Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS

Dermatitis Kontak Alergi

Disusun oleh:
Welly Surya
112016349

Moderator:
dr. I Dewa Ayu S, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
JAKARTA
PERIODE 6 AGUSTUS 2018 – 8 SEPTEMBER 2018

H a l a m a n 1 | 19
LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS
Dermatitis Kontak Alergi

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik di Bagian
DEPARTEMEN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
JAKARTA

Telah dipresentasikan tanggal 3 September 2018

Disusun oleh:
Welly Surya
112016349

Jakarta, 3 September 2018


Moderator

dr. I Dewa Ayu S, Sp.KK

H a l a m a n 2 | 19
BAB I
LAPORAN KASUS

1.1. IDENTITAS
Nama : Ny. D

Umur : 43 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : JL. Warakas, Jakarta Pusat

Status perkawinan : Menikah

1.2. Anamnesis
Dilakukan secara autoanamnesis, pada tanggal 28 Agustus 2018, pukul 11.30 WIB.

1.2.1. Keluhan Utama


Timbul lenting yang gatal pada lengan bawah kanan

1.2.2. Keluhan Tambahan


Terdapat bercak coklat kehitaman pada lengan atas kanan dan kiri

1.2.3. Riwayat Perjalanan Penyakit


Pada 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien dirawat di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo setelah menjalani operasi biopsi tumor di perutnya selama 4 hari.
Pasien mengatakan selama dirawat pasien dipasang infus di bagian lengan kanan
bawah. Pasien juga diberikan obat-obatan suntik melalui lengan atas kanan dan kiri
selama perawatan tersebut. Bercak merah kemudian timbul pada lengan atas yang
terasa gatal yang muncul sekitar 2-3 hari setelah penyuntikan tersebut. Bercak merah
tersebut tidak diobati karena dianggap tidak mengganggu. Bercak tersebut lama-
kelamaan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan rasa gatal yang menghilang
setelah selesai perawatan.

H a l a m a n 3 | 19
Pada 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, pasien kembali datang ke instalasi
gawat darurat (IGD) karena merasa lemas. Di IGD pasien diinfus pada lengan bawah
kanan untuk dan diberikan obat yang pasien tidak ketahui, kemudian ia pulang pada
hari itu juga karena sudah membaik. Tiga hari setelah itu, pasien mengeluh adanya 2-
3 lentingan yang terasa gatal. Pasien kemudian menggaruknya dan memberikan
kompers air hangat, namun keluhan semakin memburuk di mana lentingan semakin
banyak dan semakin gatal.

Pasien tidak pernah merasakan keluhan yang serupa sebelumnya. Pasien juga
tidak memiliki riwayat alergi sebelumnya.

1.2.4. Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak ada

1.2.5. Riwayat Penyakit Keluarga.


Tidak ada.

1.3. Status Generalis


Kesadaran : Compos mentis

Keadaan Umum : Baik

Tekanan Darah : 120/80 mmhg

Nadi : 78 x /menit

Pernapasan : 16 x /menit

Suhu : Afebris

Kepala : Normocephali, deformitas (-), pertumbuhan rambut merata

Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)

THT : Normoti, normosepta, faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1

Leher : Kelenjar tiroid dan KGB tidak teraba membesar

Paru : Suara nafas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

H a l a m a n 4 | 19
Jantung : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen : Datar, Bising usus (+), normal, timpani, nyeri tekan (-)

Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)

1.4. Status Dermatologikus


Lokasi : Regio antebrachii dextra
Effloresensi :Terdapat vesikel dan bula yang tersebar di atas dasar
eritematosa dengan beberapa krusta hitam.
Lokasi : Regio brachii dextra et sinistra
Effloresensi : Terdapat bercak hiperpigmentasi berukuran 3cm x 3cm dengan
skuama kasar di atasnya berbatas tidak tegas.

Gambar 1.Bercak eritematosa dengan vesikel dan bula

H a l a m a n 5 | 19
Gambar 2. Bercak hiperpigmentasi dengan skuama pada lengan kiri atas

Gambar 3. Bercak hiperpigmentasi dengan skuama pada lengan kanan atas

H a l a m a n 6 | 19
1.5. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan

1.6. RESUME
Ny D usia 52 tahun, datang dengan keluhan muncul lenting yang gatal pada lengan
bawah kanan sejak lebih dari 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Lentingan muncul 3
hari setelah pasien berobat ke IGD dan diinfus di lengan bawah kanan 2 minggu sebelum
masuk rumah sakit. Lenting tersebut semakin banyak yang dari awal hanya 2-3 lentingan.

