Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Belajar adalah kegiatan untuk memperoleh pengetahuan agar mengerti. Belajar itu sendiri
merupakan kewajiban bagi manusia dan juga merupakan kebutuhan pokok. Tanpa belajar,
kita tidak akan mengetahui informasi-informasi penting yang sedang terjadi, cara melakukan
banyak hal, dan lain sebagainya.

Dalam modul ini akan dibahas mengenai apa saja struktur dan anatomi dari craniofacial,
macam tulang penyusun craniofacial, otot-otot yang terdapat disana, dimana didalamnya
termasuk otot ekspresi dan otot pengunyahan. selain itu, dibahas pula mengenai inervasi dan
vaskularisasi, juga macam pembuluh limfe yang terdapat di craniofacial. Dibahas pula
mengenai mekanisme sensasi somatik, salah satunya adalah mekanisme nyeri.

1.2 TUJUAN

Agar mahasiswa mampu mengetahui, memahami, dan dapat menjelaskan mengenai struktur
anatomi, macam otot, macam limfatik, inervasi dan vaskularisasi yang terdapat pada
craniofacial, juga mekanisme dari sensasi somatik.

1.3 MANFAAT

Setelah melewati modul ini mahasiswa di harapkan mengetahui dan dapat menjelaskan
hal-hal yang berhubungan dengan anatomi dan struktur craniofacial, macam otot yang
terdapat didalamnya, macam pembuluh limfe, inervasi dan vaskularisasi yang terdapat pada
craniofacial. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan dapat menjelaskan mengenai
mekanisme sensasi somatik yang terjadi pada manusia. Mahasiswa juga diharapkan agar
dapat menerapkan hal-hal yang sudah didapatkan pada modul ini dalam jangka panjang
yang nantinya berguna di waktu yang akan datang.

1
BAB II

PEMBAHASAN DAN ISI

2.1 SKENARIO

JUDUL SKENARIO : CRANIOFACIAL DAN SENSASI SOMATIK.

Irene Mahasiswa PSKG mengamatiatlas anatomi di hadapannya. Dia berusaha memahami


dan menghafalkan struktur dan tofografi cranial, facial, dan midface yang ada di gambar
tengkorak manusia. Dengan susah payah ia juga berusaha menghafalkan nama latin
otot-otot, inervasi, vaskularisasi dan pembuluh limfe yang berada di sekitar regio itu. Saat
tiba di struktur anatomi maksila dan mandibula irene mulai merasa nyaman karena
menurutnya lebih mudah. Ia semakin bersemangat dan tertarik untuk memahami bagaimana
interaksi bagian-bagian regio craniofacialis dapat membentuk wajah seseorang dan
bagaimana mekanisme sensasi somatik seperti sensasi nyeri pada regio craniofacial?

2.2 IDENTIFIKASI ISTILAH

1. Innervasi

Sistem persyarafan pada daerah tubuh

2. Somatik

adalah semua jenis sel yang membentuk suatu organisme

3. Craniofacial

Cranio : Tengkorak, Facial : Wajah

Tulang pembentuk tengkorak dan wajah

4. Pembuluh Limfe

Di sebut juga pembuluh getah bening, pembuluh yang mengangkut cairan dan protein yang
berlebih dari jaringanke dalam darah

5. Topografi

Ilmu yang mempelajari tentang bentuk dan permukaan.

2
6. Regio

Bagian/Tempat/Wilayah

7. Midface

Bagian tengah pada wajah.

8. Muscle

Disebut juga “Otot” , serabut-serabut yang dapat berkontraksi dan bervaskularisasi ketika
ada stimulus, sehingga menjadi alat gerak aktif.

9. Cranial

Tulang yang melindungi otak/organ vital yang berada di kepala.

10. Vaskularisasi

Pembentukan pembuluh darah.

Sistem peredaran darah pada seluruh tubuh.

