Anda di halaman 1dari 20

KONSEP DASAR PENYAKIT

DEFINISI

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru.
Tuberkulosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal,
tulang dan nodus limfe. Agen infeksius utama adalah Mycobacterium tuberculosis
adalah batang aerobic tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitive terhadap
panas dan sinar ultraviolet. M.bovis dan M.avium pernah, pada kejadian yang jarang,
berkaitan dengan terjadinya infeksi tuberculosis (Smeltzer & Bare, 2002).

Tuberculosis paru (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
berbentuk batang (basil) yang bernama Mycobacterium tuberculosis (Price, 2006).

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menahun menular yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam
tubuh manusia melalui udara (pernapasan) ke dalam paru-paru, kemudian menyebar
dari paru-paru ke organ tubuh yang lain melalui peredaran darah, yaitu: kelenjar limfe,
saluran pernapasan atau penyebaran langsung ke organ tubuh lain (Depkes RI, 2002).

Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru yang
disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (Somantri, 2007).

Jadi dapat disimpulkan, tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh suatu bakteri yaitu Microbacterium tuberculosis yang menyerang
bagian paru-paru yang disebut parenkim.
EPIDEMIOLOGI

Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global utama dengan tingkat kejadian 9


juta kasus per tahun di seluruh dunia dan kasus kematian hampir mencapai 2 juta
manusia (Atif et al ,2012) Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI),pada
tahun 2011 kasus TB baru terbanyak terjadi di Asia sekitar 60% dari kasus baru yang
terjadi disel uruh dunia. Akan tetapi Afrika Sub Sahara memiliki jumlah terbanyak
kasus baru perpopulasi dengan lebih dari 260 kasus per 100000 populasi pada tahun
2011 (WHO,2013). Jumlah kasus TB terbanyak adalah region Asia Tenggara (35%),
Afrika (30%), dan region Pasifik barat (20%). Berdasarkan data WHO pada tahun 2009,
lima Negara dengan insiden kasus TB terbanyak yaitu, India (1,6 -2,4 juta), China (1,1-
1,5 juta), Afrika selatan (0.4-0.59 juta), Nigeria (0.37-0.55 juta) dan Indonesia (0.35-
0.52 juta) (PDPI, 2011).

Di Indonesia, diperkirakan prevalensi TB di Indonesia untuk semua tipe TB adalah


505.614 kasus per tahun, 244 per 10.000 penduduk dan 1.550 per hari. Insidensi
penyakit TB 528.063 kasus per tahun, 228 kasus per 10.000 penduduk dan 1.447 per
hari.Indisdensi kasus baru 236.029 per tahun, 102 kasus per 10.000 penduduk, dan 647
per hari. Insidensi kasus TB yang mengakibatkan kematian 91.369 per tahun, 30 kasus
per 10.000 penduduk, dan 250 per hari (DepKes, 2010)
ETIOLOGI

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri berbentuk batang
(basil) yang bernama Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar struktur organisme ini
terdiri atas asam lemak (lipid) yang membuat mikobakterium lebih tahan terhadap asam
dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. M. tuberculosis hominis merupakan
penyebab sebagian besar kasus tuberculosis. Mikobakterium ini tahan hidup pada udara
kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal
ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat
bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah
aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi
kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari
pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit
tuberkulosis.

Macam-macam jenis Micobacterium tubercolusae complex adalah:


M. tuberculosae
Varian Asian
Varian African I
Varian African II
M. Bovis
Kelompok kuman Mycobacteria Other Than TB (MOTT, atypical adalah:
M. kansasi
M. avium
M. intra cellular
M. scrofulaceum
M.malmacerse
M. xenopi
(Amin, 2007)
PATOFISIOLOGI
Paru merupakan port d’entrée kasus infeksi TB. Pada waktu batuk atau bersin,
penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet
yang mengandung Mycobakterium tuberkulosis dapat menetap dalam udara bebas selama 1-
2 jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernapasan.
Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam saluran pernapasan, masuk ke alveoli,
tempat dimana mereka berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil juga secara sistemik
melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri),
dan area paru-paru lainnya (lobus atas).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan
makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis (menghancurkan) basil dan jaringan
normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan
bronkopneumonia. lnfeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah pemajanan.Massa
jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan gumpalan basil yang masih hidup
dan yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding protektif.
Granulomas diubah menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa ini
disebut tuberkel Ghon (fokus primer Gohn).

