Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS PERBANDINGAN KUALITAS BATUBARA TE 67 HS di

STOCKPILE dan di GERBONG KERETA API DENGAN


MENGGUNAKAN TOOLS STATISTIKA

Midiawati *), Dr.Singgih Saptadi, ST.MT

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik , Universitas Diponegoro


Jl. Prof Soedarto-SH, Tembalang, Semarang, Indonesia
Coresponding author: midiawati66@gmail.com, singgihs@gmail.com

Abstrak
PT.Bukit Asam Tbk. Persero merupakan perusahan tambang batubara yang memiliki berbagai
macam jenis batubara , salah satunya adalah batubara jenis TE 67 HS. System penambangan
batubara di PT.Bukit Asam adalah Open Pit (Sistem penambangan Terbuka) sehingga kualitas
batubara dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Parameter kualitas batubara ditentukan oleh kadar
Total Moisture, Kadar Inherent Moisture, kadar Ash, Kadar Volatile Meter, Kadar Fix Carbon, dan
kadar Gross Calory Value yang terkandung. Batubara yang sudah dikeluarkan di tumpuk di
stockpile dan kemudian dikirim ke gerbong kereta untuk diangkut kepelabuhan. Namun, terdapat
perbedaan kualitas batubara saat di stockpile dan di gerbong kereta api. Oleh karena itu,
dibutuhkan pengukuran secara statistika untuk mengukur signifikansi perbedaan kualitas
batubara. Pengukuran menggunakan tools statistika yaitu statistika deskriptiv, analisa
perbandingan rata-rata dua populasi, uji korelasi, regresi, uji partial, dan model regresi.
Kandungan batubara yng mengalami perbedaan signifikan dan berpengaruh terhdap kandungan
GCV adalah kandungan Ash sebesar 46,65 % yang memberikan kontribusi terhadap GCV.
Hubungan parameter-parameter kualitas batubara antara lain kadar Total Moisture, Inherent
Moisture, kadar Ash, dan Kadar Volatile Meter berbanding terbalik dengan Total calory Value.
Formulasi terbaik dalam pembentukan kualitas batubara adalah GCV = 7946,7- 13.671TM -
91.371IM – 77.135 Ash – 1,530 VM. Untuk menjaga konsistensi kualitas batubara adalah
menerapkan metode management stockpile dengan pembuatan saluran air dan kolam penampungan
air batubara.
Kata kunci : Batubara, Statistika, Kualitas
Abstrak
PT.Bukit Asam Tbk. Limited is a coal mining company that has a wide range of coal types, one of
which is coal TE 67 HS. System Bukit Asam coal mines are open pit (mining Open System) so that
the coal quality is affected by the surrounding environment. Coal quality parameters are determined
by the level of Total Moisture, Inherent Moisture, Ash content, Volatile Content Meter, Carbon fix
levels, and the levels of Gross Value Calory contained. Coal already incurred in the stacks at the
stockpile and then sent to the rail cars to be transported from port. However, there are differences in
coal quality when in stockpile and in a railway carriage. Therefore, it takes a statistical measurement
to measure the significance of differences in coal quality. Measurements using statistical tools
that deskriptiv statistics, the average comparative analysis of two populations, correlation,
regression, partial test and regression model. Yng coal levels experienced significant difference
and affect the levels of GCV is Ash content of 46.65% provides to GCV. The relationship
between coal quality parameters include level of Total Moisture, Inherent Moisture, Ash content,
and the levels of Volatile Meter inversely proportional to the total calory Value. The best
formulation in the formation of the quality of coal is GCV = 7946.7 - 13.671TM - 91.371IM - 77
135 Ash - 1,530 VM. To maintain consistency in the quality of coal is the stockpile management with
the creation of water channels and pools of water coal.
