Anda di halaman 1dari 16

MODUL

ENGINE MANAGEMENT SYSTEM


PRAKTEK PADA TRAINER EMS TOYOTA AVANZA VVT-I K3-VE

KELAS XI TEKNIK KENDARAAN RINGAN

Yudi Nur Sukmayadi, S.Pd

PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

DINAS PENDIDIKAN

SMK NEGERI 2 BANJAR


2018

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


A. Pendahuluan

Tingkat keselamatan, kenyamanan, eknomis dan produk ramah lingkungan


secara bertahap menjadi rasyarat mutlak bagi pengemudi dan masyarakat yang harus
dipenuhi. Hal tersebut menjadi masalah sosial yang makin meningkat, termasuk
tingginya tingkat polusi lingkungan, pemakaian konsumsi bahan bakar yang
meningkat dan kecelakaan lalulintas yang diakibatkan ‘oleh kendaraan. Tuntutan ini
khususnya bagi para pelajar KK/TKR harus mengikuti perkembangan teknologi
canggih yang menggunakan teknologi elektronik agar bisa memenuhi tuntutan
service untuk kendaraan tesebut. Mesin kendaraan harus sudah bisa memenuhi
kriteria sebagai berikut ;

a. Performa mesin meningkat


b. Irit bahan bakar
c.Tingkat emisi
d. Nyaman-Kuat
e. Handal

B. Engine Manajemen Sistem

EMS system (engine management system) mengatur secara luas agar


operasional mesin bisa tetap bekerja secara optimal setiap saat melalui pengaturan
elemen mesin seperti sensor, actuator, controller, dst. EMS system (engine management
system) mengatur secara luas agar operasional mesin bisa tetap bekerja secara optimal setiap
saat melalui pengaturan elemen mesin seperti sensor,actuator dan controller. Sistem
pengaturan mesin melibatkan pengaturan bahan bakar, air intake dan juga waktu pengapian,
agar diperoleh momen dan tenaga sesuai spesifikasi. Pengemudi dapat mengatur bukaan
throttle valve secara manual dengan sistem koneksi mekanis, yang kemudian mengatur rasio
udara/bahan bakar ke dalam mesin, selanjutnya campuran udara/bahan bakar yang masuk itu
akan menentukan tenaga dan momen yang dihasilkah oleh mesin.Pengaturan momen mesin
biasanya menggunakan sistem kontrol secara mekanis dan tekanan hampa, misalnya
evaporator yang menghasilkan campuran bahan bakar/udara untuk pembakaran, pemakaian
peralatan yang sudah sesuai dengan aturan international untuk memperoleh energi pengapian
yang tepat, distributor, centrifugal dan sistem oscilation vacuum.Sistem konfigurasi kontrol
secara mekanis dapat dikatakan sangat rumit, susah dalam pembuatan, dan sulit untuk
mendapatkan hasil yang optimal dan efisiens, sehingga mengakibatkan emisi buangnya tidak
bisa mengikuti aturan yang telah ditetapkan.Sistem pengontrolan secara elektroni untuk
sistem injeksi bahan bakar (Bosch’s DJetronic danL-Jetronic) sudah diperkenalkan untuk
menggantikan sistem konvesional karburator atau injeksi mekanis, dan selanjutnya teknologi
pengaturan secara elektronic untuk aplikasi mesin dan keseluruhan sistem pada kendaraan
berkembang dengan pesat. Penggunaan teknologi pengaturan secara elektronik akan
memungkinkan sistem pengontrolan berjalan secara akurat dan tahan lama, serta dapat
mengurangi polusi lingkungan karena emisinya lebih baik, hemat bahan bakar, stabilitas dan
kontrol sistem juga lebih baik. Perkembangan teknologi elektronika yang sangat pesat,
termasuk di dalamnya semi conductor dan komputer sejak tahun 1970 juga berperan dalam
meningkatkan tingkat kestabilan kendaraan dan harganya juga sudah semakin terjangkau.