Dari fokus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju ke kelenjar
limfe regional. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe. Pada
sebagian besar individu dengan sistem imun yang berfungsi baik, begitu sistem imun
seluler berkembang, proliferasi kuman TB terhenti. Namun, sejumlah kecil kuman TB
dapat tetap hidup dalam granuloma.
Setelah imunitas seluler terbentuk, focus primer di jaringan paru biasanya mengalami
resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah mengalami nekrosis
perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe regional juga akan mengalami fibrosis dan
enkapsulasi, tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna fokus primer di jaringan
paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar
ini.
Komplek primer dapat juga mengalai komplikasi. Komplikasi yang terjadi dapat
disebabkan oleh fokus di paru atau di kelenjar limfe regional. Jika terjadi nekrosis
perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui bronkus
sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru atau kavitas. Obstruksi parsial pada
bronkus akibat tekanan eksternal menimbulkan hiperinflasi di segmen distal paru.
Obstruksi total dapat menyebabkan atelektasis. Masa kiju dapat menimbulkan obstruksi
komplit pada bronkus sehingga menyebabkan atelektasis dan pneumonitis.
Sebelum terbentuknya imunitas selular, dapat terjadi penyebaran limfogen dan
hematogen. Pada penyebaran hematogen, kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah
yang menyebar ke seluruh tubuh yang sering disebut penyakit sistemik.
(Sudoyo, 2006; Price & Wilson, 2006; Raharjoe, 2005).

KLASIFIKASI

Menurut Price & Wilson, (2006), TB dibedakan menjadi:


Klasifikasi I

Tabel 1. Klasifikasi TB
Class 0 Tidak ada jangkitan atau terinfeksi, riwayat terpapar, reaksi test tuberculin (PPD) tidak
bermakna.
Class 1 Terpapar TBC, tidak ada bukti infeksi, reaksi kulit tak bermakna
Class 2 Ada infeksi TBC, reaksi kulit bermakna, pemeriksaan bakteri (-), tidak ada bukti.
Tabel 1. Klasifikasi TB
Class 3 Sedang sakit, BTA (+), test mantoux bermakna, Rontgent Thorax (+). Lokasi tempat :
Paru-paru, Pleura, Limfatik, tulang/sendi, meninges, peritoneum, dsb.

Class 4 Sedang sakit, ada riwayat mendapat pengobatan, Rontgent Thorax (+), test mantoux
bermakna.
Class 5 dicurigai TBC, sedang dalam pengobatan

Klasifikasi II
Tuberculosis Primer
Tuberculosis primer adalah bentuk penyakit yang terjadi pada orang yang belum pernah
terpajan (orang yang belum pernah mengalami TB) atau peradangan terjadi sebelum
tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium.
Dampak utama dari tuberculosis primer adalah
penyakit ini memicu timbulnya hipersensitivitas dan resistensi.
fokus jaringan parut mungkin mengandung basil hidup selama bertahun-tahun bahkan seumur
hidup
penyakit ini (meskipun jarang) dapat menjadi tuberculosis primer progresif. Hal ini terjadi ada
orang yang mengalami gangguan akibat suatu penyakit (terutama penyakit yang menyerang
sistem kekebalan tubuh, seperti AIDS dan biasanya terjadi pada pada anak yan mengalami
malnutrisi atau usia lanjut).
Tuberculosis Sekunder (Tuberculosis Post Primer)
Merupakan penyakit yang terjadi pada seseorang yang telah terpajan penyakit
tuberculosis atau peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang di mana di
dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium tersebut.
Penyakit ini mungkin terjadi segera setelah tuberculosis primer, tetapi umumnya muncul
karena reaktivasi lesi primer dorman beberapa dekade setelah infeksi awal, terutama jika
sistem pertahanan penjamu (seseorang yang pernah terkena TB sebelumnya) melemah.

