Anda di halaman 1dari 27

8

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Model Pembelajaran CIRC

Nglalimun (2012:173) mendefinisikan Cooperative, Integrated, Reading

and Composition. (CIRC) adalah komposisi terpadu membaca dan menulis

secara kooperatif berkelompok. Sintaknya adalah membentuk kelompok

heterogen 4 orang, guru memberi wacana bahan bacaan sesuai dengan materi

bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci,

memberi tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil

kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refeleksi.

Dari pengertian diatas maka dapat di kategorikan model pembelajaran

Cooperative, Integrated, Reading and Composition (CIRC) berbentuk

kelompok yang didalam nya terjadi proses membaca dan mengambil

kesimpulan bersama, dan terjadi diskusi antar siswa dalam menemukan kata

kunci. Hal tersebut juga bisa di golongkan kedalam bentuk belajar dalam

diskusi kelompok

2.1.1 Pengertian Diskusi Kelompok

B. Suryosubroto (2009: 167) menyatakan bahwa diskusi adalah suatu

percakapan ilmiah oleh beberapa yang tergabung dalam suatu kelompok

untuk saling bertukar pendapat tentang sesuatu masalah atau bersama-

sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu

masalah.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa, diskusi terjadi jika

terjadi percakapan antara satu orang dengan orang lain yang tergabung

dalam suatu kelompok dalam diskusi tersebut setiap orang melakukan


9

tukar pedapat untuk mecari solusi dari masalah yang dihadapi. JJ Hasibuan

(2009: 20) diskusi ialah suatu proses penglihatan dua atau lebih individu

yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai

tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar-menukar

informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah-masalah

yang dihadapi.

Maulana dkk (2015:132) Metode diskusi merupakan cara

pembelajaran dengan memunculkan masalah. Dalam pelaksanaannya,

metode diskusi sering dipertukarkan dengan metode tanya jawab. Dalam

diskusi, biasa saja muncul pertanyaan, namun pertanyaan yang muncul

tidak direncanakan sebelumnya. Dalam diskusi terjadi tukar menukar

gagasan atau pendapata untuk memperoleh kesamaan pendapat.

Menurut beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan teknik diskusi

kelompok adalah suatu bentuk kegiatan yang bercirikan suatu keterikatan

pada suatu pokok masalah atau pertanyaan, dimana anggota-anggota atau

peserta diskusi itu secara jujur berusaha memperoleh kesimpulan secara

bersama-sama setelah mendengarkan dan mempelajari, serta

mempertimbangkan pendapat-pendapat yang di kemukakan dalam diskusi.

2.1.2 Jenis-jenis Diskusi

Adapun jenis-jenis teknik diskusi kelompok itu ada beberapa macam

Roestiyah (2008:8-15) membagi jenis diskusi kelompok sebagai berikut:

a. WHOLE GROUP

Adalah suatu diskusi dimana anggota kelompok yang melaksanakan

tidak lebih dari 15 (lima belas) orang.

b. BUZZ GROUP
10

Adalah satu kelompok besar dibagi menjadi dua sampai delapan

kelompok yang lebih kecil jika diperlukan kelompok kecil ini diminta

melaporkan apa hasil diskusinya pada kelompok besar.

c. PANEL

Pada panel dimana kelompok dimana satu kelompok kecil (antara 3

sampai 6 orang) mendiskusikan suatu subyek tertentu, mereka duduk

dalam susunan semi melingkar, dihadapkan pada satu kelompok besar

peserta lainnya. Anggota kelompok besar ini dapat di undang untuk dapat

berpartisipasi.

Rostiyah (2008:10) menambahkan tujuan instruktur melaksanakan

diskusi panel adalah untuk memberikan rangsangan cara berfikir secara

masal dengan memberikan berbagai perspektif dari beberapa sudut

pandang. Diharapkan juga siswa dapat berfikir secara luas dan juga siswa

melatih berani mengemukakan pendapat dengan argumen-argumen yang

logis.

d. SYMPOSIUM

Teknik ini menyerupai panel, hanya sifatnya yang lebih formal.

Seseorang anggota symposium harus menyiapkan prasaran menurut

pandangannya sendiri terlebih dahulu. Namun dapat pula dengan

menentukan sebuah persoalan dahulu, kemudaian dengan perbaikan

aspek dan sebuah aspek ini disoroti sendiri. Tidak perlu disoroti dari

berbagai padangan. Pendengar biasanya diberi kesempatan memajukan

pandangan umum dan pertanyaan-pertanyaan. Sesudah pembicaan atau

sesudah penyanggahan, orang yang diberiksempatan terakhir ini adalah

pembicara untuk memberikan sambutan-sambutan balasan, dalam teknik


11

ini moderator tidak seaktif model panel, ia lebih banyak mengkordinis

pembcaraan saja Rostiyah (2008:12).