11. Facial

Wajah, jika bahasa kedokteran disebut facial dan viscerum

2.3 IDENTIFIKASI MASALAH

1. Apa saja os.penyusun cranium ?

2. Apa saja struktur anatomi craniofacial ?

3. Bagaimana struktur anatomi maksila dan mandibula ?

4. Otot apa saja pada maksila dan mandibula ?

5. Yang mempengaruhi bentuk wajah dan ekspresi ?

6. Bagaimana innervasi pada craniofacial ?

7. Bagaimana vaskularisasi pada craniofacial ?

8. Bagimana sistem pembuluh limfe ?

9. Hubungan innervasi, otot, vaskularisasi, dan pembuluh limfe ?

10. Bagaimana mekanisme sensasi somatik nyeri pada craniofacial ?

3
2.4 ANALISA MASALAH

1. Tulang penyusun tengkorak terbagi 2 yaitu :

a. Neurocranium (pembungkus tulang-tulang otak)

Os. Occioitale 1

Os. Parietale 2

Os. Frontale 1

Os. Temporale 2

Os. Spenoidal 1

Os. Etmoidal 1

b. Viserocranium (pembentuk wajah)

Os. Nasale 2

Os. Maxilla 2

Os. Lacrimale 2

Os. Zygomaticum 2

Os. Palatinum 2

Os. Vomer 1

Os. Concha nasalisinferior 2

Os. Mandibulla 1

2. Struktur anatomi craniofacial

Lamina cribrosa: n. I & a. ethmoidalis ant.

Canalis opticus: n. II & a. ophtalmica

Fissura orbitalis inf.: n.lacrimalis, n.frontalis, n.trochealis; n.VI,n.III, n.nasociliaris

Foramen rotundum: n. V

Foramen ovale: n. V1

Foramen spinosum: a. meningica media, r. reccurent n. V1, r. meningea n. V1

Canalis caroticum: a. carotis interna

4
Hiatus n. petrosi major: n. petrosus major

Hiatus n. petrosi minor: n. petrosus minor

Foramen magnum: medulla oblongata, pars spinalis n. XI, a. vertebralis, a. spinalis, a.


spinalis posterior

Canalis hypoglossi: n. XII

Foramen jugulare: n. IX, n. X, n. XI, v. jugularis interna, a. meningea posterior

Meatus acusticus internus: AV labyrinthi, n.VII, n. VIII

Foramen stylomastoideus: a. stylomastoidea

Fissura petrotympanica: a. tympanica anterior

Foramen palatina major: a. palatina major, n. palatina majus

Foramen palatina minor: AN palatina minor

Canalis incisivus: AN nasopalatina

- Canalis condylaris: v. emissaria condylaris

3. Struktur anatomi maksila dan mandibula

A. Maxilla

Palatinum (langit-langit)

Nasal

Korpus maksilae

Sinus maksilaris

Prosesus :

-Fontarlis

-Alveolaris

-Zygomaticus

-Palatinus

B. Mandibulla

Korpus eksternus (cembung) dan internus (cekung)

5
Angulus mandibula

Pars alveolaris

Foramen mandibula dan mentalis

Ramus eksternus dan internus

4. Otot-otot Craniofacial

a. Mimik

 Kulit kepala (m.ocipitofrontalis)

 Alis mata (.obricularis oculi)

 Hidung (m.nasal, m.lavetor labii, m.prosesus)

 Mulut (m.obricularis oris, m.mentalis, m.bucinnator)

b. Pengunyah :

 M.masseter

 M.temporalis (menarik rahang bawah ke atas dan kebelakang)

 M.pterigoideus (menarik rahang bawah kedepan)

 M.lateralM.medial

c. Mata

 Obriculus oculi

- Pal.perbal (melindungi mata)

- orbitalis (sekitar mata)

d. Alis

 Corugator supercili

 Reptus oculi (menutup mata)

e. Hidung

 M.Proserus (mengerutkan dahi)

 M.Nasalis

- Transfersa (mengembang kempiskan hidung)

6
- Alaris

 Deprosor septi

 M.lavetor labii

5. Pengaruh bentuk wajah dan ekspresi

Bentuk wajah

Genetika

Bentuk ekspresi

Hormon dofamin (bahagia)

6. Innervasi pada craniofacial

N.cranial V (Trigeminus)

V1 : ephitalmicus (dari bagian kulit depan)

V2 : maksilaris (dari kelopak mata hingga ke pipi)

V3 : mandibularis (dari kulit bibir depan bawah hingga ke dagu)

N.cranial VII (Facia)

