Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Beberapa mahasiswa terkadang masih dibingungkan dengan mata
kuliah fisika ini, terlebih lagi bagi mereka yang tidak begitu menyukai
fisika. Makalah ini dibuat untuk mereka yang masih kurang mengerti, agar
dapat lebih memahami prinsip-prinsip dasar beberapa hukum fisika tersebut.
Makalah ini dibuat berdasarkan referensi dari beberapa sumber. Pokok
bahasan yang dibahas dalam makalah ini ada empat, yaitu
1. Pengukuran dasar
2. Vektor
3. Hukum Newton
4. Osilasi Harmonik Sederhana.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini, antara lain:
1. Apa saja yang termasuk alat ukur dasar, serta perbedaannya?
2. Apa yang dimaksud dengan vektor dan bagaimana cara melukis vektor
serat perhitungannya?
3. Bagaimana bunyi hukum I , II, dan III Newton dan contohnya dalam
kehidupan sehari-hari?
4. Apa yang dimaksud dengan osilator harmonik sederhana?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, antara lain:


1. Untuk mengetahui beberapa alat ukur dasar dan perbedaannya
2. Untuk mengetahui pengertian vektor, cara melukis vektor, dan
perhitungan vektor
3. Untuk mengetahui bunyi hukum I, II, III Newton , dan contohnya dalam
kehidupan sehari-hari
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan osilator harmonik
sederhana.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengukuran Dasar

1
Hal pertama yang harus dikuasai dalam praktikum fisika adalah
pengukuran dasar. Makalah ini akan membahas tiga alat ukur dasar, yaitu
mistar, jangka sorong dan mikrometer sekrup. Pengukuran dapat dilakukan
melalui dua cara :

a. Pengukuran secara langsung


Pengukuran secara langsung adalah penentuan besaran nilai ukur
setelah membaca skala pada alat ukur, tanpa melakukan proses
penghitungan melalui rumus.

b. Pengukuran secara tidak langsung


Pengukuran secara tidak langsung adalah penentuan nilai ukur yang
dilakukan dengan cara menggunakan penghitungan melalui rumus
tambahan.

1. Mistar

Untuk mengukur panjang suatu benda, dalam kehidupan sehari-


hari kita lumrah menggunakan mistar atau penggaris. Terdapat beberapa
jenis mistar sesuai dengan skalanya. Ada mistar yang skala terkecilnya
mm (mistar milimeter) dan ada mistar yang skala terkecilnya cm (mistar
centimeter). Mistar yang sering kita gunakan biasanya adalah mistar
milimeter. Dengan kata lain, mistar itu mempunyai skala terkecil 1
milimeter dan mempunyai ketelitian 1 milimeter atau 0,1 cm.

2. Jangka Sorong

Jangka sorong adalah salah satu alat ukur panjang yang dapat
digunakan untuk:
a. mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit
b. mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang
(pada pipa, maupun lainnya) dengan cara diulur

c. mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara


"menancapkan/menusukkan" bagian pengukur.

1
Jangka sorong memiliki ketelitian hingga 0,1 mm. Jangka sorong
terdiri dari dua bagian, yaitu rahang tetap dan rahang geser. Skala
jangka sorong juga terdiri atas dua bagian, yaitu skala utama yang
terdapat pada rahang tetap, dan skala nonius yang terdapat pada rahang
geser. Sepuluh skala utama memiliki panjang 1 cm, dengan kata lain
jarak 2 skala utama yang saling berdekatan adalah 0,1 cm. Sedangkan
sepuluh skala nonius memiliki panjang 0,9 cm, dengan kata lain jarak 2
skala nonius yang saling berdekatan adalah 0,09 cm. Jadi beda satu
skala utama dengan satu skala nonius adalah 0,1 cm – 0,09 cm = 0,01
cm atau 0,1 mm. Sehingga skala terkecil dari jangka sorong adalah 0,1
mm atau 0,01 cm.

1. Mengukur diameter luar


Untuk mengukur diameter luar sebuah benda dapat dilakukan
dengan cara menggeser rahang geser jangka sorong ke kanan
sehingga benda yang diukur dapat masuk diantara kedua rahang
(antara rahang geser dan rahang tetap)
Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang.
kemudian geser rahang geser ke kiri sehingga benda yang diukur
terjepit oleh kedua rahang , lalu putar penguci. Lalu baca skala
yang terlihat.