Rostiyah (2008:12) adapun tujuan penggunaan teknik simposium ialah

untuk merangsang daya pikir manusia dalam kelompok besar itu: agar

mau turut berpartisipasi untuk memecahkan atau membahas suatu

masalah, dalam waktu yang relatif singkat.

e. COALOGIUM

Teknik coalogium menrut Rostiyah (2008:14) adalah cara berdiskusi

yang dijalankan oleh satu atau beberapa manusia sumber, yang

berpendapat menjawab pertanyaan-pertanyaan, tetapi tidak dalam bentuk

pidato. Dapat juga bervariasi lain ialah seorang guru atau

iswa/mahasiswa menginterview seseorang manusia sumber tentang

pendapatnya mengenai suatu masalah, kemudian mengundang

pertanyaan-pertanyaan tambahan dari para pendengar.

f. INFORMAL DEBATE

Rostiyah (2008:14) menjelaskan bahwa dalam diskusi ini dilaksanakan

dengan membagi kelompok menjadi dua tim yang sama kuat dan

jumlahnya agar seimbang. Kedua tim ini mendiskusikan subyek yang

cocok untuk diperdepatkan dengan tidak menggunakan banyak peraturan,

sehingga jalanya perdebatan lebih bebas. Isi yang diperdebatkan biasanya

adalah masalah nilai, pakah itu nilai dalam masyarkat atau norma; nilai

pergaulan, atau nilai yang berlaku disekolah dan lain sebagainya.

g. FISH BOWL

Dalam diskusi ini terdiri dari seorang moderator dan satu atau tinga

manusia sumber pendapat, mereka duduk dalam susunan semi lingkaran


12

berderet dengan tiga kursi kosong menghadap kelompok. kemudian

moderator memberikan pengantar singkat dan ikuti dengan meminta

kepada peserta dengan sukarela dari kelompok besar, untuk memduduki

kursi yang kosong yangada dimuka mereka. Peserta ini mengajukan

pertanyaan atau mengadakan pembicaraan dengan manusia sumber

pendapat. Selanjutnya moderator mengundang peserta yang lainnya dari

anggota sidang untuk ikut.

2.1.3 Langkah-Langkah Diskusi Kelompok

Roestiyah (2008: 19) menyebutkan ada enam langkah agar diskusi

kelompok dapat lebih berhasil, yaitu sebagai berikut:

a. Menjelaskan tugas kepada siswa

b. Menjelaskan apa tujuan kerja kelompok itu

c. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok Setiap kelompok memilih

seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan

hasil kerja kelompok tersebut.

d. Guru berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung, bila perlu

memberi saran

e. Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil kerja

kelompok.

Hamdani (2010:159) jika metode diskusi diterapkan dalam oleh guru

maka guru harus menyiapkan hal-hal sebagai berikut:

a. Menyediakan baan, topik, atau masalah yang akan didiskusikan;

b. Menyebutkan pokok-pokok masalah yang akan dibahas atau

memberikan penugasan studi khusus kepada siswa sebelum

menyelenggarakan diskusi;
13

c. Menugaskan siswa untuk menjelaskan, menganalisis, dan meringkas;

d. Membimbing diskusi, tidak memberi ceramah

e. Sabar terhadap kelompok yang lamban mendiskusikan nya;

f. Waspada dengan kelompok yang tambak kebingungan atau berjalan

dengan tidak menentu;

g. Melatih siswa dalam menghargai pendapat orang lain;

Tahap-tahap pemakaian metode diskusi menurut Dimyati dan

Moedjiono (1991: 59) adalah sebagai berikut:

a. Tahap sebelum pertemuan


1) Pemilihan topik diskusi.
2) Membuat rancangan garis besar diskusi yang akan dilaksanakan.
3) Menentukan jenis diskusi yang akan dilaksanakan.
4) Mengorganisasikan para siswa dan formasi kelas dengan jenis
diskusinya.
5) Menyiapkan kerangka diskusi secara terperinci.
b. Tahap selama pertemuan
1) Guru menjelaskan tentang tujuan diskusi, topik diskusi, dan kegiatan
diskusi yang akan dilakukan.
2) Siswa melaksanakan kegiatan diskusi sesuai dengan jenis yang
digunakan.
3) Pelaporan dan penyimpulan hasil diskusi oleh siswa bersama guru.
4) Pencatatan hasil diskusi oleh siswa
c. Tahap setelah pertemuan
1) Membuat catatan tentang gagasan-gagasan yang belum ditanggapi dan
kesulitan yang timbul selama diskusi.
2) Mengevaluasi diskusi dari berbagai dimensi dan mengumpulkan
evaluasi dari para siswa serta lembaran komentar.

B. Suryosubroto (2009:169) menjelaskan langkah-langkah diskusi adalah

sebagai berikut.

