Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN


GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER PADA KASUS HIPERTENSI

DISUSUN OLEH :
YENI SARI
104STYC16

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG STRATA I
MATARAM
2018
LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI

I. KONSEP DASAR TEORI

A. PENGERTIAN

Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di


atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada populasi
manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmhg dan tekanan
diastolic 90 mmHg ( Smeltzer, 2001).
Menurut Price (2005) Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi
medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka
waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan
darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai
keadaan darah tinggi.
Hipertensi berasal dari dua kata yaitu hiper yang berarti tinggi dan tensi
yang artinya tekanan darah. Menurut American Society of Hypertension (ASH),
pengertian hipertensi adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler
yang progresif, sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks dan saling
berhubungan (Sani, 2008).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan, hipertensi adalah peningkatan
tekanan darah secara kronis dan persisten dimana tekanan sistolik diatas 140
mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg.

B. ETIOLOGI

Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90%


diantara mereka menderita hipertensi essensial (primer), dimana tidak dapat
ditentukan penyebab medisnya. Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah
dengan penyebab tertentu (hipertensi sekunder). ( Smeltzer, 2001).
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :

2
1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum
diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh
hipertensi).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari
adanya penyakit lain. ( Smeltzer, 2001).

Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab, seperti;


beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-
sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah. (Price, 2005)
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada
sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada
sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat
tertentu (misalnya pil KB).( Smeltzer, 2001)
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu
tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau
norepinefrin (noradrenalin). (Price, 2005)
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder :
1. Penyakit Ginjal
a. Stenosis arteri renali
b. Pielonefritis
c. Glomerulonefritis
d. Tumor-tumor ginjal
e. Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
f. Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
g. Terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
2. Kelainan Hormonal
a. Hiperaldosteronism
b. Sindroma Cushing
c. Feokromositoma
3. Obat-obatan
a. Pil KB
b. Kortikosteroid

3
c. Siklosporin
d. Eritropoietin
e. Kokain
f. Penyalahgunaan alkohol
g. Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya
a. Koartasio aorta
b. Preeklamsi pada kehamilan
c. Porfiria intermiten akut
d. Keracunan timbal akut
Adapun penyebab lain dari hipertensi yaitu :
a. Peningkatan kecepatan denyut jantung
b. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama
c. Peningkatan TPR yang berlangsung lama

C. KLASIFIKASI

The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of


High Blood Pressure membuat suatu klasifikasi baru yaitu :
Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa Usia 18 Tahun atau Lebih *
Kategori Sistolik (mmhg) Diastolik (mmhg)
Normal < 130 <85
No 130-139 85-89
rmal tinggi
Hipertensi
Tingkat 1 (ringan) 140-159 90-99
Tingkat 2 (sedang) 160-179 100-109
Tingkat 3 (berat) ≥180 ≥110

Tidak minum obat antihipertensi dan tidak sakit akut. Apabila tekanan
sistolik dan diastolik turun dalam kategori yang berbeda, maka yang dipilih adalah
kategori yang lebih tinggi. berdasarkan pada rata-rata dari dua kali pembacaan

4
atau lebih yang dilakukan pada setiap dua kali kunjungan atau lebih setelah
skrining awal. (Smeltzer, 2001).
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang
lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih
rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang
dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi,
biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya
terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga
kali dalam jangka beberapa minggu. (Price, 2005)
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg
atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik
masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan
tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan
diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara
perlahan atau bahkan menurun drastis. (Price, 2005)
Disamping itu juga terdapat hipertensi pada kehamilan (pregnancy-
induced hypertension/PIH) PIH adalah jenis hipertensi sekunder karena
hipertensinya reversible setelah bayi lahir. PIH tampaknya terjadi akibat dari
kombinasi peningkatan curah jantung dan TPR. Selama kehamilan normal volume
darah meningkat secara drastis. Pada wanita sehat, peningkatan volume darah
diakomodasikan oleh penurunan responsifitas vascular terhadap hormon-hormon
vasoaktif, misalnya angiotensin II. Hal ini menyebabkan TPR berkurang pada
kehamilan normal dan tekanan darah rendah. Pada wanita dengan PIH, tidak
terjadi penurunan sensitivitas terhadap vasopeptida-vasopeptida tersebut, sehingga
peningkatan besar volume darah secara langsung meningkatkan curah jantung dan
tekanan darah. PIH dapat timbul sebagai akibat dari gangguan imunologik yang
mengganggu perkembangan plasenta. PIH sangat berbahaya bagi wanita dan
dapat menyebabkan kejang, koma, dan kematian. (Smeltzer, 2001).

