Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Kulit merupakan organ yang terletak di sisi terluar tubuh manusia dan menjadi organ

yang mendapat pengamatan secara terus menerus baik oleh diri sendiri maupun orang

lain. Dalam kondisi sehat, kulit dapat menjadi sumber percaya diri dan saat sakit dapat
1
menimbulkan keresahan.

Dermatofitosis merupakan penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk,

misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut dan kuku, yang disebabkan oleh jamur

dermatofita dari famili arthrodermataceae dengan lebih dari 40 spesies yang dibagi dalam

tiga genus : Epidermophyton, Microsporum, dan Trichophyton. Kemampuannya untuk

membentuk ikatan molekuler terhadap keratin dan menggunakannya sebagai sumber

makanan menyebabkan mereka mampu berkolonisasi pada jaringan keratin. Pada

penamaan infeksi klinis dermatofitosis, kata tinea mendahului nama latin untuk bagian

tubuh yang terkena1

Tinea imbrikata merupakan dermatofitosis dengan gambaran khas berupa kulit

bersisik dengan sisik yang melingkar- lingkar dan terasa gatal. Tinea imbrikata disebabkan

oleh T.concentricum. Penyakit ini dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia seperti

Kalimantan, Sulawesi, Papua, Kepulauan Aru dan Kei, dan Sulawesi Tengah. Penyakit ini

dapat menyerang seluruh permukaan kulit halus, sehingga sering digolongan dalam tinea

korporis. Lesi bermula sebagai makula eritematosa yang gatal, kemudian timbul skuama

yang agak tebal dan terletak konsentris dengan susunan seperti genting. Lesi makin lama

makin melebar tanpa meninggalkan penyembuhan di bagian tengah. Pruritus yang


2
hebat dan dapat terjadi likenifikasi. Lesi kadang hipopigmentasi.

Pada laporan kasus ini mencoba membahas tentang seorang anak laki-laki berusia

14 tahun yang didiagnosis dengan tinea imbrikata

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk,

misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan oleh

golongan jamur dermatofita.Jamur ini dapat menginvasi seluruh lapisan stratum korneum

dan menghasilkan gejala melalui aktivasi respons imun pejamu3

Tinea imbrikata merupakan dermatofitosis dengan gambaran khas berupa kulit

bersisik dengan sisik yang melingkar- lingkar dan terasa gatal2

2.2 Etiologi

Dermatofita ialah golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis.Golongan

jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. Selain sifat keratofilik masih banyak sifat

yang sama di antara dermatofita, misalnya sifat faali, taksonomis, antigenik, kebutuhan zat

makanan untuk pertumbuhannya, dan penyebab penyakit3. Dermatofita termasuk kelas

Fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3 genus, yaitu Microsporum, Trichophyton, dan

Epidermophyton 4

Tinea imbrikata disebabkan oleh Trichophyton concentricum 4

2.3 Klasifikasi

Terdapat berbagai variasi gambaran klinis dermatofitosis, hal ini bergantung pada

spesies penyebab, ukuran inokulum jamur, bagian tubuh yang terkena, dan sistem imun

pejamu.3 Selanjutnya untuk kemudahan diagnosis dan tatalaksana maka dermatofitosis

dibagi menjadi beberapa bentuk, yaitu:

- tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala

- tinea barbae, dermatofitosis pada dagu dan jenggot

2
- tinea kruris, dermatofitosis pada daerah genito-krural, sekitar anus,

bokong, dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah

- tinea pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan

- tinea unguium (onychomycosis), dermatofitosis pada kuku jari tangan dan

kaki

- tinea korporis, dermatofitosis pada kulit glabrosa pada bagian lain yang

tidak termasuk bentuk 5 tinea di atas.

Selain 6 bentuk tinea masih dikenal istilah yang mempunyai arti khusus, yaitu:

- tinea imbrikata: dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris

dan disebabkan Trichophyton concentricum

- tinea favosa atau favus: dermatofitosis yang terutama disebabkan

Trichophyton schoenleini: secara klinis antara lain terbentuk skutula dan

berbagai seperti tikus (mousy odor)

- tinea fasialis, tinea aksilaris, yang juga menunjukan daerah kelainan.

