Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH

Disusun Dan Diajukan Sebagai Tugas Kelompok Mata Kuliah Bimbingan Konseling

Dosen Pengampu : Ujang Khiyarusholeh M.Pd

Oleh :
Slamet Riyadi ( 40312010 )
Yulita Muzayanti ( 403120.. )
Alivia Uswatun Kh. ( 403120.. )

Pendidikan Matematika
Semester III

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ( STKIP )


ISLAM BUMIAYU
Tahun Akademik 2013 / 2014
BAB I

PENDAHULUAN
A. KATA PENGANTAR
Pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1, adalah usaha sadar yang dilakukan untuk
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan
agar peserta didik tersebut berperan dalam kehidupan masa depannya.
Adapun dalam bimbingan itu sendiri terdapat layanan-layanan yang bisa
dilakukan dengan bantuan konselor di sekolah yang juga bekerja sama dengan seluruh
perangkat sekolah. Layanan- layanan terebut dapat bersifat umum maupun khusus.
Layanan umum dalam artian layanan tersebut meliputi dimensi pokok
terselenggaranya dan terkembangkannya bimbingan dalam pendidikan lingkup
sekolah. Sedangkan layanan khusus sifatnya lebih mengarah pada kategorisasi subjek
dan jenis layanan bimbingan yang dibutuhkan, kepada murid atau non murid.
Layanan-layanan itu sendiri merupakan hal yang penting dalam proses pelaksanaan
bimbingan.
Perlunya Bimbingan dan Konseling di sekolah jika ditinjau secara mendalam,
setidaknya ada tiga hal utama yang melatar belakangi perlunya bimbingan yakni
tinjauan secara umum, sosio kultural dan aspek psikologis.
Secara umum, latar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan
pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya
manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh,
bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlu mengintegrasikan
seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya komponen bimbingan.
Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangi perlunya proses
bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat
sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah
dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekerjaan
relatif menetap.

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud Bimbingan Konseling?
2. Apa saja layanan Bimbingan Konseling di sekolah?
3. Apa faktor pendukung dan penghambat layanan BK disekolah?
4. Bagaimana Mengatasi masalah Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah?

2
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling
1. Pengertian bimbingan
Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinya dan supaya
individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik, 2000:193).
2. Pengertian konseling
Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya
dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk
dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan
datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).
3. Pengertian bimbingan dan konseling
Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik
secaraperorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang
secara optimal,dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial,
kemampuan belajar,dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan
kegiatan pendukung,berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Dalam pelaksanaannya, bimbingan konseling memerlukan visi dan misi agar


lebih terarah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dalam proses bimbingan
konseling. Adapun visi dan misi bimbingan konseling secara umum adalah sebagai
berikut :
1. Visi
Visi pelayanan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang
membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian
dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik berkembang
secara optimal, mandiri dan bahagia.
2. Misi
a. Misi Pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui
pembentukan perilakuefektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa
depan.

3
b. Misi Pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan
kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/ madrasah, keluarga
dan masyarakat.
c. Misi Pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta
didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.

B. Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah


Sebagian orang berpandangan bahwa BK itu ada karena adanya masalah, jika
tidak ada maka BK tidak diperlukan, dan BK itu diperlukan untuk membantu
menyelesaikan masalah saja. Memang tidak dipungkiri bahwa salah satu tugas utama
bimbingan dan konseling adalah untuk membantu dalam menyelesaikan masalah.
Tetapi sebenarnya juga peranan BK itu sendiri adalah melakukan tindakan preventif
agar masalah tidak timbul dan antisipasi agar ketika masalah yang sewaktu-waktu
datang tidak berkembang menjadi masalah yang besar. Kita pastinya tahu semboyan
yang berbunyi “Mencegah itu lebih baik daripada mengobati”.
Adapun bidang-bidang layanan bimbingan konseling di sekolah adalah
sebagai berikut:
1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu
peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan
kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian
dan kebutuhan dirinya secara realistik.
2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta
didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan kemampuan hubungan
sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga dan warga
lingkungan sosial yang lebih luas.
3. Pengembangan Kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu
peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan kemampuan
belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara
mandiri.
4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan nyang membantu peserta didik
dalam memahami, menilai, informasi, serta memilih dan mengambil keputusan
karir.

