Anda di halaman 1dari 95

DTSS

Pejabat Lelang
Angkatan I Tahun 2016

Tangsel, 27-28 Januari 2016


PENGERTIAN
AKTA, RISALAH LELANG
DAN ARTI SUATU
PENANDATANGANAN
AKTA
 Akta identik dengan surat.
 Kata akta berasal dari bahasa latin “acta” yang berarti gescchrift atau
surat. (S.J. Fockema Andreane)
 Akta sebagai surat-surat yang ditandatangani, dibuat untuk dipakai
sebagai bukti dan untuk dipergunakan oleh orang untuk keperluan siapa
surat itu dibuat. (A. Pitlo).
 “Akta adalah surat yang ditandatangani, memuat keterangan tentang
kejadian-kejadian atau hal-hal yang merupakan dasar dari suatu hak
atau suatu perjanjian.” (R. Tresna).
 “Akta adalah surat yang diberi tanda tangan, yang memuat peristiwa-
peristiwa yang menjadi dasar dari suatu hak atas perikatan yang dibuat
sejak semula dengan sengaja untuk pembukti.”
(Prof. Sudikno Mertokusumo).
AKTA
Pengertian Akta

 adalah surat tanda bukti berisi pernyataan tentang peristiwa hukum yang
dibuat menurut peraturan yang berlaku, disaksikan, dan disahkan oleh para
pihak.
 adalah suatu tulisan yang memang dengan sengaja dibuat untuk dijadikan
bukti tentang suatu peristiwa dan ditandatangani pihak yang membuatnya.
 adalah surat yang diperbuat demikian oleh atau dihadapan pegawai yang
berwenang untuk membuatnya menjadi bukti yang cukup bagi kedua belah
pihak dan ahli warisnya maupun berkaitan dengan pihak lainnya sebagai
hubungan hukum, tentang segala hal yang disebut di dalam surat itu
sebagai pemberitahuan hubungan langsung dengan perihal pada akta itu.
(Pasal 165 Staatsblad Tahun 1941 Nomor 84)
 Fungsi Akta:
AKTA
1. Fungsi Formil, artinya suatu perbuatan hukum akan menjadi lebih
lengkap apabila dibuat suatu akta.
2. Fungsi Pembuktian.

 Kesimpulan:
1. Akta dapat diartikan surat yang sengaja dibuat dan diperuntukkan
sebagai alat bukti, oleh karenanya di dalam akta terdapat perbuatan
hukum.
2. Bahwa tidak setiap surat disebut akta. Surat yang disebut akta harus
memiliki syarat: (a) harus ditandatangani; (b) memuat peristiwa yang
menjadi dasar sesuatu hak atas suatu perikatan; dan (c)
diperuntukkan sebagai alat bukti.
Surat yang tidak ditandatangani dapat dikategorikan sebagai surat bukan
akta. Contoh tiket, karcis, dan lain sebagainya.
RISALAH

Risalah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:


1. yang dikirimkan (surat, dsb);
2. surat edaran (selebaran);
3. karangan ringkas mengenai suatu masalah di ilmu pengetahuan;
4. laporan rapat atau notula.

Risalah
adalah laporan mengenai jalannya suatu pertemuan yang disusun secara
teratur dan dipertanggungjawabkan oleh si pembuat dan atau pertemuan
itu sendiri sehingga mengikat sebagai dokumen resmi dari
kejadian/peristiwa yang disebut didalamnya.
RISALAH LELANG

Pasal 35 Vendu Reglement


“Tiap penjualan dimuka umum oleh juru lelang atau kuasanya
dibuat berita acara tersendiri yang bentuknya ditetapkan seperti
dimaksud dalam Pasal 37, 38 dan 39 VR.”

Dalam Pedoman Administrasi Umum Departemen Keuangan


Berita Acara adalah risalah mengenai suatu peristiwa resmi dan
kedinasan, disusun teratur, dimaksudkan untuk mempunyai
kekuatan bukti tertulis bila diperlukan sewaktu-waktu.
Berita Acara ditandatangani oleh pihak-pihak yang terkait.
RISALAH LELANG

Risalah adalah berita acara yang merupakan dokumen


resmi dari jalannya suatu peristiwa yang disusun secara
teratur dan dipertanggungjawabkan oleh para pihak
sehingga pelaksanaan peristiwa yang disebut didalamnya
mengikat para pihak.

Risalah Lelang adalah berita acara yang merupakan


dokumen resmi dari jalannya penjualan dimuka
umum/lelang yang disusun secara teratur dan
dipertanggungjawabkan oleh Pejabat Lelang dan para
pihak (penjual dan pembeli) sehingga pelaksanaan lelang
yang disebut didalamnya mengikat.
RISALAH LELANG

Risalah Lelang adalah berita acara pelaksanaan lelang


yang dibuat oleh Pejabat Lelang yang merupakan akta
otentik dan mempunyai kekuatan pembuktian sempurna.
(Permenkeu No. 93/PMK.06/2010 ttg Petunjuk Pelaksanaan Lelang dan
perubahannya pada Permenkeu No. 106/PMK.06/2013)

Apakah Risalah Lelang merupakan Akta?


1. Setiap risalah lelang harus ditandatangani pejabat lelang dan para
pihak.
2. Isi risalah lelang merupakan suatu perikatan/peristiwa penjualan
dimuka umum.
3. Risalah Lelang dibuat sebagai alat bukti.
PENANDATANGANAN

Penandatanganan adalah:
 proses, cara, perbuatan menandatangani.
 membubuhkan nama dari sipenandatangan yang harus ditulis dengan
oleh sipenandatangan sendiri atas kehendak sendiri.

Tujuan Penandatanganan
1. Suatu tandatangan mengidentifikasikan penandatangan dengan
dokumen yang ditandatanganinya.
2. Penandatangan suatu dokumen akan berakibat sipenandatangan
mengetahui bahwa ia telah melakukan perbuatan hukum, sehingga
mengeliminasi adanya kesalahan-kesalahan.
3. Tandatangan melambangkan adanya persetujuan atau otorisasi terhadap
suatu tulisan.
MACAM-MACAM
KEKUATAN
PEMBUKTIAN AKTA
MACAM AKTA

Pasal 1867 KUH Perdata “Pembuktian dengan tulisan di lakukan


dengan tulisan otentik maupun dengan tulisan dibawah tangan”
a. “Akta dibawah tangan adalah akta yang dibuat sebagai alat
bukti oleh para pihak tanpa bantuan pejabat pembuat akta.”
(Pasal 1874 KUH Perdata)
b. “Akta otentik adalah akta juga dalam bentuk ditentukan
undang-undang dibuat oleh atau dihadapan pegawai umum
yang berkuasa untuk itu ditempat dimana akta dibuat.”
(Pasal 1868 KUH Perdata)

• Perbedaan pokok antara akta otentik dengan akta di bawah


tangan adalah cara pembuatan atau terjadinya akta tersebut.
AKTA DI BAWAH TANGAN (onderhands)

• Kata-kata onderhands yaitu “dibawah tangan” adalah terjemahan


harfiyah dari bahasa Belanda onderhandsh acte, dikatakan akta
tidak otentik karena tidak dibuat oleh atau dihadapan pejabat
yang berwenang untuk itu, melainkan dibuat sendiri oleh pihak
yang berkepentingan dengan tujuan dijadikan alat bukti.
• akta di bawah tangan, cara pembuatan atau terjadinya tidak
dilakukan oleh dan atau dihadapan pejabat pegawai umum,
tetapi cukup oleh pihak yang berkepentingan saja. Contohnya
adalah surat perjanjian sewa menyewa rumah, surat perjanjian
jual beli, dan sebagainya.
• akta yang sengaja dibuat dan ditandatangani oleh para pihak
yang membuatnya.
AKTA DI BAWAH TANGAN (onderhands)

• akta di bawah tangan dapat menjadi alat pembuktian yang


sempurna seperti akta otentik terhadap orang yang
menandatangani serta para ahli warisnya dan orang-orang yang
mendapatkan hak darinya hanya apabila tanda tangan dalam
akta di bawah tangan tersebut diakui oleh orang terhadap siapa
tulisan itu hendak dipakai.
• akta di bawah tangan, terdiri dari:
(1) akta di bawah tangan biasa
(2) akta waarmarken, dan
(3) akta legalisasi
AKTA DI BAWAH TANGAN (onderhands)

(1) akta di bawah tangan biasa


(2) akta waarmarken, yaitu akta di bawah tangan yang dibuat dan
ditandatangani oleh para pihak untuk kemudian didaftarkan
pada notaris. Notaris tidak bertanggungjawab terhadap materi
maupun tandatangan para pihak pada akta tersebut.
(3) akta legalisasi, yaitu akta di bawah tangan yang dibuat oleh para
pihak , namun penandatanganannya disaksikan oleh atau
dihadapan notaris. Notaris tidak bertanggungjawab terhadap
tandatangan para pihak dan tanggal ditandatanganinya akta
tersebut.
AKTA OTENTIK

Pengertian
Akta yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang
membuat akta dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang.