Ada tiga alasan dasar penggunaan kontrol mesin secara elektrik yaitu:

1. Kontrol emisi yang ramah lingkungan


sesuai dengan peraturan pemerintahan. Emisi buang adalah hasil dari proses pembakaran
antara campuran bahan bakar dan udara. Bensin mengandung HC yang bisa

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


mengeluarkan carbon dan hydrogen. Pembakaran di dalam mesin merupakan reaksi
oksidasi antara oksigen dan bensin yang membangkitkan energy panas dalam bentuk
majemuk. Untuk pembakaran yang sempurna gas buangnya adalah C02 dan H2O. Namun
pembakaran sempura tidak sepenuhnya bisa diwujudkan, karena reaksi pembakaran itu
menghasilkan zat N2, 02, CO, HC yang tidak terbakar,bermacam NOx, dsb, begitu juga
C02 dan H2O. diantara gas buang zat CO, HC, dan NOx diketahui dapat membahayakan
manusia, dan sudah menjadi standar baku peraturan pembatasan gas, buang disetiap
negara. Emisi C02 merupakan hal pokok yang harus dikurangi pengeluarannya untuk
mencegah terjadinya reaksi pemanasan global.

Di negara bagian California pada awal tahun 1960an emisi gas dari kendaraan menjadi
isu sosial. Di LA sudah terdapat banyak sekali mobil, dan karena letaknya dikelilingi oleh
gunung-gunung, maka asap yang keluar dari kendaraan yang disebut dengan ‘LA smoke’
pada tahun1960an berdampak terhadap kesehatan penduduknya. Karena itulah mereka
mendiskusikan pengaturan emsisi buang dan mendirikan EPA (Environmental Protection
Agency) dan CAA(Clean Air Act: juga disebut dengan Muskey Act) untuk menentukan
pengaturan sistem emisi buang. Dan hasilnya adalah para pembuat mobil di dunia harus
bisa membuat mesin yang emisi buangnya dapat dikontrol atau yang ramah terhadap
lingkungan.Mesin konvensional yang menggunakan karburator yang sudah lama beredar
tidak bias memenuhi standar emisi yang telah ditentukan, oleh karena itu
diperkenalkanlah teknologi kontrol secara elektronik pada mesin

2. Hemat bahan bakar

Kilometer per liter digunakan untuk menentukan jarak tempuh kendaraan per liter
bahan bakar,dan biasanya dihitung dalam km/jam. Jarak tempuh per liternya akan
beragam tergantung dariukuran kendaraan, bentuk, berat dan pola orang yang
membawa kendaraan. Jarak termpuh per liter sudah menjadi isu sejak awal tahun
1970an dikarenakan adanya krisis minyak, yang memerlukan pengurangan
konsumsi bahan bakar pada kendaraan. Dan perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini
pemanasan cahaya global oleh C02 meningkat, sehingga kontrol zat C02
yangterdapat di dalam gas buang semakin diperketat.Selama bahan bakar jenis HC
dipakai pada mesin kendaraan, meskipun pembakarannya sempurna, namun tidak
bisa mencegah pembentukan C02. oleh karena itulah untuk mengurangi peredaran
C02, maka mobil mobil mutlak harus yang hemat bahan bakar. Salah satu
lembaga yang mengatur pemakaian bahan bakar adalah CAFE (Corporate
Average Fuel Economy) yang mengatur rata-rata pemakaian bahan bakar pada
kendaraan per tahun yang diproduksi oleh para pembuat kendaraan, kemudian
membuat tipe mobil yang hemat bahan bakar.

2. Performa mesin yang lebih baik


Kecepatan mesinnya meningkat dibanding sebelumnya, karena setiap automaker
tetap berusaha , melakukan pengembangan untuk meningkatkan performa
kendaraannya. Agar tujuan diatas dapat terkaksana, maka dibutuhkan performa
mesin yang maksimal dengan kapasitas CC yang tepat, dan pengaturan kontrol
untuk campuran udara/bahan bakar dan waktu pengapian secara tepat untuk segala
kondisi kerja. Sistem suplai bahan bakar dan sistem kontrol pengapian secara

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


konvensional dengan mekanis tidak bisa akurat, karena itulah penggunaan sistem
kontrol secara elektronik tidak dapat dihindari lagi.