-Zygomaticus

-Maksila

-Mandibula

-Bukal

-Temporal

7. Vaskularisasi pada craniofacial

a. Inferior alveolaris : mandibula

a. Superior alveolaris : maksila

a. Carotis eksterna : a. Tiroidea superior

pharingea ascenden

lingualis

facialis

7
oksipitalis

aurikularis posterior

tempralis superficial

v. Jugularis

8. Sistem pembuluh limfe

Mastoidei

Parotidei

Faciales

Submental

Submandibula

Lingaulis

Adenoid
Kelenjar limfe
Tonsil

9. Hubungan Otot, Innervasi, Vaskularisasi dan Pembuluh Limfe

Sangat berhubungan dimulai dari innervasi dan vaskularisasi karena otot tidak dapat bekerja
jika tidak mendapatkan perintah dari innervasi dan vaskularisasi sehingga terjadinya
rangsangan. Pembuluh limfe berfungsi untuk mengangkut cairan dalam sel ke jaringan dan
akan masuk ke pembuluh darah. Jika salah satu tidak ada maka kinerja dalam tubuh tidak
dapat maksimal.

10. Mekanisme Sensasi Somatik pada Nyeri

a) Stimulus : dapat terjadi karena adanya mekanik dan kimia kemudian akan
mengaktifkan histamin dan mengaktifkan reaksi nonsepsi yang akan masuk ke
impuls saraf perifer.

b) Rekasi nonsepsi terjadi 4 reaksi

 Transduksi

 Transmisi

 Modulasi

 Persepsi

8
2.5 STRUKTURISASI KONSEP

2.6 LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa mampu mengetahui anatomi pada regio Craniofacial

2. Mahasiswa mampu mengetahui Inervasi dan vaskularisasi pada regio Craniofacial

3. Mahasiswa mampu mengetahui Pembuluh limfe pada regio Craniofacial

4. Mahasiswa mampu mengetahui sensasi somatik nyeri pada regio Craniofacial

2.7 BELAJAR MANDIRI

Masing-masing anggota diskusi melakukan proses belajar mandiri yang dilaksanakan


dari hari Rabu, 7 Februari 2018 dan Kamis, 8 Februari 2018 dengan tujuan belajar yang telah
dirumuskan pada step 5 untuk mengetahui lebih dalam terhadap materi yang akan dibahas
pada diskusi kelompok kecil ( DKK ) dengan mempergunakan referensi yang telah
tersedia dan mengembangkan apa yang anggota kelompok pahami dari pembelajaran
tersebut.

9
2.8 SINTESIS

1. Anatomi Cranifacial

Tulang-tulang tengkorak; Ossa Cranii; dilihat dari frontal; lihat bagian warna pada bagian
dalam dari sampai belakang volume ini.

Rahang atas atau maxilla terletak diantara orbita dan rongga mulut. Maxilla ikut serta dalam
pembentukan batas bawah dan medial orbita dan memiliki batas lateral dengan os
zygomaticum. Rahang bawah atau mandibular terdiri dari corpus dan rami mandibulae, yang
menyatu di angulus mandibulae. Corpus mandibulae terdiri dari pars alveolaris dengan gigi
dan babsis mandibulae dibawahnya.

10
Tulang-tulang tengkorak; Ossa Cranii; dilihat dar lateral; lihat bagian warna pada bagian
dalam dari sampai belakang volume ini.

Pandangan lateral memperlihatkan Ossa Frontale, parietal, occipital, sphenoidale, dan


temporale, bagian-bagian dari viscerocranium (os. Nasale, os. Lacrimale, maxilla, dan os
zygomaticum) serta sisi lateral rahang bawah (mandibula). Os temporale dan os
zygomaticum membentuk arcus zygomaticus, yang menjembatani fossa temporalis.

11
Tulang-tulang tengkorak; Ossa Cranii; dilihat dari superior; lihat bagian warna pada
bagian dalam dari sampai belakang volume ini.

Pandangan menuju bagian atap/atas tengkorak (skull cap, calvaria) memperlihatkan os


frontale, os parietal, dan os occipital. Os frontale dan os parietal dipisahkan oleh sutura
coronalis. Kedua ossa parietalia bertemu di sutura sagitalis. Os occipital berhubungan
dengan dua ossa parietalia melalui sutura lamboidea. Titik kontak antara sutura coronalis
dan sagitalis disebut bregma, titik kontak antara sutura sagitalis dan lamboidea dinamai
lambda.

