Anda di halaman 1dari 5

5.

Hambatan-Hambatan Pada Komunikasi Yang Efektif


Sejumlah hambatan dapat memperlambat atau mengganggu komunikasi yang efektif,
berikut ini adalah berbagai hal pemicu hambatan komunikasi yang efektif:
a) Penyaringan
Penyaringan (filtering) mengacu pada tujuan memanipulasi informasi oleh si
pengirim sehingga si penerima akan melihatnya menjadi lebih menguntungkan. Seorang
manajer yang berbicara kepada bosnya mengenai hal yang dia rasa ingin didengar bosnya
merupakan penyaringan informasi. Level yang semakin vertikal dalam hierarki organisasi,
maka akan semakin membuka banyak kesempatan untuk melakukan penyaringan. Tetapi
beberapa penyaringan akan terjadi di mana pun yang terdapat perbeda an status.
b) Pemilihan Persepsi
Diulas kembali disini karena pemilihan persepsi merupakan hal penting sebab para
penerima dalam proses komunikasi melihat dan mendengar secara selektif berdasarkan
pada kebutuhan mereka, motivasi, pengalaman, latar belakang, dan karakteristik personal
lainnya. Para penerima juga memproyeksikan ketertarikan dan ekspektasi mereka ke dalam
komunikasi seperti mereka akan menguraikan isi pesan mereka.
c) Informasi yang Berlebihan
Para individu memiliki kapasitas yang terbatas untuk memproses data. Ketika
informasi yang kita miliki harus bekerja melebihi kapasitas pemrosesan kita, maka hasilnya
adalah informasi yang berlebihan. Apa yang terjadi ketika para individu memiliki lebih
banyak informasi daripada yang dapat mereka sortir dan gunakan? Mereka cenderung
untuk memilih, mengabaikan, melewati atau melupakannya. Atau mereka dapat
menangguhkan pemrosesan lebih lanjut hingga situasi yang berlebihan telah berakhir.
Dalam beberapa kasus, informasi yang hilang dan hasil komunikasi yang kurang efektif,
membuatnya menjadi lebih penting untuk menangani kelebihan ini dengan lebih baik.
d) Emosi
Anda dapat menginterprestasikan pesan yang sama secara berbeda ketika Anda
marah atau putus asa dibanding Anda sedang bahagia. Orang-orang yang berada dalam
suasana hati negatif lebih cenderung untuk mengkritisi pesan dengan lebih terperinci,
sedangkan mereka yang berada dalam suasana hati positif cenderung untuk menerima
komunikasi begitu saja. Emosi yang lebih ekstrem seperti sorak kegirangan atau depresi
beresiko menghalangi komunikasi yang efektif. Dalam kondisi seperti ini, kita akan sangat
rentan terhadap mengabaikan rasional kita dan proses berpikir yang objektif dan berganti
dengan penilaian secara emosional.
e) Bahasa
Bahkan ketika kita sedang bekomunikasi dalam bahasa yang sama, kita-kita dapat
berarti hal-hal yang berbeda dengan orang lain. Umur dan konteks adalah dua dari faktor
