Concept and Methodology. Edisi 2. New Jersey: Wiley-Interscience.
Dahlan, M.S. 2008. Evidence Based Medicine Seri 1: Statistik untuk Kedokteran
dan Kesehatan: Deskriptif, Bivariat, dan Multivariat. Edisi 3. Jakarta: Salemba
Medika.
Dahlan, M.S. Evidence Based Medicine Seri 2: Bestir Scmpel dan Caro-
Pengambilan Sampel untuk Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika.
Elwood, J.M. 1999. Critical Appraisal of Epidemiological Studies and Clinical
Trials. Edisi 2. New York: Oxford University Press.
Friedman, L.M., C.L. Furberg, dan D.L. Mendes. 1998. Fundamentals of Clinical
Trials. Edisi 3. New York: Springer.
Moher, D., K.F. Schulz, dan D. Altman. 2001. "The CONSORT Statement:
Revised Recommendations for Improving the Quality of Parallel-group
Randomized Trials” JAMA 285:1987-1991.
Sastroasmoro, S., dan S. Ismael. 2008. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto.
Schulz, K.FY dan D.A. Grimes. 2006. The Lancet Handbook of Essential
Concepts in Clinical Research. Edinburgh: Elsevier.
DAFTAR KUTIPAN DARI ARTIKEL
1
The primary objective was to determine efficacy in terms of changes in
blood cholesterol in studies lasting 12 weeks or longer, that reflect the
probable lifetime use of these drugs once a prescription has been written.
(halaman 2, background, paragraf 4)
2
Secondary objectives were to examine the effects of duration of treatment
and initial concentration of total cholesterol on efficacy. For
completeness, information for cerivastatin was included despite its
withdrawal from the market. (halaman 2, background, paragraf 4)
3
Different statins at a range of doses reduced total cholesterol by 17–35% and
LDL- cholesterol by 24–49% from baseline. Lower doses of statins generally
produced less cholesterol lowering, though for most statins in trials of 12 weeks
or longer there was at best only a weak relationship between dose and cholesterol
reduction. Duration of treatment and baseline total cholesterol concentration did
not alter the amount of the benefit attained. (halaman 1, abstract, result)
4
HDL cholesterol: For HDL, initial concentration was 1.30 mmol/L and the
mean increase was 0.1 mmol/L (7.0%).
Triglycerides: For triglycerides, the initial concentration was 2.0 mmol/ L and the
mean reduction was 0.34 mmol/L (17%). (halaman 6, result, paragraf 4 dan 5)
5
HDL cholesterol: For all doses combined, the mean initial concentration of
HDL was 1.3 mmol/L and the mean increase was 0.1 mmol/L (7%).
Triglycerides: For all doses combined, the mean initial concentration was 2.1
mmol/L and the mean reduction was 0.3 mmol/L (13%).(halaman 7, result,
paragraf 4 dan 5)
6
HDL cholesterol: For all doses combined the mean initial concentration of HDL
cholesterol was 1.3 mmol/L and the mean increase was 0.1 mmol/L (7%).
Triglycerides: For all doses combined the mean initial concentration of
triglycerides was 1.9 mmol/L and the mean reduction was 0.2 mmol/L
(10%).%).(halaman 9, result, paragraf 4 dan 5)
7
HDL cholesterol: For all doses combined the mean initial concentration of HDL
cholesterol was 1.3 mmol/L and the mean increase was 0.1 mmol/L (7%).
Triglycerides: For all doses combined the mean initial concentration of
triglycerides was 1.8 mmol/L and the mean reduction was 0.3 mmol/L (15%).
(halaman 9 dan 10, result, paragraf 4 dan 5)
8
HDL cholesterol: For all doses combined the mean initial concentration of HDL
cholesterol was 1.1 mmol/L and mean increase with pravastatin was 0.1 mmol/L
(12%). With pravastatin 40 mg the initial concentration of HDL was 1.1 mmol/L
and the mean reduction was 0.2 mmol/L (14%).