- Tinea sirsinata, arkuata yang merupakan penamaan deskriptif morfologis

Keempat istilah tersebut dapat dianggap sebagai tinea korporis. Selain itu, dikenal

istilah tinea inkognito, yang berarti dermatofitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh

karena telah diobati dengan steroid topikal kuat.3

2.4 Faktor Resiko

Tinea imbricata diamati pada semua umur, dari bayi (usia enam bulan) hingga

lansia, dan lebih sering pada petani dan pekerja lahan. Penularan biasanya melalui kontak

pribadi langsung antara anggota keluarga yang membagikan barang-barang rumah tangga

atau dari orang tua ke anak segera setelah lahir5

Beberapa faktor risiko dapat diidentifikasi, seperti kelembapan, kebersihan yang

buruk, serta faktor genetik dan imunologi. Pengaruh makanan, kekurangan zat besi, dan

3
kekurangan gizi telah dikutip sebagai faktor terkait, tetapi peran mereka yang tepat belum

ditentukan.5

2.5 Patofisiologi

Infeksi alami didapatkan oleh pengendapan arthrospores atau hifa pada

permukaan individu yang rentan. Sumber infeksi biasanya adalah lesi aktif pada hewan

atau pada manusia lain, meskipun transmisi fomite diketahui terjadi, dan infeksi dari tanah

jika kejadian tidak biasa. Pada anak-anak kecil yang terinfeksi Trichophyton rubrum dan

Epidermophyton floccosum, setengah dari infeksi mungkin berasal dari orang tua mereka..

Invasi kulit di tempat infeksi diikuti oleh penyebaran sentrifugal melalui lapisan tanduk

epidermis. Setelah periode pembentukan (inkubasi), yang berlangsung 1-3 minggu, respon

jaringan terhadap infeksi menjadi jelas. Gambaran karakteristik annular dari banyak infeksi

ringworm dihasilkan dari eliminasi jamur dari pusat lesi, dan resolusi selanjutnya dari

respon host inflamasi di area tersebut. Area ini biasanya menjadi resisten terhadap infeksi

ulang, meskipun gelombang sentrifugal kedua dari area asli dapat terjadi dengan

pembentukan cincin inflamasi eritematosa konsentris. Namun, banyak lesi tidak memiliki

kecenderungan untuk central healing2.

2.6 Gejala Klinis

Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul berwarna coklat, yang perlahan-lahan

menjadi besar. Stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar.3

Proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk

lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris.3 Bila dengan jari tangan kita meraba dari

bagian tengah ke arah luar, akan terasa jelas skuama yang menghadap ke dalam. Lingkaran-

lingkaran skuama konsentris bila menjadi besar dapat bertemu dengan lingkaran-lingkaran

di sebelahnya sehingga membentuk pinggir polisiklik.1-3 Pada permulaan infeksi penderita

dapat merasa sangat gatal, akan tetapi kelainan yang menahun tidak menimbulkan keluhan

pada penderita.3

4
Gambar1. Bentuk Tinea imbricate pada lengan atas.
Dikutip dari : Rooks Textbook of Dermatology (2016)

Gambar 2 : Seorang wanita Fiji berusia 18 tahun dengan riwayat 3 tahun


ruam konsentris, bersisik di pundaknya; ruam juga ada padanya
badan, lengan, dan kaki (tidak ditampilkan)
Dikutip dari The New England Journal Medicine (2016)

5
2.7 Penunjang Diagnosis

Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakan diagnosis terdiri atas

pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan.3 Pada pemeriksaan mikologik

untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis, yang dapat berupa kerokan kulit,

rambut, dan kuku.3 Bahan untuk pemeriksaan mikologik diambil dan dikumpulkan

sebagai berikut:

1. Kulit tidak berambut (glabrous skin)3

Dari bagian tepi kelainan sampai dengan bagian sedikit di luas kelainan sisik kulit

dan kulit dikerok dengan pisau tumpul steril.3

2. Kulit berambut3

Rambut dicabut pada bagian kulit yang mengalami kelainan.1 Kulit di daerah

tersebut dikerok untuk mengumpulkan sisik kulit.3 Pemeriksaan dengan lampu

Wood dilakukan sebelum pengumpulan bahan untuk mengetahui lebih jelas

daerah yang terkena infeksi dengan kemungkinan adanya fluoresensi pada kasus-

kasus tinea kapitis tertentu.1,2

3. Kuku3

Bahan diambil dari bagian kuku yang sakit dan diambil sedalam-dalamnya

sehingga mengenai seluruh tebal kuku, bahan di bawah kuku diambil pula.3

Pada hasil pemeriksaan mikroskopis dengan KOH, akan ditemukan hifa

panjang dan artrospora.6 Lebih spesifik pada sediaan kulit dan kuku yang terlihat

adalah hifa sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun

spora berderet (artospora) pada kelainan kulit lama dan/atau sudah diobati. 3 Pada

sediaan rambut yang dilihat adalah spora kecil (mikrospora) atau besar

(makrospora).1 Spora dapat tersusun di luar rambut (ektotriks) atau di dalam rambut

