Anda di halaman 1dari 9

Patofisiologi Stroke Non Hemoragik

Pengertian dan Penyebab Stroke Non Hemoragik

Stroke merupakan penyakit yang terjadi karena terganggunya peredaran darah otak yang
dapat menyebabkan kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan kelumpuhan bahkan
kematian pada penderita stroke, stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke hemoragik dan
stroke non hemoragik (Batticaca, 2008).

Menurut World Health Organization (WHO) dalam Muttaqin (2011) stroke didefinisikan
sebagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan peredarah darah diotak yang terjadi secara
mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik local maupun global yang berlangsung selama
24 jam atau lebih yang dapat menyebabkan kematian. Stroke Hemoragik merupakan
perdarahan yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah pada daerah otak tertentu dan stroke
non hemoragik merupakan terhentinya sebagaian atau keseluruhan aliran darah ke otak akibat
tersumbatnya pembuluh darah otak (Wiwit, 2010).

Stroke disebabkan oleh plak arteriosklerotik yang terjadi pada satu atau lebih arteri yang
memberi makanan ke otak yang mengaktifkan mekanisme pembekuan darah dan menghambat
aliran darah diarteri, sehingga menyebabkan hilangnya fungsi otak secara akut pada area yang
teralokasi (Guyton & Hall, 2007). Stroke non hemoragik terjadi pada pembuluh darah yang
mengalami sumbatan sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah pada jaringan otak,
trombosis otak, aterosklerosis, dan emboli serebral yang merupakan penyumbatan pembuluh
darah yang timbul akibat pembentukkan plak sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah
yang dikarenakan oleh penyakit jantung, diabetes, obesitas, kolesterol, merokok, stress, gaya
hidup, rusak atau hancurnya neuron motorik atas (upper motor neuron), dan hipertensi
(Mutaqqin, 2011).

Patofisiologi Stroke Non Hemoragik

Stroke non hemoragik erat hubungannya dengan plak arterosklerosis yang dapat
mengaktifkan mekanisme pembekuan darah sehingga terbentuk trombus yang dapat
disebabkan karena hipertensi (Muttaqin, 2011). Trombus dapat pecah dari dinding pembuluh
darah dan akan terbawa sebagai emboli dalam aliran darah mengakibatkan terjadinya iskemia
jaringan otak dan menyebabkan hilangnya fungsi otak secara akut atau permanen pada area
yang teralokasi (Guyton & Hall,

2007). Iskemia pada otak akan merusak jalur motorik pada serebrum (Potter & Perry, 2005).
Iskemia pada otak juga mengakibatkan batang otak yang mengandung nuclei sensorik dan
motorik yang membawa fungsi motorik dan sensorik mengalami gangguan sehingga
pengaturan gerak seluruh tubuh dan keseimbangan terganggu (Guyton & Hall, 2007). Area di
otak yang membutuhkan sinyal untuk pergerakkan dan koordinasi otot tidak ditrasmisikan ke
spinal cord, saraf dan otot sehingga serabut motorik pada sistem saraf mengalami gangguan
untuk mengontrol kekuatan dan pergerakan serta dapat mengakibatkan terjadinya kecacatan
pada pasien stroke (Frasel, Burd, Liebson, Lipschick & Petterson, 2008). Iskemia pada otak
juga dapat mengakibatkan terjadinya defisit neurologis (Smeltzer & Bare, 2010).

Tanda dan Gejala Stroke Non Hemoragik

Menurut (Smeltzer & Bare, 2010) stroke menyebabkan berbagai deficit neurologis, tergantung
pada lesi atau pembuluh darah mana yang tersumbat dan ukuran area yang perfusinya tidak
adekuat. Fungsi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya. Defisit neurologi pada
stroke antara lain:

1) Defisit motorik

Disfungsi motorik paling umum adalah paralisis pada salah satu sisi atau hemiplegia
karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Diawal tahapan stroke, gambaran klinis yang
muncul adalah paralisis dan hilang atau menurunnya refleks tendon dalam atau penurunan
kekuatan otot untuk melakukan pergerakkan, apabila refleks tendon dalam ini muncul kembali
biasanya dalam waktu 48 jam, peningkatan tonus disertai dengan spastisitas atau peningkatan
tonus otot abnormal pada ekstremitas yang terkena dapat dilihat.