Keyword : Coal, Statistics, Quality
A. PENDAHULUAN pengambilan sampel oleh petugas sampling
Industri yang bergerak dibidang energy sesuai dengan syarat pengambilan sampel
berkembang dengan pesatnya. Hal tersebut di batubara, kemudian sampel diuji di laboratorium
sebabkan oleh kebutuhan energy untuk dan hasil pengujian kualitas akan di berikan
keberlangsungan kehidupan dari masa kemasa kepada Satuan Kerja Kendali Produk sebagai
mengalami peningkatan sesuai meningkatnya acuan analisis kualitas Batubara.
populasi kehidupan. Batubara merupakan suatu (Mulyana,2014). Salah satu maine brand yang
jenis mineral yang tersusun atas karbon, dibahas dalam penelitian adalah batubara TE 67
hidrogen, oksigen, nitrogen. sulfur, dan senyawa- HS.
senyawa mineral (Kent.A.J,1993). Batubara Permasalahan yang timbul dari kualitas
merupakan bahan tambang yang berasal dari batubara ini adanya komplain dari pihak
tumbuh- tumbuhan mati, dan terbentuk melalui konsumen terhadap kualitas batubara yang
proses yang sangat kompleks, membutuhkan menyimpang dari kesepakatan standar kualitas
waktu yang sangat lama (puluhan hingga ratusan Batubara yang telah ditentukan. Dengan adanya
juta tahun), serta dipengaruhi oleh berbagai penyimpangan tersebut serta mengakibatkan
faktor meliputi fisika, kimia, dan geologi ( ketidakpuasan pelanggan maka penulis mencoba
Hertanto,2009). melakukan penelitian mengenai seberapa besar
PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Sebagai penyimpangan kualitas batubara pada saat di
BUMN di bidang pertambangan batubara, PTBA Stockpile dengan batubara pada saat di gerbong
memiliki WIUP salah satunya adalah Tambang menggunakan tools statistika. Dari besarnya
Air Laya. Penambangan dilakukan denggan penyimpangan tersebut selanjutnya akan
menggunakan kombinasi alat shovel dan truck dilakukan analisis mengenai faktor faktor yang
dengan Metode penambangan open pit atau lebih menyebabkan terjadinya penyimpangan kualitas
dikenal sebagai metode penambangan terbuka. dan kemudian akan diberikan saran perbaikan
Oleh karena itu sebagian besar hasil untuk mempertahankan kualitas batubara. Dalam
pertambangan (± 60%) dihasilkan melalui penelitian ini penulis akan menggunakan tools
metode open pit mining (Martin, 1982). Keadaan Statistika Industry dalam mengolah data kualitas
lingkungan dan alam menjadi faktor penting batubara. Tools tersebut digunakan untuk melihat
dalam melakukan penambangan dengan metode besarnya penyimpangan kualitas batubara di
tersebut. Jumlah produksi dan kualitas batubara stockpile dengan batubara digerbong kereta
dapat dipengaruhi oleh lingkungan (Hustrulid, api, kemudian melakukan analisa terhadap
W.1992). Perusahan PT. BUKIT ASAM faktor yang paling berpengaruh terhadap
memproduksi berbagai macam jenis batubara perubahan kualitas batubara. Serta melakukan
atau yang dikenal sebagai Mine Brand. Kualitas analisa cara-cara untuk menghindari
tersebut ditentukan oleh jumlah kalori yang penyimpangan kualitas batubara.
terkandung didalamnya. Semakin tinggi B. TINJUAN PUSTAKA BATUBARA
kandungan kalori batubara semakin bagus Batubara adalah bahan bakar hydro-karbon
kualitasnya. Hal tersebut berpengaruh pada harga padat yang terbentuk dari tumbuh-tumbuhan
jual batubara, karena kebanyakan perusahaan dalam lingkungan bebas oksigen dan terkena
menginginkan kalori batubara yang tinggi. Selain pengaruh temperatur serta tekanan yang
kandungan kalori (GCV) parameter lain yang berlangsung sangat lama (Achmad Prijono,
mempengaruhi kualitas batubara adalah dkk.1986). Pengertian umumnya adalah batuan
kandungan Total Moisture, Inherent Moisture, sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari
kadar AHS, kadar Volatile matter, kadar Fix endapan , utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan
Carbon dan Kadar Sulphur (Diessel, 1981). dan terbentuk melalui proses pembatubaraan.
