Anda di halaman 1dari 4

Etika Konservasi Sumber Daya yang Bisa Habis

Konservatisme mengacu pada penghematan sumber daya alam untuk digunakan di masa
mendatang. Jadi, konservatisme sebagian besar mengacu pada masa depan: kebutuhan untuk
membatasi konsumsi saat ini agar cukup untuk besok. Pengendalian polusi merupakan salah satu
bentuk konservatisme. Konservasi lebih tepat diterapkan pada masalah-masalah penyusutan
sumber daya dibandingkan polusi.
Hak Generasi Mendatang
Tindakan menghabiskan sumber daya berarti mengambil apa yang sebenarnya menjadi milik
generasi mendatang dan melanggar hak-hak mereka atas sumber daya tersebut, namun sejumlah
penulis menyatakn bahwa salah bila kita berpikir generasi mendatang juga punya hak.
Keadilan bagi Generasi Mendatang
Menurut John Rowls: meskipun tidak adil bila memberikan beban yang berat bagi generasi
sekarang demi generasi mendatang, namun juga tidak adil bila generasi sekarang tidak
meninggalkan apa-apa sama sekali bagi generasi mendatang.
Pertumbuhan Ekonomi
Sejumlah penulis menyatakan bahwa jika kita menghemat sumber daya alam yang langka agar
generasi mendatang bisa memperoleh kualitas kehidupan yang memuaskan, maka kita perlu
mengubah sistem perekonomian secara substansial, khususnya dengan menekan usaha-usaha
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Contoh : Dalam proses produksi misalnya diperlukan proses produksi yang efisien dan ramah
lingkungan. Jika suatu perusahaan menggunakan bahan baku yang bersal dari sumber daya alam,
maka hendaknya perusahaan tersebut harus memperhatikannya secara baik, agar sumber daya
yang dipergunakan tersebut tidak menjadi barang langka sehingga tidak dapat dipergunakan lagi
di masa mendatang. Perusahaan juga perlu memperhatikan limbah yang dihasilkan. Jadi pada
dasamya manusia itu harus memiliki komitmen moral untuk menciptakan solidaritas
kemanusiaan agar lebih peduli terhadap penciptaan keharmonisan hidup sesama manusia dengan
lingkungannya secara serasi dan seimbang.
Meningkatnya Perhatian Bisnis terhadap Etika Lingkungan

Bisnis dan lingkungan yang dihadapi oleh perusahaan di Indonesia semakin bergejolak
(turbulent). Apalagi dengan kondisi internal perusahaan-peruahaan secara umum yang memburuk
dan bangkrutnya sebagian perusahaan, perhatian terhadap pengaruh dan dampak faktor-faktor
eksternal perusahaan yang bersifat makro menjadi sangat penting, termasuk pada etika lingkungan.

Meningkatnya perhatian bisnis terhadap etika lingkungan dikarenakan persepsi bahwa :

1. Lingkungan Hidup sebagai “the commons”


Sebelumnya kita lihat bahwa bisnis modern mengandaikan begitu saja status
lingkungan hidup sebagai ranah umum. Dianggapnya disini tidak ada pemilik dan tidak
ada kepentingan pribadi. Pengandaian ini adalah keliru. Kekeliruan itu dapat kita mengerti
dengan lebih baik jika kita membandingkan lingkungan hidup dengan the commons. The
commons adalah ladang umum yang dulu dapat ditemukan dalam banyak daerah pedesaan
di Eropa dan dimanfaatkan secara bersama-sama oleh semua penduduknya. Sering kali the
commons adalah padang rumput yang dipakai oleh semua penduduk kampung tempat
pengangonan ternaknya.
Di zaman modern dengan bertambahnya penduduk sistem ini tidak dipertahankan
lagi dan ladang umum itu diprivatisasi dengan menjualnya kepada penduduk perorangan.
Masalah lingkungan hidup dan masalah kependudukan dapat dibandingkan dengan proses
menghilangnya the commons. Jalan keluarnya adalah terletak pada bidang moralnya yakni
dengan mambatasi kebebasan. Solusi ini memang bersifat moral karena pembatasan harus
dilaksanakan dengan adil. Pembatasan kebebasan itu merupakan suatu tragedi karena
kepentingan pribadi harus dikorbankan kepada kepentingan umum. Tetapi tragedi ini tidak
bisa dihindari. Membiarkan kebebasan semua orang justru akan mengakibatkan
kehancuran bagi semua.

2. Lingkungan Hidup Tidak lagi Eksternalitas


Dengan demikian serentak juga harus ditinggalkan pengandaian kedua tentang
lingkungan hidup dalam bisnis modern yakni bahwa sumber-sumber daya alam itu tidak
terbatas. Mau tak mau kita perlu akui lingkungan hidup dan komponen-komponen yang
ada didalamnya tetap terbatas, walaupun barangkali tersedia dalam kuantitas besar. Sumber
daya alam pun ditandai dengan kelangkaan. Jika para peminat berjumlah besar, maka air,
udara, dan komponen-komponen yang ada didalamnya akan menjadi barang langka dan
karena itu tidak dapat dipergunakan lagi secara gratis. Akibatnya faktor lingkungan hidup
pun merupakan urusan ekonomi karena ekonomi adalah usaha untuk memanfaatkan barang
dan jasa yang langka dengan efisien sehingga dinikmati oleh semua peminat.

Contoh : Perusahaan kini menyadari akan pentingnya lingkungan sekitar terhadap


kelangsungan perusahaan tersebut di masa mendatang. Saat ini sudah banyak perusahaan yang
menggunakan mesin atau alat-alat yang ramah lingkungan. Secara tidak langsung, perusahaan
tentunya memiliki tanggung jawab moral mengenai kebersihan lingkungan di sekitar perusahaan
tersebut beroperasi karena hal tersebut tentunya akan membuat keharmonisan hidup sesama
manusia dengan lingkungannya akan menjadi serasi dan seimbang. Selain itu, banyak juga
perusahaan yang memilih untuk mendaur ulang barang yang tidak terpakai menjadi barang yang
memiliki nilai ekonomis, seperti contoh sampah botol bekas yang dibuang sembarangan kemudian
diubah menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomis.

Simpulan :

1. Etika konservatisme mengacu pada penghematan atau membatasi penggunaan sumber


daya alam saat ini agar cukup untuk besok (di masa mendatang), agar generasi mendatang
bisa memperoleh kualitas kehidupan yang memuaskan.
2. Meningkatnya perhatian bisnis terhadap etika lingkungan karena menyadari bahwa
lingkungan hidup dan komponen-komponen yang ada didalamnya terbatas dan jika terus
dipergunakan akan menyebabkan kelangkaan terhadap sumber daya alam tersebut

Daftar Referensi

Velasquez, Manuel G, 2005, Etika Bisnis; Konsep dan Kasus, Edisi 5, Yogyakarta: Penerbit Andi
https://id.scribd.com/doc/193059848/Meningkatnya-Perhatian-Bisnis-Pd-Lingkungan-Dan-
Peraturannya

Anda mungkin juga menyukai