terbesar yang mempengaruhi perbedaan-perbedaan tersebut.
Penggunaan bahasa di antara masing-masing orang sangat tidak beragam. Jika kita
mengetahui bagaimana masing-masing dari kita memodifikasi bahasa, kita dapat
meminimalkan kesulitan dalam komunikasi, tetapi kita biasanya tidak mengetahuinya.
Para pengirim cenderung untuk mengasumsikan kata-kata dan istilah-istilah dengan tidak
tepat yang mana mereka pergunakan arti yang sama dengan yang mereka gunakan kepada
penerima.
f) Keheningan
Hal yang mudah untuk mengabaikan keheningan atau kurangnya komunikasi
karena didefinisikan dengan ketiadaan informasi. Namun, riset menyarankan untuk
menggunakan keheningan dan penangguhan komunikasi adalah hal yang umum dan
problematis. Salah satu studi menemukan bahwa lebih dari 85% para manajer yang
melaporkan tetap berdiam diri terhadap sedikitnya satu permasalahan yang memperoleh
perhatian yang signifikan.
Keheningan menjadi kurang dimana opini dari kaum minoritas diperlakukan dengan
hormat, identifikasi kelompok kerja tinggi, dan keadilan prosedural tinggi yang menang.
Secara praktik, hal ini berarti bahwa para manajer harus memastikan bahwa mereka
berperilaku dalam hal suportif ketika para pekerja menyarankan opini-opini yang berbeda
atau perhatian, dan mereka harus memandangnya berdasarkan nasihat.
g) Kekhawatiran Komunikasi
Diperkirakan 5-20% dari populasi menderita kekhawatiran komunikasi
(communication apprehension) yang melemahkan tenaga atau kecemasan sosial. Orang-
orang tersebut mengalami ketegangan dan kecemasan yang tidak semestinya dalam
komunikasi secara tertulis, lisan atau kedua-duanya. Mereka menemukan luar biasa sulit
untuk berbicara antar muka dengan orang lain atau menjadi luar biasa cemas ketika mereka
harus menggunaka telepon, bergantung pada memo, atau e-mail ketika panggilan telepon
menjadi lebih cepat dan lebih sesuai.
h) Berbohong
Hambatan terakhir terhadap komunikasi yang efektif adalah kesalahan penyajian
atas informasi secara sekaligus atau berbohong. Setiap orang memiliki definisi berbeda
mengenai suatu kebohongan. Dapatkah Anda mendeteksi kebohongan? Literatur
menyarankan bahwa sebagian besar orang sangat tidak ahli dalam mendeteksi penipuan
yang dilakukan oleh orang lain. Permasalahanya adalah tidak terdapat isyarat secara verbal
atau nonverbal yang khas mengenai kebohongan, menghindari pandangan, berhenti
sejenak, dan menggeser postur tubuh juga dapat sebagai tanda dari kegelisahan. Secara
jumlah, frekuensi kebohongan dan kesulitan dalam mendeteksi kebohongan terutama
membuatnya menjadi hambatan yang besar bagi komunikasi yang efektif.