C. Dasar Kontrol Pada Mesin Elektronik Fuel Ijection

a.Kontrol Sistem Bahan Bakar

Tujuan dari penggunaan sistem kontrol pada engine adalah untuk menyajikan
dan memberikan daya mesin yang optimal melalui sistem kerja yang akurat
yang disesuaikan untuk menghasilkan emisi gas buang yang seminimal
mungkin, pengunaan bahan bakar yang efisien, menghasilkan pengendaraan
yang optimal untuk semua kondisi kerja mesin, meminimalkan penguapan
bahan bakar serta menyediakan sistem diagnosis untuk mengevaluasi sistem
kerja dan kondisi perangkat perangkat pendukungnya bila terjadi
permasalahan-permasalahan yang tidak dikehendaki pada sistem ini.

Pengontrolan Mesin yang dilakukan secara elektronik terdiri atas peralatan-


peralatan sensor yang secara terus menerus memantau kondisi kerja mesin.
Unit pengontrol elektronik yang dikenal dengan ECU bekerja mengevaluasi
data-data masukan dari berbagai sensor yang terpasang pada engine. Dengan
membandingkan data pada memorinya dan melakukan perhitungan yang
akurat, ECU mengaktifkan perangkat-perangkat penggerak/actuator untuk
menghasilkan sistem kerja mesin yang baik.

Dalam menginjeksikan bahan bakar, terdapat tiga pekerjaan utama


(pengontrolan) yang akan dilakukan oleh ECU (khususnya system yang
menggunakan model EMS), yaitu perhitungan kuantitas penginjeksian,
pemilihan mode injeksi dan fuel cut.Perhitungan kuantitas dilaksanakan atas
pertimbangan kondisi kerja mesin yaitu pada saat bekerja normal atau pada
saat starter. Control unit mangkalkulasi waktu pembukaan bagi injector agar
sesuai dengan perbandingan stoichiometric dan kebutuhan mesin pada saat itu.
Disamping itu juga diperhitungkan mode injeksi yang sedang
dilaksanakan. Adapun mode injeksi dapat digolongkan menjadi tiga bagian
yaitu mode simultan / serempak, group / kelompok dan sequential. Pada model
simultan, bahan bakar dinjeksikan dalam waktu yang bersamaan untuk semua
silinder. Mode ini merupakan metode penyemprotan model lama dan untuk
model baru diaplikasikan pada saat start dan kondisi temperatur air pendingin
masih rendah.

Gambar 1 : Mode injeksi simultan pada engine 6 silinder

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


b.Kontrol sistem induksi udara

Pada awalnya, fungsi piranti elektronik yang ada pada system induksi udara
adalah hanya sebagai sensor, guna mengetahui jumlah atau volume udara yang
masuk ke intake manifold dan temperatur udara agar ECU dapat menghitung
massa udara yang dimasukkan ke ruang bakar. Dewasa ini pengontrolan telah
dapat dilakukan khususnya pada putaran rendah untuk mengontrol putaran idle
dan putaran tinggi guna meningkatkan efisiensi volumetric. Skema system
control udara dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2 : Skema system induksi udara

Sistem aliran udara dimulai dari filter udara untuk menyaring dari kotoran, air
metering (berupa sensor temperature dan air flow meter) menuju throttle body,
intake manifold dan ke ruang bakar. Fungsi dan prinsip kerja sensor dan
actuator didalam system ini dapat anda pelajari pada modul berikutnya yaitu
pada modul sensor dan actuator.

