Anda di halaman 1dari 65

HALAMAN PENGESAHAN

Journal Reading dengan Judul:


Kekerasan Seksual dan Anak Usia Prasekolah: Detail Forensik Mengenai Tipe
Pertanyaan

Disusun untuk Memenuhi Syarat Menempuh Ujian Kepaniteraan Klinik


Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

Disusun oleh:
Irani Vianza 030.12.129
Irma Darmayanti 030.12.132
Marsya A Varinza 030.12.160
Prazna Shafira 030.12.210

Telah diterima dan disetujui oleh dr. Julia Ike Haryanto, MH, Sp.KF selaku
dosen penguji journal reading.

Semarang, Februari 2018


Dosen penguji

dr. Julia Ike Haryanto, MH, Sp.KF

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat,
dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah journal
reading yang berjudul “Kekerasan Seksual dan Anak Usia Prasekolah: Detail
Forensik Mengenai Tipe Pertanyaan”. Makalah journal reading ini disusun untuk
memenuhi syarat menempuh ujian kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang.
Dalam penulisan makalah journal reading ini, tidak sedikit kendala yang
penulis hadapi. Namun berkat bimbingan, bantuan, dan kerjasama dari berbagai pihak
sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi. Pada kesempatan ini,
penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada:
1. dr. Julia Ike Haryanto, MH, Sp.KF selaku dosen penguji yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuan mengenai
Kekerasan Seksual dan Anak Usia Prasekolah: Detail Forensik Mengenai Tipe
Pertanyaan.
2. dr. Dadan Rusmanjaya selaku residen pembimbing yang telah dengan sabar, tulus,
dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam memberikan bimbingan,
motivasi, dan saran-saran yang sangat berharga kepada penulis selama penulisan
makalah journal reading.
Penulis menyadari perlunya saran dan kritik yang membangun untuk
kesempurnaan makalah journal reading ini. Akhir kata, penulis berharap makalah
journal reading ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu khususnya dibidang
kesehatan.

2
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................................................1
KATA PENGANTAR........................................................................................................................2
DAFTAR ISI........................................................................................................................................3
DAFTAR TABEL...............................................................................................................................5
DAFTAR GAMBAR.........................................................................................................................6
BAB I.....................................................................................................................................................7
PENDAHULUAN..............................................................................................................................7
1.1. Latar Belakang.....................................................................................................................7
1.2. Perumusan Masalah...................................................................................................................8
Peraturan apa yang mengatur perlindungan terhadap kekerasan
seksual pada 8
1.3. Tujuan dan Manfaat .................................................................................... 8
BAB II ...................................................................................................................... 9
JURNAL .................................................................................................................. 9
3.3 Jumlah total di bagi menurut usia ......................................................................22
3.4 Detail jumlah antara hubungan tipe dan subtype pertanyaan dengan usia ........... 22
4.1 Perilaku pewawancara .......................................................................................24
4.2 Kelompok usia dan jumlah detail ......................................................................25
4.3 Tipe pertanyaan dan jumlah rincian ...................................................................26
BAB III .................................................................................................................. 32
TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 32
3.1 Definisi .........................................................................................................32
3.2 Hak anak menurut Undang-Undang .......................................................... 32
3.3 Epidemiologi ................................................................................................35
3.4 Perkembangan Kognitif Anak-Anak ..........................................................36
3.5 Bentuk-Bentuk Kekerasan Pada Anak .......................................................40
3.5.1 Kekerasan Seksual pada Anak .................................................................41
3.6 Alur Pelayanan Kekerasan Seksual ............................................................43
3.7 Dasar Hukum Kekerasan Kekerasan seksual pada anak ..........................47
3.7.1 Undang-Undang Perlindungan Anak .......................................................47

3
3.7.2 Dasar Hukum Kekerasan Seksual Pada Anak......................................................48
3.8 Peran Kedokteran Forensik Dalam Kasus Kekerasan Seksual:....................49
3.9 Penanganan Korban Kekerasan Seksual Pada Anak-Anak......................................57
3.10 Dampak Kekerasan Seksual Pada Anak-Anak...................................................58
BAB IV...............................................................................................................................................61
PEMBAHASAN..............................................................................................................................61
BAB V.................................................................................................................................................63
PENUTUP..........................................................................................................................................63
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................................64

4
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Tipe pertanyaan.................................................................................................................13


Tabel 2 Deviasi standar dan rerata dari penggunaan pertanyaan berdasarkan tipe dan
subtipe berdasarkan kelompok usia anak..................................................................................20
Tabel 3 Deviasi standar dan rerata dari jumlah jawaban rinci berdasarkan tipe
pertanyaan yang digunakan dan kelompok usia anak...........................................................22
Tabel 4 kelebihan dan kekurangan jurnal pembanding........................................................61

5
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 alur kekerasan pelayanan seksual pada anak.......................................................47


Gambar 2 Posisi pemeriksaan fisik pada anak........................................................................53
Gambar 3 Vaginal Swab.................................................................................................................54
Gambar 4 temuan klinis pada korban kekerasan seksual.....................................................55
Gambar 5 tanda kekerasan Gambar 6 tanda perlawanan pada pelaku............................56

6
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Anak merupakan kelompok yang memerlukan perhatian dalam upaya
pembinaan kesehatan masyarakat, karena mereka akan berperan sebagai calon orang
tua, tenaga kerja, bahkan pemimpin bangsa di masa depan. Dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan anak di Indonesia diperlukan upaya pembinaan
kesehatan anak yang komprehensif dan terarah pada semua permasalahan kesehatan
akibat penyakit maupun masalah lainnya. Kekerasan dan penelantaran anak
mengakibatkan terjadinya gangguan proses pada tumbuh kembang anak.
Kekerasan pada anak menurut keterangan WHO dibagi menjadi lima jenis,
yaitu kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan emosional, penelantaran anak,
eksploitasi anak. Di Indonesia kasus kekerasan seksual setiap tahun mengalami
peningkatan, korbannya bukan hanya dari kalangan dewasa saja sekarang sudah
merambah ke remaja, anak- anak bahkan balita. Dan yang lebih tragis lagi pelakunya
adalah kebanyakan dari lingkungan keluarga atau lingkungan sekitar anak itu berada,
antara lain di dalam rumahnya sendiri, sekolah, lembaga pendidikan, dan lingkungan
sosial anak.
Anak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap kekerasan seksual
karena anak selalu diposisikan sebagai sosok lemah atau yang tidak berdaya dan
memiliki ketergantungan yang tinggi dengan orang-orang dewasa di sekitarnya.
Hampir dari setiap kasus yang diungkap, pelakunya adalah orang yang dekat korban.
Tak sedikit pula pelakunya adalah orang yang memiliki dominasi atas korban, seperti
orang tua dan guru.
Dalam upaya pembuktian hukum bahwa telah terjadi tindak pidana kekerasan
seksual, maka dalam hal ini Ilmu Kedokteran Forensik sangat berperan dalam melakukan
pemeriksaan dan untuk memperoleh penjelasan atas peristiwa yang terjadi secara medis.
Kekerasan seksual pada anak adalah pelanggaran moral dan hukum, serta melukai secara
fisik dan psikologis. Maka dari itu, hal yang penting dilakukan adalah memberikan
pendidikan seksual atau pendidikan kesehatan reproduksi bagi anak-anak

7
sedini mungkin, perlu dilakukan oleh orangtua dan pihak sekolah agar anak tidak
mendapatkan informasi yang salah dari teman, internet, maupun media lainnya.

1.2. Perumusan Masalah


• Apakah yang dimaksud dengan kekerasan seksual pada anak-anak
• Bagaimana bentuk-bentuk kekerasan seksual pada anak-anak
• Peraturan apa yang mengatur perlindungan terhadap kekerasan seksual
pada anak-anak
• Bagaimanakah mengetahui tanda-tanda kekerasan seksual pada anak
• Bagaimana peran kedokteran forensic dalam kasus kekerasan seksual
pada anak-anak
• Bagaimanakah dampak yang terjadi pada anak korban kekerasan seksual

1.3. Tujuan dan Manfaat


1.3.1. Tujuan

Mengetahui teknik wawancara forensik pada anak terduga korban kekerasan seksual.

1.3.2. Manfaat

1. Memberikan informasi yang bermanfaat untuk mengembangkan dan


meningkatkan pengetahuan tentang tanda-tanda kekerasan seksual terhadap
anak serta tanda-tanda psikologisnya.
2. Untuk menambah wawasan tentang ilmu kedokteran forensik, khususnya
tentang kekerasan seksual pada anak-anak dan bagaimana cara menangani
kasus tersebut

8
BAB II

JURNAL

Kekerasan Seksual dan Anak Usia Prasekolah: Detail Forensik Mengenai Tipe
Pertanyaan
Karine Gagnon, Mireille Cyr
Department of Psychology, University of Montreal, Canada

Abstrak
Penelitian ini mencari tahu hubungan antara jenis pertanyaan-pertanyaan yang
digunakan oleh pewawancara dan laporan yang didapatkan dari anak-anak prasekolah
dalam wawancara investigasi. Aspek inovatif dari penelitian ini berkaitan dengan analisis
subtype pertanyaan-pertanyaan (contoh: pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup).
Analisis perbedaan dilakukan pada 55 protokol wawancara National Institute of Child
Health and Human Development (NICHD) yang dilakukan pada anak-anak usia tiga
sampai lima tahun yang mengakui adanya sebuah episode kekerasan seksual. Temuan-
temuan menunjukan bahwa gaya wawancara pemeriksa sesuai dengan praktik terbaik
dalam melakukan wawancara investigasi dengan anak-anak yang diduga menjadi korban
kekerasan seksual. Sesuai dugaan, terdapat lebih banyak detail dalam jawaban yang: 1)
dikemukakan oleh anak besar dibandingkan dengan anak yang lebih muda; 2) didapat
dari ajakan dibandingkan dengan semua tipe pertanyaan lain. Namun, analisis subtype
pertanyaan menunjukkan bahwa jawaban yang diberikan dari pertanyaan terbuka yang
menggunakan isyarat (ajakan berisyarat atau pertanyaan terbuka yang terarah) didapatkan
lebih banyak detail mengenai insiden dibanding dengan tanpa isyarat (ajakan umum).
Temuan ini mendukung fakta bahwa anak-anak berumur tiga tahun mampu memberikan
respon yang informatif ketika ditanya secara tepat mengenai insiden kekerasan seksual
pada anak, serta menyarankan pertimbangan tipe pertanyaan yang sebaiknya banyak
digunakan pada mereka. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan pertanyaan terbuka,
menggunakan isyarat yang telah disebutkan sebelumnya dalam kesaksian anak tersebut,
membantu memberikan laporan rinci

9
selama wawancara investigasi yang dilakukan pada anak usia prasekolah yang diduga
sebagai korban kekerasan seksual.

1. Pendahuluan
1.1 Tantangan mewawancara anak-anak
Karena anak biasanya merupakan saksi satu-satunya dalam sebuah episode
kekerasan seksual, wawancara investigasi yang dilakukan pada anak tersebut sering
menjadi satu-satunya cara yang dapat diandalkan untuk mengumpulkan informasi untuk
memutuskan apakah dugaan kekerasan seksual dinilai mempunyai dasar. Dalam konteks
ini, akurasi dan jumlah rincian yang didapatkan dari ingatan anak menjadi sangat penting.
Banyak penelitian kontrol dan lapangan telah memeriksa variable-variabel tersebut
(Brown et al., 2013; Goodman & Melinder, 2007; Saywitz,Lyon, & Goodman, 2011) dan
terdapat kesepakatan dalam literature mengenai praktik terbaik dalam wawancara
investigasi yang didesain untuk anak-anak yang diduga menjadi korban kekerasan
seksual (Lamb, Hershkowitz, Orbach, & Esplin, 2008; Lyon,2010; Saywitz & Camparo,
2009; Thakkar, Jaffe, & Vander Linden, 2015).
Contohnya, pertanyaan terbuka ditunjukkan dapat memberikan laporan yang
lebih rinci, akurat, dan koheren dibandingkan dengan pertanyaan yang tertutup dan
sugestif pada anak usia prasekolah dan sekolah, meskipun performa anak yang lebih
muda pada tiga variable ini pada umumnya lebih buruk daripada anak yang lebih tua
(Feltis, Powell, Snow, & Hughes-Scholes, 2010; Hershkowitz, Lamb, Orbach, Katz,
& Horowitz, 2012; Lamb et al.,2003; Orbach et al., 2000; Lyon, 2014; Snow, Powell,
& Murfett, 2009). Namun, sulit bagi pemeriksa untuk mempertahankan penggunaan
cara yang terbaik terutama pada anak muda, seperti yang diobservasi dalam dua
penelitian di Kanada yang melaporkan penggunaan pertanyaan tertutup yang terlalu
banyak dan penggunaan pertanyaan terbuka yang terlalu sedikit (Luther, Snook,
Barron, & Lamb, 2014; Roberts & Cameron,2015).
Penelitian lain juga mengobservasi penggunaan pertanyaan terarah jelas lebih
baik daripada ajakan yang terbuka (Andrews,Lamb, & Lyon, 2015; Yi, Lamb, & Jo,
2014). Pertanyaan tertutup membatasi pengingatan kembali secara spontan mengenai
kejadian yang dialami anak, serta mengurangi jumlah informasi yang dilaporkan (Lyon,
2014; Snow et al., 2009). Lebih lagi, pertanyaan jenis ini meningkatkan sugesti

10
anak-anak, dan membuat mereka lebih mungkin untuk memberikan jawaban
meskipun mereka tidak mengetahui jawabannya atau ketika mereka tidak mengerti
pertanyaannya (Peterson, Dowden, & Tobin, 1999; Walker, 2013; Waterman, Blades,
& Spencer, 2000). Pewawancara dapat menemui kesulitan untuk beradaptasi dengan
status perkembangan anak (Marchant, 2013; Olafson& Kenniston, 2008; Walker,
2013).
Pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda dan pertanyaan yang sugestif sering
digunakan ketika mewawancara anak usia prasekolah, dan bahasa sederhana sesuai
dengan yang disarankan tidak digunakan (contoh: pertanyaan terlalu panjang dan rumit,
rujukan yang ambigu, dll.) (Korkman, Santtila, Drzewiecki, & Kenneth Sandnabba, 2008;
Powell & Snow, 2007). Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi tipe pertanyaan
yang banyak digunakan oleh pewawancara ketika mereka melakukan wawancara
investigasi dalam konteks kekerasan seksual pada anak usia prasekolah, dan
mengidentifikasi pertanyaan yang kemungkinan besar dapat memberikan jawaban yang
berkualitas, diukur dari lebih banyaknya rincian yang didapatkan.