5
D. MANIFESTASI KLINIS

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala;


meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya
berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala
yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah
kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi,
maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. (Price, 2005)
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala
berikut:

1. Sakit kepala
2. Kelelahan
3. Mual
4. Muntah
5. Sesak nafas
6. Gelisah
Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,
mata, jantung dan ginjal. (Price, 2005)
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan
bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati
hipertensif, yang memerlukan penanganan segera. (Price, 2005)

E. PATOFISIOLOGI

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah


terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar
dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke
bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin

6
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan
ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin,
meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural
dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan
tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi
otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan
distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa
oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan
peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi
palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff
sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke
sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila
diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang
berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada

7
angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah,
sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan
hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan
berakibat pada peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan tekanan darah
maka akan menimbulkan kerusakan pada organ-organ seperti jantung. ( Suyono,
Slamet. 1996 ).

8
PATHWAYS

9
F. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi
menurut TIM POKJA RS Harapan Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto
(Depkes, 2007) adalah diantaranya :
1. Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, transient
ischemic attack (TIA).
2. Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard
acut (IMA).
3. Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.
4. Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema pupil.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang menurut FKUI (2003:64) dan Dosen Fakultas


kedokteran USU, Abdul Madjid (2004), meliputi :
1. Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi
bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan factor resiko lain atau
mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urin analisa, darah perifer
lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa,
kolesterol total, HDL, LDL
2. Pemeriksaan EKG. EKG (pembesaran jantung, gangguan konduksi), IVP
(dapat mengidentifikasi hipertensi, sebagai tambahan dapat dilakukan
pemerisaan lain, seperti klirens kreatinin, protein, asam urat, TSH dan
ekordiografi.
3. Pemeriksaan diagnostik meliputi BUN /creatinin (fungsi ginjal), glucose
(DM) kalium serum (meningkat menunjukkan aldosteron yang meningkat),
kalsium serum (peningkatan dapat menyebabkan hipertensi: kolesterol dan
tri gliserit (indikasi pencetus hipertensi), pemeriksaan tiroid (menyebabkan
vasokonstrisi), urinanalisa protein, gula (menunjukkan disfungsi ginjal),
asam urat (factor penyebab hipertensi).
4. Pemeriksaan radiologi : Foto dada dan CT scan

10
H. PENATALAKSANAAN

Tujuan tiap program penanganan bagi setiap pasien adalah mencegah


terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan
mempertahankan tekanan darah di bawah 140/90 mmHg. Efektifitas setiap
program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi biaya perawatan, dan
kualitas hidup sehubungan dengan terapi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan nonfarmakologis,
termasuk penurunan berat badan, pembatasan alkohol, natrium dan tembakau;
latihan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap
terapi antihipertensi. Apabila pada penderita hipertensi ringan berada dalam
risiko tinggi (pria perokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap, diatas
85 atau 95 mmHg dan siastoliknya diatas 130 sampai diatas 139 mmHg, maka
perlu dimulai terapi obat-obatan. (Brunner and Suddarth, 2002)

11
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Pengkajian secara Umum
1. Identitas Pasien
Hal-hal yang perlu dikaji pada bagian ini yaitu antara lain: Nama,
Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Agama, Status Mental,
Suku, Keluarga/orang terdekat, alamat, nomor registrasi.
2. Riwayat atau adanya factor resiko
- Riwayat garis keluarga tentang hipertensi
- Penggunaan obat yang memicu hipertensi
3. Aktivitas / istirahat
- Kelemahan,letih,napas pendek,gaya hidup monoton.
- Frekuensi jantung meningkat
- Perubahan irama jantung
- Takipnea
4. Integritas ego
- Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria atau
marah kronik.
- Faktor faktor stress multiple (hubungan, keuangan yang berkaitan
dengan pekerjaan)
5. Makanan dan cairan
- Makanan yang disukai, dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi
lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan yang
digoreng,keju,telur)gula-gula yang berwarna hitam, kandungan tinggi
kalori.
- Mual, muntah.
- Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat atau menurun).