1. Guru mengemukakan masalah yang akan didiskusikan dan memberikan

pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya. Dapat pula

pokok-pokok masalah yang akan didiskusikan itu ditentukan bersama-

sama oleh guru dan siswa. Yang penting judul atau masalah yang akan
14

didiskusikan dirumuskan jelas-jelasnya agar dapat dipahami baik-baik

oleh setiap siswa;

2. Dengan pemimpin guru siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi,

memilih pimpinan diskusi(ketua, sekretaris (Pencatat), Pelapor (kalau

perlu), mengatur tempat duduk, ruangan, sarana dan sebagainya

pimpinan diskusi sebaiknya berada ditangan siswa yang;

a. Lebih memahami dan menguasai masalah yang akan didiskusikan;

b. “berwibawa” dan disenangi oleh teman-teaman nya;

c. Berbahasa baik dan lancar berbicaranya.

d. Dapat bertindak tegas, adil, dan demokratis.

Tugas Pemimpin diskusi antara lain adalah:

a. Pengatur dan pengarah acara diskusi;

b. Pengatur lalu lintas pecakapan;

c. Penegah dan penyimpul berbagai pendapat;

3. Para siswa berdiskusi dalam kelompok masing-masing sedang guru

berkeliling dari kelompok satu ke kelompok lain (kalau ada lebih dari

satu kelompok), menjaga ketertiban dan memberi dorongan dan bantuan

sepenuhnya agar setiap anggota kelompok berpartisipasi aktif dan agar

diskusi kelompok berjalan lancar. Setiap anggota kelompok harus tau

persis harus tau persis apa yang akan didiskusikan dan bagaimana

caranya berdiskusi. Diskusi harus berjalan dalam suasana bebas, setiap

anggota harus tahu bahwa hak bicaranya sama.

4. Kemudian setiap kelompok melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil

yang dilaporkan itu di tanggapi oleh semua siswa (terutama dari


15

kelompok lain). Gugu memberi ulasan atau penjelasan terhadap laporan-

laporan tersebut.

5. Akhirnya para siswa mencatat hasil (hasil-hasil) diskusi, dan guru

mengumpulkan laporan hasil diskusi tiap-tiap kelompok sesudah siswa

mencatannya untuk “file” kelas.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, langkah-langkah diskusi pada

penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Persiapan Diskusi

a. Menentukan topik diskusi dan mengumpulkan informasi melalui teks

cerita anak.

b. Mengorganisasikan siswa dan formasi kelas dengan jenis diskusinya.

c. Menjelaskan teknik dan aturan diskusi yang digunakan.

2. Pelaksanaan Diskusi

a. Menyampaikan pengarah diskusi yang berupa lembar kerja atau

masalah yang harus didiskusikan.

b. Melakukan diskusi bersama kelompok.

c. Salah satu kelompok yang dibentuk guru maju untuk menyampaikan

hasil diskusi.

d. Kelompok lain memberikan tanggapan.

3. Penutup diskusi dilakukan dengan mengumpulkan hasil diskusi setelah

siswa mencatat untuk digunakan sebagai “file” kelas.

2.1.4 Manfaat Diskusi Kelompok

Manfaat diskusi kelompok B. Suryosubroto (2009:172) ialah

melibatkan semua siswa secara langsung dalam proses belajar mengajar

sehingga setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan


16

bahan pelajarannya masing-masing, metode diskusi juga dapat

menumbuh dan mengembangkan cara berfikir dan sikap ilmiah, dengan

mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam diskusi diharapkan

siswa akan dapat memperoleh kepercayaan akan kemampuan dirinya

sendiri dan juga dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap

sosial dan sikap demokratis para siswa.

Hendrikus (2009: 96-97) menambahkan bahwa diskusi menjadikan

pendengar atau pemirsa memiliki pandangan dan pengetahuan yang lebih

jelas mengenai masalah yang didiskusikan. Oleh sebab itu, diskusi

mempunyai hubungan yang erat dengan proses pembentukan pikiran dan

pendapat.

Manfaat diskusi kelompok menurut Rostiyah (2008: 6) dengan

diskusi siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya

untuk memecahkan masalah, tampa selalu bergantung pada pendapat

orang lain. Mungkin ada perbedaan segi pandangan sehingga memberi

jawaban yang berbeda. Hal itu tidak menjadi soal; asal pendapat itu logis

dan mendekati kebenaran, jadi siswa dilatih berfikir dan memecahkan

masalah sendiri. Selain itu siswa juga mampu menyatakan pendapatnya

secara lisan, kareana hal itu perlu untuk melatih kehidupan demokratis.

Dengan demikian siswa melatih diri untuk menyatakan pendapatnya

sendiri secara lisan tentang suatu masalah bersama. Dan dengan diskusi

memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar berpartisipasi dalam

pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama.

