Anda di halaman 1dari 21

PT PLN (Persero)

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP


Pemeliharaan JTR

3. K3 DAN SOP PEMELIHARAAN JTR

3.1. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

3.2.5. Dasar Hukum.

Sumber hukum yang paling mendasar tentang keselamatan kerja di Indonesia


ialah Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Undang-
undang ini dibuat dengan menimbang bahwa :

a. Bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas


keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan
meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.

b. Bahwa setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula
keselamatannya

c. Bahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman
dan efisien.

d. Bahwa berhubung dengan itu perlu diadakan segala daya upaya untuk
membina norma-norma perlindungan kerja

e. Bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam Undang-undang


yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang
sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan
teknologi.

Sumberdaya manusia merupakan salah satu sumberdaya yang paling penting


dalam kegiatan usaha. Maka perusahaan harus memberikan perlindungan
keselamatan dan kesehataan bagi manusia yang terkait dengan kegiatan
usahanya, maupun orang lain yang terkait dengan usaha tersebut.

Misalnya PLN sebagai perusahaan yang kegiatan usahanya membangkitkan,


menyalurkan, mendistribusikan, dan melayani pelanggan. Maka setiap manusia
yang terlibat dalam kegiatan usaha tersebut harus dijamin keselamatan dan
kesehatannnya. Dan orang lain yang berada di sekitar kegiatan usaha maupun

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


54
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
yang menggunakan produk energi listrik juga harus terjamin keselamatan dan
kesehatannya.

Upaya menegakkan keselamatan dan kesehatan kerja memang bukan kegiatan


meningkatkan keuntungan, tetapi upaya memanusiakan manusia dan membatasi
dan atau memperkecil kerugian dampak kecelakaan.

Yang bertanggungjawab melaksanakan tegaknya keselamatan dan kesehatan


kerja ialah : manajemen, atasan pekerja, dan pekerja itu sendiri.

Dengan terjaminnya keselamatan dan kesehatan, berarti terciptanya safe


production, yang bermuara kepada peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran
masyarakat.

3.2.6. Pengertian.

Keselamatan kerja mengatur segala upaya guna mencegah/mengurangi terjadinya


kecelakaan di tempat kerja yang mana dapat mengakibatkan kerugian, baik
jiwa/raga dan atau harta. Sedangkan kesehatan kerja mengatur segala upaya guna
mencegah/mengurangi sakit akibat melaksanakan kerja.

Dalam Undang-undang ini No. 1 tahun 1970, yang dimaksud dengan tempat kerja
ialah segala tempat dimana :

a. Tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan
suatu usaha dan,

b. Dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya sebagaimana dirinci


dalam pasal 2;

c. Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan


sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan
tempat kerja tersebut.

Dan selanjutnya bahwa tiap tempat kerja harus memenuhi syarat-syarat


keselamatan kerja seperti diurai pada pasal 3. yakni :

Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk :

a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.

b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.


Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
55
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.

d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran


atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya.

e. Memberi pertolongan pada kecelakaan.

f. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.

g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu,


kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar
atau radiasi, suara atau getaran.

h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat bekerja baik physik


maupun psychis, peracunan, infeksi, dan penularan.

i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.

j. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik.

k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.

l. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan
proses kerjanya.

n. Mengamankan dan memperalancar pengangkutan orang, binatang, tanaman,


atau barang

o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.

p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan


penyimpanan barang.

q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.

r. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang


bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

3.2.7. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (KKK).

Tujuan KKK adalah mewujudkan masyarakat dan lingkungan kerja yang aman,
sehat dan sejahtera, sehingga akan tercapai :

a. Suasana lingkungan kerja yang aman, sehat, dan nyaman.

b. Tenaga kerja yang sehat fisik, mental, sosial, dan bebas kecelakaan.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
56
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
c. Meningkatnya produktivitas dan efisiensi perusahaan.

d. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat tenaga kerja.

3.2.8. Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja .

Sesuai Undang-undang No. 1 tahun 1970 pasal 12,


Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk :

a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh Pegawai Pengawas dan
atau Ahli Keselamatan Kerja.

b. Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.

c. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan kerja dan


kesehatan kerja yang diwajibkan.

d. Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat-syarat keselamatan


kerja dan kesehatan kerja yang diwajibkan.

e. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat keselamatan dan


kesehatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan
olehnya kecuali dalam hal-hal khusus ditentuakan lain oleh Pegawai
Pengawas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggungjawabkan.

3.2.9. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek).

Yang dimaksud dengan jaminan sosial tenaga kerja menurut Undang-undang No.
3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja ialah :

Suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang
sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan
pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja
berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia.

Ruang lingkup program Jamsostek meliputi :


a. Jaminan Kecelakaan Kerja.
b. Jaminan Kematian.
c. Jaminan Hari Tua.
d. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


57
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
Karena PLN sebagai perusahaan mampu memberikan emulemen Jaminan Sosial
Tenaga Kerja sendiri dengan standard  dari ketentuan pemerintah, maka PLN
tidak mengasuransikan pegawainya ke program Jamsostek, baik milik
pemerintah / BUMN maupun swasta.

3.1.6. Kecelakaan Kerja.

a. Pengertian Kecelakaan Kerja.

Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi pada seseorang karena


hubungan kerja, dan kemungkinan disebabkan oleh bahaya yang ada
kaitannya dengan pekerjaannya.

Sedangkan kecelakaan dinas ialah kecelakaan yang terjadi karena hubungan


kerja, baik karena pekerjaan langsung ataupun dalam perjalanan menuju
tempat kerja sampai kembali ke rumah melalui jalan normal.

b. Proses Kecelakaan.

Kecelakaan ialah suatu insiden yang terjadi karena adanya bahaya dan dapat
mengakibatkan kerugian berupa jiwa/raga, harta, dan ataupun efisiensi
perusahaan.

Urutan proses terjadinya kecelakaan :

Kultur Sebab Bahaya Insiden Kerugian


Lingkungan dasar
- Unsaf -Jiwa/raga
-Budaya kerja visi dan misi e act - Kecelakaa - Harta
- Pola pikir kurang - Unsaf n - Efisiensi
- Manajemen mendukung e condi-tion - Near
- Miss misses
manajemen

 Kultur Lingkungan.

Kultur lingkungan, dalam hal ini berupa :


 tingkat kematangan budaya kerja

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


58
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
 pola pikir lingkungan masyarakat pada umumnya atau lingkungan
tempat kerja pada khususnya
 serta perhatian manajemen puncak dan menengah akan membentuk
suatu behavior (paradigma, sikap, dan perilaku) para pekerjanya
dalam menegakkan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja di lingkungan
kerja.

Lingkungan masarakat / tempat kerja yang secara sadar :


 Menjunjung tinggi harkat manusia sebagai ciptaan tuhan yang paling
tinggi nilainya..
 Selalu berpikir selamat (think safety) di segala tindakannya, memiliki
paradigma untuk memikirkan keselamatan bagi manusia maupun bagi
proses produksinya.
 Adanya komitmen yang tinggi dari manajemen untuk menegakkan
KKK, dsb.

Akan membentuk visi dan misi yang lebih realistis untuk tercapainya safe
production.

 Bahaya.
Tidak setiap bahaya mengakibatkan kecelakaan. Tapi kecelakaan terjadi
karena ada bahaya, baik itu berupa :
 tingkah laku yang tak aman (unsafe act).
 kondisi yang tak aman (unsafe condition).
 manajemen/ prosedur yang tak benar / tak ada (miss manajemen).

Contoh tingkah laku tak aman :


~ Bekerja mengabaikan prosedur.
~ Mengerjakan pekerjaan bukan bidangnya.
~ Bekerja tanpa kompetensi (rendah).
~ Tidak menggunakan alat keselamatan kerja.
~ Sikap tubuh yang tidak benar.
~ Bekerja dengan bersendau gurau.
~ Bekerja dengan kondisi fisik dan atau mental yang labil.
~ Bekerja dengan emosional / panik, dll.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


59
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
Contoh kondisi yang tak aman :
~ Peralatan pelindung yang tak memenuhi syarat.
~ Bahan, peralatan yang aus atau rusak.
~ Kondisi lantai yang licin.
~ House keeping yang tidak tertata baik.
~ Kurang sarana pemberi tanda-tanda keselamatan kerja.
~ Keadaan udara beracun.
~ Bising.
Contoh miss manajemen :
~ Tidak tersedianya alat keselamatan kerja.
~ Tidak adanya petunjuk/prosedur kerja.
~ Tidak melakukan identifikasi bahaya dan cara penanggulangannya.
~ Tidak melakukan pembahasan tentang KKK secara terjadwal.

