Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH IDENTIFIKASI SENYAWA Pb (TIMBAL) DALAM APEL

MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI

Di susun oleh :
FATMAWATI
( 17186033 )

AKADEMI FARMASI BUMI SILIWANGI


2018
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas makalah Identifikasi Bahan Kimia dengan Metode Spektrofotometri dengan
baik dan tepat waktu.
Adapun maksud dan tujuan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai
tugas mata kuliah Kimia Dasar.
Penulis menyadari dalam makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari dosen dan rekan-rekan
mahasiswa/I tetap penulis nantikan demi kesempurnaan makalah ini. Atas kurang
dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini, penulis mohon maaf serta kritik
dan saran dari pembaca. Harapan penulis semoga makalah ini dapat diterima dan
bermanfaat.

Bandung, Januari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
ABSTRACK .......................................................................................................... iii
BAB I1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 2
D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 3
A. Klasifikasi Botani Tanaman Apel ................................................................ 3
B. Timbal (Pb) .................................................................................................. 5
C. Spektrofotometri Serapan Atom .................................................................. 7
BAB III METODOLOGI ........................................................................................ 8
A. Waktu dan Tempat Penelitian ...................................................................... 8
B. Alat dan Bahan ............................................................................................. 8
C. Rancangan Penelitian ................................................................................... 8
D. Prosedur Kerja .............................................................................................. 8
BAB IV PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN ................................................ 10
A. Hasil Penelitian .......................................................................................... 10
B. Kesimpulan ................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 15

ii
ABSTRACK
Research on the analysis of the lead contentin apple (Pyrus MalusL.) are sold
inmulptiple location Palu. This study aims to determine themetal content of lead
in apple with and without skin. This research was conducted in two phases each
phase of destruct ion stage of sample and determination of the metal content of
lead in the sample. Lead concentrations were determined using atomic absorption
spectro photo metrymethod. Obtained datain dicated that the lead content was
highest on the sample Sisingamangaraja street, with exposure time of 12 days,
gained the lead content in apple swith the skin of 0.178 ppm. While sample from
Undata street for exposure time of 12 days, gained lead contentin apples with skin
of 0.174 ppm.
Keywords : apples, lead concentratrions, atomic absorption spectrophotometry

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang analisis kandungan timbal pada buah apel
(Pyrus MalusL.)yang dipajangkan pada jl.Sisingamangaraja dan jl.Undata kota
Palu menggunakana metode spektrofotometri serapan atom. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kandungan logam timbal pada buah apel. Penelitian
ini dilakukan dalam dua tahap masing-masing tahap dekstruksi sampel dan tahap
penentuan kadar logam timbal dalam sampel. Konsentrasi timbal ditentukan
menggunakan metode spektrofotometri serapan atom, hasil yang diperoleh
menunjukkan kandungan timbal paling tinggi terdapat di jl.Sisingamangaraja
dengan waktu pemaparan 12 hari, kandungan dimbal yang diperoleh pada buah
apel dengan kulit sebesar 0,178 ppm. Sedangkan di jl.Undata untuk waktu
pemaparan 12 hari, kandungan timbal yang diperoleh pada buah apel dengan kulit
0.174 ppm.
Kata kunci : Buah apel, konsentrasi timbal, spektrofotometri serapan atom

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tingkat kemacetan pada jalan raya yang tak dapat ditekan, menunjukkan semakin
banyaknya masyarakat sebagai pengguna jalan yang mengendarai kendaraan bermotor.
Dari banyaknya kendaraan bermotor inilah terciptanya berbagai pencemaran lingkungan
(Guntari dan Kamal, 2008). Salah satu pencemar berbahaya emisi gas buang kendaraan
bermotor adalah senyawa Pb dan termasuk ke dalam golongan logam berat yang
berbahaya bagi lingkungan (Handayani dan Priyatno, 2009).
Menurut Fardiaz (1992), konsentrasi timbal di udara di daerah perkotaan
kemungkinan mencapai lima sampai lima puluh kali lebih besar dari daerah-daerah
pedesaan. Semakin jauh dari daerah perkotaan, semakin rendah Pb di udara. Selanjutnya
menurut Palar (1994) jumlah senyawa Pb yang jauh lebih besar dibandingkan dengan
senyawa-senyawa lain dan tidak terbakar. Musnahnya Pb dalam peristiwa pembakaran
pada mesin menyebabkan jumlah Pb yang dibuang ke udara melalu asap buangan
kendaraan bermotor menjadi sangat tinggi.
Palu adalah kota yang luasnya mencapai 396,06 Km2 dan mempunyai lalu lintas
yang cukup padat. Adapun jumlah kendaraan bermotor di kota Palu saat ini mencapai
angka yang cukup tinggi yaitu 69.646 unit (DITLANTAS) dan setiap tahun bertambah.
Hal ini disebabkan masyarakat kota Palu lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi
(Badan Pusat Statistik,2011). Dari data badan lingkungan hidup (BLH) di kota Palu jalan
yang telah terdeteksi adanya di udara logam berat timbak (Pb) adalah Jl.Moh. Yamin dan
Jl.Diponegoro sebesar < 0,0007 ppm sedangkan Jl. RE Martadinata (Tondo) sebesar
0,0021 ppm.
Logam timbal (Pb) dapat masuk ke tubuh melalui makanan jajanan yang dijual di
pinggir jalan dalam keadaan terbuka. Hal ini akan lebih berbahay lagi apabila makanan
tersebut dipajangkan dalam waktu yang lama (Marbun, 2009). Senyawa timbal (Pb) yang
terdapat dalam asap-asap kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber pencemaran
terhadap buah-buahan yang dijual di pinggir jalan (Guntari dan Kamal, 2009).

1
Hasil penelitian Handayani dan Priyatno (2009) menunjukan lama dalam waktu
pemaparan berpengaruh terhadap kandungan Pb pada buah apel yang dijuar secara
terbuka dan menurut Guntari dan Kamal (2008) tidak terdapat perbedaan yang bermakna
pada kadar timbal dan berkulit tipis yang di ambil pada lokasi penjualan yang berbeda.
Berdasarkan dari hasil penelitian sebelumnya dan badan lingkuhan hidup (BLH) tentang
adanya pengaruh lama waktu pemaparan dari lokasi yang berbeda ditunjang dari data
badn lingkungan hidup (BLH) dan kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi buah apel
terkait dengan jenis kulitnya (dengan kulit dan tanpa kulit), maka pada penelitian ini akan
dilakukan kajian kandungan Pb pad buah apel yang dijajakan di beberapa lokasi kota
Palu yang telah terdeteksi adanya timbal berdasarkan waktu pemajangan (0, 3, 6, dan 12
hari).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa lama waktu
pemajangan berpengaruh terhadap kandunga timbal (Pb) pada buah apel dan dari data
badan lingkungan hidup (BLH) dikota Palu terdeteksi adanya timbal. Maka permasalah
yang timbul dalam penelitian ini adalah berapa kandungan timbal (Pb) pada buah apel
yang dupajangkan pada Jl.Sisingamangaraja dan Jl.Undata dengan variasi waktu
pemajangan (0, 3, 6, dan 12 hari) terahadap buah apel.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam timbal (Pb) pada
buah apel yang dipajangkan di Jl.Sisingamangaraja dan Jl.Undata dengan variasi waktu
pemajangan.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini, diharapkan dapat menjadi acuan untuk analisis logam timbal
(Pb) atau senyawa lain dalam suatu bahan atau campuran. Selain itu hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap pembangunan IPTEK khususnya
pengembangan ilmu kimia analitik atau ilmu analisis kimia.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi Botani Tanaman Apel

Gambar 1.1 apel


Regnum : Plantae (Tumbuhan)
Sub Regnum : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Dialypetalae
Ordo : Rosales
Famil : Rosaceae (suku mawar-mawaran)
Genus : Pyrus
Spesies : Pyrus malus L.
Apel (Pyrus malus) dapat hidup subur di daerah yang mempunyai temperatur
udara dingin. Tumbuhan ini di Eropa dibudidayakan terutama di daerah subtropis bagian
Utara. Sedang apel lokal di Indonesia yang terkenal berasal dari daerah Malang, Jawa
Timur. Atau juga berasal dari daerah Gunung Pangrango, Jawa Barat. Di Indonesia, apel
dapat tumbuh dan berkembangdengan baik apabila dibudidayakan pada daerah yang
mempunyai ketinggian sekitar 1200 meter di dangkal, kulit agak kasar dan tebal, pori-
pori buah kasar dan renggang, tetapi setelah tua menjadi halus dan mengkilat. Warna
buah hijau kemerah-merahan, hijau kekuningkuningan, hijau berbintik-bintik, merah tua
dan sebagainya sesuai dengan variatesnya. Bijinya ada yang berbentuk panjang dengan