1
2. Mengukur diameter dalam
Untuk mengukur diameter dalam sebuah benda (misalnya diameter
dalam sebuah cincin) dapat dilakukan dengan cara menggeser
rahang geser jangka sorong kekanan. Letakkan benda/cincin yang
akan diukur sehingga kedua rahang jangka sorong masuk ke dalam
benda/cincin tersebut. Kemudian geser rahang geser kekanan
sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong menyentuh
kedua dinding dalam benda/cincin yang diukur. Lalu bacalah skala
yang terlihat.

3. Mengukur kedalaman
Untuk mengukur kedalaman sebuah benda/tabung dapat dilakukan
dengan cara meletakkan tabung yang akan diukur dalam posisi
berdiri tegak. kemudian putar jangka (posisi tegak) dan letakkan
ujung jangka sorong ke permukaan tabung. Geserlah rahang geser
kebawah sehingga ujung batang pada jangka sorong menyentuh
dasar tabung. Dan bacalah skala yang terlihat.

Untuk membaca hasil pengukuran menggunakan jangka sorong


dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

1. Lihat skala utama yang berimpit atau skala terdekat tepat didepan
titik nol skala nonis.
2. Lihat skala nonius yang tepat berimpit dengan skala utama.
3. Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan :
Hasil = Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x skala terkecil
jangka sorong) = Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x
0,01 cm)

3. Mikrometer sekrup

1
Mikrometer sekrup adalah alat ukur dasar yang lebih 10 kali
lebih teliti dari jangka sorong. Keteliannya mencapai 0,01 mm.
Mikrometer sekrup terdiri dari beberapa bagian, yaitu poros tetap, poros
geser/putar, skala utama, yang terletak pada poros tetap, skala nonius
yang terletak pada poros geser/putar, pemutar, dan pengunci.
Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur panjang suatu benda,
ketebalan kertas, atau diameter kawat kecil.

Untuk menggunakan mikrometer sekrup dapat dilakukan dengan


cara melakukan kalibrasi pada mikrometer sekrup, buka rahang dengan
memutar ke kiri pada skala putar. Letakkan benda yang diukur pada
rahang, dan putar kembali sampai tepat. Putar pengunci sampai skala
putar tidak dapat digerakkan dan terdengar bunyi 'klik'. Baca skala yang
terlihat. Skala utama mikrometer sekrup terdiri dari 1,2,3 mm , dan
seterusnya. Sedangkan skala putar terdiri dari 1 sampai 50 (dalam
penentuan besaran nilai angka pada skala putar dikalikan 0,01 mm).
Setiap skala putar berputar mundur 1 putaran maka skala utama
bertambah 0,5 mm. Sehingga 1 skala putar = 1/100 mm = 0,01 mm.

1
Dalam melakukan pengukuran, pasti terapat kesalahan-
kesalahan, baik kesalahan pada alat, maupun pengamat. Berikut
beberapa keslahan yang dapat terjadi pada pengukuran:

1. Kesalahan Sistematis
a. Kesalahan Kalibrasi (Faktor alat)
Kalibrasi adalah penyesuaian kembali perangkat pengukuran
agar sesuai dengan besaran dari standar akurasi semula.

b. Kesalahan Titik Nol (0)


Hal ini terjadi karena titik nol skala tidak berimpit dengan titik
nol jarum penunjuk.

c. Kelelahan Alat
Dikarenakan alat sering dipakai terus menerus sehingga alat
tidak akurat lagi.

d. Kesalahan Paralaks/Paralax (Sudut Pandang)


Ketika membaca nilai skala, pembaca berpindah tempat / tidak
tepat melihatnya / obyek yang dilihat berbeda dengan obyek
pertama yang diamati.

e. Kondisi Lingkungan
Ketika melakukan pengukuran, kondisi lingkungan berubah
sehingga tidak bisa dilakukan pengukuran seperti biasa.

2. Kesalahan Rambang (Kesalahan yang Tidak Dapat Dikendalikan)


Disebabkan karena adanya sedikit fluktuasi pada kondisi-kondisi
pengukuran . contoh fluktuasi tegangan listrik; gerak brown
molekul udara; landasan obyek bergetar.

