Anda di halaman 1dari 37

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat
dan karunia-Nya, yang telah memberikan petunjuk serta pedoman bagi hidup manusia.
Salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Fisika.

Susunan makalah ini penulis peroleh dari buku-buku maupun sumber lain yang
penulis jadikan referensi. Makalah ini bertujuan sebagai tugas kelompok mata kuliah
Evaluasi Pembelajaran Fisika. Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan
saran yang telah diberikan oleh berbagai pihak.

Penulis mengharapkan saran dan kritikan yang dapat dijadikan pertimbangan


untuk masa yang akan datang.Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua. Akhirnya kepada Allah SWT penulis berdo’a dan memohon semoga
segala bantuan yang diberikan mendapat balasan dan menjadi amal sholeh,hendaknya
disisi Allah SWT Amin.

Padang, 19 Oktober 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………….. 1

DAFTAR ISI……………………………………………….…… 2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang……………………………………………. 3
B. Rumusan Maslah………………………………………….. 3
C. Tujuan Penulisan………………………………………….. 3
D. Manfaat Penulisan……………………………………….... 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengolahan Hasil Penilaian……………………………….. 4


B. Pengolahan Hasil Penilaian Pada Ranah Sikap……………. 4
C. Pengolahan Hasil Penilaian Pada Ranah Pengetahuan …… 12
D. Pengolahan Hasil Penilaian Pada Ranah Keterampilan…… 19
E. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)……………………... 30

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan……………………………………………… 35
B. Saran…………………………………………………….. 36

DAFTAR PUSTAKA…….……………………………………... 37

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penilaian hasil belajar merupakan salah satu kegiatan dalam dunia pendidikan
yang penting. Pada satu sisi, dengan penilaian hasil belajar yang dilakukan dengan baik
dapat diketahui tingkat kemajuan belajar siswa, kekurangan, kelebihan, dan posiisi
siswa dalam kelompok. Pada sisi yang lain, penilaian hasil belajar yang baik akan
merupakan feed back bagi guru untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan proses belajar
mengajar.
Idealnya, penilaian pada bidang apapun dilakukan dengan menggunakan
prosedur dan instrumen yang standar. Prosedur yang standar adalah suatu prosedur
penilaian yang dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah tertentu dan
perlakukan yang adil pada siswa dengan mempertimbangankan situasi waktu, tempat,
dan berbagai keragaman pada siswa. Sedangkan instrumen yang standar adalah
instrumen yang disusun menggunakan prosedur pengembangan instrumen yang baku
dan dapat dipertanggungjawabkan tingkat validitas dan reliabilitasnya.

B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa saja aspek dalam pelaksanaan hasil penilaian?
2. Bagaimana cara pengolahan hasil penilaian?
3. Apa itu kriteria ketuntasan minimal?
4. Bagaimana menentukan kriteria ketuntasan minimal?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui aspek-aspek dalam pelaksanaan hasil penilaian.
2. Menjelaskan cara pengolahan hasil penilaian.
3. Mengetahui pengertian kriteria ketuntasan minimal.
4. Menentukan kriteria ketuntasan minimal.

D. Manfaat Penulisan
1. Mengetahui aspek-aspek dalam pelaksanaan hasil penilaian.
2. Mengetahui cara pengolahan hasil penilaian.
3. Mampu menjelaskan pengertian kriteria ketuntasan minimal.
4. Mengetahui kriteria ketuntasan minimal.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGOLAHAN HASIL PENILAIAN

Penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan
yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Dengan kata lain, penilaian berfungsi
sebagai alat untuk mengtahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. Dalam sistem
pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan
instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara
garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan
ranah psikomotorik.
Ketiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin
dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Benjamin S. Bloom
dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu
harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang
melekat pada diri peserta didik, yaitu:
1 Ranah nilai atau sikap
2 Ranah pengetahuan
3 Ranah keterampilan
Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah
yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Ketiga ranah
tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah
kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan
dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.

1. Pengolahan hasil penilaian pada ranah sikap


Ranah sikap adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa
pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila
seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar
afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku.
Ranah sikap menjadi lebih rinci lagi ke dalam 5 jenjang, yaitu:
a. Receiving
Receiving atau attending (menerima atua memperhatikan), adalah kepekaan
seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada
dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Termasuk dalam
jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus,
mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar.

4
Receiving atau attenting juga sering di beri pengertian sebagai kemauan untuk
memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik
dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada
mereka, dan mereka mau menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-
identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah hasil belajar afektif jenjang receiving,
misalnya: peserta didik bahwa disiplin wajib di tegakkan, sifat malas dan tidak di
siplin harus disingkirkan jauh-jauh.
b. Responding
Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi
kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk
mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat
reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang
receiving. Contoh hasil belajar ranah afektif responding adalah peserta didik
tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh atau menggeli lebih dalam lagi,
ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.
c. Valuing
Valuing (menilai/menghargai) artinya mem-berikan nilai atau memberikan
penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu
tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing
adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan
responding. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak
hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan
untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang
telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka
ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai di
camkan (internalized) dalam dirinya. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil
dalam peserta didik. Contoh hasil belajar efektif jenjang valuing adalah tumbuhnya
kemampuan yang kuat pada diri peseta didik untuk berlaku disiplin, baik disekolah,
dirumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
d. Organization
Organization (mengatur atau mengorganisasikan), artinya memper-temukan
perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada
perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan
dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai
denagan nilai lain, pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya.
e. Characterization by evalue or calue complex
Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau
komplek nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh
seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini

5
proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai.
Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi
emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi, karena sikap batin peserta
didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang
mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah
mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentu
karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat
diramalkan.