Pasal 165HIR / Pasal 285 RBG:


Akta otentik yaitu suatu surat yang diperbuat oleh atau dihadapan pegawai
umum yang berkuasa akan membuatnya mewujudkan bukti yang cukup
bagi kedua pihak, ahli waris serta sekalian orang yang mendapat hak dari
padanya…. . dst”

Pasal 1868 KUH Perdata menyatakan:


“Suatu akta otentik adalah suatu akta yang dalam bentuk ditentukan oleh
undang-undang dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang berkuasa
untuk itu ditempat dimana akta dibuatnya.”
AKTA OTENTIK

• Contoh dari akta otentik adalah akta notaris, vonis, surat


berita acara sidang, proses verbal penyitaan, surat perkawinan,
kelahiran, kematian, dan sebagainya.
• Akta otentik merupakan alat pembuktian yang sempurna bagi
kedua belah pihak dan ahli warisnya serta sekalian orang yang
mendapat hak darinya tentang apa yang dimuat dalam akta
tersebut (vide Pasal 165 HIR, Pasal 285 RBg, dan Pasal 1870
KUHPerdata).
• Akta otentik merupakan bukti yang mengikat yang berarti
kebenaran dari hal-hal yang tertulis dalam akta tersebut harus
diakui oleh hakim, yaitu akta tersebut dianggap sebagai benar
selama kebenarannya itu tidak ada pihak lain yang dapat
membuktikan sebaliknya.
SYARAT AKTA OTENTIK

1. Harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang;


2. Pembuatannya harus dilakukan di hadapan/oleh pejabat
umum;
3. Pejabat umum yang membuat harus memiliki kewenangan
untuk itu, dalam hal:
a. membuat akta yang dibuatnya;
b. saat akta itu dibuat masih aktif sebagai pejabat umum;
c. dimana akta itu dibuat (terkait dengan wilayah kerja);
d. untuk siapa akta itu dibuat (untuk kepentingan pengguna
jasa).
MACAM AKTA OTENTIK

Akta otentik dibagi menjadi dua macam yaitu:


1. akta otentik yang dibuat oleh pejabat umum ialah akta yang dibuat
oleh pejabat yang berwenang untuk itu karena jabatannya tanpa
campur tangan pihak lain, dengan mana pejabat tersebut
menerangkan apa yang dilihat, didengar serta apa yang dilakukannya.
Misal akta yang dibuat oleh notaris memuat uraian dari notaris suatu
tindakan yang dilakukan atas suatu keadaan yang dilihat atau
disaksikan oleh notaris, misalnya akta berita acara /risalah rapat
RUPS suatu perseroan terbatas, akta pencatatan budel, dan lain-lain.

2. akta otentik yang dibuat dihadapan pejabat umum ialah akta yang
dibuat oleh para pihak dihadapan para pejabat yang berwenang untuk
itu atas kehendak para pihak, dimana pejabat tersebut menerangkan
juga apa yang dilihat, didengar dan dilakukannya. Misal akta yang
dibuat di hadapan notaris memuat uraian dari apa yang diterangkan
atau diceritakan oleh para pihak yang menghadap kepada notaris,
misalnya perjanjian kredit, dan sebagainya.
Apakah Risalah Lelang termasuk Akta Otentik?
1. Risalah Lelang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang
(Pasal 37, 38, 39 VR);
2. Pembuatan Risalah Lelang dilakukan dihadapan/oleh Pejabat Lelang;
3. Pejabat Lelang yang membuat Risalah Lelang memiliki kewenangan untuk itu.
a. membuat akta yang dibuatnya (Pejabat Lelang Kelas II berwenang
membuat Risalah Lelang dari jenis Lelang Sukarela);
b. saat akta itu dibuat, masih aktif sebagai Pejabat Lelang;
c. dimana akta itu dibuat (terkait dengan wilayah jabatan);
d. untuk siapa akta itu dibuat (untuk kepentingan pengguna jasa lelang).

Meskipun demikian, yang harus diingat bahwa Risalah Lelang pada


dasarnya dikatakan sebagai akta otentik apabila dalam penjualan lelang
terjadi transaksi jual beli karena barang laku terjual. Apabila tidak laku,
Risalah Lelang merupakan berita acara lelang.
KEKUATAN PEMBUKTIAN AKTA

1. Kekuatan pembuktian keluar/lahir (uitwendig bewijskracht)


yaitu kekuatan pembuktian yang didasarkan atas keadaan
lahir dari akta itu, maksudnya bahwa suatu surat yang
kelihatannya seperti akta, harus diperlakukan sebagai akta,
sampai dibuktikan sebaliknya.
2. Kekuatan pembuktian formal (formal bewijskracht)
yaitu kepastian bahwa apa dan fakta yang disebut dalam
akte betul-betul dilakukan oleh pejabat umum, para pihak
dan para saksi.
3. Kekuatan pembuktian materiil (materiil bewijskracht)
yaitu kepastian bahwa apa yang dimuat dalam akta itu
memang benar dan memang sungguh-sungguh terjadi
antara para pihak (jadi tidak hanya diucapkan saja oleh para
pihak, tapi juga memang sungguh-sungguh terjadi).
AKTA OTENTIK SEBAGAI BUKTI YANG SEMPURNA
Pasal 1870 KUH Perdata
“Suatu akta otentik memberikan diantara para pihak beserta ahli warisnya
atau orang-orang yang mendapat hak dari mereka suatu bukti yang
sempurna tentang apa yang dimuat di dalamnya.”
Pasal 165 HIR
“Akta otentik yaitu suatu surat yang diperbuat oleh atau di hadapan
pegawai umum yang berkuasa akan membuatnya mewujudkan bukti
cukup bagi kedua pihak, ahli waris dan sekalian orang yang mendapat
hak daripadanya yaitu tentang segala hal yang tersebut didalam surat itu
dan juga tentang yang tercantum dalam surat itu.”

Akta otentik merupakan alat pembuktian yang sempurna bagi kedua belah pihak
dan ahli warisnya serta sekalian orang yang mendapat hak darinya tentang apa
yang dimuat dalam akta tersebut
Akta otentik merupakan bukti yang mengikat yang berarti kebenaran dari hal-hal
yang tertulis dalam akta tersebut harus diakui oleh hakim, yaitu akta tersebut
dianggap sebagai benar selama kebenarannya itu tidak ada pihak lain yang dapat
membuktikan sebaliknya.
Apakah Risalah Lelang mempunyai pembuktian sempurna?

Risalah Lelang merupakan alat pembuktian yang


sempurna bagi kedua belah pihak (penjual dan pembeli)
dan ahli warisnya serta sekalian orang yang mendapat hak
darinya tentang apa yang dimuat dalam risalah lelang.
Risalah Lelang merupakan bukti yang mengikat yang
berarti kebenaran dari hal-hal yang tertulis dalam risalah
lelang harus diakui oleh hakim, yaitu risalah lelang
dianggap sebagai benar selama kebenarannya itu tidak
ada pihak lain yang dapat membuktikan sebaliknya.
KEKUATAN PEMBUKTIAN RISALAH LELANG
RL mempunyai tiga macam kekuatan pembuktian:
• Kekuatan pembuktian lahir,
Risalah Lelang berlaku sebagai akta otentik.
• Kekuatan pembuktian formal,
Risalah Lelang berdasarkan peristiwa hukum yg dilakukan oleh
Pejabat Lelang, Penjual, Pembeli & para saksi;
• Kekuatan pembuktian material,
Risalah Lelang merupakan bukti sah terhadap pihak-pihak yang
membuatnya atau mereka yang mendapat hak dan berlaku untuk
umum.
JENIS & PRODUK
RISALAH LELANG
JENIS RISALAH LELANG

Berdasarkan
Jenis Lelang

LELANG EKSEKUSI

LELANG NONEKSEKUSI WAJIB

LELANG NONEKSEKUSI SUKARELA


Berdasarkan LELANG EKSEKUSI
Jenis Lelang
1. RL Eksekusi Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN);
2. RL Eksekusi Pengadilan;
3. RL Eksekusi Pajak (Pemerintah Pusat/Pemda);
4. RL Eksekusi Harta Pailit;
5. RL Eksekusi Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT);
6. RL Eksekusi Benda Sitaan Pasal 45 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP);
7. RL Eksekusi Barang Rampasan;
8. RL Eksekusi Jaminan Fidusia;
9. RL Eksekusi Barang Yang Dinyatakan Tidak Dikuasai/Barang Yang Dikuasai Negara
DJBC;
10. RL Eksekusi Barang Temuan;
11. RL Eksekusi Gadai;
12. RL Eksekusi Benda Sitaan Pasal 18 ayat (2) UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU
Nomor 20 Tahun 2001.
Berdasarkan LELANG NONEKSEKUSI WAJIB
Jenis Lelang

1. RL BMN/D;
2. RL Barang Milik BUMN/D;
3. RL Barang Yang Menjadi Milik Negara DJBC;
4. RL Barang Gratifikasi;
5. RL Aset Properti Barang Bongkaran BMN Karena Perbaikan;
6. RL Barang Habis Pakai Eks Pemilu;
7. RL Aset Tetap dan BJDA Eks BDL;
8. RL Aset Eks Kelolaan PT PPA;
9. RL Asset Settlement Obligor PKPS APU;
10.RL Aset Inventaris Eks BPPN;
11.RL Aset Properti Eks BPPN;
12.RL BHP atas Harta Peninggalan Tidak Terurus dan Harta Kekayaan
Orang yang Dinyatakan Tidak Hadir;
13.RL Benda Berharga Asal Muatan Kapal Yang Tenggelam (BMKT);
14.RL Aset Bank Indonesia;
15.RL Kayu dan Hasil Hutan Lainnya dari Tangan Pertama.
Berdasarkan
Jenis Lelang

LELANG NONEKSEKUSI SUKARELA

1. RL Aset BUMN/D berbentuk Persero;

2. RL Aset Milik Bank Dalam Likuidasi (atas permintaan Tim Likuidasi);

3. RL Barang Milik Perwakilan Negara Asing; dan

4. RL Barang Milik Swasta.


PRODUK RISALAH LELANG

A. Minuta Risalah Lelang


adalah Asli Risalah Lelang berikut lampirannya, yang merupakan
dokumen/arsip Negara.

