Anda di halaman 1dari 21

Penanganan Penyakit Daerah Tropis

“Antraks”

Disusun oleh :

1. Alda Titania (P07220216002)


2. Edy Kurniawan (P07220216013)
3. Fika Dwi Aprilia (P07220216018)
4. Irham Labib Huda (P07220216023)
5. Nur Ika Syafira (P07220216032)
6. Sri Devi Mu’ammamah (P07220216036)

KEMENTRIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR

JURUSAN KEPERAWATAN

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN


2018
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Penangan
Penyakit Daerah Tropis tentang “Antraks”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Penyakit Antraks dapat
memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Samarinda, 29 April 2018

Penyusun

i
Daftar Isi

Kata Pengantar ........................................................................................................................ i


Daftar Isi ................................................................................................................................. ii
BAB I Pendahuluan ................................................................................................................ 1

A. Latar Belakang ............................................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 1
C. Tujuan .......................................................................................................................... 2

BAB II Isi ................................................................................................................................. 3

A. Pengertian Antraks ..................................................................................................... 3


B. Etiologi dan Cara penularan....................................................................................... 5
C. Patofisiologi ................................................................................................................. 9
D. Manifestasi klinis ...................................................................................................... 10
E. Komplikasi dan Pemeriksaan penunjang ................................................................ 11
F. Penatalaksanaan ....................................................................................................... 12

BAB III Penutup .................................................................................................................... 15

A. Kesimpulan ................................................................................................................ 15
B. Saran ........................................................................................................................... 15

Daftar Pustaka

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Antraks merupakan salah satu penyakit tertua yang dikenal. Penyakit ini pernah
menjadi epidemi: misalnya pada tahun 1600an sebagai epidemi di Eropa dan dikenal
sebagai black bane disease. Kemudian pada tahun 1979, epidemi di Zimbabwe
melibatkan tidak kurang dari 6000 penderita. Pada tahun itu pula terjadi kecelakaan
instalasi militer di Rusia yang menyebabkan 66 kematian manusia akibat antraks
pulmonal (Sjahrurachman, 2007).
Penyakit zoonosis ini, hampir semua negara Afrika dan Asia, beberapa negara di
Eropa (Inggris, Jerman dan Italia), beberapa negara bagian Amerika Serikat (South
Dakota, Nebraska, Louisiana, Arkansas, Texas, Misissipi dan California) dan
beberapa daerah di Australia (Victoria dan New South Wales) (Adji dan Natalia,
2006).
Anthraks adalah penyakit menular yang biasanya bersifat akut atau perakut pada
berbagai jenis ternak (pemamah biak, kuda, babi dan sebagainya), yang disertai
dengan demam tinggi dan disebabkan oleh Bacillus anthracis. Biasanya ditandai
dengan perubahan-perubahan jaringan bersifat septisemia, timbulnya infiltrasi
serohemoragi pada jaringan subkutan dan subserosa, disertai dengan pembengkakan
akut limpa. Berbagai jenis hewan liar (rusa, kelinci, babi hutan dan sebagainya) dapat
pula terserang.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari antrax?
2. Bagaimana etiologi dan cara penularannya?
3. Bagaimana patofisiologi dari antrax?
4. Apa manifestasi klinis dari penyakit antrax?
5. Apa komplikasi dan bagaimana pemeriksaan penunjang penyakit antrax?
6. Bagaimana penatalaksanaan dari penyakit antrax?

1
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini, yakni :
1) Tujuan umum :
Untuk mengetahui dan memahami penyakit antrax meliputi : pengertian, etiologi
dan cara penularan, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi dan pemeriksaan
penunjang, serta penatalaksanaannya agar kelak mampu menerapkan proses
asuhan keperawatan pada penanganan penyakit daeras tropis yang sesuai dengan
kondisi.

