Anda di halaman 1dari 37

DIFERENSIASI TEMULAWAK, KUNYIT, DAN BANGLE

BERDASARKAN POLA PEMISAHAN SENYAWA


MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

ALI MIFTAHUDDIN

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
ABSTRAK

ALI MIFTAHUDDIN. Diferensiasi Temulawak, Kunyit, dan Bangle Berdasarkan


Pola Pemisahan Senyawa Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis. Dibimbing oleh ETI
ROHAETI dan MOHAMAD RAFI.
Diferensiasi tanaman obat sangat penting dilakukan untuk uji kemurnian dan
deteksi pemalsuan bahan baku. Temulawak, kunyit, dan bangle merupakan tanaman obat
yang dibutuhkan dalam skala besar. Tanaman ini biasanya diperjualbelikan dalam bentuk
serbuk sehingga sulit dibedakan secara visual. Oleh karena itu, perlu suatu metode
diferensiasi untuk mengetahui komposisi senyawa kimia dari ketiga tanaman tersebut.
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan metode yang sering digunakan untuk
diferensiasi tanaman obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eluen terbaik untuk
pemisahan komponen senyawa kimia yang terkandung dalam tiga ekstrak tanaman obat
adalah diklorometana:kloroform = 32.5 : 67.5. Eluen ini selanjutnya digunakan untuk
memisahkan senyawa kimia tanaman obat pada pelat KLT. Dari pemisahan senyawa
kimia tersebut didapatkan pita penciri yang menunjukkan senyawa kimia dari ketiga
tanaman. Hasil KLT dengan pendeteksian sinar tampak dan ultraviolet pada panjang
gelombang 254 dan 366 nm menunjukkan bahwa tiap tanaman obat dari 8 daerah di
Pulau Jawa memiliki kandungan pita penciri yang sama. Berdasarkan pita penciri,
tanaman temulawak mengandung dua komponen utama kurkuminoid, yaitu kurkumin (Rf
0.4) dan demetoksikurkumin (Rf 0.16). Kunyit mengandung tiga komponen utama, yaitu
kurkumin (Rf 0.4), demetoksikurkumin (Rf 0.16), dan bisdemetoksikurkumin (Rf 0.06),
sedangkan bangle mengandung kurkumin (Rf 0.4) dan senyawa lain dengan Rf 0.6 dan Rf
0.31.

ABSTRACT

ALI MIFTAHUDDIN. Differentiation of Temulawak, Kunyit, and Bangle Species


Based on Resolution Pattern of Compounds by Thin Layer Chromatography. Supervised
by ETI ROHAETI and MOHAMAD RAFI
Differentiation of herbal medicine is very important to authentication test of raw
materials and adulteration detection. Temulawak, kunyit, and bangle are herbs which are
required in large scale. These plants are usually sold in powder form, so it would be
difficult to differentiate them visually. Thus, a differentiation method to evaluate
chemical composition of these three plants must be found. Thin layer chromatography
(TLC) is a method frequently used for differentiation of herbs. The results showed that
the best eluent for doing separation of the chemical compound content of the sample was
dichloromethane:chloroform = 32.5:67.5. This eluent was used to separate chemical
compounds of herbs on TLC plates. The specific compounds were found differently on
TLC plates. TLC results with visible light and ultraviolet detection at a wavelength of 254
and 366 nm indicated that each of the eight areas of medicinal plants in Java has a content
characterized by the same band. Based on the characteristic band, temulawak contain two
major components of curcuminoids, namely curcumin (Rf 0.4) and demethoxycurcumin
(Rf 0.16), kunyit contains three major components namely curcumin (Rf 0.4),
demethoxycurcumin (Rf 0.16), and bisdemethoxycurcumin (Rf 0.06), while the bangle
contains curcumin (Rf 0.4) and other compounds with Rf 0.6 and Rf 0.31.
DIFERENSIASI TEMULAWAK, KUNYIT, DAN BANGLE
BERDASARKAN POLA PEMISAHAN SENYAWA
MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

ALI MIFTAHUDDIN

Skripsi
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Sains pada
Departemen Kimia

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
Judul : Diferensiasi Temulawak, Kunyit, dan Bangle Berdasarkan Pola
Pemisahan Senyawa Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis
Nama : Ali Miftahuddin
NIM : G44204053

Menyetujui

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Eti Rohaeti, M.S. Mohamad Rafi, M.Si.


NIP 19600807 198703 2 001 NIP 19770316 200604 1 010

Mengetahui
Ketua Departemen,

Prof. Dr. Ir. Tun Tedja Irawadi, M.S.


NIP 19501227 197603 2 002

Tanggal Lulus:
PRAKATA

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas ridho, rahmat,
dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Judul yang dipilih
dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Oktober 2008 ini ialah
Diferensiasi Temulawak, Kunyit, dan Bangle Berdasarkan Pola Pemisahan
Senyawa Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis.
Terima kasih penulis sampaikan kepada Ibu Dr. Eti Rohaeti, M.S dan Bapak
Mohamad Rafi, M.Si selaku pembimbing atas bimbingan, dorongan, semangat,
dan ilmu yang diberikan kepada penulis selama penelitian dan penyusunan karya
ilmiah ini. Terima kasih tak terhingga juga disampaikan kepada Ayah, Ibu, Kakak
dan seluruh keluarga tercinta yang memberikan dorongan semangat, bantuan
materi, kesabaran, dan kasih sayang kepada penulis.
Terima kasih juga tidak lupa penulis ucapkan kepada Pak Eman, Ibu
Nunung, Mba Adew, Mba Salina, Bu Nunuk, Nio, Endi, Kak Zaim serta seluruh
Staf Analitik, Laboratorium Bersama dan Pusat Studi Biofarmaka atas segala
fasilitas dan kemudahan yang diberikan. Rekan-rekan kimia 41 terima kasih atas
motivasi dan dukungan yang diberikan, semoga Allah senantiasa membalas
semuanya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2010

Ali Miftahuddin
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 13 April 1986 dari ayah


