Anda di halaman 1dari 17

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya, Sehingga kami penulis dapat menyesaikan
makalah ini “TES INTELEGENSI” tepat pada waktunya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Kekasih Allah
nabi besar Muhammad SAW. Karena berkat beliau yang telah membawa kita dari
alam kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan yang kita rasakan seperti
sekarang ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun
makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat
kami harapkan dari pembaca guna kesempurnaan makalah ini.

Malang, 24 September 2018

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................1


DAFTAR ISI ......................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................3
B. Rumusan Masalah ..................................................................................4
C. Tujuan Penulisan ...................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Tes Intelegensi...........................................................................5
B. Teori-Teori Intelegensi............................................................................7
C. Bentuk Tes Intelegensi ............................................................................11
D. Tujuan Tes Intelegensi ............................................................................12
E. Kelebihan dan Kekurangan Tes Intelegensi ............................................13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................17

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk-makhluk
ciptaan Allah SWT di bumi ini. Diberinya daya cipta, rasa dan karsa yang
memungkinkan manusia untuk berbuat lebih besar dari pada otak mereka yang
kecil. Kekuatan berpikir itulah yang sering disebut-sebut dengan intelegensi.
Manusia yang mempunyai intelegensi yang tinggi, tentulah mereka lebih
unggul daripada manusia yang memiliki intelegesi yang rendah. Intelegensi
merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir, bukan timbul secara tiba-tiba.
Yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu.
Intelegensi juga dapat dipahami sebagai kemampuan yang bersifat umum untuk
mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah.
Istilah Intelegensi yang padanan katanya “kecerdasan”, walaupun
sepintas lalu kelihatan jelas, rupanya tidak mudah dirumuskan, karena tidak
semua orang atau bahkan setiap ahli menyatakan hal yang sama untuk istilah
tersebut. Banyak ahli yang berbeda persepsi untuk mendefinisikan istilah
inteligensi. Intelegensi merupakan salah satu konsep yang di pelajari dalam
psikologi. Tes Inteligensi sebagai suatu instrumen tes psikologi dapat
menyajikan fungsi-fungsi tertentu. Tes inteligensi dapat memberikan data untuk
membantu peserta didik dalam menigkatkan pemahaman diri (self-
understanding), penilaian diri (self-evaluation), dan penerimaan diri (self-
acceptance).
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog
asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk
mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak
yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian
direvisi pada tahun 1911.

3
B. Rumusan Masalah
a. Apa definisi dari tes intelegensi ?
b. Apa teori-teori tentang tes intelegensi ?
c. Bagaimana bentuk dari tes intelegensi ?
d. Apa tujuan dari dilakukannya tes intelegensi ?
e. Apa kelebihan dan kelemahan tes intelegensi?

C. Tujuan Penulisan
a. Mengetahui definisi dari tes intelegensi.
b. Mengetahui teori-teori tentang tes intelegensi.
c. Mengetahui bentuk dari tes intelegensi.
d. Mengetahui tujuan dari dilakukannya tes intelegensi.
e. Mengetahui kelebihan dan kelemahan tes intelegensi.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Tes Inteligensi


1. Definisi Tes
Kata “tes” biasanya merujuk pada serangkaian standar pertanyaan
yang dijawab dengan jawaban oral atau jawaban tertulis. Tes merupakan
suatu cara khusus memeriksa keberadaan atau kekurangan indikator-
indikator tertentu, melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan. Seringkali
terdapat hubungan yang jelas antara pilihan jawaban responden dan hasil tes
yang dapat diukur (Jones, 2012).
Tes psikologi atau psychological testing seperti yang dimaksud oleh
Cronbach merupakan prosedur sistematis yang digunakan untuk mengamati
perilaku dan mendeskripsikannya dengan skala numerik atau kategori yang
telah ditetapkan. Penguji atau tester melakukan pengumpulan informasi
dengan mempertanyakan atau melakukan pengamatan pada seseorang
dengan cara dan situasi yang sama dengan orang lain. Definisi yang
dijelaskan oleh Cronbach meliputi kuesioner untuk memperoleh laporan
tentang kepribadian, prosedur untuk perilaku observasi sosial, alat tes untuk
mengukur koordinasi, hingga catatan output pada jalur produksi (Cronbach,
1990).
Selain itu, Azwar mengatakan bahwa kata “tes” dalam dunia
psikologi berkaitan erat dengan pengukuran dan evaluasi. Anastasi dan
Brown (dalam Azwar, 2007) menjelaskan bahwa tes dapat pula dipandang
sebagai prosedur pengumpulan sampel perilaku yang akan dikenai nilai
kuantitatif. Berkaitan dengan hal ini, objek pengukuran adalah atribut
psikologis dan sampel perilaku yang tampak adalah hal yang dapat diukur
secara langsung (Azwar, 2007). Atribut psikologis adalah konstrak teoretik
yang ada secara hipotetik dan dikonsepkan untuk mendeskripsikan dimensi
psikologis yang ada dalam diri individu.

