Anda di halaman 1dari 7

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Program Studi Pendidikan Kimia
Jl. Politeknik Senggarang Telp. (0771) – 7001550-– Tanjungpinang 29111

UJIAN AKHIR SEMESTER


(Khusus Materi Senyawa Kompleks)
Mata Kuliah : Ikatan Kimia Tanggal : 31 Mei 2018
Waktu : 1 hari Dosen : Inelda Yulita, S.Pd.,M.Pd.
Prodi : Pendidikan Kimia Sifat Tes: Take Home

Petunjuk Ujian :
1. Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat dan lengkap.
2. Dahulukan menjawab pertanyaan yang kamu anggap paling mudah.
3. Ketik dengan rapi jawaban setelah soal dengan font italic.
4. Kirimkan lembar jawaban ke email : inelda_dk2020@yahoo.com

1. Apa yang membedakan logam transisi dari logam utama?. Dan mengapa seng tidak
dianggap logam transisi?
2. Jelaskan mengapa jari-jari atom menurun lambat dari scandium ke tembaga!
3. Mengapa logam transisi mempunyai keadaan oksidasi lebih banyak dibandingkan
unsur lain? Berikan keadaan oksidasi tertinggi untuk keadaan scandium sampai
tembaga!
4. Lengkapi pernyataan berikut :
Ion kompleks [Co(en)2(H2O)-CN]2+. Istilah “en” adalah kependekan dari _________,
b) Bilangan oksidasi Co ialah ________, c) Bilangan koordinasi Co ialah _________,
d)_________ adalah ligan bidentat.
5. Gambarlah struktur semua isomer geometri dan isomer optis dari kompleks kobalt
berikut : [Co(NH3)6]3+ dan [Co(NH3)5Cl]2+
6. Secara ringkas jelaskan teori medan kristal. Definisikan istilah berikut : pembelahan
medan Kristal, kompleks spin-tinggi, kompleks spin-rendah, dan deret spektrokimia.
7. Bagaimana mula adanya warna dalam senyawa?
8. Senyawa yang mengandung ion Sc3+ tidak berwarna, sedangkan yang mengandung
ion Ti3+ berwarna. Jelaskan!

=Good Luck=
Nama : Hidayatur Rahmi
NIM : 160384204017
UAS IKATAN KIMIA
Jawaban :
1.
Pembeda Logam Transisi Logam Utama
Kerapatan,titik didih Memiliki kerapatan, titik leleh, titik Memiliki kerapatan, titik
dan titik leleh didih yang lebih tinggi. Hal ini leleh, titik didih yang relative
dikarenakan ikatan logamnya yang lebih rendah. Hal ini
lebih kuat karena memiliki lebih dikarenakan ikatan
banyak electron-elektron dari logamnya hanya melibatkan
subkulit ns dan (n-1)d yang terlibat electron-elektron di
dalam ikatan logamnya. subkulit ns sehingga sedikit
sekali electron yang terlibat
dalam membentuk ikatan
logam.
Tingkat Oksidasi atau Memiliki berbagai bilangan Memiliki bilangan oksidasi
Bilok oksidasi, karena dapat melepas yang terbatas, karena hanya
electron baik di subkulit ns maupun dapat melepas electron di
di subkulit (n-1)d subkulit ns saja.
Kereaktifan Bersifat kurang reaktif. Hal ini Bersifat sangat reaktif
terkait dengan jumlah electron di karena jumlah elektronnya
subkulit ns dan (n-1)d nya yang lebih sedikit, sehingga nilai
lebih banyak dibanding logam energy ionisasinya lebih
utama. Akibatnya lebih besar rendah.
energy yang dibutuhkan untuk
melepas electron-elektron
blok d dibanding blog spada
periode yang sama. Hal ini tampak
dari perbandingan nilai energy
ionisasi kedua logam.
Warna Cenderung membentuk senyawa Cenderung membentuk
atau ion kompleks yang berwarna. senyawa tidak berwarna. Hal
Hal ini terkait dengan eksitasi ini dikarenakan eksitasi
electron yang terjadi di electron yang terjadi
subkulit d melibatkan energy melibatkan
yang setara dengan energy cahaya subkulit s dan p di mana
tampak, yakni antara 170 - 290 perbedaan tingkat energinya
kJ/mol atau setara dengan panjang lebih besar dari energy
gelombang = 700 - 400 nm. cahaya tampak dan setara
dengan energy sinar UV
Ion kompleks Cenderung membentuk berbagai ion Hanya membentuk beberapa
kompleks, karena muatan positif ion kompleks, karena muatan
intinya yang lebih besar sehingga intinya lebih kecil.
cenderung menarik spesi-spesi yang
kaya akan electron.

