Anda di halaman 1dari 5

Pewarnaan Hemolitik pada Intima dari Cabang Aorta pada

Kasus Tenggelam di Air Tawar


Sebuah Penelitian Retrospektif
Michael Tsokos, MD, Glenda Cains, and Roger W. Byard, MBBS, MD

Abstrak
Sebuah penelitian retrospektif dilakukan terhadap berkas pada Institusi Medikolegal
di Hamburg, Jerman dari tahun 1998 sampai dengan 2003 dari seluruh kasus
tenggelam yang belum terjadi pembusukan, untuk mendokumentasikan angka
pencatatan dari pewarnaan hemolitik pada intima dari pembuluh darah besar. Seluruh
kasus telah sepenuhnya di investigasi oleh polisi dengan melihat riwayat, barang bukti
penting, dan temuan otopsi. Serangkaian subyek kontrol yang meninggal akibat
berbagai penyebab baik secara alami maupun tidak alami yang bukan akibat
tenggelam, yang memiliki kesamaan usia, jenis kelamin, dan interval post-mortem
juga dipelajari. Seratus dua puluh kasus tenggelam di air tawar teridentifikasi.
Terdapat 1 kasus tenggelam yang terjadi pada kolam taman , 2 kasus pada bak mandi,
dan 117 kasus pada sungai Elbe. Rentang usia adalah dari 2 sampai dengan 91 tahun
(mean=55 tahun; M:F=1:1,8). Pewarnaan hemolitik Intima tercatat terdapat pada 6
kasus (6 dari 120;5%). Yang dimaksud adalah perubahan warna menjadi kemerahan
pada bagian proximal dari cabang aorta, tanpa adanya pewarnaan yang signifikan dari
proximal Arteri Pulmonal. Tidak didapatkan adanya pewarnaan hemolitik yang
signifikan dari Intima pembuluh darah besar yang tercatat dari 120 subyek kontrol.
Meskipun kurang pelaporan mungkin terjadi dari analisis retrospektif, penelitian ini
menunjukkan bahwa setidaknya 5% dari kasus tenggelam menunjukkan adanya
perbedaan pewarnaan dari cabang pulmonal dan aorta, dengan perubahan warna
hemolitik pada intima aorta. Jika ditemukan, pewarnaan hemolitik dari Intima cabang
aorta dapat berguna dan kemungkinan merupakan tanda yang dapat mendukung kasus
tenggelam di air tawar yang belum dikenal.

Kata kunci: tenggelam di air tawat, pewarnaan hemolitik, cabang aorta.

Meskipun pewarnaan hemolitik dari intima aorta telah ditulis pada berbagai literatur
sebagai tanda dari tenggelam pada air tawar, namun masih merupakan tanda yang
kurang dikenal karena jarang ditulis pada buku acuan. Penelitian yang dilakukan oleh
kelompok kami menyarankan bahwa tanda ini merupakan tanda yang spesifik,
meskipun tidak terlalu sensitif. Penelitian ini dilakukan agar menyediakan indikasi
bahwa seberapa sering hal ini dicatat dalam serangkain kasus dari tenggelam di air
tawar pada ranah medikolegal.

METODE DAN MATERIAL

Berkas otopsi dari Institut Medikolegal, Universitas Hamburg, Hamburg,


Jerman di kaji secara retrospektif selama periode 5 tahun (1999-2003) untuk kasus
tenggelam. Seluruh kasus telah diselidiki polisi secara penuh, dengan kajian dari
riwayat sebelumnya, barang bukti penting, dan temuan otopsi. Sebuah studi case-
control dilakukan dengan subyek kontrol adalah yang telah meninggal akibat berbagai
penyebab baik secara natural maupun tidak natural, yang bukan merupakan kasus
tenggelam yang memiliki kesamaan secara usia, jenis kelamin, dan interval post-
mortem. Kasus yang telah mengalami perubahan pembusukan, termasuk marbling
vena, pelicinan kulit, pengeluaran cairan pembusukan, bau busuk, dan infestasi
serangga di ekslusikan dari penelitian.

HASIL

Ditemukan seratus dua puluh kasus tenggelam di air tawar. 1 kasus tenggelam
terjadi pada kolam taman, 2 kasus pada bak mandi, dan 117 pada Sungai Elbe.
Rentang usia adalah dari 2 sampai dengan 91 tahun (mean=55 tahun) dengan
perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1:1,8. Pewarnaan hemolitik Intima
tercatat pada 6 kasus (6 dari 120;5%). Yang dimaksud adalah perubahan warna
menjadi kemerahan pada bagian proximal dari cabang aorta, tanpa adanya pewarnaan
yang signifikan dari proximal Arteri Pulmonal.
Kematian pada kontrol disebabkan oleh berbagai penyebab natural (termasuk
penyakit jantung iskemik, emboli paru, pneumonia, perdarahan gastrointestinal, asma,
efisema, dan pankreatitis) dan penyebab non-natural (termasuk trauma akibat jatuh
dari ketinggian, penusukan, luka tembak, gantung, dan intoksikasi obat). Rentang usia
dari subyek kontrol adalah 1 sampai degan 99 tahun. (mean 61 tahun) dengan
perbandingan laiki-laki dan perempuan adalah 1,6:1. Tidak terdapat adanya
pewarnaan hemolitik pada intima dari pembuluh darah besar yag tercatat dari 120
subyek kontrol (Tabel 1).