4
Sedangkan komponen-komponen atau topic-topik yang lebih terperinci dari bidang
bimbingan konseling disekolah yang disebutkan diatas adalah sebagai berikut :
1. Tugas Perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa meliputi topik-topik :
a. Memahami secara lebih luas dan mendalam, meyakini dan menjalankan
kaidah-kaidah agama yang dianutnya (bimb. Pribadi)
b. Memahami, menjalankan, hubungan sosial berdasarkan kaidah-kaidah agama
yang dianut (Bimbingan sosial).
c. Memahami dan mewujudkan kegiatan-kegiatan belajar sesuai dengan kaidah-
kaidah ajaran agama (Bimbingan belajar)
d. Memahami dan menjalankan kaidah-kaidah agama dalam pengarahan diri
untuk pengembangan karir
2. Tugas Perkembangan ; mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta
dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk
kehidupan yang sehat, meliputi topik-topik :
a. Memahami dan menerima perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri
sendiri (bimb. Pribadi)
b. Memahami dan menjalankan pola hidup sehat (bimb. Pribadi)
c. Memahami bahwa perubahan fisik dan psikis mempengaruhi hubungan sosial
serta bersikap empati kepada orang lain yang sedang mengalami perubahan
fisik dan psikis (bim. Sosial)
d. Memahami pengaruh perubahan fisik dan psikis terhadap kegiatan belajar
serta mampu mengatasi kesulitan yang terjadi akibat perubahan fisik dan
psikis dalam kegiatan belajar (bim. Belajar)
e. Memahami bahwa kondisi fisik dan psikis mempengaruhi pengembangan
persiapan karir serta mengembangkan kondisi fisik dan psikis yang sehat
untuk pengembangan karir (bimb. Karir)
f. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya
sebagai pria atau wanita
g. Memahami, menerima dan menjalankan peran pribadi dalam kelompok
sebaya sebagai pria atau wanita (bimb. Pribadi)
h. Mampu menjalin hubungan sosial dengan teman sebaya sesaui perannya
sebagai pria atau wanita (bim. Sosial)

5
i. Mewujudkan pengaruh positif dan menghindari pengaruh yang negatif dari
hubungan teman sebaya terhadap kegiatan belajar (bimb. Belajar)
j. Memanfaatkan hubungan teman sebaya dalam upaya pengembangan
persiapan karir dan memahami bahwa pria dan wanita mempunyai
kedudukan yang sama dalam bekerja dan mengembangkan karir

3. Tugas perkembangan, memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat
diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas
a. Memahami dan menjalankan nilai dan cara bertingkah laku pribadi dalam
kehidupan diluar kelompok sebaya (bimb. Pribadi)
b. Memahami dan mampu menerapkan nilai-nilai dan cara berperilaku sosial
dalam kehidupan diluar kelompok sebaya (bimb. Sosial)
c. Memahami pengaruh hubungan dalam kehidupan sosial yang lebih luas
terhadap kegiatan belajar serta mewujudkan pengaruh positif dan
menghindari pengaruh negatif dari hubungan dalam kehidupan sosial yang
lebih luas terhadap kegiatan belajar

4. Mengenal bakat, minat, serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni
a. Memahami kemampuan, bakat dan minat yang dimiliki dan arah
kecenderungan karir sesuai dengan bakat dan minat (bimb. Pribadi)
b. Mengenal aspek-aspek sosial terhadap kemampuan , bakat dan minat (bimb.
Sosial)
c. Memahami aspek-aspek sosial dalam pengembangan karir dan dalam
apresiasi seni (bimb. Sosial)
d. Memahami pengaruh positif kemampuan, bakat dan minat sendiri terhadap
kegiatan belajar serta pengaruh positif apresiasi seni terhadap kegiatan
belajar (bimb. Belajar)
e. Memahami pengaruh kemampuan, bakat dan minat terhadap karir (bimb.
Karir)
f. Mampu mengarahkan kecenderungan karir sendiri sesuai dengan
kemampuan, bakat dan minat (bim. Karir)
g. mampu mengapresiasi berbagai jenis karir dalam bidang seni (bimb. Karir

