Anda di halaman 1dari 9

Thibbun Nabawwi (Pengobatan Cara Nabi)

80:‫ الشعراء‬.‫وإذا مرضت فهو يشفين‬

Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku Seperti yang tersurat dan tersirat dalam
surat Al Baqarah ayat 208 Allah menjelaskan :

‫يأيها الذين آمنوا ادخلوا فى السلم كآفة وال تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين‬

“Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu sekalian dalam Islam itu secara
Kaaffah (keseluruhan/sempurna), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah (tipu
daya) Syetan. Karena sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.

Konsekwensi logis dari ayat tersebut, diantaranya adalah tidak sedikit orang yang
beriman namun belum Kaaffah terbukti dengan seruanNya : “Wahai orang-orang yang
beriman”. Tidak sedikit manusia yang mampu melangkahkan kaki kanan ada dalam
kebaikan namun terkadang kaki yang kiri terjerembab dalam tipu daya syetan. Hal ini
diperingatkan oleh-Nya di penghujung ayat.

Islam sebagai agama yang Syumul (mencakup berbagai hal) duniawi dan ukhrawi
memberi solusi dalam segala hal, termasuk didalamnya pengobatan. Namun alangkah
sayangnya ilmu yang dulu lahir dari islam diadopsi oleh barat. Sampai akhirnya kita
lengah atau tidak waspada dalam hal yang sangat urgen ini, mereka mendompleng dan
memasukan racikan yang Allah haramkan, hingga sekarang 85 % bisnis obat-obatan
dikuasai oleh mereka (Yahudi dan Nasrani Cs).

Dengan sangat indah Allah swt. menyebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 120 :

‫ولن ترضى عنك اليهود وال النصارى حتى تتبع ملتهم‬.

“Dan tidak ridho Yahudi dan Nasrani kepadamu sampai engkau mengikuti ‘millah
mereka”.

Dalam ayat ini Allah swt. Menyebutkan dengan lafadz millah bukan din yang sering
diartikan agama. Karena millah bisa berarti Sunnah, jalan hidup, pola pikir, tata cara.
Jadi tidak mustahil agamanya tetap Islam namun pola pikirnya sudah seperti Yahudi
dan Nasrani atau dipaksa mengikuti cara jalan hidup mereka karena belum ada solusi
yang tepat bahkan sekarang ini menjadi sebuah kebanggaan bila mengikuti pola
mereka, terasa ataupun tidak.
Termasuk didalamnya masalah pengobatan, dewasa ini ilmu pengobatan Islam yang
telah diadopsi dan didompleng oleh mereka timbul tenggelam kepermukaan.

Padahal kalau kita cermati apotik-apotik konvesional sekarang ini tidak sedikit, kalau
tidak dapat dikatakan semuanya, berlambangkan piala dan ular atau tongkat dan ular
merupakan lambang Aesculapus (dewa obat-obatan yang berbentuk ular) yang hendak
minum air kehidupan dalam piala namun tidak sampai, atau tanda R, yaitu lambang
yang berasal dari lambang altar dewa Jupiter atau Zeus Pater. Lambang-lambang itu
dianggap sebagai azimat penangkal dan sumber penyembuhan. Bukankah ini symbol
kemusyrikan yang sangat bertolak belakang dengan surat Asy Syua’aro diatas. Maka
sangatlah wajar bila lambang-lambang itu mereka bubuhkan dalam surat obat yang
berarti, “ Semoga Dewa Jupiter / dewa ular segera memberi kesembuhan”, demikian
dijelaskan dalam buku Jejak Sejarah Kedokteran Islam yang diedit oleh A.D. el
Marzdedeq, DIM. Av. Karena lambang apotik Islam adalam herba (tanaman yang
mengandung obat).

Kelengahan lain kita ialah tentang kehalalan dan kethayiban obat yang kita makan,
padahal Rasulullah saw menjelaskan:

‫ رواه البخاري‬.‫إن هللا لم يجعل شفاءكم فيما حرمه هللا‬

“Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan kesembuhan dengan sesuatu yang Ia


haramkan atasmu”.