3
ujung meruncing, ada yang brujung bulat dan tumpul, ada pula yang bentuknya antara
pertama dan kedua (Handayani dan Prayitno 2009)
Buah apel merupakan buah yang lebih tahan lama dari pada buah-buah lainnya
(umur petik 114 hari umur dan umur pemasaran/penyimpanan 21-28 hari). Buah apel
yang telah disimpan memiliki rasa yang lebih enak, dari pada saat dipetik dari kebun
tetap mengalami pernafasan dan penguapan, maka apabila dibiarkan buah akan masak,
lewat masak dan busuk, proses ini disebut respirasi (Bambang, 1996). Secara umum
proses respirasi dapat ditulis sebagai berikut
(Frank dan Cleon, 1991) :
C2H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + Energi
Kandungan gizi dalam 100 gram buah apel adalah 58 kkal energi, 4 gram lemak,
3 gram protein,14,9 karbohidrat, 900 IU vitamin, 7 mg tiamin, 3 mgriboflavin, 2 mg
niacin, 5 mg vitamin C, 0,04 mg vitamin B1, 0,04 mg vitamin B2, 6 mg kalsium, 3 mg
zat besi, 10 mg fosfor, dan 130 mg potasium (kalium).
Disamping itu, fungsi apel sebagai pencegahan peyakit terletak pada kandungan
karoten dan pektinnya. Karoten memiliki aktivitas sebagai vitamin Adan antioksidan
yang berguna untuk menangkal radikal bebas penyebab penyakit radikal bebas. Pektin
adalah salah satu jenis serat yang bersifat larut dalam air. Karena berbentuk gel, pektin
dalam memperbaiki otot pencernaan dan mendorong sisa makanan padasaluran
pembuangan. Pektin juga dikenal sebagai antiokkolesterol karena dapat pengikat asam
empedu yang merupakan ekskresi dari metabolisme kolesterol. Makin banyak asam
empedu yang diikat oleh pektin dan terbuang keluar tubuh, makin banyak kolesterol yang
dimetabolisme yang artinya jumlah kolesterol akan menurun. Selain itu pektin juga dapat
menyerap kelebihan air dalam air, memperlunak feses, serta mengikat dan
menghilangkan racun dalam usus.
Buah apel memiliki indeks glikemik yang sangat rendah. Hal ini berarti bahwa
kadar gula alami yang terdapat dalam apel tidak mempengaruhi naiknya gula darah.
Konsumsi apel secara teratur dapat menjaga keseimbangan gula darah serta menurunkan
tekanan dan kolesterol (Nurharisah, 2012).

4
B. Timbal (Pb)
Logam timbal atau timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang terdapat secara
alami di dalam kerak bumi dan tersebar ke alam dalam jumlah kecil melaui proses alami
maupun buatan. Apabila timbal terhirup atau tertelan oleh manusia, akan beredar
mengikuti aliran darah, diserap kembali di dalam ginjal dan otak, dan disimpan di dalam
tulang dan gigi. Manusia terkontaminasi timbal melalui udara, debu, air, dan makanan
(Fauzi, 2008).
Logam Pb merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu
keperakan dengan titik leleh pada 327,5 oC dan titik didih 1.740 oC pada tekanan
atmosfer. Timbal mempunyai nomor atom terbesar dari semua unsur yang stabil, yaitu
82. Seperti halnya merkuri yang juga merupakan logam berat. Timbal adalah logam yang
dapat merusak sistem syaraf jika terakumulasi dalam jaringan halus dan tulang untuk
waktu yang lama (Yusuf, 2008 dalam Kurniawati, 2011).
Pencemaran lingkungan oleh timbal kebanyakn berasal dari aktifitas manusia
yang mengekstraksi dan mengeksploitasi logam tersebut. Timbal digunakan untuk
berbgai kegunaan terutama sebagai bahan perpipaan, bahan aditif untuk bensin, baterai,
pigmen dan aunisi. Manusia menyerap timbal melalui udara, debu, air dan makanan.
Salah satu penyebab kehadiran timbal adalah pencemaran udara yaitu akibat kegiatan
tranportasi darat yang menghasilkan bahan pencemar seperti gas CO2, hidrokarbon, SO2,
dan tetraethyl lead, yang merupakan bahan logam timah hitam (timbal) yang
ditambahkan ke dalam bahan bakar berkualitas rendah untuk menurunkan nilai oktan. Pb
sebagai gas buang kendaraan bermotor dapat membahayakan kesehatan dan merusak
lingkungan. Pb yang terhirup oleh manusia setiap hari akan diserap, disimpan dan
kemudian ditampung dalam darah. Bentuk kimia Pb merupakan faktor penting yang
mempengaruhi sifat-sifat Pb di dalam tubuh. Komponen Pb organik misalnya tetraethil
Pb segera dapat terabsorbsi oleh tubuh melalui kulit dan membran mukosa. Pb organik
diabsorbsi terutama melaui saluran pencernaan dan pernafasan dan merupakan sumber Pb
utama di dalam tubuh (Yusuf, 2008 dalam Kurniawati, 2011).
Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya kontaminasi timbal pada
lingkungan adalah pemakaian bensin bertimbal yang masih tinggi di Indonesia untuk
mempermudah bensin premium terbakar, titik bakarnya harus diturunkan melalui

5
peningkatan bilangan oktan dengan penambahan timbal dalam bentuk Tetra Ethyl Lead
(TEL). Namun dalam proses pembakaran, timbal dilepas kembali bersama-sama sisa
pembakaran lainnya ke udara dan siap masuk ke dalam sistem pernafasan manusia
(Darmono, 1995).
Masa tinggal partikel Pb di udara yang dikeluarkan oleh asap kendaraan bermotor
adalah selama 4-40 hari, sehingga menyebabkan partikel Pb dapat disebabkan oleh angin
hingga mencapai jarak 100-1000 Km dari sumber (Fergusson 1991). Sebagian partikel
timbal yang terkandung dalam udara diendapkan pada jarak sejauh 33 M dari tepi jalan
raya (Widiriani 1996 dalam Ayu 2002).
Masuknya Pb ke dalam tubuh manusia dapat melalui pernapasan dan pencernaan.
Accidental poisoning seperti termakannya senyawa timbal dalam kosentrasi tinggi dapat
mengakibatkan gejala keracunan timbal seperti iritasi gastrointestinal akut, rasa logam
pada mulut, muntah, sakit perut, dan diare (Rahardjo dalam Ayu 2002).
Kisaran logam Pb normal dalam tanaman umumnya berkisar 0,1-10 ppm (Aly
1989 dalam Astuti 1997). Sedangkan menurut Fergusson (1989) adalah < 3 ppm dan
pada daunnya 5-10 ppm. Menurut fergusson (1989) kadar toksik Pb pada tanaman adalah
-20 ppm dan pada daunnya 30-300 ppm. Tanaman dengan tingkat keracunan Pb yang
tinggi akan berbahaya bagi yang mengkonsumsinya, sedangkan pada tanaman itu sendiri
belum tentu menunjukkan gejala keracunan.
WHO dan FAO menetapkan ambang batas timbal pada makanan jajanan adalah 2
ppm dan ambang batas yang ditentukan oleh Depkes RI adalah 4 ppm (Marbun,
2010).Indonesi dalam hal ini telah mengeluarkan ketentuan tentang kandungan timbal
diudara sebagai harga standar ambang batas, diantaranya dari Pusat Sarana Pengendalian
Dampak Lingkungan (PUSARPEDAL) Departemen Kesehatan menyatakan standar
kosentrasi timbal di udara ambien yang diperkenankan adalah 0,5 hingga 10 µg/m3 bagi
kesehatan. Namun ketentuan ini tidak berlaku pada semua daerah indonesia, seperti sejak
1 juli 2001, pemerintah telah memperlakukan penggunaan bensin tanpa timbal pada
kendaraan bermotor diwilayah Jakarta dan sekitarnya dengan standar baku mutu udara
ambien untuk Pb yang ditetapkan adalah 2 µg/m3 (Yun, 2002 dalam Ansar 2003).