Tujuan yang diharapkan dari sistem control engine pada saat engine bekerja
pada putaran idle adalah

 Untuk menyeimbangkan torsi yang dihasilkan dengan perubahan


beban engine, sehingga mesin dapat tetap berputar secara stabil
meskipun ada penambahan beban-beban asesories (seperti AC, power
steering, beban-beban listrik lain) dan proses terhubungnya transmisi
otomatis.
 Untuk menyajikan putaran rendah yang halus dengan emisi gas buang
dan konsumsi bahan bakar yang rendah mengingat lebih dari 30%
pemakaian bahan bakar didalam kota digunakan pada putaran idle.
 Untuk mengontrol putaran idle, ECU menggunakan input dari water
temperature sensor, throtle position sensor, air conditioner /AC,
transmisi otomatis, power steering, sistem pengisian (charging system),
putaran mesin dan kecepatan mesin.

Ada dua cara yang digunakan dalam mengontrol putaran idle yaitu dengan
pengontrolan udara dan pengontrolan timing. Jumlah udara yang masuk
melalui intake manifold oleh katup bypass atau oleh sebuah actuator. Katup
bypass menggunakan motor listrik yang dikontrol oleh ECU yang bekerja
membuka dan menutup saluran dengan besar pembukaan sesuai dengan nilai
yang telah ditetapkan. Dengan katup throttle yang besar, maka pembukaannya
akan sangat sensitif terhadap putaran mesin sehingga kecepatan idle susah
dikontrol. Untuk itu digunakan katup bypass. Dengan menggunakan umpan

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


balik dari rpm engine, ECU dapat menyetel jumlah udara yang mengalir untuk
menambah atau mengurangi putaran idle. Kelemahan pada kontrol udara ini
adalah relatif lebih lambat dalam merespon perubahan beban. Untuk
mengatasi masalah ini, sistem kontrol udara sering dikombinasikan dengan
kontrol sistem pengapian agar diperoleh putaran idle yang sesuai. Kebutuhan
bahan bakar pada saat putaran idle ditentukan oleh beban dan putaran mesin.
Dalam operasi kerja closed loop sistem nilai atau jumlah bahan bakar ini
dioptimalkan oleh lambda close loop control.

b.Kontrol Sistem Pengapian

Tujuan pengontrolan mesin pada sistem pengapiannya adalah untuk dapat


memberikan sistem pengapian yang optimal hingga dapat tercapai torsi yang
optimum, emisi gas buang yang rendah, irit bahan bakar dan
pengendaraan/pengendalian yang baik serta meminimalkan engine knock.
Data dasar untuk timing pengapian (Base Engine Timing Value) yang
mengacu pada beban dan putaran mesin tersimpan dalam ROM pada
Electronic Control Unit (ECU). Data-data yang diterima ECU diolah untuk
mencapai tujuan yang diharapkan seperti diatas. Koreksi terhadap waktu
pengapian juga dibutuhkan guna mengakomodir efek temperatur, EGR, start
pada saat panas, tekanan udara dan engine knock. Pada kendaraan yang
menggunakan transmisi otomatis, timing ignition digunakan untuk
memvariasikan torsi mesin agar memudahkan dalam pemindahan kecepatan
ataupun pengontrolan putaran idle. Flow chart berikut menggambarkan
metode perhitungan untuk ignition timing

Gambar 3: Flow chart pengontrolan saat pengapian

D.Engine Management System

1.EMS Toyota Avanza

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


Seperti yang telah diuraiakan pada materi sebelumnya bahwa engine
management sistem yang ada didalam kendaraan merupakan gabungan dari
system pengapian dan sistem bahan bakar yang dikontrol oleh sebuah Engine
Control Modul (Kontrol Unit). Dalam bekerjanya sistem pengapian (Ignition
System) dan sistem bahan bakar (Fuel System) dikontrol oleh sebuah kontrol
unit (Engine Control Modul). Masukan berupa besaran listrik dari sensor
sensor yang dipekerjakan dan diolah oleh ecm/ecu yang kemudian besaran
kuantitas nilai tersebut akan mampu menggerakan actuator untuk bekerja .