Jenis jenis penilaian pada ranah sikap

a. penilaian observasi
Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan
dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan
menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang
diamati.

Kriteria instrumen observasi:

1) Mengukur aspek sikap (bukan pengetahuan atau keterampilan) yang dituntut


pada Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
2) Sesuai dengan kompetensi yang akan diukur
3) Memuat indikator sikap yang dapat diobservasi
4) Mudah atau feasible untuk digunakan
5) Dapat merekam sikap peserta didik

Contoh Lembar Observasi

Petunjuk

Berdasarkan pengamatan Anda selama dua minggu terakhir, nilailah sikap


setiap peserta didik Anda dengan memberi skor 4, 3, 2, atau 1 pada Lembar
Observasi dengan ketentuan sebagai berikut:

- skor 4 apabila selalu melakukanperilaku yang diamati


- skor 3 apabila sering melakukanperilaku yang diamati
- skor 2 apabila kadang-kadang melakukanperilaku yang diamati
- skor 1apabila tidak pernah melakukan perilaku yang diamati

Lembar Observasi

Kelas/Semester :…

6
TahunPelajaran : ...
PeriodePengamatan : tanggal … s.d. ...
Butir Nilai : Menghargaikeberagamanprodukpengolahan di daerah
setempat sebagai anugerah Tuhan.
Indikator Sikap (Contoh):
1) memiliki rasa ingin tahu yang kuat
2) Bersedia membantu teman yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran
fisika
3) Memiliki semangat belajar selama pembelajaran fisika berlangsung

No. Nama Peserta Skor Indikator Sikap Spiritual Jumlah Nilai


Didik (1-4) Skor
Indikator Indikator Indikator
1 2 3
1. Ahmad Basuki 3 2 2 7 2.33
2. Einstein 4 3 2 9 3
3. Pascal 2 4 4 10 3.33
4.
5.
6. Dst.

Pengolahan penilaian observasi:

Skor Maksimal:

jumlah indikator x 4 (skor tertinggi) = ....

Perolehan Skor

Jumlah skor

Nilai = ------------------- x Nilai Ideal (4)

Skor Maksimal

b. penilaian diri
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk
mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian
kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri. Penggunaan

7
teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian
seseorang.

Contoh format penilaian diri:

INSTRUMEN PENILAIAN SIKAP SPIRITUAL (LEMBAR PENILAIAN DIRI)

Petunjuk Umum

a. Instrumen penilaian sikap spiritual ini berupa Lembar PenilaianDiri.


b. Instrumen ini diisi oleh peserta didik untuk menilai dirinya sendiri.

Petunjuk Pengisian

Berdasarkan perilaku kalian selama dua minggu terakhir, nilailah sikap diri kalian
sendiri
dengan memberi tanda centang (√) pada kolom skor 4, 3, 2, atau 1 pada Lembar
Penilaian
Diri dengan ketentuan sebagai berikut:
skor 4 apabila selalu melakukanperilaku yang diamati
skor 3 apabila sering melakukanperilaku yang diamati
skor 2 apabila kadang-kadang melakukanperilaku yang diamati
skor 1apabila tidak pernah melakukan perilaku yang diamati

LEMBAR PENILAIAN DIRI

Nama Peserta didik : ...


Kelas/Semester :…
Hari/Tanggal Pengisian :…
Tahun Pelajaran :…
Butir Nilai : Menghargaikeberagamanprodukpengolahan di daerah
setempat sebagai anugerahTuhan. √√√√√
Indikator Sikap :

1. Berusaha menemukan potensi keberagaman produk olahan dari di daerah setempat.


2. Bersedia mengonsumsi produk olahan yang terdapatdi daerah setempat.
3. Bangga mengenalkan produk olahan di daerah saya.

8
No. Pernyataan Skor

4 3 2 1
1. Saya berusaha mengerjakan soal √
soal fisika dengan kemampuan saya
sendiri
2. Dengan senang hati saya membantu √
teman saya yang kesulitan dalam
mempelajari pelajaran fisika
3. Saya dapat dengan mudah √
mempelajari materi materi fisika
Jumlah Skor

Pengolahan hasil penilaian diri:

Skor Maksimal:

jumlah indikator x 4 (skor tertinggi) = ....

Perolehan Skor

Jumlah skor

Nilai = ------------------- x Nilai Ideal (4)

Skor Maksimal

c. penilaian teman sejawat

Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta
didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang
digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.

Kriteria instrumen penilaian antarteman:

1 Sesuai dengan kompetensi dan indikator yang akan diukur


2 Indikator dapat dilakukan melalui pengamatan peserta didik
3 Kriteria penilaian dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak
berpotensi munculnya penafsiran makna ganda/berbeda
4 Menggunakan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik

9
5 Menggunakan format sederhana dan mudah digunakan oleh peserta didik
6 Indikator menunjukkan sikap peserta didik dalam situasi yang nyata
atau sebenarnya dan dapat diukur
7 Instrumen dapat mengukur target kemampuan yang akan diukur (valid)
8 Memuat indikator kunci atau esensial yang menunjukkan penguasaan satu
kompetensi peserta didik
9 Mampu memetakan sikap peserta didik dari kemampuan pada level
terendahsampai kemampuan tertinggi.