5.1 Implikasi Global


Komunikasi efektif akan sulit terjadi dibawah kondisi terbaik. Faktor lintas budaya
jelas berpotensial menciptakan permasalahan komunikasi yang besar. Suatu sikap yang
dipahami dan dapat diterima dengan baik dalam salah satu budaya dapat tidak berarti apa
pun atau malah berarti buruk dalam budaya lainnya. Berikut akan dibahas mengenai
permasalahan yang potensial serta cara mengatasinya dalam komunikasi lintas budaya.
a. Hambatan-Hambatan Budaya
Para peneliti telah mengidentifikasi sejumlah permasalahan yang terkait dengan
kesulitan bahasa dalam komunikasi lintas budaya.
a) Pertama adalah hambatan yang disebabkan oleh semantik. Kata-kata dapat
berarti hal yang berbeda bagi orang yang berbeda, terutama orang-orang yang
berasal dari budaya nasional yang berbeda. Beberapa kata tidak diterjemahkan
di antara budaya-budaya.
b) Kedua adalah hambatan yang disebabkan oleh konotasi. Pada beberapa
budaya, bahasa adalah formal; budaya lain, tidak formal. Negosiasi antara AS
dan Jepang dapat menyulitkan karena kata-kata dalam bahasa Jepang hai
diterjemahkan “iya”, tetapi konotasinya adalah “iya, saya sedang
mendengarkan” bukan “iya, saya menyetujuinya”.
c) Ketiga adalah hambatan yang disebabkan oleh perbedaan nada. Pada beberapa
budaya, bahasa adalah formal; pada budaya lain, tidak formal. Dalam beberapa
budaya, perubahan nada bergantung pada konteks: Orang-orang berbicara
secara berbeda di rumah, dalam situasi sosial, dan di tempat kerja.
d) Keempat adalah perbedaan dalam toleransi untuk konflik dan metode untuk
menyelesaikan konflik. Individu dari budaya-budaya yang individualis
cenderung menjadi lebih nyaman dengan konflik secara langsung dan akan
membuat sumber dari ketidaksepakatan menjadi terbuka dengan jelas. Budaya
koletivis cenderung lebih mengakui konflik secara implisit dan menghindari
perselisihan yang sarat emosional.
b. Konteks Budaya
Budaya-budaya cenderung berbeda dalam keadaan yang mana konteks
mempengaruhi makna yang diambil oleh individu dari komunikasi. Dalam konteks
budaya yang besar, orang-orang sangat bergantung pada isyarat nonverbal dan isyarat
situasional secara halus dalam berkomunikasi dengan orang lain, status resmi
seseorang, kedudukannya dalam masyarakat, serta reputasi yang dibawa cukup berat.
Apa yang tidak dikatakan mungkin merupakan hal yang lebih signifikan
dibandingkan dengan apa yang dikatakan, itu merupakan konteks budaya yang rendah.
Mereka pada dasarnya mengandalkan pada kata-kata yang disampaikan dan ditulis
untuk menyampaikan suatu makna; bahasa tubuh dan gelar yang formal kurang
penting.
c. Pedoman Budaya
Ada banyak hal yang dapat diperoleh dari komunikasi antarbudaya dalam bisnis. Aman
untuk mengansumsikan bahwa setiap satu orang dari kita memiliki sudut pandang
berbeda yang dibentuk secara kultural. Oleh karena kita memiliki perbedaan, maka kita
memiliki peluang untuk mencapai kemungkinan solusi yang sangat kreatif. Berikut
adalah eberapa solusi agar tercipta komunikasi yang efektif:
a) Kenali diri Anda sendiri. Dengan memahami identitas kultural Anda sendiri dan
bias adalah hal yang sangat penting pula kemudian memahami sudut pandang
yang unik dari orang-orang lainnya.
b) Membantu perkembangan sifat saling menghargai, keadilan, dan demokrasi.
Dengan jelas menetapkan lingkungan keadilan dan rasa saling peduli. Hal ini
akan menjadi budaya ketiga Anda bagi komunikasi antarbudaya yang efektif
yang melampaui norma kultural masing-masing orang.
c) Mempelajari Konteks budaya dari setiap orang. Anda akan menemukan lebih
banyak kemiripan atau perbedaan pada kerangka acuan Anda sendiri daripada
yang Anda perkirakan. Namun, berhati-hati untuk tidak mengkategorikan
mereka berdasarkan asal budaya.
d) Ketika terdapat keraguan, dengarkan. Jika Anda menyuarakan pendapat Anda
terlalu awal, Anda akan cenderung untuk menyinggung perasaan orang lain.
Anda juga ingin mendengarkan terlebih dahulu untuk lebih memahami bahasa
antarbudaya dari orang lain dan keakraban dengan budaya lain.
e) Sampaikan kenyataan, bukan interprestasi Anda. Menginterprestasikan atau
mengevaluasi apa yang telah seseorang katakan atau lakukan lebih dipengaruhi
oleh budaya dan latar belakang Anda sendiri dibandingkan situasi yang diamati.
f) Pertimbangkan sudut pandang orang lain. Sebelum Anda mengirimkan sebuah
pesan, tempatkan diri Anda sendiri pada sudut pandang si penerima.
g) Secara proaktif mempertahankan identitas dari kelompok. Seperti kebanyakan
suatu budaya, penetapan patokan umum bagi budaya ketiga untuk komunikasi
antarbudaya secara efektif memerlukan waktu dan pemeliharaan.