Pasie juga mengeluh adanya bercak coklat kehitaman pada lengan atas kanan dan
kiri. Awalnya bercak berwarna merah timbul didahului penyuntikan 3 hari sebelumnya
di daerah tersebut saat ia dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk biopsi
tumor abdomen 1 bulan sebelum masuk rumah sakit.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan bercak eritematosa berukuran 7cm x 3cm


dengan vesikel dan bula yang terebar di atasnya berbatas tegas dengan beberapa krusta
hitam pada regio antebrachii dextra. Pada brachii dextra et sinistra didapatkan bercak
hiperpigmentasi berukuran 3cm x 3 xm dengan skuama di atasnya berbatas tegas.

1.7. Diagnosis Kerja


1. Dermatitis Kontak Alergi
2. Hiperpigmentasi post inflamasi

1.8. Diagnosis Banding


 Dermatitis kontak iritan

1.9. Anjuran Pemeriksaan


 Patch test

1.10. PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa :

 Menghindari kontak dengan alergen

 Menjaga kebersihan diri serta tidak menggaruk lesi agar tidak timbul infeksi.

H a l a m a n 7 | 19
 Mengedukasi pasien untuk kontrol setelah 7 hari untuk melihat respon pengobatan
dan perbaikan klinis.

Medikamentosa :
Sistemik
 Loratadine tablet 1 x 10 mg/hari

Topikal
 Kompres larutan NaCl 0,9% pada lentingan (2x sehari selama 30 menit)
 Krim gentamicin sulfat 0,1% dioles 3x sehari pada daerah yang sudah luka
 Krim desonide 0.05% dioles 2x sehari (pagi dan sore) pada lesi
hiperpigmentasi

1.12. PROGNOSIS
 Quo ad vitam : ad Bonam
 Quo ad functionam : ad Bonam
 Quo ad sanationam : ad Bonam

H a l a m a n 8 | 19
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DERMATITIS KONTAK ALERGI

2.1 Pendahuluan

Sebagai organ terbesar dalam tubuh manusia, kulit adalah organ yang sangat
kompleks dan dinamis yang berfungsi sebagai perlindungan fisik dan imunologis
terhadap lingkungan. Kulit adalah pertahanan lini pertama dari paparan substansi atau
zat.1

Dermatitis kontak alergi, sesuai namanya mengartikan adanya proses


peradangan pada kulit akibat kontak dengan alergen eksogen spesifik pada orang yang
telah terjadi sensitisasi bahan alergen tersebut.1

Dikenal dua macam dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan dan
dermatitis kontak alergik; keduanya dapat bersifat akut atau kronik. Diketahui lebih dari
3700 substansi sebagai penyebab dermatitis kontak alergi pada manusia. Reaksi
imunologi mengeskpresikan reaksi dermatitis dari yang ringan, sementara, sampai
berat, persisten, dan kronik. Maka dari itu perlu pengidentifikasian alergen yang tepat
untuk mengihindari terjadinya dermatitis ini.1,2

2.2 Definisi

Dermatitis kontak alergi adalah suatu reaksi peradangan kulit yang disebabkan
karena kontak dari alergen eksogen spesifik pada orang yang telah mengalami
sensitisasi alergik.1

2.3 Epidemiologi

Dari subgrup dermatitis kontak ditemukan setidaknya 20% kasus baru


dermatitis kontak alergi, sedangkan 80% adalah dermatitis kontak iritan. Pada
penelitian didapatkan prevalensi dermatitis kontak alergi paling sering pada populasi
umum adalah nikel, thimerosal¸ dan campuran parfum. Namun, prevelensi dermatitis
kontak alergi berbeda-beda pada setiap negara, dan selalu berubah tergantung dari

H a l a m a n 9 | 19
perkembangan lingkungan masing-masing negara. Pada penelitian ditemukan bahwa
prevalensi terjadinya lebih tinggi pada orang yang berumur 41-60 tahun dan lebih sering
pada wanita.1

2.4 Etiologi

Penyebab dermatitis kontak alergi adalah bahan kimia sederhana dengan berat
molekul kurang dari 1000 dalton, merupakan alergen yang belum diproses, disebut
hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dapat menembus stratum korneum sehingga
mencapai sel epidermis dibawahnya (sel hidup). Berbagai faktor berpengaruh dalam
timbulnya dermatitis kontak alergi, misalnya potensi sensitisasi alergen, dosis per unit
area, luas daerah yang terkena, lama pajanan, oklusi, suhu dan kelembaban lingkungan,
vehikulum, dan pH. Juga faktor individu, misalnya keadaan kulit pada lokasi kontak
(keadaan stratum korneum,ketebalan epidermis), status imunologik (misalnya sedang
menderita sakit, terpajan sinar matahari).2