6. Nyeri atau ketidak nyamanan


- Angina (penyakit arteri koroner /keterlibatan jantung)
- Nyeri hilang timbul pada tungkai.

12
- Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
- Nyeri abdomen.
Pengkajian Persistem
1) Sirkulasi
- Riwayat hipertensi, ateroskleorosis, penyakit jantung koroner atau
katup dan penyakit cerebro vaskuler.
- Episode palpitasi,perspirasi.
2) Eleminasi
- Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu seperti infeksi atau obtruksi
atau riwayat penyakit ginjal masa lalu.

3) Neurosensori
- Keluhan pusing.
- Berdenyut, sakit kepala subokspital (terjadi saat bangun dan
menghilang secara spontan setelah beberapa jam).
4) Pernapasan
- Dispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja
- Takipnea, ortopnea, dispnea noroktunal paroksimal.
- Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum.
- Riwayat merokok

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular Cerebral


2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
3. Curah Jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokontriksi
4. Nutrisi , perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kebutuhan metabolic
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan system pendukung yang
tidak adekuat

13
6. Kurang pengetahuan berhubungnya dengan kurang informasi atau
keterbatasan kognitif

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Curah jantung atau penurunan resiko tinggi terhadap peningkatan
Afterloadvasokontriksi
A. Tujuan :
1. Penurunan curah jantung tidak terjadi
B. Kriteria hasil
1. Klien dapat beristirahat dengan tenang
2. Irama dan frekuensi jantung stabil dalam batas normal (80 100 x /
menit dan reguler)
3. Tekanan darah dalam batas normal (TD <140/90 mmHg, N = 80 -
100x/menit, R = 16 22 x/i, S = 36 -37o
C. Intervensi
1. Observasi tanda-tanda vital tiap hari, terutama tekanan darah.
Rasional : perbandingan dari tekanan yang meningkat adalah
gambaran dari keterlibatan vaskuler
2. Observasi warna kulit, kelembapan dan suhu
Rasional : hal-hal tersebut mengidentifikasikan adanya
dekompensasi/penurunan curah jantung
3. Catat adanya edema umum / tertentu
Rasional : dapat mengidentifikasikan gagal jantung, kerusakan
ginjal dan vaskuler
4. Beri posisi yang nyaman ; meninggikan kepala tempat tidur
Rasional : penurunan resiko peningkatan intrakranial
5. Anjurkan teknik relaksasi ;tarik napas dalam
Rasional : memberikan kenyamanan dan memaksimalkan
ekspansi paru
6. Kolaborasi Pemberian diuretik Vasodilator Pembatasan cairan
dan diet Na
Rasional : mengurangi beban jantung.

14
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
A. Tujuan
1. Aktivitas klien tidak terganggu dengan kriteria hasil Peningkatan
dalam toleransi aktivitas Tanda vital dalam batas normal
B. Intervensi :
1. Kaji respon klien terhadap aktivitas
Rasional : menetukan pilihan intervensi selanjutnya
2. Observasi tanda-tanda vital
Rasional : mengetahui parameter membantu dan mengkaji respon
fisiologi terhadap aktivitas
3. Observasi adanya nyeri dada, pusing keletihan dan pingsan.
Rasional : bila terjadi indikator, keletihan kerja yang berkaitan
dengan tingkat aktivitas
4. Ajarkan cara penghematan energi
Rasional : membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan
O2
5. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas.
Rasional : kemajuan aktivitas terhadap mencegah meningkatnya
kerja jantung tiba-tiba.
3. Gangguan rasa nyaman : sakit kepala berhubungan dengan peningkatan
tekanan vaskuler serebral
A. Tujuan
1. Klien merasa nyaman
B. Kriteria Hasil
1. Sakit kepala hilang
2. Pusing/ pening hilang
C. Intervensi :
1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
Rasional : meminimalkan stimulasi/meningkatkan reabsorpsi
2. Berikan kompres dingin, ajarkan teknik relaksasi
Rasional : tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral

15
dan memblok respon simpatis efektif dan menghilangkan sakit
kepala.
3. Beri penjelasan cara untuk meminimalkan aktivitas vasokontrisi
Rasional : aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi
menyebabkan sakit kepala.
4. Bantu pasien dalam ambulansi sesuai kebutuhan
Rasional : pening/pusing selalu berkaitan dengan sakit kepala
5. Kolaborasi dalam pemberian analgesikom dan penenang
4. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolik
A. Tujuan
1. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh teratasi
B. Kriteria hasil
1. BB ideal sesuai dengan tinggi dan berat badan
C. Intervensi :
1. Kaji pemahaman pasien tentang hubungan antara kegemukan dan
hipertensi
Rasional : kegemuakn adalah resiko tambahan pada tekanan darah
tinggi
2. Kaji masukan kalori harian dan pilihan diet
Rasional : menetukan pilihan intervensi lebih banyak
3. Bicarakan/diskusikan pentingnya menurunkan masukan kalori dan
batasi masukan garam lemak dan gula sesuai indikasi
Rasional : makanan seperti tinggi garam, lemak dan gula
menunjang terjadinya aterosklerosis dan kegemukan yang
menyebabkan predisposisi hipertensi
4. Timbang berat badan tiap hari
Rasional : mengenai pemasukan hidrasi klien dengan adanya
peningkatan/penurunan Hipertensi
5. Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi.
Rasional : memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi
diit individu

16
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan krisis situasional
A. Tujuan
1. Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya
2. Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi
3. Mengidentifikasi potensial situasi stres dan mengambil langka
untuk menghindari atau mengubahnya
4. Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan/metode koping
efektif.
B. Intervensi :
1. Kaji keefektifan srategi koping dengan mengobservasi perilaku
misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian,
keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan
Rasional : mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup
seseorang, mengatasi hipertensi kronik,dan mengitegrasikan terapi
yang diharuskan ke dalam kehidupan sehari-hari
2. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan
konsentrasi, peka rangsang,penurunan toleransi sakit kepala,
ketidak mampuan untuk mengatasi/ menyelesaikan masalah
Rasional : manifestasi mekanisme koping maladaktif mungkin
merupakan indikator marah yang ditekan dan diketahui telah
menjadi penentu utama tekanan darah diastolik.
3. Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan ke
mungkinan strategi untuk mengatasinya.
Rasional : pengenalan terhadap stresor adalah langkah pertama
dalam mengubah respon seseorang terhadap stresor.
4. Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan
partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan
Rasional : keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol diri
yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping dan dapat
meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik.
6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan
dengan kurang pengetahuan atau daya ingat

17
A. Intervensi
1. Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal. Jelaskan
tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah ginjal
Rasional : memberikan dasar untuk pemahaman tentang
peningkatan tekanan darah dan mengklarifikasikan istilah medis
yang sering di gunakan. Pemahaman bahwa tekanan darah tinggi
dapat terjadi tanpa gejalah ini adalah untuk memungkinkan pasien
untuk melanjutkan pengobatan meskipun ketika merasa sehat
2. Hindari mengatakan tekanan darah normal dan gunakan istilah
terkontrol dengan baik saat menggambarkan tekanan darah pasien
dalam batas yang di inginkan.
Rasional : karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang
kehidupan, maka dengan penyampaian ide terkontrol akan
membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan
pengobatan / medikasi.
3. Bantu pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko
kardiovaskuler yang dapat di ubah misalnya obesitas, diet tinggi
lemak jenuh, kolesterol, pola hidup monoton, merokok dan minum
alkohol
Rasional : faktor-faktor resiko ini telah menunjukkan hubungan
dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskulert serta
ginjal
4. Bahas pentingnya menghentikan merokok dan bantu pasien
membuatkan rencana dalam menghentikan merokok
Rasional : nikotin dapat meningkatkan katekolamin,
mengakibatkan peningkatan frekuensi jantung jantung, TD, dan
vasokontriksi, mengurangi oksigenasi jaringan dan meningkatkan
beban kerja miokardium.
5. Sarankan pasien untuk sering mengubah posisi,olah raga kaki saat
berbaring
Rasional : menurunkan bendungan vena perifer yang dapat di
timbulkan oleh vasodilator dan duduk/berdiriterlalu lama.

