Anda di halaman 1dari 111

BDE – 05 = PERENCANAAN PONDASI JEMBATAN

Merepresentasikan Kode / Judul Unit Kompetensi


Kode : INA.5212.113.01.05.07 Judul : Merencanakan Pondasi Jembatan

PELATIHAN
AHLI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN
(BRIDGE DESIGN ENGINEER)

2007

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI
Pelatihan Bridge Desain Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

KATA PENGANTAR

Pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang Jasa Konstruksi bertujuan untuk


meningkatkan kompetensi sesuai bidang kerjanya, agar mereka mampu berkompetisi
dalam memperebutkan pasar kerja. Berbagai upaya dapat ditempuh, baik melalui
pendidikan formal, pelatihan secara berjenjang sampai pada tingkat pemagangan di lokasi
proyek atau kombinasi antara pelatihan dan pemagangan, sehingga tenaga kerja mampu
mewujudkan standar kinerja yang dipersyaratkan di tempat kerja.

Untuk meningkatkan kompetensi tersebut, Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan


Konstruksi yang merupakan salah satu institusi pemerintah yang ditugasi untuk melakukan
pembinaan kompetensi, secara bertahap menyusun standar-standar kompetensi kerja yang
diperlukan oleh masyarakat jasa konstruksi. Kegiatan penyediaan kompetensi kerja
tersebut dimulai dengan analisa kompetensi dalam rangka menyusun suatu standar
kompetensi kerja yang dapat digunakan untuk mengukur kompetensi tenaga kerja di
bidang Jasa Konstruksi yang bertugas sesuai jabatan kerjanya sebagaimana dituntut dalam
Undang-Undang No. 18 tahun 1999, tentang Jasa Konstruksi dan peraturan
pelaksanaannya.

Sebagai alat untuk mengukur kompetensi tersebut, disusun dan dibakukan dalam bentuk
SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) yang unit-unit kompetensinya
dikembangkan berdasarkan pola RMCS (Regional Model Competency Standard). Dari
standar kompetensi tersebut, pengembangan dilanjutkan dengan menyusun Standar Latih
Kompetensi, Materi Uji Kompetensi, serta Materi Pelatihan yang berbasis kompetensi.

Modul / Materi Pelatihan BDE – 05 / Perencanaan Pondasi Jembatan, merepresentasikan


unit kompetensi: “Merencanakan Pondasi Jembatan” dengan elemen-elemen kompetensi
terdiri dari :
1. Menganalisis data geologi teknik dan penyelidikan tanah.
2. Memilih jenis pondasi jembatan
3. Merencanakan pondasi jembatan sesuai dengan jenis pondasi yang telah dipilih.

i
Pelatihan Bridge Desain Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Uraian penjelasan bab per bab dan pencakupan materi latih ini merupakan representasi
dari elemen-elemen kompetensi tersebut, sedangkan setiap elemen kompetensi dianalisis
kriteria unjuk kerjanya sehingga materi latih ini secara keseluruhan merupakan penjelasan
dan penjabaran dari setiap kriteria unjuk kerja untuk menjawab tuntutan pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja yang dipersyaratkan pada indikator-indikator kinerja/
keberhasilan yang diinginkan dari setiap KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dari masing-masing
elemen kompetensinya.

Modul ini merupakan salah satu sarana dasar yang digunakan dalam pelatihan sebagai
upaya meningkatkan kompetensi seorang pemangku jabatan kerja seperti tersebut diatas,
sehingga masih diperlukan materi-materi lainnya untuk mencapai kompetensi yang
dipersyaratkan setiap jabatan kerja.

Di sisi lain, modul ini sudah barang tentu masih terdapat kekurangan dan keterbatasan,
sehingga diperlukan adanya perbaikan disana-sini dan kepada semua pihak kiranya kami
mohon sumbangan saran demi penyempurnaan kedepan.

Jakarta, Oktober 2007

KEPALA PUSAT PEMBINAAN


KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI

Ir. DJOKO SUBARKAH, Dipl.HE


NIP. : 110016435

ii
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

PRAKATA

Modul ini berisi uraian tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang Ahli Perencanaan
Teknis Jembatan (Bridge Design Engineer) dalam pekerjaan perencanaan pondasi
jembatan. Ada 3 hal yang dicakup dalam modul ini yaitu analisis data geologi teknik dan
penyelidikan tanah, pemilihan jenis pondasi jembatan, dan perencanaan pondasi jembatan
sesuai dengan jenis pondasi yang telah dipilih.
Hasil analisis data geologi teknik dan penyelidikan tanah akan memberikan masukan bagi
Ahli Perencanaan Teknis Jembatan untuk mempelajari faktor-faktor yang dapat
mengakibatkan ketidakstabilan penempatan jembatan, yaitu apabila lokasi jembatan ada
pada struktur sekunder yang berwujud sebagai lipatan (fold), rekahan/kekar (fractur/joint)
atau sesar (fault). Ketidakstabilan penempatan jembatan juga dapat terjadi jika lokasi
jembatan berada pada struktur batuan lereng alam dan lereng galian dengan kondisi-
kondisi tertentu antara lain berkaitan dengan kemiringan bidang perlapisan, pelapukan
bidang perlapisan, masuknya air ke dalam batuan dan sebagainya.
Setelah rencana penempatan trase jalan, abutment dan pilar jembatan ditentukan, sebelum
membuat desain pondasi jembatan, Ahli Perencanaan Teknis Jembatan harus terlebih
dahulu memilih jenis pondasi jembatan. Tergantung pada kondisi tanah pondasi, Ahli
Perencanaan Teknis Jembatan akan menetapkan pilihan pondasi, apakah pondasi
langsung, pondasi sumuran atau pondasi tiang pancang. Perencanaan pondasi baru dapat
dibuat jika jenis pondasi jembatan telah ditentukan.

Kami menyadari bahwa modul ini masih jauh dari sempurna baik ditinjau dari segi materi,
sistematika penulisan maupun tata bahasanya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan
saran dari para peserta dan pembaca semua, dalam rangka penyempurnaan modul ini.

Demikian modul ini dipersiapkan untuk membekali seorang AHLI PERENCANAAN TEKNIS
JEMBATAN (Bridge Design Engineer) dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja
yang berkaitan dengan perencanaan teknis jembatan; mudah-mudahan modul ini dapat
bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Jakarta, Oktober 2007


Penyusun

iii
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


PRAKATA ............................................................................................................. iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
SPESIFIKASI PELATIHAN ................................................................................... vi
A. Tujuan Pelatihan ............................................................................................. vi
B. Tujuan Pembelajaran ....................................................................................... vi
PANDUAN PEMBELAJARAN .............................................................................. vii
A. Kualifikasi Pengajar/Instruktur ....................................................................... vii
B. Penjelasan Singkat Modul ............................................................................. vii
C. Proses Pembelajaran .................................................................................... viii

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................... 1-1


1.1. UMUM ............................................................................................... 1-1
1.2. RINGKASAN MODUL ....................................................................... 1-2
1.3. BATASAN / RENTANG VARIABEL .................................................. 1-3
1.3.1. Batasan/Rentang Variabel Unit Kompetensi ..................... 1-4
1.3.2. Batasan Rentang variabel Pelaksanaan Pelatihan ............ 1-4
1.4. PANDUAN PENILAIAN ..................................................................... 1-4
1.4.1. Acuan Penilaian ................................................................. 1-5
1.4.2. Kualifikasi Penilai ............................................................... 1-5
1.4.3. Penilaian Mandiri ............................................................... 1-7
1.5. SUMBER DAYA PEMBELAJARAN ................................................... 1-8

BAB 2 ANALISIS DATA GEOLOGI TEKNIK DAN PENYELIDIKAN


TANAH .............................................................................................. 2-1
2.1. Umum ................................................................................................ 2-1
2.2. Stabilitas Tanah Berdasarkan Data Geologi Teknik .......................... 2-1
2.2.1. Struktur Lipatan .................................................................. 2-5
2.2.2. Struktur Kekar ..................................................................... 2-8
2.2.3. Struktur Sesar ..................................................................... 2-9
2.2.4. Struktur Batuan dan Kemantapan Lereng .......................... 2-11

iv
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

2.3 Analisis Kapasitas Dukung Tanah Di Bawah Abutment dan Pilar….. 2-11
2.3.1. Pengertian Kapasitas Dukung Tanah 2-12
2.3.2. Kapasitas Dukung Menurut Terzaghi 2-12
2.3.3. Kapasitas Dukung Menurut Meyerhof 2-16
2.4 Penurunan Pondasi Di Bawah Abutment dan Pilar ........................... 2-19
2.4.1. Penurunan Segera (Immediate Settlement) 2-20
2.4.2. Penurunan Konsolidasi (Consolidation Settlement) 2-22
RANGKUMAN ................................................................................... 2-25
LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI ..................................................... 2-27

BAB 3 PEMILIHAN JENIS PONDASI JEMBATAN .................................... 3-1


3.1 Umum ............................................................................................... 3-1
3.2 Penentuan Kedalaman Tanah Keras ................................................ 3-1
3.3 Penggunaan Data Daya Dukung Tanah dan Geologi Teknik ……… 3-6
3.3.1. Daya Dukung Pondasi Dangkal ......................................... 3-6
3.3.2. Daya Dukung Pondasi Dalam ............................................ 3-9
3.4 Penetapan Jenis Pondasi ................................................................. 3-12
3.4.1. Pondasi Dangkal ................................................................ 3-12
3.4.2. Pondasi Dalam ................................................................... 3-16
RANGKUMAN ................................................................................... 3-23
LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI ..................................................... 3-24

BAB 4 PERENCANAAN PONDASI JEMBATAN SESUAI DENGAN 4-1


JENIS YANG DIPILIH ......................................................................
4.1 Umum …………………………………………………………………….. 4-1
4.2. Penerapan Kriteria Desain Pondasi .................................................. 4-1
4.2.1. Kriteria Desain Pondasi Sumuran ...................................... 4-2
4.2.2. Kriteria Desain Pondasi Tiang Pancang Beton Bertulang
Pracetak/Tiang Pancang Beton Prategang Pracetak……... 4-2
4.2.3. Kriteria Desain Pondasi Tiang Pancang Baja Struktur /
Tiang Pancang Pipa Baja …………………………………… 4-5
4.2.4. Kriteria Desain Pondasi Tiang Bor Beton .......................... 4-6
4.3 Penerapan Ketentuan Pembebanan Jembatan ……………………… 4-6
4.4 Perhitungan Perencanaan Pondasi Jembatan .................................. 4-8
4.4..1. Perhitungan Perencanaan Pondasi Tiang Pancang
Kelompok ........................................................................... 4-8
4.4.2. Perhitungan Perencanaan Pondasi Sumuran ……………. 4-25

v
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

RANGKUMAN ................................................................................... 4-38


LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI ..................................................... 4-39
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN : KUNCI JAWABAN PENILAIAN MANDIRI


DAFTAR PUSTAKA

vi
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

SPESIFIKASI PELATIHAN

A. Tujuan Pelatihan
 Tujuan Umum Pelatihan
Setelah selesai mengikuti pelatihan peserta diharapkan mampu :
Melaksanakan pekerjaan perencanaan teknis jembatan berdasarkan standar
perencanaan jembatan jalan raya yang berlaku.

 Tujuan Khusus Pelatihan


Setelah selesai mengikuti pelatihan peserta mampu :
1. Menerapkan ketentuan Undang-Undang Jasa Konstruksi (UUJK).
2. Melakukan koordinasi untuk pengumpulan dan penggunaan data teknis.
3. Merencanakan dan menerapkan standar-standar perencanaan teknis bangunan
atas jembatan.
4. Merencanakan bangunan bawah jembatan.
5. Merencanakan pondasi jembatan.
6. Merencanakan oprit (jalan pendekat), bangunan pelengkap dan pengaman
jembatan.
7. Membuat laporan perencanaan teknis jembatan.

B. Tujuan Pembelajaran dan Kriteria Penilaian


Seri / Judul Modul : BDE – 05 / Perencanaan Pondasi Jembatan, merepresentasikan
unit kompetensi: “Merencanakan Pondasi Jembatan”.

 Tujuan Pembelajaran
Setelah modul ini dibahas diharapkan peserta mampu merencanakan pondasi
jembatan.

 Kriteria Penilaian
1. Kemampuan dalam menganalisis data geologi teknik dan penyelidikan
tanah.
2. Kemampuan dalam memilih jenis pondasi jembatan.
3. Kemampuan dalam merencanakan pondasi jembatan sesuai dengan jenis
pondasi yang telah dipilih.

vii
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

PANDUAN PEMBELAJARAN

A. Kualifikasi Pengajar / Instruktur


 Instruktur harus mampu mengajar, dibuktikan dengan sertifikat TOT (Training of
Trainer) atau sejenisnya.
 Menguasai substansi teknis yang diajarkan secara mendalam.
 Konsisten mengacu SKKNI dan SLK
 Pembelajaran modul-modulnya disertai dengan inovasi dan improvisasi yang
relevan dengan metodologi yang tepat.

B. Penjelasan Singkat Modul

Modul-modul yang dibahas di dalam program pelatihan ini terdiri dari:

No. Kode Judul Modul


UUJK, Sistem Manajemen K3 dan Sistem Manajemen
1. BDE – 01
Lingkungan
2. BDE – 02 Koordinasi Pengumpulan dan Penggunaan Data Teknis
3. BDE – 03 Perencanaan Bangunan Atas Jembatan
4. BDE – 04 Perencanaan Bangunan Bawah Jembatan
5. BDE – 05 Perencanaan Pondasi Jembatan
Perencanaan Oprit (Jalan Pendekat), Bangunan
6. BDE – 06
Pelengkap dan Pengamat Jembatan
7. BDE – 07 Laporan Perencanaan Teknis Jembatan

Sedangkan modul yang akan diuraikan adalah:


 Seri / Judul : BDE – 05 / Perencanaan Pondasi Jembatan
 Deksripsi Modul : Perencanaan Pondasi Jembatan merupakan salah satu
modul yang direncanakan untuk membekali Ahli Perencanaan Teknis
Jembatan (Bridge Design Engineer) dengan pengetahuan, keterampilan dan
sikap kerja dalam melakukan perencanaan pondasi jembatan mencakup
analisis data geologi teknik dan penyelidikan tanah, pemilihan jenis pondasi
jembatan, dan perencanaan pondasi jembatan.

vii
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

C. Proses Pembelajaran
Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung
1. Ceramah Pembukaan :
 Menjelaskan Tujuan Pembelajaran.  Mengikuti penjelasan
 Merangsang motivasi peserta  Mengajukan pertanyaan
dengan pertanyaan atau pengalaman apabila kurang jelas. OHT – 1
melakukan koordinasi pengumpulan
dan penggunaan data teknis.
Waktu : 5 menit.
2. Penjelasan Bab 1 : Pendahuluan.
 Modul ini merepresentasikan unit  Mengikuti penjelasan
kompetensi. instruktur dengan tekun
 Umum dan aktif.
 Ringkasan Modul  Mencatat hal-hal penting.
OHT – 2
 Koordinasi  Mengajukan pertanyaan
 Batasan/Rentang Variabel bila perlu.
 Panduan Penilaian
 Panduan Pembelajaran
Waktu : 20 menit.
3. Penjelasan Bab 2 : Analisis data geologi  Mengikuti penjelasan
teknik dan penyelidikan tanah instruktur dengan tekun
 Umum dan aktif.
 Stabilitas tanah berdasarkan data  Mencatat hal-hal penting.
geologi teknik  Mengajukan pertanyaan
OHT – 3
 Analisis kapasitas dukung tanah di bila perlu.
bawah abutment dan pilar
 Penurunan pondasi di bawah
abutment dan pilar.
Waktu : 75 menit.
4. Penjelasan Bab 3 : Pemilihan jenis  Mengikuti penjelasan
pondasi jembatan instruktur dengan tekun
 Umum dan aktif. OHT – 4
 Penentuan kedalaman tanah keras.  Mencatat hal-hal penting.
 Penggunaan data daya dukung  Mengajukan pertanyaan

viii
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

tanah dan geologi teknik bila perlu.


 Penetapan jenis pondasi
Waktu : 55 menit.
5. Penjelasan Bab 4 : Perencanaan  Mengikuti penjelasan
pondasi jembatan sesuai dengan jenis instruktur dengan tekun
yang dipilih. dan aktif.
 Umum  Mencatat hal-hal penting.
 Penerapan kriteria desain pondasi  Mengajukan pertanyaan
jembatan bila perlu. OHT – 5
 Penerapan ketentuan pembebanan
jembatan.
 Perhitungan perencanaan dimensi
pondasi jembatan
Waktu : 105 menit.
6. Rangkuman dan Penutup.  Mengikuti penjelasan
 Rangkuman instruktur dengan tekun
 Tanya jawab. dan aktif. OHT – 8
 Penutup.  Mencatat hal-hal penting.
Waktu : 10 menit.  Mengajukan pertanyaan
bila perlu.

ix
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Umum
Modul BDE-05 : Perencanaan Pondasi Jembatan merepresentasikan salah satu unit
kompetensi dari program pelatihan Ahli Perencanaan Teknis Jembatan (Bridge
Design Engineer).

Sebagai salah satu unsur, maka pembahasannya selalu memperhatikan unsur-


unsur lainnya, sehingga terjamin keterpaduan dan saling mengisi tetapi tidak terjadi
tumpang tindih (overlaping) terhadap unit-unit kompetensi lainnya yang
direpresentasikan sebagai modul-modul yang relevan.

Adapun unit kompetensi untuk mendukung kinerja efektif yang diperlukan dalam
Perencanaan Teknis Jembatan adalah :

No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi


I. Kompetensi Umum
1. INA.5212.113.01.01.07 Menerapkan ketentuan Undang-undang Jasa
Konstruksi (UUJK).
II. Kompetensi Inti
1. INA.5212.113.01.02.07 Melakukan koordinasi untuk pengumpulan dan
penggunaan data teknis.
2. INA.5212.113.01.03.07 Merencanakan bangunan atas jembatan dan/atau
menerapkan standar-standar perencanaan teknis
jembatan.
3. INA.5212.113.01.04.07 Merencanakan bangunan bawah jembatan.
4. INA.5212.113.01.05.07 Merencanakan pondasi jembatan.
5. INA.5212.113.01.06.07 Merencanakan oprit (jalan pendekat), bangunan
pelengkap dan pengaman jembatan.
6. INA.5212.113.01.07.07 Membuat laporan perencanaan teknis jembatan.
III. Kompetensi Pilihan -

1-1
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

1.2. Ringkasan Modul


Ringkasan modul ini disusun konsisten dengan tuntutan atau isi unit kompetensi ada
judul unit, deskripsi unit, elemen kompetensi dan KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dengan
uraian sebagai berikut :

a. Adapun unit kompetensi yang akan disusun modulnya:

KODE UNIT : INA.5212.113.01.05.07


JUDUL UNIT : Merencanakan pondasi jembatan.
DESKRIPSI UNIT : Unit kompetensi ini mencakup pengetahuan,
keterampilan dan sikap perilaku yang diperlukan untuk
merencanakan pondasi jembatan.

Direpresentasikan dalam modul seri/judul: BDE-05 Perencanaan Pondasi


Jembatan.

b. Elemen Kompetensi dan KUK (Kriteria Unjuk Kerja) terdiri dari:

1. Menganalisis data geologi teknik dan penyelidikan tanah, direpresentasikan


sebagai bab modul berjudul: Bab 2 Analisis Data Geologi Teknik dan
Penyelidikan Tanah.
Uraian detailnya mengacu KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dapat menjadi sub bab
yang terdiri dari:

1.1 Kestabilan tanah berdasarkan data geologi teknik dianalisis sesuai


dengan persyaratan teknis yang ditentukan.
1.2 Daya dukung tanah di bawah abutment dianalisis sesuai dengan
persyaratan teknis yang ditentukan.
1.3 Daya dukung tanah di bawah pilar dianalisis sesuai dengan
persyaratan teknis yang ditentukan.
1.4 Penurunan pondasi di bawah abutment dan pilar dianalisis sesuai
dengan persyaratan teknis yang ditentukan.

2. Memilih jenis pondasi jembatan, direpresentasikan sebagai bab modul


berjudul : Bab 3 Pemilihan Jenis Pondasi Jembatan.
Uraian detailnya mengacu KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dapat menjadi sub bab
yang terdiri dari:

1-2
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

2.1 Kedalaman tanah keras ditentukan sebagai bahan masukan dalam


memilih tipe pondasi jembatan.
2.2 Data daya dukung tanah dan geologi teknik digunakan untuk
memilih jenis pondasi jembatan.
2.3 Jenis pondasi jembatan ditetapkan sesuai dengan persyaratan teknis
yang ditentukan.

3. Merencanakan pondasi jembatan sesuai dengan jenis pondasi yang telah


dipilih, direpresentasikan sebagai bab mocul berjudul: Bab 4 Perencanaan
pondasi jembatan sesuai dengan jenis yang dipilih.
Uraian detailnya mengacu KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dapat menjadi sub bab
yang terdiri dari:

3.1 Kriteria desain pondasi jembatan diterapkan sesuai dengan ketentuan


teknis yang berlaku.
3.2 Ketentuan pembebanan jembatan untuk perencanaan pondasi
diterapkan.
3.3 Dimensi pondasi jembatan dihitung dan direncanakan sesuai dengan
persyaratan teknis yang ditentukan.

Penulisan dan uraian isi modul secara detail betul-betul konsisten mengacu tuntutan
elemen kompetensi dan masing-masing KUK (Kriteria Unjuk Kerja) yang sudah
dianalisis indikator kinerja/keberhasilannya (IUK).

Berdasarkan IUK (Indikator Unjuk Kerja/Keberhasilan) sebagai dasar alat penilaian,


diharapkan uraian detail setiap modul pelatihan berbasis kompetensi betul-betul
mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang mendukung
terwujudnya IUK, sehingga dapat dipergunakan untuk melatih tenaga kerja yang
hasilnya jelas, lugas dan terukur.

1.3. Batasan / Rentang Variabel

Batasan/rentang variabel adalah ruang lingkup, situasi dimana unjuk kerja


diterapkan. Mendefinisikan situasi dari unit kompetensi dan memberikan informasi
lebih jauh tentang tingkat otonomi perlengkapan dan materi yang mungkin
digunakan dan mengacu pada syarat-syarat yang ditetapkan termasuk peraturan
dan produk jasa yang dihasilkan

1-3
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

1.3.1 Batasan/Rentang Variabel Unit Kompetensi

Adapun batasan / rentang variabel untuk unit kompetensi ini adalah:

1. Kompetensi ini diterapkan dalam satuan kerja berkelompok;

2. Tersedia tenaga ahli yang mampu mengaplikasikan kriteria perencanaan


dan standar perencanaan pembebanan jembatan jalan raya, mampu
menganalisis data geologi teknik dan penyelidikan tanah, mampu memilih
jenis pondasi jembatan dan mampu merencanakan pondasi jembatan
sesuai dengan jenis pondasi yang dipilih;

3. Peralatan untuk keperluan perhitungan dan perencanaan yaitu


komputer/laptop (termasuk berbagai software yang diperlukan sesuai
dengan keperluan perhitungan perencanaan), printer, kalkulator bagi
yang belum terbiasa dengan penggunaan komputer, dan alat tulis kantor.

1.3.2 Batasan/Rentang Variabel Pelaksanaan Pelatihan

Adapun batasan / rentang variabel untuk pelaksanaan pelatihan adalah:


1. Seleksi calon peserta dievaluasi dengan kompetensi prasyarat yang
tertuang dalam SLK (Standar Latih Kompetensi) dan apabila terjadi
kondisi peserta kurang memenuhi syarat, maka proses dan waktu
pelaksanaan pelatihan disesuaikan dengan kondisi peserta, namun tetap
mengacu tercapainya tujuan pelatihan dan tujuan pembelajaran.
2. Persiapan pelaksanaan pelatihan termasuk prasarana dan sarana sudah
mantap.
3. Proses pembelajaran teori dan praktek dilaksanakan sampai tercapainya
kompetensi minimal yang dipersyaratkan.
4. Penilaian dan evaluasi hasil pembelajaran didukung juga dengan
batasan/rentang variable yang dipersyaratkan dalam unit kompetensi.

