Anda di halaman 1dari 39

PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK DAN MOTIVASI BELAJAR

TERHADAP PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM


(Studi Eksperimen Siswa Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo
Tahun Ajaran 2018/2019)

PROPOSAL TESIS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian


Dosen Pengampu : Prof. Dr. St. Y. Slamet, M.Pd

Oleh:

Dewi Astuti

NIM. S031808012

PROGRAM S2 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah AWT karena atas rahmat dan
hidayahNya, peneliti dapat menyelesaikan tugas proposal penelitian eksperimen
dengan judul “PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK DAN MOTIVASI
BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN
ALAM (Studi Eksperimen Siswa Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo
Tahun Ajaran 2018/2019)”.
Peneliti menyadari bahwa terselesaikannya proposal ini tidak lepas dari
bantuan bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti
menyampaikan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. St. Y. Slamet, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah
Metodologi Penelitian.
2. Teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan
proposal ini.
3. Semua pihak yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan
penulisan proposal makalah ini.
Peneliti menyadari bahwa proposal ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun sangat peneliti harapkan. Akhirnya peneliti
berharap semoga proposal ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi
pembaca.

Surakarta, September 2018

Peneliti

ii
DAFTAR ISI

Halaman
SAMPUL ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belalakang Masalah .................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 4
C. Tujuan Penelitian ............................................................................. 5
D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN
HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka .................................................................................. 6
1. Hasil Prestasi Belajar IPA ......................................................... 6
2. Hakikat Motivasi Belajar ........................................................... 12
3. Hakikat Pendekatan Saintifik .................................................... 15
4. Hakikat Pendekatan Konvensional ............................................ 17
5. Penelitian yang Relevan ............................................................ 18
B. Kerangka Berpikir ............................................................................ 20
C. Hipotesis ........................................................................................... 22
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Penelitian .......................................................... 23
B. Metode Penelitian ...................................................................... 24
C. Populasi, Sampel, Sampling ............................................................. 25
D. Variabel Pennelitian dan Definisi Operasional ................................ 26
E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 28
F. Instrumen Penelitian ..................................................... 28
G. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas .................................................. 29
H. Teknik Analisis Data ........................................................................ 31
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 34
iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan kebutuhan utama dalam menjamin kelangsungan
hidup manusia dan dijadikan tolak ukur pembangunan bangsa dan negara, karena
pendidikan mampu mengubah dan mengembangkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang handal, berkualitas, dan memadai, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Keberhasilan suatu tujuan pendidikan, tegantung pada usaha suatu
bangsa dalam mengembangkan teknologi. Suatu teknologi tidak akan berkembang
pesat jika tidak didasari pengetahuan dasar yang memadai. Oleh karena itu, mata
pelajaran IPA dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan
kemampuan analisis terhadap kondisi masyarakat dalam memasuki kehidupan
masyarakat yang semakin maju. Melalui mata pelajaran IPA, siswa diarahkan
untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga munculah
rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya interaksi antara
lingkungan, teknologi dan masyarakat.
Depdiknas (2007: 27) menyebutkan bahwa tujuan utama pembelajaran
IPA disekolah dasar adalah agar siswa dapat memahami konsep-konsep IPA
secara sederhana dan mampu menggunakan metode ilmiah, bersikap ilmiah, guna
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan menyadari kebesaran dan
kekuasaan pencipta alam. Sulistyorini dan Supartono (2007: 8) berpendapat
bahwa pembelajaran IPA adalah suatu pembelajaran yang tidak hanya dilihat dari
hasil belajarnya saja, tetapi juga dilihat pada proses pembelajarannya yang
memberi kesempatan agar siswa dapat menunjukkan keaktifan penuh dalam
pembelajaran (active learning), serta dapat menciptakan suasana menyenangkan
bagi siswa sehingga siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan nyaman dan
menyenangkan (joyfull learning). Suatu tujuan pembelajaran akan tercapai apabila
menggunakan pendekatan yang aktif, kreatif, dan inovatif, sehingga siswa dapat

1
2

termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dan juga mampu meningkatkan


prestasi belajar khususnya pada mata pelajaran IPA.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti pada satuan pendidikan
sekolah dasar kelas IV di Kabupaten Purworejo, hal yang menyebabkan
rendahnya prestasi belajar IPA yaitu: siswa kurang tertarik dan termotivasi dalam
mengikuti pembelajaran IPA, karena materinya sangat kompleks dan penuh
hafalan sehingga terdapat beberapa siswa yang kurang serius sewaktu
mendengarkan penjelasan guru seperti melipat-lipat kertas, berbisik dengan teman
sebangkunya, dan bahkan kelihatan mengantuk; daya serap atau penguasaan
konsep siswa terhadap pemahaman konsep ipa masih rendah; hanya beberapa
siswa saja yang terlibat aktif sedangkan siswa yang lain kurang memperhatikan
pelajaran dan hanya terdiam ketika guru bertanya; pembelajaran yang
dilaksanakan kurang inovatif, sehingga siswa tidak terkesan dan merasa bosan
dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, rendahnya prestasi belajar IPA siswa
sekolah dasar saat ini diperkirakan ada beberapa sebab yang mempengaruhinya
mulai dari diri siswa, orang tua, lingkungan sekitar, sarana prasarana belajar, dan
pendekatan yang digunakan guru dalam mengajar adalah berbagai penyebab
rendahnya prestasi belajar siswa dalam memahami beragam sifat dan perubahan
wujud benda dalam mata pelajaran IPA.
Pendekatan pembelajaran yang kurang inovatif dan menyenangkan bagi
siswa tidak akan menghasilkan kegiatan belajar yang bermakna. Kegiatan belajar
yang bermakna bagi siswa merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam proses
pembelajaran. Pembelajaran IPA selama ini kurang aktif, kreatif, dan inovatif,
sehingga tidak ada motivasi yang membuat siswa dapat berpikir secara logis dan
ilmiah guna memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
Prestasi belajar IPA dapat dicapai dengan kegiatan belajar yang dapat
memotivasi siswa untuk berpikir secara logis dan ilmiah. Pembelajaran yang logis
dan ilmiah mampu memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajar IPA.
Prestasi belajar akan meningkat, apabila dalam diri siswa mulai termotivasi untuk
meningkatan kemampuan berpikir secara logis dan ilmiah. Oleh karena itu
pendekatan pembelajaran yang inovatif dan bermakna bagi siswa perlu
3

ditingkatkan agar pencapaian tujuan pembelajaran dapat tercapai. Guna membantu


siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran dan peningkatan prestasi belajar,
guru menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang mampu melibatkan
keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA serta mampu memotivasi siswa untuk
memperbaiki prestasi belajar.
Pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru beragam, .
namun tidak semua pendekatan pembelajaran dapat digunakan secara efektif.
Beberapa pendekatan misalnya pendekatan saintifik dan pendekatan
konvensional. Pendekatan konvensional merupakan suatu pendekatan sederhana
dan masih berpusat pada guru atau guru lebih banyak berdominasi dalam kegiatan
pembelajaran. Pada pembelajaran konvensional lebih banyak menggunakan
ceramah dan diskusi, sehingga komunikasi hanya terjadi oleh guru ke siswa saja.
Pendekatan Saintifik merupakan pendekatan yang aktif, inovatif, dan
kreatif. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik mengajak siswa
untuk mencari informasi dengan melibatkan keterampilan proses seperti
mengamati, menanya, mencoba, mengolah data atau informasi, menyajikan data
atau informasi (Daryanto, 2014: 59). Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk
memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami
berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi berasal dari
mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh
karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan yaitu mendorong peserta didik
dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi dan bukan hanya
diberi tahu.
Berdasarkan fakta empiris, penelitian yang dilakukan oleh Sumayasa N,
dkk (2015: 1) yang berjudul Pengaruh Implementasi Pendekatan Saintifik
terhadap Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas
IV di Sekolah Dasar Se Gugus VI Kecamatan Abang, Karangasem, didapatkan
hasil penelitian bahwa motivasi belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran
saintifik hasilnya lebih baik daripada motivasi belajar siswa yang mengikuti
model konvensional, hasil belajar belajar siswa yang mengikuti model
pembelajaran saintifik hasilnya lebih baik daripada hasil belajar siswa yang
4