Kualitas batubara di ukur dengan Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon,
melakukan uji sampel dilaboratorium. Proses hydrogen dan oksigen.
pengujian sampel batubara dimulai dari
Kualitas batubara selama proses produksi untuk pengujian, dan berikut ini memberikan
didapatkan dari proses sampling dan pengujian pedoman penggunaannya : Bila jumlah sampel
yang dilakukan dilaboratorium. Penilaian n1 = n2, dan varians homogeny) maka dapat
digunakan rumus t-test baik untuk Separated
kualitas batubara ditetukan oleh beberapa
maupun Pooled varians. Untuk melihat harga t-
parameter yang terkandung didalamnya, antara tabel digunakan dk = n1 + n2 – 2. Bila n1 ≠
lainya adalah Kadar Air (moisture), Kadar Abu n2, varians homogeny , dapat digunakan dengan
(Ash Content), Zat Terbang (Votile Matter), Pooled varians dengan derajat kebebasan (dk) =
Karbon Tertambat (fixed carbon) Nilai Kalor n1 + n2 – 2. Bila n1 = n2, varians tidak
(Gross Calori Value) dan Total Sulfur (Diessel homogeny ,dapat digunakan dengan Separated
1981). dan Pooled varians. Dengan dk = n1 – 1 atau n2
jadi dk bukan + n2 – 2. Bila n1 ≠ n2 dan varians
Statistika
tidak homogeny. Untuk ini digunakan t-test
Statistika adalah ilmu pengetahuan yang dengan Separated varians. Harga t sebagai
berhubungan dengan cara-cara pengumpulan pengganti t-tabel dihitung dari selisih harga t-
data, pengolahan serta penganalisisannya, tabel dengan dk (n1 – 1) dan dk (n2 – 1)
penarikan kesimpulan serta pembuatan dibagi dua, dan kemudian ditambahkan dengan
keputusan yang cukup beralasan berdasarkan harga t yang terkecil.
fakta yang ada (Gasperz 1989:20). Metode- Camparison Of Means
Uji serentak (Uji F) adalah metode
metode dalam statistika yaitu mengumpulkan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui
data,mengorganisasi,menyimpulkan,menyajikan, pengaruh variable bebas secara bersama-sama
menganalisa data dan menarik kesimpulan terhadap variable terikat (Ghozali, 2007).
berdasarkan analisis sehingga keputusannya Langkah-langkah untuk melakukan uji serentak
dapat diterima. Dikutip dari ISO 9411-1 : 1994 I- (uji F) adalah sebagai berikut.
Solid mineral fuels-mechanichal sampling from • Menentukan hipotesis
moving means streams-Part 1 : Coal. Statistik • Menentukan wilayah kritis (level of
significance)
yang sering digunakan dalam pengambilan
• Menentukan daerah keputusan
sampling batubara antara lain : statistika
• M e ne nt u k a n va r ia be l U j i
deskriptif, paired comparison (t- test), • Mengambil Keputusan
camparison of means, comparison of variance (f- Comparison Of Variance
test), Korelasi, dan Regresi . Analisis varians (analysis of variance,
Statistika Desriptiv ANOVA) adalah suatu metode analisis statistika
Statistika Deskriptiv merupakan suatu teknik yang termasuk ke dalam cabang statistika
dimana dilakukan pengambilan data, penyajian inferensi. Analisis varians pertama kali
diperkenalkan oleh Sir Ronald Fisher, bapak
data tanpa adanya kesimpulan. Untuk keperluan
statistika modern. Dalam praktik, analisis
praktikum ini perlu dipelajari mengenai Cara- varians dapat merupakan uji hipotesis (lebih
cara penyajian data (histogram, distribusi sering dipakai) maupun pendugaan
frekuensi dan lain-lain),menentukan lokasi atau (estimation, khususnya di bidang genetika
ukuran kecenderungan (mean, median, modus, terapan). Dalam analysis of variance hanya
akar mean, kuadrat, desil, persentil dan kuartil) satu hipotesis yang digunakan yaitu hipotesis
serta ukuran deviasi (simpangan kuartil, rentang, dua arah (two tail). Artinya hipotesis ini yaitu
apakah ada perbedaan rata-rata antara kedua
simpangan baku, mean absolut simpang, populasi. Asumsi-asumsi yang harus dipenuhi
variansi). (Dergibson Siagian Sugiarto, hal. 357). dalam analisis varians (anova):
Paired Comparison (t-test) a. Data berdistribusi normal, karena
Uji-t dua sampel independen (Independen pengujiannya menggunakan uji F-Snedecor
Sampel t-Test) digunakan untuk b. Varians atau ragamnya homogen, dikenal
membandingkan selisih dua rata-rata (mean) sebagai homoskedastisitas, karena hanya
dari dua sampel yang idenpenden dengan digunakan satu penduga (estimate) untuk
asumsi data berdistribusi normal. Menurut varians dalam contoh
Sugiyono (2005), untuk melakukan uji beda c. Masing-masing contoh saling bebas, yang
terdapat beberapa rumus t-test yang digunakan harus dapat diatur dengan perancangan
percobaan yang tepat maupun yang pendek serupa kearah rata-rata
d. Komponen-komponen dalam modelnya tinggi semua laki-laki. Dengan kata lain
bersifat aditif (saling menjumlah). Galton, ini adalah “kemunduran kea rah sedang”.