1.4. Panduan Penilaian


Untuk membantu menginterpretasikan dan menilai unit kompetensi dengan
mengkhususkan petunjuk nyata yang perlu dikumpulkan untuk memperagakan
kompetensi sesuai tingkat kecakapan yang digambarkan dalam setiap kriteria unjuk
kerja yang meliputi :
 Pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan untuk seseorang
dinyatakan kompeten pada tingkatan tertentu.
 Ruang lingkup pengujian menyatakan dimana, bagaimana dan dengan metode
apa pengujian seharusnya dilakukan.

1-4
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Aspek penting dari pengujian menjelaskan hal-hal pokok dari pengujian dan
kunci pokok yang perlu dilihat pada waktu pengujian.

1.4.1. Acuan Penilaian

Adapun acuan untuk melakukan penilaian yang tertuang dalam SKKNI


adalah sebagai berikut:

a. Pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku untuk


mendemonstrasikan kompetensi ini terdiri dari:
1. Pemahaman terhadap: metoda analisis data geologi teknik dan
penyelidikan tanah, metode pemilihan jenis pondasi jembatan dan
metode perencanaan pondasi jembatan;
2. Penerapan data dan informasi tersebut butir 1 untuk keperluan
perencanaan pondasi jembatan;
3. Cermat, teliti, tekun, obyektif, dan berfikir komprehensif dalam
menerima data lapangan sebelum digunakan untuk melakukan
perencanaan pondasi jembatan;

b. Konteks Penilaian
1. Unit ini dapat dinilai di dalam maupun di luar tempat kerja yang
menyangkut pengetahuan teori
2. Penilaian harus mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan
sikap kerja/ perilaku.
3. Unit ini harus didukung oleh serangkaian metode untuk menilai
pengetahuan dan keterampilan yang ditetapkan dalam Materi Uji
Kompetensi (MUK).

c. Aspek Penting Penilaian


1. Ketelitian dan kecermatan dalam memahami dan menggunakan
ketentuan teknis, persyaratan teknis maupun data-data yang
diperlukan untuk melakukan perencanaan pondasi jembatan;
2. Kemampuan melakukan validasi terhadap data-data yang telah
dikumpulkan oleh para petugas lapangan untuk digunakan dalam
melaskukan perencanaan pondasi jembatan;

1.4.2. Kualifikasi Penilai

a. Penilai harus kompeten paling tidak tentang unit-unit kompetensi sebagai


assesor (penilai) antara lain: mrencanakan penilaian, meaksanakan

1-5
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

penilaian dan mreview penilaian yang dibuktikan dengan sertifikat


assesor.

b. Penilai juga harus kompeten tentang teknis substansi dari unit-unit yang
akan didemonstrasikan dan bila ada syarat-syarat industri perusahaan
lainnya muncul, penilai bisa disyaratkan untuk :
1. Mengetahui praktek-praktek /kebiasaan industri /perusahaan yang
ada sekarang dalam pekerjaan atau peranan yang kinerjanya sedang
dinilai.
2. Mempraktekkan kecakapan inter-personal seperlunya yang
diperlukan dalam proses penilaian.

c. Apabila terjadi kondisi Penilai (assesor) kurang menguasai teknis


substansi, dapat mengambil langkah menggunakan penilai yang
memenuhi syarat dalam berbagai konteks tempat kerja dan lembaga,
industri/perusahaan. Opsi-opsi tersebut termasuk :
1. Penilai di tempat kerja yang kompeten, teknis substansial yang
relevan dan dituntut memiliki pengetahuan tentang praktek-praktek/
kebiasaan industri/ perusahaan yang ada sekarang.
2. Suatu panel penilai yang didalamnya termasuk paling sedikit satu
orang yang kompeten dalam kompetensi subtansial yang relevan.
3. Pengawas tempat kerja dengan kompetensi dan pengalaman
subtansial yang relevan yang disarankan oleh penilai eksternal yang
kompeten menurut standar penilai.
4. Opsi-opsi ini memang memerlukan sumber daya, khususnya
penyediaan dana lebih besar (mahal)

Ikhtisar (gambaran umum) tentang proses untuk mengembangkan


sumber daya penilaian berdasar pada Standar Kompetensi Kerja (SKK)
perlu dipertimbangkan untuk memasukan sebuah flowchart pada proses
tersebut.
Sumber daya penilaian harus divalidasi untuk menjamin bahwa penilai
dapat mengumpulkan informasi yang cukup, valid dan terpercaya untuk
membuat keputusan penilaian yang betul-betul handal berdasar standar
kompetensi.

1-6
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

KOMPETENSI ASESOR

Kompeten ?
Memiliki
Kompetensi
Assessment

Memiliki
Kompetensi
bidang
Substansi

1.4.3. Penilaian Mandiri

Penilaian mandiri merupakan suatu upaya untuk mengukur kapasitas


kemampuan peserta pelatihan terhadap pengasaan substansi materi
pelatihan yang sudah dibahas dalam proses pembelajaran teori maupun
praktek.
Penguasaan substansi materi diukur dengan IUK (Indikator Unjuk Kerja/
Indikator Kinerja/Keberhasilan) dari masing-masing KUK (Kriteri Unjuk Kerja),
dimana IUK merupakan hasil analisis setiap KUK yang dipergunakan untuk
mendesain/menyusun kurikulum silabus pelatihan.
Bentuk pelatihan mandiri antara lain:

a. Pertanyaan dan Kunci Jawaban, yaitu:


Menanyakan kemampuan apa saja yang telah dikuasai untuk
mewujudkan KUK (Kriteria Unjuk Kerja), kemudian dilengkapi dengan
”Kunci Jawaban” dimana kunci jawaban dimaksud adalah IUK (Indikator
Unjuk Kerja/ Indikator Kinerja/Keberhasilan) dari masing-masing KUK
(Kriteria Unjuk Kerja)

b. Tingkat Keberhasilan Pelatihan


Dari penilaian mandiri akan terungkap tingkat keberhasilan peserta
pelatihan dalam mengikuti proses pembelajaran.
Apabila tingkat keberhasilan rendah, perlu evaluasi terhadap:
1. Peserta pelatihan terutama tentang pemenuhan kompetensi prasyarat
dan ketekunan serta kemampuan mengikuti proses pembelajaran.

1-7
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

2. Materi/modul pelatihannya apakah sudah mengikuti dan konsisten


mengacu tuntutan unit kompetensi, elemen kompetensi, KUK (Kriteria
Unjuk Kerja), maupun IUK IUK (Indikator Unjuk Kerja/ Indikator
Kinerja/Keberhasilan).
3. Instruktur/fasilitatornya, apakah konsisten dengan materi/modul yang
sudah valid mengacu tuntutan unit kompetensi beserta unsurnya
yang diwajibkan untuk dibahas dengan metodologi yang tepat.
4. Mungkin juga karena penyelenggaraan pelatihannya atau sebab lain.

1.5. Sumber Daya Pembelajaran


Sumber daya pembelajaran dikelompokan menjadi 2 (dua) yaitu :
a. Sumber daya pembelajaran teori :
- OHT dan OHP (Over Head Projector) atau LCD dan Laptop.
- Ruang kelas lengkap dengan fasilitasnya.
- Materi pembelajaran.
b. Sumber daya pembelajaran praktek :
- PC, lap top bagi yang yang sudah terbiasa dengan penggunaan komputer
atau kalkulator bagi yang belum terbiasa dengan penggunaan komputer.
- Alat tulis, kertas dan lain-lain yang diperlukan untuk membantu peserta
pelatihan dalam menghitung dan merencanakan bangunan atas jembatan.
c. Tenaga kepelatihan, instruktur/assesor dan tenaga pendukung penyelenggaraan
betul-betul kompeten.

1-8
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

BAB 2
ANALISIS DATA GEOLOGI TEKNIK DAN
PENYELIDIKAN TANAH

2.1. Umum
Bab ini menjelaskan analisis data geologi teknik dan penyelidikan tanah yang dikaji
dari laporan pengumpulan data geologi teknik dan data penyelidikan tanah yang
dibuat oleh tenaga ahli geologi dan tenaga ahli geoteknik. Analisis ini mempunyai 3
cakupan yaitu analisis kestabilan tanah di lokasi rencana pembuatan jembatan
berdasarkan data geologi teknik, analisis daya dukung tanah di bawah rencana
pembuatan abutment dan pilar berdasarkan data penyelidikan tanah, dan analisis
penurunan pondasi di bawah abutment dan pilar berdasarkan data penyelidikan
tanah.
Dari data geologi teknik dapat dipelajari faktor-faktor yang dapat mengakibatkan
ketidakstabilan penempatan jembatan, yaitu apabila lokasi jembatan ada pada
struktur sekunder, berwujud sebagai lipatan (fold), rekahan/kekar (fractur/joint) atau
sesar (fault). Ketidakstabilan penempatan jembatan juga dapat terjadi jika lokasi
jembatan berada pada struktur batuan lereng alam dan lereng galian dengan
kondisi-kondisi tertentu antara lain berkaitan dengan kemiringan bidang perlapisan,
pelapukan bidang perlapisan, masuknya air ke dalam batuan dan sebagainya. Jika
data geologi teknik menunjukkan ketidakmantapan lokasi jembatan, maka rencana
trase jembatan harus dipindah untuk mendapatkan lokasi yang stabil. Jika lokasi
yang stabil untuk penempatan jembatan sudah dapat ditentukan, langkah
selanjutnya adalah menentukan jumlah dan lokasi titik-titik bor dan titik-titik sondir
untuk mendapatkan data-data teknis yang diperlukan guna menghitung daya dukung
tanah baik yang berada di bawah abutment maupun pilar jembatan. Selanjutnya
data properties tanah yang diperoleh dari pengujian laboratorium digunakan untuk
memperkirakan berapa penurunan pondasi yang akan terjadi, untuk melengkapi
desain pondasi. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kemungkinan-
kemungkinan terjadinya kegagalan konstruksi atau bahkan kegagalan bangunan di
kemudian hari jika jembatan telah selesai dibangun dan digunakan untuk melayani
arus lalu lintas.

2.2. Stabilitas Tanah Berdasarkan Data Geologi Teknik

Pada tahap survai pendahuluan, telah dilakukan pemetaan topografi berupa peta
situasi yang digunakan untuk menarik garis sumbu trase rencana jembatan dengan

2-1
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

mempertimbangkan batasan-batasan geometrik yang ditentukan sesuai dengan


Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Raya. Jembatan merupakan bagian dari
jalan oleh karena itu penempatan jembatan harus tunduk pada ketentuan-ketentuan
geometrik yang berlaku untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan pengguna
jalan. Setelah garis sumbu trase jembatan ditentukan, pertimbangan teknis
berikutnya yang harus ditetapkan adalah dimana harus diletakkan abutment
jembatan kiri-kanan dan pilar-pilar jembatan (jika panjang jembatan memerlukan
adanya pilar), dengan melihat faktor-faktor fungsi jembatan sebagai perlintasan. Jika
jembatan berfungsi melintasi sungai, maka design flood sungai dan ketentuan
tentang clearance menjadi bahan pertimbangan utama dalam menentukan panjang
jembatan, artinya dari sini baru dapat ditentukan lokasi-lokasi abutment dan pilar-
pilar yang diperlukan. Jika jembatan melintasi jalan raya atau jalan kereta api, maka
faktor utama yang harus dijadikan pertimbangan adalah clearance berdasarkan
ketentuan untuk masing-masing fasilitas prasarana yang dilintasi tersebut.
Kemudian pada tahap selanjutnya ahli perencana jembatan perlu melakukan
pengecekan apakah penempatan trase jembatan, abutment dan pilar jembatan
tersebut akan berada di atas tanah dasar yang stabil ditinjau dari aspek geologi
teknik sebelum diputuskan bahwa lokasi jembatan sudah tepat.

Aspek geologi teknik dipelajari dari hasil laporan pemetaan geologi teknik yang
dibuat oleh ahli geologi teknik. Laporan geologi teknik ini mencakup:

 Kondisi geologi regional dan geologi lokal dari daerah pemetaan;


 Kondisi geologi teknik dari daerah pemetaan yang meliputi sifat fisik tanah atau
batuan setempat dan masalah yang mungkin timbul sehubungan pekerjaan
teknik sipil di daerah tersebut;
 Penampang geologi teknik pada rencana bangunan;
 Saran teknis berupa penanganan dan penanggulangan masalah yang timbul
oleh sebab kondisi geologi teknik.

Laporan geologi teknik pada umumnya dilampiri dengan peta geologi teknik, bisa
merupakan peta serbaguna, peta umum, peta berskala sedang atau peta
serbaguna, peta pelengkap, peta berskala kecil, atau peta serbaguna, peta
pelengkap, peta berskala besar. Peta geologi teknik biasanya dilengkapi dengan
lambang-lambang geologi dilengkapi dengan warna-warna atau notasi lambang
yang berbeda dengan pengelompokan sebagai berikut:
 Lambang-lambang batuan sedimen.
 Lambang-lambang tanah

2-2
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Lambang-lambang batuan beku


 Lambang-lambang batuan metamorf
 Lambang-lambang perlapisan
 Lambang-lambang batas
 Lambang-lambang foliasi, belahan dan unsur berbidang
 Lambang-lambang kekar
 Lambang-lambang sesar
 Lambang-lambang lipatan
 Lambang-lambang lineasi
 Lambang-lambang geomorfologi umum
 Lambang-lambang geomorfologi gerakan tanah
 Lambang-lambang hidrogeologi
 Lambang-lambang penyelidikan tempat proyek
 Lambang-lambang geologi ekonomi, pertambangan
 Lambang-lambang stratigrafi, palentologi, sedimentologi.

Tidak mudah untuk memahami makna dari lambang-lambang tersebut di atas. Oleh
karena itu disarankan agar bridge design engineer berkonsultasi dengan ahli
geologi teknik sebelum memutuskan bahwa lokasi jembatan sudah tepat.
Selanjutnya lihat gambar tersebut di bawah:

2-3
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Gambar 2-1 Peta Geologi Teknik

Diambil dari sumber : Tata Cara Pemetaan Geologi Teknik Lapangan , SK SNI T-17-1991-03

2-4
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Dari laporan geologi teknik tersebut yang perlu kita cermati adalah informasi tentang
struktur batuan. Jika kita mempelajari kedudukan batuan sedimen di pegunungan-
pegunungan atau dari penampang pemboran, maka sering kedudukan sedimen-
sedimen itu tampak telah terganggu, artinya tidak lagi sejajar seperti kedudukan
semula. Akan tetapi sedimen-sedimen itu telah miring letaknya, tidak tegak lurus
atau telah terlipat. Sering sedimen-sedimen itu telah nampak patah dan bergeser
melalui bidang-bidang tertentu yang disebut bidang sesar. Perubahan kedudukan
sedimen-sdimen itu disebabkan karena deformasi tektonik.

Ilmu yang mempelajari perubahan perubahan dari kedudukan mendatar batuan-


batuan endapan tersebut disebut geologi struktur atau geologi tektonik. Berdasarkan
cara pembentukannya ada 2 macam struktur, yaitu struktur primer dan struktur
sekunder. Struktur primer berhubungan dengan pembentukan batuan misalnya
perlapisan batuan, struktur aliran pada lava, rekahan akibat pendinginan/
pengerutan, struktur ini disebut juga non tektonik. Struktur sekunder, sebagai akibat
dari pada gerak-gerak di dalam kerak bumi yang menimpa batuan.

Pada dasarnya ada 2 gaya yang bekerja yaitu yang sifatnya tarik (tensional) dan
tekan (compressional). Yang berpengaruh terhadap bangunan teknik sipil adalah
jenis struktur sekunder, berwujud sebagai:
 Lipatan (fold)
 Rekahan/kekar (fractur/joint)
 Sesar (fault)

Lokasi yang stabil untuk penempatan jembatan dengan demikian adalah lokasi yang
tidak melewati daerah lipatan, rekahan/kekar atau sesar. Untuk mengetahui ciri-ciri
lebih khusus apa yang dimaksud dengan lipatan, rekahan/kekar dan sesar, berikut
ini diuraikan secara lebih rinci pengertian struktur sekunder tersebut:

2.2.1. Struktur Lipatan

A. Definisi

Untuk dapat menganalisis lipatan ini lebih mudah, beberapa istilah yang
lebih umum yang dapat digunakan untuk diskripsi didefinisikan sebagai
berikut:

 Bidang sumbu (axial plane)

Bidang yang membagi lipatan sesimetris mungkin, bidang ini bisa


tegak lurus, horizontal atau lengkung.

2-5
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Sumbu lipatan (axial of fold)

Perpotongan bidang sumbu dengan lapisan permukaan dari suatu


lipatan atau garis yang menghubungkan titik-titik tertinggi / terendah
suatu lipatan.

 Sumbu antiklin

Garis yang menghubungkan titik tertinggi dari antiklin.

 Sumbu sinklin

Garis yang menghubungkan titik terendah dari siklin.

 Sayap (limb of flank)

Bagian lipatan yang terletak pada kedua sisi sumbu lipatan.

 Jurus (strike)

Garis perpotongan antara bidang lapisan dengan bidang horizontal.


Lapisan horizontal tidak mempunyai kemiringan dan jurus. Jurus
biasanya diukur dalam derajat sebelah timur atau barat dari utara
magnetis.

 Kemiringan

Besarnya sudut (dalam derajat) antara bidang lapisan yang miring


dengan bidang mendatar, yang diukur pada suatu bidang yang tegak
lurus pada arah jurus.

Lihat Gambar 2-2 tersebut di bawah:

Gambar 2-2 Struktur Lipatan

2-6
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

B. Jenis-jenis Lipatan

Terminologi yang cukup terinci telah berkembang untuk menggambarkan


aspek-aspek geometris dari lipatan. Istilah umumnya didasarkan pada
bentuk potongan yang tegak lurus terhadap jurus dari bidang lipatan.
Istilah lainnya ditentukan terhadap sumbu lipatan.

Untuk mengetahui macam suatu lipatan perlu memperhatikan potongan


melintang yang tegak lurus terhadap bidang sumbunya.

Bermacam-macam lipatan dapat sangat berpengaruh terhadap stabilitas


bangunan besar atau kecil. Perubahan arah kemiringan secara
mendadak dari suatu lapisan dekat pondasi bangunan dapat
menyebabkan kondisi yang tidak stabil, hal ini tidak segera teramati oleh
pengamatan secara sepintas. Pada semua daerah yang mengalami
deformasi, penyelidikan yang teliti harus dilakukan.

Beberapa istilah yang umum digunakan untuk lipatan-lipatan didefinisikan


di bawah ini dan dapat dilihat pada Gambar 2-3:

 Antiklin

Suatu lipatan yang cembung ke atas

 Sinklin

Suatu lipatan yang cekung ke atas

 Lipatan simetris

Suatu lipatan yang simetris terhadap bidang sumbu

 Lipatan asimetris

Suatu lipatan yang tidak simetris terhadap bidang sumbu, kedua


syapnya miring ke arah yang berlawanan pada sudut yang
berlaianan/berbeda.

 Lipatan menggantung

Suatu lipatan dimana bidang sumbunya miring/condong, kedua sayap


miring ke arah yang sama biasanya dengan sudut yang berbeda.

 Lipatan rebah

Suatu lipatan dimana bidang sumbu hampir mendatar.

2-7
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Lipatan isoklin

Suatu lipatan yang sama, dimana kedua sayapnya miring dengan


sudut yang sama ke arah yang sama.

 Monoklin

Suatu kemiringan yang setempat lebih curam pada lapisan yang


relatif mendatar.

 Struktur teras

Daerah dimana kemiringan lapisan-lapisan pada tempat tertentu


mempunyai posisi datar.

Gambar 2-3 Jenis-jenis Lipatan

2.2.2. Struktur Kekar

Kekar adalah rekahan-rekahan dalam batuan yang terjadi karena tekanan


atau tarikan yang disebabkan oleh gaya yang bekerja di dalam bumi,
dimana pergeseran dianggap sama sekali tidak ada.

2-8
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Berdasarkan hal tersebut di atas kekar dibedakan menjadi 2 macam yaitu:

a. Kekar tarik (tension joint) yang disebabkan oleh akibat tarikan.

b. Kekar geser (shear joint) yaitu kekar yang terjadi akibat tekanan.

Kadang-kadang kedua jenis kekar ini sulit dibedakan di lapangan. Umumnya


kekar tarik permukaannya tidak rata, arahnya tidak beraturan dan selalu
terbuka, sedang kekar geser lurus-lurus bidangnya licin dan tertutup.

2.2.3. Struktur Sesar

Sesar adalah rekahan-rekahan di dalam kulit bumi yang kemudian


mengalami pergeseran satu terhadap lainnya. Pergeseran yang terjadi dapat
berkisar antara beberapa cm sampai beberapa km. Istilah yang umum
dipergunakan untuk deskripsi sesar didefinisikan dan ditunjukkan oleh
gambar di bawah ini:

Gambar 2-4 Sesar

a. Bidang sesar (fault surface)


Pada beberapa sesar dapat rata seperti bidang tetapi pada umumnya
tidaklah demikian melainkan merupakan daerah sesar (fault zone).

b. Atap dan kaki (hanging wall & foot wall)


Bagian di atas bidang sesar disebut atap, bagian bawah bidang sesar
disebut kaki.

c. Gingsir (hade)
Inklinasi bidang sesar terhadap vertikal.

A. Macam-macam sesar

Sesar terjadi pada segala jenis batuan, tetapi yang sering kita jumpai
pada batuan sedimen. Penamaan sesar pada batuan sedimen

2-9
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

dinyatakan menurut kedudukan patahan (sesar) terhadap kedudukan


bidang pelapisan:

1. Sesar jurus (strike fault) : jurus sesar searah jurus lapisan.

2. Sesar lapisan (bedding fault) : jurus sesar sejajar kemiringan bidang


lapisan.

3. Sesar kemiringan (dip fault) : jurus sesar sejajar arah kemiringan


bidang perlapisan.

4. Sesar diagonal (oblique fault) : jurus sesar menyudut dengan arah


bidang perlapisan.

5. Sesar memanjang (longitudinal fault) : jurus sesar umumnya paralel


dengan struktur regional.

6. Sesar melintang (transversal fault) : jurus sesar memotong struktur


regional dengan sudut minimal 50o.

Berdasarkan pergerakannya, secara relatif dibedakan:

1. Sesar normal atau sesar turun, atap bergerak relatif terhadap kaki.

2. Sesar naik, yaitu kaki bergerak relatif ke bawah terhadap atap.

3. Sesar mendatar (strike slip fault), yaitu mempunyai pergeseran


kurang lebih sejajar jurus besar.

B. Tanda-tanda adanya sesar

Tanda-tanda adanya sesar secara garis besar dapat dikenal dalam 3


tahap yaitu pertama dikenal dari peta topografi, kedua dari foto udara dan
ketiga pengamatan di lapangan.

Tanda-tanda tersebut antara lain adalah :

1. Adanyan gawir sesar - dari peta topografi, terlihat garis kontour rapat
dan lurus.

2. Adanya bentuk-bentuk segitiga pada gawir sesar (triangular fault)


akibat erosi, selain itu dijumpai pula kipas aluvial yang umumnya
menunjukkann adanya sesar normal.

3. Pergeseran dari sungai-sungai kecil.

4. Breksiasi.

5. Kontak antara batuan yang berbeda usia.

2-10
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

2.2.4. Struktur Batuan dan Kemantapan Lereng

Struktur batuan sangat berpengaruh terhadap kemantapan pondasi pada


lereng alam dan lereng galian. Ketidakmantapan dapat timbul di bawah
kondisi-kondisi antara lain sebagai berikut:

a. Jika bidang perlapisan miring ke arah lereng galian atau lereng alam.

b. Bila pelapukan sepanjang bidang perlapisan dan bidang kekar


menghasilkan kekar lempung.

c. Bila bidang sesar merupakan bidang geser dalam suatu formasi batuan.

d. Bila pelapukan sebagian formasi batuan menyebabkan penurunan


kekuatan geser.

e. Bila air masuk ke dalam batuan karena perubahan medan pada waktu
pelaksanaan pembangunan.

f. Bila penggalian pada batuan serpih yang peka terhadap cuaca dan
terdapat di daerah dengan curah hujan tahunan tinggi, akan
mengakibatkan disintegrasi yang cepat dan menyebabkan batuan serpih
mudah sekali pecah dan luruh terkena air.

