Anda di halaman 1dari 7

Evaluasi dan Dampak Amandemen

UUD1945 Terhadap Perekonomian


di Indonesia

M Dawam Rahardjo

Indonesian Economy was built on the platform of several mainstreams of economy.


Today, the constitution has a heavy task to give a paradigm that can be a guidance to
the national economic. The amendments for the chapter 33 especiaiiy, can not be
concluded as the birth of a new paradigm, itjust throws away some ideas which used
to be taken as an opportunity for many deviations, i.e., corruption, collusion, nepo
tism. Further question is how to bring the the new economic concept into the value
market mechanism, economic efficiency, economic sustainability and social welfare.

idang Tahunan MPR baru saja tanggungjawab negara untuk mewujudkan


selesai dan terutama menghasilkan sejalan dengan konsep negara
Amandemen UUD 1945. UUD ini kesejahteraan {Welfare State).
tidak dianggap sebagai sebuah UUD yang Dalam proses diskusi mengenai
baru, melainkan tetap "UUD 1945", tapi amandemen, terutama dalam Panitia Ad
yang telah mengalami perubahan dan Hoc. yang dipimpin oleh Prof. Mubyarto,
tambahan yang pada dasarnya adalah terdapat dua pandangan yang bertentangan
gagasan-gagasan reformasi. Dalam secara diametral. Pertama yang meng-
pembahasan, baik di dalam maupun di luar hendaki perubahan rumusan total pada bab
MPR, ada beberapa gagasan besar yang Kesejahteraan Sosial, khususnya pasal 33
ingin dimasukkan kedalam UUD. Di bidahg untuk diganti dengan rumusan baru;
politikingin ditambahkan gagasan-gagasan rumusan baru itu mengarah kepada
demokratisasi politik dan pemerintahan. liberalisasi sistem ekonomi, khususnya
Sedangkan di bidang ekonomi, muncul meminimaikan dan memarjinalkan peranan
berbagai gagasan. Pertama mengenai negara di satu pihak dan diadopsinya sistem
gagasan liberalisasidan marketisasi sistem pasar yang kompetitif dan globalisasi.
perekonomian. Kedua, memasukkan Sejumlah ekonomi menolak "asas
konsep-konsep etika pembangunan atau kekeluargaan" yang dianggap sudah tidak
etika global, seperti kebersamaan, keadilan relevan, untuk diganti dengan asas lain,
dan pembangunan berkelanjutan {sustain misalnya "pasar berkeadilan" atau setidak-
able development). Ketiga, aspirasi tidaknya sistem "pasar sosial" {social mar
nasipnalisme ekonomi yang dicerminkan ket economy). Salah satu alasannya adalah
dengan istilah kemandirian ekonomi dan bahwa asas kekeluargaan selama Orde Baru
kesatuan ekonomi nasional. Keempat ide- telah melahirkan KKN (Korupsi, Kronisme
ide mengenai kesejahteraan yang menjadi dan Nepotisme), karena kekeluargaan telah