Korelasi Secara umum, analisis regresi pada dasarnya
Korelasi merupakan teknik analisis yang adalah studi mengenai ketergantungan satu
termasuk dalam salah satu teknik pengukuran variable dependen (terikat) dengan satu atau
asosiasi /hubungan (measures of association. lebih variable independen dengan tujuan untuk
Korelasi terdiri atas Korelasi Pearson Product mengestimasi dan/ atau memprediksi rata-rata
Moment dan Korelasi Rank Spearman. populasi atau niiai rata-rata variable dependen
Pengukuran asosiasi mengenakan nilai variable berdasarkan nilai variable Independen yang
untuk mengetahui tingkatan asosiasi atau diketahui. Pusat perhatian adalah pada upaya
kekuatan hubungan antara variable. Dua menjelaskan dan mengevalusi hubungan antara
variable dikatakan berasosiasi jika perilaku suatu 5egara5e dengan satu atau lebih variabel
variable yang satu mempengaruhi variable yang independen. Hasil analisis regresi adalah berupa
lain. Jika tidak terjadi pengaruh, maka kedua koefisien regresi untuk masing-masing variable
variable tersebut disebut independen. Korelasi independent.
bermanfaat untuk mengukur kekuatan hubungan
antara dua variable dengan skala-skala tertentu, Kualitas Batubara Pengukuran kualitas
misalnya Pearson data harus berskala interval batubara
Variabel pengukuran kualitas Batubara
atau rasio; Spearman dan Kendal menggunakan
Kualias batubara dapat diukur melalui
skala ordinal. Kuat lemah hubungan diukur beberapa variabel antara lain :
menggunakan jarak (range) 0 sampai dengan a. Kadar ASTM
Korelasi mempunyai kemungkinan pengujian Kadar air yang diukur dalam menentukan
hipotesis dua arah (two tailed). Korelasi searah kualitas batu bara terdiri atas :Kadar air total,
jika nilai koefesien korelasi diketemukan positif; Kadar Air Bawaan.
sebaliknya jika nilai koefesien korelasi variable, b. Kadar ASH atau Abu
korelasi disebut tidak searah. Batubara tidak memiliki kandungan Ash,
Regresi tetapi mengandung zat organic berupa
Istilah regresi pertama kali diperkenalkan mineral. Ash atau abu merupakan residu
oleh Sir Francis Galton pada tahun 1886. anorganik hasil pembakaran batu bara.
Galton menemukan adanya tendensi bahwa
orang tua yang memiliki tubuh tinggi memiliki Kandungan Ash terdiri dari oksida logam
anak-anak yang tinggi, orang tua yang pendek seperti Fe2O3, MgO Na2O, K2O, dan oksida
memiliki anak-anak yang pendek pula. Kendati non-logam seperti SiO2, P2O5,
demikian. Ia mengamati bahwa ada dsb.Penetapan Ash merupakan bagian dari
kecenderungan tinggi anak cenderung bergerak analisis proximate. Prinsip dari penetapan ini
menuju rata-rata tinggi populasi secara ialah sejumlah contoh batubara yang sudah
keseluruhan. Dengan kata lain, ketinggian anak
dihaluskan dibakar pada suhu dengan rambat
yang amat tinggi atau orang tua yang amat
pendek cenderung bergerak kearah rata-rata pemanasan tertentu sampai dapat residu (
tinggi populasi. Inilah yang disebut hokum abu). Residu ini merupakan residu yang dapat
Golton mengenai regresi universal. Dalam ditimbang dan dihitung jumlahnya dalam
bahasa galton, ia menyebutkan sebagai regresi persen. Kadar abu dalam batubara dapat