Suhendar Abas Suryana dan Ibu Lilis Suryatin. Penulis merupakan anak kedua
dari dua bersaudara.
Tahun 2004 Penulis lulus dari SMAN 5 Tasikmalaya dan pada tahun yang
sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB
(USMI). Penulis memilih Program Studi Kimia, Departemen Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Selama mengikuti perkuliahan, Penulis menjadi asisten praktikum mata
kuliah Kimia TPB pada tahun 2006/2007. Tahun 2007 penulis melaksanakan
praktek lapangan di P T Abbott Indonesia, Depok.
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ................................................................................... vii

DAFTAR GAMBAR .............................................................................. vii

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... viii

PENDAHULUAN .................................................................................. 1

TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 1


Temulawak .................................................................................... 1
Kunyit ............................................................................................ 2
Bangle ............................................................................................ 2
Kurkuminoid .................................................................................. 3
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ................................................... 3

BAHAN DAN METODE ....................................................................... 4


Alat dan Bahan .............................................................................. 4
Metode ........................................................................................... 4

HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 4


Eluen Terbaik................................................................................. 4
Diferensiasi Temulawak, Kunyit, dan Bangle ............................... 5

SIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 7

LAMPIRAN ............................................................................................ 9
DAFTAR TABEL

Halaman

1 Komposisi metabolit dalam temulawak ..................................................... 2


2 Komposisi metabolit dalam kunyit............................................................. 2
3 Komposisi metabolit dalam bangle ............................................................ 3
4 Data eluen dan jumlah pita yang dihasilkan ................................................ 4

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Tanaman dan rimpang temulawak .............................................................. 1


2 Tanaman dan rimpang kunyit ...................................................................... 2
3 Tanaman dan rimpang bangle ..................................................................... 2
4 Struktur kurkuminoid .................................................................................. 3
5 KLT semiautomatis Linomat V (CAMAG) ................................................ 3
6 Pola kromatogram ekstrak temulawak, kunyit, dan bangle tanpa pendeteksi
pita komponen ............................................................................................. 5
7 Pola kromatogram ekstrak temulawak, kunyit, dan bangle dengan pendeteksi
pita komponen vanilina ............................................................................... 6
8 Pola kromatogram ekstrak temulawak, kunyit, dan bangle dengan pendeteksi
pita komponen anisaldehida ........................................................................ 6
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Lokasi pengambilan sampel ........................................................................ 10


2 Pola kromatogram temulawak dari 8 daerah tanpa pendeteksi pita
komponen .................................................................................................... 11
3 Pola kromatogram temulawak dari 8 daerah dengan pendeteksi pita
komponen vanilina ...................................................................................... 13
4 Pola kromatogram temulawak dari 8 daerah dengan pendeteksi pita
komponen anisaldehida ............................................................................... 15
5 Pola kromatogram kunyit dari 8 daerah tanpa pendeteksi pita komponen 17
6 Pola kromatogram kunyit dari 8 daerah dengan pendeteksi pita
komponen vanilina ...................................................................................... 19
7 Pola kromatogram kunyit dari 8 daerah dengan pendeteksi pita
komponen anisaldehida ............................................................................... 21
8 Pola kromatogram bangle dari 8 daerah tanpa pendeteksi pita
komponen .................................................................................................... 23
9 Pola kromatogram bangle dari 8 daerah dengan pendeteksi pita
komponen vanilina ...................................................................................... 25
10 Pola kromatogram bangle dari 8 daerah dengan pendeteksi pita
komponen anisaldehida ............................................................................... 27
PENDAHULUAN yang dilakukan oleh Duron et al. (2007)
untuk evaluasi produk komersial yang
Temulawak, kunyit, dan bangle mengandung spesies Aesculus hippocastanum,
merupakan tanaman obat yang banyak Turnera diffusa, Matricaria recutita,
digunakan sebagai obat tradisional/jamu. Passiflora incarnata, dan Tilia occidentalis,
Ketiga tanaman ini termasuk ke dalam Oliveira et al. (2008) menggunakan teknik
keluarga Zingiberaceae dan diketahui KLT untuk diferensiasi spesies Baccharis
mengandung senyawa aktif kurkuminoid. yang tumbuh di Brazilia, dan Birk et al.
Khasiat dari suatu tanaman obat akan sangat (2005) untuk sidik jari KLT golongan
dipengaruhi oleh kemurnian dari tanaman flavonoid dan saponin dari spesies Passiflora.
tersebut sehingga perlu adanya pengendalian Penelitian ini bertujuan membandingkan pola
mutu untuk menjamin kualitas bahan baku kromatogram KLT dari ekstrak temulawak,
obat herbal. Pengendalian mutu bahan baku kunyit, dan bangle yang digunakan untuk
ekstrak, dan produk komersial dari suatu diferensiasi ketiga tanaman yang digunakan.
tanaman obat dapat dilakukan melalui
berbagai teknik pengujian, yaitu teknik TINJAUAN PUSTAKA
mikroskopi, sidik jari kromatografi, dan
teknologi penanda DNA molekuler. Ketiga Temulawak
tanaman ini, umumnya diperjualbelikan dalam
bentuk serbuk, sehingga sukar dibedakan Temulawak memiliki klasifikasi sebagai
antara tanaman yang satu dengan yang lain. berikut: divisi Spermatophyta, subdivisi
Oleh karena itu, diperlukan suatu metode yang Angiospermae, kelas Monokotiledon, ordo
dapat menunjukkan ciri spesifik tiap tanaman Zingiberales, keluarga Zingiberaceae, genus
tersebut. Teknik yang dapat digunakan untuk Curcuma, spesies Curcuma xanthorrizha
tujuan tersebut adalah sidik jari kromatografi Roxb. Gambar 1 menunjukkan tanaman dan
lapis tipis (KLT). rimpang temulawak.
Terdapat beberapa teknik kromatografi
untuk menganalisis tanaman obat, yaitu
kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT),
kromatografi gas (KG), dan KLT. KLT
merupakan cara yang dapat digunakan untuk
identifikasi, autentikasi, maupun deteksi
adanya bahan pemalsu. KLT memiliki
beberapa keuntungan, yaitu metodenya sangat
sederhana, cepat, dan preparasinya yang Gambar 1 Tanaman dan rimpang temulawak.
relatif tidak rumit (Liang et al. 2004). Saat ini Temulawak merupakan tanaman asli
telah dikembangkan metode KLT Indonesia yang tumbuh di daerah tropis.
instrumental yang menggunakan alat penotol Temulawak pertama kali menyebar dari
automatis yang mempunyai kelebihan, yaitu kawasan Indo-Malaysia sampai ke seluruh
panjang pita dan volume ekstrak dapat diatur dunia. Saat ini, tanaman ini selain ke Asia
sehingga lebih seragam. Selain alat penotol, Tenggara dapat ditemui di Cina, Indo-Cina,
cara deteksi dan dokumentasi pelat KLT dapat Bardabos, India, Jepang, Korea, Amerika
langsung dilihat di bawah lampu sinar tampak, Serikat dan Beberapa Negara Eropa.
UV 254 nm, dan 366 nm dalam bentuk Rimpang kering temulawak mengandung
gambar digital. pati (48-59.64%), kurkuminoid (1.6-2.2%),
Pita-pita yang terbentuk akan dan minyak atsiri (1.48-1.63%). Kurkuminoid
menunjukkan pola yang khas dari tiap contoh pada temulawak terdiri atas kurkumin (58-
yang dianalisis pada kromatogram KLT yang 71%) dan demetoksikurkumin (29-42%).
diperoleh. Dengan menggunakan cara ini, Fraksi minyak atsiri rimpang temulawak
diharapkan temulawak, kunyit, dan bangle terdiri atas senyawa turunan monoterpena dan
dapat dibedakan berdasarkan pola seskuiterpena. Senyawa turunan monoterpena
kromatogramnya sehingga dapat digunakan terdiri atas 1,8 sineol, borneol, α-felandrena,
sebagai cara identifikasi, autentikasi, dan dan kamfor. Senyawa seskuiterpena terdiri
deteksi pemalsuan bahan baku jika salah satu atas β-kurkumena, turmeron,
bahan tersebut dicampur satu sama lain. sikloisoprenmirsena, bisakuronepoksida, α-
Penelitian-penelitian sebelumnya yang atlanton, ar-kurkumena, zingiberena, β-
menggunakan KLT untuk pengendalian mutu bisabulen, bisakuron A,B,C, ar-turmeron, dan
tanaman obat di antaranya, yaitu penelitian
2