240 UNJSIA NO. 49/XXV1/111/2003


Evaluasi dan Dampak Amandemen UUD 1945..., M. Dawam Rahardjo

dipraktekkan sebagai "ekonomi keluarga". han pasal-pasal baru tentang ekonomi, baik
Kedua adalah kelompokyang menghendaki pada pasal 33 maupun pada bagian lain,
pelestarian rumusan pasal 33, walaupun antara Iain menjadi pasal 23B tentang
menyetujui tambahan ayat-ayat yang "macam-macam mata uang" dan pasal 23D
merupakan perkembangan pemikiran baru, yang menatapkan "Negara memiliki suatu
karena dalam kenyataannya, pasal tersebut bank sentrai yang susunan, kedudukan,
belum mencakup, umpamanya gagasan kewenangan tanggung jawab dan
mengenai iingkungan hidup, pembangunan Independensinya diatur dengan undang-
yang berkelanjutan atau hak-hak dan undang".
periindungan konsumen dan globalisasi. Salah satu gagasan lain yang ingin
Semula disangka bahwa dalam Panitia dimasukkan dalam UUD adalah mengenai
Ad Hoc. telah terjadi polarisasi Ideologi, Bank Indonesia (yang aslinya disebut dalam
antara paham liberal dan neo-liberal dan Penjelasan UUD), bank sentrai dan otoritas
paham sosial-demokrasi. Ternyata, yang moneter yang independen dan terplsah dari
muncul bukan paham neo-liberal, melainkan dan berkedudukan sejajar dengan
masih dapat dikategorlkan dalam paham pemerlntah. Disinipun terjadi perdebatan,
sosial-demokrat atau Negara Kesejahteraan antara lain apakah nama Bank Indonesia
{Welfare State). Mereka itu hanya ingin perlu disebut ataukah cukup dengan
membuang gagasan yang dianggap "kuno" sebutan bank sentrai. Ternyata nama Bank
seperti kekeluargaan dan Ingin memasuk- Indonesia tidak disebut, demikian pula
kan beberapa gagasan liberal, seperti otoritas moneter. Yang disebut adalah bank
mekanlsme pasar, efisiensi ekonomi, anti sentrai, yang mungkin saja tidak disebut
monopoli, anti korupsi dan globalisasi. dengan nama Bank Indonesia. Karena itu
Karena itu perbedaannya hanyalah terletak ada saja kemungklnan Bank Indonesia
pada, apakah pasal 33 perlu dipertahankan dibubarkan dan diganti dengan bank sentrai
atau diganti dengan rumusan yang sama atau otoritas moneter yang baru, yang
sekali baru. ditetapkan oleh UU.
Pasal-pasal baru yang ditambahkan
UUD 1945 Hasil Amandeman
ada 5 ayat, yaitu 2 ayat pada pasal 33 dan
Dalam Pantia Ad Hoc ternyata mereka 3 ayat pada pasal 34. Pada pasal 33,
yang berpendapat ingin mengganti pasal 33 ditambahkan dua ayat lagi yaitu yang
UUD 1945, lebih banyak dari yang ingin berbunyi:
mempertahankannya, dalam perbandingan Ayat 4; "Perekonomian nasional
5 banding 2. Melihat gelagat Inl, maka Prof. diselenggarakan berdasar atas
Mubyartomenulis surat pengunduran dirlnya demokrasi ekonomi dengan prinsip
selaku ketua maupun anggota panitia. demokrasi ekonomi dengan prinsip
Penggantian pasal 33 merupakan kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
pengingkaran terhadap cita-cita proklamasi. berkelanjutan, berwawasanIingkungan,
Akan tetapi di pihak lain,ternyata terjadi arus kemandirian serta dengan menjaga
balik untuk mendukung dipertahankannya keselmbangan kemajuan dan kesatuan
rumusan asli pasal 33 UUD 1945. Darl hasil ekonomi nasional".
akhir ST MPR memang mempertahankan Ayat 1: "Ketentuan lebih lanjut
pasal tersebut seutuhnya, tanpa perubahan mengenai pelaksanaan asal inl diatur
sedikitpun. Hanya saja dilakukan penamba- dalam undang-undang".