mengikuti model pembelajaran konvensional, dan motivasi dan hasil belajar siswa
yang mengikuti model pembelajaran saintifik hasilnya lebih baik daripada
motivasi dan hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran
konvensional.
Penelitian ini menggunakan suatu pendekatan yang mampu meningkatkan
motivasi belajar dan memperbaiki prestasi belajar siswa, karena dengan motivasi
siswa akan tergerak untuk belajar, sehingga dapat menjamin proses pembelajaran
yang lebih efektif dan mencapai suatu tujuan akhir dalam pembelajaran yaitu
meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan kajian permasalahan tersebut,
peneliti melakukan eksperimen dengan judul penelitian “Pengaruh Pendekatan
Saintifik dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
(Studi Eksperimen Siswa Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo Tahun Ajaran
2018/2019)”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas maka dirumuskan
masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah ada perbedaan penggunaan pendekatan saintifik dengan pendekatan
pembelajaran konvensional pada pembelajaran IPA terhadap prestasi belajar
siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Purworejo?
2. Apakah ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang memiliki motivasi
belajar yang tinggi, sedang, dan rendah di kelas IV Sekolah Dasar Negeri
Purworejo?
3. Apakah ada interaksi pengaruh pendekatan pembelajaran dan motivasi belajar
terhadap prestasi belajar IPA Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri
Purworejo?
5

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Perbedaan penggunaan pendekatan saintifik dengan pendekatan kovensional
terhadap prestasi belajar IPA siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri
Purworejo.
2. Perbedaan siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, sedang, dan
rendah terhadap prestasi belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri
Purworejo.
3. Interaksi antara pendekatan pembelajaran dan motivasi belajar terhadap
prestasi belajar IPA siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Purworejo.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian pengembangan ini memberikan manfaat secara teoritis dan
praktis sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang
teori yang berikaitan dengan pendekatan pembelajaran inovatif yang mampu
menggerakkan motivasi belajar, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar
IPA.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, manfaat yang didapat dari penelitian pengembangan ini
adalah:
a. Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat memotivasi dalam meningkatkan
prestasi belajar dengan pendekatan saintifik.
b. Bagi guru, sebagai salah satu alternatif pendekatan yang sesuai dan efektif
yang mampu meningkatkan motivasi belajar.
c. Bagi sekolah, dapat dijadikan referensi dan pertimbangan dalam
memotivasi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan
efisien.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Hakikat Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
a. Prestasi Belajar
Dalam proses belajar mengajar, prestasi belajar merupakan hasil
yang dicapai dari suatu usaha dalam mengikuti pendidikan atau
latihan tertentu yang hasilnya dapat ditentukan dengan memberikan
tes pada akhir pembelajaran. Prestasi belajar menurut Muhibbin
(2014: 139-140) adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu program.
Menurut Sumadi Suryabrata (2006: 297) menjelaskan bahwa
prestasi belajar adalah perumusan akhir yang diberikan oleh guru
mengenai kemajuan hasil belajar murid-muridnya selama masa
tertentu. Menurut Hamdani (2011: 138) mengemukakan bahwa
prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran
terhadap siswa yang meliputi faktor kognitif, afektif, psikomotorik
setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan
menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpilkan bahwa prestasi
belajar ialah hasil dari suatu proses kegiatan untuk memperoleh
perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Dimyati dan Mudjiono (2009: 235-254) membagi faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar menjadi dua yaitu: faktor intern yang
meliputi motivasi belajar, yang dimaksud motivasi belajar merupakan
kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar, sehingga
akan mempengaruhi prestasi belajar yang di dapat peserta didik;
sedangkan faktor eksetrn yaitu lingkungan sosial siswa di sekolah, hal
ini terletak pada pembentukan pergaulan antara siswa yang satu
6
7

dengan siswa yang lainnya yang berdampak pada status sosial dalam
lingkungan tersebut.
Abu dan Widodo (2013: 136-146) mengemukakan ada tiga faktor yang
dapat mempengaruhi prestasi belajar antara lain:
1) Faktor-faktor stimulus belajar
Stimulus belajar merupakan sesuatu hal di luar individu yang
memberikan rangsangan kepada individu untuk bereaksi dan
mengadakan kegiatan belajar.
2) Faktor-faktor metode belajar
Metode mengajar yang dipakai oleh guru sangat mempengaruhi
metode belajar yang dipakai oleh si pelajar atau dapat dikatakan metode
yang dipakai oleh guru menimbulkan perbedaan yang berarti bagi proses
belajar.
3) Faktor-faktor individual
Salah satu aspek yang masuk dalam faktor individual adalah
motivasi yang berkaitan dengan tujuan-tujuan yang akan mempengaruhi
kegiatan dan hasil belajar, karena motivasi akan menggerakkan
organisme, mengarahkan tindakan, serta memilih tujuan belajar yang
dirasa memberikan kebermanfaatan bagi siswa itu sendiri.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu motivasi
belajar, metode belajar, keadaan lingkunga sekolah, dan lingkungan
masyarakat.
c. Penilaian dan Pengukuran Prestasi Belajar
Pengukuran prestasi belajar berfungsi untuk menilai kemajuan siswa
dalam hal pencapaian suatu pembelajaran. Arikunto, S (2013: 177)
menerangkan dua bentuk tes untuk mengukur prestasi belajar yaitu tes
subjektif yang pada umumnya berbentuk esai (uraian) dan tes objektif yang
dapat berupa multiple choice (pilihan ganda), matching test (menjodohkan),
dan true or false (benar atau salah).
8

Menurut Arikunto, S (2013: 192), selain kedua bentuk tes diatas, untuk
mengukur prestasi belajar dapat dilakukan dengan:
1) Pengukuran Ranah Afektif
Pengukuran ranah afektif tidak semudah mengukur ranah
kognitif. Pengukuran ranah afektif tidak dapat dilakukan setiap saat
(dalam arti pengukuran formal) karena perubahan tingkah laku siswa
tidak dapat berubah sewaktu-waktu.
2) Pengukuran Ranah Psikomotor
Pengukuran ranah psikomotor dilakukan terhadap hasil-hasil
belajar yeng berupa penampilan. Instrumen yang digunakan untuk
mengukur keterampilan biasanya berupa matriks, bagian bawah
menyatakan princian aspek (bagian keterampilan) yang akan diukur dan
bagian kanan menunjukkan besarnya skor yang dapat dicapai.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi
belajar dapat diukur dengan tes tertulis serta dengan pengukuran ranah
afektif meskipun tidak dapat dilakukan setiap saat dan pengukuran ranah
psikomotorik.
d. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam
Pembelajaran IPA merupakan sarana bagi siswa untuk mempelajari diri
sendiri dan alam sekitar. Proses pembelajaran IPA menekankan pada
pemberian pengalaman langsung guna pengembangan kompetensi untuk
memahami alam sekitar secara alamiah. Menurut Susanto (2016: 170)
pembelajaran IPA adalah pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip proses
yang dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa terhadap konsep-konsep IPA,
dan pembelajaran IPA diterapkan melalui pengalaman secara langsung.
Sulistyorini dan Supartono (2007: 8) berpendapat bahwa pembelajaran
IPA adalah suatu pembelajaran yang tidak hanya dilihat dari hasil belajarnya
saja, tetapi juga dilihat pada proses pembelajarannya yang memberi
kesempatan agar siswa dapat menunjukkan keaktifan penuh dalam
pembelajaran (active learning), serta dapat menciptakan suasana
9