Memang di negri kita ini hak-hak konsumen belum semuanya berlaku, kita tidak pernah
bertanya kepada dokter yang memberikan resep apakah obatnya dijamin halalan
thayyiban ? Karena disinyalir ada beberapa obat kapsul pembungkusnya dicampur
dengan gelatin babi. Oleh sebab itu Imam As Suyuthi dalam kitabnya Ath Thib An
Nabawi (Pengobatan cara Nabi) menuqil pendapat Imam Ahmad yang mentidak
bolehkan seorang muslim menerima racikan obat yang diberikan oleh kafir Dzimmi,
karena dikhawatirkan ada satu ramuan yang diharamkan Allah.

Kiblat Pengobatan Hari Ini

Banyak kiblat pengobatan pada zaman sekarang ini, namun setidaknya ada lima kiblat
pengobatan yang dikenal luas oleh umat manusia, diantaranya:

1. Alopati

Harus diakui bahwa pengobatan konvensional yang berasal dari barat ini memiliki
banyak kelebihan seperti penggunaan teknologi modern untuk mendeteksi penyakit
(clinical diagnosis), melakukan operasi (pembedahan) pembuatan obat-obatan
(farmakologi), penanganan mata (optalmologi), penghilang rasa atau bius
(anestisologi). Selain itu pengobatan konvensional telah dilengkapi dengan berbagai
temuan mutakhir dalam kasus-kasus tertentu. Seperti penanganan kecelakaan, cedera
pemindahan organ tubuh, cangkok dsb.

Namun memiliki kelemahan yang tidak sedikit bahkan sangat membahayakan


kehidupan manusia. Seperti yang disinyalir oleh Dr. Paapo Airola seorang dokter
kebangsaan Amerika mengatakan bahwa semua obat ‘dadah’ (obat kimia yang
digunakan dalam pengobatan konvensional) menyebabkan efek samping yang sangat
berbahaya. Hal ini senada dengan Dr. Ivan Ilich dalam bukunya “limits to Medicine”
(1926) setelah selama satu abad mengejar sebuah impian tentang pengobatan, kini
ditemukan hikmah bahwa dunia pengobatan ternyata tidak banyak membuat perubahan
yang berarti beberapa waktu yang lalu. Jadi secara sederhana obat-obatan kimia
sintetis ialah obat yang bisa menyembuhkan satu penyakit dan menimbulkan penyakit
lain yang lebih parah diesok hari, inilah side effect, efek samping dari pengobatan
konvensional.

Selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari sifat obat-obatan kimia.
Pertama, bersifat sementara, kalau kita cermati iklan obat-obatan, memakai istilah
meredakan bukan menyembuhkan, karena memang demikian halnya, ketika seorang
pasen sakit lalu memakai obat-obatan kimia maka gejala sakitnya menjadi hilang
karena sifat dari pengobatan konvensional ini bersifat symptomiatic treatment,
menghilangkan gejala sakit saja. Sederhananya dengan cara seperti ini urat sarap yang
menuju tempat sakit ini ditekan agar tidak sakit (analgetik), penahan rasa sakit saja.
Kelebihannya pasen lebih cepat sembuhnya, kelemahannya tidak menyembuhkan
bahkan dalam kasus lain jadi kecanduan obat karena bila tidak makan obat itu rasa
sakitnya datang kembali bahkan bertambah dosis juga ketergantungan obat.

Kedua, bersifat menipu, ketika kita sakit kepala dan makan obat kimia maka dengan
cepat sakitnya hilang. Ada beberapa obat yang fungsinya mengalihkan perhatian otak.
Otak dirangsang untuk tidak tertuju akan rasa sakit, namun dialihkan akan hal-hal
lainnya.

Dari pemaparan kedua sifat ini terlihat bahwa meredakan dan mengalihkan bukanlah
menyembuhkan semakin kita banyak mengkonsumsi obat berarti semakin banyak pula
kita menimbun racun dalam usus kita, hal ini yang mengkombinasikan sakit yang tidak
diobati dan penimbunan racun yang terus menerus menimbulkan efek komplikasi pada
diri kita, yaitu rusaknya atau tidak berfungsinya organ-organ tubuh kita secara
sempurna seperti jantung, lever, ginjal dll.