6
C. Faktor Pendukung dan Penghambat Layanan Bimbingan Konseling
Faktor-faktor yang dapat mendukung lancarnya layanan bimbingan konseling
di sekolah tentunya harus kompleks. Yaitu terintegrasinya antara pihak
sekolah,lingkungan sekolah, orang tua siswa, lingkungan siswa, dan siswa itu sendiri
serta sarana prasarana pendukung yang memadai.
Adapun sarana dan prasarana yang diperlukan dalam layanan bimbingan
konseling di sekolah adalah sebagai berikut :
1. Sarana
a. Alat pengumpul data,seperti format-format, pedoman observasi, pedoman
wawancara, angket, catatan harian, daftar nilai prestasi belajar, dan kartu
konsultasi.
b. Alat penyimpanan data, seperti kartu pribadi, buku pribadi, map, dan
sebagainya.
c. Perlengkapan teknis, seperti buku pedoman, buku informasi, paket bimbingan,
blangko surat, alat-alat tulis, dan sebagainya.
2. Prasarana
a. Ruangan bimbingan dan konseling, seperti ruang tamu, ruang konsultasi, ruang
diskusi, ruang dokumentasi dan sebainya.
b. Anggaran biaya untuk menunjang kegiatan layanan, seperti anggaran untuk
surat manyurat, transportasi, penataran, pembelian alat-alat, dan sebagainnya.