5
2. Definisi Inteligensi
Sebagai salah satu topik yang paling sering diteliti dalam bidang
psikologi, inteligensi manusia tak luput dari pengetesan dan evaluasi.
Definisi operasional dari inteligensi sendiri menurut Boring (dalam
Gregory, 2013) adalah “apa yang hendak diukur oleh alat ukur”. Definisi
operasional tersebut dirancang untuk menghindari pertentangan dalam
definisi inteligensi. Menurut Stenberg (dalam Gregory, 2013) terdapat dua
kelemahan bagi definisi operasional inteligensi. Definisi operasional
bersifat sirkuler dan definisi operasional dapat menghambat pemahaman
lebih lanjut mengenai sifat dasar inteligensi.
Penciptaan tes inteligensi bertujuan untuk mengukur inteligensi,
bukan mendefinisikannya. Selain itu, penghambatan pemahaman dapat
menghentikan diskusi mengenai potensi dalam teori inteligensi. Masalah
kedua adalah pengandalan definisi operasional inteligensi dapat
menimbulkan keraguan pada validitas konkuren tes yang berkorelasi
dengan tes sebelumnya. Pola pikir dalam hal ini memungkinkan
penghambatan pembaharuan dan inovasi. Beberapa ahli membuat definisi
tersendiri mengenai inteligensi.

a. Spearman (1904,1932): kemampuan umum yang melibatkan sebagian


besar pengembangan relasi dan hubungan timbal balik
b. Binet dan Simon (1905): kemampuan menilai, memahami, dan berpikir
logis dengan baik.
c. Terman (1916): kapasitas membentuk konsep dan memahami
signifikansinya.
d. Thorndike (1921): kekuatan merespons dengan baik dari sudut pandang
kenyataan atau fakta.
e. Wechsler (1939): kapasitas agregat atau global dari individu untuk
bertindak secara sengaja, berpikir secara rasional, dan menghadapi
lingkungan secara efektif.
f. Humphreys (1971): sederetan keterampilan, pengetahuan,
pembelajaran dan kecenderungan generalisasi—yang dianggap
intelektual secara alamiah—yang ada pada periode waktu tertentu.

6
g. Piaget (1972): istilah umum untuk mengindikasikan bentuk superior
dari organisasi atau keseimbangan struktur kognitif yang digunakan
untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik dan sosial.
h. Sternberg (1985a, 1986): kapasitas mental untuk mengolah informasi
secara otomatis dan menghasilkan perilaku yangs esuia secara
kontekstual sebagai tanggapan pada hal-hal baru.
Dari definisi-definisi ahli yang berbeda-beda tersebut, terdapat dua
hal umum yang disetujui para ahli, yaitu (1) kapasitas untuk belajar dari
pengalaman dan (2) kapasitas untuk beradaptasi dengan suatu lingkungan.
Pembelajaran dan adaptasi merupakan dua hal yang sangat penting dalam
inteligensi yang kerap kali menonjol dalam beberapa kasus cacat mental di
mana seseorang kekurangan atau tidak memiliki kapasitas dalam derajat
tertentu (Gregory, 2013).
3. Definisi Tes Inteligensi
Tes inteligensi adalah tes yang dirancang untuk membuat sampel
barbagai macam ketrampilan dengan maksud meperkirakan tingkat
kecerdasan umum seseorang. Istilah tes inteligensi secara umum merujuk
pada tes yang menghasilkan skor rangkuman keseluruhan berdasarkan
hasil-hasil dari sampel beragam unsur. (Gregory, 2013). Cronbach
menngolongkan tes inteligensi sebagai bagian dari tes performansi
maksimal yang digunakan untuk mengetes kemampuan seseorang.
Vernon (1973) ada tiga arti mengenai inteligensi, pertama
inteligensi adalah kapasitas bawaan yang diterima oleh anak dari orang
tuanya melalui gene yang nantinya akan menentukan perkembangan
mentalnya. Kedua, istilah inteligensi mengacu pada pandai, cepat dalam
bertindak, bagus dalam penalaran dan pemahaman, serta efisien dalam aktifi
tas mental. Arti ketiga dari inteligensi adalah umur mental atau IQ atau skor
dari suatu tes inteligensi.