Ketiga, bersifat keras, kita mengenal antibiotik, hampir setiap kali kita berobat diberi
antibiotik, secara harfiah antibiotik bermakna anti=tidak,melawan biotic=hidup, jadi
antibiotik ini ialah obat yang melawan kehidupan. Maksudnya ialah dalam tubuh kita
ada dua bakteri, menguntungkan dan merugikan. Ketika kita sakit berarti bakteri
merugikan lebih mendominasi dibanding bakteri menguntungkan. Dengan pemberian
antibiotik bakteri merugikan ini dibunuh populasinya supaya berkurang hanya saja efek
sampingnya bakteri menguntungkanpun ikut terbunuh, maka wajar kita sembuh dari
satu penyakit tapi ketika bertemu dengan penyakit lain kita gampang sekali terserang
karena imuniti tubuh kita menjadi lemah, dalam kasus yang lain ada jantung berdebar
ataupun lemas dibagian kaki terutama lutut setelah mengkonsumsi antibiotik.

Di dalam Convention Of Medical Heretic, Robert S. Mendelsohn berkata hampir 100 %


antibiotik yang diberikan tidak perlu. Dia yakin bahwa antibiotik hanya diperlukan 3 – 4
kali dalam hidup. Sebuah buku baru Bad Treatmen, Bad Doctor yang ditulis oleh
seorang radiologis Universiti Keio Jepang, menjelaskan bahwa ada kecenderungan
penggunaan antibiotik untuk demam selsema biasa secara berlebihan. Hal ini
mengakibatkan tubuh menjadi lemah tetapi virus dan bakteria menjadi semakin kuat.

2. Mistis

Diakui ataupun tidak sejak zaman purba hingga zaman sekarang praktik pengobatan
seperti ini sangatlah disukai oleh masyarakat banyak minimal terkelabui dengan imbing-
imbing penyebutan nama Allah dan Al Qur’an padahal Rasulullah telah bersabda:

‫من أتى كاهنا فسأله عن شيء فصدقه فقد كقر بما انزل على محمد ص ومن اتى كاهنا وال يصدقة لم تقبل له صالة اربعين‬
‫يوما‬.
(‫)رواه الطبراني‬

“Barang siapa yang datang kepada dukun menanyakan suatu perkara lalu
membenarkan ucapan dukun itu, kufurlah ia terhadap apa yang diturunkan kepada
Muhammad SAW, dan barang siapa datang dan tidak membenarkannya, tidak akan
diterima shalatnya selama empat puluh hari. (HR. Thabrani)

Kita mesti mewaspadainya, mengandalkan kekuatan mistis, terkadang pengobatannya


non logis, tidak masuk diakal, bahkan melanggar sunnatullah. Bisa jadi setelah kita
berobat jadi sembuh, tapi tetap kesembuhan itu dari Allah swt. Bahkan bisa jadi
kesembuhan yang kita dapatkan dari mereka hanya merupakan Istidroj (sungkunan)
dari Allah.

3. Ayurveda

Salah satunya ialah theraphy urine yang diistilahkan dengan TAS (Therapy Air Seni).
TAS ini pertama kali dicetuskan 100 tahun yang lalu oleh orang-orang Majusi, yang
mustahil dilakukan oleh para ilmuwan/ ahli medis Islam karena dalam hadits-hadits
dijelaskan bahwa itu merupakan najis. Namun dalam sejarah di India, ditemukan
sebuah dokumen berusia 5000 tahun telah menerangkan praktek TAS yang didalamnya
memuat referensi tentang tumbuh-tumbuhan dan obat-obatan yang masih digunakan
oleh Ayurvedic masa kini. Dokumen ini berisi 107 ayat (seloha) dinamakan Shivambu
Kalpa Vidhi (metode meminum air seni supaya tetap awet muda), dan bagian dari
sebuah dokumen yang disebut Damar Tantra.

Air seni dalam bahasa mereka disitilahkan Shivambu yang secara harfiah berarti air
Shiva, Dewa teringgi dalam kepercayaan India. Sekurang-kurangnya ada 35 buku
berbahasa Inggris dan 2 buku berbahasa Indonesia yang dapat dijadikan nara sumber
TAS tetapi tak satupun yang dapat meyakinkan kita tentang keilmiahannya apalagi
keilahiahannya atau islaminya, sebab dari 37 buku yang diterbitkan tahun 1918 yang
ditulis oleh Dr. Charles H. Duncan, jelas-jelas merupakan buku yang ditulis oleh orang-
orang Nasoro asli.