B. Turunan Risalah Lelang


1. Salinan Risalah Lelang
adalah salinan kata demi kata dari seluruh Risalah Lelang.
2. Kutipan Risalah Lelang.
adalah kutipan kata demi kata dari satu atau beberapa bagian
Risalah Lelang.
3. Grosse Risalah Lelang
adalah Salinan asli dari Risalah Lelang yang berkepala "Demi
Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
MINUTA RISALAH LELANG (1)

• Minuta Risalah Lelang ditandatangani oleh Pejabat Lelang pada saat


penutupan pelaksanaan lelang;
• Minuta Risalah Lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang Kelas I disimpan
pada KPKNL;

• Minuta Risalah Lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang Kelas II disimpan
oleh yang bersangkutan;
• Jangka waktu simpan Minuta Risalah Lelang selama 30 tahun sejak
pelaksanaan lelang;
• Saksi-saksi dalam pelaksanaan lelang dengan penawaran lelang melalui
email atau tromol pos harus membubuhkan tanda tangan dalam bagian kaki
Minuta Risalah Lelang.
MINUTA RISALAH LELANG (2)

• Dalam hal Pejabat Lelang yang bersangkutan berhalangan tetap sebelum


menyelesaikan pembuatan Minuta Risalah Lelang:
1. Kepala KPKNL menunjuk Pejabat Lelang Kelas I lain di KPKNL tersebut
untuk menyelesaikan pembuatan Minuta Risalah Lelang;

2. Superintenden/Kepala Kanwil setempat menunjuk Pejabat Lelang Kelas


II lain untuk menyelesaikan pembuatan Minuta Risalah Lelang .
• Bea Meterai untuk Minuta Risalah Lelang dibebankan kepada Penjual;
• KPKNL atau Pejabat Lelang Kelas II hanya dapat memperlihatkan atau
memberitahukan Minuta Risalah Lelang kepada pihak yang berkepentingan
langsung dengan Risalah Lelang, ahli warisnya atau orang yang
memperoleh hak, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-
undangan.
SALINAN RISALAH LELANG

• Salinan yang otentik dari Minuta Risalah Lelang ditandatangani, diberikan


teraan cap/stempel basah dan diberi tanggal pengeluaran oleh Kepala
KPKNL atau Pejabat Lelang Kelas II yang bersangkutan;
• Terdapat kata-kata pada bagian kaki “diberikan Salinan sesuai dengan
aslinya”;
• Salinan Risalah Lelang diberikan kepada Penjual, kepada Superintenden
sebagai laporan dan kepada instansi yang berwenang dalam urusan balik
nama sesuai kebutuhan;
• Salinan Risalah Lelang disampaikan kepada Penjual dan Kepala Kanwil
selaku superintenden paling lama 3 hari kerja setelah seluruh kewajiban
pembeli dipenuhi.
• Bea Meterai untuk Salinan Risalah Lelang dibebankan kepada pihak yang
berkepentingan. Salinan Risalah Lelang untuk laporan pelaksanaan lelang /
kepentingan dinas tidak dibubuhi meterai.
KUTIPAN RISALAH LELANG (1)

• Kutipan Risalah Lelang diberikan kepada pembeli;


• Kutipan Risalah Lelang untuk barang berupa T/B ditandatangani
dengan mencantumkan tanggal penyerahan dan diserahkan kepada
Pembeli paling lama 1 hari kerja setelah ada pemintaan pembeli
dengan menunjukkan bukti identitas diri & bukti pelunasan kewajiban
pembayaran lelang serta bukti setor pelunasan BPHTB;
• Kutipan Risalah Lelang untuk barang selain T/B ditandatangani dengan
mencantumkan tanggal penyerahan dan diserahkan kepada Pembeli
paling lama 1 hari kerja setelah ada pemintaan pembeli dengan
menunjukkan bukti identitas diri & bukti pelunasan kewajiban
pembayaran lelang;
• Kutipan yang otentik dari Minuta Risalah Lelang ditandatangani,
diberikan teraan cap/stempel basah dan diberi tanggal pengeluaran
oleh Kepala KPKNL atau Pejabat Lelang Kelas II yang bersangkutan.
KUTIPAN RISALAH LELANG (2)

• Terdapat kata kata pada bagian kaki “diberikan Kutipan kepada


pembeli sebagai akta jual beli”;
• Kutipan Risalah Lelang ditandatangani oleh Kepala KPKNL/Pejabat
Lelang Kelas II di atas meterai secukupnya sesuai dengan
peraturan;
• Bea Meterai untuk Kutipan Risalah Lelang dibebankan kepada
Pembeli;
• Kutipan Risalah Lelang kendaraan bermotor
temuan/sitaan/rampasan berfungsi sebagai alas hak yang sah bagi
pembeli lelang untuk mengajukan permohonan balik nama atas
kepemilikan kendaraan bermotor yang dibeli dari lelang pada
instansi yang berwenang;
• Kutipan Risalah Lelang yang hilang atau rusak dapat diterbitkan
pengganti atas permintaan pembeli.
GROSSE RISALAH LELANG

• Terdapat kata-kata pada bagian kaki “diberikan sebagai grosse”


dengan menyebutkan nama orang yang memintanya dan untuk
siapa grosse dikeluarkan serta tanggal pengeluarannya;
• Grosse yang otentik dari Minuta Risalah Lelang ditandatangani,
diberikan teraan cap/stempel basah dan diberi tanggal pengeluaran
oleh Kepala KPKNL atau Pejabat Lelang Kelas II yang
bersangkutan.
• Grosse Risalah Lelang hanya diterbitkan atas permintaan pembeli,
atau kuasa pembeli;
• Bea Meterai untuk Grosse Risalah Lelang dibebankan kepada
Pembeli.
SUSUNAN & CONTOH
RISALAH LELANG
BAGIAN/SUSUNAN RISALAH LELANG

Pasal 77 ayat (2) Juklak Lelang

•RL •RL •RL


Bagian Bagian Bagian
Kepala Badan Kaki
RISALAH LELANG
 Bagian Kepala dibuat oleh Pejabat Lelang sebelum pelaksanaan lelang, dan
dibacakan pada saat dimulainya pelaksanaan lelang, kecuali dalam lelang
yang penawarannya melalui tromol pos atau TIK (termasuk email dan
internet).

 Bagian Badan dibuat oleh Pejabat Lelang pada saat pelaksanaan


lelang dengan diketik dan/atau tulisan tangan.

 Bagian Kaki dibuat oleh Pejabat Lelang setelah lelang ditutup dengan diketik
dan/atau tulisan tangan.
BAGIAN KEPALA
RISALAH LELANG
Bagian Kepala Risalah Lelang

Memuat sekurang-kurangnya:
1. hari, tanggal, dan jam lelang ditulis dengan huruf dan angka;
2. nama lengkap dan tempat kedudukan Pejabat Lelang;
3. nomor/tanggal Surat Keputusan Pengangkatan Pejabat Lelang dan nomor/tanggal surat tugas
khusus untuk Pejabat Lelang Kelas I;
4. nama lengkap, pekerjaan dan tempat kedudukan/domisili Penjual;
5. nomor/tanggal surat permohonan lelang;
6. tempat pelaksanaan lelang;
7. sifat barang yang dilelang dan alasan barang tersebut dilelang;
8. dalam hal yang dilelang berupa barang tidak bergerak berupa tanah atau tanah dan bangunan
harus disebutkan:
1) status hak atau surat-surat lain yang menjelaskan bukti kepemilikan;
2) SKT dari Kantor Pertanahan; dan
3) keterangan lain yang membebani, apabila ada;
9. dalam hal yang dilelang barang bergerak harus disebutkan jumlah, jenis dan spesifikasi
barang;
10. cara Pengumuman Lelang yang telah dilaksanakan oleh Penjual;
11. cara penawaran lelang; dan
12. syarat-syarat lelang.

Pasal 78 Juklak Lelang


Contoh Risalah Lelang
Bagian Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (1)
Kepala

Lembar Pertama
Pejabat Lelang

Guntar Arifin, S.H.