Triglycerides: For all doses combined the mean initial concentration of
triglycerides was 1.8 mmol/L and mean reduction with pravastatin was 0.2
mmol/L (12%). Results were identical for pravastatin 40 mg. (halaman 10 dan 11,
result, paragraf 4 dan 5)
9
HDL cholesterol: Over 12 weeks using pooled data for rosuvastatin 5 mg or 10
mg, the mean initial concentration of HDL was 1.0 mmol/L and the mean increase
was 0.1 mmol/L (9%). Pooled data for rosuvastatin 5–80 mg or 10–80 mg daily in
two trials over 52 weeks with a mean initial HDL con- centration of 1.4 mmol/L
showed a mean increase of 0.06 mmol/L (4.2%).
Triglycerides: Over 12 weeks using pooled data for rosuvastatin 5 mg or 10 mg,
the mean initial concentration of triglycerides was 2.0 mmol/L and the mean
reduction was 0.4 mmol/L (18%). Pooled data for rosuvastatin 5–80 mg or 10–80
mg daily in two trials over 52 weeks with a mean initial triglyceride concentration
of 2.0 mmol/L showed a mean reduction of 0.4 mmol/L (19%). (halaman 12,
result, paragraf 4 dan 5)
10
HDL cholesterol: For all doses combined the mean initial concentration of
HDL cholesterol was 1.1 mmol/L and the mean increase was 0.1 mmol/L (6%).
With fixed doses of 20 mg or 40 mg daily, mean initial concentrations of HDL
were 1.2 and 1.1 mmol/L and mean increases were 0.1 and 0.04 mmol/L (8%, 4%)
respectively. With 20–40 mg daily initial concentration was 1.2 mmol/L and mean
increase was 0.1 mmol/L (8%).

Triglycerides: For all doses combined the mean initial concentration of


triglycerides was 2.0 mmol/L and the mean reduction was 0.4 mmol/L (17%).
With fixed doses of 20 mg or 40 mg daily, mean initial concentrations of
triglycerides were 1.9 and 2.2 mmol/L and mean reductions were 0.3 and 0.4
mmol/L (17%, 18%) respectively. With 20–40 mg daily initial concentration was
1.5 mmol/L and mean reduction was 0.2 mmol/L (10%). (halaman 13, result,
paragraf 4 dan 5)
11
Forty-seven trials compared a statin against placebo (25,081 patients) over 12
weeks to 5 years. Results of the analysis are shown in Table 2. The mean initial
concentration of total cholesterol was 6.2 mmol/L and the mean reduction was
0.004 mmol/L (0.07%). The mean initial LDL cholesterol was 4.1 mmol/L and the
mean reduction was 0.2 mmol/L (6%). The mean initial HDL cholesterol was 1.1
mmol/L and the mean increase was 0.04 mmol/L (3%). The mean initial
triglyceride concen- tration was 2.0 mmol/L and the mean reduction 0.1 mmol/L
(7%). (halaman 13, result, paragraf 6)
12
Statins are effective medicines and confer benefit to patients in terms of primary
and secondary prevention of coronary heart disease through reduction in total
and LDL cholesterol. Generally, cholesterol lowering effects of stat- ins were
similar. Lower doses of statins generally pro- duced less cholesterol lowering.
Duration of treatment and baseline total cholesterol concentration did not alter
the amount of the benefit attained. Better reporting of information in published
reports of clinical trials would increase their utility and improve the clinical
relevance of meta-analysis. (halaman 18, result, paragraf 1)
13
Patients in the trials were described mainly as hypercho- lesterolaemic or
having coronary artery disease or at risk of coronary artery disease. General
patient exclusions from the included trials were secondary hyperlipidaemia,
uncontrolled diabetes or hypertension or angina, impair- ment of renal or hepatic
function, premenopausal women unless surgically sterilised, recent myocardial
infarction or coronary bypass surgery (usually within 3 months of study entry),
previous substance abuse, excessive obesity (more than 30% over ideal body
weight), hypersensitivity to HMG-CoA reductase inhibitors, and use of
corticoster- oids or immunosuppressive drugs. (halaman 4, result, paragraf 1)
14
trials in which patients were randomised to statin treatment within 24 hours of
proce- dures such as angioplasty or cardiac surgery.