germakrena (Sidik et al. 1995). Kadar air kurkuminoid, yaitu kurkumin (75-81%),
tidak lebih dari 10%, dan kadar abu total tidak demetoksikurkumin (15-19%), dan
lebih dari 7.8% (BPOM RI 2004). Bermawie bisdemetoksikurkumin (2.2-6.6%)
et al. (2006) melaporkan kandungan metabolit (Jayaprakasha et al. 2005). Tabel 2
dalam simplisia kering temulawak seperti menunjukkan komposisi metabolit dalam
pada Tabel 1 dibawah ini. simplisia kering kunyit.

Tabel 1 Komposisi metabolit dalam Tabel 2 Komposisi metabolit dalam kunyit


temulawak
Komponen Kadar (%)
Komponen Kadar (%) Karbohidrat 4.9
Karbohidrat 4–6 Protein 7.8
Protein 5–8 Lemak 8.0
Lemak 4 - 6.5 Minyak Atsiri 3-4
Minyak Atsiri 5.5 – 6 Kurkumin 3-6
Kurkumin 0.4 – 2 Serat 6.7
Sumber: Bermawie et al. (2006) Vitamin 0.03
Mineral 4.0
Kunyit Sumber : Bermawie et al. (2006)

Kunyit memiliki klasifikasi sebagai Bangle


berikut: divisi Spermatophyta, subdivisi
Angiospermae, kelas Monokotiledon, ordo Bangle memiliki klasifikasi sebagai
Zingiberales, keluarga Zingiberaceae, genus berikut: divisi Spermatophyta, subdivisi
Curcuma, spesies Curcuma longa L. Gambar Angiospermae, kelas Monokotiledon, ordo
2 menunjukkan tanaman dan rimpang kunyit. Zingiberales, keluarga Zingiberaceae, genus
Zingiber, species Zingiber purpureum Roxb.
Gambar 3 menunjukkan tanaman dan
rimpang bangle.

Gambar 2 Tanaman dan rimpang kunyit.


Kunyit tersebar di daerah tropis dan
subtropis dan ditanam secara luas di negara-
negara Asia terutama, di India dan Cina. Di Gambar 3 Tanaman dan rimpang bangle.
Malaysia, Indonesia dan India, kunyit telah
Bangle tumbuh di daerah Asia Tropika
diteliti dengan baik untuk kepentingan
dari India sampai Indonesia. Di Jawa
ekonomi negaranya dan perubahan sangat
dibudidayakan atau ditanam di pekarangan
cepat terjadi di dalam ilmu obat–obatan, sejak
dan tempat-tempat yang cukup mendapat sinar
kunyit ditemukan sebagai antioksidan karena
matahari, mulai dari dataran rendah sampai
mengandung senyawa-senyawa fenolat
1300 m di atas permukaan laut. Pada tanah
(Araujo & Leon 2001).
yang tergenang atau becek, pertumbuhannya
Senyawa-senyawa kimia yang terkandung
akan terganggu dan rimpang cepat membusuk.
dalam rimpang kunyit ada yang bersifat atsiri
Bangle merupakan tanaman obat semusim,
dan nonatsiri. Senyawa kimia yang termasuk
tumbuh tegak, tinggi 1-1,5 m, membentuk
minyak atsiri diidentifikasi menggunakan
rumpun yang agak padat (BPPP 2008).
kromatografi gas (KG) dan kromatografi gas-
Bangle digolongkan sebagai rempah-
spektroskopi massa (KG-SM). Turmeron, ar-
rempah yang memiliki khasiat
turmerona, zingiberena, dan kurlona
obat. Permukaan rimpang bangle tidak rata,
ditemukan sebagai senyawa kimia utama
berkerut, berwarna cokelat muda kekuningan,
dalam minyak atsiri. Senyawa kimia nonatsiri
bila dibelah daging bangle berwarna kuning
yang terkandung dalam kunyit adalah zat
muda sampai kuning kecokelatan. Jika digigit
warna yang banyak terdapat pada senyawa-
rasanya tidak enak, pedas, dan pahit. Rimpang
senyawa fenolat antara lain senyawa
bangle mengandung saponin dan flavonoid, di
3