4. Yin & Yang

Pengobatan ini lahir dari negeri Cina. Ilmu pengobatan cina memang telah maju sejak
2500 tahun SM, sebelum berkuasa kaisar Yao. Disebut Yin & Yang karena pengobatan
ini erat hubungannya dengan kepercayaan terhadap dua dewa yang menjadi unsure
penting, yaitu Yin (dewa bumi) dan Yang (dewa langit). Keduanya mempengaruhi alam
dan isinya, dalam diri manusia juga terdapat unsure Yang dan Yin itu, jika keduanya
seimbang manusia menjadi sehat dan jika tidak seimbang, manusiapun menjadi sakit.

Banyak terapi yang digunakan dalam pengobatan ini diantaranya Akupuntur,


Akupresur, pijatan dengan tangan, togkat, biji-bijian, batu kasar, batu halus, dan batu
giok, ada juga dengan jamu-jamuan, sihir, dengan magent tubuh dan lain-lain.

Namun pengaruh budha cukup kuat hingga mempengaruhi pembemdaharaan


pengobatan mereka yang sekarangpun banyak kita kenal yaitu senam-senam yang
berpangkal pada Yoga, yaitu pengobatan dengan pengaturan nafas yang sebenarnya
berasal dari ajaran Dahtayana. Pengobatan yang awalnya terbatas ditingkat biara-biara
Budha maka wajar bila didalamnya mengandung unsure mistik. Pengobatannya
dilakukan dengan cara rabaan renggang dan pemusatan tenaga lalu dihubungkan
dengan kepercayaan-kepercayaan terhadap gangguan ruh-ruh dan makhluk halus,
yang ia usir dengan pancaran “Sinar Putih” dan “Tangan Sakti”. Mereka menyebut
kekuatan itu dengan “Chie”.

Sesungguhnya Yoga itu termasuk cara peribadatan Budha dan Hindu. Menurut
penganut ajaran Budha, dengan Yoga meditasi, konon kabarnya jiwanya dapat bersatu
dengan “Budha atau bersatu dengan Brahman atau Mahatman” menurut agama Hindu.

5. Thibbun Nabawi

Ialah pengobatan cara Nabi. Pengobatan yang mulai dilupakan orang hari ini. Maka
wajar bila eksistensinya timbul tenggelam. Kalah oleh pengobatan konvensional yang
jelas-jelas mengandung banyak efek samping. Nabi kita memang tidak diturunkan
sebagai seorang tabib, namun kita yakin bahwa yang disabdakan Rasul ialah
merupakan wahyu. Ciri khas dari pengobatan ini bersifat ilahiah dan alamiah. Sesuai
dengan konsep Islam yang bersifat fitrah, dari mulai aqidah, ibadah, muamalah
demikian juga dalam pengobatannya.

Seperti yang disebutkan oleh DR. Ja’far Khadem Yamani, Syari’ah Islam yang dibawa
Nabi SAW terkandung nilai-nilai ath thib (kedokteran) yang murni dan tinggi. Karena
prinsip dari syaria’ah Islam ialah membawa maslahat umat manusia pada masa
sekarang dan yang akan datang. Bila kita perhatikan ternyata ulama-ulama pendahulu
seperti As Suyuthi, Ibn Qayyim selain faqih mereka juga dikenal sebagai tabib yang
professional.

Bahkan Imam Bukhari, Imamul Muhadditsin dikenal sebagai ahli hadits yang pertama
kali menyusun kitab Ath Thibun Nabiy, didalamnya terdapat lebih dari 80 hadits yang
bekaitan dengan kedokteran. Terapi yang beliau sukai ialah terapi madu (herba) dan
bekam (Al Hijamah). Hal ini termaktub dalam kitab Shohih Bukhari dalam Kitab Ath Thib
:

‫ رواه البخاري‬.‫ وكية نار وانهى عن الكي‬,‫ وشرطة محجم‬,‫ بشربة عسل‬: ‫عن ابن عباس قال عن النبي ص الشفاء فى ثالث‬