Contoh format penilaian antar peserta didik

INSTRUMENPENILAIANSIKAP SOSIAL (LEMBAR PENILAIAN


ANTARPESERTA DIDIK)

Petunjuk Umum

Instrumen penilaian sikapsosial iniberupa Lembar Penilaian Antarpeserta Didik.

Instrumen ini diisi oleh peserta didik untuk menilai peserta didik lain/temannya.

Petunjuk Pengisian

Berdasarkan perilaku teman kalian selama dua minggu terakhir, nilailah sikap
temanmu dengan memberi tanda centang (√) pada kolom skor 4, 3, 2, atau 1 pada
Lembar Penilaian Antarpeserta Didik dengan ketentuan sebagai berikut:

skor 4 apabila selalu melakukanperilaku yang diamati

skor 3 apabila sering melakukanperilaku yang diamati

skor 2 apabila kadang-kadang melakukanperilaku yang diamati

skor 1apabila tidak pernah melakukan perilaku yang diamati

LEMBAR PENILAIAN ANTARPESERTA DIDIK

Nama Peserta didik yang dinilai : ...

Kelas/Semester :…
Hari/Tanggal Pengisian :…
Tahun Pelajaran :…

indikator Pernyataan Skor

10
4 3 2 1
A Teman saya dapat mengerjakan soal soal
fisika dengan mudah
Teman saya dengan senang hati menolong
b saya jika saya tidak mengerti
Jumlah Skor
Nilai

Skor Maksimal:

jumlah indikator x 4 (skor tertinggi) = ....

Perolehan Skor

Jumlah skor

Nilai = ------------------- x Nilai Ideal (4)

Skor Maksimal

d. jurnal

Ketentuan penggunaan jurnal penilaian adalah :

1. Jurnal digunakan oleh guru mata pelajaran, wali kelas dan guru BK.

2. Hasil jurnal guru BK dan guru mata pelajaran di serahkan ke wali kelas untuk
diolah lebih lanjut

3. Catatan dalam jurnal dilakukan selama satu semester.

4. Perilaku yang dimasukkan jurnal adalah yang positif dan negative.

Instrumen penilaian jurnal

Nama Satuan Pendidikan :………………………..

Tahun Pelajaran :………………………..

Kelas/Semester : ………………………..

Mata Pelajaran : Kimia

11
2. Pengolahan Hasil Penilaian Pada Ranah Pengetahuan
Pengertian Ranah Penilaian pengetahuan

Ranah pengetahuan adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).


Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam
ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk
didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis,
mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi Dalam ranah pengetahuan itu terdapat

12
enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan
jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah :

• Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali
kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan
kemampuan untuk menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan
proses berfikir yang paling rendah.
• Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu
itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang
sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan
memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang
lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman
merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau
hafalan.
• Penerapan (application)
Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum,
tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan
sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan
proses berfikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.
• Analisis (analysis)
Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau
keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di
antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang
analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.
• Sintesis (syntesis)
Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis.
Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur
secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau
bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada
jenjang analisis. Salah satu jasil belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta
didik dapat menulis karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah
diajarkan oleh islam.
• Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam
taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk
membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang

13
dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang
terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada.

a. Tes Tertulis

Pengembangan instrumen tes tertulis mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.

1. Menetapkan tujuan tes, yaitu untuk seleksi, penempatan, diagnostik, formatif,


atau sumatif.

2. Menyusun kisi-kisi, yaitu spesifikasi yang digunakan sebagai acuan menulis


soal. Kisi-kisi memuat rambu-rambu tentang kriteria soal yang akan ditulis,
meliputi KD yang akan diukur, materi, indikator soal, level kognitif, bentuk
soal, dan nomor soal. Dengan adanya kisi-kisi, penulisan soal lebih terarah
sesuai dengan tujuan tes dan proporsi soal per KDatau materi yang hendak
diukur lebih tepat.

3. Menulis soal berdasarkan kisi-kisi dan kaidah penulisan butir soal.

4. Menyusun pedoman penskoran sesuai dengan bentuk soal yang digunakan.


Pada soal pilihan ganda, isian, menjodohkan, dan jawaban singkat disediakan
kunci jawaban karena jawaban dapat diskor dengan objektif. Sedangkan untuk
soal uraian disediakan pedoman penskoran yang berisi alternatif jawaban, kata-
kata kunci (key words), dan rubrik dengan skornya.

Jenis teknik penilaian tertulis yang digunakan dalam penilaian pembelajaran


yang mendidik menentukan jenis informasi yang diperoleh. Dari berbagai alat
penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar-salah, isian singkat, dan
menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu
kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk
menilai kemampuan mengingat dan memahami. Pilihan ganda mempunyai kelemahan,
yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya
memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang
benar, maka peserta didik akan menerka. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta
didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan
jawabannya. Selain itu pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang
cukup untuk dijadikan umpan balik guna mendiagnosis atau memodifikasi pengalaman
belajar.