samping minyak atsiri yang berkhasiat sebagai Kromatografi Lapis Tipis


antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik
(Araujo & Leon 2001). Tabel 3 menunjukkan Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah tipe
komposisi metabolit dalam rimpang bangle. kromatografi cair yang fase diamnya berupa
Tabel 3 Komposisi metabolit dalam lapisan tipis sorben partikel yang seragam
rimpang bangle dalam pelat gelas, aluminium foil, atau
plastik. Dalam prosedur dasar KLT, larutan
Komponen Kadar (%) sampel diaplikasikan ke dalam pelat, dan pelat
Karbohidrat 50.21 dikembangkan dengan memasukkannya ke
Kadar air 6.0 dalam bejana tertutup dan bagian dasar dari
Kadar abu 8.08 bejana diisi dengan fase geraknya (eluen)
Kadar lemak 7.05 yang biasanya berupa campuran berbagai
Serat 9.01 pelarut. Setelah pengembangan, pelat di
Kadar air ekstrak 12.15 angkat dari bejana dan ditandai untuk dihitung
Sumber: (Balittro 1990) nilai Rf-nya (nisbah antara jarak pita yang
terpisah dan jarak eluennya) (Sherma & Fried
Kurkuminoid 2005).
Saat ini telah dikembangkan KLT
Kurkuminoid termasuk kelompok senyawa semiautomatis Linomat V (CAMAG)
fenolat yang terkandung dalam rimpang (Gambar 5), alat ini dikendalikan oleh suatu
tanaman famili Zingiberaceae antara lain: mikroprosesor yang menyebabkan larutan
temulawak, kunyit, dan bangle. Kurkuminoid ekstrak dapat ditotolkan pada pelat biasanya
merupakan senyawa aktif dalam temulawak, dalam bentuk pita dengan mengkompresikan
kunyit, dan bangle. Kurkuminoid yang tekanan udara atau nitrogen sehingga tidak
diisolasi dari kunyit memperlihatkan absorpsi memerlukan kontak langsung dengan pelat.
yang cukup kuat pada panjang gelombang Agar volume ekstrak dapat menampung
420-430 nm dalam pelarut organik. Ekstrak volume yang cukup besar, maka panjang zona
murni kunyit mengandung campuran tiga jenis terapan harus berada pada rentang 0-180 mm.
kurkuminoid, yaitu kurkumin, Zona terapan panjang terutama berguna untuk
demetoksikurkumin dan tahapan persiapan (Hahn-Deinstrop 2007).
bisdemetoksikurkumin dengan kadar berturut
turut: 75-81%, 15-19%, dan 2,2-6,6%
(Jayaprakasha et al. 2005). Kurkumin,
demetoksikurkumin, bisdemetoksikurkumin
mempunyai rumus molekul berturut-turut:
C21H20O6, C20H18O5, dan C19H16O4 dengan
bobot molekul berturut-turut: 368 g/mol, 338
g/mol, 308 g/mol. Kurkumin bersifat larut
dalam etanol, keton, asam asetat, dan
(a) (b)
kloroform, tetapi tidak larut dalam air. Dalam Keterangan: a) tampilan alat secara umum
suatu molekul kurkumin, rantai utamanya b) tampilan alat penotol semiautomatis
alifatik, tidak jenuh, gugus arilnya dapat
disubstitusi atau tidak (Arajuo & Leon 2001). Gambar 5 KLT semiautomatis Linomat V
Struktur ketiga jenis kurkuminoid ini (CAMAG).
ditunjukkan pada gambar 4. Nilai Rf dan warna yang dihasilkan oleh
reagen pewarna dapat dibandingkan dengan
standar yang digunakan untuk
mengidentifikasi zona sampel yang tidak
diketahui kandungan senyawanya. Analisis
semikuantitatif secara langsung dilakukan
dengan membandingkan secara visual antara
zona standar dengan zona sampel sedangkan
Keterangan: R1= OCH3 R2= OCH3 = kurkumin dengan cara tidak langsung didasarkan pada
R1= OCH3 R2= H = demetoksikurkumin spektrofotometri UV-Tampak atau flouresensi
R1= H R2= H = bisdemetoksikurkumin
setelah zona standar dan sampel dielusi.
Gambar 4 Struktur kurkuminoid.
4