1.2. Kemampuan anak usia prasekolah untuk memberikan kesaksian


Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa anak usia prasekolah cenderung
untuk tidak mengungkapkan episode kekerasan seksual dan ketika ada saatnya
mereka mengungkapkan hal tersebut, jumlah rincian yang didapatkan lebih sedikit
dan laporannya secara umum kurang koheren dan kurang kompleks dibandingkan
dengan laporan yang diberikan oleh anak yang lebih besar (Hershkowitz, Horowitz,
& Lamb, 2005; Lamb et al., 2003, 2008; Orbach & Lamb, 2007). Namun, ketika anak
usia prasekolah mengungkapkan sebuaah episode dalam wawancara investigasi, lebih
dari 80% dari mereka melakukannya melalui pertanyaan terbuka (Lamb et al., 2008).
Riset menunjukkan bahwa pada kekerasan seksual pada anak berusia tiga
tahun, anak dapat memberikan laporan yang pendek dan akurat mengenai kejahatan
yang mereka alami (Hershkowitz et al., 2012; Lamb et al., 2003, 2008; Marchant,
2013; Walker,2013). Di antara anak usia tiga sampai lima tahun, pertanyaan terbuka
dan pertanyaan terarah (terutama: siapa, apa dimana) harus lebih diutamakan daripada
pertanyaan ya/tidak, karena akan memberikan jawaban yang lebih akurat (Peterson et
al., 1999; Walker, 2013;Waterman et al., 2000). Namun, dalam menjawab pertanyaan

11
terbuka, anak yang sangat muda secara umum memberikan laporan yang sangat
pendek, sehingga meningkatkan tantangan dalam investigasi (Marchant, 2013).

1.3 Tipe pertanyaan dan jumlah rincian yang diperoleh


Para peneliti telah membuat beberapa kategori pertanyaan yang digunakan
oleh pewawancara untuk melihat hubungan antara jumlah rincian yang dilaporkan,
tipe pertanyaan yang digunakan dan usia anak-anak. Oleh sebab itu, definisi dari tipe
pertanyaan bervariasi antara peneliti. Namun, definisi-definisi yang luas ini meliputi
perbedaan antara artikel yang dikutip di bagian ini. Pertanyaan terbuka (ajakan dan
pertanyaan terbuka terarah) akan membuat anak memberikan respon yang lengkap
dan spontan menggunakan ingatannya, sementara pertanyaan tertutup (pertanyaan
tertutup terarah dan pertanyaan yang memberikan opsi) bertujuan untuk menemukan
informasi spesifik yang diberikan dengan hanya beberapa kata dan menggunakan
memori pengenalan. Pertanyaan sugestif diklasifikasikan secara terpisah karena
pertanyaan tersebut dapat mengurangi akurasi respon, sehingga perlu dihindari. Lihat
definisi lebih lanjut dan contoh di tabel 1.

1.3.1. Pertanyaan terbuka: ajakan.


Beberapa penelitian yang dilakukan mengenai kekerasan seksual pada anak
dengan sampel anak usia sekolah dan anak-anak prasekolah menunjukkan bahwa
laporan yang rinci dari anak-anak tersebut meningkat seiring bertambahnya usia
untuk semua jenis pertanyaan, namun pertanyaan terbuka, seperti ajakan, umumnya
membantu memberikan laporan kejadian yang lebih baik (Feltis dkk., 2010;
Hershkowitz et al., 2012; Lamb et al., 2003; Snow et al., 2009). Jenis pertanyaan ini
menghasilkan hampir setengah dari rincian dalam sampel kekerasan seksual pada
anak berusia empat sampai delapan tahun (Lamb et al., 2003).
Pada usia empat tahun, penggunaan ajakan tampaknya lebih tepat dibanding
dengan jenis pertanyaan lainnya, karena mereka memberikan banyak informasi
(Lamb et al., 2003). Hershkowitz et al. (2012) mendapat hasil yang sama di antara
sampel kekerasan seksual pada anak, usia tiga sampai enam tahun. Keefektifan ajakan
bagaimanapun berbeda berdasarkan dengan usia: ajakan lebih unggul daripada jenis
pertanyaan lainnya hanya untuk anak berusia lima dan enam tahun. Peneliti

12
menyarankan bahwa mungkin ada ambang perkembangan yang dimulai pada usia
lima tahun untuk mendapatkan deskripsi rinci tentang kejadian setelah ajakan, yang
bertentangan dengan temuan Lamb dkk (2003) yang menunjuk pada asosiasi ini pada
anak-anak berumur empat tahun.

1.3.2. Perbedaan beberapa tipe ajakan


Ada tiga subtype pertanyaan mengajak yang terbuka: ajakan umum, ajakan
berisyarat, dan ajakan bersegmentasi waktu (lihat table 1). Lamb et al (2003) telah
mengobservasi hubungan antara subtype ajakan dan jumlah laporan rinci yang
didapatkan. Hasil menunjukkan bahwa anak berusia empat tahun memberikan lebih
sedikit laporan dibanding anak usia lebih tua jika menggunakan ajakan umum, dan
jumlah laporan rinci yang didapatkan dengan ajakan berisyarat meningkat dengan usia.

Tabel 1 Tipe pertanyaan

Tipe pertanyaan Definisi Contoh


Ajakan Fokus pada recall kejadian “Ceritakan semua yang terjadi dari
awal sampai akhir”
Ajakan umum Pertanyaan paling terbuka, tidak “Ceritakan lebih banyak tentang
menuntun laporan kejadian kejadian itu”
“Lalu apa yang terjadi?”
Ajakan berisyarat Bertujuan mendapatkan “Tadi kamu menyebutkan tentang
informasi lebih banyak mengenai tangannya yang menyentuh perutmu,
hal yang telah disebut oleh anak coba ceritakan lebih banyak tentang
dengan menggunakan isyarat itu.”
Ajakan Mengisolasi rentang waktu “Ceritakan semua hal yang terjadi
bersegmentasi waktu spesifik seperti yang dilaporkan mulai dari saat ia masuk ke ruangan
oleh anak untuk mendapatkan sampai ia menyentuhmu.”
informasi yang lebih lengkap
Terarah Mendapatkan informasi yang “Siapa, apa, kapan, dimana,
tepat mengenai informasi yang bagaimana (menggunakan petunjuk
dari anak)”

13
telah disebutkan anak
sebelumnya
Terarah tertutup Bertujuan mendapatkan jawaban “Tadi kamu menyebutkan kamu
pendek tentang sebuah topic atau berada di rumah. Lebih tepatnya di
petunjuk tertentu, dengan ruangan mana?”
menggunakan pertanyaan “Apa warna piyama yang kamu
5W+1H kenakan waktu itu?”
Terarah terbuka Membiarkan anak untuk “Bagaimana ia menyentuhmu?”
menjelaskan lebih lanjut secara “Bagaimana sikap tanganmu?”
bebas, dengan menggunakan
pertanyaan 5W+1H
Dengan pilihan Merupakan pertanyaan dengan “Apakah kejadiannya terjadi pada
jawaban pilihan jawaban untuk pagi, siang, sore, malam?”
mengetahui informasi yang “Apakah dia tinggi?”
belum disebut sebelumnya, tanpa
mengharapkan jawaban spesifik
dari anak
Sugestif Pertanyaan ini memaksa sebuah “Dia memaksamu, kan?”
respon dengan arah tertentu, “Ceritakan semua hal yang terjadi
menggunakan informasi yang saat kamu berada di tempat tidur.”
salah atau belum diketahui, dan (anak tidak menyebutkan ia berada di
pengulangan pertanyaan yang tempat tidur sebelumnya)
sama lebih dari dua kali

Pertanyaan tersegmentasi waktu membantu menyusun kejadian secara kronologis dan


dapat digunakan pada anak usia 4 tahun, namun jauh lebih efektif digunakan pada
anak usia delapan tahun. (Lamb et al 2003).

1.3.3. Ajakan atau pertanyaan terarah?


Pertanyaan terarah menuntun jawaban anak dengan meminta anak untuk
klarifikasi informasi melalui pertanyaan seperti “siapa, apa, kapan, dimana,

14
bagaimana” (Lamb et al., 2003). Oleh karena struktur pertanyaan terarah dapat bervariasi
antara pertanyaan tertutup dan bertanyaan terbuka (lihat table 1), klasifikasinya dalam
kategori-kategori tertentu dapat ambigu (Lyon, 2014). Penemuan akhir-akhir ini dari
Andrews, Ahern, Stolzenberg dan, Lyon mengemukakan analisis yang serupa mengenai
klasifikasi pertanyaan terarah dan ajakan ini.
Produktivitas dari berbagai tipe pertanyaan terarah (dengan 5W+1H) dibuat
perbandingannya. Pertanyaan terarah yang paling terbuka memberikan rincian paling
banyak dari anak usia sekolah, dibanding dengan tipe lain dari pertanyaan terarah.
Penemuan ini dapat berhubungan dengan kemiripan dari informasi yang diminta
melalui pertanyaan terarah yang paling terbuka (“apa yang telah terjadi?”) dan ajakan
secara umum (“beritahu semua hal yang terjadi dari awal sampai akhir”).
Karena itu, penemuan ini menegaskan adanya fluktuasi dari jumlah laporan rinci
yang dikeluarkan yang berhubungan dengan subtype pertanyaan terarah, serta kemiripan
antara pertanyaan terarah yang sangat terbuka dan ajakan. Dari perspektif berbeda, ketika
banyaknya laporan rinci yang diberikan dilihat sebagai fungsi pengukur dari tipe
pertanyaan, pertanyaan terarah menempati urutan kedua. Pertanyaan jenis tersebut
menghasilkan laporan rinci yang lebih banyak daripada pertanyaan tertutup ya/tidak atau
pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda (Andrews, Ahern, Stolzenberg, & Lyon,2016;
Hershkowitz et al., 2012; Lamb et al., 2008).
Sebagai perbandingan, penelitian lain menunjukkan bahwa pertanyaan terarah
lebih efektif untuk mendapatkan laporan yang lebih rinci dari anak-anak. Penelitian
Korkman et al. (2008) yang dilakukan pada anak-anak usia tiga sampai delapan tahun
menunjukkan bahwa fasilitator dan pertanyaan terarah atau sugestif memberikan
lebih banyak laporan rinci dibandingkan dengan ajakan atau pertanyaan dengan
pilihan jawaban. Hipotesis perkembangan mengenai peningkatan banyaknya laporan
rinci sebagai fungsi pembanding kelompok usia (prasekolah dan sekolah) juga
ditentang. Hershkowitz et al. (2012) mengobservasi adanya interaksi dimana anak-
anak berusia tiga dan empat memberikan laporan yang sama banyaknya setelah diberi
pertanyaan terarah dan ajakan, sementara anak-anak berusia lima dan enam tahun
memberikan laporan yang lebih rinci setelah diberikan ajakan dibanding tipe
pertanyaan lainnya, termasuk pertanyaan terarah.

15
Oleh karena pertanyaan terarah lebih tepat sasaran dibandingkan ajakan
menyangkut informasi spesifik yang dicari, peneliti meyakini bahwa hal ini dapat
menjelaskan mengapa anak-anak usia tiga dan empat tahun memberikan jawaban
yang lebih baik, mempertimbangkan tingkatan perkembangan kognitif mereka
(Hershkowitz et al.,2012). Kesimpulannya, penelitian-penelitian yang telah dilakukan
sampai sekarang telah memeriksa hubungan antara tipe pertanyaan yang digunakan
pewawancara dan banyaknya laporan rinci yang diberkan oleh anak-anak, namun
belum ada yang menggali hubungan ini pada kelompok usia prasekolah (anak-anak
usia tiga sampai lima tahun) secara khusus.
Lebih lagi, terdapat ketidakpastian mengenai tipe pertanyaan yang
memberikan laporan lebih lengkap pada anak usia prasekolah. Meskipun ajakan dan
pertanyaan terarah mungkin dapat memberikan jawaban yang lebih lengkap daripada
pertanyaan tertutup, efektivitasnya belum pernah diteliti. Ajakan berisyarat dan
pertanyaan terarah juga dapat membantu anak usia muda untuk menjawab pertanyaan
dengan lebih baik. Ada kemungkinan juga ajakan berisyarat lebih mirip dengan
pertanyaan terarah terbuka, namun sampai saat ini belum ada penelitian yang
membedakan subtype pertanyaan terbuka dan tertutup terarah pada anak usia sekolah
yang menjadi korban kekerasan seksual.

1.4. Tujuan penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa perilaku pewawancara dalam konteks
investigasi nyata dengan anak-anak korban kekerasan seksual usia tiga sampai lima
tahun, dan untuk meneliti hubungan antara tipe pertanyaan yang digunakan dengan
banyaknya laporan rinci yang diberikan selama wawancara. Untuk mencapai tujuan ini,
banyaknya informasi yang diberikan anak-anak akan dianalisis berdasarkan empat tipe
pertanyaan yang digunakan oleh pewawancara (ajakan, terarah, dengan pilihan jawaban,
dan sugestif), tiga subtype ajakan (biasa, berisyarat, bersegmentasi waktu) dan dua
subtype pertanyaan terarah (pertanyaan terbuka dan tertutup).
Mengenai tipe pertanyaan, ada beberapa hal yang diperkirakan akan terjadi
dalam penelitian seperti: 1) jumlah informasi yang didapatkan dari ajakan dan
pertanyaan terarah akan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan menggunakan
pertanyaan dengan pilihan jawaban dan pertanyaan sugestif; 2) anak usia lima tahun

16
akan memberikan laporan lebih rinci apapun jenis pertanyaan yang digunakan,
dibandingkan dengan anak usia bawah lima tahun; 3) akan ada efek interaksi antara
usia dan tipe pertanyaan; anak usia tiga tahun akan melaporkan kejadian secara lebih
rinci jika diberikan pertanyaan terarah daripada ajakan, sementara ajakan akan
membantu anak usia lima tahun untuk memberikan laporan lebih rinci daripada
pertanyaan terarah. Menyangkut subtype pertanyaan, beberapa hal diperkirakan akan
terjadi, terlepas dari usia anak, seperti: 1) laporan akan didapat lebih sedikit jika
digunakan pertanyaan tertutup terarah dibandingkan pertanyaan terbuka; 2) laporan
yang didapat dari pertanyaan terarah terbuka dan ajakan akan sama banyaknya.

2. Metode
2.1 Partisipan dan perekrutan
Secara keseluruhan, 55 partisipan berusia 3 sampai 5 tahun dipilih dari korban
pelecehan seksual anak yang telah menyelesaikan sebuah wawancara investigasi
menggunakan protokol National Institute for Child Health and Human Development
(NICHD) yang sedikitnya terungkap satu kejadian pelecehan seksual. Sampel penelitian
ini terdiri dari 65% anak perempuan dan 35% anak laki-laki, dengan usia rata-rata adalah
4.2 tahun (SD = 0,8). 53% yang diduga korban melaporkan satu kejadian, 43%
melaporkan lebih dari satu kejadian, dan 4% tidak memberikan cukup rincian untuk
menyimpulkan apakah ada satu atau beberapa peristiwa. Angka kejadian pelecehan dalam
keluarga inti (keluarga dekat) adalah 44%, dan proporsi pelecehan di luar keluarga inti
(keluarga besar, kenalan dan lainnya) adalah 56%. Bentuk pelecehan yang dilaporkan
beragam mulai dari eksibiosionisme (n = 1), menyentuh di atas pakaian (n = 15),
menyentuh di dalam pakaian (n = 19), oral seks atau penetrasi (n = 20). Secara
keseluruhan, 11% anak melaporkan adanya kekerasan (ditahan, disita, atau dilanda).
Mayoritas pelaku adalah laki-laki (89%), 9% adalah perempuan, dan satu tidak diperinci
dalam wawancara. Pelaku rata-rata berusia 32,5 tahun (SD = 15,4).