menyenangkan bagi siswa sehingga siswa dapat mengikuti pembelajaran


dengan nyaman dan menyenangkan (joyfull learning).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat
pembelajaran IPA adalah proses yang dapat menumbuhkan sikap ilmiah
siswa terhadap interaksi antara komponen-komponen pembelajaran
sehingga siswa dapat menumbuhkan sikap ilmiah terhadap konsep-konsep
IPA, dan pembelajaran IPA diterapkan melalui pengalaman secara langsung.
e. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar
Tujuan pembelajaran IPA dalam Depdiknas adalah untuk meningkatkan
kesadaran akan keteraturan alam dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, mengembangkan pengetahuan tentang alam dan hubungan antara sains
dan teknologi, menumbuhkan keterampilan dan kemampuan dalam
memecahkan masalah, menumbuhkan sikap ilmiah, menanamkan kebiasaan
untuk berpikir analitis induktif dan deduktif, serta mengapresiasikan sains
dan penerapannya dalam teknologi (Trianto, 2015: 143).
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan tahun 2006, pembelajaran
IPA di sekolah dasar dimaksudkan untuk:
1) Mendapat keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan
keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam semesta.
2) Menambah pengetahuan dan pemahaman tentang konsep IPA yang
bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
3) Meningkatkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang
hubungan antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat yang
saling mempengaruhi.
4) Mengembangkan keterampilan proses dalam penyelidikan alam sekitar,
memecahkan permasalahan, serta dalam membuat keputusan.
5) Meningkatkan kesadaran dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan
lingkungan alam.
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan sluruh
keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
10

7) Menambah pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar


untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP/MTs.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan
IPA untuk meningkatkan kesadaran akan keteraturan alam dan keyakinan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan pengetahuan tentang
alam dan hubungan antara sains dan teknologi, menumbuhkan keterampilan
dan kemampuan dalam memecahkan masalah, mengajak siswa berpikir
kritis dan kreatif sehingga dapat menghubungkan pengetahuan yang telah
dimiliki siswa dengan fenomena-fenomena yang terjadi di dalam konteks
kehidupan keseharian mereka.
f. Ruang Lingkup Mata Pelajaran IPA
Menurut Badan Standar Nasional 2006 ruang lingkup bahan kajian IPA
untuk SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan,
tumbuhan, dan interaksinya dengan lingkungan serta kesehatan.
b) Benda/materi, sifat-sifat, dan kegunaannya meliputi benda padat, cair,
dan gas.
c) Energi dan perubahannya meliputi gaya, bunyi, panas, magnet, listrik,
cahaya, dan pesawat sederhana.
d) Bumi dan alam semesta meliputi tanah, bumi, tata surya, dan benda-
benda langit lainnya.
Berdasarkan pemaparan di atas, ruang lingkup IPA di sekolah dasar
meliputi makhluk hidup dan proses kehidupan, benda/materi, energi dan
perubahannya, serta bumi dan alam semesta. Ruang lingkup yang menjadi
fokus penelitian yaitu tentang energ.
11

g. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar


Materi IPA yang diteliti yaitu tentang Sumber Energi. Adapun KD dan
Indikator terdapat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. KD dan Indikator IPA Kelas IV Sekolah Dasar Tema 2 Selalu
Berhemat Energi
Kompetensi Dasar Indikator
3.5 Mengidentifikasi berbagai 3.5.1 Menjelaskan manfaat
sumber energi, dan sumber energi matahari dalam
energi alternatif (angin, air, kehidupan sehari-hari.
matahari, panas bumi, 3.5.2 Mengidentifikasi sumber
bahan bakar organik, dan daya alam dan
nuklir) dalam kehidupan pemanfaatannya.
sehari-hari 4.5.1 Menyajikan laporan hasil
4.5 Menyajikan laporan hasil pengamatan tentang
pengamatan dan perubahan bentuk
penelusuran informasi energi matahari dalam
tentang berbagai perubahan kehidupan dengan
bentuk energi. sistematis.
4.5.2 Menyajikan hasil
identifikasi sumber
daya alam dan
pemanfaatannya dalam
bentu tulisan dengan
sistematis.

h. Prestasi Belajar IPA


Prestasi belajar IPA adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam
mempelajari cabang ilmu tentang alam semesta beserta isinya dan kejadian-
kejadian yang diperoleh dan dikembangkan baik secara induktif maupun
deduktif. IPA merupakan ilmu untuk mencari tahu tentang alam secara
sistematik untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep,
prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah yang
mengakibatkan adanya perubahan pada diri seseorang berupa penguasaaan
dan kecakapan baru yang ditunjukkan dengan hasil berupa nilai.
12

2. Hakikat Motivasi Belajar


a. Pengertian Motivasi Belajar
Istilah motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan
sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang mneyebabkan
individu tersebut bertindak atau berbuat (Uno, 2015: 3). Menurut W.S
Winkel (Uno, 2015: 3), motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang
untuk melakukan aktivitas tertentu, demi mencapai tujuan tertentu.
Eysenck, dll (Slameto, 2010: 170), berpendapat bahwa motivasi
dirumuskan sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan,
intensitas, konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku manusia,
merupakan konsep rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep lain seperti
minat, konsep diri, sikap, dan sebagainya.
Menurut Mc Donald (Hamalik, 2009: 158), motivasi adalah dorongan
dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada
pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang
sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Menurut Sardiman (2010: 73),
menyebutkan bahwa motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
motivasi belajar adalah suatu dorongan internal dan eksternal dari dalam diri
siswa yang saling mempengaruhi, sepert hasrat; keinginan; dorongan;
kebutuhan; harapan; dan cita-cita, sehingga mampu mendorong siswa untuk
belajar atau melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu.
b. Fungsi Motivasi Belajar
Menurut Hamalik (2009: 16) mengemukakan bahwa fungsi motivasi
yaitu mendorong timbulnya suatu kelakuan atau perbuatan, mengarahkan
perbuatan ke pencapaian tujuan yang diinginkan dan sebagai penggerak
yang menentukan cepat lambatnya suatu pekerjaan.
Purwanto, N (2010: 70) mengemukakan bahwa fungsi motivasi sebagai
motif untuk mendorong dan menentukan arah perbuatan untuk
melaksanakan suatu tugas dan mencapai tujuan tertentu. Menurut Sardiman
13