3. Keteledoran Pengamat
Hal ini disebabkan karena keterbatasan pengamat dalam membaca
hasil pengukuran.

B. Vektor
Beberapa fisis tertentu disamping mempunyai besaran, juga
mempunyai arah. Vektor adalah suatu besaran yang mempunyai nilai dan

1
arah. Sejumlah vektor dapat diganti dengan satu vektor yang disebut
resultan. Besar dan arah resultan dapat kita tentukan dengan menggunakan
kertas grafik.
Untuk melukis penjumlahan vektor dapat dilakukan dengan beberapa
metode, antara lain sebagai berikut:

a. Metode Segitiga
1. gambar vektor F1 berupa tanda panah.
2. gambar vektor kedua, F2, dengan pangkalnya berimpitan dengan
ujung vektor pertama, F1.
3. jumlahkan kedua vektor, dengan menggambar vektor resultan (F1 +
F2), dari pangkal vektor F1 menuju ujung vektor F2.

b. Metode Jajaran genjang


1. gambar vektor F1 menggunakan tanda panah.
2. gambar vektor F2, di mana pangkal/ujung berimpit dengan
pangkal/ujung vektor F1.
3. gambar vektor resultan, F3 (F1 + F2), di mana pangkal vektor F3
berimpit dengan pangkal vektor F1 dan F2, sedangkan ujung vektor
F3 berimpit pada titik temu garis putus-putus dari kedua ujung
vektor F1 dan vektor F2.

c. Metode Poligon
1. gambar vektor A.
2. gambar vektor B, di mana pangkal vektor B berimpit dengan ujung
vektor A.
3. gambar vektor C di ujung vektor B. caranya seperti menggambar
vektor B.

1
4. gambar vektor D sebagai vektor resultan/hasil, dimana pangkal
vektor D nempel dengan pangkal vektor A dan ujung vektor B
nempel dengan ujung vektor C.

Untuk menentukan nilai resultan dari vektor yang membentuk sudut,


dapat menggunakan rumus:

Rumus diatas diperoleh dari:

1
Sifat-sifat operasi vektor:
1. Komutatif à a + b = b + a
2. Asosiatif à (a+b)+c = a+(b+c)
3. Elemen identitas terhadap penjumlahan
4. Sifat tertutup-> hasil penjumlahan vektor juga berupa vektor
5. Ketidaksamaan segitiga |u+v| ≤ |u| + |v|
6. 1u = u
7. 0u = 0, m0 = 0.
8. Jika mu = 0, maka m=0 atau u = 0
9. (mn)u = m(nu)
10. |mu| = |m||u|
11. (-mu) = - (mu) = m (-u)
12. Distributif : (m+n)u = mu + nu
13. Distributif : m(u+v) = mu + mv
14. u+(-1)u = u + (-u) = 0

Perkalian vektor:
Ada dua jenis perkalian vektor, yaitu perkalian titik (dot product) dan
perkalian silang (cross product).
1. Perkalian titik
Perkalian titik dari dua vektor A dan B dilambangkan dengan A . B .
di dalam fisika, perkalian titik ini dijumpai misalnya dalam rumus usaha
dan daya.
W=F.s dan P=F.v
Gaya F, perpindahan s, dan kecepatan v, adalah besaran vektor,
sedangkan usaha W dan daya P merupakan besaran skalar. Hal ini
berarti, hasil perkalian titik dua besaran vektor merupakan besaran
skalar.

2. Perkalian silang
Perkalian silang dari dua vektor A dan B dilambangkan dengan
A x B . di dalam fisika, perkalian silang ini kita jumpai misalnya dalam
rumus gaya Lorentz.
F=qvxB
Kecepatan v dan induksi magnetik B, dan gaya F adalah besaran
vektor. Hal ini berarti, hasil perkalian silang dua besaran vektor
merupakan besaran vektor.

C. Hukum Newton
1. Hukum I Newton (Hukum Kelembaman)

1
Pada dasarnya setiap benda bersifat lembam. Ini berarti bahwa
benda itu mempunyai sifat mempertahankan keadaannya. Bila benda itu
sedang bergerak, maka benda itu bersifat “ingin” bergerak terus.
Demikian pula, bila benda itu tidak bergerak, maka benda itu bersifat
mempertahankan keadaannya, baik benda itu diam maupun bergerak.

Secara matematis, Hukum I Newton dapat dinyatakan sebagai


berikut :

Sifat kelembaman itu juga terasa pada kita sendiri pada waktu kita
naik kendaraan, misalnya mobil, bis, kereta api dan sebagainya. Bila
mobil yang kita tumpangi tiba-tba direm, tubuh kita akan terdorong ke
depan. Dan pada saat digas, tubuh kita terdorong ke belakang. Maka
kesimpulan yang kita peroleh dari peristiwa tersebut adalah setiap benda
dalam keadaan berhenti mempunyai kecenderungan untuk tetap diam,
sedangkan bila benda sedang bergerak, benda itu cenderung untuk
bergerak terus. Sifat cenderung yang demikian itulah yang diartikan
sebagai kelembaman (inertia). Dari gejala-gejala tersebut Sir Isaac
Newton menghasilkan hukum I tentang gerak sebagai berikut:
“Setiap benda akan bergerak lurus beraturan atau diam, jika tidak
ada resultan gaya yang bekerja pada benda itu.” Hukum ini juga disebut
hukum kelembaman.