TANDA GEJALA

Menurut Jhon Crofton (2002), gejala klinis yang timbul pada pasien Tuberculosis
berdasarkan adanya keluhan penderita adalah :
Batuk lebih dari 3 minggu
Batuk adalah reflek paru untuk mengeluarkan sekret dan hasil proses destruksi paru.
Mengingat Tuberculosis Paru adalah penyakit menahun, keluhan ini dirasakan dengan
kecenderungan progresif walau agak lambat. Batuk pada Tuberculosis paru dapat kering
pada permulaan penyakit, karena sekret masih sedikit, tapi kemudian menjadi produktif.
Dahak (sputum)
Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah
menjadi mukopurulen atau kuning, sampai purulen (kuning hijau) dan menjadi kental bila
sudah terjadi pengejuan.
Batuk darah
Batuk darah yang terdapat dalam sputum dapat berupa titik darah sampai berupa sejumlah
besar darah yang keluar pada waktu batuk. Penyebabnya adalah akibat peradangan pada
pembuluh darah paru dan bronchus sehingga pecahnya pembuluh darah.
Sesak napas
Sesak napas berkaitan dengan penyakit yang luas di dalam paru. Merupakan proses lanjut
akibat retraksi dan obstruksi saluran pernapasan.
Nyeri dada
Rasa nyeri dada pada waktu mengambil napas dimana terjadi gesekan pada dinding
pleura dan paru. Rasa nyeri berkaitan dengan pleuritis dan tegangan otot pada saat batuk.
Wheezing
Wheezing terjadi karena penyempitan lumen bronkus yang disebabkan oleh sekret,
peradangan jaringan granulasi dan ulserasi.
Demam dan menggigil
Peningkatan suhu tubuh pada saat malam, terjadi sebagai suatu reaksi umum dari proses
infeksi.
Penurunan berat badan
Penurunan berat badan merupakan manisfestasi toksemia yang timbul belakangan dan
lebih sering dikeluhkan bila proses progresif.
Malaise
Ditemukan berupa anoreksia, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala,
nyeri otot, keringat malam.
Rasa lelah dan lemah
Gejala ini disebabkan oleh kurang tidur akibat batuk.
Berkeringat banyak terutama malam hari
Keringat malam bukanlah gejala yang patogenesis untuk penyakit Tuberculosis paru.
Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut.

Gejala khas TB, yaitu TRIAS TB yaitu batuk > 3 mggu yang tidak disebabkan penyakit lain,
kadang hemoptisis; berkeringat terutama di malam hari; dan nafsu makan ↓ diikuti penurunan
BB. Penyakit tuberculosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang
mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum
seperti lemah dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga
diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi
menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala sistemik (Sudoyo, 2006).
Gejala respiratorik meliputi:
Batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum
Batuk dapat terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk
membuang produk-produk radang keluar. Sifat batuk mulai dari kering (non produktif)
kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan
yang lebih lanjut adalah berupa batuk darah (hemoptoe) karena terdapat pembuluh darah
yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat
juga terjadi pada ulkus dinding bronchus.
Dahak bercampur darah.
Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradagan
menjadi produktif(menghasilkal sputum).keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah
karena terdapat pembuuh darah yang pecah.kebanyakan batuk darah pada tuberkulusis
terjadi pada kavitas,tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus. Batuk darah
berupa garis atau bercak-bercak darah, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah
banyak
Sesak nafas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak nafas. Sesak nafas akan
ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian
paru-paru.
Nyeri dada
Gejala ini sedikit jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasinya radang sudah
sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis, terjadi gesekan kedua pleura sewaktu
pasien menarik/melepaskan napasnya. Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik
yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena.
Wheezing
Wheezing terjadi karena penyempitan lumen bronkus yang disebabkan oleh sekret,
peradangan jaringan granulasi dan ulserasi.
Gejala sistemik meliputi:
Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip
dengan demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya
sedang masa bebas serangan makin pendek
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan, serta malaise.
Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu sampai bulan, akan tetapi
penampilan akut dengan batuk, panas, sesak nafas walaupun jarang dapat juga timbul
menyerupai pneumonia.