6
C. Spektrofotometri Serapan Atom
Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) merupakan perangkat untuk analisis zat
pada kosentrasi rendah. Logam-logam yang mudah diuapkan seperti Cu, Zn, Pb dan Cd
umumnya ditentukan pada suhu rendah, sedangkan untuk unsur-unsur yang tidak mudah
diatomisasi diperlukan suhu suhu tinggi. Prinsip metode Aas adalah absorpsi cahaya oleh
atom, yang atom-atom tersebut menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu,
tergantung pada sifat unsurnya (Khopkar, 1990).
Cara kerja spektrofotometri serapan atom adalah berdasarkan atas penguapan
larutan sampel, kemudian logam yang terkandung di dalamnya diubah menjadi atom
bebas. Atom tersebut mengabsorpsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari
lampu katoda (Hollow Cathode Lamp) yang mengandung unsur yang akan ditentukan.
Banyaknya penyerapan radiasi kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu
menurut jenis logamnya (Darmono, 1995).
Pengurangan intensitas radiasi yang diberikan sebanding dengan jumlah atom
pada tingkat tenaga dasar yang menyerap energi radiasi tersebut. Dengan mengukur
intensitas radiasi yang diteruskan (transmisi) atau mengukur intensitas radiasi yang
diserap maka kosentrasi unsur di dalam cuplikan dapat ditentukan (Gunandjar, 1985).
Kelebihan analisis unsur dengan SSA antara lain analisis dapat dilakukan dengan
cepat, ketelitian tinggi sampai tingkat runut (kemungkinan untuk menentukan kosentrasi
semua unsur pada kosentrasi runut), dan tidak memerlukan pemisahan (penentuan suatu
unsur dapat dilakukan dengan kehadiran unsur lain, asalkan katoda berongga yang
diperlukan tersedia). Alat ini memiliki sensitivitas yang sangat tinggi, sehingga sering
dijadikan sebagai pilihan utama dalam menganalisis unsur logam yang kosentrasinya
sangat kecil (ppm bahkan ppb). Penentuan kosentrasi unsur logam dalam sampel dapat
dilakukan antara absorbansi terhadap kosentrasi larutan standar. Hal ini sesuai dengan
Hulum Lambert-Beer yang menyatakan bahwa jumlah energi yang diserap (absorbansi)
sebanding dengan kosentrasi (C) (Khopkar, 1984).

7
BAB III

METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan berlangsung pada bulan Mei 2013 sampai selesai.
Penelitian akan dilaksanakan di Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tadulako.
B. Alat dan Bahan
Bahan dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah apel, sedangkan
bahan pembantu yaitu larutan HNO3 pekat (65%), aquades, dan larutan standar Pb 1000
ppm.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu spektrofotometer serapan atom PG
990, blender, oven, hot plate, p neraca analitik (Adventure), Vakum corong buchner,
Pipet volume, kertas saring, aluminium foil, dan alat-alat gelas yang umum digunakan
dalam laboratorium.
C. Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan rancangan
acak kelompok (RAK). Di mana pengelompokan ini menggunakan waktu pemanjangan
dan lokasi dengan variasi waktu pemajangan dan lokasi pemajangan adalah variabel
terikat dan konsentrasi timbal pada buah apel dengan kulit adalah variabel terikat.
Penelitian ini menggunakan ualangan 2 kali dengan jumlah unit percobaan 16 kali.
D. Prosedur Kerja
Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu tahap pengambilan sampel, dengan
variasi waktu pemajangan yaitu 0 hari, 3 hari, 6 hari, dan 12 hari, selanjutnya tahap
destruksi sampel dan penetuan kadar timbal dalam sampel.
1. Pembuatan Larutan Induk Pb 1000 ppm

Ditimbang 1,634 gram Pb (NO3)2 dimasukkan ke dalam labu ukur 1000 ml dan
ditepatkan dengan akuades hingga tanda batas.
2. Pembuatan Larutan Baku Pb 100 ppm

8
Larutan induk Pb 1000 ppm dipipet 100 ml ke dalam labu ukur 1000 ml dan
ditepatkan dengan akuades hingga tanda batas.
3. Pembuatan Deret Larutan Standar

Larutan baku 100 ppm dipipet ke dalam labu ukur 50 ml masing-masing 0, 0,025,
0,050, 0,075, 0,010 ml untuk pembuatan larutan standar 0, 0,05, 0,10,0,15, 0,20 ppm.

4. Deskripsi Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel terdiri dari dua lokasi yang berbeda yaitu jl.Undata Palu dan
jl.Sisingamangaraja, karena tempat ini merupakan lokasi yang ramai dilalui oleh
kendaraan bermotor (Badan Lingkungan Hidup, 2013).
5. Destruksi Sampel (Handayani dan Prayitno, 2009)

Buah apel terlebih dahulu dicuci dengan aquades, kemudian buah apel dengan kulit
dipotong-potong kecil. Setelah itu dagingnya dikeringkan. Pengeringan dilakukan
dengan menggunakan oven dengan suhu 60 0C. Kemudian dihaluskan menggunakan
blender. Sampel sebanyak 5 gram dimasukkan ke dalam gelas kimia. Setelah itu
ditambahkan HNO3 pekat (65%) sebanyak 5 ml dan aquadest 10 ml. Kemudian
dipanaskan hingga setengah menggunakan hot plate. Setelah itu menyaring
menggunakan vakum buchner. Filtrat yang diperoleh dimasukkan ke dalam labu ukur
10 ml selanjutnya ditepatkan dengan aquadest hingga tanda batas.
6. Penentuan kadar logam Pb dalam sampel (Syukri, 2012)

Analisis kadar timbal dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer serapan


atom pada panjang gelombang (λmax) 217 nm. Perlakuan ini dilakukan secara duplo.

9
BAB IV

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN


A. Hasil Penelitian
Pencemaran menghasilkan dampak yang buruk bagi kesehatan
masyarakat.Misalnya saja pencemaran udara yang berupa logam-logam berat seperti
timbal (Pb) yangterdapat dalam asap-asap kendaraan bermotor. Di lingkungan yang kadar
logam beratnya tinggi, kontaminasi dalam makanan dan air dapat menyebabkan
keracunan yang berakibatburuk bagi kesehatan manusia (Ganiswarna,1995).
Logam Pb merupakan unsur yang terdapat secara alami di lingkungan baik air,
udara maupun tanah sekitar 12,5 mg/L dalam kerak bumi. Selain pengaruh alam
keberadaan Pb di lingkungan dapat berasal dari berbagai aktifitas manusia yang
menghasilkan limbah Pb sehingga kosentrasi Pb di lingkungan dapat menigkat seiring
dengan kemajuan teknologi dan pertambahan jumlah penduduk (Syukri, 2012).
Udara diperkotaan tidak akan pernah lepas dari pengaruh pencemaran selama
manusia masih beraktifitas di daerah tersebut. Akibat dari ulah manusia berarti dapat
mempengaruhi kebersihan udara dan salah satu yang dapat mencemari udara diperkotaan
adalah penggunaan kendaraan dengan menggunakan bensin yang mengadung timbal.
Buah apel merupakan salah satu buah yang disukai oleh hampir penduduk
didunia, dan salah satunya penduduk Indonesia yang berada di Sulawesi Tengah yaitu
tepatnya dikota palu. Dalam buah apel memiliki kandungan gizi yang sangat banyak.
Buah apel pada kulitnya memiliki lubang udara yang disebut lentisel (Esau, 1997), lewat
lentisel tersebut proses resprasi berlangsung, oksigen dan senyawa yang ada di udara ikut
terbawa masuk dalam buah apel lewat proses respirasi tersebut, berarti dapat dikatakan
bahwa logam timbal salah satu pencemar diudara.
Penyebaran logam Pb dipengaruhi oleh besarnya partikel, keadaan angin dan
cuaca. Partikel besar jatuh berupa debu dijalan, sedangkan renik timbal yang sangat kecil
melayang diudara sebagai aerosol. Aerosol ini sangat berbahaya karena dapat terhirup
langsung ke paru-paru melalui saluran pernafasan diudara. Oleh karena itu, apabila
terjadi pencemaran udara yang mengakibatkan kualitas udara turun sesuai dengan
peruntukannya, berarti pencemaran udara tidak dapat dikendalikan lagi dan dapat

10
melampaui ambang batas normal. Hal ini akan berdampak buruk terhadap mahluk hidup
seperti gangguan kesehatan, lingkungannya maupun ekonomi. Masyrakat kota palu
banyak menjajakan buah apel letaknya dipinggir jalan raya tanpa disadari buah tersebut
telah terserap oleh logam berat yang berasal dari asap kendaran, adapun logam tersebut
yaitu timbal (Pb).
Pencemaran atau polusi udara akibat asap yang dikeluarkan dari kendaraan
bermotor sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Sampel buah apel yang dianalisis
yaitu sampel yang dijajakan pada 2 lokasi yang berada di wilayah kota palu yaitu
Jl.Singamangaraja dan Jl.Undata yang dekat dengan akses jalan raya.
1. Kosentrasi Timbal (ppm) pada Buah Apel di Jalan Sisingamangaraja