2. Hukum II Newton
Menurut hukum II Newton, Jika suatu gaya total bekerja pada
benda, maka benda akan mengalami percepatan, di mana arah percepatan
sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya. Vektor gaya total

1
sama dengan massa benda dikalikan dengan percepatan benda.

Pada Hukum I Newton tersirat pengertian gaya secara kualitatif,


sedangkan dalam Hukum II Newton ini gaya, yang dapat mengubah
gerakan benda, dijelaskan secara kuantitatif. Dari Hukum II Newton ini
kita bisa menyimpulkan bahwa gaya sebesar 1 Newton dapat
menyebabkan percepatan sebesar 1 m/s2 pada benda yang bermassa 1 kg
atau percepatan sebesar 2 m/s2 pada benda yang bermassa 1kg dikenakan
gaya 2 Newton.
Contoh kegiatan yang mendeskripsikan hokum II Newton adalah
pada saat kita mendorong meja. Percepatan akan bergantung pada massa
benda. Apabila gaya total yang bekerja pada benda tersebut sama, maka
makin besar massa benda, makin kecil percepatannya, sebaliknya makin
kecil massa benda makin besar percepatannya.

3. Hukum III Newton


Jika antara benda pertama dan benda kedua saling memberi gaya
pada yang lain, maka semua total gaya seharusnya nol, karena sistem
tidak berubah keadaan geraknya. Jadi gaya yang diberikan benda pertama

1
pada benda kedua ditambah dengan gaya yang diberikan benda

kedua pada benda pertama harus sama dengan nol, yang berarti

=−

Pasangan gaya semacam di atas sering disebut sebagai pasangan


gaya aksi-reaksi, dan persamaan di atas disebut sebagai hukum newton
ketiga atau hukum aksi-reaksi. Kata aksi-reaksi di sini tidak mengandung
arti suatu proses sebab akibat, karena kedua pasangan aksi-reaksi tersebut
muncul secara bersamaan. Bila salah satu gaya disebut sebagai aksi, maka
pasangannya adalah reaksi, demikian juga sebaliknya. Juga perlu
diperhatikan bahwa pasangan aksi-reaksi selalu bekerja pada dua benda
yang berbeda,bukan pada satu benda yang sama.

D. Osilasi Harmonik Sederhana


Setiap gerak yang terjadi secara berulang dalam selang waktu yang
sama disebut gerak periodik. Karena gerak ini terjadi secara teratur maka
disebut juga sebagai gerak harmonik/harmonis. Apabila suatu partikel
melakukan gerak periodik pada lintasan yang sama maka geraknya disebut
gerak osilasi/getaran. Bentuk yang sederhana dari gerak periodik adalah
benda yang berosilasi pada ujung pegas. Karenanya kita menyebutnya gerak
harmonis sederhana. Gerak harmonis sederhana yang dapat dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari adalah getaran benda pada pegas dan getaran benda
pada ayunan sederhana.

Gerak Harmonis Sederhana pada Pegas

1
Ketika sebuah benda dihubungkan ke ujung sebuah pegas, maka pegas
akan meregang (bertambah panjang) sejauh y. Pegas akan mencapai titik
kesetimbangan jika tidak diberikan gaya luar (ditarik atau digoyang),
sebagaimana tampak pada gambar B. Jika beban ditarik ke bawah sejauh y 1
dan dilepaskan (gambar c), benda akan akan bergerak ke B, ke D lalu
kembali ke B dan C. Gerakannya terjadi secara berulang dan
periodik.Besaran fisika pada Gerak Harmonik Sederhana pada pegas pada
dasarnya sama dengan ayunan sederhana, yakni terdapat periode, frekuensi
dan amplitudo. Jarak x dari posisi setimbang disebut simpangan. Simpangan
maksimum alias jarak terbesar dari titik setimbang disebut amplitudo (A).
Satu getaran Gerak Harmonik Sederhana pada pegas adalah gerak bolak balik
lengkap dari titik awal dan kembali ke titik yang sama. Misalnya jika benda
diregangkan ke kanan, maka benda bergerak mulai dari titik x = 0, menuju
titik x = A, kembali lagi ke titik x = 0, lalu bergerak menuju titik x = -A dan
kembali ke titik x = 0
Besar gaya pemulih F ternyata berbanding lurus dengan simpangan x
dari pegas yang direntangkan atau ditekan dari posisi setimbang (posisi
setimbang ketika x = 0). Secara matematis ditulis :
F=-kx