Sedangkan secara garis besar hambatan bimbingan dan konseling dalam


dikelompokkan dalam dua hal, yaitu :
1. Hambatan Internal
Hambatan internal ini berkaitan dengan kompetensi konselor. Kompetensi konselor
meliputi kompetensi akademik dan kompetensi profesional. Kompetensi akademik
konselor yakni lulusan S1 bimbingan konseling atau S2 bimbingan konseling dan
melanjutkan pendidikan profesi selama 1 tahun. Kenyataan di lapangan
membuktikan bahwa masih banyak di temukan konselor yang diangkat oleh kepala
sekolah karena dianggap bisa atau mereka yang berasal dari sarjana agama.
2. Hambatan Eksternal.
a. Layanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja?
Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Jawaban ”benar”, jika
7
bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat
dilakukan secara amatiran belaka. Sedangkan jawaban ”tidak”, jika bimbingan
dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan
teknologi (yaitu mengikuti filosopi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu),
dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Salah satu ciri
keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus
dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.
Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di
Perguruan Tinggi, serta pengalaman-pengalaman
b. Bimbingan dan Konseling hanya untuk orang yang bermasalah saja
Sebagian orang berpandangan bahwa BK itu ada karena adanya masalah,
jika tidak ada maka BK tidak diperlukan, dan BK itu diperlukan untuk
membantu menyelesaikan masalah saja. Memang tidak dipungkiri bahwa salah
satu tugas utama bimbingan dan konseling adalah untuk membantu dalam
menyelesaikan masalah. Tetapi sebenarnya juga peranan BK itu sendiri adalah
melakukan tindakan preventif agar masalah tidak timbul dan antisipasi agar
ketika masalah yang sewaktu-waktu datang tidak berkembang menjadi masalah
yang besar. Kita pastinya tahu semboyan yang berbunyi “Mencegah itu lebih
baik daripada mengobati”.
c. Keberhasilan layanan BK tergantung kepada sarana dan prasarana
Sering kali kita temukan pandangan bahwa kehandalan dan kehebatan
seorang konselor itu disebabkan dari ketersediaan sarana dan prasarana yang
lengkap dan mutakhir. Seorang konselor yang dinilai tidak bagus kinerjanya,
seringkali berdalih dengan alasan bahwa ia kurang didukung oleh sarana dan
prasarana yang bagus. Sebaliknya pihak konseli pun terkadang juga terjebak
dalam asumsi bahwa konselor yang hebat itu terlihat dari sarana dan prasarana
yang dimiliki konselor. Pada hakikatnya kehebatan konselor itu dinilai bukan
dari faktor luarnya, tetapi lebih kepada faktor kepribadian konselor itu sendiri,
termasuk didalamnya pemahaman agama, tingkah laku sehari-hari, pergaulan
dan gaya hidup.
d. Konselor harus aktif, sedangkan konseli harus/boleh pasif
Sering kita temukan bahwa konseli sering menyerahkan sepenuhnya
penyelesaian masalahnya kepada konselor, mereka menganggap bahwa
memang itulah kewajiban konselor, terlebih lagi jika dalam pelayanan Bk
8
tersebut konseli harus membayar. Hal ini terjadi sebenarnya juga disebabkan
karena tak jarang konselor yang membuat konseli itu menjadi sangat
berketergantungan dengan konselor. Konselor terkadang mencitrakan dirinya
sebagai pemecah masalah yang handal dan dapat dipercaya. Konselor seperti
ini biasanya berorientasi pada ekonomi bukan pengabdian. Tak jarang juga
konselor yang enggan melepaskan konselinya, sehingga dia merekayasa untuk
memperlambat proses penyelesaian masalah, karena tentunya jika tiap
pertemuan konseli harus membayar maka akan semakin banyak keuntungan
yang diperoleh konselor.
e. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat
Seringkali konseli (orangtua/keluarga konseli) yang berekonomi tinggi
memaksakan kehendak kepada konselor untuk dapat menyelesaikan
masalahnya secepat mungkin tak peduli berapapun biaya yang harus
dikeluarkan. Tidak jarang konselor sendiri secara tidak sadar atau sadar (karena
ada faktor tertentu) menyanggupi keinginan konseli yang seperti ini, biasanya
konselor ini meminta kompensasi dengan bayaran yang tinggi. Yang lebih
parah justru kadang ada konselor itu sendiri yang mempromosikan dirinya
sebagai konselor yang mampu menyelesaikan masalah secara tuntas dan cepat.
Pada dasarnya yang mampu menganalisa besar/kecil nya masalah dan
cepat/lambat nya penanganan masalah adalah konselor itu sendiri, karena
konselor tentunya memahami landasan dan kerangka teoritik BK serta
mempunyai pengalaman dalam penanganan masalah yang sejenisnya.
f. Guru Bimbingan dan Konseling di sekolah adalah “polisi sekolah”
Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi
sekolah”. Hal ini disebabkan karena seringkali pihak sekolah menyerahkan
sepenuhnya masalah pelanggaran kedisiplinan dan peraturan sekolah lainnya
kepada guru BK. Bahkan banyak guru BK yang diberi wewenang sebagai
eksekutor bagi siswa yang bermasalah. Sehingga banyak sekali kita temukan di
sekolah-sekolah yang menganggap guru Bk sebagai guru “killer” (yang
ditakuti). Guru (BK) itu bukan untuk ditakuti tetapi untuk disegani, dicintai dan
diteladani. Jika kita menganalogikan dengan dunia hukum, konselor harus
mampu berperan sebagai pengacara, yang bertindak sebagai sahabat
kepercayaan, tempat mencurahkan isi hati dan pikiran. Konselor adalah kawan
pengiring, penunjuk jalan, pemberi informasi, pembangun kekuatan, dan
9
pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang
berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan
memberi harapan. Kendati demikian, konselor juga tidak bisa
membela/melindungi siswa yang memang jelas bermasalah, tetapi konselor
boleh menjadi jaminan untuk penangguhan hukuman/pe-maaf-an bagi
konselinya. Yang salah tetaplah salah tetapi hukuman boleh saja tidak
diberikan, bergantung kepada besar kecilnya masalah itu sendiri.