“Dari Ibn ‘Abbas ra. Dari Nabi SAW telah bersabda : Kesembuhan (Obat) itu ada pada
tiga perkara yaitu minum madu, berbekam dan berkay dengan api, dan aku melarang
umatku berkay dengan api itu”. (HR. Bukhari)

Terapi Herba & Bekam Sebagai Solusi

Jauh sebelum Islam datang bahkan 5000 th sebelum masehipun praktik pengobatan
sudah ada. Dan bukan hal yang mustahil zaman Rasulullahpun sudah tersebar banyak
cara pengobatan, termasuk didalamnya terapi herba dan bekam, namun dari sekian
banyak terapi, Rasulullah SAW memilih dua terapi ini sebagai ikhtiyar memperoleh
kesembuhan dari As Syafi, Allah Yang Maha Penyembuh.

Terapi herba, ialah terapi dengan tumbuh-tumbuhan yang mengandung obat hal ini
diambil dari sabdanya “Bi Syarbati ‘Asalin” (minum madu). Karena sekurang-kurangnya
seekor lebah hinggap di 144 macam tumbuh-tumbuhan, bisa kita bayangkan berapa
ribu sari herba yang kita minum dalam tiap sendok madu. Kemudian oleh para tabib-
tabib terdahulu diurailah herba-herba ini menjadi lebih spesifik untuk proses dan dosis
yang tepat dalam mengobati penyakit. Maka wajar bila lambang apotik Islam
berlambangkan herba.

Kelebihan herba diantaranya ialah probiotik (tidak antibiotik),meningkatkan imunitas


tubuh, tidak akan terjadinya efek samping, mengandung nutrisi, makanan, vitamin dan
mineral organic, serta mengobati kesumber sakit, causa (penyebab) penyakit dan tidak
hanya mengobati satu macam penyakit, salah satu contohnya ialah
tempuyung/jombang (Jawa), atau lalakina, galigug, lempung, rayana, lampuyang
(Sunda), Sonchus arvensis L (latin), yang ada disekitar kita bahkan dengan mudah kita
dapatkan memiliki khasiat yang luar biasa, diantaranya dapat mengobati : batu saluran
kencing, batu empedu, radang usus buntu (apendisitis), jantung, radang payu dara
(mastitis), disentri, wasir, beser mani (spermatorea), darah tinggi (hipertensi),
pendengaran berkurang (tuli), rematik gout, memar, bisul dan luka bakar.

Dalam pengobatan alopati banyak yang belum diketemukan obatnya, virus HIV
misalnya, penderita AIDS divonis tidak akan sembuh, suatu penyakit yang disebut
adzab dari Allah, namun akankan Allah SWT memberikan penyakit tanpa ada obatnya
termasuk pada seorang bayi yang lahir dari perempuan yang positif HIV? Tentu tidak
jawabannya, karena dari hasil penelitian National Cancer Institute dari Amerika Serikat
telah menemukan senyawa aktif calanolides yang dapat mematikan virus HIV. Senyawa
itu diperoleh dari herba species Bintangur (Calophyllum Lanigerum) yang tumbuh
dihutan Serawak.

Di Barat, ketika seorang ikhwan kembali dari Jerman, beliau mengungkapkan bahwa
kedudukan terapi herba lebih banyak diminati dibanding obat-obatan konvensional. Bila
pasen berobat kedokter maka ditanyakan apakah obat-obatan yang ingin anda
gunakan, konvensional atau herba? Bahkan ada kecendrungan dokter yang tidak
memberikan pilihan seperti itu, ditinggalkan pasen.

Sejak 25 tahun yang lalu Barat menggembor-gemborkan Back to Nature (Kembali ke


Alam) namun karena tidak diiringi dengan aqidah maka tak jarang dihinggapi penyakit
“TBC”, Takhayul, Bid’ah dan Syirik. Nabi kita 14 abad yang telah lalu telah
mengungkapkannya.