2) Defisit komunikasi

Difungsi bahasa dan komunikasi dapat dimanifestasikan oleh hal berikut :

a. Kesulitan dalam membentuk kata (disartria), ditunjukkan dengan bicara yang sulit
dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung jawab untuk menghasilkan
bicara.

b. Bicara defektif atau kehilangan bicara (disfasia atau afasia), yang terutama ekspresif atau
reseptif
c. Ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya (apraksia)
seperti terlihat ketika penderita mengambil sisir dan berusaha untuk menyisir rambutnya.

3) Defisit persepsi sensori

Gangguan persepsi sensori merupakan ketidakmampuan untuk menginterpretasikan


sensasi. Gangguan persepsi sensori pada stroke meliputi:

a. Disfungsi persepsi visual, karena gangguan jaras sensori primer diantara mata dan korteks
visual. Kehilangan setengah lapang pandang terjadi sementara atau permanen (homonimus
hemianopsia). Sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi tubuh yang paralisis. Kepala
penderita berpaling dari sisi tubuh yang sakit dan cendrung mengabaikan bahwa tempat dan
ruang pada sisi tersebut yang disebut dengan amorfosintesis. Pada keadaan ini penderita hanya
mampu melihat makanan pada setengah nampan, dan hanya setengah ruangan yang terlihat.

b. Gangguan hubungan visual-spasial yaitu mendapatkan hubungan dua atau lebih objek
dalam area spasial sering terlihat pada penderita dengan hemiplegia kiri. Penderita tidak dapat
memakai pakaian tanpa bantuan karena ketidakmampuan untuk mencocokkan pakaian ke
bagian tubuh.

c. Kehilangan sensori, karena stroke dapat berupa kerusakan sentuhan ringan atau berat
dengan kehilangan propriosepsi yaitu kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan bagian
tubuh serta kesulitan dalam menginterpretasikan stimuli visual, taktil, dan auditorius.

4) Defisit fungsi kognitif dan efek psikologi

Disfungsi ini ditunjukkan dalam lapang pandang terbatas, kesulitan dalam pemahaman,
lupa, dan kurang motivasi yang menyebabkan penderita ini menghadapi masalah stress dalam
program rehabilitasi.

5) Defisit kandung kemih

Kerusakan kontrol motorik dan postural menyebabkan penderita pasca stroke


mengalami ketidakmampuan menggunakan urinal, mengalami inkontinensia urinarius
sementara karena konfusi. Tonus otot meningkat dan refleks tendon kembali, tonus kandung
kemih meningkat, dan spastisitas kandung kemih dapat terjadi.
Letak Kelumpuhan Stroke Non Hemoragik

Letak kelumpuhan pada pasien stroke non hemoragik yaitu :

1) Kelumpuhan sebelah kiri (hemiparesis sinistra)

Kelemahan atau kelumpuhan tubuh sebelah kiri disebabkan karena adanya kerusakan pada
sisi sebelah kanan otak. Penderita dengan kelumpuhan sebelah kiri sering kehilangan memori
visual dan mengabaikan sisi kiri. Penderita memberikan perhatian hanya kepada sesuatu yang
berada dalam lapang pandang yang dapat dilihat (Harsono, 2009).

2) Kelumpuhan sebelah kanan (hemiparesis dextra)

Kelemahan atau kelumpuhan tubuh sebelah kanan disebabkan karena adanya kerusakan
pada sisi sebelah kiri otak. Penderita biasanya mempunyai kekurangan dalam kemampuan
komunikasi verbal. Persepsi dan memori visual motornya sangat baik, sehingga dalam melatih
perilaku tertentu harus dengan cermat diperhatikan tahap demi tahap secara visual. Gunakan
lebih banyak bahasa tubuh saat berkomunikasi (Harsono, 2009).

3) Kelumpuhan kedua sisi (paraparesis)

Terjadi karena adanya arterosklerosis yang menyebabkan adanya sumbatan pada kanan dan
kiri otak yang dapat mengakibatkan kelumpuhan satu sisi dan diikuti satu sisi lainnya (Markam,
2008).