Alergen yang menjadi penyebab sangat bervariasi mulai dari garam metal
sampai anti biotik, produk cat sampai tanaman. Alergen ini bisa ditemukan pada
perhiasan, produk perawatann sehari-hari, obat-obatan topikal, tanaman, peralatan
rumah tangga, dan kimia yang mungkin terpapar saat individu sedang melakukan
pekerjaannya.1

Pada penelitian yang dilakukan di Amerika Utara didapatkan 10 alergen paling


sering pada anak yaitu, nikel, neomycin, kobalt, parfum, Myroxylon pereirae, balsam
Peru, emas, formaldehida, lanolin, thimerosal, dan potassium dichromate. Pada dewasa
didapatkan 8 dari 10 alergen tersebut, yaitu nikel, kobalt, balsam Peru, neomycin,
parfum, potassium dichromate, dan formaldehida.3

2.5 Patogenesis

Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada DKA adalah mengikuti respons imun
yang diperantai oleh sel (cell-mediated immune respons) atau reaksi imunologi tipe IV
yaitu reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Reaksi ini dihasilkan dari pemaparan dan
sensitisasi dari host yang mudah terpengaruh secara genetik terhadap alergen dari
lingkungan dengan paparan secara berulang menimbulkan reaksi inflamasi kompleks.
Yang akhirnya menyebabkan eritema, edema, dan vesikel serta papul yang

H a l a m a n 10 | 19
distribusinya sesuai dengan kontak alergen dengan pruritus sebagai gejala yang mayor.
Reaksi ini terjadi melalui 2 fase, yaitu fase sensitisasi dan fase elitisasi.1,2

Sensitisasi dimulai saat hapten menembus kulit melewati stratum korneum,


kemudian berikatan dengan protein carrier pada epidermis, yang menghasilkan antigen.
Lalu sel Langerhans (Antigen Precenting Cell) mengambil kompleks protein hapten
dengan cara pinositosis, dan di proses oleh enzim lisosom serta dikonjugasikan pada
molekul HLA-DR. Kemudian melalui limfatik menstimulasi sel T. Aktivasi ini akan
meningkatkan sekresi sitokin tertentu (IL-1) serta ekspresi MHC klas I dan II, ICAM-
1, LFA-3, dan B7 serta sitokin proinflamasi lainnya. Sel T efektor akan teremigrasi dari
saluran limfatik ke sirkulasi diedarkan ke seluruh tubuh. Fase ini berlangsung 10-15
hari.1,2

Fase kedua adalah elisitasi dimana subjek peka terhadap hapten.


Hipersensitivitas tipe lambat terjadi. Proliferasi dan ekspansi dari sel T akan
mengeluarkan IFN- yang akan mengaktivasi keratinosit yang melepaskan sitokin yang
memperkuat respon inflamasi pada kulit. Fase ini berlangsung antara 24-48 jam.1,2

2.6 Gejala Klinis

Gejala klasik yang ditemui pada Dermatitis Kontak Alergi adalah pruritus yang
terlokalisasi pada daerah yang terpapar alergen.1 Kelainan kulit bergantung pada
keparahan dermatitis dan lokalisasinya. Pada yang akut dimulai dengan bercak
eritematosa yang berbatas jelas kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel, atau
bula. Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi (basah).
Dermatitis kontak alergi akut ditempat tertentu, misalnya kelopak mata, penis, skrotum,
eritema dan edema lebih dominan daripada vesikel. Pada yang kronis terlihat kulit
kering, berskuama, papul, likenifikasi dan mungkin juga fisur, batasnya tidak jelas.
Dermatitis kontak alergi dapat meluas ke tempat lain, misalnya dengan cara
autosensitisasi, skalp, telapak tangan dan kaki relatif resisten terhadap dermatitis kontak
alergi.2

H a l a m a n 11 | 19
Berbagai lokasi terjadinya dermatitis kontak alergi berupa :