PENCEGAHAN
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) pada tahun 2010
menjelaskan tentang pencegahan penularan TBC, yaitu:
Bagi Masyarakat
Makan makanan yang bergizi seimbang sehingga daya tahan tubuh meningkat.

Tidur dan istirahat yang cukup.

Tidak merokok dan mengkonsumsi alkohol

Lingkungan yang bersih baik tempat tinggal ataupun lingkungan sekitar

Membuka jendela agar masuk sinar matahari di semua ruangan, karena kuman TBC
akan mati bila terkena sinar matahari

Imunisasi BCG
Menyarankan apabila ada yang dicurigai menderita TBC agar segera memeriksakan
diri dan berobat sesuai aturan sampai sembuh

Bagi penderita
Tidak meludah di sembarang tempat

Menutup mulut saat batuk dan bersin

Berperilaku hidup bersih dan sehat

Berobat sesuai aturan sampai sembuh

Memeriksakan balita yang tinggal serumah agar segera diberi pengobatan pencegahan.

Saat ini vaksin BCG (Bacille Calmette Guerin) adalah vaksin yang sudah dikenal
sebagai cara untuk mencegah TBC, diberikan dengan suntikan di bawah kulit. Vaksin ini
efektif pada anak baru lahir untuk mencegah penyakit TB berat. Saat ini TBC memang
tidak memberi dampak yang signifikan untuk mengurangi kasus TB pada orang dewasa.
Saat ini masih belum ditemukan vaksin yang efektif diberikan pada orang dewasa
untuk mencegah penyakit TBC. Akan tetapi, menurut studi literatur yang dilakukan melita
tahun 2013 menyatakan bahwa baru-baru ini ditemukan vaksin booster TBC baru,
MVA85A, dengan harapan dapat meningkatkan kekebalan pasien terhadap TBC. Hasil dari
studi literatur tersebut menyatakan bahwa Vaksin MVA85A aman dan sangat imunogenik
pada subjek yang pernah diberi vaksin BCG, subjek yang tinggal di daerah endemis TBC,
subjek dengan infeksi TBC laten di UK. Tiga penelitian membandingkan respons sel T
setelah diberi vaksin MVA85A dengan pemantauan selama 1 tahun dengan keadaan
baseline. Keadaan baseline yang dimaksud adalah keadaan sel T sebelum vaksinasi.

PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi
Konjungtiva mata pucat karena anemia, malaise, badan kurus/ berat badan menurun.
Bila mengenai pleura, paru yang sakit terlihat agak tertinggal dalam pernapasan. RR
meningkat (>24 x/menit). Adanya dyspnea, sianosis, distensi abdomen, batuk dan
barrel chest.
Perkusi
Terdengar suara redup terutama pada apeks paru, bila terdapat kavitas yang cukup
besar, perkusi memberikan suara hipersonar dan timpani. Bila mengenai pleura,
perkusi memberikan suara pekak.
Auskultasi
Terdengar suara napas bronchial. Akan didapatkan suara napas tambahan berupa
rhonci basah, kasar dan nyaring. Tetapi bila infiltrasi ini diliputi oleh penebalan pleura,
suara napas menjadi vesikuler melemah. Bila terdapat kavitas yang cukup besar,
auskultasi memberikan suara amforik. Bila mengenai pleura, auskultasi memberikan
suara napas yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali.
Palpasi
Badan teraba hangat (demam), denyut nadi meningkat (>100x/menit), turgor kulit
menurun, fremitus raba meningkat disisi yang sakit.
(Amin, 2007)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium
Aksi Tes Tuberkulin Intradermal ( Mantoux).
Tes mantoux adalah dengan menyuntikan tuberculin (PPD) sebanyak 0,1 ml
mengandung 5 unit (TU) tuberculin secara intrakutan pada sepertiga atas
permukaan volar atau dorsal lengan bawah setelah kulit dibesihkan dengan alkohol.
Untuk memperoleh reaksi kulit yang maksimal diperlukan waktu antara 48 sampai
72 jam sesudah penyuntikan dan reaksi harus dibaca dalam peiode tersebut.
Interpretasi tes kulit menunjukan adanya beberapa tipe reaksi :