Included trials were both randomised and double blind. (halaman 2, Inclusion
and exclusion criteria, paragraf 1 dan 2)
15
When treatments differed in appearance or dosing double blinding of study
treatments was maintained using the double dummy technique (halaman 4, Trial
characteristics, paragraf 3)
16
Forty-two reviews and 509 reports regarded as potential randomised trials
were retrieved. A number of trials were published more than once, in part or in
their entirety. Of the potential trial reports, 418 were excluded (references and
reasons are in additional file 1). Many early trials were of short duration or used
an open label design and were necessarily excluded from this analysis.
Reasons for exclusion of studies, including the mega-trials mentioned above, were
duration less than 12 weeks (89 reports), not double blind (55), fewer than 20
patients per group (39), familial hypercholesterolaemia (22), no cholesterol data
(22 reports of 15 trials), duplicated infor- mation (78 reports of 43 trials), add-on
design or combi- nation drug therapy (11), baseline data not provided by
treatment group (7), and various other reasons (95) including failure of
randomisation, inability to translate or obtain reports, pooled analysis or reviews,
trial in progress, design only etc. (halaman 3 dan 4, result, searching, paragraf 1
dan 2)
17
Randomised trials of statins are numerous. Though reviews and meta-analyses
have been conducted previ- ously, few have segregated the literature according to
study methodology, dose, baseline total cholesterol, type of patient, or duration of
treatment, and those were conducted before many later statin trials had been
reported. (halaman 2, sample size and randomization, paragraf 3)
18
There were no substantial differences in the baseline churacteristics of the
treatment groups. (halaman 2, Background, paragraph 4)
19
Lihat tabel 1, halaman 3
20
Lihat tabel 1, halaman 3
21
The mean doses taken from the green and blue envelopes were 8.9 (SD 0.9) out
of nine doses and 5.56 (SD 1.6) out of six doses, respectively, and were similar in
both thegroups. (halaman 2, adherence to treatment)
22
Treatment failure was defined as development of chest indrawing,convulsions,
drowsiness, or inability to drink at any time; respiratory rate above age spesific
cut off points on day 3 or later; or oxygen saturation by pulse oxirnetry < 90% on
day 3. Participants who did not fail on assessment at day 3 or day 5 were
considered clinically cured. Loss to follow up or withdrawal from the study at any
time after recruitment was considered as treatment failure in our intention to
treatment analysis. (halaman 2, outcomes, paragraf 2)
23
Relapse was defined as recurrence of signs of pneumonia or severe disease
after day 5 among those who had been clinically cured at that time. (halaman 2,
outcomes, paragraf 2)
24
Treatment adherence was assessed by pill count on follow up days. Non-
adherence was defined as intake of less than seven doses by day 3 and of less than
five doses between days 3 and 5. (halaman 2, outcomes, paragraf 3)
25
Cost data collection-Participants who did not respond to treatment or who
relapsed were followed to collect data on the medical resources they used. To
calculate the costs of these resources, we listed the private sector hospitals that
cater to lower middle class in each city of Lucknow, Vellore, Mumbai, New Delhi,
Nagpur, Chandigarh, and Trivandrum and, by random draw, selected three
hospitals in each city and obtained the prices of resources from them. We
averaged the unit prices of all medical resources over the participating sites and
used these averages in the analysis. The total estimated cost was the aggregated
cost of drugs, investigations, hospitalisation, procedures and consultations, and
out of pocket expenditures. (halaman 2, outcomes, paragraf 5)
26
Laboratory procedures-Presence of respiratory syncytial virus in
nasopharyngeal aspirate was assessed at enrolment by means of a Becton
Dickinson Directogen RSV kit. Nasopharyngeal swabs were taken at enrolment
and at 14 days follow up to isolate S. pneumoniae and H. influenzae. Swabs were
plated on 5% sheep blood agar with gentamicin for S. pneumoniae and modified
chocolate agar with bacitracin (300 ugl ml) for H. influenzae. Antibiotic
susceptibility was tested by disc diffusion method as recommended by the