12
Tulang-tulang tengkorak; Ossa Cranii; dilihat dar posterior; lihat bagian warna pada
bagian dalam dari sampai belakang volume ini.

Pandangan dari sisi posterior ini memperlihatkan os temporal, parietal, dan os occipital. Os
occipital menempati sebagian besar dari bagian posterior cranium. Struktur centra adalah
squama occipitalis. Pada sekitar 2-2,5 cm dibawah protuberantia occipitalis externa, terdapat
linea nuchales inferiors yang juga berjalan membentuk lengkung serupa dan fungsi sebagai
tempat perlekatan tambahan bagi otot.

13
Batas Regio Facei
Titik glabella ke arah lateral melalui arcus superciliaris, arcus zygomaticus, meatus
acusticus externus, tepi dorsal ramus mandibulaesampai tepi caudal corpus mandibulae

Otot scalp (epicranius)


M. occipitofrontalis :
M. occiptalis :
• O : linea nuchae superior, proc. Mastoideus ossis temporalis
• I : galea aponeurotica
M. frontalis :
• O : galea aponeurotica
• I: kulit dahi, alis, bergabung dengan m. orbicularis oculi

Otot-otot regiones facei et capitis terbagi menjadi 2 golongan :


• Otot mimik/Facial muscles
(muscle of expression)

14
• Musculus masticatorius
(muscles of mastication)

Otot-otot Ekspresi Muka (mm.faciales)


• Letaknya sangat superficial,
• Berorigo pada tulang dan insertio pada kulit
• variabilitasnya besar
• diinervasi oleh m.facialis.
Pembagian :
• Otot pada kulit kepala (muscle of scalp)
• Otot extrinsix telinga (muscle of auricle)
• Otot mata /aditus orbitae (muscle opening of orbit)
• Otot hidung (muscle of nose)
• Otot mulut (muscle of mouth)

Muscle of auricle
M. auricularis anterior :
• O : fascia temporalis
M. auricularis superior
• O : fascia temporalis dan galea aponeurotica
M. auricularis posterior
• O : proc mastoideus
Ketiganya berinsertio pada cartilago auricle

Otot-otot aditus orbitae


m. orbicularis oculi:
• merupakan sphincter berbentuk elips
• Fungsi : melindungi terhadap cahaya/sinar, menutup palpebra dan antagonis dengan
m.frontalis
• Pars orbitalis : serabut-serabut otot yang melekat pada medial orbita dan medial
ligamentum palpebrale medialis
• Fungsi : menutup mata dengan rapat
Pars palpebralis :
• serabut-serabut otot yang melekat pada lig.palpebrale mediale, lamina tarsalis dan
septum orbitale; m.ciliaris merupakan berkas kecil dekat tepi masing-masing
palpebra.
• Fungsi : meutup mata dengan pelan

15
Pars lacrimalis :
• bagian ini terletak di belakang saccus lacrimalis melekat pada os lacrimale dan raphe
palpebrale lateralis,
• Fungsi : dilatasi saccus lacrimalis (?)
Gangguan fungsi menyebabkan ectropion dan epipphora

M. corrugator supercilii :
• Melekat pada tepi medial arcus supercilii dan kulit alis
• Serabutnya berjalan ke craniolateral menembus m. frontalis dan m. orbicularis oculi
• Fungsi : menarik alis ke caudomedial

Muscle of nose
M. Procerus (pyramidalis nasi):
• O : os nasalis;
• I : kulit di atas radix nasi/kedua alis
• Fungsi : menarik ujung medial alis ke caudal > lipatan transversal pada ujung hidung
M. Nasalis :
Pars tranversa (compressor nares)
• O : fossa canina
• I : kulit di dorsum nasi
• Fungsi : menyempitkan nares
Pars alaris (dilatator nares) :
• O : os maxilla
• I : ala nasi.
• Fungsi : melebarkan nares
M.depressor septi:
• O : Jugum alveolare incisivius lateralis superior;
• I : Septum mobile nasi.
Fungsi :
• membantu melebarkan nostril, Terutama saat sulit bernafas.