(2010: 85) mengemukakan bahwa fungsi motivasi yaitu sebagai pendorong


manusia untuk berbuat, menentukan arah tujuan yang hendak dicapai, dan
menyeleksi perbuatan.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
fungsi motivasi adalah mendorong timbulnya suatu kelakuan atau perbuatan
dan mengarahkan perbuatan ke pencapaian tujuan yang diinginkan.
c. Peranan Motivasi dalam Belajar dan Pembelajaran
Uno (2015: 27) berpendapat bahwa peranan penting dari motivasi dalam
belajar dan pembelajaran yaitu memotivasi dalam menentukan penguatan
belajar, memperluas tujuan belajar, menentukan ragam kendali terhadap
rangsangan belajar, dan memotivasi menentukan ketekunan belajar.
Dimyati (2013: 85-86) mempertegas peranan motivasi dalam belajar dan
pembelajaran bahwa motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi
siswa peranan motivasi belajar yaitu menyadarkan kedudukan awal belajar,
proses, dan hasil akhir; menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar,
yang dibandingkan dengan teman sebaya; mengarahkan kegiatan belajar;
membesarkan semangat belajar; dan menyadarkan tentang adanya
perjalanan belajar. Bagi guru peranan motivasi belajar yaitu
membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk
belajar sampai berhasil; mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa
di kelas beragam-ragam; meningkatkan dan menyadarkan guru untuk
memilih satu di antara bermacam-macam peran; dan memberi peluang guru
untuk unjuk kerja rekayasa pedagogis.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli pada uraian di atas bahwa motivasi
belajar memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan penguatan
belajar, memperluas tujuan belajar, menentukan ragam kendali terhadap
rangsangan belajar, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai
berhasil.
14

d. Unsur-unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar


Menurut Dimyati (2013: 97-100) dalam motivasi belajar ada beberapa
unsur yang mempengaruhi motivasi belajar, sebagai berikut:
1) Cita-cita atau Aspirasi Siswa
Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar instrinsik maupun
ekstrinsik siswa sebab tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan
aktualisasi diri.
2) Kemampuan Belajar
Kemampuan meliputi beberapa aspek psikis, misalnya
pengamatan, perhatian, ingatan, daya pikir, dan fantasi. Siswa yang
mempunyai kemampuan belajar tinggi, biasanya lebih termotivasi
dalam belajar, karena siswa seperti itu lebih sering memperoleh
kesuksesan.
3) Kondisi Jasmani dan Rohani Siswa
Kondisi siswa yang mempengaruhi motivasi belajar disini
berkaitan dengan kondisi fisik dan kondisi psikologis, tetapi
biasanya guru lebih cepat melihat kondisi fisik, karena lebih jelas
menunjukkan gejalanya dari pada kondisi psikologis.
4) Kondisi Lingkungan Kelas
Kondisi lingkungan merupakan unsur-unsur yang datangnya dari
luar diri siswa. Lingkungan siswa sebagaimana juga lingkungan
individu pada umumnya yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat.
5) Unsur-unsur Dinamis Belajar
Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang
keberadaannya dalam proses belajar yang tidak stabil, kadang lemah,
dan bahkan hilang sama sekali.
6) Upaya Guru Membelajarkan Siswa
Upaya yang dimaksud disini adalah bagaimana guru
mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari
15

penguasaan materi, cara menyampaikannya, dan menarik perhatian


siswa.
e. Indikator Motivasi Belajar
Menurut Uno (2015: 23) mengemukakan bahwa indikator motivasi
belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: adanya hasrat dan keinginan
berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan
dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya
kegiatan yang menarik dalam belajar, dan juga adanya lingkungan belajar
yang kondusif sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar
dengan baik.

3. Hakikat Pendektan Saintifik


a. Pengertian Pendekatan Saintifik
Menurut Hosnan, M (2016: 32) mengemukakan bahwa pendekatan
saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa untuk
mengaktifkan peserta didik dalam mengkonstruk konsep, hukum, atau
prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi dan
menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan
hipotesis, mengumpulkan data dari berbagai teknik, menganalisis data,
menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip
yang ditemukan.
Pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran yang mengarahkan
siswa untuk melakukan proses pencarian pengetahuan tentang materi
pelajaran dengan cara menerapkan kegiatan layaknya seorang ilmuwan
dengan segala proses sainsnya dalam penyelidikan ilmiah, artinya siswa
dibimbing untuk menemukan sendiri berbagai konsep, fakta, dan nilai-nilai
baru yang diperlukan untuk kehidupannya (Ine, M. E. 2015: 271).
Pendekatan saintifik menurut Shoimin, A, 2014: 165) mencakup tiga
ranah yaitu ranah sikap yang mengarahkan siswa untuk tahu mengapa, ranah
pengetahuan yang mengarahkan siswa agar tahu apa, dam ranah
keterampilan yang mengarahkan siswa agar tahu bagaimana.
16

Berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang pendekatan saintifik, maka


dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik adalah suatu proses
pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa, agar peserta didik secara
aktif mengkonstruksi konsep, hukum, atau prinsip melalui tahapan-tahapan
mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah),
merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum, atau prinsip yang
ditemukan.
b. Kriteria Pendekatan Saintifik
Menurut Majid, A (2014: 197) mengemukakan bahwa proses
pembelajaran dapat dikatakan ilmiah jika dipandu dengan kaidah-kaidah
pendekatan ilmiah seperti materi pembelajaran berdasarkan fakta, interaksi
edukatif antara guru dan siswa berdasarkan pemikiran yang objektif,
mendorong siswa untuk berpikir kritis, hipotesis dan mengembangkan pola
berpikir yang rasional berdasarkan konsep, teori dan fakta empiris.
Karakteristik pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah: 1)
berpusat pada siswa; 2) melibatkan keterampilan proses sains; 3) melibatkan
proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan
intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa, dan 4) dapat
mengembangkan karakter siswa (Hosnan, M. 2016: 36).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kriteria
pendekatan saintifik yaitu berpusat pada siswa, pembelajaran berdasarkan
fakta, interaksi edukatif antara guru dan siswa berdasarkan pemikiran yang
objektif, mendorong siswa untuk berpikir kritis, hipotesis dan
mengembangkan pola berpikir yang rasional berdasarkan konsep, teori dan
fakta empiris.
c. Tujuan Pendekatan Saintifik
Tujuan pendekatan saintifik menurut Kemendikbud (Hosnan,M. 2016:
36) yaitu untuk meningkatkan kemampuan intelek, membentuk kemampuan
siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik, terciptanya
17

kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan


suatu kebutuhan, diperolehnya pembelajaran yang tinggi, melatih siswa
dalam mengomunikasikan ide-ide, dan mengembangkan karakter siswa.
d. Langkah dalam Pendekatan Saintifik
Langkah pendekatan saintifik menurut Daryanto (2014: 60) dalam
kegiatan belajar mengajar meliputi kegiatan mengamati, menananya,
mengumpulkan informasi, mengolah informasi, menyimpulkan,
mengomunikasikan.
Menurut Hajar, S (2016: 58) mengemukakan lima aspek pendekatan
ilmiah meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
mengolah informasi, menyimpulkan, dan mengomunikasikan).
Hosnan, M (2016: 82) menjelaskan langkah-langkah dalam pendekatan
saintifik yaitu mengamati dapat dilakukan dengan melihat membaca,
mendengar, dan menyimak; menanya yakni mengajukan pertanyaan tentang
materi yang belum dipahami; mengumpulkan informasi yang dilakukan
dengan mencari informasi dari sumber lain selain buku teks dan wawancara;
mengolah informasi yang diperoleh dari kegiatan eksperimen dan
mengumpulkan informasi; dan mengomunikasikan yang merupakan proses
penyampaian hasil olahan informasi.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
langkah-langkah pendekatan saintifik meliputi kegiatan mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi, dan
mengomunikasikan.