Sementara menurut Darmadi dalam Rifma (2016: 74) manfaat

diskusi kelompok kecil bagi siswa yakni:


17

a. Mengembangkan kemampuan berfikir dan komunikasi.

b. Meningkatkan ke disiplinan.

c. Meningkatkan Motivasi Belajar.

d. Mengembangkan sikap saling membantu; dan

e. Meningkatkan pemahaman

2.1.5 Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Diskusi

Djamarah dalam Rifma (2016: 74) hal-hal yang perlu diperhatikab

meliputi keterampilan dalam membimbing kelompok kecil bagi siswa

antara lain, yakni:

a. Pemusatan Perhatian,

b. Mengklarifikasi masalah,

c. Menganalisa pandangan peserta didik,

d. Meningkatkan kontribusi dan

e. Menutup diskusi,

Sedangkan menurut Darmadi dalam Rifma (2016:74) menyebutkan

dalam penerapan keterampilan ini guru harus memperhatikan hal-hal

sebagai berikut:

a. Harus ada kesamaan latar belakang pengetahuan antara para anggota

kelompok;

b. Semua anggota kelompok harus mampu mengemukakan pendapat

secara lisan;

c. Topik yang dibahas harus bersifat terbuka;

d. Pelaksanaan diskusi harus mengingat keunggulan dan kelemahan-

kelemahannya;

e. Diskusi memerlukan perencanaan dan persiapan yang matan; dan


18

f. Guru mampu mencegah timbulnya hal-hal yang dapat menghambat

jalannya diskusi.

2.1.6 Kelebihan Metode Diskusi

Suryosubroto (2009: 172) menjelaskan beberapa kelebihan diskusi

kelompok yaitu:

a. Metode diskusi melibat kan siswa secara langsung dalam proses

belajar

b. Setiap siswa dapat menguji tingkat pemahaman dan penguasaan

bahan pelajarannya masing-masing.

c. Metode diskusi dapat menumbuhkan dan mengembangkan cara

berfikir dan sikap ilmiah.

d. Dengan mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam

diskusi diharapkan para siswa akan dapat memperoleh kepercayaan

diri akan kemampuan yang dimilikinya.

e. Metode diskusi dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap

sosial dan sikap demokrasi para siswa.

Lebih lanjut Maulana dkk (2016:132) menyebutkan bahwa metode

diskusi mempunyai beberapa kelebihan diantaranya adalah merangsang

keberanian dan kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan,

membiasakan siswa bertukar pikiran dengan teman, menghargai dan

menerima pendapat orang lain serta yang lebih penting dari diskusi

adalah para siswa akan belajar bertanggung jawab terhadap hasil

pemikiran bersama.

2.2 Keterampilan Berbicara

2.2.1 Pengertian Berbicara


19

Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa dalam

kehidupan sehari-hari. Seseorang lebih sering memilih berbicara untuk

berkomunikasi, karena komunikasi lebih efektif jika dilakukan dengan

berbicara. Berbicara memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-

hari. Beberapa ahli bahasa telah mendefinisikan pengertian berbicara,

diantaranya sebagai berikut.

Bayak pakar memberi batasan tentang berbicara diantaranya

Tarigan dalam I Nengah Laba (2018:156) mengatakan berbicara adalah

kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk

mengeksperesikan , menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan

dan perasaan.

Sedangkan menurut Aton M. Moeliono dalam I Nengah (2018:156)

berbicara adalah berkata, berbicara, berkata, bercakap, berbahasa,

melahirkan pendapat dan perkataan. Demikian juga Djago Tarigan dalam

(2018:156) mengatakan bahwa berbicara adalah keterampilan

menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. dari pendapat diatas dapat

dikatakan berbicara adalah kemampuan seseorang menyampaikan pikiran,

gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan.

Berbicara bukan hanya sekedar pengucapan bunyi atau kata-kata,

mendefinisikan berbicara adalah suatu alat untuk mengomunikasikan

gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai kebutuhan-

kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen

yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung

sang pembicara memahami atau tidak bahan pembicaraan maupun

penyimaknya. Apakah ia bersikap tenang dan menyesuaikan diri atau


20

tidak, pada saat dia mengomunikasikan gagasan-gagasan dan apakah dia

waspada serta antusias atau tidak Tarigan dalam I Nengah (2018:157).

Nuraeni dalam Entan (2014:70) berbicara adalah proses

penyampaian informasi dari pembicara kepada pendengar dengan tujuan

terjadinya perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan pendengar

sebagai akibat dari informasi yang diterimanya. Akan tetapi berdasarkan

hasil nyata dilapangan masih banyak yang menghambat kemampuan

berbicara siswa, kebanyakan siswa masih malu-malu jika di intruksikan

gurunya untuk bercerita didepan kelas. Masih banyak. Masih banyak

siswa yang terbata-bata dalam menyampaikan ide atau gagasannya ketika

bercerita sehingga isi pembicaraan tidak tersampaikan dengan jelas. Dari

beberapa masalah tersebut dapat menghambat siswa untuk berfikir aktif

dan kritis.

Selanjutnya berbicara menurut Mulgrave (melalui Tarigan,

2008:16) merupakan suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-

gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-

kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan

instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara

langsung apakah pembicara memahami atau tidak, baik bahan

pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah ia bersikap tenang

atau dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia

mengkomunikasikan gagasan-gagasannya; dan apakah dia waspada serta

antusias atau tidak.