Otot yang melekat pada bibir atas


(M. quadratus labii superior) :
• M. Levator labii sup
• M. Levator labii superioris alaqua nasi
• M. zygomaticus minus

16
Otot yang melekat pada sudut mulut :
• M. zygomaticus major
• M. levator anguli oris (m. caninus)
• M. depressor anguli oris (m. triangularis)
• M. rizorius

Otot yang melekat pada bibir bawah :


• M. quadratus labii inferior (m. depressor labii inf)
• M. mentalis
• M buccinator
Muscle of mouth
M. buccinator :
• Letak otot ini antara maxilla dan mandibula
• O = processus alveolaris mandibulae, maxillae dan raphe pterygomandibularis,
• I = ke dalam orbicularis oris dan bibir atas dan bibir bawah (labium superior dan
labium inferior)
• Otot ini tertutup oleh fascia buccopharyngeus, dan ditembus oleh ductus parotideus
• Fungsi : agar pipi tetap tegang, menarik sudut mulut ke lateral, menutup rima Oris
menekan bibir dan pipi pada gigi.

2. INNERVASI DAN VASKULARISASI CRANIOFACIAL

Innervasi Craniofacial

Pada innervasi craniofacial dapat kita temui 12 syaraf kranial yaitu

1. Nervus I ( Olfactorius ) yang berfungsi sebagai penyampaian informasi bau ke cortex


melalui jaras tiga-neoron klasik.

 Neuron sensorik orde pertama terletak di dalam mucosa septum nasi atas dan chonca
nasalis superior.

 Neuron sensorik orde kedua terletak didalam bulbus olfaktori. Axon-axonnya berjalan
didalam traktus olfaktorius menuju striae olfaktoriae medialis atau lateralis.

 Neuron orde ketiga menyampaikan informasi ke kortex cerebralis

2. Nervus II ( Opticus ) yang berfungsi untuk menyampaikan informasi penglihatan dari


retina ke kortex visual melalui jaras empat-neuron.

17
Neuron orde pertama ( sel batang dan sel kerucut ) di dalam retina menterjemahkan
foton-foton yang masuk menjadi impuls, yang disampaikan ke neuron bipolar orde kedua dan
sel ganglion orde ketiga. Sel – sel ganglion retina ini bergabung untuk membentuk N.optikus
( N.II ). N.Optikus dari orbita ke fossa cranii media melalui canalis orbitalis ( canalis optikus
adalah medial terhadap fissura orbitalis superior yang digunakan nervus kranialis yang lain
untuk memasuki orbita.

3. Nervus III ( Oculomotorius ) berfungsi untuk otot-otot orbita untuk gerakan bola mata

N.III muncul dari mesenphalon tingkat tertinggi dari batang otak. Berjalan ke anterior melalui
dinding lateral sinus cavernusus untuk masuk ke orbita melalui fissura orbitalis superior.
Sesudah melalui annulis tendineus communis , N.III dibagi menjadi divisi superior dan
inferior.

4. N. IV ( Trochlearis ) berfungsi untuk otot-otot orbita untuk menggerakan bola mata.

N.IV adalah satu-satunya nervus kranialis yang berasal dari sisi dorsal ( permukaan
posterior ) batang otak . sesudah keluar dari mesenphalon, berjalan ke anterior disekitar
penduculus cerebrii. N.IV kemudian masuk ke orbita melalui fissura orbitalis superior,
berjalan lateral terhadap annulus tendineus communis. Memiliki perjalanan intradular
terpanjang dari saraf sensorik-motorik ekstraokuler.

5. N.V ( Trigeminus ) berfungsi sebagai motoris : gerakan rahan dan otot pengunyhan,
sedangkan sensoris berfungsi : sensasi pada wajah, gigi, ligamen periodontium,2/3 anterir
lidah otot-otot orbita untuk gerakan mata.

Radiks sensori dibentuk oleh 3 divisi yang bersatu sebagai ganglion trigeminale didalam
fossa cranii media.

Divisi 1 : N.V1 (Ophthalmicus) dari orbita melalui fissura orbitalis superior

Divisi 2 : N.V2 (Maxillaris) dari fossa pterygopalatina melalui foramen rotundum

Divisi 3 : N.V3 (Mandibullaris) dari basis cranii inferior melalui foramen ovale.

6. N.VI ( Abdusen ) berfungsi sebagai otot penggerak ekspresi wajah

N.VI mengikuti jaras ekstradural yang panjang. Berasal dari pontomedullary junction (batas
inferior pons) dan berjalan melalui sinus cavernosus berdampingan dengan arteri carotis
interna. N.VI masuk ke orbita melalui fissura orbitalis superior dan berjalan melalui annulus
tendineus communis.