4. Pendekatan Konvensional
a. Pengertian Pendekatan Konvensional
Konvensional diartikan sebagai pembelajaran dalam konteks klasikal
yang sudah terbiasa dilakukan yang sifatnya berpusat pada guru, sehingga
pelaksanaanya kurang memperhatikan keseluruhan situasi belajar/non belajar
tuntas (Majid, 2014: 165). Pada pendekatan konvensional guru memegang
peranan utama dalam menentukan isi dan urutan langkah dalam
18

menyampaikan materi kepada siswa, sementara siswa mendengarkan serta


mencatat pokok-pokok penting yang disampaikan guru (Rusman, 2012:
213). Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang didominasi
pandangan bahwa pengetahuan adalah seperangkat fakta-fakta yang harus di
hafal (Komalasari, 2010: 242)
Jadi dari berbagai pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berpusat pada
guru sehingga siswa kurag dilibatkan secara aktif.
(1) Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan salah satu metode yang paling sering
digunakan dalam pembelajaran konvensional. Metode ceramah
merupakan cara penyajian lisan secara langsung kepada peserta didik
(Djamarah, 2013: 97).
(2) Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan cara penyajian pelajaran dimana peserta
didik dihadapkan kepada suatu masalah yang berupa pernyataan atau
pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan
bersama (Djamarah, 2013: 87).

B. Penelitian yang Relevan


1) Penelitian yang dilakukan oleh I Nyoman Sumayasa, A.A.I.N. Marhaeni
(2015) yang menghasilkan : (a) terdapat pengaruh motivasi belajar bahasa
Indonesia antara siswa yang mengikuti pelajaran dengan pendekatan saintifik
dan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional, motivasi
belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran saintifik hasilnya lebih
baik daripada motivasi belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran
konvensional; (b) hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran
saintifik hasilnya lebih baik daripada hasil belajar siswa yang mengikuti
model pembelajaran konvensional; (c) motivasi dan hasil belajar siswa yang
mengikuti model pembelajaran saintifik hasilnya lebih baik daripada
motivasi dan hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran
19

konvensional. Persamaan penelitiannya yaitu terdapat pengaruh motivasi


belajar bahasa Indonesia antara siswa yang mengikuti pelajaran dengan
pendekatan saintifik dan siswa yang belajar dengan model pembelajaran
konvensional, motivasi belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran
saintifik hasilnya lebih baik daripada motivasi belajar siswa yang mengikuti
model pembelajaran konvensional. Perbedaanya pada hasil belajar siswa
yang mengikuti model pembelajaran saintifik hasilnya lebih baik daripada
hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional, dan
motivasi dan hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran
saintifik hasilnya lebih baik daripada motivasi dan hasil belajar siswa yang
mengikuti model pembelajaran konvensional.
2) Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Khan (2012) yang menyatakan
bahwa aktivitas belajar tinggi memiliki kencenderungan berpengaruh
terhadap prestasi belajar siswa, baik dari segi pengetahuan, sikap maupun
keterampilan. Persamaannya yaitu pada variabel terikat yaitu menganalisis
prestasi belajar fisika, sedangkan perbedaannya pada variabel bebas yang
menganalisis aktivitas dan keterampilan kognitif.
3) Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Sulisworo dan Fadiyah Suryani (2014)
yang menyatakan bahwa proses pembelajaran yang lebih berpusat pada
siswa di kelas sangat penting dalam rangka meningkatkan motivasi belajar
yang baik. Motivasi berpengaruh terhadap prestasi belajar IPA.
Persamaannya yaitu pada proses pembelajaran yang lebih berpusat pada
siswa dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga
berpengaruh terhadap prestasi belajar, sedangkan perbedaanya pada variabel
bebas yaitu pembelajaran kooperatif.
4) Penelitian yang dilakukan Tri Wahyu Maduretno, Sarwanto, dan Widha
Sunarno (2016) yang menghasilkan (a) ada pengaruh yang signifikan
penggunaan pendekatan saintifik melalui model learning cycle dan discovery
learning terhadap prestasi belajar; (b) tidak ada pengaruh yang signifikan
tingkat aktivitas siswa baik tinggi maupun rendah terhadap prestasi belajar
aspek sikap dan keterampilan; (c) ada pengaruh yang signifikan motivasi
20

belajar tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar aspek sikap dan
keterampilan; (d) ada interaksi antara pendekatan saintifik menggunakan
model discovery learning dan learning cyvle dengan aktivitas belajar tinggi
dan rendah terhadap prestasi belajar siswa; (e) ada interaksi antara
pendekatan saintifik menggunakan model discovery learning dan learning
cycle dengan motivasi tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar aspek
pengetahuan dan keterampilan; (f) tidak ada interaksi antara aktivitas belajar
tinggi dan rendah dengan motivasi belajar tinggi dan rendah terhadap
prestasi belajar siswa; (g) tidak ada interaksi antara pendekatan saintifik
dengan model pembelajaran yang diterapkan, aktivitas, dan motivasi belajar
terhadap prestasi belajar siswa. Persamaannya adalah penelitian ini sama-
sama bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran IPA dengan
pendekatan saintifik terhadap siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi
dan rendah sebagai variabel bebas dan juga prestasi belajar IPA sebagai
variabel terikat. Perbedaannya penelitian menerapkan model learning cycle
dan discovery learning dan siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi
dan rendah sebagai variabel bebas, sedangakan interaksinya terhadap
prestasi belajar pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai variabel terikat.

C. KERANGKA BERPIKIR
1. Perbedaan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa yang Belajar dengan Menggunakan
Pendekatan Saintifik
Penerapan pembelajaran saintifik dalam proses pembelajaran IPA memberikan
kontribusi yang besar kepada siswa. Melalui pendekatan saintifik memungkinkan
siswa untuk aktif serta dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, menerapkan
konsep, melatih siswa berpikir nalar dan melatih siswa untuk berpikir secara ilmiah
sehingga pembelajaran lebih bermakna.
Pendekatan konvensional hanya terpusat pada guru, sehingga kondisi
pembelajaran kurang mengaktifkan siswa dan guru hanya berceramah, sehingga
siswa cepat merasa bosan dan pembelajaran menjadi tidak bermakna. Pendekatan
pembelajaran yang kurang menarik dimungkinkan menjadi faktor penyebab prestasi
21