NIP. 19770714 199903 1 003
RISALAH LELANG
Nomor : 049/2014

-----Pada hari ini, Rabu, tanggal dua puluh sembilan bulan Januari tahun dua ribu empat
belas (29-01-2014), dimulai pukul sebelas lewat lima puluh menit (11.50) Waktu Indonesia
Barat dihadapan saya : -------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------Guntar Arifin, Sarjana Hukum - NIP 19770714 199903 1 003 ------------------
Pejabat Lelang Kelas I yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 06/KM.6/UP.11/2010 tanggal 05 Oktober 2010, berkedudukan di Kantor Pelayanan
Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Surabaya dan berdasarkan Surat Tugas dari Kepala
KPKNL Surabaya Nomor ST-86/WKN.10/KNL.01/2014 tanggal 29 Januari 2014 dilaksanakan
Lelang Ulang Eksekusi Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) atas barang tidak
bergerak bertempat di Ruang Lelang KPKNL Surabaya, Jalan Indrapura Nomor 5 Surabaya
yang akan diuraikan lebih lanjut di bawah ini : ----------------------------------------------------------------
Contoh Risalah Lelang
Bagian Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (2)
Kepala

-----Pelaksanaan lelang ulang ini dilakukan atas permintaan Saudara Purna Pudjiadi
dan Saudara I Gede Putu Desta Kumara masing-masing dalam jabatannya sebagai
Recovey Manager dan Senior Recovery Officer pada PT Bank Danamon Indonesia
Tbk, Special Asset & Recovery Management Kantor Wilayah 03 Surabaya,
berkedudukan di Surabaya, sesuai Surat Permohonan Lelang Nomor B.0484/SARM-
Sby/112013 tanggal 21 Nopember 2013, yang dalam hal ini berdasarkan : -----------
Perjanjian Pengakuan Hutang No. 13 tanggal 23 Desember 2002. ----------------------------
Perjanjian Pengakuan Hutang No. 14 tanggal 23 Desember 2002. ----------------------------
Perjanjian Dan Perubahan Terhadap Perjanjian Kredit No. 2 tanggal 28 Juni 2005 . ----
---- Sertifikat Hak Tanggungan yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kota
Surabaya yang berkepala “ DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG
MAHA ESA”, masing-masing : -----------------------------------------------------------------------------
SHT I (Pertama) No. 1929/2003 tanggal 09 Mei 2003 dan Akta Pemberian Hak
Tanggungan No. 58/2003 tanggal 14 Maret 2003 .----------------------------------------------------
SHT II (Kedua) No. 6331/2005 tanggal 02 Agustus 2005 dan Akta Pemberian Hak
Tanggungan No. 93/2005 tanggal 12 Juli 2005.--------------------------------------------------------
Contoh Risalah Lelang
Bagian Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (3)
Kepala

-----Dalam pelaksanaan lelang ini Saudara : --------------------------------------------------------------------


--------------------------------------------------------- Purna Pudjiadi ---------------------------------------------------
Bertindak dalam jabatannya tersebut untuk dan atas nama PT Bank Danamon Indonesia,
Tbk. Special Asset & Recovery Management Kantor Wilayah 03 Surabaya berdasarkan
Surat Penunjukan No. B.0485/SARM-Sby/112013 tanggal 21 Nopember 2013, melaksanakan
penjualan secara lelang dengan perantaraan KPKNL Surabaya. ----------------------------------------
-----Barang yang dilelang apa adanya berupa : ----------------------------------------------------------------
Tanah dan Bangunan SHM No. 1425 luas 312 M2 an. Sendiawan Janto, terletak di Kel.
Dukuh Pakis Kec. Dukuh Pakis, Kodya Surabaya, Propinsi Jawa Timur, sesuai Surat
Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) dari Kantor Pertanahan Kota Surabaya I, Nomor :
42/2014 tanggal 17 Januari 2014, menerangkan bahwa sebidang tanah terletak di :--------------
Jalan :Blok TB-06------------------------------------------------------------------------
RT/RW : /---------------------------------------------------------------------------
Kelurahan/Desa : Dukuh Pakis --------------------------------------------------------------------
Kecamatan : Dukuh Pakis---------------------------------------------------------------------
Kota : Surabaya . -----------------------------------------------------------------------

Luas (Surat Ukur..../Lembar Kedua


Contoh Risalah Lelang
Bagian Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (4)
Kepala
Luas (Surat Ukur Tgl. 20-02-2001 No.1032/-----------------------------------------------------------------------
Dukuh Pakis/2001) : 312 M2 ----------------------------------------------------------------------------
NIB : 12.01.25.25.02398. ------------------------------------------------------------
Berdasarkan Dokumen Pendaftaran Tanah yang ada pada Kantor kami, bidang tanah
tersebut sudah/belum diterbitkan Sertipikat dengan :------------------------------------------------------
Atas Nama : SENDIAWAN JANTO (15/11/1961) ---------------------------------------
Jenis dan Nomor Hak : HM No. 1425/ Kelurahan Dukuh Pakis-----------------------------------
Luas (Surat Ukur Tgl. 20-02-2001 No.1032/-----------------------------------------------------------------------
Dukuh Pakis/2001) : 312 M2 ----------------------------------------------------------------------------
Catatan :----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dibebani Hak Tanggungan I No.1929/2003 oleh .PT. BANK DANAMON INDONESIA Tbk,
berkedudukan di Jakarta khususnya melalui cabangnya di Surabaya sebesar
Rp.875.000.000,-. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dibebani Hak Tanggungan II No.6331/2005 oleh .PT. BANK DANAMON INDONESIA Tbk,
berkedudukan di Jakarta dan atau melalui Kantor Cabang Pembantu Banyuwangi di Jalan
Jenderal Ahmad Yani nomor 41 Banyuwangi sebesar Rp.318.750.000,-. -----------------------------
-----Penjualan ini dilakukan berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996
Tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah.--
-----Pihak Kreditur telah mengeluarkan Surat Peringatan Pertama Nomor B.357 /Rec-
Sby/1010 tanggal 13 Oktober 2010 dan Surat Peringatan Kedua Nomor Nomor B.374/Rec-
Sby/1010 tanggal 25 Oktober 2010 serta Surat Peringatan Ketiga Nomor B.410/Rec-
Sby/1110 tanggal 02 Desember 2010 kepada debitur untuk menyelesaikan hutangnya, oleh
karena debitor tetap tidak melunasi kewajibannya maka dilanjutkan dengan lelang atas
barang tersebut di atas.-----------------------------------------------------------------------------------------
Contoh Risalah Lelang
Bagian Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (5)
Kepala

-----Pelelangan ini telah diberitahukan kepada pihak debitur oleh PT Bank Danamon
Indonesia, Tbk. Special Asset & Recovery Management Kantor Wilayah 03 Surabaya
dengan surat Nomor B.010/SARM-03/Mlg/0114 tanggal 21 Januari 2014.---------------------------
-----Pelelangan ini telah diumumkan oleh Penjual melalui selebaran/tempelan tanggal 31
Desember 2013 sebagai pengumuman lelang pertama dan melalui surat kabar harian
“SINDO” yang terbit di Surabaya tanggal 15 Januari 2014 sebagai Pengumuman lelang
kedua. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------Berdasarkan Rincian Tunggakan Debitur yang dibuat oleh Recovey Manager dan
Senior Recovery Officer pada PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Special Asset & Recovery
Management Kantor Wilayah 03 Surabaya, sesuai Surat Keterangan Nomor B.0488/SARM-
Sby/112013 tanggal 21 Nopember 2013 jumlah kewajiban debitur atas nama SENDIAWAN
JANTO adalah sebesar Rp.1.778.353.403,13 (Satu milyar tujuh ratus tujuh puluh delapan
juta tiga ratus lima puluh tiga ribu empat ratus tiga koma tiga belas rupiah). ----------------------
------Hasil bersih lelang ini disetorkan kepada Penjual untuk dibayarkan kepada yang
berhak.------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----Penjualan lelang ini dilakukan menurut Undang-Undang Lelang (Vendu
Reglement, Ordonantie 28 Februari 1908 Staatsblad 1907:189 sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Staatsblad 1941:3) jis. Peraturan Menteri Keuangan Nomor
93/PMK.06/2010 tanggal 23 April 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 tanggal 26 Juli
2013 tentang Perubahan Atas Peraturan -------------------------------------------------------------------------

Menteri Keuangan..../Lembar Ketiga


Contoh Risalah Lelang
Bagian Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (6)
Kepala
Lembar Ketiga dari Risalah Lelang Nomor : 049/2014 tanggal 29 Januari 2014
Pejabat Lelang

Guntar Arifin, S.H.