(endotriks).3,4 Kadang-kadang dapat terlihat juga hifa pada sediaan rambut.3

Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan

langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur.3 Pemeriksaan ini

dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan.3

6
2.8 Diagnosis Banding

Tidaklah begitu sukar untuk menentukan diagnosis tinea korporis pada

umumnya, namun ada beberapa penyakit kulit yang dapat mericuhkan diagnosis itu,

misalnya dermatitis seboroika, psoriasis, dan pitiriasis rosea.2,3,4,6 Kelainan kulit

pada dermatitis seboroika selain dapat menyerupai tinea korporis, biasanya dapat

terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya di kulit kepala (scalp),,3 lipatan-

lipatan kulit, misalnya belakang telinga, daerah nasolabial, dan sebagainya.3

Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi, yaitu daerah

ekstensor, misalnya lutut, siku, dan punggung.3 Kulit kepala berambut juga sering

terkena pada penyakit ini.3 Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula menolong

untuk menentukan diagnosis.3 Pitiriasi rosea, yang distribusi kelainan kulitnya

simetris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar

dibedakan dengan tinea korporis tanpa Herald patch yang dapat membedakan

penyakit ini dengan tinea korporis.3 Pemeriksaan laboratorium yang memastikan

diagnosisnya,3 Tinea korporis kadang-kadang susah dibedakan dengan dermatitis

seboroika pada sela paha Lesi-lesi di tempat-tempat predileksi sangat menolong

menentukan diagnosis.3

2.9 Pengobatan

Tersedia bermacam pengobatan topikal maupun sistemik untuk berbagai tipe

dermatofitosis.3 Sejalan dengan penetrasi dermatofita ke dalam folikel rambut, maka

infeksi yang mengenai daerah berambut memerlukan pengobatan oral.3 Obat pilihan

untuk infeksi jamur ini adalah griseofulvin.3 Dosis pengobatan griseofulvin berbeda-

beda.3 Secara umum, dalam bentuk fine particle dapat diberikan dengan dosis 0,5-1

g untuk orang dewasa dan 0,25-0,5 g untuk anak-anak sehari atau 10-25 mg/kgBB

diberikan 1-2 kali sehari.3,6

Obat peroral yang juga efektif untuk dermatofitosis yaitu ketokenazol yang

bersifat fungistatik.3 Pada kasus-kasus resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan

7
obat tersebut sebanyak 200 mg/hari selama 10 hari sampai 2 minggu pada pagi hari

setelah makan.1,5 Ketokonazol merupakan kontraindikasi untuk penderita kelainan

hepar.3

Sebagai pengganti ketokonazol yang mempunyai sifat hepatotoksik terutama

bila diberikan lebih dari 10 hari, dapat diberikan suatu obat triazol yaitu itrakonazol

yang merupakan pemilihan yang baik.3,6

Terbinavin yang bersifat fungisidal juga dapat diberikan sebagai pengganti

griseofulvin selama 2-3 minggu, dosisnya 62,5 mg – 250 mg sehari bergantung pada

berat badan.3,6

Pada masa kini selain obat-obat topikal konvensional, misalnya asam salisilat

2-4%, asam benzoat 6-12%, sulfur 4-6%, vioform 3%, asam undesilenat 2-5%,

clotrimazole, miconazole,ciclopirox, econazole, oxiconazole, ketoconazole,

sulconazole, dikenal banyak obat topikal baru.3,6 Obat-obat baru ini diantaranya

tolnaftat 2%;3 tolsiklat, haloprogin, derivat-derivat imidazol, siklopiroksolamin,3 dan

naftifine masing-masing 1%.3,6 Obat-obat topikal lebih aman, dan lebih murah untuk

terapi infeksi-infeksi jamur superfisial.3 Pengobatan dengan obat topikal biasanya

dilakukan 2-4 minggu dengan penggunaan 2 kali dalam sehari.3

Tabel 1 Pengobatan pada tinea corporis/tinea imbrikata

Dikutip dari : Rooks Textbook of Dermatology (2016)

8
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas

Nama : An. Batman Jikwa (B.J)