belajar IPA kurang maksimal. Pendekatan pembelajaran diharapkan dapat


merangsang perhatian dan motivasi siswa agar proses penyampaian pesan dapat
berjalan efektif. Dengan demikian diduga penggunaan pendekatan saintifik dapat
merangsang motivasi siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
Sekolah Dasar.
2. Perbedaan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa yang Memiliki Motivasi Belajar
Rendah, Sedang, dan Tinggi.
Motivasi belajar diharapkan dapat memberikan pengaruh positif terhadap
prestasi belajar IPA. Siswa yang memiliki motivasi belajar akan memiliki rasa
ketertarikan tanpa ada paksaan dari guru ataupun siapapun dalam aktivitas
belajarnya. Siswa yang memiliki motivasi yang sedang akan cenderung kurang
tertarik dalam mengikuti pembelajaran, sedangkan siswa yang motivasinya rendah
tidak mempunyai rasa tertarik dan cenderung terpaksa dalam mengikuti pelajaran.
Kondisi seperti ini akan mempengaruhi prestasi belajar siswa, akhirnya
mengakibatkan prestasi belajar rendah. Dengan demikian diduga bahwa siswa
dengan motivasi belajar tinggi akan mendapatkan prestasi belajar IPA yang lebih
baik dibandingkan dengan siswa dengan motivasi belajar sedang dan rendah.
3. Interaksi antara Pendekatan dengan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar IPA.
Berbagai pendekatan dapat digunakan dalam pembelajaan IPA. Salah satunya
dalah pendekatan Saintifik. Pendekatan saintifik merupakan pendekatan
pembelajaran yang menumbuhkan siswa untuk aktif, berpikir ilmiah, kreatif dan
iovatif. Penggunaan pendekatan pembelajaran digunakan untuk menumbuhkan
motivasi belajar untuk mempelajari pokok bahasan IPA. Selain itu pendekatan
pembelajaran ini juga membantu siswa dalam memahami, mengenal, dan
mengingat materi yang diajarkan melalui pembelajaran yang berkesan.
Selain penggunaan pendekatan saintifik, motivasi belajar tinggi juga berdampak
positif terhadap proses pembelajaran. Peluang siswa yang mempunyai motivasi
tinggi dimungkinkan untuk mendapatkan prestasi belajar IPA yang relatif lebih baik
bila dibandingkan dengan siswa yang memiliki motivasi belajar kategori sedang.
Sedangkan bagi siswa yang memiliki motivasi belajar rendah dimungkinkan
prestasi belajar IPA rendah pula. Berdasarkan uraian di atas diduga ada interaksi
22

antara pendekatan pembelajaran dengan motivasi siswa yang mempegaruhi prestasi


belajar IPA.
Berdasarkan uraian di atas, kerangka pemikiran dalam penelitia ini dapat
digambarkan sebagai berikut:

Pendekatan Saintifik
(X1)

Prestasi Belajar IPA


(Y)

Motivasi Belajar
(X2)

Gambar 2.7 Skema Kerangka Berpikir


Keterangan:
1. Variable independen (variable bebas)
Variable independen adalah variable yang merupakan rangsangan untuk
mempengaruhi variable lain. Yang menjadi variable bebas adalah pendekatan
saintifik (X1) dan motivasi belajar (X2).
2. Variable dependen (variable terikat)
Variable dependen merupakan variable hasil dari perilaku yang dirangsang atau
variable yang dipengaruhi.Dalam penelitian ini variable yang dipengaruhi yaitu
prestasi belajar IPA (Y).

D. HIPOTESIS
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, dirumuskan hipotesis penelitian sebagai
berikut:
1. Perbedaan prestasi belajar IPA pada siswa yang belajar dengan menggunakan
pendekatan saintifik dengan siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional.
2. Perbedaan prestasi belajar IPA pada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah,
sedang, dan tinggi.
3. Terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan motivasi belajar terhadap
prestasi belajar IPA.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Purworejo. Adapun
SD negeri yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah SD Negeri Purworejo, SD Negeri
1 Baledono, SD Negeri 1 Pangenrejo, SD N 1 Ganggeng SD Negeri 1
Pangenjurutengah, dan SD N Mranti.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2018/2019.
Kegiatan eksperimen ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan Agustus 2019
dengan responden penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri di Kecamatan Purworejo.
Kegiatan eksperimen dilaksanakan dua kali seminggu dengan alokasi waktu setiap
pertemuan 2 x 35 menit. Kegiatan perlakuan dalam penelitian ini dimulai setelah uji
coba alat ukur. Uji coba alat ukur dapat dilakukan untuk mengukur kelayakan instrumen
yang digunakan yakni instrumen angket motivasi dan instrumen tes prestasi belajar IPA.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum perlakuan adalah peneliti melakukan
pelatihan/bimbingan dengan guru IPA yang ditunjuk oleh kepala sekolah sebagai
pelaksana tindakan eksperimen. Berikut akan dipaparkan jadwal pelaksanaan penelitian.

23
24

Tabel 3.1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Waktu Penelitian
Kegiatan Feb Maret April Mei Juni Juli Agustus
Penelitian 2019 2019 2019 2019 2019 2019 2019

1.Persiapan penelitian
a. Mengurus perizinan
b. Koordinasi dengan
kepala sekolah dan guru

c. Menyusun angket dan tes


prestasi belajarIPA
d. Melakukan uji coba
angket dan tes
e. Analisis hasil uji coba
dan revisi
f. Finalisasi dan
penggandaan angket
2. Pelaksanaan tindakan
a. Mengadakan pretest dan
pengukuran motivasi
belajar

b. Melakukan eksperimen
c. Melakukan postes
3. Analisis data dan pelaporan
a. Menyusun draft

b. Mengetik naskah
4. Ujian dan revisi

B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen
dengan desain penelitian ini menggunakan desain factorial 2x3. Sugiyono (2016: 109)
menjelaskan bahwa metode penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang
digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan atau treatment tertentu terhadap yang lain
dalam kondisi yang terkontrol. Metode eksperimen dalam penelitian ini menggunakan
quasi eksperiment atau eksperimen semu. Peneliti menggunakan metode ini karena
variabelnya baik variabel bebas atau variabel kontrolnya sulit untuk dikendalikan.
Selain itu, lab pada penelitian ini berupa kelas. Desain ini menggunakan 2 faktor
dimana satu faktor menggunakan 2 kategori, dan faktor lainnya menggunakan 3
ketegori. Desain penelitian dapat dilihat pada tabel berikut.
25

Tabel 3.2 Desain Penelitian Faktorial 2x3

Model Pembelajaran Pendekatan Saintifik Pendekatan


(A1) Konvensional
Motivasi Belajar (A2)
Motivasi tinggi (B1) A1B1 A2B1
Motivasi sedang (B2) A1B2 A2B2
Motivasi rendah (B3) A1B3 A2B3
Keterangan:
A1 : kelas siswa yang belajar dengan menggunakan pendekatan saintifik
A2 : kelas siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional
B1 : siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi
B2 : siswa yang memiliki motivasi belajar sedang
B3 : siswa yang memiliki motivasi belajar rendah
A1B1 : prestasi belajar siswa yang belajar menggunakan pendekatan saintifik dengan
motivasi belajar tinggi.
A1B2 : prestasi belajar siswa yang belajar menggunakan pendekatan saintifik dengan
motivasi belajar sedang.
A1B3 : prestasi belajar siswa yang belajar menggunakan pendekatan saintifik dengan
motivasi belajar rendah.
A2B1 : prestasi belajar siswa yang belajar menggunakan pendekatan konvensional
dengan motivasi belajar tinggi.
A2B2 : prestasi belajar siswa yang belajar menggunakan pendekatan konvensional
dengan motivasi belajar sedang.
A2B3 : prestasi belajar siswa yang belajar menggunakan pendekatan konvensional
dengan motivasi belajar rendah.