Pertimbangan yang seksama dalam mengevaluasi formasi batuan akan sangat


membantu dalam mengambil keputusan terhadap stabilitas pondasi pada lokasi-
lokasi tertentu. Namun oleh karena stabilitas pondasi jembatan merupakan syarat
mutlak yang harus dipenuhi dalam perencanaan jembatan, maka disarankan agar
setelah memahami problema-problema geologi teknik, bridge design engineer tetap
harus melakukan konsultasi dengan ahli geologi dan ahli geoteknik, agar ada
jaminan lokasi rencana pembangunan jembatan benar-benar berada di daerah yang
stabil.

2.3. Analisis Kapasitas Dukung Tanah Di Bawah Abutment dan Pilar

Untuk dapat merencanakan pondasi jembatan, setelah beban-beban yang bekerja


diketahui (beban primer, beban sekunder dan beban khusus menurut SKBI
1.3.2.28.1987 atau aksi tetap, aksi transient, aksi lingkungan dan aksi lainnya
menurut BMS7-C2-Bridge Design Code 1992), maka pertama-tama yang perlu
dipertimbangkan adalah rekomendasi hasil penyelidikan tanah yang dibuat oleh ahli
geoteknik untuk mengetahui kapasitas dukung tanah di bawah abutment maupun
pilar. Ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi yaitu diperlukan pondasi dangkal atau

2-11
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

mungkin pondasi dalam. Fokus kita dalam Sub Bab ini adalah mengetahui berapa
kapasitas dukung tanah baik yang berada di bawah abutment maupun pilar,
sebelum kita melangkah lebih lanjut (pada Bab lain) untuk menentukan pondasi
jembatan. Prinsip perencanaan pondasi dalam hal ini adalah menjamin bahwa
tegangan yang timbul di dalam tanah sebagai akibat pembebanan jembatan masih 
tegangan ijin dibagi faktor keamanan. Hal ini berlaku juga untuk untuk konstruksi
pondasi yaitu tegangan yang timbul pada beton atau baja (material pondasi) 
tegangan ijin dibagi faktor keamanan.

2.3.1 Pengertian Kapasitas Dukung Tanah

Kapasitas dukung tanah menyatakan gaya geser tanah di sepanjang bidang


gesernya untuk melawan penurunan akibat pembebanan. Persamaan
kapasitas dukung tanah pada umumnya dinyatakan dengan persamaan
Mohr – Coulomb sebagai berikut:

 = c +  tg 

dimana

 = tahanan geser tanah

c = kohesi tanah

 = tegangan normal

 = sudut geser dalam tanah

Ada 2 kriteria yang harus dipenuhi dalam perencanaan pondasi yaitu kriteria
stabilitas dan kriteria penurunan. Kriteria stabilitas memberikan gambaran
bahwa tanah tidak runtuh meskipun kapasitas dukungnya dilampaui karena
dalam perencanaan pondasi ada safety faktor = 3 untuk daya dukung tanah
yang diijinkan. Kriteria penurunan memberikan gambaran bahwa meski
terjadi differential settlement (penurunan tak seragam), tidak akan terjadi
kerusakan pada struktur.

2.3.2 Kapasitas Dukung Menurut Terzaghi

Teori Terzaghi, diturunkan dari persamaan Mohr – Coulomb tersebut di atas,


digunakan untuk pondasi dangkal, menghasilkan sebuah rumus daya dukung
sebagai berikut:

qu = c.Nc + .D.Nq + ½.B.N

2-12
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

dimana:

qu = kapasitas dukung ultimate untuk pondasi memanjang ........ kN/m2.

c = kohesi tanah penyangga pondasi ......... kN/m2.

 = berat isi tanah ........ kN/m3.

D = kedalaman pondasi ....... m

B = lebar pondasi ......... m

Nc , Nq , N = faktor daya dukung tanah yang merupakan fungsi dari sudut


geser dalam () tanah dari Terzaghi.

Selanjutnya lihat gambar-gambar berikut:

Gambar 2-5 Model Keruntuhan menurut Teori Terzaghi

Gambar 2-6 Hubungan antara Nc , Nq , N dan 

Dalam persamaan di atas, qu = beban total maksimum per satuan luas,


terjadi sesaat ketika pondasi pondasi akan mengalami keruntuhan geser.

2-13
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Dalam hal ini beban total terdiri dari beban-beban struktur, pelat pondasi dan
tanah urug di atasnya. Keruntuhan geser seperti dimaksud disebut
keruntuhan geser umum dengan ciri-ciri volume bahan dan kuat gesernya
tidak berubah oleh adanya keruntuhan.

Selain keruntuhan geser umum, dikenal juga keruntuhan geser lokal yang
terjadi pada tanah yang mengalami regangan yang besar sebelum tercapai
keruntuhan geser. Terzaghi memberikan koreksi empiris terhadap faktor-
faktor kapasitas dukung pada kondisi keruntuhan geser umum, yang
digunakan untuk penghitungan kapasitas dukung pada kondisi keruntuhan
geser lokal.

Tabel 2-1 Nilai-nilai Faktor Kapasitas Terzaghi

Keruntuhan Geser Umum Keruntuhan Geser Lokal


o Nc Nq Nc Nq
N N
0 5.7 1.0 0.0 5.7 1.0 0.0
5 7.3 1.6 0.5 6.7 1.4 0.2
10 9.6 2.7 1.2 8.0 1.9 0.5
15 12.9 4.4 2.5 9.7 2.7 0.9
20 17.7 7.4 5.0 11.8 3.9 1.7
25 25.1 12.7 9.7 14.8 5.6 3.2
30 37.2 22.5 19.7 19.0 8.3 5.7
34 52.6 36.5 35.0 23.7 11.7 9.0
35 57.8 41.4 42.4 25.2 12.6 10.1
40 95.7 81.3 100.4 34.9 20.5 18.8
45 172.3 173.3 297.5 51.2 35.1 37.7
48 258.3 287.9 780.1 66.8 50.5 60.4
50 347.6 415.1 1153.2 81.3 65.6 87.1
Sumber : Teknik Fondasi 1, Hary Christady Hardiyatmo - 2002

Rumus Terzaghi di atas tidak memperhitungkan kekuatan geser tanah yang


terletak di atas dasar pondasi. Oleh karena itu teori tersebut hanya cocok
untuk pondasi dangkal dengan D  B. Jika teori Terzaghi digunakan untuk
pondasi dalam maka daya dukung yang diperolehnya akan lebih rendah dari
pada nilai yang sebenarnya, oleh karena itu untuk pondasi dalam kesalahan
perhitungan menjadi besar. Selain itu perlu diingat bahwa daya dukung tanah
yang dipelajari di atas hanya berlaku untuk menghitung daya dukung ultimit
pondasi memanjang. Untuk bentuk-bentuk yang lain, Terzaghi memberikan
koreksi-koreksi sebagai berikut:

2-14
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Pondasi bujur sangkar :


qu = 1,3.c.Nc + po.Nq + 0,40. .B.N

Pondasi lingkaran:
qu = 1,3.c.Nc + po.Nq + 0,30. .B.N

Pondasi empat persegi panjang:


qu = c.Nc (1+ 0,3B/L) + po.Nq + 0,50. .B.N.(1-0.2B/L)

dimana:

qu = daya dukung batas (ultimate bearing capacity) ........ kN/m2.


c = kohesi tanah penyangga pondasi ......... kN/m2.
po = D.  = tekanan overburden pada dasar pondasi ....... kN/m2.
 = berat isi tanah yang dipertimbangkan terhadap kedudukan muka air
tanah........ kN/m3.
D = kedalaman pondasi ....... m
B = lebar atau diameter pondasi ......... m
L = panjang pondasi ...... m
Nc , Nq , N = faktor daya dukung tanah yang merupakan fungsi dari sudut
geser dalam () tanah dari Terzaghi.

Teori Terzaghi telah banyak digunakan untuk menghitung daya dukung pada
tanah granular dan tanah-tanah yang mempunyai kohesi (c) dan sudut geser
dalam (), karena persamaan daya dukung batasnya memberikan hasil yang
sangat hati-hati. Hal ini sangat berguna untuk memperhitungkan risiko yang
terjadi karena sulitnya mendapatkan contoh tanah undisturbe pada jenis
tanah tersebut.

fx Gambar 2-7 Pondasi Dalam


D (D > 5B)

2-15
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Untuk pondasi dalam yang berbentuk sumuran dengan D > 5B, Terzaghi
menyarankan penggunaan rumus sebagai berikut:

Pu’ = Pu + Ps = qu.Ap + .B.fx.D

dimana :

Pu’ = beban ultimate total untuk pondasi dalam (kN)


Pu = beban ultimate total untuk pondasi dangkal (kN)
Ps = tahanan gesek pada dinding pondasi (kN)

qu = 1,3.c.Nc + po.Nq + 0,30. .B.N jika berbentuk lingkaran (kN/m2)


Ap = luas dasar pondasi (m2)
B = diameter pondasi (m)
fx = faktor gesekan (lihat tabel 2-2)
D = kedalaman pondasi (m)

Tabel 2-2 Faktor Gesekan Dinding fx (Terzaghi)

Jenis Tanah fx (kg/cm2)


Lanau dan lempung lunak 0.07 – 0.30
Lempung sangat kaku 0.49 – 1.95
Pasir tak padat 0.12 – 0.37
Pasir padat 0.34 – 0.68
Kerikil padat 0.49 – 0.96
Sumber : Teknik Fondasi 1, Hary Christady Hardiyatmo - 2002

2.3.3 Kapasitas Dukung Menurut Meyerhof

Teori lain tentang kapasitas dukung tanah diberikan oleh Meyerhof,


dimaksudkan baik untuk pondasi dangkal maupun pondasi dalam. Cara
keruntuhan kapasitas dukung yang dipakai oleh Meyerhof dalam
mengembangkan teorinya adalah seperti terlihat dalam Gambar 2-8.

2-16
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Gambar 2-8 Keruntuhan Kapasitas Dukung Menurut Meyerhof


Sumber : Teknik Fondasi 1, Hary Christady Hardiyatmo - 2002

Persamaan kapasitas dukung Meyerhof:

qu = sc.dc.ic.c.Nc + sq.dq.iq.po.Nq + s.d.0.5B’..N

dimana:

qu = kapasitas dukung ultimate


Nc, Nq, N = faktor kapasitas dukung untuk pondasi memanjang
sc, sq, s = faktor bentuk pondasi
dc, dq, d = faktor kedalaman pondasi
ic, iq, i = faktor kemiringan beban
B = lebar pondasi efektif
Po = Df. = tekanan overburden pada dasar pondasi
Df = kedalaman pondasi
 = berat isi tanah yang dipertimbangkan terhadap kedudukan muka air
tanah

Faktor-faktor kapasitas dukung yang diusulkan oleh Meyerhof adalah :

Nc = (Nq-1) ctg 
Nq = tg2(45o + /2).e(tg)

2-17
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

N = (Nq-1)tg(1.4)

Tabel 2-3 Faktor Kapasitas Dukung Meyerhof

o Nc Nq N o Nc Nq N
1 5.14 1 0 26 22.25 11.85 8.00
2 5.38 1.09 0.00 27 23.94 13.20 9.46
3 5.63 1.20 0.01 28 25.80 14.72 11.19
4 6.19 1.43 0.04 29 27.86 16.44 13.24
5 6.49 1.57 0.07 30 30.14 18.40 15.67
6 6.81 1.72 0.11 31 32.67 20.63 18.56
7 7.16 1.88 0.15 32 35.49 23.18 22.02
8 7.53 2.06 0.21 33 38.64 26.09 26.17
9 7.92 2.25 0.28 34 42.16 29.44 31.15
10 8.34 2.47 0.37 35 46.12 33.30 37.15
11 8.80 2.71 0.47 36 50.59 37.75 44.43
12 9.28 2.97 0.60 37 55.63 42.92 53.27
13 9.81 3.26 0.74 38 61.35 48.93 64.07
14 10.37 3.59 0.92 39 67.87 55.96 77.33
15 10.98 3.94 1.13 40 75.31 64.20 93.69
16 11.63 4.34 1.37 41 83.86 73.90 113.99
17 12.34 4.77 1.66 42 93.71 85.37 139.32
18 13.10 5.26 2.00 43 105.11 99.01 171.14
19 13.93 5.80 2.40 44 118.37 115.31 211.41
20 14.83 6.40 2.87 45 133.87 134.87 262.74
21 15.81 7.07 3.42 46 152.10 158.50 328.73
22 16.88 7.82 4.07 47 173.64 187.21 414.33
23 18.05 8.66 4.82 48 199.26 222.30 526.45
24 19.32 9.60 5.72 49 229.92 265.50 674.92
25 20.72 10.66 6.77 50 266.88 319.06 873.86

Tabel 2-4 Faktor Bentuk Pondasi – Meyerhof

Faktor Bentuk Nilai Keterangan

sc 1 + 0.2(B/L)tg2 (45+/2) Untuk sembarang 

1 + 0.1(B/L)tg2 (45+/2) Untuk   10o


sq = s
1 Untuk  = 0

Tabel 2-5 Faktor Kedalaman Pondasi – Meyerhof

Faktor Kedalaman Nilai Keterangan

dc 1 + 0.2(D/B)tg (45+/2) Untuk sembarang 

dq = d 1 + 0.1(D/B)tg (45+/2) Untuk   10o

2-18
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

1 Untuk  = 0

Tabel 2-6 Faktor Kemiringan Beban – Meyerhof

Faktor Kemiringan Nilai Keterangan


Beban
2
 o
ic = iq 1   Untuk sembarang 
 90 

 o
2
Untuk   10o
1  
i   

1 Untuk  = 0

Catatan :  = sudut kemiringan beban terhadap garis vertikal.

2.4. Penurunan Pondasi Di Bawah Abutment dan Pilar

Penurunan pondasi yang terletak pada tanah berbutir (granular material) pada
umumnya diklasifikasikan sebagai berikut:

 Penurunan segera (immediate settlement), yaitu penurunan yang terjadi pada


saat “beban kerja” mulai bekerja, dalam rentang waktu kurang lebih 7 hari.
Analisis immediate settlement digunakan untuk tanah berbutir halus termasuk
“silts” dan “clays” dengan derajat kejenuhan (perbandingan antara isi air pori
dengan isi pori)  90% dan tanah berbutir kasar dengan koefisien permeabilitas
yang tinggi (> 10-3 m/sec)
 Penurunan konsolidasi (consolidation settlement), yaitu penurunan yang terjadi
dengan berjalannya waktu, bisa dalam kurun waktu bulanan maupun tahunan.
Sebagai gambaran umum, consolidation settlement pada kebanyakan proyek
terjadi dalam kurun waktu 3 – 10 tahun. Analisis consolidation settlement
digunakan untuk tanah berbutir halus baik yang dalam kondisi jenuh (saturated)
maupun yang hampir jenuh. Ada 2 hal yang perlu diperhitungkan dalam
consolidation settlement ini yaitu besarnya penurunan (H) dan lama waktu
terjadinya penurunan.

Persamaan umum yang digunakan untuk menghitung penurunan pondasi pada


kedua jenis penurunan pondasi tersebut adalah sebagai berikut:

2-19
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

H
H   dH
0

dimana = strain = q/Es; q = f(H, variasi jenis tanah); H = perkiraan kedalaman


perubahan “stress” yang diakibatkan oleh beban pondasi.

H i
qi
H  H   (i dari 1 s/d n)
Hi Esi

Bagian kanan dari persamaan di atas menunjukkan bahwa tanah terdiri dari n lapis
(layers) dengan ketebalan Hi , “stresses” dan “properties” dari masing-masing lapis.
Total penurunan pondasi dengan demikian sama dengan jumlah penurunan yang
terjadi pada: lapis 1 + lapis 2 + lapis 3 + ........... + lapis n.

Es yang digunakan dalam persamaan di atas adalah “constrained modulus” yang


diperoleh dari test konsolidasi sebagai 1/mv atau dari test triaxial, dinyatakan dalam
persamaan sebagai berikut:

1 (1   ).Es ,tr
Es  
mv (1   )(1  2  )

Es,str = nilai triaxial

 = Poisson’s Ratio = ratio antara regangan lateral terhadap regangan vertikal.

2.4.1 Penurunan Segera (Immediate Settlement)

Persamaan penurunan segera dari pondasi yang terletak di permukaan


tanah yang homogen, elastis, isotropis, pada media semi tak terhingga
dinyatakan sebagai berikut:

1  2  1  2 
H  q o .B ' .  I 1  I 2  I F
Es  1  

dimana

H = immediate settlement

qo = tekanan pada dasar pondasi

B’ = lebar pondasi

2-20
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Es = modulus elastis

 = Poisson’s Ratio

I1, I2, IF = Faktor pengaruh, tergantung pada panjang/lebar pondasi L’/B’,

ketebalan lapis tanah H, Poisson’s Ratio , dan kedalaman pondasi

dihitung dari permukaan tanah asli.

1 (1  M 2  1). M 2  N 2 ( M  M 2  1. 1  N 2 
I1   M . ln  ln 
 M (1  M 2  N 2  1) M  M 2  N 2 1 

N  M 
I2  tan 1   ............ (tan-1 dalam radian)

2  N M  N 1 
2 2

dimana:

M = L’/B’
N = H/B’
B’ = B/2 untuk titik tengah pondasi.
B’ = B untuk pojok pondasi.
L’ = L/2 untuk titik tengah pondasi.
L’ = L untuk pojok pondasi.
IF dapat dihitung secara grafis dengan menggunakan grafik berikut:

Gambar 2-9 Menentukan IF

2-21
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Sumber: Foundation Analysis and Design, Joseph E. Bowles – 1997

2.4.2 Penurunan Konsolidasi (Consolidation Settlement)

Persamaan penurunan konsolidasi (primer) pada tanah berbutir halus adalah


sebagai berikut:
e e e
H  H  1 o H  mv (p) H  H
1  eo 1  eo

H = Consolidation Settlement
e = perubahan angka pori akibat pembebanan
eo = angka pori awal
e1 = angka pori pada saat berakhirnya konsolidasi
H = tebal lapisan tanah yang ditinjau
mv = modulus tertahan
p = pertambahan tegangan

= regangan.

Teori penurunan konsolidasi (Terzaghi) diketengahkan dengan membuat


asumsi-asumsi sebagai berikut:
 Tanah yang ada di dalam lapisan yang terkonsolidasi adalah homogen.
 Tanah sepenuhnya jenuh (S = 100%)
 Air dan butiran tanah tidak dapat ditekan.
 Terdapat hubungan yang linear antara tekanan yang bekerja dan
perubahan volume.
 Konsolidasi merupakan konsolidasi satu dimensi sehingga tidak terdapat
aliran air atau pergerakan tanah lateral.
 Hukum Darcy berlaku (v = ki)
 Properties tanah konstan.

Jika penurunan konsolidasi diperhitungkan berdasarkan indeks pemampatan


(Cc) dan indeks pemampatan kembali (Cr) maka Cc dan Cr diperoleh dari
grafik e-logp’ dengan :

e1  e2
Cc  pada bagian linear kurva pembebanan
log( p 2 ' / p1 ' )

e4  e3
Cr  pada kurva pelepasan beban
log( p3 ' / p 4 ' )

2-22
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Dengan e1, e2, e3, e4 dan p1, p2, p3, dan p4 adalah titik-titik yang ditunjukkan
pada Gambar 2-10

Gambar 2-10 Kurva Hubungan e – log p’

Jika teori dan persamaan penurunan konsolidasi di atas digunakan untuk


tanah lempung, maka perlu dipertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
 Apakah tanah berada pada kondisi konsolidasi normal atau pra
konsolidasi.
 Perkirakan ”in situ void ratio eo” dan upayakan mencapai idex tekanan
yang cukup untuk mendapatkan lapis lempung yang mencukupi.
 Perkirakan pertambahan tegangan rata-rata q dalam lapisan tanah
yang ditinjau dengan ketebalan H.

Catatan
(1) p1’ = po’ + p
(2) Cc dan Cr pada gambar adalah kurva yang telah dikoreksi (kurva lapangan)

2-23
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Gambar 2-11 Hubungan perubahan angka pori e


(a) Lempung normally consolidated
(b) dan (c) lempung over consolidated

Untuk lempung terkonsolidasi normal yaitu jika po’ = pc’ maka perubahan
angka pori (e) akibat konsolidasi dinyatakan oleh :

po ' p
e  C c log (Gambar 2-10 a)
po '

Untuk lempung yang terkonsolidai berlebihan (overconsolidated), yaitu jika


pc’ > po’, perubahan angka pori (e) dipertimbangkan dalam 2 kondisi
sebagai berikut:

Jika p1’ < pc’ (Gambar 2-10 b),

p1 ' p ' p
e  C r log  C r log o
po po '

dengan p1’ = po’ + p

Jika po’ < pc’ < p1’ (Gambar 2-10 c)

pc ' p ' p
e  C r log  C c log o
po ' pc '

dengan pc’ adalah tekanan prakonsolidasi.

Langkah-langkah perhitungan konsolidasi dilakukan sebagai berikut:


 Lapisan tanah yang penurunan konsolidasinya akan dihihitung terlebih
dahulu dibagi menjadi n lapisan.
 Tegangan efektif awal po’ pada tiap tengah-tengah lapisan dihitung.
 Tambahan tegangan pada tiap tengah-tengah lapisan (pi) yang bekerja
dihitung.
 ei untuk tiap-tiap lapisan dihitung.
 Total penurunan konsolidasi primer pada seluruh lapisan dengan
menggunakan persamaan tersebut di bawah:

i n i n
ei
H   H i   Hi
i 1 i 1 1  eo

2-24
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

RANGKUMAN

a. Bab 2 modul Perencanaan Pondasi Jembatan ini menguraikan analisis kestabilan tanah
di lokasi rencana pembuatan jembatan berdasarkan data geologi teknik, analisis daya
dukung tanah di bawah rencana pembuatan abutment dan pilar berdasarkan data
penyelidikan tanah, dan analisis penurunan pondasi di bawah abutment dan pilar
berdasarkan data penyelidikan tanah.
b. Analisis kestabilan tanah di lokasi rencana pembuatan jembatan dimaksudkan untuk
melakukan pengecekan apakah penempatan trase jembatan, abutment dan pilar
jembatan akan berada di atas tanah dasar yang stabil ditinjau dari aspek geologi teknik
sebelum diputuskan bahwa lokasi jembatan sudah tepat. Aspek geologi teknik dipelajari
dari hasil laporan pemetaan geologi teknik yang dibuat oleh ahli geologi teknik. Laporan
geologi teknik ini mencakup:
 Kondisi geologi regional dan geologi lokal dari daerah pemetaan;
 Kondisi geologi teknik dari daerah pemetaan yang meliputi sifat fisik tanah atau
batuan setempat dan masalah yang mungkin timbul sehubungan pekerjaan teknik
sipil di daerah tersebut;
 Penampang geologi teknik pada rencana bangunan;
 Saran teknis berupa penanganan dan penanggulangan masalah yang timbul oleh
sebab kondisi geologi teknik.
c. Analisis daya dukung tanah di bawah rencana pembuatan abutment dan pilar
menguraikan garis besar teori mekanika tanah yang pada umumnya digunakan untuk
membuat analisis daya dukung tanah. Ada 2 metode yang diketengahkan dalam uraian
dimaksud yaitu kapasitas dukung tanah menurut Terzaghi yang pada umumnya
digunakan untuk pondasi dangkal dan kapasitas dukung tanah menurut Meyerhof yang
pada umumnya digunakan untuk pondasi dangkal maupun pondasi dalam.
d. Analisis penurunan pondasi menjelaskan bahwa penurunan pondasi mencakup 2 jenis
penurunan yaitu penurunan segera (immediate settlement) dan penurunan konsolidasi
(consolidation settlement):
 Immediate settlement yaitu penurunan yang terjadi pada saat “beban kerja” mulai
bekerja, dalam rentang waktu kurang lebih 7 hari. Analisis immediate settlement
digunakan untuk tanah berbutir halus termasuk “silts” dan “clays” dengan derajat
kejenuhan (perbandingan antara isi air pori dengan isi pori)  90% dan tanah berbutir
kasar dengan koefisien permeabilitas yang tinggi (> 10-3 m/sec).