Untuk system bahan bakar sendiri dalam hal ini adalah injector dikenal dengan
Single point injector ( SPI ) dan Multi Point Injector ( MPI ). Penyemprotan
bahan bakarnya dapat dilakukan sebelum ruang bahan bakar / intake manifold
atau langsung diruang bakar yang dikenal dengan Gasoline Direct Injection (
GDI ).

Kapan penyemprotan bahan bakar dilakukan ?, penyemprotan bahan bakar


dilakukan sesuai Firing Oeder ( FO ) pada saat langkah hisap dengan urutan
1,3,4,2 ( 4 silinder ). Artinya penyemprotan dilakukan dari silinder nomor
satu, tiga, empat dan yang terakhir silinder dua dengan kwantitas volume
bahan yang disemprotkan sama pada tiap tiap silinder .

Gambar 4 : Injektor Toyota Avanza

ECU Mengolah data masukan dari sensor sensor yang ada sehingga tidak akan
terjadi kesalahan saat penyemprotan dan jumlah bahan bakar yang dibutuhkan
untuk tiap kali siklus pembakaran.

Sensor water temperature sensor dipasangkan pada saluran sambungan


air ( water ) didalam engine, dimana tugas dari sensor ini adalah memindai
temperature terkini dan tetap menjaga kondisi mesin tidak terjadi over heating,
dengan demikian sensor ini memberikan input ke ecu dan memerintahkan
actuator ( injector ) untuk menyemprotkan bahan bakar sesui volumenya ditiap
silinder.

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


Gambar 5; MAP Sensor Toyota Avanza

Manifold Absolute Pressure sensor bertugas memindai kondisi kevakuman


atau besarnya tekanan absolute yang ada di intake manifold setelah Throttle
body yang berfungsi mengetahui tekanan udara masuk campuran bahan bakar
dan kapan saat waktu pengapian

Gambar 6; WTS Sensor Toyota Avanza

Tentunya masukan informasi ke ecu tidak lain adalah berupa tegangan listrik
yang dirubah oleh ecu menjadi sinyal, dimana tegangan paling tinggi yang
dihasilkan adalah pada saat kunci kontak pada posisi ON mesin mati dan saat
akselerasi yaitu dengan menginjak katup gas secara tiba tiba, begitu
sebaliknya saat deselerasi tegangan ada ditegangan paling rendah .

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


Gambar 6; Throtlle body ASS. Toyota Avanza

Tugas dari Intake Air temperature sensor adalah mendeteksi suhu udara masuk
yang dapat bekerja pada temperature -40 0C S.d +120 0C.

Gambar 7; IAT sensor Toyota Avanza

Pemasangan dari oksigen sensor adalah disaluran gas buang .secara umum
penggunaan oksigen sensor pada kendaraan yang menggunakan bahan bakar
tanpa timbale ( Pertamax ), sementara penggunaan bahan bakar premium
hanya menggunakan resistor variable yang juga bertujuan untuk mengatur
emisi saat putaran idle

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


Gambar 8: Oxygen sensor Toyota Avanza

Fungsi dari oksigen sensor adalah mengetahui keluaran gas buang, dimana
jika didapat rasio oksigen yang terbakar akan dapat dipindai oleh sensor dank
arena sensor ini bereaksi dengan oksigen dan menghasilkan tegangan yang
akan diolah oleh ECU, perubahan tegangan secara drastic yang diakibatkan
pembakaran tidak sempurna misalnya atau nilai AFR diluar batas kewajaran
maka dengan segera ECU akan mengubah timing pengapian dan jumlah
kwantitas bahan bakar untuk dapat mempertahankan rasio yang tepat.

Throtlle Position Sensor akan mendeteksi pembukaan katup gas dari


sini sini diketahui kwantitas udara yang masuk, yang selanjutnya sinyal
tegangan akan dikirim ke ECU untuk kemudian penyemprotan bahan akan
segera dilakukan .