2.2 Prosedur
Semua wawancara investigasi NICHD dilakukan oleh petugas polisi yang
terlatih di kota besar. Pada saat perekrutan, orang tua terduga korban menandatangani
sebuah formulir persetujuan yang memberi wewenang kepada tim peneliti untuk

17
memiliki akses rekaman wawancara. Wawancara kemudian ditranskripsikan dan
semua informasi pribadi dihapus untuk memastikan anonimitas dan kerahasiaan.
Analisis data difokuskan pada bagian deklaratif wawancara, yaitu bagian dimana
penyidik mencoba memperoleh informasi mengenai dugaan pelecehan seksual anak,
sehingga tidak termasuk bagian pertama dari wawancara yang bertujuan untuk
menetapkan peraturan dasar dan aliansi. Koding dilakukan oleh mahasiswa
pascasarjana yang menyelesaikan pelatihan koding wawancara NICHD sehingga
mereka dapat melakukan: 1) mengidentifikasi jenis pertanyaan yang digunakan oleh
pewawancara; 2) mengidentifikasi jumlah rincian yang dilaporkan oleh anak-anak.
Koding antar penilai dilakukan pada 20% pewawancara untuk menguji keandalan.
Korelasi 0,98 untuk jumlah rincian dan 0,99 untuk jenis pertanyaan.

2.3 Ukuran
2.3.1 Koding wawancara.
Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari penilaian
manual NICHD versi Prancis (Versi asli oleh Lamb et al., 1996; Orbach et al., 2000;
versi Prancis oleh Cyr, Dion, Perreault, & Richard, 2002). Koding ini memungkinkan
kategorisasi jenis pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara, serta jumlah rincian
yang diberikan oleh anak-anak. Diantara enam kategori yang menggabungkan
pernyataan pewawancara, dua di antaranya dikecualikan (fasilitator dan rangkuman),
karena tujuan mereka terutama mendorong anak untuk terus berbicara daripada
menemukan informasi spesifik.
Keempat kategori yang tersisa (lihat Tabel 1): 1) pertanyaan ajakan yang
bertujuan untuk mengadakan recall kembali kejadian oleh anak (terdiri dari tiga
subtipe); 2) pertanyaan direktif yang mencari informasi lebih lanjut tentang bagian
yang telah disebutkan sebelumnya oleh anak (terdiri dari dua subtipe); 3) pertanyaan
pilihan yang memusatkan perhatian anak pada bagian yang dia tidak menyebutkan
dedngan menggunakan pilihan ganda atau pertanyaan ya atau tidak, tanpa
mengharapkan jawaban yang spesifik dan 4) pertanyaan sugestif yang membimbing
jawaban anak terhadap jawaban yang diharapkan atau mengenalkan informasi yang
belum disebutkan oleh anak-anak. Subtipe pertanyaan ajakan (umum, isyarat,

18
segmentasi waktu) dan pertanyaan direktif (terbuka dan tertutup) juga dikategorikan
(Tabel 1).
Sementara setiap subtipe pertanyaan ajakan memungkinkan anak tersebut
muncul dengan jawaban menggunakan ingatan bebasnya, mereka semua
menjalankannya secara berbeda. Pertanyaan umum, merupakan subtipe yang paling
terbuka, mendorong anak untuk lebih jauh menjelaskan tanpa membimbing
jawabannya; pertanyaan isyarat bertujuan untuk memberikan informasi lebih lanjut
dengan menggunakan petunjuk yang telah disebutkan sebelumnya oleh anak dan
pertanyaan segmentasi waktu bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak informasi
dari bagian tertentu dari kejadian yang dilaporkan oleh anak tersebut.
Pertanyaan direktif juga menggunakan isyarat yang telah disebutkan
sebelumnya oleh anak tersebut, tetapi dengan cara yang lebih sempit daripada
pertanyaan ajakan yang diajukan: pertanyaan direktif tertutup bertujuan untuk
memberikan jawaban singkat mengenai suatu topik atau petunjuk khusus, sementara
pertanyaan direktif terbuka memungkinkan anak untuk menjelaskan secara bebas apa
yang sedang dicari. Banyaknya rincian yang diperoleh melalui jawaban anak dihitung
sesuai dengan pedoman yang diberikan dalam koding. Sebuah rincian didefinisikan
sebagai kata atau sekelompok kata yang mengidentifikasi atau menggambarkan
orang, objek, tindakan atau kejadian yang terkait dengannya kejadian pelecehan
seksual dihitung hanya jika itu baru dan jika itu memungkinkan pemahaman yang
lebih baik tentang kejadian tersebut. Akhirnya, karakteristik data pelecehan juga
dikumpulkan selama penyelidikan (misal jenis pelecehan seksual, durasi, hubungan
dengan pelaku, dll.).

19
Tabel 2 Deviasi standar dan rerata dari penggunaan pertanyaan berdasarkan tipe dan
subtipe berdasarkan kelompok usia anak

3. Hasil
3.1 Variabel kontrol dan transformasi data
Sebelum melakukan analisis statistik, variabel dependen ditransformasikan
untuk mendapatkan rincian untuk setiap jenis pertanyaan, untuk mengendalikan
panjang dan jumlah pertanyaan yang bervariasi yang diajukan di setiap wawancara.
kovariabel berpotensi dikaitkan dengan amplitudo hubungan antara variable
independen dan variabel dependen diverifikasi menggunakan analisa korelasi. Tidak
ada korelasi yang signifikan antara variabel anak (jenis kelamin, kesulitan tertentu,
jenis pelecehan seksual, jumlah pelecehan seksual, adanya kekerasan), variabel
pelaku (usia, jenis kelamin, hubungan dengan korban), atau variabel lainnya
(pemeriksaan kesehatan, kepercayaann orang tua terhadap anak).
Usia anak tidak diperhitungkan dalam analisis karena tujuannya adalah untuk
mendapatkan data spesifik tentang jumlah rincian yang diberikan oleh anak-anak di
masing-masing dari tiga kelompok umur. Dalam analisis statistik, transformasi
logaritmik dilakukan pada variabel dependen untuk menormalisasikan distribusinya.
Untuk setiap ukuran diulang dengan ANOVA, hasil Greenhouse-Geisser dilaporkan
sebagai koreksi atas pelanggaran sferisitas seperti yang ditunjukkan oleh tes Mauchly.

20
3.2 Perilaku pewawancara selama penyelidikan
Ukuran ANOVA yang pertama diulang (Usia x Pertanyaan) dilakukan sebagai alat
untuk menilai jenis pertanyaan (ajakan, direktif, pilihan, sugestif) yang lebih sering
digunakan oleh pewawancara tergantung pada usia anak-anak prasekolah (lihat tabel 2).
Usia anak tidak secara signifikan terkait dengan variasi jenis pertanyaan yang digunakan
F (4,68, 121,56) = 0,44, p = 0,852. Temuan bagaimanapun mengungkapkan bahwa
penggunaan berbagai jenis pertanyaan secara signifikan bervariasi F (2.34, 121.56) =
81,49, p = 0,001 dan itu berpengaruh besar (R2 = 0,61). Hasil dari analisis post-hoc
mengungkapkan bahwa pewawancara cenderung jarang menggunakan pertanyaan
sugestif dibandingkan dengan pertanyaan ajakan, pertanyaan direktif dan pertanyaan
pilihan (semua di: p <0,001). Selain itu, mereka juga menggunakan lebih sedikit
pertanyaan pilihan daripada pertanyaan direktif (p = 0,008).
Pengukuran ulang kedua ANOVA (Usia x Pertanyaan) dilakukan untuk
mengukur perbedaan penggunaan lima subtipe pertanyaan (ajakan umum, ajakan
isyarat, undangan segmentasi waktu, direktif terbuka dan tertutup) berdasarkan usia
anak-anak (lihat Tabel 2). Sekali lagi, tidak ada pencatatan efek utama dari umurn F
(6,41, 166,58) = 0,91, p = 0,494. Namun hasilnya menunjukkan perbedaan yang
signifikan dalam penggunaan kelima subtipe pertanyaan: F (3,20, 166,58) = 48,18, p
= 0,001 dan ini adalah efek yang besar (R2 = 0,48).
Analisis post-hoc menunjukkan hal itu pewawancara menggunakan
pertanyaan ajakan tipe segmentasi waktu lebih sedikit secara signifikan dibandingkan
dengan jenis pertanyaan lainnya. Selain itu, pertanyaan ajakan isyarat lebih jarang
digunakan daripada pertanyaan ajakan umum dan pertanyaan direktif terbuka dan
tertutup (masing-masing: p = 0,003; p = 0,008; p = 0,012). Akhirnya, ANOVA
univariat dilakukan untuk menguji apakah ada perbedaan total jumlah pertanyaan
yang diajukan oleh pewawancara dalam kaitannya dengan kelompok umur dan
menghasilkan hasil non-signifikasi F (2, 52) = 1,11, p = 0,337.

21
Tabel 3 Deviasi standar dan rerata dari jumlah jawaban rinci berdasarkan tipe
pertanyaan yang digunakan dan kelompok usia anak.

3.3 Jumlah total di bagi menurut usia


Pengumpulan data menggunakan univariate ANOVA digunakan untuk
memverifikasi jumlah detail untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan
kelompok usia. Hasil signifikan didapatkan F(2,52) = 11,03 p = 0,001 dan
2
mengungkapkan efek besar (R = 0,55). Sesuai ekpektasi anak usia 5 tahun memberikan
infirmasi lebih detail dibandingkan dengan anak usia 4 tahun (respectively
: p < 0.001, p = 0.001). Namun tidak ada perbedaan signifikan antara anak usia 3
tahun dan 4 tahun (p = 0.763)

3.4 Detail jumlah antara hubungan tipe dan subtype pertanyaan dengan usia
Untuk memeriksa hubungan antara jenis pertanyaan (mengajak, langsung,
memberikan pilihan, saran) dengan penghitungan menggunakan ANOVA (usia x
pertanyaan) telah di kumpulkan (lihat table 3). Temuan menunjukkan bahwa jumlah
rincian yang diperoleh bervariasi sebagai fungsi pertanyaan yang diajukan F(2,04,
106.25) – 20.60, P <0,001. Jenis pertanyaan “mengajak” menghasilkan jawaban lebih
detail dibandingkan tipe pertanyaan lainnya. Diikuti peetanyaan secara langsung yang
menghasilkan jawaban lebih detail dibandingkan dengan pertanyaan jenis “option-
posing” dan “saran” (keduanya p , 0,001). Tidak ada perbedaan signifikan antara hasil

22
pertanyaan menggunakan “option posing “ dan jenis pertanyaan “saran” ( P = 0, 163).
Usia tidak berhubungan dengan jenis pertanyaan yang ditanyakan oleh penanya
F(4,09. 106.25) = 2,13. P= 0,081. Bagaimanapun, dari hasil keseluruhan anak usia 5
tahun memberikan jawaban lebih detail dibandingkan dengan anak usia 3 dan 4 tahun
(P = 0,003, P = 0,004).
Sedangkan untuk 5 jenis pertanyaan, hasil dari penhitungan menggunakan
ANOVA mengindikasi bahwa jawaban rincian yang diberikan berbeda berdasarkan
subtype pertanyaan F(3.2, 166.15) = 3.22, p = 0,022. Post – hoc analisis
mengungkapkan bahwa “general invitation” dan “time segmen” menghasilkan
jawaban yang kurang detail dibandingkan dengan pertanyaan terbuka (p = 0,02, p =
0,003). Dimana “time segmentation” menghasilkan jawaban lebih detail
dibandingkan dengan pertanyaan terbuka secara langsung (p = 0,045). Tidak ada
hubungan signifikan antara umur dengan jumlah jenis tipe & subtype pertanyaan
yang digunakan oleh orang yang mewawancara f(6,39 , 166.15) = 0.85, p = 0.542.
Disini juga diterangkan bahwa anak usia 5 tahun memberikan jawaban keseluruhan
yang detail dalam respon semua jenis tipe & subtype pertanyaan dibandingkan
dengan anak usia 3 tahun dan 4 tahun. (p = 0.006, p = 0.008)

4. Diskusi
Objek utama yang akan di pelajari adalah untuk lebih memahami perilaku
interviewer di investigasi nyata dalam menghadapi anak kecil pre school dan untuk
menilai apakah ada hubungan antara tipe pertanyaan yang diajukan dengan jawaban
detail yang diberikan oleh anak anak. Aspek inofatif dalam studi ini adalah untuk
membedakan subtype pertanyaan jenis langsung (terbuka dan tertutup) dan
membandingkannya dengan subtype invitation (umum, berisyarat, segmentasi waktu).
Hasil menunjukan bahwa interviewer secara umum mengikuti latihan terbaik saat
melakukan interview investigasi dengan CSA (Hershkowitz et al., 2012; walker,
2013) dan ini kecenderungan tidak memiliki variasi yang berhubungan dengan usia
anak anak.
Namun usia anak dan tipe subtype dari sebuah pertanyaan yang digunakan
berhubungan dengan jumlah informasi yang diberikan oleh anak-anak dalam
wawancara. Penemuan ini mendukung sebuah fakta bahwa walaupun usia anak

23
tersebut 3 tahun bisa memberikan informasi yang pendek namun informatif saat di
wawancara dengan benar mengenai kejadian CSA tersebut dan menyarankan untuk
mempertimbangkan kembali jenis pertanyaan yang seharusnya digunakan oleh yang
mewawancarai.

4.1 Perilaku pewawancara


Di satu sisi dan nilai akurat dalam suatu informasi yang dikumpulkan sangat
penting untuk interview investigasi, namun penemuan dari studi yang dilakukan saat
ini sangat menggelitik. Dengan menggunakan sedikit pertanyaan sugestif
dibandingkan dengan menggunakan tipe pertanyaan lain (ajakan, arahan, pilihan)
sama efektif nya dengan pertanyaan langsung dibanding dengan pertanyaan pilihan.
Investigator telah mendemonstrasikan gaya bertanya yang berhubungan dengan
mengumpulkan data lebih akurat (Peterson et al., 1999; waterman et al., 2000) dan
produktif (Lamb et al., 2008) diantara anak usia pre-school. Terlebih lagi, jenis
pertanyaan seperti ini disarankan oleh penulis yang memikirkan tentang melakukan
interview yang terbaik (lamb et al., 2008,; Lyon, 2010, 2014; orbach et al 2000;
walker, 2013). Sebagai tambahan, penemuan ini memiliki hasil yang kontradiksi
dengan studi yang baru-baru saja dilakukan yang memberikan hasil bahwa Canadian
interviewers lebih sering menggunakan pertanyaan tertutup (Luther et al 2014; Robert
& Cameron, 2015) dimana lebih sering menggunakan jenis pertanyaan pilihan
dibandingkan pertanyaan langsung saat mewawancarai anak-anak.
Perbedaan antara Canadian & Quebec ini akan dijelaskan menurut perbedaan
proses training, dimana semua interviewe dari Quebec dilatih menggunakan NICHD
protocol. Protocol standard tersebut mempromosikan tentang meminimalisir
penggunaan pertanyaan tipe tertutup dan menghindari jenis pertanyaan sugestif dan
lebih menggunakan tipe pertanyaan terbuka (3x lipat) (Benia, Hauck-fillo, Dillenburg
& Stein, 2015; Cyr & Lamb 2009; Lamb et al 2008; La rooey et al 2015 : Orbach et
al 2000). Bagaimanapun, usia anak-anak tidak akan mempengaruhi jumlah
pertanyaan yang akan digunakan oleh pewawancara. Karenanya, interviewer berlatih
wawancara dengan kuranglebih sama dengan anak-anak usia sekolah.
Di sisi lain, pewawancara menggunakan ajakan umum pada anak-anak usia 3
– 5 tahun sesuai dengan rekomendasi, tetapi mereka juga banyak menggunakan