2-25
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Consolidation settlement, yaitu penurunan yang terjadi dengan berjalannya waktu,


bisa dalam kurun waktu bulanan maupun tahunan. Sebagai gambaran umum,
consolidation settlement pada kebanyakan proyek terjadi dalam kurun waktu 3 – 10
tahun. Analisis consolidation settlement digunakan untuk tanah berbutir halus baik
yang dalam kondisi jenuh (saturated) maupun yang hampir jenuh.

2-26
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI

Latihan atau penilaian mandiri menjadi sangat penting untuk mengukur diri atas tercapainya
tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh para pengajar/ instruktur, maka pertanyaan
dibawah perlu dijawab secara cermat, tepat dan terukur

Kode/ Judul Unit Kompetensi :


INA.5212.113.01.05.07 : Merencanakan pondasi jembatan

Soal :

Jawaban:
Elemen Kompetensi / Apabila ”Ya”
No. KUK (Kriteria Unjuk Pertanyaan sebutkan butir-
Kerja) Ya Tdk
butir kemampuan
anda
1. Menganalisis data
geologi teknik dan
penyelidikan tanah.

1.1. Kestabilan tanah 1.1. Apakah anda mampu a. .........................


berdasarkan data menganalisis
b. .........................
geologi teknik kestabilan tanah
dianalisis sesuai berdasarkan data c. .........................
dengan persyaratan geologi teknik dalam dst.
teknis yang rangka perencanaan
ditentukan teknis jembatan?

1.2. Daya dukung tanah 1.2. Apakah anda mampu a. .........................


di bawah abutment menganalisis daya
b. .........................
dan pilar dianalisis dukung tanah di
sesuai dengan bawah abutment dan c. .........................
persyaratan teknis pilar dianalisis sesuai dst.
yang ditentukan. dengan persyaratan
teknis yang
ditentukan?

1.3. Penurunan pondasi 1.3. Apakah anda mampu a. .........................


di bawah abutment menghitung
b. .........................
dan pilar dianalisis penurunan pondasi
sesuai dengan di bawah abutment c. .........................
persyaratan teknis dan pilar sesuai dst.
yang ditentukan dengan persyaratan
teknis yang

2-27
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

ditentukan?

2-28
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

BAB 3
PEMILIHAN JENIS PONDASI JEMBATAN

3.1. Umum

Bab ini menjelaskan pemilihan jenis pondasi jembatan, mencakup penentuan


kedalaman tanah keras, penggunaan data daya dukung tanah dan geologi teknik
dan penetapan jenis pondasi jembatan.

Penentuan kedalaman tanah keras dimaksudkan untuk mempertimbangkan apakah


akan dibuat pondasi dangkal (0-8.00 m) ataukah pondasi dalam (> 8.00 m). Jika
lokasi tanah keras terletak pada kedalaman 0-8.00 meter, ada 2 pilihan yang dapat
diambil yaitu dipilih pondasi langsung jika letak kedalaman tanah keras  4.00 m,
atau pondasi sumuran jika letak kedalaman tanah keras antara 4-8.00 m. Jika letak
tanah keras > 8.00 m pondasi yang lazim digunakan adalah pondasi tiang pancang
atau tiang bor.

Penggunaan data daya dukung tanah dan geologi teknik dimaksudkan untuk
memastikan bahwa beban-beban yang bekerja pada jembatan pada akhirnya akan
dipikul oleh tanah pondasi yang kapasitas dukungnya mencukupi. Jadi dari sisi
konstruksi bahan yang digunakan sebagai konstruksi pondasi (tiang pancang, tiang
bor, sumuran, pondasi langsung) mampu memikul kombinasi beban-beban yang
bekerja, sedangkan di sisi lain tanah pondasi tidak mengalami keruntuhan dalam
memikul beban-beban yang bekerja pada jembatan.

Penetapan pondasi jembatan dimaksudkan untuk menetapkan tipe dan jenis


pondasi yang paling sesuai dengan persyaratan-persyaratan perencanaan. Jika
dipilih pondasi tiang pancang, agar jelas, apakah pilihan ini merupakan point bearing
piles, atau friction piles, ataukah kombinasi dari keduanya. Jika dipilih pondasi
sumuran, apakah diameter sumuran yang dipilih masih memberikan ruang gerak
bagi pelaksana di lapangan, dan sebagainya.

3.2. Penentuan Kedalaman Tanah Keras

Untuk mengetahui kedalaman tanah keras, data lapangan yang harus tersedia
adalah data sondir dan data bor. Dalam memilih rancangan pondasi jembatan,
diperlukan data-data lapangan yang diperoleh dari test sondir, bor-log lapangan dan
bor-log akhir. Test sondir dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang

3-1
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

perlawanan tanah terhadap ujung konus dan lekatan tanah terhadap selimut
bikonus. Data-data tersebut diperoleh dengan cara menekan konus dan bikonus ke
dalam lapisan tanah yang diselidiki, digambarkan ke dalam suatu grafik yang
menunjukkan hubungan antara kedalaman ujung konus (m) dengan tekanan konus
(kg/cm2) dan antara kedalaman ujung konus (m) dengan hambatan pelekat (kg/cm).
Sedangkan bor log merupakan hasil uji pemboran berupa penampang yang
menggambarkan lapisan-lapisan tanah disertai dengan keterangan-keterangan yang
diperlukan untuk menganalisa kondisi tanah/batuan yang harus dipertimbangkan
untuk perencanaan pondasi jembatan. Bor-log lapangan merupakan catatan-catatan
berdasarkan fakta-fakta lapangan sedangkan bor-log akhir dibuat berdasarkan bor-
log lapangan dan hasil-hasil pengujian laboratorium.
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa data-data yang diperoleh
dari test sondir, bor-log lapangan dan bor-log akhir harus memberikan informasi
yang tepat dan akurat guna kepentingan perhitungan pondasi jembatan. Ini berarti
bahwa letak titik sondir dan bor harus sedemikian sehingga hasil pengolahan dan
evaluasi data tanah yang dibuat dapat merepresentasikan informasi tentang
properties tanah yang diperlukan dalam perhitungan pondasi jembatan.
Letak titik sondir dan titik bor kadang-kadang tidak dapat tepat pada rencana letak
bangunan mengingat situasi-lapangan yang sulit. Oleh karena itu penting diketahui
sampai seberapa jauh dapat diadakan penggeseran, relokasi, pengurangan atau
penambahan titik penyelidikan. Untuk pemboran mesin perlu juga ditinjau jalan
masuk kelokasi.

Jumlah dan letak titik sondir dan titik bor (contoh)

 Jika jembatan dengan bangunan-bangunan atas diletakkan di 1 (satu) abutment


kiri, dan 2 (dua) pilar dan 1 (satu) abutment kanan, pertanyaannya sekarang
adalah berapa banyak titik sondir dan titik bor diperlukan untuk dapat
menyiapkan perencanaan pondasi jembatan tersebut dan dimana titik-titik sondir
dan bor tersebut harus diletakkan? Jawabannya adalah sebagai berikut:

 Diperlukan penyelidikan tanah untuk 2 titik sondir di abutmen kiri, 8 titik


sondir di dasar sungai/lembah, 2 titik sondir di abutmen kanan. Dalam hal ini
sebanyak 6 titik sondir berada di sebelah kiri as jembatan dan 6 titik sondir
berada di sebelah kanan as jembatan.

3-2
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Diperlukan penyelidikan tanah untuk 1 titik bor di abutmen kiri, 4 titik bor di
dasar sungai/lembah, 1 titik bor di abutmen kanan. Lokasi titik-titik bor
tersebut berada kurang lebih tepat di bawah as jembatan.

Untuk lebih jelasnya, lihat Gambar 3-1:

S S S S S S
As Jembatan

B B B B

S S S S S S

S Titik Sondir
Dasar Abutment Dasar Pilar
B Titik Bor

Gambar 3-1 Penempatan Titik-titik Sondir dan Bor

Pada gambar di atas terdapat 12 titik sondir dan 4 titik bor yang tentu akan
memberikan variasi-variasi data tergantung pada kondisi tanah pondasi dan
ketelitian pengambilan datanya. Sebelum kita menentukan lokasi kedalaman tanah
keras, ada suatu logika berpikir yang tidak boleh diabaikan yaitu:

 Penentuan lokasi kedalaman tanah keras di bawah abutment sebelah kiri hanya
didasarkan atas data-data sondir dan data bor yang diperoleh berdasarkan
pelaksanaan pekerjaan sondir dan pekerjaan bor di lokasi abutment sebelah kiri.

3-3
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Penentuan lokasi kedalaman tanah keras di bawah abutment sebelah kanan


hanya didasarkan atas data-data sondir dan data bor yang diperoleh
berdasarkan pelaksanaan pekerjaan sondir dan pekerjaan bor di lokasi abutment
sebelah kanan.

 Penentuan lokasi kedalaman tanah keras di bawah pilar sebelah kiri hanya
didasarkan atas data-data sondir dan data bor yang diperoleh berdasarkan
pelaksanaan pekerjaan sondir dan pekerjaan bor di lokasi pilar sebelah kiri.

 Penentuan lokasi kedalaman tanah keras di bawah pilar sebelah kanan hanya
didasarkan atas data-data sondir dan data bor yang diperoleh berdasarkan
pelaksanaan pekerjaan sondir dan pekerjaan bor di lokasi pilar sebelah kanan.

Kita ambil contoh abutment sebelah kiri, disini akan tersedia 2 data sondir dan 1
data bor. Terlebih dahulu harus diperiksa kesesuaian hasil sondir dengan jenis
tanah yang diperoleh dari hasil pekerjaan bor pada titik bor yang telah ditentukan.
Hasil sondir yang tidak sesuai dengan hasil bor perlu ditanyakan kepada ahli
geoteknik, misalnya diambil kesimpulan kedua data sondir tersebut masih
memenuhi syarat, maka selanjutnya kedua data sondir tersebut dievaluasi lebih
lanjut. Dari 2 data sondir kita harus memilih salah satu yaitu yang memberikan
dampak paling buruk bagi perhitungan pondasi. Artinya data sondir yang kita pilih
tersebut adalah data sondir yang menginformasikan lokasi tanah keras lebih dalam
dibandingkan dengan data sondir yang satu lagi, dan atau jumlah hambatan pelekat
pada kedalaman yang dipilih untuk perhitungan pondasi lebih rendah dibandingkan
dengan jumlah hambatan pelekat pada data sondir yang satu lagi.

Demikian dengan metode yang sama dilakukan pemilihan data sondir untuk pilar
kiri, pilar kanan dan abutment kanan. Jika hal ini telah dilakukan, maka kita
mempunyai data-data yang siap dianalisis untuk memastikan lokasi kedalaman
tanah keras, yaitu: 1 sondir dan 1 bor untuk abutment kiri, 1 sondir dan 1 bor untuk
pilar kiri, 1 sondir dan 1 bor untuk pilar kanan dan 1 sondir dan 1 bor untuk abutment
kanan.

Data sondir berisi informasi tentang:

 Besarnya tekanan konus (kg/cm2) pada kedalaman-kedalaman tertentu (m)


dihitung dari tinggi permukaan tanah asli.

 Besarnya jumlah hambatan pelekat (tekanan kleef) pada kedalaman-kedalaman


tertentu (m) dihitung dari tinggi permukaan tanah asli.

3-4
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Data bor, berisi jenis dan tebal lapisan-lapisan tanah, mulai dari lapis permukaan
tanah asli sampai dengan kedalaman berakhirnya pemboran. Kedalaman pemboran
pada umumnya melebihi kedalaman titik sondir.

Gambar 3-2 Contoh Hasil Sondir dan Bor

Pada data sondir dapat diperhatikan bentuk grafik yang menggambarkan hubungan
antara tekanan konus dan kedalaman ujung konus. Dari grafik tersebut dapat dicari,
pada tekanan konus = 150 kg/cm2, berapa kedalaman ujung konus pada tekanan
ini? Titik yang menunjukkan tekanan konus = 150 kg/cm2 inilah yang disebut
kedalaman tanah keras, pada Gambar 3-2 titik tersebut berada pada kedalaman 24
m di bawah permukaan tanah asli.

Batasan-batasan kedalaman tanah keras yang lazim digunakan dalam perencanaan


pondasi adalah sebagai berikut:

3-5
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Jika lokasi tanah keras berada pada kedalaman  4 m dari permukaan tanah asli,
maka yang diperlukan adalah pondasi dangkal, pada umumnya cukup dengan
pondasi langsung.

 Jika lokasi tanah keras berada pada kedalaman 4-8 m dari permukaan tanah
asli, maka yang diperlukan adalah pondasi dangkal, pada umumnya digunakan
pondasi sumuran.

 Jika lokasi tanah keras berada pada kedalaman > 8 m dari permukaan tanah
asli, maka yang diperlukan adalah pondasi dalam, pada umumnya dipilih
pondasi tiang pancang.

Perkiraan kedalaman tanah keras berdasarkan data sondir merupakan indikasi awal
tentang jenis pondasi yang dapat kita pertimbangkan. Perhitungan lebih rinci
nantinya akan didasarkan atas berbagai informasi tentang tanah pondasi baik yang
diperoleh berdasarkan hasil sondir maupun hasil pengujian laboratorium, termasuk
data-data yang berkaitan dengan kekuatan bahan pondasi jembatan.

3.3. Penggunaan Data Daya Dukung Tanah dan Geologi Teknik

Dari data geologi teknik, yang perlu diketahui adalah kepastian apakah lokasi
penempatan jembatan berada pada daerah yang stabil, artinya tidak melewati
daerah lipatan, rekahan/ kekar atau sesar. Kemudian pertimbangan yang seksama
dalam mengevaluasi formasi batuan juga akan sangat membantu dalam mengambil
keputusan terhadap stabilitas pondasi pada lokasi-lokasi tertentu. Jika dari
pertimbangan berdasarkan geologi teknik sudah dapat diambil kesimpulan tentang
penempatan lokasi jembatan, maka tahap berikutnya adalah menghitung data daya
dukung tanah berdasarkan hasil pengujian laboratorium atas titik-titik bor yang
diperoleh dari lapangan.

3.3.1 Daya Dukung Pondasi Dangkal

Yang dimaksudkan dengan pondasi dangkal adalah pondasi langsung


(kedalaman tanah keras < 4.00 m) dan pondasi sumuran (kedalaman tanah
keras 4-8 m).

Pada pondasi langsung yang harus dihitung terlebih dahulu adalah daya
dukung ijin tanah di dasar abutmen jembatan yang didapat dari analisis daya
dukung pondasi dangkal pada elevasi dasar dari abutmen jembatan. Daya
dukung ijin tanah di dasar abutmen jembatan yang sering dijumpai pada

3-6
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

perhitungan pondasi langsung adalah sekitar 200 kPa atau sama dengan 20
t/m2 = 2.0 kg/cm2.

Pada pondasi langsung tipe gravitasi (pasangan batu kali), beban-beban


yang bekerja pada jembatan diteruskan ke dasar pondasi langsung. Jika
daya dukung ijin tanah di dasar pondasi = 200 kPa maka tegangan
maksimum yang terjadi pada dasar pondasi harus < 200 kPa, selain itu
abutment jembatan harus memenuhi persyaratan kestabilan terhadap guling
dan kestabilan terhadap geser dengan faktor keamanan tertentu (misalnya
2.2) jika beban-beban kerja dan kombinasinya diberlakukan.

Pada pondasi sumuran, beban-beban yang bekerja pada jembatan


diteruskan ke dasar pondasi sumuran. Daya dukung ijin tanah di dasar
sumuran yang sering dijumpai pada perhitungan pondasi sumuran dengan
kedalaman 8 m adalah sekitar 1000 kPa atau sama dengan 100 t/m2 = 10.0
kg/cm2. Jika daya dukung ijin tanah di dasar pondasi sumuran = 1000 kPa
maka tegangan maksimum yang terjadi pada dasar pondasi sumuran harus
< 1000 kPa, selain itu pondasi sumuran harus memenuhi persyaratan
kestabilan terhadap guling dan kestabilan terhadap geser dengan faktor
keamanan tertentu (misalnya 2.2), tidak terjadi tegangan tarik pada dasar
sumuran serta memenuhi persyaratan-persyaratan penurunan jika beban-
beban kerja dan kombinasinya diberlakukan.

Pada penjelasan di atas diambil contoh daya dukung tanah pada kedalaman
4 m dan 8 m. Pertanyaannya sekarang, bagaimana mendapatkan daya
dukung tanah pada kedalaman-kedalaman dimaksud atau secara umum
kedalaman tanah pada pondasi dangkal?. Untuk menghitung daya dukung
tanah pada pondasi dangkal, gunakan persamaan Terzaghi. Berikut ini
diberikan contoh perhitungan daya dukung pondasi dangkal.

Soal:

Hitunglah daya dukung tanah pondasi berbentuk bujur sangkar dengan sisi =
B, jika diketahui kedalaman pondasi D = 1.20 m, safety factor (SF) = 3 untuk
mendapatkan tegangan ijin qa , dengan data-data tanah yang diperoleh dari
”undrained U triaxial test” adalah :  = 17.30 kN/m3,  = 20o, c = 20 kPa.

Jawaban:

3-7
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Permukaan tanah asli

D = 1.20 m

B
Pada data laboratorium terdapat  = 20o , jadi berarti tanah tidak jenuh.

Pondasi berbentuk bujur sangkar, maka persamaan yang dipakai yang


diturunkan dari persamaan Terzaghi adalah:

qu = 1,3.c.Nc + po.Nq + 0,40. .B.N ....... (lihat Bab 2 Sub Bab 2.3
halaman 2-14)

Dari Tabel 2-1 (Bab2) dengan  = 20o, diperoleh Nc = 17.7, Nq = 7.4 dan N
= 5.0.

qu = 1.3 x 20 x 17.7 + 1.20 x 17.30 x 7.40 + 0.40 x 17.30 x B x 5

= (613.8 + 34.6 B) kPa.

qa = qu / SF = (613.8 + 34.6 B)/3 kPa = (205 + 11.5 B) kPa.

Untuk menyelesaikaan perhitungan di atas, Joseph E. Bowles dalam


bukunya “Foundationn Analysis and Design” menyarankan penggunaan
faktor reduksi r sebagai berikut:

B
r  1  0.25log   ...... dimana B  2 m dan k = 2
k

Untuk memudahkan perhitungan, persamaan tersebut dapat ditabelkan


sebagai berikut:

B= 2m 2.5 m 3m 3.5 m 4m 5m 10 m 20 m 100 m

r = 1 0.97 0.95 0.93 0.92 0.90 0.82 0.75 0.57

Dari qa = (205 + 11.5 B) kPa, perkirakan B mempunyai nilai antara 1.5 – 3.0
m dan pada nilai B = 3.0 m, r = 0.95.

qa = (205 + 11.5 B) kPa = 205 + 11.5 x 1.5 = 220 kPa.

qa = (205 + 11.5 B) kPa = 205 + 11.5 x 0.95 x 3 = 240 kPa.

3-8
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Dari hasil perhitungan di atas, nilai qa yang direkomendasikan adalah antara


200 – 220 kPa (bandingkan dengan data dukung ijin tanah di dasar pondasi
langsung yaitu = 200 kPa). Dengan contoh perhitungan ini jelas bahwa untuk
menentukan daya dukung ijin tanah pada perencanaan pondasi langsung
tidak digunakan data sondir, akan tetapi properties tanah yang diperoleh dari
pengujian laboratorium meskipun pada awalnya lokasi penempatan dasar
pondasi langsung diperoleh dari data sondir.

3.3.2 Daya Dukung Pondasi Dalam

Yang dimaksudkan dengan pondasi dalam adalah pondasi yang diletakkan


pada tanah keras dengan kedalaman > 8.00 m dihitung mulai dari elevasi
tanah asli. Jenis pondasi yang lazim digunakan untuk pondasi dalam adalah
pondasi tiang pancang dan pondasi tiang bor. Pondasi tiang pancang pada
umumnya diperhitungkan dengan menggunakan data tekanan konus
(kg/cm2) dan jumlah hambatan pelekat (kg/cm2) yang diperoleh dari hasil
sondir. Tekanan konus dan jumlah hambatan pelekat mewakili daya dukung
tanah dalam memikul beban-beban yang bekerja pada jembatan, prinsipnya
tegangan ijin tanah (yang direpresentasikan oleh tekanan konus dan jumlah
hambatan pelekat) pada area pondasi (luas tanah pada ujung tiang pancang
dan luas tanah pada sekeliling tiang pancang yang “mengcreate” hambatan
pelekat pada saat pemancangan tiang) dibagi dengan safety factor (SF
biasanya diambil = 3) masih lebih besar dibandingkan dengan tegangan
yang harus dipikul oleh tanah akibat beban-beban yang bekerja pada
jembatan. Selain itu daya dukung pondasi dalam juga dapat dihitung dengan
persamaan Meyerhof yang data properties tanahnya diperoleh dari hasil
pengujian laboratorium atas data-data titik bor yang data lapangannya
diambil pada waktu pelaksanaan pekerjaan sondir dan bor. Contoh yang
diberikan di sini adalah perhitungan daya dukung yang didasarkan atas data
sondir.

Daya dukung tanah berdasarkan data sondir

Dengan data sondir pada Gambar 3-2, direncanakan pondasi tiang pancang
ukuran 35 x 35 cm2, dipancang secara individual pada kedalaman 23 m dari
permukaan tanah asli. Beban maksimum yang boleh terjadi pada tiang
pancang tersebut = daya dukung tanah terhadap 1 tiang pancang berasal
dari tekanan konus pada kedalaman 23 m + hambatan pelekat pada tiang di
seluruh panjang tiang. Lihat persamaan tersebut di bawah:

3-9
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Atp . pkonus Otp . phamb  plkt


Qtp  
3 5
dimana:
Qtp = beban maksimum pada tiang jika ditinjau terhadap daya dukung tanah.
Atp = luas potongan melintang tiang pancang.
pkonus = tekanan konus berdasarkan data sondir pada kedalaman tiang
pancang akan diletakkan sesuai perencanaan.
Otp = keliling potongan tiang pancang.
phamb-plkt = jumlah hambatan pelekat pada kedalaman sesuai dengan ujung
tiang pancang direncanakan akan diletakkan sesuai perencanaan

55 kg/cm2

610 kg/cm2

Dari Titik
Bor

Gambar 3-3 Ujung Tiang Pancang


Diposisikan Pada Kedalaman 23 m

3-10
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Jika data-data yang terdapat pada hasil sondir dimasukkan, maka akan
diperoleh beban maksimum yang dapat diberikan pada tiang pancang tanpa
mengakibatkan keruntuhan tanah pondasi sebagai berikut:

35.35.55 4.35.610
Qtp    39.538kg  39.6ton
3 5

Jika diketahui bahwa tiang pancang berukuran 35 x 35 cm2 tersebut


mempunyai penulangan sebanyak 8  25 mm, maka Atiang = 35x35 +
nx8xx(2.5/2)2= 35x35 + 15x8xx(2.5/2)2= 1.814 cm2.

Ambil tegangan ijin beton yang relatif rendah misalnya 50 kg/cm2, maka
berdasarkan kekuatan bahan beton, Qtp = 50 x 1.814 kg = 90.700 kg = 90.70
ton, jauh di atas 39.6 ton yang diperhitungkan terhadap daya dukung tanah.
Dari angka 90.70 ton tersebut berat sendiri tiang beton = 0.35 x 0.35 x 23 x
2.5 ton = 7.04 ton. Jadi kalau tiang pancang beton tersebut dipancang
sampai kedalaman 23 m, agar tiang tersebut tidak mengakibatkan
keruntuhan tanah pondasi, maksimum beban sentris yang dapat diletakkan
di atas tiang pancang = 39.6 ton – 7.04 ton = 32.56 ton.