Pewarnaan Intima Aorta


Negatif Positif
Tenggelam di air tawar 114 6 (5%)
(N=120)
Kontrol (N=120) 120 0

Tabel 1. Kejadian Pewarnaan Intima pada cabang Aorta pada 120 kasus tenggelam di
air tawar dan 120 kasus kontrol

DISKUSI

Diagnosis otopsi dari tenggelam selalu menemui kesulitan bagi ahli patologi
karena temuan fisik relatif tidak spesifik dan mungkin tidak dapat mengeksklusikan
penyebab kematian, apakah alami atau tidak alami pada tubuh yang tenggelam.
Terdapat penyebab kematian lain seperti sindroma QT memanjang yang dapat
menyebabkan kematian mendadak saat korban sedang berenang, dan mungkin saja
tidak terdeteksi setelah dilakukan otopsi. Persentase kematian di air secara signifikan
mungkin disebabkan, atau di inisiasi oleh kondisi organik yang menyertai.
Berbagai usaha telah dilakukan dalam mencari marker diagnostik pada kasus
tenggelam secara biokimia, namun sifat kinetik dan keistimewaan dari proses agonal
mengakibatkan belum adanya tes yang dapat diandalkan belum ditemukan. Tes
Klorida Gettler merupakan salah satu contoh suatu tes yang digunakan untuk mencari
perubahan pada kadar klorida darah pada korban tenggelam, namun masih
diperdebatkan. Sayangnya hampir seluruh penelitian terkonsentrasi pada perubahan
biokimia namun tidak menjabarkan analisa atau deskripsi dari ciri patologis yang
berhubugan. Hasil dari evaluasi diatom juga tidak terlalu berguna.
Pada penelitian sebelumnya kami telah memastikan bahwa tenggelam di air
tawar berhubungan dengan lebih rendahnya kadar natrium pada ventrikel kiri jika
dibandingkan dengan tenggelam di air tawar, dan kami juga mengamati bahwa kadar
natrium vitreous humor juga menurun pada kasus tenggelam. Kami juga menemukan
bahwa terdapat pewarnaan hemolitik intima aorta pada hewan babi ketika ventrikel
kirinya di injeksi dengan darah yang telah hemolysis atau dengan air. Terakhir, pada
sebuah penelitian kecil, kami menemukan bahwa terdapat pewarnaan hemolitik merah
pada intima cabang aorta tanpa adanya perubahan warna pada cabang pulmonal hanya
pada korban yang tenggelam di air tawar, dan tidak pada subyek kontrol yang
tenggelam di air asin. Kasus pada korban yang telah mengalami pembusukam
biasanya memperlihatkan perubahan warna menjadi merah tua pada arteri pulmonalis
dan juga aorta. Namun sampai saat ini belum ada data yang tersedia mengenai
sensitivitas dari pewarnaan hemolitik sebagai tanda dari tenggelam di air tawar.
Meskipun data dari pemeriksaan otopsi pada studi retrospektif dipersulit oleh
kemungkinan dari kurangnya pelaporan dari ciri-ciri tersebut, penelitian saat ini
memberikan pengetahuan mengenai berapa banyak pencatatan dari pewarnaan intima
pada intima aorta; bisa disimpulkan bahwa adanya pewarnaan hemolitik pada intima
aorta adalah setidaknya sejumlah 5%. Mengenai hal ini, tanda ini juga cukup dikenal
pada literatur Jerman, dan juga dianggap akan diperhatikan secara rutin dan dicatat
pada institusi; sehingga seburuk-buruknya penelitian ini minimal menggambarkan
bagaimana pencatatan tanda ini dilakukan. Jika keberatan ini diterima, data akan
mengkonfirmasi bahwa tanda pewarnaan hemolitik pada aorta benar-benar terjadi
pada kasus tenggelam di air tawar meskipun sepertinya tidak juga sesering itu terjadi.
Sehingga lebih sesuai dengan pengajuan bahwa tanda ini bersifat spesifik, namun
tidak terlalu sensitif, sebagai tanda tenggelam pada air tawar.
Pewarnaan hemolitik dari intima pembuluh daarah terjadi pada situasi dimana
terjadinya lisis dari sel darah merah. Hal ini mungkin terjadi akibat pembusukan,
sepsis, koagulopati, atau cedera panas dimana kondisi intravaskular menyebabkan
rusaknya membrane eritrosit. Mengingat hemodilusi memberikan hasil yang serupa,
dan hemodilusi merupakan kondisi yang diterima secara luas sebagai hasil dari
tenggelam di air tawar, hal ini mengejutkan bahwa perubahan warna seperti ini tidak
sering ditemukan pada kasus tenggelam di air tawar. Meskipun tidak adanya
pewarnaan hemolitik pada intima aorta pada kasus-kasus yang dicurigai akibat
tenggelam di air tawar sebagai alat diagnostik yang terbatas digunakan, adanya tanda
ini tanpa adanya perubahan pembusukan dapat menambah kemungkinan penyebab
kematian adalah akibat tenggelam di air tawar.