B. Teori-Teori Inteligensi
Teori inteligensi akan membantu dalam melihat bagaimana teori
inteligensi itu sendiri mempengaruhi struktur dan isi dari tes inteligensi.

7
Teori inteligensi juga penting bagi validitas tes mengingat validitas konstruk
tes IQ pada teori inteligensi seperti aoa yang dimiliki pada tes tersebut.
1. Galton dan Ketajaman Sensorik
Teori inteligensi Galton dan Cattell mengenai ketajaman sensorik
telah menyulitkan ranah psikometri. Namun pendekatan serupa pada
analisis kronometri inteligensi modern masih bisa dilihat, misalnya pada
metode eksperimental Reaction Time-Movement Time (RT-MT) yang
dipopulerkan oleh Jensen (1980) untuk penelitian inteligensi yang direduksi
budaya. Dalam studi MT-RT, subjek diminta untuk meletakkan jari telunjuk
pada tombol utama; kemudian suara tertentu akan diperdengarkan sebagai
penanda, yang akan diikuti oleh satu dari delapan lampu hijau yang ada,
yang harus dimatikan sesegera mungkin oleh subjek dengan menekan saklar
yang berada di bawah lampu tersebut. Menurut Jensen (1980), RT dan MT
berkorelasi sebesar 0.50 dengan tes-tes psikometri tradisional mengenai
intelegensi. P.A. Vernon juga mengemukakan adanya korelasi tinggi antar
jenis tes yang mengukur kecepatan RT dan pengukuran inteligensi
tradisional.
2. Spearman dan Faktor G
Menurut Charles Spearman (1904, 1923, 1927) inteligensi terdiri
dari dua faktor, faktor umum (general factor) g dan faktor spesifik s. Karena
faktor s berbeda untuk setiap tes atau subtes inteligensi dan kurang memiliki
pengaruh sebesar faktor g dalam menentukan tingkat kinerja peserta tes,
Spearman tidak berkonsentrasi pada faktor tersebut. Selain itu, Spearman
(1923) menambahkan bahwa perbedaan faktor g pada setiap individu
terlihat dari tiga konsep kognisi, yaitu menangkap pengalaman,
mengembangkan relasi, dan menegmbangkan korelasi. Istilah
“mengembangkan” dalam hal ini dapat diartikan sebagai “mencari tahu”.
Ketiga konsep kognisi yang dimaksud dapat terlihat saat subjek berusaha
menyelesaikan bentuk analogi A:B::C:...? (A berbanding B serupa dengan
C berbanding apa?). Pemecahan analogi ini dapat dilakukan jika memahami
makna dari pengalaman sebelumnya.

8
Tantangan yang dihadapi two factor theory (faktor g dan s)
Spearman adalah teori group factors. Pada awal 1906, Spearman dan
koleganya mengatakan bahwa tes-tes yang lebih tinggi ketimbang nilai yang
diprediksi oleh muatan g yang dimilikinya. Temuan ini menunjukkan bahwa
beberapa tes yang berbeda mungkin memiliki kesamaan selain faktor g.
3. Thurstone dan Kemampuan Mental Dasar
Thurstone (1931) mengembangkan prosedur analisis faktor yang
dapat digunakan untuk mencari matriks korelasi dari faktor-faktor
kelompok. Dengan metode ini, peneliti dapat menemukan berapa banyak
faktor yang terdapat pada matriks dan menjelaskan faktor apa saja yang ada
dalam tes. Terdapat tujuh kemampuan mental dasar yang dibahas lebih
lanjut oleh Thurstone; pemahaman verbal, kelancaran kata, angka, ruang,
memori asosiatif, kecepatan perseptual, dan penalaran induktif. Meskipun
mengembangkan tujuh faktor berbeda dalam tes inteligensi, penemuan
Thurstone selanjutnya menunjukkan bahwa Thurstone mengakui bahwa
faktor g lebih tinggi dari faktor-faktor yang lain.
4. Teori Cattell-Horn-Carroll (CHC)
Teori CHC mengusulkan tiga strata inteligensi; satu kemampuan
menyebar, delapan kemampuan luas, dan 70 inteligensi (kemampuan)
lainnya. Inteligensi umum adalah faktor g yang menempati Stratum III
sebagai tingkatan tertinggi. Tingkatan kedua atau Stratum II ditempati oleh
kemampuan luas yang meliputi; penalaran, pengetahuan, pengetahuan
domain spesifik, kemampuan visual-spasial, pengolahan auditoris,
kemampuan mengingat kembali, kecepatan pengolahan kognitif, kecepatan
beraksi atau mengambil keputusan. Sedangkan tingkatan terendah atau
Stratum I merupakan tingakatan kemampuan terbatas. Keunggulan teori
CHC adalah analisis cermat dari ratusan analisis faktor yang dilakukan oleh
peneliti independen dan dipadukan oleh John Carroll serta yang lainnya.
5. Guilford dan Struktur Model Intelektual
J.P. Guilford mengusulkan model struktur inteligensi untuk
menyimpulkan pandangannya tentangsifat dasar inteligensi yang memiliki
banyak sisi. Guilford mengklasifikasikan kemampuan inteligensi menjadi