18
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Implementasi adalah proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai


strategis keperawatan (tindakan keperawatan) yaitu telah direncanakan. (Aziz
Alimuml. 2001 : h 11)
Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan
yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan pencegahan
penyakit. Pemulihan kesehatan dan mempasilitas koping perencanaan tindakan
keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik. Jika klien mempunyai
keinginan untuk berpatisipasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan selama
tahap pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih
tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien tindakan.

Adapun implementasi pada pasien hipertensi adalah :

Diagnosa keperawatan I :

a. Memantau TD
b. Mencatat keberadaan
c. Aukultasi tonus jantung dan bunyi nafas
d. Memberikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurang aktivitas / keributan
lingkungan
e. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi

Diagnosa keperawatan II :

a. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas


b. Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas
c. Mengintruksikan pasien terhadap teknik penghematan energy

19
Diagnosa keperawatan III :

a. Membicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan


lemak, garam dan gula sesuai indikasi
b. Menetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan
c. Mengkaji ulang masukkan kalori harian dan pilihan diet

Diagnosa keperawatan IV

a. Mengkaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku


b. Mencatat laporan gangguan tidur
c. Membantu pasien untuk mengidentifikasi stesor spesifik dan kemungkinan
strategi untuk mengatasinya
d. Mendorong pasien untuk mengevaluasi prioritas tubuh

Diagnosa keperawatan V
a. Mengkaji kesiapan dan hambatan dalam belajar
b. Menetapkan dan nyatakan batas Hd normal
c. Membantu pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko
kardiovaskuler
d. Membahas pentingnya menghentikan merokok

Diagnosa keperawatan VI :

a. Memberi penguatan pentingnya kerjasama dalam regimen pengobatan dan


mempertahankan perjanjian tindak lanjut
b. Menjelaskan tentang obat yang diresep bersamaan dengan rasional
c. Menyarankan untuk sering mengubah posisi, olaraga kaki saat baring

20
E. EVALUASI

Tahapan evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana tujuan


dapat dicapai, sehingga dalam mengevaluasi efektivitas tindakan keperawatan.
Perawat perlu mengetahui kriteria keberhasilan dimana kriteria ini harus dapat
diukur dan diamati agar kemajuan perkembangan keperawatan kesehatan klien
dapat diketahui Dalam evaluasi dapat dikemukakan 4 kemungkinan yang
menentukan keperawatan selanjutnya yaitu :
a. Masalah klien dapat dipecahkan .
b. Sebagian masalah klien dapat dipecahkan.
c. Masalah klien tidak dapat dipecahkan.
d. Dapat muncul masalah baru.
Evaluasi untuk klien dengan hipertensi dapat disesuaikan dengan masalah yang
telah ditanggulangi dengan mengacu pada tujuan yang telah ditentukan.
a. Apakah tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima oleh klien?.
b. Apakah klien dapat beraktifitas secara mandiri ?.
c. Apakah kebutuhan nutrisi klien terpenuhi ?.
d. Apakah klien dapat menggunakan koping yang efektif ?.
e. Apakah pemahaman klien tentang penyakit meningkat ?.

21
DAFTAR PUSTAKA

Junaidi, Iskandar. 2010. Hipertensi pengenalan, pencegahan, dan pengobatan.


Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Udjianti, Wajan Juni. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba
Medika.

Kasron, S.kep, Ns. 2012. Buku Ajar Gangguan Sistem Kardiovaskuler.


Yogyakarta: Nuha Medika.

Wijaya, andra saferi dan Yessie Mariza Putri. 2013. Keperawatan Medikal Bedah
1.Yogyakarta: Nuha Medika

22