menuju mediokritas. Hukum regresi semesta dihitung dengan menggunakan rumus berikut
(law of universal regression) dari Galton :
diperkuat oleh temannya Karl Pearson, yang 𝑐−𝑎
mengumpulkan lebih dari seribu catatan tinggi 𝐴𝑆𝐻 = 𝑏 𝑥100%..................(2.1)
anggota kelompok keluarga. Ia menemukan
bahwa rata-rata tinggi anak laki-laki kelompok Dimana
ayah (yang) pendek lebih besar dari pada a : berat botol timbang + tutup (gr)
b : berat contoh +botol timbang +
tinggi ayah mereka, jadi “mundurnya”
tutup sbelum dipanaskan (gr)
(“regressing”) anak laki- laki yang tinggi
c : berat contoh +botol timbang + • Metode pembakaran suhu tinggi dengan
tutup setelah dipanaskan (gr) cara titrasi asam basa
c. Volatile Matter (Zat Terbang) • Metode instumentasi dengan deteksi
Zat terbang merupakan zat aktif yang inframerahMetode eschaka. Sedangkan
terkandung dalam batubara terdiri dari gas menurut BS, kadar sukfur dapat
gas yang mudah terbakar seperti hydrogen ditentukan dengan cara berikut :
(H), karbon monoksida (CO) , methan
• Metode pembakaran suhu tinggi dengan
(CH4). Zat terbang terbentuk apabila batu
titrasi asam basa
bara dipanaskan. Contoh , 1 gram batubara
• Metode Eschka
dipanaskan pada kondisi tertentu (suhu
f. Gross Calorific Value
9000C, selama 7 menit dalam furnace
Gross calorific value merupakan jumlah panas
khusus) maka akan bagian yang terbakar
yang dihasilkan oleh pembakaran. Untuk
dan menguap. Zat itulah yang disebut
mendapatkan jumah dari gross calorific value
sebagai zat terbang.
dilakukan pembakaran pada batubara pada
d. Fix Carbon
kondisi standar, yaitu pada volume tetap dan
Karbon terhambat adalah karbon yang
dalam rungan yang berisi gas oksigen dengan
tetinggal setelah dilakukan pembakaran pada
tekanan 25 atm.
batubara. Dengan aalanya pengeluaran
Metodologi Penelitian
zat terbang dan kandungan air, maka
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan
karbon terhambat secara otomatis kan naik
dan pengelohan data, dimna data yang
dan meningkatkan kualitas batubara.
dikumpulkan adalah data sekunder. Data
Pengukuran karbon terhambat merukapan
sekunder diambil dari hasil pengamatan tiga
bagian dari analisis proximste. Nilai fix
bulan sebelumnya secara berturut turut yaitu
carbon dapat dihitung dengan menggunakan
bulan oktober, November dan Desember.
rumus berikut.
Data didapatkan dari laboratorium pengukuran
FC = 100 - IM - A – VM......................(2.2) kualitas Batubara. Setelah data kualitas
Dimana : batubara tiga bulan sebelumnya didapatkan,
IM = kadar Inherent Moisture (%) dilakukan pengolahan data kualitas
A = kadar Ash (%) menggunakan statistika.
VM = Votlatile matter a. melakukan perhitungan statistika data
e. Analisis total sulfur kualitas batubara di Stoockpile dan di
Batubara merupakan bagian dari material Gerbong Kereta Api.
carbonaceous atau bisa berupa bagian dari b. Melakukan perhitungan penyimpangan
mineral seperti pyrite sulfat, dan sulfide. Gas kualitas batubara saat di stockpile dan
sulfur diosida yang terbentuk selama saat digerbong kereta api.
pembakaran merupakan polutan yang serius. c. Melakukan analisa penyebab terjadinya
Kebanyakan Negara memiliki peraturan penyimpangan kualitas batubara.