24
pertanyaan terbuka dan tertutup secara langsung untuk menguumpulkan jawaban detail
dibandingkan dengan ajakan berisyarat dan segmentasi waktu. Karenanya, sulit untuk
interviewer menerapkan wawancara yang terbaik ketika mereka menggunakan subtype
pertanyaan yang menggunakan isyarat untuk mendapatkan informasi lebih. Penemuan ini
merupakan kontradiksi (lamb et al. s 2003) dimana Lamb at al menemukan pewawancara
menggunakan ajakan berisyarat lebih sering dibandingkan dengan ajakan umum diantara
anak usia 4,5, dan 8 tahun. Demikian dalam studi jurnal ini, interviewer dari Quebec yang
di latih untuk menggunakan protocol NICHD menggunakan jenis pertanyaan ajakan
untuk mendapatkan informasi, dimana perbedaan kontras dengan studi lain yang jelas
lebih memilih menggunakan tipe pertanyaan langsung dibandingkan dengan ajakan.
(Andrews et al 2015 ; Yi et al 2014)

4.2 Kelompok usia dan jumlah detail


Pertama-tama tidak ada efek interaksi yang signifikan antara usia dan tipe
pertanyaan yang digunakan dengan mengamati detail yang di sediakan, dimana
kontradiksi dengan hipotesis mengenai ambang perkembangan. Awalnya diharapkan
bahwa anak-anak usia 3 tahun akan memberikan informasi lebih detail saat diberikan
pertanyaan langsung dibandingkan dengan “invitation”, dimana anak usia 5 tahun
akan memberikan infomrasi lebih dengan menggunakan tipe pertanyaan “invitation”.
Ada atau tidaknya interaksi antara variable tersebut akan dijelaskan menggunakan
rentang usia. Nyatanya, pada studi yang menemukan efek interaksi yang signifikan
ditemukan pada anak usia lebih tua (3-6 tahun in Hershkowitz et al., 2012, 4 tahun –
8 tahun Lamb, et al., 2003) dibandingkan dengan studi saat ini.
Kedua, seperti yang sudah diharapkan bahwa anak usia 5 tahun memberikan
jawaban yang lebih detail, dan juga respon terhadap semua tipe dan subtype pertanyaan
dibandingkan dengan anak usia lebih muda. Penemuan ini sesuai dengan studi studi yang
sudah dilaporkan di lapangan, dimana penulis mengobservasi secara umum kenaikan dari
jawaban yang lebih detail yang berhubungan dengan kemampuan perkembangan anak-
anak (feltis, Powell, Roberts =, 2011; hershkowitz et al, 2012 . lamb et al., 2003, 2008;
snow et al 2009). Penelitian selanjutnya dibutuhkan, bagaimanapun untuk lebih mengerti
hubungan antara variable-variabel dengan anak

25
usia 3 tahun dan 4 tahun mengingat tidak ada e=perbedaan signifikan antara dua
group usia tersbebut.
Hasilnya, variasi jawaban detail yang dibedakan menurut tipe dan subtype
pertanyaan tidak bisa dijelaskan dengan usia. Karenanya, penemuan-penemuan ini di
diskusikan dengan memikirkan anak usia pre school secara umum, tanpa
mendiskriminasi sesuai dengan kelompok usia.

4.3 Tipe pertanyaan dan jumlah rincian


Hasil menunjukan bahwa tipe pertanyaan berhubungan dengan variasi jumlah
jawaban detail dari anak-anak usia pre school. “invitation” menyebabkan detail yang
signifikan dibandingkan dengan tipe pertanyaan lainnya, yang sesuai dengan
consensus pada literature yang mengindikasi bahwa “invitation” berkontribusi untuk
semua deskripsi yang detail kejadian pada semua anak kecil 9feltis et al., 2010;
hershkowitz et al., 2012; Lamb et al., 2003: Snow et al 2009) Kebalikan dari
penemuan yang dilaporkan oleh (korkman et al. 2008), pertanyaan langsung
menempati tempat kedua setelah ajakan akan tetapi sebelumnya pilihan dan sugestif
dikumpulkan dan kebetulan mensuport penemuan studi lain dengan hasil yang kurang
lebih sama.(Andrews et al., 2016; hershkowitz et al., 2012; Lamb et al., 2008)
Penemuan demikian mengkonfirmasi hipotesis studi saat ini, yang menggunakan
ajakan dan pertanyaan langsung akan mengarah ke jumlah rincian yang detail
dibandingkan dengan pilihan atau sugestif.
Kelihatannya lebih memilih untuk memprioritaskan pertanyaan ajakan dan
terarahuntuk mengumpulkan informasi diantara anak-anak usia pre school yaitu usia
3 tahun, namun bagaimana dengan hasil yang ambigu yang masing-masing efektif.
Hasil menunjukan bahwa ajakan lebih informatif dibanding direktif, hal ini
mensupport rekomendasi dalam interview yang terbaik (Lamb et al., 2008, Lyon,
2010; Olafson & Kenniston, 2008; Orbach et al., 2000; walker, 2013). (lamb et al
2003) Diusulkan untuk menggantikan pertanyaan direktif seperti "siapa, apa, kapan"
dengan pertanyaan ajakan, karena hasil akhir jenis informasi yang didapatkan sama di
antara anak-anak. Sementara struktur protokol wawancara NICHDs sesuai dengan
rekomendasi ini dan dianggap dapat diadaptasi untuk anak-anak prasekolah, analisis
subtipe pertanyaan menunjukkan bahwa klarifikasinya telah terjamin.

26
4.4 Subjek pertanyaan dan jumlah rincian
Aspek inovatif dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi hubungan
antara jumlah rincian jawaban yang diperoleh dari anak-anak dengan subtype
pertanyaan yang digunakan oleh pewawancara yaitu ajakan (umum, isyarat,
segmentasi waktu) atau pertanyaan direktif ( terbuka, dan tertutup). Hipotesis pertama
berdasarkan Hershkowitz dkk. (2012), menyatakan bahwa pertanyaan direktif terbuka
akan menghasilkan jumlah rincian yang sama dibandingkan dengan pertanyaan
ajakan yang bersifat umum atau berisyarat. Hipotesis ini hanya sebagian didukung
dalam penelitian ini. Berlawanan dengan harapan awal kami yaitu pertanyaan direktif
terbuka akan menghasilkan lebih banyak informasi daripada pertanyaan undangan
yang bersifat umum, namun seperti yang diharapkan, tidak berbeda dengan
pertanyaan undangan yang bersifat isyarat.
Dengan kata lain, anak-anak prasekolah yang telah menjadi korban kejahatan
seksual cenderung memberikan lebih banyak informasi jika diberikan pertanyaan
menggunakan teknik pertanyaan terbuka dengan isyarat yang telah disebutkan oleh
anak-anak (pertanyaan ajakan isyarat dan direktif terbuka) dibandingkan dengan
pertanyaan terbuka tanpa isyarat (pertanyaan ajakan umum).
Pertama, temuan ini sesuai dengan hipotesis Hershkowitz dkk (2012),
mengenai adanya kesamaan dari peranan pertanyaan direktif dan undangan yang
bersifat isyarat di kalangan anak-anak dimana perkembangan kognitif yang belum
matang. Pertanyaan- pertanyaan yang lebih terstruktur (seperti pertanyaan direktif
terbuka atau ajakan berisyarat) tampaknya membantu mereka mengidentifikasi
informasi yang diminta sehingga dapat memberikan jawaban yang lebih produktif
(dibandingkan dengan pertanyaan ajakan bersifat umum). Temuan-temuan yang ada
membuat pewawancara harus merumuskan pertanyaan yang lebih spesifik yang berisi
petunjuk sebelumnya yang telah disebutkan oleh anak-anak tersebut. Sebagai contoh:
‘Ceritakan lebih banyak tentang pakaian anda? (pertanyaan ajakan yang bersifat
isyarat)’ atau ‘Apa yang terjadi dengan pakaian anda? (pertanyaan direktif terbuka)’
harus lebih digunakan daripada ‘ Lalu apa yang terjadi? (pertanyaan undangan yang
bersifat umum). Jika anak tidak pernah menyebutkan petunjuk atau isyarat, maka
pertanyaan yang bersifat sugestif harus dihindari (‘Celana anda terbuka kan?’). Untuk

27
mengilustrasikan sebaliknya, inilah contoh dari respon anak kepada pewawancara:
‘Saya berada di kamar Mama saat dia menyentuh perut saya’. Hal ini dapat digunakan
untuk merumuskan pertanyaan selanjutnya.
Menurut pedoman praktik wawancara, disarankan untuk melanjutkan dengan
pertanyaan yang bersifat umum (‘Ceritakan semuanya tentang itu kepada saya’).
Namun, temuan menunjukkan bahwa ada sedikit kemungkinan bahwa anak-anak usia
prasekolah akan memberikan jawaban spesifik untuk jenis pertanyaan tersebut.
Pewawancara sebaiknya memprioritaskan pertanyaan undangan dengan isyarat
(‘Anda menyebutkan bahwa dia menyentuh perut anda, ceritakan semuanya tentang
itu kepada saya’) atau pertanyaan direktif terbuka (‘Bagaimana dia menyentuh perut
anda?’), Namun penelitiannya sekarang tidak diketahui mana yang lebih bermanfaat
untuk mendapatkan lebih banyak informasi.
Meskipun demikian, mengingat pentingnya pewawancara diberikan praktik
wawancara yang koheren, sehingga dapat dipakai secara umum dari anak usia
prasekolah sampai anak usia sekolah maka akan lebih bermanfaat untuk
menggunakan pertanyaan ajakan dengan isyarat. Penelitian ini juga telah
menunjukkan bahwa informasi yang lebih terinci dan akurat bisa didapati pada kedua
kelompok usia ini (Brown dkk, 2013; Lamb dkk, 2003).
Kedua tidak adanya perbedaan yang signifikan antara pertanyaan direktif terbuka
dan ajakan berisyarat dalam mengungkapkan masalah kategorisasi diantara subtipe
pertanyaan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya oleh orang lain. Memang, beberapa
penulis menunjukkan bahwa ada pertanyaan direktif yang direplikasi antara rumusan
terbuka dan tertutup (Lyon, 2014), dan juga kesamaan antara pertanyaan direktif yang
sangat terbuka dan ajakan yang bersifat umum mengenai kemampuan relatif mereka
untuk memberikan rincian (Andrews dkk, 2016). Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut
diperlukan untuk lebih memahami kebingungan tentang peran atau kategorisasi subtipe
pertanyaan undangan dan direktif terkait dengan jumah informasi yang ingin
dikumpulkan di kalangan anak-anak prasekolah.
Akhirnya dalam analisa subtipe pertanyaan menunjukkan bahwa hasil jawaban
jika menggunakan pertanyaan undangan (bersifat umum atau segmentasi waktu) akan
didapatkan rincian yang lebih sedikit atau sama ( bersifat isyarat)dibandingkan dengan
pertanyaan direktif terbuka. Sementara temuan dari Lamb, dkk (2003) menunjukkan

28
bahwa pertanyaan undangan yang bersifat isyarat berhubungan dengan produksi
informasi yang lebih besar dibandingkan dengan jenis pertanyaan undangan lainnya
pada anak umur prasekolah, penelitian ini mengungkapkan hubungan yang serupa
dengan pertanyaan direktif terbuka. Dengan mempertimbangkan kedua penelitian ini,
sulit untuk menentukan kedua subtipe pertanyaan mana yang memberikan informasi
lebih lanjut diantara anak prasekolah. Oleh karena itu penelitian lebih lanjut
diperlukan untuk menjelaskan beberapa mekanisme dasar yang terkait dengan hasil
detail sehubungan dengan pertanyaan direktif terbuka dan undangan berisyarat.
Hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini menyatakan bahwa jumlah
rincian yang diberikan akan lebih rendah pada pertanyaan direktif, dibandingkan
dengan semua subtipe lain dari pertanyaan terbuka. Hipotesis ini hanya sebagian yang
dikonfirmasi karena hanya pertanyaan undangan dengan jenis segmentasi waktu yang
memberikan rincian lebih banyak daripada pertanyaan direktif tertutup. Selain itu,
tidak ada perbedaan yang signifikan antara pertanyaan direktif terbuka dan tertutup.
Temuan ini dapat dijelaskan berdasarkan usia anak-anak yang masih muda dalam
penelitian ini. Oleh karena itu kemampuan mereka untuk menguraikan dan
memberikan jawaban yang terperinci dan kompleks selama wawancara adalah
keterbatasan yang ada dibandingkan wawancara dengan anak yang lebih tua (Lamb
dkk, 2003, 2008; Orbachet dkk, 2000), ini juga menjelaskan mengapa analisis ini
gagal dalam menemukan perbedaan rerata secara statistik untuk macam-macam
subtipe pertanyaan.

4.5. Keterbatasan
Salah satu batasan dari penelitian ini yaitu tidak dapat dipisahkan dari semua
studi lapangan dan ini menyangkut ketidakmampuan untuk memverifikasi keakuratan
informasi yang diberikan oleh CSA selama wawancara investigasi. Keterbatasan lain
menyangkut tidak adanya ukuran untuk menilai perkembangan kognitif dan verbal dari
anak-anak. Memang ada variasi dalam potensi atau kemampuan anak-anak yang tetap
tidak terdeteksi saat dilihat dari segi kelompok umur. Jenis tindakan ini bisa membantu
kita menilai hubungan antara jawaban rinci yang disampaikan dengan tingkat
perkembangan anak-anak secara lebih tepat. Akhirnya dalam analisis yang dilakukan ini
tidak memungkinkan kita untuk membangun hubungan kausal antara variabel.

29
4.6. Implikasi dan arahan untuk penelitian lebih lanjut
Penelitian ini menemukan bukti baru yang belum pernah dipublikasikan
sebelumnya mengenai jenis dan subtipe pertanyaan yang digunakan oleh petugas
polisi di Quebec saat melakukan wawancara investigasi NICHD dengan korban
kekerasan seksual pada anak berusia lima tahun kebawah. Selain itu, analisis
pertanyaan memperkuat pentingnya menggunakan pertanyaan terbuka di kalangan
anak-anak prasekolah untuk mendapatkan informasi lebih rinci (Hershkowitz et al.,
2012; Lamb et al., 2003, 2008), namun juga mengungkapkan bahwa ada beberapa
ketidakpastian mengenai subtipe dari pertanyaan terbuka yang akan digunakan
(ajakan umum, ajakan berisyarat atau pertanyaan terbuka terarah), yang sesuai dengan
pengamatan yang dicatat dalam penelitian lain di lapangan (Andrews et al., 2016;
Hershkowitzet al., 2012).
Mengingat bahwa praktik terbaik dalam wawancara investigasi saat ini
didasarkan pada sampel termasuk anak usia sekolah, perlu mempertimbangkan
kembali rekomendasi untuk menggunakan ajakan umum sebagai prioritas saat
menyelidiki kasus kekerasan seksual pada usia prasekolah. Pada usia ini, hasil
menunjukkan bahwa ini merupakan pertanyaan petunjuk terbuka dan ajakan dapat
menghasilkan rincian lebih lanjut tentang insiden tersebut. Dengan demikian,
penelitian ini harus direplikasi untuk didokumentasi dan dipahami secara lebih baik
bagaimana menyesuaikan rekomendasi ini sesuai kebutuhan khusus anak-anak
prasekolah.
Penelitian lebih lanjut juga diperlukan agar lebih memahami: 1) apa perbedaan
antara ajakan berisyarat dan pertanyaan terarah terbuka di kalangan anak prasekolah 2)
apakah kemiripan kedua jenis pertanyaan ini memiliki arti adanya masalah kategorisasi
subtipe pertanyaan atau perbedaan perkembangan antara anak-anak prasekolah dan anak-
anak usia sekolah? Penelitian selanjutnya juga harus memperhatikan kualitas
pengungkapan dari anak, seperti yang biasanya terukur dengan jumlah rincian yang
diberikan. Namun, cara mengukur kualitas ini terbatas karena tidak memungkinkan untuk
mengetahui apakah anak tersebut menjawab pertanyaan dengan benar, yaitu jika ia
memberikan informasi yang diharapkan oleh pewawancara.