1. Tangan

Kejadian dermatitis kontak baik iritan atau alergi paling sering ditangan,
mungkin karena tangan merupaka organ tubuh yang paling sering digunakan untuk
melakukan pekerjaan sehari – hari. Penyakit kulit akibat kerja, sepertiga atu lebih
mengenai tangan. Tidak jarang ditemukan riwayat atopi pada penderita. Pada
pekerjaan yang basah (wet work), misalnya memasak makanan, mencuci pakaian,
pengatur rambut di salon, angka kejadian dermatitis tangan lebih tinggi.1,2

Etiologi dermamtitis di tangan sangat kompleks karena banyak sekali faktor


yang berperan disamping atopi. Contoh bahan yang dapat menimbulkan dermatitis
tangan, misalnya detergen, antiseptik, getah sayuran, semen dan pestisida.1,2

2. Lengan

Alergen umumnya sama dengan pada tangan, misalnya oleh jam tangan
(nikel), sarung tangan karet, debu semen, dan tanaman. Di ketiak dapat disebabkan
oleh deodoran, anti perspiran, formaldehid yang ada di pakaian.1,2

3. Wajah

Dermatitis kontak pada wajah dapat disebabkan oleh bahan kosmetik, spons
(karet), obat topikal, alergen diudara (aero – alergen). Nikel (tangkai kaca mata),
semua alergen yang kontak dengan tangan dapat mengenai muka, kelopak mata,
dan leher pada waktu menyeka keringat. Bila dibibir atau sekitarnya mungkin
disebabkan oleh lipstik, pasta gigi, getah buah – buahan. Dermatitis di kelopak mata
dapat disebabkan oleh cat kuku, cat rambut, maskara, eye shadow, obat tetes
mata,salep mata.1,2

4. Telinga

Anting atau jepit telinga terbuat dari nikel, penyebab dermatitis kontak pada
telinga. Penyebab lain, misalnya obat topikal, tangkai kaca mata, cat rambut,
hearing aids, gagang telepon.1,2

H a l a m a n 12 | 19
5. Leher

Penyebab kalung dari nikel, cat kuku (yang berasal dari ujung jari),
parfum,alergen di udara, zat warna pakaian.1,2

6. Badan

Dermatitis kontak di badan dapat disebabkan oleh teksitil, zat warna,


kancing logam, karet (elastis,busa), plastik, deterjen, bahan pelembut atau pewangi
pakaian.1,2

7. Genitalia

Penyebabnya dapat antiseptik, obat topikal, nilon, kondom, pembalut


wanita, alergen yang berada di tangan, parfum, kontrasepsi, deterjen. Bila mengenai
daerah anal, mungkin disebabkan oleh obat antihemoroid.1,2

8. Paha dan tungkai bawah

Dermatitis di tempat ini dapat disebabkan oleh tekstil, dompet, kunci (nikel),
kaos kaki nilon, obat topikal, semen,sepatu atau sandal. Pada kaki dapat disebabkan
oleh deterjen, bahan pembersih lantai.1,2

9. Dermatitis kontak sistemik

Terjadi pada individu yang telah tersensitisasi secara topikal oleh suatu
alergen, selanjutnya terpajan secara sistemik, kemudian timbul reaksi terbatas pada
tempat tersebut. Walaupun jarang terjadi, reaksi dapat meluas bahkan sampai
eritoderma. Penyebabnya, misalnya nikel, formaldehid, balsam peru.1,2

2.7 Pemeriksaan Penunjang

1. Uji Tempel

Kelainan kulit dermatitis kontak alergi sering tidak menunjukkan gambaran


morfologik yang khas, dapat menyerupai dermatitis atopik, dermatitis numularis,
dermatitis seboroik atau psoriasis. Diagnosis banding yang utama adalah dengan
dermatitis kontak iritan. Dalam keadaan ini pemeriksaan uji tempel perlu
dipertimbangkan untuk menentukan, apakah dermatitis tersebut kontak alergi.2

H a l a m a n 13 | 19
Tempat untuk melakukan uji tempel biasanya dipunggung. Bahan yang secara
rutin dan dibiarkan menempel dikulit, misalnya kosmetik, pelembab, bila dipaka untuk
uji tempel, dapat langsung digunakan apa adanya. Bila menggunakan bahan yang secara
rutin dipakai dengan air untuk membilasnya, mislamya sampo, pasta gigi harus
diencerkan atau dilarutkan dalam vaselin atau minyak mineral. Produk yang diketahui
bersifat iritan, misalnya deterjen, hanya diuji bila diduga keras penyebab alergi. Apabila
pakaian, sepatu, atau sarung tangan yang dicurigai penyebab alergi, maka uji tempel
dilakukan dengan potongan kecil bahan tersebut yang direndam dalam air garam yang
tidak dibubuhi bahan pengawet, atau air dan ditempelkan dikulit dengan memakai finn
chamber, dibiarkan sekurang – kurangnya 48 jam. Perlu diingat bahwa hasil positif
dengan alergen bukan standar untuk menyingkirkan kemungkinan terkena iritasi.2