 Insiden.
Suatu kejadian yang tidak diinginkan, bias berbentuk kecelakaan ataupun
near misses yang dapat merugikan. Kerugian dapat berbentuk
cidera/tewas, rusaknya barang / material, dan ataupun menurunnya
efisiensi produksi.

Contoh kecelakaan : kejatuhan benda, terjepit, terkena listrik,


terbakar.
Contoh near miises : tersandung pipa atau terpeleset tanpa luka
maupun rusaknya benda/barang.

meninggal
1

10 cidera berat atau cacad

cidera ringan
30

insiden : - kecelakaan
600 - near misses

 Kerugian.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


60
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
Baik sang korban maupun perusahaan pemilik tempat kerja mengalami
kerugian.
Kerugian bagi korban kecelakaan (bila ia pekerja) meliputi :
 Cidera, cacat tetap, bahkan tewas itu berarti menurun/hilangnya
kesempatan mendapatkan prestasi (penghasilan) karena
menurun/hilangnya kemampuan kerja.
 Menurunnya moril dan rasa peran keberadaannya di lingkungan
keluarga, masayarakat, maupun lingkungan tempat kerja.

Kerugian bagi perusahaan antara lain meliputi :


 Biaya perawatan korban.
 Biaya untuk pemberian santunan-santunan.
 Waktu produksi berkurang.
 Rusaknya peralatan dan atau material, sehingga menurunnya
kemampuan produksi.
 Biaya inventasi yang telah dikeluarkan untuk (pembinaan, pendidikan,
dll.) mencapai tingkat kompetensi seperti saat sekarang.
 Menurunnya citra perusahaan.
 Naiknya biaya asuransi.

Untuk mencegah / mengurangi kerugian bagi manusia (pekerja dan atau


orang lain) dan kerugian perusahaan akibat kecelakaan, kita harus
menghilangkan / mengurangi bahaya (unsafe act, unsafe condition, dan
miss manajemen) tersebut. Salah satu upaya untuk mencegah /
mengurangi bahaya antara lain :
 Mengadakan identifikasi bahaya (unsafe act, unsafe condition, dan
miss mana-jemen) dan tindakan / cara mengatasinya.
 Setiap bekerja selalu berpikir tentang selamat (think safety).
 Dll.

3.1.7. Keselamatan Dalam Bekerja

a. Tempat Kerja Bertegangan


Hal penting diperhatikan bila memasuki ruang kerja listrik :
- Mendapat ijin yang berwenang dan diawasi oleh petugas.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


61
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
- Jangan sendirian (dua orang).
- Sehat jasmani dan rohani.
- Pakaian kering dan bersepatu dengan sol berbahan isolasi.
- Gunakan alat pengaman yang diperlukan sesuai spesifikasinya (missal:
tegangan ijin, daya hantar, dll).
- Perhatikan rambu-rambu peringatan yang ada.
- Berada pada jarak yang aman.

Bekerja Pada Bebas Tegangan.


- Perhatikan perlengkapan bebas tegangan :
- Tempat kerja telah dinyatakan aman oleh Pengawas.
- Perlengkapan yang dikerjakan harus dibumikan.
- Bila ada sirkuit ganda :

 pekerjaan dilakukan pada salah satu sirkuit.


 masing-masing kawat harus dibumikan pada kedua ujungnya .
 tempat yang berdekatan dengan yang dikerjakan.

- Harus ada penanggungjawab / pengawas penuh pada sirkuit tersebut.


- Pekerjaan boleh dimulai bila semua persyaratan tersebut atas telah
dipenuhi.

Bekerja Pada Keadaan Bertegangan.