Indurasi ≥ 5 mm diklasifikasikan positif dalam kelompok berikut ;


Orang dengan HIV positif.
Baru-baru ini kontak dengan orang yang menderita TB.
Orang dengan perubahan fibrotic pada radigrafi dada yang sesuai dengan
gambaran TB lama yang sudah sembuh.
Pasien yang menjalani tranplanstasi organ dan pasien yang mengalami
penekanan imunitas ( menerima setara dengan ≥ 15 mg/hari prednisone
selama ≥1 bulan).
Indurasi ≥ 10 mm diklasifikasikan positif dalam kelompok berikut :
Baru tuba ( ≤ 5 tahun ) dari Negara yang berprevalensi tinggi.
Pemakai obat-obat yang disuntikkan.
Penduduk dan pekerja yang berkumpul pada lingkungan yang berisiko tinggi.
Penjara, rumah-rumah perawatan, panti jompo, fasilitas yang disiapkan untuk
pasien dengan AIDS, dan penampungan untuk tuna wisma/
Pengawai laboratorium mikrobakteriologi.
Orang dengan keadaan klinis pada daerah mereka yang berisioko tinggi.
Anak di bawa usia 4 tahun atau anak-anak dan remaja yang terpajan orang
dewasa kelompok risiko tinggi.
Indurasi ≥ 15 mm diklasifikasikan positif dalam kelompok berikut :
Orang dengan factor risiko TB.
Target program-program tes kulit seharusnya hanya dilakukan di anatara
kelompok risiko tinggi.
(Price & Wilson, 2006)

Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum)


Pemeriksaan dapat memperkirakan jumlah basil tahan asam ( AFB) yang terdapat
pada sediaan. Sediaan yang positif memberikan petunjuk awal utnuk menekakan
diagnose, tetapi suatu sediaan yang negative tidak menyingkirkan kemungkinan
adanya infeksi penyakit. Pemeriksaan biakan harus dilakukan pada semua biakan.
Mikrobakteri akan tumbuh lambat dan membutuhkan suatu sediaan kompleks.
Koloni matur akan berwarna krem atau kekuningan, seperti kulit dan bentuknya
seperti kembang kol. Jumlah sekecil 10 bakteri/ml media konsentrasi yang telah
diolah dapat dideteksi oleh media biakan ini (Price & Wilson, 2006).

Vaksinasi BCG
Vaksinasi dengan BCG biasanya menimbulkan sensitivitas terhadapa tes tuberculin.
Derajat sensitivitas biasanya bervariasi, bergantubg pada strain BCG yang dipakai
dan populasi yang divaksinasi(Price & Wilson, 2006).

Pemeriksaan Radiologi
Rongten dada biasanya menunjukan lesi pada losus atas atau superior lobus bawah/
dapat juga terlihat adanya pembentukan kavitas dan gambaran penyakit yang
menyebar yang biasanya bilateral (Price & Wilson, 2006).