Hasil analisis kosentrasi timbaldalam buah apel dengan variasi waktu pemajangan
berbeda yang berada dilokasi Jl.Sisingamangaraja dapat dilihat pada Gambar B.1, Sampel
1 pada 0 hari (kontrol) untuk lokasi singamangaraja kandungan timbalyang terdeteksi
sebanyak 0,110 ppm. Dalam hal ini menurut Yulia (2006), kadar timbal alami dalam
tanah berkisar 2-200 ppm dengan kandungan rata-rata 16 ppm.dari hasil analisis
diketahui bahwa pada nol hari (sebagai control) buah apel telah memiliki kandungan
logam timbal, hal tersebut didapatkan buah apel pada saat penanaman buah apel, logam
timbal dari tanah masuk melalui akar pada saat menyerap nutrisi dan air dalam tanah,
yang kemudian diedarkan keseluruh bagian tanaman hingga mencapai buah. kemudian
terjadi peningkatan pada hari ke-tiga menjadi 0,168 ppm. Hal ini disebabkan karena
jumlah kendaraan rata-rata 1800/perhari Kemudian pada hari ke-enam menurun menjadi
0,145 ppm, hal ini disebabkan karna pada pemaparan di hari ke-enam terjadi hujan
sehingga mempengaruhi timbal masuk dalam buah, dimana buah apel terkena imbasan air
hujan sehingga timbal dalam buah menurun dan juga jumlah kendaraan berkurang
disebabkan faktor cuaca. Kemudian pemaparan dihari ke-12 apel dengan meningkat
0,178 ppm. Peningkatan yang terjadi disebabkan faktor cuaca yang cerah dan jumlah
intensitas kendaraan meningkat.

11
0.2

0.15

0.1

0.05

0
0 5 10 15
Gambar B.1 Grafik hubungan
pengaruh waktu pemajangan terhadap Pb pada buah apel dengan kulit.

2. Kosentrasi Timbal (ppm) pada Buah Apel di Jalan Undata

Hasil analisis kosentrasi Pb dalam buah apel dengan variasi waktupemajangan


berbeda yang berada dilokasi jl.undata palu dapat dilihat pada Gambar 4.3, Sampel 1
pada 0 hari (kontrol) untuk lokasi jl.undata palukandungan timbal yang terdeteksi
sebanyak 0,077 ppm. kemudian terjadi peningkatan pada hari ke-tiga menjadi 0,162
ppm.Hal ini disebabkan faktor cuaca yang cerah dan jumlah intensitas kendaraan.
Kemudian pada hari ke-enam menurun menjadi 0,152 ppm. Menurut Handayani, L
dan Prayitno (2009),hal ini disebabkan faktor cuaca dimana dihari pemaparan terjadi
hujan dan juga posisi sampel terletak pada posisi paling luardari kios buah, sehingga
buah-buah yang dipajangkan terkena imbas dari air hujan sehingga timbal atau
partikel-partikel yang melekat pada buah akan terbilas air hujan sehingga timbal
dalam buah terdestruksi.Kemudian pemajangan dihari ke-12 meningkat 0,174
ppm.Hal ini disebabkan faktor cuaca dan jumlah intensitas kendaraan sangat
meningkat. Untuk lokasi jl.undata timbal yang terdeteksi tidak begitu banyak, karena
disekitran tempat pemaparan terdapat beberapa pepohonan dan tanaman.

12
0.2

0.15

0.1

0.05

0
0 5 10 15

Gambar B.1 Grafik hubungan pengaruh waktu pemajangan terhadap Pb


pada buah apel dengan kulit.
Menurut Guntari (2008), tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar
timbal dalam buah berkulit tipis dan terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar
logam timbal dalam buah berkulit tebal. Hal ini disebabkan karena pengambilan sampel
dilakukan secara random jadi bukan diambil pada buah yang sama untuk tiap-tiap
lamanya hari.
Hasil analisis bahwa Pb pada buah apel yang berada pada dua lokasi kota palu
yang paling banyak terserap yaitu lokasi jalan sisingamangaraja. Di mana disekitar
tempat pemaparan tersebut tidak begitu banyak pepohonan atau gedung-gedung, sehingga
timbal lebih banyak menempel atau terserap pada buah yang dipajangkan dan juga
disebabkan factor jumlah kendaraan sedangkan dilokasi jl.undata palu disekitar tempat
pemaparan banyak terdapat pepohonan atau gedung-gedung bertingkat sehingga timbal
yang tercemar oleh kendaraan lebih banyak menempel pada daun-daun, pepohonan dan
gedung-gedung dan jumlah intensitas kendaraan berkurang.
B. Kesimpulan
Pencemaran udara oleh timbal (Pb) di kota Palu di sebabkan oleh asap kendaraan.
Semakin banyak kendaraan yang di pakai,maka pembarakan Pb akan semakin besar
sehingga menimbulkan pencemaran pada udara. Pencemaran udara inilah yang membuat
buah apel yang dipajangkan di sepanjang Jl.Sisimangaraja dan Jl.Undata mengandung
timbal (Pb).

13
Dari hasil penelitian,didapat data sebagai berikut :
1. Kandungan timbal pada buah apel dengan kulit di Jl.Sisingamangaraja sebesar 0,178
ppm.
2. Kandungan timbal pada buah apel dengan kulit di Jl.Undata palu, sebesar 0,174 ppm.

14
DAFTAR PUSTAKA
Ayu, 2002. Mempelajari Kadar Mineral dan Logam Berat pada Komoditi Sayuran Segar di
beberapa Pasar di bogor (skripsi). Bogor. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian
Bogor.
Anonim, 2011 Buah Apel(http://www.wikipedia.org) di akses pada tanggal 25 Mei 2012
Bambang, S. 1996. Budi Daya Apel.Yogyakarta. Kasinius.
Darmono. 1995. Logam Dalam Sistem Biologi Mahluk Hidup. Universitas Pers. Jakarta.
Gunandjar. 1995. Diktat Kuliah Spektrofotometer Serapan Atom. 1-45. PPNYBATAN.
Yogyakarta.
Handayani, L dan Prayitno. 2009. Kajian Pengaruh Lama Waktu Pemaparan Terhadap
Kandungan Pb Pada Buah Apel Yang Dijual Pada Buah Di Tepi Jalan Colombo. Sigma 12 (1) :
55-70
Marbun, N.B. 2010 Analisis Kadar Timbal (Pb) Pada Makanan Berdasarkan Lama Waktu
Pajanan Yang Dijual Dipinggir Jalan Pasar I Padang Bulan Medan Tahun 2009. Skripsi.
Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Sumatera Utara. Medan
Nurharisah, S. 2012. Makalah apel, Belimbing, Pepaya, dan kedondong.(http:// sucinurharisah.
Blogspot.com diakses 28 februari 2013).
Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta.
Syukri, 2012. Analisis Logam Berat Timbal (Pb) Pada Garam Rakyat di Kelurahan Talise,
Kec.Palu Timur.Skripsi. Jurusan Kimia Universitas Tadulako Palu.
Yulia, A. 2006. Deteksi Logam Berat Pada Buah dan Daun Mahkota Dewa Dengan Metode
Spektrofotometer Serapa Atom. Skripsi. Program Studi Kimia FMIPA. Institut Pertanian Bogor.
Kurniawati, A. 2011. Kajian Daya Adsorpsi Lempung Teraktivasi Asam Klorida

15
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus


Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir Jalankota Palu
Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom

Analysis Of Lead Content In Apple ( Pyrus Malus.L ) Which Was Displayed


Alongside A Road City Of Palu Using Atomic Absorption Spectrophotometry

Winarna1*), Rismawaty Sikanna2) dan Musafira2)


1
Alumni Jurusan Kimia, Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu
2)
Lab Kimia Analitik Jurusan Kimia, Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu

ABSTRACT
Research on the analysis of the lead contentin apple (Pyrus MalusL.) are sold inmultiple
locations Palu. This study aims to determine themetal content of lead in apples with and without
skin. This research was conducted in two phases each phase of destruct ion stage of sample and
determination of the metal content of lead in the sample. Lead concentrations were determined
using atomic absorption spectro photo metrymethod. Obtained datain dicated that the lead
content was highest on the sample from Singa manga raja street, with exposure time of 12 days,
gained the lead content in apple swith the skin of 0.178 ppm. While sample from Undata street
for exposure timeof 12 days, gained the lead contentin apples with skin of 0.174ppm.
Keywords: apples, lead concentrations, atomic absorption spectrophotometry

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang analisis kandungan timbal pada buah apel (Pyrus Malus
L.)yang dipajangkan pada jl.Sisingamangaraja dan jl.Undata kota Palu menggunakan metode
spektrofotometri serapan atom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam
timbal pada buah apel. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap masing-masing tahap destruksi
sampel dan tahap penentuan kadar logam timbal dalam sampel. Konsentrasi timbal ditentukan
menggunakan metode spektrofotometri serapan atom, hasil yang diperoleh menunjukkan
kandungan timbal yang paling tinggi terdapat dijalan Sisingamangaraja dengan waktu pemaparan
12 hari, kandungan timbal yang diperoleh pada buah apel dengan kulit sebesar 0,178 ppm.
Sedangkan dijalan undata untuk waktu pemaparan 12 hari, kandungan timbal yang diperoleh
pada buah apel dengan kulit 0,174 ppm
Kata kunci : Buah apel, konsentrasi timbal, spektrofotometri serapan atom.

