Anda di halaman 1dari 3

DAFTAR PERTANYAAN SOSIALISASI HIV-AIDS

Narasumber : dr. Subroto PH, SpPD

1. Pasien dengan HIV-AIDS umumnya merupakan orang yang cenderung menutup diri,
apakah ada kiat-kiat yang bisa kita lakukan agar para penderita HIV-AIDS tidak semakin
menutup diri?
Jawab : Ada beberapa cara agar kita bisa membantu para penderita HIV-AIDS agar tidak
menutup diri, bisa dengan cara seluruh penderita HIV-AIDS diberi waktu untuk
berkumpul untuk sharing pengalaman, mendengarkan ceramah, maupun kegiatan lainnya
(membuat komunitas), dan selain mereka berkumpul kita juga sekaligus memberikan
obat bulanan. Langkah ini dinilai cukup berhasil di beberapa Rumah sakit yang sudah
menerapkan metode ini.

2. Bagaimana cara pemakaian alat pelindung diri (APD) dan penanganan bila kita
menjumpai pasien HIV-AIDS yang dirawat diruangan biasa?
Jawab : Langkah pertama pasien segera dipindahkan ke ruangan isolasi supaya tidak
tertular infeksi oportunistik dari pengunjung atau petugas.
Untuk pemakaian APD, pasien dengan HIV-AIDS harus diberi pertanda khusus dan
penanganan yang beda dari pasien yang lain terutama pada petugas laboratorium, seperti
cara ambil darah, cara mengirim sampel darah, cara pemeriksaan di laboratorium, cara
transfuse darah. Intinya pemakaian APD harus optimal, bukan berarti harus memakai
APD rangkap-rangkap, tapi lebih mengutamakan general precautionnya, dimana
prinsipnya adalah darah dari pasien dianggap infeksius.

3. Saya pernah melihat di TV bahwa virus HIV-AIDS akan mati bila diluar tubuh manusia,
apakah benar?
Jawab : Benar, terutama bila terkena sinar matahari langsung, tapi harus diperhatikan
pada jenazah yang positif HIV-AIDS biasanya terjadi penularan pada saat cairan tubuh
yang keluar dari jenazah itu terkena pada petugas yang menangani jenazah, maka untuk
penanganan jenazah seperti ini biasanya petugas harus diberi pelatihan khusus, dan
jenazah segera dimasukkan ke kantong jenazah rangkap dua untuk mencegah
merembesnya cairan dari jenazah dan kantong tersebut tidak boleh dibuka lagi apapun
alasannya.
Untuk penularan melalui jarum suntik biasanya dipakai bergantian bersama lebih dari 2
orang, jadi jarum suntik itu tidak sempat terkena sinar matahari secara langsung.

4. Waktu saya di Bali mendapatkan pasien inpartu dengan riwayat suaminya HIV-AIDS,
untuk kesiapan para petugas bila ada kejadian yang sama, bagaimana cara menyikapinya?
Jawab : Prinsip di rumah sakit adalah semua darah harus dianggap infeksius, dan harus
menerapkan general precaution secara tepat.
Perlu dibuat dan diterapkan suatu kebijakan bahwa semua petugas, terutama di ruang
bersalin yang dengan luka di kulitnya tidak boleh menolong persalinan walaupun sudah
memakai APD, karena luka (micro lession) bisa disebabkan hanya karena kita menggaruk
tangan.

5. Seorang pria yang sudah positif HIV-AIDS bisa tetap mempunyai keturunan walaupun
istri dan anaknya (-), tapi bila ternyata seorang ibu hamil dengan usia kehamilan 2 bulan
dan sudah terdeteksi HIV-AIDS (+) bagaimana cara menyikapinya?
Jawab : Suami yang pasti harus dikonseling dan discreening, walaupun ada kemungkinan
bahwa istri tertular dari cara lain (jarum suntik, terkena cairan dari orang lain), dan kita
harus berhati-hati untuk mengedukasi karena bisa menyebabkan masalah keluarga.
Kewajibak kita adalah memotivasi atau mendorong supaya suami harus mau di test
screening.
Untuk penanganan ibu hamil dengan HIV-AIDS tetap harus diberikan obat anti retro
virus (ARV) khusus untuk ibu hamil sampai dia melahirkan (hindari persalinan normal).
Ibu itu juga harus dilarang menyusui anaknya karena ada risiko untuk tertular, untuk
anaknya bisa (+) bila dicek karena mempunyai antibody dari ibu saat kehamilan.
Antibodi ini akan hilang sampai usia 18 bulan, kalau tidak ada gangguan pertumbuhan
maka biasanya anak tersebut tidak tertular, tapi kalau ternyata ada gangguan pertumbuhan
sebaiknya kita test virus (beda dari test pada dewasa) lalu segera diberi pengobatan untuk
bayi tersebut.
Fase penularan dari ibu hamil ke janin bisa terjadi melalui 3 cara
 Selama masa kehamilan
 Pada waktu persalinan (angka kejadiannya paling tinggi)
 Saat menyusui
6. Apakah obat ARV ada efek samping untuk bayi?
Jawab : Efek samping dari obat tetap ada dan kemungkinan bisa terjadi, pengobatan harus
tetap diteruskan asalkan efek samping yang muncul tidak fatal.

7. Bagaimana persiapan tim HIV terkait persyaratan-persyaratan yang harus terpenuhi?


Jawab:
 Bila rumah sakit belum mempunyai klinik VCT, direktur harus menyampaikan ke
surveyor pada waktu penyampaian profile rumah sakit bahwa di rumah sakit ini
belum ada klinik VCT dan CST, namun ada tim HIV yang berfungsi untuk
screening, yang bilamana menemukan penderita yang (+) maka harus jelas pasien
tersebut akan dikirim untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut dimana.
 Saran untuk klinik DOTS : Pasien dengan penyakit TB paru yang berat harus
discerning HIV, dan harus ada kebijakannya.
 Tugas Tim HIV juga termasuk sosialisasi.
 Unsur-unsur tim HIV biasanya terdiri dari klinisi dokter (baik yang sudah dilatih
maupun yang belum), dari keperawatan klinik DOTS, perwakilan dari
laboratorium, pastoral/pekerja sosial, perwakilan dari IRB.
 Ada peraturan dari Permenkes bahwa setiap pasien yang akan dilakukan tindakan
operasi di bagian obsgyn harus ada screening HIV, dan pasien bersalin diharapkan
status imunologinya harus jelas
 Klinik VCT bila diadakan di RS mutlak harus mempunyai konselor