7. N.VII ( Facialis ) berfungsi sebagai sensoris : pengecapan ke 2/3 anterior lidah,


sedangkan sekretoris : ke glandula sub mandibullaris dan sub lingualis

18
Kemunculannya : akson dari nukleus salivarius superior dan nukleus tractus solitarii
membentuk nervusintermedius. Ini bergabung dengan seabut branchiomotorik dan somato
sensorik untuk muncul dari batang otak sebagai N.VII cabang internal : memasuki os.
Petrosum melalui meatus acuticus internus. Didalam canalis facialis, mempercabangkan
satu cabang branchiomotorik (saraf ke muskulus stapedius) dan dua saraf (N.petrsosu major
dan chorda tyempani) yang mengandung serabut parasimpatetik dan serabut kecap.

Cabang eksternal : serabut-serabut sisanya muncul melalui foramen stylomastoideum. Tiga


cabang langsung muncul sebelum serabut memasuki glandula parotidea (saraf untuk
m.digastrivus venter posterior , saraf untuk m.stylohyoideus, dan n. Auricularis posterior).
Didalam glandula,serabut-serabut branchiomotorik bercabang utnuk membentuk plexus
intraparotideus, yang mempersarafi otot-otot arcus branchialis ke 2.

8. N.VIII ( Vestibulocochlearis ) berfungsi sebagai indera pendengaran, posisi, dan


keseimbangan.

N.Vestubularis dan cochlearis menyatu di meatus acusticus internus untuk membentuk


nervus vestibulococlearis, yang di tutupi oleh selubung jaringan ikat biasa. Saraf muncul dari
meatus acusticus internus pada permukaan medial os.petrosum dan memasuki batang otak
setinggi ponto medullary junction, khususnya pada angulus ponto cerebellaris.

9. N.IX ( Glossopharyngeal) sebagai sekretoris : ke glandula parotis, gerakan pharyngs


sedangkan sensoris : rasa pada pharyngs dan 1/3 posterior lidah, serta pengecapan pada
1/3 posterior lidah.

N.Glossopharyngeus muncul dari medulla oblongatadan keluar ke cranium melawati foramen


jugelare. Memiliki dua ganglion sensorik dengan sel-sel pseudounipolare orde pertama ;
ganglion superius (somato sensorik) ada di dalam cavitas cranii dan ganglion inverius (fisero
sensorik) terletak distal terhadap jugulare

10. N. X ( Vagus ) berfungsi sebagai gerakan pharynx dan laryx : tractus digestivus.

N.Vagus muncul dari medulla oblongata dan keluar dari cranium melalui foramen jugelare.
Memiliki dua ganglia sensorik dengan sel-sel psedounipolare orede pertama : ganglion
superius atau jugulare (somato sensorik) didalam cavitas cranii dan ganglion inferius atau
nodosum (fisero sensorik) didistal foramen jugelare

11. N.XI ( Accesorius) berfungsi untuk gerakan : muskulu sternocleidomastoideus dan


muskulus trapezeus

19
N.XI muncul dan berjalan dalam dua bagian yang menyatu secara umum :

1. Radiks Cranialis : serabut-serabut branchio motorik keluar dari medulla oblongata dan
melewati foramen jugulare. Merka secara umum menyatu dengan radiks spinalis sebelum
bergabung dengan N.X di ganglion anterius. N.X mendistribusikan serabut-serabut
branchiomotorik melalui plexus pharyngealis dan ramus eksternus nervi laryngei superioris
serta N.laryngealis recurrens.

2. Radiks Spinalis : serabut-serabut somato motorik umum keluar sebagai akar-akar kecil
dari medulla spinalis. Serabut menyatu dan naik melalui foramen magnum. Radiks spinalis
kemudian melewati foraen jugulare, berjalan singkat dengan radiks cranialis, serabut turun
untuk mempersarafi muskulus sternocleido mastoideus dan muskulus trapezeus

12. N.XII ( Hypoglossus) berfungsi sebagai motoris : gerakan lidah (otot-otot)

N.Hypoglossus keluar dari medulla oblongata sebagai akar-akar kecil diantara oliva dan
pyramis . akar-akar kecil ini bergabung menjadi N.XII, yang berjalan melewati canalis
hypoglossi (condylaris anterior ). N.XII memasuki radiks linguae di superior os.hyodeum dan
lateral muskulus hyglossus.