1. Pilihan ganda

14
Untuk memeriksa atau mengoreksi jawaban atas soal tes objektif pada umumnya
dilakukan dengan jalan menggunakan kunci jawaban, ada beberapa macam kunci
jawaban yang dapat dipergunakan untuk mengoreksi jawaban soal tes objektif,
yaitu sebagai berikut :

a) Kunci berdampingan ( strip keys )

Kunci jawaban berdamping ini terdiri dari jawaban – jawaban yang benar yang
ditulis dalam satu kolom yang lurus dari atas kebawah, adapun cara
menggunakannya adalah dengan meletakan kunci jawaban tersebut berjajar
dengan lembar jawaban yang akan diperiksa, lalu cocokkan, apabila jawaban
yang diberikan oleh teste benar maka diberi tanda ( + ) dan apabila salah diberi
tanda ( - ).

b) Kunci system karbon ( carbon system key )

Pada kunci jawaban system ini teste diminta membubuhkan tanda silang ( X )
pada salah satu jawaban yang mereka anggap benar kemudian kunci jawaban
yang telah dibuat oleh teste tersebut diletakan diatas lembar jawaban teste yang
sudah ditumpangi karbon kemudian tester memberikan lingkaran pada setiap
jawaban yang benar sehingga ketika diangkat maka, dapat diketahui apabila
jawaban teste yang berada diluar lingkaran berarti salah sedangkan yang berada
didalam adalah benar.

c) Kunci system tusukan ( panprick system key )

Pada dasarnya kunci system tusukan adalah sama dengan kunci system karbon.
Letak perbedaannya ialah pada kunci sistem ini, untuk jawaban yang benar
diberi tusukan dengan paku atau alat penusuk lainnya sementara lembar
jawaban testee berada dibawahnya, sehingga tusukan tadi menembus lembar
jawaban yang ada dibawahnya. Jawaban yang benar akan tekena tusukan
dsedangkan yang salah tidak.

d) Kunci berjendela ( window key )

Prosedur kunci berjendela ini adalah sebagai berikut :

 Ambilah blanko lembar jawaban yang masih kosong


 Pilihan jawaban yang benar dilubangi sehingga seolah – olah menyerupai
jendela
 Lembar jawaban teste diletakan dibawah kunci berjendela

15
 Melalui lubang tersebut kita dapat membuat garis vertical dengan pencil
warna sehingga jawaban yang terkena pencil warna tersebut berarti benar dan
sebaliknya.

Instrumen penilaian pilihan ganda

Instrumen penilaian

Pengolahan hasil penilaian:

skor yang didapatkan

Skor = --------------------------------------------- X 100

skor maksimal

misalkan:

Jika terdapat 20 soal dengan masing masing diberi bobot 5

16
Jika seorang siswa hanya dapat menjawab soal dengan benar yaitu 15 soal, dan 5 soal
dijawab dengan salah maka

Skor yang didapatkan = 15 x 5 = 75

Sedangkan skor maksimal = 20 x 5 = 100

Maka perolehan yang didapatkan siswa tersebut

75 / 100 x 100 = 75

2. Essay

Pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu didasarkan pada standar mutlak
maka, prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut :

 Membaca jawaban yang diberikan oleh teste dan membandingkannya dengan


kunci jawaban yang sudah dibuat.
 Atas dasar hasil perbandingan antara jawaban teste dengan kunci jawaban
tersebut, tester dapat memberikan skor untuk setiap butir soal dan menuliskan
pada jawaban teste tersebut.
 Menjumlahkan skor-skor tersebut dalam pengolahan dan penentuan nilai lebih
lanju
Bobot Kriteria Pensekoran
 N
soal Nilai
Butir Pertanyaan
o
0 5 10 15 2 Akhir
.
0
1. Dapat menjelaskan apa yang
dimaksud dengan hukum 20
ohm
2. Dapat memecahkan soal 25
tentang hukum ohm
3. Dapat menjelaskan tentang 15
hukum kirchoff dan
aplikasinya
4. Dapat memecahkan soal 25
tentang hukum kirchoff dan
hubungannya dengan
hukum ohm
5. Dapat menjelaskan tentang 15
rangkaian listrik

17
Jumlah skor maksimal = 100

Penentuan Nilai
Nilai = skor yang diperoleh x 100
skor maksimum

b. Non tes
Wawancara
Wawancara adalah teknik untuk mandapatkan data dengan cara berhubungan
dengan peserta didik (face to face relation). Wawancara juga bisa dilengkapi dengan
alat berupa tepe recorder, sehingga jawaban atas pertanyaan yang diajukan dapat
dicatat dengan lebih lengkap.
Alasan menggukan wawancara sebagai alat penilain Non Tes karena wawancara
mempunyai beberapa kebaikan, antara lain:
1. Wawancara dapat memberikan keterangan keaadan pribadi hal ini tergantung pada
hubungan baik antara pewawancara dengan objek
2. Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur dan mudah dalam pelaksaannya
3. Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan observasi
4. Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan
dengan observasi dan angket.
5. Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik antara si pewawancara dengan
objek.

Langkah langkah wawancara :

18
1.Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara.
2.Setelah mengetahui tujuannya, tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dari
wawancara tersebut.
3.Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yakni bentuk bersetruktur
ataukah bentuk terbuka
4.Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan bentuk wawancara.