2) Tujuan khusus :
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari antrax
2. Untuk mengetahui dan memahami etiologi dan cara penularan penyakit antrax
3. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi penyakit antrax
4. Untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinis dari penyakit antrax
5. Untuk mengetahui dan memahami komplikasi dan pemeriksaan penunjang
dari penyakit antrax
6. Untuk mengetahui dan memahami penatalksanaan penyakit antrax

2
BAB II

ISI

A. Pengertian Antrax
Penyakit Anthrax disebut juga Radang Limpa adalah penyakit yang disebabkan
oleh kuman Bacillus anthracis dapat menyerang semua hewan berdarah panas
termasuk unggas dan manusia (bersifat zoonosis). Satwa liar yang pernah terserang
penyakit ini antara lain red deer Cervus elaphus, wapiti (Cervus elaphus spp), moose
(Alces alces) dan fallow deer (Dama dama). Secara sporadik penyakit Anthrax pernah
terjadi pada bison liar Bison bison maupun white-tailed deer (Odocsileus virginamus).
Antraks merupakan penyakit bakterial menyerang ternak ruminansia besar (sapi,
kerbau), disebabkan oleh Bacillus anthracis pembentuk spora, bersifat sangat fatal,
dan menular ke manusia (zoonosis) melalui kontak kulit, inhalasi atau mengkonsumsi
produk ternak yang terkontaminasi (OIE, 2000). Antraks sebagai salah satu penyakit
hewan menular strategis pada ruminansia besar. Penyakit hewan menular strategis
memiliki beberapa kriteria, diantaranya pertimbangan ekonomis (mengganggu
produktivitas dan reproduktivitas ternak secara signifikan, mengakibatkan gangguan
perdagangan); pertimbangan politis (meresahkan masyarakat, perlu prioritas
pengendalian, umumnya penyakit dalam kelompok penyakit zoonosis); dan
pertimbangan strategis (tingkat mortalitas tinggi, penyebaran/penularan relatif cepat,
antar daerah dan antar lintas batas, serta memerlukan pengaturan lalulintas ternak,
atau produk ternak yang ketat).
Penyakit Anthrax bersifat universal karena secara geografis tersebar di seluruh
dunia, baik negara yang beriklim tropis maupun sub tropis. Daerah Anthrax di benua
Asia antara lain negara Saudi Arabia, Tiongkok, Iran, Irak, Indonesia, Jepang,
Pakistan, Siberia dan Tibet; di benua Afrika hampir seluruh negara merupakan Daerah
Anthrax; di benua Eropa antara lain negara Inggris, Jerman dan Perancis; di benua
Amerika meliputi negara-negara di Amerika Selatan dan Amerika Utara; dan di benua
Australia beberapa daerahnya merupakan sumber penularan. Penyakit timbul secara
enzootis pada saat-saat tertentu sepanjang tahun, namun lokasi terbatas hanya pada
daerah tertentu yang disebut Daerah Anthrax.

3
Kuman Anthrax apabila jatuh ke tanah atau mengalami kekeringan ataupun dalam
lingkungan yang kurang baik lainnya akan berubah menjadi bentuk spora. Spora
Anthrax ini tahan hidup sampai 40 tahun lebih, dapat menjadi sumber penularan
penyakit baik kepada manusia maupun hewan ternak. Spora antraks dapat terbentuk
apabila bakteri kontak dengan udara atau oksigen, sangat resisten dan dapat survive
bertahuntahun di tanah, karena tahan terhadap perubahan lingkungan, sulit
dimusnahkan pada suatu wilayah yang positif antraks, dengan penanganan kurang
memadai sulit untuk penanggulanganya, sehingga perlu pemahaman interaksi sistem
sosial dan sistem ekologi. Dengan mewujudkan eksistensi keluarga sebagai unit
terkecil dari masyarakat, atau sistem sosial yang mempunyai fungsi sosialisasi dan
pendidikan, untuk mengimplementasikan pencegahan dan pengendalian penyakit
antraks.
Oleh karena itu penyakit Anthrax dapat disebut “penyakit tanah” dan berpotensi
menimbulkan kejadian luar biasa/wabah, meskipun kejadian biasanya terlokalisir di
sekitar wilayah tersebut saja. Kewaspadaan terhadap penyakit Anthrax hendaknya
lebih ditingkatkan pada Daerah Bebas Anthrax yang memiliki perbatasan darat
dengan daerah tertular, baik perbatasan kabupaten/kota maupun provinsi. Apabila
telah diketahui sumber infeksi, segera musnahkan sumber infeksi tersebut dan
putuskan seluruh rantai penularan diikuti dengan pencegahan penyakit dan
pengobatan hewan yang berisiko tinggi. Jika tidak dilaksanakan pengawasan lalu
lintas ternak, pemberantasan dan pengendalian penyakit serta pemberantasan vektor
lalat penghisap darah secara ketat maka kerugian ekonomi yang ditimbulkan penyakit
sangat besar.