National Committee for Clinical Laboratory Standards. (halaman 2, outcomes,
paragraf 4)
27
The coordinating centre ensured quality assurance and provided standardised
training for staff treating and assessing participants. (halaman 2, participant and
method, paragraf 3)
28
Viral detection technique is also of prime importance; the detection kit used in
our study had a sensitivity of 83%. (halaman 5, risk factor for treatment failure,
paragraf 2)
29
Home visits were done within 24 hours for those who fe:iled to report on the
appointed days. (halaman 2, outcomes, paragraf 1)
30
We calculated the difference in clinical cure rate (and 95% confidence
interval). We also performed per protocol analysis for participants with complete
follow up and adherence to treatment. We compared baseline and other
characteristics and therapeutic failures between the two treatment groups. We
used the x2 tes for categorical variables and Student's t test for continuous
variables. (halaman 2, statistical analysis, paragraf 1)
31
In our intention to treat analysis, clinical cure rates were 89.5% (980/1095)
and 89.9% (983/1093) in the three day treatment and five day treatment groups,
respectively (table 2), similar among wheezers and non-wheezers. In the per
protocol analysis, the clinical cure rates were 94.9% (980/1033) and 95.8%
(983/1026). There was also no difference between groups in the rate of relapse
among those considered cured on day 5 (table 2). (halaman 3, primary and
secondary clinical outcome)
32
We calculated the difference in clinical cure rate (and 95% confidence
interval). We also performed per protocol analysis for participants with complete
follow up and adherence to treatment. We compared baseline and other
characteristics and therapeutic failures between the two treatment groups. We
used the x2 test for categorical variables and Student's t test for continuous
variables. (halaman 2, statistical analysis, paragraf 1)
33
We calculated the difference in clinical cure rate (and 95% confidence
interval). We also performed per protocol analysis for participants with complete
follow up and adherence to treatment. We compared baseline and other
characteristics and therapeutic failures between the two treatment groups. We
used the x2 test for categorical variables and Student's t test for continuous
variables. (halaman 2, statistical analysis, paragraf 1)
34
We calculated crude odds ratios and 95% confidence intervals. We constructed
a multivariate model to assess determinants of treatment fai!ure by forward
stepwise logistic regression; the final model included covariates that were
statistically significant. (halaman 2, statistical analysis, paragraf 1)
35
We calculated the difference in clinical cure rate (and 95 % confidence
interval). We also performed per protocol analysis for participants with complete
follow up and adherence to treatment. We compared baseline and other
characteristics and therapeutic failures between the two treatment groups. We
used the x2 test for categorical variables and Student's t test for continuous
variables. (halaman 2, statistical analysis, paragraf 1)
36
Lihat tabel 3, halaman 4
37
We calculated the difference in clinical cure rate (and 95% confidence
interval), We also performed per protocol analysis for participants with complete
follvw up and adherence to treatment. We compared baseline and other
characteristics and therapeutic failures between the two treatment groups. We
used the x2 test for categorical variables and Student's t test for continuous
variables, (halaman 2, statistical analysis, paragretf 1)
38
We analysed costs from the payer's perspective. We multiplied the units of each
resource used by its average cost lo calculate the total expenditure on that
component of treatment. Univariate analysis was done to compare direct medical
costs in the two treatment groups. We used Student's t test to compare costs.
(halaman 2, statistical analysis, paragraf 1)
39
Adverse reactions were similar in both treatment arms. There were no deaths,
purpura, or serious adverse effects of Amoxicillin. There were 41 hospitalisations,
with similar numbers in the three day and five day treatments (18 and 23,
respectively). There were three cases of severe vomiting, 20 cases of diarrhoea
with some dehydration, four cases of rash without itch, once case of rash with
itch, and eight cases of wheezing in a child without wheeze at enrolment.