30
Dengan kata lain, fakta bahwa beberapa anak memiliki kesulitan menjawab
pertanyaan bisa jadi karena jenis isi pertanyaan (misalnya, deskripsi orang, lokasi,
pakaian) atau kombinasi antara jenis konten dan jenis pertanyaan. Mengukur
konkordansi antara konten pertanyaan dan konten jawaban dapat membantu kita
memahami lebih baik kemampuan anak untuk menjawab pertanyaan spesifik
sehubungan dengan usia mereka (mis., Jenis pertanyaan apa yang harus digunakan
untuk mendapatkan informasi di lokasi tertentu dengan anak berusia tiga tahun?).
Pada akhirnya, tujuannya adalah bahwa para korban usia muda ini dapat berada
dalam kondisi terbaik untuk menghasilkan kesaksian yang kredibel dan meyakinkan,
untuk memfasilitasi penerapan prinsip keadilan dalam kasus proses peradilan.

Pengakuan (Penghargaan)
Penelitian ini didukung sebagian oleh sumbangan dari Social Sciences and
Humanities Research Council (SSHRC) dan The Fonds The Fonds de recherche du
Québec – Société et culture (FRQSC). Terima kasih kepada Pierre McDuff atas
dukungannya dalam analisis statistic dan kepada Mélanie Corneau atas terjemahan ke
dalam Bahasa Inggris.

31
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak anak
adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan. Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang
perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Menurut Depkes RI
(2009) masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai
(1)
dari) :
1. Bayi (0-1 tahun)
2. Usia bermain/toddler (1-3 tahun)
3. Pra sekolah (3-5 tahun)
4. Usia sekolah (5-11 tahun)
5. Remaja (11- 18 tahun).
Di Indonesia pengertian anak dalam Pasal 1 Ayat 1 UU No 35 Tahun 2014
tentang Peradilan anak, “anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan
belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Sedangkan pengertian
perlindungan anak menurut Pasal 1 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014
tentang perlindungan anak, “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk
menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh,
berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

3.2 Hak anak menurut Undang-Undang Hak-Hak anak menurut


Undang-Undang RI no. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak
: (2)
• Pasal 4 : Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan,
serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
• Pasal 5 : Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identifikasi diri dan
status kewarganegaraan
• Pasal 6 : Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berfikir, dan
berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan
orang tua.
• Pasal 7 :
o (i) Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan
diasuh oleh orang tuanya sendiri
o Dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin
tumbuh kembang anak atau anak dalam keadaan terlantar maka anak
tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak
angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
• Pasal 8 : Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan
sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.
• Pasal 9 :
o (1) setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam
rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai
dengan minat dan bakatnya.
o Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) khusus bagi
anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar
biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak
mendapatkan pendidikan khusus.
• Pasal 10 : Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya,
menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat
kecerdasan dan usia nya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai
kesusilaan dan kepatutan.
• Pasal 11 :Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkanw aktu
luang, bergaul dengan anak sebaya, bermain, berekreasi dan berekreasi
dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.
• Pasal 12 : Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh
rehabilitasi, bantuan social, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan social.

33
• Pasal 13 :
(1) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak
lain mana pun yang bertanggung jawab atau pengasuhan, berhak
mendapat perlindunngan dari perlakuan:
§ Diskriminasi
§ Eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual
§ Penelantaran
§ Kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan
§ Ketidakadilan
§ Perlakuan salah lainnya
(2) dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala
bentuk perlakuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) maka pelaku
dikenakan pemberatan hukuman.
• Pasal 14 : Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali
jika ada alasan dana tau aturan hukum yang sah menunjukan bahwa
pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan
pertimbangan terakhir.
• Pasal 15 : Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari
o Penyalahgunaan dalam kegiatan politik
o Perlibatan dalam sengketa bersenjata
o Perlibatan dalam kerusuhan social
o Perlibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan, dan
o Perlibatan dalam peperangan.
• Pasal 16 :
o (1) setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran
penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak
manusiawi.
o (2) setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan
hukum.

34
o (3) penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak
hanya dianjurkan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan
hanya dilakukan sebagai upaya terakhir.
• Pasal 17 :
o (1) setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk :
§ Mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan
penempatannya dipisahkan dari orang dewasa
§ Memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara
efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku
§ Membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan
anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup
untuk umum.
o (2) setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual
atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan.
• Pasal 18 : setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak
untuk mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.

3.3 Epidemiologi
Fenomena kekerasan seksual terhadap anak semakin sering terjadi dan menjadi
global hampir di berbagai negara. Kasus kekerasan seksual terhadap anak terus
meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan tersebut tidak hanya dari segi kuantitas atau
jumlah kasus yang terjadi, bahkan juga dari kualitas. Peningkatan jumlah kasus yang
terlaporkan dan dilaporkan meningkat secara akumulatif hingga 100 kasus setiap
tahunnya antara tahun 2004 ke tahun 2007. Tiga tahun terakhir nampaknya menjadi tahun
yang memperhatinkan bagi dunia anak Indonesia. Pasalnya Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) menemukan ratusan kasus kekerasan seksual terhadap anak yang
diduga dilakukan orang terdekat sebagai pelaku. Komisioner KPAI mengungkapkan, data
menunjukkan bahwa pihaknya menemukan 218 kasus kekerasan seksual anak pada 2015.
Sementara pada 2016, KPAI mencatat terdapat 120 kasus kekerasan seksual terhadap
(3)
anak-anak. Kemudian di 2017, tercatat sebanyak 116 kasus.

35
3.4 Perkembangan Kognitif Anak-Anak
Milestone adalah tingkat perkembangan yang harus dicapai anak pada umur tertentu.
(4)
-Motorik kasar
• Usia 2 - 3 tahun : belajar meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki,
mengayuh sepeda roda tiga
• Usia 3 - 4 tahun: berjalan pada jari kaki
• Usia 4 - 5 tahun : melompat dan menari
-Motorik halus
• Usia 2- 3 tahun : menggambar lingkaran, membuat jembatan dengan 3 balok
• Usia 3 - 4 tahun : belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri,
menggambar orang hanya kepala dan badan
• Usia 4- 5 tahun: menggambar orang terdiri dari kepala, badan, dan lengan,
mampu menggambar segiempat dan segitiga
-Bahasa / kognitif
• Usia 2 - 3 tahun : mampu menyusun kalimat lengkap, menggunakan kata- kata
saya, bertanya, mengerti kata- kata yg ditujukan kepadanya
• Usia 3- 4 tahun : mampu bicara dengan baik, mampu menyebut namanya,
jenis kelamin, dan umur - banyak bertanya
• Usia 4 - 5 tahun : pandai bicara, jarinya mampu menyebut hari-hari dalam
seminggu, berminat pd kata baru dan artinya mampu menghitung jari, memprotes
bila dilarang apa yg diinginkannya - mendengar dan mengulang hal
penting dan cerita
-Sosial
• Usia 2 - 3 tahun: bermain bersama anak lain dan menyadari adanya
lingkungan lain diluar keluarganya
• Usia 4 - 5 tahun : bermain bersama anak lain, dan dapat mengikuti aturan
permainan
Perkembangan kognitif yang terjadi pada anak: (4)
1. Usia 0-2 Tahun

36
Periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga usia 2 tahun
disebut sebagai infacy period. Dimana masa ini merupakan masa yang sangat
bergantung kepada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi seperti
bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial hanya sebagai
permulaan. Hal di atas diperkuat dengan hasil-hasil riset kognitif yang menyimpulkan
bahwa semua bayi manusia sudah berkemampuan menyimpan informasi- informasi
yang berasal dari penglihatan, pendengaran, dan informasi- informasi yang diserap
melalui indera lainnya. Selain itu, bayi juga berkemampuan merespons informasi-
informasi tersebut secara sistematis.
Hasil riset para ahli psikologi kognitif menyimpulkan bahwa aktivitas ranah
kognitif manusia pada prinsipnya sudah berlangsung sejak masa bayi, yaitu pada
rentang usia 0-2 tahun pada periode ini bayi belajar bagaimana mengikuti dunia
kebendaan secara praktis dan belajar menimbulkan efek tertentu tanpa memahami apa
yang sedang ia perbuat kecuali hanya mencari cara melakukan perbuatan. Setelah
Piaget melakukan serangkaian eksperimen dan observasi terhadap sejumlah subjek
bayi termasuk anaknya sendiri Jacquiline yang baru berusia tujuh bulan, ia
menyimpulkan bahwa bayi di bawah usia 18 bulan pada umumnya belum memiliki
pengenalan terhadap object permanence (anggapan bahwa sebuah benda akan tetap
ada walaupun sudah ditinggalkan atau tidak dilihat lagi).
2. Usia 2-3 Tahun
Dunia emosi adalah kawasan baru yang mempesona bagi anak usia dua
tahunan. Tentu saja, sejak lahir anak telah peka terhadap emosi- emosi orang tua dan
siapa pun yang setiap harinya sering mengasuh. Pengalaman-pengalaman anak dalam
behubungan dengan orang tua, para pengasuhnya dan lingkungannya tersebut
menciptakan suatu pola emosi umum baginya. ada saat anak berusia dua tiga tahunan
otaknya melakukan sebuah lompatan kognitif yang luar biasa. Anak tidak lagi begitu
saja menerima mentah-mentah semua rangsangan yang diperolehnya. Anak mulai
berfikir tentang semua yang ia perolehnya. Karena itu, anak juga mulai berfikir jika
akan bereaksi terhadap rangsangan yang diperolehnya, semua itu tidak hanya berupa
benda nyata, tetapi juga benda dalam khayalan atau imajinasi.
Penggunaan citra mental atau simbol tersebut memungkinkan anak untuk
berfikir sebelum berbuat,meskipun masih sangat kasar. Anak juga telah mampu

37
mengingat- ingat pengalaman masa lampau dan menyesuaikan perilakunya karena
pengalaman itu. Perkembangan kemampuan berbahasa tersebut merupakan bekal bagi
anak untuk memungkinkan membentuk gagasan-gagasan baru, mengungkapkan
emosinya. Pada usia sekitar 36 bulan, perbendaharaan kata anak dapat mencapai 1000
kata dengan 80% kata-kata tersebut dapat dipahaminya. Pada usia ini biasanya anak
mulai banyak berbicara mengenai orang- orang di sekelilingnya, terutama ayah, ibu
dan anggota keluarga lainnya.
3. Usia 3-4 tahun
Kemampuan mental anak pada usia 3-4 tahun sudah lebih halus dibandingkan
usia sebelumnya. Di samping itu, otak anak juga telah mampu berfikir secara simbolik
dengan menggunakan konsep-konsep yang abstrak. Kemampuan berfikir secara nalar dan
berfikir secara naluriah mulai meningkat, dengan demikian anak mulai dapat mengolah
demensi mental lebih dari satu dan serentak. Misalnya bola bundar berwarna merah,
kotak berbagai ukuran. Kemampuan otak anak juga telah berkembang sehingga mampu
mengingat-ingat sebuah kejadian atau peristiwa, pengalaman emosional yang telah lalu
ketika bermain bersama teman- temannya. Anak juga telah mampu menceritakan kembali
semua kejadian dan pengalamannya itu kepada orang lain.
4. Usia 4-6 tahun
Saat anak berusia 4 - 6 tahun susunan koneksi syarafnya sudah berfungsi
dengan baik sehingga dapat mengkoordinasikan otak dan gerak, baik secara fisik
maupun non fisik dengan baik. Pada usia ini anak pada umumnya sudah memasuki
sekolah TK atau sederajad. Karena itu, TK diciptakan sebagai jembatan untuk
memudahkan periode transisi antara masa bayi dan masa kanak-kanak. TK juga harus
mulai memperkenalkan anak kepada budaya dan dunia yang lebih luas. Antara usia 4
dan 5 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari empat sampai lima kata. Mereka juga
mampu menggunakan kata depan seperti di bawah, di dalam, di atas dan di samping.
Mereka lebih banyak menggunakan kata kerja daripada kata benda.
Antara 5 dan 6 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari enam sampai delapan kata.
Mereka juga sudah dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dan juga
mengetahui lawan kata. Mereka juga dapat menggunakan kata penghubung, kata depan
dan kata sandang. Pada masa akhir usia prasekolah anak umumnya sudah mampu
berkata-kata sederhana dan berbahasa sederhana, cara bicara mereka telah lancar, dapat

38
dimengerti dan cukup mengikuti tata bahasa walaupun masih melakukan kesalahan
berbahasa.
5. Usia 6-12 tahun
Anak usia 6-12 tahun mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang
memadai, proses-proses penting selama tahapan ini antara lain, yakni:
1) Pengurutan; yaitu kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran,
bentuk atau ciri lainnya. Contoh: bila diberi benda berbeda- beda ukuran, mereka
dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
2) Klasifikasi: kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi
serangkaian benda menurut karakteristiknya lainnya, termasuk gagasan bahwa
serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian ini.
Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa
semua benda hidup dan berperasaan).
3) Decentering : yaitu anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari
suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh, anak tidak akan lagi
menganggap cangkir lebar tetapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil
yang tinggi.
4) Reversibility : yaitu anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-
benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal.
5) Konservasi ; yaitu memahami bahwa kuantitas, panjang atau jumlah benda-
benda ialah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau
benda-benda ini. Contoh; bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama
banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda,
air di gelas ini akan tetap sama banyaknya dengan isi cangkir lain.
6) Penghilangan sifat egosentrisme : yaitu kemampuan melihat sesuatu dari
sudut pandang orang lain (bahkan saat orang ini berbicara dengan cara yang salah).

6. Usia pubertas (12 tahun) sampai dewasa


Tahapan ini mulai dialami anak dalam usia 12 tahun (saat pubertas) dan terus
berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini ialah diperolehnya kemampuan
untuk berfikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari
informasi yang tersedia.