4
B. Etiologi dan Cara Penularan
Penyakit Antrax

Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan : Bacteria

Filum : Firmicutes

Kelas : Bacilli

Ordo : Bacillales

Famili : Bacillaceae

Genus : Bacillus

Spesies : B. anthracis

Penyebab anthraks adalah Bacillus anthracis. Bacillus anthracis berbentuk batang


lurus, dengan ujung-ujung siku-siku. Dalam biakan membentuk rantai panjang.
Dalam jaringan tubuh tidak pernah terlihat rantai panjang, biasanya tersusun secara
tunggal atau dalam rantai pendek dari 2-6 organisme. Dalam jaringan tubuh selalu
berselubung (berkapsul), kadang-kadang satu selubung melingkupi beberapa
organisme. Selubung tersebut tampak jelas batas-batasnya dan dengan pewarnaan
biasa tidak berwarna atau berwarna lebih pucat dari tubuhnya. Basil anthraks bersifat
aerob, membentuk spora yang letaknya sentral bila cukup oksigen. Oleh karena tidak
cukup terdapat oksigen, spora tidak pernah dijumpai dalam tubuh penderita atau

5
didalam bangkai yang tidak dibuka (diseksi), baik dalam darah maupun dalam
jeroan. Kuman bersifat Gram-positif, dan mudah diwarnai dengan zat-zat warna
biasa.

Pada media agar, kuman anthraks membentuk koloni yang suram, tepinya tidak
teratur, yang pada pembesaran lemah menyerupai jalinan rambut bergelombang,
yang sering kali disebut caput medusae. Pada media cair mula-mula terjadi
pertumbuhan di permukaan, yang kemudian turun ke dasar tabung sebagai jonjot
kapas, cairannya tetap jernih.

Spora tahan terhadap kekeringan untuk jangka waktu yang lama, bahkan dalam
tanah dengan kondisi tertentu dapat tahan sampai berpuluh-puluh tahun. Lain halnya
dengan bentuk vegatif B.anthracis mudah mati oleh suhu pasteurisasi, desinfektan
atau oleh proses pembusukan. Pemusnahan spora B.anthracis dapat dicapai antara
lain dengan : uap basah bersuhu 90° selama 45 menit, air mendidih atau uap basah
bersuhu 100°C selama 10 menit, dan panas kering pada suhu 120°C selama satu jam.
Meskipun anthrak tersebar di seluruh dunia namun pada umumnya penyakit terdapat
terbatas pada beberapa wilayah saja. Biasanya penyakit timbul secara enzootik pada
saat tertentu saja sepanjang tahun.

Epidemiologi Antraks

1. Spesies Rentan atau Populasi Rentan


Menurut penelitian, kerentanan hewan terhadap antraks dapat dibagi dalam
beberapa kelompok sebagai berikut:
a. Hewan-hewan pemamah biak, terutama sapi dan domba, kemudian kuda,
rusa, kerbau dan pemamah biak liar lain, juga marmut dan mencit (mouse)
sangat rentan.
b. Babi tidak begitu rentan.
c. Anjing, kucing, tikus (rat) dan sebagian besar bangsa burung, relatif tidak
rentan tetapi dapat diinfeksi secara buatan.
d. Hewan-hewan berdarah dingin sama sekali tidak rentan (not affected).

Anthrax terutama menyerang hewan ternak sapi,kambing, domba / biri-


biri, kuda. Endospora dari Bacillus anthracis yang mencemari tanah

6
kemungkinan akan menempel pada rerumputan atau tanaman lainnya dan
termakan oleh ternak. Manusia umumnya terinfeksi oleh endospora bakteri ini
melalui lesi di kulit, inhalasi atau per oral. Menghirup spora dari hewan yang
sakit, spora antraks yang ada di tanah/rumput dan lingkungan yang tercemar
spora antraks maupun bahan-bahan yang berasal dari hewan yang sakit, seperti
kulit, daging, tulang, dan darah. Mengkonsumsi daging hewan yang sakit/mati
dan produknya karena antraks dan Pernah dilaporkan melalui gigitan serangga
Afrika yang telah
memakan bangkai
hewan yang tertular
kuman Antraks,
serta Penularan
dari manusia ke manusia
jarang terjadi.

