Anda di halaman 1dari 3

ASAS DOMISILI

DOUBLE TAX

Pajak internasional mengenal azas-azas tentang domicily country dan source country.
Disebut domicily country apabila negara tempat tinggal Wajib Pajak (domicily country atau
home country) menganut asas domisili yang mengenakan pajak penghasilan atas worldwide
income atas dasar asas domisili.
Apabila Wajib Pajak melakukan transaksi dan memperoleh laba di negara tempat tinggalnya
(source country, atau host country), dan kemudian dikenakan juga pajak penghasilan atas
laba tersebut atas dasar asas domisili, maka Wajib Pajak tersebut akan dikenakan pajak dua
kali (double taxation). Yang pertama oleh source country dan yang kedua oleh domicile
country. Negara-negara yang tarif pajaknya rendah atau sama sekali tidak mengenakan
pajak atas penghasilan disebut sebagai negara-negara surga pajak (tax haven countries).
Pajak berganda dapat dibedakan menjadi Pajak berganda internal (internal double
taxation); pajak berganda internasional (international double taxation); pajak berganda
secara yuridis (juridical double taxation) serta pajak berganda secara ekonomis (economic
double taxation). Internal double taxation adalah pengenaan pajak atas Subjek dan Objek
Pajak yang sama dalam suatu negara. International double taxation adalah pengenaan
pajak dua kali (atau lebih) terhadap Subjek dan Objek Pajak yang sama oleh dua negara.
Dua negara atau lebih mengenakan pengenaan pajak atas Objek Pajak yang sama dan
Subjek Pajak yang sama.
Knechtle dalam bukunya berjudul Basic problem in international fiscal law (1979)
membedakan pengertian pajak berganda secara luas (wider sense) dan secara sempit
(narrower sense). Secara luas pengertian pajak berganda diartikan setiap bentuk
pembebanan pajak dan pungutan lainnya lebih dari satu kali, dapat dalam bentuk berganda
(double taxation) atau lebih (multiple taxation) terhadap suatu fakta fiskal. Secara sempit
pajak berganda dianggap terjadi pada semua kasus pemajakan beberapa kali terhadap
suatu subjek dan atau objek pajak dalam satu administrasi perpajakan yang sama. Pajak
berganda seperti ini sering disebut sebagai pajak berganda ekonomis (economic double
taxation). Pemajakan ganda oleh berbagai administrator dapat pula terjadi secara vertikal
(pemerintah pusat dan daerah, atau secara diagonal (pemerintah daerah kota/kabupaten,
propinsi X dan Y).

KONSEP
Asas domisili adalah asas yang menganut cara pemungutan pajak yang tergantung pada tempat tinggal
atau domisili wajib pajak di suatu negara. Negara di tempat wajib pajak itu bertempat tinggal, negara
itulah yang berhak mengenakan pajak atas segala penghasilan yang diperoleh dari manapun.
Indonesia menganut asas domisili di mana pada Pasal 2 ayat 3 UU PPh dinyatakan bahwa yang dimaksud
dengan subjek pajak dalam negeri adalah :
1. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih
dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi
yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di
Indonesia.
2. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.
3. Subjek pajak warisan, yaitu warisan yang belum terbagi.
Dari ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana terakhir
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994, khususnya yang mengatur mengenai subjek
pajak dan objek pajak, dapat disimpulkan bahwa Indonesia menganut asas domisili dan asas sumber
sekaligus dalam sistem perpajakannya. Indonesia juga menganut asas kewarganegaraan yang parsial, yaitu
khusus dalam ketentuan yang mengatur mengenai pengecualian subjek pajak untuk orang pribadi.
Sumber Hukum Asas Domisili Perpajakan
Miss V adalah seorang artis yang berdomisili di Jakarta, selain artis dia juga seorang designer baju dan
penulis buku. Baju yang dibuat dan buku yang ditulisnya beredar ke seluruh dunia sehingga dia
mendapatkan penghasilan dari hasil penjualan baju dan buku tersebut. Dia juga sering menjadi
narasumber di luar negeri. Berdasarkan tersebut, pendapatan Miss V yang berasal dari luar negeri dapat
dipungut oleh Indonesia menurut asas domisili.
Contoh kasus
Asas Domisili Pengenaan Pajak
Obyek yang dikenakan pajak adalah penghasilan yang diperoleh subyek pajak dimanapun penghasilan itu
diperoleh, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Negara Indonesia akan mengenakan pajak atas
suatu penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan usaha yang berdomisili atau
berkedudukan di Indonesia. Dalam kaitan ini, tidak dipersoalkan dari mana penghasilan yang akan
dikenakan pajak itu berasal.
Sumber Hukum Subyek Pajak
Subyek
Subyek pajak yang dapat dikenakan pajak adalah orang atau badan usaha yang berdomisili di negara
tersebut. Siapapun orang atau badan usaha yang berdomisili di negara tersebut akan dikenakan pajak di
negara tersebut, terlepas dari kewarganegaraan orang tersebut.