Perhitungan tiang pancang pada prinsipnya mengenal adanya point bearing


piles, friction piles atau kombinasi dari keduanya. Dalam perhitungan tiang
pancang yang sebenarnya, jarang sekali kita dapatkan tiang pancang yang
berdiri sendiri sebagai single pile, akan tetapi yang sering kita jumpai adalah
perhitungan tiang pancang dalam bentuk piles group. Piles group ini
menganggap kelompok tiang sebagai satu kesatuan, namun mempunyai
karakteristik yang berbeda antara point bearing piles dengan friction piles.
Pada point bearing piles kemampuan tiang dalam kelompok tiang sama
dengan kemampuan tiang secara individual. Sedangkan pada friction piles,
daya dukung kelompok tiang diperhitungkan sebagai berikut:

Qt 1
Qklp    .N c . Aklp  ( B  L).l. 
3 3
dimana:
Qklp = daya dukung yang diijinkan pada kelompok tiang
Qt = daya dukung keseimbangan pada kelompok tiang
3 = safety factor.
 = kekuatan geser tanah
Nc = faktor daya dukung
Aklp = luas kelompok tiang = B x L
B = lebar kelompok tiang
L = panjang kelompok tiang

3-11
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

l = kedalaman tiang pancang


3.4. Penetapan Jenis Pondasi

Pertimbangan pertama dalam menetapkan jenis pondasi adalah mengetahui dimana


letak tanah keras di bawah abutment dan pilar. Dari letak kedalaman tanah keras
tersebut dapat ditetapkan apakah akan dipilih pondasi dangkal (sampai dengan
kedalaman 8.00 m) ataukah pondasi dalam (> 8.00 m). Berikut ini diberikan jenis-
jenis pondasi baik pondasi dangkal mauopun pondasi dalam yang dicakup di dalam
Spesifikasi Umum Tahun 2007, Divisi 7 Struktur. Uraian yang dicakup dalam
penjelasan ini diambil dari Divisi 7, diharapkan bagi ahli perencanaan teknis
jembatan untuk memahaminya dengan seksama agar dapat digunakan sebagai
bahan pertimbangan dalam menetapkan jenis-jenis pondasi jembatan. Desain
pondasi disarankan mengacu pqada ketentuan teknis yang diatur dalam Spesifikasi
agar perencana tidak perlu membuat Spesifikasi Khusus karena desainnya di luar
cakupan Spesifikasi yang ada.

3.4.1 Pondasi Dangkal

A. Pondasi Langsung

Pondasi langsung pada umumnya digunakan untuk abutment tipe


gravitasi. Abutment jembatan tipe gravitasi ini diasumsikan terbuat dari
pasangan batu dan dudukan struktur atas jembatan terbuat dari beton
struktural.

Lihat sketsa berikut:

Beton Struktural

Batu Kali

Gambar 3-4 Abutment Tipe Gravitasi – Pondasi Langsung

3-12
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Persyaratan-persyaratan tentang beton struktur dan pasangan batu kali


mengacu pada Spesifikasi.

B. Pondasi Sumuran

Gelagar Bangunan
Atas Jembatan

Pilar Jembatan

Pondasi Sumuran Pondasi Sumuran

Gambar 3-5 Contoh Pondasi Sumuran Pada Jembatan 2 x 2 Lajur


(Catatan: Hanya diambil potongan untuk 1 jembatan di sebelah kiri)

3-13
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Dinding sumuran dibuat dari beton bertulang. Pekerjaan beton dan baja
tulangan harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Spesifikasi.
Kecuali jika ditunjukkan lain dalam Gambar, maka mutu beton adalah fc’=
20 MPa atau K-250 dan mutu baja BJ24. Kecuali jika ditunjukkan lain
dalam Gambar, maka bahan pengisi fondasi sumuran adalah beton
siklop yang harus memenuhi ketentuan dalam Spesifiikasi.

Fondasi sumuran harus dibuat memenuhi ketentuan dimensi dan


fungsinya, dengan mempertimbangkan kondisi pelaksanaan yang
diberikan.

Unit beton pracetak harus dicor pada landasan pengecoran yang


sebagaimana mestinya. Cetakan harus memenuhi garis dan elevasi
yang tepat dan terbuat dari logam. Cetakan harus kedap air dan tidak
boleh dibuka paling sedikit 3 hari setelah pengecoran. Unit beton
pracetak yang telah selesai dikerjakan harus bebas dari segregasi,
keropos, atau cacat lainnya dan harus memenuhi dimensi yang
disyaratkan. Unit beton pracetak tidak boleh digeser sebelum 7 hari
setelah pengecoran, atau sampai pengujian menunjukkan bahwa kuat
tekan beton telah mencapai 70 persen dari kuat tekan beton rancangan
dalam 28 hari. Unit beton pracetak tidak boleh diangkut atau dipasang
sampai beton tersebut mengeras paling sedikit 14 hari setelah
pengecoran, atau sampai pengujian menunjukkan kuat tekan mencapai
85% dari kuat tekan rancangan dalam 28 hari.

Beton pracetak yang pertama dibuat harus ditempatkan sebagai unit


yang terbawah. Bilamana beton pracetak yang pertama dibuat telah
diturunkan, beton pracetak berikutnya harus dipasang di atasnya dan
disambung sebagimana mestinya dengan adukan semen untuk
memperoleh kekakuan dan stabilitas yang diperlukan. Penurunan dapat
dilanjutkan 24 jam setelah penyambungan selesai dikerjakan.

Cetakan untuk dinding sumuran yang dicor di tempat harus memenuhi


garis dan elevasi yang tepat, kedap air dan tidak boleh dibuka paling
sedikit 3 hari setelah pengecoran. Beton harus dicor dan dirawat sesuai
dengan ketentuan dari Spesifikasi ini. Penurunan tidak boleh dimulai
paling sedikit 7 hari setelah pengecoran atau sampai pengujian
menunjukkan bahwa kuat tekan beton mencapai 70% dari kuat tekan
rancangan dalam 28 hari.

3-14
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Beton siklop yang diisikan pada Fondasi Sumuran sesuai dengan


ketentuan dalam Spesifikasi.

Bilamana penggalian dan penurunan fondasi sumuran dilaksanakan,


perhatian khusus harus diberikan untuk hal-hal berikut ini :

 Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan aman, teliti, mematuhi


undang-undang keselamatan kerja, dan sebagainya.

 Penggalian hanya boleh dilanjutkan bilamana penurunan telah


dilaksanakan dengan tepat dengan memperhatikan pelaksanaan dan
kondisi tanah. Gangguan, pergeseran dan gonjangan pada dinding
sumuran harus dihindarkan selama penggalian.

 Dinding sumuran umumnya diturunkan dengan cara akibat beratnya


sendiri, dengan menggunakan beban tambahan (superimposed
loads), dan mengurangi ketahanan geser (frictional resistance), dan
Bilamana ketahanan geser diperkirakan cukup besar pada saat
penurunan dinding sumuran, maka disarankan untuk melakukan
upaya untuk mengurangi geseran antara dinding luar sumuran
dengan tanah disekelilingnya.sebagainya.

Dalam pembuatan sumbat dasar sumuran, perhatian khusus harus


diberikan untuk hal-hal berikut ini :

 Pengecoran beton dalam air umumnya harus dilaksanakan dengan


cara tremi atau pompa beton setelah yakin bahwa tidak terdapat
fluktuasi muka air dalam sumuran;

 Air dalam sumuran umumnya tidak boleh dikeluarkan setelah


pengecoran beton untuk sumbat dasar sumuran.

Sumuran harus diisi dengan beton siklop fc’ 15 MPa atau K-175 sampai
elevasi satu meter di bawah fondasi telapak. Sisa satu meter tersebut
harus diisi dengan beton fc’ 20 MPa atau K-250, atau sebagaimana yang
ditunjukkan dalam Gambar.

Dinding penahan rembesan (cut-off wall) harus kedap air dan harus
mampu menahan gaya-gaya dari luar seperti tekanan tanah dan air
selama proses penurunan dinding sumuran, dan harus ditarik setelah
pelaksanaan sumuran selesai dikerjakan

3-15
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Bagian atas dinding sumuran yang telah terpasang yang lebih tinggi dari
sisi dasar fondasi telapak harus dibongkar. Pembongkaran harus
dilaksanakan dengan menggunakan alat pemecah bertekanan
(pneumatic breakers). Peledakan tidak boleh digunakan dalam setiap
pembongkaran ini. Baja tulangan yang diperpanjang masuk ke dalam
fondasi telapak harus mempunyai panjang paling sedikit 40 kali diameter
tulangan.

Dalam melaksanakan pembuatan fondasi sumuran, standar keselamatan


yang tinggi harus digunakan untuk para pekerja dengan ketat mematuhi
undang-undang dan peraturan yang berkaitan.

3.4.2 Pondasi Dalam

A. Pondasi Tiang Pancang Beton Bertulang Pracetak / Tiang Pancang


Beton Prategang Pracetak

Gambar 3-6 Contoh Pondasi Tiang Pancang

3-16
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Tiang pancang harus dirancang, dicor dan dirawat untuk memperoleh


kekuatan yang diperlukan sehingga tahan terhadap pengangkutan,
penanganan, dan tekanan akibat pemancangan tanpa kerusakan. Tiang
pancang segi empat harus mempunyai sudut-sudut yang ditumpulkan.
Pipa pancang berongga (hollow piles) harus digunakan bilamana panjang
tiang yang diperlukan melebihi dari biasanya.

Baja tulangan harus disediakan untuk menahan tegangan yang terjadi


akibat pengangkatan, penyusunan dan pengangkutan tiang pancang
maupun tegangan yang terjadi akibat pemancangan dan beban-beban
yang didukung. Selimut beton tidak boleh kurang dari 40 mm dan
bilamana tiang pancang terekspos terhadap air laut atau pengaruh korosi
lainnya, selimut beton tidak boleh kurang dari 75 mm.

Penyambungan tiang pancang harus dihindarkan bilamana


memungkinkan. Bilamana penyambungan tiang pancang tidak dapat
dihindarkan, Penyedia Jasa harus menyerahkan metode penyambungan
kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapat persetujuan. Tidak ada
pekerjaan penyambungan tiang pancang sampai metode penyambungan
disetujui secara tertulis dari Direksi Pekerjaan.

Perpanjangan tiang pancang beton pracetak dilaksanakan dengan


penyambungan tumpang tindih (overlap) baja tulangan. Beton pada
kepala tiang pancang akan dipotong hingga baja tulangan yang tertinggal
mempunyai panjang paling sedikit 40 kali diameter tulangan.
Perpanjangan tiang pancang beton harus dilaksanakan dengan
menggunakan baja tulangan yang sama (mutu dan diameternya) seperti
pada tiang pancang yang akan diperpanjang. Baja spiral harus dibuat
dengan tumpang tindih sepanjang 2 kali lingkaran penuh dan baja
tulangan memanjang harus mempunyai tumpang tindih minimum 40 kali
diameter. Bilamana perpanjangan melebihi 1,50 m, acuan harus dibuat
sedemikian hingga tinggi jatuh pengecoran beton tak melebihi 1,50 m.
Sebelum pengecoran beton, kepala tiang pancang harus dibersihkan dari
semua bahan lepas atau pecahan dan kotoran lain, dibasahi sampai
merata dan diberi adukan semen yang tipis. Mutu beton yang digunakan
sekurang-kurangnya harus beton dengan fc’= 35 MPa atau K-400.
Semen yang digunakan harus dari mutu yang sama dengan yang dipakai
pada tiang pancang yang akan disambung, kecuali diperintahkan lain
oleh Direksi Pekerjaan. Acuan tidak boleh dibuka sekurang-kurangnya 7

3-17
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

hari setelah pengecoran. Perpanjangan tiang pancang harus dirawat dan


dilindungi dengan cara yang sama seperti tiang pancang yang akan
disambung. Bilamana tiang pancang akan diperpanjang setelah operasi
pemancangan, kepala tiang pancang direncanakan tertanam dalam pur
(pile cap), maka perpanjangan baja tulangan yang diperlukan harus
seperti yang ditunjukkan dalam Gambar. Bilamana tidak disebutkan
dalam Gambar, maka panjang tumpang tindih baja tulangan harus 40 kali
diameter untuk tulangan memanjang, kecuali diperintahkan lain oleh
Direksi Pekerjaan.

Tiang pancang harus dilengkapi dengan sepatu yang datar atau


mempunyai sumbu yang sama (co-axial), jika dipancang masuk ke dalam
atau menembus jenis tanah seperti batu, kerikil kasar, tanah liat dengan
berangkal, dan tanah jenis lainnya yang mungkin dapat merusak ujung
tiang pancang beton. Sepatu tersebut dapat terbuat dari baja atau besi
tuang. Untuk tanah liat atau pasir yang seragam, sepatu tersebut dapat
ditiadakan. Luas ujung sepatu harus sedemikian rupa sehingga tegangan
dalam beton pada bagian tiang pancang ini masih dalam batas yang
aman seperti yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Tiang pancang dibuat dan dirawat sesuai dengan ketentuan dari


Spesifikasi. Waktu yang diijinkan untuk memindahkan tiang pancang
harus ditentukan dari hasil uji empat buah benda uji yang telah dibuat
dari campuran yang sama dan dirawat dengan cara yang sama seperti
tiang pancang tersebut. Tiang pancang tersebut dapat dipindahkan
bilamana pengujian kuat tekan pada keempat benda uji menunjukkan
kekuatan yang lebih besar dari tegangan yang terjadi pada tiang pancang
pada saat dipindahkan, ditambah dampak dinamis yang diperkirakan dan
dikalikan dengan faktor keamanan, semuanya harus berdasarkan
persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Ruas tiang pancang yang akan
terekspos untuk pemancangan yaitu tiang-tiang rangka pendukung, harus
diselesaikan. Tidak ada tiang pancang yang akan dipancang sebelum
berumur paling sedikit 28 hari atau telah mencapai kekuatan minimum
yang disyaratkan. Acuan samping dapat dibuka 24 jam setelah
pengecoran beton, tetapi seluruh tiang pancang tidak boleh digeser
dalam waktu 7 hari setelah pengecoran beton, atau lebih lama
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Perawatan
harus dilaksanakan selama 7 hari setelah dicor dengan mempertahankan

3-18
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

tiang pancang dalam kondisi basah selama jangka waktu tersebut.


Selama operasi pengangkatan, tiang pancang harus didukung pada titik
seperempat panjangnya atau sebagaimana yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan. Bilamana tiang pancang tersebut akan dibuat 1,5 m
lebih panjang dari pada panjang yang disebutkan dalam Gambar, Direksi
Pekerjaan akan memerintahkan menggunakan baja tulangan dengan
diameter yang lebih besar dan/atau memakai tiang pancang dengan
ukuran yang lebih besar dari yang ditunjukkan dalam Gambar. Setiap
tiang harus ditandai dengan tanggal pengecoran dan panjang, ditulis
dengan jelas di dekat kepala tiang pancang. Penyedia Jasa dapat
menggunakan semen yang cepat mengeras untuk membuat tiang
pancang bila disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Penyedia Jasa harus
memberitahu secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan atas penggunaan
jenis dan pabrik pembuat semen yang diusulkan. Semen yang demikian
tidak boleh digunakan sebelum disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Periode
dan ketentuan perlindungan sebelum pemancangan harus sebagaimana
yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

Beton harus dikupas sampai pada elevasi yang sedemikian sehingga


beton yang tertinggal akan masuk ke dalam pur (pile cap) sedalam 50
mm sampai 100 mm atau sebagaimana ditunjukkan di dalam Gambar.
Untuk tiang pancang beton bertulang, baja tulangan yang tertinggal
setelah pengupasan harus cukup panjang sehingga dapat diikat ke dalam
pile cap dengan baik seperti yang ditunjukkan dalam Gambar. Untuk
tiang pancang beton prategang, panjang kawat prategang yang tertinggal
setelah pengupasan harus dimasukkan ke dalam pile cap paling sedikit
600 mm. Penjangkaran ini harus dilengkapi, jika perlu, dengan baja
tulangan yang di cor ke dalam bagian atas tiang pancang. Sebagai
alternatif, pengikatan dapat dihasilkan dengan baja tulangan lunak yang
di cor ke dalam bagian atas dari tiang pancang pada saat pembuatan.
Pengupasan tiang pancang beton harus dilakukan dengan hati-hati untuk
mencegah terjadinya pecah atau kerusakan lainnya pada sisa tiang
pancang. Setiap beton yang retak atau cacat harus dipotong dan
diperbaiki dengan beton baru yang direkatkan sebagaimana mestinya
dengan beton yang lama. Sisa bahan potongan tiang pancang, yang
menurut pendapat Direksi Pekerjaan, tidak perlu diamankan, harus
dibuang sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan.

3-19
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

B. Pondasi Tiang Pancang Baja Struktur / Tiang Pancang Pipa Baja

Pada umumnya, tiang pancang baja struktur berupa profil baja gilas
biasa, pipa baja dan kotak dapat digunakan. Bilamana tiang pancang
pipa atau kotak digunakan, dan akan diisi dengan beton, mutu beton
tersebut minimum harus fc’= 20 MPa atau K-250

Bilamana korosi pada tiang pancang baja mungkin dapat terjadi, maka
panjang atau ruas-ruasnya yang mungkin terkena korosi harus dilindungi
dengan pengecatan menggunakan lapisan pelindung yang telah disetujui
dan/atau digunakan logam yang lebih tebal bilamana daya korosi dapat
diperkirakan dengan akurat dan beralasan. Umumnya seluruh panjang
tiang baja yang terekspos, dan setiap panjang yang tertanam dalam
tanah yang terganggu di atas muka air terendah, harus dilindungi dari
korosi.

Sebelum pemancangan, kepala tiang pancang harus dipotong tegak


lurus terhadap panjangnya dan topi pemancang (driving cap) harus
dipasang untuk mempertahankan sumbu tiang pancang segaris dengan
sumbu palu. Setelah pemancangan, pelat topi, batang baja atau pantek
harus ditambatkan pada pur, atau tiang pancang dengan panjang yang
cukup harus ditanamkan ke dalam pur (pile cap).

Perpanjangan tiang pancang baja harus dilakukan dengan pengelasan.


Pengelasan harus dikerjakan sedemikian rupa hingga kekuatan
penampang baja semula dapat ditingkatkan. Sambungan harus
dirancang dan dilaksanakan dengan cara sedemikian hingga dapat
menjaga alinyemen dan posisi yang benar pada ruas-ruas tiang pancang.
Bilamana tiang pancang pipa atau kotak akan diisi dengan beton setelah
pemancangan, sambungan yang dilas harus kedap air.

Pada umumnya sepatu tiang pancang tidak diperlukan pada profil H atau
profil baja gilas lainnya. Namun bilamana tiang pancang akan dipancang
di tanah keras, maka ujungnya dapat diperkuat dengan menggunakan
pelat baja tuang atau dengan mengelaskan pelat atau siku baja untuk
menambah ketebalan baja. Tiang pancang pipa atau kotak dapat juga
dipancang tanpa sepatu, tetapi bilamana sepatu tiang diperlukan, maka
sepatu tiang ini dapat dikerjakan dengan cara mengelaskan pelat datar
atau yang dibentuk sedemikian rupa dari pelat baja dengan mutu yang
sama atau baja fabrikasi.

3-20
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

C. Pondasi Tiang Bor Beton

Contoh bahan yang digali harus disimpan untuk semua tiang bor.
Pengujian penetrometer untuk bahan di lapangan harus dilakukan
selama penggalian dan pada dasar tiang bor sesuai dengan yang diminta
oleh Direksi Pekerjaan. Pengambilan contoh bahan ini harus selalu
dilakukan pada tiang bor pertama dari tiap kelompok.

Lubang-lubang harus di bor sampai kedalaman seperti yang ditunjukkan


dalam Gambar atau ditentukan berdasarkan pengujian hasil pengeboran.
Semua lubang harus diperiksa, bilamana diameter dasar lubang kurang
dari setengah diameter yang ditentukan, pekerjaan tersebut akan ditolak.
Sebelum pengecoran beton, semua lubang tersebut harus ditutup
sedemikian rupa hingga keutuhan lubang dapat terjamin. Dasar selubung
(casing) harus dipertahankan tidak lebih dari 1,5 m dan tidak kurang dari
300 mm di bawah permukaan beton selama penarikan dan operasi
penempatan, kecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan. Sampai
kedalaman 3 m dari permukaan beton yang dicor harus digetarkan
dengan alat penggetar. Sebelum pengecoran, semua bahan lepas yang
terdapat di dalam lubang bor harus dibersihkan. Air bekas pengeboran
tidak diperbolehkan masuk ke dalam lubang. Sebelum pengecoran,
semua air yang terdapat dalam lubang bor harus dipompa keluar.
Selubung (casing) harus digetarkan pada saat pencabutan untuk
menghindari menempelnya beton pada dinding casing. Pengecoran
beton dan pemasangan baja tulangan tidak diijinkan sebelum mendapat
persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

Pengecoran beton harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang


diatur di dalam Spesifikasi. Dimanapun beton digunakan harus di cor ke
dalam suatu lubang yang kering dan bersih. Beton harus di cor melalui
sebuah corong dengan panjang pipa (tremi). Pengaliran harus diarahkan
sedemikian rupa hingga beton tidak menimpa baja tulangan atau sisi-sisi
lubang. Beton harus di cor secepat mungkin setelah pengeboran dimana
kondisi tanah kemungkinan besar akan tidak stabil akibat terekspos.
Bilamana elevasi akhir pemotongan berada di bawah elevasi muka air
tanah, tekanan harus dipertahankan pada beton yang belum mengeras,
sama dengan atau lebih besar dari tekanan air tanah, sampai beton
tersebut selesai mengeras.

3-21
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Apabila dilakukan pengecoran beton di dalam air atau lumpur


pengeboran, semua bahan lunak dan bahan lepas pada dasar lubang
harus dihilangkan dan cara tremi yang telah disetujui harus digunakan.
Cara tremi harus mencakup sebuah pipa yang diisi dari sebuah corong di
atasnya. Pipa harus diperpanjang sedikit di bawah permukaan beton baru
dalam tiang bor sampai di atas elevasi air/lumpur. Bilamana beton
mengalir keluar dari dasar pipa, maka corong harus diisi lagi dengan
beton sehingga pipa selalu penuh dengan beton baru. Pipa tremi harus
kedap air, dan harus berdiameter paling sedikit 150 mm. Sebuah sumbat
harus ditempatkan di depan beton yang dimasukkan pertama kali dalam
pipa untuk mencegah pencampuran beton dan air.

Pada umumnya tiang bor harus dicor sampai kira-kira satu meter di atas
elevasi yang akan dipotong. Semua beton yang lepas, kelebihan dan
lemah harus dikupas dari bagian puncak tiang bor dan baja tulangan
yang tertinggal harus mempunyai panjang yang cukup sehingga
memungkinkan pengikatan yang sempurna ke dalam pur atau struktur di
atasnya.

Tiang bor harus dibentuk dengan cara dan urutan sedemikian rupa
hingga dapat dipastikan bahwa tidak terdapat kerusakan yang terjadi
pada tiang bor yang dibentuk sebelumnya. Tiang bor yang cacat dan di
luar toleransi harus diperbaiki atas biaya Penyedia Jasa.