Gambar 3. Patch test dan contoh hasil


sumber: fitzpatrick’s dermatology in general medicine1

Berbagai hal berikut ini perlu diperhatikan dalam pelaksanaan uji tempel : 2-4

1. Dermatitis harus sudah tenang (sembuh). Bila masih dalam keadaan akut atau
berat dapat terjadi reaksi “angry back” atau “excited skin” reaksi positif palsu,

H a l a m a n 14 | 19
dapat juga menyebabkan penyakit yang sedang dideritanya semakin
memburuk
2. Tes dilakukan sekurang – kurangnya satu minggu setelah pemakaian
kortikostiroid sistemik dihentikan (walaupun dikatan bahwa uji tempel dapat
dilakukan pada pemakaian prednison kurang dari 20 mg/hari atau dosis
ekuivalen kortikosteroid lain), sebab dapat menghasilkan reaksi negatif palsu.
Sedangkan antihistamin sistemik tidak mempengaruhi hasil tes, kecuali
diduga karena urtikaria kontak
3. Uji tempel dibuka setelah dua hari, kemudian dibaca; pembacaan kedua
dilakukan pada hari ke – 3 sampai ke – 7 setelah aplikasi
4. Penderita dilarang melakukan aktivitas yang menyebbakan uji tempel menjadi
longgar (tidak menempel dengan baik), karena memberikan hasil negatif
palsu. Penderita juga dilarang mandi sekurang – kurangnya dalam 48 jam, dan
menjaga agar punggung selalu kering setelah dibuka uji tempelnya sampai
pembacaan terakhir selesai
5. Uji tempel dengan bahan standar jangan dilakukan terhadap penderita yang
mempunyai riwayat tipe urtikaria dadakan (innediate urticaria type), karena
dapat menimbulkan urtikaria generalisata bahkan reaksi anafilaksis. Pada
penderita semacam ini dilakukan tes dengan prosedur khusus.

Setelah dibiarkan menempel selama 48 jam, uji tempel dilepas. Pembacaan


pertama dilakukan 15-30 menit setelah dilepas, agar efek tekanan bahan yang diuji telah
menghilang atau minimal. Hasilnya dicatat seperti berikut:2-4

1 = reaksi lemah (non vesikuler): eritema, infiltrat,papul (+)

2 = reaksi kuat : edema atau vesikel (++)

3 = reaksi sangat kuat (ekstrim) :bula atau ulkus (+++)

4 = meragukan : hanya makula eritematosa

5 = iritasi : seperti terbakar,pustul,atau purpura

6 = reaksi negatif (-)

7 = excited skin

H a l a m a n 15 | 19
8 = tidak dites (NT = non tested)

Pembacaan kedua perlu dilakukan sampai satu minggu setelah aplikasi,


biasanya 72 atau 96 jam setelah aplikasi. Pembacaan kedua ini penting untuk membantu
membedakan antara respons alergik atau iritasi, dan juga mengindentifikasi lebih
banyak lagi respon positif alergen. Hasil positif dapat bertambah setelah 96 jam
aplikasi, oleh karena itu perlu dipesan kepada penderita untuk melapor bila hal itu
terjadi sampai satu minggu setelah aplikasi.2,3

Untuk menginterprestasikan hasil uji tempel tidak mudah. Interprestasi


dilakuakn setelah pembacaan kedua. Respon alergik biasanya menjadi lebih jelas antara
pembacaan kesatu dan kedua, berawal dari +/- ke + atau ++ bahkan ke +++ (reaksi tipe
crescendo), sedangkan respon iritan cenderung menurun (reaksi tipe decrescendo). 2,3

2.8 Diagnosis

Diagnosis didapat berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik.