39
3.5 Bentuk-Bentuk Kekerasan Pada Anak
Kekerasan pada anak adalah semua bentuk/tindakan perlakuan menyakitkan secara
fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, trafiking, penelantaran, eksploitasi
komersial termasuk eksploitasi seksual komersial anak yang
mengakibatkancidera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak,
kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan
dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan. Terdapat lima
bentuk kekerasan pada anak (1999 WHO Consultation on child abuse prevention)
(5)
yaitu:
1. Kekerasan fisik (Physical abuse)
Merupakan kekerasan yang mengakibatkan cedera fisik nyata ataupun
potensial terhadap anak, sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi,
yang layaknya berada dalam kendali orang tua atau orang dalam posisi hubungan
tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan. Bentuk kekerasan yang sifatnya
bukan kecelakaan yang membuat anak terluka.
Contoh: menendang, menjambak (menarik rambut), menggigit, membakar,
menampar.
2. Kekerasan seksual (sexual abuse)
Contoh, pelacuran anak-anak, intercourse, pornografi, eksibionisme, oral sex, dan
lain-lain.
3. Mengabaikan (Neglect)
Merupakan kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan
untuk tumbuh kembangnya, seperti kesehatan, perkembangan emosional, nutrisi,
rumah atau tempat bernaung dan keadaan hidup yang aman di dalam konteks
sumber daya yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau pengasuh, yang
mengakibatkan atau sangat mungkin mengakibatkan gangguan kesehatan atau
gangguan perkembangan fisik mental, moral dan sosial, termasuk didalamnya
kegagalan dalam mengawasi dan melindungi secara layak dari bahaya gangguan.
4. Kekerasan emosi (Emotional Abuse)
Merupakan kegagalan penyediaan lingkungan yang mendukung dan memadai
bagi perkembangannya, termasuk ketersediaan seorang yang dapat dijadikan figure

40
primer sehingga anak dapat berkembang secara stabil dengan pencapaian
kemampuan sosial dan emosional yang diharapkan sesuai dengan potensi
pribadina dalam konteks lingkungannya. Segala tingkah laku atau sikap yang
mengganggu kesehatan mental anak atau perkembangan sosialnya.
Contoh : tidak pernah memberikan pujian/ reinforcement yang positif,
membandingkannya dengan anak yang lain, tidak pernah memberikan pelukan
atau mengucapkan” aku sayang kamu”.
5. Eksploitasi anak (child exploitation)
Merupakan penggunaan anak dalam pekerjaan atau aktivitas lain untuk
keuntungan orang lain.

3.5.1 Kekerasan Seksual pada Anak


Kekerasan seksual pada anak adalah keterlibatan seorang anak dalam segala
bentuk aktivitas seksual yang terjadi sebelum anak mencapai batasan umur tertentu
yang ditetapkan oleh hukum negara yang bersangkutan di mana orang dewasa atau
anak lain yang usianya lebih tua atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan
lebih dari anak memanfaatkannya untuk kesenangan seksual atau aktivitas seksual.
Perbuatan ini dilakukan dengan menggunakan paksaan, ancaman, suap, tipuan bahkan
tekanan. Kegiatan-kegiatan kekerasan seksual terhadap anak tersebut tidak harus
melibatkan kontak badan antara pelaku dengan anak sebagai korban. Bentuk-bentuk
kekerasan seksual itu sendiri bisa dalam tindakan perkosaan ataupun pencabulan.
(5)
Terdapat dua macam bentuk kekerasan seksual, yaitu ringan dan berat.
Macam-Macam kekerasan seksual ringan :
1. Pelecehan seksual
2. Gurauan porno
3. Siulan, ejekan dan julukan
4. Tulisan/gambar
5. Ekspresi wajah
6. Gerakan tubuh
7. Perbuatan menyita perhatian seksual tak dikehendaki korban, melecehkan
dan atau menghina korban.

41
Macam-macam kekerasan seksual berat:
1. Pelecehan, kontak fisik: raba, sentuh organ seksual, cium paksa, rangkul,
perbuatan yang rasa jijik, terteror, terhina
2. Pemaksaan hubungan seksual
3. Hubungan seksual dgn cara tidak disukai, merendahkan dan atau
menyakitkan
4. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain, pelacuran tertentu.
5. Hubungan seksual memanfaatkan posisi ketergantungan / lemahnya
korban.
6. Tindakan seksual dan kekerasan fisik, dengan atau tanpa bantuan alat yang
menimbulkan sakit, luka, atau cedera.
7. Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam
jenis kekerasan seksual berat.
Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan jenis penganiayaan yang biasanya
dibagi dua dalam kategori berdasar identitas pelaku, yaitu: (6)
a. Familial abuse: Termasuk familial abuse adalah incest, yaitu kekerasan
seksual dimana antara korban dan pelaku masih dalam hubungan darah, menjadi
bagian dalam keluarga inti. Dalam hal ini termasuk seseorang yang menjadi
pengganti orang tua, misalnya ayah tiri, atau kekasih, pengasuh atau orang yang
dipercaya merawat anak. Mayer menyebutkan kategori incest dalam keluarga dan
mengaitkan dengan kekerasan pada anak, yaitu:
1. Kategori pertama, penganiayaan (sexual molestation), hal ini meliputi
interaksi noncoitus, petting, fondling, exhibitionism, dan voyeurism, semua hal
yang berkaitan untuk menstimulasi pelaku secara seksual.
2. Kategori kedua, perkosaan (sexual assault), berupa oral atau hubungan dengan
alat kelamin, masturbasi, stimulasi oral pada penis (fellatio), dan stimulasi
oral pada klitoris (cunnilingus).
3. Kategori ketiga yang paling fatal disebut perkosaan secara paksa (forcible
rape), meliputi kontak seksual. Rasa takut, kekerasan, dan ancaman menjadi
sulit bagi korban.

42
b. Extra familial abuse : Kekerasan seksual adalah kekerasan yang dilakukan
oleh orang lain di luar keluarga korban. Pada pola pelecehan seksual di luar keluarga,
pelaku biasanya orang dewasa yang dikenal oleh sang anak dan telah membangun
relasi dengan anak tersebut, kemudian membujuk sang anak ke dalam situasi dimana
pelecehan seksual tersebut dilakukan, sering dengan memberikan imbalan tertentu
yang tidak didapatkan oleh sang anak di rumahnya. Sang anak biasanya tetap diam
karena bila hal tersebut diketahui mereka takut akan memicu amarah dari orangtua
mereka. Selain itu, beberapa orangtua kadang kurang peduli tentang di mana dan
dengan siapa anak-anak mereka menghabiskan waktunya. Anak-anak yang sering
bolos sekolah cenderung rentan untuk mengalami kejadian ini dan harus diwaspadai.
Kekerasan seksual dengan anak sebagai korban yang dilakukan oleh orang dewasa

dikenal sebagai pedophile, dan yang menjadi korban utamanya adalah anak-anak. (6)

3.6 Alur Pelayanan Kekerasan Seksual


Sistem perlindungan anak merupakan suatu sistem yang kompleks melibatkan
berbagai unsur, sehingga perlu dibangun suatu jaringan kerja yang terdiri dari unsur
masyarakat, institusi pemerintah dan non pemerintah terkait dalam pelayanan
kesehatan, pelayanan sosial, pelayanan hukum dan pendidikan. Penyelenggaraan
rujukan dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak merupakan proses

kerjasama semua unsur terkait dalam sistem jaringan tersebut. (7)


Tenaga kesehatan harus sensitif gender dan mampu memberikan konseling.
Penanganan kasus kekerasan terhadap anak di fasilitas kesehatan ditentukan oleh
ketersediaan sarana dan kemampuan tenaga yang ada. Peran tenaga kesehatan dalam
penanganan kasus kekerasan terhadap anak adalah menemukan kasus, menerima
rujukan kasus, menangani kasus dan merujuk kasus.
Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan dasar atau primer dapat
menerima, menangani kasus kekerasan terhadap anak atau apabila diperlukan
merujuk ke Rumah Sakit atau institusi terkait lainnya untuk mendapatkan penanganan
lebih lanjut. Untuk melakukan rujukan perlu dipersiapkan: surat pengantar rujukan,
kronologis singkat kasus dan bukti-bukti yang mendukung (pakaian, celana dalam,
rambut pubis, kotoran/debris pada kuku, swab vagina, dll). Kasus-kasus yang
memerlukan rujukan antara lain:

43
1. Perdarahan berat
2. Fraktur multipel
3. Syok
4. Kejang-kejang
5. Luka bakar luas
6. Sesak nafas
7. Sepsis
8. Robekan anogenital
9. Stres berat
Sedangkan yang dapat ditangani di puskesmas adalah kasus kekerasan terhadap anak
yang memiliki derajat ringan, antara lain:
1. Luka ringan
2. Cidera sederhana (Iuka bakar ringan, laserasi superfisial, lebam)
3. Cidera ringan/lnfeksi pada organ/saluran reproduksi
4. Cidera ringan/lnfeksi pada anus
5. Fraktur tertutup/terbuka ringan yang perlu tindakan P3K
6. Trauma psikis ringan
7. Malnutrisi
Rumah Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan perorangan yang
menyediakan rawat inap dan rawat jalan dapat menerima, menangani kasus kekerasan
terhadap anak, dan merujuk ke Rumah Sakit yang lebih mampu atau institusi terkait
lainnya apabila diperlukan. Mekanisme rujukan kasus kekerasan terhadap anak di
Rumah Sakit tidak dibedakan menurut kelas Rumah Sakit baik kelas C, kelas B atau
kelas A, tetapi berdasarkan tersedia atau tidaknya Pusat krisis Terpadu atau Pusat
Pelayanan Terpadu. Pusat Krisis Terpadu (PKT)/Pusat Pelayanan Terpadu (PPT)
adalah pusat pelayanan bagi korban kekerasan pada anak dan perempuan yang
memberikan pelayanan komprehensif dan holistik meliputi penangan medis dan
medikoIegal, penangan psikologis, sosial dan hukum. Oleh karena itu di dalam
PKT/PPT diperlukan tim yang terdiri dari dokter, perawat, pekerja sosial, psikolog
dan ahli hukum, serta ruang konsultasi khusus.
Rumah Sakit yang sudah mempunyai PKT/PPT, dapat memberikan pelayanan
komprehensif dalam satu atap (one stop service) yang mencakup aspek pelayanan

44
medis/mediko-Iegal, psikologis, sosial, hukum dan perlu bekerjasama dengan LSM,
LBH yang tergabung dalam jaringan kerja penanganan kekerasan terhadap anak.
Rumah Sakit yang belum memiliki PKT/PPT kegiatan penanganan kasus penanganan
kekerasan terhadap anak dilakukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). (7)
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dibentuk berdasarkan amanat
UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Peran KPAI selanjutnya
dalam Pasal 76 UU Perlindungan Anak, dijelaskan tugas pokok KPAI yang berbunyi
sebagai berikut:
a. melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima
pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi, dan
pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. b. memberikan laporan,

saran, masukan, dan pertimbangan kepada Presiden dalam rangka perlindungan anak.

Perlidungan Anak yang memberikan penjelasan bahwa upaya perlidungan


bagi anak terdapat dua kategori, yaitu pertama perlidungan secara umum dan yang
kedua perlidungan secara khusus. alam pemenuhan hak-hak anak, KPAI membentuk
kelompok-kelompok kerja yang bertugas menangani pelanggaran hak anak di dalam
masing-masing Kelompok Kerja (Pokja). Pembagian kelompok-kelompok kerja
tersebut berfungsi untuk memudahkan penanganan pelanggaran HAM yang terjadi
pada anak-anak. Selain itu, dalam kasus kriminal anak, KPAI mengusahakan
terjadinya integrated criminal justice system, dimana terintegrasinya kepolisian dan
aparat penegak hukum dalam mengatasi pelanggaran-pelanggaran criminal oleh anak.
Disamping menegakkan kebenaran, dalam prosedur penahanan anak, mereka
harus dapat bekerja sama dengan pakar psikologi anak karena anak-anak yang
berhadapan dengan hukum membutuhkan perlakuan khusus agar tidak meninggalkan
trauma di kemudian hari. KPAI telah memberikan pengawasan ketika terjadi
kekerasan, bagaimanavmelakukan pendampingan, pengawalan (proses peradilan),
dicarikan pemecahan masalah kepada stake holder (pihak yang berwenang), dicarikan
jalan keluar bagaimana si anak ini bisa tertangani di area-area seperti rehabilitasi dan
(7)
lain-lain.

45
46
Gambar 1. Alur kekerasan pelayanan seksual pada anak

3.7 Dasar Hukum Kekerasan Kekerasan seksual pada anak


3.7.1 Undang-Undang Perlindungan Anak
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang
Perlindungan Dan Pemberdayaan Perempuan Dan Anak Dalam Konflik Sosial
• Pasal 1
Dalam Peraturan Presiden ini, yang dimaksud dengan :
1. Konflik sosial yang selanjutnya disebut konflik adalah perseteruan
dan/atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok
masyarakat atau lebih yang berlansung dalam waktu tertentu dan
berdampak luas yang mengakibatkan ketidakamanan dan disintegrasi
sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional dan menghambat
pembangunan nasional.
2. Perlindungan perempuan dan anak adalah upaya pencegahan dan
penanganan dari segala bentuk tindak kekerasan dan pelanggaran hak
asasi perempuan dan anak, serta memberikan layanan kebutuhan dasar
dan spesifik pereempuan dan anak dalam penangganan konflik sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan penanganan konflik.
3. Pemberdayaan perempuan dan anak adalah upaya penguatan hak asasi,
peningkatan kualitas hidup, dan peningkatan partisipasi perempuan
dan anak dalam membangun perdamaian.
4. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun,
termasuk anak yang masih dalam kandungan.
5. Kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah setiap tindakan
berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, mental, psikologis,
termasuk intimidasi, pengusiran paksa, ancaman tindakan tertentu,
pemaksaan atau perampasan kemerdekaan, penelantaraan serta
menghalangi kemampuan perempuan dan anak untuk menikmati
semua hak dan kebebasannya.

47
• Pasal 2
Perlindungan dan pemberdayaan perempuan dan anak dalam konflik bertujuan
untuk melindungi, menghormati, dan menjamin hak asasi perempuan dan anak dalam
penanganan konflik.

• Pasal 3
(1) Perlindungan dan pemberdayaan perempuan dan anak dalam konflik
dilaksanakan oleh :
a. Kementerian/lembaga terkait sesuai dengan kewenangannya; dan
b. Pemerintah daerah
(2) Pemerintah daerah dalam melaksanakan perlindungan dan pemberdayaan
perempuan dan anak dalam konflik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b wajib memperhatikan kondisi, situasi, permasalahan, dan penanganan
konflik di daerah.

3.7.2 Dasar Hukum Kekerasan Seksual Pada Anak


Menurut pasal 81 dan 82 UU no. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak
bahwa hukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak minimal 5 tahun dan
maksimal 15 tahun penjara serta denda maksimal sejumlah Rp. 5.000.000.000,- yang
dikaitkan dengan pasal 76D yaitu setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau
ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau orang
lain. Selain itu disebutkan juga dalam pasal 76E yaitu setiap orang dilarang
melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat,
melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau
membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Sedangkan hukuman lainnya menurut KUHP
pasal 287 dan 292 menyebutkan bahwa masa hukuman terhadap pelaku pencabulan
(1)
terhadap anak maksimal 9 tahun (pasal 287) dan maksimal 5 tahun (pasal 292).
1. UU no. 35 Tahun2014
PASAL 81 :

48
(1) setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 76D dipidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dengan
denda paling banyak 15.000.000.000
(2) ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi
setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan,
atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau orang lain.
(3) dalam hal tidak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka
pidananya ditambah 1/3 dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
PASAL 82 :
(1) setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15
tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000.
(2) dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka
pidana nya ditambah 1/3 dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
PASAL 287
(1) barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan,
padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima
belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin,
diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.
(2) Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama
kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
3.8 Peran Kedokteran Forensik Dalam Kasus Kekerasan Seksual:
1. Anamnesis
• Anamnesis umum memuat:
· Identitas : Nama, umur, TTL, status perkawinan,
· Spesifik : Siklus haid, penyakit kelamin, peny. kandungan, peny. lain, pernah
bersetubuh, persetubuhan yang terakhir, kondom.