NIP. 19770714 199903 1 003

Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, serta


Peraturan Menteri Keuangan Nomor 174/PMK.06/2010 tanggal 30 September 2010 Tentang
Pejabat Lelang Kelas I sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 158/PMK.06/2013 tanggal 14 Nopember 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 174/PMK.06/2010 Tentang Pejabat Lelang Kelas I .---------------------
-----Barang tersebut akan ditawarkan, dijual atau ditahan oleh saya Pejabat Lelang,
berdasarkan Harga Limit yang ditetapkan oleh Penjual.----------------------------------------------------
-----Peserta lelang dapat mengajukan penawaran dalam lelang ini setelah menyetorkan
uang jaminan penawaran lelang sesuai Pengumuman Lelang dengan ketentuan sebagai
berikut:------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Uang jaminan penawaran lelang dari peserta lelang yang disahkan sebagai Pembeli,
akan diperhitungkan dengan pelunasan kewajiban pembayaran lelang;------------------------------
Uang jaminan penawaran lelang dari peserta lelang yang tidak disahkan sebagai Pembeli
akan dikembalikan seluruhnya tanpa potongan apapun;---------------------------------------------------
Uang jaminan penawaran lelang akan disetorkan ke Kas Negara sebagai Penerimaan
Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Keuangan, jika Pembeli tidak melunasi
kewajiban pembayaran lelang sesuai ketentuan.--------------------------------------------------------------
Contoh Risalah Lelang
Bagian
Kepala
Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (7)

-----Penawaran lelang dilakukan secara lisan dengan harga semakin meningkat.-----------------


-----Harga penawaran yang diajukan oleh peserta lelang belum termasuk Bea Lelang dan
Uang Miskin yang dikenakan kepada Pembeli.-----------------------------------------------------------------
-----Dalam hal terdapat beberapa peserta lelang yang mengajukan penawaran tertinggi
secara lisan semakin menurun atau tertulis dengan nilai yang sama dan mencapai atau
melampaui Harga Limit, Pejabat Lelang berhak menentukan Pemenang Lelang dengan
cara:---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Melakukan penawaran lanjutan hanya terhadap peserta lelang yang mengajukan
penawaran sama, yang dilakukan secara lisan (naik-naik) atau tertulis berdasarkan
persetujuan peserta lelang bersangkutan; atau.---------------------------------------------------------------
------Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a tidak dapat dilaksanakan,
melakukan penetapan salah satu di antara peserta lelang yang mengajukan penawaran
sama dengan melakukan pengundian.----------------------------------------------------------------------------
-----Peserta lelang yang mengajukan penawaran tertinggi dan telah mencapai atau
melampaui Harga Limit yang ditetapkan oleh Penjual, disahkan sebagai Pembeli oleh saya
Pejabat Lelang pada saat pelaksanaan lelang.-----------------------------------------------------------------
-----Bea lelang dalam pelaksanaan lelang ini dipungut sebesar 2% untuk Pembeli dan 1,5 %
untuk Penjual menurut ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 01 Tahun 2013
tentang Jenis Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada
Kemeneterian Keuangan dan Uang Miskin dipungut sebesar 0% menurut Pasal 36 ayat (2)
Peraturan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor : PER-06/KN/2013 tanggal 09
Desember 2013 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang.---------------------------------.---------
Contoh Risalah Lelang
Bagian
Kepala Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (8)

-----Peserta lelang atau kuasanya yang sah harus hadir pada waktu pelaksanaan lelang.------
-----Pelunasan kewajiban pembayaran lelang oleh Pembeli dilakukan secara tunai paling
lama 5 (lima) hari kerja setelah pelaksanaan lelang.----------------------------------------------------------
-----Pembayaran dengan Cek/giro hanya dapat diterima dan dianggap sah sebagai
pelunasan kewajiban pembayaran lelang oleh Pembeli, jika cek/giro tersebut dikeluarkan
oleh Bank anggota Kliring di Surabaya, dananya mencukupi dan dapat diuangkan.-------------
-----Peserta lelang yang telah disahkan sebagai Pembeli bertanggung jawab sepenuhnya
dalam pelunasan kewajiban pembayaran lelang dan biaya-biaya resmi lainnya berdasarkan
peraturan perundang-undangan pada lelang ini walaupun dalam penawarannya itu ia
bertindak selaku kuasa dari seseorang, perusahaan atau badan Hukum.----------------------------
-----------------------------------------------Dengan mengajukan penawaran pada lelang ini, peserta
lelang wajib mematuhi ketentuan-ketentuan lelang yang berlaku.-------------------------------------
-----Pembeli yang tidak melunasi kewajiban pembayaran lelang sesuai ketentuan (Pembeli
Wanprestasi), maka pada hari kerja berikutnya pengesahannya sebagai Pembeli dibatalkan
secara tertulis oleh Pejabat Lelang, tanpa mengindahkan ketentuan sebagaimana yang
dimaksud dalam pasal 1266 dan 1267 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata dan dapat
dituntut ganti rugi oleh Penjual.-------------------------------------------------------------------------------------
-----Pembeli tidak diperkenankan mengambil/menguasai Barang yang dibelinya sebelum
memenuhi kewajiban pembayaran lelang. Apabila Pembeli melanggar ketentuan ini maka
dianggap telah melakukan suatu tindak kejahatan yang dapat dituntut oleh pihak yang
berwajib.----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Contoh Risalah Lelang
Bagian
Kepala Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (9)

----- Barang yang terjual pada lelang ini menjadi hak dan tanggungan Pembeli dan harus
dengan segera mengurus Barang tersebut.---------------------------------------------------------------------
-----Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dipungut berdasarkan Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah.----------------------
-----Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau
Bangunan dipungut berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang
Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Pengalian Hak Atas Tanah dan/atau
bangunan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71
Tahun 2008.-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----Biaya balik nama Barang, tunggakan pajak berikut denda-dendanya serta biaya- biaya
resmi lainnya menjadi tanggung jawab sepenuhnya Pembeli.--------------------------------------------
-----Pembeli akan diberikan Kutipan Risalah lelang untuk kepentingan balik nama setelah
menunjukan kuitansi pelunasan pembayaran lelang. Apabila yang dilelang berupa tanah
dan/atau bangunan harus disertai dengan menunjukan asli Surat Setoran BPHTB.--------------
-----Apabila tanah dan/atau bangunan yang akan dilelang ini berada dalam keadaan
berpenghuni, maka pengosongan bangunan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Pembeli. Apabila pengosongan bangunan tersebut tidak dapat dilakukan secara
sukarela, maka Pembeli berdasarkan ketentuan yang termuat dalam pasal 200 HIR dapat
meminta bantuan Pengadilan Negeri setempat untuk pengosongannya.-----------------------------
Contoh Risalah Lelang
Bagian
Kepala Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (10)
-----Jika Pembeli tidak mendapatkan izin dari Instansi pemberi izin untuk membeli Barang
tidak bergerak tersebut sehingga jual beli ini menjadi batal, maka ia dengan ini oleh
Penjual diberi kuasa penuh yang tidak dapat ditarik kembali dengan hak untuk
memindahkan kuasa itu untuk mengalihkan Barang tidak bergerak itu kepada pihak lain
atas nama Penjual dengan dibebaskan dari pertanggungjawaban sebagaikuasa dan jika
ada menerima uang ganti kerugian yang menjadi hak sepenuhnya dari Pembeli. Adapun
uang pembelian yang sudah diberikan kepada Penjual tersebut diatas tidak dapat ditarik
kembali oleh Pembeli.---------------------------------------------------------------------------------------------------
-----Pejabat Lelang/KPKNL tidak menanggung atas kebenaran keterangan-keterangan yang
diberikan secara lisan pada waktu penjualan tentang keadaan sesungguhnya dan keadaan
hukum atas Barang yang dilelang tersebut, seperti luasnya, batas-batasnya, perjanjian
sewa menyewa dan menjadi resiko Pembeli.-------------------------------------------------------------------
------Penawar/Pembeli dianggap sungguh-sungguh telah mengetahui apa yang telah ditawar
olehnya. Apabila terdapat kekurangan / kerusakan baik yang terlihat ataupun yang tidak
terlihat, maka penawar/pembeli tidak berhak untuk menolak atau menarik diri kembali
setelah pembelian disahkan dan melepaskan segala hak untuk meminta kerugian atas
sesuatu apapun juga.----------------------------------------------------------------------------------------------------
-----Segala perselisihan yang mungkin timbul pada saat pelaksanaan lelang ini akan
diselesaikan dan diputuskan pada hari ini juga oleh saya Pejabat Lelang.---------------------------
-----Untuk segala hal yang berhubungan dengan atau diakibatkan oleh pembelian dalam
lelang ini, para Pembeli dianggap telah memilih tempat kedudukan umum yang tetap dan
tidak dapat diubah pada KPKNL Surabaya.----------------------------------------------------------------------
-----Khusus untuk pembelian dalam lelang ini sepanjang tidak ditentukan dalam Risalah
Lelang ini, maka penawar/Pembeli tunduk pada hukum perdata dan hukum dagang yang
berlaku di Indonesia.-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Contoh Risalah Lelang
Bagian
Kepala Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (11)

-----Semua surat (asli/salinan/fotokopi) yang disebutkan dalam Risalah Lelang


ini dilampirkan dan dijahitkan dalam minuta risalah lelang ini.-------------------------
-----Sesudah apa yang diuraikan di atas ini dibacakan dihadapan umum, maka
penjualan lelang ini dimulai.-------------------------------------------------------------------------

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Peserta Lelang..../Lembar Keenam
BAGIAN BADAN
RISALAH LELANG
BAGIAN BADAN RISALAH LELANG

Badan memuat sekurang-kurangnya:

• banyaknya penawaran lelang yang masuk dan sah;


• nama/merek/jenis/tipe dan jumlah barang yang dilelang;
• nama, pekerjaan dan alamat Pembeli atas nama sendiri atau
sebagai kuasa atas nama orang lain;
• bank kreditor sebagai Pembeli untuk orang atau badan
hukum/usaha yang akan ditunjuk namanya, dalam hal bank kreditor
sebagai Pembeli Lelang;
• harga lelang dengan angka dan huruf; dan
• daftar barang yang laku terjual maupun yang ditahan disertai
dengan nilai, nama, dan alamat peserta lelang yang menawar
tertinggi.

Pasal 79 Juklak Lelang


Contoh Risalah Lelang
Bagian
Badan
Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (12)

Lembar Keenam dari Risalah Lelang Nomor : 049/2014 tanggal 29 Januari 2014
Pejabat Lelang

Guntar Arifin, S.H.