9
tiga bagian; operasi (5 jenis), isi (5 jenis), dan produk (6 jenis). Dengan itu,
Guilford mengusulkan 16 jenis inteligensi yang berbeda. Kemampuan
inteligensi operasi meliputi kognisi, ingatan, produksi divergen, produksi
kovergen, dan evaluasi. Kemampuan inteligensi dimensi isi meliputi visual,
auditoris, simbolis, semantik, dan perilaku. Sedangkan kemampuan
inteligensi dimensi produk meliputi unit, kelas, relasi, sistem, transformasi,
dan inteligensi.
6. Teori Pengolahan Berurut dan Simultan
Teori ini menjelaskan mengenai otak manusia yang memiliki dua
bentuk yang berbeda dalam pengolahan informasi, simultan dan linear.
Pengolahan simultan menunjukkan informasi dengan eksekusi beberapa
proses mental yang berbeda secara simultan. Sedangkan pengolahan
berurutan memerlukan informasi untuk aktivitas mental di mana operasi
yang tepat harus dijalankan. Hal ini berlawanan dengan pengolahan
simultan (misalnya menggambar) di mana urutan bukan merupakan sesuatu
yang penting.
7. Teori Pengolahan Informasi Inteligensi
Konsep ini mengemukakan beberapa model tentang bagaimana
individu secara mental menggambarkan dan mengolah informasi. Konsepsi
ini didasarkan pada analogi bebas dengan sistem komputer, yaitu sistem
arsitektural dan sistem komponen fungsional. Di mana sistem arsitektural
relatif tertanam dan tidak bisa diserap ataupun diubah oleh lingkungan,
berlaku dengan hubungannya dengan sistem komponen fungsional,
termasuk sistem eksekutif—komponen pembelajaran dari lingkungan
sekitar yang mengarahkan pada pemecahan masalah.
8. Gardner dan Teori Inteligensi Majemuk
Howard Gardner mengusulkan teori inteligensi majemuk yang
secara bebas didasarkan pada studi tentang hubungan perilaku otak. Gardner
memperdebatkan keberadaan beberapa inteligensi yang relatif independen,
termasuk linguistik, musical, logika-matematika, spasial, tubuh-kinestetik,
dan personal.
9. Sternberg dan Teori Triarchic Inteligensi

10
Teori inteligensi trarchic yang digagas Sternberg mengusulkan
beberapa aspek inteligensi berupa; inteligensi komponensial, inteligensi
pengalaman, dan inteligensi kontekstual. Inteligensi komponensial
bertanggung jawab pada perilaku inteligensi, inteligensi pengalaman
bertanggung jawab pada kemampuan menghadapi tugas-tugas baru, dan
inteligensi kontekstual bertanggung jawab pada adaptasi, pembentukan, dan
seleksi dunia nyata.