3-22
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

RANGKUMAN

a. Bab 3 modul Perencanaan Pondasi Jembatan ini menguraikan penentuan kedalaman


tanah keras, penggunaan data daya dukung tanah dan geologi teknik dan penetapan
jenis pondasi jembatan.

b. Penentuan kedalaman tanah keras dimaksudkan untuk memilih jenis pondasi jembatan,
apakah harus membuat pondasi dangkal atau pondasi dalam. Untuk dapat mengetahui
kedalaman tanah keras, diperlukan data sondir dan data bor di lokasi rencana
penempatan abutment dan pilar jembatan. Di lokasi abutment, disarankan untuk diambil
2 titik sondir dan 1 titik bor, sedangkan di lokasi pilar di sungai diambil 4 sondir dan 1
titik bor. Dari data sondir, indikasi tanah keras dapat dilihat pada data tekanan konus
yang menunjukkan angka 150 kg/cm2.

c. Penggunaan data daya dukung tanah dan geologi teknik dimaksudkan bagaimana
menggunakan data sondir (tekanan konus dan jumlah hambatan pelekat) dan data bor
(pengujian laboratorium dari data lapangan) untuk memperhitungkan daya dukung tanah
pondasi. Untuk perhitungan daya dukung tanah pada pondasi dangkal, pada umumnya
digunakan persamaan-persamaan Terzaghi (catatan: dapat juga menggunakan
persamaan Meyerhof yang dapat digunakan untuk perhitungan daya dukung pondasi
dangkal maupun pondasi dalam). Untuk memberikan gambaran perbandingan yang
lebih konkrit, daya dukung tanah untuk pondasi langsung (kedalaman  4.00 m) minimal
sekitar 200 kPa, untuk pondasi sumuran (kedalaman < 8.00 m) minimal sekitar 1000
kPa, sedangkan untuk pondasi tiang pancang daya dukung tanah pada point bearing
piles = 150 kg/cm2 = 15000 kPa = 15 Mpa. Penggunaan data konus yang diperoleh dari
data sondir biasanya dikoreksi dengan faktor keamanan = 3, sedangkan data jumlah
hambatan pelekat dikoreksi dengan faktor keamanan = 5.

d. Pada uraian tentang penetapan jenis pondasi jembatan, dijelaskan batasan-batas yang
berkaitan dengan pertimbangan, bagaimana kita sampai pada keputusan memilih
pondasi langsung, pondasi sumuran, pondasi tiang pancang beton bertulang pracetak /
tiang pancang beton prategang pracetak, pondasi tiang pancang baja struktur / tiang
pancang pipa baja, atau pondasi tiang bor beton. Pemilihan jenis pondasi berkaitan
dengan bahan yang digunakan, oleh karena itu persyaratan tentang bahan untukn
pondasi harus terlebih dahulu oleh perencana sebelum membuat perencanaan teknis.

3-23
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI

Latihan atau penilaian mandiri menjadi sangat penting untuk mengukur diri atas tercapainya
tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh para pengajar/ instruktur, maka pertanyaan
dibawah perlu dijawab secara cermat, tepat dan terukur.

Kode/ Judul Unit Kompetensi :


INA.5212.113.01.05.07 : Merencanakan pondasi jembatan

Soal :

Jawaban:
Elemen Kompetensi / Apabila ”Ya”
No. KUK (Kriteria Unjuk Pertanyaan sebutkan butir-
Kerja) Ya Tdk
butir kemampuan
anda
1. Menganalisis data Sudah dibuat soalnya di
geologi teknik dan Bab 2
penyelidikan tanah.

2. Memilih jenis pondasi


jembatan

2.1. Kedalaman tanah 2.1. Apakah anda mampu a. .........................


keras ditentukan menentukan
b. .........................
sebagai bahan kedalaman tanah
masukan dalam keras sebagai bahan c. .........................
memilih tipe pondasi masukan dalam dst.
jembatan memilih tipe pondasi
jembatan?

2.2. Data daya dukung 2.2. Apakah anda mampu a. .........................


tanah dan geologi memilih jenis pondasi
b. .........................
teknik digunakan jembatan dengan
untuk memilih jenis menggunakan data c. .........................
pondasi jembatan daya dukung tanah dst.
dan geologi teknik?

2.3. Jenis pondasi 2.3. Apakah anda mampu a. .........................


jembatan ditetapkan menetapkan jenis
b. .........................
sesuai dengan pondasi jembatan
persyaratan teknis sesuai dengan c. .........................
yang ditentukan persyaratan teknis dst.
yang ditentukan?

3-24
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

BAB 4
PERENCANAAN PONDASI JEMBATAN SESUAI
DENGAN JENIS YANG DIPILIH

4.1. Umum

Bab ini menjelaskan perencanaan pondasi jembatan sesuai dengan jenis yang
dipilih, mencakup penerapan kriteria desain pondasi, penerapan ketentuan
pembebanan jembatan dan perhitungan perencanaan pondasi.

Penerapan kriteria desain pondasi menjelaskan kriteria desain yang digunakan


untuk desain pondasi sumuran, desain pondasi tiang pancang beton bertulang
pracetak / tiang pancang beton prategang pracetak, desain pondasi tiang pancang
baja struktur / tiang pancang pipa baja dan desain pondasi tiang bor beton.
Penerapan ketentuan pembebanan jembatan, dimulai dengan memilih, standar
pembebanan yang mana yang akan digunakan dalam perencanaan pondasi
jembatan. Atas dasar standar pembebanan yang telah dipilih tersebut, bridge design
engineer menyusun tata urut proses perhitungan, dengan memperhitungkan seluruh
beban-beban yang bekerja beserta kombinasinya yang mempunyai pengaruh paling
tinggi dalam perhitungan perencanaan pondasi jembatan serta kapasitas dukung
tanah dalam memikul seluruh kombinasi beban kerja yang berasal dari jembatan.
Seluruh beban tersebut kemudian dibuat resultantenya menjadi gaya vertikal, gaya
horizontal dan momen lentur yang bekerja pada kepala tiang pancang atau pondasi
sumuran, tergantung jenis pondasi yang dipilih.
Perhitungan dan perencanaan pondasi jembatan, merupakan perhitungan yang
didasarkan atas beban mati, beban hidup, tekanan tanah dan gaya-gaya lain yang
disusun secara terstruktur mengikuti proses perhitungan sebagaimana ditentukan di
dalam pedoman pembebanan jembatan jalan raya yang digunakan. Ada 2 jenis
pondasi yang akan diberikan contoh perhitungannya yaitu pondasi tiang pancang
dan pondasi sumuran. Hasil perhitungan nantinya akan digunakan sebagai masukan
dalam penyiapan gambar rencana, yang merupakan salah satu komponen dari
produk perencanaan teknis jembatan.

4.2. Penerapan Kriteria Desain Pondasi

Penentuan kriteria perencanaan untuk pondasi jembatan tergantung pada jenis


pondasi yang dipilih. Modul ini membatasi diri pada pondasi jembatan yang dibuat
dari beton bertulang, beton prategang dan baja struktur sehingga seluruh aspek
perencanaan didasarkan atas perilaku material-material tersebut.

4-1
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

4.2.1. Kriteria Desain Pondasi Sumuran

Dinding sumuran dibuat dari beton bertulang dengan mutu beton fc’= 20 MPa
atau K-250 (beton mutu sedang) dan mutu baja tulangan BJ24. Pekerjaan
beton dan baja tulangan harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam
Spesifikasi. Untuk dapat memahami karakteristik beton K-250 perencana
harus mempelajari Spesifikasi terlebih dahulu guna mengetahui persyaratan-
persyaratan bahan yang digunakan untuk membuat beton K-250 yaitu
semen, air, agregat dan mungkin juga bahan tambah. Dari keempat jenis
bahan ini yang perlu mendapatkan perhatian adalah pemilihan agregat yang
terdiri dari agregat kasar dan agregat halus.

Fokus perhatian perlu ditujukan untuk agregat kasar, dalam hal ini perencana
harus memilih, berapa ukuran terbesar agregat kasar yang akan digunakan.
Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran agregat
terbesar tidak lebih dari ¾ jarak bersih minimum antara baja tulangan atau
antara baja tulangan dengan acuan, atau celah-celah lainnya di mana beton
harus dicor.

Untuk bahan pengisi pondasi sumuran digunakan beton siklop, yaitu beton
yang terdiri dari campuran mutu beton fc’=15 MPa dengan batu-batu pecah
ukuran maksimum 250 mm. Batu-batu ini diletakkan dengan hati-hati dan
tidak boleh dijatuhkan dari tempat yang tinggi atau ditempatkan secara
berlebihan yang dikhawatirkan akan merusak bentuk acuan atau pasangan-
pasangan lain yang berdekatan. Semua batu-batu pecah harus cukup
dibasahi sebelum ditempatkan. Volume total batu pecah tidak boleh melebihi
sepertiga dari total volume pekerjaan beton siklop.

Untuk baja tulangan, beton dinding sumuran memerlukan baja lunak BJ-24,
yaitu baja dengan Tegangan Leleh Karakteristik = 240 Mpa, serta memenuhi
persyaratan SNI 07-2052-1997 Baja Tulangan Beton. Standar rujukan
selengkapnya dapat dilihat pada Spesifikasi.

4.2.2. Kriteria Desain Pondasi tiang pancang beton bertulang pracetak / tiang
pancang beton prategang pracetak

A. Beton dan Baja Tulangan

Menurut Spesifikasi yang berlaku tahun 2007 tiang pancang beton


pracetak harus dibuat dari beton mutu tinggi dengan mutu beton

4-2
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

sekurang-kurangnya fc’= 35 MPa atau K-400. Dalam hal ini, untuk tipe
beton bertulang disarankan menggunakan beton K-400, sedang untuk
beton prategang menggunakan beton K-500.

Agar dapat memahami karakteristik beton mutu tinggi ini perencana


harus mempelajari Spesifikasi terlebih dahulu guna mengetahui
persyaratan-persyaratan bahan penyusun beton dimaksud yaitu semen,
air, agregat dan mungkin juga bahan tambah. Dari keempat jenis bahan
ini yang perlu mendapatkan perhatian adalah pemilihan agregat yang
terdiri dari agregat kasar dan agregat halus.

Fokus perhatian perlu ditujukan untuk agregat kasar, dalam hal ini
perencana harus memilih, berapa ukuran terbesar agregat kasar yang
akan digunakan. Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga
ukuran agregat terbesar tidak lebih dari ¾ jarak bersih minimum antara
baja tulangan atau antara baja tulangan dengan acuan, atau celah-celah
lainnya di mana beton harus dicor.

Ada 3 macam ukuran maksimum agregat kasar yang dapat dipilih yaitu
37 mm, 25 mm dan 19 mm. Jadi jika digunakan ukuran maksimum
agregat kasar 37 mm, 25mm, atau 19 mm maka minimum jarak bersih
tulangan berturut-turut adalah 4/3 x 37 mm = 49.3 mm, 4/3 x 25 mm =
33.3 mm, atau 4/3 x 19 mm = 25.3 mm.

Berdasarkan Spesifikasi tahun 2007, baja tulangan yang dapat


digunakan harus baja polos atau berulir dengan mutu yang memenuhi
persyaratan tersebut dalam tabel berikut:

Tabel 4-1 Tegangan Leleh Karakteristik Baja Tulangan

Tegangan Leleh Karakteristik atau


Mutu Sebutan Tegangan Karakteristik yang
memberikan regangan tetap 0,2%
MPa
BJ 24 Baja Lunak 240
BJ 32 Baja Sedang 320
BJ 39 Baja Keras 390
BJ 48 Baja Keras 480

Standar rujukan yang dapat dipergunakan di dalam memilih baja


tulangan adalah sebagai berikut:

Standar Nasional Indonesia (SNI)

4-3
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 SNI 07-6401-2000 : Spesifikasi Kawat Baja dengan Proses


Canay Dingin untuk Tulangan Beton

 SNI 07-1050-1989 : Baja Tulangan untuk Konstruksi Beton


Prategang

 SNI 07-2529-1991 : Metode Pengujian Kuat Tarik Baja Beton

 SNI 07-0663-1995 : Jaring Kawat Baja Las untuk Tulangan


Beton

 SNI 07-2052-1997 : Baja Tulangan Beton

AASHTO dan lain-lain

 AASHTO M 284-03 : Epoxy-Coated Reinforcing Bar

 AASHTO M 31M-03 : Deformed and Plain Billet-Steel Bar for


Concrete Reinforcement

 A.C.I. 315 : Manual of Standard Practice for Detailing


Reinforced Concrete Structures,
American Concrete Institute

 AWS D 2.0 : Standards Specifications for Welded


Highway and Railway Bridges

B. Baja Prategang

Untaian kabel (strand) prategang harus terdiri dari jalinan kawat (wire)
dengan kuat tarik tinggi, bebas tegangan (stress relieved), relaksasi
rendah dengan panjang menerus tanpa sambungan atau kopel sesuai
dengan SNI 07-1154-1989 tentang Kawat baja tanpa lapisan bebas
tegangan untuk konstruksi beton, jalinan tujuh. Untaian kawat tersebut
harus mempunyai kekuatan leleh minimum sebesar 1600 MPa dan
kekuatan batas minimum 1900 Mpa;

Kawat (wire) prategang harus terdiri dari kawat dengan kuat tarik tinggi
dengan panjang menerus tanpa sambungan atau kopel dan harus sesuai
dengan SNI 07-1155-1989 tentang Kawat baja tanpa lapisan bebas
tegangan untuk konstruksi beton ;

Batang (bar) logam campuran dengan kuat tarik tinggi harus bebas
tegangan kemudian diregangkan secara dingin minimum sebesar 910
Mpa. Setelah peregangan dingin, maka sifat fisiknya akan menjadi
sebagai berikut :

4-4
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Kekuatan batas tarik minimum 1000 Mpa;

 Kekuatan leleh minimum, diukur dengan perpanjangan 0,7% menurut


metode pembebanan tidak boleh kurang dari 910 Mpa;

 Modulus elastisitas minimum 200.000 Mpa;

 Perpanjangan (elongation) minimum setelah runtuh (rupture) dihitung


rata-rata 4% terhadap 20 batang yang diuji;

 Toleransi diameter - 0,25 mm, + 0,76 mm.

Standar Rujukan

Standar Nasional Indonesia (SNI)

 SNI 07-1051-1989 : Kawat Baja Karbon Tinggi untuk


Konstruksi Beton Prategang

 SNI 07-1154-1989 : Kawat Baja Tanpa Lapisan Bebas


Tegangan untuk Konstruksi Beton,
Jalinan Tujuh

 SNI 07-1155-1989 : Kawat Baja Tanpa Lapisan Bebas


Tegangan untuk Konstruksi Beton

AASHTO

 AASHTO M 275M-00 : Uncoated High-Strength Steel Bar for


prestressed Concrete

 AASHTO M 103M-04 : Steel Casting, Carbon, for General


Application

4.2.3. Kriteria Desain Pondasi Tiang Pancang Baja Struktur / Tiang Pancang
Pipa Baja

Jika dipilih pondasi tiang pancang baja, ada 3 alternatif yang dapat diambil
yaitu:

 tiang pancang baja struktur berupa profil baja gilas

 pipa baja diisi beton dengan mutu beton minimum fc’= 20 MPa atau K-
250

 kotak baja diisi beton dengan mutu beton minimum fc’= 20 MPa atau K-
250

4-5
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Baja yang digunakan sebagai bagian struktur baja harus mempunyai sifat
mekanis baja struktural seperti dalam Tabel 4-2.

Tabel 4-2 Sifat Mekanis Baja Struktural

Tegangan Tegangan
Peregangan
putus leleh
Jenis baja minimum
minimum, fu minimum, fy
(%)
(MPa) (MPa)
BJ 34 340 210 22
BJ 37 370 240 20
BJ 41 410 250 18
BJ 50 500 290 16
BJ 55 550 410 13

Bahan untuk keperluan pengelasan yang digunakan dalam pengelasan


logam adalah dari kelas baja yang memenuhi ketentuan dari AASHTO M183-
90 dan juga harus memenuhi ketentuan dari ASTM A233.

4.2.4. Kriteria Desain Pondasi Tiang Bor Beton

Spesifikasi tidak mengatur secara khusus persyaratan beton untuk pondasi


tiang bor beton. Oleh karena itu perencana dapat menentukan sendiri mutu
beton yang akan digunakan untuk tiang bor beton, namun dalam hal ini
disarankan untuk menggunakan beton mutu sedang (K-250, K-300 atau K-
350), sedangkan untuk baja tulangan dapat menggunakan acuan yang ada
pada Tabel 4-1.

4.3. Penerapan Ketentuan Pembebanan Jembatan

Ada 2 pilihan yang dapat digunakan untuk menghitung perencanaan pondasi


jembatan, yaitu Pedoman Pembebanan Jalan Raya SKBI – 1.3.28.1987 – UDC
624.042 : 62421 atau BMS7-C2-Bridge Design Code 1992.

Sistem pembebanan manapun yang dipilih, dalam perhitungan pondasi jembatan,


yang penting adalah mengetahui berapa besar gaya-gaya dan momen lentur yang
akan dipikul oleh pondasi jembatan, yang bentuk fisiknya adalah tiang pancang atau
sumuran.

Jadi seluruh beban-beban yang bekerja pada jembatan, dengan mengatur


kombinasi pembebanan yang mempunyai dampak paling besar, bisa berdasarkan –
1.3.28.1987 – UDC 624.042 : 62421 ataupun BMS7-C2-Bridge Design Code 1992,
tergantung pada sistem pembebanan yang dipilih, pada akhirnya disimpulkan

4-6
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

menjadi gaya vertikal V, gaya horizontal H dan momen lentur M yang dapat
diilustrasikan sebagai berikut:

M H
X
O
hi
Muka tanah

i > 0
i < 0

Gambar 4-1 Gaya dan Momen Yang Bekerja


Pada Kepala Tiang Pancang

Gambar 4-2 Gaya dan Momen Yang Bekerja


Pada Pondasi Sumuran

4-7
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

4.4. Perhitungan Perencanaan Pondasi Jembatan

Perhitungan perencanaan pondasi yang dibuat disini adalah untuk pondasi tiang
pancang dan pondasi sumuran. Sebelum diberikan contoh perhitungannya, terlebih
dahulu diuraikan prinsip-prinsip dasar perhitungan kedua jenis pondasi tersebut.

4.4.1. Perhitungan Perencanaan Pondasi Tiang Pancang Kelompok

A. Prinsip-prinsip Perhitungan

1. Asumsi

Asumsi-asumsi yang digunakan dalam analisis kelompok pondasi tiang


dengan metode perpindahan (displacement method) adalah sebagai
berikut :

a). Pondasi dianggap sebagai bangunan 2 dimensi


b). Tiang dianggap bersifat elastis-linier terhadap gaya tekan, gaya tarik
tiang dan lenturan
c). Konstanta pegas dalam arah vertikal, arah mendatar dan rotasi pada
kepala tiang dianggap konstant
d). Tumpuan dianggap kaku (rigid) dan berputar ke pusat gabungan tiang

2. Tata Sumbu

M H
X
O
hi
Muka tanah

i > i <

Y
 0 

Gambar 4-3 Tata Sumbu Bidang X-Y, dan 

4-8
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

X
O

Gambar 4-4 Tata Sumbu Bidang X-Z

Titik referensi O bisa ditentukan sembarang, tetapi disarankan agar titik


referensi yang digunakan terlatak pada dasar pile-cap di titik pusat dari
pile cap tersebut.

3. Perpindahan Titik Referensi

Perpindahan dari titik referensi dapat ditentukan dengan menyelesaikan 3


persamaan dengan 3 variabel di bawah.

Axx   x  Axy   y  Ax    H o


(4/1-1)

Ayx   x  Ayy   y  Ay    Vo


(4/1-2)

Ax   x  Ay   y  A    M o


(4/1-3)

Dengan mengasumsikan bahwa dasar dari pile-cap adalah horizontal,


maka koefisien-koefisien pada persamaan (4.1), persamaan (4.2) dan
persamaan (4.3) dapat ditentukan sebagai berikut.


Axx   K 1  cos 2  i  K v  sin 2  i  (4/1-4)

Axy  Ayx   K v  K 1   sin  i  cos i  (4/1-5)

Ax  Ax   K v  K 1   xi  sin  i  cos  K 2  cos i  (4/1-6)


Ayy   K v  cos 2  i  K 1  sin 2  i  (4/1-7)

 
Ay  Ay   K v  cos 2  i  K 1  sin 2  1  xi  K 2  sin  i  (4/1-8)

 
A   K v  cos 2  i  K1  sin 2  1  xi2  ( K 2  K 3 )  sin  i  K 4 
(4/1-9)

4-9
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Ho = Gaya horizontal yang bekerja pada dasar pile-cap


Vo = Gaya Vertikal yang bekerja pada dasar pile-cap
Mo = Momen yang bekerja terhadap titik referensi
x = Perpindahan titik referensi dalam arah horizontal
y = Perpindahan titik referensi dalam arah vertikal
 = Sudut rotasi dari pile-cap
xi = Koordinat sumbu x dari puncak tiang
i = Sudut yang dibentuk oleh sumbu tiang pancang dengan bidang
vertikal

K1,K2,K3,dan K4 masing masing adalah konstanta pegas dalam arah


lateral jika koefisien reaksi permukaan horizontal k diasumsikan konstan
terhadap kedalaman dan panjang pemancangan (l) dianggap cukup
panjang dimana nilai l > 3/.
 adalah nilai karakteristik dari tiang pancang yang dihitung dengan
persamaan berikut:

kD
 4 (m-1) (4/1-10)
4 EI
k = Koefisien daya tangkap reaksi permukaan/horizontal sub grade
reaction coefficient (t/m3).
D = Diameter dari tiang pancang (m)
EI = Kekakuan lentur dari tiang pancang (t-m2)
h = Panjang axial tiang pancang yang terletak bebas di atas permukaan
tanah (m).

Konstanta pegas dalam arah lateral K1,K2,K3,dan K4 masing-masing


dihitung dengan rumus berikut:

Tabel 4-3 Rumus Menghitung Konstanta Pegas

Konstanta Kekuatan Kepala Tiang Kepala Tiang Sendi


Pegas h0 h=0 h0 h=0
12 EI 3EI
K1 4 EI 3 2 EI 3
(1  h) 3  2 (1  h) 3  0.5

K2 = K3 K1 2 EI 2 0 0
2
4 EI 1  h   0.5
3

K4 2 EI 0 0
1  h 2 1  h 3  2

4-10
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

1
 h (4/1-11)

Besarnya koefisien daya tangkap reaksi permukaan (k) menurut standar
teknik (di Jepang) dapat diperkirakan dengan menggunakan metode
berikut:
1

k  ko  y 2
(4/1-12)
3

k o  0 .2  E o  D 4
(4/1-13)

ko = Harga k jika pergeseran pada permukaan dibuat sebesar 1 cm.


y = Besarnya pergeseran yang akan di cari
Eo = Modulus deformasi tanah pondasi, biasanya diperkirakan dengan
formula Eo = 28 N.
N = Nilai SPT di sekitar permukaan tanah
D = Diameter tiang
Jika persamaan (4/1-11), persamaan (4/1-2) dan persamaan (4/1-3)
diselesaikan, maka akan diperoleh perpindahan dari titik pile cap yang
dinyatakan dalam perpindahan dari titik referensi x ,y, dan .

4. Perpindahan Kepala Tiang

Berdasarkan perpindahan dari titik referensi, maka dapat dihitung


perpindahan dari setiap kepala tiang sebagai berikut.
 xi'   x  cos i  ( y   )  sin  i
(4/1-14)
 yi'   x  sin  i  ( y   )  cos i
(4/1-15)
’xi dan ’yi adalah masing masing perpindahan kepala tiang ke i dalam
arah lateral dan aksial.

5. Gaya Luar Pada Kepala Tiang

Gaya luar yang seolah-oleh bekerja pada masing-masing kepala tiang


dapat dihitung dari besarnya perpindahan pada masing-masing kepala
tiang tersebut. Rumus yang digunakan untuk menghitung perpindahan
masing-masing kepala tiang adalah sebagai berikut:
PNi  K v   yi'
(4/1-16)
PHi  K i   xi'  K 2  
(4/1-17)
M ti   K 3   xi'  K 4 
(41-18)

4-11
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

PNi = gaya aksial yang bekerja pada kepala tiang


PHi = gaya lateral yang bekerja pada kepala tiang
Mti = momen yang diperhitungkan bekerja pada kepala tiang.

Kv adalah konstanta pegas dalam arah aksial dari tiang yang


menyatakan besarnya gaya dalam arah vertikal pada kepala tiang yang
menyebabkan perpindahan sebesar 1 satuan dalam arah vertikal pada
kepala tiang. Kv diperkirakan dari kurva pembebanan penurunan (load
settlement curve) dari percobaan pembebanan vertikal pada tiang. Untuk
pemakaian praktis Kv dapat ditentukan secara empiris.

