Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA IBU BERSALIN DENGAN KOMPLIKASI


INFEKSI
A. Pengertian
Infeksi ibu bersalin biasanya sangat berhubungan dengan ketuban pecah
dini dan persalinan preterm. Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban
sebelum terdapat tanda persalinan, dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda
persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut
“kejadian ketuban pecah dini” (periode laten)
.
Ketuban pecah dini (“early rupture of the membrane”) : ada bermacam-
macam batasan / teori / definisi. Ada teori yang menghitung berapa jam sebelum
in partus, misalnya 2 atau 4 atau 6 jam sebelum in partu. Ada juga yang
menyatakan dalam ukuran pembukaan serviks pada kala I, misalnya ketuban yang
pecah sebelum pembukaan serviks 3 cm atau 5 cm, dan sebagainya.
Prinsipnya adalah ketuban yang pecah “sebelum waktunya”.
Normal selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala II
persalinan. Bisa juga belum pecah sampai saat mengedan, sehingga kadang perlu
dipecahkan (amniotomi).

B. Etiologi
Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial
yang dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Serviks inkopeten
b. Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion
c. Kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang
d. Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum
masuk PAP, sepalopelvik disproforsi
e. Kelainan bawaan dari selaput ketuban
f. Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban
dalam bentuk proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah.

Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih


belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti.Beberapa laporan
menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-
faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi
faktor predesposisi adalah:
a. Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun
asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa
menyebabkan terjadinya KPD.Servik yang inkompetensia, kanalis
sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri
(akibat persalinan, curetage).
b. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma
oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab
terjadinya KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual,
pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya
KPD karena biasanya disertai infeksi.(4,5,14)
Kelainan letak,misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah
yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi
tekanan terhadap membran bagian bawah.
c. Keadaan sosial ekonomi
d. Faktor lainnya yaitu :
1. Faktor golonngan darah akibat golongan darah ibu dan anak
yang tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan
termasuk kelemahan jarinngan kulit ketuban.
2. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
3. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan
antepartum.
4. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C)

C. Patofisiologi
Banyak teori, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen, sampai
infeksi.Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai
65%).High virulence : bacteroides. Low virulence : lactobacillus.Kolagen terdapat
pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler korion dan trofoblas.
Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan
inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan
prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi
kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah
dan mudah pecah spontan. Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat
berlangsung sebagai berikut :
a. Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan
vaskularisasi.
b. Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah
dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

D. Tanda dan Gejala

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.
Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan
tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna
darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai
kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di
bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara.
Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin
bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
E. Komplikasi
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37
minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru
lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan
KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya
korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau
keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm.
Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm.
Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia
kehamilan kurang dari 23 minggu.
Selain itu komplikasi yang dapat terjadi yaitu :
 Infeksi
 Intrauterin
 Tali pusat menumbung
 Prematuritas
 Distosia (partus kering)

F. Penatalaksanaan
a. Konservatif
- Rawat rumah sakit dengan tirah baring.
- Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.
- Umur kehamilan kurang 37 minggu.
- Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg
selama 5 hari.
- Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan
memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi
paru janin.
- Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada
tanda-tanda persalinan.
- Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda
infeksi atau gawat janin.
- Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada
kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. Apabila
pelepasan air berlangsung terus, lakukan terminasi
kehamilan.
b. Aktif
Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila
ditemukan tanda-tanda inpartu, infeksi dan gawat janin maka lakukan
terminasi kehamilan.
- Induksi atau akselerasi persalinan.
- Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi
persalinan mengalami kegagalan.
- Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus
berat ditemukan.

Penanganan Ketuban Pecah di Rumah

- Apabila terdapat rembesan atau aliran cairan dari vagina,


segera hubungi dokter atau petugas kesehatan dan
bersiaplah untuk ke Rumah Sakit
- Gunakan pembalut wanita (jangan tampon) untuk
penyerapan air yang keluar
- Daerah vagina sebaiknya sebersih mungkin untuk
mencegah infeksi, jangan berhubungan seksual atau mandi
berendam
- Selalu membersihkan dari arah depan ke belakang untuk
menghindari infeksi dari dubur
- Jangan coba melakukan pemeriksaan dalam sendiri

Terapi
Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah
sakit. Dokter kandungan akan mendiskusikan rencana terapi yang akan
dilakukan, dan hal tersebut tergantung dari berapa usia kehamilan dan
tanda-tanda infeksi yang terjadi. Risiko kelahiran bayi prematur adalah
risiko terbesar kedua setelah infeksi akibat ketuban pecah dini.
Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan
terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan
janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.

Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah


apabila kehamilan sudah memasuki fase akhir. Semakin dini ketuban
pecah terjadi maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan
kontraksi. Jika tanggal persalinan sebenarnya belum tiba, dokter biasanya
akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang
kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika
memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan menunggu
selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa
meningkatkan resiko infeksi.

Apabila paru bayi belum matang dan tidak terdapat infeksi setelah
kejadian KPD, maka istirahat dan penundaan kelahiran (bila belum
waktunya melahirkan) menggunakan magnesium sulfat dan obat tokolitik.

Apabila paru janin sudah matang atau terdapat infeksi setelah


kejadian KPD, maka induksi untuk melahirkan mungkin diperlukan.

Penggunaan steroid untuk pematangan paru janin masih


merupakan kontroversi dalam KPD. Penelitan terbaru menemukan
keuntungan serta tidak adanya risiko peningkatan terjadinya infeksi pada
ibu dan janin. Steroid berguna untuk mematangkan paru janin,
mengurangi risiko sindrom distress pernapasan pada janin, serta
perdarahan pada otak.
Penggunaan antibiotik pada kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang
pertama adalah penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah
kejadian KPD preterm. Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis
bahwa KPD dapat disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm
dapat menyebabkan infeksi. Keuntungan didapatkan pada wanita hamil
dengan KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses kelahiran
diperlambat hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitis serta
sepsis neonatal (infeksi pada bayi baru lahir).

G. Teori Askep
a. Pengkajian
-Pemeriksaan fisik
1.Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang
banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok. Cairan berbau
khas, dan perlu juga diperhatikan warna, keluanya cairan tersebut
tersebut his belum teratur atau belum ada, dan belum ada pengeluaran
lendir darah.
2.Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari
vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak,
pemeriksaan ini akan lebih jelas.
3.Pemeriksaan dengan spekulum.
Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan
dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar,
fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk, megejan atau megadakan
manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak
keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior.
4.Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi.
Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu
dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam
persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu
pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah
rahim dengan flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa
dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya
diulakaukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang
dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.
- Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboraturium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna,
konsentrasi, bau dan pH nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali
air ketuban mungkin juga urine atau sekret vagina. Sekret vagina ibu
hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap
kuning.
a). Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah berubah menjadi
birumenunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 – 7,5,
darah dan infeksi vagina dapat mengahsilakan tes yang positif palsu.
b). Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas
objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan
gambaran daun pakis.
c). Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban
dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang
sedikit. Namun sering terjadi kesalahn pada penderita oligohidromnion.
(10,12)
Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan
caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan
anamnesa dan pemeriksaan sedehana.

b. Diagnosa
- Nyeri akut berhubungan dengan pecahnya ketuban
- Ketakutan yang berhubungan dengan keluarnya air ketuban
dari vagina
- Ansietas berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan
tentang ketuban pecah dini
c. Intervensi
Dx : Nyeri akut berhubungan dengan pecahnya ketuban
- ajarkan tekhnik distraksi
- atasi nyeri dengan melakukan nafas dalam
Dx : Ketakutan yang berhubungan dengan keluarnya air ketuban dari
vagina
- berikan tindakan kenyamanan seperti perubahan posisi,
gosokan punggung
- libatkan pasien atau orang terdekat dengan rencana
perawatan dan dorong partisipasi maksimum pada rencana
pengobatan
- pantau respon fisik contoh palpitasi, takikardi, gerakan
berulang – ulang, gelisah
Dx : Ansietas berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang
ketuban pecah dini
- berikan HE tentang ketuban pecah dini
- dorong ventilasi perasaan tentang penyakit-efeknya
terhadap pola hidup dan status kesehatan yang akan datang
- kaji kefektifan koping dengan stressor

d. Evaluasi
- Pasien mengatakan nyeri yang dirasakan berkurang.
- Pasien tidak merasakan ketakutan lagi.
- Pasien tidak merasakan cemas dan bisa rileks.
Mengetahui:

Pembimbing Praktek Ruangan, Mahasiswa,

NIP NIM

Pembimbing Praktek Akademik,

NIP