NIP. 19770714 199903 1 003

-----Peserta lelang yang mengajukan penawaran yang memenuhi syarat dan sah dalam
pelaksanaan lelang ini ada 3 (tiga) peserta, yaitu sebagai berikut :-------------------------------------
1. Mustofa, Karyawan Swasta, Dungrejo, RT/RW 002/011, Kelurahan/Desa Wonokerto, Kecamatan
Wonogiri, Kab. Wonogiri kuasa dari NJO,. Hendry Saputra, Karyawan Swasta, Jalan Simpang
Darmo Permai Selatan 3/44, RT/RW. 001/008, Desa Pradahkalikendal, Kecamatan Dukuh Pakis,
Kota Surabaya menawar Tanah dan Bangunan SHM No. 1425 luas 312 M2 an. Sendiawan Janto,
terletak di Kel. Dukuh Pakis Kec. Dukuh Pakis, Kodya Surabaya, Propinsi Jawa Timur, dengan
harga penawaran sebesar Rp.1.595.500.000,00 (Satu milyar lima ratus sembilan puluh lima juta
lima ratus ribu rupiah).-----------------------------
2. Nuril Chusaini, Karyawan Swasta, Kebonsari VII-B/15, RT/RW 004/002, Kelurahan/Desa
Kebonsari, Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya menawar Tanah dan Bangunan SHM No. 1425
luas 312 M2 an. Sendiawan Janto, terletak di Kel. Dukuh Pakis Kec. Dukuh Pakis, Kodya Surabaya,
Propinsi Jawa Timur, dengan harga penawaran sebesar Rp.1.595.700.000,00 (Satu milyar lima
ratus sembilan puluh lima juta tujuh ratus ribu rupiah).---------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
Contoh Risalah Lelang
Bagian Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (13)
Kepala

Lutfi Haris, Swasta, Jalan Sidonipah 1/6-C, RT/RW. 004/002, Kelurahan Simolawang,
Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya kuasa dari Mansa Chandra, Mengurus Rumah
Tangga, Jl. Perak Timur 215, RT/RW. 003/004, Kelurahan Perak Utara , Kecamatan Pabean
Cantian, Kota Surabaya menawar Tanah dan Bangunan SHM No. 1425 luas 312 M2 an.
Sendiawan Janto, terletak di Kel. Dukuh Pakis Kec. Dukuh Pakis, Kodya Surabaya, Propinsi
Jawa Timur, dengan harga penawaran sebesar Rp.1.596.000.000,00 (Satu milyar lima ratus
sembilan puluh enam juta rupiah).----------------------------------------------------------------------------------
-----Oleh karena penawaran tertinggi terakhir untuk masing-masing Barang tersebut telah
mencapai/melampaui Harga Limit yang ditetapkan oleh Penjual, maka penawar tertinggi
disahkan sebagai Pembeli pada pelaksanaan lelang ini.----------------------------------------------------

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Peserta Lelang..../Lembar Keenam
Contoh Risalah Lelang
Bagian
Badan
Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (14)
Tabel Penawaran Lelang

No. Barang Yang Dilelang Nama, Pekerjaan & Tempat Harga Laku Harga Ket
Urut Tinggal Pembeli Ditahan

1 Tanah dan Bangunan SHM Lutfi Haris, Swasta, Jalan Sidonipah 1.596.000.000,00
No. 1425 luas 312 M2 an. 1/6-C, RT/RW. 004/002, Kelurahan ------
Sendiawan -Janto, terletak -Simolawang, Kecamatan Simokerto,
di Kel. Dukuh Pakis Kec. Kota Surabaya kuasa dari Mansa
Dukuh Pakis, Kodya Chandra, Mengurus Rumah Tangga, Jl.
Surabaya, Propinsi Jawa Perak Timur 215, RT/RW. ---003/004,
Timur ----------- Kelurahan Perak Utara, Kecamatan
Pabean Cantian, Kota Surabaya-------

Jumlah 1.596.000.000,00
BAGIAN KAKI
RISALAH LELANG
BAGIAN KAKI RISALAH LELANG

Memuat sekurang-kurangnya:
 banyaknya barang yang ditawarkan/dilelang dengan angka dan huruf;
 banyaknya barang yang laku/terjual dengan angka dan huruf;
 jumlah harga barang yang telah terjual dengan angka dan huruf;
 jumlah harga barang yang ditahan dengan angka dan huruf;
 banyaknya dokumen/surat-surat yang dilampirkan dengan angka dan huruf;
 Jumlah perubahan yang dilakukan (catatan, tambahan, coretan dengan
penggantinya) maupun tidak adanya perubahan ditulis dengan angka dan huruf; dan
 tanda tangan Pejabat Lelang dan Penjual/kuasa Penjual, dalam hal lelang barang
bergerak atau tanda tangan Pejabat Lelang, Penjual/kuasa Penjual dan
Pembeli/kuasa Pembeli, dalam hal lelang barang tidak bergerak.

Pasal 80 Juklak Lelang


Contoh Risalah Lelang
Bagian Lelang Eksekusi Ps 6 UUHT (15)
Kaki

Lembar terakhir dari Risalah Lelang Nomor : 049/2014 tanggal 29 Januari 2014

Banyaknya barang yang dilelang :1 (satu).-----------------------------------------------


Banyaknya Barang yang laku/terjual :1 (satu).-----------------------------------------------
Jumlah harga Barang yang telah terjual : Rp.1.596.000.000,00 (Satu milyar lima ratus sembilan
puluh enam juta rupiah).----------------------------------------------------------------------------------------------------
Jumlah harga Barang yang ditahan : tidak ada.-----------------------------------------------------------------------
Banyaknya lampiran Risalah Lelang ini : 31 (tiga puluh satu).----------------------------------------------------
Dibuat dengan tidak ada coretan, tidak ada tambahan, tidak ada perubahan.-------------------------------

Penjual Pembeli Pejabat Lelang

Purna Pudjiadi Lutfi Haris Guntar Arifin, S.H.


kuasa dari NIP.19770714 199903 1 003
Mansa Chandra
Catatan :
Dalam pelaksanaan lelang ini, terhadap pembayaran Hasil Lelang tidak ada yang mengajukan
sanggahan/verzet.

Pejabat Lelang

Guntar Arifin, S.H.


NIP 19770714 199903 1 003
PEMBETULAN
RISALAH LELANG
KETENTUAN

[Pasal 81 Juklak Lelang]


 Pembetulan kesalahan redaksional RL berupa pencoretan, penambahan
dan/atau perubahan.
(1) pencoretan, kesalahan kata, huruf atau angka dilakukan dengan
garis lurus tipis, sehingga yang dicoret dapat dibaca;
(2) tambahan kata atau kalimat, ditulis di sebelah pinggir kiri dari
lembar Risalah Lelang atau ditulis pada bagian bawah dari bagian kaki
Risalah Lelang dengan menunjuk lembar dan garis yang berhubungan
dengan perubahan itu, apabila penulisan di pinggir kiri dari lembar
Risalah Lelang tidak mencukupi.

 Jumlah kata, huruf atau angka yang dicoret/ditambahkan diterangkan


pada sebelah pinggir lembar RL, begitu pula banyaknya kata/angka
yang ditambahkan.

 Perubahan sesudah RL ditutup dan ditandatangani tidak boleh


dilakukan.
KUTIPAN
RISALAH LELANG YANG
DISEDERHANAKAN
Terdiri
2 halaman (sisi) KUTIPAN RL
bolak balik yang Disederhanakan (1)
Depan:
1. Kop instansi penerbit (KPKNL/PL Kelas II)
2. hari, tanggal, dan jam lelang ditulis dengan huruf dan angka;
3. tempat pelaksanaan lelang;
4. nama lengkap, NIP, Surat Keputusan Pengangkatan, dan nomor/tanggal surat tugas
Pejabat Lelang;
5. nama lengkap, pekerjaan dan tempat kedudukan/domisili Penjual;
6. nomor/tanggal surat permohonan lelang;
7. jenis lelang;
8. nama dan nomor, tanggal surat tugas Pejabat Penjual;
9. uraian obyek lelang:
10. dalam hal yang dilelang barang bergerak harus disebutkan jumlah, jenis dan
spesifikasi barang;
11. nama, pekerjaan, nomor dokumen identitas diri, alamat pembeli;
12. harga pembelian dalam lelang
13. Ada/tidaknya keberatan .
14. ‘Ttd’ untuk tandatangan pihak pejabat penjual, pembeli, Pejabat Lelang:
15. Tanda tangan basah, stempel Kepala KPKNL/Pejabat Lelang Kelas II
Terdiri
2 halaman (sisi) KUTIPAN RL
bolak balik
yang Disederhanakan (2)
Belakang:
berisi SYARAT dan KETENTUAN, memuat klausul-klausul pokok, seperti:
1. Dasar hukum pelaksanaan lelang;
2. Peserta lelang yang menang adalah yang mengajukan penawaran tertinggi;
3. Pemungutan bea lelang;
4. Jangka waktu pelunasan harga lelang;
5. Cara pembayaran harga lelang;
6. Peserta lelang yang menang bertanggungjawab dalam pelunasan kewajiban;
7. Jika pembeli wanprestasi;
8. Pembeli tidak diperkenankan mengambil/menguasai barang jika belum lunas;
9. Barang yang terjual menjadi tanggungan pembeli;
10.Pemungutan BPHTB dan PPh, jika obyek lelang berupa T/TB;
11.Baliknama dan tunggakan pajak menjadi tanggungan pembeli;
12.Pembeli diberikan Kutipan RL jika semua kewajiban telah dipenuhi;
13.Pejabat Lelang/KPKNL tidak bertanggungjawab atas kebenaran data obyek
lelang.
14.Dan lain sebagainya, sesuai yang dicantukan dlm Risalah Lelang yang belum
disederhanakan.
RL yang Disederhanakan (depan)
RL yang Disederhanakan (belakang)
PERBANDINGAN KUTIPAN RISALAH LELANG
SEBELUM DAN SESUDAH PENYEDERHANAAN

SEBELUM
• relatif menyulitkan untuk menyelesaikan risalah lelang dalam jangka
waktu sesuai SOP dengan pelayanan yang cepat dan prima, serta
risiko terjadinya kesalahan dalam penyusunan risalah lelang relatif
tinggi;
• dibuat dalam format yang rumit dan tebal.