REFERENSI
1. Brinkmann B. Tod im Wasser. In: Brinkmann B, Madea B, eds. Handbuch
Gerichtliche Medizin. Vol. 1. Heidelberg, New York: Springer Berlin; 2004:797–
824.

2. Byard RW, Cains GE, Gilbert JD. Is haemolytic staining of the aortic root a sign of
fresh water drowning? Pathology. 2005;37:551–552.
3.

3. Gee DJ. Lecture Notes on Forensic Medicine. 4th ed. Oxford: Blackwell Scientific
Publications; 1984:131.


4. Gresham GA. A Colour Atlas of Forensic Pathology. London: Wolfe Medical
Publications Ltd; 1975:238.
5. Polson CJ, Gee DJ, Knight B. The Essentials of Forensic Medicine. 4th ed.
Oxford:Pergamon Press; 1985:432.


6. Pounder D. Drowning. In: Payne James J, Byard RW, Corey T, et al, eds.
Encyclopedia of Forensic and Legal Medicine. Vol. 1. London: Elsevier; 2005:227–
232.


7. Ludes B, Fornes P. Drowning. Ch 18. In: Payne-James J, Busuttil A, Smock W,


eds. Forensic Medicine: Clinical and Pathological Aspects. San Francisco:
Greenwich Medical Media; 2003:247–257.


8. Saukko P, Knight B. Immersion deaths. Chapter 16. In: Knight’s Forensic
Pathology. 3rd ed. London: Arnold; 2004:395–411.


9. Byard RW, Cains G, Simpson E, et al. Drowning, haemodilution, haemolysis


and staining of the intima of the aortic root-preliminary observations. J Clin Forensic
Med. 2006;13:121–124.


10. Byard RW, Cains G, Tsokos M. Haemolytic staining of the intima of the aortic
root—a useful pathological marker of freshwater drowning? J Clin Forensic Med.
2006;13:125–128.


11. Byard RW, Houldsworth G, James RA, et al. Characteristic features of suicidal
drownings. A 20 year study. Am J Forensic Med Pathol. 2001;22:134 –138.


12. Somers GR, Chiasson DA, Smith CR. Pediatric drowning: a 20-year review of
autopsied cases: II. Pathologic features. Am J Forensic Med Pathol. 2006;27:20–
24.


13. Smith NM, Byard RW, Bourne AJ. Death during immersion in water in
childhood. Am J Forensic Med Pathol. 1991;12:219–221.


14. Gettler AO. A method for the determination of death by drowning. JAMA.
1921;77:1650–1652.


15. Fuller RH. The clinical pathology of human near-drowning. Proc R Soc Med.
1963;56:33–38.


16. Durlacher SH, Freimuth HC, Swan HE Jr. Blood changes in man following death
due to drowning, with comments on tests for drowning. AMA Arch Pathol.
1953;56:454 – 461.


17. Hen ge C, Madea B. Methoden zur Bestimmung der Todeszeit an Leichen.


Lu ̈beck: Schmidt Ro ̈mhild; 1988:126.

18. Ponsold A. Ertrinken. In: Ponsold A, ed. Lehrbuch der Gerichtlichen Medizin
einschliesslich der a ̈ rztlichen Rechtskunde und der Ver- sicherungsmedizin.
Stuttgart: Thieme; 1957:375–387.

19. Schulz E. Ertrinken, der Tod im Wasser. In: Forster B, ed. Praxis der Rechts-
medizin fu ̈r Mediziner und Juristen. Stuttgart: Thieme; 1986:143–154.
20. Dettling J, Scho ̈nberg S, Schwarz F. Lehrbuch der Gerichtlichen Medi- zin.
Basel: Karger; 1951:300.

21. Edmonds C, Lowry C, Pennefather J. Drowning. Ch 21. In: Diving and


Subaquatic Medicine. 3rd ed. Oxford: Butterworth Heinemann; 1992:274 –290. 22.
Pullar P. Mechanical asphyxia Ch 13. In: Mant AK, ed. Taylor’s

22. Pullar P. Mechanical asphyxia Ch 13. In: Mant AK, ed. Taylor’s Principles and
Practice of Medical Jurisprudence. 13th ed. Edinburgh: Churchill Livingstone;
1984:282–321.


23. Gordon I, Shapiro HA, Berson SD. Deaths usually initiated by hypoxic hypoxia or
anoxic anoxia. Ch 4 In: Forensic Medicine A Guide to Principles. 3rd ed. Edinburgh:
Churchill Livingstone; 1988:95–127.

24. Camps FE, Purchase WB. Drowning. In: Practical Forensic Medicine. London:
Hutchinson’s Medical Publications Ltd; 1956:150–156.