Pemeriksaan lain-lain
Ziehl Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah)
positif untuk basil asam cepat.
Histologi atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster ; urine dan cairan
serebrospinal, biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium tuberkulosis.
Biopsi jarum pada jaringan paru, positif untuk granula TB ; adanya sel raksasa
menunjukan nekrosis.
Elektrosit dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi ; ex.
Hyponaremia, karena retensi air tidak normal, didapat pada TB paru luas. GDA
dapat tidak normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada paru.
Pemeriksaan fungsi pada paru, penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati,
peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi
oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis, kehilangan jaringan paru
dan penyakit pleural (TB paru kronis luas) (Doegoes, 2000).

KRITERIA DIAGNOSIS

Anamnesis dan pemeriksaan fisik


Laboratorium darah rutin (LED normal atau meningkat, limfositosis)
Foto thorax PA dan lateral. Gambaran foto thoraks yang menunjang diagnosis TB,
yaitu :
Bayangan lesi terletak di lapangan atas paru atau segmen apical lobus bawah
Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular)
Adanya kavitas, tunggal atau ganda
Kelainan bilateral, terutama dilapangan atas paru
Adanya kalsifikasi
Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
Bayangan milier
Pemeriksaan sputum BTA
Pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru, namun pemeriksaan ini
tidak sensitive karena hanya 30-70% pasien TB yang dapat didiagnosis berdasarkan
pemeriksaan ini.

Tes PAP (Perksidase Anti Peroksidase)


Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase
staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB

Tes Mantoux/Tuberkulin

Tehnik Polymerase Chain Reaction


Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam berbagai tahap
sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1 mikroorganisme dalam spesimen

Bection Dickinson Diagnostic Instrument System


Deteksi growth index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak
oleh M. tuberculosis

Enzyme Linked Immunosorbent Assay


Deteksi respon humoral, berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Pelaksanaannya
rumit dan antibodi dapat menetap dalam waktu lama sehingga menimbulkan masalah.

MYCODOT
Deteksi antibody memakai antigen lipoarabinomannan yang direkatkan pada suatu alat
berbentuk seperti sisir plastik, kemudian dicelupkan dalam serum pasien. Bila terdapat
antibody spesifik dalam jumlah memadai maka warna sisir akan berubah.

(Mansjoer, 2001)

PENATALAKSANAAN
Pengobatan TBC
Tujuan pemberian obat pada penderita tuberculosis adalah: menyembuhkan, mencegah
kematian,dan kekambuhan, menurunkan tingkat penularan (Depkes RI. 2002).
Jenis dan Dosis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Isoniazid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman
dalam beberapa hari pertama pengobatan. Sangat efektif terhadap kuman dalam
keadaan metabolik aktif yaitu kuman yang sedang berkembang. Dosis harian 5 mg/kg
berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan
dengan dosis 10 mg/kg berat badan.
Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh
isoniasid. Dosis 10 mg/kg berat badan. Dosis sama untuk pengobatan harian maupun
intermiten 3 kali seminggu.

Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis
harian 25 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu
diberikan dengan dosis 35 mg/kg berat badan.
Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan
intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama.
Etambutol (E)
Bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Dosis harian 15 mg/kg
berat badan, sedangkan untuk intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan 30 mg/kg
berat badan.
Tahap Pengobatan
Pengobatan Tuberculosis diberikan dalam 2 tahap yaitu:
Tahap Intensif
Penderita mendapat obat setiap hari. Pengawasan berat/ketat untuk mencegah
terjadinya kekebalan terhadap semua Obat Anti Tuberculosis (OAT).
Tahap Lanjutan
Penderita mendapat jenis obat lebih sedikit dalam jangka waktu yang lebih lama.
Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persistem (dormant) sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan.
Evaluasi Pengobatan
Kemajuan pengobatan dapat terlihat dari perbaikan klinis ( hilangnya keluhan, nafsu
makan meningkat, berat badan naik dan lain-lain ), berkurangnya kelainan radiologis
paru dan konversi sputum menjadi negatif.
Kontrol terhadap sputum BTA langsung dilakukan pada akhir bulan ke-2, 4, dan 6.
Pada yang memakai paduan obat 8 bulan sputum BTA diperiksa pada akhir bulan ke-2,
5, dan 8. Biakan BTA dilakukan pada permulaan, akhir bulan ke-2 dan akhir
pengobatan. Pemeriksaan resistensi dilakukan pada pasien baru yang BTA-nya masih
positif setelah tahap intensif dan pada awal terapi pasien yang mendapat pengobatan
ulang (retreatment).
Perawatan TBC
Perawatan yang harus dilakukan pada penderita tuberculosis adalah :
Awasi penderita minum obat, yang paling berperan disini adalah orang terdekat yaitu
keluarga.
Mengetahui adanya gejala samping obat dan merujuk bila diperlukan.
Mencukupi kebutuhan gizi seimbang penderita
Istirahat teratur minimal 8 jam per hari
Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada bulan kedua, kelima dan
enam
Menciptakan lingkungan rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang baik
Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan.
Oleh penderita, dapat dilakukan dengan menutup mulut (dengan menggunakan
masker) sewaktu batuk dan membuang dahak di tempat yang disediakan dan tertutup,
tidak disembarangan tempat.
Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan dengan terhadap bayi harus
harus diberikan vaksinasi BCG.
Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang
antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya.
Des-Infeksi, Cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat, perlu perhatian
khusus terhadap muntahan dan ludah (piring, hundry, tempat tidur, pakaian), ventilasi
rumah dan sinar matahari yang cukup.
Pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat. Obat-
obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter diminum dengan tekun dan teratur,
waktu yang lama ( 6 atau 12 bulan). Diwaspadai adanya kebal terhadap obat-obat,
dengan pemeriksaan penyelidikan oleh dokter.