BAHAN DAN METODE garis start. Deteksi pelat KLT digunakan


sistem dokumentasi dibawah sinar lampu
tampak dan UV pada panjang gelombang 254
Alat dan Bahan nm dan 366 nm. Sistem pewarnaan dengan
menggunakan vanilina dan anisaldehida
Alat-alat yang digunakan ialah sistem
kemudian dipanaskan pada suhu 100 °C
KLT Camag (Camag, Swiss) yang
selama 5 menit.
dioperasikan dengan peranti lunak WinCATS
1.2.3 yang terdiri atas KLT semiautomatis
Linomat V, syringe, Bejana KLT yang
HASIL DAN PEMBAHASAN
berbentuk gelas berukuran 20 x 20 cm, dan
sistem dokumentasi ReproStar 3. Eluen Terbaik
Bahan-bahan yang digunakan ialah pelat Eluen terbaik untuk ekstrak temulawak,
KLT silika gel Merck 60 F254, 20 x 20 cm kunyit, dan bangle adalah
tebal 0,2 mm (Darmstadt, Jerman), standar diklorometana:kloroform (32.5:67.5 v/v)
kurkumin (CCM), demetoksikurkumin karena menghasilkan pemisahan yang sangat
(DMC), bisdemetoksikurkumin (BDC), etanol baik dan menghasilkan banyak pita. Eluen
96 %, metanol, etanol, kloroform, terbaik dicari dengan menggunakan pelarut
diklorometana, vanilina, anisaldehida, serbuk dari nonpolar sampai polar dan kombinasi dari
temulawak, kunyit, dan bangle dari 8 daerah pelarut-pelarut tersebut, seperti toluena,
di Pulau Jawa (Lampiran 1). kloroform, metanol, etanol. Tabel 4
menunjukkan berbagai macam eluen yang
Metode digunakan untuk pemisahan ekstrak ketiga
tanaman dan banyaknya pita senyawa yang
Penelitian ini meliputi pembuatan ekstrak berhasil dipisahkan.
etanol, pencarian eluen terbaik, dan analisis
menggunakan KLT. Pembuatan ekstrak etanol Tabel 4 Data eluen dan jumlah pita yang
dilakukan untuk mendapatkan ekstrak pekat dihasilkan
bahan dengan menggunakan pelarut etanol
96% dengan cara maserasi, dan dipekatkan nisbah Jumlah pita
Eluen
dengan radas berputar uap. Pencarian eluen (v/v) TM KN BNG
K Y L
terbaik dilakukan dengan memilih eluen yang CH2Cl2: CHCl3 32.5:67.5 5 5 9
dapat memisahkan senyawa-senyawa yang
terkandung dalam ekstrak ketiga tanaman CH2Cl2:
dengan baik dan menghasilkan banyak pita. CHCl3:CH3CH2OH 49:49:2 1 5 3
Analisis dengan menggunakan KLT dilakukan CH2Cl2:
untuk mendapatkan pola-pola kromatogram CHCl3:CH3CH2OH 60:35:5 3 3 3
yang khas dari ekstrak-ekstrak contoh.
CH2Cl2:
CHCl3:CH3CH2OH 65:32:3 2 3 2
Ekstraksi Etanol
Ekstrak dibuat dengan cara maserasi CH2Cl2:
menggunakan etanol 96%. Sebanyak 100 CHCl3:CH3CH2OH 70:28:2 2 3 2
gram serbuk kering contoh dimasukkan ke
CH2Cl2:
dalam maserator, ditambah 1000 ml etanol CHCl3:CH3CH2OH 60:35:5 3 3 2
96% direndam selama 24 jam sambil sekali-
kali diaduk. Maserat dipisahkan dan diuapkan C6H14 :
dengan radas berputar uap kemudian dikering- CHCl3:CH3CH2OH 49:49:2 5 3 4
bekukan hingga diperoleh ekstrak kental. CHCl3:CH3CH2OH 90:10 1 2 1
Perlakuan ini dilakukan untuk ketiga contoh.
CHCl3:CH3CH2OH 80:20 1 1 1
Diferensiasi temulawak, kunyit, dan bangle
C6H14: CH3CH2OH 80:20 2 1 5
Ekstrak etanol yang sudah dipekatkan,
dilarutkan dengan pelarut etanol dengan
konsentrasi 1000 µg/ml. Tiap-tiap 10 µl Keterangan: TMK : temulawak
ekstrak contoh dilakukan analisis pada pelat KNY : kunyit
KLT di garis awal, panjang pita 8 mm. Pelat BNGL : bangle
CH2Cl2 : diklorometana
KLT yang digunakan adalah pelat Aluminium CHCl3 : kloroform
dengan silika gel 60 F254, 20 x 20 cm. Tiap CH3CH2OH : etanol
eluen dibiarkan bermigrasi sampai 8 cm dari C6H14 : heksana
5

Diferensiasi temulawak, kunyit, dan bangle obat tersebut. Pencarian eluen terbaik dalam
Identifikasi untuk menentukan keaslian proses pemisahan KLT merupakan hal yang
suatu tanaman obat mempunyai peranan sangat penting, karena terpisah atau tidaknya
penting dalam pengendalian mutu obat dari suatu komponen kimia dalam ekstrak
tanaman tersebut. Identifikasi terhadap bergantung pada eluen terbaik yang didapat.
senyawa aktif utama yang berperan penting Pencarian telah dilakukan dari pelarut
dalam memberikan efek farmakologis dari nonpolar sampai polar, yaitu benzena, toluena,
suatu tanaman obat, tidak mencerminkan kloroform, diklorometana, etanol, metanol
kualitas secara keseluruhan dari tanaman maupun campuran dari pelarut tersebut
tersebut dikarenakan ada ratusan komponen dengan berbagai komposisi, dan didapatkan
kimia yang tidak diketahui dalam jumlah yang fase gerak terbaik, yaitu campuran pelarut
relatif rendah yang saling berinteraksi diklorometana-kloroform (32.5:67.5 v/v).
sehingga menghasilkan efek farmakologis Gambar 6 menunjukkan pola sidik jari
terhadap tanaman obat tersebut (Liang et al. KLT dari temulawak, kunyit, dan bangle. Pola
2004). pemisahan senyawa yang diperoleh
KLT mempunyai kemampuan pemisahan mencirikan perbedaan komposisi senyawa
yang sangat baik untuk senyawa-senyawa yang terkandung sehingga dapat dijadikan
kimia yang kompleks dalam ekstrak tanaman sebagai teknik untuk identifikasi, autentikasi,
obat menjadi banyak subfraksi yang sederhana maupun deteksi adanya bahan pemalsu pada
(Liang et al. 2004). KLT merupakan metode ketiga tanaman obat yang digunakan. Tiga
yang umum digunakan untuk identifikasi pita kuning kecoklatan pada kunyit dengan Rf
tanaman obat dengan analisis cepat, ekonomis 0.4, 0.16, dan 0.06 dideteksi berturut-turut
dan memiliki dwifungsi sekaligus, yaitu sebagai kurkumin, demetoksikurkumin, dan
pemisahan dan identifikasi (Famei et al. bisdemetoksikurkumin dapat dijadikan
2000). Metode ini dapat memberikan sebagai pita penciri untuk membedakan dari
informasi berupa pola kromatogram dari temulawak dan bangle. Bangle hanya
komponen-komponen kimia suatu ekstrak memiliki kurkumin untuk membedakan dari
tanaman obat, baik dalam bentuk pita penciri temulawak dan kunyit. Temulawak dapat
maupun bukan sehingga dapat menunjukkan dibedakan dari kunyit dan bangle karena
kualitas suatu tanaman obat, seperti hanya memiliki kurkumin dan
temulawak, kunyit, dan bangle. demetoksikurkumin. Selain itu, pita kuning
Pada penelitian ini telah dilakukan kecoklatan (Rf 0.33) pada temulawak dapat
pencarian eluen untuk mendapatkan resolusi dijadikan pilihan sebagai pita penciri untuk
yang baik dan dapat memisahkan komponen- membedakan dari kunyit dan bangle. Pita
komponen senyawa dari tiga tanaman obat bisdemetoksikurkumin yang hanya terdapat
sehingga didapat pita-pita pada kromatogram pada kunyit dapat digunakan untuk
KLT yang dapat dijadikan pita penciri untuk membedakan dari temulawak dan bangle.
diferensiasi atau membedakan ketiga tanaman Pita khas dengan Rf 0.6 yang terdeteksi pada