Umur : 14 tahun

Pekerjaan : Pelajar

Agama : Kristen protestan

Alamat : Waena

Tanggal MRS : 30 April 2018

No. R.M : 46 58 49

3.2 Anamnesa

a. Keluhan utama

Kulit bersisik

b. Riwayat penyakit sekarang

Pasien datang berobat ke polik Kulit dan Kelamin RSUD Abepura dengan keluhan

kulit bersisik sejak ± 10 tahun yang lalu SMRS. Kulit bersisik – sisik pertama

muncul di wajah kemudian menyebar pada tangan dan kaki. Setiap tahunnya kulit

bersisik semakin menyebar. Pasien juga mengeluhkan gatal terutama saat siang

hari ketika tubuh berkeringat dan keluhan berkurang ketika pasien mandi. Pasien

pernah diberi obat minum dan salap namun keluhan tidak bekurang.

c. Riwayat penyakit dahulu

Riwayat alergi debu (-), asma (-), penyakit paru (-), penyakit jantung (-), penyakit

lambung (-), hepatitis (-), kecacingan (-), diabetes mellitus (-), hipertensi (-),

malaria berat (-), kejang (-),

9
d. Riwayat penyakit keluarga

Pasien mempunyai kakak sepupu yang tinggal serumah dengan pasien mempunyai

penyakit yang sama dengan pasien.

e. Riwayat sosioekonomi

Pasien mengaku tidur dan makan bersama kakak pasien yang memiliki penyakit

yang sama dengan pasien. Juga menggunakan handuk dan sabun bersama dengan

keluarga lainnya. Pasien tinggal bersama keluarga besar (10 orang)

3.3 Status generalis

Keadaan umum : tampak sakit ringan Kesadaran :kompos mentis

Tinggi badan : 150 cm Berat badan : 20 kg IMT : 20,39

kg/m2

Tanda-tanda vital :

TD: 110/70 mmHg; RR:19x/m ; SB:36,1°C ; HR : 78x/m ; SpO2

: 98 %

Kepala : Normosefalus, alopesia (-)

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

:Hidung : nafas cuping hidung (-), epistaksis(-), deviasi septum (-)

:Mulut : kering (-), sianosis (-), oral kandidiasis (-)

:Telinga : sekret (-/-)

: Wajah : rash (-)

Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-), pelebaran v.

Jugularis (-), kaku kuduk (-)

Thoraks :

pulmo : I : dinding dada simetris, ikut gerak nafas, jejas (-)

: :P : vokal fremitus (+) dextra=sinistra

10
: :P : sonor

: :A : suara nafas vesikuler, whezeeng (-/-), ronkhi (-/-)

: cor :I : iktus kordis tidak terlihat

: :P : iktus kordis teraba di ICS V midclavikularis sinistra

: :P : batas jantung kanan ICS IV parasternal dekstra

: batas jantung kiri sesuai iktus kordis

: :A : S1S2 reguler, galllop (-), mur-mur (-)

:abdomen

:I : tampak datar, striae (-)

:A : bising usus (+)

:P : Hepar / lien : tidak teraba, nyeri tekan (-), defans

muscular (-)

:P : shifting dullness (-)

ekstremitas : akral hangat, oedema (-), ulkus (-)

: vegetatif : makan (+) minum (+), BAB (+), BAK (+)

3.4 Status lokalis

Efloresensi : regio facialis,regio coli,regio dorsalis, regio antebachi

(dextra sinistra), regio cruris pedis dextra sinistra terdapat

Makula hipopigmentasi , skuama kasar yang konsentris,

berbatas tegas distribusi generalisata

11
Gambar 3. Foto regio antebrachi dextra-sinistra pasien An.B.J

Gambar 4. Foto regio dorsalis pasien An. B.J

12
Gambar 5. Foto regio femoralis pasien An. BJ

3.5 Pemeriksaan Penunjang

Tes KOH, Sampel isolasi lesi

Hasil : ditemukan morfologi spora 2-4 lpk , Hifa 0-1(epitel 8-10 lpk)

Kesan : mendukung ke arah infeksi jamur

3.6 Diagnosis

Tinea Imbrikata Generalisata

3.7 Diagnosis banding

Psoriasis, Pitiriasis Rosea

13
3.8 Tatalaksana

3.8.1 Farmakologi

 Salep campuran berupa (Myconazole 10g,, Fuladic 10g, Bionect 7,5g)

