Anda di halaman 1dari 7

1. Tinggi Bangunan. Seperti julukannya, tentu saja gedung ini tinggi dan menjulang.

Kita
dapat mengkategorikan ketinggian gedung berdasarkan jumlah lantainya. Walaupun tidak
sepenuhnya benar karena bisa saja jumlah lantai banyak tapi tinggi floor to floor rendah. Jika
dianggap tinggi floor to floor adalah 3.75 m (standart), maka suatu gedung dapat dikategorikan
high rise building apabila memiliki jumlah lantai di atas 20 lantai. Berdasarkan pengamatan,
umumnya gedung di Jakarta berada pada ketinggian 20 – 35 lantai. Di atas 35 lantai masih
sedikit.

Gedung Al-Burj Dubai yang menjulang tinggi

2. Luas per lantai. Tujuan gedung high rise building adalah menambah ruang dengan
keterbatasan lahan. Sehingga bangunan ini cenderung memiliki luas tapak bangunan yang kecil.
Umumnya memiliki luas per lantai berkisar pada 750 m2 – 1500 m2.

3. Type struktur. Type struktur ada tiga yaitu open frame, flat-slab, dan bearing wall system.
Dari ketiga jenis struktur tersebut, system open frame yang paling banyak dipakai, diikuti oleh
system flat-slab.

4. Typical. Struktur pada gedung high rise building umumnya typical kecuali pada elemen
vertikal yang mengecil pada kenaikan lantai tertentu. Hal ini karena kondisi beban di tiap lantai
relatif sama. Gaya geser akibat gempa saja yang berbeda namun gaya tersebut ditopang oleh
elemen struktur shearwall. Kondisi yang typical akan memudahkan dalam perencanaan dan
pelaksanaan.
Gambar gedung high rise building yang typical

5. Keterbatasan lahan. Gedung high rise building umumnya menghadapi masalah


keterbatasan lahan baik dalam rangka perencanaan parking area dan landscape maupun
pelaksanaan sebagai tempat site installation.

6. Pengaruh angin dan gempa yang tinggi. Gedung ini, karena bentuk fisiknya yang langsing
dan tinggi, secara alamiah sangat terpengaruh oleh aspek angin dan goyangan gempa.

Gambar pemodelan pengaruh angin terhadap


gedung

7. Risiko tinggi. Pada pelaksanaan proyek ini, risiko yang mmungkin terjadi cukup banyak
dengan probability yang tinggi. Perlu antisipasi sejak awal pelaksanaan.

8. Kompleksitas tinggi. Proyek gedung memiliki item pekerjaan yang banyak, melibatkan
banyak pihak, durasi pelaksanaan yang seharusnya lebih panjang, risiko yang tinggi,
ketidakpastian tinggi, serta melibatkan disiplin ilmu yang banyak. Gedung high rise building bisa
jadi salah satu bangunan yang memiliki kompleksitas yang tertinggi.
9. Volume pekerjaan yang besar. Gedung high rise building memiliki jumlah lantai di atas 20
pada umumnya. Hal ini menyebabkan volume pekerjaan yang harus dilakukan dalam jumlah
yang besar.

10. Schedule pelaksanaan ketat. Pada pelaksanaan proyek gedung high rise building, schedule
pelaksanaan sangat ketat. Cukup banyak proyek gedung mengalami keterlambatan karena
sebenarnya waktu yang dibutuhkan tidaklah memadai. Hal ini disebabkan oleh masih cukup
tingginya risiko dan ketidakpastian dalam pelaksanaannya serta ketergantungan terhadap cuaca.

11. Target biaya yang ketat. Target biaya hampir selalu ketat. Hal ini dapat disebabkan oleh
tingkat kompetisi yang tinggi oleh pengembang maupun kontraktor.

12. Target mutu yang tinggi. Gedung high rise building adalah icon dan lambang prestise bagi
pemiliknya. Sehingga dituntut memiliki kualitas yang tinggi baik dari sisi spesifikasi maupun
pelaksanaannya.

Gambar Tuntutan Kualitas Design Exterior

13. Tuntutan safety yang tinggi. Gedung high rise building memiliki risiko bahaya ketinggian.
Semakin tinggi akan semakin bahaya. Sehingga tuntutan safety akan makin tinggi jika ketinggian
gedung bertambah.

14. Ketergantungan alat TC dan PH. Diperlukan alat angkat dan transportasi yang memadai
pada gedung high rise building. Tanpanya maka pelaksanaan akan sangat sulit.
Gambar Tower Crane Saat Pelaksanaan
Gedung

15. Bentuk arsitektural. Hal ini disebabkan bahwa gedung high rise building menjadi icon
lambang prestise sehingga diperlukan design arsitektur yang cantik.
Gambar
Gedung High Rise Building dengan Design Arsitektur yang Menawan

16. Nilai kontrak yang besar. Tingginya volume pekerjaan dan banyaknya item pekerjaan
membuat nilai kontrak pekerjaan gedung high rise building cukup besar.
LOW RISE

1Biasanya menggunakan struktur beton sebagai struktur utama

2sekat dinding biasanya merupakan dinding permanen

3sistem core bisa di abaikan

4stabilisasi bangunan dapat hanya berupa pondasi

5dari segi bentuk, bangunan low rise dapat berbagai macam bentuk karna tidak terpengaruhi beban
lateral yang besar

6biasanya menggunakan rigid frame

7jumlah lift tidak begitu banyak dan tidak dibedakan antar zonasi ketinggian

MEDIUM RISE

1Biasanya menggunakan struktur perpaduan antara beton dan baja sebagai struktur utama

2sekat antar ruang biasanya masih dapat permanen tapi di kombinasikan dengan partisi

3sistem core di rekomendasikan sebagai struktur utama

4 stabilisasi bangunan direkomendasikan menggunakan basement dan pondasi dalam

5menggunakan struktur rigid frame-shearwall

6jumlah lift mulai dibedakan antar zonas

HIGH RISE

1Biasanya menggunakan struktur baja namun dilapisi dengan beton sebagai struktur utama

2sekat antar ruang menggunakan partisi- sistem core diwajibkan sebagai struktur utama dan sebagai
sirkulasi vertical

3stabilisasi bangunan direkomendasikan menggunakan pondasi dalam, basement dan podium.

4bentuk high rise building biasanya seperti jarum, semakin tinggi semakin meruncing karna dipengaruhi
beban lateral yang semakin besar jika semakin tinggi

5 fasad berperan penting dalam menghadapi beban lateral seperti angin, dan juga sinar matahari
6menggunakan frame tube dengan kolom dilapisi beton ringan

7sistem dan jumlah lift dibedakan tiap zonasi ketinggian dan fungsinya