UmSIA NO. 49/XXVI/III/2003 241


Topik: Evaluasi Kritis Atas Amandemen UUD 1945

Pasal 34 ayat 1 mempertahankan ayat pengganti ayat 1 pasal 33, ayat ini
yang telah ada yang berbunyi "Fakir seharusnya menekankan dipakainya asas
miskin dan anak-anak yang terlantar "pasar" atau "pasaryang berkeadiian". Tapi
dipelihara oleh negara". Selanjutnya ada agaknya, Istilah "pasar" ditolak.
tambahan 3 ayat lag!, yaitu yang Penggantinya adaiah istilah "efisiensi". Tapi
berbunyi: istilah"efisiensi" ini pun tidak dibiarkan tanpa
Ayat 2: "Negara mengembangkan predikat. Sebab, efisiensi saja berarti
sistem jaminan sosial bagi seluruh "efisiensi mikro"yang tidak bisa diterapkan
rakyat dan memberdayakan masya- pada level makro. Karena itu efisiensi makro
rakat yang lemah dan tidak mampu diistilahkan dengan "efisiensi berkeadiian".
sesuai dengan martabat kema- Dengan demikian, mazhab Neo-Kiasik tidak
nusiaan". sepenuhnya diterima. Keterangannya
Ayat 3: "Negara bertanggung-jawab adalah sebagai berikut. Jika kita menganut
prinsip "efisiensi mikro", maka kita harus
atas penyediaan fasilitas pelayanan
kesehatan dan fasilitas pelayanan mengimpor beras, karena harganya beras
umum yang layak".
impor lebih murah. Tapi jika impor beras
dibiarkan, maka petani Indonesia akan
Ayat4: "Ketentuan leblh lanjut menge- mengalami kerugian, karena harganya
nai pelaksanaan pasal ini diaturdalam merosot, akibat membanjirnya beras impor
undang-undang". yang lebih murah. Keadaan seperti ini
Dipertahankannya pasal 33, terutama agaknya ditolak, sehingga walaupun harga
ayat 2 dan 3 mempunyaiarti bahwa negara beras internaslonal lebih murah, namun
masih mempunyai peranan dalam pemerintah harus melindungi petani Indone
perekonomian. Di sini ada dua macam sia, misalnya dengan mengenakan bea
peranan negara, yaitu sebagai regulator dan masuk yang tinggi, tidak saja terhadap
sebagai aktor. Ayat2 menekankan peranan beras. tetapi juga komoditi yang lain,
negara sebagai aktor, yang berupa Badan misalnya gula, hortikultura atau bahkan
Usaha Milik Negara (BUMN). Sedangkan bahan baku tertentu untuk melindungi
ayat 1, menekankan peranan koperasi, produsen bahan baku dalam negeri. Tapi
karena selama Ini "usaha bersama berdasar kebijaksanaan ini akan tetap mengundang
atas asas kekeluargaan" dltafsirkan sebagai pro-kontra antara aliran yang berlawanan.
badan usaha koperasi yang diatur dengan Hambatan pelaksanaan "efisiensi ber
UUtersendiri. Peranan negara sebagai regu keadiian" ini adalah aturan-aturan WTO dan
lator tidak dijelaskan dalam rumusan yang kekuatan globalisasi.
ada, kecuali jika Istllah "dikuasai" Unsur pemikiran liberal lainnya adalah
diinterpretasikan sebagai "diatur", tetapi istilah "kemajuan" (progress). Tapi kemajuan
yang diatur di sini adalah sumberdaya alam inipun tidak dibiarkan tanpa penjelasan. Di
yang diarahkan bagI sebesar-besar sini kemajuan harus diimbangi dengan
kemakmuran rakyat. "kesatuan ekonomi nasional". Jika kemajuan
Daiam perdebatan, ayat 4 yang hanya terjadi di daerah atau pada keiompok
sekarang dimaksudkan untuk menganti tertentu saja, misalnya di Jakarta atau di
pasal 33 ayat 1. Sekarang. ayat itu Jawa saja, maka kemajuan ini bersifat
merupakan tambahan guna menyesuaikan pincang. Karena itu kemajuan yang
diri dengan perubahan. Sebagai rumusan dikehendaki adalah kemajuan yang merata