(a) (b) (c)

Gambar 6 Pola kromatogram ekstrak temulawak, kunyit, dan bangle tanpa pendeteksi pita
komponen.
Keterangan: (a) visualisasi sinar tampak, (b) UV 254 nm, (c) UV 366 nm
CCM = kurkumin
DCM = demetoksikurkumin
BDC = bisdemetoksikurkumin
TMK = temulawak
KNY = kunyit
BNGL = bangle
6

visualisasi UV 254 nm dan berwarna biru 254 nm dan UV 366 nm menunjukkan pola
pada UV 366 nm yang hanya terdapat pada yang sama baik tanpa maupun menggunakan
bangle dapat dijadikan pita penciri untuk pendeteksi warna.
membedakan bangle dari temulawak dan Pendeteksi pita komponen vanilina dan
kunyit. Selain itu, bangle memiliki pita khas anisaldehida juga digunakan untuk
dengan Rf 0.31 yang terdeteksi pada UV 254 mendeteksi pita-pita terutama pita yang tidak
nm dan 366 nm. muncul pada lampu tampak (Gambar 7 dan 8),
Pada visualisasi dengan menggunakan dikarenakan kedua pendeteksi pita tersebut
lampu UV 254 nm, lapisan tipis yang mampu bereaksi dengan gugus kromofor pada
digunakan mengandung indikator flouresensi senyawa aktif sehingga panjang
yang akan bersinar jika disinari pada panjang gelombangnya akan bergeser ke panjang
gelombang 254 nm dan senyawa pada pita gelombang yang lebih panjang (UV ke
yang akan ditampakkan mengandung ikatan tampak) yang menyebabkan pita akan terlihat
rangkap terkonjugasi dan cincin aromatik oleh mata. Secara umum pola kromatogram
sehingga sinar UV 254 nm yang mengeksitasi menggunakan vanilina dan anisaldehida
tidak dapat mencapai indikator fluoresensi, menunjukkan hasil yang sama dengan tanpa
dan tidak ada cahaya yang dipancarkan pendeteksi pita komponen sehingga tanpa
sehingga menghasilkan pita gelap dengan latar pendeteksi warna pun sudah mampu
belakang yang bersinar. menunjukkan pita-pita yang khas dari tiap
Pada visualisasi dengan lampu UV 366 komponen. Pendeteksian pita dengan
nm, lapisan tipis yang digunakan tidak anisaldehida tidak sebaik menggunakan
berflouresensi jika disinari pada 366 nm, vanilina, namun pola kromatogramnya tetap
sedangkan senyawa pada pita mengandung dapat digunakan untuk diferensiasi
gugus kromofor yang terikat pada ausokrom temulawak, kunyit, dan bangle karena dapat
akan berinteraksi dengan sinar UV 366 nm mendeteksi pita warna kurkuminoid pada
sehingga menghasilkan latar belakang gelap visualisasi tampak.
dengan pita yang bersinar (Sherma & Fried Pita penciri untuk temulawak, kunyit, dan
2005). Secara umum, visualisasi pada UV bangle diperkuat dengan dibuat sidikjari KLT

(a) (b) (c)


Gambar 7 Pola kromatogram ekstrak temulawak, kunyit, dan bangle dengan pendeteksi pita
komponen vanilina.

(a) (b) (c)


Gambar 8 Pola kromatogram ekstrak temulawak, kunyit, dan bangle dengan pendeteksi pita
komponen anisaldehida.
Keterangan: (a) visualisasi sinar tampak, (b) UV 254 nm, (c) UV 366 nm
CCM = kurkumin
DCM = demetoksikurkumin
BDC = bisdemetoksikurkumin
TMK = temulawak
KNY = kunyit
BNGL = bangle
7

dari 8 daerah untuk masing-masing tanaman DAFTAR PUSTAKA


(Lampiran 2-10). Pita-pita penciri pada
kunyit, yaitu kurkumin (Rf 0.4), Arajuo CAC, Leon LL. 2001. Biological
demetoksikurkumin (Rf 0.16), dan activities of Curcuma longa L. Mem Inst
bisdemetoksikurkumin (Rf 0.06) terdeteksi Oswaldo Cruz 96 (5): 723-728.
pula pada semua daerah. Pita penciri pada
temulawak, yaitu kurkumin dan Birk CD, Provensi G, Gosmann G, Reginatto
demetoksikurkumin terdeteksi pada semua FH, Schenkel EP. 2005. TLC fingerprint
daerah kecuali pita kuning (Rf 0.33) yang of flavonoids and saponins from
hanya 5 daerah yang terlihat jelas, untuk Passiflora Species. Journal of Liquid
bangle pita-pita pencirinya, yaitu kurkumin, Chromatography & Related Technologies
pita dengan Rf 0.31 dan Rf 0.6 relatif terlihat 28: 2285-2291.
jelas pada semua daerah. Tidak terdeteksinya
pita kuning (Rf 0.33) pada temulawak di [BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan.
semua daerah menunjukkan bahwa pita 2004. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat
tersebut bukan pita penciri sehingga perlu Indonesia. Jakarta: BPOM RI.
dilakukan evaluasi lebih lanjut terhadap pita
tersebut dengan divariasikan lagi konsentrasi [BPPP] Badan Penelitian dan Pengembangan
ekstraknya dikarenakan tiap daerah memiliki Pertanian. 2008. Potensi ekonomi tanaman
kandungan komponen kimia yang berbeda- obat sebagai bahan baku jamu. Warta
beda. Berdasarkan pola sidik jari yang Penelitian dan Pengembangan Tanaman
diperoleh, maka metode ini dapat digunakan Industri 14: 3.
untuk diferensiasi ketiga tanaman obat.
Hahn-Deinstrop. 2007. Applied Thin-Layer
SIMPULAN DAN SARAN Chromatography. R.G. Leach, editor
Germany: Wiley-VCH Verlag GmbH &
Simpulan Co. KgaA. hlm: 59-131.