16
Corresponding Author : wyynarna60@yahoo.com
32

17
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

I. PENDAHULUAN kendaraan bermotor dikota palu saat ini


Tingkat kemacetan pada jalan raya mencapai angka yang cukup tinggi yaitu
yang tak dapat ditekan, menunjukkan 69.646 unit (DITLANTAS) dan setiap tahun
semakin banyaknya masyarakat sebagai bertambah. Hal ini disebabkan masyarakat
pengguna jalan yang mengendarai kota Palu lebih banyak menggunakan
kendaraan bermotor. Dari banyaknya kendaraan pribadi (Badan Pusat Statistik,
kendaraan bermotor inilah terciptanya 2011).Dari data badan lingkungan hidup
berbagai pencemaran lingkungan (Guntari (BLH) dikota Palu jalan yang telah
dan Kamal, 2008). Salah satu pencemar terdeteksi adanya di udara logam berat
berbahaya emisi gas buang kendaraan timbal (Pb) adalah Jl.Moh. yamin dan Jl.
bermotor adalah senyawa Pb dan termasuk Diponegoro sebesar < 0.0007 ppm
ke dalam golongan logam berat yang sedangkan Jl. RE. Martadinata (Tondo)
berbahaya bagi lingkungan (Handayani dan sebesar 0.0021 ppm.
Priyatno, 2009). Logam timbal (Pb) dapat masuk ke
Menurut Fardiaz (1992), konsentrasi tubuh melalui makanan jajanan yang dijual
timbal di udara di daerah perkotaan di pinggir jalan dalam keadaan terbuka. Hal
kemungkinan mencapai lima sampai lima ini akan lebih berbahaya lagi apabila
puluh kali lebih besar dari daerah-daerah makanan tersebut dipajangkan dalam waktu
pedesaan. Semakin jauh dari daerah yang lama (Marbun, 2009). senyawa timbal
perkotaan, semakin rendah kosentrasi Pb di (Pb) yang terdapat dalam asap-asap
udara. Selanjutnya menurut Palar (1994) kendaraan bermotor merupakan salah satu
jumlah senyawa Pb yang jauh lebih besar sumber pencemaran terhadap buah-buahan
dibandingkan dengan senyawa-senyawa lain yang dijual di pinggir jalan (Guntari dan
dan tidak terbakar. Musnahnya Pb dalam Kamal, 2009).
peristiwa pembakaran pada mesin Hasil penelitian Handayani dan
menyebabkan jumlah Pb yang dibuang ke Priyatno (2009) menunjukan lama dalam
udara melalui asap buangan kendaraan waktu pemaparan berpengaruh terhadap
bermotor menjadi sangat tinggi. kandungan Pb pada buah apel yang dijual
Palu adalah kota yang luasnya secara terbuka dan Menurut Guntari dan
mencapai 395,06 Km2 dan mempunyai lalu Kamal (2008) tidak terdapat perbedaan yang
lintas yang cukup padat. Adapun jumlah bermakna pada kadar timbal dan berkulit
Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

18
33

19
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32- ISSN: 2338-0950
45 Maret 2015

tipis yang diambil pada lokasi penjualan 1.2 Tujuan penelitian


yang berbeda. Berdasarkan dari hasil Penelitian ini bertujuan untuk
penelitian sebelumnya dan badan mengetahui kandungan logam timbal (Pb)
lingkungan hidup (BLH) tentang adanya pada buah apel yang dipajangkan pada
pengaruh lama waktu pemaparan dari lokasi Jl.Sisingamangaraja dan Jl.Undata dengan
yang berbeda ditunjang dari data Badan variasi waktu pemajangan.
lingkungan Hidup (BLH) dan kebiasaan
1.3 Manfaat penelitian
masyrakat dalam mengkonsumsi buah apel
Hasil penelitian ini, diharapkan dapat
terkait dengan jenis kulitnya (dengan kulit
menjadi acuan untuk analisis logam Timbal
dan tanpa kulit, maka pada penelitian ini
(Pb) atau senyawa lain dalam suatu bahan
akan dilakukan kajian kandungan Pb pada
atau campuran. Selain itu hasil penelitian ini
buah apel yang dijajakan di beberapa lokasi
dihaharapkan dapat memberikan sumbangan
kota Palu yang telah terdeteksi adanya
terhadap pengembangan IPTEK khususnya
timbal berdasarkan lama waktu pemajangan
pengembangan ilmu kimia analitik atau ilmu
(0, 3, 6, dan 12 hari).
analisis kimia
1.1 Rumusan masalah
II. TINJAUAN PUSTAKA
Berdasarkan hasil penelitian
2.1 Klasifikasi Botani Tanaman Apel
sebelumnya menunjukan bahwa lama waktu
pemajangan berpengaruh terhadap
kandungan Timbal(Pb) pada buah apel dan
dari data badan lingkungan hidup (BLH)
dikota palu terdeteksi adanya timbal. Maka
permasalahan yang timbul dalam penelitian
ini adalah berapa kandungan timbal (Pb)
Gambar 2.1 Buah Apel
pada buah apel yang dipajangkan pada
Regnum : Plantae (Tumbuhan)
Jl.Sisingamangaraja dan Jl.Undata dengan
Sub Regnum : Tracheobionta
variasi waktu pemajangan ( 0, 3, 6, dan 12
(Tumbuhan berpembuluh)
hari) yang terhadap buah apel.
Divisi : Spermatophyta
(Menghasilkan biji)

Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

20
34

21
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

Sub Divisi : Angiospermae dangkal, kulit agak kasar dan tebal, pori-pori
Kelas : Dicotyledoneae buah kasar dan renggang, tetapi setelah tua
Sub Kelas : Dialypetalae menjadi halus dan mengkilat. Warna buah
Ordo : Rosales hijau kemerah-merahan, hijau kekuning-
Famil : Rosaceae (suku kuningan, hijau berbintik-bintik, merah tua
mawar-mawaran) dan sebagainya sesuai dengan variatesnya.
Genus : Pyrus Bijinya ada yang berbentuk panjang dengan
Spesies : Pyrus malus L. ujung meruncing, ada yang brujung bulat
dan tumpul, ada pula yang bentuknya antara
Apel (Pyrus malus) dapat hidup
pertama dan kedua (Handayani dan Prayitno
subur di daerah yang mempunyai temperatur
2009).
udara dingin. Tumbuhan ini di Eropa
Buah apel merupakan buah yang
dibudidayakan terutama di daerah subtropis
lebih tahan lama dari pada buah-buah
bagian Utara. Sedang apel lokal di Indonesia
yang terkenal berasal dari daerah Malang, lainnya (umur petik 114 hari umur dan umur

Jawa Timur. Atau juga berasal dari daerah pemasaran/penyimpanan 21-28 hari). Buah

Gunung Pangrango, Jawa Barat. Di apel yang telah disimpan memiliki rasa yang

Indonesia, apel dapat tumbuh dan lebih enak, dari pada saat dipetik dari kebun
tetap mengalami pernafasan dan penguapan,
berkembang dengan baik apabila
maka apabila dibiarkan buah akan masak,
dibudidayakan pada daerah yang
lewat masak dan busuk, proses ini disebut
mempunyai ketinggian sekitar 1200 meter di
respirasi (Bambang, 1996). Secara umum
atas permukaan laut.Tumbuhan apel
proses respirasi dapat ditulis sebagai brikut
dikategorikan sebagai salah satu anggota
(Frank dan Cleon, 1991) :
keluarga mawar-mawaran dan mempunyai
tinggi batang pohon dapat mencapai 7-10 C2H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O +
meter. Daun apel sangat mirip dengan daun Energi
tumbuhan bunga mawar. Berbentuk bulat Gambar 2.2 Reaksi Respirasi
telur dan dihiasi gerigi-gerigi kecil pada
Kandungan gizi dalam 100 gram buah apel
tepiannya (Anonim, 2010).
adalah 58 kkal energi, 4 gram lemak, 3 gram
Buah apel mempunyai bentuk bulat
protein, 14,9 karbohidrat, 900 IU vitamin, 7
sampai lonjong bagian pucuk buah berlekuk
mg tiamin, 3 mgriboflavin, 2 mg niacin, 5
Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