242 UNISIA NO. 49/XXVI/IU/2002


Evaluasi dan Dampak Amandemen UUD 1945..., M. Dawam Rahardjo

di seluruh Indonesia, sehingga tidak terjadi Giddens, ideolog PM Inggris dan Ketua Partai
kesenjangan balk secara geografis atau Buruh Baru, Tony Blair. Konsep jalan ketiga
sosiai. Memang, kemajuan Itu bisa yang dianutoleh pemerintahan Bill Clinton,
menimbulkan kesenjangan, sebagai Tony Blair, Schroeder dan berbagai
kecepatan perkembangan antar kelompok pemerintahan Eropa Barat iainnya itu di satu
dan daerah itu bervariasi. Inilah tantangan pihak pada dasarnya menyadari kegagalan
untuk menciptakan kesatuan ekonomi sistem sosialis dan di lain pihak mengakui
nasional tanpa menghambat kemajuan. keunggulan sistem ekonomi pasar dan
Prinsip-prinsip baru yang masuk ke manfaat globalisasi di lain pihak, namun
dalam amandemen ternyata tidak dekat tetap mengacu kepada keadllan sosiai dan
dengan ide pasar, efisiensi atau globalisasi. kemakmuran yang merata, dengan peranan
Beberapa istilah lebih dekat dengan faham negara yang melakukan invest'asi sosiai.
sosiai demokrasi, misalnya, kebersamaan Hanya saja pembaharuan paham sosiai
{mutuality), berkelanjutan {sustainable), demokrasi ini tidak lagimenganut paham b/g
berwawasan lingkungan {ecological) dan government, tapi smail but effective govern
kemandirian {independent, self-relience) ment. Dalam spektrum ideologi, mereka
daripada faham ekonomi liberal. Nilai-nilai memposisikan diri sebagai kelompok
itu muncul sebagai reaksi terhadap tengah-kiri {left-centre).
perkembangan ekonomi global dan Wacanaamandemen UUD 1945, juga
perkembangan ekonomi di masa Orde Baru menyadari kegagalan sistem sosialis
di Indonesia. Dalam ayat4 itu disebut juga dengan ciri peranan kuat negara.
istilah "demokrasi ekonomi". Tapi istilah itu Amandemen mengarah kepada proses
sudah adadalam UUD 1945 asli.walaupun demokratisasi-liberal, antara lain dengan
sebagai Penjelasan ayat 1 pasal 33. Istiiah membatasi kekuasian presiden, mening-
itu sebenarnya merupakan penjelasan katkan akuntabilitas pemerintah dan hak
terhadap apa yang dimaksud oleh usaha kontrol masyarakat, khususnya lewat
bersama berdasarkan asas kekeluargaan. kontrol parlemen. Di bidang ekonomi,
Prinsip-prinsip di atas sebenarnya sudah wacana amandemen juga mengarah pada
tercantum dalam TAP MPR yang ditetapkan reduksi peranan negara dan pemerintah,
pada masa Orde Baru dan untuk sebaglan baik sebagai regulator maupun aktor.
sudah dilaksanakan sebagai koreksi terhadap Sebelumnya, kecenderungan seperti itu
strategi pertumbuhan ekonomi. Sebenarnya telah terjadi, bahkansejakakhirOrde Baru,
selama Orde Baru telah terjadi dua arah misalnya dalam mereduksi peranan
perkembangan pemikiran. Di satu pihak departemen koperasi dan pembinaan
terjadi koreksi-koreksi terhadap strategi pengusaha kecil dan menengah, bahkan
pertumbuhan ekonomi dengan ide-ide pembubaran beberapa departemen,
kemandirian dan kesejahteraan. Di lain pihak peniadaan program kredit bersubsidi melalui
terjadi pula perkembangan pemikiran ke arah Bi dan privatisasi dan bahkan pembubaran
liberalisasi dari globalisasi ekonomi. beberapa BUMN, sehingga jumlahnya
Masalahnya adalah bisakah keduanya bisa berkurang, dari sekitar440 menjadi sekitar
merupakan sintesa. Jika terjadi sintesa maka 140 saja.
arah perkembangan pemikiran ekonomi di Memang dalam rangka penyehatan
masa mendatang adalah mendekati konsep perbankan, banyak perusahaan swasta
"the third waf yang disusun oleh Anthony yang dikuasai oleh negara, sehingga praktis