Vaskularisasi Craniofacial

Arteri :

Arteri utama yang memvakularisasi dari region facei adalah a.facialis sebagai pemasok
utama untuk wajah dan a.temporalis superficialis. Arteri ini merupakan percabangan dari
arteri carotis eksterna.

Arteri facialis berjalan ke arah superior , ke anterior , ke lateral nasal. Arteri berjalan
berkelok-kelok diantara otot wajah. Arteri facial di lepaskan dari arteria carotis externa dan
meliuk-liuk ke tepi bawah mandibula, tepat anterior terhadap musculus masseter. Lalu arteria
facialis melintasi wajah ke commisura palpebralis medialis (sudut pertemuan palpebra
superior dan palpebra inferior sebelah medial). Arteria facialis melepaskan cabang-cabang
ke bibir atas dan bibir bawah (arteria labialis superior dan arteria labialis inferior), ke sisi
hidung (ramus nasalis lateralis), dan berakhir sebagai arteria angularis yang menghantar
darah kepada commisura palpebralis medialis.

Arteri Temporalis superficialis masuk ke glandula parotidea dan keluar dari glandula
parotidea pada margo superiornya, selanjutnya arteri akan berjalan melintasi arcus

20
zygomaticus diamana denyutnya di raba dan berlanjut ke superficialis temporalis untuk
memvaskularisasi kulit kepala melalui arteri temporalis media dan ramus frontalis

Vena :

Vena facialis merupakan penyalur balik darah utama dari wajah. Vena ini berawal di
commisura palpebralis medialis sebagai vena angularis dengan bersatunya vena
supraorbitalis dan vena supratrochlearis. Vena facialis lalu melintas ke inferolateral melewati
wajah, di belakang arteria facialis. Di sebelah bawah tepi mandibula ramus anterior vena
retromanidbularis bergabung dengan vena facialis. Vena facialis bermuara langsung dan
tidak langsung ke dalam vena jugularis interna.

Vena temporalis superficialis menyalurkan kembali darah dari dahi dan kulit kepala dan
menerima anak-anak cabang dari vena peilips dan wajah. Di dekat auricula cena temporalis
superficialis memasuki glandula parotidea. Vena retromandibularis yang terbentuk dari
persatuan vena temporalis superficialis dan vena maxillaris, turun di dalam glandula
parotidea, superfisial terhadap arteria carotis externa dan di ebelah dalam nervus facialis.
Vena retromandibularis membentuk sebuah ramus anterior yang bergabung dengan vena
facialis dan ramus posterior yang bersatu dengan vena auricularis posterior menjadi vena
jugularis externa.

3. Pembuluh Limfe

Sistem limfatik agak lebih kompelks karena berperan mengumpulkan cairan jaringan
yng di luar dari kapiler darah kemudian mengembalikan cairan ini ke sistem vaskular. Pada
area kapiler arteri, tekanan darah melebihi tekanan osmotik, sehingga cairan lolos ke dalam
ruang jaringan. Pada area kapiler vena, tekanan darah lebih rendah dan tekanan osmotik
menjadi lebih tinggi memaksa 90% cairan jaringan kembali pada kapiler vena. Sedangkan
10% sisanya adalah limfe yang berjalan ke dalam lumen kepiler limfe dan kemudian di
kumpulkan dalam nodus dan dikembalikan ke sistem vaskular.

Sistem limfatik berfungsi sebagai berikut :

 Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah

 Mengangkut limfosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah

 Membawa lemak yang sudah dibuat emulsi dari usus ke sirkulasi darah

 Menghasilkan zat imun (antibodi)

21
Aliran Limfe Kepla dan Leher dimulai dari tonsil ke Nodi lymphoidei di daerah kepala
dan leher tersusun dalam sebuah kelompok leher yang terbentang dari bawah dagu sampai
ke belakang kepala dan sebuah kelompok terminal verticalis profunda yang tertanam di
dalam sarung carotis di daerah leher.

 Nodi lymphoidei occipitales

Terletak di atas os occipitale pada belakang kepala. Menampung limfe dari bagian
belakang kulit kepala.