Terapi bekam, bekam adalah istilah bahasa Indonesia yang berarti “membuang darah” .
Dalam bahasa Arab disebut Al Hijamah, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut
“cupping”. Tubuh yang sehat, pikiran yang sehat dan hati yang bersih adalah faktor
penting dalam hidup seorang hamba dalam melaksanakan tanggung jawabnya
terutama optimalisasi ibadah kepada Allah SWT. Tetapi jika kotoran toksid (racun)
dalam badan, hal ini yang menyebabkan statis darah (penyumbatan darah) bahkan
diantara penyebab terjadinya penyakit; dimana sistem darah tidak berjalan dengan
lancar. Keadaan ini sedikit demi sedikit akan mengganggu kesehatan baik itu fisik
ataupun mental seseorang. Kita akan merasa malas, murung, selalu merasa kurang
sehat (tidak fit), cepat bosan dan cepat naik pitam/darah (marah).

Statis darah harus dikeluarkan melalui berbagai macam cara, sayangnya obat-obatan
alopati tidak mampu bertindak demikian. Namun dengan terapi bekam hal itu sangat
memungkinkan untuk mengeluarkan toksid-toksid itu dengan cepat agar badan kita
tidak lemah dan diserang penyakit.

Sesungguhnya bekam itu telah dikenal bangsa-bangsa purba sejak kerajaan Sumeria
berdiri, lalu berkembang di Babilonia, Mesir, Saba dan Persia. Namun menurut As
Suyuthi bekam berasal dari Isfahan. Jadi sebelum Rasul SAW diutuspun bekam telah
ada, hanya dari sekian banyak terapi, bekamlah yang Rasulullah pilih hal inilah yang
menjadi pertanyaan besar. Bahkan beliau sangat menyenanginya terbukti dari
seringnya beliau berbekam dan beliau mengungkapkan sebaik-baiknya pengobatan
ialah berbekam, hal ini termaktub dalam riwayat Imam Bukhari:

‫ رواه البخاري‬. ‫إن أمثل ما تدويتم به الجحامة والقسط البحري‬

“Sebaik-baiknya pengobatan kalian adalah berbekam dan kayu manis ”

Orang-orang Barat telah lama mengenal pengobatan dengan membuang darah, pada
abad ke 18 mereka menggunakan lintah sebagai alat untuk berbekam, pada suatu
waktu Perancis pernah mengimpor 40 juta ekor lintah untuk keperluan itu. Lintah-lintah
itu akan dilaparkan terlebih dahulu dengan tidak diberi makan, jadi bila ditempelkan
pada tubuh manusia dia akan terus menghisap darah dengan begitu sangar efektif
sekali. Setelah kenyang lintah itu tidak berusaha lagi untuk bergerak dan terus jatuh.
Begitulah lintah mengakhiri “upacara” berbekamnya.
Dulu, ketika penulis belajar hadits, Rasulullah berbekam itu dipandang dengan
pengobatan yang sangat kuno juga mengerikan, karena paradigma pengobatan
konvensional, juga terbayang torehan benda tajam (pedang, silet, atau kapak kecil)
untuk mengeluarkan darahnya. Namun setelah penulis bergabung dengan Himpunan
Herbalis Thibbun Nabawwi Bandung, paradigma itu berubah 180 derajat. Karena
bekam yang sekarang sesuai dengan perkembangan zaman, ditunjang dengan
peralatan yang canggih, berteknologi tinggi dan diakui oleh para dokter juga dari teknik-
teknik sterilisasinya demikian pula dalam hal meminimalisir rasa sakit bahkan tidak
terasa.

Dari kebanyakan pasen yang dibekam mereka menyatakan tubuh mereka jauh lebih
ringan, hal ini dikarenakan peredaran darah menjadi lebih lancar setelah darah
statisnya (penyumbatan darah) dikeluarkan, warnanya hitam pekat dan menggumpal,
ibarat marus (darah yang diendapkan beberapa waktu).

Sebagian orang berpendapat bahwasannya donor darah juga mengeluarkan darah,


namun hemat penulis hal itu bukanlah berbekam, karena yang dikeluarkan bukanlah
darah kotor namun darah yang bisa didonorkan tentulah harus bersih dari penyakit. Dan
berbekam darah yang diambil tidak sebanyak donor darah, hanya sedikit saja. Apalagi
bila diungkapkan apakah donor darah bisa menyembuhkan penyakit ? Sedangkan fakta
membuktikan pasen jantung koroner yang divonis harus terus berobat sampai ajal tiba.
Karena menurut perawatnya penyakit jantung itu tidak ada obatnya, hal ini kontradiktif
dengan sabdanya :

‫ رواه البخاري‬. ‫ما أنزل هللا داء إال أنزل له شفاء‬

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan menurunkan penawarnya” (HR.