mengenai emisi gas tersebut ke atmosfir. Satu Tabel 1 Spesifikasi Produk TE 67 HS
persen adalah limit kandungan sulfur dalam No. PARAMETER RENTANG
batubara yang banyak dipakai oleh negara- (range)
negara pengguna batubara. 1 Total Moisture(%,ar) 14,85-21,05
Kandugan sulfur yang tinggi dalam 2 Proximate Analysis
batubara tidak diinginkan Karena akan Inherent Moisture (%,adb) 7,49-10,12
berakumulasi didalam cairan logam panas 3 Ash content (%,adb) 2,44-5,27
sehingga memerlukan proses desulfurisasi. 4 Volatie Matter (%,adb) 4095-43,30
Untuk menentukan kadar sulfur
5 Fixed Carbon (%,adb) 43,98-46,48
berdasarkan ASTM dapat dilakukan dengan cara
6 Caloric Value
berikut : 6401-6800
Gross Caloric Value
No. PARAMETER RENTANG
(range)
7 Total Sulphur 0,30-0,92

C. PENGOLAHAN DATA
Statistika Deskriptif
Dari hasil pengamatan statistika
deskriptiv kadar Total Moisture dan Inherent
Moisture, kadar Ash ditemukan satu samping
kualitas yang ekstrem saat di stockpile. Gambar 1 Uji Rata Rata Independen
Analisa Perbandingan Rata Rata Dua Populasi Dari hasil uji dua rata rata independen
Pengamatan kualitas batubara di stockpile didapatkan P-value untuk masing masing
dan di gerbong kereta api bertujuan untuk parameter kualitas batubara adalah 0,279 %ar
melihat seberapa besar perbedaan atau (Total Moisture), 0,982 (Inherent Moisture),
penyimpangan kualitas batu bara dikedua 0.0041 %ar (Kadar ASH ), 0.145 %ar (Kadar
tempat tersebut. Dalam uji rata rata dua populasi Volatile Meter) , 0.422 %ar (Kadar Fix
maka didefinisakan asumsi sebagai berikut: Carbon), 0.438 (Kadar Total Sulphure) dan
µ Stockpile : rata rata kualitas populasi 0.08 %ar (Kadar GCV). Dari 7 parameter
batubara TE 67HS di Stockpile kualitas batubara yang diukur, parameter kadar
µ Gerbong Kerta Api : rata rata kualitas ASH dan GCV (Kalori) mengalami perbedaan
populasi batubara TE 67HS di yang signifikaan pada saat di stockpile dan di
Stockpile Gerbong Kereta Api kareba P- Value nya lebih
Uji Kesemaan Rata Rata Dua Populasi kecil dari tingkat signifikansi 0,005 (5%).
Tujuan dari dua uji kesamaan dua populasi Selang Kepercayaan Rata-Rata
untuk melihat apakah dua variansi kedua
populasi berbeda atau tidak. Masing masing
P-Value untuk dikereta api adalah 0,340 %ar
(Total Moisture), 0.693(Inherent Moisture),
0.003 %ar (Kadar ASH ), 0.0005 %ar (Kadar Gambar 2 Selang Kepercayaan rata rata
Volatile Meter) , 0.117 %ar (Kadar Fix Berdasarkan uji kesamaan rata rata
Carbon), 0.008 (Kadar Total Suphure) dan independen, untuk selang kepercayaan kadar
0.348 %ar (Kadar GCV). Dari nilai P-Value Ash adalah 0,293< µ Stockpile- µ Gerbong
maka parameter kualitas yang tidak mengalami Kerta Api<1,465 sehingga dengan se;ang
penyimpangan kualitas adalah kadar Ahs dan kepercayaan 95% disimpulkan bahwa
Kadar Volatile meter karena P-value lebih kecil parameter abu atau kadar Ash mengalami
dari 0,005 atau 5 % tingka signifikansinya. perbedaan kualitas saat di stockpile dan
Dimana kesamaan rata rata dua populasi adalah digerbong batubara sebesar 0,293 (adb%)
sama. sampai dengan 1,456 (adb%) dengan nilai
Uji Dua Rata-Rata Independen standar 0.359. Untuk parameter GCV
Tujuan uji dua rata rata independen melihat (Kalori) selang kepercayaannya adalah -
signifikansi perbedaan antara dua populasi. 226.312 < µ Stockpile- µ Gerbong Kerta
Asumsinyadalah variansi dua populasi tida sama. Api< -35.399 sehingga dapat disimpulkan
bahwa perbedaan kualitas kadar GCV antara
distockpile dan digerbong kereta api adalah -
226,312 (adb%) sampai dengan -35.399 (adb%).
Korelasi Bivariat
Korelasi bivariate bertujuan untuk melihat
hubungan antara dua variable parameter
kualitas batubara. Dari hasil pengukuran
korelasi bivariate disimpulkan bahwa
hubungan kadar TM, kadar IM, Kadar Ahs,
dengan GCV adalah kuat dan berkebalikan
artinya semakin tinggi kadar TM, IM dan
Ash maka nilai GCV atau klorinya akan
semakin kecil. Sedangkan hubungan kadar
VM, dan TS dengan GCV adalah lemah dan
kuat. Hubungan Fix Carbon dengan GCV
adalah positif dan kuat artinya semakin besar
kandungan Fix Carbon maka semakin besar
pula kandungan kalorinya.
