Anda di halaman 1dari 6

BAB II

KEGIATAN UMUM
Pt. PLN (Persero) Area Pelaksana Dan Pemeliharaan Salatiga Basecamp
Yogyakarta

A. Identitas Industri
Berikut adalah gambar kantor dari PT. PLN (Persero) Area Pelaksana dan
Pemeliharaan Salatiga Basecamp Yogyakarta Gardu Induk Bantul 150 kV

Gambar 1 kantor Gardu Induk Bantul 150 kV

Nama instansi : PT. PLN (Persero) Area Pelaksana dan Pemeliharaan Salatiga
Basecamp Yogyakarta Gardu Induk Bantul 150 kV
Alamat instansi : Jl. Parangtritis KM 7 Sewon, Bangunharjo, Kabupaten Bantul,
Daerah Istimewa Yogyakarta 55188
Phone : (0274) 367693
Website : www.pln.co.id

B. Sejarah Instansi
Pada tahun 1973, Yogyakarta mulai merintis sistem gardu induk (GI) dengan
pembangunan jaringan tranmisi dan pembebasan tanah untuk pembangunan GI
yang dimulai dari daerah di Semarang Timur (GI Pandean Lamper) sampai daerah
Solo (GI Jajar). Sistem ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan listrik yang
semakin meningkat, sebab pada tahun 1970 hanya ada dua unit pembangkit, yaitu
PLTA dan PLTG yang menyediakan kapasistas daya ± 38 MW.

4
Sejarah Gardu Induk Bantul 150 kV sebagai salah satu unit kerja UPT
Yogyakarta mulai beroperasi pada tahun 1978 dengan kapasitas daya 16 MW yang
pada saat itu sudah memiliki beberapa feeder (penyulang). PT. PLN (Persero) P3B
Jawa Bali APP Salatiga Basecamp Yogykarta Gardu Induk Bantul 150 kV di
wilayah naungan Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban Jawa – Bali Regional
Jawa Tengah dan UPT Yogyakarta, pada tanggal 1 April 2012 menjadi di bawah
naungan PT. PLN (Persero) Area Pelaksana dan Pemeliharaan Salatiga.
Gardu Induk Bantul 150 kV memiliki mempunyai 2 transformator daya (trafo
daya) dengan kapasitas masing-masing 60 MVA. Trafo I menyuplai penyulang-
penyulang BNL1, BNL2, BNL3, dan BNL5. Tegangan di sisi menengah sebesar 20
kV. Sedangkan trafo daya II menyuplai penyulang-penyulang BNL6, BNL7,
BNL8, BNL10, BNL11, BNL12, dan BNL13.
Motto PT. PLN (Persero) Area Pelaksana dan Pemeliharaan Salatiga Basecamp
Yogyakarta Gardu Induk Bantul 150 kV adalah “Listrik untuk kehidupan yang lebih
baik (Electricity for a Better Life)”. Visi dari instansi ini adalah diakui sebagai
perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul, dan terpecaya dengan
bertumpu pada potensi insani. Sedangkan misi adalah sebagai berikut.
a. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang berkaitan,
berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang
saham
b. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat
c. Mengupayakan agar tenaga listril menjadi pendorong kegiatan ekonomi
Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

5
C. Struktur Organisasi

Gambar 2. Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) APP Salatiga


D. Personalia dan Uraian Tugas
Berikut uraian jabatan yang terdapat di struktur organisasi yang ada dan
dibawahi oleh PT. PLN (Persero) Area Pelaksana dan Pemeliharaan Salatiga.
1. Manajer APP Salatiga
Bertanggung jawab atas rencana kerja dan anggaran (RKA) Area Pelaksana
dan Pemeliharaan, melaksanakan pengelolaan asset sistem transmisi, pengendalian
investasi sistem transmisi dan logistic, melaksanakan instalasi penyaluran tenaga
listrik di wilayah kerjanya yang meliputi fungsi pemeliharaan proteksi, meter dan
scadatel serta keselamatan ketenagalistrikan untuk mencapai target kinerja,
melakukan penyelesaian permasalahan hokum dan social terkait Right of Way
(RoW) serta mengelola bidang administrasi dan keuangan, hubungan masyarakat
dan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung kegiatan
pemeliharaan instalasi dengan mengacu pada strategi dan kebijakan P3B Jawa –
Bali.

6
2. Asisten Manajer Enjinering
Mengusulkan peerencanaan dan evaluasi pengembangan instalasi dan
merancang desain enjinering, perencanaan dan evaluasi instalasi penyaluran,
mengelola data perusahaan, teknologi informasi, serta sistem lingkungan dan
keselamatan ketenagalistrikan untuk mencapai target kinerja APP.
3. Asisten Manajer Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset
Mengelola fungsi pengelolaan dan peeliharaan aset yang meliputi perencanaa,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi hasil pemeliharaan hasil instalasi penyaluran
yang kontinu, andal dan aman.
4. Asisten Manajer Administrasi dan Umum
Mengelola administrasi umum dan SDM, keuangan dan anggaran, CSR,
logistik dan fasilitas serta mengendalikan keamanan dan ketertiban lingkungan dan
aset untuk mendukung pencapaian kinerja administrasi.
5. Supervisor (Spv)
Bertanggung jawab mengelola suatu operasi dan pemeliharaan secara terus –
menerus dan dapat menciptakan suatu kehandalan. Selain itu juga supervisor
bertugas untuk membimbing dan mengarahkan bawahan guna mencapau tujuan
organisasi, mengatur jadwal kerja dan teknisi lainnya.

E. Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Dalam melaksanakan kegiatan penyaluran ketenagalistrikan harus
mengutamakan keselamatan dan menciptakan rasa aman bagi siapapun yang berada
di tempat kerja, serta masyarakat di sekitar dengan memperhatikan:
1. Melaksanakan pekerjaan dengan prinsip good corporate gorvenance
2. Menciptakan membudayakan safety, clean dan green (SCG) di lingkungan
transmisi gardu induk
3. Mematuhi seluruh aturan keselamatan dan pengoperasian yang merupakan
bagian tugas kerja, dengan dilengkapi perlengkapan keselamatan
ketenagalistrikan yang sesuai dengan SOP serta mengsosialisasikan
keselamatan pekerja dan pihak yang terkait
Tidak melakukan pekerjaan lain di luar tugas yang diberikan instansi.
Keberhasilan instansi juga tergantung pada keberhasilan kinerja keselamatan

7
pekerja, oleh karena itu instansi siap mempertanggungjawabkan segala resiko dan
konsekuensi jika ada pelanggaran keselamatan.

F. Peralatan di Gardu Induk


Beberapa peralatan atau komponen yang ada di srandang (switchyard) adalah
1. Transformator Daya (trafo daya) berfungsi mentransformasikan daya listrik
dengan mengubah besaran tegangannya sedangkan tidak merubah
frekuensinya. Trafo daya dilengkapi dengan trafo pentanahan yang berfungsi
untuk mendapatkan titik netral dari trafo daya. Peralatan ini disebut dengan
Neutral Current Transformer (NCT).
2. Neutral Grounding Resistance (NGR) adalah komponen yang dipasang
diantara tititk netral trafo dengan pentanahan. Berfungsi uuntuk memperkecil
arus gangguan yang terjadi. Diperlukan proteksi yang praktis dan biasanya
tidak terlalu mahal karena karakteristik relay dipengaruhi oleh sistem
pentanahan netral.
3. Circuit Breaker (CB) adalah peralatan pemutus yang berfungsi memutus
rangkaian listrik dalam keadaan berbeban. Komponen ini dapat dioperasikan
saat jaringan dalam keadaan normal maupun saat terjadi gangguan. Dikarenaka
saat bekerja CB mengeluarkan busur api, maka CB dilengkapi dengan
pemadam busur api.
4. Disconnecting Switch (DS) adalah peralatan pemisah (PMS) yang berfunsgi
memisahkan rangkaian listrik saat tidak berbeban. Karena DS hanya dapat
dioperasikan saat keadaan jaringan tidak berbeban, maka yang harus
dioperasikan terlebih dahulu adalah CB. Setelah rangkaian diputus oleh CB,
baru DS bisa dioperasikan.
5. Lightning Arrester (LA) berfungsi untuk melindungi peralatan listrik di
serandang dari tegangan lebih akibat terjadinya sambaran petir (lightning
surge) pada kawat transmisi. Dalam keadaan normal, LA bersifat isolatif atau
tidak bisa menyalurkan arus listrik. Namun sebaliknya, jika terjadi gangguan
maka LA bekerja dan bersifat konduktif atau menyalurkan arus listrik ke tanah.
6. Current Transformer (CT) berfungsi merubah besaran arus dari arus yang
besar ke arus yang kecil atau memperkecil besaran arus listrik pada sistem

8
tenaga listrik menjadi arus untuk sistem sistem pengukuran dan proteksi. Selain
itu, berfungsi juga mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer,
yaitu memisahkan instalasi pengukuran tinggi dan proteksi tegangan tinggi.
7. Potential Transformer (PT) berfungsi untuk merubah besaran tegangan dari
tegangan tinggi ke tegangan rendah atau memperkecil besaran tegangan listrik
pada sistem tenaga tenaga listrik menjadi besaran tegangan untuk pengukuran
proteksi dan proteksi. Berfungsi juga mengisolasi rangkaian sekunder dengan
terhadap rangkaian primer dengan memisahkan instalasi pengukuran dan
proteksi tegangan tinggi.
8. Trafo Pemakaian Sendiri (TPS) berfungsi sebagai sumber tegangan AC 3
phase 220/380 Volt. Digunakan untuk kebutuhan internal gardu induk dan
sekitarnya seperti alat pendingin, pompa air dan motor-motor listrik,
penerangan di srandang dan ruang kontrol, serta peralatan lain yang
memerlukan tegangan listrik rendah.
9. Rel atau busbar berfungsi sebagai titik pertemuan atau hubungan antara trafo
daya, saluran udara tegangan tinggi, saluran kabel tegangan tinggi serta
komponen yang ada di srandang. Komponen rel sendiri adalah konduktor
(AAAC, HAL, THAL, BC, HDCC), insulator string dan fitting (insulator,
tension clamp, suspension clamp, socket eye, anchor sackle dan spacer)