2. Cara

penularannya :

7
Pada hakekatnya anthraks adalah "penyakit tanah", yang berarti bahwa
penyebabnya terdapat didalam tanah, kemudian bersama makanan atau
minuman masuk ke dalam tubuh hewan. Pada manusia infeksi dapat terjadi
lewat kulit, mulut atau pernafasan. Anthraks tidak lazim ditularkan dari hewan
yang satu kepada yang lain secara langsung.

Anthraks tidak lazim ditularkan dari hewan yang satu kepada yang lain
secara langsung. Wabah anthraks pada umumnya ada hubungannya dengan
tanah netral atau berkapur yang alkalis yang menjadi daerah inkubator kuman
tersebut. Di daerah-daerah tersebut spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif bila
keadaan lingkungan serasi bagi pertumbuhannya, yaitu tersedianya makanan,
suhu dan kelembaban tanah, serta dapat mengatasi persaingan biologik. Bila
keadaan lingkungan tetap menguntungkan, kuman akan berkembang biak dan
membentuk spora lebih banyak.

Basil anthraks berkerumunan di dalam jaringan-jaringan hewan penderita,


yang dikeluarkan melalui sekresi dan ekskresi menjelang kematiannya. Bila
penderita anthraks mati kemudian diseksi atau termakan burung-burung atau
hewan pemakan bangkai, maka spora dengan cepat akan terbentuk dan
mencemari tanah sekitarnya. Bila terjadi demikian maka menjadi sulit untuk
memusnahkannya. Hal tersebut menjadi lebih sulit lagi, bila spora yang
terbentuk itu tersebar oleh angin, air, pengolahan tanah, rumput makanan ternak
dan sebagainya.

Di daerah iklim panas lalat pengisap darah antara lain jenis Tabanus dapat
bertindak sebagai pemindah penyakit. Masa tunas anthraks berkisar antar 1-3
hari, kadang-kadang ada yang sampai 14 hari. Infeksi alami terjadi melalui :

a. Saluran pencernaan
b. Saluran pernafasan dan
c. Permukaan kulit yang terluka.

Infeksi melalui saluran pencernaan lazim ditemui pada hewan-hewan


dengan tertelannya spora, meskipun demikian cara infeksi yang lainpun dapat
saja terjadi. Pada manusia, biasanya infeksi berasal dari hewan melalui
permukaan kulit yang terluka, terutama pada manusia-manusia yang banyak
berhubungan dengan hewan. Infeksi melalui pernafasan mungkin terjadi pada

8
pekerja-pekerja penyortir bulu domba (wool-sorter's disease), sedangkan infeksi
melalui saluran pencernaan terjadi pada manusia-manusia yang makan daging
asal hewan penderita anthraks.

Pintu masuknya penyakit antraks pada hewan, umumnya bisa melalui


saluran pencernaan hewan, kontak kulit dan terhirup masuk melalui saluran
pernapasan. Sedangkan pada manusia, selain bisa menular melalul kontak
atau mengonsumsi daging hewan ternak yang terkena antraks, penularan
antarmanusia bisa terjadi melalui udara yang tercemar spora antraks dan
masuk ke paru-paru manusia.

Dengan kata lain, bakteri Bacillus anthracis akan bersifat menghancurkan


sel-sel darah, baik pada hewan maupun manusia. Apabila gejala klinis sudah
timbul, biasanya dilkuti dengan kematian, baik pada hewan maupun manusia.
Untuk itu, orang yang mengonsumsi daging hewan terkena antraks akan sangat
membahayakan. Apalagi kondisi daging hewan tersebut tidak kita masak
teriebih dahulu secara sempurna.

Selain itu, Bacillus anthracis juga membentuk spora sebagai bentuk resting
cells. Pembentukan spora akan terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan
tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan, prosesnya disebut
sporulasi.Spora berbentuk elips atau oval, letaknya sentral dengan diameter
tidak lebih dari diameter bakteri itu sendiri. Spora Bacillus anthracis ini tidak
terbentuk pada jaringan atau darah binatang yang hidup, spora tersebut tumbuh
dengan baik di tanah maupun pada jaringan hewan yang mati karena antraks.

