Anda di halaman 1dari 8

SEL LUPUS ERYTHEMATOCUS

I. DESKRIPSI SINGKAT

Sel Lupus Erythematocus merupakan penyakit autoimun,sebagai pembentukan


berbagai autoantibody dan dapat menjadi penyebab gangguan fungsi dan
kerusakan struktur jaringan organ. Sel LE digambarkan pertama kali oleh
Cazenave dan Clausit pada tahun 1852.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) :
Setelah pembelajaran selesai, peserta didik mampu menjelaskan
secara teoritis tentang sel LE
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) :
Setelah pembelajaran selesai, peserta didik mampu :
1. Menjelaskan defifinisi Sel LE
2. Manisfestasi Klinis Sel LE
3. Penatalaksaan dan terapi Sel LE
4. Pemeriksaan diagnostic Sel LE

III. POKOK BAHASAN


Pokok bahasan yang dibahas di modul ini adalah :
1. Sel LE
2. Maanifestasi Klinis sel LE
3. Penatalaksaan
IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Berikut merupakan langkah-langkah pembelajaran :
Kegiatan 1 : pengkondisian Peserta
Langkah Pembelajaran :
 Dosen menyapa peserta didik dengan ramah dan hangat, memperkenalkan
diri, dan mencoba untuk mengenal peserta dengan perkenalan singkat.
 Sampaikan tujuan pembelajaran dan pokok bahasan yang akan
disampaikan.
Langkah 2 : penyampaian Materi
Langkah pembelajaran :
 Dosen menyampaikan paparan seluruh materi sesuai untuk ukuran
bahasan dari subpokok bahasan dengan menggunakan bahan tayang.
 Penyampaian materi dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab,
kemudian curah pendapat.
Langkah 3 : Rangkuman dan Kesimpulan
Langkah pembelajaran :
 Dosen melakukan evaluasi untuk mengetahui penyerapan peserta terhadap
materi yang disampaikan dari pencapaian tujuan pembelajaran.
 Dosen merangkum poin-poin penting dari materi yang disampaikan.
 Dosen membuat kesimpulan.

V. URAIAN MATERI
Definisi
Lupus berasal dari bahasa latin yang berarti anjing hutan atau
serigala,sedangkanerythematosus dalam bahasa Yunani berarti kemerah-
merahan. Istilah lupus erythematosus pernah digunakan pada zaman Yunani
kuno untuk menyatakan suatu penyakit kulit kemerahan di sekitar pipi yang
disebabkan oleh gigitan anjing hutan.
Sel Lupus Erythematocus merupakan penyakit autoimun yang dapat
menyerang semua organ tubuh. Dikarenakan antibody pada penderita tidak
berfungsi untuk melawan virus maupun bakteri di dalam tubuh melainkan
menyerang sel dan jaringan di tubuhnya sendiri.
Manifestasi Klinis
1. Gejala Konstitusional
a. Perasaan lelah
b. Penurunan berat badan
c. Demam tanpa disertai menggigil
d. Sakit kepala,migrant,stroke,depresi dan cemas

2. Kelaianan dikulit dan mukosa


Contoh kelaianan pada kulit :
a. Lesi seperti kupu-kupu di area malar dan nasal dengan sedikit
edema,eritema,dan sisik
b. Fotosensitif di daerah yang tidak tertutup
c. Contoh kelaianan pada mukosa :
d. Timbul stomatitis keratokonjungtivitis,erosi,serta ulserasi pada
mukosa mulut,mata,dan vagina

3. Kelaianan pada organ dalam


a. Kelainan ginjal
b. Kelainan paru-paru
c. Kolitis ulserative
d. Hepatosplenomegali
e. Kelaianan jantung
4. Kelaianan di Darah, Sendi,Tulang, Otot,kelenjar getah bening
dan system syaraf
a. Anemia hemoitik
b. Gangguan saraf seperti sakit kepala dan konvulsi
c. Kelaianan psikiatrik seperti psikiosis atau sindrom organic
otak
d. Arthritis
e. Neuritis perifer
f. Ensefalitis