Diferensiasi tiga tanaman obat, yaitu: Irawati I. 2008. Uji banding metode
temulawak, kunyit, dan bangle menggunakan penentuan aktivitas antioksidan rimpang
kromatografi lapis tipis (KLT) dapat temulawak [skripsi]. Bogor: Departemen
digunakan untuk pengendalian mutu terutama Kimia FMIPA, IPB.
uji keaslian bahan berdasarkan komponen
penyusun kurkuminoidnya, yaitu kurkumin, Jayaprakasha GK, Jaganmohan Rao L,
demetoksikurkumin, dan Sakariah KK. 2005. Chemistry and
bisdemetoksikurkumin. Tiga komponen utama biological activities of Curcuma longa.
ini dapat dijadikan senyawa penciri, yaitu Trends in Food Science & Technology 16:
kunyit lengkap memiliki tiga komponen
533-548.
utamanya, temulawak tidak memiliki
bisdemetoksikurkumin, dan bangle hanya
Liang YZ, Xie P, Chan K. 2004. Quality
memiliki kurkumin.
control of herbal medicine. Journal of
Pola kromatogram dari ketiga jenis
Chromatography B 812 : 53-70.
tanaman yang berasal dari 8 daerah
menunjukkan hasil yang baik karena dapat Li F, Xiong Z, Lu X, Qin F, Li X. 2006.
memperkuat pita-pita penciri pada diferensiasi Strategy and chromatographic technology
temulawak, kunyit, dan bangle. of quality control for traditional chinese
medicine. Chinese Journal of
Saran Chromatography 24(6):537-544.
Komposisi eluen bagi diferensiasi dari Oliveira SQ de, Barbon G, Gosmann G,
ketiga jenis tanaman perlu dioptimumkan Bordignon S. 2006. Differentiation of
kembali, sehingga menghasilkan pemisahan South Brazilian Baccharis species by
yang baik. Perlu dilakukan variasi konsentrasi TLC. Journal of Liquid Chromatography
tiap ekstrak tanaman obat. Pola kromatogram & Related Technologies 29: 2603-2609.
yang diperoleh perlu dilakukan validasi. .
8

Ramrez-Duron R, Ceniceron-Almeguer L,
Salazar-Alanda R, LL Salazar-Cavazos M
de, Torres NW de. 2007. Evaluation of
thin layer chromatography methods for
quality control of commercial products
containing Aesculus hippocastanum,
Turnera diffusa, Matricaria recutita,
Passiflora incarnata, and Tilia
occidentalis. Journal of AOAC
International 90 (4): 920-923.

Rininta N. 2008. KLT autografi-CUPRAC


sebagai teknik cepat pendeteksian aktivitas
senyawa antioksidan [skripsi]. Bogor:
Departemen Kimia FMIPA, IPB.

Sherma J, Fried B. 2005. Thin layer


chromatographic analysis of biological
sampel. Journal of Liquid
Chromatography & Related Technologies
28: 2297-2314.

[WHO] World Health Organization. 1999.


Monograph on Selected Medicinal Plant.
Vol 1. Geneva: WHO.
9

LAMPIRAN
10

Lampiran 1 Lokasi pengambilan sampel

No Jenis tanaman Nama daerah


1 Temulawak Ngadirejo, Wonogiri
2 Temulawak Tembalang, Semarang
3 Temulawak Tawangmangu, Karanganyar
4 Temulawak Semen, Kediri
5 Temulawak Ngrayun, Ponorogo
6 Temulawak Rancakalong, Sumedang
7 Temulawak Cikembar, Sukabumi
8 Temulawak Dramaga, Bogor
9 Kunyit Ngadirejo, Wonogiri
10 Kunyit Tembalang, Semarang
11 Kunyit Tawangmangu, Karanganyar
12 Kunyit Semen, Kediri
13 Kunyit Slahung, Ponorogo
14 Kunyit Tanjungkerta, Sumedang
15 Kunyit Cikembar, Sukabumi
16 Kunyit Dramaga, Bogor
17 Bangle Ngadirejo, Wonogiri
18 Bangle Tembalang, Semarang
19 Bangle Tawangmangu, Karanganyar
20 Bangle Semen, Kediri
21 Bangle Slahung, Ponorogo
22 Bangle Tanjungkerta, Sumedang
23 Bangle Cikembar, Sukabumi
24 Bangle Dramaga, Bogor
11

Lampiran 2 Pola kromatogram temulawak dari 8 daerah tanpa pendeteksi


pita komponen

(a)

(b)
12

Lanjutan lampiran 2

(c)
Keterangan: Sistem kromatografi : silika gel GF254, diklorometana:kloroform
(32.5:67.5, v/v), (a) lampu tampak (b) lampu UV 254 nm (c)
lampu UV 366 nm
STD : Standar kurkuminoid
NGD : Ngadirejo, Wonogiri
TMB : Tembalang, Semarang
TWM : Tawangmangu, Karanganyar
SMN : Semen, Kediri
NGR : Ngrayun, Ponorogo
RCK : Rancakalong, Sumedang
CKR : Cikembar, Sukabumi
DMG : Dramaga, Bogor
13

Lampiran 3 Pola kromatogram temulawak dari 8 daerah dengan pendeteksi pita


komponen vanilina

(a)