Korelasi Ganda Gambar 4 Uji Linearitas
Pada korelasi ganda bertujuan untuk Gambar diatas menunjukkan bahwa data
melihat hubungan antara variable Ash dan kualitas batubara di stockpile memenuhi uji
Variabel TM terhadap Variabel GCV. normalitas.

Gambar 3 Korelasi Ganda

Berdasarkan uji SPSS diatas korelasi


ganda antara Total Moisture, kadar Ash (Abu)
Gambar 5 Uji Linearitas
terhadap total GCV (kalori) sebesar 0,683
Gambar diatas menujukkan bahwa data
menunjukkan bahwa derajat hubungan antara
kualitas batubara distockpile memenuhi uji
keduanya dengan GCV sangat kuat. Sedangkan
linearitas data.
kadar Ash (abu) dan Total Moisture
Analisis regresi linear Overall
menentukan besarnya kandungan GCV
Analisis regresi overaal atau dikenal juga
(kalori) sebesar 46,6 % dan sisanya ditentukan
dengan uji Anova betujuan untuk melihat
oleh faktor lain. Sehingga dapat ditarik
apakah model regresi layak digunakan atau tidak
kesimpulan bahwa kedua parameter tersebut
hampir 50 % menentukan kualitas dari
batubara yang mengacu pada kandungan
kalorinya.
Analisis Regresi
Tujuan dari analisis regresi adalah
memberikan penjelasan hubungan antara dua
variable dependent dan variable independent.
Dalam penelitian ini adalah melihat hubungan
antara 6 parameter kualitas batubara yang Gambar 6 Uji Linearitas
terdiri dari kadar TM, IM, Ash, VM, FM, TS Dari table diatas ditunjukkan bahw nilai
dan hubungannya dengan Kadar GCV atau siq. Untuk model pertama dan kedua adalah
kadar kalori batubara. Masing masing sampel 0.000 lebih kecil dibandingkan nilai
distockpile dan di gerbong kereta api signifikansinya yaitu 0.005 sehingga model 1
dilakukan uji analisis regresi. dan dua layak digunakan
Model regresi akan memburuk. untuk menghindari
Model regresi adalahmodel yang digunakan penyimpangan kualitas batubara di
untuk memformulasikan variabel variabel stockpile dan digerbong kereta api maka
dependent dan independent sesuai dengan dapat dilakukan dengan management
hubungan antara variabel tersebut. stockpile seperti gambar berikut.
Berdasarkan analisis overall dan partial maka
didapatkan formulasi model regresi yang
terbaik yang menghasilkan kadar GCV yang
besar.
Model 1
GCV= 7946,7- 13,671 TM – 91,371 IM- 77.135
Ash- 1,530 VM
Model 2
GCV = 8614,625-8,155TM – 91,40 IM – 79,802
ASH – 12,190 VM – 1134,56 TS
Berdasaran dua model regresi diatas model
1 terpilih sebagai model terbaik dengan nilai R
sebesar 0.796. model tersebut menunjukkan Gambar 7 Rancangan Stockpile
79,6 variasi dalam kadar GCV (Kalori). Dari Bentuk penanganan khusus dari management
dua model regresi diatas dapat disimpulkan stockpile adalah mendesign tempat
bahwa GCV (kadar Kalori) berbanding terbalik penampungan air dan penangan limbah.