 Forcanox tablet 1 x 100 mg

 Cetirizine tablet 2x 10 mg

 Ketonazole Scalp Solution 2%

3.8.2 Non-farmakologi

 Hindari menggaruk bila terasa gatal

 Mandi minimal 2x sehari

 Gunakan handuk,sabun,bantal maupun seprei milik sendiri

 Menjaga kebersihan pakaian dengan mengganti pakaian setiap hari

3.9 Prognosis

Ad vitam : bonam

Ad fungtionam : bonam

Ad sanationam : bonam

14
BAB IV

RESUME DAN PEMBAHASAN

4.1 Resume

Seorang pasien anak laki laki berusia 1 tahun datang ke polik klinik kulit dan

kelamin RSUD Abepura dengan keluhan keluhan kulit bersisik sejak ± 10 tahun yang lalu

SMRS. Kulit bersisik – sisik pertama muncul di wajah kemudian menyebar pada tangan

dan kaki. Setiap tahunnya kulit bersisik semakin menyebar. Pasien juga mengeluhkan gatal

terutama saat siang hari ketika tubuh berkeringat dan keluhan berkurang ketika pasien

mandi. Pasien pernah diberi obat minum dan salap namun keluhan tidak bekurang. Pasien

tidak memiliki riwayat alergi maupun riwayat penyakit lainya. Pasien mempunyai kakak

sepupu yang tinggal serumah dengan pasien mempunyai penyakit yang sama dengan

pasien. Pasien mengaku tidur dan makan bersama kakak pasien yang memiliki penyakit

yang sama dengan pasien. Juga menggunakan handuk dan sabun bersama dengan keluarga

lainnya. Pasien tinggal bersama keluarga besar (10 orang)

Dari pemeriksaan fisik, pada pemeriksaan status generalis dalam batas normal,

status lokalis berupa penilaian efloresensi dan didapatkan Makula hipopigmentasi , skuama

kasar yang konsentris, berbatas tegas. Dari pemeriksaan penunjang Tes KOH, sampel

isolasi lesi, hasil ditemukan morfologi spora 2-4 lpk , hifa 0-1(epitel 8-10 lpk) dengan kesan

mendukung ke arah infeksi jamur

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,dan pemeriksaan penunjang ditegakan

diagnosis Tinea Imbrikata Generalisata. Tatalaksana secara farmakologi berupa obat

topikaL (Myconazole 10g,, Fuladic 10g, Bionect 7,5g) dioleskan pagi dan malam.,

Forcanox tablet 1 x 100 mg , Cetirizine tablet 2x 10 mg, Ketonazole Scalp Solution 2%..

Untuk tatalaksana secara non-farmakologi berupa edukasi tentang menjaga hyginitas

pasien berupa mandi minimal 2x sehari, gunakan handuk,sabun,bantal maupun seprei milik

15
sendiri , menjaga kebersihan pakaian dengan mengganti pakaian setiap hari serta menjaga

kebersihan lingkungan

4.2 Pembahasan

Penegakan diagnosis tinea imbrikata dapat peroleh melalui anamnesa, pemeriksaan

fisik dan pemeriksaan penunjang bila tersedia.. Pada anamnesis didapatkan keluhan kulit

bersisik – sisik yang pertama muncul di wajah kemudian menyebar pada tangan dan kaki.

Setiap tahunnya kulit bersisik semakin menyebar. Pasien juga mengeluhkan gatal terutama

saat siang hari ketika tubuh berkeringat dan keluhan berkurang ketika pasien mandi. Pada

tinjauan pustaka tinea imbrikata merupakan dermatofitosis dengan gambaran khas berupa

kulit bersisik dengan sisik yang melingkar- lingkar dan terasa gatal.2 Pasien pernah diberi

obat minum dan salap namun keluhan tidak bekurang. Pasien tidak memiliki riwayat alergi

maupun riwayat penyakit lainya.

Menurut anamnesa pasien mempunyai kakak sepupu yang tinggal serumah dengan

pasien mempunyai penyakit yang sama dengan pasien. Pasien mengaku tidur dan makan

bersama kakak pasien yang memiliki penyakit yang sama dengan pasien. Juga

menggunakan handuk dan sabun bersama dengan keluarga lainnya. Pasien tinggal bersama

keluarga besar (10 orang). Pada tinjauan pustaka penularan biasanya melalui kontak pribadi

langsung antara anggota keluarga yang membagikan barang-barang rumah tangga atau dari

orang tua ke anak segera setelah lahir 5

Pada pemeriksaan fisik didapatkan efloresensi sekunder yaitu makula

hipopigmentasi , skuama kasar yang konsentris, berbatas tegas. Hal ini sesuai tinjauan

pustaka bahwa stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar.3

Proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk

lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris.3 Bila dengan jari tangan kita meraba dari

bagian tengah ke arah luar, akan terasa jelas skuama yang menghadap ke dalam.3

Lingkaran-lingkaran skuama konsentris bila menjadi besar dapat bertemu dengan

lingkaran-lingkaran di sebelahnya sehingga membentuk pinggir polisiklik3

16
Pada pemeriksaan penunjang dilakukan Tes KOH. Sampel diambil dari kerokan

pada pinggiran bercak kulit. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan morfologi spora 2-