(b)
14

Lanjutan lampiran 3

(c)
Keterangan: Sistem kromatografi : silika gel GF254, diklorometana:kloroform
(32.5:67.5, v/v), pendeteksi pita vanilina (a) lampu tampak (b)
lampu UV 254 nm (c) lampu UV 366 nm
STD : Standar kurkuminoid
NGD : Ngadirejo, Wonogiri
TMB : Tembalang, Semarang
TWM : Tawangmangu, Karanganyar
SMN : Semen, Kediri
NGR : Ngrayun, Ponorogo
RCK : Rancakalong, Sumedang
CKR : Cikembar, Sukabumi
DMG : Dramaga, Bogor
15

Lampiran 4 Pola kromatogram temulawak dari 8 daerah dengan pendeteksi pita


komponen anisaldehida

(a)

(b)
16

Lanjutan lampiran 4

(c)
Keterangan: Sistem kromatografi : silika gel GF254, diklorometana:kloroform
(32.5:67.5, v/v), pendeteksi pita anisaldehida (a) lampu tampak (b)
lampu UV 254 nm (c) lampu UV 366 nm
STD : Standar kurkuminoid
NGD : Ngadirejo, Wonogiri
TMB : Tembalang, Semarang
TWM : Tawangmangu, Karanganyar
SMN : Semen, Kediri
NGR : Ngrayun, Ponorogo
RCK : Rancakalong, Sumedang
CKR : Cikembar, Sukabumi
DMG : Dramaga, Bogor
17

Lampiran 5 Pola kromatogram kunyit dari 8 daerah tanpa pendeteksi pita


komponen

(a)

(b)
18

Lanjutan lampiran 5

(c)
Keterangan: Sistem kromatografi : silika gel GF254, diklorometana:kloroform
(32.5:67.5, v/v), (a) lampu tampak (b) lampu UV 254 nm (c)
lampu UV 366 nm
STD : Standar kurkuminoid
NGD : Ngadirejo, Wonogiri
TMB : Tembalang, Semarang
TWM : Tawangmangu, Karanganyar
SMN : Semen, Kediri
SLH : Slahung, Ponorogo
TJK :Tanjungkerta, Sumedang
CKR : Cikembar, Sukabumi
DMG : Dramaga, Bogor
19

Lampiran 6 Pola kromatogram kunyit dari 8 daerah dengan pendeteksi pita


komponen vanilina

(a)

(b)
20

Lanjutan lampiran 6

(c)
Keterangan: Sistem kromatografi : silika gel GF254, diklorometana:kloroform
(32.5:67.5, v/v), pendeteksi pita vanilina (a) lampu tampak
(b) lampu UV 254 nm (c) lampu UV 366 nm
STD : Standar kurkuminoid
NGD : Ngadirejo, Wonogiri
TMB : Tembalang, Semarang
TWM : Tawangmangu, Karanganyar
SMN : Semen, Kediri
SLH : Slahung, Ponorogo
TJK : Tanjungkerta, Sumedang
CKR : Cikembar, Sukabumi
DMG : Dramaga, Bogor
21

Lampiran 7 Pola kromatogram kunyit dari 8 daerah dengan pendeteksi pita


komponen anisaldehida

(a)

(b)
22

Lanjutan lampiran 7

(c)
Keterangan: Sistem kromatografi : silika gel GF 254,diklorometana:kloroform
(32.5:67.5, v/v), pendeteksi pita anisaldehida (a) lampu tampak (b)
lampu UV 254 nm, (c) lampu UV 366 nm
STD : Standar kurkuminoid
NGD : Ngadirejo, Wonogiri
TMB : Tembalang, Semarang
TWM : Tawangmangu, Karanganyar
SMN : Semen, Kediri
SLH : Slahung, Ponorogo
TJK : Tanjungkerta, Sumedang
CKR : Cikembar, Sukabumi
DMG : Dramaga, Bogor
23

Lampiran 8 Pola kromatogram bangle dari 8 daerah tanpa pendeteksi pita


komponen

(a)

(b)
24

Lanjutan lampiran 8

(c)
Keterangan: Sistem kromatografi : silika gel GF254, diklorometana:kloroform
(32.5:67.5, v/v), (a) lampu tampak (b) lampu UV 254 nm, (c)
lampu UV 366 nm
STD : Standar kurkuminoid
NGD : Ngadirejo, Wonogiri
TMB : Tembalang, Semarang
TWM : Tawangmangu, Karanganyar
SMN : Semen, Kediri
SLH : Slahung, Ponorogo
TJK : Tanjungkerta, Sumedang
CKR : Cikembar, Sukabumi
DMG : Dramaga, Bogor
25

Lampiran 9 Pola kromatogram bangle dari 8 daerah dengan pendeteksi pita


komponen vanilina

(a)

(b)
26

Lanjutan lampiran 9
Keterangan: Sistem kromatografi : silika gel GF254, diklorometana:kloroform
(32.5:67.5, v/v), pendeteksi pita vanillina (a) lampu tampak (b)
lampu UV 366 nm
STD : Standar kurkuminoid
NGD : Ngadirejo, Wonogiri
TMB : Tembalang, Semarang
TWM : Tawangmangu, Karanganyar
SMN : Semen, Kediri
SLH : Slahung, Ponorogo
TJK : Tanjungkerta, Sumedang
CKR : Cikembar, Sukabumi
DMG : Dramaga, Bogor
27

Lampiran 10 Pola kromatogram bangle dari 8 daerah dengan pendeteksi pita


anisaldehida

(a)

(b)
28

Lanjutan lampiran 10

(c)
Keterangan: Sistem kromatografi : silika gel GF254, diklorometana:kloroform
(32.5:67.5, v/v), pendeteksi pita anisaldehida (a) lampu tampak (b)
lampu UV 254 nm (c) lampu UV 366 nm
STD : Standar kurkuminoid
NGD : Ngadirejo, Wonogiri
TMB : Tembalang, Semarang
TWM : Tawangmangu, Karanganyar
SMN : Semen, Kediri
SLH : Slahung, Ponorogo
TJK : Tanjungkerta, Sumedang
CKR : Cikembar, Sukabumi
DMG : Dramaga, Bogor