Cara empiris yang digunakan untuk jembatan jalan raya (di Jepang)
adalah dengan menggunakan persamaan berikut:

Ap  E p
Kv  a  (4/1-19)
l
Ap = Luas penampang netto dari tiang (cm2)
Ep = Modulus elastisitas tiang (kg/cm2)
L = Panjang tiang (cm)
D = Diameter tiang (cm)

Parameter a dihitung dari Tabel sebagai berikut:

Tabel 4-4 Rumus Menghitung Parameter a

l
Tiang yang terbuat dari pipa baja a  0.027  0 .2
D
l
Tiang beton pratekan/prestress a  0.041  0.27
D
l
Tiang yang di cor ditempat a  0.022  0.05
D

6. Reaksi Perletakan pada kepala tiang

Reaksi perletakan pada kepala tiang yang disebabkan oleh gaya luar
yang bekerja (PNi,PHi, dan Mti) ditentukan dengan menggunakan
persamaan berikut:

Vi  PNi  cos i  PHi  sin  i (4/1-20)

H i  PNi  sin  i  PHi  cos i (4/1-21)

4-12
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

7. Validasi Hasil Analisis

Pemeriksaan dari hasil analisis dilakukan dengan menggunakan 3


persamaan berikut:

H i  Ho (4/1-22)

V i  Vo (4/1-23)

 M ti  Vi  xi   M o (4/1-24)

8. Daya Dukung Tiang Dalam Arah Lateral

Daya dukung tiang dalam arah lateral di tentukan dari persamaan berikut:

Tabel 4-5 Rumus Menghitung Daya Dukung Lateral Tiang

Kv  D
Tiang yang terbenam dalam tanah Ha  a

4 EI   3
Tiang yang menonjol di atas tanah Ha  a
1  h

a adalah besarnya perpindahan standar. Besarnya a biasanya diambil


10 mm untuk kondisi normal dan 15 mm untuk kondisi gempa.

9. Pemeriksaan Daya Dukung Kelompok Tiang

Untuk mengetahui apakah konfigurasi dari kelompok pondasi tiang yang


digunakan mencukupi atau tidak, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap
gaya-gaya yang bekerja pada setiap tiang pondasi yang dibandingkan
terhadap daya dukung tiang pondasi tersebut baik dalam arah aksial
maupun lateral. Pemeriksaan dilakukan untuk masing-masing tiang
pondasi dengan membandingkan nilai PNi dan PHi masing-masing tiang
terhadap daya dukung ijin aksial dan lateral untuk 1 tiang pondasi.

4-13
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan


H Mt

X- h 
y1
Muka tanah
lm O
y2
+
X f

Gambar 4-5 Tata Sumbu Tiang

10. Momen Lentur Maksimum Pada Tiang

Setelah memenuhi persyaratan daya dukung, langkah berikutnya adalah


mendisain tiang pancang beserta sambungannya. Untuk melakukan
proses tersebut diperlukan lokasi serta besarnya momen dan gaya geser
maksimum pada tiang pancang. Ada 2 kemungkinan lokasi momen
maksimum pada tiang. Kemungkinan pertama adalah pada kepala tiang
dan kemungkinan yang ke dua adalah pada jarak lm dari muka tanah.
Sistim sumbu yang digunakan adalah seperti pada Gambar 4-5.

a). Momen Lentur Pada Kepala Tiang

Momen lentur pada kepala tiang dihitung dengan persamaan berikut:

M o   M t   Hho (4/1-25)

b). Lokasi Momen Terbesar Selain di Kepala Tiang

Kemungkinan lokasi momen maksimum selain pada kepala tiang


adalah pada jarak lm dari muka tanah ( perhatikan Gambar 4-5). Jarak
tersebut dihitung sebagai berikut:

1 1
lm  tan 1 (4/1-26)
 1  2  (h  ho )

c). Momen Pada Jarak lm dari muka tanah

Besarnya momen lentur pada jarak lm dari muka tanah dihitung


sebagai berikut:

4-14
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

H
Mm   1  2  h  ho 2  1  exp l m  (4/1-27)
2

11. Gaya-gaya Desain Sambungan Tiang

Pondasi tiang pancang umumnya terdiri dari segmen segmen pondasi


tiang pancang dengan kedalaman tertentu. Pada sambungan antara
segmen pondasi tiang pancang tersebut perlu dilakukan analisis untuk
mendisain sambungan antar segmen tiang pancang. Untuk dapat
mendisain sambungan tersebut diperlukan besarnya gaya geser dan
momen lentur pasa lokasi sambungan yang ditinjau.

a). Gaya Geser

Gaya geser pada sembarang lokasi pada tiang pancang dihitung


dengan persamaan pada Tabel 4-6. Perhatikan perjanjian tanda
untuk nilai x. (Gambar 4-5)

Tabel 4-6 Gaya Geser Sepanjang Tiang

Untuk x < 0 S  H
Untuk x > 0 S   He  x
cos x  1  2  h  ho sin x
b). Momen

Momen lentur pada sembarang lokasi pada tiang pancang dihitung


dengan persamaan pada Tabel 4-7. Perhatikan perjanjian tanda
untuk nilai x. (Gambar 4-5)

Tabel 4-7 Momen Sepanjang Tiang

Untuk x < 0 M   H  x  h   M t   H  x  h  ho 
H
Untuk x > 0 M   e  x  h  ho  cos x  1   h  ho sin x 

12. Kurva Lenturan Tiang

Kelebihan lain dari metode perpindahan adalah bahwa kita dapat


menentukan kelenturan dari setiap pondasi tiang.

a). Persamaan Lenturan Tiang (cm)


Persamaan lenturan setiap pondasi tiang adalah seperti yang ada
pada Tabel 4-8.

4-15
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Tabel 4-8 Persamaan Lenturan Tiang

Untuk x < 0 y1 
H
6 EI 3

 3 x 3  3 3 h  h0 x 2  31  2  h  h0 x  31   h  h0 
H
Untuk x > 0 y2  e  x 1   h  h0 cos x   h  h0 sin x 
2 EI 3

b). Peralihan Kepala Tiang  (cm)

Kemiringan kepala tiang  ( Perhatikan Gambar 4-5) dihitung dengan


persamaan berikut:

 
1  h   1 2
3
H
1  h 
2
Mt (4/1-28)
3EI 3
2 EI
2

c). Peralihan Muka Tanah f (cm)

Perpindahan tiang arah horizontal tepat di muka tanah disebut


peralihan muka tanah yang dihitung dengan rumus berikut. (
Perhatikan Gambar 4-5)

1   h  ho 
f  Ht (4.29)
2 EI 3

A. Contoh Perhitungan Pondasi Tiang Pancang Kelompok

Kelompok Pondasi tiang beton pratekan mempunyai data-data sebagai


berikut:
1. Dimater 1 tiang 0.50 meter
2. Panjang 1 tiang 23 meter.
3. Pertemuan kepala tiang dengan pile cap adalah jepit
4. Modulus elastisitas tiang = 40.000.000 kN/m2
5. Momen inersia tiang = 0.003066 m4
6. Tinggi bebas tiang di atas tanah = 0 meter
7. Lay out pondasi tiang tersebut adalah seperti pada Gambar dibawah.
8. Nilai SPT tanah di dekat permukaan tanah = 3
9. Daya dukung tekan 1 tiang = 3960 kN, daya dukung tarik 1000 kN
10. Gaya luar yang bekerja V = 15900 kN, H = 2000 kN, dan M = 18600
kN-meter
11. Panjang 1 segmen tiang = 6 meter

4-16
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

12. Jumlah tiang adalah 15 buah dengan koordinat sebagai berikut:

No X (m) Z (m) Kemiringan  (derajat) Tipe diameter


1 0 0 -3 1
2 1.5 0 0 1
3 3 0 3 1
4 3 2.1 3 1
5 1.5 2.1 0 1
6 0 2.1 -3 1
7 0 4.2 -3 1
8 1.5 4.2 0 1
9 3 4.2 3 1
10 3 6.3 3 1
11 1.5 6.3 0 1
12 0 6.3 -3 1
13 0 8.4 -3 1
14 1.5 8.4 0 1
15 3 8.4 3 1

V
M Permukaan tanah, h = 0
H
X O

Gambar 4-6
Bidang X, Y, 
i > 0 i < 0

2.1 m

2.1 m
Gambar 4-7 Bidang X-Z

2.1 m

O 2.1 m
x

1.5 1.5
Z

4-17
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

B. Lendutan Lateral
Besarnya lendutan lateral ditentukan dengan melakukan perhitungan trial
and error. Perhitungan pertama dilakukan dengan mengambil nilai awal
lendutan lateral = 1 cm. Berdasarkan asumsi lendutan lateral = 1 cm
dapat dihitung nilai modulus deformasi tanah pondasi, horisontal
subgrade reaction dan juga nilai konstanta pegas tanah. Berdasarkan
parameter-parameter tersebut dapat ditentukan lendutan lateral yang
terjadi. Trial and error kedua dilakukan dengan menggunakan hasil
lendutan lateral hasil trial and error pertama. Demikian seterusnya
sampai perbedaan asumsi lendutan lateral dan hasil Analisis lendutan
lateral bisa diabaikan.

1. Parameter Tanah dan Tiang

Parameter tanah dan tiang dihitung dengan rumus-rumus berikut:

Eo = 28 N

1

k  ko  y 2
(4/1-12)

3

k o  0 .2  E o  D 4
(4/1-13)

kD
 4 m-1 (4/1-10)
4EI

1
  h (4/1-11)

Dengan menggunakan hasil trial and error dimana lendutan lateral =


1.35043 cm didapat:

a. modulus deformasi tanah pondasi (Eo) = 84 kg/cm2

b. harga kh jika deformasi 1 cm (Ko) = 0.89347 kg/cm3

c. horizontal subgrade reaction (Kh) = 1.20657 kg/cm3

d. karakteristik tiang () = 0.33301

e.  = sudut rotasi tumpuan = 3.00291

4-18
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

2. Koefisien Pegas

Nilai dari parameter koefisien pegas dihitung dengan rumus-rumus


berikut:

Koefisien Kekuatan Kepala Tiang Kepala Tiang Sendi


Pegas h0 H=0 h0 h=0
12 EI 3EI
K1 4 EI 3 2 EI 3
(1  h) 3  2 (1  h) 3  0.5

K2 = K3 K1 2 EI 2 0 0
2
4 EI 1  h   0.5
3

K4 2 EI 0 0
1  h 2 1  h 3  2

Dari persamaan-persamaan diatas didapat nilai-nilai sebagai berikut:

a. K1 = 18116.106 kN/m

b. K2 = 27200.524 kN/rad

c. K3 = 27200.524 kN/rad

d. K4 = 81680.748 kN/rad

e. KV = konstanta pegas arah vertikal 551827.579 kN/m

3. Koefisien-Koefisien Persamaan 3 Variabel

Koefisien-koefisien untuk ke 3 persamaan dengan 3 variabel


perpindahan ditentukan dengan rumus berikut:

Axx   x  Axy   y  Ax    H o (4/1-1)

Ayx   x  Ayy   y  Ay    Vo (4/1-2)

Ax   x  Ay   y  A    M o (4/1-3)


Axx   K 1  cos 2  i  K v  sin 2  i  (4/1-4)

Axy  Ayx   K v  K 1   sin  i  cos i  (4/1-5)

4-19
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Ax  Ax   K v  K 1   xi  sin  i  cos  K 2  cos i  (4/1-6)


Ayy   K v  cos 2  i  K 1  sin 2  i  (4/1-7)

 
Ay  Ay   K v  cos 2  i  K 1  sin 2  1  xi  K 2  sin  i  (4/1-8)

 
A   K v  cos 2  i  K 1  sin 2  1  xi2  ( K 2  K 3 )  sin  i  K 4  (4/1-9)

Dengan nilai-nilai konstanta pegas beserta lay-out tiang ke


persamaan diatas didapat koefisien-koefisien untuk 3 persamaan
dengan 3 variabel sebagai berikut:

Axx : 28636.022 Axy : -0.000 Ax : -82604.539 Hd : 200.000

Ayx : -0.000 Ayy : 826279.505 Ay : 0.000 Vd : 1590.000

Ax : -82604.539 Ay : 0.000 A : 1356573.286 Md : 1860.000

C. Perpindahan Kelompok Tiang

Dengan menyelesaikan ke tiga persamaan diatas, pada trial & error yang
terakhir akan didapat perpindahan kelompok tiang terhadap titik pusat
O(0.0) sebagai berikut:

a. perpindahan mendatar x = 0.01327029 m


b. perpindahan vertikal y = 0.00192429 m
c. sudut rotasi tumpuan  = 0.00217916 radian

D. Daya Dukung Ijin 1 Tiang


Daya dukung 1 tiang dalam arah lateral dihitung dengan persamaan
berikut:

Kv  D
Tiang yang terbenam dalam tanah Ha  a

4 EI   3
Tiang yang menonjol di atas tanah Ha  a
1  h

4-20
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Dengan menggunakan persamaan pertama, daya dukung per 1 tiang


pancang adalah sebagai berikut:

a. Daya dukung tekan 1 tiang pancang = 3960.00 kN


b. Daya dukung tarik 1 tiang pancang = 1000.00 kN
c. Daya dukung lateral 1 tiang pancang = 181.161 kN

E. Perpindahan dan Gaya Tiap Pondasi

Perpindahan setiap kepala tiang dihitung dengan rumus berikut:

 xi'   x  cos i  ( y   )  sin  i


(4/1-14)
 yi'   x  sin  i  ( y   )  cos i
(4/1-15)

Gaya yang seolah-oleh bekerja pada setiap kepala tiang dihitung dengan
rumus berikut:

PNi  K v   yi'
(4/1-16)
PHi  K i   xi'  K 2  
(4/1-17)
M ti   K 3   xi'  K 4 
(4/1-18)

Reaksi perletakan pada kepala tiang yang disebabkan oleh gaya luar
yang bekerja PNi,PHi, dan Mti ditentukan sebagai berikut.

Vi  PNi  cos i  PHi  sin  i


(4/1-20)
H i  PNi  sin  i  PHi  cos i
(4/1-21)
Untuk setiap tiang diperoleh perpindahan, gaya yang bekerja, dan reaksi
perletakan pada kepala tiang ditabelkan sebagai berikut:

4-21
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Tabel 4-9 Pergeseran Tiang, Gaya Aksial, Gaya Orthogonal, Momen Lentur
dan Reaksi Perletakan

No tiang x y PNi PHi PMi Vi Hi


(m) (m) (kN) (kN) (kN-m) (kN) (kN)
1 1.35239 0.19243 2478.475 185.726 -189.862 2484.798 55.758
2 1.32703 0.19243 1061.875 181.132 -182.964 1061.875 181.132
3 1.33225 0.19243 -357.635 182.077 -184.383 -366.674 163.110
4 1.33225 0.19243 -357.635 182.077 -184.383 -366.674 163.110
5 1.32703 0.19243 1061.875 181.132 -182.964 1061.875 181.132
6 1.35239 0.19243 2478.475 185.726 -189.862 2484.798 55.758
7 1.35239 0.19243 2478.475 185.726 -189.862 2484.798 55.758
8 1.32703 0.19243 1061.875 181.132 -182.964 1061.875 181.132
9 1.33225 0.19243 -357.635 182.077 -184.383 -366.674 163.110
10 1.33225 0.19243 -357.635 182.077 -184.383 -366.674 163.110
11 1.32703 0.19243 1061.875 181.132 -182.964 1061.875 181.132
12 1.35239 0.19243 2478.475 185.726 -189.862 2484.798 55.758
13 1.35239 0.19243 2478.475 185.726 -189.862 2484.798 55.758
14 1.32703 0.19243 1061.875 181.132 -182.964 1061.875 181.132
15 1.33225 0.19243 -357.635 182.077 -184.383 -366.674 163.110

catatan :
a. x = Pergeseran kepala tiang arah sumbu orthogonal (m)
b. y = Pergeseran kepala tiang arah aksial (m)
c. PN = Gaya luar aksial di kepala tiang (kN)
d. PH = Gaya luar ortogonal di kepala tiang (kN)
e. MT = Gaya luar momen di kepala tiang (kN-meter)
f. V = Reaksi perletakan vertikal pada kepala tiang (kN)
g. H = Reaksi perletakan horisontal pada kepala tiang (kN)

F. Momen Lentur Maksimum

Ada 2 kemungkinan lokasi momen maksimum yaitu pada kepala tiang


atau pada kedalaman lm dari muka tanah.
Momen lentur pada kepala tiang dihitung dengan persamaan berikut:
M o   M t   Hho (4/1-25)

Lokasi momen terbesar selain di kepala tiang (lm) ditentukan dengan


rumus berikut:

1 1
lm  tan 1 (4/1-26)
 1  2  (h  ho )

4-22
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Momen pada jarak lm dari muka tanah dihitung dengan persamaan


berikut:

H
Mm   1  2  h  ho 2  1  exp l m  (4/1-27)
2

Untuk setiap tiang diperoleh diperoleh besarnya momen lentur pada


kepala tiang (Mo), lokasi lm, dan besarnya momen lentur pada kedalaman
lm dari muka tanah (Mlm) yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai
berikut:

No Mo (kN-m) lm (m) Mlm (kN-m)


tiang
1 18.986 3.789 -8.288
2 18.296 3.767 -8.161
3 18.438 3.772 -8.187
4 18.438 3.772 -8.187
5 18.296 3.767 -8.161
6 18.986 3.789 -8.288
7 18.986 3.789 -8.288
8 18.296 3.767 -8.161
9 18.438 3.772 -8.187
10 18.438 3.772 -8.187
11 18.296 3.767 -8.161
12 18.986 3.789 -8.288
13 18.986 3.789 -8.288
14 18.296 3.767 -8.161
15 18.438 3.772 -8.187

G. GAYA-GAYA PADA SAMBUNGAN

Lokasi sambungan tiang didasarkan atas panjang 1 segmen tiang. Gaya-


gaya yang bekerja pada titik sambungan tersebut dihitung sebagai
berikut:
Gaya geser pada sembarang titik di tiang pondasi

Untuk x < 0 S  H
Untuk x > 0 S   He  x
cos x  1  2 h  ho sin x
Momen pada sembarang titik di tiang

Untuk x < 0 M   H  x  h   M t   H  x  h  ho 
H
Untuk x > 0 M   e  x  h  ho  cos x  1   h  ho sin x 

4-23
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

dimana x adalah lokasi dari sambungan tersebut menurut tata sumbu pada
Gambar 4-5. Untuk setiap tiang diperoleh hasil sebagai berikut:

No Lokasi sambungan dari Mz Sz


tiang dasar pile cap (m) (kN-m) (kN)
1 17.000 0.128 -0.065
1 11.000 0.054 0.336
1 5.000 -7.297 1.469
2 17.000 0.125 -0.063
2 11.000 0.053 0.328
2 5.000 -7.116 1.433
3 17.000 0.126 -0.063
3 11.000 0.053 0.329
3 5.000 -7.153 1.441
4 17.000 0.126 -0.063
4 11.000 0.053 0.329
4 5.000 -7.153 1.441
5 17.000 0.125 -0.063
5 11.000 0.053 0.328
5 5.000 -7.116 1.433
6 17.000 0.128 -0.065
6 11.000 0.054 0.336
6 5.000 -7.297 1.469
7 17.000 0.128 -0.065
7 11.000 0.054 0.336
7 5.000 -7.297 1.469
8 17.000 0.125 -0.063
8 11.000 0.053 0.328
8 5.000 -7.116 1.433
9 17.000 0.126 -0.063
9 11.000 0.053 0.329
9 5.000 -7.153 1.441
10 17.000 0.126 -0.063
10 11.000 0.053 0.329
10 5.000 -7.153 1.441
11 17.000 0.125 -0.063
11 11.000 0.053 0.328
11 5.000 -7.116 1.433
12 17.000 0.128 -0.065
12 11.000 0.054 0.336
12 5.000 -7.297 1.469
13 17.000 0.128 -0.065
13 11.000 0.054 0.336
13 5.000 -7.297 1.469
14 17.000 0.125 -0.063
14 11.000 0.053 0.328
14 5.000 -7.116 1.433
15 17.000 0.126 -0.063
15 11.000 0.053 0.329
15 5.000 -7.153 1.441

4-24
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

4.4.2. Perhitungan Perencanaan Pondasi Sumuran

A. Prinsip-prinsip Perhitungan

Pondasi sumuran adalah pondasi yang dibangun dengan menggali


cerobong tanah berpenampang lingkaran dan dicor dengan beton atau
campuran batu dan mortar.

Pondasi sumuran diklasifikasikan sebagai pondasi dangkal atau pondasi


langsung dengan persyaratan perbandingan kedalaman tertanam
terhadap diameter lebih kecil atau sama dengan 4. Jika nilai
perbandingan tersebut lebih besar dari 4 maka pondasi tersebut harus
direncanakan sebagai pondasi tiang.

1. Persyaratan Teknis

Persyaratan teknis pondasi sumuran adalah sebagai berikut:

 Tekanan dari konstruksi jembatan pada bagian bawah pondasi


sumuran tersebut harus lebih kecil atau sama dengan tegangan
ijin tanah (  ijin).

 Pondasi sumuran harus aman terhadap penurunan yang


berlebihan.

 Pondasi sumuran harus aman terhadap penggerusan atau


kedalaman pondasi sumuran harus lebih besar dari kedalaman
maksimum penggerusan. Jika kedalaman pondasi sumuran lebih
kecil dari kedalaman maksimum penggerusan maka diperlukan
perlindungan terhadap pondasi sumuran tersebut.

 Diameter pondasi sumuran harus dibuat  1.5 meter untuk


kemudahan pelaksanaan.

 Pondasi sumuran tidak boleh digunakan pada kondisi tanah


dimana lapisan atas terdiri dari tanah lunak dengan ketebalan > 3
dan < 6 – 8 meter.

 Penggalian terbuka selama proses konstruksi pondasi sumuran


tidak disarankan.

 Jika selama pelaksanaan pondasi sumuran muka air tanah cukup


tinggi, maka perlu dilakukan upaya menurunkan elevasi muka air
tanah di lokasi konstruksi dengan menggunakan pompa air.

4-25
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

 Jika lokasi kepala jembatan yang melintasi sungai mengurangi


penampang basah sungai, maka diperlukan perlindungan gerusan
pada kaki/bagian atas pondasi sumuran. Alternatif lainnya adalah
bentang jembatan di perbesar.

Pokok perencanaan pondasi sumuran untuk dapat mendukung


bangunan bawah dan struktur atas dapat dinyatakan sebagai berikut:

 Pondasi sumuran harus mempunyai keawetan yang memadai


untuk penggunaan yang dipilih.

 Tanah pendukung harus memberikan daya dukung dan


ketahanan geser yang memadai.

 Struktur pondasi sumuran harus mempunyai kekuatan memadai.

 Penurunan dan perpindahan horisontal tidak boleh menimbulkan


pengurangan kekuatan pada komponen-komponen struktural.

Dalam perencanaan pondasi sumuran analisis yang harus dilakukan


adalah:

 Analisis kestabilan terhadap guling

 Analisis ketahanan terhadap geser

 Analisis kapasitas daya dukung tanah

 Analisis penurunan

 Analisis stabilitas secara umum

a). Kestabilan Terhadap Guling

Kestabilan struktur terhadap kemungkinan terguling dihitung


dengan persamaan berikut :

SFguling 
M R

M O

(4/2-1)

MO = Jumlah dari momen-momen yang menyebabkan struktur


terguling dengan titik pusat putaran di titik O. MO disebabkan
oleh tekanan tanah aktif yang bekerja pada elevasi H/3.

4-26
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

MR = Jumlah dari momen-momen yang mencegah struktur


terguling dengan titik pusat putaran di titik O. MR merupakan
momen-momen yang disebabkan oleh gaya vertikal dari struktur
dan berat tanah diatas struktur.