49
• Anamnesis khusus memuat waktu kejadian :
Dalam beberapa pelaporan kasus kekerasan seksual terhadap anak, keterangan
yang disampaikan anak menjadi satu–satunya alat bukti awal yang tersedia. Oleh
karena itu penyidik perlu mengumpulkan informasi atau keterangan dari anak dengan
sebaik mungkin melalui wawancara. (5,6))
Model-model wawancara forensik membantu pewawancara melalui berbagai
tahap wawancara yang sah secara hukum; wawancara ini bervariasi dari yang sangat
terstruktur / scripted hingga semi terstruktur agar fleksibel. Semua model wawancara
(8)
meliputi fase berikut:
1. Fase pembuatan hubungan awal (bina raport)
Semua model wawancara mengakui bahwa membangun hubungan
baik penting bagi anak dan pewawancara. Selama fase ini, anak bisa mulai
mempercayai pewawancara dan mengarahkan anak pada proses wawancara.
Teknik bina raport yaitu pengenalan diri, memanfaatkan pertanyaan dan
pertanyaan terbuka, mendirikan tingkat perkembangan anak (tingkat
komunikasi, struktur kalimat, kosa kata), membangun kesediaan ana untuk
berpartisipasi atau berkomunikasi. Pewawancara dapat mulai memahami pola
bahasa anak, mengukur kesediaan anak untuk berpartisipasi, dan mulai
merespons secara tepat kebutuhan perkembangan, emosional, dan budaya
anak tersebut. Sebuah pendekatan untuk membangun hubungan harus
(8,9)
dipertahankan sepanjang wawancara.

2. Fase substantif paling sering mencakup deskripsi cerita kejadian, strategi


pencarian detail kejadian, klarifikasi, dan pengujian hipotesis alternatif.
3. Fase penutupan membantu memberikan akhir yang sopan dan penuh hormat
ke percakapan yang mungkin sangat menantang bagi anak. Pewawancara
(8)
dapat menggunakan berbagai strategi selama fase ini
- Tanyakan kepada anak apakah ada hal lain yang perlu diwawancarai oleh
pewawancara
- Tanyakan kepada anak apakah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan atau
tanyakan kepada pewawancara.
- Berterimakasih pada anak atas usahanya dalam wawancara.

50
- Memberikan rasa keamanan, keselamatan dan memberikan nomor kontak
untuk bantuan tambahan
Protokol NICHD (National Institute of Child Health and Human
Development) adalah protokol yang dikembangkan melalui upaya intensif Ilmuwan
Pemerintah AS di NIH (National Institutes of Health) pada tahun 1990an. NICHD
dibuat dengan masukan dari berbagai macam profesional termasuk pengacara,
psikolog, klinis dan forensik, polisi, dan pekerja sosial yang telah menerima evaluasi
intensif forensik dan menjadi subjek evaluasi dan penelitian intensif sejak saat itu.
NICHD dirancang untuk memberi tahu pewawancara dengan jelas, membimbing
mereka melalui setiap fase wawancara dan membantu menghindari strategi penafsiran
yang buruk yang mungkin terjadi sehingga menyebabkan distorsi memori. Protokol
NICHD pada intinya memiliki harapan yang sesuai dengan perkembangan
kemampuan anak-anak, dan berusaha memaksimalkan kondisi di mana anak-anak
(8)
menggambarkan pengalaman mereka tentang pelecehan secara akurat.
Teknik yang digunakan oleh protokol NICHD dirancang untuk
mengintegrasikan kemajuan dalam pemahaman ilmiah tentang memori dan
perkembangan linguistik dan kognitif anak-anak. Selama bertahun-tahun, berbagai
aspek protokol NICHD telah dievaluasi di lapangan. Sebenarnya, para penulis
mencatat, teknik yang dikembangkan di bawah naungan NICHD merupakan satu-
satunya protokol untuk wawancara forensik dengan anak-anak yang telah dievaluasi
secara sistematis. "Protokol NICHD telah diteliti di lapangan, itulah yang
membedakannya," kata Pipa.
Pelatihan teknik wawancara forensik sering kali meningkatkan pengetahuan
pewawancara tanpa menghasilkan perubahan berarti dalam bagaimana pewawancara
melakukan wawancara. Pelatihan NICHD efektif dalam mendapatkan pewawancara
untuk menggunakan informasi baru yang dipelajari. Studi yang menguji protokol
telah memeriksa cara terbaik untuk melatih orang dalam penggunaannya dan,
khususnya, bagaimana memastikan bahwa pewawancara dapat memperoleh dan
secara aktif menggunakan keterampilan baru tersebut. Pelatihan dapat meningkatkan
kesadaran, Pipe et al. Protokol wawancara NICHD mencakup tiga fase: Pengantar
Pembangunan hubungan (bina raport) Penarikan secara substansial atau bebas. Pada
awal pembicaraan, anak dan pewawancara mendiskusikan harapan dan

51
menetapkan peraturan dasar: inilah fase pendahuluan. Pewawancara kemudian
meminta anak-anak untuk membicarakan kejadian yang tidak terkait dengan dugaan
kekerasan; hal ini untuk mendorong anak merasa nyaman. Kemudian, pewawancara
mendorong anak-anak untuk mengingat kembali kejadian sasaran dan
membicarakannya. Bukti menunjukkan permintaan terbuka menarik informasi lebih
akurat daripada yang hanya mendapatkan pengakuan anak. Teknik-teknik tersebut
tidak menyarankan arahan atau pertanyaan sugestif dengan jawaban ya atau tidak atau
jawaban atau jawaban: "Di mana pakaiannya?" Sebagai contoh, lebih diutamakan,
"Apakah pakaiannya ada di lantai?"
Hampir satu dekade penelitian mengkonfirmasikan bahwa ketika
pewawancara mengikuti panduan yang diuraikan dalam protokol NICHD, anak-anak
memberi informasi yang lebih berkualitas dan lebih baik. Catatan naratif mereka
menunjukkan detail yang lebih besar ketika protokol NICHD diimplementasikan.

2. Pemeriksaan Fisik
Diagnosis kekerasan seksual pada anak ditegakan berdasarkan anamnesis,
pengakuan anak, perilaku anak, laporan orang tua, dan hasil pemeriksaan klinis..
Pemerikaan umum yang terlebih dahulu di lakukan adalah : (6)
· Kesan penampilan (wajah, rambut), ekspresi emosional, tanda-tanda bekas
kehilangan kesadaran / obat bius / needle marks.
· Berat badan, tinggi badan, tanda vital, pupil, refleks cahaya, pupil pinpoint,
tanda perkembangan alat kelamin sekunder, kesan nyeri.
Pemeriksaan klinis biasanya meliputi pemeriksaan Vagina dan Anus serta bagian
badan lainnya. Posisi anak pada waktu pemeriksaan vagina adalah Supine Frog-Leg,
sementara itu pemeriksaan anus dengan posisi Knee-Chest Position. Pemeriksaan
pada anak dilakukan dengan teknik yang sama namun perbedaanya hanyalah pada
posisi frog-leg anak dipangku oleh orang dewasa dengan tujuan agar pemeriksaan
(5)
bisa dilakukan lebih mudah.

52
Gambar 2 Posisi pemeriksaan fisik pada anak6

3. Pemeriksaan Laboratorium
1. Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan
Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana alat kelamin laki-laki masuk ke
dalam alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan dengan atau tanpa
terjadinya pancaran air mani. Pemeriksaan dipengaruhi oleh : Besarnya zakar dengan
ketegangannya, seberapa jauh zakar masuk, keadaan selaput dara serta posisi
persetubuhan.
Adanya robekan pada selaput dara hanya menunjukkan adanya benda
padat/kenyal yang masuk (bukan merupakan tanda pasti persetubuhan). Jika zakar
masuk seluruhnya & keadaan selaput dara masih cukup baik, pada pemeriksaan
diharapkan adanya robekan pada selaput dara. Jika elastis, tentu tidak akan ada
robekan. Adanya pancaran air mani (ejakulasi) di dalam vagina merupakan tanda
pasti adanya persetubuhan. Pada orang mandul, jumlah spermanya sedikit sekali
(aspermia), sehingga pemeriksaan ditujukan adanya zat-zat tertentu dalam air mani
seperti asam fosfatase, spermin dan kholin. Namun nilai persetubuhan lebih rendah
(5,6)
karena tidak mempunyai nilai deskriptif yang mutlak atau tidak khas.
• Sperma masih dapat ditemukan dalam keadaan bergerak dalam vagina 4-5 jam
setelah persetubuhan.
• Pada orang yang masih hidup, sperma masih dapat ditemukan (tidak bergerak)
sampai sekitar 24-36 jam setelah persetubuhan, sedangkan pada orang mati

53
sperma masih dapat ditemukan dalam vagina paling lama 7-8 hari setelah
persetubuhan.
• Pada laki-laki yang sehat, air mani yang keluar setiap ejakulasi sebanyak 2-5
ml, yang mengandung sekitar 60 juta sperma setiap mililiter dan 90%
bergerak (motile)
• Untuk mencari bercak air mani yang mungkin tercecer di TKP, misalnya pada
sprei atau kain maka barang-barang tersebut disinari dengan cahaya ultraviolet
dan akan terlihat berfluoresensi putih, kemudian dikirim ke laboratorium.
• Jika pelaku kekerasan segera tertangkap setelah kejadian, kepala zakar harus
diperiksa, yaitu untuk mencari sel epitel vagina yang melekat pada zakar. Ini
dikerjakan dengan menempelkan gelas objek pada gland penis (tepatnya
sekeliling korona glandis) dan segera dikirim untuk mikroskopis.
• Robekan baru pada selaput dara dapat diketahui jika pada daerah robekan tersebut
masih terlihat darah atau hiperemi/kemerahan. Letak robekan selaput dara pada
persetubuhan umumnya di bagian belakang (comisura posterior), letak robekan
dinyatakan sesuai menurut angka pada jam. Robekan lama diketahui jika warna
dari robekan sama dengan warna jaringan sekitar robekan.
• VeR yang baik harus mencakup keempat hal tersebut di atas (fungsi
penyelidikan), dengan disertai perkiraan waktu terjadinya persetubuhan. Hal
ini dapat diketahui dari keadaan sperma serta dari keadaan normal luka
(penyembuhan luka) pada selaput dara, yang pada keadaan normal akan
sembuh dalam 7-10 hari.

Gambar 3 Vaginal Swab6

54
Gambar 4 temuan klinis pada korban kekerasan seksual

2. Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan


Kekerasan tidak selamanya meninggalkan bekas/luka, tergantung dari
penampang benda, daerah yang terkena kekerasan, serta kekuatan dari kekerasan itu
sendiri. Tindakan membius juga termasuk kekerasan, maka perlu dicari juga adanya
racun dan gejala akibat obat bius/racun pada korban. Adanya luka berarti adanya
kekerasan, namun tidak ada luka bukan berarti tidak ada kekerasan. Faktor waktu
sangat berperan. Dengan berlalunya waktu, luka dapat sembuh atau tidak ditemukan,

55
racun/obat bius telah dikeluarkan dari tubuh. Lokasi yang dapat dicurigai terjadi
kekerasan yaitu muka, leher, buah dada, bagian dalam paha dan sekitar alat kelamin.
Selain itu juga bisa diperiksa apakah terdapat tanda perlawanan yang didapat dari
tubuh pelaku seperti tanda perlawanan di tangan, atau bagian rambut tertarik.

Gambar 5 Tanda kekerasan6 Gambar 6 Tanda perlawanan pada pelaku6

3. Memperkirakan umur
Tidak ada satu metode tepat untuk menentukan umur, meskipun
pemeriksaannya memerlukan berbagai sarana seperti alat rontgen untuk memeriksa
pertumbuhan tulang dan gigi. Perkiraan umur digunakan untuk menentukan apakah
seseorang tersebut sudah dewasa (> 18 tahun) khususnya pada homoseksual/lesbian
serta pada kasus pelaku kekerasan. Sedangkan pada kasus korban perkosaan
perkiraan umur tidak diperlukan.
4. Menentukan pantas tidaknya korban buat dikawin
Secara biologis jika persetubuhan bertujuan untuk mendapatkan keturunan,
pengertian pantas/tidaknya buat kawin tergantung dari: apakah korban telah siap
dibuahi yang artinya telah menstruasi, namun untuk bukti hal ini korban perlu diisolir
untuk waktu cukup lama. Bila dilihat Undang-Undang Perkawinan, yaitu pada Bab II
pada pasal 7 ayat 1 berbunyi : perkawinan hanya diizinkan jika pria sudah mencapai
19 tahun dan wanita sudah mencapai 16 tahun. Namun terbentur lagi pada masalah
penentuan umur yang sulit diketahui kepastiannya, yang dapat dijadikan
pertimbangan yaitu menstruasi, dan wanita sudah ovulasi / belum : vaginal smear.

56
5.Pemeriksaan terhadap Pelaku (6)
- Bercak sperma, darah, tanah dan pakaian, robekan.
- Tanda perlawanan korban
- Tanda infeksi gonokokus
- menentukan ada atau tidaknya sel epitel vagina pada penis
6.Pemeriksaan Penentuan Golongan Darah
- Serologis air mani (antigen ABO) pada orang yg ’sekretor’.
- Di cocokkan dengan golongan darah (pelaku / korban).

3.9 Penanganan Korban Kekerasan Seksual Pada Anak-Anak


Selain itu, dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak
seharusnya bersifat holistik dan terintegrasi. Semua sisi memerlukan pembenahan dan
penanganan, baik dari sisi medis, sisi individu, aspek hukum (dalam hal ini masih
banyak mengandung kelemahan), maupun dukungan sosial. Apabila kekerasan
seksual terhadap anak tidak ditangani secara serius dapat menimbulkan dampak sosial
yang luas di masyarakat. Penyembuhan trauma psikis akibat kekerasan seksual
(6,10)
haruslah mendapat perhatian besar dari semua pihak yang terlibat, diantaranya:
1. Dukungan sosial dan emosional yang membuat setiap anggota keluarga
merasa disayangi, dicintai, didukung, dihargai, dipercaya dan menjadi bagian dari
keluarga.
2. Kelekatan / ikatan emosional yang dimiliki satu sama lain dalam keluarga
dikarenakan adanya keterbukaan dimana setiap anggota keluarga saling berbagi
perasaan, jujur dan terbuka satu sama lain.
3. Meningkatkan komunikasi dengan anak. Pola komunikasi yang efektif,
terbuka, langsung, terarah, kongruen (sesuai antara verbal dan non verbal). Dengan
cara ini akan terbentuk sikap keterbukaan, kepercayaan dan rasa aman pada anak.
Diharapkan anak tidak perlu takut menceritakan berbagai tindakan ganjil yang
dialaminya, seperti mendapat iming-iming, diajak pergi bersama, diancam, bahkan
diperdaya oleh seseorang.

57
4. Keterlibatan orang tua terhadap proses penanganan kekerasan seksual yang
dialami anaknya baik itu penanganan secara hukum maupun penanganan pemulihan
secara psikologis layanan psikologis bagi anak maupun bagi orang tua.

5. Pemahaman orang tua terhadap peristiwa kekerasan seksual yang dialami


oleh anaknya. Dampak peristiwa tersebut bagi anaknya dan juga dirinya serta
bagaimana mengatasi dan memulihkan diri.

6. Spiritualitas dan nilai-nilai yang dimiliki dan dianut dengan baik oleh
sebuah keluarga. Keyakinan spiritual ini juga mencakup ritual-ritual agama yang
dianggap menguatkan.