Oleh karena itu, kemampuan berbahasa lisan merupakan dasar

utama dari pengajaran bahasa karena kemampuan berbahasa lisan (1)


21

merupakan mode ekpresi yang sering digunakan, (2) merupakan bentuk

kemampuan pertama yang biasanya dipelajari anak-anak, (3) merupakan

tipe kemampuan berbahasa yang paling umum dipakai. Berdasarkan

pengertian berbicara yang telah disampaikan oleh beberapa ahli di atas

dapat disimpulkan bahwa pengertian berbicara adalah aktivitas

mengeluarkan kata-kata atau bunyi berwujud ungkapan, gagasan,

informasi yang mengandung makna tertentu secara lisan.

2.2.2 Hakikat Berbicara

Berbicara secara umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud

(ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan

bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain

(Depdikbud, 1984/1985:7). Pengertiannya secara khusus banyak

dikemukakan oleh para pakar.

Andri Wicak Sono (2016:82) mengatakan bahwa berbicara dapat

diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk

mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan

secara lisan. Brown dan Yuli dalam Andri (2016:82) menjelaskan bahwa

berbicara dianggap sebagai alat manusia paling penting dalam kontrol

sosial. Berbicara merupakan perilaku manusia yang memanfaatkan faktor

fisik, psikologis, neurologist dan linguistik secara luas.

Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa berbicara

mencakup salah satu unsur membaca. Berbicara pada hakikatnya

merupakan suatu proses berkomunikasi sebab di dalamnya terjadi

pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain. Proses komunikasi


22

itu dapat digambarkan dalam bentuk diagram berikut ini Ahmad

Rofi'udin dan Darmayati Zuhdi (2001/2002 : 13).

Saluran/Chanel

Lambang/Symbol

Pesan/Message

Komunikator/Sender Kemunikan/receiver

Umpan Balik/feed back

Gambar. 3.2

Diagram Proses Komunikasi

Dalam proses komunikasi terjadi pemindahan pesan dari

komunikator (pembicara) kepada komunikan (pendengar). Komunikator

adalah seseorang yang memiliki pesan. Pesan yang akan disampaikan

kepada komunikan lebih dahulu diubah ke dalam simbol yang dipahami

oleh kedua belah pihak. Simbol tersebut memerlukan saluran agar dapat

dipindahkan kepada komunikan. Bahasa lisan adalah alat komunikasi

berupa simbol yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Saluran untuk

memindahkannya adalah udara. Selanjutnya, simbol yang disalurkan

lewat udara diterima oleh komunikan. Karena simbol yang disampaikan

itu dipahami oleh komunikan, ia dapat mengerti pesan yang disampaikan

oleh komunikator.

Berbicara sebagai salah satu bentuk komunikasi akan mudah

dipahami dengan cara memperbandingkan diagram komunikasi dengan


23

diagram peristiwa berbahasa. Brooks (Tarigan, 1983:12)

menggambarkan alur peristiwa bahasa berikut ini.

PEMBICARA PENYIMAK

Pemahaman Maksud
(Praucap) (Pastucap)

Penyajian Pembaca
(Encoding) Sandi
(Decoding)

Pengucapan Audisi
(Fonasi) (Pendengaran
)

Transisi
(Peralihan)

Gambar. 3.3 Diagram Alur Peristiwa Bahasa

Berbicara merupakan bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan

faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik dan linguistik. Pada

saat berbicara seseorang memanfaatkan faktor fisik, yaitu alat ucap untuk

menghasilkan bunyi bahasa. Bahkan organ tubuh yang lain seperti

kepala, tangan, dan roman muka pun dimanfaatkan dalam berbicara.

Stabilitas emosi. Misalnya tidak saja berpengaruh terhadap kualitas suara

yang dihasilkan oleh alat ucap tetapi juga berpengaruh terhadap

keruntutan bahan pembicaraan.

Berbicara juga tidak terlepas dari faktor neurologis, yaitu jaringan

saraf yang menghubungkan otak kecil dengan mulut, telinga, dan organ

tubuh lain yang ikut dalam aktivitas berbicara. Demikian pula faktor
24

semantik yang berhubungan dengan makna, dan faktor linguistik yang

berkaitan dengan struktur bahasa selalu berperan dalam kegiatan

berbicara. Bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap dan kata-kata harus

disusun menurut aturan tertentu agar bermakna.

Seseorang dapat menulis, membaca secara mandiri, menyimak

siran radio atau TV secara mandiri, namun sangat jarang orang berbicara

tampa hadirnya orang kedua sebagai pemerhati atau penyimak. Oleh

sebab itu, Vallet dalam Andri Wicak Sono (2016:82) mengatakan bahwa

berbicara adalah kemampuan bahasa yang bersifat sosial.

2.2.3 Jenis-Jenis Berbicara

Dalam proses belajar berbahasa di sekolah, anak-anak

mengembangkan kemampuan secara vertikal tidak saja horizontal.