C. Bentuk Tes Intelegensi


Beberapa bentuk tes inteligensi yakni sebagai berikut.
a. Tes inteligensi untuk anak-anak (tes Binet, WISC, WPPSI, CPM, CFIT
skala 1 & 2, dan TIKI dasar).
b. Tes inteligensi untuk remaja - dewasa (TIKI menengah, TIKI tinggi,
WAIS, SPM, APM, CFIT skala.
c. Tes inteligensi untuk tuna rungu (SON)
Hasil tes inteligensi pada umumnya berupa IQ (Intelligence
Quotient), namun ada juga tes inteligensi yang tidak menghasilkan IQ yaitu
berupa tingkat/grade (Raven). Istilah IQ pertama sekali dikemukakan pada
tahun 1912 oleh William Stern, seorang ahli psikologi berkebangsaan
Jerman. Kemudian oleh Lewis Madison Terman istilah tersebut digunakan
secara resmi untuk hasil tes inteligensi Stanford Binet Intelligence Scale di
Amerika Serikat pada tahun 1916. Perhitungan IQ menurut William Stern
menggunakan rasio antara MA dan CA, dengan rumus IQ = (MA/CA) x
100. MA adalah mental age, CA adalah chronological age, 100 adalah
angka konstan. Terman dan Merril mengklasifi kasikan inteligensi
berdasarkan standardisasi tes inteligensi Stanford Binet tahun 1937, sebagai
berikut.
Klasifikasi IQ
Very Superrior 140 keatas
Superrior 120-139
High Average 110-119
Normal or Average 100-109

11
Low Average 80-89
Borderline Defective 60-79
Mentally Defective 30-69

Tes Binet Simon adalah tes inteligensi yang pertama sekali


dipublikasikan pada tahun 1905 di Paris- Prancis, untuk mengukur
kemampuan mental seseorang. Alfred Binet menggambarkan inteligensi
sebagai sesuatu yang fungsional, inteligensi menurut Binet atas tiga
komponen yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan,
kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah
dilaksanakan dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Tes Binet yang
digunakan di Indonesia saat ini adalah Stanford Binet Intelligence Scale
Form L-M, yaitu revisi ketiga dari Terman dan Merril pada tahun 1960.

D. Tujuan Tes Intelegensi


Tujuan tes inteligensi menurut Raisa (2012, online) yakni sebagai
berikut.
1. Tes intelegensi dapat digunakan menempatkan siswa pada jurusan
tertentu.
2. Untuk mengidentifikasi seseorang yang memiliki IQ di atas normal.
3. Tes intelegensi dapat digunakan untuk mendiagnosa kesukaran
pelajaran dan mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan
setara.
4. Tes intelegensi dapat digunakan siswa untuk mengenali dan memahami
dirinya sendiri dengan lebih baik, serta mengetahui kemampuannya.
5. Untuk mengukur kemampuan verbal, mencakup kemampuan yang
berhubungan dengan simbol numerik dan simbol-simbol abstrak
lainnya.
6. Alat prediksi kinerja yang efektif dalam banyak bidang pekerjaan serta
aktivitas-aktivitas lain dalam hidup sehari-hari.

12
E. Kelebihan dan Kelemahan Tes Intelegensi
Berdasarkan pemaparan di atas pengukuran kecerdasan juga
memiliki kelemahan maupun kelebihan yakni sebagai berikut.
1. Keuntungan tes inteligensi
a. Dapat meramalkan prestasi belajar dalam jangka pendek
b. Memberikan suatu cara untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan
individu
c. Mengungkap variabel penting dari kepribadian
d. Memungkinkan para peneliti, pendidik dan praktisi kilinis melacak
perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada individu.
2. Kelemahan tes inteligensi
a. Adanya keterbatasan dalam meramalkan keberhasilan karier pekerjaan
b. Keterbatasan kemampuan untuk meramalkan keterampilan non-
akademis (seperti kretivitas, tingkat motivasi, ketajaman
pemahaman atau penilaian sosial, dan hubungan interpersonal)
c. Bukan pengukur kemampuan innate dan menetap, sering tidak valid
untuk digunakan pada kelompok minoritas
d. Penekanan terlalu banyak pada hasil akhir kerja fungsi kognitif,
cenderung mengabaikan proses yang berlangsung di dalamnya
(Zubaidi, 2009).
Menurut Cronbach (dalam Azwar, 2006) menempatkan tes intelegensi
umum berdasarkan ethical standart of psychologist pada golongan tes Level
B, yaitu tes yang hanya boleh dilakukan oleh mereka yang memiliki latar
belakang dan pendidikan psikologi dan terlatih secara khusus dalam
penggunaan tes ini. Sedangkan penggunaan tes intelegensi secara klinis
menempatkan tes ini pada golongan Level C, yaitu tes yang hanya boleh
dilakukan oleh mereka yang memiliki paling tidak tingkat mastes dalam
bidang psikologi dan mempunyai paling tidak pengalaman minimal satu
tahun dalam penggunaan tes, yang bersangkutan dibawah pengawasan yang
ketat.
Aspek administrasi tes intelegensi menuntut kualifikasi taraf
terlatih, dalam hal ini dapat dilakukan oleh siapapun yang telah