- Memiliki ijin kerja dari yang berwenang sesuai kompetensinya.
- Minimum harus 2 (dua) orang ( 1 pengaawas, 1 pekerja).
- Pekerja dalam keadaan sadar, tidak mengantuk, tidak mabuk.
- Pekerja berdiri di tempat yang berisolasi.
- Pekerja menggunakan alat pengaman diri dan peralatan kerja utama
yang diwajibkan.
- Semua peralatan harus telah diperiksa setiap kali mau dipakai sesuai
petunjuk yang diberikan.
- Cuaca harus baik, tidak mendung, tidak hujan.
- Dilarang menyentuh peralatan listrik bertegangan dengan telanjang.
- Dilarang bekerja dalam keadaan bertegangan di ruang dengan bahaya
kebakaran, ruang lembab, ruang sangat panas.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


62
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR

Bekerja di dekat instalasi bertegangan :


- Harus tahu jarak minimum aman dari perlengkapan bertegangan
- Perlengkapan yang digunakan bebas dari kebocoran isolasi atau imbas
yang membahayakan, selain harus dibumikan.
- Tidak menggunakan peralatan yang panjang, tali dari logam, tangga
yang diperkuat dengan logam.
- Jika jarak tidak aman, harus menggunakan pengaman dari bahan
isolasi.

b. Batas Aman Arus dan Tegangan


Batas aman arus dan tegangan untuk manusia ialah 1,1 mA dan 50 V.

Tegangan sentuh maksimum yang dapat ditahan manusia :

Tegangan Sentuh Waktu maksimum Keterangan


( V efektif ) ( detik )
50 5
75 1
90 0,5
110 0,2
150 0,1
220 0,05
280 0,03

 Korelasi antara daya tahan terhadap arus dan waktu.


Tegangan Sentuh Waktu Maks. Keterangan
(m A efektif ) ( detik )
10  20 10
20  40 2
60  80 0,2
100 0,1

 Kepekaan terhadap kejutan listrik secara kontinyu .


Besar Arus Akibat arus melalui jantung

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


63
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
( mA ) melalui lintasan tangan ke kaki
0,7 Tidak terlihat sesuatu akibat
0,7  2 Terasa getaran
28 System syaraf terpengaruh, sangat sakit
8  20 System syaraf terpengaruh.
Tidak sanggup melepaskan pegangan,
karena pengerutan atau kontraksi otot-otot
20  50 System syaraf terpengaruh.
Otot kerongkongan dipaksa mengkerut .
Paru-paru kirim udara secara tidak normal.
Tidak mampu melepaskan pegangan

c. Jarak Aman Daerah Bertegangan.


 Jarak lendutan penghantar udara tegangan rendah ke tanah,
minimum :
No Lokasi pemasangan Penghantar udara Penghantar udara
telanjang berisolasi
1 Jalan umum 5 meter 5 meter
2 Bukan jalan umum 5 meter 4 meter
3 Halaman rumah 5 meter 3 meter

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


64
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR

 Jarak bebas (minimum) antara SUTT dan SUTET dengan tanah dan
benda lain.
SUTT SUTET 500 kV
No Lokasi 66 kV 150 kV Sirkit Sirkit
(m) (m) ganda tunggal
(m) (m)

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


65
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
1 Lapangan terbuka 6,5 7,5 10 11
daerah luar kota
2 Jalan raya 8 9 15 15
3 Pohon-pohon 3,5 4,5 8,5 8,5
pada umumnya
4 Bangunan tidak 12,5 13,5 14 15
tahan api dan
lapangan olah
raga
5 Bagian bangunan 3,5 4,5 8,5 8,5
yang tahan api
6 SUTT lainnya : 3 4 8,5 8,5
SUTR; jaringan
tele-komunikasi
dan kereta
gantung
7 Rel kereta biasa 8 9 15 15
8 Jembatan besi, 3 4 8,5 8,5
rangka besi
penahan
penghantar kereta
listrik terdekat dsb.
9 Titik tertinggi tiang 3 4 8,5 8,5
kapal pada
kedudukan air
pasang pada lalu
lintas air

3.1.8. Alat Keselamatan Kerja

a. Pengertian.
Pengertian alat keselamatan kerja :
 Suatu alat yang dipergunakan untuk melindungi pekerja terhadap
kemungkinan timbulnya kecelakaan.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
66
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
 Suatu alat yang dipergunakan untuk memperlancar/mempermudah
pekerja dalam melaksanakan tugas pekerjaan dengan aman.

b. Tiga macam Alat Keselamatan Kerja.