Instrumen penilaian wawancara:


Responden :Siswa yang memperoleh prestasi yang tinggi
Nama siswa :……………….
Kelas :……………….
Jenis kelamin :……………….

3. Pengolahan Hasil Penilaian Pada Ranah psikomotor (keterampilan)


Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk mengukur
kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas
tertentu di berbagai macam konteks sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi.

Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik, antara lain


penilaian praktik, penilaian produk, penilaian proyek, dan penilaian portofolio.
Teknik penilaian keterampilan yang digunakan dipilih sesuai dengan karakteristik KD
pada KI-4.

a. Teknik Penilaian Keterampilan


Teknik penilaian keterampilan dapat digambarkan pada skema berikut.

19
Berikut ini adalah uraian singkat mengenai teknik-teknik penilaian keterampilan
tersebut.

1) Penilaian Praktik
Penilaian praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan
melakukan suatu aktivitas sesuai dengan tuntutan kompetensi. Dengan demikian,
aspek yang dinilai dalam penilaian praktik adalah kualitas proses
mengerjakan/melakukan suatu tugas.
Penilaian praktik bertujuan untuk dapat menilai kemampuan siswa dalam
mendemonstrasikan keterampilannya dalam melakukan suatu kegiatan. Penilaian
praktik lebih otentik daripada penilaian paper and pencil karena bentuk-bentuk
tugasnya lebih mencerminkan kemampuan yang diperlukan dalam praktik kehidupan
sehari-hari.

Langkah-langkah perencanaan penilaian praktik:


1. Menentukan kompetensi yang penting untuk dinilai melalui penilaian praktik,
dalam hal ini adalah KD dari KI
2. Menyusun indikator hasil belajar berdasarkan kompetensi yang akan dinilai
3. Menyusun kriteria ke dalam rubrik penilaian
4. Menyusun tugas sesuai rubrik penilaian
5. Mengujicobakan tugas

20
6. Menyusun kriteria/batas kelulusan/batas standar minimal capaian kompetensi
siswa
Instrumen yang digunakan dalam penilaian praktik harus memenuhi kriteria-kriteria
tertentu.
§ Kriteria tugas
1. mengarahkan siswa untuk menunjukkan capaian hasil belajar;
2. dapat dikerjakan oleh siswa;
3. mencantumkan waktu/kurun waktu pengerjaan tugas;
4. sesuai dengan taraf perkembangan siswa;
5. sesuai dengan konten/cakupan kurikulum; dan
6. bersifat adil (tidak bias gender dan sosial ekonomi).
§ Kriteria Lembar Pengamatan
1. Langkah-langkah praktik yang diharapkan dilakukan siswa untuk
menunjukkan praktik suatu kompetensi harus jelas.
2. Aspek yang dinilai dalam praktik tersebut lengkap dan tepat.
3. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan dalam menyelesaikan
praktik harus nampak.
4. Kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat
diamati.
5. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan pengamatan.

§ Kriteria RubrikMemuat seperangkat indikator untuk menilai kompetensi tertentu;


1. Memiliki indikator yang diurutkan berdasarkan urutan langkah kerja pada
instrumen atau sistematika pada hasil kerja siswa;
2. Dapat mengukur kemampuan yang diukur (valid);
3. Dapat digunakan untuk menilai kemampuan siswa;
4. Dapat memetakan kemampuan siswa; dan
5. Disertai dengan penskoran yang jelas.

21
Contoh penilaian praktik adalah membaca karya sastra, membacakan pidato (reading
aloud dalam mata pelajaran bahasa Inggris), menggunakan peralatan laboratorium
sesuai keperluan, memainkan alat musik, bermain bola, bermain tenis, berenang,
menyanyi, menari, dan sebagainya.

Instrumen penilaian praktik

22
2) Penilaian Produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap keterampilan peserta didik dalam
mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki ke dalam wujud produk dalam waktu
tertentu sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan baik dari segi proses maupun
hasil akhir. Penilaian produk dilakukan terhadap kualitas suatu produk yang
dihasilkan.
Penilaian produk bertujuan untuk (1) menilai keterampilan siswa dalam membuat
produk tertentu sehubungan dengan pencapaian tujuan pembelajaran di kelas; (2)
menilai penguasaan keterampilan sebagai syarat untuk mempelajari keterampilan
berikutnya; dan (3) menilai kemampuan siswa dalam bereksplorasi dan
mengembangkan gagasan dalam mendesain dan menunjukkan inovasi dan kreasi.

Langkah-langkah merencanakan penilaian produk

1. Menentukan kompetensi yang sesuai untuk dinilai dengan penilaian produk


dalam hal ini adalah KD dari KI 4
2. Menyusun indikator proses dan hasil belajar sesuai kompetensi

23
3. Merencanakan apakah tugas produk yang dihasilkan bersifat individu atau
kelompok
4. Merencanakan teknik-teknik dalam penilaian individual untuk tugas yang
dikerjakan secara kelompok
5. Menyusun instrumen dan rubrik penilaian
6. Menyusun kriteria/batas kelulusan/batas standar minimal capaian kompetensi
siswa
Contoh penilaian produk adalah membuat kerajinan, membuat karya sastra, membuat
laporan percobaan, menciptakan tarian, membuat lukisan, mengaransemen musik,
membuat naskah drama, dan sebagainya.