Di sinilah keistimewaan bakteri ini, apabila keadaan lingkungan sekitar


menjadi baik kembali atau nutrisi esensial telah terpenuhi, spora akan berubah
kembali menjadi bentuk bakteri. Sporaispora ini dapat terus bertahan hidup
selama puluhan tahun dikarenakan sulit dirusak atau mati oleh pemanasan atau
bahan kimia tertentu, sehingga bakteri tersebut bersifat dormant, hidup tapi tak
berkembang biak.

C. Patofisiologi Penyakit Antraks

9
Manusia relatif tahan terhadap invasi kutaneus oleh B.anthracis, tetapi organisme
dapat masuk kotoran mikroskopik di kulit. Pada cutaneous anthrax, sebuah malignan
berkembang pada tempat terjadinya infeksi. Pustule ini adalah daerah pusat nekrosis
koagulasi (ulkus) yang dikelilingi oleh vesikula yang berisi cairan atau darah. Edema
luas mengelilingi lesi. Organisme berkembang biak secara lokal dan dapat menyebar
ke aliran darah atau organ tubuh lainnya (misalnya, limpa) melalui limfatik eferen.
Penyebaran dari hati, limpa, dan ginjal kembali ke aliran darah dapat mengakibatkan
bakteremia. Dalam Anthrax bacteremic, lesi hemoragik mungkin dapat berkembang
di manapun pada tubuh. Anthrax Bacteremic dengan menyebar hematogenous paling
umum berikut anthrax inhalasi.
B. anthracis tetap dalam kapiler yang menyerang organ, efek lokal dan infeksi fatal
adalah karena sebagian besar racun diuraikan oleh B anthracis. Anthrax dalam tahap
spora bisa bertahan selamanya dalam lingkungan. Kondisi pertumbuhan yang optimal
mengakibatkan fase vegetatif dan multiplikasi bakteri berjalan dengan baik.
Anthrax usus primer terutama menginfeksi sekum dan menghasilkan lesi lokal
mirip dengan lesi pada kulit. Anthrax orofaringeal adalah varian dari anthrax usus dan
terjadi di oropharynx setelah menelan produk-produk daging yang terkontaminasi
anthrax. Anthrax orofaringeal ditandai dengan nyeri tenggorokan dan sulit menelan.
Lesi pada tempat masuk ke oropharynx menyerupai ulkus kulit.
Anthrax inhalasi penyebab terjadi setelah menghirup spora dan masuk ke dalam
paru-paru. Spora yang dicerna oleh makrofag alveolar dan dibawa ke kelenjar getah
bening mediastinum. Anthrax di paru-paru tidak menyebabkan pneumonia, tetapi
menyebabkan hemoragik mediastinitis dan edema paru. Efusi pleura sering menyertai
anthrax inhalasi.
Antraks meningitis dapat terjadi penyemaian bacteremic setelah dari segala
bentuk anthrax.
Anthrax Septicemic mengacu pada infeksi yang luar biasa yang dihasilkan dari
invasi aliran darah sekunder untuk inhalasi atau Anthrax usus. Kematian dari Anthrax
terjadi sebagai akibat dari pengaruh racun yang mematikan. Hampir mati atau hanya
setelah kematian, hewan berdarah dari semua lubang tubuh.

D. Manifestasi Klinis Penyakit Antraks


Gejala Klinis pada Manusia

10
a. Antraks Inhalasi
Secara klasik gejala klinis antraks inhalasi bersifat bifasik. Pada fase awal, 1-
6 hari setelah masa inkubasi timbul gejala yang tidak khas berupa demam ringan,
malaise, batuk nonproduktif, nyeri dada atau perut, dan biasanya tanpa disertai
kelainan fisik, penyakit akan masuk ke dalam fase kedua. Pada fase tersebut
secara mendadak timbul demam, sesak napas akut, diaforesis, dan sianosis.
Akibat pembesaran kelenjar getah bening, pelebaran mediastinum, dan edema
subkutan di dada dan leher yang dapat menimbulkan obstruksi trakea maka
stridor dapat terjadi.
b. Antraks Kulit
Gejalanya berupa benjolan yang awalnya kecil dan kemudian membesar.
Benjolan ini bisa sangat gatal. Masa inkubasinya (masa yang dibutuhkan dari
sejak masuk hingga menjadi penyakit) adalah sekitar 5 -7 hari. Lalu, benjolan
menjadi terisi cairan dengan diameter 1-3 cm. Lama-kelamaan, benjolan berair ini
akan membentuk luka seperti lecet dengan bagian pinggiran yang kemerah-
merahan. Di hari ke-7 hingga ke-10 terjadi pembengkakan kelenjar getah bening;
sakit kepala; dan demam.
c. Antraks Gastrointestinal
Gejala klinis berupa demam, nyeri abdomen difus, konstipasi, atau diare.
Oleh karena ulserasi yang terjadi maka buang air besar atau muntah menjadi
kehitaman atau kemerahan. Dapat terjadi asites yang jernih sampai purulen (bila
dilakukan kultur sering ditemukan koloni B. Anthracis). Kematian terjadi akibat
perdarahan, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, perforasi, syok, atau
toksemia. Bila penderita dapat bertahan hidup maka sebagian besar gejala akan
hilang dalam 10-14 hari.