 Terpasang tetap pada peralatan.


- Kap pelindung benda berputar.
- Batas pengaman daerah.

 Untuk dipakai pekerja.


- Alat pelindung batok kepala.
- Alat pelindung muka dan mata.
- Alat pelindung badan.
- Alat pelindung anggota badan (lengan dan kaki).
- Alat pelindung pernapasan.
- Alat pelindung pendengaran.
- Alat pencegah jatuh.
- Alat pencegah tenggelam.

 Pelengkap
- Peraturan-peraturan.
- Penjelasan-penjelasan.
- Instruksi kerja.
- Tanda-tanda peringatan.
- Poster-poster keselamatan kerja.
- Komunikasi dan koordinasi.
- Pengawasan, dll.

Yang perlu diperhatikan pada poster :


- Antara gambar dan tulisan disesuaikan, sehingga fokus pesan dapat
dimengerti.
- Jenis isi pesan disesuaikan dengan bahaya yang dapat timbul di tempat
kerja.
Tanda-tanda keselamatan isinya mengingatkan kita terhadap :
- Bahaya yang dapat timbul di suatu tempat.
- Kemungkinan membuat kesalahan.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


67
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
Tanda peringatan ditempatkan pada tempat yang :
- Mudah dan kelihatan.
- Menuju ke tempat yang ada bahaya.

c. Alat Keselamatan Kerja & Penggunaannya.


No Alat Keselamatan Kerja Kegunaan / Pemakaiannya
1 Topi keselamatan. Melindungi batok kepala terhadap tertumbuk/
kejatuhan benda dari atas .

2 Kap las tangan . Melindungi muka dan mata waktu mengelas listrik.

3 Kap las kepala . Melindungi muka dan mata waktu mengelas listrik.

4 Kap las kepala dengan topi. Melindungi muka, mata dan batok kepala waktu
mengelas listrik .

5 Pelindung muka. Mengasah, menotok, bekerja dengan ramuan


kimia.

6 Pelindung mata. Mengasah, menotok, bekerja dengan ramuan


kimia.

7 Kacamata las . Mengelas dengan las karbit/asitilin.

8 Kacamata warna bening. Mengecat, membelah, menotok beton, dsb.

9 Kacamata karet. Bekerja dengan debu.

10 Pelindung mata kedok (yang Mengasah, menetak (terutama) bagi yang


dibuka). berkacamata.
11 Pelapis dada dari kulit. a. Mengelas karbid dan listrik.
b. Menempa, menuang, kerja hangat lainnya.

12 Pelapis dada karet hitam. Bekerja dengan ramuan kimia.

13 Pelapis dada karet putih. a. Bekerja di instalasi TEL.


b. Membersihkan tangki-tangki bensin yang
mengandung TEL.

14 Sarung tangan asbes. Kerja panas, tuang, membengkokkan pipa,


tukang api, buka tutup kran uap.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


68
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
15 Sarung tangan kain. Kerja ringan : mematri, mengecat, menyemprot,
dsb.

16 Sarung tangan utk kerja. a. Kerja konstruksi yang ringan.


b. Kerja pengangkutan yang ringan.
c. Membuka keran uap.

17 Sarung tangan. Mengelas listrik dan gas karbid.

18 Sarung tangan utk tukang Bekerja pada hubungan listrik.


listrik

19 Sarung tangan karet (plastic). a. Bekerja dengan ramuan kimia.


b. Bekerja dengan gemuk-gemuk kotor.

20 Pelindung lengan. Mengelas listrik, karbid.


21 Sepatu karet panjang hitam. a. Bahan kimia (asam garam, asam belerang,
dsb)
b. Komponen minyak kasar (bensin, minyak,
gas)
c. Kerja tanah dan kerja kotor lainnya

22 Sepatu keselamatan. Pelindung jari kaki dari tertumbuk benda berat/


jatuh.
Mengelas listrik, karbid, menempa dan untuk
23 Sepatu karet panjang hitam pekerjaan tuang-menuang.
sampai paha.