Instrumen penilaian produk

Pembahasan:

Maka seorang siswa akan mendapatkan perolehan:

Nilai = ( 30+40+240+100)/5

24
= 410/5

=82

3) Penilaian Projek
Penilaian projek adalah suatu kegiatan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
mengaplikasikan pengetahuannya melalui penyelesaian suatu instrumen projek dalam
periode/waktu tertentu. Penilaian projek dapat dilakukan untuk mengukur satu atau
beberapa KD dalam satu atau beberapa mata pelajaran. Instrumen tersebut berupa
rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian
data, pengolahan dan penyajian data, serta pelaporan.
Penilaian projek bertujuan untuk mengembangkan dan memonitor keterampilan siswa
dalam merencanakan, menyelidiki dan menganalisis projek. Dalam konteks ini siswa
dapat menunjukkan pengalaman dan pengetahuan mereka tentang suatu topik,
memformulasikan pertanyaan dan menyelidiki topik tersebut melalui bacaan, wisata
dan wawancara. Kegiatan mereka kemudian dapat digunakan untuk menilai
kemampuannya dalam bekerja independen atau kelompok. Produk suatu projek dapat
digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam mengomunikasikan temuan-
temuan mereka dengan bentuk yang tepat, misalnya presentasi hasil melalui visua
displayl atau laporan tertulis.

Langkah-langkah merencanakan penilaian Projek


• Menentukan kompetensi yang sesuai untuk dinilai melalui projek
• Penilaian projek mencakup perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan projek
• Menyusun indikator proses dan hasil belajar sesuai kompetensi
• Menentukan kriteria yang menunjukkan capaian indikator pada setiap tahapan
pengerjakan projek
Merencanakan apakah tugas bersifat individu atau kelompok
• Merencanakan teknik-teknik dalam penilaian individual untuk tugas yang
dikerjakan secara kelompok
• Menyusun tugas sesuai dengan rubrik penilaian
Contoh penilaian projek adalah melakukan investigasi terhadap jenis
keanekaragaman hayati Indonesia, membuat makanan dan minuman dari buah segar,
membuat gerak tari berdasarkan level dan pola latih sesuai iringan, mencipta
rangkaian gerak senam berirama, dan sebagainya.

Instrumen penilaian projek

25
26
27
4) Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan teknik untuk melakukan penilaian terhadap aspek
keterampilan. Dalam panduan ini portofolio merupakan kumpulan sampel karya

28
terbaik dari KD – KD pada KI-4. Sampel tersebut pada dasarnya dikumpulkan dari
produk yang dihasilkan dari penilaian dengan teknik projek maupun produk.
Portofolio digunakan sebagai salah satu data penulisan deskripsi pencapaian
keterampilan.
Tujuan penilaian portofolio:

1. Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung.


2. Memberi perhatian pada prestasi kerja peserta didik yang terbaik.
3. Meningkatkan proses efektivitas pengajaran
4. Bertukar informasi dengan orang tua/ wali peserta didik dan guru lain.
5. Membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri secara positif pada
setiap peserta didik.
6. Meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri.
Fungsi penilaian portofolio:

1. Mendokumentasikan kemajuan siswa dalam kurun waktu tertentu.


2. Mengetahui bagian-bagian yang perlu diperbaiki.
3. Membangkitkan kepercayaan diri dan motivasi untuk belajar.
4. Mendorong tanggung jawab siswa untuk belajar.
Instrumen portofolio

Berikan alasan untuk masing-masing rate

Rate masing-masing kategori adalah 0-4; 4=sangat baik, 3=baik, 2=cukup, 1=kurang,
dan 0=sangat kurang

Nama siswa: …………………….

29
2. KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL

a. Pengertian KKM

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah kriteria paling rendah untuk


menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan. KKM harus ditetapkan diawal tahun
ajaran oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di
satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang
hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi
pertimbangan utama penetapan KKM.

b. Fungsi KKM

1 Sebagai acuan bagi seorang guru untuk menilai kompetensi peserta didik
sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD)
suatu mata pelajaran atau Standar Kompetensi (SK)
2. Sebagai acuan bagi peserta didik untuk mempersiapkan diri dalam
mengikuti pembelajaran
3. Sebagai target pencapaian penguasaan materi sesuai dengan SK/KD – nya
4. Sebagai salah satu instrumen dalam melakukan evaluasi pembelajaran
5. Sebagai “kontrak” pedagogik antara pendidik, peserta didik dan masyarakat
(khususnya orang tua dan wali murid)

c. Tahapan Penetapan KKM


Seperti pada uraian diatas bahwa penetapan KKM dilakukan oleh guru atau
kelompok guru mata pelajaran. Adapaun langkah dan tahapan penetapan KKM antara
lain:
1. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan

30
mempertimbangkan tiga aspek kriteria, yaitu kompleksitas, daya dukung, dan
intake peserta didik. Hasil penetapan KKM indikator berlanjut pada KD, SK
hingga KKM mata pelajaran.
2. Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran disahkan
oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan penilaian
3. KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua,
dan dinas pendidikan
4. KKM dicantumkan dalam laporan hasi belajar atau rapor pada saat hasil
penilaian dilaporkan kepada orang tua/wali peserta didik
Jadi yang menjadi pertimbangan dalam menentukan KKM adalah kompleksitas,
intake dan daya dukung. Kompleksitas mengacu pada tingkat kesulitan Kompetensi
Dasar yang bersangkutan. Daya dukung meliputi kelengkapan mengajar seperti buku,
ruang belajar, laboratorium (jika diperlukan) dan lain-lain. Sedangkan Intake
merupakan kemampuan penalaran dan daya pikir peserta didik.