4 lpk , Hifa 0-1(epitel 8-10 lpk) dengan kesan mendukung ke arah infeksi jamur. Hal ini

sesuai dengan tinjauan pustaka dilakukan pemeriksaan penunjang mikroskopis3. Sediaan

diambil dari kulit tidak berambut (glabrous skin)1 dari bagian tepi kelainan sampai dengan

bagian sedikit di luas kelainan sisik kulit dan kulit dikerok dengan pisau tumpul steril.3

Pada hasil pemeriksaan mikroskopis dengan KOH, akan ditemukan hifa panjang dan

artrospora3

Penatalaksanaan pasien ini adalah dengan pemberian obat antijamur

topikal.(Myconazole 10g,, Fuladic 10g, Bionect 7,5g) dioleskan pagi dan malam.,

Forcanox tablet 1 x 100 mg , Cetirizine tablet 2x 10 mg, Ketonazole Scalp Solution 2%..

Tujuan pemberian agen antihitamin-1 non sedatif (cetirizine) bertujuan untuk mencegah

terjadinya gatal. Cetirizine bekerja langsung menghambat histamin yang dihasilkan oleh

sel mast sebagai respon terhadap antigen. Pada kulit penderita tinea imbrika cenderung

akan disertai rasa gatal. Forcanox adalah obat untuk berbagai infeksi jamur sistemik dimana

obat jamur yang mengandung itraconazole , obat anti jamur yang termasuk golongan

triazole. Itraconazole memperlihatkan aktivitas anti jamur yang kuat.7

Terapi non-medikamentosa pada pasien ini berupa hindari menggaruk bila terasa

gatal, Mandi minimal 2x sehari, Gunakan handuk,sabun,bantal maupun seprei milik sendiri

, Menjaga kebersihan pakaian dengan mengganti pakaian setiap hari, Menjaga kebersihan

lingkungan. Penatalaksanaan nonmedikamentosa dan pencegahan kekambuhan penyakit

sangat penting, seperti mengurangi faktor predisposisi

17
BAB V

KESIMPULAN

Penegakan diagnosis tinea imbrikata dapat peroleh melalui anamnesa, pemeriksaan

fisik dan pemeriksaan penunjang bila tersedia. Pada kasus ini, diagnosis ditegakan

berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Tatalaksana farmakologis dengan tujuan menghilangkan jaur serta mencegah gatal

diberikan obat antijamur topical,antihitamin-1 non sedatif (cetirizine) dan antijamur

oral.Terapi non-medikamentosa pada pasien ini berupa edukasi untuk menjaga hyginetas

dari pasien itu sendiri

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Sondakh, Cyndi E. E. J, et all. 2016. Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 1.

Profil dermatofitosisdi Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou

Manado periode Januari – Desember 2013

2. Burns Tony, Stephen Breathnach, Neil Cox, Christopher Griffiths. 2004. Rook's

Textbook of Dermatology. Oxford: Blackwell Scientific Publications.

3. Menaldi S, L, SW, et al. 2015. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi ketujuh,

cetakan pertama 2015. Jakarta. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia

4. Fitzpatrick TB, Wolf, Klaus, MD, FRCP, Lowell A, Goldsmith, MD, Stephen I,

Katz, MD, PHD, ed. 2008. Fitzpatrick's Dermatology In General Medicine, 7th

edition. New York: McGraw-Hill

5. Sahoo, A, K, & Mahajan, R,. 2016.Tinea imbricata , Description, causes dan risk

factor https://www.medigoo.com/articles/tinea-imbricata/ diakses pada 19 Mei

2018

6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi

Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta. Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia

7. Bertram G, Katzung. 2010. Farmakologi dasar dan klinik edisi 10. Jakarta:EGC

8. Lindsey R. Baden, M.D . 2016. The new england journal of medicine Images in

Clinical Medicine : Tinea Imbricata

19