dengan kadar Total Moisture, Inherent Moisture, 2. Faktor Teknik Sampling Batubara
kadar Ash, dan kadar VM. Artinya dengan Faktor teknis samling batubara menjadi
kenaikan 1% kadar TM akan menurunkan kalori suatu persoalan dikarenakan sampling
sebesar 13,67 %, kenakan kadar IM sebesar 1 % batubara sangat mempengaruhi hasil
setara dengan penurunan kalori sebesar 91.37 pengukuran kualitas batubara. Saran
%, kenaikan kadar ASH sebasar 1 % setara perbaikan adalah pengambilan sampling
dengan penuruan kadar GCV sebesar 77.135 dilakukan dengan mengikuti prosedur
serta kenaikam kada VM akan menurunkan pengambilan sampel yang telah ditetapkan
kualitas batu bara dengan penurunan kadar GCV oleh perusahan dan sesuai dengan SOP
sebesar 1,53 %. pengambian sampel batubara

Analisis Faktor Dan Saran Perbaikan KESIMPULAN


Berdasarkan hasil penelitian kualitas Setelah melakukan pengukuran terhadap
batubara dan penyimpangan kualitas batubara kualitas batu bara di stockpile dan digerbong
di stockpile dan digerbong kereta api maka kereta api dan membandingkan kedua kualitas
faktor faktor yang menyebabkan terjadinya tersebut berdasarkan parameter kualtasbatubara
penyimpangan kualitas dan antara lain kadar Total Moisture, Kadar
penanggulangannya adalah sebagai berikut : Inherent Moisture, kadar Ash, kadar Fix
1. Keadaan stockpile yang terbuka sehingga Carbon, kadar volatile meter, kadar Fix
faktor lingkungan dan alam menjadi Carbon dan kadar GCV (Gross Calori Value)
penyebab penyimpangan kualitas maka dapat disimpulkan bahwa parameter yang
batubara di stockpile dan di gerbong mengalami perbedaan yang signifikan adalah
kereta api. Contohnya adalah curah kadar Ash dan kadar GCV. Perbedaan ini
hujan yang tinggi dapat meningkatkan mempengaruhi ualitas batubara dikarenakan
kandungan Total Moisture (TM sehingga hasil dari uji korelasi ganda menjelaskan
menurunkan kadar GCV (kalori). Dengan bahwa korelasi antara kadar AHS dan Kadar
turunnya kadar GCV maka kualitas juga GCV sebesar 0,683 dan kadar Ash berkontribusi
besar dalam menentukan kadar GCV sebesar of Mines, Golden, Colorado, USA,
46,65 dan sisa nya ditentukan leh faktor lain. pp. 38 – 42, pp. 106 – 109.
Berdasarkan uji regresi diperoleh model terbaik Jonathan , Sarwono . 2006. Metode Penelitian
dalam menentukan hubungan parameter kualitas Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta
batubara dalam menentukan kadar GCV yaitu : Graha Ilmu
Model 1 : GCV= 7946,7- 13,671 TM – 91,371 Sarwono J., 2006, Analisis Data Penelitian
IM- 77.135 Ash- 1,530 VM. Dari formulasi Menggunakan SPSS-13, Ed. Pertama,
pembentukan GCV dapat disimpulkan bahwa Penerbit Andi, Yogyakarta
parameter GCV berbanding terbalik dengan
kadar Total Moisture, kadar inheren moisture,
kadar Ash dan kadar Volatile meter, nilai R dari
model regresi tersbut adalah 0,796 % artinya
79,6 % mampu menjelaskan variasi dalam
kadar GCV. Faktor faktor yang menyebabkan
terjadi nya penyimpangan kualitas batubara TE
67 HS di stockpile dan batubara di gerbong
kereta api adalah faktor lingkungan saat
batubara di tumpuk di sctokpile. Untuk
meminimalisir penyimpangan kualitas batubara
dan menjaga konsistensi kualitas batubara saat
di stockpile maka diterapkannya managemen
stockpile yang meliputi design stockpile dan
pembentukan kolam limbah air batubara.

Referensi
Achmad, S. A. 1986.Kimia Organik Bahan
Alam.. Materi 4. Ilmu Kimia
Flavonoid. Karunia Universitas
Terbuka. Jakarta.
Batubara, P.L. 2008. Farmakologi Dasar,
edisi I .Jakarta: Lembaga Studi dan
Konsultasi Farmakologi.
Dergibson Siagian Sugiarto, Metode statistika
Untuk Bisnis dan Ekonomi ,
penerbit PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2006
Ghozali, Imam. 2007. Analisis Multivariate
Dengan Program SPSS. Cetakan
Empat. Badan Penerbit Universitas
diponegoro. Semarang
Gaspersz, Vincent. 2001. Total Quality
Management (TQM), Jakarta : PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Hustrulid, W., and Kuthta, M., 1992, Open Pit
Mine Planning and Design, Vol. 1,
Balkema Publishers, New York.
Hustrulid, W. 1999. “Blasting Principles for
Open Pit Mining”, Colorado School