Zink tidak termasuk unsur transisi karena orbital d dari atom zink baik sebagai unsur
bebas maupun sebagai ion sudah terisi penuh, selain itu ion zink (II) tidak berwarna serta
titik lebur (leleh) dan titik didihnya relatif rendah.

2. Unsur transisi periode keempat umumnya memiliki elektron valensi pada subkulit 3d yang
belum terisi penuh (kecuali unsur Seng (Zn) pada Golongan IIB). Hal ini menyebabkan unsur
transisi periode keempat memiliki beberapa sifat khas yang tidak dimiliki oleh unsur-
unsur golongan utama, seperti sifat magnetik, warna ion, aktivitas katalitik, serta
kemampuan membentuk senyawa kompleks. Unsur transisi periode keempat terdiri dari
sepuluh unsur, yaitu Skandium (Sc), Titanium (Ti), Vanadium (V), Kromium (Cr), Mangan
(Mn), Besi (Fe), Kobalt (Co), Nikel (Ni), Tembaga (Cu), dan Seng (Zn),Karena Dalam satu
periode dari kiri (Sc) ke kanan (Zn), keelektronegatifan unsur hampir sama, tidak meningkat
maupun menurun secara signifikan. Selain itu, ukuran atom (jari-jari unsur) serta energi
ionisasi juga tidak mengalami perubahan signifikan. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan
bahwa semua unsur transisi periode keempat memiliki sifat kimia dan sifat fisika yang
serupa. Hal ini berbeda dengan unsur utama yang mengalami perubahan sifat yang sangat
signifikan dalam satu periode.

3. Unsur transisi adalah unsur yang dapat menggunakan elektron pada kulit terluar dan kulit
pertama terluar untuk berikatan dengan unsur-unsur yang lain. Walaupun unsur transisi
memiliki beberapa bilangan oksidasi, keteraturan dapat dikenali. Bilangan oksidasi tertinggi
atom yang memiliki lima elektron yakni jumlah orbital d berkaitan dengan keadaan saat
semua elektron d (selain elektron s)dikeluarkan. Jadi, dalam kasus skandium dengan
konfigurasi elektron (n-1)d ns ,bilangan oksidasinya 3. Mangan dengan konfigurasi (n-1)d ns
, akan berbilangan oksidasi maksimum +7. Bila jumlah elektron d melebihi 5, situasinya
berubah. Untuk besi Fe dengan konfigurasi elektron (n-1)d ns , bilangan oksidasi utamanya
adalah +2 dan +3. Sangat jarang ditemui bilangan oksidasi +6. Bilangan oksidasi tertinggi
sejumlah logam transisi penting seperti kobal Co, Nikel Ni, tembaga Cu dan zink Zn lebih
rendah dari bilangan oksidasi atom yang kehilangan semua elektron (n–1)d dan ns-nya. Di
antara unsur-unsur yang ada dalam golongan yang sama, semakin tinggi bilangan oksidasi
semakin penting untuk unsur-unsur pada periode yang lebih besar

4. Ion kompleks [Co(en)2(H2O)-CN] 2+. Istilah “en” adalah kependekan dari a. etilen diamin,
b) Bilangan oksidasi Co ialah Biloks CO +3 , c) Bilangan koordinasi Co ialah 4, d) en
adalah ligan bidentat.
5. a. [Co(NH3)5Cl] 2+
Isometri optisnya :

b. [Co(NH3)6] 3+
Tidak memiliki isomer geometri
Isomer optisnya :
Isomer geometrinya:

6. Teori medan kristal ini hampir selama 20 tahun semenjak ditemukan hanya digunakan
dalam bidang fisika zat padat. Teori medan kristal digunakan pada pakar fisika zat padat
untuk menjelaskan warna dan sifat magnetik garam-garam logam transisi
terhidrat,khususnya yang memiliki atom pusat ion logam transisi dengan orbital d yang
belum sepenuhnya terisi elektro seperti CuSO4.5H2O. Baru pada tahun 1950an. Pada awal
tahun 1950an barulah pakar kimia koordinasi menerapkan teori medan kristal.Teori medan
kristal ini digunakan untuk menjelaskan energi kompleks koordinasi. Hal ini didasarkan
pada deskripsi ionik pada ikatan logam ligan. Teori medan kristal (Bahasa Inggris: Crystal
Field Theory), disingkat CFT, adalah sebuah model yang menjelaskan struktur
elektronik dari senyawa logam transisi yang semuanya dikategorikan sebagai kompleks
koordinasi. CFT berhasil menjelaskan beberapa sifat-sifat magnetik, warna, entalpi hidrasi,
dan struktur spinel senyawa kompleks dari logam transisi, namun ia tidak ditujukan untuk
menjelaskan ikatan kimia. CFT dikembangkan oleh fisikawan yang bernama Hans
Bethe dan John Hasbrouck van Vleckpada tahun 1930-an. CFT pada akhirnya digabungkan
dengan teori orbital molekul, membentuk teori medan ligan yang lebih akurat dan
menjelaskan proses ikatan kimia pada senyawa kompleks logam transisi. Agar pemisahan
spin rendah terjadi, energi yang dibutuhkan untuk menempatkan elektron ke orbital yang
sudah berlektron tunggal harus lebih kecil dari energi yang dibutuhkan untuk menempatkan
elektron tambahan ke orbital eg sebesar Δ. Jika energi yang diperlukan untuk memasangkan
dua elektron lebih besar dari menempatkan satu elektron di orbital eg, pemisahan spin tinggi
akan terjadi.
Energi pemisahan medan kristal untuk kompleks logam tetrahedron (empat ligan), Δtet, kira-
kira sama dengan 4/9Δoct. Oleh karena itu, energi yang diperlukan untuk memasangkan dua
elektron biasanya lebih besar dari energi yang diperlukan untuk menempatkan elektron di
orbital yang berenergi lebih tinggi. Sehingga, kompleks tetrahedron biasanya merupakan
spin-tinggi.

Diagram pemisahan ini dapat membantu kita dalam memprediksikan sifat-sifat magnetik dari
senyawa koordinasi. Senyawa yang memiliki elektron yang takberpasangan pada diagram
pemisahannya bersifat paramagnetik dan akan ditarik oleh medan magnet. Sedangkan
senyawa yang tidak memiliki elektron takberpasangan pada diagram pemisahannya bersifat
diamagnetik dan akan ditolak oleh medan magnet.

7. Warna-warna cerah yang terlihat pada kebanyakan senyawa koordinasi dapat dijelaskan
dengan teori medan kristal ini. Jika orbital-d dari sebuah kompleks berpisah menjadi dua
kelompok seperti yang dijelaskan di atas, maka ketika molekul tersebut menyerap foton dari
cahaya tampak, satu atau lebih elektron yang berada dalam orbital tersebut akan meloncat
dari orbital-d yang berenergi lebih rendah ke orbital-d yang berenergi lebih tinggi,
menghasilkan keadaam atom yang tereksitasi. Perbedaan energi antara atom yang berada
dalam keadaan dasar dengan yang berada dalam keadaan tereksitasi sama dengan energi
foton yang diserap dan berbanding terbalik dengan gelombang cahaya. Karena hanya
gelombang-gelombang cahaya (λ) tertentu saja yang dapat diserap (gelombang yang
memiliki energi sama dengan energi eksitasi), senyawa-senyawa tersebut akan
memperlihatkan warna komplementer (gelombang cahaya yang tidak terserap). ligan-
ligan yang berbeda akan menghasilkan medan kristal yang energinya berbeda-beda pula,
sehingga kita bisa melihat warna-warna yang bervariasi. Untuk sebuah ion logam, medan
ligan yang lebih lemah akan membentuk kompleks yang Δ-nya bernilai rendah, sehingga
akan menyerap cahaya dengan λ yang lebih panjang dan merendahkan frekuensi ν.
Sebaliknya medan ligan yang lebih kuat akan menghasilkan Δ yang lebih besar, menyerap λ
yang lebih pendek, dan meningkatkan ν. Sangtalah jarang energi foton yang terserap akan
sama persis dengan perbedaan energi Δ; terdapat beberapa faktor-faktor lain seperti tolakan
elektron dan efek Jahn-Teller yang akan memengaruhi perbedaan energi antara keadaan
dasar dengan keadaan tereksitasi.

8. Senyawa Sc3+ (No. Atom 21) dan Ti4+


(No. Atom 22) tidak berwarna.
Hal ini disebabkan oleh karena subkulit 3d-nya kosong