E. Komplikasi dan Pemeriksaan Penunjang Pada Penyakit Antraks


1. Komplikasi pada penyakit antraks, yakni :
Komplikasi antraks yang paling serius adalah peradangan fatal pada selaput
dan cairan yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang, yang menyebabkan
perdarahan hebat (meningitis hemoragik).
2. Pemeriksaan penunjang pada penyakit antraks, yakni :
Untuk penegakan diagnosa perlu dilakukan pemeriksaan laboratoris dengan
pengecatan langsung atau kultur terhadap specimen yang diambil dari

11
malignant pustule, sputum , darah atau discharge penderita. Hal ini tergantung dari
manifestasi klinis yang terjadi pada penderita tersebut. Kesulitan dalam isolasi
Bacillus anthracis dari kultur ini umumnya adalah banyaknya bakteri pencemar
berupa genus Bacillus yang non pathogen misalnya Bacillus cereus. Beberapa
sifat dari Bacillus anthracis yang berbeda dengan Bacillus cereus dapat digunakan
untuk membedakan keduanya misalnya kemampuan membentuk capsule,
sensitive terhadap penicillin, non motil dan kemampuan melisis bakteriophaga
merupakan sifat Bacillus anthracis yang tidak dimiliki oleh Bacillus cereus.
Tes Serologi, pada pemeriksaan ELISA pada penderita yang dicurigai
terinfeksi antraksmenunjukkan antibodi titer positif dimana kenaikan titer 4 kali
lebih bermakna. Tesini membantu konfirmasi jika kultur negatif.
Radiologi, jika dicurigai terjadi antraks inhalasi dapat dilakukan foto thoraks
atau CT Scan. Hasilfoto thoraks menunjukkan mediastinum yang melebar, adanya
infiltrat, efusi pleura. CT Scan menunjukkan hiperdensi hilus, nodul pada
mediastinum, edema mediastinumdan efusi pleura.
Pemeriksaan lainnya adalah PCR (Polymerase chain reaction assay), biopsy
jaringan dengan pewarnaan imunohistokimia.
Yang perlu diketahui adalah bahwa diagnosa laboratoris terhadap tersangka
anthrax hanya boleh dilakukan oleh laboratorium tertentu yang mempunyai
standar BSL2/Biological Safety Level 2.

F. Penatalaksanaan Penyakit Antraks


1. Penanganan
Pada manusia, penanganan yang baik senantiasa harus berpedoman pada
pengamatan komprehensif, sehubungan dengan penanganan penyakit antraks ini
perlu kiranya dilakukan anamnesa terarah karena diagnosa dini penyakit anthrax
umumnya sulit ditegakkan. Seperti diketahui bahwa pada awalnya anthrax
menunjukkan gejala dan tanda yang bersifat umum seperti demam subfebris, sakit
kepala. Oleh karena sebagian besar manifestasi klinis penyakit antraks adalah
antraks kulit maka umumnya penderita datang dengan keluhan demam, sakit
kepala disertai tumbuhnya papula yang gatal atau vesikel yang berisi cairan. Pada
keadaan seperti inilah perlu dilakukan anamnesa terarah seperti adanya riwayat
sering kontak dengan ternak atau produknya, status pekerjaan misalnya petani
ladang, peternak, pegawai Rumah Potong Hewan, penyamak kulit dan tidak kalah

12
pentingnya bagi kalangan medis adalah mengetahui dimana dia berada, di wilayah
endemis atau perbatasan. Mendeteksi secara dini penyakit anthrax dapat mudah
dilakukan bila kalangan medis sudah pernah melihat secara langsung kelainan
pathognomonis yang ada seperti eschar pada kulit, yaitu kerak hitam yang berada
ditengah ulkus yang mengering.