22
35

23
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

mg vitamin C, 0,04 mgvitamin B1, 0,04 mg keseimbangan gula darah serta menurunkan
vitamin B2, 6 mg kalsium, 3 mg zat besi, 10 tekanan dan kolesterol (Nurharisah, 2012).
mg fosfor, dan 130 mg potasium (kalium). 2.2 Timbal (Pb)
Logam timbal atau timah hitam (Pb)
Disamping itu, fungsi apel sebagai merupakan logam berat yang terdapat secara
pencegahan peyakit terletak pada kandungan alami di dalam kerak bumi dan tersebar ke
karoten dan pektinnya. Karoten memiliki alam dalam jumlah kecil melaui proses
aktivitas sebagai vitamin Adan antioksidan alami maupun buatan. Apabila timbal
yang berguna untuk menangkal radikal terhirup atau tertelan oleh manusia, akan
bebas penyebab penyakit radikal bebas. beredar mengikuti aliran darah, diserap
Pektin adalah salah satu jenis serat yang kembali di dalam ginjal dan otak, dan
bersifat larut dalam air. Karena berbentuk disimpan di dalam tulang dan gigi. Manusia
gel, pektin dalam memperbaiki otot terkontaminasi timbal melalui udara, debu,
pencernaan dan mendorong sisa makanan air, dan makanan (Fauzi, 2008).
padasaluran pembuangan. Pektin juga Logam Pb merupakan logam lunak
dikenal sebagai antiokkolesterol karena yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu
dapat pengikat asam empedu yang keperakan dengan titik leleh pada 327,5 oC
merupakan ekskresi dari metabolisme dan titik didih 1.740 oC pada tekanan
kolesterol. Makin banyak asam empedu atmosfer. Timbal mempunyai nomor atom
yang diikat oleh pektin dan terbuang keluar terbesar dari semua unsur yang stabil, yaitu
tubuh, makin banyak kolesterol yang 82. Seperti halnya merkuri yang juga
dimetabolisme yang artinya jumlah merupakan logam berat. Timbal adalah
kolesterol akan menurun. Selain itu pektin logam yang dapat merusak sistem syaraf jika
juga dapat menyerap kelebihan air dalam terakumulasi dalam jaringan halus dan
air, memperlunak feses, serta mengikat dan tulang untuk waktu yang lama (yusuf, 2008
menghilangkan racun dalam usus. dalam Kurniawati, 2011).
Buah apel memiliki indeks glikemik Pencemaran lingkungan oleh timbal
yang sangat rendah. Hal ini berarti bahwa kebanyakn berasal dari aktifitas manusia
kadar gula alami yang terdapat dalam apel yang mengekstraksi dan mengeksploitasi
tidak mempengaruhi naiknya gula darah. logam tersebut. Timbal digunakan untuk
Konsumsi apel secara teratur dapat menjaga
Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)
36
24
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

berbgai kegunaan terutama sebagai bahan untuk mempermudah bensin premium


perpipaan, bahan aditif untuk bensin, terbakar, titik bakarnya harus diturunkan
baterai, pigmen dan amunisi. Manusia melalui peningkatan bilangan oktan dengan
menyerap timbal melalui udara, debu, air penambahan timbal dalam bentuk Tetra
dan makanan. Salah satu penyebab Ethyl Lead (TEL). Namun dalam proses
kehadiran timbal adalah pencemaran udara pembakaran, timbal dilepas kembali
yaitu akibat kegiatan tranportasi darat yang bersama-sama sisa pembakaran lainnya ke
menghasilkan bahan pencemar seperti gas udara dan siap masuk ke dalam sistem
CO2, hidrokarbon, SO2, dan tetraethyl lead, pernafasan manusia (Darmono, 1995).

yang merupakan bahan logam timah hitam Masa tinggal partikel Pb di udara

(timbal) yang ditambahkan ke dalam bahan yang dikeluarkan oleh asap kendaraan

bakar berkualitas rendah untuk menurunkan bermotor adalah selama 4-40 hari, sehingga

nilai oktan. Pb sebagai gas buang kendaraan menyebabkan partikel Pb dapat disebabkan

bermotor dapat membahayakan kesehatan oleh angin hingga mencapai jarak 100-1000

dan merusak lingkungan. Pb yang terhirup Km dari sumber (Fergusson 1991). Sebagian
oleh manusia setiap hari akan diserap, partikel timbal yang terkandung dalam udara
disimpan dan kemudian ditampung dalam diendapkan pada jarak sejauh 33 M dari tepi
darah. Bentuk kimia Pb merupakan faktor jalan raya (Widiriani 1996 dalam Ayu
penting yang mempengaruhi sifat-sifat Pb di 2002).
dalam tubuh. Komponen Pb organik Masuknya Pb ke dalam tubuh
misalnya tetraethil Pb segera dapat manusia dapat melalui pernapasan dan
terabsorbsi oleh tubuh melalui kulit dan pencernaan. Accidental poisoning seperti
membran mukosa. Pb organik diabsorbsi termakannya senyawa timbal dalam
terutama melaui saluran pencernaan dan kosentrasi tinggi dapat mengakibatkan
pernafasan dan merupakan sumber Pb utama gejala keracunan timbal seperti iritasi
di dalam tubuh (Yusuf, 2008 dalam gastrointestinal akut, rasa logam pada mulut,
Kurniawati, 2011). muntah, sakit perut, dan diare (Rahardjo
Salah satu faktor yang menyebabkan dalam Ayu 2002).
tingginya kontaminasi timbal pada Kisaran logam Pb normal dalam
lingkungan adalah pemakaian bensin tanaman umumnya berkisar 0,1-10 ppm
bertimbal yang masih tinggi di Indonesia (Aly 1989 dalam Astuti 1997). Sedangkan
Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

25
37

26
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32- ISSN: 2338-0950
45 Maret 2015

menurut Fergusson (1989) adalah < 3 ppm 2.3 Spektrofotometer Serapan Atom
dan pada daunnya 5-10 ppm. Menurut
Spektrofotometer Serapan Atom
fergusson (1989) kadar toksik Pb pada
Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)
tanaman adalah -20 ppm dan pada daunnya
merupakan perangkat untuk analisis zat pada
30-300 ppm. Tanaman dengan tingkat
kosentrasi rendah. Logam-logam yang
keracunan Pb yang tinggi akan berbahaya
mudah diuapkan seperti Cu, Zn, Pb dan Cd
bagi yang mengkonsumsinya, sedangkan
umumnya ditentukan pada suhu rendah,
pada tanaman itu sendiri belum tentu
sedangkan untuk unsur-unsur yang tidak
menunjukkan gejala keracunan.
mudah diatomisasi diperlukan suhu suhu
WHO dan FAO menetapkan ambang
tinggi. Prinsip metode Aas adalah absorpsi
batas timbal pada makanan jajanan adalah 2
cahaya oleh atom, yang atom-atom tersebut
ppm dan ambang batas yang ditentukan oleh
menyerap cahaya pada panjang gelombang
Depkes RI adalah 4 ppm (Marbun,
tertentu, tergantung pada sifat unsurnya
2010).Indonesi dalam hal ini telah
(Khopkar, 1990).
mengeluarkan ketentuan tentang kandungan
Cara kerja spektrofotometri serapan
timbal diudara sebagai harga standar
atom adalah berdasarkan atas penguapan
ambang batas, diantaranya dari Pusat Sarana
larutan sampel, kemudian logam yang
Pengendalian Dampak Lingkungan
terkandung di dalamnya diubah menjadi
(PUSARPEDAL) Departemen Kesehatan
atom bebas. Atom tersebut mengabsorpsi
menyatakan standar kosentrasi timbal di
radiasi dari sumber cahaya yang
udara ambien yang diperkenankan adalah
dipancarkan dari lampu katoda (Hollow
0,5 hingga 10 µg/m3 bagi kesehatan. Namun
Cathode Lamp) yang mengandung unsur
ketentuan ini tidak berlaku pada semua
yang akan ditentukan. Banyaknya
daerah indonesia, seperti sejak 1 juli 2001,
penyerapan radiasi kemudian diukur pada
pemerintah telah memperlakukan
panjang gelombang tertentu menurut jenis
penggunaan bensin tanpa timbal pada
logamnya (Darmono, 1995).
kendaraan bermotor diwilayah jakarta dan
Pengurangan intensitas radiasi yang
sekitarnya dengan standar baku mutu udara
diberikan sebanding dengan jumlah atom
ambien untuk Pb yang ditetapkan adalah 2
pada tingkat tenaga dasar yang menyerap
3
µg/m (Yun, 2002 dalam Ansar 2003).
energi radiasi tersebut. Dengan mengukur

Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

27
38

28
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

intensitas radiasi yang diteruskan (transmisi) selesai. Penelitian akan dilaksanakan di


atau mengukur intensitas radiasi yang Laboratorium Kimia Analitik Jurusan
diserap maka kosentrasi unsur di dalam Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu
cuplikan dapat ditentukan (Gunandjar, Pengetahuan Alam Universitas Tadulako.
1985).
3.2 Alat dan Bahan
Kelebihan analisis unsur dengan
Bahan dasar yang digunakan dalam
SSA antara lain analisis dapat dilakukan
penelitian ini adalah buah apel, sedangkan
dengan cepat, ketelitian tinggi sampai
bahan pembantu yaitu larutan HNO3 pekat
tingkat runut (kemungkinan untuk
(65%), aquades, dan larutan standar Pb 1000
menentukan kosentrasi semua unsur pada
ppm.
kosentrasi runut), dan tidak memerlukan
Alat yang digunakan dalam
pemisahan (penentuan suatu unsur dapat
penelitian ini yaitu spektrofotometer serapan
dilakukan dengan kehadiran unsur lain,
atom PG 990, blender, oven, hot plate, p
asalkan katoda berongga yang diperlukan
neraca analitik (Adventure), Vakum corong
tersedia). Alat ini memiliki sensitivitas yang
buchner, Pipet volume, kertas saring,
sangat tinggi, sehingga sering dijadikan
aluminium foil, dan alat-alat gelas yang
sebagai pilihan utama dalam menganalisis
umum digunakan dalam laboratorium.
unsur logam yang kosentrasinya sangat kecil
(ppm bahkan ppb). Penentuan kosentrasi 3.3 Rancangan Penelitian
unsur logam dalam sampel dapat dilakukan Rancangan yang digunakan pada
antara absorbansi terhadap kosentrasi larutan penelitian ini yaitu menggunakan rancangan
standar. Hal ini sesuai dengan Hulum acak kelompok (RAK). Di mana
Lambert-Beer yang menyatakan bahwa pengelompokan ini menggunakan waktu
jumlah energi yang diserap (absorbansi) pemanjangan dan lokasi dengan variasi
sebanding dengan kosentrasi (C) (Khopkar, waktu pemajangan dan lokasi pemajangan
1984). adalah variabel terikat dan konsentrasi
timbal pada buah apel dengan kulit adalah
III. METODOLOGI PENELITIAN
variabel terikat. Penelitian ini menggunakan
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
ualangan 2 kali dengan jumlah unit
Penelitian ini dilaksanakan percobaan 16 kali.
berlangsung pada bulan Mei2013 sampai
Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

29
39

30
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32- ISSN: 2338-0950
45 Maret 2015

Pengambilan sampel terdiri dari dua

3.3 Prosedur Kerja lokasi yang berbeda yaitu jl.Undata Palu dan
jl.Sisingamangaraja, karena tempat ini
Penelitian ini dilaksanakan dalam
merupakan lokasi yang ramai dilalui oleh
tiga tahap yaitu tahap pengambilan sampel,
kendaraan bermotor (Badan Lingkungan
dengan variasi waktu pemajangan yaitu 0
Hidup, 2013).
hari, 3 hari, 6 hari, dan 12 hari, selanjutnya
tahap destruksi sampel dan penetuan kadar 3.3.5 Destruksi Sampel (Handayani dan

timbal dalam sampel. Prayitno, 2009)

3.3.1Pembuatan Larutan Induk Pb 1000 Buah apel terlebih dahulu dicuci


ppm dengan aquades, kemudian buah apel

Ditimbang 1,634 gram Pb(NO3)2 dengan kulit dipotong-potong kecil. Setelah


itu dagingnya dikeringkan. Pengeringan
dimasukkan ke dalam labu ukur 1000 ml
dilakukan dengan menggunakan oven
dan ditepatkan dengan akuades hingga tanda
batas. dengan suhu 60 oC. Kemudian dihaluskan
menggunakan blender. Sampel sebanyak 5
3.3.2 Pembuatan Larutan Baku Pb 100
gram dimasukkan ke dalam gelas kimia.
ppm
Setelah itu ditambahkan HNO3 pekat (65%)
Larutan induk Pb 1000 ppm dipipet
sebanyak 5 ml dan aquadest 10 ml.
100 ml ke dalam labu ukur 1000 ml dan
Kemudian dipanaskan hingga setengah
ditepatkan dengan akuades hingga tanda
menggunakan hot plate. Setelah itu
batas.
menyaring menggunakan vakum buchner.
3.3.2 Pembuatan Deret Larutan Standar Filtrat yang diperoleh dimasukkan ke dalam
labu ukur 10 ml selanjutnya ditepatkan
Larutan baku 100 ppm dipipet ke
dengan aquadest hingga tanda batas.
dalam labu ukur 50 ml masing-masing 0,
0,025, 0,050, 0,075, 0,010 ml untuk 3.3.6 Penentuan kadar logam Pb dalam
pembuatan larutan standar 0, 0,05, sampel (Syukri, 2012)
0,10,0,15, 0,20 ppm. Analisis kadar timbal dilakukan

3.3.4 Deskripsi Pengambilan Sampel dengan menggunakan spektrofotometer


serapan atom pada panjang gelombang

Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

31
40

32
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

(λmax) 217 nm. Perlakuan ini dilakukan diperkotaan adalah penggunaan kendaraan
secara duplo. dengan menggunakan bensin yang
mengadung timbal.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Buah apel merupakan salah satu
Pencemaran menghasilkan dampak
buah yang disukai oleh hampir penduduk
yang buruk bagi kesehatan
didunia, dan salah satunya penduduk
masyarakat.Misalnya saja pencemaran udara
indonesia yang berada di sulawesi tengah
yang berupa logam-logam berat seperti
yaitu tepatnya dikota palu. Dalam buah apel
timbal (Pb) yangterdapat dalam asap-asap
memiliki kandungan gizi yang sangat
kendaraan bermotor. Di lingkungan yang
banyak. Buah apel pada kulitnya memiliki
kadar logam beratnya tinggi, kontaminasi
lubang udara yang disebut lentisel (Esau,
dalam makanan dan air dapat menyebabkan
1997), lewat lentisel tersebut proses resprasi
keracunan yang berakibatburuk bagi
berlangsung, oksigen dan senyawa yang ada
kesehatan manusia (Ganiswarna,1995).
di udara ikut terbawa masuk dalam buah
Logam Pb merupakan unsur yang
apel lewat proses respirasi tersebut, berarti
terdapat secara alami di lingkungan baik air,
dapat dikatakan bahwa logam timbal salah
udara maupun tanah sekitar 12,5 mg/L dalam
satu pencemar diudara.
kerak bumi. Selain pengaruh alam keberadaan
Penyebaran logam Pb dipengaruhi
Pb di lingkungan dapat berasal dari berbagai
oleh besarnya partikel, keadaan angin dan
aktifitas manusia yang menghasilkan limbah
cuaca. Partikel besar jatuh berupa debu
Pb sehingga kosentrasi Pb di lingkungan dapat
dijalan, sedangkan renik timbal yang sangat
menigkat seiring
kecil melayang diudara sebagai aerosol.
dengan kemajuan teknologi dan
Aerosol ini sangat berbahaya karena dapat
pertambahan jumlah penduduk (Syukri,
terhirup langsung ke paru-paru melalui
2012).
saluran pernafasan diudara. Oleh karena itu,
Udara diperkotaan tidak akan pernah lepas
apabila terjadi pencemaran udara yang
dari pengaruh pencemaran selama manusia
mengakibatkan kualitas udara turun sesuai
masih beraktifitas di daerah tersebut. Akibat
dengan peruntukannya, berarti pencemaran
dari ulah manusia berarti dapat
udara tidak dapat dikendalikan lagi dan
mempengaruhi kebersihan udara dan salah
dapat melampaui ambang batas normal. Hal
satu yang dapat mencemari udara
ini akan berdampak buruk terhadap mahluk
Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