SETELAH
• memudahkan para penyelenggara lelang untuk menyelesaikan
risalah lelang dalam jangka waktu sesuai SOP dengan pelayanan
yang cepat dan prima, serta dapat meminimalisir risiko terjadinya
kesalahan dalam penyusunan risalah lelang;
• dibuat cukup sederhana dan ringkas, namun tetap informatif dan
memadai secara hukum.
SECURITY PAPER
1. Peraturan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor 2/KN/2012
tentang Pembuatan Kutipan Risalah Lelang oleh KPKNL, dan
2. Peraturan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor 3/KN/2012
tentang Pembuatan Kutipan Risalah Lelang oleh Pejabat Lelang
Kelas II.
SECURITY PAPER (1)

 Securing merupakan suatu program DJKN yang memiliki tujuan utama


untuk meningkatkan kualitas pengamanan pada risalah lelang melalui
penggunaan kertas sekuriti (security paper) sebagai media untuk
pencetakan risalah lelang.
 Kertas sekuriti sendiri merupakan dokumen yang oleh sifat dan
fungsinya diberi pengamanan dan pengawasan. Pengamanan untuk
mencegah peniruan, penggandaan maupun manipulasi.
 Pengawasan dalam hal: proses pencetakan, penyimpanan, dan
penggunaannya. Upaya pengamanan dan pengawasan ini untuk
mencegah pihak-pihak tertentu memalsukan atau menyalahgunakan
kertas sekuriti tersebut.
 Kertas sekuriti yang digunakan terdapat nomor seri dan logo
Kementerian Keuangan.
 Untuk memastikan keaslian kertas sekuriti menggunakan alat infrared
dan ultraviolet.
SECURITY PAPER (2)

 Apabila terdapat kesalahan dalam pengetikan dan/atau pencetakan


yang menyebabkan kertas sekuriti tidak jadi digunakan untuk
kutipan risalah lelang, maka kertas tersebut disimpan di
KPKNL/Kantor PL Kelas II untuk kemudian
dimusnahkan/dihancurkan.
 Pemusnahan/penghancuran kertas sekuriti dilakukan di masing-
masing KPKNL/Kantor PL Kelas II paling singkat tiap 3 bulan sekali
yang disaksikan oleh perwakilan Kanwil dan dibuatkan Berita Acara
Pemusnahan/Penghancuran Kertas Sekuriti.
 Dalam hal kutipan risalah lelang yang menggunakan kertas sekuriti
hilang atau rusak, maka diberikan Kutipan Risalah Lelang
Pengganti.
Terdiri BENTUK KUTIPAN RL
2 halaman (sisi)
bolak balik dengan Security Paper (1)
Depan:
1. Kop instansi penerbit (KPKNL/PL Kelas II)
2. hari, tanggal, dan jam lelang ditulis dengan huruf dan angka;
3. tempat pelaksanaan lelang;
4. nama lengkap, NIP, Surat Keputusan Pengangkatan, dan nomor/tanggal surat tugas
Pejabat Lelang;
5. nama lengkap, pekerjaan dan tempat kedudukan/domisili Penjual;
6. nomor/tanggal surat permohonan lelang;
7. jenis lelang;
8. nama dan nomor, tanggal surat tugas Pejabat Penjual;
9. uraian obyek lelang:
10. dalam hal yang dilelang barang bergerak harus disebutkan jumlah, jenis dan
spesifikasi barang;
11. nama, pekerjaan, nomor dokumen identitas diri, alamat pembeli;
12. harga pembelian dalam lelang
13. Ada/tidaknya keberatan .
14. ‘Ttd’ untuk tandatangan pihak pejabat penjual, pembeli, Pejabat Lelang:
15. Tanda tangan basah, stempel Kepala KPKNL/Pejabat Lelang Kelas II
Terdiri BENTUK KUTIPAN RL
2 halaman (sisi)
bolak balik dengan Security Paper (2)
Belakang:
berisi SYARAT dan KETENTUAN, memuat klausul-klausul pokok, seperti:
1. Dasar hukum pelaksanaan lelang;
2. Peserta lelang yang menang adalah yang mengajukan penawaran tertinggi;
3. Pemungutan bea lelang;
4. Jangka waktu pelunasan harga lelang;
5. Cara pembayaran harga lelang;
6. Peserta lelang yang menang bertanggungjawab dalam pelunasan kewajiban;
7. Jika pembeli wanprestasi;
8. Pembeli tidak diperkenankan mengambil/menguasai barang jika belum lunas;
9. Barang yang terjual menjadi tanggungan pembeli;
10.Pemungutan BPHTB dan PPh, jika obyek lelang berupa T/TB;
11.Baliknama dan tunggakan pajak menjadi tanggungan pembeli;
12.Pembeli diberikan Kutipan RL jika semua kewajiban telah dipenuhi;
13.Pejabat Lelang/KPKNL tidak bertanggungjawab atas kebenaran data obyek lelang.
14.Dan lain sebagainya, sesuai yang dicantukan dlm Risalah Lelang yang belum
disederhanakan.
SPESIFIKASI SECURITY PAPER
1. Cetakan dasar (background) di 4 sisi terbuat dari motif-motif guilloche.
2. Cetakan dasar berupa garis-garis halus relief dikombinasikan dengan
linewidth modulation membentuk logo Kementerian Keuangan RI.
3. Logo Kementerian Keuangan RI ditengah lembaran terbentuk oleh art
screen yang berisi himpunan tulisan-tulisan “RISALAH, LELANG,
KEMENTERIAN, KEUANGAN, RI dan Logo Kementerian Keuangan”
dalam ukuran/huruf mikro.
4. Microtext berupa garis lurus terbentuk oleh tulisan-tulisan
“KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA”.
5. Hidden image berupa tulisan “RISALAH LELANG” yang tersembunyi
dan hanya dapat terbaca bila dilihat dengan menggunakan cahaya ultra
violet.
6. Fitur anticopy.
7. Serial Number pada bagian kiri bawah kertas sekuriti.
8. Serat Fiber Optic yang menyala apabila terkena sinar ultra violet.
motif-motif
guilloche
Serat Fiber Optik
line width
modulation

Microtext berupa
tulisan-tulisan
Logo Kementerian Keuangan RI
“KEMENTERIAN
ditengah lembaran terbentuk oleh art KEUANGAN REPUBLIK
screen yang berisi himpunan tulisan- INDONESIA”
tulisan “RISALAH, LELANG,
KEMENTERIAN, KEUANGAN, RI dan
Logo Kementerian Keuangan”

Tulisan “COPY”
Hidden image berupa tulisan
Serial Number “RISALAH LELANG”
75

DoA
Motif-motif guilloche

15
Warna Logo Yang Berpendar apabila dikenai sinar infrared/UV

16
Tulisan Risalah Lelang yang Berpendar apabila dikenai sinar infrared/UV

17
Serial Number

18
CONTOH SECURITY PAPER
TATA CARA PEMBUATAN (1)

 Dicetak pada kertas sekuriti.


 Pencetakannya diutamakan untuk jenis barang yang memerlukan proses
balik nama.
 Untuk selain jenis barang yang tidak memerlukan proses balik nama,
namun dalam jumlah partai besar, dan akan dituangkan dalam kertas
sekuriti, maka cukup dicantumkan perkelompok barang dengan rincian
barang dituangkan dalam lampiran.
 Lampiran dalam bentuk kertas sekuriti tanpa memuat Syarat dan Ketentuan
Lelang.
 Dalam hal obyek lelang berupa beberapa bidang tanah dalam satu
hamparan, Kutipan Risalah Lelang tetap dibuat untuk satu hamparan.
 Pengetikan kertas sekuriti menggunakan font Book Antiqua.
 Isi Kutipan Risalah Lelang disesuaikan dengan jenis lelang yang
dilaksanakan.
 Kutipan Risalah Lelang dibuat untuk tiap-tiap obyek lelang, paling lama 1
hari kerja setelah adanya permintaan dari Pembeli Lelang.
TATA CARA PEMBUATAN (2)

 Jika pembelian lelang dilakukan dengan adanya kuasa dari pihak lain, maka
dalam Kutipan Risalah Lelang selaku Pembeli Lelang adalah pihak pemberi
kuasanya.
 Urutan nomor seri kertas sekuriti tidak harus mengikuti urutan nomor
Risalah Lelang, namun disesuaikan dengan urutan diterimanya permintaan
dari Pembeli Lelang.
 Apabila terdapat kesalahan dalam pengetikan dan/atau pencetakan yang
menyebabkan kertas sekuriti tidak jadi digunakan untuk kutipan risalah
lelang, maka kertas tersebut disimpan di KPKNL/Kantor PL Kelas II untuk
kemudian dimusnahkan/dihancurkan.
 Pemusnahan/penghancuran kertas sekuriti dilakukan di masing-masing
KPKNL/Kantor PL Kelas II paling singkat tiap 3 bulan sekali yang disaksikan
oleh perwakilan Kanwil dan dibuatkan Berita Acara
Pemusnahan/Penghancuran Kertas Sekuriti.
 Dalam hal kutipan risalah lelang yang menggunakan kertas sekuriti hilang
atau rusak, maka diberikan Kutipan Risalah Lelang Pengganti.
KUTIPAN RISALAH LELANG
PENGGANTI
KUTIPAN RISALAH LELANG PENGGANTI
 Kutipan Risalah Lelang yang hilang atau rusak dapat
diterbitkan pengganti atas permintaan Pembeli.
(Ps 86 ayat (5) Juklak Lelang).
 Pengaturan lengkap pada Pasal 49, 50, dan 51 Perdirjen
Kekayaan Negara No. 6/KN/2013 tentang Juknis Lelang.