 Nodi lymphoidei mastoidei

Terletak di belakang telinga di ata processus mastoideus. Menampung limfe dari kulit
kepala di ata telinga, auricula dan meatus acusticus externus

 Nodi lymphoidei parotidei

Terletak pada atau di dalam glandula parotidea. Menampung limfe dari kulit kepala di
atas glandula parotidea kelopak mata, glandula parotidea, auricula dan meatus acusticus
externus.

22
 Nodi lymphoidei buccinatorius (faciales)

Satu atau dua nodi pada pipi di atas musculus buccinator. Menampung limfe yang
akhirnya bermuara ke nodi lymphoidei submandibulares.

 Nodi lymphoidei subamandibulares

Terletak pada permukaan superfisial glandula salivaria submandibularis, tepat di


bawah pinggir bawah mandibulae. Menampung limfe dari kulit kepala bagian depary hidung,
pipi, bibir atas dan bawah (kecuali bagian tengah), sinus frontallis, maxillaris, dan ethmodalis;
gigi atas dan bawah (kecuali incisivus bawah); dua pertiga bagian anterior lidah (kecuali
ujung lidah); dasar mulut dan vestibulum dan gusi.

 Nodi lymphoidei submentales

Terletak di dalam trigonum submentale tepat di bawah dagu. Menampung limfe dari
ujung lidah, dasar mulut begian anterior, gigi incisivus, bagian tengah bibih bawah dan kulit di
atas dagu.

 Nodi lymphoidei cervicales anteriores

Terletak sepanjang vena jugularis antedor pada sisi depan leher. Menampung limfe dari
kulit dan jaringan superfisialis leher bagian depan

 Nodi lymphoidei cervicales superficiales

Terletak sepanjang vena jugularis externa pada sisi lateral leher. Menampung limfe dari
kulit di ata angulus mandibulae, kulit di atas bagian bawah glandula parotidea dan lobus
auricula.

4. Mekanisme Sistem Somatik pada Nyeri

Terjadi insiasi dan perjalanan potensial aksi serta terjadinya pembukaan massif kanal
NA+ berpintu listrik pada potensial ambang. Lalu, impuls nyeri ( potensial aksi di serat oleh
saraf yang membawa sinyal nyeri ) akan terbentuk dan menjalar ke otak dan mencapai
ambang kesadaran melalui 4 reaksi yaitu :

1) Transduksi

Aktivasi reseptor adanya stimulus nyeri yang mengakibatkan stimulasi nosiseptor.


Kemudian stimulus noxlus menjadi potensial aksi.

23
2) Transmisi

Potensial aksi ditransmisikan menuju neuron susunan saraf pusat yang


berhubungan dengan nyeri

3) Modulasi

Sinyal yang mampu memengaruhi proses nyeri tersebut. Sinyal tersebut akan di
proses di kornudorsalis medulla spinalis

4) Persepsi

Pesan nyeri yang telah di terima akan masuk ke otak dan menghasilkan
pengalaman yang tidak menyenangkan

24
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Melalui hasil belajar mandiri yang telah didiskusikan pada diskusi kelompok kecil (DKK)
mengenai dentocraniofacial. Fokus pokok pembelajaran dalam DKK ini adalah anatomi
craniofacial, innervasi dan vaskularisasi craniofacial, pembuluh limfe dan mekanisme
sistem somatik pada nyeri. Hingga pembahasan lain yang dapat mendu kung
pemahaman kami mengenai DKK ini.

3.2 Saran

Mengingat masih banyaknya kekurangan dari kelompok kami, baik dari segi diskusi
kelompok, penulisan tugas tertulis dan sebagainya, untuk itu kami menerima kritik dan
saran dari dosen-dosen yang mengajar, baik yang sebagai tutor ataupun dosen yang
memberi materi kuliah, dan dari rekan-rekan semua dan dari berbagai pihak demi
kesempurnaan laporan ini.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Sabotta.Atlas of Human Anatomy . EGC


2. Baker, Eric W. Anatomi untuk kedokteran gigi : kepala dan leher. Jakarta : EGC, 2014
3. Scheid, Rickne C. & Weiss, Gabriela. Woelfel Anatomi Gigi. Ed. 8 Jakarta : EGC,
2013
4. Snell, Richard S. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. Jakarta : EGC

26

Anda mungkin juga menyukai