Jika siswa sudah mencapai KKM berarti nilainya tuntas maka dia akan
mendapatkan pengayaan materi lebih lanjut. Namun jika siswa belum mencapai KKM
berarti nilainya tidak tuntas maka siswa tersebut diberikan remedial.
1. Pelaksanaan Pengayaan

Kegiatan pengayaan adalah suatu kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok
cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan
memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya.

Ada beberapa kegiatan yang dapat dirancang dan dilaksanakan oleh guru dalam
kaitannya dengan pengayaan. Berikut ini adalah beberapa kegiatan pengayaan yang
dikemukakan oleh Julaeha (2007):

a) Tutor Sebaya

Selain efektif dalam kegiatan remedial, tutor sebaya juga efektif digunakan dalam
kegiatan pengayaan. Melalui keiatan tutor sebaya, pemahaman siswa terhadap suatu
konsep akan meningkat karena selain mereka harus menguasai konsep yang akan
dijelaskan mereka juga harus mencari teknik menjelaskan konsep tersebut kepada
temannya. Selain itu tutor sebaya juga dapat mengembangkan kemampuan kognitif
tingkat tinggi.

b) Mengembangkan Latihan

31
Siswa kelompok cepat dapat diminta untuk mengembangkan latihan praktis yang dapat
dilaksanakan oleh teman-temannya yang lambat. Kegiatan ini dapat dilakukan untuk
pendalaman materi yang menuntut banyak latihan, misalnya pada mata pelajaran
matematika. Guru juga bisa meminta siswa kelompok cepat untuk membuat soal-soal
latihan beserta jawabannya yang akan digunakan dalam kegiatan remedial atau sebagai
bahan latihan dalam kegiatan tutor sebaya.

c) Mengembangkan Media dan Sumber Pembelajaran

Siswa kelompok cepat diberi kesempatan untuk membuat hasil karya berupa model,
permainan atau karya tulis yang berkaitan dengan materi yang dipelajari yang
kemudian dimanfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa kelompok lambat.

d) Melakukan Proyek

Keterlibatan siswa dalam suatu proyek atau mempersiapkan suatu laporan khusus
berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari merupakan kegiatan pengayaan yang
paling menyenangkan. Kegiatan ini mampu meningkatkan motivasi belajar,
kesempatan mengembangkan bakat, dan menambah wawasan baru bagi siswa
kelompok cepat.

e) Memberikan Permainan, Masalah atau Kompetensi Antarsiswa

Dalam kegiatan ini, guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk memecahkan
suatu masalah atau permainan yang berkaitan dengan materi pelajaran agar mereka
merasa tertantang. Melalui kegiatan ini, mereka akan berusaha untuk memecahkan
masalah atau permainan dan mereka juga akan belajar satu sama lain dengan
membandingkan strategi/teknik yang mereka gunakan dalam memecahkan
permasalahan atau permainan yang diberikan.

2. Pelaksanaan remedial
a. Definisi Remedial

Remedial merupakan suatu bantuan untuk mengatasi kesulitan belajar. Ada


beberapa program yang bisa dijalankan atau dijadikan acuan dalam melakukan
pengajaran remedial antara lain dalam bidang berhitung, membaca pemahaman dan
menulis.

b. Tujuan Remedial

Tujuan guru melaksanakan kegiatan remedial adalah membantu siswa yang


mengalami kesulitan menguasai kompetensi yang telah ditentukan agar mencapai hasil
belajar yang lebih baik. Secara umum tujuan kegiatan remediasi adalah sama dengan

32
pembelajaran pada umumnya yakni memperbaiki miskonsepsi siswa sehingga siswa
dapat mencapai kompetensi yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang
berlaku. Secara khusus kegiatan remediasi bertujuan membantu siswa yang belum
tuntas menguasai kompetensi ditetapkan melalui kegiatan pembelajaran tambahan.
Melalui kegiatan remediasi siswa dibantu untuk mengatasi kesulitan belajar yang
dihadapinya.

c. Pelaksanaan Remedial

1. Remedial dilakukan terhadap kompetensi dasar yang belum mencapai KKM

2. Pelaksanaan kegiatan remedial maksimal dilaksanakan sebanyak 3 kali


dan/atau dihentikan pada saat ketuntasan klasikal mencapai minimal 85%.

3. Bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial :

a. Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda jika
jumlah peserta yang mengikuti remedial lebih dari 50%.

b. Pemberian bimbingan secara khusus, untuk bimbingan perorangan jika


jumlah peserta didik yang mengikuti remedial maksimal 20%.

c. Pemberian tugas-tugas kelompok jika jumlah peserta yang mengikuti


remedial lebih dari 20 % tetapi kurang dari 50%.

d. Pemanfaatan tutor teman sebaya.