Penatalaksanaan Stroke Non Hemoragik

Menurut (Smeltzer & Bare, 2010) untuk penatalaksanaan penderita stroke fase akut jika
penderita stroke datang dengan keadaan koma saat masuk rumah sakit dapat dipertimbangkan
mempunyai prognosis yang buruk. Penderita sadar penuh saat masuk rumah sakit menghadapi
hasil yang dapat diharapkan. Fase akut berakhir 48 sampai 72 jam dengan mempertahankan
jalan napas dan ventilasi adekuat adalah prioritas pada fase akut ini. Penatalaksanaan dalam
fase akut meliputi:

1) Penderita ditempatkan pada posisi lateral dengan posisi kepala tempat tidur agak ditinggikan
sampai tekanan vena serebral berkurang.

2) Intubasi endotrakea dan ventilasi mekanik perlu untuk penderita dengan stroke masif, karena
henti napas dapat menjadi faktor yang mengancam kehidupan pada situasi ini.
3) Pantau adanya kompliaksi pulmonal seperti aspirasi, atelektasis, pneumonia yang berkaitan
dengan ketidakefektifan jalan napas, imobilitas atau hipoventilasi.

4) Perikasa jantung untuk mengetahui ada tidaknya abnormalitas dalam ukuran dan irama serta
tanda gagal jantung kongetif. Tindakan medis terhadap penderita stroke meliputi pemberian
diuretik untuk menurunkan edema serebral, yang mencapai tingkat maksimum tiga sampai lima
hari setelah infark serebral. Antikoagulan diresepkan untuk mencegah terjadinya atau
memberatnya trombosis atau embolisasi dari tempat lain dalam system kardiovaskular.
Medikasi anti trombosit dapat diresepkan karena trombosit berperan penting dalam mencegah
pembentukan trombus dan embolisasi. Setelah fase akut berakhir dan kondisi pasien stroke
stabil dengan jalan nafas adekuat pasien bisa dilakukan rehabilitasi dini untuk mencegah
kekakuan pada otot dan sendi pasien serta membatu memperbaiki fungsi motorik dan sensorik
yang mengalami gangguan untuk mencegah terjadinya komplikasi (Smeltzer & Bare, 2010).

Komplikasi Stroke Non Hemoragik

Menurut (Smeltzer & Bare, 2010) komplikasi stroke meliputi hipoksia serebral, penurunan
aliran darah serebral, dan embolisme serebral.

1) Hipoksia serebral

Fungsi otak bergantung pada kesediaan oksigen yang dikirimkan ke jaringan. Hipoksia serebral
diminimalkan dengan pemberian oksigenasi adekuat ke otak. Pemberian oksigen,
mempertahankan hemoglobin serta hematokrit akan membantu dalam mempertahankan
oksigenasi jaringan.

2) Penurunan aliran darah serebral

Aliran darah serebral bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integrasi pembuluh
darah serebral. Hidrasi adekuat cairan intravena, memerbaiki aliran darah dan menurunkan
viskositas darah. Hipertensi atau hipotensi perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada
aliran darah serebral dan potensi meluasnya area cedera.

3) Emolisme serebral

Terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium. Embolisme akanmenurunkan aliran darah
ke otak dan selanjutnya akan menurunkan aliran darah ke serbral. Disritmia dapat
menimbulkan curah jantung tidak konsisten, disritmia dapat menyebabkan embolus serebral
dan harus segera diperbaiki.
Deb P, Sharma S, Hassan KM. "Pathophysiologic mechanisms of acute ischemic stroke: An

overview with emphasis on therapeutic significance beyond thrombolysis". Pathophysiology.

January 12, 2010. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20074922

Brunner and Suddarth's Textbook on Medical-Surgical Nursing, 11th Edition

Joseph U Becker. eMedicine. http://www.emedicine.com/EMERG/topic558.htm

http://www.ninds.nih.gov/disorders/stroke/detail_stroke.htm

Hinkle JL, Bowman L (April 2003). "Neuroprotection for ischemic stroke".

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12795039

Posted by Si eRTe at 15.49


MAKALAH

Patofisiologi Stroke Non Hemorogik


Mata Kuliah : Ilmu Dasar Keperawatan II

Dosen : Ns. Claudia, S.kep

Oleh:

Vijay Kamuh Frangky Turian

Luisa Mukau Christy Pangkereko

Rida Sondang Joan Soputan

Merlita Andries Mardy Taumoloba

VeronitaMarinu

Fakultas Keperawatan
Universitas Pembangunan Indonesia
Manado