C. Populasi, Sampel, Sampling


1. Populasi penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti
untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016: 119).
26

Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri di Kabupaten


Purworejo, Jawa Tengah, Tahun Ajaran 2018/2019.
2. Sampel penelitian
Menurut Sugiyono (2016: 118), mengemukakan bahwa sampel adadalh
bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
Sampel pada penelitian ini terdiri dari lima terdiri dari lima sekolah dasar yaitu
SD Negeri Purworejo, SD Negeri 1 Baledono, SD Negeri 1 Pangenrejo, SD N 1
Ganggeng, SD Negeri 1 Pangenjurutengah, dan SD N Mranti. Sekolah dasar
yang diberikan treatment yaitu SD Negeri Purworejo, sedangkan sekolah dasar
yang lain berperan sebagai kelas kontrol.
3. Sampling
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
clusster random sampling. Pengambilan sampel jenis ini berdasarkan
kelompok/area tertentu. Adapun tahapan pengambilan sampling dalam
penelitian ini yaitu, setiap subjek atau sekoah yang terdaftar sebagai populasi,
diberi nomor urut mulai dari nomor 1 sampai dengan banyaknya jumlah sekolah.
Kemudian pilih secara acak satu SD Negeri yang akan digunakan sebagai kelas
eksperimen, sedangkan sekolah dasar yang lain berperan sebagai kelas kontrol.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


1. Variabel Penelitian
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk
apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperolah
informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,
2016: 63). Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan
variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi dan dalam
penelitian ini terdapat dua kategori variabel bebas, yaitu (A)pendekatan
pembelajaran dan (B) motivasi belajar. Variabel bebas faktor pertama (dalam hal
ini pendekatan pembelajaran) merupakan variabel yang dieksperimenkan, dibagi
menjadi dua taraf, (A1) pendekatan saintifik dan (A2) pendekatan konvensional,
sedangkan variabel bebas faktor kedua (dalam hal ini motivasi belajar) yang
27

terdiri dari motivasi belajar tinggi (B1), motivasi belajar sedang (B2), dan
motivasi belajar rendah (B3).
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi dan menjadi
objekpengamatan dalam penelitian. Dalam penelitian ini variabel terikatnya
adalah prestasi belajar IPA.
2. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional adalah suatu definisi yang didasarkan pada sifat-sifat yang
didefinisikan dan diamati. Berikut penjelasan mengenai definisi operasional
variabel-variabel dalam penelitian ini.
a. Pendekatan saintifik
Pendekatan saintifik adalah skor yang diperoleh siswa setelah mereka
melaksanakan suatu proses pembelajaran yang dirancang agar peserta didik
secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum, atau prinsip melalui tahapan-
tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah),
merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum, atau prinsip yang
ditemukan.
b. Pendekatan Konvensional
Pendekatan konvensional diartikan sebagai skor yang diperoleh siswa
setelah mengikuti pembelajaran dalam konteks klasikal yang sudah terbiasa
dilakukan yang sifatnya berpusat pada guru, sehingga pelaksanaanya kurang
memperhatikan keseluruhan situasi belajar/non belajar tunta. Aspek
penilaiannya berdasarkan pada nilai tugas diskusi siswa.
c. Motivasi belajar
Motivasi belajar adalah skor yang diperoleh siswa setelah merespons
angket motivasi. Skor ini menunjukkan seberapa tinggi, sedang, dan rendah
motivasi mereka dalam belajar. Angket motivasi belajar ini berbentuk daftar
pertanyaan yang harus direspon oleh responden. Adapun aspek yang dinilai:
(a) kerjasama, (b) dorongan dan kebutuhan dalam belajar, (c) harapan dan
28

cita-cita masa depan, (d) penghargaan dalam belajar, (e) kegiatan yang
menarik dalam belajar, (f) kemandirian, dan (g) tantangan.
d. Prestasi belajar IPA
Prestasi belajar IPA adalah skor yang diperoleh siswa setelah
mempelajari cabang ilmu tentang alam semesta beserta isinya dan kejadian-
kejadian yang dapat diukur dengan tes tertentu. Indikator penilaian dalam
prestasi belajar IPA yaitu hasil belajar siswa dalam mengerjakkan tes tertulis
tentang manfaat energi matahari dalam kehidupan sehari-hari, sumber daya
alam dan pemanfaatannya, laporan hasil pengamatan tentang perubahan
bentuk energi matahari dalam kehidupan dengan sistematis, dan hasil
identifikasi sumber daya alam dan pemanfaatannya dalam bentuk tulisan
dengan sistematis.

E. Teknik Pengumpulan Data


1. Teknik Tes
Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui
atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang
sudah ditentukan (Arikunto, 2013: 53). Jenis tes yang digunakan berupa tes
objektif dalam bentuk essai sesuai dengan materi serta kompetensi dasar
yang ditentukan.
2. Teknik Non Tes
a. Angket
Angket, adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya,
atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2013: 268). Lembar angket motivasi
ini diberikan kepada siswa baik kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
berbentuk daftar pertanyaan yang harus direspon oleh responden

F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu tes
dan nontes. Nontes berupa angket yang merupakan daftar pertanyaan atau pernyataan
29

tentang motivasi yang diberikan kepada siswa untuk mendapatkan informasi. Instrumen
disusun menurut cara dan aturan tertentu dengan pemberiang angka (skor) yang disusun
secara jelas dan terperinci. Hasil instrumen tes dan nontes akan dijabarkan dalam bentuk
angka-angka, tabel, analisis statistik, dan uraian serta kesimpulan hasil penelitian.
1. Tes Prestasi Belajar IPA
a) Indikator Penilaian
Berdasarkan kajian teori, definisi konseptual dan operasional diatas,
prestasi belajar IPA diukur menggunakan skala nilai 0-100 berdasarkan
jawaban benar siswa dalam mengerjakan soal materi tentang
menjelaskan manfaat energi matahari dalam kehidupan sehari-hari,
mengidentifikasi sumber daya alam dan pemanfaatannya, menyajikan
laporan hasil pengamatan tentang perubahan bentuk energi matahari
dalam kehidupan dengan sistematis, dan menyajikan hasil identifikasi
sumber daya alam dan pemanfaatannya dalam bentuk tulisan dengan
sistematis.
b) Angket Motivasi Belajar
Angket motivasi berprestasi berbentuk daftar pertanyaan yang harus
diisi atau ditanggapi oleh responden. Adapun aspek yang harus
ditanggapi responden adalah (a) kerjasama, (b) dorongan dan kebutuhan
dalam belajar, (c) harapan dan cita-cita masa depan, (d) penghargaan
dalam belajar, (e) kegiatan yang menarik dalam belajar, (f) kemandirian,
dan (g) tantangan. Pengukuran angket ini menggunakan skala Likert.

G. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas


1. Uji Coba Instrumen Penelitian
Uji coba instrumen penelitian dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana
tingkat validitas dan realibilitas setiap butir soal yang telah dibuat. Uji coba
instrumen dilakukan di SD Negeri Purworejo, SD Negeri 1 Baledono, SD
Negeri 1 Pangenrejo, SD N 1 Ganggeng, SD Negeri 1 Pangenjurutengah, dan
SD N Mranti.
30

2. Uji Prasyarat Instrumen


a. Validitas
Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa
yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2016: 168). Pengembangan dan
penyusunan instrumen soal untuk mengukur prestasi belajar
siswaberdasarkan acuan teoritis atau konsep relevan dengan variabel
penelitian. Indikator pencapaian prestasi belajar IPA sehubungan dengan
penelitian ini adalah mampu menjelaskan manfaat energi matahari dalam
kehidupan sehari-hari, mengidentifikasi sumber daya alam dan
pemanfaatannya, menyajikan laporan hasil pengamatan tentang perubahan
bentuk energi matahari dalam kehidupan dengan sistematis, dan menyajikan
hasil identifikasi sumber daya alam dan pemanfaatannya dalam bentuk
tulisan dengan sistematis.
Sementara itu untuk mengetahui tingkat validitas angket motivasi
berprestasi digunakan pengujian secara empiris dengan rumus statistik
menggunakan korelasi product moment (Budiyono, 2009: 268), sebagai
berikut:

Keterangan :
r : koefisien korelasi antara skor angket motivasi dan skor total yang dicari
N : jumlah respomdem uji coba
xi : skor butir pernyataan butir ke-i
xt : skor hasil total
b. Reliabilitas
Realibilitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kepercayaan
suatu instrumen. Pengujian reliabilitas ini digunakan rumus korelasi Alpha
31

Cronbach (Arikunto, 2013: 239) untuk selanjutnya koefisien dapat


diinterpretasikan ke dalam klasifikasi koefisien reliabilitas.
𝒏 ∑𝑺𝟐𝒊
r11 = (𝒏−𝟏) (1 - )
𝑺𝟐𝒕

Keterangan:
r11 : koefisien reliabilitas
n : banyaknya butir soal
∑Si2 : jumlah varians butir soal
St2 : jumlah varians skor total
(

H. Teknik Analisis Data


Analisis data yang dimaksudkan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
Dalam analisis data penelitian ini mencakup analisis data secara deskriptif, uji prasyarat,
dan analisis secara inferensial.
1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dalam penelitian ini menggunakan interpretasi skor.
Interpretasi skor digunakan untuk mengkaji data minat belajar dan keterampilan
menyimak cerita. Untuk membuat skala atau rentang skor pada masing-masing
variabel, harus diketahui terlebih dahulu nilai maksimal, nilai minimal, mean,
rentang, standar deviasi.
2. Uji Prasyarat
Sebelum dilakukan analisis korelasi, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat
analisis yang terdiri dari uji normalitas, homogenitas, dan linearitas.
a) Uji Normalitas
Uji normalitas memiliki tujuan untuk mengetahui apakah variabel
independen dan variabel dependen mempunyai distribusi normal atau tidak.
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji One-Sample
Kolmogorov Smirnov Test dengan bantuan SPSS dengan perhitungan p >
0,05 sebarannya dinyatakan normal dan sebaliknya jika p < 0,05 sebarannya
32

dinyatakan tidak normal. Apabila nilai signifikansi > 0,05 dapat disimpulkan
bahwa data berdistribusi normal.
b) Uji Homogenitas
Uji homogenitas merupakan pengujian asumsi dengan tujuan untuk
membuktikan data yang dianalisis berasal dari populasi yang tidak jauh
berbeda keberagamannya. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan
keyakinan apakah varians variabel terikat (Y) pada skor variabel bebas (X1)
dan (X2) bersifat homogen atau tidak. Adapun hipotesisnya sebagai berikut.
H0 = varians tidak homogen
H1 = varians homogen
Perhitungan uji homogenitas menggunakan Levevne test dalam SPSS 20.0.
Kriteria pengambilan keputusan:
1) Jika signifikansi > 0,05 maka H1 diterima
2) Jika signifikansi < 0,05 maka H1 ditolak
c) Uji Linearitas
Uji linearitas digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel dalam
penelitian ini mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan.
Dikatakan linear jika skor variabel diikuti kenaikan skor variabel dependen.
Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan test of linierity pada taraf
signifikansi 0,05, dengan perhitungan jika p > 0,05 dinyatakan linear,
sebaliknya jika p < 0,05 dinyatakan tidak linear.
3. Uji Inferensial
Analisis data inferensial menggunakan teknik Analisis Varian 2 jalan (two
Way’s ANAVA) digunakan untuk mengetahui perbedaan dan interaksi antara
pendekatan pembelajara dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar IPA.
Teknik Two Way’s Anava dihitung dengan bantuan PASW Statistik 18 dengan
taraf signifikansi > 0,05.
4. Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis (H0) dirumuskan sebagai berikut:
a. Hipotesis pertama
H0 : µA1 = µA2
33

H1 : µA1 ≥ µA2
b. Hipotesis kedua
H0 : µB1 = µB2 = µB3
H1: µB1 > µB2 >µB3
c. H0 : A X B = 0
H1 : A X B > 0
Keterangan:
A : pendekatan pembelajaran
B : motivasi belajar
µA1 : rerata skor prestasi belajar IPA dengan pendekatan saintifik
µA2 : rerata skor prestasi belajar IPA dengan pendekatan konvensional
µB1 : rerata siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi
µB2 : rerata siswa yang memiliki motivasi belajar sedang
µB3 : rerata siswa yang memiliki motivasi belajar rendah
DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi & Widodo Supriyono. (2013). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka
Cipta.

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineka Cipta.

BSNP. (2006). Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Depdiknas.

Budiyono. (2009). Statistika untuk Penelitian. Surakarta: UNS Press.

Daryanto. (2014). Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013.


Yogyakarta: Gava Media.

Daryanto. (2014). Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013.


Yogyakarta: Gava Media.

Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan


Nasional Nomor 41 tahun 2007. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.

Dimyati dan Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, B. (2011). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Dwi Sulisworo, Fadiyah Suryani. (2014). The Effect of Cooperative Learning


Motivation and Information Technology Literacy to Achievement,
International Journal Of Learning & Development. 4(2): 1.

Hajar, S. (2016). Learning Geometry through Discovery Learning Using a


Scientific Approach, 10 (1): 58.

Hamalik, Oemar. (2009). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Raja Pustaka Setia.

Hosnan, M. (2016). Pendekatan Saintifik Dan Kontekstual dalam Pembelajaran


Abad 21 Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013. Bogor: Ghalia
Indonesia.

Ine, M. E. (2015). Penerapan Pendekatan Scientific untuk Meningkatkan Prestasi


Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi Pokok Bahasan Pasar. Dalam
Ali Muhson, dkk (Eds.). Prosiding Seminar Nasional Profesionalisme
Pendidik dalam Dinamikan Kurikulum Pendidikan di Indonesia pada Era
MEA, hlm. 271, FE Universitas Negeri Yogyakarta, hlm: 271.
34
Komalasari, K. (2010). Pembelajaran Kontekstual, Konsep dan Aplikasi.
Bandung: Refika Aditama.

Lastian, H. D. (2017). Pengaruh Pendekatan Saintifik Terhadap Prestasi Belajar.


Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, 3(2), 107.

Majid, A. (2014). Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhammad Khan, dkk. (2012). Impact Of Activity-Based Teaching on Students


Academic Achievements in Physics at Secondary Level. Journal
Academic Reseacrch Internasional, 3(1): 146.

Muhibbin, Syah. (2014). Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nyoman Sumayasa, Ngurah Marhaeni, Nyoman Dantes. (2015). Pengaruh


Implementasi Pendekatan Saintifik Terhadap Motivasi Belajar dan Hasil
Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas VI di Sekolah Dasar Se Gugus
VI Kecamatan Abang, Karangasem, 5(1).

Purwanto, N. (2010). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Rusman. (2012). Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sardiman. (2010). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: RajaGrafindo


Persada.

Shoimin, A. (2016). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.


Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:


Rineka Cipta.

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:


Rineka Cipta.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitaif Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Sulistyorini, S. & Supartono. (2007). Model Pembelajaran IPA Sekolah Dasar


dan Penerapannya dalam KTSP. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sumadi, Suryabrata. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grafindo.

Susanto. (2016). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:


Kencana Prenada Media Group.
35
Tri Wahyuni Maduretno, Sarwanto, Widha Sunarno. (2016). Pembelajaran IPA
dengan Pendekatan Saintifik Menggunakan Model Learning Cycle dan
Discovery Learning Ditinjau dari Aktivitas dan Motivasi Belajar Siswa
Terhadap Prestasi Belajar. 2(1): 1.

Trianto. (2015). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Raja


Putra Grafika.

Uno, Hamzah B. (2015). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi


Aksara.

36