Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

Disusun Oleh:

Kelompok IV
1. SULTAN RIZKY MUHAMMAD (1603101010139)
2. AMRIYAL (1603101010132)

Fakultas Hukum
Universitas Syiah Kuala
Darussalam, Banda Aceh
2017

1
DAFTAR ISI

i. PENGERTIAN SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL ....... 3


ii. PROSES SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL ................. 3
iii. ASAS SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL ...................... 4
iv. TUJUAN SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL ................ 4
v. RUNANG LINGKUP SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 4
vi. PERMASALAHAN SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 4
vii. TANTANGAN SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL ....... 6
viii. MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN ....................................... 6
ix. PENGENDALIAN PELAKSANAAN RENCANA ................................................. 7
x. EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA............................................................. 8
xi. DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 9

2
A. PENGERTIAN SISTEM PERENCANAAN
PEMBANGUNAN NASIONAL
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara
perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam
jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur
penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah.

B. PROSES SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN


NASIONAL
 Proses Pendekatan Politik: Pemilihan Presiden/Kepala Daerah menghasilkan
rencana pembangunan hasil proses politik (public choice theory of planning),
khususnya penjabaran Visi dan Misi dalam RPJM/D.
 Proses Teknokratik: menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh
lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional bertugas untuk itu.
 Partisipatif: dilaksanakan dengan melibatkan seluruh orang yang memiliki
tanggung jawab.
 Proses top-down dan bottom-up: dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan.

C. ASAS SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN


NASIONAL

Pembangunan nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi dengan prinsip-


prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta
kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan nasional.

Perencanaan pembangunan nasional disusun secara sistematis, terarah, terpadu,


menyeluruh, dan tanggap terhadap perubahan. SPPN diselenggarakan berdasarkan
asas umum penyelenggaraan negara : Asas kepastian hukum, Asas tertib
penyelenggaraan negara, Asas kepentingan umum, Asas keterbukaan, Asas
proporsionalitas, Asas profesionalitas, dan Asas akuntabilitas

3
D. TUJUAN SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN
NASIONAL

 Mendukung koordinasi antar-pelaku pembangunan.


 Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar-Daerah,
antar-ruang, antar-waktu, antar-fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan
Daerah
 Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, dan pengawasan.
 Mengoptimalkan partisipasi masyarakat
 Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif,
berkeadilan, dan berkelanjutan

E. RUANG LINGKUP SISTEM PERENCANAAN


PEMBANGUNAN NASIONAL

1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-Nasional)


2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM-Nasional)
3. Renstra Kementerian / Lembaga (Renstra KL) Peraturan Pimpinan KL
4. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Per Pres
5. Rencana Kerja Kementerian / Lembaga (Renja KL) Peraturan Pimpinan KL

F. PERMASALAHAN SISTEM PERENCANAAN


PEMBANGUNAN NASIONAL

1. Terdapat kendala perencanaan dan penganggaran secara umum dan spesifik.


Kendala umum, yaitu:
 Lemahnya koordinasi dalam pengelolaan data dan informasi sehingga tidak
tepat sasaran.

4
 Lemahnya keterkaitan proses perencanaan, proses penganggaran dan proses
politik dalam menerjemahkan dokumen perencanaan menjadi dokumen
anggaran.
 Kurangnya keterlibatan masyarakat warga (civil society).
 Lemahnya sistem pemantauan, evaluasi dan pengendalian (safeguarding).
 Lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
 Ketergantungan pada sumberdana dari donor dan lembaga internasional.
 Permasalahan (Spesifik ) dalam perencanaan dan penganggaran, adalah:
 Permasalahan yang terkait dengan struktur program dan kegiatan perencanaan
dan penganggaran antara lain adalah:
 Pelaksanaan (operasional) perencanaan yang diwujudkan dalam bentuk
program, cenderung disusun dengan pendekatan input based.
 Program digunakan oleh beberapa Kementerian Negara/Lembaga.
 Program memiliki tingkatan kinerja yang terlalu luas.
 Program memiliki tingkatan yang sama atau lebih rendah dibandingkan
kegiatan. Masih ditemui adanya beberapa keluaran yang tidak berkaitan
dengan pencapaian kinerja.
2. Permasalahan yang terkait dengan tidak sinerginya perencanaan pusat,
perencanaan sektoral dan daerah.

Pembangunan nasional (makro) semata-mata agregasi (gabungan) atas pembangunan-


pembangunan daerah/wilayah atau bahkan sekedar gabungan pembangunan antar
sektor semata.
Pembangunan nasional adalah hasil sinergi berbagai bentuk keterkaitan (linkages),
baik keterkaitan spasial (spatial linkages atau regional linkages), keterkaitan sektoral
(sectoral linkages) dan keterkaitan institusional (institutional linkages).