• Dibuat dan diterbitkan untuk mengganti Kutipan Risalah


Lelang yang hilang atau rusak.
• Kutipan Risalah Lelang yang hilang atau rusak dapat
diterbitkan pengganti atas permintaan pembeli.
KUTIPAN RISALAH LELANG PENGGANTI

• Permohonan penerbitan Kutipan Risalah Lelang Pengganti diajukan


oleh pembeli lelang yang bersangkutam atau ahli warisnya dengan
cara mengajukan surat permohonan penerbitan;
• Permohonan Kutipan Risalah Lelang Pengganti hanya dapat
diproses apabila status kepemilikan T/TB/KB yang dibeli oleh
pembeli lelang masih atas nama pemilik lama sebelum dilakukan
lelang;
• Untuk obyek berupa T/TB, pemohon harus mengajukan permintan
SKPT atau SKT ke Kantor Pertanahan;
• Untuk obyek berupa KB, pemohon harus mengajukan permintan
surat keterangan ke Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap;
• Kepala KPKNL/Pejabat Lelang Kelas II mengeluarkan surat
keterangan yang menyatakan bahwa pemohon adalah pembeli
lelang atas barang yang akan dimohonkan Kutipan Risalah Lelang
Pengganti untuk membantu Pemohon agar dapat melakukan
pengurusan SKPT/SKT atau surat keterangan ke Samsat;
KUTIPAN RISALAH LELANG PENGGANTI

• Permohonan penerbitan Kutipan Risalah Lelang pengganti


dilampiri dokumen-dokumen persyaratan, sesuai Pasal 49 ayat
(6);
• Untuk penerbitan Kutipan Risalah Lelang pengganti karena
hilang, selain dokumen persyaratan sesuai Pasal 49 ayat (6)
juga dilengkapi surat keterangan hilang dari kepolisian dan bukti
pemuatan pengumuman kehilangan di surat kabar harian;
• Untuk penerbitan Kutipan Risalah Lelang pengganti karena
rusak, harus dilengkapi dengan bukti Kutipan Risalah Lelang
yang rusak;
• Dengan terbitnya Kutipan Risalah Lelang Pengganti, maka
Kutipan Risalah Lelang lama yang rusak/hilang dinyatakan tidak
berlaku.
• KPKNL/PL Kelas II harus meminta Kutipan Risalah Lelang yang
rusak dan diberi garis silang (X);
• Dikenakan biaya penerbitan Kutipan Risalah Lelang pengganti
karena rusak/hilang sebesar Rp500 ribu per risalah dan
disetorkan ke Kas Negara sebagai PNBP.
TAHAP PENERBITAN dan PENYERAHAN
KUTIPAN RISALAH LELANG PENGGANTI

• Dibuat dengan mengutip Minuta Risalah Lelang secara cermat;


• Dicetak pada kertas sekuriti;
• Diberikan nomor Risalah Lelang yang sama dengan Minuta Risalah
Lelang;
• Untuk lelang yang dilaksanakan oleh KPKNL, diparaf oleh Kasi
Pelayanan Lelang;
• Pada bagian kaki Risalah Lelang diberikan frasa Kutipan Risalah
Lelang Pengganti, karena hilang/rusak untuk keperluan balik nana
atas permohonan Pembeli/Kuasanya;
• Dikenakan biaya penerbitan Kutipan Risalah Lelang pengganti
karena rusak/hilang sebesar Rp500 ribu per risalah dan disetorkan
ke Kas Negara sebagai PNBP.
HAL-HAL PENTING LAINNYA
DARI RISALAH LELANG
Dasar Hukum Pembuatan Risalah Lelang:
1. Peraturan Dirjen KN No. : Per-03/KN/2008 tentang Petunjuk
Teknis Pembuatan Risalah Lelang;
2. Peraturan Dirjen KN No. : Per-02/KN/2008 tentang
Pembuatan Kutipan Risalah Lelang oleh KPKNL
3. Peraturan Dirjen KN No. : Per-03/KN/2008 tentang
Pembuatan Kutipan Risalah Lelang oleh Kantor Pejabat
Lelang Kelas II
 Pejabat Lelang yang melaksanakan lelang wajib membuat berita acara lelang
yang disebut Risalah Lelang.
 Risalah Lelang dibuat dalam Bahasa Indonesia.
 Setiap Risalah Lelang diberi nomor urut per Tahun Anggaran.
 Dalam hal rencana pelaksanaan lelang dibatalkan sebelum pelaksanaan
lelang, tidak perlu dibuat risalah lelang.
 Risalah Lelang diberi sampul warna merah muda untuk barang tidak bergerak
atau barang tidak bergerak yang disatukan dengan barang bergerak. Sampul
warna kuning muda untuk barang bergerak.
 Dalam lelang yang penawarannya melalui tromol pos, bagian Kepala ditempel
pada papan pengumuman lelang di KPKNL/Kantor PL Kelas II/Balai Lelang
sebelum pelaksanaan lelang.
 Dalam lelang yang penawarannya melalui TIK, bagian Kepala ditayangkan oleh
Pejabat Lelang pada sistem aplikasi yang disediakan penyelenggara lelang
sebelum dimulainya pelaksanaan lelang.
 Minuta Risalah Lelang ditandatangani oleh Pejabat Lelang pada saat
penutupan pelaksanaan lelang.
 Minuta Risalah Lelang ditandatangani oleh Pejabat Lelang pada saat
penutupan pelaksanaan lelang.
 Penandatanganan Risalah Lelang dilakukan oleh:
(1) Pejabat Lelang pada setiap lembar di sebelah kanan atas
dari Risalah Lelang, kecuali lembar yang terakhir;
(2) Pejabat Lelang dan Penjual/kuasa Penjual pada lembar
terakhir dalam hal lelang barang bergerak; atau
(3) Pejabat Lelang, Penjual/kuasa Penjual dan Pembeli/kuasa
Pembeli pada lembar terakhir dalam hal lelang barang tidak
bergerak.
Dalam hal Penjual/kuasa Penjual tidak mau menandatangani Risalah Lelang
atau tidak hadir sewaktu Risalah Lelang ditutup,Pejabat Lelang membuat
catatan keadaan tersebut pada Bagian Kaki Risalah Lelang dan menyatakan
catatan tersebut sebagai tanda tangan Penjual.
Ketentuan Penting:
Dalam hal Pejabat Lelang berhalangan tetap, penandatanganan
dilakukan oleh Kepala KPKNL untuk Pejabat Lelang Kelas I dan oleh
Pengawas Lelang (Superintenden) untuk Pejabat Lelang Kelas II.

Dalam hal terdapat hal-hal penting yang diketahui setelah penutupan


Risalah Lelang, Pejabat Lelang harus membuat catatan hal-hal tersebut
pada bagian bawah setelah Kaki Minuta Risalah Lelang dan membubuhi
tanggal dan tanda tangan.
Hal-hal penting yang diketahui setelah penutupan RL:
(1) ada atau tidak ada verzet terhadap hasil lelang;
(2) adanya Pembeli wanprestasi;
(3) adanya pemberian pengganti Kutipan Risalah Lelang yang hilang
atau rusak;
(4) adanya pemberian Grosse Risalah Lelang atas permintaan Pembeli;
(5) adanya Penjual yang tidak mau menandatangani Risalah Lelang
atau tidak hadir sewaktu Risalah Lelang ditutup;
(6) adanya Pembatalan Risalah Lelang berdasarkan putusan hakim
yang sudah berkekuatan hukum tetap; atau
(7) hal-hal lain yang akan ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Dalam hal Pejabat Lelang Kelas I dibebastugaskan, cuti,
berhalangan tetap atau dipindahtugaskan, pencatatan dan
penandatanganan dilakukan oleh Kepala KPKNL.

Dalam hal Pejabat Lelang Kelas II dibebastugaskan, cuti atau


berhalangan tetap, pencatatan dan penandatanganan dilakukan
oleh Kepala Kantor Wilayah setempat selaku Pengawas Lelang
(Superintenden).
Terima Kasih..
Semoga Bermanfaat