13
dipersiapakan secara matang dan dilatih secara khusus, sehingga kesalahan-
kesalahan dalam pengadminisresian dapat dihindari. Aspek interpretasi tes
intelegensi ini menuntut kualifikasi terdidik secara khusus dalam bidang
psikologi, hal ini dikarenakan hasil tes intelegensi akan memiliki manfaat
yang besar jika dipergunakan secara tepat, akan menjadi berbahaya jika
disalahgunakan oleh orang yang tidak dapat menginterpretasikannya
dengan benar, dan akan merugikan testi dan instansi yang berkepentingan
dalam menggunakan hasil tes intelegensi.

14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tes inteligensi adalah tes yang dirancang untuk membuat sampel
barbagai macam ketrampilan dengan maksud meperkirakan tingkat
kecerdasan umum seseorang. Istilah tes inteligensi secara umum merujuk
pada tes yang menghasilkan skor rangkuman keseluruhan berdasarkan
hasil-hasil dari sampel beragam unsur.
Tes Intelegensi juga disebut sebagai tes IQ (Intelegensi Qaution)
adalah sebuah singkatan yang kepanjangannya adalah dalam bahasa
Indonesia sering disebut angaka kecerdasan seseorang. Kecerdasan yang
dimaksud adalah kemampuan manusia secara umum (dalam hal pada
umumnya). Sementara itu intelegensi merupakan suatu kemampuan mental
yang melibatkan proses berfikir secara rasional (intelegensi dapat diamati
secara langsung). Intelegensi tercermin dari tindakan yang terarah pada
penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul
daripadanya.
Tujuan tes inteligensi dapat digunakan menempatkan siswa pada
jurusan tertentu, mengidentifikasi seseorang yang memiliki IQ di atas
normal, digunakan untuk mendiagnosa kesukaran pelajaran dan
mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan setara, digunakan
siswa untuk mengenali dan memahami dirinya sendiri dengan lebih baik,
serta mengetahui kemampuannya, mengukur kemampuan verbal,
mencakup kemampuan yang berhubungan dengan simbol numerik dan
simbol-simbol abstrak lainnya, dan merupakan alat prediksi kinerja yang
efektif dalam banyak bidang pekerjaan serta aktivitas-aktivitas lain dalam
hidup sehari-hari.
Kelebihan tes inteligensi yaitu dapat meramalkan prestasi belajar
dalam jangka pendek, memberikan suatu cara untuk mengetahui kekuatan dan
kelemahan individu, mengungkap variabel penting dari kepribadian,
memungkinkan para peneliti, pendidik dan praktisi kilinis melacak
perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada individu. Sedangkan

15
kelemahan tes inteligensi ialah adanya keterbatasan dalam meramalkan
keberhasilan karier pekerjaan, keterbatasan kemampuan untuk meramalkan
keterampilan non-akademis (seperti kretivitas, tingkat motivasi, ketajaman
pemahaman atau penilaian sosial, dan hubungan interpersonal), bukan
pengukur kemampuan innate dan menetap, sering tidak valid untuk
digunakan pada kelompok minoritas, penekanan terlalu banyak pada hasil
akhir kerja fungsi kognitif, cenderung mengabaikan proses yang
berlangsung di dalamnya.

B. Saran
Tes intelegensi memiliki banyak manfaat dan fungsi baik untuk kaum
akademisi ataupun praktisi keilmuan psikologi. Namun dibalik semua kegunaan
tersebut, kebijaksanaan dalam menggunakan tes sangat berpengaruh untuk
kevalidan tes intelegensi. Oleh sebab itu, kerja sama antar pihak terkait perlu
dilakukan demi menjaga validitas dan reliabilitas tes intelegensi.

16
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. (2007). Dasar-Dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Cronbach, L. J. (1990). Essential of Psychological Testing. New York: Harper
Collins Publisher.
Gregory, R. J. (2013). Tes Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Jones, S. (2012). Tes Psikologi. Jakarta Barat: Penerbit Indeks.
Nur’aeni. (2012). Tes Psikologi, Tes Intelegensi dan Tes Bakat. Yogyakarta : UMP
Press

17