Maksudnya, mereka sudah dapat mengungkapkan pesan secara lengkap

meskipun belum sempurna dalam arti strukturnya menjadi benar, pilihan

katanya semakin tepat, kalimat-kalimatnya semakin bervariasi, dan

sebagainya. Dengan kata lain, perkembangan tersebut tidak secara

horizontal mulai dari fonem, kata, frase, kalimat, dan wacana seperti

halnya jenis tataran linguistik.

Andri Wicak Sono (2016:82-83) mengklasifikasi jenis berbicara

menjadi empat bagian, yaitu:

a. Berbicara Berdasarkan Tujuan

1) Berbicara memberitahukan, melaporkan dan menginformasikan.

Berbicara untuk tujuan memberitahukan, melaporkan atau

menginformasikan dilakukan jika seseorang ingin menjelaskan

suatu proses
25

2) Berbicara menghibur

Berbicara menghibur memerlukan keterampilan, menarik perhatian

pendengar, suasana pembicaranya bersifat santai, penuh canda.

3) Berbicara mengajak, membujuk, meyakinkan dan menggerakan.

Minsal, guru membangkitkan semangat dan gairah belajar siswa

melalui nasihat-nasihat.

b. Berbicara Berdasarkan Situasi

1) Berbicara formal, contohnya ceramah dan wawancara

2) Berbicara informal, contohnya menelpon

c. Berbicara Berdasarkan Cara Penyampaian

1) Berbicara mendadak tampa direncanakan, contohnya berbicara

didepan umum

2) Berbicara berdasarkan catatan, contohnya pembicara menggunakan

catatan kecil yang di siapkan sebelumnya serta telah menguasai

materi

3) Berbicara berdasarkan hapalan contohnya pembicara menyiapkan

dengan cermat dan menulisnya engan lengkap, kemdian

dihafalkannya kata demi kata , kalimat demi kalimat sebelum

berbicara.

d. Berbicara Berdasarkan Jumlah Pendengar

1) Berbicara antar pribadi

2) Berbicara dalam kelompok kecil

3) Berbicara dalam kelompok besar


26

Tejadi apabila pembicara menghadapi pendengar dengan jumlah

besar. perpindahan pembicara menjadi pendengar atau sebali nya

sangat kecil kemungkinan bahkan tidak terjadi.

Proses pembentukan kemampuan berbicara ini dipengaruhi oleh

aktivitas berbicara yang tepat. Bentuk aktivitas yang dapat dilakukan di

dalam kelas untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisan siswa

antara lain: memberikan pendapat atau tanggapan pribadi, bercerita,

menggambarkan orang/barang, menggambarkan posisi, menggambarkan

proses, memberikan penjelasan, menyampaikan atau mendukung

argumentasi.

2.2.4 Metode Pembelajaran Berbicara

Pembelajaran berbicara mempunyai sejumlah komponen yang

pembahasanya diarahkan pada segi metode pengajaran. Guru harus dapat

mengajarkan keterampilan berbicara dengan menarik dan bervariasi.

Regina L. Panjaitan (2014: 30) ada 4 metode pengajaran berbicara antara

lain:

a. berpidato

Percakapan adalah pertukaran pikiran atau pendapat mengenai

suatu topik tertentu antara dua atau lebih pembaca. Percakapan selalu

terjadi dua proses yakni proses menyimak dan berbicara secara

simultan. Percakapan biasanya dalam suasana akrab dan peserta

merasa dekat satu sama lain dan spontanitas. Percakapan merupakan

dasar keterampilan berbicara baik bagi anak-anak maupun orang

dewasa.

b. Berdiskusi
27

B. Suryosubroto (2009: 167) menyatakan bahwa diskusi adalah

suatu percakapan ilmiah oleh beberapa yang tergabung dalam suatu

kelompok untuk saling bertukar pendapat tentang sesuatu masalah

atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan

kebenaran atas suatu masalah.

c. Wawancara

Menurut Ni Nyoman P. Dewi (2018: 87) wawancara atau

interview sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya

wartawan mewawancarai para menteri, pejabat atau tokoh-tokoh

masyarakat mengenai isyu penting. H.G Tarigan (1983:160)

menyebutkan bahwa wawancara dapat digunakan alat untuk

menjaring informasi dengan percakapan aktual dengan subjek atau

pembahan (informan) yang memberi informasi-informasi yang

dibutuhkan dalam percakapan.

d. Bercerita

Bercerita dengan menyampaikan ide-idea atau gagasan terhadap

suatu masalah atau topik yang dibicarakan.

2.2.5 Penilaian Keterampilan Berbicara

Menurut Burhan Nurgiyantoro (2001:58) tes berbicara merupakan

suatu cara untuk melakukan penilaian yang berbentuk tugas-tugas yang

harus dikerjakan siswa. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

tes praktik berbicara , yaitu melalui diskusi kelas dengan cara salah satu

dari kelompok yang sudah dibagi guru secara heterogen maju di depan

kelas mempresentasikan hasil diskusi kelompok kecil mereka tentang


28

mengungkapkan isi gagasan, isi cerita, dan unsur instrinsik. Tes ini

dilakukan untuk mengukur tingkat kemampuan berbicara siswa.