33
41

34
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

hidup seperti gangguan kesehatan, tersebut didapatkan buah apel pada saat
lingkungannya maupun ekonomi. Masyrakat penanaman buah apel, logam timbal dari
kota palu banyak menjajakan buah apel tanah masuk melalui akar pada saat
letaknya dipinggir jalan raya tanpa disadari menyerap nutrisi dan air dalam tanah, yang
buah tersebut telah terserap oleh logam berat kemudian diedarkan keseluruh bagian
yang berasal dari asap kendaran, adapun tanaman hingga mencapai buah. kemudian
logam tersebut yaitu timbal (Pb). terjadi peningkatan pada hari ke-tiga
Pencemaran atau polusi udara akibat menjadi 0,168 ppm. Hal ini disebabkan
asap yang dikeluarkan dari kendaraan karena jumlah kendaraan rata-rata
bermotor sangat berbahaya bagi kesehatan 1800/perhari Kemudian pada hari ke-enam
manusia. Sampel buah apel yang dianalisis menurun menjadi 0,145 ppm, hal ini
yaitu sampel yang dijajakan pada 2 lokasi disebabkan karna pada pemaparan di hari
yang berada di wilayah kota palu yaitu ke-enam terjadi hujan sehingga
jl.singamangaraja dan jl undata yang dekat mempengaruhi timbal masuk dalam buah,
dengan akses jalan raya. dimana buah apel terkena imbasan air hujan
sehingga timbal dalam buah menurun dan
4.2 Kosentrasi Timbal (ppm) pada Buah
Apel di Jalan Sisingamangaraja juga jumlah kendaraan berkurang
disebabkan faktor cuaca. Kemudian
Hasil analisis kosentrasi timbal
pemaparan dihari ke-12 apel dengan
dalam buah apel dengan variasi waktu
meningkat 0,178 ppm. Peningkatan yang
pemajangan berbeda yang berada dilokasi
terjadi disebabkan faktor cuaca yang cerah
jl.sisingamangaraja dapat dilihat pada
dan jumlah intensitas kendaraan meningkat.
Gambar 4.2, Sampel 1 pada 0 hari (kontrol)
untuk lokasi singamangaraja kandungan 0.2
Pb (ppm)

timbalyang terdeteksi sebanyak 0,110 ppm. 0.15

Dalam hal ini menurut Yulia (2006), kadar 0.1


Kosentras

timbal alami dalam tanah berkisar 2-200 0.05


i

ppm dengan kandungan rata-rata 16 ppm. 0


0 5 10 15
dari hasil analisis diketahui bahwa pada nol
Waktu Pemajangan (Hari)
hari (sebagai control) buah apel telah
memiliki kandungan logam timbal, hal

Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

35
42

36
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

Gambar 4.2 Grafik hubungan pengaruh tempat pemaparan terdapat beberapa


waktu pemajangan terhadap Pb pada buah
pepohonan dan tanaman.
apel dengan kulit.

4.3 Kosentrasi Timbal (ppm) pada Buah

)(ppm
0.2
Apel di jalan Undata Palu
0.15

P
b
Hasil analisis kosentrasi Pb dalam buah apel

n
o

a
e

r
s

s
t

i
dengan variasi waktupemajangan berbeda 0.1

yang berada dilokasi jl.undata palu dapat 0.05


dilihat pada Gambar 4.3, Sampel 1 pada 0 0
hari (kontrol) untuk lokasi jl.undata palu 0 5 10 15
Waktu Pemajangan (Hari)
kandungan timbal yang terdeteksi sebanyak
0,077 ppm. kemudian terjadi peningkatan Gambar 4.3 Grafik hubungan pengaruh
pada hari ke-tiga menjadi 0,162 ppm.Hal ini waktu pemajangan terhadap Pb
pada buah apel dengan kulit.
disebabkan faktor cuaca yang cerah dan
jumlah intensitas kendaraan. Kemudian pada
hari ke-enam menurun menjadi 0,152 ppm, Menurut Guntari (2008), tidak
Menurut Handayani, L dan Prayitno (2009), terdapat perbedaan yang bermakna pada
hal ini disebabkan faktor cuaca dimana kadar timbal dalam buah berkulit tipis dan
dihari pemaparan terjadi hujan dan juga terdapat perbedaan yang bermakna pada
posisi sampel terletak pada posisi paling kadar logam timbal dalam buah berkulit
luardari kios buah, sehingga buah-buah yang tebal. Hal ini disebabkan karena
dipajangkan terkena imbas dari air hujan pengambilan sampel dilakukan secara
sehingga timbal atau partikel-partikel yang random jadi bukan diambil pada buah yang
melekat pada buah akan terbilas air hujan sama untuk tiap-tiap lamanya hari.
sehingga timbal dalam buah
Hasil analisis bahwa Pb pada buah
terdestruksi.Kemudian pemajangan dihari ke-
apel yang berada pada dua lokasi kota palu
12 meningkat 0,174 ppm.Hal ini disebabkan
yang paling banyak terserap yaitu lokasi
faktor cuaca dan jumlah intensitas kendaraan
jalan sisingamangaraja. Di mana disekitar
sangat meningkat. Untuk lokasi jl.undata
tempat pemaparan tersebut tidak begitu
timbal yang terdeteksi tidak begitu banyak,
banyak pepohonan atau gedung-gedung,
karena disekitran sehingga timbal lebih banyak menempel
Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

37
43

38
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32- ISSN: 2338-0950
45 Maret 2015

atau terserap pada buah yang dipajangkan Ayu, 2002. Mempelajari Kadar Mineral dan
Logam Berat pada Komoditi Sayuran
dan juga disebabkan faktor jumlah
Segar di beberapa Pasar di bogor
kendaraan sedangkan dilokasi jl.undata palu (skripsi). Bogor. Fakultas Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
disekitar tempat pemaparan banyak terdapat
pepohonan atau gedung-gedung bertingkat Anonim, 2011 Buah
sehingga timbal yang tercemar oleh Apel(http://www.wikipedia.org) di
akses pada tanggal 25 Mei 2012
kendaraan lebih banyak menempel pada
daun-daun, pepohonan dan gedung-gedung Bambang, S. 1996. Budi Daya Apel.
Yogyakarta. Kasinius.
dan jumlah intensitas kendaraan berkurang.
Darmono. 1995. Logam Dalam Sistem
Hasil data pengukuran kosentrasi diolah Biologi Mahluk Hidup. Universitas
dengan menggunakan analisis sidik ragam Pers. Jakarta.

(Lampiran 8), hasil analisis menunujan Gunandjar. 1995. Diktat Kuliah


bahwa lokasi terhadap kosentrasi berbeda Spektrofotometer Serapan Atom. 1-45.
PPNY-
nyata dimana hasil tersebut menunjukan F BATAN. Yogyakarta.
hitung 4 lebih besar F tabel 1% sebesar 1,26.
Handayani, L dan Prayitno. 2009. Kajian
Sedangkan pada waktu pemajangan dengan Pengaruh Lama Waktu Pemaparan
kosentrasi tidak berbeda nyata dimna hasil Terhadap Kandungan Pb Pada Buah
Apel Yang Dijual Pada Buah Di Tepi
menunjukan F hitung 0,25 lebih kecil F tabel Jalan Colombo. Sigma 12 (1) : 55-70
1% sebesar 7,59.
Marbun, N.B. 2010 Analisis Kadar Timbal
Berdasarkan uraian di atas dapat (Pb) Pada Makanan Berdasarkan Lama
Waktu Pajanan Yang Dijual Dipinggir
disimpulkan bahwa: Jalan Pasar I Padang Bulan Medan
Tahun 2009. Skripsi.
1. Kandungan timbal pada buah apel Fakultas Kesehatan masyarakat
dengan kulit di jalan Universitas Sumatera Utara. Medan
Sisingamangaraja sebesar 0,178 ppm Nurharisah, S. 2012. Makalah apel,
2. Kandungan timbal pada buah apel Belimbing, Pepaya, dan kedondong.
(http:// sucinurharisah. Blogspot.com
dengan kulit di jalan Undata palu, diakses 28 februari 2013).
sebesar 0,174 ppm.
Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi

V. DAFTAR PUSTAKA Logam Berat. Jakarta.

Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)

39
44

40
Online Jurnal of Natural Science Vol 4(1) :32-45 ISSN: 2338-0950
Maret 2015

Syukri, 2012. Analisis Logam Berat Timbal Terhadap Logam Timbal. Skripsi.
(Pb) Pada Garam Rakyat di Jurusan Kimia Universitas Tadulako.
Kelurahan Talise, Kec.Palu Timur. Palu.
Skripsi. Jurusan Kimia Universitas
Tadulako Palu.

Yulia, A. 2006. Deteksi Logam Berat Pada


Buah dan Daun Mahkota Dewa
Dengan Metode Spektrofotometer
Serapa Atom. Skripsi. Program Studi
Kimia FMIPA. Institut Pertanian
Bogor.

Kurniawati, A. 2011. Kajian Daya Adsorpsi


Lempung Teraktivasi Asam Klorida

Analisis Kandungan Timbal Pada Buah Apel (Pyrus Malus.L)Yang Dipajangkan Dipinggir
Jalankota Palu Menggunakan Metode Spektrofotometriserapan Atom
(Winama dkk)
45
41