D. Cara Mengatasi Masalah Layanan Bimbingan Konseling


Dalam sebuah wawancara langsung terhadap tiga pelajar SMK di sekolah
yang berbeda-beda, didapat rangkuman dari masing-masing pelajar adalah sebagai
berikut :
1. Pelajar SMK Al Hikmah Benda
Menyatakan bahwa guru BK adalah tempatnya pelajar-pelajar yang
bermasalah dengan aturan sekolah. Contohnya tentang keterlambatan, cara
berpakaian, panjang rambut maksimal, bolos sekolah dan pelanggaran-
pelanggaran lainnya. Ia menyatakan bahwa guru BK menjengkelkan, karena tidak
berlaku adil terhadap muridnya, dan menginginkan agar guru BK yang menangani
kelasnya diganti dengan guru BK yang menangani kelas lain karena guru BK
kelas lain lebih bebas, dan ketika bolos sekolah hanya membayar denda 2 ribu
rupiah untuk satu kali bolos. Alasan ketidakadilan yang ia katakan adalah tentang
kewajiban ekskul pramuka yang tidak dibebankan terhadap murid dari desa lain
yang jarak rumahnya cukup jauh. Dalam hal lain, ia juga tidak senang akan
perlakuan guru BK yang tanpa kompromi langsung menjatuhkan hukuman yang
menurutnya masih dalam tingkat kewajaran. Yaitu mengenai pengguntingan
pakaian ketika tidak dimasukan, hukuman lari keliling lapangan ketika terlambat,
bahkan hanya karena tertawa ketika ada murid lain dihukum ia menjadi sasaran
hukuman juga.
Setelah mendapat hukuman, bukan membuat ia jera namun justru membuat ia
benci terhadap guru BK, apalagi tidak ada aturan tertulis secara jelas yang
menyatakan hukuman dari setiap pelanggaran. Menurutnya, tidak perlu ada guru
BK disekolah karena hanya akan membuat suasana menjadi tidak bebas dan
nyaman.

10
2. Pelajar SMK Maarif NU Tonjong
Ia menyatakan bahwa guru BK adalah guru yang menangani anak bandel dan
rewel, seperti membolos sekolah, merokok diwarung, minum minuman keras dan
melakukan kegiatan mesum baik diluar ataupun didalam sekolah yang dapat
mencemarkan nama baik sekolah.
Ia sangat senang dengan adanya guru BK, karena telah membuatnya sadar
dengan kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan. Apalagi guru BK yang
menanganinya tidak pandang bulu, semua yang melakukan kesalahan segera
ditindak tegas dengan prosedur yang tidak diberlakukan sepihak. Yaitu dengan
peringatan dahulu, kemudian pemanggilan orang tua, lalu pengembalian kepada
orang tua ketika pelanggaran sudah melampaui batas.
Ia tidak merasa terkekang dengan adanya guru BK, karena baginya dengan
adanya guru BK akan membuat dirinya berusaha berdisiplin dengan aturan yang
berlaku. Adapun aturan-aturan yang diberlakukan disekolahnya diantaranya
adalah hukuman dijemur dilapangan ketika ketahuan merokok dilingkungan
sekolah, push up ketika terlambat masuk sekolah, dan dikembalikan ke orang tua
jika bolos sudah mencapai 12 kali dalam setahun.
3. Pelajar SMK Yanuris Linggapura
Lain orang lain kepala lain pula permasalahannya, begitulah yang terjadi pada
pelajar SMK Yanuris linggapura. Menurutnya jika guru BK terlalu ketat, mending
tidak ada guru BK sekalian. Guru BK yang menanganinya, menurut dia tidak
mengerti perasaan anak muda. Ia menyatakan bahwa ia sering bolos sekolah
karena guru yang mengajar membosankan dan bikin suasana mengantuk sehingga
malas untuk belajar. Mengenai cara berpakaianpun ia tidak suka dengan aturan-
aturan yang ketat, karena anak muda sekarang butuh gaya pakaian dengan
stylenya masing-masing. Berpakaian standard aturan sekolahnya hanya akan
membuat ia tidak percaya diri dan merasa cupu didepan pelajar perempuan.
Baginya, hukuman lari-lari lapangan dan dijemur adalah sebuah berkah
tersendiri, karena tidak usah ikut pelajaran tanpa susah-susah bolos. Namun hal
yang tidak ia sukai adalah ketika hari ini bolos, maka esoknya ketika masuk
sekolah, ia diharuskan untuk memakai kalung dengan gantungan kertas yang
bertuliskan “Tukang Bolos”.
Aturan-aturan sekolahnya hanya terpampang dimading, yang baginya hanya
sebuah hiasan yang enggan untuk dibaca lebih spesifik. Karena ia tidak ingin ada
11
aturan yang baginya mengekang. Hukuman yang diberikan oleh guru BK’nya
tidak justru membuat ia jera, walaupun ia pernah ditampar dan dipukul ketika
tertangkap sedang merokok didalam kelas pada jam istirahat, baginya malah
sebaliknya ia makin sering melakukan pelanggaran dengan tujuan guru BK yang
menanganinya akan bosan dan jera mengurusi murid-muridnya yang nakal.
Sehingga hari-hari berikutnya akan bebas dari hukuman ketika melakukan
pelanggaran.