2. Pengobatan
Pada manusia pemberian antibiotik intravena direkomendasikan pada kasus
antraks inhalasi, gastrointestinal dan meningitis. Bacillus anthracis resisten
terhadap antibiotika yang sering dipergunakan pada penanganan sepsis seperti
sefalosporin tetapi hampir sebagian besar bakteri ini sensitif terhadap penisilin,
doksisiklin, siprofloksasin, kloramfenikol, vankomisin, sefazolin, klindamisin,
rifampisin, imipenem,aminoglikosida, sefazolin, tetrasiklin, linezolid, dan
makrolid. Bagi penderita yang alergi terhadap penisilin maka kloramfenikol,
eritromisin, tetrasikilin, atau siprofloksasin dapat diberikan.
Pemberian antibiotika topikal tidak dianjurkan pada cutaneous anthrax dengan
gejala sistemik, edema yang luas, atau lesi di kepala dan leher, dan sebaiknya
diberikan antibiotika intravena. Walaupun sudah ditangani secara dini dan
adekuat, prognosis anthrax inhalasi, anthrax gastrointestinal, dan anthrax
meningeal biasanya tetap buruk. Pada cutaneous anthrax dan gastrointestinal
anthrax yang bukan karena bioterorisme, pemberian antibiotika harus tetap
dilanjutkan hingga paling tidak 14 hari setelah gejala reda. Oleh karena anthrax
inhalasi secara cepat dapat memburuk, maka pemberian antibiotika sedini
mungkin sangat diperlukan. Keterlambatan pemberian antibiotika sangat
mengurangi angka kemungkinan hidup. Oleh karena pemeriksaan mikrobiologis
yang cepat masih sulit dilakukan maka setiap orang yang memiliki risiko tinggi
terkena anthrax harus segera diberikan antibiotika sambil menunggu hasil
pemeriksaan laboratorium. Untuk kasus anthrax inhalasi, Food and Drug
Administration / FDA menganjurkan penggunaan antibiotika penisilin,
doksisiklin, dan siprofloksasin sebagai antibiotika pilihan.
Karena kemungkinan telah dilakukan rekayasa kuman sehingga resisten
terhadap beberapa antibiotik maka siprofloksasin merupakan obat pilihan utama
pada antraks bioterorisme. Antibiotik profilaksis diberikan pada penduduk yang
terpapar endospora bakteri ini. Vaksinasi diberikan pada kelompok risiko tinggi

13
terpapar endospora. Sementara itu pengendalian infeksi dan dekontaminasi juga
perlu dilakukan. Untuk kasus anthrax yang diduga karena bioterorisme, seperti
setelah adanya serangan anthrax yang terjadi pada tahun 2001 di Amerika Serikat
dan berdasarkan uji kepekaan yang dilakukan, CDC menganjurkan pemakaian
kombinasi 2-3 antibiotika untuk pengobatan antraks inhalasi. Pemberian dua atau
lebih antibiotika secara intravena dikatakan sangat bermanfaat meningkatkan
angka harapan hidup, mengingat kemungkinan adanya rekayasa terhadap bakteri
Bacillus anthracis dipakai sebagai serangan bioterorisme , sehingga bakteri
menjadi resisten terhadap satu atau lebih antibiotika.
Di Indonesia, karena setiap petugas kesehatan sudah dilatih untuk menangani,
sebaiknya bila ada penderita yang diduga menderita anthrax maka sebaiknya
segera dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit. Menurut staf ahli Bidang
Kesehatan Lingkungan dan Epidemiologi Depkes dr. I Nyoman Kandun MPH,
pemerintah menyediakan obat untuk anthrax di seluruh kabupaten endemis
anthrax, pemerintah juga memberikan pelatihan surveillance dan diagnosis klinis
serta laboratorium di empat provinsi endemis. Pemerintah juga telah
mendistribusikan poster, leaflet, dan buku petunjuk penanganan anthrax serta
melakukan kerja sama lintas sektoral dalam pemberantasan anthrax dan langkah
penanggulangan lain.
Pada anthrax kulit dapat diberikan Procain penisilin 2 x 1,2 juta IU
diberikan secara IM selama 5 - 7 hari. Atau dapat juga dengan menggunakan
benzil penicillin 2500 IU secara IM setiap 6 jam. Perlu diperhatikan mengingat
drug of choise untuk antraks adalah penicillin sehingga sebelum diberikan
suntikan harus dilakukan skin test terlebih dahulu. Bila penderita/ tersangka
hipersensitif terhadap penisilin dapat diganti dengan memberikan tetrasiklin,
klorampenikol atau eritromisin.
Pada anthrax intestinal dan pulmonal dapat diberikan Penisilin G 18 - 24
juta IU / hari, IVFD ditambah dengan streptomisin 1 - 2 gram untuk tipe
pulmonal, dan untuk tipe gastro intestinal tetrasiklin 1 gram/ hari. Terapi
supportif dan simptomatis perlu diberikan, biasanya plasma ekspander dan
regiment vasopresor bila diperlukan. Pada anthrax intestinal dapat pula
menggunakan chloramphenicol 6 gram/ hari selama 5 hari, kemudian
diteruskan 4 gram/ hari selama 18 hari, diteruskan dengan eritromisin 4
gram/ hari untuk menghindari supresi pada sumsum tulang.