Anamnesa dimulai dengan diskusi dari riwayat penyakit sekarang yang fokus kepada
daerah munculnya keluhan dan apa yang digunakan untuk menanganinya. Riwayat
penyakit kulit sebelumnya, atopi, dan keadaan umum pasien juga perlu diperhatikan.
Data yang berasal dari anamnesis juga meliputi riwayat pekerjaan , hobi, obat topikal
yang pernah digunakan, obat sitemik,kosmetik. Pemeriksaan fisik sangat penting
dengan memperhatikan distribusi topografinya karena dengan melihat lokasi dan pola
kelainan kulit sering kali dapat diketahui kemungkinan penyebabnya. Misalanya,
diketiak oleh deodoran, dipergelangan tangan oleh jam tangan, dikedua kaki oleh sepatu
atau sandal. Pemeriksaan hendaknya dilakukan ditempat yang cukup terang, pada
seluruh kulit untuk melihat kemungkinan kelaianan kulit lain karena sebab – sebab
endogen. Setelah itu dilakukan verifikasi dengan patch test.1, 2

2.9 Diagnosis Banding

Kelainan kulit dermatitis kontak alergi sering tidak menunjukkan gambaran


morfologi yang khas, dapat menyerupai dermatitis atopi, dermatitis numularis,
dermatitis seboroik atau psoriasis. Diagnosis banding yang terutama ialah dengan
dermatitis kontak iritan. Dalam keadaan ini pemeriksaan uji tempel perlu
dipertimbangan untuk menentukan, apakah dermatitis tersebut kontak alergi.2,4

H a l a m a n 16 | 19
2.10 Penatalaksanaan

2.10.1 Non Medikamentosa

Pasien perlu mengidentifikasi faktor resiko, menghindari bahan-bahan yang bersifat


alergen, baik yang bersifat kimia, mekanis dan fisis, memakai sabun dengan pH netral dan
mengandung pelembab serta memakai alat pelindung diri untuk menghindari kontak
alergen saat bekerja.5

2.10.2 Medikamentosa

a. Terapi Topikal

 Pelembab hidrofilik urea 10%


 Kortikosteroid: desnoid krim 0,05% (bila tidak tersedia bisa digunakan Fluosinolon
asetonid krim 0,025%)
 Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi dapat
diberikan golongan betametason valerat krim 0.1% atau mometason furoat krim
0,1%)
 Pada kasus infeksi skunder perlu pemberian antibiotik topikal.5

b. Terapi Sistemik

 Antihistamin hidroksisin 2x25 mg per hari maksimal 2 minggu

 loratadin 1x10 mg per hari selama 2 minggu.5

2.11 Pencegahan

Pencegahan dermatitis kontak alergi dapat dilakukan dengan cara penghindaran


allergen yang dicurigai dan dipastikan sebagai penyebab, walaupun hal ini tidak selalu
memungkinkan untuk dilakukan karena berbagai alasan. Penghindaran alergen secara
drastis mengurangi insidensi dan keparahan DKA. Memakai alat perlindungan diri saat
bekerja dilakukan pada orang-orang beresiko terpapar alergen di tempat kerjanya.
Sarung tangan, kacamata pengaman dan masker efektif untuk para pekerja yang tidak
memiliki alergi pada alat pelindung yang digunakan tersebut.5

H a l a m a n 17 | 19
2.12 Prognosis

Prognosis dermatitis kontak alergik umumnya baik, sejauh bahan kontakmya


dapat disingkirkan. Prognosis kurang baik dan menjadi kronis bila bersamaan dengan
dermatitis yang disebabkan oleh faktor endogen (dermatitis atopik, dermatitis
numularisata atau psoriasis).2,5

Faktor lain yang membuat prognosis kurang baik adalah pajanan alergen yang
tidak mungkin dihindari misalnya berhubungan dengan pekerjaan tertentu atau yang
terdapat pada lingkungan penderita.2,5

H a l a m a n 18 | 19
DAFTAR PUSTAKA

1. Castanedo, T., & Zug KA. Allergic Contact Dermatitis. In: Goldsmith, L.A., Katz, S.I.,
Gilchrest, B.A., Paller, A.S., Leffell, D.J., Wolff, K. editor Fitzpatrick's Dermatology
In General Medicine. 8th ed. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc; 2012. p.
152-164.
2. Sularsito, S.A., Soebaryo, RW. Dermatitis. In: Menaldi, SL., Bramono, K., & Indiratmi,
W., editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Ed. 7.,Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2011. p. 130-138
3. Admani, S., & Jacob, S. E. 2014. Allergic contact dermatitis in children: Review of
the past decade. Current Allergy and Asthma Reports, 14(4).
4. Helm, NT. Allergic Contact Dermatitis. Tanggal akses: 1 September 2018.
https://emedicine.medscape.com/article/1049216-overview.
5. Kemenkes. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayaan Kesehatan
Tingkat Pertama. Edisi Revisi. Jakarta. 2014. p. 325-326

H a l a m a n 19 | 19