Bukhari)

Setelah selama enam bulan berobat jalan namun tidak ada perubahan yang berarti,
stagnan (mandeg). Lantas pasen mencoba dengan terapi bekam dan herba setelah
dibekam 3 kali dan terapi herba dalam jangka waktu sebulan setengah, ternyata pasen
mengalami perubahan yang luar biasa, Hal ini disebabkan sifat dari terapi bekam itu
sendiri yang mampu mengeluarkan darah beku, kotor (berpenyakit), kolesterol, bersifat
refunction (memfungsikan kembali organ tubuh) bahkan analgesik (penghilang rasa
sakit).

Darah yang diambil dengan Al Hijamah ialah darah yang berada dibawah lapisan
jaringan kulit, kapiler, bukan pembuluh pena apalagi arteri. Karena kulit merupakan
jaringan terbesar yang ada pada diri manusia yang disanalah beradanya sisa-sia toksid
dalam darah.

Dari segi pengistilahanpun mereka (Yahudi & Nasrani Cs) menyebutkan selain cara
pengobatan mereka disebut sebagai pengobatan alternatif (pilihan lain selain yang
pokok), karena mereka menginginkan cara mereka menjadi nomor wahid didunia dan
mengucilkan pengobatan yang sering Rasulullah gunakan bahkan mereka memberikan
stigma sebagai pengobatan kuno.

Para ahli sepakat bahwa pengobatan yang baik ialah pengobatan luar dalam. Dengan
dua terapi ini, herba dan bekam, merupakan kekuatan sinergis bila dipadukan, bekam
sebagai terapi luar, dan herba sebagai terapi dalam yang tidak bisa disembuhkan
dengan bekam.

Hemat penulis, maksud dari “Yasyfiyani” , Dialah yang menyembuhkanku, dalam surat
Asy Syu’aro diatas tentulah dengan Sunnatullah. Karena sebuah kewajiban kita untuk
berikhtiyar mengobati penyakit, lantas Rasulullah memilihkan dengan wahyu dariNya
dari sekian banyak terapi yang ada pada waktu itu ialah dengan terapi herba dan
bekam. Karena kedudukan Rasulullah SAW sebagai bayan dari firman Allah.

Selama pengobatan itu tidak melanggar syari’at Islam tentu itu diperbolehkan, apapun
bentuk dan namanya, hanya apabila kita berobat dengan racikan yang tidak terjamin
halalan thayyibannya akankah Allah ridho dengan cara seperti itu ? Sedangkan seluruh
sendi kehidupannya hanya mencari RidhoNya. Namun akankah kita belum yakin
dengan apa yang disabdakan dan pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw ?
Wallahu A’lam Bi As Showab.

Berbekam Ketika Shaum

Bolehkah kita berbekam ketika kita shaum? Rasulullah dalam riwayat Imam Bukhari
dijelaskan:

‫ رواه البخاري‬. ‫ احتجم رسول هللا ص وهو صائم‬: ‫عن ابن عياس قال‬

Dari Ibn Abbas ia berkata : Beliau berbekam padahal beliau sedang shaum.

Imam Asy Syuyuthi menukil pendapat Ibn Umar bahwa berbekam dalam keadaan perut
kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka
disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam
sebelumnya. Dan menurut hadits diatas tidak ada halangan juga tidak membatalkan
shaum berbekam ketika kita melaksanakan shaum, dan itu merupakan waktu yang
paling baik demikian menurut para tabib dan Rasulpun mengerjakannya, bahkan Imam
Bukhari memasukan hadits diatas dalam Bab Kapan Rasulullah Berbekam ? Hadits
diatas merupakan jawabannya.

Idealnya kita berbekam sebagai “Tune Up Body” , sebulan sekali, hadits yang
diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah menjelaskan “Barang siapa yang berbekam pada
tanggal 17, 19 dan 21 maka dia akan sembuh dari setiap penyakit. Dalam kesempatan
lain Rasulullah menjelaskan bahwa berbekam itu menyembuhkan 72 macam penyakit,
meringankan tubuh dan menajamkan pandangan.