24 Pelindung kaki dari kulit.


25 Tali pinggang keselamatan. Untuk bekerja diketinggian  2,5 meter.

26 Jaring keselamatan. Dipakai dimana tidak memungkinkan pakai tali


pinggang keselamatan.

27 Sumbat telinga (ear plug) Untuk mengurangi suara masuk telinga

28 Tutup telinga (ear muff) Untuk mengurangi suara yang bernada tinggi
atau keras

29 Schakel stock Untuk memasukkan “pemisah”, dilengkapi untuk


chek tegangan menengah (TM).

30 Tester Tegangan Untuk mengetahui adanya tegangan rendah

31 Klem hubungan tanah Untuk menbumikan jaringan, trafo generator


3.2. STANDING OPERATION PROCEDURE (SOP)

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


69
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
3.2.1. Pengertian

Adalah suatu bentuk ketentuan tertulis berisi prosedur / langkah-langkah kerja


yang dipergunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan.
Dalam bahasa Indonesia SOP disebut dengan Prosedur Tetap dan disingkat
Protap.

SOP Pemeliharaan distribusi berarti ketentuan tentang prosedur / langkah –


langkah kerja untuk memelihara distribusi pada Gardu Induk, Gardu Hubung dan
Gardu Distribusi.

3.2.2. Tujuan SOP

Pemeliharaan Distribusi berarti melakukan pemeriksaan atau perbaikan yang


menyebabkan perlunya pemadaman listrik atau tidak .Pada saat pelaksanaan
pemeliharaan dengan pemadaman berarti memerlukan koordinasi dengan pihak
operasi agar tidak sampai terjadi gangguan atau kecelakaan kerja pada saat
pembukaan alat hubung yang akan dipelihara maupun penormalannya kembali.
Hasil dari pemeliharaan adalah berupa kondisi / unjuk kerja peralatan harus
memenuhi ketentuannya, yaitu aman dioperasikann kembali, maka untuk itu perlu
diatur cara melakukan pemeliharaan, peralatan untuk mengukur kondisi peralatan
kubikel, perkakas kerja yang digunakan pada waktu pemeliharaan.
Penyimpangan dari ketentuan berarti hasil pemeliharaan tidak sesuai dengan
ketentuan dan dampaknya akan menyebabkan permaslahan dalam pengoperasian
bahkan dapat terjadi kecelakaan kerja.
Contoh :

 Akibat terhadap komponen


Ditentukan bahwa tahanan kontak - kontak adalah maksimal 200 micro ohm,
tetapi hasil pemeliharaan menunjukkan lebih dari nilai maksimal tersebut dan
dipaksakan operasi, maka akan terjadi ledakan pada tersebut akibat panas
yang ditimbulkan oleh alat kontak. Kejadian ini tentu akan mengganggu sistem
operasi dan kerugian material.

 Akibat terhadap personil

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


70
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
Pemeliharaan dengan pemadaman berarti harus dipastikan bahwa aliran listrik
dari sisi hulu maupun sisi hilir harus dipastikan padam, tetapi penyimpangan
terjadi misalnya tiba-tiba ada aliran listrik.

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa akibat dari pemeliharaan tidak
memenuhi ketentuan dapat menyebabkan terjadinya kondisi yang tidak aman dan
kerugian material.
Untuk menghindari hal tersebut maka dibuatlah SOP yang berisi prosedur
langkah-langkah yang tertata guna melaksanakan kegiatan.

3.2.3. Komponen Dalam SOP

Beberapa komponen penting yang tertulis pada SOP Pemeliharaan Distribusi


antara lain :

a. Pihak yang terkait

Yaitu pihak-pihak yang berkepentingan dan terkena dampak akibat


pemeliharaan 20 KV. Keterkaitan ini dilakukan dalam bentuk komunikasi yang
dilakukan dapat berupa tertulis / surat ataupun komunikasi langsung / lisan
bertujuan agar semua pihak berkoordinasi dapat mengantisipasi terjadinya
kondisi kurang aman atau mencegah kerusakan material akibat dipeliharanya
kubikel.