Sebagai guru BK tentu kita sangat menaruh harapan besar agar BK dapat
berjalan efektif di sekolah. Tentu kita akan merasa prihatin jika pelaksanakan tugas-
tugas BK di sekolah kurang maksimal, apalagi jika imbasnya justru menjadi seperti
pada pelajar dari SMK Al Hikmah Benda dan SMK Yanuris Linggapura. Oleh karena
itu untuk dapat meningkatkan kinerja BK disekolah kita harus bekerja keras agar
eksistensi BK disekolah dapat diakui keberadaanya dan terasa manfaatnya baik
terhadap siswa, guru, sekolah dan masyarakat, oleh karena itu ada beberapa cara yang
mungkin dapat diterapkan antara lain adalah sebagai berikut :
1. Buatlah program BK sesuai dengan kubutuhan dan situasi kondisi sekolah
2. Laksanakan program sesuai dengan kemampuan anda dan sekolah
3. Laksanakan sosialisasi tentang tugas BK di Sekolah agar para siswa , guru dan
kepala sekolah memahaminya tentang tugas-tugas BK di sekolah.
4. Jangan terlalu menuntut kepada sekolah untuk melengkapi sarana dan prasarana
BK jika sekolah memang tidak mampu menyediakannya.Namun membuat
usulan adalah hal yang bijak untuk dilaksanakan.
5. Kuasai konsep BK dan Jangan malu bertanya jika anda memang tidak menguasai
layanan BK disekolah, bertanya lebih baik dari pada salah dalam melaksanakan
layanan BK.
6. Jalin kerja sama yang solid antar guru BK melalui komunikasi intensif dalam
forum MGBK, ABKIN dan forum-forum lain yang dapat meningkatkan kinerja
BK.
7. Jangan memaksakan diri untuk menangani kasus yang bukan menjadi tanggung
jawab anda sepeti narkotika, kasus-kasus Kriminal, atau kasu-kasus kelainan
jiwa, ingat bahwa betanggiung jawab sebatas siswa yang normal. Dan jika hal ini
terjadi di sekolah, maka segera kordinasi dengan pihak terkait untuk segera di “
Referal “ atau alih tangankasuskan.

12
8. Tumbuhkan Niat dan mantapkan hati bahwa “ Saya akan menjadi guru BK yang
professional mulai hari ini.

13
BAB III

KESIMPULAN

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling


Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik
secaraperorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara
optimal,dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial,
kemampuan belajar,dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan
kegiatan pendukung,berdasarkan norma-norma yang berlaku.

B. Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah


Bidang-bidang layanan bimbingan konseling di sekolah adalah sebagai
berikut:
1. Pengembangan kehidupan pribadi
2. Pengembangan kehidupan sosial
3. Pengembangan Kemampuan belajar
4. Pengembangan karir

C. Faktor Pendukung dan Penghambat Layanan Bimbingan Konseling


Faktor pendukung :
1. Sarana
2. Prasarana
Sedangkan hambatan bimbingan dan konseling
1. Hambatan Internal
2. Hambatan Eksternal

D. Cara Mengatasi Masalah Layanan Bimbingan Konseling


Ada beberapa cara yang mungkin dapat diterapkan antara lain adalah sebagai berikut :
1. Membuat program BK yang sesuai
2. Laksanakan program yang sesuai
3. Laksanakan sosialisasi
4. Jangan terlalu menuntut sarpras

14
5. Kuasai konsep BK
6. Jalin kerja sama
7. Jangan memaksakan diri untuk menangani kasus
8. Tumbuhkan Niat dan mantapkan hati

15
DAFTAR PUSTAKA

Sukardi, Dewa ketut. 2008. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di

Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

Djoko, B.S. 2009. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Malang. Universitas Negeri
Malang.

http://rahdzi.wordpress.com/
http://www.scribd.com/doc/4100071/Layanan-Bimbingan-Konseling-di-Sekolah

16