3. Perubahan lingkungan strategis nasional dan internasional yang perlu diperhatikan


antara lain

 Demokratisasi, Proses perencanaan pembangunan dituntut untuk disusun


secara terbuka dan melibatkan semakin banyak unsur masyarakat
 Otonomi Daerah, Perencanaan pembangunan dituntut untuk selalu sinkron dan
sinergis antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten

5
 Globalisasi, Perencanaan pembangunan dituntut untuk mampu mengantisipasi
kepentingan nasional dalam kancah persaingan global
 Perkembangan Teknologi, Perencanaan pembangunan dituntut untuk selalu
beradaptasi dengan perubahan teknologi yang cepat

G. TANTANGAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN:

Menghadapi dinamika perubahan serta kompleksitas permasalahan pembangunan


nasional tersebut di atas, maka SPPN dituntut untuk mampu:

1. Mengalokasikan sumberdaya pembangunan kedalam kegiatan-kegiatan


melalui kelembagaan-kelembagaan dalam konteks untuk mencapai masa
depan yang diinginkan;
2. Fleksible dengan horizon perencanaan yang ditetapkan, sehingga tidak terlalu
kaku dengan penerapan konsep pembangunan jangka pendek, menengah dan
panjang;
3. Memperluas dan mendiseminasikan kemampuan perencanaan ke seluruh
lapisan masyarakat.

H. MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN


(MUSRENBANG):

Setiap proses penyusunan dokumen rencana pembangunan tersebut memerlukan


koordinasi antar instansi pemerintah dan partisipasi seluruh pelaku pembangunan,
melalui suatu forum yang disebut sebagai Musyawarah Perencanaan Pembangunan
atau Musrenbang.

Musrenbang adalah Forum antarpelaku dalam rangka menyusun rencana


pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah dimulai dari tingkat
desa/kelurahan, kecamatan, forum SKPD, kabupaten/kota, provinsi, dan regional
sampai tingkat nasional

6
Diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dengan mengikutsertakan masyarakat.
Juknis Musrenbang 2007, dibagi ke dalam bagian/tahapan penyelenggaraan proses
Musrenbang:

1. Musrenbang Desa/Kelurahan
2. Musrenbang Kecamatan
3. Forum SKPD Kabupaten/Kota
4. Musrenbang Kabupaten/Kota
5. Pasca Musrenbang Kabupaten Kota
6. Forum SKPD Provinsi
7. Rapat Koordinasi Pusat (Rakorpus)
8. Musrenbang Provinsi
9. Pasca Musrenbang Provinsi
10. Musrenbang Nasional

I. PENGENDALIAN PELAKSANAAN RENCANA

Pimpinan Kementerian/Lembaga/SKPD melakukan pengendalian pelaksanaan


rencana pembangunan sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.
Pengendalian pelaksanaan program dan kegiatan merupakan tugas dan fungsi yang
melekat pada masing-masing Kementerian/Lembaga/ SKPD.

Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dimaksudkan untuk menjamin


tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana dilakukan
melalui kegiatan koreksi dan penyesuaian selama pelaksanaan rencana tersebut.

Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan


pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan
kementerian/lembaga/satuan kerja perangkat daerah sesuai dengan tugas dan
kewenangannya

7
J. EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA

Merupakan bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis


mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian
sasaran, tujuan dan kinerja pembangunan.
Evaluasi dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum
dalam dokumen rencana pembangunan. Indikator dan sasaran kinerja mencakup
masukan (input), keluaran (output), hasil (result), manfaat (benefit) dan dampak
(impact).

Dalam rangka perencanaan pembangunan, setiap kementerian/lembaga, baik pusat


maupun daerah, berkewajiban untuk melaksanakan evaluasi kinerja pembangunan
yang merupakan dan atau terkait dengan fungsi dan tanggungjawabnya.
Dalam melaksanakan evaluasi kinerja proyek pembangunan, kementerian/lembaga,
baik pusat maupun daerah, mengikuti pedoman dan petunjuk pelaksanaan evaluasi
kinerja untuk menjamin keseragaman metode, materi, dan ukuran yang sesuai untuk
masing-masing jangka waktu sebuah rencana.

8
DAFTAR PUSTAKA

 Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional
 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), paparan Direktorat
Otonomi Daerah, Kedeputian Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, disampaikan
pada : Bimbingan Teknis Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) 2011, Hotel
Dana Dariza-Cipanas, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat 9-10 Februari
2011
 http://perencanaan.ipdn.ac.id/kajian-perencanaan/kajian-
perencanaan/sistemperencanaanpembangunannasionalsppn

Beri Nilai