Dalam berkomunikasi baik lisan maupun tertulis dibuat berupa format yang
standar untuk mencegah kesalahan presepsi dari pihak-pihak yang terkait .
Waktu berkomiunikasi / berkoordinasi yang digunakan selalu pada batas
standar agar dalam mengambil keputusan tidak berlarut-larut.
Di Operasional Distribusi pengaturan tentang berkomunikasi ini dibuat menjadi
SOP Komunikasi.

Pihak yang terkait pada pemeliharaan Distribusi antara lain :

 Beberapa pihak yang terkait antara lain, Pengatur Distribusi / Piket


Pengatur, pihak operasi dan Konsumen. Berkoordinasi dengan pihak
adalah untuk mengetahui dan memastikan bahwa instalasi yang akan
dipelihara dan dipadamkan sudah diantisipasi akibat pemadamannya.
Berkoordinasi dengan Pengatur Distribusi / Piket Pengatur adalah agar

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


71
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
keadaan jaringan dipastikan siap dipadamkan atau dibebani dan aman
dari adanya kecelakaan kerja bagi personil di lokasi pemeliharaan
dimaksud maupun di luar lokasi yang berhubungan dengan jaringan
yang akan dipelihara. Sedangkan berkoordinasi dengan Konsumen
bertujuan agar konsumen tahu akan adanya listrik pemdadaman listrik di
tempatnya.

b. Perlengkapan Kerja

Perlengkapan kerja untuk meleksanakan pemeliharaan dengan baik dan


aman harus dipenuhi spesifikasi dan jumlahnya. Memaksakan bekerja dengan
peralatan seadanya berarti mengabaikan adanya resiko bahaya kecelakaan
dan kerusakan yang bakal terjadi. Pemeriksaan terhadap jumlah dan kondisi
perlengkapan kerja harus dilakukan secara rutin agar selalu siap kapanpun
digunakan. .

Yang dimaksud dengan perlengkapan kerja adalah sebagai berikut :

 Perkakas kerja
 Alat bantu kerja
 Alat Ukur
 Material / bahan
 Alat Pelindung Diri ( APD ) atau Alat K3
 Berkas Dokumen Instalasi Distribusi yang akan dioperasikan
 Lembaran Format berupa Check-List Pelaksanaan dan Pelaporan.

c. Prosedur Komunikasi

Berisi tentang urutan berkomunikasi dengan pihak yang terkait dengan dari
mulai persiapan pemeliharaan, saat pemeliharaan sampai pelaporan
pekerjaan.
Peralatan yang digunakan untuk berkomunikasi dapat berupa telepon atau
handy-talky ( HT ) dengan menggunakan bahasa yang sudah distandarkan.
Penyimpangan terhadap ketentuan berkomunikasi dapat menyebabkan
terjadinya gangguan operasi bahkan kecelakaan kerja.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


72
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR
d. Prosedur Langkah-langkah Kerja

Berisi tentang urutan dalam melaksanakan pekerjaan di lokasi pengoperasian


kubikel, mulai dari persiapan pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan, pemeriksaan
pekerjaan sampai pelaporan pekerjaan.
Setiap langkah dilaksanakan secara berurutan sesuai tertulis di SOP.
Penyimpangan terhadap langkah-langkah tersebut dapat menyebabkan
kegagalan pemeliharaan bahkan dapat terjadi kecelakaan kerja.
Hasil Pemeliharaan harus dilaporkan ke Pengatur Distribusi / Piket Pengatur
dan melaporkan secara lisan guna memutuskan dioperasikannya kembali dan
melaporkan secara tertulis setelah pelaksanaan dilokasi selesai.

3.2.4. Pembuatan SOP

Untuk membuat SOP perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu :

 Keterlibatan pihak-pihak yang terkait dengan pengoperasian distribusi


untuk membuat ketentuan berkoordinasi.
 Kondisi jaringan berupa data kemampuan Trafo, Kemampuan Hantar
Arus ( KHA ) hantaran penyulang, pemanfaatan energi listrik pada
konsumen.
 Struktur jaringan

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


73
PT PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN K3 & SOP
Pemeliharaan JTR

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan


74