Gambar 8: TPS sensor Toyota Avanza

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


Sensor variable Valve Timing Intelligent difungsikan untuk mengetahui
bukaan katup masuk tentunya disesuaikan dengan kebutuhan campuran Bahan
bakar saat kendaraan idle, akselerasi juga deselerasi. Saat mesin dingin tidak
diperlukan overlapping atau kedua katup membuka bersaan saat langkah
buang , peran sensor ini akan memberikan masukan ke ECU dan mengirimkan
perintah kepada VVTI untuk meberikan tekanan fluida terhadap oil control
valve.

Gambar 10 : VVTI sensor Toyota Avanza

Sensor Knocking berfungsi mengetahui adanya knocking, knocking akan


menimbulkan noise yang dapat terbaca oleh ECU, ECU akan memerintahkan
kepada system pengapian untuk memundurkan saat pengapian 2 kali sampai
detonasi tidak terjadi lagi.

Gambar 11: Knocking sensor Toyota Avanza

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


Camshaft sensor berfungsi untuk mengontrol waktu pengapian dan waktu
penyemprotan bahan bakar .

Gambar 12 : CMP dan CKP sensor Toyota Avanza

Posisi relative piston terhadap TMA maka selanjutnya tegangan koil akan
ditembakkan sesuai posisi relative tersebut.

2.Membaca Hasil Diagnostic Toyota Avanza

Para siswa sekalian tahap berikutnya pembelejaran dilanjutkan seperti apa


pelaksanaan cara membaca hasil diagnostic dari serangkain kegiatan pembelajaran
mengenai fungsi dan tugas komponen sensor dan actuator khususnya kendaraan
dengan model EMS dari mobil Toyota avanza dengan cara lebih mudah difahami
menggunakan simulasi berupa papan antar muka siswa dan pebelajar .

Ada dua cara yang dikenal dalam pelaksanaan service mobil EFI , seperti
menggunakan Scanner, alat ini sangat memabantu mekanik servis, hasil yang dapat
dibaca dari alat ini secara umum memuat informasi mengenai kecepatan mesin, waktu
pengapian, putaran mesin, kecepatan penyemprotan bahan bakar oleh injector dan
sebagainya. Penggunaan alat ini sangat mudah seperti kita akan menggunakan HP dan
menghubungkannya ke komputer . Kabel connector dari Scanner di

Gambar 14-15 : Connector diagnostic Toyota Avanza K3-VE

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


hubungkan langsung dengan menancapkan connector ke connector
diagnostiknya( Scaner )

Cara yang kedua dapat digunakan seutas kabel atau lebih dikenal dengan
kabel jumper . namun cara ini diperlukan kehatian hatian dan pengetahuan
yang baik mengenai mobil system EFI sebagai langkah prasyarat sebelum
melanjutkan ke EMS. Kabel jumper dihubungkan dengan connector seperti
yang terlihat pada gambar 13.

Gambar 14: Arah Hitung Jumlah PIN dan Kunci Kontak Toyota Avanza

Untuk Avanza digunakan standar OBD 2 dengan jumlah pin sebanyak


16 PIN. Kabel jamper dihubungkan dengan lubang no urut 4 atau 5 sebagai
groundnya yang dikoneksikan dengan lubang atas dengan nomor urut 12
sebagai EFI T_nya. Setelah kita hubungkan dengan kabel jumper maka lampu
MIL akan menyala yang menampilkan kode sejumlah kedipan yang
berhubungan dengan kegaglan fungsi dari sensor sensor .

CHECK ENGINE

Gambar 15 : Check Engine Lamp / MIL Pada Dashboard

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


a. Cara membaca kode diagnostic pada MIL ( Malfunction Indicator
Lamp)
Kedipan yang terjadi pada MIL/ lampu check Enggine menyerupai kode
sandi morse. Pada saat tidak ada DTC ( Data Trouble Code) / data
kesalahan yang tersimpan pada ECU, maka lampu MIL/ Check Enggine
akan mengedip dengan Interval0,25 detik.