Kegiatan penilaian dengan tes perlu dilakukan, hal ini disebabkan

untuk mengurangi unsur subjektifitas. Jika hanya mengandalkan

penilaian yang hanya mengandalkan teknik observasi maka ada

kemungkinan terjadinya unsur subjektifitas. Panduan penyekoran ini

menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Jakobovist dan

Gordon (dalam Burhan Nurgiyantoro, 2001:290) yang telah dimodifikasi.

Penilaian yang dikembangkan Jakobovist dan Gordon (dalam Burhan

Nurgiyantoro, 2001:290), yaitu sebagai berikut.

Tabel. 2.1

Pedoman Penilaian Munurut Jakobovist dan Gordon

No Aspek yang Dinilai Tingkat Skala


1 Ke akuratan informasi 123456789
(sangat buruk---akurat sepenuh nya) 10
2 Hubungan antara informasi 123456789
(sangat sedikit---berhubungan 10
sepenuhnya)
3 Ketepatan Struktur dengan kosakata 12 3456789
(tidak tepat---tepat sekali) 10
4 Kelancaran 12 3456789
(Terbata-bata---lancar sekali) 10
5 Kewajaran urutan wacana 12 3456789
(tidak normal---normal) 10
6 Gaya Pengucapan 12 3456789
(Kaku---wajar) 10
Jumlah

Modifikasi dilakukan sehubungan dengan keperluan penilaian

dalam berbicara. Adapun aspek penilaian dalam pembelajaran

keterampilan berbicara sebagai berikut.

Tabel 2.

Aspek Penilaian Keterampilan Berbicara


29

No Skor
Aspek yang dinilai
1 2 3 4 5
1 Pelafalan
2 Volume suara
3 Pilihan Kata
4 Intonasi dan Jeda
5 Kelancaran
6 Percaya diri

Keterangan Skor tabel:

5: Sangat baik

4: Baik

3: Cukup

2: Kurang

1:Tidak baik

Deskripsi Skor:

1) Aspek Pelafalan

5 = Pelafalan fonem sangat jelas, tidak terpengaruh dialek asal,

intonasi sangat jelas.

4 = Pelafalan fonem jelas, tidak terpengaruh dialek asal,

intonasi jelas

3 = Pelafalan fonem cukup jelas, sedikit terpengaruh dialek

asal, intonasi cukup jelas.

2 = Pelafalan fonem kurang jelas, terpengaruh dialek asal,

intonasi tidak begitu jelas.

1 = Pelafalan fonem tidak jelas, terpengaruh dialek asal,

intonasi tidak jelas.

2) Aspek Volume suara


30

5 = Volume suara keras dan lantang, sehingga bisa didengar

oleh seluruh pendengar.

4 = Volume suara keras namun kurang lantang, terdengar oleh

seluruh pendengar.

3 = Volume suara dapat didengar namun tidak keseluruhan

pendengar mendengar.

2 = Volume kurang terdengar dan tidak jelas.

1 = Volume suara tidak terdengar dan tidak jelas.

3) Aspek Pilihan Kata

5 = Kata-kata sangat sopan, tidak ambigu, dan tidak

menyinggung perasaan dan sesuai dengan topik.

4 = Kata-kata sopan, tidak ambigu, dan tidak menyinggung

perasaan sesuai dengan topik.

3 = Kata-kata cukup sopan, sedikit membingungkan, tidak

menyinggung perasaan sesuai dengan topik.

2 = Kata-kata kurang sopan, ambigu, sedikit menyinggung

perasaantidak sesuai dengan topik.

1 = Kata-kata tidak sopan, ambigu, dan menyakiti perasaan

tidak sesuai dengan topik.

4) Aspek Intonasi dan Jeda

5 = penempatan jeda sangat tepat, nada dan intonasi suara

sangat sesuai.

4 = penempatan jeda tepat, nada dan intonasi suara sesuai.

3 = penempatan jeda cukup baik, intonasi kurang sesuai.


31

2 = penempatan jeda kurang, dan dan intonasi kurang sesuai.

1 = penempatan jeda tidak sesuai, nada dan intonasi tidak

sesuai.

5) Aspek Kelancaran

5 = Berbicara lancar, tidak tersendat-sendat, penempatan jeda

sesuai.

4 = Berbicara lancar, tidak tersendat-sendat, penempatan jeda

kurang sesuai.

3 = Berbicara lancar, tidak tersendat-sendat, tidak ada jeda.

2 = Berbicara kurang lancar, tersendat-sendat, tidak ada jeda.

1 = Berbicara tidak lancar, tersendat-sendat, tidak ada jeda.

6) Aspek Percaya Diri

5 = Tidak malu-malu, tenang, menguasai panggung, dan tidak

grogi.