UNISIANO. 49/XXVI/I11/2003 243


Topik: Evaluasi Kritis Atas Amandemen UUD 1945

menambah jumlah BUMN. Namun, peru- merupakan sumberdana bagiupaya-upaya


sahaan-perusahaan yang dikuasai oleh memberdayakan masyarakat yang lemah
BPPN (Badan Penyehatan Perbankan dan tidak mampu. Sistem ini juga merupa
Nasional) itu langsung dijual atau didevestasi kan faktor kunci terhadap terlaksananya
kepada swasta, termasuk swasta luar ketentuan ayat 1 yaitu "fakir miskin dan
negeri. Dengan demikian dunia bisnis lebih anak-anak yang terlantar dipelihara oleh
banyak diserahkan kepada pemerintah. negara".
Sungguhpun begitu, nampak pula sejumlah Pasal 3 mengatakan bahwa "negara
"perlawanan" (resistensi). Misalnya saja, bertanggung-jawabatas penyedlaan fasilltas
Menteri Perencanaan Pembangunan pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan
Naslonal/Ketua Bappenas menentang umum yang layak". Lagi-lagi ini adalah
penjualari' BCA kepada asing dan meng- sepotong gagasan paham Negara Kesejah
anjurkan agar bank swasta terbesar yang teraan yang sebenarnya sudah tercantum
masih menghasilkan laba yang memadai itu. dalam Pembukaan UUD 1946. Ayat ini
dibeli saja oieti konsorsium Jamsostek. agaknya ingin mempertegas paham Ini.
Privatlsasi Semen Padang juga ditentang Dalam Istilah Giddens. pengertlan ini
keras oleh masyarakat Sumatera Barat dan tercakup dalam "negara investasi sosial"
karyawan BUMN tersebut. (social investment state). Di sini negara
Karena itu dapat ditarik kesimpulan, diwajibkan untuk melakukan investasi
bahwa dalam spektrum ideologi, pasal-pasal sosial, misalnya untuk menyediakan
ekonomi dalam UUD yang diamandemen, "fasilltas pelayanan kesehatan". Amartya
masih memposisikan diri di tengah-tengah Sen, ekonom India pemenang Hadiah Nobel
{the centrist), dalam arti mengambil unsur- untuk ekonomi tahun 1997,juga mempunyai
unsuryang dapatditerima, balk dari paham gagasan tentang investasi sosial di bidang
kapitalis maupun sosialis. Dalam arus kesehatan ini. Dalam pandangan ini
llberalisasi ekonomi. ternyata pandangan perbaikan kesehatan merupakan bagian dari
fundamentalisme pasar {market-fundamen peningkatan mutu sumberdaya manusia.
talism) tidak diterima. terbukti misalnya Sedangkan sumberdaya manusia yang
tidak ada istilah "pasar" dalam rumusan bermutu merupakan sumber energi
pasal-pasal baru. pembangunan.
Faham negara kesejahteraan {Welfare
State) ternyata dipertegas dalam tambahan Implikasi Bagi Bank Indonesia
pasal-pasal sosial-ekonomi, yaitu dalam Pasal yang terutama berkaitan dengan
pasal 34. Ayat 1 dalam pasal itu adalah kedudukan dan fungsi Bank Indonesia
peninggalan lama. Pada pasal 2 ditambah- adalah pasal 23D yang berbunyi; "Negara
kan gagasan tentang sistem jaminan sosial memiliki suatu bank sentral yang susunan.
{social security system), yang pada kedudukan. kewenangan, tanggung jawab
umumnya sudah melembaga di negara- dan independensinya diatur dengan undang-
negara Eropa Barat dan Amerika Utara, undang". UU itu sebenarnya sudah ada,
bahkan di banyak negara dunia ketiga. Di yaitu UU No. 23/1999 tentang Bank Indone
negara-negara tersebut. iuran jaminan sosial sia. kecuali jika UU ini akan direvisi dalam
{social security contribution) merupakan tempo dekat. UU yang baru ini berbeda
bagian yang cukup besar dalam penerimaan secara mendasardengan UU sebelumnya.
negara. Dana jaminan sosial inilah yang yaitu UU No. 13/1968, dimana UU sebelum-