Nilai minimum dari angka keamanan terhadap guling yang lazim


digunakan dalam perencanaan adalah 2.20.

b). Ketahanan Terhadap Geser

Ketahanan struktur terhadap kemungkinan struktur bergeser


dihitung berdasarkan persamaan berikut

SFgeser 
F R
(4/2-2)
F D

FD = Jumlah dari gaya-gaya horizontal yang menyebabkan


stuktur bergeser. FD disebabkan oleh tekanan tanah aktif yang
bekerja pada struktur

FR = Jumlah gaya-gaya horizontal yang mencegah struktur


bergeser. FR merupakan gaya gaya penahan yang disebabkan
oleh tahanan gesek dari struktur dengan tanah serta tahan yang
disebabkan oleh kohesi tanah.

V tan  2  Bc 2  Pp
SFgeser  (4/2-3)
Ph

Berdasarkan Peraturan Teknik Jembatan Bagian 4.4.4, Nilai 2


biasanya diambil sama dengan sudut geser tanah  untuk beton
pondasi yang dicor ditempat dan 2/3 dari nilai  tanah untuk
pondasi beton pracetak dengan permukaan halus. Sedangkan
nilai c2 biasanya diambil 0.4 dari nilai kohesi c tanah.

Nilai minimum dari Angka Keamanan terhadap geser yang lazim


digunakan dalam perencanaan adalah 2.20.

c). Daya Dukung Tanah Dasar

Tekanan yang disebabkan oleh gaya-gaya yang terjadi pada


dasar pondasi sumuran harus dipastikan lebih kecil dari daya
dukung ijin tanah. Daya dukung tanah pada dasar pondasi

4-27
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

sumuran ditentukan dengan cara yang sama seperti dalam


menentukan daya dukung pondasi dangkal. Teori yang berkaitan
dengan perhitungan daya dukung pondasi dangkal dapat diambil
dari metode Meyerhof. Untuk memudahkan analisis, bentuk
sumuran berupa lingkaran dengan diameter D dapat di
ekivalensikan menjadi bentuk empat persegi dengan dimensi B x
B. Besarnya nilai B dihitung sebagai berikut.

  D2
B (4/2-4)
4

Pemeriksaan tegangan yang terjadi dilakukan seperti dalam


perencanaan pondasi dangkal segi empat. Hal pertama yang
perlu diperiksa adalah eksentrisitas dari gaya-gaya ke pondasi
dengan dengan menggunakan persamaan berikut:

B M net
eks   (4/2-5)
2 V

Tegangan kontak ke tanah dasar dihitung dengan persamaan


berikut:

mak
q min 
V 1  6  eks  (4/2-6)
B  B 

Jika nilai eksentrisitas beban eks > B/6 maka tegangan kontak
minimum qmin akan lebih kecil dari 0. Hal ini adalah sesuatu yang
tidak diharapkan. Demikian juga jika tegangan kontak maksimum
qmak lebih besar dari daya dukung ijin. Jika hal ini terjadi maka
lebar pondasi B perlu di perbesar atau diameter pondasi D perlu
diperlebar.

d). Tekanan Tanah Lateral

Tekanan tanah yang bekerja pada pondasi sumuran adalah


tekanan tanah aktif dan tekanan tanah pasif. Tekanan tanah pasif
yang digunakan dalam analisis didasarkan tekanan tanah pada
keadaan diam “at rest”. Besarnya tekanan tanah dalam arah
lateral ditentukan oleh:

4-28
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

1). Besarnya koefisien tekanan tanah aktif, pasif dan keadaan


diam
2). Besarnya kohesi tanah
3). Besarnya beban yang bekerja pada permukaan tanah
timbunan

Tekanan tanah lateral dalam keadaan aktif terjadi apabila tanah


bergerak menekan misalnya pada dinding sumuran sehingga
dinding sumuran bergerak menjauhi tanah di belakangnya.
Tekanan tanah lateral dalam keadaan pasif terjadi pada tanah
yang berada didepan dinding sumuran karena dinding sumuran
menekan dinding tanah tersebut.

2. Gaya-gaya Yang Bekerja Pada Pondasi Sumuran

Notasi gaya-gaya yang bekerja pada pondasi sumuran diberikan


pada Gambar 4-8 di bawah:

Surcharge Load q
V Gaya Luar V, H, dan M
harus sudah memasukkan
tekanan tanah aktif dari
Lapisan tanah 1 (urugan) : C1,1, dan 1
M lapisan 1 (urugan)
Batas tanah urugan H
Lapisan tanah 2 : C2, 2, dan 2
Muka tanah efektif setelah tergerus
Tekanan
Tanah Tekanan
Aktif Tanah
Lapisan 2 Pasif
Lapisan 2
Batas Lapisan tanah 2
Tekanan
Tanah
Lapisan tanah 3 : C3, 3, dan 3
Pasif
Lapisan 3
Tekanan Muka air tanah tertinggi
Tanah
Aktif
Lapisan 3 Tekanan air
Tekanan air

O
Gambar 4-8 Gaya-Gaya Yang Bekerja Pada Pondasi Sumuran

4-29
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Penjelasan lebih lanjut tentang hal-hal penting yang perlu


diperhatikan dalam perencanaan pondasi sumuran adalah sebagai
berikut:

a). Kedalaman Dasar Pile-Cap (meter)

Kedalaman dasar pile cap digunakan untuk menandakan ujung


atas dari pondasi sumuran dimana tekanan tanah tambahan mulai
bekerja. (Perhatikan Gambar 4.9)

Muka tanah

Kedalaman
dasar pile cap
Lapisan 1 (urugan) : t1,1,c1,1 V
Kedalaman muka
M air tanah

Batas lapisan 1 H

Kedalaman
Lapisan 2 : t2,2,c2,2 pondasi
Muka air tanah
Batas lapisan 2

Lapisan 3 : t3,3,c3,3

Batas lapisan 3

diameter sumuran
Lapisan 4 : t4,4,c4,4,SPT4,INEF4

Gambar 4-9 Pondasi Sumuran dan lapis-lapis tanah

b). Kedalaman Pondasi Sumuran (meter)

Kedalaman Pondasi sumuran ditentukan berdasarkan analisis


terhadap hasil penyelidikan tanah. (Perhatikan Gambar 4-9)

c). Banyaknya Pondasi Sumuran

Perencanaan pondasi sumuran yang sering digunakan adalah


pondasi sumuran yang diletakkan dalam 1 baris. Banyaknya

4-30
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

pondasi sumuran menunjukkan rencana jumlah pondasi sumuran


yang akan digunakan dalam 1 baris seperti diperlihatkan pada
Gambar 4-10

Gambar 4-10 Penempatan Pondasi Sumuran

d). Beban Merata di Atas Tanah /Surcharge Load (kN/m2).

Merupakan beban merata diatas tanah yang diklasifikasikan


sebagai beban lalu lintas yang diekivalenkan dengan tanah
urugan setinggi 0.6 meter.

e). Kedalaman Muka Air Tanah Maksimum (m)

Kedalaman muka air tanah diperlukan untuk menghitung


tegangan efektif tanah pada kedalaman tertentu.

f). Daya Dukung Ijin Tanah di Dasar Pondasi Sumuran (kN/m2)

Karena pondasi sumuran diklasifikasikan sebagai pondasi


dangkal, daya dukung ijin tanah tersebut didapat dari analisis
daya dukung pondasi dangkal pada dasar pondasi sumuran.

g). Angka Keamanan Terhadap Geser dan Guling

Nilai minimum dari SF (Safety Factor) terhadap geser dan guling


yang digunakan dalam perencanaan adalah masing masing 2.20.

h). Gaya Luar yang Bekerja Pada Dasar Pile-Cap

Gaya Luar pada dasar Pile-Cap terdiri dari 3 komponen yaitu


Gaya Vertikal (V), Gaya Horisontal (H), dan Momen (M). Gaya
luar tersebut merupakan akibat dari beban dari struktur atas, sub-
struktur seperti abutmen, dan tekanan tanah pada sub-struktur
tersebut. Perjanjian tanda untuk gaya-gaya luar tersebut
mengikuti Gambar 4-9. Tanda positif untuk gaya-gaya ke atas

4-31
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

atau ke kanan, momen positif untuk putaran momen yang searah


dengan jarum jam.

i). Data Lapisan-Lapisan Tanah

Data lapisan tanah yang diperlukan adalah tebal lapisan (m),


berat jenis  (kN/m3), sudut geser dalam  (derajat), dan kohesi
c (kN/m2). Untuk lapisan paling bawah sebaiknya ketebalan
lapisan dinyatakan dengan suatu angka yang relatif besar.

B. Contoh Perhitungan Pondasi Sumuran

Pondasi sumuran direncanakan digunakan untuk menahan gaya-gaya


yang bekerja pada dasar pile cap sebuah abutmen jembatan. Data-data
perencanaan adalah sebagai berikut.

 Kedalaman dasar pile-cap dari muka tanah = 3.0 meter


 Kedalaman pondasi sumuran dari muka tanah = 8 meter
 Banyaknya pondasi sumuran = 2 buah
 Daya dukung ijin pada kedalaman 8 meter = 100 t/m2 = 1000 kN/m2
 Beban merata diatas tanah /surcharge 1.08 t/m2 = 10.8 kN/m2
 Gaya vertikal pada dasar pile-cap = -260.0 ton = -2600 kN
 Gaya horisontal pada dasar pile cap = 19.0 ton = 190 kN
 Momen pada dasar pile cap = -14.0 ton-m = -140 kN-meter
 Kedalaman muka air tanah maksimum = 5.0 meter
 Data tanah adalah sebagai berikut:

No lapisan Tebal (m)  (t/m3) C (t/m2) 

1 3.0 1.8 0.0 35

2 5.0 1.8 0.5 20

3 10. 1.9 0.3 30

4-32
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

1. DIAMETER SUMURAN (DICOBA d = 3.20 METER)

Surcharge Load = 1.08 t/m2 +0.00 Gaya Luar V, H, dan M sudah


-260.0 ton memasukkan tekanan tanah aktif
dari lapisan 1 (urugan)
Lap 1 (urugan) : C1=0, 1= 35, 1=1.8
t/m3 -14.0 t-m
Batas tanah -3.00 19.0 ton
urugan
Lap 2 : C2=0.5 t/m2, 2= 20, 2=1.8 t/m3
Tekanan -3.50 Muka tanah efektif setelah tergerus
Tanah Aktif
Lapisan 2
-5.00 Muka air tanah
tertinggi
Tekanan
Tekanan Tanah Pasif
Lapisan 2

Batas Lapisan tanah


2 +8.00 O
Lap 3 : C3=0.3 t/m2, 3= 30, 3=1.9 t/m3 3.20

2. Berat Sendiri Pondasi Sumuran

Berat sendiri 2 buah pondasi sumuran dihitung sebagai berikut

 D2  3.22
P  L  24  2(buah)   5  24  2 = 1930 kN
4 4

3. Tekanan Tanah Aktif

Lapisan 1 (Tanah Urugan)

Tekanan tanah aktif dari lapisan 1 (tanah urugan) sudah termasuk


kedalam gaya-gaya pada dasar pile cap.

Lapisan 2

Koefisien tekanan tanah aktif untuk lapisan 2 dihitung dengan rumus

1  sin  1  sin 200


Ka    0.49
1  sin  1  sin 200

4-33
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Tekanan tanah aktif pada lapisan 2 elevasi –3.00

q-3.00 = 1*h1*Ka + q Ka – 2cKa= 18*3*0.49 + 10.8*0.49 -


2*5*0.49 = 24.60 kN/m2

Tekanan tanah aktif lapisan 2 elevasi –5.00

q-5.00 = 1*h1*Ka + 2*h2*Ka + q Ka – 2cKa

= 18*3*0.49 + 18*2*0.49 + 10.48*0.49 - 2*5*0.49 = 42.24 kN/m2

Tekanan tanah aktif pada lapisan 2 elevasi –8.00

q-8.00 = 1*h1*Ka + 2*h2 *Ka+ ’2*h2*Ka+ q Ka – 2cKa

= 18*3*0.49 + 18*2*0.49 + (18-10)*3*0.49 + 10.8*0.49 - 2*5*0.49

= 54.00 kN/m2

Gaya tekanan tanah aktif pada lapisan 2 di atas muka air tanah

q3.00  q5.00 24.60  42.24


P HL   2  (2 * 3.2) = 427.72 kN
2 2

Gaya tekanan tanah aktif pada lapisan 2 di bawah muka air tanah

q5.00  q8.00 42.24  54.00


P HL   3  (2*3.2) = 923.81 kN
2 2

4. Tekanan Tanah Pasif

Lapisan 1 (Tanah Urugan)

Lapisan 1 tidak memberikan sumbangan terhadap tekanan tanah


pasif

Lapisan 2

Koefisien tekanan tanah pasif dalam keadaan diam untuk lapisan 2


dihitung sebagai Ko = 1 – sin  = 1 – sin 20o = 1 – 0.342 = 0.658

Tekanan tanah pasif keadaan diam pada lapisan 2 elevasi –3.5

q-3.50 = 2cKo+ = 2*5*0.658 = 8.11 kN/m2

Tekanan tanah pasif keadaan diam lapisan 2 elevasi –5.00

q-5.00 = 2*h2*Ko + 2cKo

= 18*1.5*0.658 + 2*05*0.658 = 25.88 kN/m2

4-34
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

Tekanan tanah pasif keadaan diam pada lapisan 2 elevasi –8.00

q-8.00 = 2*h2*Ko + ’2*h2 *Ko + 2cKo

= 18*1.5*0.658 + (18-10)*3*0.658 + 2*5*0.658 = 41.67 kN/m2

Gaya tekanan tanah pasif keadaan diam pada lapisan 2 di atas muka
air tanah

q3.50  q5.00 8.11  25.88


P HL  1.5  (2 *3.2) = 163.15 kN
2 2

Gaya tekanan tanah pasif keadaan diam pada lapisan 2 di bawah


muka air tanah

q5.00  q8.00 25.88  41.67


P HL   3  (2*3.2) = 648.44 kN
2 2

5. GAYA-GAYA BEKERJA

Gaya-gaya yang bekerja pada pondasi sumuran ditampilkan dalam


bentuk tabel sebagai berikut:

No. Arah Deskripsi gaya Besar gaya x thd O y thd O Momen thd O
(kN) (m) (m) (kN-meter)
1 (v) el. 1 – pondasi -1930.195 -1.600 2.500 -3088.311
2 (v) g. ver. str. atas -2600.000 -1.600 5.000 -4160.000
3 (h) g. hor. str. atas 190.000 -1.600 5.000 950.000
4 (m) momen str. atas 0.000 -1.600 5.000 -140.000
5 (h) tek. aktif lap : 2 430.003 3.200 3.912 1682.358
6 (h) tek. aktif lap : 2 927.412 3.200 1.439 1334.636
7 (h) tek. pasif lap : 2 -163.146 .000 3.619 -590.477
8 (h) tek. pasif lap : 2 -648.438 .000 1.383 -896.858

Dimana lokasi titik referensi O(0,0) adalah y = 0 pada dasar


sumuran/elemen 1 dan x = 0 pada tepi kanan dari sumuran

Total gaya gaya yang bekerja adalah sebagai berikut


Gaya vertikal = -4530.195 kN
Gaya horisontal aktif = 1547.415 kN
Gaya horisontal pasif = -811.583 kN
Momen penahan = -7388.311 kN-meter
Momen guling aktif = 3966.994 kN-meter
Momen guling pasif = -1487.335 kN-meter

4-35
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

6. KESTABILAN TERHADAP GULING

Kestabilan pondasi sumuran terhadap kemungkinan terguling dihitung


dengan persamaan berikut:

SFguling 
M R

7388.311  1487.335
= 2.237
M O 3966.994

Angka keamanan terhadap guling lebih besar dari 2.2, sehingga


memenuhi persyaratan keamanan terhadap guling.

7. KESTABILAN TERHADAP GESER

Ketahanan struktur terhadap kemungkinan struktur bergeser dihitung


berdasarkan Persamaan (4/2-3) dimana nilai 2 biasanya diambil
sama dengan  tanah untuk beton pondasi yang dicor ditempat dan
2/3 dari nilai  tanah untuk pondasi beton pracetak dengan
permukaan halus. Sedangkan nilai c2 biasanya diambil 0.4 dari nilai
kohesi c tanah. Kohesi tanah yang diperhitungkan disini adalah
kohesi tanah tepat di bawah tapak sumuran, jadi c = 0.3 t/m2 = 3
kN/m2.  c2 = 0.4 x 3 kN/ m2.

Luas 2 buah sumuran = B = 2*0.25**3.22 = 16.091 m2

SFgeser 
 V  tan  2  Bc2  Pp
Ph

4530.195 * tan(30)  16.091* 0.4 * 3  811.583


  2.227
1547.415

Angka keamanan terhadap geser lebih besar dari 2.2, sehingga


memenuhi persyaratan keamanan terhadap geser.

8. TEGANGAN PADA TANAH DASAR

Untuk memudahkan analisis, bentuk sumuran berupa lingkaran


dengan diameter D dapat di ekivalensikan menjadi bentuk empat
persegi dengan dimensi B x B. Besarnya nilai B dihitung sebagai
berikut:

4-36
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

  D2  .(3.20) 2
B   2.836 m
4 4

Pemeriksaan tegangan yang terjadi dilakukan seperti dalam


perencanaan pondasi dangkal segi empat. Hal pertama yang perlu
diperiksa adalah eksentrisitas dari gaya-gaya pada dasar pondasi

B M net 2.836 7388.311  1487.335  3966.994


eks     = 0.334 m
2 V 2 4530.195

Tegangan kontak pada tanah dasar dihitung dengan persamaan


berikut:

mak
q min 
V 1  6  eks  (4/2-6)
BL  B 

Untuk 1 pondasi sumuran nilai V = 4530.195/2 = 2265.10 kN

Dari persamaan diatas diperoleh:

a. Tegangan maksimum ke tanah = 480.92 kN/m2

b. Tegangan minimum ke tanah = 82.37 kN/m2

Nilai tegangan maksimum ke tanah lebih kecil dari daya dukung ijin di
dasar sumuran sebesar 1000 kN/m2, tegangan minimum ke tanah
dasar juga lebih besar dari 0 yang berarti tidak ada tegangan kontak
tarik pada dasar pondasi sumuran, sehingga pondasi memenuhi
persyaratan daya dukung.

4-37
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

RANGKUMAN

a. Bab 4 modul Perencanaan Pondasi Jembatan ini menguraikan penerapan kriteria


desain pondasi jembatan, penerapan ketentuan pembebanan jembatan dan perhitungan
perencanaan pondasi.

b. Di dalam penerapan kriteria desain pondasi jembatan tersebut diuraikan kriteria desain
pondasi sumuran, kriteria desain pondasi tiang pancang beton bertulang pracetak / tiang
pancang beton prategang pracetak, kriteria desain pondasi tiang pancang baja struktur /
tiang pancang pipa baja, dan kriteria desain pondasi tiang bor beton. Dengan
mengetahui kriteria desain yang paling sesuai untuk masing-masing jenis pondasi,
diharapkan perencana dapat menyiapkan desain pondasi yang paling sesuai dengan
perkembangan kemampuan pelaksanaan di lapangan, dan tidak terjadi kesalahan
penetapan atau pemilihan mutu bahan pondasi.

c. Dalam penerapan ketentuan pembebanan jembatan, ada 2 pilihan yang dapat


digunakan untuk menghitung perencanaan pondasi jembatan, yaitu Pedoman
Pembebanan Jalan Raya SKBI – 1.3.28.1987 – UDC 624.042 : 62421 atau BMS7-C2-
Bridge Design Code 1992. Perencanaan pondasi jembatan merupakan proses lanjut
perencanaan teknis jembatan setelah perencanaan bangunan atas dan bangunan
bawah diselesaikan. Oleh karena itu ketentuan pembebanan jembatan yang digunakan
dalam perencanaan pondasi jembatan harus mengikuti ketentuan pembebanan
jembatan yang telah digunakan dalam proses-proses sebelumnya yaitu proses
perencanaan bangunan atas dan proses perencanaan bangunan bawah. Selanjutnya
gaya-gaya horizontal, gaya vertikal dan momen lentur yang diperoleh dari perhitungan
beban-beban kerja pada jembatan, digunakan untuk perhitungan pondasi jembatan.

d. Dalam perhitungan pondasi jembatan diberikan contoh perhitungan pondasi tiang


pancang kelompok dan pondasi sumuran. Untuk pondasi tiang pancang, diberikan
contoh perhitungan tiang pancang kelompok dengan material tiang pancang beton
prategang pracetak, sedangkan untuk pondasi sumuran diberikan contoh pondasi
sumuran di bawah pile cap, diletakkan di atas tanah dengan daya dukung ijin 1000
kN/m2 pada kedalaman 8 m dari tanah asli.

4-38
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI

Latihan atau penilaian mandiri menjadi sangat penting untuk mengukur diri atas tercapainya
tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh para pengajar/ instruktur, maka pertanyaan
dibawah perlu dijawab secara cermat, tepat dan terukur.

Kode/ Judul Unit Kompetensi :


INA.5212.113.01.05.07 : Merencanakan pondasi jembatan

Soal :

Jawaban:
Elemen Kompetensi /
No. KUK (Kriteria Unjuk Pertanyaan Apabila ”Ya”
Kerja) Ya Tdk sebutkan butir-butir
kemampuan anda

1. Menganalisis data Sudah dibuat soalnya di


geologi teknik dan Bab 2
penyelidikan tanah.

2. Memilih jenis pondasi Sudah dibuat soalnya di


jembatan Bab 3

3. Merencanakan pondasi
jembatan sesuai dengan
jenis pondasi yang telah
dipilih
3.1. Kriteria desain 3.1. Apakah anda a. .........................
pondasi jembatan mampu menerapkan
b. .........................
diterapkan sesuai kriteria desain
dengan ketentuan pondasi jembatan c. .........................
teknis yang berlaku sesuai dengan dst.
ketentuan teknis
yang berlaku?
3.2. Ketentuan 3.2. Apakah anda a. ..........................
pembebanan mampu menerapkan
b. ..........................
jembatan untuk ketentuan
perencanaan pembebanan c. ..........................
pondasi diterapkan. jembatan untuk dst.
perencanaan
pondasi jembatan?
3.3. Dimensi pondasi 3.3. Apakah anda a. ..........................
jembatan dihitung mampu menghitung
b. ..........................
dan direncanakan dan merencanakan
sesuai dengan dimensi pondasi c. ..........................
persyaratan teknis jembatan sesuai dst.
yang ditentukan dengan persyaratan
teknis yang
ditentukan?

4-39
Pelatihan Bridge Design Engineer Perencanaan Pondasi Jembatan

DAFTAR PUSTAKA

1. Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan, Pusat Litbang Jalan dan Jembaatan,

Badan Penelitian dan Pengembangan – Departemen Pekerjaan Umum – Januari

2007.

2. Teknik Fondasi II, Hary Christady Hardiyatmo – 2003.

3. Teknik Fondasi I, Hary Christady Hardiyatmo – 2002

4. Foundation Analysis And Design, Joseph E. Bowles – Mc Graw-Hill International

Editions – 1997.

5. Pile Design and Construction Practice, M.J. Tomlinson – 1997.

6. Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah, Joseph E. Bowls/Johan K. Hainim – 1991.

7. Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan – Beban Jembatan, BMS7-C2-Bridge

Design Code 1992, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum.

8. Pedoman Pembebanan Jalan Raya SKBI – 1.3.28.1987 – UDC 624.042 : 62421,

Departemen Pekerjaan Umum.

9. Rancangan 3 Pedoman Konstruksi dan Bangunan – Standar Pembebanan Untuk

Jembatan – Pd x-xx-2004-B – Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.

10. Mekanika Tanah, L.D. Wesley – 1988.

11. Pondasi Tiang Pancang, Ir. Sardjono HS. – 1984.

12. Mekanika Tanah & Teknik Pondasi, Ir. Suyono Sosrodarsono – Kazuto Nakazawa – Ir.

Taulu dkk. 1981.

13. ACI Manual of Concrete Practice – Structural Design, Structural Specification,

Structural Analysis – ACI Publication, 1978.

14. Foundation Design, Wayne C. Teng – 1979.