PERKEMBANGAN

Model perjanjian yang digunakan di Indonesia adalah:

 Model OECD (Organization for Economic Cooperation and


Development). Merupakan model P3B untuk negara-negara maju. Model
ini mengedepankan asas domisili Negara yang memberikan jasa atau
menanamkan modal.
 Model UN (United Nation). Merupakan model P3B untuk negara-negara
berkembang. Model ini lebih mengedepankan asas sumber penghasilan,
dimana hak pemajakan berada pada Negara yang memberi penghasilan.
 Kedua model perjanjian diatas adalah dasar dari pembuatan P3B Indonesia dengan
negara mitra, namun pada pelaksanaannya, bentuk P3B yang digunakan dibuat
berdasarkan kondisi dan kepentingan Indonesia pada saat perjanjian berlangsung.
sehingga bentuk P3B Indonesia tidak baku dan merupakan gabungan dari kedua
model perjanjian diatas.

 Setiap kebijakan tentu mempunyai tujuan khusus yang ingin dicapai, begitu juga
dengan kebijakan perpajakan internasional juga mempunyai tujuan yang ingin
dicapai yaitu memajukan perdagangan antar negara, mendorong laju investasi di
masing-masing negara, pemerintah berusaha untuk meminimalkan pajak yang
menghambat perdagangan dan investasi tersebut. Salah satu upaya untuk
meminimalkan beban tersebut adalah dengan melakukan penghindaraan Pajak
Berganda Internasional.

 Hasil yang diharapkan dari P3B antara lain:

 a. Tidak terjadi pemajakan ganda yang memberatkan iklim usaha dunia

 b. Peningkatan investasi modal dari luar negeri ke dalam negeri

 c. Peningkatan sumber daya manusia

 d. Pertukaran informasi untuk mencegah penghindaran pajak

 e. Keadilan dalam hal pemajakan penduduk dari negara yang terlibat
dalam perjanjian.
 P3B membatasi hak pemajakan suatu negara untuk mengenakan
pajak atas suatu penghasilan tertentu. Ketika masing-masing
ketentuan domestik suatu negara sama-sama mengenakan pajak
atas penghasilan yang sama, maka berdasarkan P3B , hak masing-
masing negara untuk mengenakan pajak atas suatu penghasilan
tersebut dapat dihilangkan atau dibatasi. Dengan kata lain, ketika
suatu negara mengadakan P3B, maka negara tersebut setuju untuk
dibatasi haknya dalam mengenakan pajak berdasarkan pembatasan
yang diatur dalam P3B.
 Kedudukan P3B di Indonesia terhadap UU Pajak Penghasilan
diperlakukan sebagai lex specialis, sehingga apabila ada
pertentangan antara UU Domestik Indonesia dengan P3B, maka
atuaran-aturan yang ada dalam P3B akan didahulukan.
 P3B tidak memberikan hak pemajakan baru kepada negara yang
mengadakan P3B.Pengenaan pajak suatu negara atas suatu
penghasilan, didasarkan atas ketentuan domestik negara tersebut.
Dengan demikian, apabila dalam P3B suatu negara diberi hak
pemajakan atas suatu penghasilan tertentu, akan tetapi negara
tersebut berdasarkan hukum domestik tidak mengenakan pajak
atas penghasilan tertentu tersebut, maka negara tersebut tidak
dapat mengenakan pajak atas penghasilan tertentu tersebut ,
walaupun P3B memberikan hak pemajakan kepada negara
tersebut.

Kebanyakan negara, tidak hanya mengadopsi salah satu asas saja, tetapi mengadopsi lebih dari
satu asas, bisa gabungan asas domisili dengan asas sumber, gabungan asas nasionalitas dengan
asas sumber, bahkan bisa gabungan ketiganya sekaligus.
Indonesia, dari ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
sebagaimana terakhir telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994, khususnya yang
mengatur mengenai subjek pajak dan objek pajak, dapat disimpulkan bahwa Indonesia menganut
asas domisili dan asas sumber sekaligus dalam sistem perpajakannya. Indonesia juga menganut
asas kewarganegaraan yang parsial, yaitu khusus dalam ketentuan yang mengatur mengenai
pengecualian subjek pajak untuk orang pribadi.
Jepang, misalnya untuk individu yang merupakan penduduk (resident individual) menggunakan
asas domisili, di mana berdasarkan asas ini seorang penduduk Jepang berkewajiban membayar
pajak penghasilan atas keseluruhan penghasilan yang diperolehnya, baik yang diperoleh di Jepang
maupun di luar Jepang. Sementara itu, untuk yang bukan penduduk (non-resident) Jepang, dan
badan-badan usaha luar negeri berkewajiban untuk membayar pajak penghasilan atas setiap
penghasilan yang diperoleh dari sumber-sumber di Jepang.
Australia, untuk semua badan usaha milik negara maupun swasta yang berkedudukan di Australia,
dikenakan pajak atas seluruh penghasilan yang diperoleh dari seluruh sumber penghasilan.
Sementara itu, untuk badan usaha luar negeri, hanya dikenakan pajak atas penghasilan dari sumber
yang ada di Australia.