Dari hukum newton:

1
Untuk mendapatkan solusi persamaan differensial tersebut
dapat dicoba bentuk fungsi:

yang ternyata memenuhi persamaan differensial tersebut,

dengan:

Pada gerak harmonik sederhana, percepatan yang dialami benda sebanding


dengan besar simpangannya:

Untuk sistem pegas-massa perioda osilasinya adalah:

Energi total sistem pegas-massa:

BAB III
PENUTUP

1
A. Kesimpulan
1. Untuk melakukan pengukuran dasar, ada 3 alat ukur panjang yang dapat
digunakan, yaitu mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup. Mistar
memiliki ketelitian 1 mm, jangka sorong memiliki ketelitian hingga 0,1
mm, sedangkan mikrometer sekrup mempunyai ketelitian hingga 0,01
mm.
2. Vektor adalah suatu besaran yang mempunyai nilai dan arah. Untuk
melukis vektor dapat menggunakan 3 metode, yaitu metode segitiga,
metode jajaran genjang, dan metode polygon. Untuk menentukan
resultan vektor dapat menggunakan rumus:

3. Hukum I Newton berbunyi :


“Setiap benda akan bergerak lurus beraturan atau diam, jika tidak ada
resultan gaya yang bekerja pada benda itu.”
Rumus :
Hukum II Newton berbunyi :
“Percepatan yang dihasilkan oleh resultan gaya yang bekerja pada
sebuah benda sebanding dan searah dengan resultan gaya, dan
berbanding terbalik dengan massa benda.”

Rumus:
Hukum III Newton berbunyi :
”Apabila suatu benda mengerjakan gaya pada benda lain, maka benda
yang ke dua ini mengerjakan pada benda pertama gaya yang sama
besarnya tetapi arahnya berlawanan”.
Rumus: =−

4. Osilasi harmonik adalah gerak teratur dari suatu partikel yang


melakukan gerak periodik pada lintasan yang sama. Gerak harmonis
sederhana yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah
getaran benda pada pegas dan getaran benda pada ayunan sederhana.

B. Saran

Untuk lebih memahami konsep-konsep dari hukum fisika di atas,


diharapkan kepada pembaca untuk mencari beberapa referensi yang lain.

1
DAFTAR PUSTAKA

Adiyani, Vita. 2009. Ketidakpastian Pengukuran, (Online),


(http://veethaadiyani.blog.uns.ac.id/tag/mikrometer-sekrup , diakses tanggal 3
Januari 2010).

1
Anonim. Osilasi Harmonik, (Online), (http://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&ct=res&cd=18&ved=0CBgQFjAHOAo&url=http%3A
%2F%2Fkhbasar.googlepages.com
%2F04osilasiharmonik.pdf&rct=j&q=osilasi+harmonik+sederhana&ei=7Fc7S
4_YAYrs7APR3JyDBg&usg=AFQjCNHYaq_K2hOQBO0m0O80BsWgXGX
Cdg , diakses tanggal 3 januari 2010).

Anonim. 2009. Hukum Newton I , (Online),


(http://dasweetstrawberry.blogspot.com/2009/03/hukum-newton-i.html ,
diakses tanggal 3 Januari 2010).

Lohat, Alexander San. 2008. Menentukan Vektor Resultan, (Online),


(http://www.gurumuda.com/menentukan-vektor-resultan , diakses tanggal 3
Januari 2010).

Lohat, Alexander san. 2008. Hukum II Newton, (Online),


(http://www.gurumuda.com/hukum-newton-2 , diakses tanggal 3 Januari
2010).

Najib, warsun. Vektor, (Online),


(http://www.te.ugm.ac.id/~warsun/mtk/w2_Vektor_1.ppt , diakses tanggal 3
Januari 2010).

Puji, Dwi. 2009. Gerak Harmonik, (Online),


(http://dwipujiw.wordpress.com/2009/12/03/gerak-harmonik/ , diakses tanggal
3 Januari 2010).

Tim Dosen Fisika Dasar. 2008. Panduan Praktikum fisika Dasar I. inderalaya:
Fisika FKIP Unsri.