(halaman 4, adverse reaction)
40
We planned one interim analysis after a third of participants had been
recruited. Using the O' Brien-Fleming approach, we carried out interim analysis
at an alpha level of 0.005 and the final analysis at 0.047. (halaman 2, sample size
and randomization, paragraf 2)
41
Assuming a treatment failure rate of 12% with five day treatment, we would
consider the two treatments to be equivalent if the failure rate with the shorter
course of treatment was not more than 17% (that is, a difference of 5% or less).
(halaman 2, sample size and randomization, paragraf 1)
42
In our intention to treat analysis, clinical cure rates were 89.5% (980/1095)
and 89.9% (983/1093) in the three day treatment and five day treatment groups,
respectively (table 2), similar among wheezers and non-wheezers. (halaman 3,
primary and secondary clinical outcome)
43
In addition, equivalence of three and five day treatment with Amoxicillin for
non-severe pneumonia has also been reported in a study from Pakistan. (halaman
4, discussion, paragraf 2)
44
Unlike in the Pakistan study, we did not find any difference of outcomes in
children aged < 12 months compared with older children. (halaman 4, risk
factors for treatment failure, paragraf 1)
45
S. pneumoniae and H. influenzae are the commonest bacterial agents of
pneumonia in children. As in other studies, our carrier rate for either bacteria at
enrolment was less than 50%. (halaman 5, risk factors for treatment failure,
paragraf 3)
46
Amoxicillin is a bactericidal drug and is effective against S. pneumoniue and
H.influenzae. Short courses of Amoxicillin have been used to treat infections
caused by these and other organisms causing tonsillo-pharyngitis, urinary tract
infections, and other common childhood infections. Hence, it is rational to expect
that Amoxicillin would work in shorter duration. In addition, equivalence of three
and five day treatment with Amoxicillin for non-severe pneumonia has also been
reported in a study from Pakistan (hulaman 4, disscussion, paragraf 2)
47
Possible explanations may be the lower proportion of infants recruited by us
and variation between our study sites. Since almost half of the children's mothers
or carers did not agree with a doctor's assessment of cure in our study, parents
may need appropriate counselling or else may seek treatment elsewhere. (halama
n 4, risk factors for treatment failure, parugraf 1)
48
We calculated sample size to test the equivalence hypothesis. Assuming a
treatment failure rate of 12% with five day treatment, we would consider the two
treatments to be equivalent if the failure rate with the shorter course of treatment
was not more than 17% (that is, a difference of 5% or less) We used one sided
testing, with power set at 90%. The required number of patients was 950 in each
group. (halaman 2, sample size and randomisation, paragraf I &2)
49
This double blind, placebo controlled, randomised trial was conductedin the
outpatient departments of seven referral hospitals in India. (halaman 1,
participant and method, paragraf 1)
50
We recommend the three day course of Amoxicillin for treating community
acquired non-severe pneumonia in children, as this is equally as effcctive as a five
day course but is cheaper with increased adherence and possibly decreased
emergence of antimicrobial resistance. Our findings have local as well as global
implications, because our study has also confirmed findings from a recently
published data From elsewhere. (halaman 5, conclusion)
51
Its limitations are that is was a hospital based study, causes of infection were
not investigated, follow up was limited to only 15 days, and ek ildren with history
of asthma were excluded. (halaman 4, strength and limitation of study)
52
We found that treatment with oral Amoxicillin for either three days or five days
was equally effective for non- severe pneumonia. Among children with complete
follow up who adhered to treatment, cure rate was about 95%. From the numbers
needed to treat, we calculate that 250 cases of non-severe pneumonia would need
to be treated with five days of Amoxicillin raher than three days for one additional
cure. (halaman 4, disscusiion paragraf 1)