244 UNISIA NO. 49/XXVI/III/2003


Evaluasi dan Dampak Amandemen UUD 1945..., M. Dawam Rahardjo

nya itu juga diberi tugas pembangunan, Konsep independensi bank sentral
disamping tugas pokoknya, yaitu "mengatur, adalah salah satu gagasan reformasi
menjaga dan memelihara stabilitas nilai ekonomi yang mengikuti liberalisme. Pada
tukar". Tugas lain Itu adalah "mendorong masa Orde Baru, peranan negara sangat,
kelancaran produksi dan pembangunan yaitu menurut rumusan Giddens "negara
serta memperluas kesempatan kerja, guna mendominasi masyarakat sipil" yang dalam
meningkatkan taraf hidup masyarakat". perekonomian, negara melakukan intervensi
Tugas Iain itu pada dasarnya sama dengan terhadap pasar, sehingga menimbulkan
tugas pemerintah, karena itu Gubernur Bank distorsi. Dalam perkembangan ke arah
Sentral dimasukkan dalam jajaran kabinet liberalisasi, peranan intervensi negara
dengan kedudukan menterl atau setaraf terhadap pasardikurangi secara drastis. Tapi
menteri. sebagai gantinya, peranan bank sentral
Tugas itulahsebenamya yang membuat ditingkatkan dalam arti tertentu. Di masa
Bl tidak independen. Bahkan dalam Dewan lalu, negara melalui pemerintah melakukan
Moneter, Gubernur 81 adalah anggota intervensiterhadap pasar secara langsung.
Dewan Moneter yang ketuanya adalah Dalam perkembangan baru, negara masih
Menteri Keuangan. Dalam prektek, Bldapat bisa melakukan intervensi, tetapi secara
didikte oleh Pemerintah. bahkan Menteri tidak langsung. Intervensi tidak langsung itu,
Keuangan, dalam kasus Gebrakan Sumar- tidak berwujud kebijaksanaan fiskal
lin, ikutmelaksanakan suatu kebijaksanaan melainkan kebijaksanaan moneter. Sedang
moneter yang sebenamya termasuk tugas yang diserahi tugas melakukan kebijak
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. sanaan moneter adalah bank sentral, dalam
Dengan dibebaskannnya Bl dari tugas ha! ini Bl. Dalam teori ekonomi, kebijak
pembangunan, maka Bl sebenamya sanaan fiskalis Keynesian, digantikan
menjadi terbebas atau independen. dengan kebijaksanaan moneter yang
Sebenamya, sebelum keluarnya UU Friedmanian, dengan kepercayaan (ber-
No. 23/199 tentang Bank Indonesia, telah
dasarkan teori), bahkan kebijaksanaan
moneter, misalnya pengendalian volume
ada langkah-langkah atau peristiwa menuju
Independensi Bl. Pertama adalah keputusan uang beredaratau pemetapan suku bunga,
Presiden Habibie yang tidak memasukkan
dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
dan kesempatan kerja.
Gubernur Bank Indonesia dalam jajaran
kabinet. Kedua, adalah diberhentikannya Agar bisa melaksanakan tugas
kewajiban Bl untuk memberikan KLBI menyeienggarakan kebijaksanaan moneter
(Kredit Likuiditas Bank Indonesia), kecuali yang efektif, bank sentral perlu diberi sta
untuk beberapa program. Ketiga adalah tus yang independen, terutama dari
penolakan "perintah" Presiden Abdurrahman pemerintah. Sasaran dari kebijaksanan
Wahid kepada Dr. Syahril Sabirin untuk moneter adalah, terutama mengendalikan
mundur dari jabatanriya sebelum masa inflasi dan menjaga stabilitas nilai mata uang
jabatannya berakhir. Sampai Abdurrahman rupiah. Namun masalahnya adalah. apakah
Wahid sendiri turun dari jabatan kepreside- bank sentral atau otoritas moneter
nan melalui impeachmentMPR, sementara sendirian, walaupun independen dapat
Dr. Syahrir Sabirin tetap sebagai Gubernur melaksanakan tugas itu. Sebab sumber
Bl hingga masa jabatannya selesai. inflasi umpamanya, tidak semua dapat
dikontrol oleh bank sentral. Inflasi bisa terjadi

UNISIA NO. 49/XXVI/II1/2003 245


Topik: Evaluasi Kritis Atas Amandemen UUD 1945

karena bencana kekeringan dan gagal untuk memasukkan devisa dari kredit luar
panen, kenaikan harga BBMdan tarif listrik negeri itu, maka nilai rupiah bisa jatuh.
atau kenaikan gajl pegawai yang Masalah keamanan juga bisa menyebabkan
kesemuanya ditetapkan oleh pemerintah jatuhnya nilai rupiah, padahal masalah itu
atau bahkan tergantung pada alam. Jadi ada di iuarjangkauan bank sentral. Karena Itu
pendapat yang mengatakan bahwa tugas bank sentral harus bekerja sama dengan
mengendalikan inflasi terlalu besar untuk pemerintah. Namun, hal ini tidak berarti
dibebankan kepada bank sentra! saja. mengurangi Independensi bank Indonesia.
Stabilitas mata uang juga dipengaruhi oleh Jika tidak ada koordinasi maka bisa terjadi
APBN yang antara lain memogramkan saling tuding antara pemerintah dan otoritas
bantuan luar negeri. Jlka upaya pemerintah moneter. •

•••

246 UNISIA NO. 49/XXVI/III/2003