4 = Tidak malu-malu, tenang, penguasaan panggung cukup, dan

tidak grogi.

3 = Sedikit malu-malu, cukup tenang, penguasaan panggung

cukup, dan sedikit grogi.

2 = Malu-malu, panik, penguasaan panggung kurang, sedikit

grogi.

1 = Malu-malu, panik, penguasaan panggung tidak baik, dan

grogi.

2.2.6 Perkembangan Bahasa Peserta Didik Usia Sekolah Menengah

Anak usia sekolah menengah pertama (SMP) berada pada tahap

perkembangan pubertas (10-14). Karakteristik yang menonjol pada usia


32

SMP yakni terjadinya ketidak seimbangan proporsi tinggi dan berat

badan. Dilihat dari tahapan perkembangan yang disetujui oleh banyak

ahli, anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada pada tahap

perkembangan pubertas (10-14 tahun). Menurut Hurlok dalam M. Al-

Migwar (2011:18) anak perempuan telah matang pada usia 12.5 dan 14.5

tahun dan anak laki-laki antara 14-16.5 tahun.

Dalam masa pubertas tersebut juga diikuti dengan perkembangan

bahasa, pada awalnya perkembangan bahasa yang dimiliki anak adalah

bahasa yang ada dilingkungan keluarganya (Bahasa ibu) Enung Patimah

(2008:100). Perkembangan bahasa ibu di perkaya pula dengan bahasa

masyarakat tempat mereka tinggal. Hal ini berarti bahwa proses

pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan

masyarkat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku berbahasa

seorang anak.

Lebih lanjut Enung Patimah (2008:101) menyatakan bahawa

pengaruh pergaulan dengan teman sebaya menyebabkan bahasa remaja

lebih diwarnai oleh pola-pola bahasa pergaulan yang berkembang di

dalam kelompok masyarakat, pengaruh lingkungan yang berbeda antara

keluarga, masyarakat dan sekolah dalam perkembangan bahasa akan

menyebabkan perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lain.

Enung Patimah (2008:101-102) menyatakan bahawa ada beberapa

faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa diantaranya ialah:

Faktor umur; Faktor Kondisi Lingkungan, Faktor kecerdasan, Status

sosial ekonomi keluarga Faktor kondisi fisik.


33

Dari uraian diatas maka dapat kita definisikan bahwa bahasa

seorang nak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan lingkungan

masyarakat dimana ia tinggal termasuk juga lingkungan sekolah, yang

mana didalam perkembangan bahasa anak nya dipengaruhi oleh faktor

umur, kondisi lingkungan, kecerdasan, sosial ekonomi dan kondisi fisik.

2.2.7 Penelitian Terdahulu

Selain itu berdasarkan beberapa penelitian terdahulu,

mengungkapkan bahwa pengajaran dengan meteode diskusi kelompok

kecil (buzz group discussion) cukup berhasil. Hasil penelitian tersebut

antara lain: (1) Penelitian Pratita R. Nur Ichsan (2010), menunjukkan

bahwa setelah diberlakukannya diskusi kelompok kecil (buzz group

discussion) dalam proses peningkatan motivasi karir pada siswa SMKN 2

Sungai Penuh terdapat pengaruh signifikan terhadap peningkatan motivasi

dan karir besarnya pengarun pada perhitungan R2 56% dan sisa dipengaruh

faktor lain diluar penelitian; (2) penelitian Wahyu Setyowati (2011), hasil

penelitian menunjukan ada peningkatan motivasi siswa mengikuti

bimbingan sosial melalui diskusi kelompok kecil (buzz group discussion) di

kelas XI SMA Negeri 10 Kerinci. Diskusi juga akan menumbuhkan sikap

saling memberi dan juga menerima, sehingga individu tersebut akan

semakin cepat dalam memahami dan dapat berinteraksi dengan nilai-nilai

sosial yang terjadi dalam kelompok. Dalam interaksi tersebut akan diperoleh

umpan balik, serta membantu siswa belajar menilai kemampuan peranan diri

sendiri dan orang lain.

Kedua penelitian diatas berbeda dengan penelitian yang akan

dilakukan oleh peneliti dengan memfokuskan penelitian untuk mengetahui


34

pengaruh metode diskusi kelompok kecil dalam kemampuan berbicara

bahasa indonesia siswa kelas VIII SMP 5 Kerinci.

2.2.8 Hipotesis

Berdasarkan deskripsi teoritis dan kerangka berpikir maka dapat

diajukan hipotesis sebagai berikut:

H0 : px1 ≤ 0 = terdapat pengaruh signifikan antara mengajar

menggunakan metode diskusi kelompok terhadap

kemampuan berbicara Bahasa Indonesia siswa kelas VIII

SMP Negeri 5 Kerinci

H1 : px1 ≥ 0 = tidak terdapat pengaruh signifikan antara mengajar

menggunakan metode diskusi kelompok terhadap

kemampuan berbicara Bahasa Indonesia siswa kelas VIII

SMP Negeri 5 Kerinci