KOMPLIKASI
Menurut Depkes RI (2002), komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis
paru stadium lanjut yaitu :
Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
Atelektasis (parumengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat
retraksi bronchial.
Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat
pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian
Pada pengkajian dilakukan wawancara dan pemeriksaan laboratorium untuk memperoleh
informasi dan data yang nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk membuat rencana
asuhan keperawatan pasien.
Keadaan Umum
Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan, tingkat kesadaran kualitatif atau
GCS dan respon verbal pasien.
Tanda-tanda Vital
Meliputi pemeriksaan:
Tekanan darah: sebaiknya diperiksa dalam posisi yang berbeda, kaji tekanan nadi, dan
kondisi patologis.
Pulse rate
Respiratory rate
Suhu
Pola Pengkajian Gordon
Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Pengkajian meliputi kebiasaan pasien terhadap pemeliharaan kesehatan baik sebelum
atau sesudah sakit. Misalnya : kebiasaan merokok, minum obat, alkohol,riwayat minum
obat-obatan.
Nutrisi / Metabolik
Pasien mengalami penurunan nafsu makan, mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia
dan ketidakmampuan untuk makan karena penurunan nafsu makan.Gejala : adanya
anoreksia (kehilangan nafsu makan), adanya penurunan berat badan, makanan yang
disediakan hanya dimakan ¼ porsi
Tanda : turgor kulit buruk, kering / bersisik, massa otot berkurang / lemak subkutan
berkurang, IMT = (kekurangan BB tingkat berat), Pasien tampak kurus.
Eliminasi
Pada pasien dengan TBC kemungkinan mengalami gangguan pada system eliminasi jika
bakteri tersebut sudah menyebar sampai ke system gastrointestinal.
Aktivitas dan Latihan
Pada pasien dengan TBC kemungkinan ditemukan gangguan aktivitas dan latihan karena
pasien mengalami keletihan, kelelahan, malaise, ketidakmampuan untuk melakukan
aktvitas sehari-hari karena sulit bernapas, ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam
posisi duduk tinggi.Gejala: adanya kelelahan dan kelemahan, kesulitan tidur pada malam
atau demam pada malam hari, menggigil dan atau berkeringat
Tanda : takikardia, takipnea / dispnea saat beraktivitas, kelelahan otot
Persepsi, Sensori, Kognitif
Pasien mengalami gangguan berupa rasa nyeri di daerah dada. Perasaan takut.
Gejala : adanya faktor stres dalam waktu yang lama, adanya perasaan berduka
Tanda : ansietas, takut, perasaan bersalah (menyalahkan diri sendiri), keputusasaan,
kesedihan, ekpresi kurang dalam penerimaan terhadap penyakit, ekspresi kurang
kedamaian, rasa bersalah
Tidur dan Istirahat
Pasien mengalami gangguan pada pola tidurnya karena sulit untuk tidur karena nyeri dan
sesak napas.
Konsep Diri
Pasien mengalami gangguan pada harga diri , karena kondisi yang terkena TBC. Gejala :
adanya perasaan rendah diri karena mengidap penyakit menular, adanya perubahan
kapasitas fisik untuk melaksanakan peran, tidak berpartisipasi dalam kegiatan agama,
perubahan pola ibadah, merasa diabaikan dan diasingkan, menolak interaksi dengan
orang lain, merasa dipisahkan dari lingkungan sosial.
perubahan interaksi dalam keluarga, seperti: perubahan tugas dalam keluarga, perubahan
dukungan emosional, perubahan pola komunikasi dalam keluarga, perubahan keakraban,
perubahan partisipasi dalam menyelesaikan masalah.
Peran dan Hubungan
Pasien mengalami gangguan pada peran dan hubungan,hubungan yang ketergantungan
dengan keluarga, kurang sistem pendukung, penyakit lama atau ketidakmampuan
membaik.
Seksual dan Reproduksi
Pada pasien dengan tbc kemungkinan ditemukan penurunan libido.
Koping Stres dan Adaptasi
Pasien kemungkinan mengalami gangguan pada pola koping stress dan adaptasi, ansietas,
ketakutan, peka rangsang.
Nilai dan Kepercayaan
Pada pasien dengan pada tbc kemungkinan pasien mengalami gangguan dalam
melakukan aktivitas beribadah diluar rumah (tempat-tempat ibadah).
Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi trakeobronkial yang
sangat banyak ditandai dengan frekuensi napas, irama, kedalaman tak normal, bunyi
napas tak normal (ronchi, mengi), stridor, dispneu.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru,
atelektasis, kerusakan membran alveolar-kapiler, sekret kental, tebal, edema
bronkialditandai dengansesak, pucat, sianosis pada bibir, napas cepat dan dangkal,
RR>20x/menit, AGD abnormal, takikardi, gelisah, penggunaan otot bantu pernapasan,
pernapasan cuping hidung, pergerakan dada tidak seimbang.
Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru ditandai
dengan adanya sesak, sesak semakin berat apabila stres dan sering timbul pada malam
hari, frekuensi napas >20 x/menit, napas cepat dan dangkal, ekspansi dada tampak
menurun.
Hipertermi berhubungan dengan kerusakan kontrol suhu sekunder akibat infeksi TB,
ditandai dengan adanya peningkatan suhu tubuh (>37,5°C), kulit teraba hangat, nadi
meningkat (>100x/menit), kulit tampak kemerahan, menggigil.
Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, reaksi seluler terhadap
sirkulasi toksin, batuk menetap ditandai dengan nyeri dada, sakit kepala, nyeri sendi,
melindungi area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan kalori sekunder akibat infeksi TB ditandai dengan nafsu makan
menurun/anoreksia, kelemahan ditandai dengan berat badan < 10%-20% BBI, gangguan
sensasi pengecap, tonus otot buruk.
Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri berhubungan dengan kurang pengetahuan,
kompleksitas regimen terapeutik ditandai dengan klien mengatakan tidak mengerti
mengenai penyakitnya, klien mengatakan ingin berhenti minum obat
Resiko kontaminasi berhubungan dengan praktik hygiene personal dan pemajanan
bersama