5. Nilai remedial tidak melebihi dari nilai KKM.

6. Kegiatan remedial dilaksanakan di luar jam tatap muka.

d. Prosedur Remedial

Dalam melaksanakan kegiatan remedial sebaiknya mengikuti langkah-


langkah sebagai berikut :

a. Analisis Hasil Diagnosis

Diagnosis kesulitan belajar adalah suatu proses pemeriksaan terhadap


siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Melalui kegiatan
diagnosis guru akan mengetahui para siswa yang perlu mendapatkan bantuan.
Untuk keperluan kegiatan remedial, tentu yang menjadi fokus perhatian adalah
siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar yang ditunjukkan tidak
tercapainya kriteria keberhasilan 80%, maka siswa yang dianggap berhasil.

33
Setelah guru mengetahui siswa-siswa mana yang harus mendapatkan
remedial, informasi selanjutnya yang harus diketahui guru adalah topik atau
materi apa yang belum dikuasai oleh siswa tersebut. Sebelum merancang
kegiatan remedial, terlebih dahulu harus mengetahui mengapa siswa
mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.

b. Menyusun Rencana Kegiatan Remedial

Setelah diketahui siswa-siswa yang perlu mendapatkan remedial, topik


yang belum dikuasai setiap siswa, serta faktor penyebab kesulitan, langkah
selanjutnya adalah menyusun rencana pembelajaran. Sama halnya pada
pembelajaran pada umumnya, komponen-komponen yang harus direncanakan
dalam melaksanakan kegiatan remedial adalah sebagai berikut;

· Merumuskan indikator hasil belajar

· Menentukan materi yang sesuai engan indikator hasil belajar

· Memilih strategi dan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa

· Merencanakan waktu yang diperlukan

· Menentukan jenis, prosedur dan alat penilaian.

c. Melaksanakan Kegiatan Remedial

Setelah kegiatan perencanaan remedial disusun,langkah berikutnya


adalah melaksanakan kegiatan remedial. Sebaiknya pelaksanaan kegiatan
remedial dilakukan sesegera mungkin, karena semakin cepat siswa dibantu
mengatasi kesulitan yang dihadapinya, semakin besar kemungkinan siswa
tersebut berhasil dalam belajarnya.

d. Menilai Kegiatan Remedial

Untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang telah


dilaksanakan, harus dilakukan penilaian. Penilaian ini dapat dilakukan dengan
cara mengkaji kemajuan belajar siswa.Apabila siswa mengalami kemauan
belajar sesuai yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan
dan dilaksanakan cukup efektif membantu siswa yang mengalami kesulitan
belajar. Tetapi, apabila siswa tidak mengalami kemajuan dalam belajarnya
berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan kurang efektif.

34
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan
yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Dengan kata lain, penilaian berfungsi
sebagai alat untuk mengtahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. Dalam sistem
pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan
instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara
garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan
ranah psikomotorik.

Ranah sikap adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah sikap
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Ranah
pengetahuan adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom,
segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah
pengetahuan. Ranah pengetahuan berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk
didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis,
mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi.

Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk mengukur


kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas
tertentu di berbagai macam konteks sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi.
Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik, antara lain penilaian
praktik, penilaian produk, penilaian proyek, dan penilaian portofolio.

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah kriteria paling rendah untuk


menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan. KKM harus ditetapkan diawal tahun
ajaran oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di
satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang
hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi
pertimbangan utama penetapan KKM.

35
B. Saran

Berdasarkan makalah yang telah penulis buat tentu terdapat suatu celah yang
membuat makalah ini tidak sempurna. Oleh karena itu penulis mohon kritik dan saran
yang membangun guna penulis kedepannya agar makalah ini menjadi sempurna.
Keterbatasan penulis sebagai insan manusia dalam penjabaran makalah ini akan
penulis jadikan sebagai masukan untuk menjadikan makalah ini jauh lebih baik lagi.
Kurikulum adalah bagian dari sebuah pendidikan dan makalah ini adalah bagian dari
proses hasil pemikiran. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada
pembaca semua yang berkenan memberikan kritik dan saran kepada penulis. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin.

36
Daftar Pustaka

Ana Ratna Wulan. 2013. Penilaian Proses dan Hasil Belajar Kurikulum 2013.
Bahan Paparan: Disajikan dalam workshop pembahasan dan finalisasi
naskah pendukung pembelajaran, Direktorat Pembinaan SMA,
Kemendikbud, 22 Agustus 2013.
Arifin, Zaenal. 2012. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Rosdakarya.
Depdiknas. 2008. Pedoman Penilaian dan Rapor Direktorat Pendidikan Sekolah
Menengah
Atas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Materi Pelatihan
Implementasi Kurikulum 2013 SMA/MA dan SMK/MAK: Bahasa
Indonesia (2013).
Kurniasih, Imas, dan Salin, Berni. 2014. Implementasi Kurikulum 2013: Konsep
Dan Penerapan. Surabaya: Kata Pena.

Lampiran IV Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia


Nomor 81 A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum Pedoman
Umum Pembelajaran
(Http://Bastiawanade.Blogspot.Com/2013/10/Penilaian-Hasil-Belajar-
Kurikulum-2013.Html).

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 66 tahun 2013 tentang Standar
Penilaian Pendidikan.

37