14
Penanganan di Rumah Sakit : penderita anthrax yang dirujuk ke Rumah
Sakit umumnya penderita yang penyakitnya makin memburuk seperti adanya
septikemi, syok, dan dehidrasi, untuk itu penanganannya adalah harus dirawat di
ruang isolasidan dilakukan tindakan medik dan pemberian obat- obatan
simptomatis/ supportif, antibiotika, desinfeksi terhadap ekreta dan sekreta yang
dikeluarkan penderita serta pengambilan dan pengiriman spesimen ke
Laboratorium.

3. Pencegahan
Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah penularan anthrax pada
manusia diantaranya dengan menghindari kontak langsung dengan bahan atau
makanan yang berasal dari hewan yang dicurigai terkena anthrax. Selain itu perlu
dilakukan pemusnahan bangkai hewan yang mati karena anthrax secara benar
sehingga tidak memungkinkan endospora dari bakteri ini untuk menjadi sumber
infeksi. Vaksinasi pada hewan ternak perlu dilakukan untuk mencegah infeksi
pada ternak sapi, kerbau, kambing, domba maupun kuda.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
♥ Anthrax merupakan penyakit zoonosis yang dapat menimbulkan kematian
♥ Anthrax disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis, suatu bakteri berbentuk
batang Gram positif yang dapat membentuk endospora
♥ Endospora Bacillus anthracis tahan hingga puluhan tahun di dalam tanah
sehingga merupakan sumber penularan yang sulit untuk dieradikasi
♥ Infeksi anthrax pada manusia dapat melalui 3 jalur yaitu per oral, per inhalasi dan
per cutan
♥ Urutan manifestasi klinis anthrax pada manusia dari yang tersering adalah tipe
cutaneous anthrax ( malignant pustule ), pulmonary anthrax dan gastrointestinal
anthrax
♥ Diagnosa laboratoris hanya diperbolehkan pada laboratorium tertentu yang
berstandar BSL2

15
♥ Bacillus anthracis peka terhadap penicillin dan tetracycline sehingga merupakan
antibiotika pilihan
♥ Pencegahan infeksi anthrax dapat dilakukan dengan cara menghindari kontak
dengan hewan tersangka beserta produknya serta melakukan vaksinasi pada
ternak yang rentan serta memusnahkan bangkai hewan penderita

B. Saran

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar
penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat .

16
DAFTAR PUSTAKA

Wasito. 2006. Pengendalian Penyakit Antraks: Fungsi Sosialisasi Dan Pendidikan Keluarga
Serta Inovator Dan Early Adopter.
http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/fullteks/lokakarya/lpeny06-17.pdf?secure=1.
Diunduh tanggal 29 April 2018

Kementrian Pertanian RI. 2016. Seri Penyakit Antraks.

https://luk.staff.ugm.ac.id/artikel/kesehatan/KementanAnthrax.pdf. Diakses 29 April 2018

www.infeksi.com. Pusat Informasi Penyakit Infeksi Rumah Sakit Prof. dr. Sulianti Saroso.

Pohan HT.2005. Patogenesis, Diagnosis dan Penatalaksanaan Antraks. Majalah Kedokteran


Indonesia; vol 55; no 1; hal 23- 29.