7.Sikap positif yang dimiliki keluarga dalam memandang kehidupan


termasuk krisis dan permasalahan yang ada. Cara pandang yang melihat bahwa selalu
ada jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi oleh setiap manusia.

8. Ketrampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang dimiliki


keluarga yang terkait dengan perencanaan terhadap masa depan yang dimiliki oleh
keluarga dan ”kendali” terhadap permasalahan yang terjadi melalui pelibatan orang

tua dalam memutuskan langkah- langkah penanganan secara mandiri. (10)

3.10 Dampak Kekerasan Seksual Pada Anak-Anak


Kekerasan seksual terhadap anak dapat dilihat dari sudut pandang biologis dan
sosial, yang kesemuanya berkaitan dengan dampak psikologis pada anak. Secara
biologis, sebelum pubertas, organ-organ vital anak tidak disiapkan untuk melakukan
hubungan intim, apalagi untuk organ yang memang tidak ditujukan untuk hubungan
intim. Jika dipaksakan, maka tindakan tersebut akan merusak jaringan. Ketika terjadi
kerusakan secara fisik, maka telah terjadi tindak kekerasan.
Sedangkan dari sudut pandang sosial, karena dorongan seksual dilampiaskan
secara sembunyi-sembunyi, tentu saja pelaku tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Pelaku akan berusaha membuat anak yang menjadi sasaran ‘tutup mulut’. Salah satu
cara yang paling mungkin dilakukan adalah dengan melakukan intimidasi. Ketika
anak diancam, maka saat itu juga secara alami tubuh anak juga melakukan pertahanan
atau penolakan. Ketika secara biologis tubuh anak menolak, maka paksaan yang
dilakukan oleh pelaku akan semakin menimbulkan cedera dan kesakitan.

58
Saat itu berarti terjadi kekerasan. Rasa sakit dan ancaman ini tentu saja
menjadi pengalaman traumatis bagi anak. Anak akan selalu mengalami perasaan
tercekam sampai ia mengatakannya. Sedangkan untuk mengatakan, anak selalu
dihantui oleh intimidasi dan ancaman dari pelaku. Karena itu, rasa sakit dan

intimidasi juga menjadi kekerasan psikologis bagi anak. (10)


a. Dampak jangka pendek:
Tindakan kekerasan seksual pada anak membawa dampak emosional dan fisik
kepada korbannya. Secara emosional, anak sebagai korban kekerasan seksual
mengalami stress, depresi, goncangan jiwa, adanya perasaan bersalah dan
menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan dengan orang lain, bayangan
kejadian dimana anak menerima kekerasan seksual, mimpi buruk, insomnia,
kecanduan, keinginan bunuh diri, keluhan somatik, dan kehamilan yang tidak
diinginkan.
Selain itu muncul gangguan-gangguan psikologis seperti pasca-trauma stress
disorder, kecemasan, penyakit jiwa lain termasuk gangguan kepribadian dan
gangguan identitas disosiatif, kecenderungan untuk reviktimisasi di masa dewasa,
bulimia nervosa.
Secara fisik, korban mengalami penurunan nafsu makan, sulit tidur, sakit
kepala, tidak nyaman di sekitar vagina atau alat kelamin, berisiko tertular penyakit
menular seksual, luka di tubuh akibat perkosaan dengan kekerasan, kehamilan yang
tidak diinginkan dan lainnya. Trauma akibat kekerasan seksual pada anak akan sulit
dihilangkan jika tidak secepatnya ditangani oleh ahlinya.

b. Dampak jangka panjang :


• Post Traumatic Stress Disorder
Sindrom kecemasan, labilitas autonomik, ketidakrentanan emosional, dan
kilas balik dari pengalaman yang amat pedih setelah mengalami stress fisik
maupun emosi yang melampaui batas ketahanan orang biasa.
Gejala:
o Pengulangan pengalaman trauma, ditunjukkan dengan selalu teringat
akan peristiwa yang menyedihkan yang telah dialami, flashback

59
(merasa seolah-olah peristiwa yang menyedihkan terulang kembali),
nightmares (mimpi buruk tentang kejadian-kejadian yang
membuatnya sedih), reaksi emosional dan fisik yang berlebihan
karena dipicu oleh kenangan akan peristiwa yang menyedihkan.
o Penghindaran dan emosional, ditunjukkan dengan menghindari
aktivitas, tempat, berpikir, merasakan, atau percakapan yang
berhubungan dengan trauma. Selain itu juga kehilangan minat
terhadap semua hal, dan perasaan terasing dari orang lain.
o Sensitifitas yang meningkat, ditunjukkan dengan susah tidur, mudah
marah/tidak dapat mengendalikan marah, susah berkonsentrasi,
kewaspadaan yang berlebih, respon yang berlebihan atas segala sesuatu
• Depresi
Gejala:
o Kesedihan berkepanjangan
o Perubahan pola makan dan tidur
o Perubahan berat badan yang dikaitkan dengan perubahan pola
makan
o Merasa tidak ada energy atau loyo
o Irritabilitas
o Menurunnya konsentrasi
o Pesisme atau apatis
o Gejala somatic seperti nyeri kepala
o Pikiran bunuh diri
• Infeksi Menular Seksual seperti HIV/AIDS, Herpes genitalis dan sifilis

60
BAB IV
JURNAL PEMBANDING

Tabel 4 kelebihan dan kekurangan jurnal pembanding

JUDUL JURNAL KELEBIHAN KEKURANGAN


Question types, 1. Pengelompokkan 1. Tidak meneliti jenis
Responsiveness and Self- jenis pertanyaan lebih pertanyaan yang sebaiknya
Contradictions when sederhana digunakan sesuai dengan usia
Prosecutors and Defense 2. Mengulas perbedaan anak dan perkembangannya
Attorneys Questions cara jaksa dan pembela 2. Kebenaran kesaksian yang
Alleged Victims of Child dalam bertanya kepada diberikan anak tidak dapat
Sexual abuse anak-anak dibuktikan
3. Mengulas perbedaan 3. Data diambil dari transkrip
respon anak-anak terhadap kasus-kasus dari 12-17 tahun
pertanyaan dari jaksa dan yang lalu hanya dari 1 area
pembela 4. Tidak memperhitungkan
kompleksnya pertanyaan yang
diajukan ke anak-anak
The productivity of Wh- 1. Mengulas lebih 1. Data diambil dari transkrip
Prompts When Children dalam mengenai kasus-kasus dari 12-17 tahun
Testify pertanyaan yang lalu hanya dari 1 area
apa/bagaimana dengan 2. Tidak meneliti jenis
pembagian sesuai pertanyaan yang sebaiknya
dengan jenis jawaban digunakan sesuai dengan usia
yang dibutuhkan anak dan perkembangannya
2. Membahas mengenai
jenis pertanyaan yang
cenderung lebih mudah
dijawab oleh anak-anak

Dalam penelitian sebelumnya yang berjudul Question types, Responsiveness


and Self-Contradictions when Prosecutors and Defense Attorneys Questions Alleged

61
Victims of Child Sexual abuse (Andrews, Lamb & Lyon, 2015) diteliti mengenai tipe
pertanyaan yang digunakan, serta tanggapan anak terhadap pertanyaan tersebut.
Dibandingkan dengan jurnal utama yang dibahas dalam makalah ini, pengelompokkan
jenis pertanyaan tampak lebih sederhana yaitu hanya ada empat kategori pertanyaan;
ajakan, pertanyaan terarah, pertanyaan dengan pilihan jawaban, dan pertanyaan sugestif.
Jurnal pembanding ini juga membahas kecenderungan jaksa dan pembela dalam
memberikan pertanyaan kepada anak-anak. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa
jaksa lebih banyak menggunakan ajakan, pertanyaan terarah, dan pertanyaan dengan
pilihan jawaban, sementara pengacara pembela lebih banyak menggunakan pertanyaan
sugestif. Cara anak merespon juga diteliti dalam penelitian ini, dikelompokkan menjadi
responsive dan non-responsif, serta kontradiksi. Kontradiksi yang terjadi lebih banyak
didapatkan ketika anak-anak ditanya oleh pengacara pembela, temuan ini konsisten
dengan penelitian serupa yang telah dilakukan sebelumnya. Usia sampel pada penelitian
di jurnal pembanding ini adalah 6

– 12 tahun, yaitu usia sekolah. (11)


Berbeda dengan jurnal utama yang dibahas dalam makalah ini, dimana yang
diteliti adalah anak usia prasekolah. Usia prasekolah yang masih sangat muda memiliki
perkembangan yang kurang matang dibanding dengan anak usia sekolah sehingga
pemilihan jenis pertanyaan yang digunakan untuk mendapatkan informasi dapat menjadi
tantangan. Jurnal pembanding ini juga tidak dapat membuktikan kebenaran kesaksian
yang diberikan anak-anak. Data diambil dari transkrip kasus-kasus 12 – 17 tahun lalu dari
satu area saja yaitu Los Angeles, hal ini menjadi keterbatasan karena teknik wawancara
dapat berubah seiring berjalannya waktu dan berbeda setiap tempatnya. Kompleksnya
pertanyaan yang diajukan juga tidak diukur dalam penelitian ini, mengingat usia anak
yang berbeda-beda sehingga tingkat perkembangannya juga berbeda. Kompleksnya
pertanyaan berinteraksi dengan usia, jenis pertanyaan, dan pewawancara dapat
(12)
mempengaruhi respon yang diberikan oleh anak.

62
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kekerasan seksual atau sexual abuse pada anak adalah keterlibatan seorang anak dalam
segala bentuk aktivitas seksual yang terjadi sebelum anak mencapai batasan umur tertentu yang
ditetapkan oleh hukum negara yang bersangkutan di mana orang dewasa atau anak lain yang
usianya lebih tua atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih dari anak
memanfaatkannya untuk kesenangan seksual atau aktivitas seksual. Sexual abuse termasuk oral-
genital, genital-genital, genital-rektal, tangan-genital, tangan-rektal atau kontak tangan payudara;
pemaparan anatomi seksual, melihat dengan paksa anatomi seksual, dan menunjukkan pornografi
pada anak atau menggunakan anak dalam produksi pornografi.
Menurut pasal 81 dan 82 UU no. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak bahwa
hukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun
penjara serta denda maksimal sejumlah Rp. 5.000.000.000,- yang dikaitkan dengan pasal 76D
yaitu setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak
melakukan persetubuhan dengannya atau orang lain. Selain itu disebutkan juga dalam pasal 76E
yaitu setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan
tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau
membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Sedangkan hukuman lainnya menurut KUHP pasal 287
dan 292 menyebutkan bahwa masa hukuman terhadap pelaku pencabulan terhadap anak
maksimal 9 tahun (pasal 287) dan maksimal 5 tahun (pasal 292).
Dalam menemukan tanda-tanda terjadinya kekerasan seksual pada anak, terdapat peran
kedokteran forensik. Pemeriksaan dapat diawali dengan anamnesis, anak diwawancara mengenai
kejadian. Jenis-jenis pertanyaan yang dikeluarkan disesuaikan dengan usia anak. Pada penelitian
didapatkan bahwa pertanyaan ajakan dan terarah adalah yang paling baik digunakan dalam
mewawancara anak usia prasekolah. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menemukan tanda-tanda
terjadinya kekerasan seksual pada tubuh. Dilakukan pemeriksaan fisik umum dan khusus yaitu
pemeriksaan alat kelamin dengan teknik tertentu seperti frog leg dan knee chest position
mempertimbangkan usia anak.
Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk menentukan adanya tanda-tanda
persetubuhan maupun perlakuan lain yang dilakukan dengan alat kelamin dan bagian tubuh
tertentu anak maupun pelaku. Pada anak dapat dicari robekan selaput dara, sperma di liang
vagina, dan tanda-tanda kekerasan seperti luka gigitan, lecet, dan memar di tubuh. Pada pelaku
dapat dilakukan pemeriksaan seperti bercak sperma, darah, tanda perlawanan korban, tanda
infeksi menular seksual, dan mencari epitel vagina pada penis. Penentuan golongan darah dapat
dilakukan dengan pemeriksaan serologis air mani.

B. Saran
a. Untuk peneliti
 Meneliti lebih jauh mengenai perbedaan anak sesuai kelompok usia dalam memahami
dan menjawab pertanyaan yang kompleks.
 Penelitian lebih dalam dilakukan kepada anak-anak dari latar belakang yang bervariasi
(ekonomi, tingkat pendidikan, suku, dsb).
b. Untuk dokter
 Menggunakan jenis pertanyaan yang paling cocok sesuai pemahaman anak agar
mendapatkan laporan yang objektif dan mendekati kebenaran.
 Agar dapat menyesuaikan gaya wawancara tidak hanya dengan usia anak namun juga
keluarga anak yang mendampingi.
c. Untuk masyarakat umum
 Membina hubungan yang baik dengan anak agar anak bersikap terbuka.
 Tidak menyalahkan anak-anak atas terjadinya kekerasan seksual.

63
DAFTAR PUSTAKA

1. Setyawan D. Undang-undang republik Indonesia nomor 35 tahun 2014 tentang


perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2003 tentang perlindungan anak.
Available at http://www.kpai.go.id/hukum/undang-undang-republik-indonesia-
nomor-35-tahun-2014-tentang-perubahan-atas-undang-undang-nomor-23-tahun-
2002-tentang-perlindungan-anak/. Accessed on January 28th 2018.
2. Undang-undang republic Indonesia nomor 9 tahun 2012.
http://www.kpai.go.id/files/uu/UNDANG-UNDANG-REPUBLIK-INDONESIA-
NOMOR-9-TAHUN-2012-TENTANG-PENGESAHAN-PROTOKOL-
th
OPSIONAL-KONVENSI-HAK-HAK-ANAK.pdf . Accessed on January 28
2018.
3. Setyawan D. Tahun 2017 KPAI temukan 116 Kasus Kekerasan Seksual Terhadap
Anak. Available at: http://www.kpai.go.id/berita/tahun-2017-kpai-temukan-116-
th
kasus-kekerasan-seksual-terhadap-anak/. Accessed on January 30 2018.
4. Khadijah. Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini. Medan: Perdana Publishing;
2016. p. 19-30.
5. Sari R. Nulhaqim S. Irfan M. Pelecehan seksual terhadap anak. Prosiding KS : riset
& PKM. 2013; 2: p 16-7.
6. Indriati E. Child Sexual abuse (pencabulan terhadap anak): tinjauan klinis dan
psikologis. Berkala Ilmu kedokteran. 2001. P 111-8.
7. Ipsum L, Amet DS. Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi
Petugas Kesehatan. 2007. p. 41-53.
8. Rooy D, Brubacher SP, Cyr M, Hershkowitz I, Korkman J, Myklebust T, et al.
The NICHD protocol: a review of an internationally-used evidence-based tool for
training child forensic interviewers.
9. Harris S. Toward a better way to interview child victims of sexual abuse. National
Institute of Justice, 2010, NCJ 233282.
10. Noviana I. kekerasam seksual terhadap anak : dampak dan penanganannya. Sosio
informa. 2015;01: p 13-22.
11. Andrews SJ, Lamb ME, Lyon TD. Question types, Responsiveness and Self-
Contradictions when Prosecutors and Defense Attorneys Questions Alleged
Victims of Child Sexual abuse. Appl. Cognit. Psychol. 2014;29: 253-61.
12. Andrews SJ, Ahern EC, Stolzenberg SN, Lyon TD. The productivity of Wh-
Prompts when children testify. Appl. Cognit. Psychol. 2016;30: 341-9.

64