Prosedur Pemeriksaan

1. Prosedur Kerja Pemeriksaan Sel LE dengan Cara Magath dan Winkle


(modifikasi dariZimmer dan Hargraves)
Dikumpulkan darah vena 8 - 10 ml lalu biarkan darah tersebut
membeku dalam tabung kering dan bersih. Darah tersebut dibiarkan 2 jam
pada suhu kamar atau 30 menit dalam pengeram dengan suhu 37 Derajat
Celcius. Pisahkan bekuan dari serum lalu bekuan itu digerus lalu disaring
melalui saringan kawat tembaga. Kemudian Hasil saringan tersebut
dimasukkan dalam tabung Wintrobe dan dipusingkan pada kecepatan 3000
rpm selama 10 menit. Kemudian Buang serum bagian atas dan ambil lapisan
sel paling atas (buffycoat) dengan pipet pastur lalu diteteskan di atas obyek
glass dan buat sediaan apus. Selanjutnya warnai sediaan dengan larutan
pewarna Giemsa atau Wright dan mulai untuk mencari sel-sel LE di bawah
mikroskop.
2. Prosedur Kerja Pemeriksaan Sel LE dengan Cara Zinkham dan Conley
Dikumpulkan darah vena 8 - 10 ml dan biarkan pada suhu kamar
selama 90 menit. Darah tersebut dikocok dengan alat rotator selama 30
menit. darah dimasukkan ke dalam tabung Wintrobe dan pusingkan selam
10 menit pada kecepatan 3000 rpm. Lalu buat sediaan apus seperti cara di
atas.
3. Prosedur Kerja dengan Cara Mudrick
Diambil darah kapiler lalu dimasukkan ke dalam tabung kapiler yang
telah dilapisi heparin seperti yang dipakai untuk mikrohematokrit.
Kemudian Tutuplah salah satu ujung tabung tersebut dengan dempul dan
pusingkan selama 1 menit dengan menggunakan centrifuge
mikrohematokrit. Selanjutnya Masukkan kawat baja halus ke dalam tabung
kapiler lalu diputar-putarlah kawat itu untuk mencampur buffycoat dengan
plasma darah serta untuk merusak lekosit-lekosit. Lakukan Inkubasi selama
30 menit pada suhu 37 derajat celcius atau biarkan selama 2 jam pada suhu
kamar. Selanjutnya Pusingkan lagi seperti cara di atas. Patahkan tabung
kapiler dekat lapisan buffycoat lalu sentuhkan ujung tabung yang dipatahkan
tersebut ke permukaan kaca obyek dan buatlah sediaan apus. Sediaan
diwarnai dengan pewarnaan Giemsa atau Wright dan diperiksa di bawah
mikroskop untuk mencari sel-sel LE.
Sel LE tampak sebagai massa homogen yang difagositkan oleh
lekosit polymorphonuclear. Sel-sel LE ini sering tampak seperti kue tart,
sehingga disebut sel tart. Adanya Massa homogen yang dikelilingi oleh
banyak se lekosit polymorphonuclear ini dikenal dengan nama sel rosette
dan sel ini dianggap sebagai sel LE yang belum sempurna atau sel pre-LE.

Pembahasan

Darah terdiri dari sel dan cairan yang disebut plasma. Sel darah terdiri
dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit (sel pembeku
darah). Pemeriksaan hematologi adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk
mengetahui kelainan dari kuantitas dan kualitas sel darah dan menguji perubahan
yang terjadi pada plasma yang terutama berperan pada proses pembekuan darah.

Pemeriksaan pada sel darah meliputi kadar hemoglobin, jumlah eritrosit,


hematokrit, nilai eritrosit rerata (MCV values), jumlah leukosit dan trombosit.
Selain itu pemeriksaan hematologi meliputi pula hitung retikulosit, hitung eosinofil,
aktifitas glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD), daya tahan eritrosit yang
dikenal sebagai resistensi osmotik eritrosit, penetapan fraksi hemoglobin dalam
eritrosit yang dikenal dengan analisa hemoglobin, pemeriksaan sel lupus
erithematosus (LE) dan penetapan golongan darah. Selain itu, pemeriksaan
hematologi yang terpenting adalah pemeriksaan morfologi sel darah yang
dilengkapi dengan hitung jenis leukosit.

Pemeriksaan laboratorium yang menguji kelainan dalam plasma disebut


dengan pemeriksaan koagulasi. Pemeriksaan koagulasi ini menilai aktifitas faktor
pembekuan seperti uji masa protrombin, uji activated partial tromboplastin time
(APTT), thrombin time dan kadar fibrinogen. Pemeriksaan ini penting dilakukan
pada pasien yang sedang mengalami perdarahan atau pasien yang cenderung
berdarah. Pemeriksaan koagulasi tersebut dilakukan dengan menggunakan
coagulometer otomatic. Selain itu, di Laboratorium Klinik Bio Medika dapat
melakukan pemantauan penggunaan obat anti koagulan oral dengan uji masa
protrombin yang diikuti dengan pemeriksaan nilai INR.

Mengenai trombosit perlu diketahui jumlah dan fungsi trombosit. Jumlah


trombosit diketahui dengan melakukan pengukuran menggunakan alat hitung sel
darah otomatis dan fungsi trombosit yang diketahui dengan melakukan uji agregasi.
Uji agregasi ini dipakai untuk menguji salah satu dari fungsi trombosit dan dapat
dipakai untuk monitoring pasien yang menggunakan obat anti-trombosit. Obat anti-
trombosit ini dipakai untuk pencegahan terjadinya penyumbatan pembuluh
darah/stroke.

Pemeriksaan hematologi dapat dilakukan secara manual yang memakan


waktu cukup lama, tidak menunjukkan ketelitian dan ketepatan yang baik. Akhir-
akhir ini dengan perkembangan teknologi, jumlah sel darah dapat dihitung dengan
alat otomatis yang disebut sebagai blood cell counter.

Kesimpulan

Sel Lupus Erythematocus merupakan penyakit autoimun,sebagai pembentukan


berbagai autoantibody dan dapat menjadi penyebab gangguan fungsi dan
kerusakan struktur jaringan organ. Sel LE didapati satu factor ( factot LE ) dalam
fraksi gamma globulin yang berpengaruh terhadap leukosit yang telah rusak.
Leukosit itu berubah menjadi homogen dan bulat yang kemudian difagositosis
oleh oleh sebuah leukosit yang normal.
Daftar Pustaka

1. aboutlabkes.wordpress.com/2012/01/29/pemeriksaan-hematologi-di-
laboratorium
2. duniadotkesehatan.blogspot.co.id/2015/04/pemeriksaan-sel-le.
3. lhinakarisma/2013/07/makalah-pemeriksaan-laboratorium-darah.