Gambar 16 : Kedipan lampu enggine normal


Sedangkan jika ada ketidaknormalan yang tersimpan pada ECU, maka
ketika DLC kita jumper antar terminal T dan E yang terjadi adalah
kedipan MIL/lampu check enggine akan berkedip dengan interval yang
berbeda jika dibandingkan dengan kondisi normal.

Gambar 17 : Kedipan lampu enggine tidak normal

b. Cara membaca kode DTC ( Data Trouble Code)/ kode kesalahan


kode DTC yang terdapat didalam buku perbaikan (repair manual) terdapat
dua jenis, yaitu seperti yang ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Kode DTC sirkuit tekanan absolut manifold (PIM) / tekanan barometric


yang tertulis didalam tabel.

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


Gambar 18: Kode DTC

 P0105 ( kode didepan garis miring)


Kode ini hanya akan muncul jika kita menggunakan Scan Tool /
Intelegent Tester
 13 ( kode dibelakang garis miring)
Kode ini hanya akan muncul jika dibaca secara manual ( menggunakan
kabel jumper) yaitu berupa kedipan lampu.

Setelah mengetahui kode kerusakan pada DTC, maka selanjutnya kita


lihat kode kerusakan tersebut pada manual book ( buku perbaikan).
dibawah ini contoh Kode kerusakan pada buku perbaikan

Gambar 18 : Engine Management System Toyota Avanza VVT-I K3-VE

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR


Daftar Kode Manual DTC pada mesin VVT-I K3-VE

 Kode 13 Malfungsi Sirkuit “A” Sensor Posisi Crankshaft


 Kode 14 Sirkuit “A” Sensor Posisi Camshaft (Bank 1 atau Single Sensor)
 Kode 16 Sirkuit Primer/ Sekunder “A” Koil Pengapian
 Kode 18 Sirkuit Sensor Knock 1
 Kode 21 Sirkuit Sensor Oksigen (Bank 1 Sensor 1)
 Kode 23 Sirkuit Heater Sensor O2 (Bank 1 Sensor 1)
 Kode 25 Sistem Terlalu Kurus (Malfungsi A/F Kurus, Bank 1)
 Kode 26 Sistem Terlalu Gemuk (Malfungsi A/F Gemuk, Bank 1)
 Kode 31 Sirkuit MAP Sensor
 Kode 41 Malfungsi Sirkuit Sensor Posisi Pedal Throttle di Throttle Body
 Kode 42 Sensor temperatur air pendingin mesin
 Kode 43 Intake Air Temperature (bahasa inggris) atau sensor suhu udara intake manifold
 Kode 44 Sistem Sinyal Sensor Temperatur Evaporator Air Conditioner
 Kode 51 Sirkuit Switch A/C Malfungsi
 Kode 52 Sensor Kecepatan Kendaraan
 Kode 54 Sirkuit Sinyal Starter
 Kode 71 Malfungsi pada Sistem Kontrol Idle (ISC)
 Kode 73 Malfungsi pada Sistem VVT (Bank 1)
 Kode 74 Malfungsi pada Sikuit OCV (Bank 1)
 Kode 75 Sensor VVT / Range Sirkuit sensor Posisi Camshaft / Problem Performance (Bank
1)
 Kode 76 Malfungsi pada Sirkuit Purge Control Valve Sistem Evaporative Emission Control
atau VSV valve

DAFTAR PUSTAKA

https://tkr020.wordpress.com/2014/08/10/engine-management-system/

CD repair manual Toyota Avanza – PT Toyota Manufacturing Indonesia

https://situsoto.com/daftar-kode-manual-dtc-toyota-avanza-dan-daihatsu-xenia/

http://lksotomotif.blogspot.com/2017/01/cara-memunculkan-kode-diagnostic-pada.html

TKR - SMK NEGERI 2 BANJAR